Anda di halaman 1dari 14

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA PRIA DAN WANITA BERDASARKAN

IPK TINGKAT AKHIR PADA MAHASISWA/I 2009 FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
Karya Tulis Ilmiah
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran

Oleh:
Vany Catlea Putri
08711027

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2012




BAB I. PENDHULUAN
1.1. Latar Brelakang Masalah
Memasuki abad ke XXII, masyarakat Indonesia menghadapi berbagai masalah, terutama
masalah sosial, moneter dan ekonomi dengan kondisi yang semakin terpuruk.Kesenjangan sosial
semakin nampak, pengangguran bertambah, lapangan kerja semakin menyempit. Resultante
terhadap kondisi yang semacam ini akan mengakibatkan terjadinya frustasi, konflik dan stres. Dan
pada akhirnya akumulasi stres yang bertambah akan menimbulkan kecemasan (Maramis, 2005).
Kecemasan timbul akibat adanya respon terhadap kondisi stres atau konflik.Hal ini biasa
terjadi dimana seseorang mengalami perubahan situasi dalam hidupnya dan dituntut untuk mampu
beradaptasi. Kecemasan mempengaruhi proses berpikir, persepsi dan belajar. Distorsi tersebut dapat
mengganggu belajar dengan menurunkan kemampuan memusatkan perhatian, menurunkan daya
ingat, dan mengganggu kemampuan untuk menghubungkan satu hal dengan hal lain, yaitu untuk
membuat asosiasi (Kaplan dan Sadock, 2005).
Kecemasan merupakan gangguan mental terbesar, diperkirakan 20% dari populasi dunia
menderita kecemasan (Gail, 2002) dan sebanyak 47,7% remaja sering merasa cemas yangprevalensi
(angka kesakitan) gangguan kecemasan pada populasi dunia berkisar pada 6-7%. Dimana kelompok
perempuan lebih banyak dibandingkan prevalensi kelompok laki-laki (Haryadi, 2007).
Remaja (adolescence) adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa
yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikososial. Secara kronologis yang
tergolong remaja berkisar antara usia 12/13 21 tahun,yang tergolong remaja akhir, umumnya
sudah memasuki dunia perguruan tinggi atau dengan kata lain disebut dengan mahasiswa/i.
Terdapat banyak faktor yang boleh menyebabkan seseorang pelajar mengalami stres.Salah satunya
yaitu Mahasiswa/i sebagai remaja mempunyai reputasi berani mengambil resiko paling tinggi
dibandingkan periode lainnya.Hal ini pula yang mendorong remaja berpotensi meningkatkan
kecemasan karena kenekatannya sering menggiring pada suatu perilaku atau tindakan dengan hasil
yang tidak pasti. Perilaku nekat dan hasil yang tidak selalu jelas akan membuka peluang besar untuk
meningkatnya kecemasan pada remaja (Darajat, 1998).
Kecemasan dapat terjadi dimanapun dan pada siapapun, juga pada mahasiswa/i.
Mahasiswa/i dengan kesulitan menyesuaikan diri dapat merupakan stressor tersendiri yang akan
menghambat proses belajarmengajar sebagai tujuan utama pendidikan tidaklah sematamata
ditentukan oleh faktorfaktor yang bersifat akademik, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh
faktorfaktor non akademik. Dalam faktor eksternal maupun intenal.Faktor eksternal dapat berupa
dukungan maupun hambatan lingkungan, fasilitas, sistem sosial ekonomi, kondisi alam dan lain
sebagainya.Adapun faktor internal dapat berupa kondisi kesehatan jasmani maupun kondisi
kesehatan psikis atau emosional. Faktor internal memegang peranan yang paling menentukan dalam
keberhasilan proses belajar karena kesehatan psikis seorang mahasiswa dapat berubah dengan
adanya perubahan lingkungan (Setyonegoro,1991).
Setiap individu mempunyai keinginan untuk mencapai sesuatu yang dicitacitakan.Dari
citacita inilah maka kebutuhan untuk berprestasi dimiliki oleh setiap individu.Usaha untuk
mencapai sesuatu kebutuhan berprestasi tidak menutup kemungkinan menyebabkan individu
mengalami tekanan atau stres. Setiap individu mempunyai respon dan cara yang berbeda dalam
menghadapi situasi yang sama. Stres belajar merupakan salah satu jenis stres yang banyak dialami
oleh mahasiswa/i.
Disaat ini dikalangan masyarakat kita sedang mengalami keterpurukan kondisi sosial dan
