Anda di halaman 1dari 5

Safaruddin, Uvan Nurwahidah dan Abd.

Gafar : Pengaruh Tanaman Mimba (Azadirachta indica Juss) Dalam Menekan Serangan Aphis
gossypii Pada Tanaman Kedelai (Glicyne max L.)


342

PENGARUH EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica Juss) TERHADAP
SERANGAN Aphis gossypii PADA TANAMAN KEDELAI (Glicyne max L.)

Safaruddin, Uvan Nurwahidah


1)
dan Abd. Gafar
2)

1)
Pengendali OPT Madya pada UPTD BPTPH Provinsi Sulawesi Selatan
2)
Pengendali OPT Muda pada UPTD BPTPH Provinsi Sulawesi Selatan

ABSTRAK
Salah satu hama utama tanaman kedelai adalah Aphis gossypii. Pengendalian hama ini adalah petani
sangat mengandalkan pada penggunaan insektisida. Pada hal penggunaan insektisida selain mematikan
hama, juga serangga lain, termasuk musuh alami. Untuk mencegah dampak negatif insektisida, maka
salah satu pilihannya adalah penggunaan ekstrak daun mimba. Percobaan ini dilakukan di Maros, 2010.
Ada lima perlakuan dengan tiga ulangan, menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Percobaan ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun mimba terhadap A. gossypii pada tanaman
kedelai. Hasilnya menunjukkan bahwa pada konsentrasi 100 ml/l air, maka tingkat serangan hama A.
gossypii hanya mencapai 13,33% pada pengamatan 63 HST.

Kata kunci: Daun Mimba, hama A. gossypii, kedelai

PENDAHULUAN
Indonesia dikenal sebagai suatu negara agraris karena umumnya penduduk masih
menggantungkan hidupnya pada usaha pertanian baik langsung maupun tidak langsung.
Pembangunan sektor pertanian mempunyai peranan penting di dalam perekonomian nasional
terutama perekonomian rakyat. Sasaran pembangunan pertanian adalah untuk meningkatkan taraf
hidup dan kesejahteraan rakyat, serta meletakkan landasan yang kuat bagi tahapan pembangunan
berikutnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan usaha-usaha secara bertahap serta
berkesinambungan.
Saat ini bangsa Indonesia sedang melakukan reformasi pembangunan dalam upaya penyelamatan
dan normalisasi kehidupan nasional untuk mewujudkan pembangunan di segala bidang terutama bidang
ekonomi. Oleh karena itu kebijaksanaan, strategi, dan pelaksanaan pembangunan ekonomi nasional ke
depan, akan mengutamakan kepentingan rakyat banyak untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Berbagai program telah dituangkan dalam rangka peningkatan produksi dan kualitas sumber daya
manusia. Salah satu program pemerintah di dalam meningkatkan produksi pertanian adalah
pemberdayaan lingkungan hidup.
Hama dan pestisida sangat erat hubungannya dengan aktivitas petani dalam mengelola
pertanamannya. Kedua hal ini dapat dikatakan merupakan bagian yang banyak membutuhkan waktu,
energi dan biaya bagi petani. Selama ini petani banyak menggantungkan pengendalian hama
dipertanaman mereka pada bahan-bahan kimia sintetik atau kita sebut pestisida sintetik karena
terbukti ampuh untuk membunuh semua organisme pengganggu pada pertanaman mereka. Namun
kemudian diketahui bahwa pemakaian pestisida sintetik menyebabkan hama yang tidak berhasil dibunuh
menjadi resisten terhadap pestisida yang sudah ada (Ahmad, 2001).
Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan, 27 Mei 2010


