Anda di halaman 1dari 21

II.

TINJAUAN PUSTAKA


A. DEMAM BERDARAH DENGUE

1. Definisi DD, DBD, DSS
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. DBD
adalah penyakit yang dapat menyerang orang dewasa dan anak-anak yang ditandai
dengan demam yang mendadak serta timbulnya gejala klinis yang tidak khas.
Terdapat kecenderungan diathesis hemoragic dan risiko terjadinya syok yang
dapat berakibatkan kematian (Depkes, 2005).
Demam dengue adalah penyakit demam akut selama 2-7 hari dengan dua
atau lebih manifestasi gejala, seperti : nyeri kepala, nyeri retro-orbital, mialgia,
ruam pada kulit, manifestasi perdarahan, dan leukopenia serta di tunjang dengan
pemeriksaan laboratorium serologis IgM dan IgG.
Dengue shock syndrom merupakan suatu keadaan yang sangat buruk,
penderita DBD dalam keadaan apapun perlu mendapatkan perawatan dan
pemantauan yang serius, terutama jika demam mendadak turun. Selain menjadi
indikasi kesembuhan, penurunan suhu tubuh sering menjadi gejala awal penderita
memasuki tahap dengue shock syndrome
2. Manifestasi Klinis DD, DBD, DSS
a. Demam
Penyakit DBD ditandai dengan demam tinggi secara mendadak disertai
facial flushing dan sakit kepala. Demam ini berlangsung terus-menerus selama 2-7
hari kemudian turun secara cepat. Kadang-kadang suhu tubuh sangat tinggi
sampai 40
o
C dan dapat dijumpai kejang demam. Pasien kehilangan nafsu makan,
muntah, nyeri epigastrium, nyeri perut di daerah lengkung iga sebelah kanan.
Akhir fase demam merupakan fase kritis pada DBD, oleh karena fase tersebut
dapat merupakan awal penyembuhan tetapi dapat pula sebagai awal fase syok.
b. Tanda-tanda perdarahan

Penyebab perdarahan pada pasien demam berdarah adalah vaskulopati,
trombosipenia gangguan fungsi trombosit serta koasulasi intravasculer yang
menyeluruh. Jenis perdarahan terbanyak adalah perdarahan bawah kulit seperti
ptekie, purpura, ekimosis dan perdarahan konjungtiva. Ptekie merupakan tanda
perdarahan yang sering ditemukan. Muncul pada hari pertama demam tetepai
dapat pula dijumpai pada hari ke 3,4,5 demam. Perdarahan lain yaitu, epistaksis,
perdarahan gusi, melena dan hematemesis.
c. Hepatomegali
Pada umumnya dapat ditemukan pada awal penyakit, bervariasi dari hanya
sekedar dapat diraba (just palpable) sampai 2-4 cm di bawah lengkung iga kanan.
Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit. Untuk
menemukan pembesaran hati, harus dilakukan perabaan setiap hari. Nyeri tekan di
daerah hati sering kali ditemukan dan pada sebagian kecil kasus dapat disertai
ikterus. Nyeri tekan di daerah hati tampak jelas pada anak besar dan ini
berhubungan dengan adanya perdarahan.
d. Syok
Pada saat atau beberapa saat setelah suhu turun, antara hari sakit ke-3
sampai 7, terdapat tanda kegagalan sirkulasi, kulit teraba dingin dan lembap
terutama pada ujung jari dan kaki, sianosis di sekitar mulut, pasien menjadi
gelisah, nadi cepat, lemah, kecil sampai tidak teraba. Walaupun pada beberapa
pasien tampak sangat lemah, pada saat akan terjadi syok, pasien sangat gelisah.
Sesaat sebelum syok sering kali pasien mengeluh nyeri perut. Syok ditandai
dengan denyut nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg
atau kurang), jadi untuk menilai tekanan nadi perhatikan tekanan sistolik dan
diastolik, misalnya 100/90 mmHg berarti tekanan nadi 10 mmHg atau hipotensi
(tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang), kulit dingin dan
lembab. Syok harus bisa segera ditangani, apabila tidak, akan terjadi asidosis
metabolik, perdarahan saluran cerna hebat atau perdarahan lain, yang
berprognosis buruk.
e. Trombositopeni
Penurunan jumlah trombosit menjadi < 100.000/mm3 atau < 1-2 trombosit /
lapangan pandang dengan rata-rata pemeriksaan dilakukan pada 10 lpb, pada
umumnya trombositopenia terjadi sebelum ada peningkatan hematokrit dan
terjadi sebelum suhu turun. Jumlah htrombosit < 100.000/mm3 biasanya
ditemukan antara hari sakit ke-3 sampai hari sakit ke-7. Pemeriksaan trombosit
perlu di ulang sampai terbukti bahwa jumlah trombosit dalam batas normal atau
menurun. Pemeriksaan dilakukan pada saat pasien diduga menderita DBD, bila
normal maka diulang pada hari sakit ke-3 tetapi bila perlu diulang setiap hari
sampai suhu turun.
f. Hemokonsentrasi / kadar hematokrit
Peningkatan nilai hematokrit (Ht) atau hemokonsentrasi selalu dijumpai
pada DBD, merupakan indikator yang peka akan terjadinya perembesan plasma,
sehingga perlu dilakukan pememeriksaan Ht secara berkala. Pada umumnya
penurunan trombosit mendahului peningkatan Ht. Hemokonsentrasi dengan
peningkatan Ht 20% atau lebih (misalnya dari 35% menjadi 42%), mencerminkan
peningkatan permeabilitas kapiler dan perembesan plasma. Nilai Ht dipengaruhi
oleh penggantian cairan atau perdarahan (WHO, 2011).

