Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MAKALAH

IMUNOLOGI

JENIS-JENIS IMUNOSTIMULAN PADA UDANG



OLEH





KELOMPOK IV:

UMI KALSUM L 221 12 251
DEBYSALFIA MALIA L 221 12 253
SAIPUL SAPARUDDIN L 221 12








BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi budidaya perikanan pada satu sisi dapat meningkatkan
produksi sektor perikanan, namun disisi lain, dengan padat tebar yang tinggi serta
pemberian pakan yang berlebihan, menyebabkan pergeseran keseimbangan antara
lingkungan, ikan yang dipelihara dan patogen penyebab penyakit. Pergeseran
keseimbangan ini menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri
yang dimilikinya menjadi lemah dan akhirnya terserang oleh penyakit (Bimami, 2009).
Masalah serangan penyakit merupakan hal utama yang tidak boleh diabaikan,
karena menyangkut dari sukses tidaknya pemilihan benih yang pakai, apakah tahan
atau bebas dari penyakit dan mengelolaan lingkungan sebagai media perkembangan
penyakit. Kerugian yang disebabkan serangan bukan hanya kematian tetapi bisa
berakibat penghentian usaha produksi. Gangguan ini bila ditinjau dari segi ekonomi
jelas sangat merugikan dalam usaha budidaya ikan yang membutuhkan investasi yang
tidak sedikit (Bimami, 2009).
Kerugian yang ditimbulkan akibat serangan suatu penyakit dapat berbentuk
kematian, pertumbuhan yang lambat atau produksi benih menurun (bahkan bisa
berhenti sama sekali). Ikan yang pernah terserang penyakit bisa menjadi sumber
penyakit, yaitu menjadi agen (perantara) terhadap timbulnya penyakit baru sehingga
dapat berakibat fatal bagi usaha budidaya ikan (Bimami, 2009).
Pengendalian penyakit dalam usaha budidaya udang/ikan masih mengandalkan
antiseptik, disinfektan sampai antibiotik, namun tingkat keberhasilannya sangat
terbatas. Penggunaan antibiotik yang tidak bijaksana telah meningkatkan kekhawatiran
terhadap keamanan makanan dan kesehatan masyarakat, penggunaan antibiotik untuk
pencegahan penyakit justru meningkatkan mikroba dan memacu resistensi pada
beragam bakteri, sehingga untuk sejumlah kasus penyakit pengendaliannya lebih sulit.
Berdasarkan kekhawatiran ini perlu adanya sistem pengelolaan terhadap kesehatan
biota yang dibudidayakan beserta lingkungannya antara lain dengan penggunaan
vaksin, imunostimulan non spesifik ataupun penggunaan probiotik atau kontrol biologis.
Penerapan Probiotik dalam usaha budidaya terbukti dapat meningkatkan resistensi
biota yang dibudidayakan (udang/ikan) terhadap infeksi, karena itu penggunaan
probiotik merupakan salah satu cara preventif yang dapat mengatasi penyakit. Probiotik
(bakteri pengurai) adalah mikroorganisme hidup yang sengaja dimasukkan ke dalam
tambak untuk memberikan efek menguntungkan bagi kesehatan udang. Tujuannya
untuk memperbaiki dan mempertahankan lingkungan, menekan bakteri merugikan,
menghasilkan enzim yang dapat membantu sistem pencernaan, menghasilkan nutrisi
yang bermanfaat serta meningkatkan kekebalan udang (Bimami, 2009).











