Anda di halaman 1dari 16

1

MAKALAH
HEDONISME LUMPUHKAN KARAKTER REMAJA
Disusun untuk memenuhi tugas Ilmu Sosial Budaya Dasar
Yang diampu oleh Dra. Darosy Endah H, M.Pd


Disusun oleh :
Intan Dewi Salmah 24030112140071
Salsabila 24030112130063


KELAS A
JURUSAN KIMIA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

2

KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena kami masih
diberikan kesempatan dan kesehatan untuk menyelesaikan makalah Hedonisme Lumpuhkan
Karakter Remaja ini. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk menyelesaikan tugas ISBD,
yang bertemakan Hedonisme. Tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan dari
makalah ini, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang
berhubungan dengan tema makalah ini.
Penulis banyak berharap makalah ini dapat bermanfaat, khususnya dalam mata kuliah
Ilmu Sosial Budaya Dasar ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, untuk itu kritik dan saran sangat kami butuhkan untuk dapat memperbaiki
pembuatan makalah selanjutnya.
Hedonisme telah merajalela di kalangan Remaja Indonesia. Bahkan kini sudah semakin
berkembang di berbagai bidang. Hal ini semakin merugikan generasi muda. Bagaimana sikap
hedon remaja? Solusi apakah yang paling tepat digunakan untuk membasmi tindak
hedonism? Hal tersebut akan kami ulas pada makalah kali ini. Semoga bermanfaat bagi kita
semua sehingga kita bisa tetap pada jalan yg diridhoi Allah swt. Amin.

Penulis











3

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .. 2
Daftar Isi ... 3

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang .. 4
Rumusan Masalah...... 4
Tujuan .... 4

BAB II PEMBAHASAN MASALAH
Hedonisme 5
Kasus Hedonisme pada Remaja 6
Faktor yang Mempengaruhi Hedonisme .. 7
Pengaruh Hedonisme Terhadap Remaja ...8
Dampak Negatif Hedonisme 9
Cara Menghindari Sikap Hedonisme 10
Hedonisme dalam Pandangan Islam . 12


BAB III PENUTUP
Kesimpulan .. 15
Saran 15

Daftar Pustaka .. 16




4



BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Kesenangan dan bahagia adalah naluri dari setiap manusia. Saat ini semua orang
pasti ingin memiliki hidup yang berakhir bahagia dan selalu senang. Hal inilah yang
melahirkan paham hedonisme, pandangan yang menganggap bahwa hidup itu hanya
untuk bersenang-senang dan mencari kenikmatan sebanyak-banyaknya di dunia. Dan saat
ini banyak masyarakat Indonesia yang sedikit banyak mengikuti paham tersebut,
walaupun tidak sepenuhnya. Mereka menganggap hidup yang mereka jalani harus diisi
dengan hal-hal yang menyenangkan dan bersifat duniawi saja, seperti makanan enak,
hangout sampai pagi, jalan-jalan, shopping, dan segala hal yang menghambur-hamburkan
uang yang belum bisa mereka dapatkan sendiri.
Bahkan beberapa dari mereka bersikap melampaui norma dan menganggap
kesenangan adalah saat mereka teler karena narkoba, melakukan seks dengan lawan jenis,
masuk ke diskotik kemudian mabuk, semua kesenangan duniawi yang kebablasan.
Mereka hanya memikirkan kesenangan sendiri tanpa memperdulikan keadaan orang lain.

II. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian hedonisme?
2. Faktor apa saja yang mendorong seseorang berperilaku hedon?
3. Apa dampak negatif dari pandangan hidup hedonisme?
4. Bagaimana cara menghindari dan menghilangkan sifat hedon?
5. Apa pengaruh hedonisme terhadap remaja?

III. Tujuan
1. Mengerti maksud dari hedonism
2. Menjelaskan faktor yang mendorong hedonisme
3. Mengetahui dampak negatif dari pandangan hidup hedonisme,
4. Tips-Tips menghindari perilaku hedon
5. Mengetahui pengaruh hedonisme terhadap remaja?