ekonomi serta semakin menyempitnya lapangan pekerjaan yang menyebabkan semakin tingginya
persaingan untuk mendapatkan pekerjaan, oleh karena itu etos belajar dan orientasi kuliah menjadi
syarat mutlak bagi keberhasilan mahasiswa menjadi sarjana berkualitas yang benar-benar
menguasai kompetensi sesuai disiplin ilmu yang digelutinya. Sehingga tuntutan untuk memiliki IPK
yang bagus semakin tinggi,
Bertolak dari latar belakang diatas peneliti tertarik ingin melihat perbedaan tingkat
kecemasan yg dimiliki anatara mahasia dan mahasiswi baik yang memiliki IPK kurang memuaskan
dan meuaskan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuaraikan diatas, dapat dirumuskan masalah
pada penelitian ini adalah Apakah ada perbedaan tingkat kecemasan antara mahasiswa pria dan
wanita semester akhir tahun ajaran 2009 Fakultas Kedokteran UII terhadap ipk kurang memuaskan
dan memuaskan.
1.3. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan tingkat kecemasan pada
mahasiswa/i semester ganjil tahun ajaran 2009 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia
baik yang memiliki ipk kurang meuaskan dan memuaskan
1.4. Keaslian penelitian
Penelitian mengenai perbedaan tingkat kecemasan anatara pria dan wanita berdasarkan ipk
mahasiswa tingkat akhir 2009 FK Universitas Islam Indonesia belum pernah ada yang meneliti
tetapi ada beberapa penelitian yang hampir sama yang pernah diteliti oleh:
1. Dona Fitria Sari (2007) yang berjudul hubungan antara toleransi stress dengan indeks
prestasi pada mahasiswa baru fakultas kedokteran universitas Islam Indonesia semester dua
angkatan 2004. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui indeks prestasi mahasiswa baru
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia semester dua (II) angkatan 2004, Mengetahui
toleransi terhadap stres pada mahasiswa baru Fakultas, Kedokteran Universitas Islam Indonesia
semester dua (II) angkatan 2004, Mengetahui hubungan antara toleransi terhadap stres dengan
indeks prestasi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia semester, dua (II)
angkatan 2004.dimana hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah Frekuensi toleransi terhadap
stres pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Islam Indonesia angkatan 2004 ada 90,5 %
baik dan sisanya 9,5 % toleransi terhadap stres kurang. Frekuensi indeks prestasi pada mahasiswa
fakultas kedokteran Universitas Islam Indonesia angkatan 2004 terdapat 9,5 % kuang memuaskan,
30,2 % memuaskan, 47,6 % sangat memuaskan dan 12,7 % dengan pujian. Tidak terdapat
hubungan antara toleransi terhadap stres dengan indeks prestasi pada mahasiswa fakultas
kedokteran Universitas Islam Indonesia angkatan 2004.
2. Penelitian Andy Aprianto tahun 1998 yang berjudul Perbandingan Tingkat Kekebalan Stress dan
Derajat Stres Mahasiswa Fakultas Kedokteran dengan mahasiswa Fakultas Ekonomi di Universitas
Gadjah Mada dengan menggunakan instrument penelitian Skala Holmes. Penelitian ini
menggunakan metode cros-sectional observasi dengan uji statistik Student T Test yang bertujuan
untuk menggambarkan perbedaan tingkat kekebalan terhadap stres dan derajat stress psikososial
antara mahasiswa fakultas kedokteran dan mahasiswa fakultas ekonomi UGM dengan hasil yang
diperoleh adalah terdapat perbedaan tingkat kekebalan terhadap stress pada kedua populasi yang
diteliti.
1.5. Manfaat penelitian
1.5.1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan akan menambah informasi mengenai perbedaan tingkat kecemasan pada
posisi yang berbeda dalam suatu komunitas yaitu antara mahasiswa berprestasi dan kurang
berprestasi.
1.5.2. Masyarakat
Untuk masyarakat diharapkan dapat menambah wawasan tentang stres dan apa saja faktor
pencetusnya terutama bagi orang tua yang mempunyai anak usia sekolah sehingga dapat membantu
memberi dukungan dan membantu menyelesaikan apabila anak menghadapi masalah yang dapat
menimbulkan stres.
1.5.3. Peneliti
Selain untuk menyelesaikan salah satu syarat kelulusan, penelitian ini jugadiharapkan dapat
memperdalam pengetahuan peneliti mengenai stres dan permasalahan yang ada pada mahasiswa.

