Anda di halaman 1dari 88

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. DEFINISI TENTANG SASTRA

Apakah sastra itu? Mengapa sastra itu ada? Dari mana munculnya

kesusasastraan? Untuk apa kita mempelajari sastra? Untuk apa teori-teori

sastra dipelajari? Tentunya cukup banyak usaha yang dilakukan sepanjang

masa untuk memberi batasan yang tegas atau pertanyaan itu, dari berbagai

pihak dan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Tetapi, batasan manapun jua

yang pernah diberikan oleh ilmuwan ternyata diserang, ditentang, dan

disangsikan atau terbukti tidak kesampaian.karena hanya menekankan satu

atau beberapa aspek saja, atau ternyata hanya berlaku untuk sastra tertentu.

Atau yang sebaliknya terjadi, adakalanya batasan ternyata terlalu luas dan

longgar, sehingga melingkupi banyak hal yang jelas bukan sastra. Masalahnya:

secara intuisi sedikit banyaknya tahu segala apakah yang hendak disebut sastra,

tetapi begitu kita mencoba membatasinya segala itu luput dari tangkapan kita.

Memang seringkali secara umum dapat dilakukan bahwa definisi sebuah

gejala dapat kita dekati dari namanya. Sudah tentu definisi semacam itu

biasanya tidak sempurna, harus diperhalus atau diperketat kalau gejala tersebut

mau dibicarakan secara ilmiah, meskipun begitu manfaat tinjauan dari segi

pemakaian bahasa sehari-hari sebagai titik tolak. Seringkali cukup baik. Dalam

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


2

bahasa-bahasa Barat, gejala yang ingin kita perikan dan batasi disebut

literature (Inggris), literature (Jerman), litterature (Perancis), semuanya

berasal dari bahasa Latin Litteratura. Kata Litteratura sebetulnya diciptakan

sebagai terjemahan dari kata Yunani grammatika; literatura dan grammatical

masing-masing berdasarkan kata littera dan gramma yang berarti “huruf”

(tulisan, letter). Menurut asalnya Litteratura dipakai untuk tata bahasa dan

puisi; literature dan seterusnya, umumnya berarti dalam bahasa Barat Modern:

segala sesuatu yang tertulis, pemakaian bahasa dalam bentuk tulis.

Sebagai bahan banding, kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari

bahasa Sansekerta; akar kata sas-, dalam kata kerja turunan berarti

‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi’. Akhiran –tra

biasanya menunjukkan alat, sarana. Maka, sastra dapat berarti ‘alat untuk

mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran’. Awalan su- berarti

‘baik, indah’ perlu dikenakan kepada karya-karya sastra untuk

membedakannya dari bentuk pemakaian bahasa lainnya. Kata susastra

nampaknya tidak terdapat dalam bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno (Gonda

1952; Zoetmulder 1982), jadi susastra adalah ciptaan Jawa dan/atau Melayu.

Pandangan-pandangan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa ciri

khas sastra adalah pemakaian bahasa yang indah. Persoalannya adalah tidak

semua karya sastra (terutama terlihat pada seni-seni modern) menggunakan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


3

bahasa yang indah dan berbunga-bunga. Foucalt menyebutkan bahwa sastra

modern lahir dan bertumbuh di dalam kemapanan bahasa dan kungkungan

pola-pola linguistik yang kaku. Oleh karena itu, sastra modern berlomba-lomba

mentransgresikan dirinya pada suatu ruang abnormal. Sastra modern justru

menawarkan suatu dunia dan bahasa yang aneh dalam kesadaran masyarakat.

Benarlah bahwa definisi mengenai ‘sastra’ dan upaya merumuskan ‘ciri

khas sastra” sudah banyak dilakukan orang, tetapi sampai sekarang agaknya

belum memuaskan semua kalangan. Luxemburg, et al (1986:3-13)

menyebutkan alasan mengapa definisi-definisi mengenai sastra tidak pernah

memuaskan. Alasan-alasan itu adalah: 1) orang ingin mendefinisikan terlalu

banyak sekaligus tanpa membedakan definisi deskriptif (yang menerangkan

apakah sastra itu) dari definisi evaluatif (yang menilai suatu teks yang

termasuk sastra atau tidak); 2) sering orang mencari sebuah definisi ontologi

yang normatif mengenai sastra yakni definisi yang mengungkapkan hakikat

sebuah karya sastra. Definisi semacam ini cenderung mengabaikan fakta

bahwa karya tertentu bagi sebagian orang merupakan sastra, tetapi bagi orang

yang lain bukan sastra; 3) orang cenderung mendefinisikan sastra menurut

standar sastra Barat, dan 4) definisi yang cukup memuaskan hanya berkaitan

dengan jenis tertentu (misalnya puisi) tetapi tidak relevan diterapkan pada

sastra pada umumnya.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


4

Luxemburg, et al (1986) mengatakan bahwa bukanlah hal yang mudah

dapat dilakukan dalam memberi definisi sastra secara universal. Sastra

bukanlah sebuah benda yang kita jumpai, tetapi sastra adalah sebuah nama

yang dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil tertentu dalam

suatu lingkungan kebudayaan.

1. Sastra dihubungkan dengan teks-teks yang tidak melulu disusun atau

dipakai untuk suatu tujuan komunikatif yang praktis dan hanya

berlangsung untuk sementara waktu saja.

2. Dalam sastra bahannya diolah secara istimewa. Berlaku bagi puisi

maupun prosa.

3. Sebuah karya sastra dapat kita baa menurut tahap-tahap arti yang

berbeda-beda.

4. Karya-karya yang bersifat biografi, atau karya-karya yang menonjol

karena bentuk dan gayanya juga seringkali digolongkan sastra.

Lebih lanjut, Luxemburg juga mengemukakan pandangannya dalam

menilai sastra itu sendiri, yakni

1. Karena sifat rekaannya, sastra secara langsung tidak

mengatakan sesuatu mengenai kenyataan dan juga

tidak menggugah kita untuk langsung bertindak; sastra

memberikan kemungkinan atau keleluasan untuk

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


5

memperhatikan dunia-dunia lain, kenyataan-kenyataan

yang hanya hidup dalam angan-angan, sistem-sistem

nilai yang tidak dikenal atau bahkan yang tidak

dihargai.

2. Sambil membaca karya sastra, kita dapat mengadakan

identifikasi dengan seorang tokoh, dengan orang-orang

lain.

3. Bahasa sastra dan pengolahan bahannya lewat sastra

dapat membuka batin kita bagi pengalaman-

pengalaman baru atau mengajak kita untuk mengatur

pengalaman tersebut dengan suatu cara baru.

4. Sastra merupakan sebuah sarana yang sering

dipergunakan untuk mencetuskan pendapat-pendapat

yang hidup dalam masyarakat kita atau lingkungan

kebudayaan kita. Hal ini tidak berarti bahwa pendapat-

pendapat tersebut selalu bermutu.

B. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP TEORI SASTRA

Secara umum, yang dimaksud teori adalah suatu sistem ilmu atau

pengetahuan sistematik yang menetapkan pola pengaturan hubungan antara

gejala-gejala yang diamati.teori berisi konsep/uraian tentang hukum-hukum

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


6

untuk suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Suatu

teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya dan diverifikasi atau

dibantah kesahihannya (diversifikasi) pada objek atau gejala-gejala yang

diamati tersebut.

Pertama-tama yang diperlukan adalah bahwa istilah yang tepat untuk

menyebut teori sastra, baik bahasa Indonesia atau Inggris, belum ditemukan.

Akibatnya definisi mengenai hakikat, fungsi dan teori sastra tidak mudah

dirumuskan. Bahkan istilah-istilah yang digunakan utnuk menyebutkan

konsep-konsep yang paling mendasar pun berbeda-beda. Antara teori dan ilmu

sastra belum ada pembatasan yang jelas. Demikianlah pergelutan sastra

menjadi ilmu menjadi hambatan-hambatan yang cukup banyak. Juga dalam hal

konsep-konsep keilmuannya (Kuntara Wiryamartana, 1992)

Menurut Wellek dan Warren (1993), sastra adalah suatu kegiatan

kreatif, sederetan karya seni. Sedangkan teori sastra adalah studi prinsip,

kategori, dan kriteria yang dapat diacu dan dijadikan titik tolak dalam telaah di

bidang sastra. Sedangkan studi terhadap karya sastra disebut kritik sastra dan

sejarah sastra. Ketiga bidang ilmu tersebut saling mempengaruhi dan berkaitan

secara erat. Teori sastra hanya dapat disusun berdasarkan studi langsung

terhadap karya sastra. Kriteria, kategori, dan skema umum mengenai sastra

tidak mungkin diciptakan tanpa berpijak pada karya sastra kongkret. Demikian

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


7

pula, teori sastra bukan hanya sekadar alat bantu untuk mendukung

pemahaman dan apresiasi perorangan terhadap karya sastra (karena ini

bukanlah tujuan sebuah ilmu sistematis). Teori sastra justru diperlukan untuk

mengembangkan ilmu sastra itu sendiri.

Luxemburg, et.al (1986) menggunakan istilah ilmu sastra dengan

pengertian yang mirip dengan teori sastra Wellek dan Warren. Ilmu sastra

adalah ilmu yang mempelajari teks-teks sastra secara sistematis sesuai dengan

fungsinya di dalam masyarakat. Tugas ilmu sastra adalah meneliti dan

merumuskan sastra (sifat-sifat atau ciri-ciri khas kesastraan daan fungsi sastra

dalam masyarakat) secara umum dan sistematis. Teori sastra merumuskan

kaidah-kaidah atau konvensi-konvensi kesusastraan umum.

Menurut Lefevere (1997), sastra adalah deskripsi pengalaman

kemanusiaan yang memiliki dimensi personal dan sosial sekaligus serta

pengetahuan kemanusiaan yang sejajar dengan bentuk hidup itu sendiri. Sastra

penting dipelajari sebagai sarana berbagi pengalaman (sharing) dalam mencari

dan menemukan kebenaran kemanusiaan. Berdasarkan pemahaman ini,

Lefevere menyatakan bahwa untuk mencari kedalaman (insight) pengalaman

kemanusiaan ini diperlukan tidak saja sekedar ‘persepsi’ tetapi lebih dari itu

‘observasi’ persepsi hanya berfungsi sebagai peta yang kita gunakan untuk

mencari kebenaran dan kenyataan yang sesungguhnya. Dengan melakukan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


8

observasi, kita ikut terlibat secara aktif dan perhatian kita dapat kita arahkan

kepada aspek-aspek tertentu yang menarik perhatian kita.

C. HAKIKAT DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TEORI SASTRA

Abrams dalam bukunya The Mirror and The Lamp: Romantic Theory

and Critical Tradition membandingkan model-model teori sastra sepanjang

masa dan menyimpulkan bahwa teori-teori itu sangat beeraneka ragam dan

terkadang mengacaukan. Untuk dapat mempelajarinya dalam kerangka yang

lebih sistematis, Abrams mengusulkan perlunya memperhatikan ‘situasi

keseluruhan karya sastra’ sebagai patokan untuk membedakan orientasi

berbagai teori pendekatan sastra. Ditinjau dari sudut situasi karya sastra itu,

Abrams memberikan sebuah bagan sederhana, namun cukup efektif sebagai

berikut.

(REALITAS)
UNIVERSE

WORK
(KARYA)

ARTIST AUDIENCE
(PENCIPTA) (PEMBACA)

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


9

Dalam bagan tersebut, terlihat adanya empat komponen utama, yakni:

realitas, karya sastra, pencipta, dan pembaca. Abrams membuat empat

klasifikasi atau pendekatan utama terhadap karya sastra berdasarkan empat

aspek karya sastra tersebut. Keempat pendekatan itu adalah : 1) pendekatan

objektif (yang terutama memperhatikan aspek karya sastra itu sendiri; 2)

pendekatan ekspresif (yang menitikberatkan aspek pengarang atau pencipta

karya sastra); 3) pendekatan mimetik (yang mengutamakan aspek semesta);

dan pendekatan pragmatik (yakni mengutamakan aspek pembaca).

Gambaran singkat ini menunjukkan konsep pemikiran teori sastra dari

sisi lain. Dari pencipta yang mula-mula dipandang ‘memiliki gaung jiwa yang

agung’ (Wimmsatt & Beardsley, 1987:106) kemudian disingkirkan mengenai

ketidakmampuan bahasa sastra dalam menyajikan impian dan harapan,

pengalaman dan kekecewaan manusia. Orientasi lalu bergerak ke arah

pembaca yang diberi kebebasan penafsiran, mula-mula kebebasan relatif

sampai kepada kebebasan mutlak untuk mendekonstruksi dan merekonstruksi

teks itu. ‘Puncak’ kesadaran teori sastra adalah tidak ada sesuatu di luar teks;

tidak ada makna transendetal di dalam teks sehingga pembaca itulah yang

bertugas mengadakannya dengan membongkar dan menyusun teks.

Berikut ini beberapa uraian mengenai hakikat dan relevansi teori sastra

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


10

didasarkan pandangan Lefevere (1977) dan Jauss.

1. Dalam sastra harus menggunakan prosedur dan konsep-konsep

repertoir. Repertoir-repertoir sastra berfungsi mengidentifikasi gejala-

gejala sastra, perubahan dan pergeseran core (inti, pusat), dan

periphery (pinggiran). Juga bersifat polyssystem—fleksibel yang

menunjukkan pusat tertentu yang dapat berubah-ubah.

2. Sastra tidak dapat digolongkan sebagai masalah ilmiah yang dapat

ditafsirkan secara tepat atau secara tertutup; sastra adalah deskripsi

pengalaman dan pengetahuan kemanusiaan dalam cita rasa (taste) seni.

