Anda di halaman 1dari 48

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dari Abu Bakrah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Tidak akan bahagia suatu kaum yang menyerahkan kekuasaan mereka kepada
seorang perempuan." ( HR. Bukhari ).
Hadits di atas merupakan landasan dari beberapa ulama yang melarang wanita
untuk menjadi khalifah atau pemimpin suatu negara. Hal ini pulalah yang telah
mengakibatkan beberapa pemikir-pemikir yang berasal dari barat untuk menyerang Islam
lewat isu gender. Menurut pandangan penulis, perempuan yang dimaksud oleh Rasulullah
SAW merupakan sifat seorang perempuan pada umumnya ketika Nabi SAW masih
hidup. Perempuan yang disebut dalam hadits ini merupakan gambaran kelemahan dan
ketergantungan seorang perempuan terhadap laki-laki. Hal inilah yang mengakibatkan
Rasulullah SAW mengatakan bahwa tidak akan bahagia suatu kaum yang di pimpin oleh
seorang perempuan yang tergantung terhadap laki-laki. Nah, pada makalah ini saya tidak
terlalu membicarakan tentang kepemimpinan seorang perempuan dalam Islam, tapi
peranan seorang perempuan yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum
lelaki dalam persoalan amaliyah dan sosial kemasyarakatan.
Isu gender dalam persepektif Islam merupakan isu yang menarik dibicarakan di
kalangan akademisi, karena banyak hal yang dapat kita gali dan kita pelajari untuk lebih
mengetahui nilai-nilai serta kandungan di balik isu yang berkembang tersebut lewat
kacamata Al-Quranul Karim dan hadits Nabi Muhammad SAW.
2

Ketika isu gender di angkat, yang timbul dalam benak kita adalah diskriminasi
terhadap wanita dan penghilangan hak-hak terhadap mereka. Gender yang telah
diperjuangkan oleh beberapa kalangan, baik dari kalangan akademisi atau dari kalangan
yang menanggap bahwa Islam adalah agama yang memicu kehadiran isu gender tersebut
di dunia ini. Tentunya para orientalis yang berbasis misionarisme ini ingin
mendiskreditkan umat Islam dengan mengangkat isu ini dalam berbagai tulisan dan buku
atau artikel-artikel yang menyudutkan dan memberikan opini secara sepihak tentang
islam dan gender.
Islam tidak membedakan antara hak dan kewajiban yang ada pada anatomi
manusia, hak dan kewajiban itu selalu sama di mata Islam bagi kedua anatomi yang
berbeda tersebut. Islam mengedepankan konsep keadilan bagi siapun dan untuk siapapun
tanpa melihat jenis kelamin mereka. Islam adalah agama yang telah membebaskan
belenggu tirani perbudakan, persamaan hak dan tidak pernah mengedapankan dan
menonjolkan salah satu komunitas anatomi saja. Islam hadir sebagai agama yang
menyebarkan kasih sayang bagi siapa saja.
Rasulullah telah memberikan nasehat kepada para muslim agar mengormati dan
menghargai perempuan seperti sabdanya : Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik
terhadap keluarganya, dan aku adalah orang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku.
Orang yang memuliakan kaum wanita adalah orang yang mulia, dan orang yang
menghina kaum wanita adalah orang yang tak tahu budi. ( HR. Abu Asakir ).
Feminism muslim memahami bahwa spirit Islam yang dibawa Rasul adalah untuk
membebaskan kaum perempuan dari penindasan dan ketidakadilan tersebut, seperti yang
banyak dilansir dalam sejarah Islam dengan sebutan zaman jahiliyah. Namun
3

membebaskan perempuan dengan wujud kesetaraan gender bukan berarti membebaskan
perempuan dari kodrat-kodratnya sebagai seorang wanita atau ibu. Seorang wanita tetap
memiliki peran alamiah seperti hamil, menyusui, dan sebagainya yang tidak dapat
ditinggalkan atau digantikan oleh kaum laki-laki.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini
adalah Bagaimana perspektif gender dalam Islam, dan Bagaimana aturan dan tuntunan
wanita menyusui dalam Islam?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui secara keseluruhan mengenai perspektif gender menurut
pandangan Islam
2. Untuk mengetahui secara keseluruhan mengenai tuntunan dalam memberikan ASI
menurut pandangan Islam
3. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam dari dosen pengampu
Ibu Siti Majmuah, S.Ag
D. Manfaat Makalah
Sebagai tambahan Informasi mengenai perspektif gender dalam pandangan Islam, serta
sebagai panduan untuk Masyarakat terutama Ibu Hamil mengenai hal yang bersangkutan
dengan ASI dalam pandangan Islam.



4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gender
1. Pengertian
a. Pengertian Gender secara umum
Secara umum, pengertian gender adalah perbedaan yang tampak antara
laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Sejauh ini
persoalan Gender lebih didominasi oleh perspektif perempuan, sementara dari
perspektif pria sendiri belum begitu banyak dibahas. Dominannya perspektif
perempuan sering mengakibatkan jalan buntu dalam mencari solusi yang
diharapkan, karena akhirnya berujung pada persoalan yang bersumber dari
kaum laki-laki. Ada beberapa fenomena yang sering kali muncul pada
persoalan Gender.
Kata Gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (John
M. Echols dan Hassan Sadhily, 1983: 256). Secara umum, pengertian Gender
adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat
dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan
bahwa Gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan
(distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional
antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.
Dalam buku Sex and Gender yang ditulis oleh Hilary M. Lips mengartikan
Gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan.
5

Misalnya; perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan
keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri-
ciri dari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-
laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa.
Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan
dari tempat ke tempat yang lain (Mansour Fakih 1999: 8-9).
Heddy Shri Ahimsha Putra (2000) menegasakan bahwa istilah Gender
dapat dibedakan ke dalam beberapa pengertian berikut ini: Gender sebagai
suatu istilah asing dengan makna tertentu, Gender sebagai suatu fenomena
sosial budaya, Gender sebagai suatu kesadaran sosial, Gender sebagai suatu
persoalan sosial budaya, Gender sebagai sebuah konsep untuk analisis,
Gender sebagai sebuah perspektif untuk memandang kenyataan.
Epistimologi penelitian Gender secara garis besar bertitik tolak pada
paradigma feminisme yang mengikuti dua teori yaitu; fungsionalisme
struktural dan konflik. Aliran fungsionalisme struktural tersebut berangkat
dari asumsi bahwa suatu masyarakat terdiri atas berbagai bagian yang saling
mempengaruhi. Teori tersebut mencari unsur-unsur mendasar yang
berpengaruh di dalam masyarakat. Teori fungsionalis kontemporer
memusatkan pada isu-isu mengenai stabilitas sosial dan harmonis. Perubahan
sosial dilukiskan sebagai evolusi alamiah yang merupakan respons terhadap
ketidakseimbangan antar fungsi sosial dengan struktur peran-peran sosial.
Perubahan sosial secara cepat dianggap perubahan disfungsional.
6

Hilary M. Lips dan S. A. Shield membedakan teori strukturalis dan teori
fungsionalis. Teori strukturalis condong ke sosiologi, sedangkan teori
fungsionalis lebih condong ke psikologis namun keduanya mempunyai
kesimpulan yang sama. Dalam teori itu, hubungan antara laki-laki dan
perempuan lebih merupakan kelestarian, keharmonisan daripada bentuk
persaingan. Sistem nilai senantiasa bekerja dan berfungsi untuk menciptakan
keseimbangan dalam masyarakat, misalnya laki-laki sebagi pemburu dan
perempuan sebagai peramu. Perempuan dengan fungsi reproduksinya
menuntut untuk berada pada peran domestik. Sedangkan laki-laki pemegang
peran publik. Dalam masyarakat seperti itu, stratifikasi peran gender
ditentukan oleh jenis kelamin (sex).
Kritik terhadap aliran tersebut bahwa struktur keluarga kecil yang menjadi
ciri khas keluarga modern menyebabkan perubahan dalam masyarakat. Jika
dulu tugas dan tanggung jawab keluarga besar dipikul bersama-sama, dewasa
ini fungsi tersebut tidak selalu dapat dilakukan.
Sedangkan teori konflik diidentikkan dengan teori marxis karena
bersumber pada tulisan dan pikiran Karl Marx. Menurut teori itu, perubahan
sosial, terjadi melalui proses dialektika. Teori itu berasumsi bahwa dalam
susunan masyarakat terdapat beberapa kelas yang saling memperebutkan
pengaruh dan kekuasaan.
Friedrich Engels, melengkapi pendapat Marx bahwa perbedaan dan
ketimpangan Gender tidak disebabkan oleh perbedaan jenis kelamin
(biologis), akan tetapi merupakan divine creation.
7

