Anda di halaman 1dari 17

REFERAT KONSERVASI GIGI

PEDOMAN MENGENAI RESIN KOMPOSIT PADA


GIGI POSTERIOR

DISUSUN OLEH:
GHEANTISA R P PANDEIROT 2012-16-129
ZAKA SHAHNAZ E R, SKG 2013-16-035

PEMBIMBING:
drg. GRACE SYAVIRA S, Sp.KG

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2014



BAB I
PENDAHULUAN
Kedokteran gigi operatif tetap menjadi andalan dari praktek kedokteran
gigi. Hal ini menyumbang unsur yang sangat besar dari perawatan kesehatan
mulut yang diberikan oleh para praktisi dental setiap harinya. Sebagian besar
perawatan ini terdiri dari pencegahan dan diagnosis karies, restorasi gigi yang
sakit dan rusak, dan pengawasan serta perawatan gigi yang direstorasi pada
sebelumnya. Penggantian restorasi yang rusak terus menjadi prosedur yang sangat
umum dilakukan.
1
Secara tradisional, di sebagian besar negara di dunia, dental amalgam telah
menjadi bahan yang paling umum digunakan untuk restorasi gigi posterior yang
terkena karies. Telah banyak berkembanganya kedokteran gigi operatif dalam
beberapa tahun terakhir, termasuk perubahan progresif dalam penggunaan resin
komposit, bukan lagi penggunaan dental amalgam, dalam restorasi gigi posterior.
Perubahan ini memungkinkan penerapan pendekatan dengan intervensi minimal,
sehingga membantu melindungi dan melestarikan struktur dan sisa jaringan gigi.
Pedoman, didasarkan pada bukti terbaik yang ada, ini telah dibuat sehubungan
dengan aspek-aspek tertentu dari teknik penempatan resin komposit pada gigi
posterior.
1




BAB II
RESIN KOMPOSIT
2.1 Sejarah
Sebenarnya komposit sudah ada sejak dahulu, ini dapat kita lihat
manusia dulu telah berusaha untuk menciptakan berbagai produk yang terdiri
dari gabungan lebih dari satu bahan untuk menghasilkan suatu bahan yang
lebih kuat, contohnya penggunaan jerami pendek untuk menguatkan batu bata
di mesir, panah orang mongolia yang menggabungkan kayu, otot binatang,
sutera, dan pedang samurai jepang yang terdiri dari banyak lapisan oksida
besi yang berat dan liat. Tetapi dengan kemajuan zaman maka manusia mulai
berfikir untuk mengoptimalkan nilai efisiensi terhadap suatu produk. Maka
para ahli mulai menyadari bahwa material tunggal (homogen) memiliki
keterbatasan baik dari sisi mengadopsi desain yang dibuat maupun kondisi
pasar. Kebanyakan teknologi modern memerlukan bahan dengan kombinasi
sifat-sifat yang luar biasa yang tidak boleh dicapai oleh bahan-bahan lazim
seperti logam besi, keramik, dan bahan polimer. Ini dapat kita lihat dari bagi
bahan yang diperlukan untuk penggunaan dalam bidang angkasa lepas,
perumahan, perkapalan, kendaraan dan industri pengangkutan. Bidang-bidang
tersebut membutuhkan density yang rendah, flexural, dan tensile yang tinggi,
viskositas yang baik dan hantaman yang baik.
2




2.2. Definisi
Menurut Matthews dkk. (1993), komposit adalah suatu material
yang terbentuk dari kombinasi dua atau lebih material pembentuknya melalui
campuran yang tidak homogen, dimana sifat mekanik dari masing-masing
material pembentuknya berbeda. Dari campuran tersebut akan dihasilkan
material komposit yang mempunyai sifat mekanik dan karakteristik ini yang
berbeda dari material pembentuknya. Material komposit mempunyai sifat dari
material konvensional pada umumnya dari proses pembuatannya melalui
percampuran yang tidak homogen, sehingga kita leluasa merencanakan
kekuatan material komposit yang kita inginkan dengan jalan mengatur
komposisi dari material pembentuknya. Komposit merupakan sejumlah
sistem multi fasa sifat dengan gabungan, yaitu gabungan antara bahan matriks
atau pengikat dengan penguat. Kita bisa melihat definisi komposit ini dari
beberapa tahap seperti yang telah digariskan oleh Schwartz
2
:

