Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN IBU PADA MASA POSTNATAL NORMAL DAN BERMASALAH

OLEH : NS. NUNUNG NURHAYATI, S. KEP


STIKEP PPNI JAWA BARAT

KONSEP NIFAS (PUERPERIUM)
1. Pengertian
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama 6 minggu
(Sarwono Prawihardjo. 2002 : 122).
Periode pasca partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organorgan reproduksi
kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini disebut puerperium atau trimester
keempat kehamilan. (Bobak, Lowdermilk, & Jensen. 2004 : 492).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa nifas adalah masa antara persalinan sampai
kembalinya organ - organ reproduksi pada keadaan normal sebelum kehamilan dan penyesuaian
terhadap penambahan keluarga baru yang terjadi selama enam minggu.
2. Periode Nifas
Menurut Nelson dan May (1986 : 889) periode post partum dibagi menjadi tiga yaitu :
Periode Immediate Post Partum : Dimulai setelah persalinan sampai 24 jam pertama post
partum, dimana hampir seluruh sistem tubuh mengalami perubahan secara drastis.
Periode Early Postpartum : Terjadi setelah 24 jam post partum sampai akhir minggu pertama
sesudah melahirkan dimana resiko bahaya sering terjadi pada ibu post partum.
Periode Late Post Partum : Terjadi mulai minggu kedua sampai minggu keenam, setelah
melahirkan terjadi perubahan secara bertahap
3. Adaptasi Fisiologis Ibu Post partum
a. Sistem Pernapasan
Pada ibu post partum, fungsi pernafasan kembali pada keadaan seperti sebelum hamil dalam
enam bulan setelah persalinan. Setelah uterus kosong diafragma menurun, frekuensi nafas
akan menurun sampai keadaan normal seperti sebelum hamil.
b. Sistem Kardiovaskuler
Volume Darah : Pada ibu post partum, kehilangan darah sekitar 300 400 ml sewaktu
melahirkan bayi tunggal pervaginam dan jumlahnya akan meningkat dua kali selama
melahirkan dengan sectio caesaria.
Curah Jantung : Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat selama
masa kehamilan. Setelah melahirkan keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi
selama 30 sampai 60 menit.
Pada ibu post partum selama 72 jam pertama setelah bayi lahir volume plasma yang hilang
lebih besar dari pada sel darah yang hilang. Penurunan volume plasma dan peningkatan sel
darah merah berhubungan dengan peningkatan hematokrit pada hari ketiga sampai hari
ketujuh post partum. Batas normal volume sel darah merah dapat dikaji setelah 8 minggu
post partum. Faktor faktor pembekuan fibrinogen tetap meningkat selama masa
puerperium.
Leukositosis normal terjadi pada 10 sampai 12 hari pertama setelah melahirkan nilai
leukosit antara 20,000 dan 25,000 / mm merupakan hal yang umum.
Varises dan Edema : Varises pada ekstremitas bawah yang berkembang selama kehamilan
akan berkurang sedikit demi sedikit setelah kelahiran. Edema pada ekstremitas atau bagian
tubuh lain juga akan menghilang.
c. Sistem Pencernaan
Kebanyakan ibu post partum akan sangat lapar dan haus setelah pulih dari analgesik,
permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang dikonsumsi. Transportasi
fekal masih lambat dikarenakan masih adanya hormon estrogen dan progesteron yang
beredar di dalam tubuh ibu yang menyebabkan motilitas usus menurun.
d. Sistem Reproduksi
Payudara : Pada ibu post partum, perubahan tejadi terutama kelenjar dan alveolus
mammae dan lemak. Pada lobus terdiri dari lobuli dan acini yang menghasilkan air susu.
Setelah placenta lahir LTH dengan bebas merangsang laktasi. Lobus posterior hipofisis
merangsang pengeluaran oksitosin untuk menghasilkan air susu. Pada hari ketiga post
partum mammae menjadi keras dan nyeri dan hal ini adalah awal dari pembentukan air
susu.
Uterus => Involusi : Involusi adalah proses kembalinya uterus pada keadaan sebelum hamil
setelah proses persalinan yang dimulai segera setelah pengeluaran plasenta melalui
kontraksi otot uterus. Perubahan ini terjadi karena proses hormon oksitosin serta
rangsangan dari refleks hisap dan reflek telan bayi bereaksi terhadap kontraksi otot uterus
dan berlangsung selama 7 - 10 hari.
Bayi Baru Lahir, Tfu Setinggi Pusat (1000 Gram)
Uri Lahir, Tfu 2 Jari Bawah Pusat (750 Gram)
1 Mg, Tfu Pertengahan Pusat Simfisis (500 Gram)
2 Mg, Tfu Tidak Teraba Di Atas Simfisis (350 Gram)
6 Mg, Tfu Bertambah Kecil (50 Gram)
8 Mg, Tfu Sebesar Normal (30 Gram)
Lochea : Lochea merupakan pengeluaran cairan pervaginam setelah melahirkan. Lochea ini
berupa cairan yang berkomposisi jaringan endometrium, darah dan sel darah putih.
Karakteristik lochea dapat di lihat dalam tabel berikut :
No Type Warna Durasi Komposisi
1 Lochea rubra Merah dan hitam 1 - 3 hari Darah, fragmen-fragmen
decidua dan mukus
2 Lochea
sanguinolenta
Merah 3-7 hari Darah dan lendir
3 Lochea serosa Merah muda atau
coklat
7 - 14 hari Darah lama (old blood), serum,
leukosit dan debris jaringan
4 Lochea alba Cairan kuning
sampai bening
10 - 14 hari
(mungkin berakhir
dalam 6 minggu)
Kebanyakan desidua, sel epitel,
mukus serum dan bakteri,
serta jumlah leukosit yang
tinggi
5 Lochea
purulenta
Berbau busuk Lebih dari dua
minggu
Seperti nanah
Serviks : Pada ibu post partum serviks menjadi lunak, kemudian serviks akan menutup
setelah melahirkan namun penutupan ini tidak sempurna seperti keadaan sebelum hamil.
Pada daerah serviks tampak edema, namun itu harus hilang dalam waktu singkat setelah
melahirkan. Bila pasien mengeluh adanya perdarahan banyak pervaginam dalam waktu 24
jam setelah melahirkan, maka perawat sudah harus curiga terhadap ruptur daerah serviks
atau vagina.
Vulva dan Vagina : Pada ibu post partum, pembukaan vagina akan nampak membesar
sehingga rugae akan tidak tampak, lalu dinding vagina seperti lembut dan licin. Rugae ini
akan tampak kembali pada bentuk semula setelah 3 atau 4 hari melahirkan, walaupun
kadang masih tampak pada introitus (pintu vagina) bengkak dan kemerahan sampai pada
beberapa minggu masa nifas. Peran perawat yaitu mengkaji keluhan yang ditampilkan
pada ibu.
Perineum : Keadaan perineum post partum akan menjadi kendor karena sebelumnya
teregang oleh tekanan dari bayi yang bergerak maju. Pada post partum hari ke- 5 perineum
sudah kembali ke keadaan sebelumnya.