Engels memandang masyarakat primitiv lebih bersikap egaliter karena
ketika itu belum dikenal adanya surplus penghasilan. Mereka hidup secara
nomaden sehingga belum dikenal adanya pemilikan secara pribadi. Rumah
tangga dibangun atas peran komunitas. Perempuan memiliki peran dan
kontribusi yang sama dengan laki-laki.
Menurut Marxisme, penindasan perempuan dalam dunia kapitalis karena
mendatangkan keuntungan. Pertama, eksploitasi wanita dalam rumah tangga
akan meningkatkan meningkatkan produksi kerja laki-laki di pabrik-pabrik.
Kedua, perempuan yang terlibat peran produksi menjadi buruh murah,
memungkinkan dapat menekan biaya produksi, sehingga perusahaan lebih
diuntungkan. Ketiga, masuknya perempuan sebagai buruh murah dan
mengkondisikan buruh-buruh cadangan akan memperkuat posisi tawar pihak
kapitalis, mengancam solidaritas kaum buruh. Ketiga, hal tersebut dapat
mempercepat akumulasi kapital bagi kapitalis (Mansour Fakih, 1996: 87-88).
Sedangkan Dahrendarf dan Randall Collins tidak sepenuhnya sependapat
dengan Marx dan Engels. Menurutnya konflik tidak hanya terjadi pada
perjuangan pekerja kepada pemilik modal, tetapi juga disebabkan oleh faktor
kesenjangan antara anak dan orang tua, istri dengan suami, yunior dengan
senior dan sebagainya.
Lelaki dan wanita secara seksualitas dibedakan berdasarkan alat kelamin
yang dimilikinya, namun secara gender perbedaan tersebut tidak menjamin
perbedaan gender. Misalnya seorang wanita secara penampilan dikenal
memiliki perasaan yang halus, penampilan yang lemah gemulai, dan berambut
8

panjang, dan seorang lelaki dikenal sebagai seseorang yang kuat, jantan
perkasa, dan berambut pendek. Lalu jika kedua penampilan tersebut tertukar
apakah berarti jenis kelamin mereka juga bertukar? Jawabnya adalah tidak.
Dari contoh diatas maka akan dimungkinkan perpaduan antara seks dan
gender. Seorang pria yang terkenal kasar, kuat dan jantan dapat berperilaku
seperti wanita yang lemah lembut, halus dan gemulai. Begitu pula sebaliknya.
Disinilah peran gender diperlukan. Maka disinilah perbedaan antara seks dan
gender dapat dijelaskan. Dimana Seks berorientasi pada ciri-ciri biologis,
sedangkan gender berorientasi pada perilaku, mentalitas dan sosial budaya.
Jika perbedaan antara seks dan gender direalisasikan maka kemungkinan
besar pada biodata seseorang akan muncul satu poin tambahan selain jenis
kelamin (seks) yaitu gender.
Di zaman modern, identitas seksual seseorang tidak terlalu diutamakan,
tetapi menggunakan gender sebagai rujukan. Misalnya: Pada pekerjaan yang
membutuhkan kekuatan dan ketegasan. Seorang pria yang lemah lembut dan
lembek tidak akan dapat memenuhi kriteria yang diperlukan. Tapi seorang
wanita yang tegas, perkasa dan memiliki kekuatan dapat menduduki posisi
tersebut.
b. Pengertian Gender menurut perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, semua yang diciptakan Allah SWT berdasarkan
kudratnya masing-masing. Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan
dengan qadar (QS. Al-Qamar: 49).
Para pemikir Islam mengartikan qadar di sini dengan ukuran-ukuran, sifat-
9

sifat yang ditetapkan Allah SWT bagi segala sesuatu, dan itu dinamakan
kudrat. Dengan demikian, laki-laki dan perempuan sebagai individu dan jenis
kelamin memiliki kudratnya masing-masing. Syeikh Mahmud Syaltut
mengatakan bahwa tabiat kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan
berbeda, namun dapat dipastikan bahwa Allah SWT lebih menganugerahkan
potensi dan kemampuan kepada perempuan sebagaimana telah
menganugerahkannya kepada laki-laki. Ayat Al-Quran yang populer dijadikan
rujukan dalam pembicaraan tentang asal kejadian perempuan adalah firman
Allah dalam QS. An-Nisa ayat 1 : Hai sekalian manusia, bertaqwalah
kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari diri (nafs) yang satu, dan
darinya Allah menciptakan pasangannya dan keduanya Allah
mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak..............
Yang dimaksud dengan nafs di sini menurut mayoritas ulama tafsir adalah
Adam dan pasangannya adalah istrinya yaitu Siti Hawa. Pandangan ini
kemudian telah melahirkan pandangan negatif kepada perempuan dengan
menyatakan bahwa perempuan adalah bagian laki-laki. Tanpa laki-laki
perempuan tidak ada, dan bahkan tidak sedikit di antara mereka berpendapat
bahwa perempuan (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk Adam. Kitab-kitab
tafsir terdahulu hampir bersepakat mengartikan demikian.
Kalaupun pandangan di atas diterima yang mana asal kejadian Hawa dari
rusuk Adam, maka harus diakui bahwa ini hanya terbatas pada Hawa saja,
karena anak cucu mereka baik laki-laki maupun perempuan berasal dari
perpaduan sperma dan ovum. Allah menegaskan hal ini dalam QS. Ali Imran:
10

195 Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan
berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang
beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian
kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang
berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku,
yang berperang dan yang dibunuh, Pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-
kesalahan mereka dan Pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang
mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah
pada sisi-Nya pahala yang baik."
Maksud dari sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain adalah
sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, Maka demikian
pula halnya perempuan berasal dari laki-laki dan perempuan. kedua-duanya
sama-sama manusia, tak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang
penilaian iman dan amalnya.
Adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak dapat disangkal
karena memiliki kudrat masing-masing. Perbedaan tersebut paling tidak dari
segi biologis. Al-Quran mengingatkan: Dan janganlah kamu iri hati terhadap
apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari
sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa
yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang
mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Ayat di atas mengisyaratkan perbedaan, dan bahwa masing-masing
11

memiliki keistimewaan. Walaupun demikian, ayat ini tidak menjelaskan apa
keistimewaan dan perbedaan itu. Namun dapat dipastikan bahwa perbedaan
yang ada tentu mengakibatkan fungsi utama yang harus mereka emban
masing-masing. Di sisi lain dapat pula dipastikan tiada perbedaan dalam
tingkat kecerdasan dan kemampuan berfikir antara kedua jenis kelamin itu.
Al-Quran memuji ulul albab yaitu yang berzikir dan memikirkan tentang
kejadian langit dan bumi. Zikir dan fikir dapat mengantar manusia mengetahui
rahasia-rahasia alam raya. Ulul albab tidak terbatas pada kaum laki-laki saja,
tetapi juga kaum perempuan, karena setelah Al-Quran menguraikan sifat-sifat
ulul albab ditegaskannya bahwa Maka Tuhan mereka mengabulkan
permintaan mereka dengan berfirman; Sesungguhnya Aku tidak akan
menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik lelaki maupun
perempuan. (QS. Ali Imran: 195). Ini berarti bahwa kaum perempuan sejajar
dengan laki-laki dalam potensi intelektualnya, mereka juga dapat berpikir,
mempelajari kemudian mengamalkan apa yang mereka hayati dari zikir
kepada Allah serta apa yang mereka pikirkan dari alam raya ini. Jenis laki-laki
dan perempuan sama di hadapan Allah. Memang ada ayat yang menegaskan
bahwa Para laki-laki (suami) adalah pemimpin para perempuan (istri) (QS.
An-Nisa: 34), namun kepemimpinan ini tidak boleh mengantarnya kepada
kesewenang-wenangan, karena dari satu sisi Al-Quran memerintahkan untuk
tolong menolong antara laki-laki dan perempuan dan pada sisi lain Al-Quran
memerintahkan pula agar suami dan istri hendaknya mendiskusikan dan
memusyawarahkan persoalan mereka bersama.
12

Sepintas terlihat bahwa tugas kepemimpinan ini merupakan keistimewaan
dan derajat tingkat yang lebih tinggi dari perempuan. Bahkan ada ayat yang
mengisyaratkan tentang derajat tersebut yaitu firmanNYA, Para istri
mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang maruf,
akan tetapi para suami mempunyai satu derajat/tingkat atas mereka (para
istri) (QS. Al-Baqarah: 228). Kata derajat dalam ayat di atas menurut Imam
Thabary adalah kelapangan dada suami terhadap istrinya untuk meringankan
sebagian kewajiban istri. Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa laki-laki
bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, karena itu,
laki-laki yang memiliki kemampuan material dianjurkan untuk menangguhkan
perkawinan. Namun bila perkawinan telah terjalin dan penghasilan manusia
tidak mencukupi kebutuhan keluarga, maka atas dasar anjuran tolong
menolong yang dikemukakan di atas, istri hendaknya dapat membantu
suaminya untuk menambah penghasilan.
Jika demikian halnya, maka pada hakikatnya hubungan suami dan istri,
laki-laki dan perempuan adalah hubungan kemitraan. Dari sini dapat
dimengerti mengapa ayat-ayat Al-Quran menggambarkan hubungan laki-laki
dan perempuan, suami dan istri sebagai hubungan yang saling
menyempurnakan yang tidak dapat terpenuhi kecuali atas dasar kemitraan.
Hal ini diungkapkan Al-Quran dengan istilah badhukum mim badhi
sebagian kamu (laki-laki) adalah sebahagian dari yang lain (perempuan).
Istilah ini atau semacamnya dikemukakan kotab suci Al-Quran baik dalam
konteks uraiannya tentang asal kejadian laki-laki dan perempuan (QS. Ali
13

