Anda di halaman 1dari 55

Pusdiklatwas BPKP 1

AKUNTABILITAS
INSTANSI
PEMERINTAH
REVOLUSI MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK
REINVENTING
GOVERNMENT (1992)
NEW PUBLIC MANAGEMENT
SWASTA SEBAGAI MITRA
PEMERINTAH
DARI NPM KE GOVERNANCE
ORIENTASI PRIVATISASI TIDAK
MENGURANGI PERAN PEMERINTAH
PERAN PEMERINTAH MASIH SANGAT
DIBUTUHKAN
GOVERNANCE MENGATUR HUBUNGAN
ANTARA PEMERINTAH DENGAN
MASYARAKAT
Pusdiklatwas BPKP
3
Good Governance [Deklarasi Manila]
Transparan
Akuntabel
Adil
Wajar
Demokratis
Partisipatif
Tanggap/peka/responsif
Good Governance [UNDP]
Partisipasi
Aturan hukum (rule of law)
Transparansi.
Daya tanggap (responsiveness)
Berorientasi konsensus (consensus orientation)
Berkeadilan (equity)
Efektivitas dan efisiensi
Akuntabilitas
Bervisi strategis
Saling keterkaitan (interrelated)
Akar masalah Good Governance
C = Corruption
M = Monopoly of power
D = Discretion by officials
A = Accountability





Klitgaard et.all, dalam Agus Dwiyanto et.al, 2006
C = M + D A
Keleluasaan bertindak
Formula
C = M + D A
C = M + D A
Akuntabilitas
Mampu memberikan pertanggungjawaban atas mandat
yang diberikan kepadanya (stakeholders-nya)
amanah
Secara umum organisasi atau institusi harus akuntabel
kepada mereka yang terpengaruh dengan keputusan
atau aktivitas yang mereka lakukan (Deklarasi Manila]
Memiliki pertanggungjawaban (akuntabilitas) kepada
publik (masyarakat umum), sebagimana halnya kepada
para pemilik (stakeholders).
Pertanggungjawaban tersebut berbeda-beda,
bergantung apakah jenis keputusan organisasi itu
bersifat internal atau external
Ide Dasar
Ide dasar dari akuntabilitas adalah
kemampuan seseorang atau organisasi
atau penerima amanat untuk memberikan
jawaban kepada pihak yang memberikan
amanat atau mandat
Bagi organisasi publik, siapa yang
memberikan amanat / mandat?
Rakyat??
4 Model Akuntabilitas
1. Model Tradisional Westminster
2. Model tradisional yang dikembangkan
3. Model Stone
4. Model Jaringan Kerja (Jaringan yang
kompleks)
Model Tradisional Westminster [1]