a. Tahap/Peringkat Atas
Suatu bahan yang terdiri dari dua atau lebih atom yang berbeda
bolehlah dikatakan sebagai bahan komposit. Ini termasuk alloy
polimer dan keramik. Bahan-bahan yang terdiri dari unsur asal saja
yang tidak termasuk dalam peringkat ini.
b. Tahap/Peringkat Mikrostruktur
Suatu bahan yang terdiri dari dua atau lebih struktur molekul atau fasa
merupakan suatu komposit. Mengikuti definisi ini banyak bahan yang


secara tradisional dikenal sebagai komposit seperti kebanyakan bahan
logam. Contoh besi keluli yang merupakan alloy multifusi yang terdiri
dari karbon dan besi.
c. Tahap/Peringkat Makrostruktur
Merupakan gabungan bahan yang berbeda komposisi atau bentuk bagi
mendapatkan suatu sifat atau ciri tertentu. Dimana konstituen
gabungan masih tetap dalam bentuk asal, dimana dapat ditandai secara
fisik dan melihatkan kesan antara muka antara satu sama lain.
Menurut Agarwal dan Broutman, yaitu menyatakan bahwa bahan
komposit mempunyai ciri-ciri yang berbeda untuk dan komposisi untuk
menghasilkan suatu bahan yang mempunyai sifat dan ciri tertentu yang
berbeda dari sifat dan ciri konstituen asalnya. Disamping itu konstituen asal
masih kekal dan dihubungkan melalui suatu antara muka. Konstituen-
konstituen ini dapat dikenal pasti secara fisikal. Dengan kata lain, bahan
komposit adalah bahan yang heterogen yang terdiri dari dari fasa tersebar dan
fasa yang berterusan. Fasa tersebar selalunya terdiri dari serat atau bahan
pengukuh, manakala yang berterusannya terdiri dari matriks.
2
Komposit adalah suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang terdiri
dari dua atau lebih bahan dimana sifat masing-masing bahan berbeda satu
sama lainnya baik itu sifat kimia maupun fisika dan tetap terpisah dalam hasil
akhir bahan tersebut (bahan komposit). Jika perpaduan ini terjadi dalam skala


makroskopis, maka disebut sebagai komposit. Sedangkan jika perpaduan ini
bersifat mikroskopis (molekular level), maka disebut sebagai alloy (paduan).
2
Komposit berbeda dengan paduan (alloy), bahwa alloy (paduan)
adalah kombinasi antara dua bahan atau lebih dimana bahan-bahan tersebut
terjadi peleburan sedangkan komposit adalah kombinasi terekayasa dari dua
atau lebih bahan yang mempunyai sifat-sifat seperti yang diinginkan dengan
cara kombinasi sistematik pada kandungan-kandungan yang berbeda
tersebut.
2
2.3. Komposisi dan Klasifikasi
Secara umum, komposisi resin komposit terdiri dari tiga bagian besar,
yakni
3
:
A. Matriks resin, terdiri dari :
Monomer (Bis-GMA / bisphenol A-Glycidil methacrylate).
Urethane Dimethacrylate.
B. Partikel pengisi, terdiri dari:
Glass / kaca
Quartz
Koloid silika
C. Bahan Coupling, seperti organo silanes yang berperan dalam pembentukan
ikatan kimia antara partikel pengisi dan matriks resin. Bahan ini berfungsi
untuk memperbaiki sifat fisik dan mekanik resin dan mempertahankan


stabilitas hidrolitik resin dengan cara mencegah air masuk ke dalam ruang
yang terdapat antara partikel pengisi dan resin.
D. Bahan tambahan lainnya, seperti:
Inhibitor seperti hidrokuinon yang berfungsi untuk mencegah
polimerisasi yang prematur pada saat penyimpanan resin komposit.
UV absorber yang berfungsi untuk mempertahankan stabilitas warna
resin komposit.
Pigmen warna yang membuat resin komposit memiliki warna yang
menyerupai gigi.
Opacifiers seperti titanium dioksida dan aluminium oksida yang
berfungsi membuat warna resin komposit terlihat opak.
Resin komposit dapat diklasifikasikan ke berbagai jenis. Berdasarkan ukuran
partikel bahan pengisi, jenis resin komposit dibagi empat, yakni
3
:
Traditional/makrofiller
Mikrofiller
Partikel kecil
Hibrid
Disamping klasifikasi berdasarkan ukuran partikel bahan pengisi, resin
komposit juga dapat diklasifikasikan menurut mekanisme polimerisasi, yakni
3
:
A. Resin yang diaktifkan secara kimia.
3