Imran: 195), maupun dalam konteks hubungan suami istri (QS. An-Nisa: 21)
serta kegiatan-kegiatan sosial (QS. At-Taubah: 71).Kemitraan dalam
hubungan suami istri dinyatakan dalam hubungan timbal balik: Istri-istri
kamu adalah pakaian untuk kamu (para suami) dan kamu adalah pakaian
untuk mereka (QS. Al-Baqarah: 187), sedang dalam keadaan sosial
digariskan: Orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka
adalah penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan
yang maruf) dan mencegah yang munkar (QS. At-Taubah: 71).Pengertian
menyuruh mengerjakan yang maruf mencakup segi perbaikan dalam
kehidupan, termasuk memberi nasehat/saran kepada penguasa, sehingga
dengan demikian, setiap laki-laki dan perempuan hendaknya mampu
mengikuti perkembangan masyarakat agar mampu menjalankan fungsi
tersebut atas dasar pengetahuan yang mantap. Mengingkari pesan ayat ini,
bukan saja mengabaikan setengah potensi masyarakat, tetapi juga
mengabaikan petunjuk kitab suci.
Islam telah memberi aturan yang rinci berkenaan dengan peran dan fungsi
masing-masing dalam menjalani kehidupan ini. Terdapat perbedaan dan
persamaan yang tidak bisa dipandang sebagai adanya kesetaraan atau
ketidaksetaraan gender. Pembagian tersebut semata-mata merupakan
pembagian tugas yang dipandang sama-sama pentingnya dalam upaya
tercapainya kebahagiaan yang hakiki di bawah keridloan Allah semata. Islam
telah memberikan hak-hak kaum perempuan secara adil, kaum perempuan
14

tidak perlu meminta apalagi menuntut atau memperjuangkannya, sebagaimana
dalam surat Al Ahzab : 35
Artinya : Sungguh, Laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan
perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang dalam ketaatannya, laki-
laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-
laki dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan perempuan yang bersedekah,
laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya, laki-laki yang menyebut (nama) Allah, Allah
telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Maksud dari ayat di atas, sebagai manusia kedua pihak mempunyai hak dan
kewajiban yang sama, pahala dan kebaikan di hari akhir pun juga demikian.
Setiap individu akan dihisab berdasarkan perbuatan yang mereka lakukan di
dunia.
Pada dasarnya gender dalam perspektif Islam menganggap kaum
perempuan mempunyai kedudukan yang sama dengan laki-laki yaitu sebagai
hamba Allah. Sebagaimana dalam Surat An Nahl : 97)
Artinya : Dan Sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit
disebabkan apa yang mereka kerjakan.
Jadi kesetaraan gender adalah suatu keadaan di mana perempuan dan laki-
laki sama-sama menikmati status, kondisi atau kedudukan yang setara
sehingga terwujud secara penuh hak-hak dan potensinya bagi pembangunan di
segala aspek kehidupan berkeluarga, berbangsa dan bernegara. Islam
mengamanahkan manusia untuk memperhatikan konsep keseimbangan,
15

keserasian, keselarasan, keutuhan baik sesama umat manusia maupun dengan
lingkungan alamnya.
Konsep relasi gender dalam Islam lebih dari sekedar mengatur keadilan
gender dalam masyarakat, tetapi secara teologis mengatur pola relasi
mikrokosmos (manusia), makrokosmos (alam) dan Tuhan. Hanya dengan
demikian manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah dan hanya
khalifah yang sukses yang dapat mencapai derajat abdi sesungguhnya.
Islam mengenalkan konsep relasi gender yang mengacu pada ayat-ayat (Al
Qur an) substantif yang sekaligus menjadi tujuan umum syariah antara lain
mewujudkan keadilan dan kebajikan. (An Nahl {16} : 90)
Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, member kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan
keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia member pengajaran kepadamu agar
kamu dapat mengambil pelajaran.
2. Perbedaan Gender dan Jenis Kelamin (Seksualitas)
Jenis Kelamin Gender
Tidak dapat berubah, contohnya alat
kelamin laki-laki dan perempuan
Dapat berubah, contohnya peran dalam
kegiatan sehari-hari, seperti banyak
perempuan menjadi juru masak jika
dirumah, tetapi jika di restoran juru
masak lebih banyak laki-laki.
Tidak dapat dipertukarkan, contohnya Dapat dipertukarkan
16

jakun pada laki-laki dan payudara pada
perempuan
Berlaku sepanjang masa, contohnya
status sebagai laki-laki atau perempuan
Tergantung budaya dan kebiasaan,
contohnya di jawa pada jaman
penjajahan belanda kaum perempuan
tidak memperoleh hak pendidikan.
Setelah Indo merdeka perempuan
mempunyai kebebasan mengikuti
pendidikan
Berlaku dimana saja, contohnya di
rumah, dikantor dan dimanapun berada,
seorang laki-laki/perempuan tetap laki-
laki dan perempuan
Tergantung budaya setempat,
contohnya pembatasan kesempatan di
bidang pekerjaan terhadap perempuan
dikarenakan budaya setempat antara
lain diutamakan untuk menjadi perawat,
guru TK, pengasuh anak
Ciptaan Tuhan, contohnya perempuan
bisa haid, hamil, melahirkan dan
menyusui sedang laki-laki tidak.
Buatan manusia, contohnya laki-laki
dan perempuan berhak menjadi calon
ketua RT, RW, dan kepala desa bahkan
presiden.

3. Alasan Biasnya Gender dalam Islam
1. Ketidaktahuan bahwa perempan memiliki kebebasan.
17

Ketidaktahuan selalu menjadi substansial dalam kehidupan manusia.
Sebenarnya sejarah telah mengajarkan bahwa jauh sebelum islam datang, wanita
telah memainkan peran yang cukup signifikan dalam bidang sosial ekonomi
sebagaimana kita lihat dalam sosok konglomerat wanita Khadijah r.a, istri
pertama Nabi Muhammad SAW. Kita smua tahu bahwa sebelum menjadi Nabi,
Nabi Muhammad bekerja untuk Khadijah. Sehingga sulit dipahami bila islam
tidak memiliki gambaran wanita bekerja.
Seperti yang dikemukakan N.M. Shaikh dalam bukunya Woman in
Muslim Sociaty menjelaskan bahwa wanita juga bebas berpartisipasi dalam
aktivitas industri. Istri Abdullah Ibnu Masud menjalankan sebuah perusahaan
dengan sangat sukses dan dia dapat menopang suami dan anak-anaknya dengan
income yang diperoleh
Istri-istri Nabi, tertama Aisyah, telah menjalankan peran politik penting.
Umar bin Khotob pernah melihat Aisyah berjalan-jalan disekitar garis peperangan
di seberang parit (ketika terjadi perang khandak). Selain aisyah ada Ummu
Salamah (istri Nabi), Shafiyah, Laylah al-Ghaffariyah, dll
2. Kemandekan tafsir ayat Al-quran dan Hadits Nabi SAW
Kemandekan tafsir terhadap ayat al-quran (surat an-nisa:34) yang
disinyalir berisi konsep kepemimpinan keluarga. Opini yang sementara ini
dianggap mapan dikalangan umat islam adalah bahwa laki-laki adalah pemimpin
keluarga sehinggi wajar kalau istri harus taat pada suami.
Tafsir itu telah digugat Dr. Zaitunah Subhan, misalnya yang cenderung
mengartikan kata qawwamuna dengan ayat tersebut dengan makna penopang,
18

pengayom, dan penegak, penanggung jawab dan penjamin, ini bila dikaitkan
dengan kewajiban memberi nafkah.
Selanjutnya Zaitunah juga menggugat makna kata al-rijal. Menurutnya
kata ini bukan semata-mata bentuk jamak (plural) dari rajul, tapi bisa juga dari
kata rijil (kaki) dan rajil yang merujuk pada makna orang yang berusaha,
mencari rizki.
3. Pengabaian konteks sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) dan disabdakannya
hadits (asbabul wurud)
4. Normalisasi relasi gender yang bersifat patriarkis.
4. Perempuan dalam Konsep Islam
a. Perempuan sebagai individu
Al-quran menyoroti perempuan sebagai individu. Dalam hal ini terdapat
perbedaan antara perempuan dalam kedudukannya sebagai individu dengan
perempuan sebagai anggota masyarakat. Al-quran memperlakukan baik individu
perempuan dan laki-laki adalah sama, karena hal ini berhubungan antara Allah
dan individu perempuan dan laki-laki tersebut, sehingga terminologi kelamin(sex)
tidak diungkapkan dalam masalah ini. Pernyataan-pernyataan al-Quran tentang
posisi dan kedudukan perempuan dapat dilihat dalam beberapa ayat sebagaimana
berikut:
1. Perempuan adalah makhluk ciptaan Allah yang mempunyai kewajiban
samauntuk beribadat kepadaNya sebagaimana termuat dalam Q.S. Adz-Dzariyat
ayat 56.
19