Model akuntabilitas ini sesuai dengan
konsep birokrasi yang diterapkan oleh
Weber sehingga disebut juga sebagai
administrative accountability
Garis pertanggungjawaban akuntabilitas
dari bawah ke atas (hierakhi)
Setiap individu memberikan
pertanggungjawaban kepada atasannya
secara hirarkis
Sebagai bentuk kontrol atasan terhadap
kinerja bawahan
Top-down & tak bisa melihat kinerja
Pengembangan Model Tradisional [2]
Tidak hanya dari bawah ke atas, tetapi juga bersifat
kedalam (perorangan) dan keluar (masyarakat)
Upward
I nward
Outward
Perlu diciptakannya berbagai mekanisme dan sistem
akuntabilitas seperti
Pengembangan jaminan kebebasan mendapatkan
informasi
Pembentukan berbagai lembaga independen yang
bertujuan untuk mengontrol kinerja sektor publik
seperti ombudsman dan lembaga peradilan yang
kuat
Model Stone [3]
Akuntabilitas dibagi dalam 5 kategori,
yaitu:
Kontrol dari Parlemen (DPR)
Managerialism (P-D-C-A)
Pengadilan/Lembaga semi peradilan;
Perwakilan Masyarakat
Pasar (konsumen-pengusaha)
Model Jaringan Kerja [4]
Para pihak terkait satu dengan yang lain
membentuk suatu jaringan kerja dan saling
memberikan kontribusi dan informasi.
Model ini menekankan pada pola hubungan
yang terjalin dalam suatu kerjasama.
Dalam suatu sistem kerjasama, semua pihak
yang terkait saling melakukan komunikasi,
pemberian informasi dan hubungan kerja yang
saling melengkapi untuk mencapai tujuan dari
jaringan kerja yang dibuat.
Mekanisme Akuntabilitas
Pengembangan Mekanisme
akuntabilitas diarahkan untuk:
Kejelasan tugas dan peran
Hasil akhir yang spesifik
Proses yang transparan
Ukuran keberhasilan kinerja
Konsultasi dan inspeksi publik.
Mekanisme akuntabilitas
Mekanisme akuntabilitas juga meliputi
aspek yaitu siapa yang harus melakukan
akuntabilitas, kepada siapa akuntabilitas
ini dilakukan, untuk apa akuntabilitas
dilakukan, bagaimana dan prosesnya.
Mekanisme akuntablitas ini sangat
bervariasi dan sangat ditentukan oleh
apakah keputusan atau aktivitas yang
dilakukan suatu organisasi mengikat
organisasi secara internal atau eksternal
Akuntabilitas diberikan kepada siapa?
Masyarakat (pelanggan)
Pemerintah Pusat dan Daerah (termasuk
dalam hal ini Presiden, Menteri, Gubernur,
Bupati, Walikota, Pejabat Struktural dalam
Birokrasi Pemerintah)
Organisasi Kemasyarakatan/NGOs
Organisasi pemerintah lainnya misalnya
BUMN
Lembaga penilai organisasi publik yang
diatur dalam undang-undang
MEKANISME AKUNTABILITAS
PEMERINTAH
Halaman 13
Richard Mulgan (2003), Holding Power to
Account menyusun matriks mekanisme
akuntabilitas pemerintah.
Pusdiklatwas BPKP
18
Pusdiklatwas BPKP
19
Lingkup akuntabilitas
Pertanggungjawaban administrasi dan
organisasi
Pertanggungjawaban legal
Pertanggungjawaban politik
Pertanggungjawaban profesi
Pertanggungjawaban moral
Kebijakan Akuntabilitas Publik
di Indonesia
Tuntutan internal (Indonesia) antara lain
agar sektor publik semakin
Transparan
Mampu mempertanggungjawabkan atas
berbagai kebijakan dan tindakan
Perubahan dalam lingkungan global dalam
hal manajemen sektor publik misalnya
tuntutan Good Governance dan
Performance Management
Kebijakan
Dimulai sejak dikeluarkannya TAP MPR RI Nomor
XI/MPR/1998 tentang penyelenggara negara yang
bersih dan bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme dan
UU No. 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara
Yang Bersih dan Bebas dari KKN. meliputi:
Azas kepastian Hukum.
Azas tertib penyelenggaraan negara.
Azas kepentingan umum.
Azas keterbukaan.
Azas proporsionalitas.
Azas profesionalistas.
Azas akuntabilitas
Inpres Nomor 7 Tahun 1999
Tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
Wujud nyata penerapan akuntabilitas di Indonesia.
Inpres ini mendefinisikan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (AKIP) sebagai pertanggungjawaban
keberhasilan atau kegagalan misi dan visi instansi
pemerintah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang
telah ditetapkan melalui seperangkat indikator kinerja
Dalam konteks AKIP ini, instansi pemerintah diharapkan
dapat menyediakan informasi kinerja yang dapat dipahami
dan digunakan sebagai alat ukur keberhasilan ataupun
kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran
KEBIJAKAN TERKAIT SAKIP
UU 17/2003
UU I/2004
UU 25/2004
INPRES 5/2004
PERPRES 9/2005
INPRES 4/2011
Pusdiklatwas BPKP
24
Pusdiklatwas BPKP
25
Siklus Manajemen Berbasis Kinerja
Menyusun Renstra,
mendefinisikan Visi,
Misi dan Menetapkan
Strategic Performance
Objectives
Menetapkan Rencana
Kinerja, Pengukuran
Kinerja dan
Melakukan Kegiatan
Pengumpulan
Data untuk
Menilai Kinerja
Analisis, Reviu
Dan Melaporkan
Data Kinerja
Menggunakan
Informasi Kinerja
Untuk Memotivasi
Perbaikan
Menetapkan
Akuntabilitas
Kinerja
Pusdiklatwas BPKP
26
Siklus Akuntabilitas Kinerja
Pemanfaatan
Informasi Kinerja
Pengukuran
Kinerja
Pelaporan
Kinerja
Perencanaan
Strategis
Pusdiklatwas BPKP
27
Perencanaan Stratejik
Suatu proses sistematis yang berkelanjutan
dari pembuatan keputusan yang berisiko,
dengan memanfaatkan sebanyak-banyaknya
pengetahuan antisipatif, mengorganisasi
secara sistematis usaha-usaha melaksanakan
keputusan tersebut dan mengukur hasilnya
melalui umpan balik yang terorganisasi dan
sistematis
Pusdiklatwas BPKP
28
Menentukan visi, misi, tujuan dan sasaran yang
akan dicapai
Mengenali lingkungan dimana organisasi
berinteraksi
Melakukan analisis yang bermanfaat dalam
positioning organisasi
Mempersiapkan faktor penunjang yang
diperlukan untuk mencapai keberhasilan
Menciptakan sistem umpan balik
Hal-hal yang harus dilakukan
dalam perumusan Renstra
Pusdiklatwas BPKP
29
Renstra mempertimbangkan kondisi saat ini
(where are we now?) (Nilai-nilai, CSF, dan
Lingkungan)
Memuat secara jelas arah masa depan yang
hendak dituju (where do we want to be?) (Visi,
Tujuan dan Sasaran)
Memuat cara-cara mencapai tujuan dan sasaran
(how to get there?) (Strategi)
Memuat ukuran keberhasilan (how do we measure
our progress?) (Indikator kinerja)
Muatan Renstra
Pusdiklatwas BPKP
30
Merencanakan perubahan
Pengelolaan keberhasilan
Orientasi masa depan
Adaptif
Sarana dalam memberikan pelayanan prima
Meningkatkan komunikasi