3. Teori sastra dapat mengembangakan disiplinnya dengan repertoir sastra

yang menunjukkan kontinuitas dan konteks genetik kultural.

4. Makna sebuah karya sastra bersifat hipotesis bersama, jadi perlu

menghindari subjektivitas.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa wilayah teori

sastra akan menjadi sangat jelas dan transparan—mencari “kebenaran”

pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan sastra, jika pembaca

dalam menetapkan penerimaannya dapat memperhatikan ketentuan-ketentuan

umum (norma-norma sastra) dalam lingkup genre sastra. Tolok ukur

“kebenaran”nya adalah pengalaman baru, cara pengucapan baru, dan ide-ide

estetik baru. Wilayah teori sastra yang demikianlah diharapkan mencapai

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


11

relevansinya sebagai pemicu proses pengembangan citarasa sastra, yang

semakin cemerlang.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


12

BAB II

KARYA SASTRA DAN SISTEM SASTRA

A. BAHASA SASTRA SEBAGAI BAHASA KHAS

Pada Bab sebelumnya, agak sulit untuk menemukan definisi yang jelas

mengenai istilah sastra. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pandangan yang

beragam tentang istilah sastra. Oleh karena itu, dalam pembahasan kali ini,

Wellek dan Warren menawarkan cara yang paling mudah untuk memecahkan

masalah ini adalah penggunaan bahasa yang khas sastra.

Bahasa adalah bahan baku kesusastraan. Untuk melihat penggunaan

bahasa yang khas sastra, kita harus membedakan bahasa sastra, bahasa sehari-

hari, dan bahasa ilmiah. Pertama-tama, kita akan membedakan bahasa ilmiah

dan bahasa sastra. Bahasa ilmiah cenderung menyerupai sistem tanda

matematika atau logika simbolis. Salah satu contoh usaha menciptakan bahasa

ilmiah yang sempurna adalah upaya Leibniz menyusun bahasa universal yang

dimulai pada akhir abad ke-17.

Bahasa sastra penuh ambiguitas dan homonim (kata-kata yang sama

bunyinya tapi berbeda artinya), serta memiliki kategori-kategori yang tak

beraturan dan tak rasional seperti gender (jenis kata yang mengacu pada jenis

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


13

kelamin dalam tata bahasa). Bahasa sastra juga memiliki fungsi ekspresif yang

menunjukkan nada (tone) dan sikap pembicara atau penulisnya. Bahasa sastra

berusaha mempengaruhi, membujuk dan pada akhirnya mengubah sikap

pembaca, yang dipentingkan dalam bahasa sastra adalah tanda, simbolisme

suara dari kata-kata. Berbagai macam teknik untuk menarik perhatian pembaca

kepada kata-kata dalam karya sastra. Bahasa sastra memiliki segi ekspresif dan

pragmatis yang dihindari sejauh mungkin oleh bahasa ilmiah.

Kedua, membedakan bahasa sastra dan bahasa sehari-hari. Hal ini

sangat sulit dilakukan, dikarenakan bahasa sehari-hari bukanlah konsep yang

seragam. Lagipula, ciri bahasa sastra yang memiliki fungsi ekspresif juga

dimiliki oleh bahasa sehari-hari. Dalam hal ini juga berusaha mempunyai

tujuan mencapai sesuatu, untuk mempengaruhi sikap dan tindakan.

Oleh karena itu, pembedaan yang akan dilakukan akan dimulai pada

segi kuantitatif. Dalam karya sastra, sarana-sarana bahasa dimanfaatkan secara

lebih sistematis dan dengan sengaja. Sejak dahulu, keistimewaan pemakaian

bahasa dalam sastra ditonjolkan dalam puisi, sebab bahasa dalam puisi hanya

dimanfaatkan oleh penyair yang terkadang menyimpang dari bahasa sehari-

hari dan bahasa yang normal. Meskipun dalam penyimpangannya dari bahasa

sehari-hari tidak dapat dicari dasar unutk membedakan sastra dari pemakaian

bahasa yang lain, namun keistimewaan bahasa puisi dan sastra tetap diteliti,

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


14

dan secara sistematik disusun dalam sistem retorika yang amat luas dan halus.

Retorika seringkali menjadi sistem normatif atau preskriptif, yaitu menentukan

norma-norma yang harus diterapkan dalam pemakaian bahasa yang baik dan

indah.

B. BAHASA SEBAGAI SISTEM SEMIOTIK PRIMER

Dikatakan bahwa bahasa sastra adalah bahasa yang khas; paling sering

digunakan dalam puisi yang hanya dimanfaatkan sang penyair atau penulis

semata. Seorang pencipta atau pembaca karya sastra tidak mencipta atau pun

menanggapinya dalam situasi vakum, kehampaan mutlak. Mereka terikat oleh

berbagai ikatan dan harus takluk pada berbagai keterbatasan. Namun, tak

kurang pentingnya, keterikatan seorang penulis atau pembaca, yang

diakibatkan oleh bahan-bahan yang mau tak mau harus dipakai dalam karya

itu, yaitu bahasa. Sebab bahan itu bukanlah bahan yang netral, bahan kosong

yang dapat dipergunakan semau-maunya saja (Teeuw, 1984).

Bahasa yang dipakai sastrawan, sudah merupakan sistem tanda, sistem

semiotik; setiap tanda, unsur bahasa itu mempunyai arti tertentu, yang secara

konvensi disetujui, harus diterima oleh anggota masyarakat, dan yang

mengikat mereka, tidak hanya dalam artian bahwa tanda itu merupakan berian

tetapi yang lebih penting lagi : di dalam sistem tanda itu tersedia perlengkapan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


15

konseptual yang sukar sekali dihindari, sebab perlengkapan itu merupakan

dasar pemahaman dunia nyata dan sekaligus merupakan dasar komunikasi

antara anggota masyarakat yang terpenting.

Sebuah bahasa memiliki sistem kemaknaan yang bersifat lincah, luwes,

longgar, malahan licin dan licik dan penuh dinamika sehingga memberi segala

kemungkinan untuk pemanfaatan yang kreatif dan orisinal, juga dari segi

konseptual. Jadi, kita semua mempunyai sistem bahasa yang antara lain

merupakan sistem kemaknaan yang berbeda-beda menurut menurut bahasa

yang kita pakai sebagai anggota sebuah masyarakat tertentu. Contohnya, kita

tahu bahwa secara fisik spektrum warna merupakan kontinum, tidak

membedakan warna secara diskret; tetapi setiap masyarakat bahasa secara

konvensi memberi sejumlah nama pada potongan-potongan kesinambungan

warna itu: merah, putih, hijau, dan seterusnya. Dan ternyata bahwa masing-

masing bahasa mempunyai nomenklatur warna (pemberian nama) yang tidak

selalu sama, malahan ada yang berbeda, yang menentukan identifikasi dan

penafsiran gejala warna bagi pemakai bahasa-bahasa itu.

Dalam ilmu bahasa modern, khususnya Benyamin Lee Whorf

mengembangkan ide bahwa pandangan manusia terhadap dunia sekelilingnya

dalam artian yang seluas-luasnya ditentukan oleh sistem bahasanya (Whorf,

1986). Dalam ilmu sastra modern. Ide ini antara lain digarap secara sistematik

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


16

oleh peneliti Rusia Lotman (1972), bahasa disebutnya ein primares

modellbildendes sistem, sistem tanda yang secara primer membentuk model

dunia baagi pemakainya; model itulah pada prinsipnya mewujudkan

perlengkapan konseptual manusia untuk penafsiran segala sesuatunya di dalam

dan di luar dirinya. Sistem inilah yang tersedia untuk dan sekaligus mengikat

juga seorang sastrawan dan penikmat sastra. Lotman juga menyebut sastra

sebagai ein sekundares modellbildendes sistem, sistem tanda sekunder yang

membentuk model, yaitu yang tergantung pada sistem primer yang diadakan

oleh bahasa dan yang hanya dapat dipahami dalam hubungannya dan

seringkali dalam pertentangannya dengan sistem bahasa (Teeuw, 1984).

C. MASALAH SISTEM SASTRA

Sebuah pertanyaan muncul Apakah sastra seluruhnya merupakan

sistem? Adakah analogi antara yang disebut sistem bahasa dan sistem sastra?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Teeuw mengemukakan beberapa hal

tentang sistem sastra sebagai berikut:

1. Sistem itu tak dapat bersifat longgar, lincah; oleh karena karya sastra

individual justru ditandai oleh penyimpangan, pelanggaran terhadap

norma-norma, maka dengan sendiri sistem itu, seandainya ada, tidak

dapat ketat. Aturan sistem , misalnya konvensi sastra tidak perlu ada,

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


17

malahan tidak boleh dipatuhi secara mutlak. Dalam batas tertentu (yang

mungkin berbeda ketat longgarnya untuk sastra yang berlainan)

penyimpangan dari aturan termasuk sistem itu sendiri; tanpa variasi dan

kebebasan untuk menyimpang, sastra sebagai ciptaan kreatif tidak

mungkin ada. Ketegangan antara norma sastra yang kolektif dan

penyimpangan individual adalah ciri khas sistem sastra, demikian pula

merupakan ciri khas sistem karya individual itu sendiri

(Mukarovssky, 1978).

2. sebagai akibatnya, perbedaan antara diakronik dan sinkronik yang

cukup mendasar untuk konsep sistem bahasa, untuk sistem sastra tidak

berlaku kejelasan yang sama. Sistem sastra secara prinsip

menggabungkan unsur diakronik dengan unsur sinkronik; dinamik

diakronik merupakan unsur asasi dari sistem sinkronik, dan sebaliknya

dalam diakronik, ketegangan sistematik selalu dipertahankan. Sejarah

sastra dan sistem sastra menunjukkan hubungan dialektik, yang satu

tidak dapat diteliti atau dideskripsi tanpa yang lain.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


18

BAB III

KARYA SASTRA DAN KENYATAAN

A. TEORI TENTANG MIMESIS

Dalam Bab ini akan dibahas mengenai hubungan antara karya sastra dan

kenyataan, universe dalam istilah Abrams, reality dalam tulisan lain. Banyak

tulisan mengenai teori sastra sukar dipahami jika kita tidak tahu sedikit

banyaknya mengenai diskusi yang diadakan lebih dari 2000 tahun yang lalu.

Plato dengan panjang lebar memaparkan peranan puisi, khususnya dalam

hubungannya dengan kenyataan, di berbagai tempat dalam karya-karyanya.

Untuk uraian ini terdapat bahan yang padat isinya tentang mimesis (Verdenius,

1949).

Semenjak orang mempelajari sastra, secara kritis timbul pertanyaan,

sejauh mana sastra mencerminkan kenyataan? Sering juga dikatakan, bahwa

sastra memang mencerminkan kenyataan, sering juga dituntut dari sastra agar

mencerminkan kenyataan. Kedua pendapat ini disebut penafsiran mimetik

mengenai sastra. Pengertian mimesis (Yunani: Perwujudan atau jiplakan)

pertama-tama dipergunakan dalam teori-teori seni oleh Plato dan Aristoteles.

Pandangan Plato tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan pendirian

filsafatnya mengenai kenyataan yang bersifat hirarki. Menurut Plato, dunia

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


19

empirik tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, hanya dapat

mendekatinya lewat mimesis, peneladanan atau pembayangan ataupun

peniruan (sebab terjemahan kata mimesis tidak mudah) (Luxemburg, et al :

1986).

Jadi, bagi Plato, mimesis terikat pada ide pendekatan, tidak

menghasilkan kopi yang sungguh-sungguh; lewat mimesis, tataran yang lebih

tinggi hanya dapat disarankan. Dalam rangka ini menurut Plato, mimesis atau

sarana artistik tidak mungkin mengacu langsung pada nilai-nilai yang ideal,

karena seni terpisah dari tataran yang Ada yang sungguh-sungguh oleh derajat

dunia kenyataan yang fenomenal. Seni hanya dapat meniru dan

membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak. Meskipun

demikian, seni berusaha mencoba secara ssungguh-sungguh mencoba

mengatasi kenyataan sehari-hari. Seni yang terbaik lewat mimesis,

peneladanan kenyataan mengungkapkan sesuatu makna hakiki kenyataan itu.

Oleh karena itu, seni yang baik harus truthful, benar; dan seniman harus

bersifat modest, rendah hati; dia harus tahu bahwa lewat seni dia hanya dapat

mendekati yang ideal dari jauh dan serba salah (Luxemburg, et al : 1987).

Pandangan Aristoteles tentang mimesis tidak semata-mata menjiplak

kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif; penyair, sambil bertitik pangkal

pada kenyataan, menciptakan sesuatu yang baru. Dengan bermimesis, penyair

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


20

menciptkan kembali kenyataan.

Berdasarkan pendapatnya tersebut, Aristoteles tidak lagi memandang

sastra sebagai copy atau jiplakan mengenai kenyaataan, melainkan sebagai

sebuah suatu ungkapan atau perwujudan mengenai “universalia” (konsep-

konsep umum). Jika Plato menyebutnya dunia Ide, tetapi Aristoteles

menyebutnya sebagai pikiran, perasaan, dan perbuatan yang khas bagi seorang

manusia

Selain hal di atas, terdapat juga pandangan bahwa sastra bukan hanya

menciptakan suatu kenyataan sendiri, tetapi sastra membuat modul (bagan)

mengenai kenyataan.

