Anda di halaman 1dari 19

1

LAPORAN KASUS
F20.0 SKIZOFRENIA PARANOID


A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. K
Tanggal lahir : 10 Februari 1990
Umur : 24 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : Mahasiswa
Pekerjaan : -
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Lampung
Alamat : Jl. B.Merak Raya, Waykandis, Tj. Senang, BDL
Status perkawinan : Belum menikah
Nomor CM : 02-84-87
Tanggal Pemeriksaan : 20 Agustus 2014. Pukul 11.00 WIB

B. ANAMNESIS PSIKIATRI (Autoanamnesa)
Diperoleh dari rekam medik dan autoanamnesis

I. RIWAYAT PENYAKIT
a. Keluhan Utama
Gelisah, sering curiga dan suka marah-marah

b. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien dibawa ke RSJ Lampung oleh ayah kandung pasien. Pada tanggal 19
Agustus 2014. Karena gelisah, sering curiga, suka bicara sendiri, dan suka
marah-marah. Pasien mengaku sulit tidur pada malam hari dan jadi mudah
marah sudah sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. Kelakuan pasien
sejak timbul keluhan ini membuat resah keluarga pasien. Pasien mengaku
2

mendengar suara-suara seperti orang berbicara di dalam kepalanya, suara-
suara tersebut seperti membisikan perasaan benci ke pasien terhadap orang-
orang sekitarnya terutama terhadap keluarganya yang tinggal satu rumah
dengan pasien. Akibat bisikan tersebut, pasien menjadi benci terhadap
anggota keluarganya dan mempunyai perasaan ingin menghajar kakak atau
adiknya, tapi hal tersebut tidak pernah dilakukan pasien. Keluhan itu
dirasakan tidak menentu bisa pada pagi, siang, ataupun malam.

Pasien mengaku sering curiga dengan orang orang sekitar terutama terhadap
adik dan kakak pasien. Pasien selalu curiga adik dan kakaknya akan
menggunakan barang-barang pasien tanpa sepengetahuannya sehingga
pasien sangat menjaga semua barangnya. Pasien selalu mengunci lemari dan
kamarnya terutama bila ia keluar rumah karena ia curiga kakak atau adiknya
akan menggunakan komputer dan baju-bajunya. Pasien juga mengaku malas
bergaul dengan orang-orang disekitarnya akhir-akhir ini karena ia merasa ia
selalu dibicarakan oleh orang-orang sekitarnya. Pasien tinggal bersama
orangtuanya dirumah orang tuanya, bersama satu orang kakak dan dua orang
adiknya.

Pasien mengaku mulai merasa curiga dengan orang-orang sekitarnya sejak 3
tahun yang lalu. Perasaan curiga tersebut tidak begitu berat pada awalnya
dan pasien belum terlalu merasa terganggu pada awalnya. Sejak 1 tahun
belakangan ini perasaan curiga terhadap orang sekitar semakin memberat
terutama terhadap orang-orang rumahnya dan sejak 1 tahun ini pula sering
muncul bisikan bisikan agar pasien membenci keluarganya. Awalnya bisikan
sering dicuhkan pasien, namun sejak 1 bulan ini bisikan makin sering timbul
dan menguat sehingga membuat pasien menjadi benci dengan keluarganya.

Pasien belum pernah berobat kemanapun atas keluhan yang timbul ini.

c. Riwayat Gangguan Sebelumnya
3

a. Riwayat Gangguan Jiwa Sebelumnya
Pasien belum mengalami keluhan yang sama selain yang terjadi 3 tahun
belakangan ini. Oleh keluarga pasien tidak dibawa ke RS Jiwa. Pasien
tidak pernah menerima pengobatan dan perawatan dari rumah sakit
maupun puskesmas.

b. Riwayat Penyakit Medis Umum
Riwayat trauma kepala disangkal, hipertensi disangkal, diabetes melitus
disangkal, kejang disangkal

c. Riwayat Penggunaan Zat Adiktif
Penggunaan zat psikoaktif, merokok, dan minuman beralkohol disangkal

II. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI
a. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Menurut pasien, dari cerita ibunya ia dilahirkan dengan bantuan seorang
bidan didekat rumah dengan umur kehamilan cukup bulan.

b. Riwayat Bayi dan Balita
Menurut pasien, pasien diberi ASI selama 1 tahun. Riwayat imunisasinya
tidak begitu diingat pasien.

c. Riwayat Anak dan Remaja
1. Periode Masa Kanak Pertengahan (3-11 thn)
Pada masa ini, ia tidak terlalu berbeda dari anak anak biasanya. Pasien
memiliki banyak teman dan dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
2. Periode Masa Kanak Akhir & Remaja
Menurut pasien, sejak kecil dia cukup dapat bergaul dengan teman-teman
sebayanya hingga remaja. Namun menurut keluarga, sejak kecil pasien
adalah orang yang pendiam.

4

3. RIWAYAT PENDIDIKAN

Pasien sedang menjalani pendidikan di salah satu universitas swasta di
Bandar Lampung, terakhir pasien kuliah di semester 7. Semua jenjang
pendidikan diselesaikan pasien sesuai dengan waktunya (6 tahun, 3 tahun,
dan 3 tahun), bahkan pasien jarang masuk 10 besar di kelas. Menurut pasien
dia juga banyak teman saat sekolah dulu. Namun pasien merasa sejak 3
tahun belakangan ini teman temannya semakin sedikit dan menjauhi pasien.
Sejak 1 tahun belakangan ini sudah tidak ada lagi teman di kelas yang mau
bermain ke rumah pasien.

4. RIWAYAT PEKERJAAN
Pasien belum bekerja.

5. RIWAYAT HUKUM
Pasien tidak pernah terjerat masalah hukum.

6. RIWAYAT PERKAWINAN
Belum menikah

7. RIWAYAT KEHIDUPAN BERAGAMA
Pasien beragama Islam. Sebelum sakit, ia sering mengikuti kegiatan rohis
kampus dan sholat. Namun sejak 3 tahun yang lalu, ia semakin jarang
mengikuti kegiatan keagamaan di lingkungan tempat tinggalnya bahkan
tidak pernah lagi sholat beberapa 1 bulan belakangan ini.

8. RIWAYAT KELUARGA
Pasien adalah anak ke-dua dari empat bersaudara. Pasien tinggal bersama
kedua orang tua dan kakak laki-lakinya dan kedua adiknya. Menurut
5

pasien, hubungan dengan keluarganya awalnya baik, namun sejak keluhan
sering curiga dan perintah membenci orang muncul, hubungan dengan
keluarga menjadi tidak baik karena rasa benci dan curiga pasien dengan
keluarganya.

Genogram Tn.K:

Keterangan:
= laki-laki = Meninggal

= Perempuan = 1 rumah
= Pasien


9. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
Pasien tinggal bersama kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya
Waykandis, Tanjung Senang, Bandar Lampung. Pasien masih merupakan
tanggungan kedua orangtuanya. Ibu pasien seorang ibu rumah tangga,
ayahnya bekerja sebagai wiraswasta. Kehidupan ekonomi cukup.

10. RIWAYAT SOSIAL
Pasien memiliki hubungan yang kurang baik dengan keluaraga dekat
terutama kakak dan adik pasien. Pasien lebih banyak berdiam diri di kamar
Tn.A Ny. D
Tn. T
Tn.K
(pasien)
Nn. S An. M
6

dari pada diluar sejak keluhan memberat 1 bulan ini. Sejak 3 tahun yang lalu
pasien merasa teman-temannya menghindarinya, bahkan sekarang pasien
mengaku tidak memiliki teman.

