Anda di halaman 1dari 10

SINTESIS GARAM MOHR

Siti Qomariyah, Gracia Desy Andini, Hayyu Hidayah, Yanuri


Lab. Kimia Anorganik Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 1 Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Jawa Tengah, Indonesia
Sitiqomariyah38@gmail.com, 085741701959

Abstrak
Percobaan ini dilakukan agar dapat mempelajari pembuatan atau sintesis garam
mohr. Unsur dan senyawa yang menjadi dasar pembuatan garam mohr adalah
besi, asam sulfat, dan amonia. Garam mohr didapatkan dari percampuran antara
larutan A dan larutan B. Larutan A didapatkan dari reaksi antar serbuk besi dan
asam sulfat. Sedangkan larutan B merupakan hasil reaksi antara amonia dan
asam sulfat. Hasil dari larutan A adalah besi (II) sulfat dan gas hidrogen,
sedangkan pada larutan B adalah amonium sulfat. Ketika besi (II) sulfat
dicampurkan dengan amonium sulfat maka akan terbentuk suatu garam rangkap
yang sering dikenal dengan garam mohr. Pembentukan kristal garam mohr tidak
dihasilkan langsung dari proses diatas, namun harus melewati proses
pendinginan di dalam lemari es selama 2-3 hari. Sehingga akan dihasilkan
garam mohr yang berwarna vitriol hijau muda. Namun, kristal garam yang
terbentuk perlu dimurnikan terlebih dahulu menggunakan air panas. Proses
tersebut dikenal dengan rekristaliasasi. Perhitungan rendemen diperlukan dalam
pecobaan sintesis ini, sehingga diperlukan penimbangan massa garam mohr dan
perhitungan massa berdasarkan teori. Dan garam mohr dengan kemurnian 20.38
% siap digunakan dalam titrasi untuk percobaan analitik.
Kunci : amonia; asam sulfat;besi;garam mohr;pendinginan

Abstarct
The experiment was conducted in order to study the manufacture or synthesis of
Mohr salt. Elements and compounds that form the basis of making Mohr salt is
iron, sulfuric acid, and ammonia. Mohr salt obtained from a mixture of solution
A and B. Solution A is obtained from the reaction between iron filings and
sulfuric acid. While the solution B is the result of the reaction between ammonia
and sulfuric acid. Results of solution A is iron ( II ) sulfate and hydrogen gas,
while the ammonium sulfate solution B is. When iron ( II ) sulfate mixed with
ammonium sulfate it will form a double salt which is often known by the mohr
salt. Mohr salt crystal formation is not a direct result of the above process, but
must pass through the cooling process in the refrigerator for 2-3 days. Mohr salt
that will produce colored light green vitriol. The salt crystals that form needs to
be purified first using hot water. The process is known as recrystalitation.
Experiment yield calculations required in this synthesis, requiring weighing
Mohr salt mass and mass calculations based on theory. And Mohr salt ready to
be used in the titration for analytical experiments.
Keywords: ammonia; cooling; iron salt Mohr ; sulfuric acid.
Pendahuluan
Berikut akan dijelaskan mengenai bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan
garam Mohr, yaitu :
Besi (Fe)
Bahan utama dalam pembuatan garam mohr adalah serbuk besi (Fe). Besi
merupakan salah satu logam yang melimpah kedua setelah Aluminium, dan unsur keempat
yang paling melimpah di kulit bumi. Logam besi ditemukan dialam dalam bentuk bijih besi.
Bijih besi yang utama, diantaranya adalah hematite Fe
2
O
3
, magnetite Fe
3
O
4
, limonite
Fe(OH), dan siderite FeCO
3
.
Senyawa yang digunakan dalam percobaan ini adalah senyawa Ferro. Senyawa
Ferro yang paling penting adalah garam besi (II) sulfat. Besi (II) sangat reaktif terhadap
udara lembab, sehingga mudah teroksidasi menjadi besi (III).
Besi merupakan salah satu logam transisi golongan VIII B. Seperti logam lainnya,
sifat yang dimilki besi yaitu mudah ditempa, mudah dibentuk, berwarna putih perak, dan
mudah dimagnetisasi. Sifat lainnya pada logam besi adalah mudah berkarat atau yang sering
dikenal dengan korosi. (Nana Sutresna, 2007)
Ketika besi (II) bereaksi dengan suatu asam, maka akan membentuk suatu garam
besi. Garam besi yang penting diantaranya, yaitu garam sulfat. Garam sulfat dan garam
alkali dapat membentuk suatu garam rangkap. Selain dengan garam alkali, garam rangkap
juga dapat terbentuk ketika direaksikan dengan garam amonium. Hal inilah yang menjadi
dasar pembuatan garam mohr.
Garam mohr (besi amonium sulfat), merupakan garam rangkap dari besi sulfat dan
amonium sulfat dengan rumus molekul [NH
4
]
2
[Fe][SO
4
]
2
.6H
2
O. Garam mohr lebih disukai
daripada besi sulfat (II) untuk proses titrasi. Hal ini dikarenakan, besi (II) dari garam sulfat
mudah terpengaruh oleh udara luar atau mudah teroksidasi dibandingkan dengan garam
mohr.
Sifat Fisik pada serbuk besi adalah :
1. Berkilau seperti warna keabuan.Berwujud padat.
2. Mempunyai titik leleh 1811 K dan titik didih 3134 K.
3. Merupakan logam feromagnetik.
4. Penghantar panas yang baik
Sedangkan sifat kimia pada besi adalah :
1. Logam peralihan.Oksidanya merupakan oksida amfoter.
2. Mudah teroksidasi dalam udara lembap (terkorosi).
3. Besi murni bersifat reaktif.
4. Logamnya mudah larut dalam asam mineral.
5. Tingkat oksidasi tertinggi adalah VI.
6. Kompleks oktahedralnya bersifat paramagnetik.
Kompleks besi mempunyai bilangan oksidasi +3, +2, +1, 0. +3 pada senyawa
[Fe(CN)
6
]
3-
; [Fe(H
2
O)
6
]
3+
; [FeF
6
]
3-.
Sedangkan bilangan oksidasi +2 pada senyawa
[Fe(CN)
6
]
4-
, [Fe(H
2
O)
6
]
2+
.