e. Sistem Perkemihan
Pada ibu post partum, distensi berlebih pada kandung kemih adalah hal yang umum terjadi
karena peningkatan kapasitas kandung kemih, pembengkakan dan memar di jaringan sekitar
uretra. Kandung kemih yang penuh menggeser uterus dan dapat menyebabkan pendarahan
post partum, distensi kandung kemih akan menyebabkan retensi urine. Pengosongan kandung
kemih yang adekuat umumnya kembali dalam 5 - 7 hari setelah terjadi pemulihan jaringan
yang bengkak dan memar. Diuresis terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan.
f. Sistem Endokrin
Pada ibu post partum, keadaan plasma hormon plasenta menurun dengan cepat setelah
persalinan. Keadaan estrogen dalam plasma menurun sampai 10 % dari nilai ketika hamil
dalam waktu tiga jam setelah persalinan, tingkat terendah kira - kira terjadi pada hari ketujuh.
Penurunan terpenting estrogen disertai dengan onset pemenuhan payudara pada kira - kira
hari ketiga post partum. Setelah plasenta lahir, prolaktin dengan bebas dapat merangsang
laktasi. Hisapan bayi akan meningkatkan prolaktin.
g. Sistem Pernafasan
Pada ibu post partum, ketidaknyamanan neurologis akibat kehamilan akan mereda setelah
persalinan. Rasa baal dan kesemutan periodik pada jari wanita hamil seringkali hilang setelah
persalinan.
Sakit kepala pada post partum mungkin disebabkan oleh berbagai perubahan kondisi,
termasuk hipertensi akibat kehamilan, stress dan akibat kebocoran cairan cerebrospinal ke
dalam ruang ekstradural selama jarum epidural diletakkan di tulang punggung untuk anestesi.
h. Sistem Muskuloskeletal
Adaptasi sistem muskuloskeletal yang terjadi selama kehamilan akan kembali seperti semula
pada periode post partum ini. Sendi akan kembali stabil seperti semula minggu ke 6 - 8 setelah
persalinan. Kulit abdomen akan kehilangan elastisitasnya setelah proses persalinan mungkin
dikarenakan janin yang besar atau janin yang kembar sehingga elastisitas otot abdomen akan
berkurang, hal ini biasa dinamakan diastasis rectus abdominalis.
i. Sistem Integumen
Kloasma selama kehamilan biasanya menghilang pada akhir kehamilan. Hiperpigmentasi
areola dan linea nigra mungkin tidak akan menghilang sempurna setelah proses persalinan.
Striae gravidarum (garis melintang) pada daerah payudara, perut dan pada daerah paha
mungkin akan luntur tetapi tidak akan menghilang.
Pada 24 jam pertama suhu bisa meningkat menjadi 38
0
C. Hal tersebut perlu diperhatikan
adanya infeksi post partum. Pada hari ketiga atau keempat post partum ketika payudara
dipenuhi air susu, temperatur akan meningkat selama kurang lebih satu jam akibat
meningkatnya vaskularisasi. Jika peningkatan temperatur lebih dari beberapa jam perlu
dipertimbangkan adanya infeksi post partum.
j. Sistem Imunitas
Tidak ada perubahan yang berarti dalam sistem imunitas maternal yang terjadi selama
periode post partum. Ibu memerlukan vaksinasi rubella untuk pencegahan terhadap Rh
isoimunisasi.

ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU POSTPARTUM
Dalam menerima peran sebagai orang tua, ibu menjalani suatu proses yang terdiri dari tiga tahap
(Neeson and May, 1992 : 894), yaitu :
1. Fase Taking In atau Fase Dependent (Periode Tingkah Laku ketergantungan)
Fase ini terjadi pada hari ke 1 dan ke 2, klien memfokuskan pada dirinya sendiri dan
tergantung pada orang lain. Klien tidak menginginkan kontak dengan bayinya. Tingkah laku
klien mungkin pasif dan ketergantungan. Klien memerlukan seseorang untuk memenuhi
kebutuhan fisik dan emosionalnya.
2. Fase Taking Hold atau Dependen Independent (Periode Tingkah Laku Mandiri dan
Ketergantungan)
Pada fase ini berlangsung pada hari ketiga dan berakhir pada minggu keempat sampai kelima.
Kekuatan klien meningkat, klien merasa lebih nyaman, klien lebih memperhatikan diri sendiri
dan bayinya. Klien lebih mandiri, berinisiatif untuk melakukan aktifitas guna merawat diri
sendiri dan lebih memperlihatkan fungsi tubuhnya serta keinginan untuk belajar tentang
perawatan diri dan bayinya.
3. Fase Letting Go atau Fase Independent (Periode Kemandirian Dalam Peran Baru)
Dimulai sekitar minggu ke 5 sampai minggu ke 6 setelah kelahiran. Klien merasa bahwa
bayinya adalah bagian dari dirinya yang tak terpisahkan, klien mendapat peran dan tanggung
jawab baru. Terjadi peningkatan kemandirian dalam perawatan diri sendiri dan bayinya.

