Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Stigmasisasi masyarakat selama ini tentang program Keluarga Berencana
yang menganggap bahwa KB adalah urusan para wanita sangatlah membebani.
Program Keluarga Berencana merupakan tanggung jawab dari kedua belah pihak,
suami dan istri. Para suami pun memiliki peran yang sama pentingnya dengan
peran istri dalam menyukseskan program Keluarga Berencana
(1)
peran suami
dalam program keluarga berencana adalah dukungan suami untuk istri dalam
memilih alat kontrasepsi yang akan digunakan dalam rangka menunda kehamilan.
Peran suami yang lain adalah selama masa kehamilan ibu. Ibu yang
sedang hamil akan mengalami banyak perubahan, baik dari segi fisik maupun
emosional. Perubahan yang terjadi ini menyebabkan ibu tidak nyaman bahkan
bisa mengalami strress. Untuk membantu ibu meringankan beban tersebut
dukungan dan peran suami sangat membantu ibu. Menurut sebuah penelitian,
dukungan dan keikutsertaan suami secara aktif dalam masa kehamilan dapat
menentukan keberhasilan ibu dalam memberikan ASI kelak.
(1)
Dukungan moral suami pada istri adalah hal yang memang dibutuhkan,
sangat dianjurkan bahwa suami harus memberi dukungan yang lebih besar kepada
istrinya yang sedang hamil. Dukungan suami terhadap kehamilan istri baik secara
fisik maupun psikis yang dibutuhkan misalnya ikut mengantarkan melakukan
pemeriksaan kehamilan. Prilaku suami yang baik bisa membuat istri menjadi
bahagia dan menghayati masa kehamilan dengan tenang. Dukungan emosi dari
pasangan juga merupakan faktor penting dalam mencapai keberhasilan tugas
perkembangan kehamilan.
Wanita yang diperhatikan dan dikasihi oleh pasangan prianya selama hamil akan
menunjukkan lebih sedikit gejala emosi, fisik, dan sedikit komplikasi persalinan
serta lebih mudah melakukan penyesuaian selama masa nifas. Salah satu strategi
Making Pregnancy Safer (MPS) adalah mendorong pemberdayaan perempuan dan
keluarga. Output yang diharapkan dari strategi tersebut adalah menetapkan
keterlibatan suami dalam mempromosikan kesehatan ibu dan meningkatkan peran
aktif keluarga dalam kehamilan dan persalinan (Depkes RI, 2001).

Peran suami di masa kehamilan. BKKBN.2014. Available at.
http://kepri.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=4143 . Accesed on 18 september
2014
Pada puskesmas Kecamatan Pasar Minggu tahun 2013, dari data yang
didapat bulan Januari sampai Desember sebanyak 814 kasus, sedangkan untuk
tahun 2014 pada bulan Januari sampai Bulan Agustus sebanyak 652 kasus.
Anemia masih merupakan masalah pada pasien yang datang ke Unit Pelayanan
KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Tingginya kejadian anemia pada ibu hamil secara
tidak langsung mempengaruhi angka kejadian bayi lahir dengan berat badan
rendah (BBLR) di Indonesia yang mencapai 350.000 bayi per tahunnya. Oleh
karena itu, penanganan anemia menjadi salah satu program potensial untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang telah dilaksanakan sejak
pembangunan jangka panjang.
7

Melihat begitu luasnya masalah dan dampak buruk yang bisa terjadi karena
anemia dalam kehamilan terhadap ibu dan janin, serta prevalensi anemia pada ibu
hamil di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu maka peneliti tertarik
untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia
dengan angka kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Pasar
Minggu tahun 2014.


1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan data yang kami dapatkan dari puskesmas tempat pembinaan,
masalah yang akan kami teliti adalah:
1. Bagaimana peran dukungan suami terhadap istri selama masa kehamilan,
persalinan sampai pemberian ASI ?


1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Meningkatnya rasa kepedulian dan kasih sayang suami terhadap istri dan
memperoleh gambaran adaptasi dari suami terhadap kehamilan, rencana
persalinan, sampai pemberian ASI.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mendeskripsikan dukungan suami kepada istri selama masa
kehamilan
2. Untuk menge
3. Untuk mengetahui

1.4 Hipotesis
1. Masih ada ibu hamil yang belum mengetahui informasi tentang anemia pada
kehamilan
2. Masih tingginya angka kejadian anemia pada ibu hamil
3. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang anemia pada ibu
hamil dengan angka kejadian anemia pada kehamilan

1.5 Manfaat
1. Bagi Instalasi / profesi Kesehatan
Institusi yang terkait dapat melakukan upaya yang berkenaan dengan
peningkatan kesehatan masyarakat.
2. Bagi Masyarakat
Untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang anemia pada
kehamilan.
3. Bagi Puskesmas
Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan khususnya dokter
puskesmas untuk melakukan usaha peningkatan produktivitas dan status
kesehatan.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anemia
2.1.1 Definisi
Anemia adalah penurunan jumlah massa sel darah merah. Fungsi sel darah
merah mengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbon dioksida dari
jaringan ke paru-paru dengan menggunakan hemoglobin (tetramer protein yang
terdiri dari heme dan globin). Anemia mengganggu kemampuan tubuh untuk
menukar udara dengan berkurangnya jumlah sel darah merah yang mengangkut
oksigen dan karbon dioksida. Anemia merupakan suatu gejala yang membutuhkan
pemeriksaan lebih dalam untuk menentukan etiologi penyebabnya.
9

Proses pembentukan sel darah merah baru disebut dengan eritropoiesis.
Prekursor eritrosit diproduksi di sumsum tulang dengan kecepatan yang
bergantung dari kadar Hb yang ada dalam darah. Prekursor eritrosit
berdiferensiasi dari sel punca menjadi sel progenitor menjadi erotroblas menjadi
normoblas dengan proses yang membutuhkan growth factor dan sitokin. Proses
ini memakan waktu beberapa hari. Kemudian normalnya eritrosit dilepaskan ke
dalam sirkulasi dalam bentuk retikulosit. Retikulosit menetap dalam darah selama
1 hari kemudian akan matang menjadi sel darah merah setelah RNA dicerna oleh
sel retikuloendotelial. Sel darah merah matang akan bertahan dalam sirkulasi
sekitar 120 hari sebelum dimakan dan dihancurkan oleh sel fagositik.
9,10

