Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI 1
SISTEM PERNAFASAN
Asma Bronkiale Gravida 6 Bulan







Disusun oleh:
Kelompok 3 Kelas A
1. Rizki Puspitasari G1F010031
2. Eka Wulandari G1F010035
3. Anisa Dewi Ratnaningtyas G1F010037
4. Herdyna Gita Violleni G1F010039
5. Yuni Umi Astuti G1F010043
6. Amanda Prita Katalia G1F010047
7. Yurissa Karimah G1F010049
8. Iriyanti G1F010051
9. Indra Pradipta G1F010057
10. Aldi Permadi G1F010079

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
PURWOKERTO
2012
PRAKTIKUM 1V
FARMAKOTERAPI PENYAKIT SISTEM PERNAFASAN

I. Database Pasien :
Nama : TY
Usia : 29 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Tanggal MRS : 25 Juni 2010
Riwayat penyakit : asma
Keadaan : Gravida 6 bulan
Diagnosa : Asma Bronkiale gravida 6 bulan
Keluhan :
1 HSMRS : mual, muntah, makan dan minum sedikit, BAB/BAK lancar, sesak napas

II. DATA LABORATORIUM :
Tgl/data TD N RR S
25/6 130/80 72
26/6
27/6 120/70 80 20 37
Normal 120/80-130/85 60-100 14-20 37

III. PATOFISIOLOGI PENYAKIT
Nelson mendefinisikan asma sebagai kumpulan tanda dan gejala mengi
serta batuk dengan karakteristik sebagai berikut; timbul secara episodic dan atau
kronik, cenderung pada malam hari atau dini hari (nokturnal), musiman. Adanya
factor pencetus diantaranya aktivitas fisik dan bersifat reversible baik secara
spontan maupun dengan penyumbatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain
pada pasien atau keluarga, sedangkan sebab-sebab lain sudah disingkirkan
(Nelson, 1996).
JENIS-JENIS ASMA :
1. Asma Alergi
Jenis asma ini adalah yang paling umum di antara yang lain. Statistik
menunjukkan bahwa anak-anak lebih rentan terhadap asma alergi dengan kurang
lebih 90% memiliki gangguan tersebut. Alergen seperti debu, serbuk sari, dan
tungau adalah penyebab paling umum asma alergi. Berolahraga di udara dingin
atau menghirup asap, parfum atau cologne dapat membuat lebih buruk kondisi
ini. Karena alergen dapat ditemukan di mana-mana, orang dengan asma alergi
harus berhati-hati dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Sebisa mungkin,
mereka harus menjauhi tempat-tempat yang berdebu dan membuat rumah bebas
debu.
2. Asma Non-alergi
Asma jenis ini biasanya muncul setelah usia paruh baya dan sering
disebabkan akibat infeksi pada saluran pernafasan bawah dan atas. Asma non-
alergi ditandai oleh penyumbatan saluran udara akibat peradangan. Asma jenis ini
bisa dikontrol dengan pengobatan yang tepat. Gejala asma non-alergi meliputi
mengi, batuk, sesak napas, napas menjadi cepat, dan dada terasa sesak. Asma
non-alergi dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti stres, kecemasan, kurang atau
kelebihan olahraga, udara dingin, hiperventilasi, udara kering, virus, asap, dan
iritasi lainnya.
3. Asma Nocturnal
Asma nocturnal dapat mengganggu tidur karena penderitanya dapat
terbangun di tengah malam akibat batuk kering. Dada sesak adalah salah satu
gejala pertama dari asma nocturnal yang diikuti oleh batuk kering. Asma
nocturnal dapat membuat penderitanya lesu di pagi hari akibat tidur malam yang
terganggu.
4. Asma Akibat Pekerjaan
Asma karena pekerjaan adalah suatu penyakit saluran pernafasan yang
ditandai dengan serangan sesak nafas, bengek dan batuk, disebabkan oleh
berbagai bahan yang ditemui di tempat kerja. Gejala-gejala tersebut biasanya
timbul akibat kejang pada otot-otot yang melapisisaluran udara sehingga saluran
udara menjadi sangat sempit. Penyebabnya adalah banyak bahan (alergen,
penyebab terjadinya gejala) di tempat kerja yang bisa menyebabkan asma karena
pekerjaan, yang paling sering adalah molekul protein (debu kayu, debu gandum,
bulu binatang, partikel jamur) atau bahan kimia lainnya (terutama disossianat).
Angka yang pasti dari kejadian asma karena pekerjaan tidak diketahui, tetapi
disuga sekitar 2-20% asma di negara industri diduga karena asma akibat
pekerjaan. Para pekerja yang memiliki resiko tinggi untuk menderita asma karena
pekerjaan adalah : pekerja plastik, pekerja logam, pekerja pembakaran, pekerja
penggilan, pekerja pengangkut gandum, pekerja laboratorium, pekerja kayu,
pekerja di pabrik obat, pekerja di pabrik deterjen. Gejalanya berupa : sesak nafas,
bengek, batuk, merasakan sesak di dada serta napas pendek dan cepat.
5. Asma Anak
Penyakit ini merupakan salah satu manifestasi alergi. Jika salah satu atau
kedua orangtua, atau kerabat lain(kakek, nenek, paman, bibi) mengidap alergi,
maka si anak memiliki bakat besar untuk alergi. Seorang anak dengan salah satu
orangtua yang menderita asma memiliki resiko 25 % memiliki asma, jika kedua
orangtua memiliki asma, resikonya meningkat menjadi 50 %. Dalam riwayat
keluarga, biasanya ditemui asma, serta bentuk lain penyakit alergi, seperti eksim,
pilek alergi, atau alergi obat maupun makanan.
Anak yang ibunya merokok selama hamil lebih mungkin terkena asma.
Anak di lingkungan perkotaan lebih mungkin memiliki asma, terutama sekali jika
mereka berasal dari kelompok sosial ekonomi rendah. Meskipun asma
berpengaruh dengan persentasi yang tinggi pada anak berkulit hitam
dibandingkan dengan anak berkulit putih, peranan genetik berpengaruh dalam
meningkatnya asma adalah kontroversi karena anak berkulit hitam juga lebih
mungkin untuk tinggal di daerah perkotaan. Anak yang menghadapi alergen
dengan konsentrasi tinggi, seperti debu atau kotoran kecoa, pada usia dini lebih
mungkin menderita terkena asma.
Sebagian besar asma pada anak menghilang saat dewasa. Sebagian lagi
terbawa sampai dewasa.
6. Asma Dewasa
Asma jenis ini berkembang setelah seseorang berusia dewasa. Kondisi ini
bisa disebabkan alergi, non-alergi, pekerjaan, musiman, atau nocturnal.
7. Asma Batuk
Jenis asma ini agak sulit didiagnosa karena dapat terkaburkan oleh batuk
lain yang berhubungan dengan bronkhitis kronis atau penyakit sinus. Dibutuhkan
tes dan check-up sebelum dokter dapat membuat diagnosa yang tepat.
Kemudian ada juga yang disebut dengan jenis asma Cough-Variant Asma,
batuk berat dengan asma merupakan gejala dominan yang terjadi.Kemudian
didalamnya terdapat beberapa penyebab batuk berupa postnasal drip, rinitis
kronis, sinusitis, atau gastroesophageal reflux disease (GERD atau mulas).Selain
itu ada juga beberapa batuk karena sinusitis dengan asma merupakan hal yang
umum. Penyakit asma merupakan penyebab serius dari batuk terjadi secara umum
saat ini. Cough-Variant Asma sangat kurang terdiagnosis dan sulit
diobati.Penyebab Cough-Variant Asma biasanya terjadi akibat dari infeksi
saluran pernapasan dan olahraga.Apabila batuk Anda sudah terjadi
berkepanjangan, lakukan pengecekan pada dokter spesialis paru-paru. Pengobatan
yang biasanya dilakukan adalah tes fungsi paru-paru guna melihat kinerja paru-
paru penderita.
8. Asma Campuran
Ini adalah campuran dari asma ekstrinsik dan intrinsik. Asma jenis ini
umumnya lebih serius karena penderita harus waspada terhadap kedua faktor
ekstrinsik dan intrinsik yang dapat memicu serangan asma.
9. Asma Musiman
Asma musiman hanya terjadi pada musim-musim tertentu dimana serbuk
sari atau alergen hadir dalam jumlah melimpah. Sebagai contoh, seorang individu
mungkin cukup sehat sepanjang tahun kecuali saat musin tanaman berbunga.
Musim bunga berarti akan lebih banyak serbuk sari beterbangan di udara yang
dapat memicu asma (Anonim, 2012).

