Anda di halaman 1dari 25

6

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman salam
1. Sistematika tanaman salam
Menurut Tjitrosoepomo (2005), sistematika tanaman salam (Eugenia
polyantha Wight.) adalah sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Myrtales
Suku : Myrtaceae
Marga : Eugenia
Jenis : Eugenia polyantha Wight. atau Syzigium polyanthum (Wight.) Walp.
2. Nama daerah tanaman salam
Sumatra : meselangan, ubar serai (Melayu). Jawa : salam, gowok (Sunda),
manting (Jawa), salam (Madura). Kangean : kastolam (Dalimartha 2000)
3. Morfologi tanaman salam
Salam tumbuh liar di hutan dan pegunungan, atau ditanam di pekarangan dan
sekitar rumah. Pohon ini dapat ditemukan di daerah dataran rendah sampai ketinggian
1.400 m di atas permukaan laut (Dalimartha 2000). Tinggi pohon mencapai 25 m,
berbatang bulat, permukaan licin, bertajuk rimbun dan berakar tunggang. Daun

7

tunggal, letak berhadapan, panjang tangkai daun 0,5-1 cm. Helaian daun berbentuk
lonjong sampai elips atau bundar telur sungsang, ujung meruncing, pangkal runcing,
tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan atas licin berwarna hijau tua, permukaan
bawah berwarna hijau muda, panjang 5-15 cm, lebar 3-8 cm, jika diremas berbau
harum. Bunga majemuk tersusun dalam malai yang keluar dari ujung ranting,
berwarna putih, baunya harum. Buahnya buah buni, bulat, diameter 8-9 mm, buah
muda berwarna hijau, setelah masak menjadi merah gelap, rasanya agak sepat. Biji
bulat, diameter sekitar 1 cm, berwarna coklat (Dalimartha 2000).
4. Kandungan kimia daun salam
Daun salam mengandung tanin galat, galokatekin, minyak atsiri
(seskuiterpen), flavonoid, dan saponin (triterpenoid) Selain itu daun salam juga
mengandung beberapa vitamin, diantaranya vitamin A, vitamin C, vitamin E, vit B1,
vit B2, vit B3, vit B6, vit B12 dan folat (Sugarlini 2001; Pridayanti 2008; Riansari
2008).
5. Manfaat dan khasiat tanaman salam
Salam ditanam untuk diambil daunnya sebagai pelengkap bumbu dapur,
sedangkan kulit pohonnya digunakan sebagai bahan pewarna jala atau anyaman
bambu. Buahnya dapat dimakan (Dalimartha 2000). Daun salam juga dapat
digunakan sebagai antidiare (Nuratmi 1999), untuk menurunkan glukosa darah
(Studiawan & Santosa 2005), menurunkan asam urat (Ariyanti et al. 2007; Muhtadi
2012), antioksidan (Ekawati 2007), menurunkan LDL (Pidrayanti 2008), dan
menaikkan HDL (Agung 2008) dan untuk menurunkan kolesterol (Prahastuti 2011).
8

B. Simplisia
1. Pengertian simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai bahan obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain bahan yang
dikeringkan. Simplisia dibedakan menjadi 3 macam yaitu: simplisia nabati, simplisia
hewani, dan simplisia mineral. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa
tanaman utuh, bagian tanaman dan eksudat tanaman (Depkes 1979). Eksudat tanaman
adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu
sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-
bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanaman dan belum
berupa zat kimia murni. Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh,
bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat
kimia murni. Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan
atau mineral yang belum diolah atau diolah dengan cara sederhana dan belum berupa
bahan kimia murni. Contohnya seng dan serbuk tembaga (Gunawan & Mulyani
2004).
2. Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah
rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama, dengan mengurangi
kadar air dan menghentikan sensasi enzimatik sehingga dapat dicegah penurunan
mutu atau perusakan simplisia. Suhu pengeringan pada umumnya antara 40-60 dan
hasil yang baik dari proses pengeringan adalah simplisia yang mengandung kadar air
9

10%. Waktu pengeringan juga bervariasi, tergantung pada jenis bahan yang
dikeringkan seperti rimpang, daun, kayu ataupun bunga. Hal yang perlu diperhatikan
dalam proses pengeringan adalah kebersihan (khususnya pengeringan menggunakan
sinar matahari), kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan (tidak saling
menumpuk). Pengeringan bahan dapat dilakukan secara tradisional menggunakan
sinar matahari atau secara modern dengan menggunakan suhu alat pengering seperti
oven, rak pengering, blower, ataupun dengan fresh dryer (Balittro 2008).