11. SITUASI KEHIDUPAN SEKARANG
Pasien tinggal bersama kedua orang tua dan kakak adiknya di rumahnya.

12. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN KEHIDUPANYA
Pasien merasa bahwa dirinya sedang sakit


C. STATUS MENTAL
I. Deskripsi Umum
a. Penampilan
Seorang perempuan memakai seragam RSJ Prov. Lampung, baju kaos hijau
muda motif polos dan celana olahraga hijau muda, kulit kuning langsat,
rambut cukup rapi sedikit melewati teling, kuku panjang, cukup bersih.
b. Kesadaran : compos mentis
c. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Saat wawancara pasien duduk tenang, kontak mata baik, tidak ada gerakan
involunter.
d. Pembicaraan : Spontan, lancar, intonasi sedang, volume cukup, kualitas
cukup, kuantitas cukup.
e. Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif

II. Keadaan Afektif
a. Mood : eutimia
b. Afek : menyempit
c. Keserasian : appropriate

III. Fungsi Intelektual (Kognitif)
7

a. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan : Sesuai dengan taraf
pendidikan pasien
b. Daya konsentrasi : baik, pasien dapat mengikuti wawancara dengan baik dari
awal sampai dengan selesai.
c. Orientasi (waktu, tempat, dan orang) : Baik
d. Daya ingat : Jangka panjang, jangka menengah, jangka pendek, dan jangka
segera baik.

IV. Gangguan Persepsi :
a. Halusinasi :
Halusinasi Auditorik (+) : pasien mendengar suara-suara seperti orang
berbicara di dalam kepalanya yang menyuruh pasien untuk membenci
orang-orang sekitarnya.
b. Ilusi : Tidak ada
c. Depersonalisasi : Tidak ada
d. Derealisasi : Tidak ada

V. Proses Berpikir :
a. Arus pikiran :
1. Produktivitas : baik, pasien dapat menjawab spontan bila
diajukan pertanyaan.
2. Kontinuitas : koheren, mampu memberikan jawaban sesuai
pertanyaan.
3. Hendaya berbahasa : Tidak ditemukan

b. Isi pikiran
Waham (+) :
1. Waham curiga : pasien merasa tidak percaya dengan orang-orang
rumahnya terutama keluarganya (adik dan kakak), pasien juga sering
merasa semua orang disekitarnya selalu membicarakan hal bburuk
tentang dirinya.
8


VI. Daya Nilai
a. Norma sosial : Tidak terganggu
b. Uji daya nilai : Tidak terganggu
c. Penilaian realitas : Tidak terganggu

VII. Tilikan
Tilikan1. Penyangkalan penuh terhadap gangguan dialaminya.

VIII. Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya

D. PEMERIKSAAN DIAGNPASIENTIK
a. Tanda-tanda vital:
TD = 110/80 mmHg
N = 84 x/menit
P = 20 x/menit
S = afebris
b. Pemeriksaan Fisik
Mata : Tidak ditemukan kelainan
Hidung : Tidak ditemukan kelainan
Telinga : Tidak ditemukan kelainan
Paru : Tidak ditemukan kelainan
Jantung : Tidak ditemukan kelainan
Abdomen : Tidak ditemukan kelainan

E. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Pasien Tn.K, 24 tahun, mahasiswa, islam, keturunan Lampung, beralamat di : Jl.
B.Merak Raya, Waykandis, Tj. Senang Bandar Lampung, telah dilakukan
autoanamnesa pada tanggal 20 Agustus 2014 pukul 11.00 WIB.
Pasien berpenampilan sesuai dengan usianya, cara berpakaian rapi dan perawatan
diri terkesan baik. Pasien dibawa dengan keluhan sering gelisah, mudah marah,
9

suka mondar-mandir, dan sulit tidur pada malam hari. Sebelumnya pada tahun
2004 dan 2011 pasien pernah dirawat dengan keluhan yang sama. Pasien mengaku
mendengar suara-suara seperti orang berbicara yang tidak jelas asalnya. Pasien
mengaku sering melihat orang dengan pakaian kerajaan atau adat tertentu. Pasien
mengaku terkadang merasa takut untuk keluar rumah karena takut dijahati oleh
tetangganya yang merasa iri padanya. Pasien juga merasa ada yang ingin
mengguna-guna atau menyantet dia tapi tidak tahu siapa. Ia juga sering mendengar
suara seperti suaminya didalam pikirannya yang menyuruhnya untuk melakukan
sesuatu. Saat wawancara pasien duduk dengan tenang, kontak mata baik,
Pembicaraan spontan, lancar, intonasi sedang, volume cukup, kualitas cukup,
kuantitas cukup, Sikap pasien koperatif.

