Anda di halaman 1dari 4

ADAPTASI ORGANISME INTERTIDAL

1. Daya tahan terhadap kehilangan air


Organisme yang hidup di daerah intertidal harus memiliki kemampuan untuk
menyesuaikan diri terhadap kehilangan air yang cukup besar selama berada di udara terbuka.
Mekanisme sederhana ditunjukkan oleh hewan-hewan yang bergerak, seperti kepiting,
anemon, Citon, dll. Hewan ini akan dengan mudah berpindah dari daerah terbuka di intertidal
kedalam lubang, celah atau galian yang basah atau bersembunyi dibawah algae sehingga
kehilangan air dapat dihindari. ecara akti! organisme ini mencari mikrohabitat yang ideal.
Organisme yang tidak memiliki kemampuan untuk akti! berpindah tempat seperti genera
algae maupun beberapa genera bi"al"ia mereka beradaptasi untuk mengatasi kehilangan air
#$
yang besar hanya dengan struktur jaringan tubuhnya. %enera Porphyra, Fucus dan
Enteromorpha misalnya sering dijumpai dalam keadaan kisut dan kering setelah lama berada
di udara terbuka, tetapi jika air laut pasang kembali mereka akan cepat menyerap air dan
kembali menjalankan proses hidup seperti biasa.
Mekanisme lain organisme intertidal untuk beradaptasi terhadap kehilangan air adalah
melalui adaptasi struktural, tingkah laku maupun keduanya. &eberapa species dari teritip,
gastropoda 'Littorina( dan bi"al"ia 'Mytilus edulis( memiliki kemampuan untuk menghindari
kehilangan air dengan cara merapatkan cangkangnya atau memiliki operkula yang dapat
nmenutup rapat celah cangkang.
#. )eseimbangan *anas
Organisme intertidal memiliki keterbukaan terhadap perubahan suhu yang ekstrem
dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktural tubuh untuk menjaga keseimbangan
panas internal. Di daerah tropis organisme cenderung hidup pada kisaran suhu letal atas
sehingga mekanisme keseimbangan panas hampir seluruhnya berkenaan dengan suhu yang
terlalu tinggi. &eberapa bentuk adaptasi al+
a. Memperbesar ukuran tubuh relati! bila dibandingkan dengan species yang sama. Dengan
memperbesar ukuran tubuh berarti perbandingan antara luas permukaan dengan "olume
tubuh menjadi lebih kecil sehingga luas daerah tubuh yang mengalami peningkatan suhu
menjadi lebih kecil. *ada keadaan yang sama tubuh yang lebih besar memerlukan waktu
lebih lama untuk bertambah panas dibanding dengan tubuh yang lebih kecil
b. Memperbanyak ukiran pada cangkang
,kiran-ukiran pada cangkang ber!ungsi sebagai sirip radiator sehingga memudahkan
hilangnya panas. Contoh Littorina dan Tectarius
c. Hilangnya panas dapat juga diperbesar melalui pembentukan warna tertentu pada
cangkang. %enera -erita, dan .ittorina memiliki warna lebih terang dibandingkan dengan
kerabatnya yang hidup di daerah lebih bawah 'warna gelap akan menyerap panas(.
d. Memliki persediaan air tambahan yang disimpan didalam rongga mantel seperti pada
teritip dan lim!et yang banyaknya melebihi kebutuhan hidup hewan ini. *ersediaan air ini
dipergunakan untuk strategi mendinginkan tubuh melalui penguapan sekaligus
menghindarkan kekeringan.
/. 0ekanan Mekanik
etiap organisme intertidal perlu beradaptasi untuk mempertahankan diri dari
pengaruh ombak. %erakan ombak mempunyai pengaruh yang berbeda pada pantai berbatu,
/1
berpasir dan berlumpur sehingga memiliki konsekuensi bentuk adaptasi yang berbeda pada
organismenya. &eberapa bentuk adaptasi al+
a. Melekat kuat pada substrat, seperti pada *olichaeta, 0eritip, 0iram
b. Menyatukan dirinya pada dasar perairan melalui sebuah alat pelekan '2lgae(