C. Penyarian
1. Pengertian penyarian
Penyarian adalah penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah
obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan akan larut
(Ansel 1989). Penyarian yang dilakukan dengan mencelupkan sejumlah serbuk
simplisia begitu saja pada cairan penyari tersebut tidak akan dapat sempurna karena
suatu keseimbangan akan terjadi antara larutan zat aktif yang terdapat di dalam sel
dengan larutan yang aktif yang terdapat di luar butir sel (Depkes 1986).
Penyarian dipengaruhi oleh derajat kehalusan serbuk dan perbedaan
konsentrasi yang terdapat mulai dari pusat butir serbuk simplisia sampai
kepermukaannya maupun pada perbedaan konsentrasi yang terdapat lapisan batas,
sehingga suatu titik akan dicapai oleh zat-zat yang tersari jika ada daya dorong yang
cukup untuk melanjutkan pemindahan massa. Makin besar perbedaan konsentrasi,
makin besar daya dorong tersebut sehingga makin mempercepat penyarian. Makin
10

kasar serbuk simplisia makin panjang jarak, sehingga konsentrasi zat aktif yang
terlarut dan tertinggal dalam sel makin banyak. Serbuk simplisia harus dibuat sehalus
mungkin dan dijaga jangan terlalu banyak sel yang pecah. Cairan penyari harus dapat
mencapai seluruh serbuk dan secara terus menerus mendesak larutan yang memiliki
konsentrasi yang lebih tinggi keluar (Depkes 1986). Jenis ekstraksi yang digunakan
tergantung dari kelarutan bahan serta dari stabilitasnya (Voigt 1994).
2. Ekstraksi
Ekstraksi adalah penarikan zat pokok yang diinginkan bahan mentah obat
dengan menggunakan bahan pelarut dimana zat yang diinginkan larut. Sistem pelarut
yang digunakan dalam ekstraksi dipilih berdasarkan kemampuannya melarutkan
jumlah maksimum zat aktif dan seminimum mungkin zat yang tidak diinginkan.
Ekstraksi harus memperhatikan sifat fisik simplisia dan sifat zat aktifnya, harus
memperhatikan zat-zat yang sering terjadi terdepat dalam simplisia seperti protein,
karbohidrat, lemak dan gula (Voigt 1994).
3. Maserasi
Maserasi adalah cara ekstraksi yang paling sederhana. Istilah maserasi berasal
dari bahasa latin macerare yang berarti mengairi atau melunakkan (Voigt 1994).
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.
Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang
mengandung zat aktif. Akibat adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di
dalam dan di luar sel serta zat aktif yang akan larut, maka larutan yang terpekat
terdesak keluar. Peristiwa tersebut berulang hingga terjadi keseimbangan antara
11

konsentrasi di dalam dan di luar sel (Depkes 1986). Maserasi digunakan untuk
penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan
penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari.
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan
yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Selain itu, metode ini cocok untuk
bahan yang dapat rusak oleh pemanasan. Kerugian dari maserasi adalah
membutuhkan banyak pelarut, waktu yang dibutuhkan sampai berhari-hari dan hasil
ekstraksi kurang akurat (Ansel 1989).

D. Kolesterol
1. Pengertian kolesterol
Kolesterol berasal dari bahasa Yunani (Chole = empedu, Stereos = padat)
adalah zat alamiah dengan sifat fisik serupa lemak tetapi memiliki steroida, seperti
banyak senyawa alamiah lainnya. Kolesterol merupakan senyawa esensial bagi tubuh
untuk sintesis zat-zat penting seperti membran sel dan bahan isolasi sekitar serat
saraf, hormon kelamin dan anak ginjal, vitamin D serta asam empedu. Kolesterol
terdapat pula dalam lemak hewani, kuning telur, dan batu empedu (Tjay & Rahardja
2002).
Kolesterol sendiri pada dasarnya adalah sejenis lemak yang sangat vital bagi
kehidupan karena kolesterol merupakan zat pembentuk membran sel dan sejumlah
hormon (Subinarto 2004). Kolesterol diproduksi oleh tubuh terutama oleh hati.
Kolesterol yang dibutuhkan secara normal diproduksi sendiri dalam jumlah yang
12

tepat, tetapi kolesterol juga dapat meningkat jika mengkonsumsi makanan dengan
kadar lemak yang tinggi (otak sapi, kuning telur, keju) atau makanan cepat saji (junk
food). Kolesterol yang berlebihan akan tertimbun di dalam dinding pembuluh darah,
dan membentuk timbunan yang mengganggu aliran darah serta mengeraskan dinding
pembuluh darah sehingga pembuluh darah tidak dapat mengembang dan mengkerut
sesuai dengan kebutuhan. Hal ini akan menjadi cikal bakal terjadinya penyakit
jantung dan stroke. Di dalam tubuh, kolesterol terdiri dari kolesterol LDL (Low
Density Lipoprotein), HDL (High Density Lipoprotein) dan trigliserida (Kusmiadi
2008).
Agustina (2009) menambahkan bahwa fungsi kolesterol di dalam tubuh yaitu
merupakan zat esensial untuk membran setiap sel tubuh, merupakan bahan pokok
untuk pembentukan garam empedu yang diperlukan untuk pencernaan makanan
berlemak, merupakan bahan baku pembentukan hormon steroid, misal progesterone
dan estrogen pada wanita, testosterone pada pria. Kolesterol tersebar luas dalam
semua sel tubuh, tetapi khususnya dalam jaringan saraf (Martin 1990).
Tekstur kolesterol lembut dan berlilin, dengan konsistensi seperti tetsan lilin
panas. Warna putih kehijauan, substansi berlemak, merupakan bagian terbesar yang
dibentuk oleh tubuh di hati. Sekitar dua pertiga kolesterol tubuh diproduksi dengan
cara ini menggunakan substansi yang diperoleh dari lemak pada makanan kita,
sehingga makin banyak lemak yang kita makan, hati makin terpacu untuk mensintesis
lebih banyak kolesterol. Kolesterol yang berada di dalam tubuh berasal dari rute yang
13