2. Perempuan adalah pasangan bagi kaum laki-laki termuat dalam Q.S. An-
nabaayat 8.
3. Perempuan bersama-sama dengan kaum laki-laki juga akan
mempertanggungjawabkan secara individu setiap perbuatan dan pilihannya
termuat dalam Q. S. Maryam ayat 93-95.
4. Sama halnya dengan kaum laki-laki mukmin, para perempuan mukminat
yang beramal saleh dijanjikan Allah untuk dibahagiakan selama hidup di dunia
danabadi di surga. Sebagaimana termuat dalam Q.S. An-Nahl ayat 97.
5. Sementara itu Rasulullah juga menegaskan bahwa kaum perempuan
adalah saudara kandung kaum laki-laki dalam H.R. Ad-Darimy dan Abu Uwanah.
Dalam ayat-ayat-Nya bahkan Al-quran tidak menjelaskan secara tegas bahwa
Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam, sehingga karenanya kedudukan
dan statusnya lebih rendah. Atas dasar itu prinsip al-Quran terhadap kaum laki-
laki dan perempuan adalah sama dimana hak istri adalah diakui secara adil(equal)
dengan hak suami. Dengan kata lain laki-laki memiliki hak dan kewajiban atas
perempuan,dan kaum perempuan juga memiliki hak dan kewajiban atas laki-laki.
Karena hal tersebutlah maka Al-Quran dianggap memiliki pandangan yang
revolusioner terhadap hubungan kemanusiaan, yakni memberikan keadilan hak
antara laki-laki dan perempuan.
b. Perempuan dan Hak Kepemilikan
Dalam Mansour Fakih (ed), Membincang Feminisme Diskursu Gender
Persfektif Islam, Islam sesungguhnya lahir dengan suatu konsepsi hubungan
manusia yang berlandaskan keadilan atas kedudukan laki-laki dan perempuan.
20

Selain dalam hal pengambilan keputusan, kaum perempuan dalam Islam juga
memiliki hak-hak ekonomi, yakni untuk memiliki harta kekayaannya sendiri,
sehingga dan tidak suami ataupun bapaknya dapat mencampuri hartanya. Hal
tersebut secara tegas disebutkan dalam An-Nisaayat 32 yang artinya: Dan
janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkanAllah kepada
sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki adabagian dari
apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dariapa yang
mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya.Sungguh,
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kepemilikan atas kekayaannya tersebut termasuk yang didapat melalui
warisan ataupun yang diusahakannya sendiri. Oleh karena itu mahar atau
maskawin dalam Islam harus dibayar untuknya sendiri, bukan untuk orang tua dan
tidak bisadiambil kembali oleh suami.Sayyid Qutb menegaskan bahwa tentang
kelipatan bagian kaum pria dibanding kaum perempuan dalam hal harta warisan,
sebagaimana yang tertulisdalam Al-Quran, maka rujukannya adalah watak kaum
pria dalam kehidupan, ia menikahi wanita dan bertanggung jawab terhadap
nafkah keluarganya selain ia jugabertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang
berkaitan dengan keluarganya itu.Itulah sebabnya ia berhak memperoleh bagian
sebesar bagian untuk dua orang,sementara itu kaum wanita, bila ia bersuami,
maka seluruh kebutuhannya ditanggungoleh suaminya, sedangkan bila ia masih
gadis atau sudah janda, maka kebutuhannya terpenuhi dengan harta warisan yang
ia peroleh, ataupun kalau tidak demikian, iabisa ditanggung oleh kaum kerabat
laki-lakinya. Jadi perebedaan yang ada di sini hanyalah perbedaan yang muncul
21

karena karekteristik tanggung jawab mereka yang mempunyai konsekwensi logis
dalam pembagian warisan. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa Islam memberikan
jaminan yang penuhkepada kaum wanita dalam bidang keagamaan, pemilikan dan
pekerjaan, dan realisasinya dalam jaminan mereka dalam masalah pernikahan
yang hanya boleh diselenggarakan dengan izin dan kerelaan wanita-wanita yang
akan dinikahkan itutanpa melalui paksaan. Janganlah menikahkan janda
sebelum diajak musyawarah,dan janganlah menikahkan gadis perawan sebelum
diminta izinnya, dan izinnyaadalah sikap diamnya (HR. Bukhari Muslim).
Bahkan Islam memberi jaminan semua hak kepada kaum wanita dengan
semangat kemanusiaan yang murni, bukan disertai dengan tekanan ekonomis atau
materialis. Islam justru memerangi pemikiran yang mengatakan bahwa kaum
wanita hanyalah sekedar alat yang tidak perlu diberi hak-hak. Islam memerangi
kebiasan penguburan hidup anak-anak perempuan, dan mengatasinya dengan
semangat kemanusiaan yang murni, sehingga ia mengharamkan pembunuhan
seperti itu.
c. Perempuan dan Pendidikan
Islam memerintahkan baik laki-laki maupun perempuan agar berilmu
pengetahuan dan tidak menjadi orang yang bodoh. Allah sangat mengecam
orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan, baik laki-laki maupun
perempuan.Sebagaimana dalam Q.S. Az-Zumar ayat 9. Kewajiban menuntut
ilmu juga ditegaskan nabi dalam hadis yang artinya,Menuntut ilmu itu wajib
atas setiap laki-laki dan perempuan(HR.Muslim). Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa Islam justru menumbangkan suatusistem sosial yang tidak
22

adil terhadap kaum perempuan dan menggantikannya dengan sistem yang
mengandung keadilan. Islam memandang perempuan adalah sama dengan
laki-laki dari segi kemanusiannya. Islam memberi hak-hak kepada perempuan
sebagaimana yang diberikan kepada kaum laki-laki dan membebankan
kewajiban yang sama kepada keduanya.
5. Sejarah Perjuangan Perempuan Menuju Kesetaraan
1. Sejarah perjuangan perempuan menuju kesetaraan di dunia Internasional
Kesetaraan gender dalam dunia internasional dimulai dengan
dikumandangkannya emansipasi di tahun 1950-1960. Setelah itu tahun 1963
muncul gerakan kaum perempuan yang mendeklarasikan suatu resolusi melalui
badan ekonomi sosial PBB. Kesetaraan perempuan dan laki-laki diperkuat dengan
deklarasi yang dihasilkan dari konferensi PBB tahun 1975, dengan tema Women
In Development (WID) yang memprioritaskan pembangunan bagi perempuan
yang dikembangkan dengan mengintegrasi perempuan dalam pembangunan.
Setelah itu, beberapa kali terjadi pertemuan internasional yang
memperhatikan pemberdayaan perempuan. Sampai akhirnya sekitar tahun 1980-
an berbagai studi menunjukkan bahwa kualitas kesetaraan lebih penting daripada
kuantitas, maka tema WID diubah menjadi Women and Development (WAD).
Tahun 1992 dan 1993, studi Anderson dan Moser memberikan
rekomendasi bahwa tanpa kerelaan, kerjasama, dan keterlibatan kaum laki-laki
maka program pemberdayaan perempuan tidak akan berhasil dengan baik.
Dengan alasan tersebut maka dipergunakan pendekatan gender yang dikenal
23

dengan Gender and Development (GAD) yang menekankan prinsip hubungan
kemitraan dan keharmonisan antara perempuan dan laki-laki.
Pada tahun 2000 konferensi PBB menghasilkan 'The Millenium
Development Goals' (MDGs) yang mempromosikan kesetaraan gender dan
pemberdayaan perempuan sebagai cara efektif untuk memerangi kemiskinan,
kelaparan, dan penyakit serta menstimulasi pembangunan yang sungguh-sungguh
dan berkelanjutan.
2. Sejarah perjuangan perempuan menuju kesetaraan di Indonesia
Perempuan Indonesia juga memiliki catatan sejarah tersendiri dalam
memperjuangkan hak gender di Indonesia. Berikut adalah penjelasannya :
a. Sebelum perang dunia II
R.A Kartini (21 April 1879-17 september 1904) oleh kaum indonesia
dianggap sebagai kaum pelopor. Terbukti dengan surat-surat Habis Gelap
Terbitlah Terang tentang cita-citanya seputar perempuan indonesia.
b. Sesudah perang dunia II
Banyak organisasi-organisasi perempuan yang yang ditujukan untuk
membantu proses kemerdekaan RI. Contohnya Kowani (Kongres Wanita
Indonesia) dan KPI (Kongres Perempuan Indonesia) yang mendiskusikan tentang
RUU Perkawinan yang berkeadilan
6. Konsep Gender Menurut Islam
Persepsi masyarakat mengenai status dan peran perempuan masih belum
sepenuhnya sama. Ada yang berpendapat bahwa perempuan harus berada di rumah,
mengabdi pada suami, dan mengasuh anak-anaknya.Namun ada juga yang
24