Resin jenis ini terdiri dari dua pasta yakni base paste berupa benzyl
peroxide initiator dan catalyst paste berupa tertiary amine activator.
Pengunaannya : saat kedua pasta di atas dicampurkan, tertiary amine activator


akan bereaksi dengan benzyl peroxide initiator sehingga radikal bebas akan
menyebabkan reaksi polimerisasi.
3
B. Resin yang diaktifkan dengan sinar
3

Ada dua jenis sinar yang dipakai pada resin ini, yakni:
Sistem aktivasi dengan menggunakan sinar ultra violet (UV). Sinar UV
digunakan untuk merangsang pembentukan radikal bebas yang
dibutuhkan untuk memulai polimerisasi. Sinar UV memiliki penetrasi
yang kurang baik sehingga tidak efektif pada resin komposit yang
tebal.
Sistem aktivasi dengan menggunakan cahaya tampak. Cahaya tampak
memiliki panjang gelombang 468 nm dan mampu penetrasi sampai
ketabalan 2 cm. Sistem ini terdiri dari pasta yang mengandung photo
inisiator berupa camphoroquinone 0,25 % dan amine accelerator
berupa diethyl amino ethyl methacrylate 0,15 %.
2.4. Keuntungan dan kerugian resin komposit
4
1. Keuntungan
Estetik yang baik
Konduktivitas suhu yang rendah
Perlekatan mekanik yang baik ke struktur gigi
Tidak mengandung merkuri atau galvanism
Menguatkan struktur gigi



2. Kerugian
Membutuhkan teknik yang rumit
Membutuhkan waktu yang lama dalam penempatan restorasi
Pengerutan sewaktu polimerisasi
Adanya mikroleakage
Keausan permukaan oklusal yang signifikan
Harganya relatif mahal














BAB III
PEDOMAN MENGENAI RESIN KOMPOSIT PADA GIGI POSTERIOR
3.1. Teknik
1
Akademi kedokteran gigi dari eropa tidak ingin menentukan pilihan teknik
untuk penumpatan resin komposit pada gigi posterior. Hal ini dikarenakan bahwa
berbagai macam teknik terus meningkat, bahan dan instrumen yang adapun sangat
memfasilitasi penumpatan resin komposit di gigi posterior. Demi kepentingan
terbaik dari pasien, bagaimanapun juga, dengan tujuan meningkatkan
prediktabilitas restorasi resin komposit posterior, Akademi kedokteran gigi dari
eropa beranggapana perlu dalam menjelaskan bukti yang relevan terhadap
berbagai aspek aplikasi restorasi resin komposit dalam gigi posterior. Dalam
kondisi apapun resin komposit harus digunakan secara ketat dengan arahan dari
produsen yang bersangkutan. Teknik operatif harus mencakup penggunaan alat
bantu pembesaran dan harus teliti dalam pembuatan detailnya.
3.2. Kontra Indikasi
1
Terdapat kontra indikasi yang relatif sedikit dalam penumpatan resin
komposit pada gigi posterior. Kontraindikasi ini dibagi bersama dengan bahan
restorasi lainnya, terutama lingkungan didalam mulut yang dimana restorasi akan
memiliki resiko kegagalan lebih awal. Kontrol kelembaban yang baik sangat
penting selama penumpatan resin komposit pada gigi posterior, khususnya
kegagalan bonding adesif. Penggunaan secara efektif rubber dam merupakan hal
yang sangat ideal.