berbeda-beda, sebagian besar berasal dari dinding usus kecil sebagai hasil dari lemak
yang kita makan (Povey 1994).
2. Fungsi Kolesterol
Diluar tubuh sumber utama kolesterol terdapat pada bahan-bahan makanan
yang berasal dari organ hewan, seperti ginjal, kulit, hati, otak, jeroan, limfa dan lain-
lain. Kolesterol sama sekali tidak terdapat pada bahan makanan yang berasal dari
tumbuhan. Kolesterol sebenarnya sangat berguna bagi tubuh tetapi bila jumlah
konsumsinya sangat berlebihan justru akan merugikan. Bila pada menu makanan
sehari-hari selalu mengandung kolesterol dan kurang diperhatikan perhitungan
masuknya lemak baik dari segi pasang surut ratio maupun prosentase energi dari
lemak terhadap total kalori, maka lama kelamaan menjadi endapan kolesterol
(Dalimartha 2000).
3. Metabolisme kolesterol
Kolesterol adalah prazat dari hormon-hormon steroid dan asam-asam empedu
dan merupakan unsur penting membran sel. Kolesterol diserap dari usus dan menjadi
satu dengan kilomikron yang dibentuk dalam mukosa. Setelah kilomikron
melepaskan trigliserida dalam jaringan adiposa, sisa kilomikron akan membawa
kolesterol ke hati. Selain itu hati juga membentuk kolesterol. Sebagian kolesterol hati
diekskresikan daam empedu, baik dalam bentuk bebas maupun sebagai asam empedu.
Sisa kolesterol akan menjadi satu dengan VLDL (Very Low Density Lipoprotein).
VLDL yang mengandung kolesterol yang dibentuk dalam hati dimetabolisme
menjadi IDL (Intermediate Density Lipoprotein) dan LDL (Low Density
14

Lipoprotein). LDL kemudian masuk dalam sel jaringan ekstra hepatik, sebagian
masuk dalam scavenger cell. Molekul-molekul LDL berikatan dengan reseptor-
reseptor pada membran sel, dan vesikel-vesikel yang mengandung LDL bergabung
dengan lisosim dan enzim-enzim lisosim menghidrolisis ester-ester kolesterol yang
terdapat pada inti LDL. Kolesterol bebas yang terbentuk masuk sitoplasma, dimana
sebagian diubah kembali menjadi ester-ester kolesterol dalam alat golgi, dan berdifusi
ke dalam membran sel. Dari membran sel kolesterol diambil oleh HDL. Dalam
plasma kolesterol tersebut diubah menjadi ester-ester kolesterol dan bergerak ke inti
HDL, meninggalkan permukaan lipoprotein bebas untuk menerima lebih banyak
kolesterol. HDL mentransport kolesterol kembali ke hati. Sebagian kolesterol ini
bersiklus kemali ke dalam VLDL, tetapi sebagian basar tampak masuk ke dalam
empedu dan diekskresikan dalam feses. Kolesterol yang masuk sitoplasma sel juga
menghambat sintesis reseptor LDL dan biosintesis kolesterol baru dari prekursornya.
4. Metode pengukuran kolesterol
Metode-metode yang sering digunakan dalam penetapan kadar kolesterol
antara lain : metode Libermann Burchad, metode Zak dan metode CHOD-PAP.
4.1. Metode Libermann Burchad. Metode ini mempunyai kemampuan
praktibilitas tinggi meliputi waktu singkat, alat sederhana dan reagen stabil (kurang
dari 6 bulan). Kekurangannya karena merupakan metode langsung maka
spesifikasinya rendah (untuk sampel yang ditetapkan dengan metode ini tidak boleh
dalam keadaan terhemolisa, hiperbilirubin dan lipemik), sensitivitas rendah, reagen
sukar didapat dan harganya mahal (Roeschisu 1979).
15

4.2. Metode Zak. Metode ini mempunyai kekurangan yaitu memiliki
praktibilitas relative rendah bila dibanding dengan Libermann Burchad. Praktibilitas
meliputi pelaksanaan yang lebih lama, cara kerja lebih panjang (jumlah obat lebih
banyak), membutuhkan keahlian teknis lebih tinggi, reagen tidak stabil (kurang lebih
satu bulan). Kelebihannya yaitu sensitifitas tinggi (4-5 kali lebih tinggi) dibanding
dengan Libermann Burchad (karena merupakan metode tidak langsung), reagen
mudah didapat dan murah (Roeschisu 1979).
4.3. Metode CHOD-PAP. Metode ini sering digunakan dalam penelitian
karena metode ini sangat mudah, praktis, cepat dan efisien. Reagen yang digunakan
siap pakai dan lebih stabil dibanding dengan metode Libermann Burchad dan metode
Zak. Prinsip dari metode CHOD-PAP yaitu kolesterol ditentukan setelah hidrolisa
enzimatik dan oksidasi H
2
O
2
bereaksi dengan 4-aminoantipyrin dan fenol membentuk
quinonimine amino yang berwarna, absorben warna sebanding dengan kolesterol
(Roeschisu 1979).