BAB.II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Definisi Kecemasan
Istilah kecemasan berdasarkan pengertian tradisional menunjuk kepada keadaan emosi yang
menentang atau tidak menyenangkan yang meliputi interpretasi subyektif dan aurosal atau
rangsangan fisiologis arau reaksi badan secara fisiologis, seperti beernafas llebih cepat, menjadi
marah, jantung berdebar-debar dan berkeringat (Clerq,1994).
Kecemasan digambarkan sebagai state anxiety atau trait anxiety (cattell & scheeiner, 1961;
spielberger 1972 cit. clerq, 1994). State anxiety adalah reaksi emosi sementara yang timbul pada
situasi tertentu, yang dirasakan sebagai suatu ancaman. State anxiety sangat beragam dalam hal
intensitas dan waktu, sebagai contoh yaitu mengikuti ujian dan kencan pertama. Keadaan ini
ditentukan oleh perasaan ketegangan yang subyektif. Trait anxiety menunjuk pada ciri atau sifat
seseorang yang cukup stabil yang mengarahkan seseorang untuk menginterpretasikan suatu keadaan
sebagai ancaman yangdisebut dengan anxiety proneness(kecendrungan akan kecemasan). Orang
tersebut cendrung untuk merasakan berbagai keadaan sebagai keadaan yang membahayakan atau
mengancam dan cenderung menanggapi dengan reaksi kecemasan( Spielberger, 1972 cit. Harjito
K., 2001)
Kecemasan adalah kekhawatiran, ketakutan terhadap sesuatu yang akan terjadi yang
dihubungkan dengan sumber yang tidak dikenali dari bahaya yang diantisipasi (Freudmen dkk,
1980). Kecemasan juga berarti isyarat adanya ancaman terhadap nila-nilai yang dipegang oleh
individu sebagai eksistensi kepribadiannya. Merupakan isyarat aktual dan simbolik adanya bahaya
terhadap harga diri dihadapanornag yang berarti, dan pendapat lain menerangkan bahwa kecemasan
merupakan konflik-konflik yang berbeda.
Karpenito cit. harjdito (2001) menjelaskan bahwa kecemasan adalah keadaan dimana
individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi system syaraf autonomy dalam
berespon terhadap ancaman tidak jelas, non spesifik.Kecemasan adalah perasaan yang tidak jelas
tentang keprihatinan dan khawatir karena ancaman pada system nilai atau pola keamanan sesorang
(May, 1987).Bahar (1995) mengemukakan bahwa dahulu stress dan ansietas dipandang sebagai dua
hal yang berbeda, walaupun sering kali tidak jelas atau tidak dapat ditegaskan dalam yang keduanya
berbeda. Namun sekarang terdapat banyak pendapat yang memandang bahwa keduanya
sesungguhnya mengacu pada satu kualitas afektif yang sama yaitu anxietas atau kecemasan,
ketegangan. Perbedaaannya hanyalah pada penekanannya saja.Istilah stress merupakan pandangan
social (non medik), sedangkan anxietas merupakan pandangan klinik (psikiatri).Kesamaan
keduanya juga terlihat dari samanya komponen somatic pada keduanya.Umumnya komponen
somatic ini berkaitan dengan stimulasi simpatis dimana terjadi peninggian cathecholamin dalam
darah, terutama nor adrenalin suatu stimulant beta adrenargik.
2.1.2.Teori Etiologi Gangguan Kecemasan
a. Teori Psikodinamis
Pandangan ini mengasumsikan bahwa sumber kecemasan adalah konflik internal dan tidak
disadari.Freud menganggap bahwa kecemasan fobia sebagai hasil dari konflik yang tidak sadar
yang terpusat pada dorongan agresif dan atau seksual yang tidak terpecahkan pada tahap oedipal.
b. Teori Behavioral
Kecemasan digerakkan oleh pristiwa yang eksternal daripada konflik yang
internal.Kecemasan merupakan prilaku yang dipelajrai. Dalam teori ini dikenal ebberapa macam
model behavioral yaitu:
classic(aversive)conditioning (pengalaman trauma langsung), model ini berpendapat bahwa tingkah
laku yang diperkuat cendrung utnuk terulang kembali, sementara tingkah laku yang tidak diperkuat
akan hilang . modeling atau obsevatinal learning, anak dengan fobia sering memiliki orang tua yang
me,punyai ketakutan yang sama. Intermitten reinforcement atau penguatan sebebntar-bentar, bila