B. TEORI MIMESIS DAN CREATION

Telah dijelaskan bahwa sastra merupakan sebuah cermin atau gambar

kenyataan. Lalu, muncul teori yang mengatakan bahwa sastra menciptakan

seebuah dunia sendiri (“sebuah dunia dengan kata-kata”), sebuah dunia yang

serba baru, yang kurang lebih lepas dari kenyataan. Pertentangan antara

mimesis dan creation sebetulnya tidaklah begitu ekstrim atau tajam seperti

yang dibayangkan. Aristoteles mengatakan bahwa seorang pengarang justru

karena daya cipta artistic-nya mampu menampilkan perbuatan manusia yang

universal.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


21

Teeuw (1984) mengemukakan tentang kedua teori tersebut, bahwa

menurut penganut teori creation, karya seni adalah sesuatu yang pada

hakikatnya baru, asli, ciptaan dalam arti yang sungguh-sungguh. Sastra

dianggap sebagai dunia dalam kata atau heterokosmos, sesuatu yang otonom

(taat pada hukum sendiri) terhadap kenyataan. Sedangkan penganut teori

mimesis menganggap karya seni sebagai pencerminan, peniruan atau

pembayangan realitas.

Meskipun teori mimesis dan creation saling melengkapi, namun dalam

perkembangan sastra yang ada saat ini, bahwa dalam dunia sastra dilukiskan

banyak hal yang dalam kenyataan tak pernah ada. Bila kita membaca teks-teks

sastra, kita berhadapan dengan tokoh-tokoh dan situasi-situasi yang hanya

terdapat dalam khayalan si pengarang. Teks-teks yang mengandung unsur-

unsur khayalan sering disebut teks fiksi (Luxemburg, et al : 1987).

Bila sebuah teks fiksi mampu menciptakan suatu dunia sendiri yang

harus dibedakan dari kenyataan, maka akan timbul pertanyaan: Bagaimana

hubungan antara dunia fiksi itu dengan kenyataan?

Dunis fiksi sebagai dunia lain yang berdiri di samping kenyataan, tetapi

menurut beberapa aspek menunjukkan persamaan dengan kenyataan.

Meskipun seorang pengarang melampiaskan daya khayalnya dengan

menciptakan makhluk-makhluk yang tidak ada, yang hidup dalam suatu

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


22

lingkungan khayalan, namun tetap ada kaitan-kaitan tertentu antara tokoh-

tokoh, dan perbuatan mereka, yang dapat dimengerti oleh pembaca dan

diterima berdasarkan pengetahuannya mengenai dunia nyata. Tidaklah benar

dikatakan bahwa teks fiksi menciptakan suatu dunia yang serba baru. Ini

bahkan mustahil, karena andaikata dunia itu serba baru, itu berarti bahwa

teksnya tidak dapat dimengerti. Dunia yang diciptakan pengarang oleh

pembaca selalu dialami berdasarkan pengetahuannya tentang dunia nyata,

termasuk tentang tradisi sastra. Kadang-kadang dunia ciptaan itu mirip dengan

kenyataan (otobiografik), kadang-kadang menyimpang jauh (dongeng).

Lebih lanjut, Teeuw (1984) mengemukakan tentang kaitan mimesis dan

creation dari segi bahasa. Bahasa sebagai sistem tanda yang ciri khasnya

adalah dualitas antara significant dan signifie, yang menandai dan ditandai,

dengan pemakaian bahasa langue dan parole). Pada tataran bahasa, tanda itu

mempunyai makna, designatum, yang tidak langsung merujuk pada kenyataan.

Dia memandang bahwa dari segi bahasa, terdapat unsur ambiguitas terhadap

kenyataan itu. Dalam sastra, bahasa digunakan sebagai alat yang cukup

independen terhadap kenyataan itu sehingga dapat dipakai untuk hal-hal yang

tidak ada dalam kenyataan. Bahkan ada peneliti yang berpendapat bahwa

bahasalah yang memberi kemungkinan dan pembatasaan pada kita tentang

kenyataan.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


23

C. SASTRA DAN MASYARAKAT: PENELADANAN DAN SEKALIGUS


MODEL KENYATAAN

Ketika orang berbicara mengenai seni sastra, pertentangan antara

mimesis dan creation adalah pertentangan nisbi atau semu. Hubungan antara

seni dan kenyataan bukanlah hubungan yang searah, sebelah atau sederhana.

Hubungan itu selalu merupakan interaksi yang kompleeks dan tak langsung

ditentukan oleh tiga macam konvensi, yakni konvensi sastra, konvensi sosio-

budaya, dan konvensi sastra yang menyaring dan menentukan kesan kita dan

mengarahkan pengamatan dan penafsiran kita terhadap kenyataan. Hubungan

ini memang merupakan interaksi, saling mempengaruhi dan kaitan dwiarah.

Sebab tentu saja konvensi tidak akan terjadi tanpa dipengaruhi oleh kenyataan.

Kenyataan berpengaruh besar dan mengarahkan terjadinya konvensi bahasa,

sastra dan sosial, tetapi sebaliknya pengamatan dan penafsiran kenyataan

diarahkan pula oleh konvensi tersebut. Dalam seni umumnya, sastra

khususnya, interaksi itu dijadikan prinsip semiotik utama: pembaca harus

bolak-balik antara kenyataan dan rekaan, antara mimesis dan creation.

Dalam kaitannya dengan tiga jenis konvensi di atas, Luxemburg et al

juga memberikan pandangan bahwa sebuah sastra itu dapat dipandang sebagai

suatu gejala sosial. Pengarang menggubah karyanya selaku seorang warga

masyarakat dan menyapa pembaca yang sama-sama dengan dia merupakan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


24

warga masyarakat tersebut. ia dihargai atau kurang dihargai oleh para pembaca

yang dipengaruhi atau kurang dipengaruhi oleh sang pengarang.

Hubungan antara sastra dan masyarakat diteliti dengan berbagai cara

yakni: 1) yang diteliti ialah factor-faktor di luar teks sendiri, gejala konteks

sastra; teks sastra itu sendiri tidak ditinjau, 2) yang diteliti adalah hubungan

antara (aspek-aspek) teks sastra dan susunan masyarakat

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


25

BAB IV

APRESIASI KARYA SASTRA

A. PENGERTIAN APRESIASI SASTRA

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti

‘mengindahkan’ atau ‘menghargai’. Secara terminologi, apresiasi sastra dapat

diartikan sebagai penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra,

baik yang berupa prosa fiksi, drama, maupun puisi (Dola, 2007). Dalam

konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gove mengandung makna

(1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan (2) pemahaman dan

pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada

sisi lain, Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses, apresiasi

melibatkan tiga unsur inti, yakni 1) aspek kognitif, 2) aspek emotif, dan

3) aspek evaluatif.

Aspek kognitif berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam

upaya memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. Unsur-unsur

kesastraan yang bersifat objektif tersebut, selain dapat berhubungan dengan

unsur-unsur yang secara internal terkandung dalam suatu teks sastra atau unsur

intrinsik, juga dapat berkaitan dengan unsur-unsur di luar teks yang secara

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


26

langsung menunjang kehadiran teks sastra itu sendiri.

Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca

dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca.

Selain itu, unsur emosi juga sangat berperanan dalam upaya memahami unsur-

unsur yang bersifat subjektif. Unsur subjektif itu dapat berupa bahasa paparan

yang mengandung ketaksaan makna atau bersifat konotatif-interpretatif serta

dapat pula berupa unsur-unsur signifikan tertentu, misalnya penampilan tokoh

dan setting yang bersifat metaforis.

Aspek evaluatif berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian

terhadap baik-buruk, indah tidak indah, sesuai-tidak sesuai serta sejumlah

ragam penilaian lain yang tidak harus hadir dalam sebuah karya kritik, tetapi

secara personal cukup dimiliki oleh pembaca. Dengan kata lain, keterlibatan

unsur penilaian dalam hal ini masih bersifat umum sehingga setiap apresiator

yang telah mampu meresponsi teks sastra yang dibaca sampai pada tahapan

pemahaman dan penghayatan, sekaligus juga mampu melaksanakan penilaian.

Sejalan dengan rumusan pengertian di atas, Effendi dalam (Aminuddin,

2002) mengemukakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya

sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian,

penghargaan, kepekaan kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya

sastra. Juga disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


27

apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra yang

diapresiasinya, menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta melaksanakan

kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan

yang mampu memuaskan rohaniahnya.

Belajar apresiasi sastra pada hakikatnya adalah belajar tentang hidup

dan kehidupan. Melalui karya sastra, manusia akan memperoleh gizi batin,

sehingga sisi-sisi gelap dalam hidup dan kehidupannya bisa tercerahkan lewat

kristalisasi nilai yang terkandung dalam karya sastra. Teks sastra tak ubahnya

sebagai layar tempat diproyeksikan pengalaman psikis manusia.

Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju proses

globalisasi, sastra menjadi makin penting dan urgen untuk disosialisasikan dan

"dibumikan" melalui institusi pendidikan. Karya sastra memiliki peranan yang

cukup besar dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang. Dengan

bekal apresiasi sastra yang memadai, para keluaran pendidikan diharapkan

mampu bersaing pada era global dengan sikap arif, matang, dan dewasa.

B. BEKAL AWAL PENGAPRESIASI SASTRA

Kellet mengungkapkan bahwa pada saat ia membaca suatu karya sastra,

dalam kegiatan tersebut, ia selalu berusaha menciptakan sikap serius, tetapi

dengan suasana batin ruang. Penumbuhan sikap serius dalam membaca cipta

sastra itu terjadi karena sastra bagaimana pun lahir dari daya kontemplasi batin

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


28

pengarang sehingga untuk memahaminya juga membutuhkan pemilikan daya

kontemplatif pembacanya, sementara pada sisi lain, sastra merupakan bagian

dari seni yang berusaha menampilkan nilai-nilai keindahan yang bersifat aktual

dan imajinatiff sehingga mampu memberikan hiburan dan kepuasan rohaniah

pembacanya.

Sebab itulah tidak berlebihan jika Boulton mengungkapkan bahwa cipta

sastra, selain menyajikan nilai-nilai keindahan serta paparan peristiwa yang

mampu memberikan kepuasan batin pembacanya, juga mengandung

pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin, baik

berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik maupun berbagai

macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini.

Kandungan makna yang begitu kompleks serta berbagai macam nilai

kehidupan tersebut dalam hal ini akan mewujudkan atau tergambar lewat

media kebahasaan, media tulisan, dan struktur wacana.

Dengan demikian, sastra, sebagai salah satu cabang seni bacaan, tidak

cukup dipahami lewat analisis kebahasaannya, lewat studi yang disebut teks

grammar atau teks linguistik, tetapi juga karena teks sastra bagaimana pun

memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan ragam bacaan lainnya.

Adanya ciri-ciri khusus teks sastra itu, salah satunya ditandai oleh adanya

unsur-unsur intrinsik karya sastra yang berbeda dengan unsur-unsur yang

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


29

membangun bahan bacaan lainnya.

Dari keseluruhan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa cipta sastra

sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks, antara

lain 1) unsur keindahan, 2) unsur kontemplatif yang berhubungan dengan nilai-

nilai atau renungan tentang keagamaan, filsafat, politik serta berbagai macam

kompleksitas permasalahan kehidupan; 3) media pemaparan, baik berupa

media kebahasaan maupun struktur wacana, serta 4) unsur-unsur intrinsik yang

berhubungan dengan karakteristik cipta sastra itu sendiri sebagai suatu teks.

Sejalan dengan kandungan keempat aspek di atas, maka bekal awal

yang harus dimiliki seorang calon apresiator adalah 1) kepekaan emosi atau

perasaan sehingga pembaca mampu memahami maupun menikmati unsur-

unsur keindahan yang terdapat dalam cipta sastra, 2) pemilikan pengetahuan

dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan

kemanusiaan, baik lewat penghayatan kehidupan ini secara intensif—

kontemplatif maupun dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan

masalah humanitas, misalnya buku filsafat atau psikologi; 3) pemahaman

terhadap aspek kebahasaan dan 4) pemahaman terhadap unsur-unsur intrinsik

cipta sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra.

Berbagai macam bekal pengetahuan dan pengalaman di atas disebut

sebagai bekal awal karena seperti telah diungkapkan di depan, untuk mampu

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


30

mengapresiasi suatu cipta sastra seseorang harus secara terus-menerus

menggauli karya sastra. Pemilikan bekal pengetahuan dan pengalaman daapat

diibaratkan sebagai pemilikan pisau bedah, sedangkan kegiatan menggauli

cipta sastra itu sebagai kegiatan pengasahan sehingga pisau itu menjadi tajam

dan semakin tajam, yakni jika pembaca itu semakin sering dan akrab dengan

kegiatan membaca sastra.

C. KEGIATAN LANGSUNG DAN TAK LANGSUNG DALAM


MENGAPRESIASI SASTRA

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa apresiasi

sastra sebenarnya bukan merupakan konsep abstrak yang tidak pernah

terwujud dalam tingkah laku, melainkan merupakan pengertian yang di

dalamnya menyiratkan adanya suatu kegiatan yang harus terwujud secara

kongkret. Perilaku tersebut dapat dibedakan ke dalam perilaku kegiatan

langsung dan tak langsung.

Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau

menikmati cipta sastra berupa teks maupun performansi secara langsung.

Kegiatan membaca suatu teks sastra secara langsung itu dapat terwujud

melalui kegiatan membaca, memahami, menikmati serta mengevaluasi teks

sastra, baik yang berupa cerpen, novel, roman, maupun teks sastra yang berupa

puisi.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


31

Kegiatan langsung yang mewujud dalam kegiatan mengapresiasi sastra

pada performansi misalnya saat anda melihat, mengenal, memahami,

menikmati, ataupun memberikan penilaian pada kegiatan membaca puisi,

cerpen, pememtasan drama, baik di radio, televisi, maupun pementasan di

panggung terbuka. Bentuk kegiatan ini secara kontinum harus dilakukan

sungguh-sungguh, dan berulangkali. Hal ini dimaksudkan seorang apresiator

dapat mengembangkan kepekaan pikiran dan perasaan dalam rangka

mengapresiasi suatu karya sastra.