5



BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

I. Hedonisme
Menurut Wikipedia, kata hedonisme diambil dari bahasa Yunani yaitu hedonismos
dari akar kata hedone yang berarti kesenangan.
Hedonisme muncul pada sekitar tahun 443 SM. Saat itu muncul pertanyaan
filsafat yang diajukan oleh Sokrates, apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?.
Kemudian Aristipos dan Kyrene menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia
adalah kesenangan.
Pandangan tentang kesenangan ini dilanjutkan oleh seorang filsuf Yunani lain
bernama Epikuros. Menurutnya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah
kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme Epikurean lebih luas karena tidak hanya
mencakup kesenangan badani saja, seperti kaum Aristippos, melainkan kesenangan
rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan. Mereka mencari kebahagiaan
berefek panjang tanpa disertai penderitaan.
Menurut Aristoteles dalam Russell (2004:243) kenikmatan berbeda dengan
kebahagiaan, sebab tak mungkin ada kebahagiaan tanpa kenikmatan. Dia mengatakan tiga
pandangan tentang kenikmatan: (1) bahwa semua kenikmatan tidak baik; (2) bahwa
beberapa kenikmatan baik, namun sebagian besar buruk; (3) bahwa kenikmatan baik,
namun bukan yang terbaik. Aristoteles menolak pendapat yang pertama dengan alasan
bahwa penderitaan sudah pasti buruk, sehingga kenikmatan tentunya baik. Dengan tepat
ia katakan bahwa tak masuk akal jika dikatakan bahwa manusia bisa bahagia dalam
penderitaan: nasib baik yang sifatnya lahiriyah, sampai taraf tertentu, perlu bagi
terwujudnya kebahagiaan. Ia pun menyangkal pandangan bahwa semua kenikmatan
bersifat jasmaniah; segala sesuatu mengandung unsur rohani, dan kesenangan
mengandung sekian kemungkinan untuk mencapai kenikmatan yang senantiasa
kenikmatan yang tinggal dan sederhana. Selanjutnya ia katakan kenikmatan buruk akan
tetapi itu bukanlah kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang baik, mungkin saja
6

kenikmatan berbeda-beda jenisnya dan kenikmatan baik atau buruk tergantung pada
apakah kenikmatan itu berkaitan dengan aktivitas yang baik atau buruk.

II. Kasus Hedonisme Pada Remaja
Pandangan hidup seperti hedonisme, konsumerisme, dan individualisme
tidak terlepas dari proses globalisasi dan modernisasi. Dalam era globalisasi dan
modernisasi ini, hampir semua orang mengutamakan kesenangan semata,
konsumsi dalam skala besar, dan pencapaian benda-benda materi dalam segala
upaya. Untuk mencapai semua yang diinginkannya itu segalah usaha akan
dilakukan, walaupun harus mengorbankan banyak hal yang dimilikinya.
Dalam kaitannya dengan hedonisme, di era globalisasi dan modernisme ini
mencapai kenikmatan atau kesenangan semata adalah tujuan mutlak. Hedonisme
sendiri bermakna bahwa pemujaan terhadap kesenangan dan kenikmatan dunia
harus dikejar, dan itulah tujuan hidup yang paling hakiki bagi manusia. Hal ini
menyebabkan perilaku manusia sebagai konsumen semakin menggila, yaitu
Perilaku yang mengatas-namakan merk, kekuasaan, dan kenikmatan sesaat.
Dampak negatifnya, muncul ideologi bahwa formalitas kini menjadi segalanya,
hal terpenting bagi dirinya adalah images yang di mana mereka dapat
menyalurkan hasrat. Contoh tindakan hedonisme dalam era globalisasi ini
muncul dalam beragam tindakan aktivitas, mulai dari penomorsatuan sebuah
merk, hingga free sex.
Sama halnya dengan hedonisme, globalisasi dan modernisasi juga mampu
menyebarkan ideologi konsumerisme. Hal ini dikarenakan perkembangan dan
kemajuan teknologi yang semakin pesat sehingga segala sesuatu sangat mudah
untuk didapatkan. Perkembangan teknologi, misalnya perkembangan industri
yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah.
Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan
banyak pilihan yang ada.
Biaya yang ditanggung secara harian atau bulanan adalah biaya listrik,
sementara barang-barang tersebut kurang produktif untuk bisa menghasilkan
uang secara harian atau bulanan. Pembelian tersebut sekedar menghabiskan uang
dadakan yang tidak diperhitungkan beban selanjutnya setelah memiliki barang-
barang tersebut. Hal-hal tersebut merupakan sifat-sifat konsumerisme.
7