KONSEP SECTIO CAESARIA
1. Pengertian
Sectio caesaria adalah cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus
melalui dinding depan perut atau vagina (Rustam Mochtar. 1998: 117).
Kelahiran sesaria adalah alternatif dari kelahiran vagina bila keadaan ibu dan atau janin
terganggu (Doengoes. 1998 : 339).
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut
dan dinding uterus (Sarwono Prawihardjo. 2005: 863).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sectio caesaria adalah tindakan pembedahan
melalui insisi pada dinding abdomen atau vagina dan dinding uterus untuk melahirkan janin.
2. Indikasi
Indikasi dilakukannya tindakan sectio caesaria adalah disproporsi kepala panggul / CPD / FPD,
disfungsi uterus, distosia jaringan lunak, plasenta praevia, partus lama (prolonged labor),
partus tak maju (obstructed labor), kehamilan multiple atau gestasi (uterus sangat distensi),
tumor atau neoplasma yang menghambat pelvis / jalan lahir, janin besar, gawat janin,
malpresentasi janin (Rustam Mochtar. 1998 : 118).
3. Jenis-Jenis Operasi Caesaria
a. Sectio Caesaria Transperitonealis
Sectio caesaria klasik (korporal) : Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada
korpus uteri kirakira sepanjang 10 12 cm dengan ujung bawah diatas batas pliko
vesika urinaria.
Sectio caesaria ismika (profunda) : Dilakukan dengan membuat sayatan melintang
konkaf pada segmen bawah uterus kirakira 10 cm.
b. Sectio Caesaria Ekstraperitonealis
Dilakukan tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum
abdominal.
4. Komplikasi
Infeksi puerperal (nifas)
Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.
Sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit
kembung.
Berat : dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik.
Perdarahan, disebabkan karena banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka, atonia
uteri.
Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonialisasi terlalu
tinggi.
Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang (Rustam Mochtar. 1998 :
121).

