Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MAKALAH

TEKNOLOGI DAN KUALITAS PAKAN


STATUS PAKAN NASIONAL




Disusun oleh
Kelompok IV:

UMI KALSUM ASRIANI
IKA RAHMA DEWI CITRA A. AMBATODING
HAFDALIA RAHMA A. MADDANUANG
YULIANI DEBY SALFIA MALIA
NURFADILAH SRI REZEKI WASISTHA ALI
YUNI MAHARANI JANE TRIANA TANGKE
MARIE MAKALLO




PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pakan adalah makanan/asupan yang diberikan kepada hewan ternak(peliharaan)
.
Istilah
ini diadopsi dari bahasa Jawa. Pakan merupakansumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan
dan kehidupan makhluk hidup. Zat yang terpenting dalam pakan adalah protein . Pakan
berkualitas adalah pakan yang kandungan protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitaminnya
seimbang (Wikipedia, 2014).
Pada dasarnya, sumber pakan bagi ikan pemeliharaan berasal dari pakan alami dan pakan
buatan. Oleh karena jumlah pakan alami dalam kolam/perairan sangat terbatas dan kurang
memadai (terutama untuk kegiatan budi daya ikan secara intensif maupun semiintensif) maka
agar tercapai laju pertumbuhan ikan yang baik perlu diberikan pakan tambahan atau pakan
buatan sesuai dengan kebutuhan ikan. Apabila laju pertumbuhan ikan baik maka waktu
pemeliharaan menjadi lebih singkat sehingga produktivitas kolam/perairan juga meningkat
karena periode produksi ikan yang dipelihara menjadi lebih pendek (Razi, 2013).















BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Pakan Ikan
Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda
maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta
tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh
dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan
pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup. Awal dari sejarah teknologi pakan
mulai berkembang pada saat manusia melakukan penggilingan terhadap padi dan gandum
sebagai bahan pokok makanan untuk manusia, yang kemudian hasil ikutanya yang berupa kulit
padi atau kulit gandum yang dibuang secara cuma-cuma karena dianggap tidak mempunyai
kegunaan yang berarti untuk manusia (Novalina, 2009).
Di Indonesia belum ada jenis-jenis usaha yang menghasilkan bibit pakan ikan alami dari
hasil kultur murni. Bibit-bibit pakan ikan alami umumnya merupakan hasil percobaan di
laboratorium yang sifatnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam bidang
produksi pakan ikan alami, masih terdapat kesenjangan yang cukup tajam dalam hal ketersediaan
teknologi dengan penggunanya, khususnya petani ikan. Bagi masyarakat awam tidak mudah
untuk memproduksi pakan ikan alami, tetapi juga bukan merupakan pekerjaan yang sulit.
Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran
ekonomi pedesaan dan dalam pengoperasiannya memerlukan keahlian khusus. (Ilmu, 2010).
Pakan ikan sebagai salah satu faktor utama dalam pembudidayaan ikan sangat
menentukan tingkat produktivitas usaha dan mutu ikan yang dihasilkan. Pakan ikan yang
baik sangat bergantung pada nilai gizi yang dikandungnya dan komposisi bahan baku
yang digunakan. Produksi pakan ikan di Indonesia sebagian besar telah dihasilkan oleh pabrik
pakan di dalam negeri. Namun demikian, sebagian besar bahan baku pakan ikan masih diimpor
dari luar negeri (Nurdjana, 2009).
Di samping menentukan tingkat produktivitas usaha, pakan dan atau bahan baku
pakan ikan dapat menjadi media pembawa penyakit terutama untuk bahan baku asal
hewan. Oleh karena itu, impor pakan dan bahan baku pakan ikan perlu dilakukan
pengendalian melalui pemberian Surat Keterangan Teknis (SKT) Impor Pakan dan atau
Bahan Baku Pakan Ikan. Pengaturan pemberian SKT Impor Pakan dan atau Bahan Baku
Pakan Ikan didasarkan pada tindakan dan ketentuan yang menyangkut Sanitary dan
Phitosanitary (SPS-Measure), World Trade Organisation (WTO), dan Badan Kesehatan
Hewan Dunia (Office International des Epizooties/OIE) (Nurdjana, 2009).
Tujuan pemberian pakan pada ikan adalah menyediakan kebutuhan gizi untuk kesehatan
yang baik, pertumbuhan dan hasil panenan yang optimum, produksi limbah yang minimum
dengan biaya yang masuk akal demi keuntungan yang maksimum. Pakan yang berkualitas
kegizian dan fisik merupakan kunci untuk mencapai tujuan-tujuan produksi dan ekonomis
budidaya ikan. Pengetahuan tentang gizi ikan dan pakan ikan berperan penting di dalam
mendukung pengembangan budidaya ikan (aquaculture) dalam mencapai tujuan tersebut.
Konversi yang efisien dalam memberi makan ikan sangat penting bagi pembudidaya ikan sebab
pakan merupakan komponen yang cukup besar dari total biaya produksi. Bagi pembudidaya
ikan, pengetahuan tentang gizi bahan baku dan pakan merupakan sesuatu yang sangat kritis
sebab pakan menghabiskan biaya 40-50% dari biaya produksi (Herry, 2011)
Di dalam budidaya ikan, formula pakan ikan harus mencukupi kebutuhan gizi ikan yang
dibudidayakan, seperti: protein (asam amino esensial), lemak (asam lemak esensial), energi
(karbohidrat), vitamin dan mineral. Mutu pakan akan tergantung pada tingkatan dari bahan gizi
yang dibutuhkan oleh ikan. Akan tetapi, perihal gizi pada pakan bermutu sukar untuk
digambarkan dikarenakan banyaknya interaksi yang terjadi antara berbagai bahan gizi selama
dan setelah penyerapan di dalam pencernaan ikan Pakan bermutu umumnya tersusun dari bahan
baku pakan (feedstuffs) yang bermutu yang dapat berasal dari berbagai sumber dan sering kali
digunakan karena sudah tidak lagi dikonsumsi oleh manusia. Pemilihan bahan baku tersebut
tergantung pada: kandungan bahan gizinya; kecernaannya (digestibility) dan daya serap
(bioavailability) ikan; tidak mengandung anti nutrisi dan zat racun; tersedia dalam jumlah
banyak dan harga relatif murah. Umumnya bahan baku berasal dari material tumbuhan dan
hewan. Ada juga beberapa yang berasal dari produk samping atau limbah industri pertanian atau
peternakan. Bahan-bahan tersebut bisa berasal dari lokasi pembudidaya atau didatangkan dari
luar (Henry, 2011).
II.1 Status Pakan Nasional
Kondisi terkini pakan secara nasional saat ini, khususnya pakan kultivan adalah belum
berperanan secara optimal pada peningkatan kuantitas dan kualitas budidaya secara
intensif. Persentase budidaya hewan air secara intensif masih sangat kecil dibanding
dengan luas atau potensi areal budidaya. Kendala utamanya adalah harga pakan belum
mampu dijangkau oleh semua level pembudidaya hewan air di tanah air (Saade, 2014).
Penyebab utama harga pakan yang relatif tinggi adalah sebagian besar bahan baku
pakan tersebut diimpor dari luar negeri. Tepung ikan merupakan bahan baku utama pakan
kultivan diimpor dari berbagai negara untuk mensuplai kebutuhan nasional. Jumlah
tepung ikan yang diimpor setiap tahun berkisar 90% dari kebutuhan nasional. Hal ini
berarti, Indonesia hanya mampu berproduksi atau mensuplai kebutuhan tepung ikan dalam negeri
sekitar 10%. Upaya meng-impor bahan baku pakan khususnya tepung ikan merupakan
kebijakan yang cukup beralasan karena disamping kualitasnya yang tinggi juga kontinuitas
produksinya yang terjamin, walaupun berdampak pada tingginya harga pakan. Kedua hal ini
(kualitas dan kontinuitas produksi) belum mampu dilakukan di Indonesia (Saade, 2014).
Disamping kebijakan pemerintah yang belum berpihak pada sub sektor ini
(industri tepung ikan dan pakan) serta hasil tangkapan ikan di perairan nasional dan
internasional yang terus menurun dari tahun ke tahun, juga di negara kita yang memliki
dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau berdampak pada musim penangkapan ikan
di laut yang merupakan sumber bahan baku industri tepung ikan. Pada musim hujan, produksi
bahan baku tepung ikan sangat rendah, hal ini disebabkan iklim yang tidak mendukung
pengoperasian penankapan ikan dan hanya berlangsung selkitar 4-5 bulan setiap tahun. Hal ini
berarti bahwa penangkapan ikan (bahan baku tepung ikan) secara optimal di perairan Indonesia
berlangsung sekitar 7-8 bulan. Pada musim hujan bahan baku berkurang sedangkan pada musim
kemarau bahan baku berlebih. Ironisnya, sehubungan fasilitas penampungan yang tidak tersedia
untuk menampung pada saat produksi bahan baku tepung ikan berlebih menjadikan kualitasnya
dan harganya menurun. Kondisi inilah yang menyebabkan tidak stabilnya produksi serta
harga bahan baku tepung ikan di Indonesia (Saade, 2014).
Di masa yang akan datang, peluang penyediaan bahan baku tepung ikan melalui
usaha akuakultur terbuka lebar. Kenyataan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
produksi usaha budidaya dari tahun ke tahun. Hal ini menjadikan usaha akuakultur
berpeluang memproduksi bahan baku tepung ikan untuk mengimbangi menurunnya produksi
usaha penangkapan ikan. Walaupun hal ini masih sebatas kajian, nampaknya ikan mujair
berpeluang menjadi bahan baku tepung ikan di masa akan datang melalui usaha akuakultur. Ada
beberapa pertimbangan menjadikan ikan mujair sebagai kandidat bahan baku tepung ikan di
antaranya adalah (Saade, 2014) :
1. Laju reproduksi yang sangat cepat sehinga dapat dipelihara dari generasi ke
generasi/turunan pada satu musim pemeliharaan.
2. Mampu hidup dan dipelihara pada kondisi berdesak-desakaan atau kerpadatan yang tinggi.
3. Mudah atau tidak rewel dalam penanganan budidayanya serta mampu mengkonsumsi baik
makanan alami yang tersedia di tambak dan pakan buatan yang diberikan.
4. Kandungan gizinya cukup tinggi.
5. Bukan merupakan ikan konsumsi utama di Indonesia sehingga kecil kemungkinannya
terjadi persaingan makanan dengan manusia.
6. Menjadi hama pada usaha akuakultur khususnya di beberapa daerah di Indonesia.
7. Sebagian orang alergi setelah mengkonsumsinya, walaupun termasuk ikan yang mampu
meningkatkan vitalitas tubuh kaum laki-laki.
Kondisi lain perwajahan industri pakan nasional yang menyebabkan harga pakan tidak
bisa dijangkau oleh semua level pembudidaya adalah tidak meratanya industri pakan. Pabrik
pakan hampir semuanya berlokasi di Pulau Jawa. Khusus di Kawasan Timur Indonesia tidak ada
satupun pabrik bermarkas di kawasan ini, sehingga menimbulkan perbedaan harga yang cukup
signifikan antara Pulau Jawa dengan daerah lain sebagai konsekuensi dari biaya distribusi,
transportasi dan pergudangan. Jarak transportasi yang cukup jauh dan melalui beberapa
tahapan pengangkutan (darat dan lau atau kendaraan darat dan kendaraan laut)
berpeluang menyebabkan menurunnya kualitas pakan yang diterima pembudidaya
sebagai akibat penanganan yang kurang hati-hati serta fluktuasi iklim pengangkutan
(Saade, 2014).
Hal yang terjadi pada tepung ikan memiliki kesamaan dengan bahan baku pakan
lainnya. Walaupun beberapa bahan baku pakan lokal tersedia di sekitar kita namun
tingkat pengelolaannya yang sangat sederhana dan produktivitas yang rendah dan tidak
kontinu menjadikannya sulit dilirik industri pakan berskala besar. Berbagai jenis bahan
baku lokal tersebut dimanfaatkan sebagi baik untuk mensubtitusi tepung ikan maupun untuk
menyeimbangkan kecukupan dan kebutuhan berbagai nutrien kultivan. Seandainya industri
pakan yang besar atau pemerintah memiliki kepedulian yang tinggi untuk memproduksi
tepung ikan melalui usaha akuakultur dan bermitra dengan daerah atau masyarakat
untuk mengembangkan bahan baku lokal yang tersedia maka permasalahan ketersediaan
dan harga yang tinggi tepung ikan dan bahan baku lainnya dapat teratasi (Saade, 2014).







































BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kondisi terkini pakan secara nasional saat ini, khususnya pakan kultivan adalah belum
berperanan secara optimal pada peningkatan kuantitas dan kualitas budidaya secara intensif.
Persentase budidaya hewan air secara intensif masih sangat kecil dibanding dengan luas atau
potensi areal budidaya. Kendala utamanya adalah harga pakan belum mampu dijangkau oleh
semua level pembudidaya hewan air di tanah air.
Penyebab utama harga pakan yang relatif tinggi adalah sebagian besar bahan baku
pakan tersebut diimpor dari luar negeri. Tepung ikan merupakan bahan baku utama pakan
kultivan diimpor dari berbagai negara untuk mensuplai kebutuhan nasional. Jumlah tepung ikan
yang diimpor setiap tahun berkisar 90% dari kebutuhan nasional. Hal ini berarti, Indonesia
hanya mampu berproduksi atau mensuplai kebutuhan tepung ikan dalam negeri sekitar 10%.
Upaya meng-impor bahan baku pakan khususnya tepung ikan merupakan kebijakan yang cukup
beralasan karena disamping kualitasnya yang tinggi juga kontinuitas produksinya yang terjamin,
walaupun berdampak pada tingginya harga pakan. Kedua hal ini (kualitas dan kontinuitas
produksi) belum mampu dilakukan di Indonesia.









