Anda di halaman 1dari 130

AGROPOLITAN

MINAPOLITAN

&

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Sambutan

Direktur Jenderal Cipta Karya


Kementerian Pekerjaan Umum
Salam sejahtera,
Guna mewujudkan komitmen Pemerintah untuk melaksanakan
pemerataan pembangunan dan penyeimbangan pembangunan desa-kota,
maka pada tahun 2002 Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian
Pekerjaan Umum bersama Kementerian Pertanian mengembangkan
Kawasan Perdesaan. Program ini dimaksudkan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi dan percepatan pengembangan wilayah yang
berbasis pada potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat, yang pada
gilirannya, upaya tersebut akan berujung pada peningkatan kesejahteraan
dan taraf hidup masyarakat.
Dalam pengembangan kawasan perdesaan melalui pengadaan
infrastruktur penunjang ekonomi yang memadai, Ditjen Cipta Karya telah
melibatkan masyarakat setempat dalam mengembangkan dan mengelola
potensi daerahnya. Dengan demikian, kawasan ini mampu menjadikan
kegiatan utama masyarakatnya sebagai sektor penggerak perekonomian
lokal dan regional.
Seiring dengan berkembangnya ragam konsepsi penyelenggaraan
pembangunan perdesaan maka, pada tahun 2011 program pengembangan
kawasan perdesaan ini menjadi kawasan pusat pertumbuhan yang
didalamnya mencakup Kawasan Agropolitan dan Minapolitan.

Budi Yuwono P.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Jakarta, September 2012

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Integrasi yang kuat antar kelembagaan dan masyarakat pada


pengembangan Kawasan Agropolitan dan Minapolitan telah membuahkan
hasil dan membawa perubahan bagi kawasan zona inti (pusat
pertumbuhan) maupun desa-desa hinterland. Program ini diharapkan
dapat menjadi campur tangan positif pemerintah dalam memanfaatkan,
mengelola, sekaligus melestarikan potensi dan kekayaan alam perdesaan
Indonesia demi terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.

Program ini
diharapkan
dapat menjadi
campur
tangan positif
pemerintah
dalam
memanfaatkan,
mengelola,
sekaligus
melestarikan
potensi dan
kekayaan alam
perdesaan
Indonesia demi
terwujudnya
kesejahteraan
dan
kemakmuran
bangsa.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Kata Pengantar

Direktur
Pengembangan Permukiman
Direktorat Jenderal Cipta Karya
Salam sejahtera,
Sejak efektif dilaksanakan pada tahun 2002, pengembangan Kawasan
Agropolitan dan Minapolitan telah berhasil memfasilitasi tak kurang
dari 382 kawasan, baik kawasan baru maupun lanjutan. Pengembangan
dilaksanakan melalui penyediaan infrastruktur desa yang memadai dan
mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi dan pengembangan
wilayah. Pengadaan infrastruktur juga ditujukan bagi peningkatan
produktivitas, pengolahan, serta pemasaran hasil pertanian/perikanan.
Pengembangan kawasan Agropolitan/Minapolitan dirasakan begitu
penting, mengingat pengembangannya yang memanfaatkan dan
mengusung konsep sesuai dengan keunikan, keunggulan, dan keandalan
lokal. Dengan demikian, pemerataan pembangunan dapat ditingkatkan
serta menjamin kelangsungan perkembangan kawasan sehingga memiliki
keunggulan yang berdaya saing.

Pengadaan
infrastruktur
ditujukan bagi
peningkatan
produktivitas.
pengolahan.
serta pemasaran
hasil pertanian/
perikanan.

Dengan sinergi harmonis antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,


masyarakat, dan lembaga-lembaga terkait, diharapkan mampu
mendukung pengembangan Kawasan Agropolitan dan Minapolitan
yang utuh dan terintegrasi. Dengan demikian, hasil pembangunan dapat
menyentuh seluruh lapisan masyarakat dan membawa masyarakat kepada
kesejahteraan serta kehidupan yang lebih baik.