5. Dampak Sectio Caesarea Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia
Dampak Terhadap Sistem Tubuh
a. Sistem Pernafasan
Pada klien post partum yang dilakukan sectio caesaria corporal dengan anesteri epidural
pada 6 jam pertama bisa terjadi akumulasi sekret di jalan nafas menyebabkan peningkatan
produksi mukus. Bunyi nafas ronchi jika terdapat sekret pada jalan nafas, bunyi vesikuler
pada area paru jika tidak ada akumulasi sekret, frekuensi nafas 16 24 x / menit.
b. Sistem Kardiovaskuler
Pada persalinan sectio caesaria, ibu kehilangan darah 500 1000 ml. Komplikasi utama dari
perdarahan akut adalah hipotensi ortostatik atau pusing yang dapat terjadi ketika berdiri
karena sistem vaskular tidak cukup volumenya untuk mencapai ke otak.
c. Sistem Pencernaan
Pada ibu post partum dengan sectio caesaria akan terjadi penurunan kerja peristaltik usus
akibat efek anestesi dan ibu selama 6 jam pertama, tidak dibolehkan makan untuk
mengurangi resiko aspirasi. Perubahan sistem gastrointestinal pada ibu nifas dengan sectio
caesaria transperitoneal profunda yaitu lemahnya peristaltik usus akibat anestesi yang
menekan saraf yang mempersarafi sistem saraf, penekanan saraf tersebut akan
mempengaruhi kekuatan otot abdominal sehingga otot abdominal menjadi lemah. Setelah
terbebas dari efek anestesi umum klien dapat makan tanpa kesulitan akibat mual dan
muntah selama periode ini.
d. Sistem Perkemihan
lbu yang mengalami anestesi umum akan mengakibatkan hilangnya sensasi pada area
bladder sampai anestesinya hilang. Kateter sudah dapat dilepas dari vesika urinaria setelah
12 jam setelah operasi atau yang lebih baik lagi pada keesokan harinya setelah operasi.
e. Sistem Integumen
Ibu post operasi sectio caesaria trans profunda ditemukan luka insisi 10 cm yang secara
normal jahitan kulit diangkat pada hari keempat setelah pembedahan.
Dampak Psikologis : cemas, kegagalan, perasaan kehilangan, kemarahan, perasaan tidak
mampu.
6. Manajemen Medis
a. Therapi Obat
Untuk wanita dengan ukuran tubuh rata - rata dapat disuntikan intramuskuler 75 mg
meperidin setiap 3 jam sekali bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit, atau dapat
disuntikan dengan cara serupa 10 mg morfin. Jika ibu berukuran tubuh kecil, dosis
meperidin yang diberikan adalah 50 mg, atau jika ukuran tubuhnya besar dosis yang tepat
adalah 100 mg meperidin. Obat-obat antiemetik, misalnya prometasin 25 mg biasanya
diberikan bersama-sama dengan pemberian preparat narkotik.
b. Therapi Cairan dan Diet
Pedoman umum pemberian 3 liter larutan termasuk Ringer Laktat, terbukti sudah cukup
selama pembedahan dan dalam 24 jam berikutnya. Meskipun demikian, jika urine output
dibawah 30 ml / jam pasien harus dievaluasi kembali. Bila tidak ada manipulasi intra
abdomen yang ekstensif atau sepsis, pasien harus sudah dapat cairan per oral satu hari
setelah pembedahan. Jika tidak, pemberian infus boleh diteruskan paling lambat pada hari
kedua setelah operasi, sebagian besar pasien sudah dapat menerima makanan biasa.
c. Laboratorium
Secara rutin hematokrit diukur pada pagi hari setelah operasi. Hematokrit tersebut harus
dicek lagi bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa atau bila terdapat oliguria atau
kedaan lain yang menunjukan hipovolemi.



KONSEP PLACENTA PRAEVIA
1. Pengertian
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus
sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Masjoer, Arif. 1999 :
276)
Plasenta previa adalah plasenta yang terletak sangat dekat atau pada ostium internum,
normalnya plasenta tertanam di korpus uteri (Cunningham, F. Gary. 1995 : 846).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud placenta praevia adalah
plasenta yang letaknya menutupi jalan lahir.
2. Etiologi
Masih banyak penyebab plasenta previa yang belum diketahui atau belum jelas. Adapun
faktor faktor etiologi plasenta praevia adalah sebagai berikut :
Umur dan paritas
Usia lebih dari 35 tahun lebih sering terjadi.
Lebih sering terjadi pada paritas tinggi, karena endometrium tidak sempat tumbuh.
Pada usia muda, dimana endometrium belum matang.
Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang ulang, bekas operasi, kuretase, dan
manual plasenta.
Endometrium belum siap menerima hasil konsepsi (belum matur), jika perkawinan dan
hamil dalam usia muda (kurang dari 25 tahun).
Tumor tumor ; seperti mioma uteri, polip endometrium.
Kadang kadang pada malnutrisi
3. Klasifikasi
Menurut penulis buku buku Amerika Serikat, plasenta previa dibagi dalam bentuk klinis :
Plasenta Previa Totalis : Menutupi seluruh osteum uteri internum pada pembukaan 4.
Plasenta Previa Partialis : Menutupi sebagian osteum uteri internum.
Plasenta Previa Marginalis (letak rendah): Apabila tepi plasenta berada sekitar pinggir
osteum uteri internum 3 4 cm diatas pinggir pembukaan, tidak teraba pada
pemeriksaan dalam.
4. Patofisiologi
Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu saat segmen
bawah uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis. Umumnya terjadi pada
trimester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan. Pelebaran
segmen bawah uterus dan pembukaan serviks menyebabkan sinus uterus robek karena
lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta.
Perdarahan tak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah
uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal.
5. Gejala Klinis
Perdarahan tanpa sebab, tanpa rasa nyeri dan berulang.
Bagian terendah (kepala) masih tinggi, tidak dapat mendekati pintu atas panggul.
Kelainan letak janin, terjadi karena ukuran panjang rahim berkurang.