berpendapat bahwa perempuan harus ikut berperan aktif dalam kehidupan sosial
bermasyarakat dan bebas melakukan sesuai dengan haknya. Fenomena ini terjadi
akibat belum dipahaminya konsep relasi Jender.
Dalam Agama Islam juga timbul perbedaan pandangan karena terdapat perbedaan
dalam memahami teks-teks Al-Quran tentang Jender.Nabi Muhammad SAW,datang
membawa ajaran yang menempatkan wanita pada tempat terhormat,setara dengan
laki-laki.Beberapa ayat-ayat Al-Quran menyebutkan bahwa wanita sejajar dengan
laki-laki seperti :Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka akan Kami berikan mereka kehidupan
yang baik dan akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
baik daripada apa yang telah mereka lakukan.(Q.S. Al-Nahl:97)
Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal yang dilakukan oleh kamu
sekalian, kaum laki-laki dan perempuan.(Q.S.Ali Imran:195) Seharusnya dapat
dipahami bahwa Allah SWT tidak mendiskriminasi hamba-Nya. Siapapun yang
beriman dan beramal saleh akan mendapat ganjaran yang sama atas amalnya.Dalam
konteks ini laki-laki tidak boleh melecehkan wanita atau bahkan menindasnya.
Pada dasarnya wanita memiliki kesamaan dalam berbagai hak dengan laki-laki,
namun wanita memang diciptakan Allah dengan suatu keterbasan dibanding laki-laki.
Maka dari itu tugas kenabian dan kerasulan tidak dibebankan kepada wanita karena
perasaan sensitif yang dimiliki wanita.Dalam suatu ayat dijelaskanKaum laki-laki
adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka
(laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).(Q.S. Al-Nisa:34)
25

Secara teologis, Allah menciptakan wanita dari unsur pria (wa khalaqa minha
zaujaha) (Hasbi Indra,2004:5).Sehingga pada dasarnya laki-laki memililiki kelebihan
daripada wanita.Kelebihan ini selanjutnya menjadi tanggung jawab laki-laki untuk
membela dan melindungi wanita.Namun segala kekurangan yang ada dalam wanita
tidak menjadi alasan wanita kehilangan derajatnya dalam kesetaraan Jender.
Walaupun demikian,wanita juga tidak boleh melupakan kodratnya sebagai
wanita.Dalam Islam kodrat wanita adalah :
1. Menjadi Kepala Rumah Tangga
Dalam suatu riwayat disebutkan :Setiap manusia keturunan Adama adalah
kepala, maka seorang pria adalah kepala keluarga, sedangkan wanita adalah
kepala rumah tangga.(HR Abu Hurairah)
Artinya kodrat wanita sebagai istri kelak akan menjadi kepala rumah tangga yang
mana seorang istri melakukan tugas-tugas yang tidak dapat dilakukan suami
seperti : memasak, mencuci, mengurus rumah tangga,mengasuh anak-anak dan
lain-lain.Selain tugas wanita menjadi seorang istri yang mengabdi kepada
suami,juga beribadah kepada Allah.Pada dasarnya beribadah inilah merupakan
tugas utama.
2. Sebagai Ibu dari Anak-Anaknya
Salah satu kodrat wanita yang cukup berat adalah saat wanita harus mengandung
dan melahirkan. Bahkan karena sangat susah payahnya wanita dalam melahirkan
hingga sampai bertaruh nyawa Allah menjanjikan pahala yang sama seperti para
syuhada.Kedua hal ini merupakan kodrat wanita yang sangat mulia.Namun tidak
berhenti cukup disitu,peran yang sebenarnya adalah dikala wanita menjadi ibu
26

yang dapat mendidik anaknya menjadi anak yang cerdas,berakhlak dan taat dalam
agamanya.
7. Kesetaraan Hubungan antara Perempuan dan Laki-laki dalam Islam
Pada dasarnya semangat hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam
bersifat adil (equal). Oleh karena itu subordinasi terhadap kaum perempuan
merupakan suatu keyakinan yang berkembang di masyarakat yang tidak sesuai atau
bertentangan dengan semangat keadilan yang diajarkan Islam.
Konsep kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam al- Quran,
antara lain sebagai berikut:
Pertama, laki laki dan perempuan adalah sama-sama sebagai hamba. Dalam
alquran (Az- Zariyat: 56) disebutkan : Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembahku. Dalam kapasitasnya sebagai
hamba, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai
potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam al-
Quran biasa diistilahkan dengan orang-orang yang bertakwa (muttaqin).
Kedua, Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di bumi. Maksud dan tujuan
penciptaan manusia di muka bumi ini adalah di samping untuk menjadi hamba yang
tunduk dan patuh serta mengabdi kepada Allah, juga untuk menjadi khalifah di bumi,
sebagaimana tersurat dalam Alquran (Al-Anam: 165) : Dan dialah yang
menjadikan kalian penguasa penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian
kalian atas sebahagian yang lain beberapa derjat, untuk mengujimu tentang apa
yang diberikanNya kepada kalian. Sesungguhnya Tuhan kalian amat cepat
siksaanNya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Juga
27

dalam Alquran (al-Baqarah: 30) disebutkan : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman
kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi. Mereka berkata: mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi
orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami selalu
senantiasa bertasbih kepadaMu dan mensucikan Mu. Tuhan berfirman,
sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui:.
Ketiga, Laki-laki dan Perempuan menerima perjanjian primordial. Menjelang
sorang anak manusia keluar dari rahim ibunya, ia terlebih dahulu harus menerima
perjanjian dengan Tuhannya. Disebutkan dalam Alquran (Al-Araf: 172): Dan
ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman)
Bukankah Aku ini TuhanMu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi.(Kami lakukan). Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang
yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). Dalam Islam tanggung jawab individual
dan kemandirian berlangsung sejak dini, yaitu semenjak dalam kandungan. Sejak
awal sejarah manusia dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi kelamin. Laki-
laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama.
Keempat, Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi. Tidak ada
pembedaan antara laki-laki dan perempuan untuk meraih peluang prestasi.
Disebutkan dalam Alquran (Al-Nisa: 124) : Barangsiapa yang mengerjakan amal-
amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka
mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. Juga
(Al-Nahl: 97): Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
28

perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Juga
(al-Mumin:40): Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka Dia tidak akan
dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. dan Barangsiapa mengerjakan
amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan
beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa
hisab. Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan konsep kesetaraan yang ideal dan
memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual
maupun urusan karir profesional, tidak mesti dimonopoli oleh satu jenis kelamin saja.
Menurut Nasaruddin Umar, Islam memang mengakui adanya perbedaan (distincion)
antara laki-laki dan perempuan, tetapi bukan pembedaan (discrimination). Perbedaan
tersebut didasarkan atas kondisi fisik-biologis perempuan yang ditakdirkan berbeda
dengan laki-laki, namun perbedaan tersebut tidak dimaksudkan untuk memuliakan
yang satu dan merendahkan yang lainnya. Ajaran Islam tidak secara skematis
membedakan faktor-faktor perbedaan laki-laki dan perempuan, tetapi lebih
memandang kedua insan tersebut secara utuh. Antara satu dengan lainnya secara
biologis dan sosio kultural saling memerlukan dan dengan demikiann antara satu
dengan yang lain masing-masing mempunyai peran. Boleh jadi dalam satu peran
dapat dilakukan oleh keduanya, seperti perkerjaan kantoran, tetapi dalam peran-peran
tertentu hanya dapat dijalankan oleh satu jenis, seperti; hamil, melahirkan, menyusui
anak, yang peran ini hanya dapat diperankan oleh wanita. Di lain pihak ada peran-
peran tertentu yang secara manusiawi lebih tepat diperankan oleh kaum laki-laki
29

seperti pekerjaan yang memerlukan tenaga dan otot lebih besar. Dengan demikian
dalam perspektif normativitas Islam, hubungan antara lakilaki dan perempuan adalah
setara. Tinggi rendahnya kualitas seseorang hanya terletak pada tinggi-rendahnya
kualitas pengabdian dan ketakwaannya kepada Allah swt. Allah memberikan
penghargaan yang sama dan setimpal kepada manusia dengan tidak membedakan
antara laki-laki dan perempuan atas semua amal yang dikerjakannya.

