Anda di halaman 1dari 6

ASKEP LUKA BAKAR (COMBUSTIO)

DECEMBER 4, 2012 BY NS. ANDY ARMYANTO,S.KEP


LAPORAN PENDAHULUAN
COMBUSTIO (LUKA BAKAR)
1. Pengertian
Luka bakar adalah suatu luka yang terjadi karena adanya kontak antara kulit dengan panas
kering, panas basah, bahan kimia, arus listrik dan radiasi (Long, 1996).
Luka bakar adalah suatu luka yang disebabkan karena adanya perpindahan energi dari sumber
panas ketubuh, dan panas tersebut bisa dihantarkan melalui konduksi atau radiasi
elektromagnetik (Effendy, 1999).
1. Etiologi
Penyebab dari luka bakar yang terbanyak dikarenakan oleh sengatan api akibat dari kelalaian,
ceroboh dan sifat ingin tahu dari anak- anak sehingga banyak sekali oorban luka bakar adalah
anak- anak.
1. Patofisiologi
Akibat dari luka bakat tersebut kulit akan mengalami kerusakan pada epidermis, dermis maupun
jaringan subkutan, hal itu tergantung dari faktor penyebab dan lamanya kontak dengan sumber
panas. Dalamnya luka bakar akan mempengaruhi itegritas kulit dan kematian- kematian sel.
Luka bakar dapat dibedakan menjadi 3 menurut kedalamannya :
1. Luka bakar derajat I
Luka bakar derajat I merusak bagian kulit yaitu epidermis, ini biasa dikarenakan akibat terjemur
matahari. Pada awalnya terasa nyeri dan kemudian gatal akibat stimulasi reseptor sensoris dan
biasanya akan sembuh dengan spontan tanpa meninggalkan jaringan parut.
1. Luka bakar derajat II
Luka bakar ini mengenai kulit bagian epidermis dan dermis, termasuk kelenjar keringat dan
sebasea, saraf sensoris ddan motorik, kapiler dan folikel rambut. Luka ini akan sembuh dalam
waktu berkisar 3 sapai 35 hari. Namun bila luka ini mengalami infeksi atau suplai darahnya
mengalami gangguan maka luka ini dapat berubah menjadi luka bakar dengan kedalamannya
penuh.
1. Luka bakar derajat III
Yang terkena dalam luka bakar derajat III adalah bagian lapisan lemak. Pada lapisan ini banyak
mengandung kelenjar keringat dan akar folikel rambut. Luka akan tampak berwarna putih ,
coklat, merah atau hitam. Luka ini tidak akan menimbulkan rasa nyeri karena semua reseptor
sensoris telah mengalami kerusakan total.
1. klasifikasi luka bakar
Luka bakar diklasifikasikan :
1. Keparahannya
1. Luka bakar minor, yakni cedera luka bakar ketebalan partial yang kurang dari 15 %
LPTT pada orang dewasa dan 10 % LPTT pada anak- anak.
2. Luka bakar sedang yakni cedera ketebalan partial dengan 15 % sampai 25 % dari
LPTT pada orang dewasa atau 10 % sampai 20 % LPTT pada anak- anak.
3. Luka bakar mayor, yakni cedera ketebalan partial lebih dari 25 % LPTT pada orang
dewasa atau 20 % pada anak- anak, mengenai daerah mata, wajah, telinga, kaki dan
perineum.
4. Lokasi
Luka bakar pada kepala, leher dan dada seringkali mempunyai kaitan erat dengan komplikasi
pulmonal.
Luka bakar yang mengenai wajah erat kaitannya mengenai mata yang dapat menyebabkan
abrasia kornea. Bila pada telinga dapat menyebabkan kordritis aurikuler dan rentan terhadap
infeksi serta kehilangan jaringan lebih lanjut. Bila luka bakar mengenai ekstrimitas akan
menyebabkan kehilangan waktu yang lama untuk dapat bekerja kembali.
Luka bakar yang mengenai daerah peritoneum akan memudahkan terjadinya infeksi akibat
autokontaminasi oleh urine dan feses.
1. Ukuran luka bakar
Ukuran luka bakar ditentukan dengan salah satu dari dua metode yaitu role of nine atau diagram
Lund & Browder. Ukuran luka bakar ditunjukan dengan presentasi LPTT (luas permukaan tubuh
total).