ASMA BRONKIALE
Asma bronkial adalah penyakit inflamasi kronik pada saluran nafas yang
melibatkan berbagai sel dan elemen sel. Inflamasi kronik ini menyebabkan
hiperresponsivitas saluran nafas yang ditandai oleh episode berulang berbagai
gejala dan tanda seperti bising mengi, batuk, sesak nafas dan dada terasa penuh,
terutama pada malam atau dini hari. Episode serangan asma biasanya
berhubungan dengan obstruksi aliran udara pernafasan yang bervariasi derajatnya
dan umumnya reversibel, baik secara spontan maupun dengan pengobatan
(Mangatas, 2006). Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas, mengi
(wheezing), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada.
Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang
lebih berat, gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain silent chest,
sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat
dangkal.
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3
tipe, yaitu :
1. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus
yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic
dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya
suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor
pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan
asma ekstrinsik.
2. Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus
yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga
disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini
menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat
berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan
mengalami asma gabungan.
3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari
bentuk alergik dan non-alergik.

ETIOLOGI
1) Faktor predisposisi
Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit
alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi.
Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asthma
bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran
pernafasannya juga bisa diturunkan.
2) Faktor presipitasi
Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Seperti : debu,
bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
Ingestan, yang masuk melalui mulut. Seperti : makanan dan obat-
obatan.
Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Seperti :
perhiasan, logam dan jam tangan.
Perubahan cuaca.
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu
terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim,
seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan
dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain
itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma
yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami
stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa
diobati.
Lingkungan kerja.
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan
asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja
di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini
membaik pada waktu libur atau cuti.
Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat.
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktifitas tersebut.

2.4 Derajat Asma (National Asthma Education Program)
a) Asma Ringan
- Singkat (< 1 jam) eksaserbasi simptomatik dua kali/minggu
- Puncak aliran udara ekspirasi 80% dengan adaptasi baik
- Kemampuan volume ekspirasi/detik 80% diduga tanpa gejala
b) Asma Sedang
- Gejala asma kambuh > dua kali/minggu
- Kekambuhannya mempengaruhi aktivitasnya
- Kekambuhannya mungkin berlangsung berhari-hari
- Kemampuan puncak ekspirasi/derik dan kemampuan volume ekspirasi
berkisar antara 60-80%
- Obat yang biasa diperlukan untuk mengendalikan gejala
c) Asma berat
- Gejala terus-menerus menganggu aktivitas sehari-hari
- Puncak aliran ekspirasi dan kemampuan volume ekspirasi < 60%
dengan variasi luas
- Diperlukan kortikosteroid oral untuk menghilangkan gejala
Indikasi masuk rumah sakit :
Asma akut dengan bronkodilator yang tidak membaik
Takikardi persisten
Dispnea
Hipertensi
Pulsus paradoksus
Sianosis
Hipoksemia (PO2 kurang 70 mmHg)
Hiperkapnia (PCO2 kurang 38 mmHg)
Emfisema subkutan
Mekanisme asma
Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada
asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi
mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody IgE abnormal
dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan
antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast
yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan
bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody IgE orang
tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel
mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat,
diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan
leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin.

Gambar 2. mekanisme asma
Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal
pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mukus yang kental dalam lumen
bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan
saluran napas menjadi sangat meningkat.

Gambar 3. Penyempitan saluran nafas
Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada
selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa
menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian,
maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang
menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma
biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali
melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional
dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat
kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan
barrel chest.