3.3. Keadaan Khusus
1
Dengan adanya perubahan dan abnormalnya email dan dentin,
sebagaimana yang terjadi dalam kondisi yang langka seperti amelogenesis dan
dentinogenesis imperfecta, tetapi dapat terjadi pada kondisi yang lebih umum,
Sebagai contoh, sisa dentin yang terkena oleh karies atau sklerosis, bonding adesif
yang berhasil mungkin akan sulit untuk dilakukan. Dalam situasi seperti ini pasien
harus diberitahu tentang komplikasi dan konsekuensi yang mungkin terjadi, serta
pertimbangan harus diberikan terhadap penumpatan restorasi 'percobaan' untuk
mengetahui kemungkinan komplikasi pasca operasi dan kegagalan lebih awal.
Dalam kasus-kasus sulit misalnya dengan lesi yang sangat dalam / besar mungkin
sebuah alternatif harus diberikan, mungkin penggunaan pendekatan secara
indirect, pasti akan lebih yang invasif daripada penggunaan resin komposit dengan
bonding adesif.
3.4. Desain Kavitas
1
Sebagaimana salah satu keuntungan utama dari penggunaan resin
komposit adalah kesempatan untuk menggunakan pendekatan secara intervensi
minimal untuk restorasi gigi, kesempatan tersebut harus selalu diambil dan
digunakan untuk merealisasikan keuntungan semaksimal mungkin.
Akses dan manajemen yang sesuai tentang karies, seharusnya tidak perlu
dilakukan untuk perbesaran preparasi. Ketika mendesain kavitas akan menjadi
lebih masuk akal untuk mengidentifikasi kontak oklusal dengan
mengartikulasikan kertas lebih dulu. Idealnya kontak oklusal harus tetap pada
email jika memungkinkan. Dengan asumsi penerapan indikasi yang tepat untuk


melakukan intervensi operasi, persiapan tidak perlu diperdalam, dengan
keyakinan bahwa tindakan tersebut akan meningkatkan sifat mekanik dari
restorasi yang tlah selesai.
3.5. Penatalaksanaan Operatif Pada Dentin Yang Terbuka
1
Keputusan untuk membonding resin komposit pada gigi posterior secara
langsung tanpa ditempatkan pelapis atau base, dapat menyebabkan dentin terbuka,
hal ini menjadi penyebab kekhawatiran bagi banyak praktisi. Keputusan untuk
menempatkan pelapis atau base sebelum menempatkan resin komposit pada gigi
posterior tampaknya mengikuti teknik tradisional yang digunakan dalam
penempatan amalgam dalam ketinggian minimum. Sebagaimana resin komposit
tidak mengkonduksi panas dalam cara yang sama sebagai restorasi logam, akan
lebih menguntungkan untuk memaksimalkan luas permukaan dentin yang tersedia
untuk dilakukan bonding, dan adanya pelapis atau base dapat mengganggu
keadaan biomekanik dalam gigi yang direstorasi, itu akan tampak secara nyata
untuk menghindari penggunaan pelapis atau base. Selain itu, terdapat bukti tidak
ada perbedaan hasil dalam hal sensitivitas pasca operasi ketika resin komposit ini
'' dibonding 'atau' 'dibasis' '. Terdapat juga bukti biologis pada proses pengikisan
terbukanya dentin, diikuti oleh bonding dapat mendorong perbaikan dentin dan
pembentukan dentin baru, sehingga membantu melindungi pulpa. Di daerah yang
sangat dekat dengan pulpa (<0.5mm), penempatan indirect pulp capping mungkin
dapat diindikasikan. Sebuah tinjauan baru pada pulp capping langsung maupun
tidak langsung menyimpulkan bahwa terbukanya dari pulpa vital harus dihindari
setiap saat. Jika terbukanya pulpa terjadi, muncul bukti yang menunjukkan bahwa


mineral trioxide aggregate lebih unggul dibandingkan kalsium hidroksida. Produk
baru seperti Biodentine memiliki potensi untuk digunakan dalam situasi seperti
ini.
3.6. Pemilihan Resin Komposit Dan Teknik Penumpatannya
1
Pemilihan resin komposit sangatlah penting untuk keberhasilan secara
klinis. Baik (mikro) dan beberapa resin komposit hibrid nano partikel, secara
umum, dapat digunakan dalam situasi menahan beban posterior. Sebagaimana
peraturannya, resin komposit yang dipilih harus mengandung setidaknya volume
60% bahan pengisi. Teknik yang hati-hati diperlukan saat penumpatan resin
komposit untuk membatasi dampak buruk tentang penyusutan polimerisasi.
Berbagai teknik layering tambahan telah direkomendasikan untuk mengurangi
efek ini. Teknik ini cenderung secara bersamaan meningkatkan kedalaman dan
kecukupan dari resin komposit. Pengurangan penyusutan polimerisasi resin
komposit sekarang telah tersedia. Terdapat bukti awal untuk mendukung
penggunaannya, namun data kinerja jangka panjang sangat ditunggu.
3.7. Kontur dan Kontak Bidang Proksimal
1
Pembentukan kedua area kontak dan kontur proksimal yang sesuai
diperlukan untuk mencegah impaksi makanan. Berbagai matriks dan alat yang ada
dapat membantu dalam restorasi area kontak dan kontur proksimal. Matriks band
transparan dan transmisi cahaya telah diperkenalkan pada saat ada anggapan
bahwa resin komposit dikarenakan sumber insiden light curing. Pemikiran seperti
itu bagaimanapun juga adalah keliru, seperti yang telah diapresiasi selama
beberapa tahun bahwa resin komposit tidak berkontraksi terhadap sumber insiden