Manfaat Renstra
Pusdiklatwas BPKP
31
Komponen Minimal Renstra
VISI
MISI
TUJUAN
SASARAN
KEBIJAKAN
PROGRAM
NILAI-NILAI
INDIKATOR
KINERJA
CSF
LINGKUNGAN
Pusdiklatwas BPKP
32
Visi
Berkaitan dengan cara pandang jauh ke depan
menyangkut kemana instansi pemerintah harus
dibawa dan diarahkan agar dapat berkarya, tetap
eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif.

Suatu gambaran menantang tentang keadaan masa
depan yang berisikan cita dan citra yang ingin
diwujudkan instansi pemerintah.

Pusdiklatwas BPKP
33
Rumusan Visi yang jelas diharapkan mampu:
a. Menarik komitmen dan menggerakkan orang,
b. Memberikan makna bagi kehidupan anggota
organisasi,
c. Membentuk standar unggulan, dan
d. Menjembatani keadaan sekarang dan keadaan masa
depan.
Pusdiklatwas BPKP
34
Misi
Suatu yang harus diemban atau dilaksanakan
oleh instansi pemerintah, sebagai penjabaran
visi yang telah ditetapkan.

Pusdiklatwas BPKP
35
Melingkup semua pesan yang terdapat dalam visi.
Memberikan petunjuk terhadap tujuan yang akan
dicapai.
Memberikan petunjuk sasaran publik mana yang
akan dilayani
Memperhitungkan berbagai masukan dari
stakeholders
Rumusan Misi hendaknya mampu :
Pusdiklatwas BPKP
36
FAKTOR-FAKTOR KUNCI
KEBERHASILAN
Berfungsi untuk lebih memfokuskan strategi organisasi
dalam rangka pencapaian tujuan dan misi organisasi
secara efektif dan efisien.

Faktor-faktor kunci ini dapat di-identifikasikan dari:
kekuatan, kelemahan, tantangan dan kendala yg
dihadapi, sumber daya, sarana prasarana, peraturan
perundangan dan kebijaksanaan, dana.
Pusdiklatwas BPKP
37
TUJUAN
Sesuatu (apa) yang akan dicapai atau dihasilkan
dalam jangka waktu tertentu (1 sd 5 tahun).

Ditetapkan dengan mengacu kepada pernyataan visi
dan misi dan akan mengarahkan perumusan sasaran,
program dan kegiatan dalam rangka merealisasikan
misi

Dapat menyediakan dasar yang kuat untuk
menetapkan indikator kinerja yang beorientasi
kepada hasil
Pusdiklatwas BPKP
38
SASARAN
Sesuatu yang akan dicapai secara nyata oleh instansi
pemerintah dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur,
berorientasi pada hasil, dapat dicapai, dan memiliki
kurun waktu tertentu.

Dalam sasaran dirancang pula indikator sasaran, yaitu
ukuran tingkat keberhasilan pencapaian sasaran yang
telah diidentifikasi untuk diwujudkan pada suatu kurun
waktu tertentu dan disertai targetnya masing-masing

Pusdiklatwas BPKP
39
STRATEGI
(CARA MENCAPAI TUJUAN DAN SASARAN)
Kebijakan
Merupakan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati
pihak-pihak terkait dan ditetapkan oleh yang berwenang
untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan tindakan atau
kegiatan guna tercapainya kelancaran dan keterpaduan
dalam perwujudan tujuan dan sasaran.
Program
Kumpulan kegiatan yang sistematis dan terpadu untuk
mendapatkan hasil yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa
instansi pemerintah ataupun dalam rangka kerjasama dengan
masyarakat guna mencapai sasaran tertentu
Pusdiklatwas BPKP
40
PERENCANAN KINERJA
TAHUNAN
SASARAN, INDIKATOR KINERJA, DAN
TARGET
PROGRAM YANG AKAN
DILAKSANAKAN
KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, DAN
TARGET