ASMA PADA KEHAMILAN
Asma bronkial dapat dijumpai pada ibu yang sedang hamil, dan dapat
menyebabkan komplikasi pada 7% kehamilan. Faktor mekanik, hormonal dan
stress metabolik menyebabkan serangan asma pada kehamilan. Penderita asma
yang hamil akan mengalami perbaikan gejala pada sepertiga kasus, sepertiga lagi
memburuk, dan sisanya tetap sama. Serangan asma seringkali muncul pada
kehamilan minggu ke-24 sampai minggu ke-36, serangan hanya terjadi 10%
selama persalinan (Subijanto, 2008).
Asma bronkial yang tak terkontrol pada kehamilan meningkatkan risiko
kematian perinatal, preeklampsia, kelahiran prematur, Intra Uterine Growth
Retardation (IUGR) dan berat bayi lahir rendah. Besar risiko diatas berhubungan
dengan derajat berat asma pada kehamilan. Derajat asma yang lebih berat
memiliki risiko tinggi, sedangkan asma yang terkontrol dengan baik memiliki
risiko rendah. Tujuan penatalaksanaan asma pada kehamilan ialah untuk
mendapatkan terapi optimal, mempertahankan asma terkontrol, dan meningkatkan
kualitas hidup ibu dan janin. Asma yang terkontrol secara adekuat selama
kehamilan penting bagi kesehatan ibu dan janin (Subijanto, 2008).
Selama kehamilan terjadi perubahan fisiologi sistem pernafasan yang
disebabkan oleh perubahan hormonal dan faktor mekanik. Perubahan-perubahan
ini diperlukan untuk mencukupi peningkatan kebutuhan metabolik dan sirkulasi
untuk pertumbuhan janin, plasenta dan uterus.
Selama kehamilan kapasitas vital pernapasan tetap sama dengan kapasitas
sebelum hamil yaitu 3200 cc, akan tetapi terjadi peningkatan volume tidal dari
450 cc menjadi 600 cc, yang menyebabkan terjadinya peningkatan ventilasi
permenit selama kehamilan antara 19-50 %. Peningkatan volume tidal ini diduga
disebabkan oleh efek progesteron terhadap resistensi saluran nafas dan dengan
meningkatkan sensitifitas pusat pernapasan terhadap karbondioksida.
Dari faktor mekanis, terjadinya peningkatan diafragma terutama setelah
pertengahan kedua kehamilan akibat membesarnya janin, menyebabkan turunnya
kapasitas residu fungsional, yang merupakan volume udara yang tidak digunakan
dalam paru, sebesar 20%. Selama kehamilan normal terjadi penurunan resistensi
saluran napas sebesar 50%.
Perubahan-perubahan ini menyebabkan terjadinya perubahan pada kimia
dan gas darah. Karena meningkatnya ventilasi maka terjadi penurunan pCO2
menjadi 30 mm Hg, sedangkan pO2 tetap berkisar dari 90-106 mmHg, sebagai
penurunan pCO2 akan terjadi mekanisme sekunder ginjal untuk mengurangi
plasma bikarbonat menjadi 18-22 mEq/L, sehingga pH darah tidak mengalami
perubahan.
Secara anatomi terjadi peningkatan sudut subkostal dari 68,5 103,5
selama kehamilan. Perubahan fisik ini disebabkan karena elevasi diafragma
sekitar 4 cm dan peningkatan diameter tranversal dada maksimal sebesar 2 cm.
Adanya perubahan-perubahan ini menyebabkan perubahan pola pernapasan dari
pernapasan abdominal menjadi torakal yang juga memberikan pengaruh untuk
memenuhi peningkatan konsumsi oksigen maternal selama kehamilan.
Laju basal metabolisme meningkat selama kehamilan seperti terbukti oleh
peningkatan konsumsi oksigen. Selama melahirkan, konsumsi O2 dapat
meningkat 20-25 %. Bila fungsi paru terganggu karena penyakit paru,
kemampuan untuk meningkatkan konsumsi oksigen terbatas dan mungkin tidak
cukup untuk mendukung partus normal, sebagai konsekuensi fetal distress dapat
terjadI.
FAKTOR HORMONAL
Faktor hormonal seorang wanita juga dipengaruhi oleh masa kehamilan.
Sekitar 8 persen dari wanita hamil mengalami asma. Karena itu, wanita dengan
asma yang merencanakan kehamilan perlu mempersiapkan diri lebih baik lagi
untuk mengendalikan gejala asma dan juga terhadap keamanan obat-obat yang
dipergunakannya. Hormon hormon yang berpengaruh yaitu:
1. Progesteron
Hormon Progesteron, yang kadarnya meningkat pada masa kehamilan,
mempunyai efek langsung terhadap pusat pernapasan (respiratory center),
menyebabkan peningkatan frekuensi pernapasan (respiratory rate), sehingga
menyebabkan hiperventilasi. Progesteron juga bersifat smooth muscle relaxan
terhadap otot-otot polos usus, genitourinarius, dan diduga juga pada otot-otot
bronkus.
2. Estrogen
Hormon Estrogen, kadarnya mneingkat saat kehamilan, terutama pada
trimester ketiga. Pecora dan kawan-kawan membuktikan estrogen mempunyai
efek menurunkan diffusing capacity dari CO2 pada paru-paru dan diduga ini
terjadi sebagai akibat meningkatnya asam mukopolisakharida perikapiler.
3. Kortisol
Hormon Kortisol, kadarnya meningkat pada kehamilan, diduga sebagai
akibat klirens kortisol yang menurun, bukan karena sekresinya yang meningkat.
Sehingga waktu paruhnya akan memanjang. Dan pemberian preparat steroid pada
masa kehamilan harus disesuaikan dengan keadaan ini.

IV. KOMPOSISI TERAPI
a. Terapi dokter
Terapi 25/6 26/6 27/6
MP 2 x 6,5
D 5% 20 tpm
Nebul/8 jam K/P
Cefo 2 x 1
Radin 2 x 1
Lasal 3 x 1 cth
Symbicort
b. Terapi yang digunakan
Terapi 25/6 26/6 27/6
Prednisolon

Ampicilin

Ranitidine

Nebul/8 jam K/P

Lasal
expectorant

Infus D5%


Obat yang diganti atau tidak digunakan:
1. MP (metilprednisolon)
Metilprednisolon merupakan kortikosteroid dengan kerja
intermediate yang termasuk kategori adrenokortikoid, antiinflamasi, dan
imunosupresan. Namun, salah satu peringatan dan perhatian penggunaan
obat ini yaitu terhadap wanita hamil dan ibu menyusui. Metilprednisolon
dapat menyebabkan kerusakan fetus bila diberikan pada wanita hamil sebab
metilprednisolon memiliki sifat fisika kimia yang sangat lipofil sehingga
sangat mudah menembus sawar darah otak. Kortikosteroid dapat berdifusi
ke air susu dan dapat menekan pertumbuhan atau efek samping lainnya
pada bayi yang disusui. Oleh sebab itu dalam kasus ini metilprednisolon
diganti dengan prednisolon. Prednisolon digunakan untuk mengontrol gejala
asma penting diberikan bila terdapat kemungkinan terjadinya hipoksemia
ibu dan oksigenasi janin yang tidak adekuat. Penggunaan prednisolon dosis
rendah memiliki tingkat keamanan yang lebih baik daripada penggunaan
metilprednisolon (Greenberger, 1985).
2. Symbicort (formoterol)
Symbicort merupakan kombinasi terbaru antara kortikosteroid inhaler
dan long-acting bronchodilators yaitu fluticasone/salmeterol (Seretide) dan
budesonide/eformeterol. Symbicort memiliki efek terapi yang baik jika
digunakan sebagai upaya preventif, namun tidak dianjurkan untuk
penanganan saat terjadinya asma akut. Penggunaan obat ini perlu diawasi
sangat ketat atau dapat pula dikatakan membutuhkan tingkat kepatuhan
pasien yang tinggi, sebab apabila kehilangan satu dosis pemberian saja dapat
berakibat fatal terhadap kondisi pasien apalagi dengan kondisi hamil
(Cunningham, 2006).
3. Radin (Ranitidin Hidroklorida)
Radin memiliki komposisi Ranitidin dan HCl. Pada kasus ini radin
diganti dengan ranitidine dikarenakan kondisi pasien sudah mual muntah
yang mengindikasikan tingginya kadar HCl dalam lambung. Tingginya kadar
HCl juga disebabkan oleh meningkatnya hormone progesterone yang
menyebabkan pengosongan lambung terhambat (Price, 2003). Apabila tetap
digunakan radin dikhawatirkan tidak dapat menyelesaikan masalah karena
adanya kandungan HCl dalam obat tersebut yang dapat membuat kadar HCl
lambung semakin tinggi. Oleh karena itu, digunakan ranitidine untuk
menangani keluhan mual muntah pasien dengan mekanisme H2 antagonis
bloker.
4. Cefotaxim
Cefotaxime adalah antibiotic golongan sefalosporin generasi ketiga,
spectrum luas, yang mempunyai khasiat bakterisidal dan bekerja dengan
menghambat sintesis mukopeptida pada dinding sel bakteri. Penggunaan
antibiotic dalam kasus ini adalah sebagai pencegahan terhadap infeksi
nosokomial pada pasien rawat inap. Cefotaxim dianggap terlalu tinggi jika
hanya digunakan sebagai preventif karena cefotaxim merupakan antibiotic
golongan sefalosporin generasi ketiga, di mana semakin tinggi generasi maka
semakin poten pula obat tersebut, hal ini dapat menyebabkan peluang
terjadinya resistensi menjadi lebih besar karena pasien sudah diberikan
antibiotic generasi tinggi sejak awal dan apabila suatu saat nanti terkena
infeksi bakteri golongan rendah pasien tersebut telah kebal atau resisten.
Selain itu, cefotaxim memiliki aktivitas yang lebih besar terhadap bakteri
gram negative daripada bakteri gram positive. Oleh karena itu, dalam kasus
ini cefotaxim diganti dengan ampisilin. Ampisilin adalah derivat penisilin
semi sintetik yang bersifat bakterisida yang bekerja dengan cara
menghambat sintesa dinding sel bakteri. Ampisilin aktif terhadap bakteri
gram positive (Streptococcus faecalis, Streptococcus pneumoniae dan
Streptococcus haemolyticus) dan bakteri gram negative (Haemophilus
influenzae, Salmonella sp., Neisseria gonorrhoeae, Proteus mirabillis).
Ampisilin merupakan antibiotic derivate penisilin generasi pertama
sehingga dapat digunakan sebagai upaya preventif (Soedarto, 2007).