Metode untuk mengukur massa eritrosit memakan banyak waktu dan mahal
maka dalam praktiknya anemia biasanya ditemukan dan diukur dengan hitung
eritrosit, kadar Hb, dan hematokrit. Nilai hasil pengukuran ini harus diinterpretasi
secara hati-hati sebab merupakan konsentrasi yang dipengaruhi perubahan di
volume plasma misalnya dehidrasi akan meningkatkan nilai sedangkan kehamilan
akan menurunkan nilai tanpa perubahan dari massa sel darah merah. Sel darah
merah adalah membran lipid yang melindungi cairan Hb dan disokong oleh
sitoskeleton. Abnormalitas membran, komposisi Hb, atau enzim glikolisis tertentu
dapat mengurangi usia sel darah merah dan menyebabkan anemia.
9

2.1.2 Etiologi
Etiologi dari anemia dapat digolongkan menjadi 3 penyebab utama antara
lain akibat gangguan pembentukan eritrosit oleh sumsum tulang (produksi
menurun), kehilangan darah keluar tubuh (blood loss) dan proses penghancuran
eritrosit dalam tubuh sebelum waktunya (hemolisisdestruksi eritrosit). Etiologi
anemia dapat digolongkan juga berdasarkan penyebab genetik, etiologi
kekurangan nutrisi, etiologi fisik, etiologi penyakit kronis dan keganasan dan
etiologi infeksi.
9


2.1.3 Klasifikasi
Klasifikasi anemia menurut morfologinya dibagi menjadi anemia mikrositik
hipokrom apabila hasil pemeriksaan MCV kurang dari 80 fl dan MCH kurang dari
27 pg, anemia normositik normokrom apabila hasil pemeriksaan MCV 80-95 fl
dan MCH 27-34 pg dan anemia makrositik apabila MCV lebih dari 95 fl. Anemia
mikrositik hipokrom dapat disebabkan keadaan kekurangan zat besi, thalassemia
mayor, penyakit kronik dan anemia sideroblastik. Anemia normositik normokrom
biasanya disebabkan perdarahan akut, anemia aplastik, anemia hemolitik didapat,
penyakit kronik, gagal ginjal kronik, mielodisplastik sindroma, keganasan
hematologik. Sedangkan anemia makrositik dibagi menjadi anemia megaloblastik
(anemia defisiensi asam folat dan anemia defisiensi vitamin B12) dan anemia
non-megaloblastik (penyakit hati kronik, hipotiroidisme, sindroma
mielodisplastik).
9,10


2.1.4 Patofisiologi
Respon tubuh fisiologis terhadap anemia bervariasi tergantung dari tipe dan
sifat akut dari penyebabnya. Apabila onset terjadi gradual maka biasanya tubuh
memiliki sistem kompensasi sedangkan apabila kehilangan darah akut terjadi
maka kapasitas angkutan oksigen menurun seiring dengan penurunan volume
intravaskular dengan hasil akhir hipoksia dan hipovolemia. Hipovolemia
menyebabkan hipotensi yang akan dideteksi oleh reseptor tekanan di bulbus
karotis, arkus aorta, hepar dan paru. Kemudian impuls ditransmisikan sepanjang
berkas saraf vagus dan nervus glossofaringeus ke medulla oblongata, korteks
serebri dan kelenjar pituitari. Di medulla jaras simpatis ditingkatkan dan
parasimpatis ditekan sehingga meningkatkan pelepasan norepinephrine dari ujung
saraf simpatis dan kelenjar medulla adrenal.
Respons simpatis juga mempengaruhi inti hipotalamus yang meningkatkan
sekresi hormon ADH yang menyerap air dari tubulus kolektivus dan distalis. Sel
jukstaglomerulus ginjal juga menghasilkan renin yang meningkatkan angiotensin
I yang kemudian diubah oleh ACE menjadi angiotensin II. Angiotensin II
memiliki efek poten pada otot polos arteriol dan merangsang sel adrenal korteks
menghasilkan aldosteron. Seluruh efek ini bekerja meningkatkan volume
intravascular dan meningkatkan perfusi jaringan dengan menaikkan tekanan
darah, laju nadi, volume sekuncup, dan hantaran oksigen.
9,10

2.1.5 Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Gejala dan keluhan yang ditimbulkan akibat anemia bervariasi sesuai
dengan penyakit yang mendasarinya. Perlu dilakukan anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang lebih teliti pada pasien dengan anemia sebab penemuan dari hasil
pemeriksaan ini merupakan kunci penting terhadap etiologi. Pada umumnya
gejala yang umum ditemukan pada anemia yang berjalan kronik (biasanya Hb
sudah di bawah 7 g%) antara lain lemah, lesu, cepat lelah, telinga mendenging,
mata terasa berkunang-kunang, kaki dingin, sesak napas dan dispepsia. Hal ini
disebut dengan sindroma anemia. Selain itu dapat pula disertai dengan gejala lain
sesuai penyakit yang mendasarinya seperti kulit dan mata kuning, buang air besar
berdarah, riwayat minum obat-obatan tertentu dan sebagainya. Pada pemeriksaan
fisik juga dapat ditemukan kulit pucat, konjungtiva dan jaringan bawah kuku yang
pucat hingga kebiruan bahkan dapat pula ditemukan petekie, ikterus, spider navy,
angioma dan sebagainya sesuai penyebab anemia. Perlu juga diperiksa lebih lanjut
asupan makanan dan kebiasaan diet sehari-hari untuk menentukan penyebab
anemia.
9,10

Untuk menentukan jenis morfologi dan etiologi dari anemia, dapat dibantu
dengan pemeriksaan penunjang seperti
10
:
a. pemeriksaan penyaring misalnya pemeriksaan panel darah lengkap (Hb, Ht,
hitung eritrosit), indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC), tes apusan darah
tepi (SADT).
b. Pemeriksaan darah seri anemia (hitung leukosit, trombosit, hitung
retikulosit, LED).
c. Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang.
d. Pemeriksaan khusus anemia misalnya tes suplai besi (TIBC, serum ferritin,
serum iron), protoporfirin eritrosit dan sebagainya.