Kegiatan tak langsung dapat dilaksanakan dengan cara mempelajari

teori sastra, membaca artikel yang berhubungan dengan kesastraan, baik di

majalah, di koran, mempelajari penilaian buku maupun esei yang membahas

dan memberikan gambaran terhadap suatu karya sastra serta mempelajari

sejarah sastra. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dalam

rangka mengapresiasi suatu cipta sastra. Kegiatan menikmati sastra serimgkali

diistilahkan dengan ‘menggauli’ sastra.

Kegiatan menggauli sastra dapat berupa kegiatan yang bersifat reseptif

dan dapat pula berupa kegiatan yang bersifat kreatif. Menggauli sastra secara

reseptif adalah menikmati hal-hal yang berkaitan dengan bentuk-bentuk sastra

(puisi-prosa-drama), misalnya memperhatikan/mendengarkan deklamasi/baca

puisi, menonton pementasan drama, membaca pemahaman (dalam hati) cerita

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


32

atau puisi. Sedangkan menggauli sastra secara kreatif kegiatan yang

mengharapkan adanya penciptaan bentuk-bentuk sastra secara lisan atau

tertulis, misalnya menulis cerpen atau puisi, membaca puisi, mendeklamasi

puisi, mementaskan drama.

Kegiatan menggauli sastra secara reseptif berkaitan erat dengan

kegiatan menggauli sastra secara kreatif dalam mengantar seseorang menjadi

”sastrawan”. Dengan banyak menggauli sastra secara reseptif merupakan

tangga awal untuk dapat menjelajah pergaulan sastra lebih tinggi tingkatannya.

Dengan banyak membaca karya sastra orang lain akan membentuk suatu

pemahaman utuh yang berujung pada terbentuknya gaya pribadi kreatif yang

berbeda dengan orang lain (Khalik, 2007).

D. MANFAAT MENGAPRESIASI SASTRA

Dalam mengapresiasi sastra, banyak manfaat yang dapat diperoleh, di

antaranya adalah menambah pengetahuan seseorang tentang kosakata dalam

suatu bahasa, tentang pola kehidupan suatu masyarakat. Terdapat dua manfaat

yang digunakan dalam apresiasi sastra, yakni manfaat umum dan manfaat

khusus.

1. Manfaat secara umum

Seperti telah diketahui, masyarakat peminat atau pembaca sastra sangat

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


33

beragam. Adanya keragaman itu lebih lanjut juga menyebabkan timbulnya

keragaman dalam kegiatan apresiasinya. Bila dalam butir ini diungkapkan

manfaat secara umum, sebenarnya yang dimaksud adalah manfaat membaca

sastra yang diperoleh oleh pembaca pada umumnya lewat generalisasi

Bila anda mengamati kehidupan sehari–hari, sering kali kita lihat ada

seseorang yang dengan asyik membaca cerita sambil menunggu kereta atau

bus yang tak kunjung tiba, sebagai penyangga kantuk sewaktu harus berjaga,

sebagai pengantar tidur, atau mungkin sebagai pengisi kegiatan daripada tidak

ada yang harus dikerjakan,

Sehubungan dengan kompleksitas yang terkandung dalam suatu cipta

sastra, Olsen mengungkapknan bahwa cipta sastra sedikitnya akan

mengandung tiga elemen yang oleh Olsen istilahkan dengan 1) aesthetic

properties, yang berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik maupun media

pemapaaran suatu cipta sastra, 2) aesthetic dimension, berhubungan dengan

dimensi keindahan yang dikandung oleh suatu cipta sastra, 3) aesthetic object,

berhubungan dengan kemampuan cipta sastra untuk dijadikan objek kegiatan

menusia dengan keanekaragaman tujuan yang ingin dicapainya.

2. Manfaat khusus

Uraian tentang manfaat umum di atas yang dinikmati oleh masyarakat

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


34

umum, yang bertujuan untuk hiburan semata, juga mengandung manfaat

khusus dari pembaca khusus. Adanya manafaat khusus tersebut bertujuan

untuk pencapaian tujuan-tujuan tertentu.

Seorang pembaca sastra, kegiatan bacanya dilatarbelakangi tujuan-

tujuan mendapatkan berbagai macam nilai kehidupan. Dalam hal ini, manfaat

membaca sastra antara lain 1) memberikan informasi yang berhubungan

dengan pemerolehan nilai-nilai kehidupan, dan 2) memperkaya pandangan atau

wawasan sebagai salah satu unsur yang berhubungan dengan pemberian arti

maupun peningkatan nilai kehidupan manusia itu sendiri.

Sebagai kreasi manusia yang diangkat dari realitas kehidupan juga

mampu menjadi wakil dari zamannya. Sastra pada dasarnya merupakan

kegiatan kebudayaan maupun peradaban dari setiap situasi, masa ataupun

zaman saat sastra itu dihasilkan. Sehingga tercipta hubungan timbal balik

antara perekam dan pemapar sosiokultural yang bermanfaat untuk 3) pembaca

dapat memperoleh dan memahami nilai-nilai budaya dari setiap zaman yang

melahirkan cipta sastra itu sendiri, dan 4) mengembangkan sikap kritis

pembaca dalam mengamati perkembangan zamannya sejalan dengan

kedudukan sastra itu sendiri sebagai salah satu kreasi manusia yang mampu

menjadi semacam permala tentang perkembangan zaman itu sendiri di masa

yang akan datang.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


35

Sapardi Djoko damono mengungkapkan bahwa dalam situasi tersebut,

masyarakat mendekati karya sastra dari dua arah, yakni sastra sebagai suatu

kekuatan atau faktor material yang istimewa dan 2) sastra sebagai tradisi, yakni

kecenderungan-kecenderungan spiritual maupun kultural yang bersifat

kolektif.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


36

BAB V

APRESIASI KARYA SASTRA SEBAGAI KEGIATAN MEMBACA

A. HAKIKAT DAN RAGAM MEMBACA DALAM APRESIASI SASTRA

Dalam upaya pemahaman unsur-unsur yang terdapat dalam suatu cipta

sastra, hendaknya seorang apresiator dapat memahami hakikat membaca

sebelum melakukan apresiasi. Dalam teori membaca Todorov, memberikan

batasan dalam kegiatan membaca suatu cipta sastra, diantaranya : 1) proyeksi,

2) komentar, dan 3) puitika.

Dalam tahap proyeksi, kegiatan pembaca adalah memahami unsur-unsur

di luar teks, tetapi yang secara kongruen atau secara laras dan bersama-sama

menunjang kehadiran teks. Unsur-unsur itu meliputi kehidupan pengarang,

kehidupan sosial masyarakat, yang melatari kehidupan teks sastra serta sistem

konvensi yang dianuti pengarangnya.

Dalam tahap komentar, seorang pembaca memahami isi paparan teks

yang terbatas pada bentuk paparan yang “tersisa” dari jangkauan pemahaman

pembaca. Oleh karena itu, ada tiga tahap kegiatan yang terdapat dalam

komentar, yakni:

1) Eksplikasi, yakni menguraikan isi paparan yang belum dipahami dengan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


37

jalan menghubungkannya dengan isi bagian paparan lain yang sudah

dipahami.

2) Elusidasi, yakni menerangkan secara jelas hasil uraian isi paparan yang

belum dipahami dalam kaitannya dengan bagian isi paparan yang

lainnya ssecara umum.

3) Précis, yakni meringkas uraian panjang lebar tentang isi paparan yang

belum dipahami sesuai dengan ketepatan dan keselarasannya dengan isi

dalam bagian lain dari teks itu sendiri. Kegiatan terakhir adalah

paraphrase.

Pada tahap puitika, pembaca harus berusaha memahami kaidah-kaidah

abstrak yang secara instrinsik terdapat dalam teks sastra itu sendiri. Dalam hal

ini, kaidah abstrak tersebut dapat dipahami melalui dua tahap kegiatan, antara

lain, 1) interpretasi, dan 2) deskripsi. Interpretasi terhadap makna dalam teks

sastra dalam hal ini harus bertolak dari realitas yang ada dalam teks sastra itu

sendiri. Tahap kedua adalah deskripsi. Meskipun deskripsi itu tampak terlalu

ilmiah untuk mengkaji ragam seni, tetapi menurut Todorov, isitilah tersebut

memiliki nuansa arti sendiri. Bila dalam metode deskriptif adalah metode yang

bertujuan memberikan perolehan realitas yang diteliti apa adanya, maka tahap

pendeskripsian makna dalam teks sastra diharapkan sepenuhnya bertolak dari

makna yang terkandung dalam teks sastra itu sendiri.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


38

Berikut ini akan dipaparkan beberapa ragam membaca yang berkaitan

dengan kegiatan mengapresiasi cipta sastra, yakni:

1. Membaca Teknik

Membaca teknik merupakan kegiatan membaca yang dilaksanakan

secara bersuara sesuai dengan aksentuasi, intonasi, dan irama yang benar

selaras dengan gagasan serta suasana penuturan dalam teks yang dibaca.

Dalam kegiatan membaca sastra, dapat dijumpai dalam membaca poetry

reading sastra secara lisan memiliki sifat redeskriptif. Dalam membaca

redeskriptif itu, bunyi ujar tidak muncul secara sewenang-wenang. Tetapi,

harus mampu menggambarkan isi cerita serta suasana yang semula dipaparkan

pengarang secara tertulis. Dalam hal ini, kegiatan poetry reading dapat

dilakukan meliputi 1) pelafalan, 2) penentuan kualitas bunyi: tinggi-rendah,

keras-lunak, 3) tempo, dan 4) irama.

Selain keempat aspek tersebut, membaca secara lisan juga melibatkan

aspek tubuh, pembaca juga harus mampu menata gerak mimik atau facial

expression, gerak bagian-bagian tubuh atau gesture, maupun penataan posisi

tubuh atau posture. Juga, eye contact sebagai salah satu upaya menciptakan

hubungan batin dengan pendengarnya juga harus diperhatikan.

2. Membaca Estetis

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


39

Ragam membaca estetis juga memiliki kaitan utama dalam

mengapresiasi sastra. Membaca estetis merupakan kegiatan membaca yang

dilatarbelakangi tujuan menikmati serta menghargai unsur-unsur keindahan

yang terpapar dalam suatu teks sastra. Sementara itu, agar dapat dan mampu

menikmati dan menghayati, terlebih dahulu pembaca harus mempu memahami

isi serta suasana penuturan dalam teks yang dibacanya. Istilah membaca estetis

juga sering dikenal dengan membaca indah, membaca emotif, dan membaca

sastra. Membaca estetis dapat terwujud lewat kegiatan membaca dalam hati

maupun dalam bentuk membaca secara lisan.

3. Membaca Kritis

Membaca kritis merupakan salah satu ragam membaca sastra yang

dilakukan dengan menggunakan pikiran dan perasaan secara kritis untuk

menemukan dan mengembangkan suatu konsep dengan jalan membandingkan

isi teks yang dibaca dengan pengetahuan, pengalaman, serta realitas lain yang

diketahui pembaca untuk memberikan identifikasi, perbandingan, penyimpulan

dan penilaian. Jadi, dengan membaca sastra, seorang pembaca teks sastra,

bukan hanya bertujuan memahami, menikmati, dan menghayati melainkan

juga bertujuan memberikan penilaian.

Berdasarkan paparan ragam membaca di atas, terdapat beberapa tahapan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


40

dalam membaca yang dikutip dalam Aminuddin (2002).

1. Tahap Pemahaman Media Bentuk Tulisan

Pemahaman media bentuk tulisan berhubungan dengan tulisan

berbentuk huruf, tanda baca, bentuk penulisan paragraf maupun sistematika

dalam memaparkan gagasannya.aspek tulisan huruf merupakan kode yang

mampu merepresentasikan atau menjadi pengungkap suatu gagasan yang

menggunakan media bahasa dalam tes. Aspek tanda baca sebagai penanda,

pengatur, dan tatanan huruf yang mengandung gagasan tertentu akan

memberikan pemahaman representasi tuturan lisan yang semula berupa

penghentian, perintah, pertanyaan dan lain-lain.

2. Tahapan Pemahaman Media Kebahasaan

Istlah gramatikal dalam linguistik, hanya mencakup aspek morfologi

dan sintaksis, sedangkan aspek fonologi dan semantik dianggap sebagai unsur

eksternal. Akan tetapi, dalam perkembangannya lebih lanjut, aspek fonologi

dan semantik juga termasuk intrinsik bahasa karena bagaimana pun juga unsur

bunyi dan makna merupakan unsur penting dalam bahasa. Jalan pikiran yang

terakhir itulah yang dianut penulis dalam kajian butir ini.

3. Tahap Pemahaman Aspek Leksis-Semantis

Pengertian pemahaman aspek leksis-semantis dalam kajian ini adalah

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


41

tahap kegiatan pembaca dalam upaya memahami kata-kata dalam suatu teks,

baik secara tersurat maupun tersirat. Hal ini perlu disinggung dalam

pembahasan ini karena gagasan yang disampaikan pengarang dapat

disampaikan secara eksplisit maupun simbolik. Sajian gagasan demikian,

sejalan juga dengan pembagian makna dalam bidang studi semantik yang

membedakan antara makna denotatif, yaitu satu lambang satu makna, dan

makna konotatif, satu lambang mengimplikasikan berbagai macam makna.