E. Hiperlipidemia
1. Pengertian Hiperlipidemia
Hiperlipidemia adalah suatu kondisi dimana kadar lipid darah melebihi kadar
normalnya. Hiperlipidemia disebut juga peningkatan lemak dalam darah dan karena
sering disertai peningkatan beberapa fraksi lipoprotein, disebut juga hiperlipoprotein.
Hiperlipidemia dapat berupa hiperkolesterolemia dan hipertrigliserida (Kumalasari
2005).
16

Lipid plasma utama terdiri atas kolesterol, trigliserida, phosfolipid dan free
fatty acid. Lipid ini bersifat hidrofobik oleh karena itu sirkulasinya dalam darah
adalah dalam bentuk kompleks lipid-protein atau lipoprotein. Plasma lipoprotein
sendiri berdasarkan densitasnya, terdiri atas kilomikron, VLDL, LDL dan HDL
(Oentoseno 2006). Menurut Tirtawinata (2006) penjelasan kilomikron, VLDL, LDL,
dan HDL adalah sebagai berikut:
1.1. Kilomikron (Chylomicron). Kilomikron merupakan alat pengangkut
lemak dari usus ke seluruh tubuh. Lemak utama yang diangkut oleh kilomikron
adalah trigliserida, oleh karena itu kilomikron mengandung sekitar 86% trigliserida,
8,5% fosfolipid, 3% kolesterol dan 2% protein. Kilomikron adalah lipoprotein yang
paling besar ukurannya dan mempunyai densitas paling rendah. Pembentukan
kilomikron dalam dinding usus sesuai dengan jumlah trigliserida yang diserap.
1.2. VLDL (Very Low Density Lipoprotein). VLDL sebagian dibentuk di
dinding usus dan sebagian lain disintesis di dalam hati. VLDL merupakan lipoprotein
yang paling banyak mengandung trigliserida yang diangkut dari usus ke seluruh
jaringan tubuh. VLDL di jaringan tubuh melepaskan trigliserida dengan bantuan
lipoprotein lipase untuk digunakan sebagai sumber energi dan sebagai lemak
cadangan. Lepasnya trigliserida mengakibatkan VLDL dapat mengikat kolesterol,
fosfolipid dan protein dari lipoprotein lain dalam aliran darah dan dengan demikian
VLDL berubah menjadi LDL.
1.3. LDL (Low Density Lipoprotein). LDL bersifat atherogenik yaitu
menyebabkan terjadinya proses atherosklerosis. Gagal jantung atau disebut penyakit
17

jantung koroner diakibatkan oleh atherosklerosis yang terjadi di arteri koronari yang
mengalirkan darah ke jantung, oleh karena itu LDL dikenal sebagaikolesterol jahat.
Tabel 1. Kadar dari Kolesterol LDL Darah
Kolesterol LDL
< 100 mg/dL Optimal
100-129 mg/dL Jauh atau di atas optimal
130-159 mg/dL Cukup Tinggi
160-189 mg/dL Tinggi
190 mg/dL Sangat Tinggi
(Sukandar et al. 2009)
Molekul LDL dapat melekat pada dinding pembuluh darah sebab ada proses
oksidasi dari radikal bebas. LDL yang teroksidasi dapat mengubah sel makrofag
menjadi sel busa yang membentuk gumpalan, makin lama akan makin membesar dan
akhirnya terjadi penyempitan pembuluh darah LDL yang teroksidasi yang
menyebabkan terangsangnya sel-sel otot polos pada dinding pembuluh darah dan
dapat terjadi pergeseran dinding pembuluh darah, tidak bisa bersifat fleksibel lagi dan
tekanan darah dapat meningkatk karena aliran darah yang tidak lancer. Tekanan darah
yang meningkat juga dapat memicu pecahnya pembuluh darah (Kusmiadi 2008).
LDL merupakan lipoprotein pengangkut kolesterol terbesar pada manusia
(70% total). Partikel LDL mengandung trigliserida sebanyak 10% dan kolesterol
50%. Jalur utama katabolisme LDL berlangsung lewat receptor-mediated endocytosis
di hati dan sel lain. Ester kolesterol dari inti LDL dihidrolisis menghasilkan kolesterol
bebas untuk sintesis sel membran dan hormon steroid (Suyatna 2007). LDL
mengangkut sebagian besar kalsium (Ca 70%) kolesterol darah dari hati ke jaringan.
Dalam hal tertentu, oksidasi LDL yakni kolesterol yang telah dioksidasi oleh radikal
bebas, dapat mengendap pada dinding pembuluh dan mengakibatkan aterosklerosis
18