B. Pandangan Islam terhadap Pemberian ASI
1. Pengertian ASI
Air Susu Ibu (ASI) adalah sebuah cairan tanpa tanding ciptaan Allah untuk
memenuhi kebutuhan gizi bayi dan melindunginya dalam melawan kemungkinan
serangan penyakit. Keseimbangan zat-zat gizi dalam air susu ibu berada pada tingkat
terbaik dan air susunya memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih
muda. Pada saat yang sama, ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang
mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf.Makanan-
makanan tiruan untuk bayi yang diramu menggunakan tekhnologi masa kini tidak
mampu menandingi keunggulan makanan ajaib ini.
Air Susu Ibu (ASI) merupakan bahan makanan terbaik bagi bayi baru lahir karena
memiliki kandungan semua zat gizi yang diperlukan bayi dalam enam bulan pertama
sejak lahir diantaranya yaitu protein, lemak, laktosa, vitamin, zat besi, garam, kalsium
dan fosfat, kandungan air yang cukup sesuai dengan suhu, pengahsil antibodi dan
imunoglobin. ASI lebih fleksibel dari pada susu formula, karena ASI dapat diberikan
kepada bayi saat ibu sedang sakit, haid, berpergian atau tidur. Rasa ASI terkadang
30

berbeda-beda ada yang asam, manis, biasa tergantung makanan yang dimakan oleh
seorang ibu. Meskipun demikian, kandungan ASI pada ibu tetap utuh dan sangat baik
terhadap bayi. Sehingga menurunkan penyakit diare pada sang bayi.
Pada tahun modern ini, banyak sekali susu formula yang dipromosikan dan
didistribusikan hingga ke pelosok desa. Sehingga membuat banyak ibu-ibu pekerja
beralih untuk memberikan susu formula kepada bayinya. Padahal susu formula dapat
menyebabkan hal negatif terhadap sang bayi dan ibu, yaitu lebih mudah terserang
penyakit diare, hubungan emosional antara ibu dan anak berkurang, biaya yang cukup
banyak dikeluarkan untuk membeli dot dan susu formula serta biaya pengobatan. Hal
ini perlu disadari terlebih dahulu, menurut pandangan Islam ASI adalah ungkapan
kasih sayang Allah SWT sekaligus anugerah yang luar biasa terhadap setiap bayi
yang terlahir ke muka bumi. Jika sang ibu memberikan ASInya kepada bayinya
dengan rasa ikhlas dan berniat untuk ibadah Insya Allah ibu tersebut akan
mendapatkan keuntungan yang sangat banyak diantaranya yaitu, mendapatkan pahala,
tidak mengeluarkan biaya pengobatan, tidak membeli susu formula, membantu
menghentikan pendarahan setelah melahirkan (nifas), mecegah kehamilan berikutnya,
terbangun hubungan ikatan secara emosional dengan anaknya, mengurangi berat
badan, tidur nyenyak dan membantu rahim kembali keukuran normal sehingga tidak
mempunyai resiko kanker rahim.
2. Tuntunan Islam dalam Pemberian ASI
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-
bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-
31

tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada
dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman, 31:14)
ASI adalah ungkapan kasih sayang Allah sekaligus anugerah yang luar biasa
terhadap setiap bayi yang terlahir ke muka bumi. Di dalam Surat Cintanya, bertebaran
ayat-ayat tentang ASI. Antara lain :

)
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi
yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan
pakaian kepada para ibu dengan cara maruf. Seseorang tidak dibebani melainkan
menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan
karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban
demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan
keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu
ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu
memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan
ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (Al-Baqarah [2]:
233)
Hikmah ayat yang terkandung dalam kitab Suci Alquran tersebut, setidaknya
menekankan bahwa Air Susu Ibu (ASI) sangat penting. Walaupun masih ada
perbedaan pendapat tentang wajib atau tidaknya menyusui, tapi selayaknya bagi
32

seorang muslim menghormati ayat-ayat Allah tersebut. Terlepas wajib atau tidaknya
hukum menyusui, dalam ayat tersebut dengan tegas dianjurkan menyempurnakan
masa penyusuan. Dan di sana juga disinggung tentang peran sang ayah, untuk
mencukupi keperluan sandang dan pangan si ibu, agar si ibu dapat menuyusi dengan
baik. Sehingga jelas, menyusui adala kerja tim. Keputusan untuk menyapih seorang
anak sebelum waktu dua tahun harus dilakukan dengan persetujuan bersama antara
suami isteri dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi si bayi. Insprasi utama
dari pengambilan keputusan ini harus didasarkan pada penghormatan kepada perintah
Allah dan pelaksanaan hukum-Nya, dan tidak bertujuan meremehkan perintahNya.
Demikian pula jika seorang ibu tidak bisa menyusui, dan diputuskan untuk
menyusukan bayinya pada wanita lain, sehingga haknya untuk mendapat ASI tetap
tertunaikan.

3. Manfaat ASI
Penelitian menunjukkan, bayi yang diberi ASI secara khusus terlindung dari
serangan penyakit sistem pernapasan dan pencernaan. Hal itu disebabkan zat-zat
kekebalan tubuh di dalam ASI memberikan perlindungan langsung melawan serangan
penyakit. Sifat lain dari ASI yang juga memberikan perlindungan terhadap penyakit
adalah penyediaan lingkungan yang ramah bagi bakteri menguntungkan yang
disebut flora normal. Keberadaan bakteri ini menghambat perkembangan bakteri,
virus dan parasit berbahaya. Tambahan lagi, telah dibuktikan pula bahwa terdapat
unsur-unsur di dalam ASI yang dapat membentuk sistem kekebalan melawan
penyakit-penyakit menular dan membantunya agar bekerja dengan benar.
33

Karena telah diramu secara istimewa, ASI merupakan makanan yang paling
mudah dicerna bayi. Meskipun sangat kaya akan zat gizi, ASI sangat mudah dicerna
sistem pencernaan bayi yang masih rentan. Karena itulah bayi mengeluarkan lebih
sedikit energi dalam mencerna ASI, sehingga ia dapat menggunakan energi
selebihnya untuk kegiatan tubuh lainnya, pertumbuhan dan perkembahan organ.
Air susu ibu yang memiliki bayi prematur mengandung lebih banyak zat lemak,
protein, natrium, klorida, dan besi untuk memenuhi kebutuhan bayi. Bahkan telah
dibuktikan bahwa fungsi mata bayi berkembang lebih baik pada bayi-bayi prematur
yang diberi ASI dan mereka memperlihatkan kecakapan yang lebih baik dalam tes
kecerdasan. Selain itu, mereka juga mempunyai banyak sekali kelebihan lainnya.
Salah satu hal yang menyebabkan ASI sangat dibutuhkan bagi perkembangan
bayi yang baru lahir adalah kandungan minyak omega-3 asam linoleat alfa. Selain
sebagai zat penting bagi otak dan retina manusia, minyak tersebut juga sangat penting
bagi bayi yang baru lahir. Omega-3 secara khusus sangat penting selama masa
kehamilan dan pada tahap-tahap awal usia bayi yang dengannya otak dan sarafnya
berkembang secara nomal. Para ilmuwan secara khusus menekankan pentingnya ASI
sebagai penyedia alami dan sempurna dari omega-3.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan para ilmuwan Universitas Bristol
mengungkap bahwa di antara manfaat ASI jangka panjang adalah dampak baiknya
terhadap tekanan darah, yang dengannya tingkat bahaya serangan jantung dapat
dikurangi. Kelompok peneliti tersebut menyimpulkan bahwa perlindungan yang
diberikan ASI disebabkan oleh kandungan zat gizinya. Menurut hasil penelitian itu,
yang diterbitkan dalam jurnal kedokteran Circulation, bayi yang diberi ASI
34

berkemungkinan lebih kecil mengidap penyakit jantung. Telah diungkap bahwa
keberadaan asam-asam lemak tak jenuh berantai panjang (yang mencegah pengerasan
pembuluh arteri), serta fakta bahwa bayi yang diberi ASI menelan sedikit natrium
(yang berkaitan erat dengan tekanan darah) yang dengannya tidak mengalami
penambahan berat badan berlebihan, merupakan beberapa di antara manfaat ASI bagi
jantung.
Selain itu, kelompok penelitian yang dipimpin Dr. Lisa Martin, dari Pusat
Kedokteran Rumah Sakit Anak Cincinnati di Amerika Serikat, menemukan
kandungan tinggi hormon protein yang dikenal sebagai adiponectin di dalam ASI.
Kadar Adiponectin yang tinggi di dalam darah berhubungan dengan rendahnya resiko
serangan jantung. Kadar adiponectin yang rendah dijumpai pada orang yang
kegemukan dan yang memiliki resiko besar terkena serangan jantung. Oleh karena itu
telah diketahui bahwa resiko terjadinya kelebihan berat badan pada bayi yang diberi
ASI berkurang dengan adanya hormon ini. Lebih dari itu, mereka juga menemukan
keberadaan hormon lain yang disebut leptin di dalam ASI yang memiliki peran utama
dalam metabolisme lemak. Leptin dipercayai sebagai molekul penyampai pesan
kepada otak bahwa terdapat lemak pada tubuh. Jadi, menurut pernyataan Dr. Martin,
hormon-hormon yang didapatkan semasa bayi melalui ASI mengurangi resiko
penyakit-penyakit seperti kelebihan berat badan, diabetes jenis 2 dan kekebalan
terhadap insulin, dan penyakit pada pembuluh nadi utama jantung.