Selain beberapa cara di atas, dalam rangka memahami makna dalam

teks sastra, terutama puisi, dalam telaah sastra dikenal adanya beberapa paham,

antara lain fenomenologi dan hermeneutika. Dalam fenomenologi, misalnya,

dalam upaya memahami makna suatu teks sastra dikenal adanya beberapa

tahapan, yakni:

a. Pembaca berusaha memahami realitas yang digambarkan pengarang

secara tersurat,

b. pembaca mengidentifikasi satuan realitas apa saja yang benar-benar

bermakna atau mengafirmasi,

c. pembaca menahan atau mengurung realitas bermakna dalam

kesadarannya,

d. pembaca mengadakan reduksi, yakni penyaringan realitas yang

menjadi inti gagasan,

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


42

e. pembaca melaksanakan abstraksi untuk menemukan berbagai

kemungkinan makna realitas yang masih tersirat,

f. pembaca mengadakan ideasi, yakni menyimpulkan pemaknaan inti

realitas sehingga menjadi satuan-satuan yang bermakna,

g. pembaca menyusun pokok pikiran yang terdapat dalam teks sastra

yang dibaca.

Dalam hermeneutika, pemahaman teks itu disebut memiliki lingkaran

timbale balik yang bersifat dinamis.lingkaran itu adalah: (1) teks sastra sebagai

sesuatu yang bermakna di bentuk oleh pengarangdengan berbagai latar

histories dan sosial-budaya, (2) teks sebagai sesuatu yang bermakna

memberikan gambaran makna itu kepada pembaca dengan berbagai

kemungkinannya, (3) pengetahuan dan pengalaman pembaca yang dibentuk

oleh unsur kesejarahan dan sosial-budaya menentukan kualitas pemakna, (4)

pembaca berusaha memberikan makna sesuai dengan konteks sejarah dan

sosial-budaya sekaligus juga pada bentuk serta konteks yang terdapat di dalam

teks, dan (5) pembaca menyimpulkan makna sesuai dengan gagasan yang ingin

dipaparkan pengarang. Dari situasi tersebut terjadilah lingkaran hermeneutika.

4. Tahap Penarikan Kesimpulan

Tahap penarikan kesimpulan dibedakan atas tahap penarikan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


43

kesimpulan yang terdapat di dalam setiap bacaan serta tahap kesimpulan dari

totalitas makna atau gagasan yang terdapat di dalam bacaan. Dalam membaca

sastra, bentuk penyimpulan tersebut mutlak harus dilakukan, karena media

pemaparnya dalam teks sastra meliputi tiga aspek yaitu 1) tulisan, 2) bahasa,

dan 3) struktur verbal yang berkaitan dengan unsur-unsur intrinsik yang

pembangun karya sastra sebagai suatu wacana.

Dalam rangkan menyimpulkan makna teks sastra, tahap penyimpulan

yang harus dilalui adalah 1) penyimpulan nuansa makna dan suasana

sehubungan dengan pemilihan bunyi, 2) penyimpulan makna kata, terutama

kata konotatif, 3) penyimpulan hubungan makna kata baris atau kalimatnya,

4) penyimpulan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam satuan kalimat,

baik atau paragraf, 5) penyimpulan butir-butir makna yang terkandung dalam

aspek struktur verbal wacana sastra, baik setting, karakterisasi, dialog dan lain-

lainnya, 6) penyimpulan totalitas makna, dan 7) penyimpulan tema.

B. PENILAIAN PEMBACAAN TEKS SASTRA

Telah dipaparkan sebelumnya, bahwa membaca teknik dan membaca

estetik sebagai bentuk kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan menikmati

sastra. Kegiatan demikian, selain dapat dapat berlangsung secara informal,

juga dapat berlangsung dalam bentuk lomba sebagai bagian daari kegiatan

perayaan tertentu. Untuk itu, tentunya dibutuhkan semacam pedoman latihan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


44

bagi para calon apresiator. Umumnya, banyak di antara mereka yang tidak

menguasai atau memahahi kriteria penilaian yang digunakan dalam pembacaan

teks lisan.

Ada tiga unsur utama yang harus diperhatikan ketika melakukan

kegiatan membaca teks sastra secara lisan, baik itu berupa puisi maupun

cerpen. Ketiga unsur tersebut saling mempengaruhi dan berkaitan sehingga

tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yakni: 1) pemahaman, 2) penghayatan,

dan 3) pemaparan. Pemahaman berkaitan dengan kemampuan memahami

makna dalam bacaan sastra, memahami suasana penuturan dalam teks sastra

yang dibaca, sikap pengarang, serta intensi yang mendasarinya. Agar

seseorang dapat memahami isi bacaan sastra yang akan dibacanya, pembaca

terlebih dahulu harus dapat memahami prisnip-prinsip dalam apresiasi sastra.

Kemampuan seseorang dalam memahami 1) makna, 2) suasana

penuturan, 3) sikap pengarang, dan 4) intensi pengarang, juga menentukan

bentuk penghayatannya terhadap karya sastra tersebut. sebagai contoh,

pembacaan puisi di tiap perlombaan antar siswa dalam suatu even/peristiwa,

terkadang terlihat lucu ketika seseorang membacakan puisinya dengan

penghayatan yang tidak sesuai dengan isi puisinya, sehingga bagi orang yang

mamahami puisi dan cara menghayatinya akan terlihat kontras.

Keempat aspek dalam memahami puisi di atas juga terdapat dalam

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


45

penghayatan puisi. Selain itu, bentuk latihan yang dapat menunjang tumbuhnya

kemampuan menghayati keempat aspek tersebut, antara lain: 1) latihan

berkonsentrasi untuk memasuki dunia pengalaman batin yang dinuansakan

pengarang dari teks sastra yang akan dibacakan, 2) pelafalan untaian paparan

bahan dalam objek bacaan secara perlahan-lahan sesuai dengan suasana

penuturan yang akan ditampilkannya, 3) usaha mengidentikkan diri sebagai

penutur pertama, dan bukan sekadar sebagai pembaca yang mengemban tugas

menyampaikan berita dari orang lain.

Gejala konkret dari kemampuan pembaca dalam memahami dan

menghayati isi bacaan sastra yang dibacakannya, tampak dalam pemaparan

ataupun penampilannya. Disebut demikian, karena kuat, lunak, tinggi, rendah,

kecepatan maupun pelambatan bunyi ujaran yang dimunculkan pembaca,

semata-mata ditentukan oleh ciri makna, suasana penuturan, serta penekanan

intensi penuturnya. Selain gejala tersebut, masalah lain yang perlu diperhatikan

adalah 1) Pelafalan, 2) ekspresi, 3) kelenturan, dan daya konversasi

Kemampuan melafalkan bunyi ujaran secara tepat, kuat dan jelas

merupakan kunci keberhasilan dalam membacakan teks sastra secara lisan.

Bentuk latihan sederhana yang dapat ditempuh dalam hal ini ialah: 1)

melafalkan bunyi-bunyi vokal secara tepat sesuai dengan ciri daerah

artikulasinya, 2) melafalkan kata-kata dalam puisi yang akan dibaca secara

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


46

lepas-lepas dengan memberikan penekanan silabik, pelafalan bunyi konsonan

secara kuat, dan 3) membaca keseluruhan bahan bacaan dengan bebas, suara

keras-keras, tentunya dengan memilih tempat yang pantas untuk

melakukannya.

Latihan ekspresi dapat dilakukan dengan melakukan semacam senam

wajah dan kelenturan tubuh. Latihan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan

relaksasi sebagai unsur yang penting dalam pembacaan teks sastra. Misalnya

pembacaan puisi terkadang tampak suasana tegang sewaktu membacakan teks

tersebut sehingga penguasaan ekspresi sejalan dengan ciri semantik teks sastra

yang dibacakannya.

Kegiatan membaca sastra secara lisan yang brelangsung di depan

khalayak pendengar, sebenarnya juga merupakan salah satu bentuk

komunikasi. Dengan demikian, pembaca perlu memperhitungkan unsur-unsur

yang dapat menumbuhkan keakraban suasana antara dirinya sebagai penutur

dengan khalayak sebagai pendengar. Unsur-unsur tersebut antara lain,

penciptaan kontak lewat pandangan mata, pengaturan posisi tubuh, maupun

pengaturan gerak-gerik bagian tubuh, unsur lain adalah keluwesan sikap dan

kewajaran. Hal ini perlu diperhatikan disebabkan banyaknya yang sering

mengalami demam panggung ke.tika berada di atas panggung atau depan

khalayak.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


47

Berikut ini disajikan format penilaian hasil pembacaan teks sastra secara

lisan.

Nama peserta:
Nomor undian :
Puisi :
Karya :
Komponen yang dinilai Nilai Catatan

A B C D
1. PEMAHAMAN
1.1 Makna
1.2 Suasana
1.3 Sikap penutur
1.4 Intensi
II. PENGHAYATAN
2.1 Makna
2.2 Suasana
2.3 Sikap penutur
2.4 Intensi
III. PEMAPARAN
3.1 Kualitas ujaran
3.2 Tempo
3.3 Durasi
3.4 Pelafalan
3.5 Ekspresi
3.6 Kelenturan
3.7 Konversasi

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


48

Jumlah Rata-rata
:

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


49

BAB VI

PENDEKATAN DALAM APRESIASI SASTRA

A. PENDEKATAN PARAFRATIS

Pendekatan parafratis adalah strategi pemahaman kandungan makna

dalam suatu cipta sastra dengan jalan mengungkapkaan kembali gagasan yang

disampaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata maupun kalimat yang

berbeda dengan kata-kata dan kalimat yang digunakan pengarangnya. Tujuan

akhir pendekatan ini adalah untuk menyederhanakan pemakaian kata dan

kalimat seorang pengarang sehingga pembaca lebih mudah memahami

kandungan makna yang terdapat dalam suatu cipta sastra.

Prinsip dasar dari penerapan pendekatan parafratis adalah sebagai

berikut:

1. Gagasan yang sama dapat disampaikan lewat bentuk yang berbeda;

2. simbol-simbol yang bersifat konotatif dalam suatu cipta sastra dapat

diganti dengan lambing atau bentuk lain yang tidak mengandung

ketaksaan makna;

3. kalimat-kalimat atau baris dalam suatu cipta sastra yang mengalami

pelesapan dapat dikembalikan lagi kepada bentuk dasarnya;

4. pengubahan suatu cipta sastra baik dalam hal kata maupun kalimat

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


50

yang semula simbolis dan elipsis menjadi suatu bentuk kebahasaan

yang tidak lagi konotatif akan mempermudah upaya seseorang untuk

memahami kandungan makna dalam suatu bacaan;

5. pengungkapan kembali suatu gagasan yang sama dengan

menggunakan media atau bentuk yang tidak sama oleh seorang

pembaca akan mempertajam pemahaman gagasan yang diperoleh

pembaca itu sendiri.

B. PENDEKATAN EMOTIF

Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra adalah suatu pendekatan

yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau perasaan

pembaca. Ajukan emosi itu dapat berhubungan dengan keindahan penyajian

bentuk maupun ajukan emosi yang berhubungan dengan isi atau gagasan yang

lucu dan menarik.

Prinsip dasar yang melatarbelakangi adanya pendekatan emotif adalah

bahwa rutinitas masyarakat yang padat mengakibatkan kejenuhan sehingga

memerlukan media untuk menghibur dirinya, di antaranya menikmati cipta

sastra itu sendiri. Oleh karena itu, diharapkan pembaca dapat menemukan

unsur-unsur keindahan maaupun kelucuan yang terdapat dalam suatu karya

sastra.

Selain berhubungan dengan masalah keindahan, juga unsur gaya bahasa

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


51

dan pola persajakan juga mempengaruhi suasana hati pembaca. Unsur gaya

bahasa seperti metafora, simile maupun penataan setting mampu menghasilkan

panorama yang menarik. Masalah pola persajakan juga dapat menghasilkan

penikmatan keindahan terhadap karya sastra karena dapat menghadirkan unsur

musikalitas yang merdu dan menarik. Penyajian keindahan dalam puisi, selain

lewat permainan bunyi sehingga dikenal adanya penyair yang auditif, dapat

juga disajikan secara visual, misalnya dengan membuat panorama yang

menarik dan indah sehingga juga dikenal adanya penyair yang visual.

C. PENDEKATAN ANALITIS

Pendekatan analitis merupakan suatu pendekatan yang berusaha

memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan

ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya, elemen

intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik itu sehingga

mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka

membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.

Prinsip dasar yang melatarbelakangi munculnya pendekatan analitis

adalah 1) Cipta sastra itu dibentuk oleh elemen-elemen tertentu, 2) setiap

elemen dalam cipta sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki

hubungan antara yang satu dengan yang lainnya meskipun karakteristik

berbeda, 3) dari adanya karakteristik setiap elemen itu, maka antara elemen

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


52

yang satu dengan elemen yang lain, pada awalnya dapat dibahasa secara

terpisah meskipun pada akhirnya setiap elemen itu harus disikapi sebagai suatu

kesatuan.

Kegiatan mengapresiasi sastra dengan menerapkan pendekatan analitis

dianggap sebagai suatu kerja yang bersifat saintifik karena dalam menerapkan

pendekatan ini, pembaca harus memahami terlebih dahulu landasan teori

tertentu, bersikap objektif dan menunjukkan hasil analisis yang tepat,

sistematis, dan diakui kebenarannya oleh umum. Namun, kegiatan analisis itu

tidak harus meliputi keseluruhan aspek yang terkandung dalam suatu cipta

sastra. Dalam hal ini, pembaca dapat membatasi diri pada analisis struktur,

diksi atau gaya bahasa, atau mungkin analisis kebahasaaan dalam linguistik.

D. PENDEKATAN HISTORIS

Pendekatan historis merupakan suatu pendekatan yang menekankan

pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa

kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya cipta sastra yang

dibaca, serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun

kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.

Prinsip dasar yang melatarbelakangi lahirnya pendekatan adalah

anggapan bahwa cipta sastra bagaimana pun juga merupakan bagian dari

zamannya. Selain itu, pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


53

penting dalam upaya memahami kandungan makna dalam suatu cipta sastra.