DAFTAR PUSTAKA
Herry . 2011. Pengenalan Bahan Baku Pakan Ikan. Online pada http://www.forumsains.com.
diakses pada Kamis 04 September 2014 pukul 18.32 Wita. Makasar.
Ilmu. 2010. Pakan Ikan. Online pada http://ilmualam-ilmu.blogspot.com. diakses pada Kamis
04 September 2014 pukul 18.32 Wita. Makasar.
Novalina. 2009. Sejarah Teknologi Pakan Ternak. Online pada
http://novalinahasugian.blogspot. Com. diakses pada Kamis 04 September 2014 pukul
18.28 Wita. Makasar.
Nurdjana,M.L. 2009. Pendahuluan. Online pada http://www.googlejurnalteknologi.ask.com.
diakses pada Kamis 04 September 2014 pukul 18.38 Wita. Makasar.
Razi, F. 2013. Arti Penting Pakan bagi Ikan. Online pada http://komunitaspenyuluhperikanan.
blogspot.com. diakses pada Kamis 04 September 2014 pukul 18.07 Wita. Makasar.
Saade, E. 2014. Pakan Kultivan. Online pada https://attachment.fbsbx.com. diakses pada Kamis
04 September 2014 pukul 18.53 Wita. Makasar.
Wikipedia. 2014. Pakan. Online pada http://id.wikipedia.org/wiki/Pakan. diakses pada Kamis
04 September 2014 pukul 18.00 Wita. Makasar.