Larutan amoniak.
Larutan amoniak disini berfungsi sebagai ligan yang mempunyai sebuah orbital
yang terisi (elektron tak berpasangan) untuk interaksinya dengan logam, bentuk komplek
koordinasi yang klasik dengan logam. Mereka bergabung hanya dengan interaksi elektron
ligan dengan orbital d,s, atau p yang kosong dari logam. Ligan ini adalah basa lewis, dan
logam adalah asam lewis. Ikatan ini dibentuk dari rotasi simetrik diatas sumbu logam dengan
ligan dan digambarkan sebagai suatu ikatan. Ligan unidentat,mereka diikat pada logam
melalui ligan atom tunggal. Mereka mempunyai polarisabilitas yang kecil dan lemah dan
ikatan yang lemah untuk transisi.

Larutan Asam Sulfat (H
2
SO
4
).
Asam sulfat merupakan salah satu asam kuat yang mempunyai banyak fungsi antara lain:
1. Berfungsi sebagai zat pengoksidasi (oksidator).
2. Pembuatan pupuk amonium sulfat (ZA) dan asam fosfat.
3. Pemu
4. .Pembuatan zat warna.
5. Industri tekstil, cat, plastik, akumulator (aki) dan bahan peledak.
Pada praktikum ini asam digunakan untuk mengoksidasi logam besi (Fe) menjadi ion
Fe
2+
. Kemudian ion Fe
2+
akan bergabung dengan ion sulfat (SO
4
2-
) menjadi garam
besi sulfat. Garam besi sulfat ini adalah garam terpenting dari semua garam besi.
Dalam skala besar garam sulfat ini dapat dibuat dengan cara mengoksidasi perlahan-
lahan FeS oleh udara yang mengandung air.
Mengapa garam mohr harus disintesis? Inilah yang menjadi alasan dari
sintesi garam mohr, yaitu : Jika dibandingkan dengan dengan FeSO
4
atau FeCl
2
, kristal
garam mohr lebih stabil di udara dan larutannya tidak mudah dioksidasi oleh oksigen di
atmosfer.
Banyak manfaat yang dapat digunakan dalam bidang kimia. Untuk bidang kimia
analitik sendiri sering digunakan garam mohr dalam analisis volumetri, dan untuk
membakukan KmnO
4
atau K
2
Cr
2
O
7.