F. FORMULASI DIAGNOSIS
Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan persepsi dan isi pikir yang bermakna
serta menimbulkan suatu distress (penderitaan) dan disability (hendaya) dalam
pekerjaan dan kehidupan sosial pasien, sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien
ini mengalami gangguan jiwa.

a. Aksis I
Dari pengumpulan data-data yang didapat memelalui anamnesis, pemeriksaan
fisik dan rekam medik, tidak ditemukan riwayat trauma kepala, demam tinggi
atau kejang sebelumnya ataupun kelainan organik. Tidak pernah ada riwayat
penggunaan zat psikoaktif. Hal ini dapat menjadi dasar untuk
menyingkirkan diagnosis gangguan mental organik (F.0) dan penggunaan
zat psikoaktif (F.1).
Pada pasien ditemukan adanya gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik,
berupa suara-suara yang memberi komentar agar pasien membenci orang-orang
sekitarnya. Gangguan isi pikir berupa waham curiga. Halusinasi auditorik ini
muncul pertama kali 3 tahun yang lalu dan waham curiga muncul sejak 1 tahun
belakangan ini. Selain itu, pada pasien terdapat gejala-gejala negative berupa
jarang berbicara dengan keluarga, teman, maupun tetangganya dan adanya
10

penarikan diri dari pergaulan sosial yang terlihat dari pasien tidak mau
berinteraksi dengan orang-orang sekitar, pasien cenderung menyendiri di kamar.
Hal ini mendukung diagnosis skizofrenia (F20) karena memenuhi kriteria
diagnostiknya. Waham dan halusinasi yang menonjol pada pasien ini,
mengarahkan diagnosis aksis I ke skizofrenia paranoid (F20.0).

b. Aksis II
Aksis II tidak ada diagnosis dikarenakan pada pasien hanya didapatkan tumbuh
kembang saat masa kanak-kanak baik, pasien mampu menyelesaikan
pendidikan sampai tamat SMA. Hal ini menyingkirkan diagnosis retardasi
mental (F.70)
Data yang didapat masih belum dapat menegakkan diagnosis gangguan
kepribadian. Pada aksis II belum ada diagnosis

c. Aksis III
Pada anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak ditemukan riwayat penyakit fisik.
Oleh karena itu aksis III tidak ada diagnosis.

d. Aksis IV
Pada pasien didapatkan kepatuhan yang kurang dalam minum obat.

e. Aksis V
Penilaian terhadap kemampuan pasien untuk berfungsi dalam kehidupannya
menggunakan skala GAF (Global Assessment of Functioning). Pada saat
dilakukan wawancara, skor GAF 60-51 (gejala sedang, disabilitas sedang).
GAF tertinggi selama satu tahun terakhir adalah 60-51 (gejala sedang,
disabilitas sedang).

G. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I : F 20.0Skizifrenia Paranoid dengan Eksaserbasi Akut
Aksis II : belum ada diagnosis
11

Aksis III : Tidak ada
Aksis IV : kepatuhan minum obat
Aksis V : GAF 60 51 (saat ini)
GAF 60 51 (HLPY)

H. DAFTAR PROBLEM
a. Organobiologik: Tidak ditemukan adanya kelainan fisik yang bermakna, tetapi
diduga terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter.
b. Psikologik:
Terdapat gangguan menilai realita berupa
Halusinasi auditorik
Terdapat pula gangguan isi pikir berupa
Waham curiga
c. Sosiologik: Ditemukan adanya hendaya dalam bidang sosial pasien butuh
sosioterapi.