(Tjay dan Rahardja 2002). LDL dapat diturunkan dengan reduksi berat badan dan diet
dengan mengurangi lemak jenuh dan kolesterol serta peningkatan lemak tak jenuh,
serat dan protein nabati.
1.4. HDL (High Density Lipoprotein). HDL adalah lipoprotein yang
mempunyai kepadatan yang tinggi. Densitas lipoprotein akan meningkat apabila
kadar proteinnya naik dan kadar lemaknya berkurang. HDL disintesis dan disekresi
oleh hati dan usus. HDL berfungsi sebagai pengangkut kolesterol dalam darah dari
jaringan tubuh ke hati, jadi kebalikan dari fungsi LDL.
Tabel 2. Kadar dari Kolesterol HDL Darah
Kolesterol HDL
< 40 mg/dL Rendah
60 mg/dL Tinggi
(Sukandar et al. 2009)
Dari keempat kelas lipoprotein yang ada, LDL yang paling tinggi kadar
kolesterolnya, sedangkan kilomikron dan VLDL paling tinggi kadar trigliseridanya.
Kadar protein tertinggi terdapat pada HDL (Sylvia & Lorraine 2006). HDL disebut
sebagai lemak baik karena bersifat antiaterogenik yaitu mencegah aterosklerosis yang
dapat mengangkat kolesterol berlebihan pada jaringan pembuluh darah menuju liver
yang dikeluarkan melalui saluran empedu. Kadar HDL diharapkan tinggi di dalam
darah. Namun, kadarnya rendah pada orang gemuk, perokok, penderita diabetes
melitus yang tidak terkontrol, dan pemakai pil KB. Peningkatan HDL dapat dicapai
dengan melakukan olahraga intensif, menurunkan berat badan, dan berhenti merokok.
HDL yang meningkat juga pada mereka yang sekali-kali minum alkohol dalam
jumlah kecil dan bila kadar vitamin C di leukosit tinggi. Karena itu, HDL dinamakan
19

kolesterol baik sedangkan LDL disebut kolesterol jahat (Tjay dan Rahardja 2002).
Bukti epidemiologis dan klinis yang menunjang huungan negatif antara kadar HDL
dan PJK (Penyakit Jantung Koroner). Intervensi diet tanpa menaikkan kadar HDL
kolesterol dan dapat mengurangi PJK (Suyono 1996).
2. Aterosklerosis
Aterosklerosis berasal dari bahasa Yunani athere yang berarti bubur, dan
skleros yang berarti keras. Disebut juga pengapuran pembuluh, adalah gangguan
arteri besar dan sedang yang bercirikan bengkak lokal pada lapisan dalam (intima)
dan pengerasan pada lapisan tengah (media) dinding pembuluh nadi. Bengkak itu
terdiri dari oksi-LDL yang telah berpenetrasi sel-sel intima, endapan kapur,
fibrinogen, serta jaringan ikat, dan disebut atheroma (bengkak berisi zat lunak seperti
bubur) (Tjay & Rahardja 2002).
Timbulnya aterosklerosis berasal dari tingginya kolesterol LDL di dalam
darah akan menyebabkan metabolisme LDL terganggu sehingga terjadi pembentukan
lapisan lemak yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang dapat
menghambat aliran darah (Dalimartha 2000).
Interaksi antara trombosit dengan sel endotel yang rusak akan merangsang
pertumbuhan (proliferatif) jaringan ikat pada dinding arteri yang disebut plak
aterosklerotik atau ateroma. Plak aterosklerotik ini akan tumbuh terus-menerus secara
progresif selama bertahun-tahun dan bisa disertai timbulnya berbagai komplikasi,
seperti pengapuran, perdarahan, pecah atau ulcerasi dan pembentukan trombus.
Pembentukan trombus di dalam pembuluh darah (intraluminar) inilah yang dapat
20

menghambat aliran darah. Apabila pecah akan terjadi serangan jantung (Dalimartha
2000).
Proses aterosklerosis tadi terjadi pada pembuluh darah koroner, maka
timbulah penyakit jantung koroner (PJK). Selanjutnya bila pembentukan trombus
berlangsung terus, maka akan terjadi penyumbatan total pembuluh darah koroner
sehingga mengakibatkan berhentinya pasokan oksigen ke otot jantung. Keadaan ini
akan menyebabkan kematian otot yang disebut infark miokard. Jika proses
aterosklerosis terjadi pada pembuluh darah otak, akan terjadi infark serebral yang
menyebabkan stroke (Dalimartha 2006)
Komplikasi terpenting dari arteriosklerosis adalah penyakit jantung koroner,
gangguan pembuluh darah serebral dan gangguan pembuluh darah perifer. Penyakit
jantung koroner merupakan penyebab kematian utama di negara maju. Faktor resiko
yang merupakan predisposisi timbulnya penyakit jantung koroner adalah
hiperlipidemia, hipertensi, kebiasaan merokok, diabetes mellitus, kurang gerak,
keturunan dan stress (Suyono 1996).
3. Jalur Pengangkutan Lemak dalam Darah
Lemak dalam darah diangkut dengan dua cara, yaitu melalui extrahepatic pathway
(jalur eksogen) dan endogenous pathway (jalur endogen).
3.1. Jalur Eksogen (Extrahepatic Pathway). Kolesterol dan free fatty acid
yang masuk ke dalam tubuh lewat asupan akan diserap di intestinal mikrovili dimana
mereka akan diubah menjadi kolesterol ester dan trigliserida. Kedua zat ini kemudian
dikemas dalam bentuk kilomikron dan disekresi ke dalam sistem limfatik dan
21

