Anda di halaman 1dari 13

TUGAS MAKALAH

PATOLOGI IKAN
PENYAKIT DNA VIRUS IHHNV (Infektious Hypodermal and
Hematopoetic Necrosis) dan HPV (Hepato Pakcreatic Virus)
PADA UDANG


Disusun oleh
Kelompok II:

NUR ASTUTI NURUL INAYAH
UMI KALSUM CITRA A. AMBATODING
SAIPUL SAPARUDDIN SRI REZEKI WASISTHA ALI
FADLI INSANI IHSAN DEBY SALFIA MALIA
FAEDIL AMRI DJONENG NUR MAYA



PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehaditat Tuhan yang Maha Esa karena kasih
dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan, adapun judul makalah ini
adalah Penyakit DNA Virus IHHNV (Infektious Hypodermal and Hematopoetic
Necrosis) dan HPV (Hepato Pakcreatic Virus) pada Udang. Dalam penulisan
makalah ini penulis mencoba menyajikan materi sebaik-baiknya, oleh karena itu
dengan penyusunan makalah ini penulis berharap dapat mengembangkan potensi
bagi pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Untuk itu
penulis mengharapkan saran dari pembaca guna penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam pembentukan generasi
muda yang cerdas dan berbakat.

Makassar, September 2014

Penyusun













BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Penyakit timbul karena adanya interaksi yang kompleks antara inang
patogen dan lingkungan. Peyakit adalah suatu keadaan patologi dari tubuh
yang ditandai dengan adanya gangguan fisiologi dan histologi secara
bersamaan. Penyakit pada udang menyebabkan kerugian yang sangat besar pada
usaha budidaya udang. Walaupun teknologi untuk mengurangi dampak Penyakit
sudah berkembang namun beberapa penyakit pada udang masih sukar diatasi. Hal
ini disebabkan adanya kekurangan pengenalan tentang penyakit udang sehingga
deteksi dini tidak diketahui. Oleh karena itu, pengenalan penyakit pada usaha
budidaya perlu diketahui sehingga bisa diketahui cara-cara pengendaliannya secara
dini (Meyer, 1983).
Menurut Sinderman dan Lightner (1988), pengendalian penyakit
tergantung kepada tiga faktor: diagnosa, cara-cara pencegahan, dan
pengobatan. Perlu diketahui bahwa kualitas air yang buruk dan makanan
(nutrisi) yang tidak cukup merupakan penyebab utama timbulnya peledakan
penyakit (wabah) dan merupakan hal yang utama dipertimbangkan dalam
pengendalian penyakit. Seperti disebutkan diatas, penyakit merupakan interaksi
yang kompleks dari inang, patogen dan lingkungan. Lingkungan memegang peranan
yang penting dalam timbulnya penyakit dalam budidaya perairan.
Penyebab timbulnya penyakit adalah akibat rusaknya lingkungan
tambak sebagai akibat dari pencemaran internal tambak/kolam. Bahan organik
ini bersumber dari kotoran udang dan ikan, fases yang tidak terurai serta adanya
organisme yang mati adalah sumber pencemaran. Tingginya kadar protein dan
senyawa nitrogen lainnya serta lemak dalam pakan udang menyebabkan kualitas
limbah yang dihasilkan juga akan berbahaya jika dibandingkan dengan tambak-
tambak yang hanya digunakan untuk pemeliharaan ikan. Optimalisasi cara
pemberian pakan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap besarnya limbah
yang dihasilkan melalui residu dan bahan yang dicerna


I.2 Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya penulisan makalah ini adalah
mengkaji optimasi penyakit pada udang yang disebabkan oleh DNA virus.

I.3 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari makalah Patologi Ikan ini adalah:
1. Secara Praktis
Memberikan pemahaman dan informasi kepada masyarakat mengenai
penyakit pada udang yang disebabkan oleh DNA Virus.
2. Secara teoritis
Sebagai model terapan teori ilmu-ilmu hama penyakit dan parasit yang
diaplikasikan dalam bidang budidaya perikanan.
Memberikan penguatan konsep mata kuliah patologi ikan sebagai bentuk
penerapan dalam bidang teknologi terapan.























BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Penyakit-Penyakit Virus
Secara umum penyakit virus dapat dikelompokkan atas 2 (dua)
golongan besar berdasarkan asam nukleidnya, yaitu DNA Virus dan RNA
Virus, dan setiap golongan virus ini memilki beberapa jenis virus. DNA virus maupun
RNA virus muncul sebagai patogen penting bagi udang penaeid. Jenis virus pada
udang Penaeid didapati 9 jenis di belahan Bumi Barat (West Hemisphere).
Sedangkan di Indo-Pasifik dan Asia Timur telah diketahui paling sedikit 12 virus, dan
5 jenis sebagai penyebab dari penyakit Epizootic secara regional, 2 jenis darinya
menyebabkan Panzootic diseluruh industri udang di Indo-Pasifik dan Asia Timur
(Rantetondok, 2011).
Sugama et al (2006) mengemukakan berbagai jenis virus sebagai
patogen bagi udang Panaeid dan tipe petogen. Dari semua virus yang ada
pada udang Panaeid, hanya 4 yang paling penting dan sangat berpotensi
buruk bagi industri budidaya udang internasional. Keempat virus ini adalah
White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), Infectious
Hypodermal Hematopoitic and Necrosis Virus (IHHNV) dan Yellow Head Virus
(YHV). TSV dan IHHNV Yang menyebabkan masalah penyakit serius dibanyak
negara pembudidaya udang di Amerika dan juga di negara lain.

II.2 Penyakit Virus IHHN (Infectious Hypodermal Hematopoitic and Necrosis
Virus)
Spesies yang Terinfeksi
Penaeus stylirostrsi, Penaeus vannamei, Penaeus monodon dan mungkin
Penaeus semisulcatus.
Tanda-tanda Umum
Tanda yang spesifik tidak ada, tetapi pada juvenil P.stylirostrsi yang
akut IHHN yang memperlihatkan tanda konsumsi pakan yang berkurang diikuti
dengan perubahan tingkah laku dan pemunculan ke permukaan. Udang dari
spesies ini dengan IHHN yang akut naik ke permukaan air dengan gerakan
lambat di mana pegerakannya menjadi lambat kemudian berputar-putar dan
secara pelan-pelan tenggelam (dengan perut mengarah ke atas) ke dasar
perairan. Udang dengan tingkah laku yang demikian mungkin mengulangi
proses tersebut di atas selama beberapa jam sampai udang menjadi sangat
lemah dan dimakan oleh udang yang masih sehat. Udang pada fase infeksi ini
biasanya berwarna putih atau bintik putih pada kulit (epidermis). Pada udang
P.stylirostris dan P.monodon yang sakit, udang yang mati sering terlihat
berwarna coklat kebiru-biruan dengan otot perut yang transparan (Rantetondok,
2011).

Gambar Udang penaeus yang terserang IHHNV (atas) dan udang yang normal
(bawah) (Darmono, 2014),

Gambar Histologi udang vaname Litopenaeus vannamei yang terinfeksi IHHNV, bar
= 20 prm (Sukenda et al, 2009).
Penyebab
Virus kecil (diameter sekitar 20 nm) RNA berisi picorna like virus
Metode Diagnosa
Diagnosa sementara dapat dibuat berdasarkan adanya tingkat mortalitas
yang tinggi diikuti dengan tanda-tanda umum seperti di atas khususnya pada fase
awal Juvenile. Diagnosa yang pasti didapatkan pada penampakan histologi dari
eosinphilic dengan pewarnaan Hematoxilin dan Eosin (H dan E) dari jaringan yang
diawetkan dengan suatu bahan yang mengandung asam asetat seperti
DavidsonAFA dan larutan Bouin yang memperlihatkan intra nuclear inclusion bodies
(tanda khusus virus) dengan kromatin terbatas, pembesaran sel pada inti didaerah
epidermis, epitel hypodermal lambung, tali saraf, syaraf ganglion, dan organ
hematopoitic, kelenjar antena, gonad, organ mandibula (rahang) dan jaringan
penghubung (Rantetondok, 2011).
Carrier virus dapat dideteksi dengan bioassay menggunakan udang ukuran
0,1-4 gram sebagai indikator. Dengan cara lain udang indikator dapat diinjeksi sel
bebas homogen yang diambil dari udang yang terinfeksi (suspek) IHHN. Positif
terinfeksi jika IHHN terlihat dalam 15-30 hari sesudah percobaan. Perbaikan
prosedur dengan memelihara udang windu pada bak kecil di bawah kondisi stres
penuh selama 30-60 hari dapat dilakukan untuk diagnosa sederhana dengan
meningkatkan baik jumlah udang sakit maupun prevalensi penyakit di dalam
populasi yang terinfeksi (Rantetondok, 2011).
Life History, Biologi, dan Epizootiologi (Asal-usul Penyakit)
Penyakit IHHN berpengaruh sangat serius pada kepadatan yang tinggi,
pemeliharan udang intensif pada bak-bak dan raceway baik udang windu maupun
udang P.stylirostris. pengaruh pada kolam pemeliharaan populasi bervariasi dan
sebagai contoh dapat dilihat dengan timbulnya epizotik (wabah) yang berat. Udang
yang selamat dari wabah IHHN memperlihatkan carrier (pembawa) yang dapat
ditularkan kepada keturunannya dan populasi lain baik secara horizontal maupun
vertikal (Rantetondok, 2011).
Efeknya pada Inang
Nekrosis multifocal diffuse pada jaringan sasl ektodermal dan mesodermal.
Pengobatan
Tidak diketahui
Cara Pencegahan
Menghilangkan penyakit dengan cara karantina dari stok yang diimpor atau
potensial carrier, memusnahkan udang yang terinfeksi atau mendeteksi fasilitas
yang digunakan pada budidaya yang terinfeksi virus merupakan cara yang paling
efektif untuk mencegah penyakit virus masuk ke dalam daerah yang aman wabah.
Seleksi udang yang tahan penyakit seperti Spesific Patogen Resistan (SPR)
P.vannamai untuk tujuan budidaya pada daerah yang terserang telah berhasil
(Rantetondok, 2011).
Daerah Penyebaran
Penyakit IHHN hanya terdapat pada daerah-daerah pembenihan P.monodon,
P.stylirostris, P.monodon dan P.vannamai. sumber asli penyakit pada stok di alam
tidak diketahui, juga tidak diketahui, juga tidak diketahui pada udang-udang yang
sudah terinfeksi di populasi liar. Penyakit ini ditemukan pada daerah-daerah
budidaya di Hawai, Florida, Texas, kepulauan Cayman, Panama, Costa Rica, Belize,
dan Ekuador. IHHN sudah didiagnosa di Singapura, Israel, Guam, Tahiti, Filipina,
dan Indonesia. Juga kemungkinan terdapat di daerah Brazil, Jamaica, Honduras,
Peru, Prancis, dan Taiwan yang termaksud melalui introduksi benih yang terinfeksi
IHHN. Penyakit ini pernah dideteksi di sekitar tambak Politan oleh Team Lightner
(Rantetondok, 2011).