Jakarta, September 2012

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Amwazi Idrus

DAFTAR ISI
t 4BNCVUBO%JSFLUVS+FOEFSBM$JQUB,BSZB
t ,BUB1FOHBOUBS%JSFLUVS1FOHFNCBOHBO1FSNVLJNBO
t %BGUBS*TJ
1 Pendahuluan

2 Menata Infrastruktur Agropolitan bagi Masa Depan


- Konsep Kawasan Agropolitan
- Mekanisme Pengembangan Kawasan Agropolitan
- Dukungan Infrastruktur Kawasan Agropolitan
  t 1FOJOHLBUBO1SPEVLUJWJUBT)BTJM1FSUBOJBO1FSJLBOBO
  t 1FOHPMBIBO)BTJM1FSUBOJBO1FSJLBOBO
- Kinerja Dukungan Infrastruktur Kawasan Agropolitan
- Sudut Pandang
- Kata Mereka

5
7
8
9
17

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

3 Di Balik Cakrawala Biru Indonesia

- Konsep Kawasan Minapolitan


- Mekanisme Pengembangan Kawasan Minapolitan
- Dukungan Infrastruktur Kawasan Minapolitan
  t 1FOJOHLBUBO1SPEVLUJWJUBT)BTJM1FSJLBOBO
  t 1FOHPMBIBO)BTJM1FSJLBOBO
- Kinerja Dukungan Infrastruktur Kawasan Minapolitan
- Sudut Pandang
- Kata Mereka
4 Penutup

47

75

PENDAHULUAN

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Nangroe Aceh
Kalimantan Timur

7 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan
BANDA ACEH

7 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Sumatera Utara
14 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Kalimantan Tengah
10 Kawasan Agropolitan

Riau
10 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

MEDAN

Kalimantan Barat
13 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Kep. Riau
4 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Jambi
TANJUNGPINANG
PEKANBARU

7 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

PONTIANAK

Bangka Belitung
Sumatera Barat

SAMARINDA

7 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

PADANG

13 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Kalimantan Selatan

JAMBI
PANGKALPINANG

6 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

PALANGKARAYA

PALEMBANG

Sumatera Selatan
Bengkulu
8 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

19 Kawasan Agropolitan
3 Kawasan Minapolitan

BANDARLAMPUNG

10 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

JAKARTA
SERANG

10 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

Kawasan
Agropolitan dan Minapolitan
TA 2002-2011

Jawa Tengah

SEMARANG

SURABAYA

YOGYAKARTA

DI Yogyakarta
10 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Konsep Kawasan :
Agropolitan dan Minapolitan

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

8 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

14 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

BANDUNG

Banten

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Bali

Jawa Barat

Lampung

10

BANJARMASIN

12 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

BENGKULU

Tahun Anggaran 2002-2011


Wilayah Cakupan:
32 Provinsi
324 Kawasan Agropolitan
48 Kawasan Minapolitan

MATARAM

Jawa Timur

DENPASAR

22 Kawasan Agropolitan
3 Kawasan Minapolitan

Nusa Tenggara Barat


10 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Terbentang sepanjang
3.977 mil di antara
Samudera Indonesia
dengan ribuan pulau
yang tersebar dari
Sabang sampai Merauke,
menjadikan Indonesia
sebuah negara dengan
potensi dan kekayaan
alam yang berlimpah.

Gorontalo
7 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Sulawesi Utara
15 Kawasan Agropolitan
4 Kawasan Minapolitan

Maluku Utara
7 Kawasan Agropolitan

Papua Barat

MANADO

4 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

TERNATE
GORONTALO

Sulawesi Tengah
9 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

PALU

MANOKWARI

MAMUJU

JAYAPURA

Sulawesi Barat
4 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan
KENDARI

AMBON

Maluku
8 Kawasan Agropolitan

MAKASSAR

Sulawesi Tenggara
7 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

Sulawesi Selatan
14 Kawasan Agropolitan
3 Kawasan Minapolitan

Papua
Nusa Tenggara Timur
KUPANG

5 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

7 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

KEKAYAAN ini pun menjadi hak setiap anak


bangsa untuk dikelola dan dimanfaatkan sebaik
mungkin demi mewujudkan kesejahteraan
bangsa. Tentunya, dengan tidak melupakan
kewajiban untuk menjaga, memelihara, dan
melestarikan kekayaan alam negeri ini.

Ketidakberhasilan dalam pemerataan pem-

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Namun, dalam pelaksanaannya, pembangunan lebih difokuskan pada wilayah perkotaan.