memasuki sirkulasi sistemik. Trigliserida mengalami hidrolisis di kapiler jaringan
lemak dan otot menjadi asam lemak bebas (mono dan diglyserida) dan kilomikron
remnan, sehingga ukuran kilomikron menjadi berkurang dan karenanya ditransfer
menjadi HDL (Ontoseno 2006).
Kilomikron remnan akan dimetabolisme dalam hati sehingga menghasilkan
kolesterol bebas. Sebagian kolesterol yang mencapai organ hati akan diubah menjadi
asam empedu, yang akan dikeluarkan ke dalam usus, berfungsi sebagai detergen dan
membantu proses penyerapan dari makanan. Sebagian lagi dari kolesterol dikeluarkan
melalui saluran empedu tanpa dimetabolisme menjadi asam empedu kemudian organ
hati akan mendistribusikan kolesterol ke jaringan tubuh lainnya melalui jalur
endogen. Kilomikron yang tersisa (yang lemaknya telah diambil) pada akhirnya
dibuang dari aliran darah oleh hati. Kolesterol juga dapat diproduksi oleh hati dengan
bantuan enzim yang disebut HMG Koenzim-A Reduktase, kemudian dikirimkan ke
dalam aliran darah.
3.2. Jalur Endogen (Endogenous pathway). Hati mengubah karbohidrat
menjadi asam lemak, kemudian membentuk trigliserida, trigliserida ini dibawa
melalui aliran darah dalam bentuk Very Low Density Lipoprotein (VLDL) yang
kemudian disirkulasi ke jaringan lemak dan otot (Ontoseno 2006). VLDL kemudian
akan dimetabolisme oleh enzim lipoprotein lipase menjadi IDL (Intermediate Density
Lipoprotein). IDL kemudian berubah menjadi LDL (Low Density Lipoprotein) yang
kaya akan kolesterol melalui serangkaian proses. LDL ini bertugas menghantarkan
kolesterol ke dalam tubuh. Kolesterol yang tidak diperlukan akan dilepaskan ke
22

dalam darah, dimana pertama-tama akan berikatan dengan HDL (High density
Lipoprotein). HDL bertugas membuang kelebihan kolesterol dari dalam tubuh.

F. Niasin
Niasin adalah suatu vitamin yang larut dalam air (vitamin B
3
). Niasin
dikonversi dalam tubuh menjadi amida, yang menyatu menjadi niacinamide adenine
dinucleotide (NAD). Niasin diekskresi dalam urin tanpa dimodifikasi dan sebagai
niacinamide, N-methil-2-pyridone-3-carboxamide, N-methyl-2-pyridone-5
carboxamide, serta metabolit lain yang tidak terlalu banyak. Niasin (tetapi bukan
niacinamide) menurunkan kadar LDL dan VLDL dalam plasma pasien dengan
beragam jenis hiperlipidemia.


Gambar 1 : Struktur kimia asam nikotinat
Mekanisme kerja niasin belum jelas. Eksperimen dengan sel lemak in vitro
memperlihatkan bahwa obat ini mencegah kumulasi siklik AMP akibat hormon
lipolitik. Lipolisis dalam sel lemak diatur oleh kadar siklik AMP yang mengaktifkan
lipase trigliserid. Penurunan aktivitas enzim ini menyebabkan berkurangnya
pelepasan asam lemak bebas yang seterusnya menyebabkan produksi trigliserid di
hati dan pelepasan trigliserid ke dalam plasma menurun. Selain itu diduga bahwa obat
ini meningkatkan aktivitas lipase lipoprotein sehingga penyingkiran trigliserid
kilomikron dari plasma dipercepat.
23

Menurut Katzung (2002) niasin mengurangi kadar kolesterol dengan cara
melibatkan penghambatan sekresi VLDL, yang selanjutnya menurunkan produksi
LDL. Peningkatan klirens VLDL melalui jalur lipase lipoprotein berperan serta pada
efek penurunan trigliserida oleh niasin. Obat tersebut tidak mempunyai efek pada
produksi asam empedu. Kolesterogenesis dihambat, suatu efek yang tetap
berlangsung pada pemberian resin pengikat asam empedu. Penurunan sintesis
kolesterol meningkatkan ambilan LDL hepatitis untuk mendukung peningkatan
sintesis asam empedu yang diinduksi oleh resin. Laju katabolisme HDL menurun.
Proses aterogenesis atau trombosis dapat dipengaruhi oleh penurunan kadar
fibrinogen dalam sirkulasi yang diproduksi oleh niasin, dan kadar aktivator
plasminogen jaringan meningkat. Niasin adalah suatu penghambat kuat pada sistem
lipase intraselular dari jaringan adiposa, yang diduga dapat menurunkan produksi
VLDL dengan menurunkan asam lemak bebas ke hati.
Dalam dosis besar asam nikotinat menurunkan kadar kolesterol dan trigliserid
plasma pada berbagai jenis hiperlipidemia. Dalam suatu penelitian 3 gram asam
nikotinat per hari menyebabkan penurunan 10% kadar kolesterol dan 26% kadar
trigliserid. Efek samping asam nikotinat pada pengobatan hiperlipidemia yang paling
mengganggu adalah gatal dan kemerahan kulit terutama di daerah wajah dan tengkuk.
Gangguan pencernaan juga sering terjadi dan efek samping ini menyebabkan
kepatuhan penderita sangat menurun. Gangguan fungsi hati dan metabolisme glukosa
juga terjadi, demikian juga hiperurisemia (Sulistia 1987).