PENETAPAN KINERJA
SASARAN STATEGIS ORGANISASI
OUTPUT DAN OUTCOME
INDIKATOR KINERJA OUTPUT DAN
OUTCOME
PERKIRAAN REALISTIS TENTANG
CAPAIAN
Pusdiklatwas BPKP
41
MANFAAT TAPKIN
MEMANTAU DAN MENGENDALIKAN
PENCAPAIAN KINERJA
ORGANISASI
MELAPORKAN CAPAIAN REALISASI
KINERJA DALAM LAKIP
MENILAI KEBERHASILAN
ORGANISASI
Pusdiklatwas BPKP
42
IKU DAN IKK FOKUS PADA PENILAIAN
MANAJEMEN
IKK UNTUK PEMDA DISUSUN
BERDASARKAN SPM
IKU DITETAPKAN UNTUK MENGUKUR
KEBERHASILAN ORGANISASI SECARA
MENYELURUH DALAM PELAYANAN
KPD MASY.

Pusdiklatwas BPKP
43
Pusdiklatwas BPKP
44
RENCANA KINERJA
Memuat:
Sasaran yang ingin dicapai pada periode yang
bersangkutan
Kelompok indikator kinerja yang diharapkan dalam
suatu kegiatan
Tingkat kinerja yang diharapkan dapat dicapai oleh
organisasi pada satu periode tertentu
Indikator keberhasilan atas tingkat kinerja yang
diharapkan tersebut.
Rencana perolehan sumber data indikator kinerja yang
diharapkan

Pusdiklatwas BPKP
45
Proses Penyusunan Rencana
Kinerja
1. Penetapan Sasaran
2. Penetapan Program
3. Penetapan Kegiatan
4. Penetapan Indikator Kinerja dan
Target

Pusdiklatwas BPKP
46
Pengukuran Kinerja
Dasar untuk menilai keberhasilan
dan kegagalan pelaksanaan kegiatan
sesuai dengan sasaran dan tujuan
yang telah ditetapkan dalam rangka
mewujudkan visi dan misi instansi
pemerintah.
Pusdiklatwas BPKP
47
Pengukuran Kinerja
Mencakup:
Perencanaan dan penetapan tujuan
Pengembangan ukuran yang relevan
Pelaporan formal atas hasil
Penggunaan informasi
TINGKATAN PENGUKURAN KINERJA
HASIL KEGIATAN
(OUTPUT) UNTUK
ESELON II

HASIL PROGRAM
(OUTCOME) UNTUK
ESELON I


PENCAPAIAN SASARAN
STRATEGIS UNTUK K/L

PUSAT
HASIL
PROGRAM
DAN
KEGIATAN
UNTUK
SKPD
HASIL
PROGRAM
UNTUK
PEMDA
DAERAH
Pusdiklatwas BPKP
48
EVALUASI KINERJA
TINGKAT KEMENTERIAN BERSIFAT
STRATEGIS
TINGKAT DIBAWAHNYA LEBIH
RINCI DAN BERSIFAT OPERASIONAL
Pusdiklatwas BPKP
49
Pusdiklatwas BPKP
50

LAPORAN AKUNTABILITAS
INSTANSI PEMERINTAH
( LAKIP )



Pusdiklatwas BPKP
51
PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN LAKIP
Prinsip pertanggungjawaban
Prinsip Pengecualian
Prinsip Perbandingan
Prinsip Akuntabilitas
Prinsip Manfaat
KEWAJIBAN PENYUSUNAN LAKIP
KEMENTERIAN/LEMBAGA
PEMERINTAH
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
UNIT ORGANISASI ESELON I PADA
KEMENTERIAN/LEMBAGA
SKPD
UNIT KERJA MANDIRI
Pusdiklatwas BPKP
52
Pusdiklatwas BPKP
53
KAPAN LAKIP HARUS DIBUAT?
LAKIP harus disampaikan kepada Presiden
melalui Menpan selambat-lambatnya 2,5
bulan setelah tahun anggaran berakhir.
LAKIP Eselon I dan Unit Kerja Mandiri
disampaikan kepada Menteri/Pimpinan
Lembaga.
Waktu penyampaian diatur secara internal
oleh Menteri/Pimpinan Lembaga.
Pusdiklatwas BPKP
54
LAKIP PEMERINTAH DAERAH
LAKIP harus disampaikan kepada Presiden
melalui Menpan selambat-lambatnya 3
bulan setelah tahun anggaran berakhir.
LAKIP SKPD dan Unit Kerja Mandiri
disampaikan kepada Gub/Bupati/Walikota.
Waktu penyampaian diatur secara internal
oleh Gub/Bupati/Walikota.
Pusdiklatwas BPKP 55