2.1.6 Kriteria Anemia
Kriteria anemia menurut WHO terdapat pada tabel berikut.
11
WHO
11
Golongan usia dan jenis kelamin Batas bawah Hb
(g%)
Anak-anak usia 6 bulan-6tahun 11
Anak-anak usia 6 tahun-14 tahun 12
Laki-laki dewasa 13
Wanita dewasa 12
Wanita hamil 11
Tabel 1. Batas bawah kadar hemoglobin sesuai usia dan jenis kelamin menurut

Kriteria anemia menurut buku ajar Harrisons The Principles of Internal
Medicine sebagai berikut
10
:
Golongan usia dan jenis kelamin Hb (g%) Ht (%)
Bayi baru lahir 17 52
Anak-anak usia 6 tahun-14 tahun 12 36
Remaja 13 40
Laki-laki dewasa 16 (2) 47 (6)
Wanita dewasa (menstruasi) 13 (2) 40 (6)
Wanita dewasa (post-menopause) 14 (2) 42 (6)
Wanita hamil 12 (2) 37 (6)
Tabel 2. Perubahan Hemoglobin Normal dan Nilai Hematokrit Sesuai Usia dan
Kehamilan


2.1.7 Anemia pada ibu hamil
Pada kehamilan normal akan terjadi peningkatan volume darah yang
menghasilkan kondisi hemodilusi. Walaupun produksi eritrosit meningkat saat
kehamilan, peningkatan volume plasma melebihi produksi eritrosit sehingga
terjadi anemia relatif. Hal ini menyebabkan penurunan Hb fisiologis, nilai
hematokrit dan hitung eritrosit namun tidak berpengaruh pada nilai mean
corpuscular volume (MCV).
12
Sebagian besar perubahan berat badan selama kehamilan berasal dari
perubahan uterus dan isinya, payudara, volume darah dan cairan ekstraseluler.
Diperkirakan kenaikan berat badan pada kehamilan sekitar 12.5 kg. Peningkatan
jumlah cairan pada kehamilan adalah suatu hal yang fisiologis. Hal ini disebabkan
turunnya osmolaritas dari 10 mOsm/kg yang diinduksi oleh makin rendahnya
ambang rasa haus dan sekresi vasopressin. Fenomena ini mulai terjadi pada awal
kehamilan. Volume darah akan meningkat secara progresif mulai minggu ke-6 8
kehamilan dan mencapai puncaknya pada minggu ke-32 34 dengan perubahan
kecil setelah minggu tersebut. Volume plasma akan meningkat sekitar 40-45%.
Hal ini dipengaruhi oleh aksi progesterone dan estrogen pada ginjal yang
diinisiasi oleh jalur renin-angiotensin-aldosteron. Penambahan volume ini
sebagian besar berupa plasma dan eritrosit.
13

Selain itu, eritropoietin ginjal juga akan meningkat dan menghasilkan sel
darah merah 20-30% lebih banyak namun tidak sebanding dengan peningkatan
volume plasma sehingga akan mengakibatkan hemodilusi dan penurunan
konsentrasi hemoglobin dari 15 g% menjadi 12.5 g%. Pada sekitar 6%
perempuan, kadar Hb dapat mencapai di bawah 11 g%. Pada kehamilan lanjut
kadar hemoglobin yang kurang dari 11 g% biasanya merupakan hal yang
abnormal dan biasanya berhubungan dengan defisiensi zat besi daripada
hipervolemia. Hipervolemia pada ibu hamil memiliki fungsi untuk menyesuaikan
pembesaran uterus terhadap hipertrofi sistem vaskuler, melindungi ibu dan janin
dari efek yang merusak dari sistem darah balik vena dalam posisi telentang dan
berdiri, menjaga ibu dari efek kehilangan darah yang banyak saat persalinan.
13

Pada populasi yang rata-rata kekurangan zat besi, anemia pada kehamilan
didefinisikan sebagai nilai kurang dari seperlima persentil yaitu kadar hemoglobin
kurang dari 11g% pada trimester pertama, 10.5 g% pada trimester kedua dan
kurang dari 11 g% pada trimester ketiga. Banyak pusat penelitian mendefinisikan
anemia pada ibu hamil sebagai nilai Hb kurang dari 10.5 g%. Terapi dengan 1 mg
asam folat dan zat besi setiap hari membantu menaikkan kadar Hb bila ada
defisiensi.
12

Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang paling banyak terjadi pada
ibu hamil (75-95%). Seorang wanita hamil biasanya tidak memiliki cadangan besi
yang cukup untuk kehamilannya. Kebutuhan besi seorang wanita hamil mencapai
60 mg per hari. Pada wanita hamil dengan anemia, perlu dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut untuk mengetahui sebab anemianya terutama anemia defisiensi besi.
Gejala klinis anemia defisiensi besi antara lain mudah lelah, pusing, sindroma
kaki lelah dan pica. Terapi termasuk suplementasi zat besi secara oral dengan
sulfas ferrosus (320 mg, 1-3 kali sehari). Namun satu kali pemberian sehari lebih
disukai agar tidak menimbulkan gejala konstipasi. Komplikasi anemia pada ibu
hamil mencakup saat kehamilan, persalinan hingga masa nifas seperti
prematuritas, abortus, kematian perinatal, berat lahir rendah dan kemampuan
psikomotor dan mental yang lemah pada bayi.
12

Defisiensi asam folat pada ibu hamil lebih jarang ditemukan dibandingkan
dengan defisiensi besi namun tetap diperlukan nutrisi suplemen 0.4 mg per hari
untuk mengurangi resiko defek tabung neural. Hasil pemeriksaan MCV yang
lebih dari 100 fl biasanya sugestif untuk adanya defisiensi folat dan atau vitamin
B-12. Apabila hal ini terjadi sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar folat dan
vitamin B12 dalam darah.
12