Metode
Sebelum melakukan percobaan, praktikan harus mempersiapkan peralatan dan
bahan yang akan digunakan. Bahan utamanya adalah serbuk besi (Fe) for syn dari Merck
dengan kemasan 5000 gram. Serbuk besi tersebut harus ditimbang terlebih dulu dengan
neraca analitik. Sehingga dalam alat timbang tertera angka kira-kira 3.5 gram. Dari hasil
penimbangan didapatkan hasil 3.4981 gram mendekati massa besi yang diharapkan.
Disamping itu, bahan lain yang digunakan adalah asam sulfat dan amonia. Kedua
konsentrasi dari larutan ini dapat dibilang kuat, sehingga selama proses pembuatan garam
mohr dilakukan dalam lemari asam. Amonia dan asam sulfat tidak tercantum merknya.
Untuk alat praktikum terdapat gelas kimia 250 mL dengan merk pyrex, karena
dalam prosesnya dilakukan pemanasan. Sehingga harus digunakan gelas kimia yang tahan
terhadap proses pemanasan. Untuk proses pemanasan diperlukan seperangkat alat,
diantaranya: pembakar spirtus, kaki tiga, kawat kasa. Cawan porselin juga diperlukan dalam
percobaan kali ini, begitu juga pipet tetes yang sering digunakan dalam setiap praktikum.
Selain itu terdapat spatula dan alat pengaduk dari bahan kaca.
Setelah selesai persiapannya, praktikum dapat dilakukan. Langkah awal dalam
pembuatan garam mohr adalah larutan A dibuat dengan 25 mL asam sulfat 20 % dan 25 %
amonia. Lalu, larutan amonium sulfat yang terbentuk diuapkan sampai jenuh hingga volume
berkurang setengahnya.
Untuk larutan B dibuat dengan serbuk besi 3.5 gram yang dilarutkan dalam 50 mL
asam sulfat 20 % dalam gelas kimia. Pemanasan ini dilakukan sampai semua besi benar-
benar larut. Setelah itu, larutan B disaring dalam keadaan panas dan dilanjutkan dengan
penguapan dalam cawan porselin sehinnga pada permukaan larutan mulai terbentuk hablur.
Larutan A dan Larutan B dicampurkan dalam keadaan panas. Semua proses diatas
dilakukan dalam lemari asam. Karena praktikan bekerja dengan asam sulfat pekat yang
memiliki sifat berbahaya bagi tubuh. Setelah itu campuran larutan dimasukkan dalam gelas
kimia, dan didinginkan di dalam kulkas selama 2-3 hari hingga terbentuk hablur dari besi
amonium sulfat yang berwarna hijau muda.
Setelah 2-3 hari, kristal yang sudah terbentuk diambil dan kristalnya dimurnikan
dengan air panas. Proses ini disebut dengan rekristalisasi. Setelah air dipanaskan, di sisi lain
kristal garam yang terbentuk disaring menggunakan kertas saring. Dan kristal garam
tersebut ditetesin sedikit demi sedikit menggunakan air panas. Setelah kristal garam
dikeringkan, garam mohr ditimbang dengan neraca anallitik.
Tugas praktikan disini adalah membandingkan massa garam mohr yang dihasilkan
dari percobaan dengan massa garam mohr yang sebelumnya telah dihitung menurut teori.
Sehingga akan dihasilkan suatu rendemen jika dikalikan dengan 100 %.

Hasil Dan Pembahasan
Garam rangkap adalah garam yang dalam kisi kristalnya mengandung dua kation yang
berbeda dengan proporsi tertentu. Garam rangkap biasanya lebih mudah membentuk kristal
besar dibandingkan dengan garam-garam tunggal penyusunnya.
Contoh kristal garam rangkap adalah garam Mohr. Kombinasi antara ammonium besi (II)
sulfat, ammonium cobalt (II) sulfat dan ammonium nikel sulfat.
Ketiga garam diatas memiliki ion ammonium dan sulfat, tapi dengan atom pusat yang
berbeda.
Tabel 1. Data dan Hasil Pengamatan
Larutan Hasil pengamatan Raksi
Amonia + asam sulfat
(larutan A)
Larutan bening NH
3 (aq)
+ H
2
SO
4(aq)
(NH
4
)
2
SO
4(aq)

Serbuk besi + asam
sulfat (larutan B)
Larutan abu-abu
kehijauan
Fe (s) + H
2
SO
4 (aq)
FeSO
4 (aq)
+
H
2
(g)