Pembangunan berjalan demikian pesat di sejumlah kota dan menjadikan kota tersebut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, sosial, dan
budaya. Kota-kota tersebut seakan tak pernah
henti untuk bersolek sehingga memancarkan
pesonanya. Di sisi lain, wilayah perdesaan tetap
tampil dalam kesederhanaannya, bahkan dalam
keterbatasannya.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Pembangunan di seluruh sektor kehidupan


merupakan salah satu upaya pemanfaatan
potensi dan kekayaan alam Indonesia yang
hasilnya, diharapkan, dapat dinikmati oleh
setiap masyarakat Indonesia secara merata.
Untuk itu, pembangunan semestinya dapat
dilaksanakan secara merata di seluruh penjuru
negeri ini sehingga pembangunan dapat

menyentuh sampai ke daerah perdesaan, terpencil, pelosok, hingga kawasan perbatasan.

11

bangunan ini, tentu saja, menimbulkan kesenjangan antara wilayah perkotaan dan
QFSEFTBBO )BM JOJMBI ZBOH NFNJDV UFSKBEJOZB
percepatan urbanisasi di Indonesia hingga
sampai pada tingkat urbanisasi yang tidak
terkendali. Berdasarkan Data Survei Penduduk
Antarsensus laju urbanisasi di Indonesia meningkat dari 37,5% di tahun 1995 menjadi 40,5%
di tahun 1998. Akibat percepatan urbanisasi,
sektor pertanian menjadi terdesak sehingga
menurunkan produktivitas pertanian.
Penurunan produktivitas ini tampak dari
nilai produk-produk pertanian yang diimpor
Indonesia demi memenuhi kebutuhan dalam
negeri. Pada tahun 2000, Indonesia harus
mengimpor kedelai sebanyak 1.277.685 ton
senilai 275 juta dolar AS, sayur-mayur senilai
62 juta dolar AS, dan buah-buahan senilai

65 juta dolar AS1). Sementara, lemahnya


sistem pemasaran, terbatasnya pemahaman
dan kemampuan petani, rendahnya kualitas
lingkungan dan permukiman di perdesaan, kian
menyulitkan produktivitas pertanian.
Tidak jauh berbeda dengan kawasan pertanian,
kawasan pesisir dengan mayoritas penduduk
bergantung pada sektor perikanan belum dapat
mengolah dan memanfaatkan potensi dan keLBZBBO MBVU *OEPOFTJB TFDBSB NBLTJNBM )BM JOJ
diakibatkan pembangunan yang masih terfokus
di wilayah daratan sehingga potensi perairan
Indonesia masih dikesampingkan.
Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia
terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun
2035, diperkirakan populasi penduduk tumbuh
hingga 2 kali dari jumlah saat ini. Seiring ber-

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Jalan poros desa


Gumukrejo,
Desa Tanjungsari,
Banyudono,
Kabupaten Boyolali

12

1.2)

Yudhohusodo. Siswono.-BQPSBO)JNQVOBO,FSVLVOBO5BOJ*OEPOFTJB

tambahnya jumlah penduduk, tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat juga


meningkat sehingga terjadi peningkatan
konsumsi per kapita untuk beragam jenis bahan pangan. Maka, dalam waktu 35 tahun
mendatang, kebutuhan akan kesediaan bahan pangan Indonesia meningkat lebih dari
2 kali jumlah kebutuhan saat ini2) )BM JOJ NF
munculkan kerisauan akan terjadinya kondisi
rawan pangan di masa yang akan datang.

Pengembangan Kawasan Agropolitan/


Minapolitan
Berangkat dari kondisi-kondisi tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum
dalam hal ini Direktorat Jenderal (Ditjen)
Cipta Karya ingin mewujudkan pemerataan
pembangunan dengan mengembangkan
kawasan perdesaan, termasuk perdesaan
yang berada di daerah pesisir. Ditjen Cipta
Karya melalui Direktorat Pengembangan

Permukiman melaksanakan program-program


pengembangan perdesaan potensial. Salah
satunya adalah program yang bertujuan untuk
mengembangkan potensi lokal sebagai roda
pertumbuhan ekonomi di kawasan perdesaan,
yaitu pengembangan Kawasan Agropolitan dan
Minapolitan.
Kawasan Agropolitan/Minapolitan yang dikembangkan merupakan bagian dari potensi wilayah kabupaten. Pengembangan kawasan melalui penguatan sentra-sentra produksi pertanian/
perikanan yang berbasis potensi lokal. Dengan
demikian, Kawasan Agropolitan/Minapolitan
mampu memainkan peran sebagai kawasan
pertumbuhan ekonomi yang berdaya kompetensi interregional maupun intraregional.
Selain itu, pengembangan juga berorientasi
pada kekuatan pasar yang dilaksanakan melalui
pemberdayaan usaha budidaya dan kegiatan