35

4. ASI vs Susu Formula
Akhir-akhir ini begitu ramai pembicaraan terkait dengan tercemarnya susu
formula oleh bakteri Enterobacter sakazakii. Publik pun was-was, karena bakteri ini
dilaporkan dapat menyebabkan radang usus, sepsis (keracunan karena hasil proses
pembusukan), dan meningitis (radang selaput otak dan sumsum tulang belakang).
Sebenarnya, bila ibu mencukupkan diri dengan memberikan ASI kepada bayinya,
kecemasan saat memilih susu formula tidak perlu melanda. Selain tidak perlu bingung
memilih susu formula mana yang aman dari cemaran tersebut, manfaat secara fisik
sudah tentu diperoleh sang ibu dan bayinya. Disisi lain, manfaat psikologis (batin)
tidak lepas dari genggaman.
Dibawah ini adalah beberapa perbandingan antara susu formula dengan ASI.
Insya Allah bermanfaat bagi kita semua.
1. Kandungan nutrisi ASI paling sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi dan
kebutuhannya. Sedangkan nutrisi tambahan dari susu formula seringnya
dibuat dengan proses enrichment dan kurang dapat diserap dengan baik.
2. ASI memiliki banyak sel darah putih dan Immunoglobulin (zat anti bodi).
Adapun susu formula tidak mengandung sama sekali sel darah putih dan kadar
Immunoglobulin-nya rendah.
3. ASI mengandung DHA dan AA dalam jumlah yang tinggi, yang bermanfaat
dalam pembentukan sel otak. ASI mudah diserap usus, mengandung lemak
ikatan panjang yang menjadi cikal bakal DHA dan AA serta mengandung
36

enzim pencerna lemak. Susu formula tidak mengandung kolesterol, kurang
kandungan DHA-nya dan tidak dapat diserap secara sempurna.
4. ASI mengandung lactoferrin yang sangat baik untuk usus dan Lysozym yang
merupakan enzim antimikroba. ASI pun kaya protein pembangun tubuh dan
otak. Sementara susu formula, tidak mengandung kedua enzim tersebut. Kadar
proteinnya pun kurang.
5. ASI memiliki kadar laktosa (karbohidrat pendukung perkembangan otak) dan
oligosakarida (karbohidrat yang mendukung kesehatan usus) dalam jumlah
cukup tinggi. Sedangkan susu formula kurang kandungan laktosa dan
oligosakarid nya. Bahkan ada diantaranya tidak mengadung zat tersebut.
6. ASI kaya dengan enzim pencernaan seperti lipase dan amilase, kaya hormon
(seperti tyroid, prolaksin, dan oksitoksin. Berbeda dengan susu formula,
kandungannya sedikit sekali.
7. ASI mengandung zat besi, zinc, kalsium, serta anti oksidan yang dapat diserap
dengan baik oleh usus bayi. Sedangkan pada susu formula zat tersebut kurang
dapat diserap.
8. ASI memiliki rasa yang variatif, sesuai dengan makanan yang dikonsumsi
oleh sang ibu. Disamping itu, praktis, murah, dan selalu steril. Adapun susu
formula rasanya tertentu, membutuhkan waktu dan teknik penyiapan
penyajian, relatif mahal serta beresiko tercemar kuman bila tidak tepat
penanganannya.
Hasil penelitian di Bogor pada Tahun 2001 menunjukkan bahwa bayi atau
anak yang diberi ASI eksklusif sampai usia 6 bulan tidak ada yang menderita gizi
37

buruk ketika mereka berumur 7 bulan. Bayi yang diberikkan susu selain ASI
mempunyai resiko 17 kali lebih besar mengalami diare dan 2-4 kali lebih besar
kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI. MP-
ASI sebaiknya diberikan sesuai waktunya, tidak terlalu dini maupun tidak
terlambat.
5. ASI dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
Sampai dengan usia 6 bulan seorang bayi cukup diberi ASI saja. Bayi tidak perlu
diberimakanan dan minuman lain selain ASI kecuali vitamin dan obat.
ASI adalah makanan terbaik untuk bayi karena merupakan makanan
alamiah yang sempurna.
ASI mudah dicerna oleh bayi dan mengandung zat gizi yang sesuai
dengan kebutuhan untuk pertumbuhan, kekebalan dan mencegah dari berbagai
penyakit serta untuk kecerdasan.
ASI merupakan makanan yang aman dan terjamin kebersihannya karena
langsung diberikan kepada bayi dalam keadaan segar. Dengan demikian, bayi
tidak mudah terserang gangguan pencernaan makanan seperti diare, muntah dan
sebagainya.
Bayi yang baru lahir harus segera diberi ASI dan senantiasa dekat dengan ibunya.
Bayi baru lahir harus dekat dengan ibunya. Sebaiknya bayi dan ibunya
berada dalam satu kamar atau tempat tidur yang sama. Berikan kesempatan pada
bayi untuk menyusui setiap saat dia membutuhkan.
38

Pada saat bayi mulai menyusui, payudara ibu mulai memproduksikan ASI.
Hal ini menyebabkan kandungan ibu kontraksi sehingga dapat mengurangi resiko
terjadinya pendarahan atau infeksi.
Kolostrum adalah ASI yang keluar pada hari pertama sampai hari ke tiga
setelah bayi lahir, berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental karena banyak
mengandung zat gizi tinggi dan zat kekebalan tubuh. Oleh karena itu, kolostrum
tidak boleh dibuang tetapi harus diberikkan pada bayi yang baru dilahirkan.
Apabila ibu meahirkan di rumah sakit atau klinik, ia berhak untuk
meminta agar bayinya ditempatkan dekat dengannya dalam keadaan yang sama
24 jam terus menerus dan meminta agar bayinya tidak diberikan susu formula
atau air bila ibunya dapat menyusui bayi tersebut.
Proses menyusui merupakan proses interksi antara ibu dan bayi.
Hubungan interaksi ibu dan bayi, sebaiknya setelah setengah jam pertama dari
mulai beberapa menit sesudah bayi dilahirkan.
Pemberian ASI akan melindungi bayi/anak terhadap penyakit dan menumbuhkan
hubungan kasih sayang ibu dan anak.
Bayi yang mendapatkan ASI akan mendapatkan perhatian dan rangsangan
yang lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan susu botol.
Dengan perhatian tersebut, bayi akan tumbuh dan berkembang serta membuat
mereka merasa lebih aman.
39

Bayi akan merasa aman dan puas karena melallui sentuhan kulit dapat
merasakan kehangatan tubuh ibu dan dapat mendengarkan denyut jantung
ibuyang sudag dikenal sejak masih dalam rahim.
Seorang wanita yang bekerja dapat tetap melanjutkan memberikan ASI dengan
cara memeras dan disimpan dalam termos atau lemari es. ASI tersebut diberikan
kepada bayi sesampainya dirumah.
Apabila seorang ibu bekerja dan tidak dapat menyusui anaknya, maka ibu
tersebut dianjurkan untuk memeras air susunya 2 sampai 3 kali pada waktu ia
bekerja dan mnyimpan air susu tersebut dalam wadah yang bersih. ASI yang
disimpan dalam suhu kamar (26 derajat C atau lebih rendah) tahan selama 6-8
jam.
Keluarga dan masyarakat dapat mendorong para pengusaha untuk
memberikan cuti hamil, menyediakan tempat penitipan bayi dan tempt yang layak
untuk menyusui.
Ibu yang tidak dapat memberikan ASI dengan cara menyusui pada bayi sebaiknya
tetap memberikan ASI dengan cara menggunakan peralatan seperti mangkuk,
sendok makan yang bersih. Tidak dianjurkan dengan botol
Pemakaian botol dan dot yang tidak bersih dapat menyebabkm diare atau
infeksi telinga, lebih lanjut lagi dapat menyebabkan kematian bayi/anak. Selain
itu, susu botol tidak mengandung zat kekebalan. Peralatan yang diperlukan untuk
kebersihan botol tidak sedikit serta penyediannya sangat merepotkan.
40