Placenta Normal

6. Komplikasi
Prolaps tali pusat.
Prolaps plasenta.
Plasenta melekat, sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan
kerokan.
Robekan robekan jalan lahir karena tindakan.
Perdarahan post partum.
Infeksi karena perdarahan yang banyak.
Bayi prematur atau lahir mati.
7. Terapi
a. Terapi aktif
Kehamilan segera diakhiri sebelum terjadi perdarahan yang menyebabkan kematian ibu
dan atau janin. Pervaginam, indikasi untuk plasenta lateralis atau marginalis bila keadaan
ibu dan janin memungkinkan. Sectio caesaria, indikasi untuk plasenta previa totalis.
b. Terapi Pasif
Apabila pada penilaian baik, perdarahan sedikit, janin masih hidup, belum inpartu,
kehamilan belum cukup 37 minggu, atau berat badan janin di bawah 2500 gram, maka
kehamilan masih dapat dipertahankan dengan istirahat dan pemberian obat obatan
seperti spasmolitika, progestin, atau progesterone.

KONSEP GAWAT JANIN
1. Pengertian
Gawat janin adalah suatu keadaan dimana janin tidak mendapatkan O
2
yang cukup, sehingga
akan mengalami hipoksia. Keadaan ini dapat terjadi kronik maupun akut. (Sarwono
Prawiroharjo 2005 : 354).
Gawat janin adalah suatu keadaan bahaya yang relatif dari janin yang secara serius dapat
mengancam kesehatan janin (Kapita selekta kedaruratan obstetri dan ginekologi 1994 : 211).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gawat janin adalah suatu keadaan dimana
janin tidak mendapatkan oksigen di dalam rahim.
2. Etiologi
Gawat janin dalam persalinan bisa terjadi karena disebabkan oleh adanya:
Partus yang lama
A Plasenta previa marginalis
B Plasenta previa totalis
C Plasenta previa partialis.
Sumber : (Rustam Moctar. 1998 : 271)

Ruptur uteri : Kontraksi uterus yang terus menerus mengganggu sirkulasi darah ke
plasenta.
Tekanan terlalu kuat dari kepala anak ke plasenta.
Prolapsus : tali pusat akan tertekan antara kepala anak ke plasenta.
Pemberian obat bius terlalu banyak.
Pendarahan banyak misalnya pada plasenta previa dan solutio plasenta.
Postmaturitas.
Adapun janin yang berisiko tinggi untuk mengalami kegawatan adalah:
Janin yang pertumbuhannya terhambat.
Janin dari ibu dengan diabetes mellitus.
Janin dengan kelainan letak.
Janin dengan kelainan bawaan atau infeksi.
3. Tanda Dan Gejala Adanya Gawat Janin
Denyut jantung janin abnormal
Denyut jantung janin (frekuensi lebih dari 160 / menit atau kurang dari 120 x / menit).
Bradikardi (denyut jantung janin kurang dari 100 x / menit), yang terjadi pada saat
berkontraksi atau tidak menghilang setelah kontraksi menunjukkan adanya kegawatan
pada janin.
Takhikardi (DJJ lebih dari 160 x / menit) dapat merupakan reaksi terhadap adanya :
Demam pada ibu
Obat-obatan yang menyebabkan takhikardi (misalnya obat tokolitik)
Amnionitis
Keluarnya mekonium kental merupakan tanda janin dalam keadaan asfiksia. Janin akan
mengadakan pernafasan intra uteri dan bila dilakukan pemeriksaan akan terdapat banyak
air ketuban dan mekonium dalam paru.
Gerakan janin menurun.
Klien mengalami kegagalan dalam pertambahan berat badan dan uterus tidak bertambah
besar.
Air ketuban hijau kental
4. Data Diagnosis Pada Gawat Janin
Pemantauan denyut jantung janin.
Peta gerakan janin, gerakan janin yang berkurang merupakan tanda dari gawat janin.
Ultrasonografi, pengukuran diameter biparietal dapat mengungkapkan bukti dini diri
retardasi pertumbuhan intra uteri, gerakan nafas janin, aktifitas janin dan volume cairan
ketuban.