343
Saat terjadi serangan hama kemudian petani melakukan pengendalian hama dengan menggunakan
pestisida dari jenis yang sama, hama tersebut tidak bisa dikendalikan lagi meskipun dosis dan interval
penggunaan pestisida baru yang lebih ampuh (Sastrodihardjo, 2001).
Kondisi seperti di atas para petani tentu saja terpaksa harus mengeluarkan biaya ekstra untuk
membeli pestisida sintetik dan untuk biaya aplikasinya supaya pertanaman mereka dapat selamat dari
serangan hama. Dapat kita duga jumlah pendapatan petani yang di terima setelah dikurangi biaya
tersebut. Sebuah hasil survey menunjukkan bahwa petani di Indonesia harus mengeluarkan dana
milyaran rupiah setiap tahunnya untuk membeli pestisida sintetik (Anonim, 2002).
Selain itu hasil penelitian Noor, (2005) membuktikan bahwa pemakaian pestisida sintetik
mempunyai pengaruh yang tidak selektif. Maksudnya, bahwa pestisida sintetik tidak hanya membunuh
hama tanaman tetapi juga memusnahkan organisme musuh alami hama tersebut begitu pula organisme
bukan hama yang kebetulan ada pada pertanaman. Hal ini dengan sendirinya akan menyebabkan
rusaknya keseimbangan ekologi jika terus berlangsung dalam jangka panjang (Shultz, 1993).
Hal ini tentu saja bisa kita hindari apabila ada jalan keluar untuk memecahkan masalah
penggunaan pestisida sintetik. Sesungguhnya telah banyak upaya dilakukan untuk mengendalikan hama
tanpa bergantung pada penggunaan pestisida sintetik. Bukan hal baru lagi bahwa bahan-bahan dari alam
yang ada disekitar kita bisa dimanfaatkan sebagai pestisida. Bahan-bahan ini sering tidak bernilai
ekonomis dan aman bagi lingkungan, efeknyapun tidak kalah dengan pestisida sintetik. Tanaman mimba
adalah merupakan salah satu tumbuhan sumber bahan pestisida (pestisida nabati) yang dapat
dimanfaatkan untuk pengendalian hama (Nganro, 2001).
Penggunaan pestisida daun Mimba oleh petani, perlu dirumuskan suatu sistem untuk
melaksanakannya. Pemerintah, dalam hal ini Dinas Perkebunan menawarkan bentuk program yang
ditujukan untuk memperkenalkan pestisida daun Mimba kepada petani, dimana petani dituntun untuk
mengetahui bahan-bahan tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Pengalaman
menunjukkan sulitnya merubah kebiasaan dan pola pikir petani untuk menerima inovasi baru yang
ditawarkan. Hal ini perlu proses dengan hasil nyata dan sesuai dengan penalaran petani (Anonim, 2003).
Untuk itu dilaksanakan percobaan, sebagai bekal pengetahuan tentang pestisida nabati yaitu
jenis, bahan dan cara penggunaan. Selanjutnya diamati bagaimana tingkat serangan hama Aphis gossypii
pada tanaman kedelai. Hasil dari percobaan ini akan sangat menentukan bagaimana sikap petani dan
akan mempengaruhi pola pikir petani terhadap penggunaan pestisida nabati khususnya daun Mimba.
H
Terdapat satu perlakuan pestisida daun Mimba yang akan memberikan pengaruh lebih baik dalam
menekan serangan hama Aphis gossypii pada tanaman kedelai.
ipotesis
Tujuan dan Kegunaan
Praktik lapang ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan pestisida daun Mimba dalam
menekan tingkat serangan hama Aphis gossypii pada tanaman tanaman kedelai (Glicyne max L.).
Sedangkan kegunaan dari praktik lapang ini adalah :
Sebagai bahan informasi bagi petani dalam pengembangan dan peningkatan produksi serta
pengendalian hama utama pada usahatani tanaman kedelai.

Sebagai bahan informasi bagi mahasiswa yang berminat mengadakan penelitian yang relevan dengan
judul dan materi penelitian.
METODOLOGI
Praktik lapang ini dilaksanakan di Desa Sambueja Kecamatan Simbang Kabupaten Maros,
ketinggian kurang lebih 800 m dari permukaan laut, jenis tanah alluvial dengan pH 5,5 7,0 yang
Safaruddin, Uvan Nurwahidah dan Abd. Gafar : Pengaruh Tanaman Mimba (Azadirachta indica Juss) Dalam Menekan Serangan Aphis
gossypii Pada Tanaman Kedelai (Glicyne max L.)