diberikan oleh orang tua atau orang lain terhadap tingkah laku fobis pada anak-anak, tampaknya
sangt kuat dalam mempertahankan tingkah laku tersebut.
c. Social Learning Theory (SLT)
Menurut teori belajar SLT, proses kognitif menengahi pengaruh kejadian lingkungan dengan
perkembangan kecemasan dan tingkah laku fobia.SLT merupakan kombinasi pandangan behavioral
dan kognitif. Pandangan kognitif mamusatkan pada bagaimana ornag cemas berfikir tentang situasi
dan bahaya potensial. Seringkali orang cemas cenderung membuat situasi menjadi tidak realistis,
mereka terlaulu menaksir bahwa adanya kemungkinan bahaya dan tingkat bahaya yang tinggi
(Bandura, 1977) atau mereka merasa kurnag mampu untuk mengontrol situasi-situasi tertentu.Cara
seseorang memandang dan menginterpretasi suatu pristiwa dapat berpengaruh terhadap tingkah
lakunya.
2.1.3. Tingkat Kecemasan
a. kecemasan ringan, merupakan kecemasan yang normal, meningkatkan motivasi sehingga dapat
menyiapkan untuk bertindak, rangsangan siap diinternalisasi, motivasi individu dalam kehidupan,
individu mampu memecahkan masalah secara efektif.
b. kecemasan sedang, para individu mengalami lapang persepsi yang menyempit, belajar dengan
arahan orang lain, rangasang luar tidak mempu diterima tapi sangat memperhatikan hal-hal yang
menjadi pusat perhatian.
c. kecemasan berat, pusat perhatian detail dan kecil, lapang persepsi sangat kurang dan individu
tdiak memapu memecahkan maslah dengan cara belajar.
d. panik, individu kacau sehingga berbahaya untuk diri dan ornag lain, tidak mempu bertindak,
agitasi dan hiperaktif.
2.1.4. Penilain Tingkat Kecemasan.
Sebagai alat ukur uuntuk kecemasan digunakan anolog anxiety scale (AAS) yang
merupakan modifikasi dari Hamilton rating scale for anxiatety (HRSA) yaitu suatu skala
kecemasan stadar yang dapat diterima secara nternational. Dalam skala ini dikenal 6 gejala klinis
kecemasan yaitu: cemas, tegang, takut, insomnia, tidak bias konsentarasi da depresi atau sedih. Skor
yang diperoleh kemudian digolongkan menjadi:
Tidak ada kecemasan bila skor kurang dari 150
Kecemasan ringan bila skor 150-199
Kecemasan sedang bila skor 200-299
Kecemasan berat bila skor 300-399
Kecemasan luar bias abila skor lebih dari 400
2.1.5. Respon Terhadap Kecemasan
Respon fisiolgis, pada kardiovaskuler dijumpai palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah
meningkta, denyut nadi dan tekanan nadi menurun, shock. Pada respirasi nafas cepat dan dangkal,
rasa tertekan pad adada, rasa tercekik dan dan pada system kulit akan muncul perasaan panas atau
dingin pada kulit, muka pucat, berkeringat seluruh tubuh, rasa terbakar pada muka, telapak tangan
berkeringat, dan gatal-gatal. System neuromuskel menunjukkan refelek meningkat, reaksi kejutan,
mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, kaku, gelisah, wajah tegang dan gerakan lambat.Anoreksia,
rasa tidak nyaman diperut, rasa terbakar pada jantung, nausea dan diare merupakan respon yang
terjadi pada gastro intestinal, sedangkan pada saluran kemih didapatkan sering kencing dan atau
tidak bida menahan kencing.
Tiga hal yang merupakan respon psikologis adalah prolaki, kognitif, dan afektif. Prilakuk
yabg terjadi adalah gelisah, tremor, gugup, bicara cepat, tidak ada koordinasi, menari diri,
menghindar, peada kognitif mengalami gangguan perhatian, konsentrasi hilang, pelupa, salah tafsir,
bloking, bingung, lapang persepsi menuru, kesadaran diri yang berlebihan, kuatir berlebihan,
obyektifitas menurun, takut kecelakaan atau mati, dan sebagainya, sedangkan pada afektif, tidak
sabar, tegang, nervousness, terror, gugup yang luar biasa dan gelisah.
2.1.6. Efidemiologi
Menurut fortinash KM dan Holoday PA (1995) kecemasan lebih banyak rterjadi pada wanita dan
biasanya muncul sebelum usia 30 tahun. Kecemasan dialami oleh 1% dampai 5% dari total
populasi.
2.2. Karangka Konsep