V. PEMBAHASAN PER TERAPI YANG DIBERIKAN
1. TUJUAN TERAPI
o Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma, agar kualitas
hidup meningkat
o Mencegah eksaserbasi akut
o Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal
mungkin
o Mempertahankan aktivitas normal termasuk latihan jasmani dan
aktivitas lainnya
o Mencegah hipoksia pada janin
2. TERAPI FARMAKOLOGI
a. PREDNISON


Tablet Prednison mengandung prednison yang merupakan glukokortikoid.
Glukokortikoid adalah steroid adrenokortikal, dimana keduaduanya ada yang
alami dan sintetik, yang mudah dan siap diserap melalui traktus gastrointestinalis.
Sifat fisiko-kimia dan rumus prednison adalah (Anonim 1, 2009). Nama kimia:
17-hydroxy-17-(2-hydroxyacetyl)-10,13-dimethyl 7,8,9,10,12,13,14,15,16,17-
decahydro-6H-cyclopenta[a]phenanthrene-3,11-dione. Berat molekul: 358,428
g/mol. Titik leleh: 233-235 C. Kelarutan dalam air: 312 mg/L. Enzim
metabolisme fase 1 yang berperan: CYP3A4. Target primer obat: Glukokortikoid
Reseptor (GR), dengan nama gen NR3C1, berfungsi untuk reseptor
glukokortikoid. Mempunyai dua model peran: sebagai factor transkripsi yang
mengikat kepada elemen respon glukokortikoid (Glukokotikoid Response
Element/GRE) dan sebagai modulator untuk faktor transkripsi yang lain.
Berpengaruh pada respons inflamasi, proliferasi sel, dan diferensiasi target
jaringan (Anonim 1, 2009).
Secara internasional tiap tablet, untuk pemberian per oral, mengandung 5 mg,
10 mg, atau 20 mg untuk USP (anhydrous) prednison (Anonim 3, 2009).
Pemberian loading dose tablet prednisone berkisar antara 5 mg sampai 60 mg per
hari, tergantung pada keadaan spesifik yang sedang diterapi (dengan prinsip trial
and error). Dosis rendah digunakan untuk menangani keadaan yang kurang
berbahaya sedangkan pada pasien tertentu mungkin dibutuhkan loading dose
yang tinggi (Fanta, 2009). Loading dose dipertahankan atau disesuaikan sampai
respons yang memuaskan, setelah itu pengaturan dosis yang tepat dilakukan
dengan pengurangan loading dose obat secara perlahan sampai mencapai dosis
yang paling rendah tetapi tetap memberikan respons klinis yang cukup. Jika
setelah terapi jangka panjang obat hendak dihentikan, direkomendasikan
penghentian dilakukan secara bertahap (Neal, 2005).
Dosis untuk eksaserbasi akut asma pada orang dewasa adalah prednison
30mg, 2 kali sehari selama 5 hari. Bila perlu jangka terapi dapat diperpanjang
sampai 7 hari dengan dosis yang lebih rendah. Dosis khusus untuk anak-anak
dengan asma bronkhial akut yaitu 1-2mg/kgBB/hari untuk 3-10 hari (maksimal
60mg/hari) (Anonim 7, 2009).
Mekanisme
Glukokortikoid adalah hormon yang muncul secara alamiah yang mencegah
atau menekan proses radang dan respons imun ketika diberikan dengan dosis
farmakologi (Anonim 2, 2009). Pada tingkat molekuler, glukokortikoid yang
tidak terikat dapat melintasi membran sel dan yang terikat dengan reseptor
sitoplasma yang spesifik, mempunyai ikatan yang afinitas tinggi. Ikatan ini
menginduksi respons berupa perubahan transkripsi dan akhirnya terjadi sintesis
protein, untuk mencapai kerja steroid yang sesuai dengan harapan. Prednison
adalah bentuk sintetik dari steroid dimana obat ini merupakan prodrug yang akan
diubah oleh hati menjadi prednisolon yang merupakan bentuk aktif dan steroid.
Steroid bekerja dengan cara seperti: inhibisi infiltrasi leukosit pada tempat
terjadinya peradangan, ikut bekerja pada fungsi mediator respons radang, dan
penekanan pada respons imun humoral. Beberapa efek lainnya seperti reduksi
edema atau jaringan parut, juga penekanan secara umum pada respons imun.
Kerjaanti-inflamasi dari kortikosteroid diperkirakan karena kortikosteroid ikut
melibatkan protein inhibitor Fosfolipase A2, yang disebut dengan lipocortins.
Lipocortins mengontrol biosintesis mediator radang yang poten seperti
prostaglandin dan leukotriene dengan cara menghambat pembentukan asam
arakidonat secara tidak langsung melaui mekanisme penghambatan Fosfolipase
A2 (Katzung , 2001).
Pola ADME
Prednison diabsorbsi dari traktus gastrointestinalis sebesar 50%-90%. Efek
puncak sistemik didapat setelah 1-2 jam konsumsi obat. Obat yang bersirkulasi
terikat erat pada protein plasma albumin dan transcortin, dan hanya bagian tidak
terikat dari dosis aktif. Sistemik prednison didistribusi secara cepat menuju ginjal,
usus, kulit, liver, dan otot. Kortikosteroid terdistribusi pada air susu ibu dan
mampu melintasi plasenta. Prednison dimetabolisme secara aktif di liver menjadi
prednisolon oleh hidrogenisasi grup keton pada posisi 11 di hati, kemudian
prednisolon dimetabolisme lagi lebih lanjut menjadi metabolit biologis inaktif
(seperti glukonoride dan sulfat).
Prednison diekskresi melalui traktus urinarius sebesar 3 2% tanpa berubah
bentuk menjadi prednisolon. Diekskresi dalam bentuk prednisolon sebesar 15
5% bersama dengan beberapa bagian prednisolon yang tidak berubah menjadi
metabolit inaktif. Prednison mempunyai waktu paruh biologis sekitar 18-36 jam
dan waktu paruh eliminasi plasmanya adalah 3,5 jam. Sedangkan prednisolon
sebagai metabolit aktifnya mempunyai waktu paruh plasma sekitar 2-4 jam.
Dalam distribusinya prednison terikat dengan protein plasma albumin dan
transcortin sebesar 65%-91%. Prednison mempunyai bioavalibilitas sebesar 80
11% ( Rang, 2007).
Toksisitas
Pada penggunaan prednisone jangka panjang, jika ingin menghentikan
pemakaiannya harus melakukan tapering, karena saat pemberian prednisone
jangka panjang, glandula adrenal mengalami atrofi dan berhenti memproduksi
kortikosteroid tubuh alami. Karena itu penggunaan prednison harus dihentikan
secara bertahap sehingga glandula adrenal mempunyai waktu untuk pulih kembali
dan melanjutkan produksi kortisol (Suherman, 2008).