344
berlangsung mulai Mei sampai Juli 2010. Benih yang digunakan adalah benih kedelai varietas Baluran dan
pestisida nabati Daun Mimba. Ukuran plot 2 x 1,25 m.
Percobaan disusun menurut Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu:
P0 : kontrol
P1 : 50 ml/l air
P2 : 75 ml/l air
P3 : 100 ml/l air
P4 : 125 ml/l air
Tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 15 unit percobaan. Aplikasi pertama dilakukan
pada 7 HST.
Cara Pembuatan Pestisida Nabati (Daun Mimba)
Daun Mimba dicuci lalu ditumbuk sampai halus.
Dicampur air dengan perbandingan 100 gr daun + 1 liter air + 5 10 ml alkohol 70 % sebagai pelarut,
dan apabila tanpa penggunaan alkohol 70 % maka bahan dapat dimasak sampai mendidih.
Biarkan ekstrak selama 30 120 menit.
Larutan siap aplikasi.
Pelaksanaan Percobaan

Daun Mimba dicuci lalu


ditumbuk sampai halus.
Dicampur air dengan perbandingan 100 gr
daun + 1 liter air + 5 10 ml alkohol 70 %
sebagai pelarut.

Biarkan ekstrak selama 30


120 menit.
Larutan siap di
aplikasikan

Penanaman, benih kedelai terlebih dahulu direndam dalam air, kemudian ditanam 2 3 biji.
lubang
-1
dengan cara tugal dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm. Setelah berumur dua minggu dilakukan
penjarangan tanaman sehingga hanya dua tanaman perlubang.
Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik pada saat sebelum tanam dan an organik berupa
Urea yang diberikan 1 minggu setelah tanam.
Pemeliharaan meliputi penyulaman, penyiangan, penyiraman dan pengendalian hama dan penyakit.
Penyulaman dilakukan pada umur 7 hari sesudah tanam dengan mengganti tanaman yang mati atau
tanaman yang kurang baik pertumbuhannya. Penyiangan dilakukan dengan mencabut semua gulma yang
tumbuh di sekitar tanaman. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari.
Panen dilakukan setelah tanaman berumur 85 hari dengan ciri-ciri polong telah mengalami
perubahan warna yaitu warna hijau menjadi warna kecoklatan, batang dan daun telah kering dan
sebagian daun-daunnya sudah kuning dan rontok.
Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XX Komisariat Daerah Sulawesi Selatan, 27 Mei 2010


345
Hal yang diamati dalam praktik lapang ini adalah tingkat populasi serangan Aphis gossypii.
Penilaian intensitas serangan dimulai saat munculnya populasi, selanjutnya dilakukan selang waktu satu
inggu setelah tanam. m
Intensitas serangan Aphis gossypii dihitung berdasarkan rumus :


(nxv)
I = ----------- x 100 %



ZxN
Keterangan :
I = Intensitas serangan ( % )
n = Jumlah tanaman yang memiliki kategori skala kerusakan yang sama
v = Nilai skala kerusakan dari tiap kategori serangan
Z = Nilai skala kerusakan tertinggi
N = Jumlah tanaman atau bagian tanaman yang diamati

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah aplikasi pestisida daun mimba pada hari ke 42, 49,
56 dan 63 berpengaruh sangat nyata tingkat serangan hama Aphis gossypii, sedangkan hari ke 14, 21,
28 dan 35 berpengaruh tidak nyata terhadap tingkat serangan hama Aphis gossypii pada tanaman
kedelai.
Rata-rata pengamatan pestisida daun mimba dalam menekan tingkat serangan hama Aphis
gossypii pada tanaman kedelai pada setiap pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1.
Hasil uji BNT pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pada hari ke 42, 49, 56 dan 63 HST konsentrasi
100 ml/l air (P3) memperlihatkan intensitas serangan hama Aphis gossypii terkecil dan berbeda nyata
engan perlakuan kontrol (P0), 50 ml/l air (P1) dan 75 ml/l air (P2), tetapi berbeda tidak nyata dengan
25 ml/l air (P4).
d
1