Proses globalisasi dan modernisasi yang terjadi juga menciptakan
pandangan hidup lainnya, yaitu individualisme. Dengan adanya kemajuan
teknologi dan pencampuran budaya asing, telah mengubah paradigma seseorang
yang menganggap bahwa mampu memiliki benda atau materi yang lebih tinggi
dari orang lainnya adalah tujuan ia hidup di dunia ini. Usaha-usaha yang
dilakukan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut bahkan dilakukan tanpa perlu
mengandalkan orang lain atau biasa disebut dengan individualis. Orang-orang
yang menganut pandangan ini menganggap bahwa dirinya sendirilah yang
menjadi kunci dalam kesuksesan dirinya sendiri atau bahkan organisasi
sekitarnya. Kehidupan menyendiri adalah salah satu ciri kehidupan individualis.

III. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hedonisme
Generasi yang paling tidak aman terhadap sebutan hedonise adalah remaja. Karena
biasanya remaja mempunyai kecendrungan antusias terhadap sesuatu hal yang baru.
Merebaknya paham hedonisme ini tentu ada penyebabnya. Ada benyak faktor intrinsik
maupun ekstrinsik yang menyebabkan terjeratnya para remaja kedalam budaya
hedonisme.
1. Faktor Intrinsik
a. Faktor Egoisme yang ada pada diri seseorang. Egooisme adalah penyebab
kecendrungan orang kepada kehidupan mewah. Orang sombong biasanya suka
melakukan persaingan tidak sehat untuk menunjukan kemewahannya . Terkadang
persaingan itu menimbulkan perasaan dengki dan melahirkan pemikiran-pemikiran
berbau hedonisme, seperti perasaan ingin menindas orang lain.
b. Kepribadian yang tidak sempurna. Pemahaman seseorang terhadap sesuatu dapat
berperpengaruh tehadap cara berfikir dan tindakan seseorang. Oleh karena itu,
kepribadian seseorang menentukan arah tingkah lakunya.
c. Pandangan Matrealistis, Apabila seseoreng cendrung berpandangan matrealistis
maka ia akan selalu mengumpulkan harta dengan cara yang mereka senagi, baik
cara itu baik maupaun buruk.




8

2. Faktor Ekstrinsik
a. Faktor Keluarga
Keluarga merupakan basis pertama dalam perkembangan pola fikir seseorang.
Pengaruh kehidupan keluarga baik secara langsung maupun tidak langsung
merupakan struktur utama dalam pembentukan kepribadian seseorang. Di
keluarga, anak mulai mengenal sosial budayanya.
Oleh karena itu, orang tua sangat bertanggung jawab kenapa remajanya
menjadi seorang yang hedonis. Sebagian orang tua lalai untuk mewarisi anak
mereka dengan norma dan gaya hidup timur yang punya spiritual. Mereka tidak
banyak campur tangan kepada anaknya tentang hal spiritual. Kecendrungan
sebagian orang tua yang pro dengan gaya hidup hedonisme, memandang anak
bukan sebagai titipan Ilahi.
Tapi memandang anak sebagai objek untuk diotak atik. Sejak kecil anak sudah
diperlakukan dengan hal yang aneh-aneh, anak dianggap lucu kalau rambutnya di
gondrongkan, diberikan nyanyian-nyanyian tentang cinta dan lain sebagainya.
Tidak heran kalau anak-anak mereka cenderung menjadi generasi free thinker atau
generasi yang kurang ajar.
b. Kelompok Pergaulan
Meskipun keluarga merupakan sarana yang paling jelas terlibat dalam
pembentukan pola fikir seseorang, ada pula faktor lain yang bisa membentuk pola-
pola prilaku seseorang. Salah satunya adalah kelompok pergaulan atau lingkungan
pergaulan. Dalam sebuah kelompok pergaulan setiap anggota memiliki kedudukan
dan peran yang relatif sama dan saling memiliki ikatan-ikatan yang erat. Serorang
individu dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap sikap-sikap atau tingkah laku
yang dianut oleh kelompok tersebut. Karena dalam pergaulan. Oleh karena itu,
kelompok pergaulan harus benar-benar diperhatikan agar para remaja tidak salah
bergaul.
c. Media Massa
Berbicara media massa, maka kita tidak dapat mengesampingkan televisi yang
dianggap sebagai faktor utama yang memberikan kontribusi negativ terhadap pola
fikir remaja. Karena berbagai acara televisi semakin hari semakin jauh dari
idealisme. Bahkan semakin melegalkan budaya kekerasan, instanisai, dan bentuk
bentuk kriminalitas. Sebagian tayangan-tayangan tersebut hanya semakin
mendangkalkan sifat efektif manusia. Tanyangan mengenai bencana alam,
9