Pemberian air susu pengganti, apabila tidak dilakukan dengan tepat,
artinya terlalu banyak air atau terlalu sedikit airnya, atau menggunakan air yang
tidak bersih, akan mengganggu pertumbuhan dan menyebabkan bayi sakit.
Setelah 6 bulan bayi perlu diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI).
Sementara itu ASI harus tetap diberikan sampai anak berusia 2 tahun.
Meskipun anak memerlukan makanan tambahan sejak usia 6 bulan. ASI
masihmerupakan hal penting sebagai sumber tenaga, protein, vitamin A dan zat
besi. Untuk bayi yang berusia antara 6-12 bulan, ASI harus diberikan seblum
makanan lainnya diberikan. Menu makanan anakharus beraneka ragam yang
memenuhi zat tenaga, pembangun dan pengatur.
Takaran pemberian MP-ASI per hari yang sesuai dengan umur :
- Usia 6-9 bulan, diberikan ASI sesering mungkin, dan berikan
MP-ASI berupa makanan lumat dan halus 7-9 sendok makan.
- Usia 9-12 bulan, berikan ASI sesering mungkin dan berikan
MP-ASI berupa makanan lunak 9 sendok makan.
- Usia 12-24 bulan, lanjutkan pemberian ASI selama ibu dan
anak menginginkannya, serta berikan makanan padat (maknan
keluarga)
Anak akan sering sakit pada saat mulai belajar merangkak, berjalan,
bermain, minum dan makan selain ASI. Seorang anak yang sakit peru menyusu
lebih banyak.
41

Menghisap ASI dapat menenangkan anak yang sedang marah atau nangis.
Seorang ibu yang mendeerita HIV berisiko untuk menulari bayinya melalui ASI.
Ibu yang menderita atau diduga menderit HIV harus segera berkonsultasi kepada
petugas kesehatan yang terlatih untuk diperiksa dan mendapat informasi.
Setiap orang perlu mengetahui bagaimana cara mencegah HIV. Setiap ibu
hamil atau yang baru melahirkan harus menyadari bahwa apabila mereka tertular
HIV maka besar kemungkinan mereka akan menularkan kepada bayinya pada saat
hamil, bersalin atau menyusui.
Cara terbaik untuk tidak mennularkan HIV adalah dengan cara menjaga
diri agar tidak tertular HIV.
Wanita hamil atau ibu yang baru melahirkan dan tertular HIV atau diduga
tertular HIV harus segera berkonsultasi kepada petugas kesehatan yang terlatih
untuk mendapat tes dan konseling.
Semakin sering memberikan ASI maka akan semakin banyak ASI diproduksi.
Banyak ibu yang baru melahirkan memerlukan dorongan dan bantuan
untuk mau menyusui karena pada umumnya mereka menghadapi kesulitan dan
merasa cemas. Dorongan dan bantuan dapat diberikan oleh anggota keluarga
lainnya atau teman serta perkumpulan ibu menyusui.
42

Bagaimana cara menggendong bayi dan bagaimana cara membawa mulut
bayi ke payudara merupakan hal yang penting. Cara menggendong yang benar
akan mempermudah bayi untuk menyusui.
Tanda-tanda bahwa bayi sudah pada posisi yang benar untuk menyusu, antara lain
adalah :















Tubuh bagian bayi menempel pada tubuh ibu
Dagubayi menempel pada payudara ibu
43

Sebagian besar areola tidak nampak
Bayi menghisap secara dalam dan perlahan
Bayi puas dan senang pada akhir menyusui
Putting susu tidak terasa sakit atau tidak lecet
Posisi bayi yang salah dalam menyusu :
Mulut bayi tidak terbuka lebar
Dada bayi tidak menempel pada dada ibu
Sebagian besar daerah areola terlihat
Bayi menghisap sebentar-sebentar
Bayi tetap gelisah pada akhir menyusui
Putting susu ibu lecet dan sakit
6. Definisi Radhaah/Menyusui
Radhaah adalah penyusuan/menyusui bayi yang dilakukan oleh perempuan
selain ibu kandung. Hal ini terjadi karena banyak faktor. Seperti ibu asli bayi tidak
keluar ASI atau tidak mau menyusui atau ibu asli bayi meninggal dunia atau memiliki
penyakit yang menular sehingga dikuatirkan menular ke anaknya apabila memaksa
menyusui bayinya, dan lain sebagainya.
Radhaah memiliki akibat hukum dalam Islam. Yakni, terjadinya hubungan
mahram antara bayi (radhi) dan ibu yang menyusui (murdhiah) serta anak-anaknya
ibu yang menyusui.
Dalil Radhaah (Menyusui/Pnyusuan)
Dalil-dalil yang berakaitan dengan radhaah adalah sebagai berikut:
44

a) Dalil Quran
1. QS Al-Baqarah 2:233
Artinya: Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka
tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut
yang patut.
2. QS An-Nis 4:23
Artinya: Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu
yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara
bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-
anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak
perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang
menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan;
3. QS al-Hajj 22:2
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah
semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan
gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia
dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan
tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.

5. QS al-Qashash 28:12
dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang
mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: Maukah
45

kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya
untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

6. QS ath-Thalaq 65:6
.. dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh
menyusukan (anak itu) untuknya.
Syarat Radhaah (Menyusui/Penyusuan)
1. Adanya air susu manusia
2. Air susu itu masuk ke dalam perut (bayi)
3. Bayi tersebut belum berusia dua tahun













46

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Al Quran secara umum dan dalam banyak ayatnya telah membicarakan relasi
gender, hubungan antara laki- laki dan perempuan, hak- hak mereka dalam konsepsi yang
rapi, indah dan bersifat adil. Kesetaraan yang telah di akui oleh Al Quran itu, bukan
berarti harus sama antara laki- laki dan perempuan dalam segala hal. Untuk menjaga
kesimbangan alam (sunnatu tadafu), harus ada sesuatu yang berbeda, yang masing-
masing mempunyai fungsi dan tugas tersendiri.
Dalam pandangan Islam perempuan memiliki kedudukan yang sama
dibandingkan dengan laki-laki. Dari sudut penciptaan, kemuliaan, dan hak mendapatkan
balasan atas amal usahanya perempuan memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Sedangkan
dalam hal peran perempuan memiliki perbedaan dengan laki-laki. Peran perempuan yang
wajib adalah sebagai anggota keluarga yaitu sebagai istri dari suami dan ibu bagi anak-
anaknya. Sedangkan peran perempuan sebagai anggota masyarakat dalam urusan
muamalah mendapatkan profesi (pekerjaan) dihukumi dengan rukhshah darurat.
Meskipun diperbolehkan namun harus selalu mementingkan segi kemaslahatan baik bagi
rumah tangga maupun bagi masyarakat. Apabila lebih banyak kemudaratannya bagi
keluarga maka profesi di luar rumah harus ditinggalkan mengingat sesuatu yang darurat
tidak boleh meninggalkan hal yang wajib.
Dalam Al-Quran telah Allah Subhanahu wa taala jelaskan hendaklah para ibu
menyusui bayi mereka selama dua tahun penuh, walaupun dalam Islam hukumnya bukan
47

wajib akan tetapi mubah/boleh. Telah dijelaskan pula dalam AlQuran mengenai dapat
dicarikan ibu susu lain apabila ibu kandung berhalangan, terkena penyakit menular dan
atau meninggal. Diusahakan Bayi baru lahir mendapatkan ASI agar kelak menjadi baik,
dan sesuai dengan yang telah ada dalam Al-Quran.
B. Saran
Mengenai wanita bekarier, dalam Al-Quran sudah dijelaskan bahwa tidak ada larangan
akan tetapi harus sesuai dengan aturan yaitu :
a. Mendapatkan izin dari suami.
b. Tabarruj dengan lelaki non mahramnya.
c. Menutup aurat dengan pakaian syari.
d. Menundukkan pandangan.
e. Tidak melupakan tugas utama sebagai istri maupun ibu sesuai yang telah
dijelaskan dalam Al-quran.
f. Bisa membagi waktu antara bekerja, suami, serta menjaga dan mendidik
anaknya.
g. Tidak merubah kodratnya sebagai wanita.







48

DAFTAR PUSTAKA
Djamil, Abdul. 2009. Bias Gender dalam pemahaman Islam. Yogyakarta : Gama Media
Hamka. 1998. Kedudukan Perempuan dalam Islam. Jakarta : Penerbit Pustaka Panjimas
http://blinksidea.blogspot.com/2012/05/pandangan-islam-terhadap-pemberian-asi.html
http://muslimafiyah.com/bolehkah-menyusui-lebih-dari-dua-tahun-syariat-dan-
medis.html
Jawa Barat Sehat. 2008. Pedoman Hidup Sehat.Jakarta : Menteri Kesehatan RI
Mansour Fakih. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
____________.1999. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
Nining, R. 2009. Pengertian gender. www.google.com
Nunung, H. 2012. Anjuran ASI dalam Islam. www.republika.co.id