Sebab itulah, telaah makna suatu teks dalam pendekatan sosio-semantik sangat

mengutamakan konteks, baik konteks sosio-budaya, situasi atau zaman

maupun konteks kehidupan pengarangnya sendiri.

E. PENDEKATAN SOSIOPSIKOLOGIS

Pendekatan sosio-psikologis adalah suatu pendekatan yang berusaha

memahami latar belakang kehidupan sosiobudaya, kehidupan masyarakat,

maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan

kehidupannya ataupun zamannya pada saat cipta sastra itu diwujudkan.

Dalam pelaksanaannya, pendekatan sosio-psikologis berusaha

memahami bagaimana kehidupan sosial masyarakat pada masa itu, bagaimana

sikap pengarang terhadap lingkungannya, serta bagaimana hubungan antara

cipta sastra itu dengan zamannya. Oleh karena itu, Sapardi Djokodamono

mengungkapkan bahwa karya sastra tidak dapat dipahami selengkap-

lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan.

F. PENDEKATAN DIDAKTIS

Pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha

menemukan dan memahami gagasan, tanggapan maupun sikap pengarang

terhadap kehidupan,. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu dalam hal ini akan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


54

mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis

sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan

rohaniah pembaca.

Dalam pelaksanaannya, pendekatan didaktis menuntut daya kemampuan

intelektual, kepekaan rasa, maupun sikap yang mapan dari pembacanya. Bagi

pembaca pada umumnya, penerapan pendekatan didaktis dalam tingkatan

pemilihan bahan yang sesuai dengan pengetahuan maupun tingkat

kematangannya akan terasa lebih mengasyikkan. Hal itu terjadi karena

pembaca umumnya berusaha mencari petunjuk dan keteladanan lewat teks

yang dibaca. Penggunaan pendekatan ini diawali dengaan upaya pemahaman

satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu cipta sastra. Satuan

pokok pikiran itu pada dasarnya disarikan dari paparan gagasan pengarang,

baik berupa tuturan ekspresif, komentar, dialog, lakuan maupun deskripsi

peristiwa dari pengarang atau penyairnya.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


55

BAB VII

KONSEP APRESIASI PROSA FIKSI

A. UNSUR-UNSUR INTRINSIK DALAM PROSA FIKSI

Istilah prosa fiksi seringkali disebut dengan karya fiksi. Yang dimaksud

dengan prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku

tertentu dengan pemeranan latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu

yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu

cerita.

Sebagai salah satu genre sastra, karya fiksi mengandung unsur-unsur

meliputi, 1) pengarang atau narator, 2) isi penciptaan, 3) media penyampai isi

berupa bahasa, dan 4) elemen-elemen fiksional atau unsur-unsur intrinsik yang

membangun karya fiksi itu sendiri sehingga menjadi menjadi suatu wacana.

Pada sisi lain, dalam memaparkan isi tersebut, pengarang akan

memaparkannya lewat 1) penjelasan atau komentar, 2) dialog maupun

monolog, dan 3) lewat lakuan atau action.

1. Setting

Setting merupakan peristiwa-peristiwa dalam cerita fiksi yang

dilatarbelakangi oleh tempat, waktu, maupun situasi tertentu. Namun, setting

bukan hanya bersifat fisikal dalam suatu cerita fiksi. Ia juga bersifat psikologis

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


56

yang mampu menuansakan makna tertentu serta mampu menciptakan suasana-

suasana tertentu yang menggerakkan emosi atau aspek kejiwaan pembacanya.

Untuk memahami setting yang bersifat fisikal, pembaca cukup melihat apa

yang tersurat, sedangkan pemahaman terhadap setting yang bersifat psikologis

membutuhkan adanya penghayatan dan penafsiran.

Setting yang mampu menuansakan suasana-suasana tertentu terjadi

akibat penataan setting yang berhubungan dengan dengan suasana penuturan

yang terdapat dalam suatu cerita. Suasana penuturan itu sendiri dibedakan

antara tone sebagai suasana penuturan yang berhubungan dengan sikap

pengarang dalam menampilkan gagasan atau ceritanya, dengan mood yang

berhubungan dengan suasana batin individual pengarang dalam mewujudkan

suasana cerita. Sementara suasana cerita yang ditimbulkan oleh setting maupun

implikasi maknanya dalam membangun suasana cerita disebut dengan

atmosfer.

Sewaktu menelaah unsur setting dalaam suatu karya fiksi, terkadang

kita menemui kendala dalam hal pengidentifikasiannya. Hal ini tentu saja

menyulitkan beberapa penelaah, terutama bagi pemula. Oleh karena itu,

berikut ini beberapa hal pertanyaan yang dapat membantu seseorang untuk

memudahkan dalam mengidentifikasi setting dalam suatu karya fiksi.

a. Adakah unsur setting dalam karya fiksi yang saya baca?

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


57

b. Apabila ada, setting itu meliputi setting apa saja; tempat, waktu,

peristiwa,, suasana kehidupan ataukan benda-benda dalam lingkungan

tertentu, dan

c. Apakah setting itu semata-mata bersifat fisikal atau berfungsi sebagai

dekor saja, ataukah bersifat psikologis, dan

d. Bila bersifat psikologis, kandungan makna apa dan suasana bagaimana

yang dinuansakannya.

e. Bagaimanakah hubungan setting dalam karya fiksi yang say abaca

dengan tema yang mendasarinya.

Keseluruhan pertanyaan di atas hanya merupakan gambaran umum,

karena pada dasarnya tidak semua karya fiksi mampu menampung dan

memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan demikian,

sifatnya luwes dan harus disesuaikan dengan karakteristik karya fiksi yang

dibaca.

Tang (2007) mengemukakan bahwa berbagai peristiwa dalam sebuah

cerita, selalu terjadi dalam suatu rentang waktu dan pada suatu tempat tertentu.

Keterkaitan mutlak antara sebuah peristiwa dengan waktu dan tempat tertentu

merupakan sebuah gejala alamiah. Tak satupun makhluk atau apa pun juga

namanya, bergerak dalam kehampaan. Secara sederhana, Sudjiman (1992)

mengatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


58

dengan waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya

sastra; semua turut membangun latar cerita.

2. Unsur Gaya dalam Karya Fiksi

Istilah gaya mengandung definisi cara seseorang menyampaikan

gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis

serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya

intelektual dan emosi pembaca.

Cara seorang pengarang mengungkapkan gagasannya dapat dilihat pada

penggunaan wacana ilmiah dan wacana sastra. Dalam wacana ilmiah, seorang

pengarang akan menggunakan gaya yang bersifat lugas, jelas, dan menjauhkan

unsur-unsur gaya bahasa yang mengandung makna konotatif. Sedangkan

dalam wacana sastra, pengarang akan menggunakan pilihan kata yang

mengandung makna padat, reflektif, asosiatif, dan bersifat konotatif. Selain itu,

tatanan kalimatnya juga mengandung adanya variasi dan harmoni sehingga

mampu menuansakan keindahan dan bukan hanya nuansa makna tertentu saja.

3. Penokohan dan Perwatakan

Boulton mengungkapkan bahwa seorang pengarang dapat

menggambarkan dan memunculkan tokohnya melalui cara yang beragam.

Pengarang dapat menampilkan tokoh sebagai pelaku yang hanya hidup di alam

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


59

mimpi, pelaku yang memiliki semangat perjuangan dalam hidupnya,, pelaku

yang memiliki cara yang sesuai dengan kehidupan manusia yang sebenarnya

maupun pelaku yang egois, kacau dan mementingkan diri sendiri.

Boulton membedakan beberapa peran yang berbeda dalam sebuah cerita

fiksi, yakni:

a. Tokoh inti atau tokoh utama adalah seorang tokoh yang memiliki

peranan yang penting dalam sebuah cerita;

b. tokoh tambahan atau tokoh pembantu adalah tokoh yang memiliki

peranan yang tidak penting karena pemunculannya hanya melengkapi,

melayani, mendukung pelaku utama.

Dalam menentukan peran tokoh utama dan tokoh pembantu dapat diketahui

melalui beberapa cara yakni,

a. Seorang pembaca dapat menentukannya dengan cara melihat keseringan

pemunculannya dalam suatu cerita;

b. juga dapat ditentukan melalui petunjuk yang diberikan oleh

pengarangnya. Tokoh utama umumnya merupakan tokoh yang sering

diberi komentar dan dibicarakan oleh pengarangnya, sedangkan tokoh

tambahan hanya dibicarakan ala kadarnya;

c. dapat ditentukan dengan cara melihat judul cerita, misalnya judul Siti

Nurbaya.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


60

Sewaktu pengarang menentukan tokoh dalam ceritanya, maka dia juga

akan menentukan watak atau karakter tokoh tersebut. Istilah protagonis,

biasanya diberikan kepada pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga

disenangi pembaca. Istilah antagonis, yaitu pelaku yang memiliki watak yang

tidak sesuai dengan apa yang diharapkan pembaca.

Dalam upaya memahami watak pelaku, seorang pembaca dapat

menelusurinya dengan cara:

a. Tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya;

b. gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran

lingkungan kehidupannya maupun caranya berpakaian;

c. menunjukkan bagaimana perilaku;

d. melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya

sendiri;

e. memahami bagaimana jalan pikirannya;

f. melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya;

g. melihat bagaimana tokoh lain berbincang dengannya;

h. melihat bagaimana tokoh-tokoh yang lain tidak

memberikan reaksi terhadapnya;

i. melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang

lainnya.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


61

Selain beberapa ragam pelaku yang disebutkan di atas, juga masih ada

beberapa ragam pelaku lainnya, di antaranya sebagai berikut:

a. simple character, ialah bila pelaku itu tidak banyak

menunjukkan adanya kompleksitas masalah.

Pemunculannya hanya dihadapkan pada satu

permasalahan tertentu yang tidak banyak menimbulkan

adanya obsesi-obsesi lain yang kompleks;

b. complex character, ialah pelaku yang pemunculannya

banyak dibebani permasalahan. Selain itu, pelaku juga

banyak ditandai oleh munculnya obsesi batin yang

cukup kompleks sehingga kehadirannya banyak

memberikan gambaran perwatakan yang kompleks.

Biasanya sering dialami oleh pelaku utama.

c. Pelaku dinamis, ialah pelaku yang memiliki perubahan

atau perkembangan batin dalam keseluruhan

penampilannya.

d. Pelaku statis, ialah pelaku yang tidak menunjukkan

perubahan atau perkembangan sejak pelaku itu muncul

sampai akhir cerita.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


62

4. Alur

Alur dalam karya fiksi merupakan rangkaian cerita yang dibentuk oleh

tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh

para pelaku dalam suatu cerita. Istilah alur sering disebut plot.

Lebih lanjut, dengan mengutip pendapat Forster dalam (Tang. 2007)

bahwa untuk memahami alur dengan baik, dibutuhkan intelegensi dan daya

ingat/memori (intelligency and memory) yang kuat. Hal ini berdasarkan pada

konsep, bahwa dalam sebuah cerita yang bersifat narasi, terdapat kejadian atau

fakta yang terorganisir dan bersiifat korespondensi, tetapi ada juga unsur yang

bersifat surprise atau bersifat misteri dalam sebuah alur dan hal ini tetntunya

menginginkan sebuah intelegensi yang tinggi.

Secara khusus, dengan mengutip pendapat Scholes dalam (Tang : 2007)

menjelaskan bahwa terdapat tiga elemen penting dalam sebuah alur, yakni :

alur aksi/tindakan, alur karakter, dan alur pikiran. Ketiganya dapat dijelaskan

sebagai berikut:

a. Alur aksi/tindakan, merupakan prinsip perpaduan (sintesis) yakni perubahan

sempurna, berangsur-angsur atau mendadak dalam suatu situasi oleh pelaku

utama (protagonist), yang ditentukan atau dipengaruhi oleh karakter dan

pikiran;

b. Alur karakter, pada dasarnya ini sebuah proses sempurna dari perubahan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


63

dalam karakter moral protagonist, dengan cepat atau lambat dalam tindakan

dan ia menunjukkannya dalam dua sisi yaitu dalam pikiran serta perasaan;

c. Alur pikiran merupakan sebuah proses sempurna dari perubahan dalam

pikiran protagonist sebagai akibat dari perasaannya, yang secara langsung

dijelmakan ke dalam tindakan atau karakternya sebagai suatu kebiasaan.

Lebih lanjut, Tang (2007) mengemukakan bahwa unsur yang terpenting

dalam suatu aluir adalah munculnya konflik dan klimaks dalam cerita narasi

tersebut. konflik dalam karya fiksi terdiri atas: 1) konflik internal, pertentangan

dua keinginan dalam diri seorang tokoh; 2) konflik sentral, yaitu konflik antara

satu tokoh dengan tokoh lain, ataukah konflik antara tokoh dengan

lingkungannya; dan 3) konflik sentral, merupakan jenis konflik kecil. Artinya,

bahwa mungkin saja konflik yang terjadi dapat berupa konflik internal ataukah

konflik eksternal yang kuat, mungkin pula gabungan dari keduanya. Konflik

sentral inilah yang merupakan inti dari struktur cerita, dan secara umum

merupakan pusat pertumbuhan alur.