I. PROGNOSIS
a. Quo ad vitam : Ad bonam
b. Quo ad functionam : Dubia ad bonam
c. Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

J. RENCANA TERAPI
a. Psikofarmaka :
Haloperidol 3 x 5 mg;

b. Psikoterapi Supportif
Ventilasi : memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan
keluhan dan isi hati sehingga pasien menjadi lega.
Konseling memberikan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya dan
memahami kondisinya lebih baik dan menganjurkan untuk berobat teratur.
12

Sosioterapi : memberikan penjelasan pada keluarga pasien dan orang sekitar
pasien untuk memberikan dorongan dan menciptakan lingkungan yang
kondusif.

K. PEMBAHASAN/TINJAUAN PUSTAKA
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan
perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai
dengan penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan
persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappriopriate) atau tumpul (blunted).
Kesadaran jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun
kemunduran kognitif dapat berkembang kemudian.

Dalam penegakan diagnosis skizofren harus ada sedikitnya satu atau dua gejala
berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala
itu kurang tajam atau kurang jelas)
a. Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,
namun kualitas berbeda ; atau
Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk
ke pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari
luar dirinya (withdrawal) ; atau
Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain
atau umum mengetahuinya.
b. Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan dai luar; atau
Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya atau pasrah
terhadap suatu kekuatan dari luar
13

Delusion of percepsion = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasa bersifat mistik atau mukjizat.
c. Halusinasi auditorik :
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap
perilaku pasien, atau
- Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara
berbagai suara yang berbicara), atau
- Jenis suara halusinasi yang berasal dari salah satu bagian tubuh
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia
biasa (misalnya bisa mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan
makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
a. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide belebihan (over-valued ideas) yang
menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau
berbulan-bulan terus-menerus;
b. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme
c. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativism, mutisme, dan stupor;
d. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, respon
emosional yang menumpul dan tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus
jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi
neuroleptika;
14

Adanya gejala-gejala khas tersebut di atas telah berlangsung selama kurun waktu
satu bulan atau lebih dan harus ada suatu perubahan yang konsisten dan
bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku
peribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed
attitude), dan penarikan diri secara sosial.

Dari anamnesis di temukan gejala-gejala yang ada pada pasien berupa:
1. Halusinasi Auditorik : pasien mendengar suara-suara seperti orang berbicara di
dalam kepalanya.
2. Halusinasi Visual : pasien sering melihat orang dengan pakaian kerajaan dan
adat tertentu
3. Waham curiga : pasien merasa bahwa tetangga-tetangganya merasa iri
padanya.
4. Waham kejar : pasien merasa ada orang yang ingin mengguna-guna atau
menyantet dirinya tidak tahu siapa.
Setelah ditemukan gejala-gejala tersebut, pasien ini didiagnosis sebagai
skizofrenia (F20).
A. Apakah diagnosis multiaksial sudah tepat?
Menurut kami diagnosis pada kasus ini sudah tepat karena :
Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan persepsi dan isi pikir yang
bermakna serta menimbulkan suatu distress (penderitaan) dan disability
(hendaya) dalam pekerjaan dan kehidupan sosial pasien, sehingga dapat
disimpulkan bahwa pasien ini mengalami gangguan jiwa.

Aksis I
Berdasarkan data-data yang didapat memelalui anamnesis, pemeriksaan fisik
dan rekam medik, tidak ditemukan riwayat trauma kepala, demam tinggi atau
kejang sebelumnya ataupun kelainan organik. Tidak pernah ada riwayat
15

penggunaan zat psikoaktif. Hal ini dapat menjadi dasar untuk
menyingkirkan diagnosis gangguan mental organik (F.0) dan penggunaan
zat psikoaktif (F.1).
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dengan pasien. Pada pasien
didapatkan halusinasi auditorik dan visual yang menetap, gejala-gejala negatif
seperti penarikan diri dari sosial, sering melamun, bicara jarang. Gejala-gejala
tersebut sudah muncul pada pasien sejak 10 tahun yang lalu. Dari data ini
menjadi dasar untuk mendiagnosis bahwa pasien menderita skizofrenia
(F.20), sekaligus menyingkirkan diagnosis gangguan psikotik akut (F.23).
Pada pasien ini juga mengarah ke skizofrenia paranoid, dimana menurut
PPDGJ III kriterianya adalah sebagai berikut:
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
Sebagai tambahan :
o halusinasi dan/atau waham harus menonjol;
a) suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi
perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi
pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa
(laughing);
b) halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual,
atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi
jarang menonjol;
c) waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau
passivity (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang
beraneka ragam, adalah yang paling khas;
o gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala
katatonik secara relatif tidak nyata/ tidak menonjol.
Pada pasien ini terdapat halusinasi auditorik, halusinasi visual dan waham yang
menonjol sehingga diagnosisnya adalah skizofrenia paranoid (F20.0).
16