Skema Tata Ruang


Kawasan Agro/Minapolitan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Sumber : Strategi Pengembangan Kawasan Agropolitan. Kimpraswil 2000

13

agribisnis/minabisnis hulu sampai dengan hilir.


Pengembangan kawasan ini diharapkan dapat
memberikan kemudahan sistem agribisnis/
minabisnis yang utuh dan terintegrasi dengan
penyediaan infrastruktur (sarana dan prasarana) seperti peningkatan jalan lingkungan poros
desa, peningkatan jalan usaha tani, Stasiun
Terminal Agribisnis (STA), peningkatan pasar
ikan dan pembangunan lainnya yang memadai
dan mendukung pengembangan agribisnis/
minabisnis.

politan/minapolitan dengan sentra-sentra


produksi pertanian/perikanan. Pola interaksi
ini, nantinya, akan memberikan nilai tambah
produksi agropolitan/minapolitan sehingga
dapat memacu pembangunan perdesaan; meningkatkan produktivitas dan kualitas pertanian/perikanan; meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat di daerah hinterland;
mengembangkan pusat pertumbuhan ekonomi
daerah; yang pada akhirnya akan menekan laju
urbanisasi.

Program ini juga mengembangkan sistem


kelembagaan dan sistem keterkaitan desakota (urban-rural linkage) untuk mendukung
pengembangan Kawasan Agropolitan/Minapolitan. Sistem keterkaitan tersebut bertujuan untuk mengembangkan interaksi yang
saling menguntungkan antara pusat agro-

Peran penting dari pengembangan Kawasan


Agropolitan/Minapolitan ini adalah kawasan
dan sektor yang dikembangkan sesuai dengan
keunikan lokal. Sektor berbasis aktivitas
masyarakat pun mampu meningkatkan pemerataan. Sedangkan, kelangsungan pengembangan kawasan dan sektor lebih me-

Pencapaian Kawasan Agropolitan dan Minapolitan 2002-2011


Tahun

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

Baru

27

18

37

58

47

81

56

11

38

35

52

49

84

77

48

45

32

41

64

118

228

286

312

90

148

195

276

332

342

382

Lanjutan
Selesai
8

Total

35

53

400

332

350

276

300

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

14

11
45

38
32

286

312

2010

2011

195

200

148

150
90

100

53
35

50
8

382

48

81

250

56

342

2002

27
8

2003

18
35

2004

37
52

47

77
228

58
84
118

49
41

64

2006

2007

2005
Baru

Lanjutan

2008

2009

Selesai

miliki kepastian karena sektor yang dipilih


mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif dibandingkan sektor lainnya.
Untuk dapat melangsungkan program pengembangan Kawasan Agropolitan/Minapolitan, dilakukan penyusunan atas strategi pengembangan yang mencakup beberapa hal
berikut:
t Penyusunan masterplan pengembangan
Kawasan Agropolitan/minapolitan oleh
Pemerintah Daerah dan masyarakat yang
akan menjadi acuan bagi setiap wilayah/
provinsi. Masterplan disusun berdasarkan
jangka waktu tertentu dan mencakup
rencana-rencana sarana dan prasarana.
t Penetapan lokasi Agropolitan/Minapolitan
yang diusulkan oleh Kabupaten kepada
Pemerintah Provinsi. Usulan harus didahului dengan identifikasi potensi dan
masalah untuk mengetahui kondisi dan
potensi lokasi, antara lain sumber daya
alam, sumber daya manusia, kelembagaan,
dan iklim usaha.
t Sosialisasi program pengembangan Kawasan Agropolitan/Minapolitan yang dilaksanakan seluruh stakeholder terkait di tingkat
pusat maupun daerah sehingga lebih terpadu dan terintegrasi.
t Pendampingan pelaksanaan program oleh