s






Ilustrasi pemberian obat prednison dan mekanisme timbulnya efek samping
dapat dilihat pada gambar 3. Dalam gambar 3A tampak keadaan normal jalur
Hipotalamus-Hipofise-Organ dalam tubuh seseorang sebelum mengkonsumsi
prednison. Pada gambar 3B tampak mulai diberikan dosis normal prednison
sehingga produksi hormon kortisol oleh tubuh menjadi mengecil. Pada gambar
3C tampak pemberian prednison dalam jumlah besar dan dengan jangka waktu
yang lama sehingga terjadi atrofi dari kelenjar adrenal. Sedangkan pada gambar
terakhir 3D, tampak penghentian prednison secara mendadak sehingga kelenjar
adrenal yang tadinya atrofi tidak mampu memulihkan dirinya secara sempurna
sehingga produksi kortisol alamiah benar-benar terhenti.
Efek samping paling khas pada penggunaan prednison adalah keadaan yang
disebut dengan moon face (wajah pasien menjadi berisi sehingga terlihat bulat
seperti bulan purnama) dan buffalo hump (timbunan lemak berlebih pada
punggung bagian atas sehingga tampak seperti punuk kerbau) (Anonim 4, 2009).
Efek samping prednison lainnya antara lain tekanan darah menjadi tinggi,
berkurangnya kadar kalium dalam plasma, glaukoma, katarak, munculnya ulkus
pada usus dua belas jari (duodenum), memburuknya keadaan diabetes, dapat
terjadi obesitas tetapi juga mungkin terjadi penurunan berat badan, susah tidur,
pusing, perasaan bahagia yang tidak tepat, bulging eyes, jerawat/acne, kulit
menjadi rapuh, garis merah atau ungu di bawah kulit, proses penyembuhan luka
dan jejas yang melambat, pertumbuhan rambut meningkat, perubahan
pendistribusian lemak ke seluruh tubuh (khas: buffalo hump), kelelahan yang
ekstrim, lemah otot, siklus mens yang tidak teratur, penurunan keinginan
melakukan aktivitas seksual, rasa terbakar pada ulu hati, peningkatan pengeluaran
keringat, penghambatan pertumbuhan pada anakanak, kejang, dan gangguan
psikiatri (termasuk di dalamnya adalah depresi, euforia, insomnia, perubahan
mood mendadak, perubahan kepribadian, dan juga dapat berupa kelakuan
psikotik) (Rang, 2009).
Prednison menekan sistem imun sebagai konsekuensinya, meningkatkan
frekuensi atau keparahan dari infeksi oleh mikroorganisme lain dan mengurangi
efektivitas dari vaksin dan antibiotik. Prednison dapat menyebabkan osteoporosis
yang mengakibatkan fraktur pada tulang (Anonim 6, 2009).
b. NEBULIZER (isi: salbutamol)
Salbutamol merupakan salah satu bronkodilator yang paling aman dan
paling efektif. Tidak salah jika obat ini banyak digunakan untuk pengobatan
asma. Selain untuk membuka saluran pernafasan yang menyempit, obat ini juga
efektif untuk mencegah timbulnya exercise-induced broncospasm (penyempitan
saluran pernafasan akibat olahraga). Saat ini, salbutamol telah banyak beredar di
pasaran dengan berbagai merk dagang, antara lain: Asmacare, Bronchosal,
Buventol Easyhaler, Glisend, Ventolin, Venasma, Volmax, dll. Selain itu,
salbutamol juga telah tersedia dalam berbagai bentuk sediaan mulai dari sediaan
oral (tablet, sirup, kapsul), inhalasi aerosol, inhalasi cair sampai injeksi. Adapun
dosis yang dianjurkan adalah sebagai berikut:
1. Sediaan oral
Anak < 2 tahun : 200 mcg/kg BB diminum 4 kali sehari
Anak 2-6 tahun : 1-2 mg 3-4 kali sehari
Anak 6-12 tahun : 2 mg diminum 3-4 kali sehari
Dewasa : 4 mg diminum 3-4 kali sehari, dosis maksimal 1 kali
minum sebesar 8 mg
Catatan : dosis awal untuk usia lanjut dan penderita yang sensitif sebesar 2
mg
2. Inhalasi aerosol
Anak : 100 mcg (1 hisapan) dan dapat dinaikkan menjadi 200 mcg (2
hisapan) bila perlu.
Dewasa : 100-200 mcg (1-2 hisapan), 3-4 kali sehari
3. Inhalasi cair
Dewasa dan anak >18 bulan : 2,5 mg diberikan sampai 4 kali sehari atau 5
kali bila perlu. Catatan : manfaat terapi ini pada anak < 18 bulan masih
diragukan.
4. Injeksi subkutan atau intramuscular
Dosis : 500 mcg diulang tiap 4 jam bila perlu
5. Injeksi intravena lambat
Dosis : 250 mcg, diulang bila perlu
Sediaan inhalasi cair banyak digunakan di rumah sakit untuk mengatasi
asma akut yang berat, sedangkan injeksi digunakan untuk mengatasi penyempitan
saluran nafas yang berat. Bentuk sediaan lain, seperti tablet, sirup dan kapsul
digunakan untuk penderita asma yang tidak dapat menggunakan cara inhalasi.
Dari berbagai bentuk sediaan yang ada, pemberian salbutamol dalam bentuk
inhalasi aerosol cenderung lebih disukai karena selain efeknya yang cepat, efek
samping yang ditimbulkan lebih kecil jika dibandingkan sediaan oral seperti
tablet. Bentuk sediaan ini cukup efektif untuk mengatasi serangan asma ringan
sampai sedang, dan pada dosis yang dianjurkan, efeknya mampu bertahan selama
3-5 jam. Beberapa keuntungan penggunaan salbutamol dalam bentuk inhalasi
aerosol, antara lain:
Efek obat akan lebih cepat terasa karena obat yang
disemprotkan/dihisap langsung masuk ke saluran nafas.
Karena langsung masuk ke saluran nafas, dosis obat yang dibutuhkan
lebih kecil jika dibandingkan dengan sediaan oral.
Efek samping yang ditimbulkan lebih kecil dibandingkan sediaan oral
karena dosis yang digunakan juga lebih kecil.
Namun demikian, penggunaan inhalasi aerosol ini juga memiliki kelemahan
yaitu ada kemungkinan obat tertinggal di mulut dan gigi sehingga dosis obat yang
masuk ke saluran nafas menjadi lebih sedikit dari dosis yang seharusnya. Untuk
memperbaiki penyampaian obat ke saluran nafas, maka bisa digunakan alat yang
disebut spacer (penghubung ujung alat dengan mulut).
Sangat penting untuk mengetahui bagaimana cara penggunaan inhalasi
aerosol yang benar. Mengapa? Karena cara pakai yang salah bisa berakibat
kegagalan terapi. Cara yang benar adalah dengan menghisapnya secara perlahan
dan menahan nafas selama 10 detik sesudahnya.
Kontraindikasi dari obat ini adalah untuk penderita yang hipersensitif
terhadap salbutamol maupun salah satu bahan yang terkandung di dalamnya.
Adapun efek samping yang mungkin timbul karena pamakaian salbutamol, antara
lain: gangguan sistem saraf (gelisah, gemetar, pusing, sakit kepala, kejang,
insomnia); nyeri dada; mual, muntah; diare; anorexia; mulut kering; iritasi
tenggorokan; batuk; gatal; dan ruam pada kulit (skin rush). Untuk penderita asma
yang disertai dengan penyakit lainnya seperti: hipertiroidisme, diabetes mellitus,
gangguan jantung termasuk insufisiensi miokard maupun hipertensi, perlu adanya
pengawasan yang lebih ketat karena penggunaan salbutamol bisa memperparah
keadaan dan meningkatkan resiko efek samping. Pengawasan juga perlu
dilakukan pada penderita asma yang sedang hamil dan menyusui karena
salbutamol dapat menembus sawar plasenta. Untuk meminimalkan efek samping
maka untuk wanita hamil, sediaan inhalasi aeorosol bisa dijadikan pilihan
pertama. Penggunaan salbutamol dalam bentuk sediaan oral pada usia lanjut
sebaiknya dihindari mengingat efek samping yang mungkin muncul.
Beberapa hal penting yang perlu diketahui oleh para pengguna salbutamol
untuk mengatasi asma, adalah sebagai berikut:
Sebaiknya tidak menggunakan obat ini jika memiliki riwayat alergi
terhadap salbutamol atau bahan-bahan lain yang terkandung di dalamnya.
Untuk sediaan oral, sebaiknya diminum 1 jam sebelum atau 2 jam
sesudah makan.
Telan tablet salbutamol dan jangan memecah maupun mengunyahnya.
Untuk sediaan inhalasi, kocok dulu sebelum digunakan dan buang 4
semprotan pertama jika menggunakan inhaler baru atau inhaler yang sudah tidak
terpakai selama lebih dari 2 minggu.
Sebaiknya berkumur setiap kali sehabis mengkonsumsi salbutamol
supaya tenggorokan dan mulut tidak kering.
Jika dibutuhkan lebih dari 1 hisapan dalam sekali pemakaian, maka
beri jarak waktu minimal 1 menit untuk setiap hisapan.