2.1.8 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Anemia Pada Kehamilan
Faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada ibu hamil terdiri atas faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri antara lain umur ibu, paritas,
umur kehamilan, dan status gizi ibu. Sedangkan faktor eksternalnya terdiri atas
sosial ekonomi, asupan gizi, pendidikan, frekuensi ANC serta konsumsi tablet
besi.
1. Umur Ibu
Umur Ibu saat kehamilan menentukan perkembangan janin saat masa dalam
kandungan. Usia yang terlalu muda saat kehamilan akan meningkatkan resiko
terhadap janin karena organ reproduksi sekunder Ibu belum terlalu sempurna
sehingga perkembangan janin dalam kandungan dapat terganggu. Keadaan yang
membahayakan saat hamil dan meningkatkan bahaya terhadap bayinya adalah
usia saat <20 tahun. Usia ibu yang terlalu tua saat hamil juga meningkatkan resiko
karena dalam studi didapatkan hasil kelainan genetik yang berhubungan dengan
kehamilan pada usia >35 tahun. Salah satu hal yang menjadi resiko dalam
kehamilan pada usia muda adalah kejadian anemia, karena ibu muda tersebut
membutuhkan zat besi lebih banyak untuk keperluan pertumbuhan diri sendiri
serta bayi yang akan dikandungnya.
14

Secara teori umur <25 tahun secara biologis mentalnya belum optimal
dengan emosi yang cenderung labil, mental yang belum matang sehingga mudah
mengalami keguncangan yang mengakibatkan kekurangannya perhatian terhadap
pemenuhan kebutuhan zat gizi terkait dengan penurunan daya tahan tubuh serta
berbagai penyakit yang sering menimpa diusia ini.
15
Berbagai faktor yang saling
berpengaruh dan tidak menutup kemungkinan usia yang matang sakalipun untuk
hamil yaitu usia 25-35 tahun angka kejadian anemia jauh lebih tinggi. Rata-rata
jumlah zat besi yang dibutuhkan selama kehamilan adalah 17 mg perhari.
16
Resiko anemia juga dapat berasal dari kejadian perdarahan yang lebih
rentan terjadi pada usia-usia rawan tersebut akibat belum berkembang dengan
sempurnanya organ reproduksi. Selain itu, Umur >35 tahun mempunyai risiko
untuk hamil karena umur >35 tahun, dimana alat reproduksi ibu hamil sudah
menurun dan kekuatan untuk mengejan saat melahirkan sudah berkurang sehingga
anemia pun terjadi pada saat ibu hamil umur <35 tahun.
17
2. Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan seorang ibu, baik lahir hidup
maupun mati. Seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko mengalami
anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan kebutuhan
nutrisi. Karena selama hamil zat-zat gizi akan terbagi untuk ibu dan untuk janin
yang dikandungnya.
15
Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian
maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi >3 mempunyai angka kematian maternal
lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Risiko pada
paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko
pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana.
Sebagian kehamilan pada paritas adalah tidak direncanakan Paritas >3 tahun dapat
meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan, seperti
meningkatkan risiko terjadinya kematian janin didalam kandungan dan
pendarahan sebelum dan setelah melahirkan, lebih sering dijumpai pada wanita
hamil yang anemia dan hal ini dapat berakibat vatal, sebab wanita hamil yang
anemia tidak dapat mentoleransi kehilangan darah.
16
3. Status Gizi
Indikator kesehatan ibu yang digunakan oleh CDC berupa indeks massa
tubuh pre-kehamilan (pre-pregnancy BMI) dan kenaikan berat badan ibu
(maternal weight gain). Indeks massa tubuh sebelum kehamilan adalah
pengukuran berat badan dibandingkan tinggi badan dikuadratkan sebelum seorang
wanita hamil. Indeks ini membagi wanita ke dalam kategori berat kurang, berat
normal, berat berlebih dan obesitas sebelum periode kehamilan. Indeks massa
tubuh sebelum kehamilan ini merupakan determinan dalam kenaikan berat badan
selama hamil dan berat lahir bayi.
18
Berat badan kurang didefinisikan sebagai IMT kurang dari 18.5 sebelum
kehamilan. Semakin rendah IMT seorang wanita maka semakin tinggi resikonya
untuk menjadi kurang gizi. Wanita yang berat badannya kurang sebelum hamil
memiliki resiko lebih tinggi terjadi bayi berat lahir rendah, masalah pertumbuhan
janin, mortalitas perinatal dan komplikasi kehamilan lainnya. Berat normal
didefinisikan sebagai IMT antara 18.5-24.9. Berat badan berlebih didefinisikan
IMT antara 25-29.9. Berat badan berlebih memiliki resiko tinggi terjadinya retensi
berat badan post-partum. Obesitas memiliki resiko lebih besar melahirkan bayi
makrosomia dan terjadinya distosia bahu dan komplikasi lainnya. Selain itu juga
memiliki resiko terjadinya diabetes gestasional.
18
Kenaikan berat badan ibu hamil didefinisikan sebagai kenaikan berat badan
ibu sejak konsepsi hingga terjadinya persalinan. Kenaikan berat badan pada ibu
hamil direkomendasikan didasarkan pada IMT pre-kehamilan untuk kesehatan
bayi yang optimal. Kenaikan berat badan saat hamil merupakan determinan utama
dari berat badan bayi lahir dan mortalitas dan morbiditas bayi.
18
Faktor eksternal terdiri dari:
1. Sosial Ekonomi
Perilaku seseorang dibidang kesehatan dipengaruhi oleh latar belakang
sosial ekonomi.
2. Pemeriksaan Antenatal Care (ANC)
Pemeriksaan antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk
mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil sehingga mampu
menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberian ASI dan kembalinya
kesehatan reproduksi secara wajar.
19
Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan
atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan
pelayanan/asuhan antenatal. Pelayanan antenatal ialah untuk mencegah adanya
komplikasi obstetri bila mungkin dan memastikan bahwa komplikasi dideteksi
sedini mungkin serta ditangani secara memadai.
19


Menurut Depkes, kunjungan ANC diwajibkan minimal 4 kali selama
kehamilan. Satu kali kunjungan selama trimester satu (< 14 minggu). Satu kali
kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 28). Dua kali kunjungan
selama trimester ketiga (antara minggu 28 36 dan sesudah minggu ke 36).