1. Usia korban luka bakar
Usia sangat mempengaruhi keparahan dan keberhasilan dalam perawatan luka bakar. Angka
kematian terjadi lebih tinggi jika luka bakar terjadi pada anak- anak yang berusia kurang dari 4
tahun, terutama mereka kelompok uasia 0- 1 tahun dan klien berusia 65 tahun.
1. Penatalaksanaan
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penatalaksanaan luka bakar yaitu ;
penyembuhan luka, infeksi dan penganan luka.
1. Penyembuhan luka
Proses penyembuhan luka terbagi dalam tiga fase yaitu inflamasi, fibroblastik dan maturasi.
1. Infeksi
Masalah yang sering terjadi yaitu adanya infeksi yang anantinya akan diikuti terjadinya sepsis,
sehingga perlu diperhatikan adanya tanda- tanda infeksi meliputi merah, bengkak, nyeri dengan
jumlah mikroorganisme lebih dari 100.000/gram jaringan.
1. Penanganan luka
Penanganan luka merupakan hal yang penting untuk mencegah terjadinya infeksi maupun
menghindari terjadinya sindrom kompartement karena adanya luka bakar circumferencial.
Pathways
Diagnosa keperawatan
Derajat I
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d stimulasi saraf sensoris, luka
2. Gangguan perfusi jaringan b/d kerusakan jaringan epidermis.
Derajat II
1. Gangguan integritas kulit b/d terjadi lepuh dan oedem pada kulit.
2. Gangguan pernafasan b/d penyumbatan saluran pernafasan karena oedem
3. Cemas b/d kurangnya pengetahuan tentang kodisinya.
4. Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit b/d haluaran cairan elektrolit me
Derajat III
1. Resti infeksi b/d terbukanya lapisan kulit pelindung.
2. Resti injuri b/d penurunan kesadaran
3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan rasa
nyaman nyeri
b/d stimulasi
saraf sensoris,
lukaGangguan
perfusi jaringan
b/d kerusakan
jaringan
epidermis
Gangguan
integritas kulit
b/d terjadi lepuh
dan oedem pada
kulit
Gangguan
pernafasan b/d
penyumbatan
saluran
pernafasan
karena oedem
Cemas b/d
kurangnya
pengetahuan
tentang
kodisinya
Gangguan
keseimbangan
cairan, elektrolit
Rasa nyeri berkurang
setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
2 x 24 jam dengan
KH :- pasien
mengatakan nyeri
berkurang.
- Pasien
menunjukan skala
nyeri pada angka 3.
- Ekspresi wajah
klien rileks.
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
2 X 24 jam pasien
dapat
memperlihatkan hasil
:
- Nadi perifer
teraba dengan
kualitas dan kuantitas
yang sama.
- Pengisisan kapiler
baik dan warna kulit
normal pada area
Tutup luka sesegera
mungkin.Berikan tempat
tidur ayunan sesuai
indikasi
Tutup jari/ ekstrimitas
pada posisi yang
berfungsi menggunakan
bebat dan papan kaki
sesuai keperluan
Ubah posisi dengan
sering dan rentang gerak
pasif dan aktif sesuai
indikasi
Kaji keluhan nyeri,
perhatikan lokasi/
karakter dan intensitas
(skala 0-10)
Bantu pasien untuk
mengungkapkan
perasaannya tentang
nyeri.
Kolaborasi pemberian
analgetik sesuai indikasi
Kaji warna, sensasi,
gerakan, nadi perifer dan
pengisian kapiler pada
ektrimitas luka bakar
Suhu berubah dan gerakan
udara dapat menyebabkan
nyeri hebat pada pemajanan
ujung sarafPeninggian linen
dari luka membantu
menurunkan nyeri
Posisi fungsi menurunkan
deformitas/ kontraktur dan
meningkatkan kenyamanan.
Gerakan dan latihan dapat
menurunkan kekakuan sendi
dan kelelahan otot.
Nyeri hampir selalu ada pada
hampir setiap derajat dan
yang paling berat saat ganti
balutan atau debridemen.
Pernyataan memungkinkan
pengungkapan emosi dan
dapat meningkatkan
mekanisme koping.
Dengan analgetik membantu
meningkatkan rasa nyaman
Pembentukan oedem dapat
secara cepat menekan
pembuluh darah, sehingga
mempengaruhi sirkulasi.
b/d haluaran
cairan elektrolit
Resti infeksi b/d
terbukanya
lapisan kulit
pelindung.
Resti injuri b/d
penurunan
kesadaran

yang cidera.