Tabel 1. Rata-rata Pengamatan Pestisida Daun Mimba dalam Menekan Tingkat Serangan Hama
Aphis gosypii pada Tanaman Kedelai Umur 14 HST, 21 HST, 28 HST, 35 HST, 42 HST,
49 HST, 56 HST dan 63 HST.
Intensitas Serangan Hama Aphis gossypii (%) Perlakuan
Pestisida
Daun Mimba
14 21 28 35 42 49 56 63
P0 6,67 10,00 13,33 16,67 20,00
a
23,33
a
26,67
a
30,00
a
P1 6,67 10,00 13,33 16,67 16,67
a
20,00
a
23,33
a
26,67
ab
P2 3,33 6,67 10,00 13,33 16,67
a
20,00
a
23,33
a
23,33
b
P3 3,33 3,33 6,67 6,67 6,67
b
10,00
b
13,33
b
13,33
c
P4 3,33 3,33 6,67 6,67 6,67
b
10,00
b
13,33
b
13,33
c
NP BNT
= 0,05
- - - - 8,76 4,86 9,72 6,43
Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti dengan huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata pada

taraf uji BNT = 0,05

Safaruddin, Uvan Nurwahidah dan Abd. Gafar : Pengaruh Tanaman Mimba (Azadirachta indica Juss) Dalam Menekan Serangan Aphis
gossypii Pada Tanaman Kedelai (Glicyne max L.)


346
Selanjutnya pada perlakuan konsentrasi pestisida daun mimba berpengaruh sangat nyata
terhadap persentase serangan hama Aphis gossypii hari ke 42, 49, 56 dan 63 HST (Tabel Lampiran 10,
12, 14, dan 16), tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap hari ke 14, 21, 28 dan 35 HST (Tabel Lampiran
2, 4, 6, 8 dan 12).
Hasil Uji BNT = 0,05 menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi 100 ml/l air memberikan
perlakuan yang lebih baik terhadap tingkat serangan hama Aphis gossypii hari ke 42, 49, 56 dan 63
HST dibanding dengan perlakuan lainnya (Tabel 1). Hal ini diduga bahwa perlakuan konsentrasi yang
dicobakan telah sesuai dengan kebutuhan tanaman. Menurut (Anonim, 2009) bahwa pemberian
konsentrasi pestisida daun mimba terhadap tanaman harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman
sebab apabila pemberian konsentrasi terlalu rendah maka pengaruhnya terhadap tanaman tidak nampak
sehingga perlu pemberian konsentrasi yang sesuai agar memberikan pertumbuhan yang optimal bagi
tanaman.
Untuk melihat persentase tingkat serangan pada tanaman kedelai perlakuan yang paling
bertahan adalah konsentrasi 100 ml/l air. Hal ini diduga bahwa pestisida daun mimba bersifat sistemik
dan tergolong ke dalam senyawa yang aktif, mengandung azadirachtin meliantriol, salanin, dan nimbin,
yang merupakan hasil metabolit sekunder dari tanaman mimba. Senyawa aktif daun mimba tidak
membunuh hama secara cepat, tapi berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi,
proses ganti kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual, penurunan daya tetes telur. Selain
tu juga berperan sebagai pemandul. Selain bersifat sebagai insentisida, tumbuhan tersebut juga
emiliki sifat sebagai fungisida, virusida, nematisida, bakterisida, mitisida dan rodentisida.
i
m

KESIMPULAN
Intensitas serangan hama A. gossypii erat kaitannya dengan tingkat konsentrasi, makin tinggi
konsentrasi ekstrak daum mimba, maka intensitas serangan akan rendah. Konsentrasi 100 ml/l air
menunjukkan tingkat penekanan terhadap serangan hama Aphid rendah yaitu 13,33%.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Intan, 2001. Efek Pestisida Nabati terhadap Aktifitas Metabolisme Serangga Hama. PAU
Ilmu Hayati ITB, Bandung.
Anonim, 2002. Pestisida Nabati Alternatif Mengurangi Biaya Produksi Petani. Trubus : Liputan Khusus.
______, 2003. Reportase. Temu Wicara dan Expo 2003. Hari Krida ke-31 di Kabupaten Jember.
ABDI TANI, h. 49.
Danarti dan Sri Najiyati, 2000. Palawija, Budidaya dan Analisa Usaha Tani. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nganro, Noorsalam Rahman, 2001. Mengakal Serangan 200 Spesies Serangga. PAU Ilmu Hayati ITB,
Bandung.
Sastrodihardjo, Soelaksono, 2001. Pestisida Masa Depan Membunuh Hama Tanpa Merusak Alam. PAU
Ilmu Hayati ITB, Bandung.
Soeprapto, 2001. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.
Shultz, Eugene B., 1993. NIMBA Sebuah Pohon untuk Menyelesaikan Masalah-masalah Global. National
Academy Press, Washington DC.