Simpan obat pada suhu kamar agar stabil (aerosol: 15-25o C; inhalasi
cair: 2-25o C dan sirup: 2-30o C)
Jika ada dosis yang terlewat, segera minum salbutamol yang terlewat.
Namun jika waktu yang ada hampir mendekati waktu pengonsumsian
selanjutnya, lewati pengonsumsian yang tertinggal kemudian lanjutkan
mengkonsumsi salbutamol seperti biasa. Jangan pernah mengkonsumsi 2 dosis
dalam sekali pemakaian.
Obat-obat golongan beta blocker, seperti: propanolol, metoprolol,
atenolol, dll bisa menurunkan efek salbutamol.
Penggunaan salbutamol dosis tinggi bersamaan dengan kortikosteroid
dosis tinggi akan meningkatkan resiko hipokalemia.
Asetazolamid, diuretik kuat dan thiazida dosis tinggi akan
meningkatkan resiko hipokalemia jika diberikan bersamaan dengan salbutamol
dosis tinggi pula.
Penggunaan salbutamol bersama dengan obat golongan MAO-inhibitor
(misal: isocarboxazid, phenelzine) bisa menimbulkan reaksi yang serius. Hindari
pemakaian obat-obat golongan ini 2 minggu sebelum, selama maupun sesudah
konsumsi salbutamol.
Asma merupakan penyakit yang membutuhkan terapi jangka panjang
sehingga perlu dilakukan monitoring terhadap perkembangannya secara terus-
menerus untuk melihat apakah obat yang diberikan cocok atau tidak. Ada kalanya
asma tidak cukup diatasi hanya dengan satu macam obat saja, sehingga perlu
penambahan obat (kombinasi obat). Maka dari itu, pengetahuan akan salah satu
jenis obat saja tidak cukup karena masih banyak obat selain salbutamol yang
tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
c. AMPICILIN
a. Indikasi obat
Ampicillin sebagai antibiotic termasuk antibiotic penicillin aktif terhadap
berbagai kuman gram positif dan gram negative.
b. Dosis
3 x sehari 1 tablet
c. Interaksi obat
Ampicillin dan surfactant meningkatkan efek metotreksa alupurinol,
uricosuric, menurunkan efek asam fusidik dan tetrasiklin. Namun tidak
berinteraksi dengan obat-obat dalam terapi ini.
d. Aturan pemakaian obat
Obat ini diberikan secara peroral, diberikan 3x sehari.
e. Efek samping obat
Reaksi alergi, diare, mual, muntah. Efek yang muncul dalam terapi adalah
mual dan muntah (Lacy,2010)
f. Mekanisme kerja
Ampicilin adalah antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel bakteri.
Ampicillin termasuk golongan Beta-laktam menghambat pertumbuhan bakteri
dengan cara berikatan pada enzim DD-transpeptidase yang memperantarai
dinding peptidoglikan bakteri, sehingga dengan demikian akan melemahkan
dinding sel bakteri Hal ini mengakibatkan sitolisis karena ketidakseimbangan
tekanan osmotis, serta pengaktifan hidrolase dan autolysins yang mencerna
dinding peptidoglikan yang sudah terbentuk.Ampicillin mampu berpenetrasi
kepada bakteri gram positif dan gram negatif. Hal ini disebabkan keberadaan
gugus amino pada Ampicillin, sehingga membuatnya mampu menembus
membran terluar (outer membran) pada bakteri gram negatif.
Ampisilin termasuk salah satu antibiotik golongan beta-laktam dengan jenis
penisilin, subkelompok aminopecisilin. Penisilin merupakan antibiotik yang
efektif dan paling luas kegunaannya. Ampisilin termasuk obat yang sering
diresepkan dokter karena memiliki beberapa kelebihan antara lain harga
ekonomis dibandingkan antibiotik lain, efek samping dan toksisitas yang rendah,
memiliki spektrum luas terhadap bakteri gram positif dan gram negatif (Chamber,
2004).
g. Alasan
Sebagai profilaksis terhadap bakteri
d. LASAL EKSPEKTORAN
Indikasi obat
Mengatasi spasme bronkus pada asma bronkial, bronkitis kronis, emfisema
dan penyakit-penyakit paru lain dengan komplikasi bronkokonstriksi. Obat ini
juga dapat digunakan sebagai ekspektoran.
b. Dosis
1 - 2 sendok teh (5-10 ml), 3 - 4 kali sehari
g. Aturan pemakaian obat
Obat ini diberikan secara peroral, diberikan 3x sehari.
h. Efek samping obat
Satu-satunya efek samping yang sering kali terjadi yaitu tremor kecil pada
otot lurik, biasanya pada tangan. Efek ini tergantung dari besarnya dosis dan
berpengaruh langsung pada otot-otot lurik, seperti lazim terjadi pada semua obat
yang merangsang adreno reseptor beta. Apabila dosis agak tinggi atau pada
penderita hipersensitif, dapat terjadi vasodilatasi perifer dan denyut nadi
meningkat sebagai kompensasi. Guaifenesin dapat menimbulkan efek mual,
muntah (Lacy,2010).
i. Mekanisme kerja
Lasal ekspektoran adalah perangsang adreno reseptor
2
yang bersifat
selektif, efek utama terjadi pada otot-otot bronkus dan rahim. Oleh karena Lasal
ekspektoran bekerja selektif, maka akan timbul palpitasi / rasa tidak enak, jika
diberikan pada dosis terapeutik. Lasal ekspektoran mengandung Guaifenesin
yang berfungsi sebagai ekspektoran (Chamber, 2004).