II.2 Penyakit HPV (Hepato Pakcreatic Virus)
Tanda-tanda Umum
Penyakit HPV disebabkan oleh DNA yang mengandung parvovirus
berukuran kecil dengan diameter 22-24 nm (Lightner, 1996). Penyakit ini terutama
menyerang organ hepato-pankreas udang, tetapi kadang-kadang juga
menyerang organ insang dan usus. Sesuai hasil pengamatan di lapangan
tampak bahwa bila serangan sudah cukup tinggi, tubuh udang menjadi
berwarna pucat dan hepatopankreas berwarna coklat. Bahkan kotoran yang
dikeluarkan udang menjadi berwarna putih. Hal ini terkait kerusakan dan
pembusukan serta disfungsi hepatopankreas sebagai pusat metabolisme
tubuh. Kemudian pertumbuhan menjadi lambat dan bahkan mengalami
kematian.
Lightner (1996)menyatakan bahwa gejala serangan HPV ini tidak spesifik,
tetapi pada beberapa kasus tampak bahwa hepatopankreas berwarna keputihan dan
atropi, pertumbuhan lambat, anorexia, gerakan lambat, cenderung naik ke
permukaan, dan insang dihinggapi organisme-organisme komensalisme, dan infeksi
kedua oleh oranisme-organisme patogen opurtunistik seperti Vibrio sp. Oleh karena
HPV jarang teramati sendirian dalam serangan penyakit yang mematikan, kematian
akibat HPV sulit ditentukan (Lightner, 1996). Serangan HPV dengan agen-agen
penyakit lainnya ini menyebabkan kematian tinggi pada tahap juvenis, dan dalam 4
minggu dapat mencapai 50-100% (Lightner, 1996).
Secara histologis, gambaran kerusakan sel-sel pada organ hepato-
pankreas, usus dan insang pada udang yang terserang HPV dapat dilihat pada
bahwa sel-sel hepatopankreas mengalami basofilik hipertropi dan inclusion
bodies. Demikian juga pada sel-sel usus dan insang yang mengalami basofilik
hipertopi, dan bahkan mengalami lisis sel. Basofilik hipertropi dan inclusion bodies
nukleus sel pada pankreas merupakan kunci karakteristik morfometrik nukleus yang
terinfeksi HPV (Lightner, 1996). Basofilik hipertropi sel organ pankreas juga
ditemukan pada udang windu yang dibudidayakan di tambak-tambak Sulawesi
Selatan yang terserang HPV (Madeali et al., 1998).

Gambar Hipertropi Sel-Sel Hepatopankreas Usus dan Insang Pada Udang Yang
Terserang HPV (Yanto, 2006).