Keterangan:

=

2.3. Hipotesis Penelitian
Terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara pria dan wanita semester akhir Fakultas kedoteran
Universitas Islam Indonesia.
Variable terikat:
Indeks prestrasi kurang
memuaskan
Indeks prestasi
memuaskan

Variable bebas:
Tingkat kecemasan
Variable pengganggu
terkendali: jumlah
blok yang diambil
Variable pengganggu
tidak terkendali:
Usia
Jenis kelamin
Asal
Agama
Tempat tinggal
diteliti
= Tidak
diteliti
BAB.III
Metodologi Penelitian
3.1. Rancnagan penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif analitik dengan rancangan
metodecrosssectional (Sudigdo,2008). Metode yang digunakan adalah metode survey.Data yang
digukan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari kuesioner.
3.2. Populasi dan Sampel
3.2.1. populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua mahasiswa/i fakultas kedokteran Universitas Islam
Indonesia angkatan 2009 dengan kriteria :
1. Mahasiswa Fakultas kedokteran Universitas Islam Indonesai semester akhir angkatan 2009.
2. Bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.
3.2.1. Sampel
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat kecemasan
mahasiswa laki-laki dan wanita antara ipk memuaskan dan tidak memuaskan.Untuk mengetahui
besarsampel, peneliti menetapkan rumus yang digunakan adalah analitik katagorik tidak
berpasangan (sopiyudin, 2009):
N = (


N = (


N = 92
N = Besar sampel
Z = Deviat baku alpa = 1,96
Z = Deviat baku beta = 0,84
P = Proporsi total = 0,6
Q = 1 P = 0,4
P
1
= Proporsi pada kelompok yang nilainya merupakan judgment peneliti = 0,7
P
2
= Proporsi pada kelompok yang sudah diketahui nilainya = 0.5
P
1
- P
2
= Selisih proporsional minimal yang bermakna = 0,2
Q
1
= 1 P
1
= 0,3
Q
2
= 1 P = 0,5
Dari rumus tersebut didapatkan perkiraan besar sampel sebanyak 92 orang sebagai subyek
penelitian.

3.3. Variabel Penelitian
Terdiri atas variabel bebas dan terikat :
1. Variabel bebas adalah tingkat kecemasan .
2. Variabel terikat adalah indeks prestasi.
3.4. Definisi Operasional
1. Indeks Prestasi (IP) adalah angka yang memperlihatkan pencapaian seseorang dalam belajar atau
bekerja selama jangka waktu tertentu. Pada penelitian ini IP yang digunakan adalah IP pada
semester 6, dengan interpretasi :
a. Kurang Memuaskan : dengan IP < 2,00
b. Memuaskan : dengan IP >2.00
2. Tingkat kecemasan adalah suatu keadaan jiwa yang digolongkan menurut skor penilaian dari
anolog anxiety scala (AAS) dengan rentang skore kurang dari 150 adalah tidak ada kecemasan dan
skor 150 keatas adalah mengalami kecemasan
3.5. Instrumen Penelitian
Subyek penelitian diberi kuesioner yang berisi dua macam format isian untuk diisi dan
dikumpulkan/ kedua macam format isisan ini adalah :
1. Identitas responden meliputi umur, nomor mahasiswa, jenis kelamin.
2. Analog anxiety scale.
Sebagai alat ukur untuk kecemasan nalog anxiety scale (AAS) merupakan modifikasi dari Hamilton
rating svale for anxiety (HRSA) yaitu suatu skala kecemasan standar yang yang dapat diterima
secara international. Dalam skala ini dikenal 6 gejala klinis kecemasan yaitu: cemas, tegang, takut,
insomnia, tidak bias konsentrasi dan depresi atau sedih. Pengukuran kecemasan dengan AAS cukup
valid dan realibel. Dimana Yul iskandar cit. hidayanto pada penelitiannya mendapatkan korelasi
yang cukup dengan HRSA (r=0,57 sampai 0,84) yang menunjukkan bahwa AAS cukup valid untuk
digunakan.
3. Indeks prestasi
Yang dimaksud dengan indeks prestasi adalah angka yang memperlihatkan pencapaian seseorang
dalam belajar atau bekerja selam jangka waktu tertentu.Pada penelitian ini IP yang dipakai adalah
IP semester 6.

