Anda di halaman 1dari 2

Isu Fundamentalisme dan Radikalisme yang Melahirkan Ekstremitas

(Ni Luh Made Nia Kristina Dewi, 2 halaman)


Begitu banyaknya kekerasan tanpa berperikemanusiaan yang terjadi di Indonesia,
membuat kita tidak bisa menutup mata begitu saja. Hal ini sudah berlangsung cukup lama,
sejak sebelum Bangsa Indonesia merdeka. Bom Bali, tragedi bom Marriot pada 5 Agustus
2003 silam di Kuningan Jakarta. Bom bunuh diri ini terjadi pada pukul 12.45 WIB dengan
menggunakan mobil Toyota Kijang bernomor polisi B 7426 ZN dikemudikan oleh Asmar
Latin Sani yang menewaskan 12 orang dan melukai 150 orang lainnya. 6 tahun kemudian hal
ini terjadi lagi di Hotel JW Marriot pada 17 Juli 2009, bom bunuh diri kembali terjadi yang
menunjukkan bahwa masih banyak teroris yang bergentayangan di Indonesia. Tidak hanya di
Indonesia, Tragedi di Norwegia yaitu penembakan yang dilakukan secara membabi buta
terhadap ratusan orang di Utoeya, Norwegia juga dianggap sebagai bencana kemanusiaan
yang menewaskan sedikitnya 92 orang. Bagaimana tidak, setelah melakukan pengeboman di
kompleks kantor perdana menteri Oslo, pelaku yang diidentifikasi bernama Anders Behring
Breivik, langsung memberondongkan tembakan terhadap ratusan orang yang sedang
mengikuti acara perkemahan musim panas yang digelar Partai Buruh.
Fundamentalisme ini adalah sebuah gerakan dalam sebuah aliran, paham atau agama
yang berupa untuk kembali kepada apa yang mereka yakini sebagai dasar-dasar atau asas-
asas yang benar. Hal ini dianggap sebagai reaksi terhadap modernisasi yang terjadi. Mereka
mengupayakan untuk kembali taat terhadap teks-teks Kitab Suci yang otentik. Dalam hal ini
juga dijadikan sebagai alat untuk meraih kekuasaan politik mereka demi kembali ke tradisi
masyarakat yang terdahulu, yang masih jaya. Fundamentalisme merupakan istilah yang
muncul dari penganut agama Kristen di Amerika Serikat untuk menamai aliran pemikiran
agamnya yang cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan secara kaku dan literalis, yang
merupakan respon terhadap adanya modernisasi. Modernisasi dianggap cenderung
mentafsirkan teks-teks keagamaan secara elastis dan fleksibel agar sesuai dengan
perkembangan zaman. Kelompok ini juga menganggap, modernisasi bertanggung jawab atas
proses sekularisasi yang dimana peran agama cenderung terkesampingkan dan digantikan
oleh peran sains dan teknologi modern
Seperti halnya diatas, fundamentalisme sendiri mencakup beberapa bidang, seperti
halnya ekonomi dan politik. Namun pada saat ini fundamentalisme lebih banyak mengarah
kepada agama, yang merupakan suatu hal yang sangat riskan untuk dibicarakan. Jika adanya
salah penafsiran dari suatu orang atau kelompok tertentu, bisa saja berakibat fatal. Karena
sudah salah penafsiran membuat emosi jiwa, berusaha membenarkan namun cenderung
dengan langkah kekerasan. Hal inilah yang melahirkan ekstremitas, karena adanya
fundamentalisme dari suatu kelompok tertentu.
Radikalisme pengertiannya sangat dekat dengan fundamentalisme, yaitu radix yang
berarti akar dan fundamental yang berarti dasar, atau fondasi. Hal ini ada karena mereka
mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapainya, cita-cita yang ingin diperjuangkan.
Radikalisme itu sendiri adalah suatu paham yang menghendaki adanya perubahan, pergantian
dan penjebolan terhadap suatu sistem di masyarakat sampai ke akar-akarnya yang bila perlu
menggunakan cara-cara kekerasan, menginginkan adanya perubahan total terhadap suatu
aspek atau semua aspek kehidupan.
Fundamentalisme dan radikalisme adalah dua hal yang berbeda walaupun
pengertiannya tidak jauh berbeda. Fundamentalisme lebih kepada sebuah keyakinan untuk
kembali kepada fondasi-fondasi agama, yang maknanya bisa positif maupun negatif.
Pandangan negatif inilah yang melahirkan sikap kekerasan atau radikalisme ekstrem.
Penyandingan radikalisme dengan kekerasan disebabkan oleh realita yang ada yaitu,
kelompok radikal sering menggunakan cara-cara kekerasan untuk memenuhi kepentingan
mereka. Seperti contoh dalam kasus Islam Hasan Hanafi yang menyebut bahwa paling tidak
ada dua sebab kemunculan aksi kekerasan dalam Islam kontemporer yaitu karena tekanan
rezim politik yang berkuasa, sehingga kelompok Islam tertentuk tidak dapat bebas
berpendapat dan kegagalan ideologi sekuler rezim yang berkuasa sehingga fundamentalisme
atau radikalisme dianggap sebagai alternatif pilihan yang nyata bagi kelompok ini. Menurut
pengamatan lain jika dihubungkan dengan radikalisme, ada beberapa hal yang dianggap
sebagai penyebab munculnya radikalisme adalah pemahaman yang sempit terhadap suatu
ajaran agama yang dianutnya, ketidak adilan sosial, kemiskinan, dendam politik yang mana
menjadikan ajaran agama sebagai motivasi untuk membenarkan tindakannya dan
kesenjangan sosial yaitu iri atas keberhasilan orang lain.
Kekerasan yang terjadi saat ini sangat disayangkan karena sangat merugikan banyak
pihak seperti halnya pengeboman yang terjadi. Tentu kita akan menyoroti terorisnya dan
asal-usul mereka, yang akan memberikan stigma negatif terhadap apa yang mereka anut, atas
dasar apa mereka melakukan tindakan tersebut. Kebanyakan hal ini muncul sebagai akibat
dari modernisasi, adanya masuk hal-hal yang yang sebagain besar tidak dapat diterima oleh
orang-orang yang berpikiran kaku. Padahal seharusnya jika kita bisa mengkaji antara tradisi
dan modernitas secara objektif setidaknya dapat mengurangi terjadinya kekerasan. Kekerasan
yang dianggap sebagai akibat dari mondernitas menurut Peter L.Berger(2003) menawarkan
dua strategi untuk merespon hal ini yaitu revolusi agama dan subkultur agama. Revolusi
agama adalah bagaimana para pemuka agamanya dapat merubah masyarakat secara keseluruh
dan menghadirkan model agam yang modern. Sementara subkultur agama adalah bagaimana
upaya kita untuk mencegah pengaruh-pengaruh luar agar tidak mudah masuk ke dalam
agama. Namun secara lebih sederhana dengan diterapkan dimulai dari diri sendiri bahwa
pahamilah dinamika kehidupan ini secara terbuka, dapat menerima keberagaman sehingga
tidak akan kaku terhadap pahamnya sendiri, namun tetap memfilter mana yang sesuai
ataupun tidak sesuai. Sehingga dengan hal ini diterapkan makan kita dapat menyikapi
modernitas yang terjadi dengan jalan yang lebih positif.