KONSEP ANEMIA
1. Pengertian
Seorang ibu hamil disebut anemia bila nilai hemoglobin kurang dari 11 mg / dL atau nilai
hematokrit kurang dari 33 % selama trimester kedua dan ketiga kehamilan. Anemia ringan bila
nilai hemoglobin adalah 11 mg / dL, tidak mengancam tetapi merupakan indikasi kurang dari
status nutrisi yang optimal.
Anemia defisiensi zat besi merupakan anemia yang paling umum terjadi selama kehamilan,
mempengaruhi 15 % - 50 % wanita hamil. Keadaan ini diidentifikasikan sebagai anemia
fisiologis pada keadaan kehamilan.
2. Etiologi
Penyebab anemia meliputi : malnutrisi, kurang Fe, kehilangan darah banyak, penyakit kronis;
misalnya TBC, cacing tambang, malaria, HIV.


3. Patofisiologi
Kadar hemoglobin untuk wanita hamil biasanya adalah 13,5 gr / dL. Namun, kadar hemoglobin
selama trimester kedua dan ketiga kehamilan berkisar 11,6 gr / dL selama akibat pengenceran
darah ibu karena peningkatan volume plasma. Ini disebut sebagai anemia fisiologi dan
merupakan keadaan yang normal selama kehamilan.
Selama kehamilan, zat besi tidak dipenuhi secara adekuat dalam makanan sehari - hari. Zat
dalam makanan seperti susu, teh, dan kopi menurunkan absorbsi besi. Selama kehamilan
tambahan zat besi diperlukan untuk meningkatkan sel - sel darah merah ibu dan transfer ke
janin untuk penyimpanan dan produksi sel - sel darah merah.
4. Manifestasi Klinis
Tanda - tanda defisiensi anemia zat besi adalah kadar hemoglobin di bawah 10,5 gr / dL
meliputi kuku jari tangan rapuh, bibir pecah - pecah, lidah yang lembek, dan merah. Ibu
dengan anemia sel sabit mengalami keadaan yang sangat sakit.
5. Macam-Macam Anemia
Anemia defisiensi besi, disebabkan oleh kurang masuknya zat besi karena terlalu banyak
zat besi yang keluar, misalnya karena pendarahan.
Anemia megaloblastik, disebabkan defisiensi asam folat atau B 12.
Anemia hypoplastik, disebabkan karena sum - sum tulang kurang mampu membuat sel - sel
darah baru.
Anemia hemolitik, disebabkan karena penghancuran / pemecahan sel darah merah yang
lebih cepat dari pembuatannya.
6. Pembagian Anemia
Anemia ringan Hb 9 10 gr %
Anemia sedang Hb 7 8 gr %
Anemia berat Hb kurang dari 7 gr %
7. Pengaruh Anemia
Pengaruh anemia terhadap kehamilan : Keguguran, partus prematurus, insersia uteria dan
partus lama, ibu lemah, atonia uteri dan menyebabkan perdarahan, syok dan infeksi intra
partum dan dalam nifas.
Pengaruh anemia terhadap janin : Keguguran, kematian janin dalam kandungan, kematian
janin waktu lahir, prematuritas, dapat terjadi cacat bawaan dan cadangan zat besi kurang.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PARTUS PREMATURUS DENGAN SECTIO CAESAREA
ATAS INDIKASI PLACENTA PRAEVIA TOTALIS + GAWAT JANIN + ANEMIA
Proses keperawatan adalah metode asuhan keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan
terus menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan
pasien/klien dimulai dari pengkajian (pengumpulan data, analisa data, dan penentuan masalah),
diagnosa keperawatan, perencanaan, tindakan keperawatan, pelaksanaan, penilaian tindakan
keperawatan. (Zaidin Ali, 1997 : 69).
Proses keperawatan adalah proses yang terdiridari 5 tahap: (1) pengkajian keperawatan, (2)
identifikasi analisis masalah (diagnosa keperawatan), (3) Perencanaan, (4) implementasi, (5)
evaluasi. (Doengoes, 1998 : 2).
Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang
sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001 :17).
Pengumpulan data merupakan proses yang berisikan status kesehatan klien, kemampuan klien
untuk mengelola kesehatan dan perawatannya juga hasil konsultasi dari medis atau profesi
kesehatan lainnya (Nursalam, 2001 : 17).