Pada kunjungan antenatal akan dilakukan pendataan tentang biodata,
riwayat kehamilan, riwayat kebidanan, riwayat kesehatan, sosial ekonomi,
kemudian pemeriksaan kehamilan, pelayanan kesehatan, serta diberikan
penyuluhan dan konsultasi. Kemudian pada kunjungan keempat akan
ditambahkan pemeriksaan psikologis, dan ditentukan diagnosa akhir, apakah
kehamilan termasuk kehamilan beresiko tinggi serta persiapan rencana
persalinan.
19

Dalam melaksanakan pelayanan Antenatal Care, ada tujuh standar
pelayanan yang harus dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang dikenal
dengan 7 T.

Tujuh program tersebut antara lain timbang berat badan, mengukur
tekanan darah, mengukur tinggi fundus uteri (TFU), pemberian imunisasi TT
lengkap, pemberian Tablet Fe, pemeriksaan penyakit menular seksual, serta temu
wicara dalam rangka persiapan rujukan.
3. Asupan gizi
Asupan gizi sangat menentukan kesehatan ibu hamil dan janin yang
dikandungnya. Kebutuhan gizi pada masa kehamilan akan meningkat sebesar 15%
dibandingkan dengan kebutuhan wanita normal. Zat makanan sangat penting bagi
ibu hamil karena berfungsi untuk perkembangan dan pertumbuhan janin. Oleh
karena itu, kebutuhan akan zat makanan harus selalu terpenuhi di dalam tubuh ibu
hamil karena janin memerlukan gizi untuk perkembangannya.
19
Asupan makanan
juga sangat bergantung pada pengetahuan seorang ibu tentang kebutuhan yang
diperlukan selama kehamilan.
Nutrisi yang dibutuhkan oleh ibu selama kehamilan :
a. Protein
Protein besar peranannya dalam memproduksi sel-sel darah, dan juga untuk
membantu, membangun, dan mengganti jaringan tubuh. Ibu hamil memerlukan
protein sebanyak 67 gram per hari untuk membangun sel baru janin termasuk
darah kulit, rambut, kuku dan jaringan otot.nutrisi ini agar janin tumbuh optimal.
Protein dapat dengan mengkonsumsi tempe, tahu, daging, ayam, telur, susu, dan
ikan. Konsumsi protein kurang dapat menyebabkan terjadinya defesiensi protein
selama pertumbuhan partus, pengurangan transfer protein ke fetus, dan penurunan
jumlah sel dalam jaringan ketika lahir.
17
b. Karbohidrat
50-60 % dari total kalori yang dikonsumsi selama hamil harus berasal dari
karbohidrat. Ibu hamil seharusnya mengkonsumsi minimal 175 gram karbohidrat
yang berasal dari glukosa untuk pertumbuhan otak janin. Bermanfaat sebagai
sumber zat tenaga untuk menghasilkan kalori dan dapat diperoleh dari serelia dan
umbi-umbian.
c. Lemak
Lemak dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan janin selama
dalam kandungan sebagai kalori utama. Lemak merupakan sumber tenaga dan
untuk pertumbuhan jaringan plasenta. Selain itu, lemak disimpan untuk persiapan
ibu sewaktu menyusui.Kadar lemak akan meningkat pada kehamilan trismester
III.
d. Kalsium.
Ibu hamil membutuhkan kalsium untuk pembentukan tulang dan gigi,
membantu pembuluh darah berkontraksi dan berdilatasi, serta mengantarkan
sinyal syaraf, kontraksi otot dan sekresi hormon. Kebutuhan kalsium ibu hamil
sekitar 1000 miligram per hari.
e. Zat besi.
Zat besi merupakan mineral mikron yang paling banyak terdapat dalam
tubuh manusia yaitu sebanyak 3-5 gram dalam tubuh manusia dewasa. Zat besi
adalah garam besi dalam bentuk tablet/kapsul yang apabila dikonsumsi secara
teratur dapat meningkatkan jumlah sel darah merah. Wanita hamil mengalami
pengenceran sel darah merah sehingga memerlukan tambahan zat besi untuk
meningkatkan jumlah sel darah merah dan untuk sel darah merah janin. Semakin
sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan, akan makin banyak
kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis. Kebutuhan zat besi pada ibu hamil
kurang lebih 900mg (untuk sel darah ibu 500mg, plasenta 300mg, darah janin
100mg). Zat besi dapat dengan mengkonsumsi bayam, daging merah, hati, ikan,
unggas, kerang, telur, kedelai.
f. Seng
Seng digunakan untuk pembentukan tulang selubung syaraf tulang
belakang. Resiko kekurangan seng menyebabkan kelahiran prematur dan berat
bayi lahir rendah. Kebutuhan seng pada ibu hamil sekitar 20 miligram per
hari.
15,19
Sumber makanan yang mengandung seng antara lain: kerang, daging,
kacang-kacangan,sereal.
g. Yodium
Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi yodium sekitar 200 miligram dalam
bentuk garam beryodium. Kekurangan yodium dapat menyebabkan hipotirodisme
yang berkelanjutan menjadi kretinisme.
h. Asam Folat
Asam folat merupakan vitamin B yang memegang peranan penting dalam
perkembangan embrio. Asam folat juga membantu mencegah neural tube defect,
yaitu cacat pada otak dan tulang belakang. Kekurangan asam folat dapat
menyebabkan kehamilan prematur, anemia, cacat bawaan, bayi dengan berat bayi
lahir rendah (BBLR), dan pertumbuhan janin terganggu. Kebutuhan asam folat
sekitar 600-800 miligram. Menurut Widyakarya Pangan dan Gizi VI 2004
menganjurkan mengkonsumsi asam folat sebesar 5 mg/kg/hr (200 mg). Asam
folat dapat didapatkan dari suplemen asam folat, sayuran berwarna hijau, jeruk,
buncis, kacang-kacangan dan roti gandum.
19