Light Curing. Lebih penting lagi, diakui bahwa matriks band transparan yang
berlebihan menyebabkan ketebalan dan dapat menghasilkan kontak proksimal
yang terbuka. Selain itu, transmisi cahaya yang terlalu kaku memungkinkan
adaptasi yang efisien dari sebuah matriks band ke margin gingiva, sehingga
meningkatkan kemungkinan terjadinya overhanging proksimal. Dengan demikian,
penggunaan matriks transparan dan transmisi cahaya sekarang merupakan
kontraindikasi.
3.8. Finishing
1
Instrumentasi dan teknik serupa harus digunakan sebagaimana yang
digunakan untuk resin komposit anterior. Namun upaya harus dilakukan untuk
membuat restorasi posterior yang selesai dan menyeluruh, morfologi anatomi
yang benar dan permukaan yang halus merupakan sebuah kemungkinan.
Perawatan harus dilakukan, kontur dan penyelesaian dari restorasi dari permukaan
gigi dan mencegah overheating dariresin.
3.9. Refurbishment And Repair
1
Masalah yang menjengkelkan dalam mengelola restorasi yang rusak
menimbulkan banyak tantangan, dengan bukti yang menunjukkan bahwa dokter
gigi menghabiskan lebih banyak waktu dalam mengelola restorasi yang rusak
dibandingkan penumpatan restorasi awal. Realisasi terpenting adalah banyak
restorasi komposit dengan bentuk yang terbatas dan dengan sukses diperbaharui
dan karies pada tepi restorasi yang baru ketimbang karies yang berulang dan tidak
selalu memerlukan penggantian restorasi. Sering kali, ada kemungkinan untuk


menghilangkan karies dan setiap bagian yang rusak terkait restorasi dan, setelah
manajemen karies yang tepat, mempengaruhi sebuah perbaikan.























BAB IV
KESIMPULAN

Resin komposit adalah suatu material yang terbentuk dari kombinasi dua
atau lebih material pembentuknya melalui campuran yang tidak homogen, dimana
sifat mekanik dari masing-masing material pembentuknya berbeda. Dari
campuran tersebut akan dihasilkan material komposit yang mempunyai sifat
mekanik dan karakteristik ini yang berbeda dari material pembentuknya.
Komposit resin menggunakan bonding adesif mempunyai komposisi dan
sifat yang cocok untuk menjadi '' bahan pilihan '' untuk digunakan dalam
pendekatan intervensi minimal secara langsung restorasi gigi posterior. Dengan
demikian, pentingnya praktek berdasarkan bukti intervensi minimal kedokteran
gigi, termasuk penggunaan teknik Refurbishment And Repair dalam
memperpanjang umur dari restorasi. Saran, berdasarkan bukti-bukti terbaik yang
ada, telah dibuat dalam hubungannya dengan aspek-aspek tertentu dari teknik
penumpatan resin komposit pada gigi posterior. Penerapan pendekatan berbasis
bukti yang modern dapat ditemukan untuk menghasilkan sediaan yang aman bagi
resin komposit pada gigi posterior yang efektif dan dapat diprediksi.
1













DAFTAR PUSTAKA
1. Christopher D. Lync, et al. 2014. Guidance on posterior resin composites:
Academy of Operative Dentistry - European Section. Journal of dentistry
42 (2014) 377383.
2. Dianzprol. 2012. Sejarah Komposit.
http://www.scribd.com/doc/82380862/Sejarah-komposit#download.
Diakses tanggal 15 September 2014. 17.11 WIB.
3. Toddy. 2013. Resin Komposit Flow.
http://www.scribd.com/doc/155534008/Resin-Komposit-Flow#download.
Diakses tanggal 15 September 2014. 17.30 WIB.
4. Zaluchu S K. 2008. Resin Komposit Sebagai Bahan Direk Restorasi Pada
Gigi Posterior. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/8157. Diakses
tanggal 15 September 2014. 17.41 WIB.