Larutan A + larutan B Larutan hijau (NH
4
)
2
SO
4(aq)
+ FeSO
4 (aq)
(NH
4
)
2
Fe(SO
4
)
2 .
6H
2
O (s)
Setelah pendinginan Kristal dan larutan
hijau
(NH
4
)
2
Fe(SO
4
)
2 .
6H
2
O (s)

Dari tabel 1 di atas, dapat terlihat bahwa garam mohr yang terbentuk adalah suatu
garam rangkap. Jika garam besi (II) sulfat bereaksi dengan suatu garam alkali atau garam
amonium sulfat maka akan terbentuk garam rangkap. Dalam kasus garam mohr sendiri yang
bertindak sebagai ligan adalah larutan amonia yang mempunyai sebuah orbital yang berisi
elektron tak berpasangan untuk interaksinya dengan logam, bentuk kompleks koordinasi
yang klasik dengan logam.
Larutan A yang telah dibuat terjadi menurut persamaan reaksi sebagai berikut :
NH
3 (aq)
+ H
2
SO
4(aq)
(NH
4
)
2
SO
4(aq)
Pembentukan larutan A dilakukan dalam lemari asam, karena asam sulfat yang
digunakan merupakan asam kuat. Setelah larutan A terbentuk, larutan tersebut perlu
diuapkan. Hal ini bertujuan agar gas amoniak yang tidak ikut dalam reaksi dapat menguap
dan hanya dihasilkan amonium sulfat.
Gambar 1 penguapan amonium sulfat

Larutan B yang telah dibuat terjadi menurut persamaan reaksi sebagai berikut :
Fe (s) + H
2
SO
4 (aq)
FeSO
4 (aq)
+ H
2
(g)
Gambar 2. Penguapan dalam cawan porselin

Pembentukan larutan B dihasilkan besi (II) sulfat dan gas hidrogen. Reaksi ini
diperlukan proses pemanasan, karena untuk memudahkan pelarutan serbuk besi dan untuk
menguapkan gas hidrogen. Digunakannya asam sulfat pekat bertujuan agar logam besi
dapat dioksidasi menjadi ion besi (II), sehingga didapatkan larutan yang berwarna hijau
muda. Digunakannya bahan-bahan yang berbahaya dan beracun bagi tubuh menyebabkan
sebagian percobaan dilakukan dalam lemari asam.
Gambar 3. Lemari asam

Setelah dari masing masing larutan terbentuk suatu senyawa yang diharapkan
untuk membuat garam mohr. Langkah selanjutnya yaitu larutan A dan larutan B dicampur
sehingga terjadi suatu reaksi sebagai berikut:
(NH
4
)
2
SO
4(aq)
+ FeSO
4 (aq)
(NH
4
)
2
Fe(SO
4
)
2 .
6H
2
O (s)
Percampuran larutan A dan larutan B dilakukan dalam keadaan panas, sebab untuk
menghindari terjadinya pengkristalan garam selain garam mohr pada suhu rendah. Baru
setelah garam mohr terbentuk, diperlukan proses pendinginan. Setelah 2-3 hari,
pembentukan garam mohr dapat diamati lebih jelas yaitu dengan terbentuknya kristal garam
vitriol hijau muda. Garam yang terbentuk perlu dimurnikan terlebih dahulu dengan air
panas.
Gambar 4 setelah pendinginan

Setelah melalui proses pencampuran, pendinginan, dan yang terakhir rekristalisasi
menggunakan air panas maka akan terbentuk garam mohr dengan rumus molekulnya
[NH
4
]
2
[Fe][SO
4
]
2
.6H
2
O . dapat dilihat dalam gambar beriku ini :
Gambar 5. Garam mohr