kemiskinan, perang, kelaparan, penemuan tekhnologi, pembelajaran dan
sebagainya telah membuat sisi efeksi manusia tidak peka terhadap hal tersebut.
Tidak ada proses batin dan intelektual lebih lanjut. Penghayatan nilai-nilai luhur
semakin tereduksi.
Begitu pula media internet yang sudah tidak ada lagi batas mengenai kebaikan
dan keburukan. Sama halnya dengan bacaan-bacaan renaja saat ini yang
kebanyakan jauh dari nilai spiritual. Seperti banyaknya majalah-majalah yang
hanya membuat fikiran para remaja kian dangkal



IV. Pengaruh Hedonisme terhadap Remaja
Saat ini, budaya hedonisme sudah menjadi propaganda yang sukses dan mengakar
dalam jiwa-jiwa remaja. Namun ironisnya lagi, mereka para remaja tak menyadari hal
yang mereka lakukan adalah prilaku hedon. oleh sebab itu, paham ini memberikan
kontribusi negatif terhadap idiologi para remaja yang membuat mereka berani
menghalalkan segala cara demi tercapainya kesenangan, dan menjadikan remaja saat ini
memiliki mental yang lemah disertai dengan pemikiran yang sempit. Ada beberapa real
dampak doktrinisasi paham hedonism, diantaranya:
a. Free sex
Free sex atau seks bebas merupakan sebuah contoh hasil budaya hedonisme,
sehingga tidak aneh lagi bila survey yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional Pusat (BKKBN) pada tahun 2008 mengatakan bahwa 63% remaja
usia SMP-SMA di 33 propinsi di Indonesia telah berzina. Free sex dianggap oleh mereka
sebagai perbuatan yang biasa, mereka sudah tidak memikirkan lagi salah atau benar, yang
mereka fikirkan hanyalah kepuasan dirinya dirinya sendiri.
Ironisnya lagi, dalam diri mereka tidak ada lagi rasa malu, bahkan mereka merasa
bangga apabila sudah melakukan mesum, lantas mengameranya dan menyebarkannya
melalui internet. Sungguh perbuatan itu tidak sesuai dengan budaya bangsa kita. Sebab,
bangsa ini menganut adat-istiadat timur yang menganggap seks sebagai hal yang sakral.

b. Tawuran
Saat ini, tawuran sudah menjadi trend dikalangan sebagian remaja, Mereka merasa
senang sekali, jika melakukan perbuatan anarkis, memperdaya, dan menganiaya orang
10

lain. Dalam dirinya sifat empati dan simpati sudah hilang, apalagi sifat saling menghargai
dan solidaritas. Hal ini disebabkan karena mereka selalu pempertimbangkan untung rugi
dalam bersosialisasi dan bermasyarakat.
c. Narkoba
Walaupun semua orang sudah mengetahui akan bahayanya narkoba, namun masih
banyak remaja yang terjerumus pada jurang kehancuran ini. Propoganda hedonisme lah
yang menjadi sebab mereka tidak melihat akan bahayanya narkoba, mereka hanya melihat
kenikmat sesaat yang ditimbulkannya
d. Individualisme
Akibat dari globalisasi dan hedonisme, manusia menjadi individualis karena hanya
mementingkan diri sendiri tanpa mementingkan orang lain. Padahal manusia secara
kodrat merupakan makhluk sosial yang tentu saja tidak dapat hidup sendiri.

e. Konsumtif
Hedonisme yang sedang menjalar di lapisan masyarakat ini tidak hanya menyerang
remaja namun juga orang tua. Gaya hidup yang mementingkan gengsi untuk
kesenangan mengakibatkan hidup konsumtif menjadi dominan agar tak kalah saing
dan mampu memuaskan keinginan sesaat.