24

G. Propiltiourasil
Hiperlipidemia dapat dibuat pada tikus percobaan dengan menambahkan
lemak dan kolesterol dalam makanannya yang disebut dengan induksi eksogen.
Menurut panduan dari KKI Phyto Medica (1993) induksi hiperlipidemia pada tikus
dapat dilakukan dengan pemberian pakan tinggi kolesterol (1%) dan propiltiourasil
(PTU) (0,01%) selama dua minggu.
Propiltiourasil (PTU) adalah zat antitiroid yag akan meningkatkan konsentrasi
kolesterol darah secara endogen dengan cara merusak kalenjar tiroid. Propiltiourasil
akan menimbulkan kondisi hipotiroid yang dihubungkan dengan peningkatan
konsentrasi LDL plasma akibat penurunan katabolisme LDL. Penyebabnya yaitu
pada hipotiroid terjadi penurunan sintesis dan ekspresi reseptor LDL di hati, sehingga
LDL banyak beredar di plasma dan menjadi penyebab hiperkolesterolemia (Salter et
al. 1991).
Selain menggunakan propiltiourasil, induksi hiperkolesterolemia pada tikus
dapat juga ditambah dengan menggunakan pakan tinggi kolesterol yang terdiri atas :
kuning telur ayam 1,5%, lemak kambing 10%, minyak barco 1%, dan makanan
standar 83% (Rachmadani 2001). Selain itu dapat juga digunakan kombinasi yang
lain yaitu kuning telur ayam 1,5%, lemak kambing 5%, minyak goreng curah 6%, dan
pakan standar sampai 100% (Kristiani 2003).



25

H. Telur Puyuh
Telur puyuh merupakan sumber protein terbaik dari semua jenis telur,
kandungan proteinnya 13,05 gram lebih tinggi dibanding telur ayam 12,58 gram dan
telur bebek 12,81 gram. Namun, selain tingginya kadar protein, telur puyuh juga
mengandung kolesterol yang tinggi. Total lemak yang terkandung dalam telur puyuh
mencapai 11,09 gram (Astawan 2011).
Telur puyuh mempuyai kandungan kolesterol yang cukup tinggi dibandingkan
dengan telur unggas lainnya. Kandungan kolesterol kuning telur burung puyuh
mencapai 844mg/gr, kandungan lemak total 11,09 mg, lemak jenuh 3,56 mg, MUFA
4,32, PUFA 1,32. Sedangkan kuning telur ayam ras mengandung kolesterol 9,09
mg/gr dan kandungan kolesterol kuning telur itik 4,81 mg/gr (Hammad et al. 1996).
Kadar kolesterol pada telur ternyata berkaitan dengan kadar kolesterol pakan
(ransum) ternak. Sebagaimana dijelaskan oleh Nazaruddin dan Kemala (1989) bahwa
puyuh yang sedang bertelur membutuhkan makanan yang cukup kualitas dan
kuantitasnya, karena berpengaruh pada produksi telurnya. Sehingga ada indikasi
bahwa peningkatan kadar lemak pakan juga meningkatkan kadar lemak telur.

I. Binatang Percobaan
1. Sistematika binatang percobaan
Menurut Sugiyanto (1995), sistematika binatang percobaan adalah sebagai
berikut :
Fillum : Chordata
26

Sub Fillum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Sub Kelas : Plasentalia
Bangsa : Rodentia
Suku : Movidae
Marga : Rattus
Jenis : Rattus norvegricus
2. Karakteristik utama tikus
Tikus relatif resisten terhadap infeksi dan sangat cerdas. Tikus pada umumnya
tenang dan mudah ditangani. Aktivitasnya tidak terganggu oleh adanya manusia di
sekitarnya. Dua sifat yang membedakan tikus dari hewan percobaan lain, yaitu bahwa
tikus tidak dapat muntah karena struktur anatomi yang tidak lazim di tempat esofagus
bermuara ke dalam lambung dan tikus tidak mempunyai kandung empedu (Smith &
Mangkoewidjojo 1988).
3. Jenis kelamin
Tikus berjenis kelamin jantan kecepatan metabolisme obat lebih cepat
dibanding tikus betina, pada tikus betina secara berkala dalam tubuhnya mengalami
perubahan kondisi seperti masa kehamilan, menyusui dan menstruasi (Sugiyanto
1995).