3. Kriteria Diagnosis DBD
Dikatakan demam berdarah apabila seseorang tinggal atau pernah berkunjung
ke daerah endemis, Demam dan diikuti minimal 2 kriteria :
Mual, muntah
Timbulnya rash
Nyeri perut atau ulu hati
Tes torniket positif
Leukopenia
Dan ada beberapa warning sign::
Nyeri tekan pada ulu hati
Muntah yang terus menerus
Gambaran klinis terjadi akumulasi cairan
Perdarahan mukosa
Letargi
Hepatomegali > 2cm
Peningkatan HCT dengan penurunan platelet count (WHO, 2011).

4. Patogenesis
Pendekatan patogenesis DBD dengan penyulit bertitik tolak dari perjalanan
imunopatogenesis DBD. Pada tahap wal virus dengue akan menyerang sel-sel
makrofag dan bereplikasi dalam sel langerhans dan makrofag di limpa.
Selanjutnya, akan menstimulasi pengaturan sel T, reaksi silang sel T aviditas
rendah dan reaksi silang sel T spesifik, yang akan meningkatkan produksi spesifik
dan reaksi silang antibodi. Pada tahap berikutnya terjadi secara simultan reaksi
silang antibodi dengan trombosit, reaksi silang antibodi dengan plasmin dan
produk spesifik. Proses ini kemudian akan meningkatkan peran antibody dalam
meningkatkan titer virus dan di sisi lain antibodi bereaksi silang dengan
endotheliocytes. Pada tahap berikutnya terjadi efek replikasi sel mononuclear. Di
dalam sel endotel, terjadi infeksi dan replikasi selektif dalam endotheliocytes
sehingga terjadi apoptosis yang menyebabkan disfungsi endotel. Di sisi lain, akan
terjadi stimulasi mediator yang dapat larut (soluble), yaitu TNF , INF , IL-1, IL-
2, IL-6, IL-8, IL-10, IL-13, IL-18, GF , C3a, C4b, C5a, MCP-1,CCL-2, VEGF,
dan NO yang menyebabkan ketidakseimbangan profi l sitokin dan mediator lain;
pada tahap berikutnya terjadi gangguan koaguasi dan isfungsi endotel. Pada hati,
akan terjadi replikasi dalam hepatosit dan sel Kuppfer. Terjadi nekrosis dan atau
apoptosis yang menurunkan fungsi hati, melepaskan produk toksik ke dalam
darah, meningkatkan fungsi koagulasi, meningkatkan konsumsi trombosit,
aktivasi sistem fibrinolitik, dan menyebabkan gangguan koagulasi. Pada makrofag
di jaringan, terjadi apoptosis sehingga mediator larut (soluble) akan meningkatkan
TNF , INF , IL-1, IL-2, IL-6, IL-8, IL-10, IL-13, IL-18, TGF , C3a, C4b, C5a,
MCP-1, CCL-2, VEGF, dan NO, berakibat ketidakseimbangan profi l terhadap
sitokin an mediator lain sehingga terjadi gangguan ndotel dan koagulasi. Pada
sumsum tulang, terjadi replikasi lam sel stroma sehingga terjadi supresi
hemopoietik yang berkembang ke arah angguan koagulasi. Sedangkan stimulasi
terhadap sistem mplemen dan sel imunitas didapat akan meningkatkan koagulasi,
menurunkan mediator larut (soluble), terjadi ketidakseimbangan profil sitokin
sehingga berkembang menjadi gangguan koagulasi.