V. Dampak Negatif Hedonisme
Banyak sekali dampak negatif yang tibul akibat hedonisme antara lain :
1. Hedonisme membuat orang lupa akan tanggungjawabnya karena apa yang dia lakukan
semata-mata untuk mencari kesenangan diri. Jika hal-hal tersebut mampu menggeser
budaya bangsa Indonesia maka sedikit demi sedikit Indonesia akan kehilangan jati
diri yang sesungguhnya.
2. Manusia akan memprioritaskan kesenangan diri sendiri dibanding memikirkan orang
lain, sehingga menyebabkan hilangnya rasa persaudaraa, cinta kasih dan
kesetiakawanan sosial.
3. Sikap egoisme akan semakin membudaya, inilah bukti hedonisme yang menjadi
impian kebanyakan anak muda.
4. Semakin berkembangnya sistem kapitalis-sekuler karena sistem inilah yang
menyebabkan hedonisme berkembang secara pesat.
11

5. Merusak suatu sistem nilai kehidupan yang ada dalam masyarakat sekarang, mulai
sistem sosial, politik, ekonomi, hukum, pendidikan sampai sistem pemerintahan.
6. Meningkatnya angka kriminalitas. Tindak kriminal yang akhir-akhir ini marak terjadi
kebanyakan dilatar belakangi oleh sifat hedonisme manusia semata.
7. Konsumerisme tidak terlepas dari yang namanya hedonisme. Seseorang yang sudah
termasuk didalam kategori konsumerisme ini sangat susah untuk menghindarinya,
karena mereka sudah menganggap bahwa mereka harus menjadi yang pertama
diantara orang lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dampak negatif dari
pola kehidupan konsumtif adalah sebagai berikut:
a. Pemakaian uang yang berlebihan atau boros.
b. Pemanfaatan barang atau produk-produk yang tidak sesuai kebutuhan yang
seharusnya diharapkan.
c. Gangguan psikologis, dengan kebiasaan mengkonsumsi suatu hal yang berada
diatas normal menebabkan kecanduan akan benda tersebut, dan jika kebutuhan akan
benda tersebut tidak dapat terpenuhi maka akan menimbulkan gangguan
psikologisnya.
8. Tindakan kriminal, keinginan seseorang yang telah tergabung dalam pola hidup
konsumtif akan semakin buruk, jika yang bersangkutan tidak lagi dapat memenuhi
keinginnanya maka terpaksa ia harus melakukan tindakan kriminal, seperti mencuri
ataupun merampok.

VI. Cara Menghindari Sikap Hedonisme
Untuk mengantisipasi pengaruh negatif budaya hedonisme bagi mahasiswa perlu
diadakan sosialisasi, yaitu :
1. Perlunya kearifan dalam memilih barang agar tidak terjebak dalam konsumerisme.
2. Menanamkan pola hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
3. Dalam memilih barang mahasiswa perlu membuat skala prioritas dalam berbelanja
sehingga dapat membedakan barang apa yang benar-benar diperlukan dan barang-barang
yang diinginkan namun tidak diperlukan.
4. Penerapan pola hidup sederhana dalam kegiatan sehari-hari diperlukan untuk mengatur
keuangan mahasiswa agar pendapatan yang biasanya berasal dari orang tua tidaklah lebih
kecil daripada pengeluaran.
12

5. Adanya kedewasaan dalam berpikir sehingga kita dapat membentengi diri dari pola hidup
konsumerisme.

Memilih gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan
dan kebahagiaan. Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus.Bagi yang belum
terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri, berubah seratus delapan
puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita kembali
untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada
sesama- buang jauh-jauh karakter selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi
kekuatankuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat
mencari rezeki.