27

I. Landasan Teori
Kolesterol merupakan zat yang diperlukan dalam tubuh dalam batas-batas
normal sebagai bahan pembentuk hormon-hormon steroid. Kolesterol diproduksi oleh
hati. Asupan kolesterol yang tinggi akibat pola makan yang tidak sehat dapat
menyebabkan hiperlipidemia yang akan menimbulkan plak dalam pembuluh darah.
Hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya penyakit penyakit jantung koroner.
Komponen utama yang menyebabkan peningkatan risiko PJK adalah kadar kolesterol
total, LDL (Low Density Lipoprotein) dan trigliserida yang tinggi dan kadar
kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) yang rendah.
Berdasarkan kandungan lipid, lipoprotein dibagi menjadi beberapa macam
antara lain kilomikron, VLDL, LDL, HDL. LDL bersifat aterogenik sehingga disebut
kolesterol yang jahat, mudah menempel di dinding pembuluh darah yang
menyebabkan penyempitan pada dinding pembuluh darah. Sedangkan HDL bersifat
antiaterogenik sehingga disebut kolesterol baik dan bekerja baik terhadap jantung
(Tjay dan Rahardja 2002). Menurut Dachriyanus (2007) penurunan kolesterol dapat
dilakukan dengan diet, olah raga, maupun penggunaan obat-obat hipolipidemia
seperti golongan fibrat, resin, penghambat HMG-KoA reduktase (statin) dan asam
nikotinat (niasin).
Tanaman yang dapat menurunkan kadar kolesterol yaitu daun salam.
Penelitian yang dilakukan Pidrayanti (2008) menyatakan bahwa ekstrak daun salam
(Eugenia polyantha Wight.) mampu memberikan efek penurunan kadar LDL pada
dosis 180 mg/200g BB tikus. Daun salam mengandung flavonoid, saponin ,tanin dan
28

niasin. Flavonoid bersifat antioksidan sehingga dapat menghambat oksidasi LDL
pada dinding pembuluh koroner dan memperbaiki fungsi endotel. Pada penelitian in
vitro, antioksidan mempunyai efek menurunkan kolesterol, di mana flavonoid bekerja
sebagai inhibitor enzim HMG-KoA reduktase sehingga sintesis kolesterol dapat
berkurang (Chen et al. 2001).
Saponin dapat menurunkan absorbsi kolesterol. Beberapa hipotesis
menjelaskan bahwa saponin dapat membentuk ikatan kompleks yang tidak larut
dengan kolesterol dari makanan di dalam usus, saponin juga dapat bergabung dengan
asam empedu dan kolesterol dari makanan membentuk micelles yang tidak dapat
diserap oleh usus dan saponin dapat meningkatkan pengikatan kolesterol dari
makanan oleh serat, sehingga kolesterol tidak dapat diserap oleh usus (Arnelia 2004;
Muhtadi 2005). Tanin juga dapat menghambat pembentukan kolesterol dengan cara
bereaksi dengan protein mukosa dan sel epitel usus sehingga dapat menghambat
penyerapan lemak (Dorland 2002). Berdasarkan hal ini, diduga daun salam yang
mengandung flavonoid, saponin, tanin dan niasin dapat menurunkan kadar kolesterol
darah.
Niasin adalah salah satu dari komponen vitamin B kompleks yang telah lama
diketahui efektif menurunkan kadar lipid plasma. Mekanisme kerja niasin yaitu
dengan cara mencegah kumulasi siklik AMP akibat hormon lipolitik. Penurunan
aktivitas enzim ini menyebabkan berkurangnya pelepasan asam lemak bebas yang
seterusnya menyebabkan produksi trigliserid di hati dan pelepasan trigliserid ke
dalam plasma menurun. Selain itu diduga bahwa obat ini meningkatkan aktivitas
29

lipase lipoprotein sehingga penyingkiran trigliserid kilomikron dari plasma
dipercepat. Niasin dapat juga mengurangi kadar kolesterol dengan cara melibatkan
penghambatan sekresi VLDL, yang selanjutnya menurunkan produksi LDL (Katzung
2002). Menurut Agung (2008) niasin bekerja dengan meningkatkan produksi Apo-A1
di hati dan memperlambat pembersihan Apo-A1 dan HDL dengan mekanisme yang
belum diketahui, sehingga dapat meningkatkan level Apo-A1 sebagai prekursor
pembentuk HDL dan meningkatkan HDL.
Berdasarkan hal di atas maka akan dilakukan penelitian tentang pengaruh
pemberian kombinasi ekstrak daun salam dan niasin terhadap penurunan kadar LDL
dan kenaikan kadar HDL. Menurut diasys metode yang dipakai untuk pengukuran
kadar HDL adalah metode HDL Precipitant sedangkan pengukuran kadar LDL
menggunakan metode LDL Precipitant. Kemudian keduanya dilanjutkan dengan
metode CHOD-PAP. Sebagai kontrol pembanding digunakan niasin.

J. Hipotesis
Berdasarkan pada permasalahan yang ada dapat disusun hipotesis dalam
penelitian yaitu:
Pertama, kombinasi ekstrak daun salam (Eugenia polyantha Wight.) dan
niasin dapat menurunkan kadar LDL dan menaikkan kadar HDL pada tikus putih
jantan galur wistar.
30

Kedua, kombinasi ekstrak daun salam (Eugenia polyantha Wight.) dan niasin
pada dosis tertentu mempunyai pengaruh paling efektif dalam menurunkan kadar
LDL dan menaikkan kadar HDL pada tikus putih jantan galur wistar.