BAB II
PEMBAHASAN

Udang termasuk hewan tingkat rendah. Karena itu ia tidak dikaruniai sistem
kekebalan sempurna. Sistem kekebalan tubuhnya bersifat nonspesifik. Agar tahan
terhadap infeksi mikroba maupun parasit, udang perlu dirangsang untuk menciptakan
ketahanan tubuh terhadap serangan penyakit (Tomo,2011).
Salah satu faktor penyebab kegagalan dalam budidaya udang di tambak dan
menyebabkan kerugian yang sangat besar adalah karena adanya serangan penyakit
baik yang disebabkan oleh virus, bakteri maupun pathogen lainnya ( Suprapto, 2012).
Upaya pencegahan terhadap timbulnya penyakit merupakan satu-satunya jalan
untuk mengendalikan sekaligus mencegah timbulnya penyakit pada udang.
Penggunaan bahan kimia dan antibiotik telah digunakan secara luas dalam bidang
akuakultur untuk penanganan berbagai macam penyakit. Efek samping akibat
penggunaan bahan kimia dan antibiotik secara terus-menerus, tidak tepat dosis dan
waktu, adalah terjadinya peningkatan daya tahan (resistansi) dari bakteri pathogen
terhadap bahan kimia dan antibiotik tersebut. Disamping itu, residu bahan kimia dan
antibiotik yang terbuang dapat mencermari lingkungan serta merusak ekosistem
(kehidupan komunitas mikroba) perairan (Suprapto, 2011).
Ada 2 tipe sistem kekebalan dasar (Suprapto, 2011) :
Specific immune system (adaptive immune system), ada memori karakter kimia
specific dari pathogen adalah yang berkaitan dengan biokimia diingat dalam system
memori sel
Non specific immune system (innate immune system), tidak ada sistem memori sel
yang diingat, tetapi dimana system pertahanan merespon terhadap tipe specific molekul
yang ditemukan pada permukaan sel berbagai pathogen seperti bakteri, fungi dan
beberapa virus
Immunostimulan adalah bahan kimia yang dapat mengaktifkan sel-sel darah
putih dan oleh sebab itu dapat membuat hewan lebih resistan terhadap infeksi yang
diakibatkan oleh virus, bakteri, jamur dan parasit. Immunostimulant juga aktif melawan
kanker manusia, karena mengaktifkan sel-sel darah putih yang mana dapat mengenali
dan menghancurkan sel-sel tumor (Mahasri, 2012).
Hampir semua immunostimulan adalah bahan-bahan kimia yang berasal dari
struktur elemen bakteri, jamur miselia, dan yeast. Ada juga yang merupakan pasangan
dengan bahan sintetik yang dibuat untuk tujuan lain, yang secara insidentil ditemukan
untuk memiliki stimulasi kekebalan (Mahasri, 2012).
Jenis-jenis imunostimulan yang digunakan pada udang:
a. Struktur elemen dari bakteri
Lipopolisakarida
Penggunaan imunostimulan paling banyak dipublikasikan adalah kelompok
lipopolisakarida. Bahan yang terbuat dari dinding sel bakteri gram negatif itu dikenal
sebagai imunostimulan potensial dalam pencegahan penyakit. Bakteri kelompok itu
antara lain adalah Vibrio. Vibrio ini satu-satunya bakteri patogen yang sering
menyerang perudangan budidaya secara komersial (Tomo,2011).
Pada 1997 dan 1998, International Aquaculture Biotechnologies Ltd, bersama
petambak besar di Honduras mengevaluasi kemungkinan penggunaan lipopolisakarida
(LPS) untuk mencegah serangan penyakit taura syndrome virus (TSV) pada udang
Vanname (Litopenaeus vannamei). Benur (post larva-PL) Vanname direndam dalam
larutan LPS. Kemudian direndam dalam air yang mengandung larutan TSV virulen
(ganas) (Tomo,2011).
Lay dan Hastowo (1992) menyatakan bahwa lipopolisakarida mempunyai
beberapa fungsi yaitu:
1. Sebagai penahan pertama, jika terdapat bahan yang akan masuk ke dalam sel
maka bahan tersebut harus melalui lapisan ini. Lapisan luar ini permeable
bagimolekul yang kecil tetapi tidak permeable terhadap enzim atau molekul
besar lainnya. Ini berarti bahwa LPS akan menahan enzim yang terletak diluar
lapisan peptidoglikan sehingga tidak akan meninggalkan sel. Enzim tersebut
terletak dalam ruangan periplasma.
2. Dalam ruamg periplasma terdapat protein pengikat yang bukan merupakan
enzim akan tetapi sifat mengikat kesuatu zat tertentu. Protein pengikat ini
kemudian membawa zat tertentu ke molekul pembawa yang terikat pada
membrane (membrane bround carrier). Sistem pengangkutan zat seperti ini
menggunakan ATP sebagai sumber energy. Protein pengikat tidak ditemukan
pada bakteri Gram positif; bakteri ini juga tidak mempunyai lapisan LPS dan
ruang periplasma.
3. Sebagai penahan yang bersifat impermeable terhadap enzim yamg berperan
dalam pertumbuhan dinding sel. Enzim ini terletak dalam ruang periplasma.
Selain itu, membrane luar juga berfungsi dalam mencegah kerusakan sel
terhadap enzim dan bahan kimia yang dapat merusak sel. Lisozim merusak
bakteri Gram positif, pada gram negatif lapisan membrane luar ini mencegah
kerusakan ini oleh karena enzim tidak dapat menembus lapisan membrane luar.
4. LPS bersifat toksin dan disebut endotoksin oleh karena merupakan bagian dari
sel dan hanya dilepaskan sewaktu lisis
Peptidoglikan
Bahan ini merupakan gabungan senyawa protein (peptida) dan polisakarida yang
merupakan derivat dari dinding sel bakteri gram positif. Jenis bakteri yang digunakan
sebagai sumbernya antara lain Bacillus, Bifidobacterium, dan Brevibacterium
(Tomo,2011).
Pada 1995, Bonyaratpalin menguji daya tahan udang terhadap serangan virus
penyebab penyakit kepala kuning (yellow head disease) dengan peptidoglikan yang
berasal dari dinding sel Brevibacterium. Sedangkan Itami pada 1998 menguji
peptidoglikan dari sumber Bifidobacterium, terhadap kemungkinan serangan white spot
(Tomo,2011).
b. -1,3/1,6-glucan dari dinding sel ragi roti
1. -glucan
-glucan yang alami merupakan homopolysaccharide bercabang
linier yang mengandung glukosa yang hanya sebagai komponen
struktural, yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik. Di alam Beta-
glukan yang tersebar luas dan sumber yang paling umum berasal dari
dinding sel ragi roti Saccharomyces cerevisiae dan anggota Echinaceae.
Beta (1,3) dan Beta (1,4) glukan yang diekstrak dari dedak dari beberapa
biji-bijian seperti gandum dan barley. Sumber lain termasuk beberapa
jenis rumput laut dan berbagai jenis jamur seperti Shiitake, dan Maitake
(Pati, 2013).
Reseptor ini mengikat berbagai patogen. Beta -glukan reseptor
pertama kali diidentifikasi pada permukaan monosit dengan reseptor
fagositosis untuk aktivator partikulat dari komplemen jalur alternatif
5
.
Kekebalan adaptif tergantung pada reseptor yang mengidentifikasi pola
antigenik inang yang telah terkena sebelumnya. Tapi kekebalan bawaan
bergantung pada reseptor pola genetik ditentukan pengakuan (PRRS)
yang mengakui biomolekul (karbohidrat, lipid, dan protein) khusus untuk
mikroorganisme dan tidak menjadi tuan rumah (Pati, 2013).
Diperkirakan bekerja melalui interaksi dengan reseptor membran
pada makrofag, neutrofil, dan sel NK. Makrofag memainkan peran penting
dalam semua fase pertahanan inang yang baik dalam respon imun
bawaan dan adaptif dalam kasus infeksi patogen . Fungsi makrofag
ditentukan oleh enzim lisosomal dan aktivitas fagosit. Ketika reseptor
terlibat dengan Beta-glukan, sel-sel menjadi lebih aktif dalam melanda,
membunuh dan mencerna bakteri dan secara bersamaan mereka
mengeluarkan molekul sinyal sitokin (IL-1, IL-6, IL-8, IL-12, TNF- ) yang
merangsang pembentukan sel darah putih baru dan mediator inflamasi
lainnya (Pati, 2013).
Dengan demikian fungsi aktivasi makrofag oleh Beta -glukan
meningkatkan pertahanan kekebalan tubuh. Hewan dengan mekanisme
imun spesifik dan non-spesifik pertahanan (Ikan), fagosit aktif
memproduksi molekul sitokin yang dapat mengaktifkan memproduksi
antibodi sel darah putih (B dan T-sel), dan meningkatkan efektivitas vaksin
(Pati, 2013).
c. Struktur komplek karbohidrat (glycan) dari bermacam-macam sumber biologi
termasuk rumput laut
1. Kappa Karagenan
Tepung kappa karagenan yang digunakan merupakan hasil
ekstraksi rumput laut K alvarezi. Tepung karagenan ditimbang terlebih
dahulu berdasarkan dosis perlakuan yang telah ditentukan dan telah
dilarutkan. Setelah itu, karagenan ini dicampur dalam pakan (Febriani,
2013).
Karagenan sendiri merupakan polisakaridanyang tersusun dari
unit-unit galaktosa sulfat yang bersifat polianion yang dihasilkan dari
ekstraksi laga merah, diguinakan sebagai bahan tambahan makanan
untuk memperbaiki tekstur makanan (Febriani, 2013).








BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Udang termasuk hewan tingkat rendah. Karena itu ia tidak dikaruniai
sistem kekebalan sempurna. Sistem kekebalan tubuhnya bersifat nonspesifik.
Agar tahan terhadap infeksi mikroba maupun parasit, udang perlu dirangsang
untuk menciptakan ketahanan tubuh terhadap serangan penyakit.
semua immunostimulan adalah bahan-bahan kimia yang berasal dari
struktur elemen bakteri, jamur miselia, dan yeast. Ada juga yang merupakan
pasangan dengan bahan sintetik yang dibuat untuk tujuan lain, yang secara
insidentil ditemukan untuk memiliki stimulasi kekebalan.
Jenis-jenis imunostimulan yang digunakan pada udang diantaranya
adalah :
A. Struktur elemen dari bakteri
B. -1,3/1,6-glucan dari dinding sel ragi roti
C. Struktur komplek karbohidrat (glycan) dari bermacam-macam sumber biologi
termasuk rumput laut

:




DAFTAR PUSTAKA

Bimami. 2009. Applikasi Probiotik Untuk Pencegahan Penyakit Di Lingkungan Tambak.
Online pada http:www.blogspot.com. Diakses pada 18 September 2014 pukul
21:24 Wita. Makasar

Tomo. 2011. Imunostimulan . Online pada http:www.blogspot.com. Diakses pada 18
September 2014 pukul 22:24 Wita. Makasar

Suprapto, 2011. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Kekebalan Dan
Aplikasi Imunostimulan Pada Udang. Online pada http:www.scribd.com.
Diakses pada 18 September 2014 pukul 22:09 Wita. Makasar

Febriani, D., Sukenda, S. Nurhayati. 2013. Kappa Karegan Sebagai Imunostimulan
untukpengendalian penyakit. Online pada http:www.academia.edu.com.
Diakses pada 18 September 2014 pukul 23:09 Wita. Makasar.

Anda mungkin juga menyukai