Gambar 1. Patogenesis DBD

5. PENATALAKSANAAN
Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis.
Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran
plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan.
Dalam pemberian terapicairan, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah
pemantauan baik secara klinis maupun laboratoris.Proses kebocoran plasma dan
terjadinya trombositopeniapada umumnya terjadi antara hari ke 4 hingga 6 sejak
demam berlangsung. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma akan berkurang dan
cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular. Terapi cairan pada
kondisi tersebut secara bertahap dikurangi. Selain pemantauan untuk menilai
apakah pemberian cairan sudah cukup atau kurang, pemantauan terhadap
kemungkinan terjadinya kelebihan cairan serta terjadinya efusi pleura ataupun
asites yang masif perlu selalu diwaspadai.
Terapi non farmakologis yang diberikan meliputitirah baring (pada
trombositopenia yang berat)dan pemberian makanan dengan kandung-an giziyang
cukup, lunak dan tidak mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi saluaran
cerna. Sebagai terapisimptomatis, dapat diberikan antipiretik berupaparasetamol,
serta obat simptomatis untuk mengatasi keluhan dispepsia. Pemberian aspirin
ataupun obatanti inflamasi nonsteroid sebaiknya dihindari karena berisiko
terjadinya perdarahan pada saluran cerna bagaian atas (lambung/duodenum).
Protokol pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DBD
dewasa mengikuti 5 protokol,mengacu pada protokol WHO. Protokol ini terbagi
dalam 5 kategori, sebagai berikut:
1. Penanganan tersangka DBD tanpa syok (gambar 2).
2. Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa diruang rawat (gambar 3).
3. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit>20% (gambar 4).
4. Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD dewasa
5. Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa (gambar 5).


Gambar 2. Penanganan tersangka DBD tanpa syok


Gambar 3. Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat

Gambar 4. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematocrit >20%


Gambar 5. Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa

a. Kasus DBD yang diperkenankan berobat jalan
Bila penderita hanya mengeluh panas, tetapi keingingan makan dan minum
masih baik. Untuk mengatasi panas tinggi yang mendadak diperkenankan
memberikan obat panas paracetamol 10 15 mg/kg BB setiap 3-4 jam diulang
jika simptom panas masih nyata diatas 38,5
0
C. Obat panas salisilat tidak
dianjurkan karena mempunyai resiko terjadinya penyulit perdarahan dan asidosis.
Sebagian besar kasus DBD yang berobat jalan ini adalah kasus DBD yang
menunjukkan manifestasi panas hari pertama dan hari kedua tanpa menunjukkan
penyulit lainnya. Apabila penderita DBD ini menunjukkan manifestasi penyulit
hipertermi dan konvulsi sebaiknya kasus ini dianjurkan di rawat inap.
b. Kasus DBD derajat I & II
Pada hari ke 3, 4, dan 5 panas dianjurkan rawat inap karena penderita ini
mempunyai resiko terjadinya syok. Untuk mengantisipasi kejadian syok tersebut,
disarankan pemberian cairan kristaloid.
Pada saat fase panas penderita dianjurkan banyak minum air buah atau oralit
yang biasa dipakai untuk mengatasi diare. Apabila hematokrit meningkat lebih
dari 20% dari harga normal, ada kebocoran plasma dan sebaiknya penderita
dirawat di ruang observasi di pusat rehidrasi selama kurun waktu 12-24 jam.
Penderita DBD yang gelisah dengan ujung ekstremitas yang teraba dingin,
nyeri perut dan produksi air kemih yang kurang sebaiknya dianjurkan rawat inap.
Penderita dengan tanda-tanda perdarahan dan hematokrit yang tinggi harus
dirawat di rumah sakit untuk segera memperoleh cairan pengganti.
Volume dan macam cairan pengganti penderita DBD sama dengan seperti
yang digunakan pada kasus diare dengan dehidrasi sedang (6-10% kekurangan
cairan) tetapi tetesan harus hati-hati. Kebutuhan cairan sebaiknya diberikan
kembali dalam waktu 203 jam pertama dan selanjutnya tetesan diatur kembali
dalam waktu 24-48 jam saat kebocoran plasma terjadi. Pemeriksaan hematokrit
secara seri ditentukan setiap 4-6 jam dan mencatat data vital dianjurkan setiap saat
untuk menentukan atau mengatur agar memperoleh jumlah cairan pengganti yang
cukup dan mencegah pemberian transfusi berulang. Perhitungan secara kasar
sebagai berikut :
(ml/jam) = ( tetesan / menit ) x 3
Jumlah cairan yang dibutuhkan adalah volume minimal cairan pengganti
yang cukup untuk mempertahankan sirkulasi secara efektif selama periode
kebocoran (24-48 jam), pemberian cairan yang berlebihan akan menyebabkan
kegagalan faal pernafasan (efusi pleura dan asites), menumpuknya cairan dalam
jaringan paru yang berakhir dengan edema.
Jenis Cairan
(1) Kristaloid
Ringer Laktat
5% Dekstrose di dalam larutan Ringer Laktat
5% Dekstrose di dalam larutan Ringer Ashering
5% Dekstrose di dalam larutan setengah normal garam fisiologi
(faali),dan
5% Dekstrose di dalam larutan normal garam fisiologi