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
2 X 24 jam pasien
dapat
memperlihatkan hasil
KH :
- Pada kulit pasien
tumbuh adanya
regenerasi kulit
- Mencapai
penyembuhan tepat
waktu pada area luka
Setelah dilakukan
asuhan keperawatan
selama 3 X 24 jam
tidak ada gangguan
siositem perbafasan
dengan KH :
- menunjukan
bunyi nafas yang
benar
- Frekuensi dalam
rentang normal
.
Setelah mendapatkan
pendidikan kesehatan
tentang kodisinya
pasien tidak sring
bertanya dengan KH
:
- paham akan
kodisinya, prognosis
dan pengobatan
- berpartisipasi
dalam program
pengobatan
melingkar
Tinggikan ektrimitas
yang sakit dengan tepat.
Monitor TTV secara
teratur tiap 30 menit
Perhatikan jaringan
nekrotik dan kondisi
sekitar luka
Evaluasi warna sisi graft
dan donor
Kaji reflek menelan
Dorong batuk/ latihan
nafas dalam dan
perubahan posisi sering
Hisapan pada perawatan
ekstrem, pertahankan
teknik steril.
Selidiki perubahan
perilaku/ mental contoh
gelisah agitasi, kacau
mental
Kolaborasi pemberian
pelembab O
2
melalui
cara yang tepat.
Berikan informasi
kesehatan
Kaji ulang perawatan
luka bakar, identifikasi
sumber yang tepat untuk
perawatan pasien rawat
jalan dan bahannya.
Awasi TTV. Perhatikan
pengisian kapiler dan
kekuatan nadi perifer
Awasi haluaran urine
dan berat jenis.
Observasi warna urine
Meningkatkan sirkulasi
sistemik
Disritmia jantung dapat
terjadi karena perpindahan
elektrolit
Memberikan informasi
tentang kebutuhan
penanaman kulit dan
kemungkinan petunjuk
tentang sirkulai the graft
Mengevaluasi keefektifan
sirkulasi dan
mengidentifikasi terjadinyta
komplikasi.
Dugaan cidera inhalasi
Meninggikan ekspansi,
memobilisasi, dan drainase
Membantu mempertahankan
jalan nafas bersih, tetapi
harus waspada karena oedem
trakeal.
Perubahan kesadaran dapat
menunjukan terjadinya
hipoksia.
O
2
memperbaiki hipoksemia
dan asidosis, pelembab
menurunkan terjadinya
pengeringan saluran
pernafasan.
Pasien akan mengetahui
akan kodisi tubuhnya
Meningkatkan kemampuan
merawat diri setelah pulang
dan meningkatkan
kemandirian.
Memberikan pedoman untuk
penggantian cairan dan
mengkaji respon
Tidak terjadi
gangguan haluaran
urine setelah
dilkakukan tindakan
keperawatan dengan
KH :
- menunjukan
haluaran urin yang
adekuat, TTV stabil
dan membran
mukosa lembab
Infeksi tidak terjadi
setelah dilakukan
perawatan selama 3
X 24 jam KH :
- bebas eksudat
purulen dan tidak
demam
injuri tidak terjadi
setelah menjalani
perawatan dengan
KH :
- tidak ada cidera
dan hemates sesuai
indikasi
Pertahankan pencatatan
kumulatif yang jumlah
dan tipe pemasukan
cairan
Kolaborasi pemasangan
urine kateter tak menetap
Implementasikan teknik
isolasi yang tepat sesuai
indikasi
Gunakan sarung tangan
masker, skort dan teknik
aseptik kuat selama
proses perawatan
Jauhkan benda tajam
yang ada disekitar pasien
Pasang pengaman pada
tempat tidur
kardiovaskuler
Urine dapat berwarna merah
karena adanya darah dan
mioglobin.
Penggantian masif/ cepat
dengan tipe cairan yang
berbeda
Memungkinkan obsevasi
ketat fungsi ginjal dan
mencegah statis atau reflek
urine.
Tergantung luasnya luka dan
untuk menurunkan infeksi
silang.
Mencegah terpajan pada
organisme infeksius
Mencegah terjadinya fraktur
Pasien tidak akan terjatuh
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth. (1996). Text book of Medical- Surgical Nursing. EGC. Jakarta.
Doengoes Merillynn. (1999) (Rencana Asuhan Keperawatan). Nursing care plans. Guidelines for
planing and documenting patient care. Alih bahasa : I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. EGC.
Jakarta.
Effendi Christantie, (1999). Perawatan pasien luka bakar. EGC. Jakarta