g. Alasan
Sebagai bronkodilator dan ekspektoran
e. INFUS D5%
Kandungan : Setiap 100 mL dari Injeksi Dekstrosa 5% USP,
mengandung dekstrosa monohidrat 5 g dalam air untuk injeksi.
Nilai kalori 170 kkal / L. Osmolaritas adalah 252 mOsmol / L
(calc.), yang sedikit hipotonik.
Dosis : 10 tpm
Indikasi : Terapi parenteral untuk memenuhi kebutuhan air dan
kalori karbohidrat pada pasien yang mengalami dehidrasi.
Mekanisme : Meningkatkan kadar glukosa dalam darah,
sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan kalori. Konsentrasi
dektrose akan menurun apabila terjadi penurunan jumlah protein dan
nitrogen dalam tubuh, dan juga dapat memicu pembentukan glikogen.
Dextrose merupakan senyawa monosakarida yang sangat cepat
diserap. Metabolismenya akan menghasilkan CO
2
, air, dan sumber
energy.
f. RANITIDIN
Ranitidin adalah obat golongan antagonis H
2

histamin dengan nama generik ranitidin.
Indikasi
Ranitidin memiliki indikasi untuk pengobatan dan pemeliharaan
ulser duodenum, pengaturan penyakit refluks gastroesofagus, termasuk
penyakit erosif atau ulseratif, pengobatan jangka pendek, ulser gastrik jinak,
dan kerusakan gastrik karena NSAID. Penggunaan sebagian dari multidrug
regimen untuk membasmi H. pylori pada pengobatan ulser peptik, menjaga
peningkatan asam selama anastesi, mencegah kerusakan mukosa lambung
apabila digabung dengan NSAID jangka panjang, mengontrol pendarahan GI
bagian atas akut, dan menjaga ulser stress (Tatro, 2003).
Dosis
Sediaan Rantin yang ada di pasaran yaitu 1 ampul berisi 50 mg/2 ml.
Bila disesuaikan dengan dosis yang semestinya (50 mg tiap 6-8 jam) maka
pengobatan disarankan dilakukan dengan aturan pemakaian secara IV 2 x 1
ampul/hari. Rantin digunakan selama pengobatan rawat inap yaitu selama 10
hari.
Mekanisme kerja
Mekanisme kerja dari ranitidin ini adalah memblok histamin secara
reversibel dan kompetitif pada reseptor H
2
, terutama di sel parietal lambung,
dan menyebabkan penghambatan sekresi asam lambung (Tatro, 2003).
Interaksi obat
Pada terapi ini ranitidine tidak berinteraksi dengan obat lain.
Ranitidin dapat berinteraksi dengan:
1. diazepam, dengan menurunkan efek farmakologis dan absorpsi
diazepam;
2. etanol, dengan meningkatkan kadar etanol dalam plasma;
3. glipizide, dengan meningkatkan efek hipoglikemia;
4. ketokonazol, dengan menurunkan efek ketokonazol;
5. lidokain, dengan meningkatkan kadar lidokain;
6. warfarin, dengan mengganggu ranitidine dengan klirens
warfarin (Tatro, 2003).
Alasan pemilihan obat
Ranitidin digunakan dalam terapi ini karena pasien mengalami
mual, dan muntah.