(2) Koloid
Plasma expander dengan berat molekul rendah (Dekstran 40)
Plasma

Kebutuhan Cairan
Pemilihan jenis dan volume cairan yang diperlukan tergantung dari umur
dan berat badan pasien serta derajat kehilangan plasma sesuai dengan derajat
hemokonsentrasi yang terjadi. Pada anak yang gemuk, kebutuhan cairan
disesuaikan dengan berat badan ideal anak umur yang sama. Kebutuhan cairan
rumatan dapat diperhitungkan dari tabel berikut.
Berat badan (kg) Jumlah cairan (ml)
10 100 per kg BB
10 20 1000 + 50 x kg (diatas 10 kg)
> 20 1500 + 20 x kg (diatas 20 kg)

c. Kasus DBD derajat III & IV
Dengue Shock Syndrome (sindrome renjatan dengue) termasuk kasus
kegawatan yang membutuhkan penanganan secara cepat dan perlu memperoleh
cairan pengganti secara cepat. Biasanya dijumpai kelaian asam basa dan elektrolit
(hiponatremi). Dalam hal ini perlu dipikirkan kemungkinan dapat terjadi DIC.
Terkumpulnya asam dalam darah mendorong terjadinya DIC yang dapat
menyebabkan terjadinya perdarahan hebat dan renjatan yang sukar diatasi.
Penggantian secara cepat plasma yang hilang digunakan larutan gaam
isotonik (Ringer Laktat, 5% Dekstrose dalam larutan Ringer Laktat atau 5%
Dekstrose dalam larutan Ringer Asetat dan larutan normal garam faali) dengan
jumlah 10-20 ml/kg/1 jam atau pada kasus yang sangat berat (derajat IV) dapat
diberikan bolus 10 ml/kg (1 atau 2x).
Jika syok berlangsung terus dengan hematokrit yang tinggi, larutan koloidal
(dekstran dengan berat molekul 40.000 di dalam larutan normal garam faal atau
plasma) dapat diberikan dengan jumlah 10-20 ml/kg/jam. Selanjutnya pemberian
cairan infus dilanjutkan dengan tetesan yang diatur sesuai dengan plasma yang
hilang dan sebagai petunjuk digunakan harga hematokrit dan tanda-tanda vital
yang ditemukan selama kurun waktu 24-48 jam. Pemasangan central venous
pressure dan kateter urinal penting untuk penatalaksanaan penderita DBD yang
sangat berat dan sukar diatasi. Cairan koloidal diindikasikan pada kasus dengan
kebocoran plasma yang banyak sekali yang telah memperoleh cairan kristaloid
yang cukup banyak.
Pada kasus bayi, dianjurkan 5% dekstrose di dalam setengah larutan normal
garam faali (5% dekstrose NSS) dipakai pada awal memperbaiki keadaan
penderita dan 5% dekstrose di dalam 1/3 larutan normal garam faali boleh
diberikan pada bayi dibawah 1 tahun, jika kadar natrium dalam darah normal.
Infus dapat dihentikan bila hematokrit turun sampai 40% dengan tanda vital stabil
dan normal. Produksi urine baik merupakan indikasi sirkulasi dalam ginjal cukup
baik. Nafsu makan yang meningkat menjadi normal dan produksi urine yang
cukup merupakan tanda penyembuhan.
Pada umumnya 48 jam sesudah terjadi kebocoran atau renjatan tidak lagi
membutuhkan cairan. Reabsorbsi plasma yang telah keluar dari pembuluh darah
membutuhkan waktu 1-2 hari sesudahnya. Jika pemberian cairan berkelebihan
dapat terjadi hipervolemi, kegagalan faal jantung dan edema baru. Dalam hal ini
hematokrit yang menurun pada saat reabsorbsi jangan diintepretasikan sebagai
perdarahan dalam organ. Pada fase reabsorbsi ini tekanan nadi kuat (20 mmHg)
dan produksi urine cukup dengan tanda-tanda vital yang baik.