5. Titik Pandang atau point of view

Titik pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam

cerita yang dipaparkannya. Ada empat titik pandang yang dikemukakan oleh

pengarangnya, yakni sebagai berikut:

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


64

a. Narrator omniscient, adalah narator atau pelaku kisah yang juga

berfungsi sebagai pelaku cerita. Dalam hal ini dia mampu memaparkan

sejumlah peran pelaku tentang apa yang ada dalam benak pelaku uatama

maupun pelaku lainnya, baik secara fisik maupun psikologis; pengarang

sering menyebut dirinya dengan aku, saya, nama pengarang sendiri;

b. Narrator observer, adalah bila pengisah hanya berfungsi sebagai

pengamat terhadap pemunculan para pelaku serta hanya tahu dalam

batas tertentu tentang perilaku batiniah para pelaku; pengarang

menyebutkan nama pelakunya dengan ia, dia, nama-nama lain, dan

mereka.

c. Narrator observer omniscient, ialah meskipun pengarang hanya

menjadi pengamat dari pelaku, juga merupakan pengisah atau penutur

yang serba tahu, meskipun menyebut nama pelaku dengan is, mereka,

dan dia. Hal ini mungkin saja terjadi karena pengarang prosa fiksi

adalah juga merupakan pencipta dari para pelakunya.

d. Narrator the third person omniscient, ialah pengarang mungkin saja

hadir di dalam cerita yang diciptakannya sebagai pelaku ketiga yang

serba tahu. Dalam hal ini, sebagai pelaku ketiga pengarang masih

mungkin menyebutkan namanya sendiri, saya, atau aku.

Luxemberg, et al (1987) menjelaskan bahwa adakalanya suatu cerita

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


65

secara berturut-turut menampilkan berbagai pencerita atau pengisah. Perkataan

seorang dengan yang lain saling bergantian sehingga keseluruhan penuturan

mereka membentuk cerita besarnya. Dalam hal ini kedudukan semua pencerita

sederajat. Sehingga tepatlah kalau Luxemburg, et al mengatakan bahwa setiap

cerita mana pun, pastilah ada penceritanya. Kadang-kadang ia

memperkenalkan diri, kadang-kadang kehadirannya harus kita simpulkan saja

dari kenyataan bahwa cerita iru diceritakan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan

bahwa titik pandang oleh seorang pengarang dapat berganti sesuai dengan

penceritaan yang dikisahkan oleh pengarang itu sendiri.

6. Tema

Scharbach dalam (Aminuddin, 2002) menjelaskan tema sebagai sebuah

ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal

tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Sebelum

melaksanakan proses kreatif penciptaan, seorang pengarang harus memahami

tema cerita yang akan dipaparkannya sehingga pembaca mudah memahami

tema pada saat membaca atau selesai membacanya.

Pradotokusumo (1992) mengemukakan pengertian tema dipandang dari

sudut cerita narasi (Novel/cerpen) dalam dua makna, yakni: 1) tema adalah

gagasan sentral atau gagasan yang dominant di dalam suatu karya sastra; 2)

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


66

pesan atau nilai moral yang terdapat secara implicit di dalam karya seni.

Batasan yang kedua ini lebih mengacu pada batasan amanat.

Untuk dapat memahami tema dalam suatu cerita secara mudah,

pembaca perlu memperhatikan beberapa langkah berikut ini.

a. Memahami setting dalam cerita fiksi yang dibacanya;

b. memahami penokohan dan perwatakan para pelaku;

c. memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa

dalam karya fiksi yang dibacanya;

d. memahami plot atau alur cerita yang dibacanya;

e. menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan lainnya yang

disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu

cerita;

f. menentukan sikap penyair terhadap pokok-pokok pikiran yang

ditampilkannya;

g. mengidentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan

bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap penyair terhadap pokok

pikiran yang ditampilkannya;

h. menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya

dalam satu dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar yang

dipaparkan pengarangnya.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


67

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


68

BAB VIII

KONSEP APRESIASI PUISI

A. APA ITU PUISI?

Di banyak kalangan, mendefinisikan puisi secara terbuka merupakan hal

yang masih sulit dilakukan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pendapat

tentang puisi. Akan tetapi, perumusan tentang puisi tidak begitu penting,

karena yang paling penting adalah pembaca dapat memahami dan menikmati

puisi yang ada.

Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani pocima

‘membuat’ atau poeisis ‘pembuatan’, dan dalam bahasa Inggris disebut poem

atau poetry. Puisi diartikan ‘membuat’ dan ‘pembuatan’, karena lewat puisi

pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin

berisi pesan, atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun

batiniah.

Dalam Aminuddin (2002), Hudson mengungkapkan bahwa puisi adalah

salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media

penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi. Penggunaan kata-kata

dalam puisi, tentu saja bersifat kiasan. Anggapan lain mengenai puisi adalah

bahwa puisi merupakan pengungkapan perasaan (Luxemburg, et al : 1987).

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


69

Jadi, menurutnya bahwa bahasa puisi itu merupakan bahasa yang berperasaan

dan subjektif. Anggapan ini muncul pada zaman Romawi yang menganggap

bahasa puisi lahir dari perasaan yang ada dalam penyairnya. Sehingga perasaan

pada zaman tersebut menjadi pusat perhatian. Puisi mengungkapkan keadaan

hati. Akan tetapi, di sisi lain, terutama dalam perkembangan puisi saat ini,

terdapat jenis puisi yang tidak memperhitungkan perasaan, dalam hal ini

bahasa yang digunakan sangat lugas dan mudah dipahami oleh pembacanya.

Biasanya disebut puisi prosa.

Wordsworth (dalam Pradopo, 1995:6) mengemukakan bahwa puisi

adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan

atau diangankan. Selain pandangan tersebut, pandangan lain menjelaskan

bahwa puisi adalah seni peniruan atau simbol bicara yang bertujuan untuk

mengajar atau kesenangan. Puisi berupa luapan perasaan secara spontan yang

bersumber dari perasaan yang berkumpul dalam ketenangan. Puisi dianggap

sebagai lahar dingin yang menahan terjadinya gempa. Puisi adalah ekspresi

konkret dan artistik pemikiran manusia dalam bahasa yang emosional yang

berirama. Puisi adalah ekspresi pengalaman yang bernilai dan berarti

sederhana dan disampaikan dengan bahasa yang tepat. Puisi adalah

pendramaan pengalaman yang bersifat menafsirkan dalam bahasa yang

berirama (Tang, 2007).

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


70

Adapun batasan puisi menurut Waluyo (1987:25) menyatakan bahwa

puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan

penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua

kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batin.

B. MACAM-MACAM PUISI

Melengkapi pengertian puisi di atas, pada bagian ini akan diuraikan

tentang macam-macam puisi. Waluyo (1987) membagi puisi menjadi sepuluh

macam, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada uraian berikut.

1. Puisi naratif, lirik, dan deskriptif

Pembagian puisi ini didasarkan atas cara penyair mengungkapkan isi

atau gagasan yang hendak disampaikan.

a. Puisi naratif, yaitu puisi yang mengungkapkan cerita atau

penjelasan penyair. Puisi-puisi naratif, misalnya: epik,

romansa, balada, dan syair (berisi cerita). Balada adalah

puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa, tokoh

pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian.

Romansa adalah jenis puisi cerita yang mengungkapkan

bahasa romantik yang berisi kisah percintaan yang

berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahian

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


71

dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih

mempesonakan.

b. Puisi lirik, yaitu penyair mengungkapkan gagasan

pribadinya. Jenis puisi lirik misalnya, elegi, ode, dan

serenada. Serenada ialah sajak yang dapat dinyanyikan.

Kata ”serenada” berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan

pada waktu senja. Ode adalah puisi yang berisi pujaan

terhadap seseorang, sesuatu hal, atau keadaan.

c. Puisi deskriptif, yaitu jenis puisi yang mengungkapkan

tindakan penyair sebagai pemberi kesan terhadap

keadaan/peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang

menarik perhatian penyair. Jenis puisi ini misalnya, puisi-

puisi impresionostik, satire, dan kritik sosial. Satire adalah

puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair

terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir

atau menyatakan keadaan sebaliknya. Kritik sosial adalah

puisi yang juga menyatakan ketidaksenangan penyair

terhadap suatu keadaan atau seseorang, namun dengan

cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan

keadaan/orang tersebut.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


72

2. Puisi kamar dan puisi auditorium

Puisi-puisi auditorium disebut juga puisi Hukla (puisi yang

mementingkan suatu atau serangkaian suatu). Puisi kamar ialah puisi yang

cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja dalam kamar.

Sedangkan puisi auditorium adalah puisi yang cocok untuk pembaca di

auditorium, di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang. Puisi

auditorium disebut juga puisi oral karena cocok untuk dioralkan.

3. Puisi fisikal, platonik, dan metafisika

Pembagian puisi ini berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan dalam

suatu puisi. Puisi fisikal bersifat realistis artinya menggambarkan kenyataan

apa adanya. Puisi platonik adalah puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang

bersifat spiritual dan kejiwaan. Puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat

filosofis dan mengajak pembaca merenungkan Tuhan. Puisi relegius di satu

pihak dapat dinyatakan sebagai puisi platonik (menggambarkan ide atau

gagasan penyair) di lain pihak dapat disebut sebagai puisi metafisik (mengajak

pembaca merenungkan hidup, kehidupan, dan Tuhan).

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


73

4. Puisi subyektif dan puisi obyektif

Puisi subyektif (puisi personal) adalah puisi yang mengungkapkan

gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Adapun

puisi obyektif adalah puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu

sendiri.

5. Puisi konkret

Puisi konkret adalah puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati

keindahan bentuk dari sudut penglihatan. Bentuk konkret tersebut dapat berupa

bentuk grafis, kaligrafi, ideogramatik, atau puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri

yang menunjukkan pengimajian kata lewat bentuk grafis. Puisi konkret ada

yang berbentuk segitiga, kerucut, belah ketupat, piala, tiang lingga, bulat telur,

spidle, ideografik, dan ada juga yang menunjukkan lambang tertentu.

7. Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis

Puisi diafan atau puisi polos adalah puisi yang kurang sekali

menggunakan pengimajian, kata konkret, dan bahasa figuratif, sehingga puis

ini mirip dengan bahasa sehari-hari. Adapun puisi prismatis justru sebaliknya.

Dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan

menciptakan majas, verifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa

sehingga pembaca tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


74

puisi itu. Namun, makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma.

8. Puisi parnasian dan puisi inspiratif

Puisi parnasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan

dan bukan didasarkan oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair.

Adapun puisi inspiratif diciptakan berdasarkan mood. Penyair benar-benar

masuk ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-

benar terlibat ke dalam puisi.

9. Stansa

Stansa berarti puisi yang terdiri atas 8 baris. Stansa berbeda dengan

oktaf karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24 baris. Aturan pembarisan dalam

oktaf adalah 8 baris untuk tiap bait, sedangkan dalam stansa seluruh puisi

terdiri atas 8 baris.

10. Puisi demonstrasi dan pamflet

Puisi demonstrasi menyaran pada puisi-puisi Taufik Ismail dan mereka

yang Jassin disebut Angkatan 66. Puisi ini melukiskan dan merupakan hasil

refleksi demonstrasi para mahasiswa dan pelajar – KAMMI-KAPPI – sekitar

tahun 1966. Menurut Subagio Sastrowardoyo, puisi-puisi demonstrasi 1966

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


75

bersifat kekitaan, artinya melukiskan perasaan kelompok bukan perasaan

individu.

Puisi pamflet adalah puisi yang bahasanya menggunakan bahasa

pamflet. Puisi ini juga mengungkapkan protes sosial. Kata-kata dalam puisi ini

mengungkapkan rasa tidak puas pada keadaan. Kata-kata tersebut muncul

tanpa melalui proses pemikiran atau perenungan yang mendalam.

11. Alegori

Puisi yang mengungkapkan cerita dengan maksud untuk memberikan

nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal adalah

parabel yang juga disebut dengan dongeng perumpamaan.

C. APRESIASI PUISI

Puisi selalu terkait dengan emosi, pengalaman, sikap, dan pendapat-

pendapat tentang situasi atau kejadian yang ditampilkan secara abstrak atau

implisit. Oleh karena itu, pemahaman sebuah puisi juga diperlukan keterlibatan

emosi, pengalaman estetis, dan intuisi-intuisi. Bekal semacam itu akan

menolong siswa untuk menikmati puisi. Di sinilah letak strategi puisi yang

ibarat sebuah tanaman mempesona, penuh arena bermain, penuh hiburan, dan

penuh keindahan alamiah yang anggun. Dampaknya, tentu pembelajaran tetap

akan berjalan dengan baik tanpa membuat siswa mengawang dalam belajar,

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


76

melainkan menikmati.

Terkait dengan hal tersebut, Aftaruddin (dalam Endaswara, 2005)

menyatakan bahwa ’peristiwa besar’ menikmati puisi pada hakikatnya

menghayati suatu pengalaman secara intens, secara mendalam. Pembelajaran

tidak sekadar membaca huruf-huruf, tapi menempatkan diri sebagai pencipta

sehingga antara penikmat dengan penyair seakan-akan tidak ada jarak. Konteks

itu menghendaki pembelajaran yang sungguh-sungguh ada keterlibatan jiwa,

tetapi tetap tidak membuat jiwa tegang. Bahkan, diharapkan pembelajaran

tersebut menjadi sebuah momen refreshing.

Suatu istilah yang sering rancu dalam pembelajaran puisi adalah ihwal

pengkajian. Pembelajaran puisi tidak menolak pengkajian, namun, ada

beberapa perbedaan, dalam pengkajian puisi lebih diarahkan pada

penyelidikan, apresiasi lebih menuju ke arah pemahaman. Pemahaman lebih

banyak terkait dengan aspek pragmatik penikmatan dan bukan sekadar

membedah isi puisi secara mekanik seperti lazimnya seorang peneliti puisi.