4. Pendidikan
Pendidikan adalah proses perubahan perilaku menuju kedewasaan dan
penyempurnaan hidup. Biasanya seorang ibu khususnya ibu hamil yang
berpendidikan tinggi dapat menyeimbangkan pola konsumsinya. Apabila pola
konsumsinya sesuai maka asupan zat gizi yang diperoleh akan tercukupi, sehingga
kemungkinan besar bisa terhindar dari masalah anemia.
5. Konsumsi tablet Fe
Penyebab anemia gizi besi dikarenakan kurang masuknya unsur besi dalam
makanan, karena gangguan reabsorbsi, gangguan penggunaan atau terlampau
banyaknya besi keluar dari badan misalnya perdarahan. Sementara itu kebutuhan
ibu hamil akan Fe meningkat untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah
sebesar 200-300%. Perkiraan besaran zat besi yang perlu ditimbun selama hamil
ialah 1040 mg. Dari jumlah ini, 200 mg Fe tertahan oleh tubuh ketika melahirkan
dan 840 mg sisanya hilang. Sebanyak 300 mg besi ditransfer ke janin, dengan
rincian 50-75 mg untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah
sel darah merah, dan 200 mg lenyap ketika melahirkan. Jumlah sebanyak ini tidak
mungkin tercukupi hanya dengan melalui diet. Karena itu, suplementasi zat besi
perlu sekali diberlakukan, bahkan pada wanita yang bergizi baik.
Konsumsi tablet Fe sendiri dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, sikap, dan
tindakan, serta motivasi petugas kesehatan kepada ibu hamil.
20


2.2 Pengetahuan
2.2.1 Pengertian pengetahuan
Menurut Notoatmodjo, pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan
ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.
21

Pengetahuan terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi dan
pengalaman. Pengetahuan diperoleh manusia baik secara langsung melalui
pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkungan hidupnya,
ataupun pengetahuan diperoleh langsung melaui catatan-catatan (buku-buku,
kepustakaan). Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. Makin sering kita
menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam
praktek, maka semakin besar persiapan kita dimodifikasi dengan realita baru di
dalam lingkungan.
22


2.2.2 Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Notoadmodjo, faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah:
21
1. Pendidikan
Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima
informasi sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya makin
rendah pendidikan seseorang akan menghambat perkembangan sikap seseorang
terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan
2. Informasi
Seseorang yang mempunyai informasi yang lebih banyak akan mempunyai
pengetahuan lebih banyak pula
3. Budaya
Tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan
yang meliputi sikap, kebiasaan, dan kepercayaan.
4. Pengalaman
Pengalaman merupakan suatu cara memperoleh kebenaran pengetahuan
baik dari pengalaman diri sendiri maupun orang lain. Hal tersebut dilakukan
dengan cara pengulangan kembali pengalaman yang diperoleh dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi. Bila berhasil maka orang akan
menggunakan cara tersebut dan bila gagal tidak akan mengulangi cara itu.
5. Sosial Ekonomi
Tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup
tergantung dengan hasil pendapatan.
6. Umur
Umur adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampaiu
berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Segi kepercayaam
masyarakat seseorang yang dewasa lebih dipercaya dari orang yang belum tinggi
kedewasaannya. Hal ini akan sebagai pengalaman dan kematangan jiwa.

2.2.3 Tingkat Pengetahuan
Komponen pengetahuan menurut Bloom yang dikutip Notoatmojo 2003
mencakup 6 tingkat:
21

1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari
sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu
tentang apa yang di pelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,
mendefinisikan, menyatakan, daan sebagainya.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang obyek yang di ketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar, orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus
dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan
sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat
diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,
prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat
menggunakan rumus statistic dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian,
dapat menngunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving
cycle) di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur
organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat
dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat
bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesa itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru
dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, dapat
merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap
suatu teori atau rumus-rumus yang telah ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan
suatu criteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan criteria yang telah ada

2.2.4 Cara memperoleh pengetahuan
Ada beberapa cara untuk memperoleh penetahuan, yaitu:
21

1. Cara Coba-Salah (Trial and Error)
Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam
memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba
kemungkinan yang lain. Apabila tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain.
Apabila kemungkinan tersebut gagal pula, maka akan dicoba kemungkinan yang
lain, begitu seterusnya.
2. Cara Kekuasaan (Otoritas)
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan dan tradisi
yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui dipertimbangkan baik buruknya. Prinsip
ini seringkali diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni seseorang akan
menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas,
tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan
fakta empiris ataupun penalaran sendiri.
3. Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi adalah guru yang baik karena dianggap sebagai sumber
pengetahuan.
4. Melalui jalan pikiran
Sejalan dengan perkembangan zaman, cara berpikir manusia ikut
berkembang, sehinggal lebih menggunakan nalar untuk memperoleh pengetahuan.
5. Cara modern
Yang dimaksud dengan cara modern adalah orang memperoleh pengetahuan
dengan melakukan penelitian ilmiah.