Koreksi Elektrolit dan Kelainan Metabolik
Pada kasus yang berat, hiponatremia dan asidosis metabolik sering
dijumpai, oleh karena itu kadar elektrolit dan gas dalam darah sebaiknya
ditentukan secara teratur terutama pada kasus dengan renjatan yang berulang.
Kadar kalium dalam serum kasus yang berat biasanya rendah, terutama kasus
yang memperoleh plasma dan darah yang cukup banyak. Kadanga-kadang terjadi
hipoglemia.

Obat Penenang
Pada beberapa kasus obat penenang memang dibutuhkan terutama pada
kasus yang sangat gelisah. Obat yang hepatotoksik sebaiknya dihindarkan, chloral
hidrat oral atau rektal dianjurkan dengan dosis 12,5-50 mg/kg (tetapi jangan lebih
dari 1 jam) digunakan sebagai satu macam obat hipnotik. Di RSUD Dr. Soetomo
digunakan valium 0,3 0,5 mg/kg/BB/1 kali (bila tidak terjadi gangguan
pernapasan) atau Largactil 1 mg/kgBB/kali.

Terapi Oksigen
Semua penderita dengan renjatan sebaiknya diberikan oksigen

Transfusi Darah
Penderita yang menunjukkan gejala perdarahan seperti hematemesis dan
melena diindikasikan untuk memperoleh transfusi darah. Darah segar sangat
berguna untuk mengganti volume masa sel darah merah agar menjadi normal.

Monitoring
Tanda vital dan kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara teratur
untuk menilai hasil pengobatan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada monitoring
adalah:
Nadi, tekanan darah, respirasi, dan temperatur harus dicatat setiap 15-30
menit atau lebih sering, sampai syok dapat teratasi.
Kadar hematokrit harus diperiksa tiap 4-6 jam sampai keadaan klinis pasien
stabil
Setiap pasien harus mempunyai formulir pemantauan, mengenai jenis
cairan, jumlah, dan tetesan, untuk menentukan apakah cairan yang diberikan
sudah mencukupi.
Jumlah dan frekuensi diuresis.

d. DBD DENGAN PENYULIT
Penatalaksanaan DBD dengan penyulit memerlukan perhatian optimal.
Penyebab kematian DBD dengan penyulit di Departemen Penyakit Dalam FK
UNAIR tahun 1999 adalah dengue shock syndrome (DSS) yang disertai distres
pernafasan akut, DSS dengan syok refrakter dan perdarahan otak.