3.6. Tahap Penelitian
Tahap proposal Tahap penelitian
Observasi

Pengajuan judul

Pengumpulan referensi

Pembuatan proposal

Bimbingan proposal

Seminar proposal
Pengajuan surat penelitian

Penelitian di RSUD

Penyusunan KTI

Bimbingan KTI

Ujian hasil KTI

3.7. Analisis Data
Sesuai rancangan analitik yang digunakan, semua data yang berasal dari kuesioner mengenai
tingkat kecemasan mahasiswi pria dan wanita akan dianalisis dengan menggunakan uji statistik
meliputi (sopiyudin, 2009):

1. Analisis univariat
Analisis ini merupakan analisis deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui frekuensi distribusi dari
variable terikat dan variable bebas serta prosentasenya.
2. Analisis bivariat
Analisis ini digunakan untuk mengetahui terdapat hubungan anatara variable pada penelitian yaitu
perbedaaan dari tingkat kecemasan yang dianalisis dengan chi square.

3.8. Etika penelitian
Dalam mengadakan penelitian, peneliti akan berusaha memperhatikan hak-hak responden
sebagai subyek penelitian yang meliputi:
1. Memberikan informasi tentang mekanisme atau proses penelitian sebagai calon responden dan
sehingga responden memahami dan dapat diharapkan berpartisipasi dalam penelitian ini.
2. Anonymity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan subyek, peneliti tidak menacantumkan nama tetapi diganti dengan kode
nomor.
3. Confidentially (kerahasiaan)
Peneliti akan menjaga kerahasiaan responden sebagai subyek peneliti.



Daftar pustaka
Hardjito k., 2001.Hubungan Antara Persepsi Mahasiswa Keperawatan Tentang Tahap Pendididkan
Profesi Dengan Tingkat Kecemasan Dalam Melaksanakan Tahap Profesi. Karya tulis ilmiah
program studi ilmu keperawatan fakultas kedokteran Universitas Gajah Mada.
Clerq, L.D. (1994). Tingkah Laku Abnormal Dari Sudut Pandang Perkembangan .Jakarta, PT gresindo.
Hidayanto, M. (1998).Beda Tingkat Kecemasan Anatara Pekerja Pria Dan Wanita Yang Bekerja
Diperusahaan Rambak Kulit Desa Segoroyoso, Pleret Bantul Yogyakarta.Karya tulis ilmiah tidak
diterbitkan.
Abraham, C. & shanly, E. (1997).Psikologi Social Untuk Perawat . Jakarta:EGC \
Fortinash, K.T. & Holoday PA.(1995). Psychiatric Nursing Care Plans (second edition).Mosby year book.
Aprianto A. (1998). Perbandingan Tingkat Kekebalan Stress Dan Derajat Stress Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Dengan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Di Universitas Gajah Mada.Karya tulis ilmiah,
fakultas kedokteran UGM.
Widurri, 2005.Hubungan Antara Persepsi Masyarakat Menyaksikan Tayangan Mistik Dengan Tingkat
Kecemasan Pada Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM,
Prog.SIK Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta.
Gail, Stuart W. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC, p:144.
Kaplan, H.I & Saddock, B.J. 2005.Sinopsis Psikiatri. 8th ed. Jakarta: Bina Rupa
Aksara, pp:1-8.
Maramis, W.F. 2005.Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press, pp:38, 107,
252-254.
Haryadi, Doddy. 2007. Perilaku Bermasalah Remaja Muncul Lebih Dini.http://www.duniaguru.com.
Diakses pada tanggal 27April 2012).
Dahlan, Sopiyudin., 2009. Besar Sampel dan Cara Pengembilan Sampel Dalam Penelitian Kedokteran
Dan Kesehatan. Salemba Medika, Jakarta.
Dahlan, Sopiyudin., 2009.Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan, Salemba Medika, Jakarta
Sastroasmoro, Sudigdo., 2008. Dasar-DasarMetodelogi Penelitian Klinis. Sugeng Seto, Jakarta
Solomon, Philip & Patch, Vernon D.1974.Handbook of Psychiatry. 3rd ed. Jepang,
pp:50-53.
Setyonegoro, R.K. 1991. Anxietas dan Depresi suatu Tinjauan Umum tentang Diagnostik dan Terapi dala,
Depresi: Beberapa Pandangan Teori dan Implikasi
Praktek di Bidang Kesehatan Jiwa.Jakarta, pp: 1-16.
Z, Daradjat.1988. Kesehatan Mental. Jakarta: CV Aji Masagung, p:106.

Anda mungkin juga menyukai