3. TERAPI NON FARMAKOLOGI
Terapi non farmakologi adalah bentuk pengobatan dengan cara pendekatan,
edukasi dan pemahaman tentang penyakit asma. Berikut adalah beberapa terapi
non farmakologi untuk penyakit asma bronchial:

a) Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak terpisahkan dari pengobatan
penyakit asma. Bila penderita lemah dan kurang gizi, tidak saja mudah terserang
penyakit tetapi juga berarti mudah untuk mendapat serangan penyakit asma
beserta komplikasinya. Usaha menjaga kesehatan ini antara lain berupa makan
makanan yang bernilai gizi baik, minum banyak, istirahat yang cukup, rekreasi
dan olahraga yang sesuai. Penderita dianjurkan banyak minum kecuali bila
dilarang dokter, karena menderita penyakit lain seperti penyakit jantung atau
ginjal yang berat. Banyak minum akan mengencerkan dahak yang ada di saluran
pernapasan, sehingga dahak tadi mudah dikeluarkan. Sebaliknya bila penderita
kurang minum, dahak akan menjadi sangat kental, liat dan sukar dikeluarkan.
Pada serangan penyakit asma berat banyak penderita yang kekurangan cairan. Hal
ini disebabkan oleh pengeluaran keringat yang berlebihan, kurang minum dan
penguapan cairan yang berlebihan dari saluran napas akibat bernapas cepat dan
dalam.
b) Menjaga Lingkungan
Lingkungan dimana penderita hidup sehari-hari sangat mempengaruhi timbulnya
serangan penyakit asma. Keadaan rumah misalnya sangat penting diperhatikan.
Rumah sebaiknya tidak lembab, cukup ventilasi dan cahaya matahari. Saluran
pembuangan air harus lancar. Kamar tidur merupakan tempat yang perlu
mendapat perhatian khusus. Sebaiknya kamar tidur sesedikit mungkin berisi
barang-barang untuk menghindari debu rumah. Hewan peliharaan, asap rokok,
semprotan nyamuk, atau yang lain-lain yang dapat memicu asma perlu
dihindarkan.
c) Menghindari Faktor Pencetus
Allergen yang sering menimbulkan asma adalah tungau debu, sehingga cara-cara
menghindari debu rumah harus diperhatikan. Alergen lain seperti kucing, anjing
perlu mendapat perhatian khusus. Infeksi virus saluran pernapasan sering
mencetuskan penyakit asma. Sebaiknya penderita penyakit asma menjauhi orang-
orang yang sedang terkena influenza. Zat-zat yang merangsang saluran napas
seperti asap rokok, asap mobil, uap bensin, uap cat, atau uap-uap zat kimia dan
udara kotor lainnya harus dihindari.
d) Edukasi kepada pasien/keluarga
Edukasi untuk pasien atau keluarga bertujuan untuk:
Meningkatkan pemahaman (mengenai penyakit asma secara umum dan pola
penyakit asma sendiri)
Meningkatkan keterampilan (kemampuan dalam penanganan asma
sendiri/asma mandiri)
Meningkatkan kepuasan
Meningkatkan rasa percaya diri
Meningkatkan kepatuhan (compliance) dan penanganan mandiri
Membantu pasien agar dapat melakukan penatalaksanaan dan mengontrol
asma .

4. INFORMASI OBAT
R/ Prednisolone
s.b.d.d 1 tab
Ampicilin
s.3.d.d 1 tab
Ranitidine
s.b.d.d 1 tab
Nebul / 8 jam K/P
s.p.r.n.
Lasal expectorant
s.t.d.d 1 cth.
Infus dekstrosa 5 %
20 tpm



VI. MONITORING
memantau pemberian infus D5% agar tidak terjadi udem
memantau data klinik pasien (TD, RR) agar berada pada nilai normal. TD 120/80
130/85, RR : 14-20
VII. KESIMPULAN
1. Pasien menderita asma bronkial karena kondisi kehamilan gravida 6 bulan
2. Obat yang diberikan
R/ Prednisolone
s.b.d.d 1 tab
Ampicilin
s.3.d.d 1 tab
Ranitidine
s.b.d.d 1 tab
Nebul / 8 jam K/P
s.p.r.n.
Lasal expectorant
s.t.d.d 1 cth.
Infus dekstrosa 5 %
20 tpm






















DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia : Jakarta.
Anonim, 2006, MIMS Petunjuk Konsultasi, Ed. Ke-6, 70-76, PT. InfoMaster : Jakarta
Anonim1, 2009, Active ingredient: Prednisone - Chemisty and Biological Activity, diunduh
dari http://www.druglib.com/activeingredient/prednisone/chembio/. Diakses pada tgl 2
Desember 2012
Anonim2, 2009, Prednisone (Prednisone) - Clinical Pharmacology, diunduh dari
http://www.druglib.com/druginfo/prednisone/pharmacology/. Diakses pada tgl 2
Desember 2012
Anonim, 2009, Drug Information Handbook 18
th
Edition, USA : American Pharmacist
Association.
Anonim. 2012. Tips Mengenal Asma: Mengetahui 9 Jenis Asma.
http://bumbata.co/2506/tips-mengenal-asma-mengetahui-9-jenis-asma/ diakses tanggal 2
Desember 2012
Benvie. 2009. Asma Bronkial. http://doctorology.net/asma-bronkial/ diakses tanggal 2
Desember 2012
Chambers, H. F. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik . 8thed. Jakarta: SalembaMedika.
Cunningham, F. Gary, 2006, Obstetric Williams, Ed. 21. Vol. 2, EGC: Jakarta.
Dipiro, J.T., 1997, Pharmacotherapy A Pathophysiologyc Approach, 3rd Ed., Appleton &
Lange Stamford, Connecticut
Greenberger, Paul A. dan Patterson, Roy, 1985, Management of Asthma during
Pregnancy, Obstetrical and Gynecological Survey, Williams and Wilkins (Eds.) (34
36), Vol. 1 Number 1, January 1986
Katzung BG, 2001, Farmakologi Dasar dan Klinik, Buku 2, Edisi 8. Penerbit Salemba
Medika : Jakarta
Lacy, Charles F.; Armstrong, Lora I.; Goldman, Morton P., 2003, Drug Information
Handbook, 11th Ed., Lexi-Comp Inc. : Canada
Mangatas SM, Hermawan HM, dan Ketut S. 2006. Imunobiologi Asma Bronkial. Dexa
Medika No.1 Vol.9 Hal. 31-39.
Neal MJ, 2005, At a Glance: Farmakologi medis, Edisi 5, Penerbit Erlangga : Jakarta
Nelson. 1996. Ilmu Kesehatan Anak. Penerbit EGC. Jakarta.
Paul, Les and Nagle, Becky, 2002, The Essential Medication Guidebook To Healthy Aging,
Ballantine Books : New York
Rang HP, Dale MM, Ritter JM, Flower RJ, 2007, Rand And Dales Pharmacology, 6th
edition. Elsevier-Churchill Livingstone.
Soedarto, 2007, Sinopsis Kedokteran Tropis, Airlangga University Press: Surabaya.
Subijanto, Achmad Arman. 2008. Genetic Diversity Of Hla-Dr And Varion Of Asthma
Susceptibility; An Overview Of Asthma In Pregnancy. Biodiversitas Vol. 8, No. 3, Juli
2008, Hal. 237-243.
Suherman SK, Ascobat P, 2008, Farmakologi dan terapi, Edisi 5. Balai Penerbit FKUI :
Jakarta