DBD pada Kelainan Ginjal
Kelainan ginjal pada DBD tidak mudah didiagnosis. Saat outbreak Demam
Dengue tahun 2002 di Taiwan terjadi kematian beberapa pasien dengan penyakit
ginjal kronik (chronic kydney disease, CKD). Laporan tersebut mengungkapkan
tiga kasus DBD dan DSS meninggal dunia meskipun dirawat intensif. Kesulitan
diagnosis dan pengobatan merupakan dilema pada CKD dengan DD sehingga
diagnosis terlambat, meningkatkan risiko mortalitas. Sempitnya jendela toleransi
pemberian cairan pada pasien CKD lebih lanjut menghambat keberhasilan
resusitasi pada DBD dan DSS. CVVD (continuous venous to venous
hemodialysis) sangat membantu menstabilkan hemodinamik. Untuk menurunkan
angka kematian, perhatian utama harus diberikan pada kewaspadaan dini dan
upaya pengobatan agresif infeksi virus dengue pada pasien dengan CKD. Laporan
tersebut juga mengkaji kesulitan diagnosis dan dilema pengobatan pada tiga kasus
kematian DBD/ DSS. Dalam populasi umum, mortalitas DBD berkisar 1-5 %.
Kesulitan diagnosis dan pengobatan pasien CKD menyebabkan risiko tinggi
kematian karena kemiripan gejala dan tanda yang di antara DD dan CKD. Dugaan
klinis untuk membuat diagnosis antara lain adanya riwayat perjalanan dari daerah
endemik, riwayat paparan vektor pasien CKD.
Kelainan ginjal pada penderita DBD yang mengalami syok disebabkan
karena hipoperfusi ginjal, azotemia pre renal dan nekrosis tubuler akut. Gagal
ginjal akut pada umumnya terjadi pada fase terminal syok yang tidak teratasi.
Untuk mempertahankan keseimbangan cairan, pemasangan kateter vena sentral
menjadi alternatif untuk pedoman pemberian cairan. Bila penggantian cairan telah
terpenuhi atau sesuai kebutuhan, syok telah teratasi, tetapi produksi urine masih
tetap belum ada, dipertimbangkan pemberian furosemid 1 mg/kgBB setelah yakin
tidak ada faktor post renal yang menghambat aliran urine. Dopamin dapat
dipertimbangkan untuk membuka aliran darah ginjal yang sebelumnya terganggu.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah gangguan elektrolit dan gangguan
asam basa. Asidosis metabolik harus segera dikoreksi karena akan memicu DIC.
Diuresis, kadar ureum dan kreatinin, kadar elektrolit, tanda vital, kadar hematokrit
harus dipantau dan dievaluasi secara teratur untuk menilai hasil pengobatan,
termasuk memantau kemungkinan timbulnya edema paru dan gagal jantung.

e. DBD dengan Syok dan Perdarahan Spontan
DBD dengan syok dan perdarahan spontan (DSS) merupakan komplikasi
DBD yang sangat penting diwaspadai, karena angka kematiannya sepuluh kali
lipat dibandingkan pada DBD tanpa syok. Keadaan syok dapat diperhatikan dari
keadaan umum, kesadaran, tekanan sistolik <100 mmHg, tekanan nadi <20
mmHg, frekuensi nadi lebih dari 100 x/menit, akral dingin dan kulit pucat serta
diuresis kurang dari 0,5 mL/ kgBB/jam. Pemeriksaan laboratorium yang perlu
adalah darah fosfat lengkap, hemostasis, analisis gas darah, kadar elektrolit
(natrium, kalium, klorida) serta ureum dan kreatinin. Di fase awal DSS, dapat
diberikan Ringer Laktat 20 mL/kgBB/jam, dievaluasi dalam 30-120 menit. Syok
diharapkan dapat diatasi dalam 30 menit pertama. Jika syok sudah dapat diatasi,
Ringer Laktat selanjutnya dapat diberikan 10 mL/kgBB/jam dan dievaluasi setelah
60-120 menit sesudahnya. Jika stabil, dapat diberikan 500 mL setiap 4 jam.
Pengawasan dini terhadap risiko syok berulang dalam 48 jam pertama mutlak
karena proses penyakit masih berlangsung. Jika syok belum teratasi, diberikan
cairan koloid 10-20 mL/kgBB/jam, maksimal 1.000- 1.500 mL dalam 24 jam;
jenis cairan yang tidak memengaruhi mekanisme pembekuan darah. Saat ini,
terdapat tiga golongan cairan koloid, yaitu dextran, gelatin, dan hydroxyethyl
starch (HES).

f. Kriteria Memulangkan Pasien
Pasien dapat dipulangkan, apabila:
Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
Nafsu makan membaik
Tampak perbaikan secara klinis
Hematokrit stabil
Tiga hari setelah syok teratasi
Jumlah trombosit > 50.000/l
Tidak dijumpai distress pernafasan (disebabkan oleh efusi pleura atau
asidosis)

B. PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit DBD dapat dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu pencegahan
primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
a. Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mempertahankan orang
yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
Pencegahan primer dilakukan melalui survailans vektor, pengendalian vektor.
Pencegahan sekunder dilakukan dengan penemuan, pertolongan, dan pelaporan
penderita DBD oleh petugas kesehatan. Pencegahan tersier dimaksudkan untuk
mencegah kematian akibat penyakit DBD dan melakukan rehabilitasi.