VII. Hedonisme dalam Pandangan Islam
Islam adalah ajaran yang sempurna, sebuah sistem dan cara pandang hidup yang
lengkap, praktis, dan mudah. Islam memberikan tuntunan terkait hal yang bersifat
individu dan yang menyangkut masalah kemasyarakatan. Semua itu telah diatur oleh
Islam. Allah berfirman, Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, telah
Ku-cukupkan untukmu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
(al-Maidah: 3). Islam mengajak manusia ke alam nan bercahaya, terang benderang.
Islam menarik manusia dari kegelapan dan mengarahkannya menuju kehidupan yang
penuh makna, membebaskan manusia dari kehampaan hidup, kekeringan jiwa, dan
kehilangan arah kendali hidup. Melalui Islam, manusia menjadi tercerahkan. Karena itu,
berbahagialah manusia yang telah diliputi oleh petunjuk, berpegang teguh dengan Islam
dan menepis setiap nilai jahiliah.
Adapun orang-orang yang berpaling dan tidak mau peduli terhadap kebenaran
Islam, sungguh mereka adalah orang-orang yang merugi. Hawa nafsu menjadi landasan
pacu amalnya. Perilakunya senantiasa diwarnai oleh noda hitam pekat, tidak merujuk
kepada Islam, dan lebih menyukai bersandar kepada sistem nilai kekufuran.Barang
siapa yang mencari tuntunan selain Islam, maka tidak akan diterima (amal
perbuatannya) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Ali
Imran: 85). Lantaran keadaan mereka yang gersang dari ajaran Islam, tanpa pemahaman
dan amal yang lurus dan benar, mereka lebih condong bergelut dengan beragam maksiat.
Kehidupan dunia telah banyak memerdayakannya. Mereka berlomba mereguk materi
sebanyak-banyaknya tanpa memerhatikan nilai kebenaran walaupun semua itu semu,
tidak terkecuali dari kalangan kaum muda Islam. Dengan slogan kata modern, mereka
bergumul meraup dunia. Mereka meninggalkan batas-batas dan menerobos rambu-
rambu agama. Halal-haram tak lagi menjadi pertimbangan dalam bersikap. Mata, hati,
13

dan pendengaran sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang
salah. Mereka tidak ubahnya bagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.
Akibat sikap buruk terhadap Islam, mereka pun mematri aturan-aturan hidup yang
bersumber dari hawa nafsu. Mereka bangga melaksanakannya meskipun kemudian
menimbulkan kerusakan di semua lini kehidupan. Dalam pergaulan antarjenis manusia,
kerusakan kronis telah begitu kuat mencengkeram. Kebebasan seksual, perilaku
kerahiban (hidup membujang), homoseks, lesbian, dan perilaku penyimpangan seksual
lainnya telah dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Hubungan yang bercampur baur
antara pria dan wanita yang bukan mahram tidak lagi dianggap sebagai dosa yang harus
dijauhi.
Anehnya, tidak sedikit dari kalangan umat Islam yang meniru dan bangga dengan
hal itu. Tanpa rasa takut kepada Allah, tanpa malu, dan tanpa risih mereka tiru mentah-
mentah perbuatan yang menyelisihi Allah dan Rasul-Nya. Nabi berkata,Sesungguhnya
dari apa yang telah manusia peroleh dari perkataan kenabian yang pertama, Jika
engkau tak memiliki rasa malu, berbuatlah sekehendakmu. (HR. al-Bukhari no. 6120
dari sahabat Abu Masud z).
Menjelaskan hadits di atas, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizahullah berkata,
Malu adalah perangai yang agung. Sikap malu menyebabkan seseorang tercegah dari
sesuatu yang akan mengantarkan kepada hal yang tak patut, seperti perbuatan-
perbuatan yang rendah dan hina, serta akhlak buruk. Oleh karena itu, sikap malu ini
termasuk dari cabang keimanan. (al-Minhatu ar-Rabbaniyyah fi Syarhi al-Arbain an-
Nawawiyah, hlm. 181).
Jika malu sudah tidak lagi ada di dada, sikap tidak nyaman lantaran melanggar
ketentuan Allah dan Rasul-Nya menjadi sesuatu yang biasa. Tidak ada lagi kata risih.
Jangankan malu, risih saja tidak. Dengan berbuat seperti itu, seakan-akan mereka
menganggap diri mereka sebagai orang yang menerapkan sistem modern. Kalau tidak
berbuat dan menerapkan hal demikian, bakal merugikan kehidupannya, masa depannya,
dan segenap usahanya. Apa yang dilakukannya seakan-akan merupakan langkah yang
baik, selaras dengan prinsip hidup modern, dan sesuai dengan kondisi masyarakat.
Fenomena ini digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya, Katakanlah, Apakah akan
Kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahfi:
103104).
Gaya hidup hedonis membentuk sikap mental manusia yang rapuh, mudah putus
asa, cenderung tidak mau bersusah payah, selalu ingin mengambil jalan pintas, tidak
hidup prihatin, dan bekerja keras. Seseorang yang terjebak gaya hidup hedonis akan
mengambil bagian yang menyenangkan saja. Singkat kata, gaya hidup hedonis
melahirkan manusia-manusia yang tumpul sikap sosialnya, melahirkan jenis manusia
asosial. Padahal hidup di dunia ini hanyalah main-main dan sendau gurau belaka.
Adapun kampung akhirat adalah hal yang lebih utama. Allah berfirman, Dan tiadalah
14