c. Memiliki kaki yang kuat dan kokoh seperti pada Citon dan lim!et
d. Melekat dengan kuat tetapi tidak permanen seperti pada Mytillus melalui bisus yang dapat
putus dan dibentuk kembali
e. Mempertebal ukuran cangkang, lebih tebal dibandingkan kerabatnya yang hidup di daerah
subtidal
3. 0ekanan alinitas
4ona intertidal mendapat limpahan air tawar, yang dapat menimbulkan masalah
tekanan osmotik bagi organisme yang hanya dapat hidup pada air laut. )ebanyakan
organisme intertidal bersi!at osmokon!ormer, tidak seperti organisme estuaria. 2daptasi satusatunya
adalah sama dengan yang dilakukan untuk melindungi tubuh dari kekeringan yaitu
dengan menutup cangkangnya.
5. 6eproduksi
)ebanyakan organisme intertidal hidup menetap atau melekat, sehingga dalam
penyebarannya mereka menghasilkan telur atau lar"a yang bersi!at planktonik. 6eproduksi
dapat juga terjadi secara periodik mengikuti iramna pasang-surut tertentu, seperti misalnya
pada pasang-purnama. Contoh Mytillus edulis, gonad menjadi dewasa selama pasang
purnama dan pemijahan berlangsung ketika pasang perbani.
Pendahuluan
Intertidal merupakan daerah pasang surut (intertidal) yang dipengaruhi oleh
kegiatan pantai dan laut. Komunitas intertidal mempunyai daya adaptasi yang
tinggi terhadap perubahan lingkungan yang ekstrim. Kondisi lingkungan intertidal
banyak dipengaruhi oleh pasang surut, tipe substrat, luas hamparan pasang surut,
dan kelandaian pantai.
Komunitas intertidal terdiri dari lamun (sea grass), rumput laut (sea weed),
komunitas karang dan fauna yang tersebar sesuai tipologi habitatnya dari daerah
pasang atas (tinggi) ke daerah pasang bawah (rendah). Tipe habitat sangat
menentukkan komunitas intertidal yang terbentuk. Setiap komunitas mempunyai
karakteristik habitat sehingga tidak jarang komunitas-komunitas intertidal
membentuk onasi di setiap daerah pasang surut. !i pesisir Sumbawa "arat bagian
selatan terdapat tiga lokasi pasang surut yang mempunyai perbedaan tipe substrat,
yaitu #angkun yang memiliki tipe habitat berkarang, #adagaskar memiliki tipe
habitat berpasir, dan $una yang memiliki tipe habitat tertentu.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Intertidal
7ntertidal merupakan wilayah peralihan antara ekosistem laut dan ekosistem
daratan 'terestrial(. ebagai wilayah peralihan, maka intertidal merupakan wilayah yang
sangat menekan baik bagi organisme terestrial maupun organisme laut. Hanya
organisme yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap tekanan akibat perubahan !isik
dan kimia lingkungan intertidal yang dapat menghuni wilayah ini 'umich, 1$$$8
-ybakken, 1$$#8 Dahuri, dkk, #111(
9ilayah intertidal secara periodik akan mengalami perubahan mendasar sebagai
sebuah ekosistem peralihan. 2kti"itas pasang air laut yang periodik berlangsung dua
kali dalam sehari semalam, menyebabkan daerah intertidal juga mengalami perubahan
sebanyak dua kali dalam sehari semalam sebagai ekosistem daratan dan juga lautan.
2kti"itas pasang air laut yang terjadi pada siang yang terik menyebabkan intertidal
menjadi wilayah daratan yang terbuka dan panas atau sebaliknya akti"itas pasang yang
terjadi pada saat turun hujan deras menyebabkan intertidal menjadi wilayah laut dengan
kadar salinitas yang rendah karena bercampurnya air hujan. 0ekanan-tekanan !isik di
atas secara langsung akan menyebabkan perubahan pada parameter kimia intertidal, dan hanya
organisme dengan adaptasi tertentu yang mampu hidup di daearah intertidal ini.