2.2.4 Kerangka Teori











Umur Ibu
Status Gizi Ibu

Paritas
Sosial Ekonomi
Asupan Gizi
Pendidikan
Pemeriksaan
ANC
Konsumsi Tablet
Fe
Internal Eksternal
Anemia
Faktor Genetik Defisiensi
Nutrisi
Faktor Fisik Penyakit Kronis Kehamilan
















BAB III
KERANGKA KONSEP, VARIABEL, DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep









3.2 Variabel
Variabel Independen : Pengetahuan Ibu hamil tentang anemia pada
kehamilan
Variabel Dependen : Anemia pada ibu hamil

3.3 Definisi Operasional
Budaya
Pendidikan
Informasi Sikap
Pengalaman
Pengetahuan ibu
hamil tentang
anemia pada
kehamilan
Nilai Hb
Hb >11 g/dL
Tidak
Anemia
Hb <11 g/dl
Anemia Sosial Ekonomi
Umur
Pengetahuan
Variabel Definisi
Operasional
Cara Ukur Alat Hasil Ukur Skala
Independen:
Pengetahuan
ibu hamil
tentang
anemia

Informasi
yang dimiliki
seorang
ibuhamil
mengenai
anemia yang
berasal dari
proses
interaksi dan
pengalaman

Format
kuesioner
wawancara

Kuesioner

Ibu hamil
dengan
tingkat
pengetahua
n baik (76-
100%),
cukup baik
(56-75%),
kurang
baik (40-
55%),
tidak baik
(<40%)

Ordinal
Dependen:
Anemia pada
ibu hamil

Kondisi ibu
dengan kadar
hemoglobin
dalam darah
kurang dari
11,0 gr/dL
pada
trimester I
dan III atau
kadar
hemoglobin
di bawah 10,5
gr/dL pada

Darah
kapiler
dimasukan
ke dalam
tabung
kemudian
dimasukkan
ke dalam
alat
sysmex,
ditunggu
dalam 1
menit,

Data
sekunder
dari KIA
subjek

Anemia
bila kadar
Hb
<11gr/dL
Tidak
anemia
bila kadar
Hb>11gr/
dL

Numerik
trimester II didapatkan
hasil kadar
Hb berupa
angka
dalam gr/dL








BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian analitik observasional
dengan pendekatan cross sectional. Dalam penelitian cross sectional peneliti
mencari hubungan antara varaiabel bebas dan variabel tergantung dengan
melakukan pengukuran pada saat tertentu.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu pada periode
September Oktober 2014.

4.3 Populasi
Populasi target penelitian ini adalah semua ibu hamil di Kecamatan Pasar
Minggu, sedangkan populasi terjangkau penelitian ini adalah ibu hamil 27
minggu (trimester III) yang datang ke Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu yang
diteliti pada September 2014 Oktober 2014 sebanyak 94 orang.

4.4 Kriteria Restriksi
Kriteria Inklusi
a. Ibu hamil 27 minggu (trimester III), bukan kunjungan pertama
b. Sudah mendapatkan tablet Fe 90
c. Kehamilan tunggal
d. Memiliki alamat tinggal di daerah kecamatan Pasar Minggu
Kriteria Eksklusi
a. Ibu hamil dengan penyakit penyerta (misalnya, malaria, TBC, hipertensi,
penyakit jantung, dan lain-lain)
b. Ibu hamil yang menolak pemeriksaan darah dan tidak bersedia menjadi
responden

4.5 Sampel Penelitian
Jumlah Sampel
Perkiraan besar sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan
rumus:
Rumus populasi infinit :
No =
Z = Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95% besarnya 1,96
P = Prevalensi kelompok ibu hamil yang anemia sebesar 37,1%
3
Q = Prevalensi kelompok ibu hamil yang tidak anemia sebesar 62,9%
3
d = Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p >10% adalah 0,05
No = (1,96)
2
x 0,371 x 0,629 = 359
(0,05)
2
Rumus populasi finit
n =
n = Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit
n
0
= Besar sampel dari populasi yang infinit
N = Besar sampel populasi finit
Karena jumlah ibu hamil Trimester III yang memeriksakan kehamilannya ke
Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu sebanyak 106 orang maka :
n = = 359 = 82 orang
(1 +
359
/
106
)

Antisipasi drop out = 15% x n
Antisipasi drop out = 15% x 82
= 12.3 (12)
Total sampel = n + antisipasi drop out
Total sampel = 82+12
= 94 orang


4.6 Alur Pengambilan Sampel

















4.7 Alur Pengambilan Data


Masuk kriteria
inklusi
Consecutive Sampling
Sampel
Ibu hamil yang datang
ke Puskesmas
Kecamatan Pasar
Minggu
Di luar kriteria
eksklusi
Peneliti mendapatkan data
yaitu populasi ibu hamil di
wilayah kerja Puskesmas
Kecamatan Pasar Minggu
Proposal disetujui
Mengambil sampel di
Puskesmas
Mengumpulkan sampel
berdasarkan non probability
sampling (consecutive sampling)


















4.8 Instrumen Penelitian
NO ALAT FUNGSI
1. Kuesioner Untuk mengetahui tingkat pengetahuan
ibu hamil tentang anemia.
2. Buku Kesehatan Ibu dan
Anak
Untuk mendapatkan data hasil
laboratorium Hb

Alat penelitian ditujukkan pada ibu hamil trimester III yang datang periksa
kehamilannya di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.
Data Primer
Data primer diperoleh secara langsung yaitu berupa wawancara dengan
menggunakan alat bantu berupa kuesioner yang diberikan kepada Ibu hamil
trimester III yang memeriksakan kehamilannya ke Puskesmas Kecamatan Pasar
Minggu.
Daftar pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan yang berkaitan dengan
variabel yang diteliti.
Data Sekunder
Data sekunder didapatkan dari buku Kesehatan Ibu dan Anak setiap subjek yang
memenuhi kriteria inklusi.

4.9 Rencana Kerja
Tabel 4.9 Waktu Kegiatan Penelitian
Tahap kegiatan Waktu dalam minggu
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A. Perencanaan
1. Orientasi dan identifikasi masalah
2. Pemilihan topik
3. Pembuatan proposal
4. Konsultasi dengan pembimbing
5. Presentasi proposal
B. Pelaksanaan
1. Pengumpulan data dan survei
2. Pengolahan data
3. Konsultasi dengan pembimbing
C. Pelaporan hasil
1. Penulisan dan diskusi
2. Konsultasi dengan pembimbing
3. Presentasi

4.10 Manajemen Data
4.10.1 Data entry
Setelah data diperoleh maka dilakukan pengolahan dengan tahapan sebagai
berikut :
1. Editing
Memeriksa kelengkapan data yang diperoleh melalui hasil laboraturium
(Hb), kuesioner dan wawancara.
2. Coding
Memberi kode pada masing-masing jawaban untuk dilakukan pengolahan
data.
3. Data entry
Pemindahan data ke dalam komputer agar diperoleh data masukan yang siap
diolah. Data yang telah terkumpul dari hasil kuesioner diolah dan dianalisis
dengan menggunakan program SPSS statistics 22.00.