Aksis II
Aksis II tidak ada diagnosis dikarenakan pada pasien hanya didapatkan tumbuh
kembang saat masa kanak-kanak baik, pasien mampu menyelesaikan
pendidikan sampai tamat SMA. Hal ini menyingkirkan diagnosis retardasi
mental (F.70)
Data yang didapat masih belum dapat menegakkan diagnosis gangguan
kepribadian. Pada aksis II belum ada diagnosis

Aksis III
Pada pasien ini tidak ditemukan adanya kelainan fisik sehingga tidak ada
diagnosis pada aksis III.

Aksis IV
Pada pasien didapatkan kepatuhan yang kurang dalam minum obat.

Aksis V
Penilaian terhadap kemampuan pasien untuk berfungsi dalam kehidupannya
menggunakan skala GAF (Global Assessment of Functioning). Pada saat
dilakukan wawancara, skor GAF 60-51 (gejala sedang, disabilitas sedang).
GAF tertinggi selama satu tahun terakhir adalah 60-51 (gejala sedang,
disabilitas sedang).

B. Apakah rencana terapi sudah tepat?
Rencana terapi pada pasien ini adalah dengan antipsikotik golongan
butirofenon, haloperidol dengan dosis 15 mg/hari dibagi dalam tiga dosis.
Haloperidol merupakan antipsikotik yang bersifat D2 antagonis yang sangat
poten. Pada pemberian haloperidol harus memperhatikan apakah pasien
memiliki gangguan hati, ginjal, penyakit Parkinson, depresi sumsum tulang,
kehamilan dan laktasi, karena hal-hal tersebut merupakan kontraindikasi dari
17

pemberian haloperidol. Efek samping yang merugikan dari pemberian obat ini
adalah gejala ekstrapiramidal yang mungkin ditimbulkan, Sehingga
memerlukan pengawasan. Bila terdapat tanda gejala ekstrapiramidal, maka
terlebih dahulu dilakukan penurunan dosis, bila tidak dapat ditanggulangi perlu
diberikan obat-obat antikholinergik. Misal: trihexyphenidyl 3x2 mg. bila tetap
tidak berhasil mengatasi efek samping disarankan mengganti jenis antipsikotik
dengan golongan APG-II.
C. Apakah prognosis sudah tepat?
Ada beberapa pertimbangan yang memperngaruhi prognosis pasien:
Kurangnya dukungan dari keluarga; terutama terkait pengawasan minum
obat.
Perilaku menyediri (adanya gejala negative);
Pisah rumah dengan suami;
















18


























1990
2011
2013 2014
Keluhan pertama kali
muncul
Susah tidur
Mudah marah
Mulai mendengar
bisikan
Keluhan waham mulai
muncul
Sulit tidur
Mudah marah
Menyendiri
Gelisah
Bicara sendiri
ide curiga
Rawat pertama kali
Sulit tidur
Mudah marah
Gelisah
Menyendiri
Suka mondar-
mandir
Bicara sendiri
Waham curiga

19







DAFTAR PUSTAKA



1. Amir, Nurmiati. 2013. Skizofrenia dalam Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua.
Jakarta. Badan penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Maslim, Rusdi. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-
III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika
Atmajaya.
3. kusumawhardhani. 2013. Terapi Fisik dan Psikofarmaka dalam Buku Ajar
Psikiatri Edisi Kedua. Jakarta. Badan penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.