Diagnosa Keperawatan
Diangnosa keperawatan menurut NANDA (North American Nursing Diagnosis Association) adalah
penilaian klinik mengenai respon individu, keluarga, dan komunitas terhadap masalah kesehatan
atau proses kehidupan yang aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar
untuk pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang merupakan tanggung jawab
perawat. Berdasarkan hasil studi kepustakaan dari berbagai literatur, didapatkan diagnosa
keperawatan yang muncul menurut Marilyn E. Doengoes, yaitu :
Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan transisi / peningkatan
anggota keluarga, krisis situasi (Intervensi pembedahan, komplikasi fisik yang mempengaruhi
pengenalan / interaksi, kebanggaan diri negatif).
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan, efek - efek
anestesi, efek - efek hormonal, distensi kandung kemih / abdomen.
Gangguan rasa aman : cemas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman pada konsep diri,
transmisi / kontak interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi.
Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa
kehidupan.
Resiko injuri berhubungan dengan fungsi biokimia atau regulasi (Hipotensi ortostatik, adanya
HKK atau eklamsi), efek - efek anestesi, tromboemboli, profil darah abnormal (anemia,
sensitifitas terhadap rubella, inkompatibilitas Rh), trauma jaringan.
Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / kulit rusak, penurunan
Hb, prosedur invasive, dan / atau peningkatan pemajanan lingkungan, pecah ketuban lama.,
malnutrisi.
Gangguan eliminasi : konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot (diastasis rektus,
kelebihan analgetik atau anestesi, efek - efek progesteron, dehidrasi, diare prapersalinan,
kurang masukan, nyeri perineal / infeksi).
Kurangnya pengetahuan mengenai perubahan fisiologis, periode pemulihan, perawatan diri
dan kebutuhan perawatan bayi : berhubungan dengan kurang pemajanan / mengingat,
kesalahan interpretasi, tidak mengenal sumber - sumber.
Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan trauma / diversi mekanis, efek - efek hormonal
(perpindahan cairan dan / atau peningkatan aliran plasma ginjal), efek - efek anestesi.
Gangguan pemenuhan ADL : perawatan diri berhubungan dengan efek - efek anestesi,
penurunan kekuatan dan ketahanan, ketidaknyamanan fisik.
Perencanaan Keperawatan
Perencanaan (intervensi) merupakan tahap ketiga dari proses keperawatan dimana, tujuan atau
hasil ditentukan dan intervensi dipilih. (Doengoes, 1998 : 81).
Implementasi
Implementasi merupakan tahap keempat dari proses kepaerawatan dimana rencana
keperawatan dilaksanakan, melaksanakan intervensi atau aktivitas yang telah dilakukan
(Doengoes, 1998 : 105).
Evaluasi
Evaluasi memuat kriteia keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan dengan
jalan membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan
keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien
dalam kehidupan sehari hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah
dirumuskan sebelumnya. Adapun sasaran evalusi adalah sebagai berikut:
Proses asuhan keperawatan berdasarkan kriteria atau rencana yang telah disusun.
Hasil tindakan keperawatan berdasarkan kriteria keberhasilan yang telah dirumuskan dalam
rencana evaluasi (Zaidin Ali, 2001 : 85).

Anda mungkin juga menyukai