Metode Diagnosa
Tipe infeksi virus pada satu organisme terdiri atas dua yaitu ko-infeksi dan
interferens. Ko-infeksi ditandai dengan keberadaan dua atau lebih virus pada satu
inang dan menginfeksi sel, jaringan, atau individu yang sama (Harper, 1986 dalam
Melena, 2006), sedangkan interferens adalah hubungan yang aneh antara virus
yang terjadi ketika populasi sel yang telah terinfeksi virus menjadi resisten terhadap
virus yang sama atau virus yang lain (Fenner et al., 1993 dalam Melena, 2006).
Untuk mendeteksi beberapa jenis virus pada satu individu udang secara molekuler
dan simultan adalah dengan multipleks PCR (MPCR). Metode ini sangat efisien
dalam hal penggunaan bahan serta tenaga, dan juga mengurangi kontaminasi akibat
pemipetan jika dibandingkan dengan PCR tunggal sehingga dapat digunakan
sebagai metode deteksi dini dan cepat.

Cara Pencegahan
Memperbaiki kualitas air karena penyakit HPV ini pada udang windu
meningkat karena kekeruhan yang tinggi dan salinitas yang rendah (Karunasagar
and Karunsagar 1997). Hal ini memperlihatkan bahwa dinamika perkembangan virus
sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.




























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Penyakit Virus IHHN (Infectious Hypodermal Hematopoitic and
Necrosis Virus) menyerang Penaeus stylirostrsi, Penaeus vannamei, Penaeus
monodon dan mungkin Penaeus semisulcatus. Pengendalian dapat dilakukan
dengan menghilangkan penyakit dengan cara karantina dari stok yang diimpor atau
potensial carrier, memusnahkan udang yang terinfeksi atau mendeteksi fasilitas
yang digunakan pada budidaya yang terinfeksi virus merupakan cara yang paling
efektif untuk mencegah penyakit virus masuk ke dalam daerah yang aman wabah.
Penyakit HPV (Hepato Pakcreatic Virus) menyerang organ hepato-pankreas
udang, tetapi kadang-kadang juga menyerang organ insang dan usus. Sesuai hasil
pengamatan di lapangan tampak bahwa bila serangan sudah cukup tinggi, tubuh
udang menjadi berwarna pucat dan hepatopankreas berwarna coklat. Pengendalian
dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas air

















DAFTAR PUSTAKA
Darmono. 2014. Penyakit Virus pada Hewan Aquatik. http://reseptory.ipb.ac.id.pdf.
Diakses pada hari Jumat, 12 September 2014.
Karunasagar, I., Otta, S.K. and Karunasagar, I. 1998. Monodo Baculovirus and
bacterial septicemia associated with mass mortality of cultivated shrimp
(P. monodon) from the east coast of India. Indian J. Virol. 14: 27-20.

Lightner, D. V. 1996. Epizootiology, distribution and the impact on international trade
of two penaeid shrimp viruses in the Americas. Rev. Sci. Tech. - Off. Int.
Epizoot. 15: 579 601.

Madeali, M. I., A. Tompo dan Muliani. 1998. Diagnosis Penyakit Viral Pada Udang
Windu, Penaeus monodon Secara Histopatologis dan Antibody
Poliklonal Dengan Metode Elisa. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia,
4 (3): 11-18.

Melena, J., Bayot, B., Betancourt, I., Amano, Y., Panchana, F., Alday, V., Calder, J.,
Stern, S., Roch, Ph. and Bonami, J-R. 2006. Pre-exposure to infectious
hypodermal and haematopoietic necrosis virus or to inactivated white
spot syndrome virus (WSSV) confers protection against WSSV in
Penaeus vannamei (Boone) postlarvae. J. Fish Dis. 29: 589600.

Meyer, T.R. 1983 Serological and Histopalogical Respones of Reinbow tout, Salmo
Gairdneri Richardson to Experimental Infection with 13 p
2
reovirus,
J.Fis.Dis. 6(3), 177-197.

Rantetondok. A. 2011. Penyakit dan Parasit Budidaya Udang/Ikan &
Pengendaliannya. Brilian Internasional, Surabaya, 5-13 hal.

Sinderman, C.J and D.V.Lightner. 1988. Disease Diagnosis and Control in North
American Marine Aquaculture. Elsier, Amsterdam 431 pp.

Sugama, K. 2005. Current Diseases in Shirimp Farm: A Problem Solving. Pusat
Riset Perikanan Budidaya. Badan Riset Kelautan dan Perikanan, DKP.
Makalah: Disampaikan pada Seminar Udang Nasional di Bandung, tahun
2005.

Sukenda, Dwinanti dan Yuhana. 2009. Keberadaan White Spot Syndrome Virus
(WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV) dan Infectious Hypodermal
Haematopoitic Necrosis Virus (IHHNV) di Tambak Intensif Udang
Vaname Litopenaeus vannamei di Bakauheni, Lampung Selatan.
http://reseptory.ipb.ac.id.pdf. Diakses pada hari Jumat, 12 September
2014.
Yanto, H. 2006. Diagnosa dan Identifikasi Penyakit Udang Asal Tambak Intensif dan
Pantai Benih di Kalimantan Barat. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi,
Vol. 7, No. 1, 2006: 17 32.