Dengan modal nikmat, siswa akan paham, karena dalam kejiwaan mereka

timbul penghayatan dan pengenalan terhadap puisi. Satu hal yang penting

dalam apresiasi puisi adalah bukan hasil (nilai), bukan pula yang telah hafal

judul-judul dan pencipta puisi. Namun, apresiasi puisi adalah proses

pemahaman dan pengenalan yang tepat; pertimbangan dan penilaian serta

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


77

pernyataan yang memberikan penilaian terhadap puisi. Oleh sebab itu,

Atmazaki (1993) memberikan penegasan bahwa apresiasi adalah kegiatan: (1)

untuk merespon suatu (puisi), melakukan kontak sehingga ada efek, resepsi,

dan persepsi, dan (2) memberikan pertimbangan terhadap sesuatu untuk

memberikan penilaian.

D. PEMAKNAAN BENTUK LEWAT SEMIOTIKA

Dalam teks, semiotika dipandang sebagai sebuah realitas yang dihadirkan

di hadapan pembaca yang mengandung potensi komunikatif. Pemilikan potensi

komunikatif ditandai dengan digunakannya lambang-lambang kebahasaan di

dalamnya, berupa lambang artistic yang berbeda dengan lambang kebahasaan

lainnya.

Upaya pemahaman terhadap lambang teks sastra tersebut sangat

beragam. Akan tetapi, sesuai dengan terdapatnya empat dimensi dalam teks

sastra, yakni 1) sastra sebagai kreasi ekspresi, 2) sastra sebagai pemapar

realitas, 3) sastra sebagai kreasi penciptaan yang menggunakan media berupa

bahasa, dan sastra sebagi teks yang memiliki potensi komunikasi dengan

pembaca.

Pierce seorang pelopor semiotika membedakan lambang atas tiga

bentuk yakni, 1) ikon, yakni bilaman lambang tersebut sedikit banyaknya

menyerupai apa yang dilambangkan, seperti foto dari seseorang atau ilustrasi,

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


78

2) indeks, yakni bila lambang itu masih mengasosiasikan adanya hubungan

dengan lambang yang lain, misalnya rokok dengan api, 3) simbol, yakni bila

secara arbitrer maupun konvensional, lambang itu masih menunjuk pada

referen tertentu dengan acuan makna yang berlainan.

E. PEMAHAMAN LAPIS MAKNA PUISI


Aminuddin mengungkapkan bahwa lapis makna adalah unsur yang

tersembunyi di balik struktur bangun. Unsur lapis makna sulit dipahami

sebelum seorang pembaca bisa memahami bangun struktur puisi tersebut.

Bangun struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara

visual.

Berikut ini diuraikan struktur yang membangun fisik yang terdiri atas dua

jenis yakni sebagai berikut:

1. Struktur batin puisi (Hakikat puisi)

Struktur fisik puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang

hendak disampaikan puisi. I. A. Richards (dalam Waluyo, 1987) menyebut

makna atau struktur batin dengan istilah hakikat puisi. Ada empat unsur

hakikat puisi, yakni: tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap

penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention).

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


79

a. Tema

Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pokok

pikiran tersebut menguasai jiwa penyair sehingga menjadi landasan utama

pengucapannya. Tema harus dihubungkan dengan penyairnya, dengan konsep-

konsepnya yang terimajinasikan. Oleh karena itu, tema bersifat khusus

(penyair), tetapi obyektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak dibuat-buat).

Ada beberapa macam tema sesuai dengan Pancasila, yaitu: tema ketuhanan,

tema kemanusiaan, tema patriotisme/kebangsaan, dan tema keadilan sosial.

b. Perasaan penyair (feeling)

Perasaan penyair (feeling) merupakan faktor yang mempengaruhi dalam

penciptaan puisi. Suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat

dihayati oleh pembaca. Dalam mengungkapkan tema yang sama, antara

penyair yang satu akan berbeda dengan penyair yang lain, sehingga hasil puisi

yang diciptakan berbeda.

c. Nada dan suasana

Dalam apresiasi puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap

pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek,

menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


80

Sikap penyair kepada pembaca inilah yang disebut nada puisi.

Adapun yang dimaksud dengan suasana dalam puisi adalah keadaan

jiwa pembaca setelah membaca puisi atau akibat psikologis yang ditimbulkan

puisi itu terhadap pembaca. Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena

nada menimbulkan puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya.

d. Amanat (pesan)

Amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan

puisi. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada di balik

tema yang diungkapkan. Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair

mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak

penyair tidak sadar akan amanat yang diberikan penyair.

2. Struktur fisik puisi (Metode puisi)

Adapun unsur-unsur bentuk atau struktur fisik puisi diuraikan dalam

metode puisi, yakni unsur estetik yang membangun struktur luar puisi. Berikut

akan diuraikan lebih lanjut.

a. Diksi (pilihan kata)

Seorang penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata sebab kata-kata

yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


81

dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan

kata dalam keseluruhan puisi itu.

b. Pengimajian

Ada hubungan erat antara diksi, pengimajian, dan kata konkret. Diksi

yang dipilih harus menghasilkan pengimajian dan karena itu kata-kata menjadi

lebih konkret seperti kita hayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita

rasa.

c. Kata konkret

Untuk membangkikan imaji (daya bayang), maka kata-kata harus

diperkonkret. Maksudnya ialah bahwa kata-kata itu dapat menyaran pada arti

yang menyeluruh.

d. Bahasa figuratif (majas)

Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berfigura

sehingga disebut bahasa figuratif. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi

prismatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.

e. Verifikasi (rima, ritma, dan metrum)

Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk

musikalitas atau orkestra. Dengan pengulangan bunyi itu puisi menjadi merdu

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


82

jika dibaca. Ritma sangat berhubungan dengan bunyi dan juga berhubungan

dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Ritme berbeda dengan

metrum. Metrum berupa pengulangan tekanan kata yang tetap. Metrum

sifatnya statis (Waluyo, 1987).

F. DEKLAMASI PUISI SEBAGAI SALAH SATU BENTUK APRESIASI


PUISI

Sebuah puisi barulah terasa keindahannya jika dibaca dengan irama

yang baik. Irama ini akan jelas menonjol pada saat puisi tersebut

dideklamasikan. Deklamasi berasal dari bahasa Latin yaitu declamare atau

declaim yang memiliki arti membaca suatu hasil sastra yang berbentuk puisi

dengan lagu atau gerak tubuh sebagai alat bantu (Situmorang, 1974). Gerak

yang dimaksudkan ialah gerak alat bantu yang puitis, yang seirama dengan isi

bacaan.

Tentang pengertian deklamasi, Syahril Adlar dalam bukunya

Deklamasi mengemukakan beberapa rumusan (1) Ajip Rosidi menyatakan

”Seni deklamasi ialah suatu seni sastra lisan yang disertai dengan gaya, mimik,

intonasi, tempo, dan interpresi yang baik. (2) M. Hussyn Umar menyatakan:

”Seni deklamasi ialah seni menafsirkan kembali ciptakan seseorang yang

disertai ekspresi, mimik, dan irama yang baik.” (3) Abdul Muthalib

menyatakan: ”Seni deklamasi ialah seni menyatakan kembali ciptaan seseorang

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


83

dengan keselurhan jiwa disertai irama tanpa nada dan berusaha lebih

mendekatkan isi/maksudnya kepada pendengarnya” (Situmorang, 1974). Dari

uraian-uraian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa deklamasi itu pasti

maksudnya adalah mengucapkkan sebuah prosa atau puisi (bentuk yang paling

umum di Indonesia ialah puisi) dengan cara sebaik-baiknya dengan

memperhatikan syarat-syarat seperti diuraikan di bawah ini.

a.Pemahaman. Seorang pendeklamasi yang belum

paham isi/maksud sebuah puisi tidak akan

mungkin dapat mendeklamasikan puisi tersebut

dengan baik.

b.Peresapan. Sebuah puisi yang akan

dideklamasikan haruslah diresapkan benar-benar

dalam hati hingga seakan-akan menjadi milik si

pendeklamasi sendiri. Pendeklamasi bertugas

sebagai juru bicara yang harus dapat meyakinkan

dan menikmatkan hati si pendengar. Oleh karena

itu, tanpa peresapan yang baik dan meyakinkan

tidak mungkin akan dapat menikmatkan hati

pendengar

c.Ekspresi. Pendeklamasi harus memantulkan puisi

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


84

itu pada pendengarnya. Berhasil tidaknya usaha

yang dilakukan pendeklamasi untuk

menikmatkan hati orang lain, tergantung sampai

mana kemampuannya mengekspresikan puisi itu.

Terkait dengan ekspresi, ada beberapa hal yang

perlu diperhatikan dalam hal ini, yaitu daya hafal,

pengucapan, irama, batas sintaksis, mimik, dan

gerak gerik.

Daya hafal. Sebuah deklamasi sebenarnya dapat dilakukan dengan

mempergunakan catatan. Akan tetapi mempergunakan catatan akan sangat

sering mengganggu sebab dengan jalan berulang-ulang pendeklamasi melihat

ke arah catatannya, akan berakibat yang luas, yakni maksud puisi tersebut dan

juga berakibat pendengar akan terganggu. Oleh karena itu, sebaiknya

pendeklamasi puisi harus mempunyai daya hafal yang sebaik-baiknya.

Pengucapan. Salah satu hal yang sangat penting mendapatkan

perhatian pada setiap kesempatan berdeklamasi adalah ucapan. Pengucapan

dalam berdeklamasi haruslah dijaga semurni dan sebaik mungkin, jangan

terlampau dipengaruhi oleh ucapan bahasa daerah atau sekali-kali jangan pula

mengarah pada ucapan bahasa asing. Dalam hubungan inilah pengucapan tidak

dapat dipisahkan dari intonasi. Dari ucapan dan intonasi seseorang akan

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


85

dengan cepat memberi petunjuk, apakah seseorang cocok untuk berdeklamasi

atau tidak

Irama. Irama merupakan faktor yang utama untuk menghidupkan

puisi sebab irama merupakan jiwa pendeklamasian puisi. Tanpa irama yang

baik, pastilah seorang pendeklamasi tidak akan mungkin berhasil dalam

deklamasi. Dalam hal ini, seorang pendeklamasi harus tahu pada bagian mana

suara perlu dikeraskan, ditinggikan, atau dilambatkan.

Batas sintaksis. Batas perhentian suara (sintaksis) ini sangat penting

agar jelas pada bagian-bagian mana seseorang berhenti untuk menarik nafas,

hingga pokok-pokok pikiran dalam puisi itu jelas dikemukakan. Jadi, sebelum

mendeklamasikan puisi harus ditandai lebih dahulu dimaksud penciptanya

tidak menjadi kacau-balau.

Mimik. Setelah puisi itu benar-benar meresap ke dalam jiwa seseorang

pendeklamasi akan dengan mudah terlihat dari mimiknya. Jadi, mimik

merupakan petunjuk apakah seseorang sudah benar-benar dapat menjiwai atau

meresapkan puisi itu dengan sebaik-baiknya. Harmonisasi antara mimik

dengan isi (maksud) puisi merupakan puncak keberhasilan sebuah deklamasi.

Gerak-gerik dalam deklamasi walaupun bukan keharusan tapi sangat sering

menolong untuk menjiwai dan menghidupkan sebuah puisi

(Situmorang, 1974).

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


86

Pada saat mendeklamasikan puisi akan muncul rasa emosionil –

artistik. Hampir semua siswa akan tergugah rasa emosionil – artistiknya bila

mendengar sebuah deklamasi yang berhasil dibawakan di depan kelas. Hal itu

terlihat dari tepuk tangan yang riuh dan wajah mereka yang merasa puas bila

seorang temannya dengan indah mendeklamasikan sebuah puisi.

Memang tidak semua siswa dapat mendeklamasikan puisi dengan baik

tapi pastilah jika guru membimbing mereka, paling tidak siswa-siswa dapat

menghargai dan menikmati sebuah puisi yang berhasil dideklamasikan

(Situmorang, 1974).

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


87

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra..Bandung: Sinar Baru


Algesindo.

Dola, Abdullah. 2007. Apresiasi Prosa Fiksi dan Drama. Makassar: Badan
Penerbit Universitas Negeri Makassar.

Khalik, Suhartini. 2008. “Penerapan Metode Kooperatif Tipe STAD untuk


Meningkatkan Pembelajaran Apresiasi Puisi pada Siswa Kelas XI
Bahasa SMA Negeri 1 Pancarijang Kabupaten Sidrap.” Tesis. Tidak
diterbitkan. Makassar: PPs UNM

Luxemburg, Jan Van,et.al. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia

-------------------------------. 1987. Tentang Sastra. Diterjemahkan oleh Akhdiati


Ikram. Jakarta: Intermasa.

Mahayana, Maman S. 2007. Apresiasi Sastra Indonesia di Sekolah. Online


(http://johnherf.wordpress.com). Diakses 23 Februari 2008.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pradopo, Rachmat. 1995. Pengkajian Puisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Sakdiyah, Mislinatul. Menggauli Puisi Lewat Lagu. Online


(http://cybersastra.net). Diakses 19 Januari 2007.

Sarjono, Agus R. 2001. Sastra dan Empat ORBA. Yogyakarta : Yayasan


Bentang Budaya.

Tang, Muhammad Rapi. 2007. Pengantar Teori Sastra Yang Relevan.

TEORI DAN APRESIASI SASTRA


88

Makassar: PPs UNM

Taum, Yoseph Yapi. 1997. Pengantar Teori Sastra. Ende: Nusa Indah

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Pengantar Ilmu Sastra. Bandung:
Pustaka Jaya.

Waluyo, Herman. 1987. Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Wellek, Rene dan Warren, Austin. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta:


Gramedia.

Wijaya, Putu. 2007. Pengajaran Sastra. Diakses dari


Http://putuwijaya.wordpress.com/2007/11/03/pengajaran-sastra/

TEORI DAN APRESIASI SASTRA