4.10.2 Analisis Data
a. Analisis Univariat
Analisis ini dilakukan pada masing-masing variabel. Hasil ini berupa
distribusi dan persentase pada variabel-variabel yang diteliti.
b. Analisis Bivariat
Analisis yang dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara
variabel bebas dengan variabel tergantung adalah Uji Chi Square.


4.10.3 Penyajian Data
Data yang telah terkumpul dan diolah akan disajikan dalam bentuk :
a. Tekstular
Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan kalimat
b. Tabular
Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan tabel

4.11 I nformed Consent
Setiap subjek yang setuju untuk ikut serta dalam penelitian perlu
menandatangani surat persetujuan informed consent terlebih dahulu.

4.12 Perkiraan Biaya Penelitian
Penggandaan Kuesioner Rp. 200.000,-
Transportasi Rp. 100.000,-
Kertas A4 Rp 35.000,-
Tinta Printer Rp. 220.000,-
Biaya tak terduga: Rp. 150.000,-
Rp. 705.000,-

4.13 Organisasi Penelitian
1. Pembimbing dari Kedokteran Universitas Trisakti
Dr. dr. Rina Kusumaratna, M.Kes
2. Penyusun dan Pelaksana Penelitian
Eva Maris Sahara (030.09.080)
Sara Vigorousty Loppies (030.09.223)
Yohanes Satrya Wibawa (030.09.275)






DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. Anaemia. Available at http://www.who.int/topics/anaemia/en/.
Accessed June 29, 2014.
2. Depkes RI. Masalah Gizi di Indonesia dan Penanggulangan Anemia di
Indonesia. Pedoman Kerja Puskesmas. 2005
3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan
Indonesia. RISKESDAS 2013. Available at
http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/materi_pertemuan/launch_r
iskesdas/Riskesdas%20Launching.pdf. Accesed on September 12
nd
2014
4. Depkes RI. Pedoman Operasional Penanggulangan Anemia Gizi.
Pembinaan Kesehatan Masyarakat. 2005
5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar
2007. Jakarta: Depkes RI
6. Prawirohardjo S. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. EGC:
Jakarta; 2002. p. 150-60.
7. Sohimah. Anemia Dalam Kehamilan Dan Penanggulangannya.
Gramedia:Jakarta; 2006. p. 50-72
8. Darmawan. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Anemia Ibu Hamil di
Kabupaten Lampung Utara Tahun 2003. [Skripsi] Depok: FKM UI; 2003
9. Maakaron JE, Conrad ME, Taher AT, Perez JA, Jr, Sacher RA, Talavera F.
Anemia. In: Medscape reference. Besa EC, editor. Available at
http://emedicine.medscape.com/article/198475-overview. Accessed June 29,
2014.
10. Adamson JW, Longo DL. Anemia and Polycythemia. In: Harrisons
Principles of Internal Medicine. Longo DL, Kasper DL, Jameson JL, Fauci
AS, Hauser SL, Loscalzo J, editors. 18
th
ed. McGraw Hill Medical: New
York, 2012. P. 448-56.
11. Beutler E, Waalen J. The definition of anemia: what is the lower limit of
normal of the blood hemoglobin concentration? In: Blood. March 1, 2006;
vol. 107(5): p. 174750. Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1895695/. Accessed June
29, 2014.
12. Rigby FB. Curran D, Poggi SH. Anemia and Thrombocytopenia in
Pregnancy. In: Medscape reference. Talavera F, Peng TCC, editors.
Available at http://emedicine.medscape.com/article/261586-overview.
Accessed June 29, 2014.
13. Sulin D. Perubahan Anatomi dan Fisiologi Pada Perempuan Hamil. In: Ilmu
Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Saifuddin AB, Rachimhadhi T,
Wiknjosastro GH, editors. 4
th
ed. Bina Pustaka: Jakarta, 2010. p. 180-1,
183-4.
14. Maria. Kejadian Anemia Gizi Pada Wanita dan Penanggulangannya.
[Disertasi] Depok: FKM UI; 2000
15. Amiruddin, Wahyuddin. Studi Kasus Kontrol Faktor Biomedis Terhadap
Kejadian Anemia Ibu Hamil Di Puskesmas Bantimurung Tahun 2004.
[Skripsi] Makassar: UNHAS; 2004
16. Sarimawar D. Faktor Resiko Yang Mempengaruhi Anemia Kehamilan.
Buletin Kesehatan. 2003
17. Murtini. Efektifitas Suplementasi Tablet Besi dan Vitamin C Terhadap
Kadar Hemoglobin Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Bantimurung
Tahun 2004. [Tesis] Makassar: UNHAS; 2004
18. CDC. PNSS Health Indicators. In: Pediatric and Pregnancy Nutrition
Surveillance System. Available at
http://www.cdc.gov/pednss/what_is/pnss_health_indicators.htm. Accessed
on June 29, 2014.
19. Waspodo, Joko. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2002
20. Siregar D A. Hubungan Perilaku Ibu Hamil dan Motivasi Petugas
Kesehatan terhadap Kepatuhan Dalam Mengkonsumsi Zat Besi pada D3u
Hamil di Rumah Sakit Ibu dan Anak Badrul Aini Medan Tahun 2004.
Available in:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33266/4/Chapter%20II.pdf.
Accessed on September 12nd 2014
21. Notoatmodjo S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Penerbit Rineka Cipta:
Jakarta; 2003. p. 102-30
22. Jallaluddin, Abdullah. Filsafat Pendidikan. Penerbit Gaya Media
Pratama:Jakarta.; 2002. p. 25-30
.