kehidupan dunia ini selain main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh akhirat itu
lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (al-
Anam: 32).
Menyikapi kehidupan dunia dengan bimbingan syariat, niscaya akan
menyelamatkan hamba dari tekanan hedonisme. Seseorang tidak akan diperbudak oleh
dunia, tidak pula silau oleh kemilau dunia yang menipu. Dunia hanyalah tempat singgah
sementara, sedangkan kampung akhirat adalah tempat tujuan yang hakiki, tujuan nan
abadi. Adapun kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (al-Ala: 17.
Begitulah dunia, dia tidak akan selalu bersama pemiliknya. Dia akan terpisah,
meninggalkan pemiliknya. Kaum hedonis amat sukar menerima kenyataan ini.

























15

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Secara umum Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa
orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin
dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.
3.1.2 Faktor yang menyebabkan terjadinya hedonisme adalah faktor ekstrnal dan
internal. Faktor eksternal antara lain: faktor keluarga, kelompok pergaulan, dan
media massa. Sedangkan faktor internal antara lain: faktor egoisme, kepribadian
yang tidak sempurna, dan pandangan matrealistis.
3.1.3 Dampak negatif dari hedonisme adalah hampir semua orang mengutamakan
kesenangan semata, konsumsi dalam skala besar, dan pencapaian benda-benda
materi dalam segala upaya. Perkembangan pandangan kehidupan hedonisme,
konsumerisme, dan individualisme berhubungan erat kaitannya dengan
globalisasi dan modernisasi.
3.1.4 Hedonisme yang terjadi di kalangan remaja semakin dapat melumpuhkan
karakter remaja Indonesia yang seharusnya santun, toleransi, saling membantu,
ramah dan lainlain
3.1.5 Tingkat hedonism di kalangan remaja dapat di kurangi dengan cara bersikap
arif, tidak boros, mampu mengendalikan diri, selalu mendekatkan diri pada Sang
Pencipta, dan lain-lain.
3.2 Saran
Sebagai makhluk Tuhan yang beragama dan juga penerus bangsa besar ini, sudah
sepatutnya sikap hedonisme ini jauh dari diri kita karena merugikan diri sendiri, juga
merugikan orang lain. Selain itu, harus ada dukungan dari semua pihak untuk
membasmi serangan hedonisme pada remaja ini. Tentu saja kita semua tidak
menginginkan sikap hedonisme ini menjadi turun temurun di remaja Indonesia, sebab
hedonisme ini lama kelamaan menghilangkan karakter remaja bangsa Indonesia yang
ketimuran. Karena apabila karakter generasi penerus kita lumpuh, maka karakter
Indonesia juga akan ikut lumpuh.



16

DAFTAR PUSTAKA

Bambang, Suprapto.2001. Sosiologi. Edisi Kedua. Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit
Gajah Mada
Dr. Fuad Farid Ismail., Dr. Abdul Hamid Mutawali. 2012. Cara Mudah Blajar Filsafat.
Jogjakarta: IRCISOD
Franz Magnis-Suseno.1987, Etika Dasar; Masalah-masalah pokok Filsafat Moral.
Yogyakarta: Kanisius. Hlm. 114.
Haditomo, Siti Rahayu dkk.2006.PSIKOLOGI PERKEMBANGAN.Jogjakarta : Gadjah Mada
University Press
Hasibuan, Sofia Rangkuti. 1994. Individualisme berkemandirian dalam Sejarah
Amerika, Disertasi Sarjana tak diterbitkan, Universitas Indonesia.
Anita, Veni. 2008. Konsumerisme, 22 Juli 2008: Budaya Konsumerisme, (Online),
(http://intl.feedfury.com/content/19423840-budaya-konsumerisme.html, diakses 15 Maret
2014)
Andy, Muhammad. 2005. Pandangan Hidup, 14 Juni 2005: Manusia dan Pandangan Hidup,
(Online), (http://psyche2nest.wordpress.com/2010/11/29/manusia-dan-pandangan-hidup/,
diakses 15 Maret 2014).