Garam mohr (besi amonium sulfat), merupakan garam rangkap dari besi sulfat dan
amonium sulfat dengan rumus molekul [NH
4
]
2
[Fe][SO
4
]
2
.6H
2
O. Garam mohr lebih disukai
daripada besi sulfat (II) untuk proses titrasi. Inilah garam mohr yang sudah terbentuk dan
sering digunakan dalam proses titrasi dalam percobaan kimia analitik khusunya dalam
analisis volumetri. Biasanya digunakan untuk membakukan larutan KMnO
4
atau larutan
K
2
Cr
2
O
7
.
Garam mohr cukup stabil terhadap udara dan terhadap hilangnya air. Garam mohr
sendiri dibuat untuk membuat larutan baku Fe
2+
bagi analisis volumetrik dan sebagai zat
pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik.
Jika dibandingkan dengan garam besi lainnya, garam mohr lebih stabil di udara dan
larutannya tidak mudah dioksidasi oleh oksigen di atmosfer. Sedangkan untuk garam besi,
seperti FeSO
4
.7H
2
O lama kelamaan atau reaksi lambatnya akan melapuk dan berubah
menjadi kuning coklat dalam udara. Atau dapat dikatakan, garam FeSO
4
.7H
2
O teroksidasi
menjadi Fe
3+
.
Praktikan perlu menimbang massa garam mohr, sehingga dapat dihitung rendemen
garam mohr.
Berikut akan dijelaskan perhitungan rendemen garam mohr, sebagai berikut :
(NH
4
)
2
SO
4(aq)
+ FeSO
4 (aq)
(NH
4
)
2
Fe(SO
4
)
2 .
6H
2
O (s)
M : N N 0
R : No No No
S : N-No N-No No
Sementara untuk n (NH
4
)
2
Fe(SO
4
)
2 .
6H
2
O (s) = n Fe
Perhitungan:
Massa plastik (a) : 0.1964 gram
Massa garam mohr dari percobaan (b): 5.860 gram
Massa garam mohr percobaan : b-a = 4.9906 gram
Massa serbuk besi : 3.4981 gram
Ar Fe = 56 gr/mol
Mr garam mohr : 392 gr/mol
Mol Fe =
mussu
A
=
3.4981 g
56 gmoI
= 0.0625 mol
Mol Fe = mol garam mohr = 0.0625 mol
Mol garam mohr =
mussu
M

Massa garam mohr = mol x Mr
= 0.0625 mol x 392 gr/mol
= 24.49 gram
Rendemen :
mussu pccobuun
mussu tco
x 100 %
4.9906 g
24.49 g
x 100 %
= 20.38 %
Dari hasil perhitungan diatas dapat diketahui rendemen garam mohr sebesar 20.38 %.
Garam mohr yang sudah terbentuk ini dapat disimpan dalam wadah tertutup dan dapat
digunakan kapanpun ketika ingin digunakan dalam proses titrasi yang telah dijelaskan
sebelumnya. Karena garam mohr sendiri lebih stabil di udara dan tidak mudah teroksidasi
oleh oksigen. Jika dalam titrasi yang digunakan adalah ion Fe
3+
, maka titrasi tidak dapat
berjalan dengan lancar.
Kesimpulan
Garam mohr terbentuk jika garam besi (II) sulfat direaksikan dengan garam
amonium sulfat. garam Mohr merupakan senyawa kompleks besi dengan ligan amonium
dan sulfat dengan rumus molekul (NH
4
)
2
Fe(SO
4
)
2
.6H
2
O. Pembuatan garam mohr dilakukan
dengan cara kristalisasi, yaitu melalui penguapan, dan pendinginan. Sehingga diperoleh
kristal berwarna hijau muda. Garam Mohr yang terbentuk seberat 4.9906 gram gram dengan
rendemennya adalah sebesar 20.38 %.
Daftar Pustaka
Chricton. Robert, 2001, Inorganic biochemistry of iron metabolism, Belgium : Universite
Catholique de Louvain.
Fackler. John P, 1982, inorganic chemistry, Canada : Department of Chemistry Case
Western Reserve University.
Harjito, 2013, Panduan penulisan manuskrip., diunduh di
www.facebook.com/groups/chemisfun/shshhsnshhhs.pdf pada tanggal 1 September
2013.
Harjito, 2012, Panduan layout naskah dari manuskrip menggunakan Scribus bagi pemula,
Chemistri in Education 5(2): 67-81.
Sugiyanto. Kristian H, 2003, Kimia Anorganik I, Yogyakarta : Jurusan Kimia Fakultas
MIPA Universitas Negeri Yogyakarta.
Sutresna. Nana, 2007, Cerdas belajar kimia untuk SMA kelas XII, Bandung : Grafindo
Media Pratama.
Tim Dosen Kimia Anorganik, 2013, Buku ajar praktikum kimia anorganik, Semarang :
Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Semarang.