pemerintah, yang juga berperan sebagai


fasilitator. Sedangkan, masyarakat ditempatkan sebagai pelaksana utama dalam
pelaksanaan pengembangan Kawasan Agropolitan/Minapolitan.
t Pembiayaan program yang, pada dasarnya,
dilakukan oleh masyarakatdalam hal ini
petani/nelayan, penyedia agro/mina, pengelola hasil, pemasar, dan penyedia jasa.
Dana stimultans yang difasilitasi pemerintah bertujuan untuk membiayai prasarana dan sarana yang bersifat publik dan
strategis.
t Usulan indikasi program/kegiatan di kawasan agro/minapolitan harus dimasukkan
dalam Rencana Program Investasi Jangka
Menengah (RPIJM) Kabupaten.
Pengembangan Kawasan Agropolitan/Minapolitan oleh Direktorat Pengembangan Permukiman ini telah berlangsung sejak tahun 2002.
Sampai dengan tahun 2011, telah terbangun
382 Kawasan Agropolitan/Minapolitan di sejumlah desa hinterland di Indonesia. Selama 10
tahun pelaksanaan pengembangan Kawasan
Agropolitan/Minapolitan, seringkali mendapati
berbagai kendala. Kendala yang dihadapi
tersebut menjadi hal-hal yang patut dicermati
dan menjadi tantangan tersendiri pada pengembangan kawasan-kawasan berikutnya.

Kawasan agropolitan
Desa Wasiat, Ngombol,
Purworejo

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

15

16

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

MENATA INFRASTRUKTUR
AGROPOLITAN
BAGI MASA DEPAN

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

17

Menata Infrastruktur
Agropolitan
Bagi Masa Depan
Konsep Kawasan :
Agropolitan
Kawasan Agropolitan TA 2002-2011 :
32 Provinsi,
324 kawasan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Potensi Unggulan :
Beras organik, kelapa, sayur, mayur,
buah-buahan, hewan ternak.

18

Dukungan Infrastruktur :
Peningkatan jalan poros desa, jalan usaha tani,
irigasi, kios, STA, packing house

Pembangunan di kawasan
perkotaan yang demikian
pesat telah menjadikan
kawasan ini memiliki laju
pertumbuhan ekonomi yang
tinggi. Begitu pula, dengan
setiap aspek kehidupan
sosial di dalamnya yang
juga berkembang dengan
sangat baik.

Jalan poros desa di


kawasan agropolitan
Payakumbuh,
Sumatera Barat

HAL INI memunculkan kesenjangan antara


kawasan perkotaan dan perdesaan yang pada
akhirnya, mengakibatkan peningkatan laju urbanisasi.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Sementara itu, populasi penduduk yang semakin meningkat diperkirakan mencapai angka
sekitar 400 juta jiwa di tahun 2035, berbanding

Namun, penurunan produktivitas pertanian


tidak hanya semata-mata disebabkan terdesaknya sektor pertanian akibat konversi lahan dan
percepatan urbanisasi. Melainkan, juga dipicu
oleh produktivitas dan pemasaran pertanian
yang masih rendah, budaya petani lokal yang
cenderung subsisten, serta kelembagaan dan
lingkungan permukiman yang tidak kondusif.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Percepatan laju urbanisasi berakibat pula pada


terdesaknya sektor pertanian yang berujung
QBEB QFOVSVOBO QSPEVLUJWJUBT QFSUBOJBO )BM
tersebut ditandai dengan semakin tingginya
konversi lahan pertanian menjadi kawasan
perkotaan. Akibatnya, Indonesia harus mendatangkan produk-produk pertanian dari luar
negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan
dalam negeri.

lurus dengan kebutuhan pangan masyarakat


Indonesia. Dalam kurun waktu 35 tahun mendatang, kebutuhan pangan masyarakat diperkirakan akan meningkat lebih dari dua
kali lipat kebutuhan pangan saat ini (Siswono
Yudohusodo. 2002). Dengan demikian, penurunan
produktivitas pertanian dikhawatirkan dapat
menimbulkan kondisi rawan pangan di masa
mendatang.

19

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Berkaca pada kondisi tersebut, diperlukan upaya-upaya pengembangan kawasan perdesaan


yang mencakup segala aspek kehidupan dengan memanfaatkan seluruh potensi sumber
daya yang dimiliki perdesaan. Sebagai sebuah
negara yang memiliki berbagai produk unggulan di setiap daerahnya, pengembangan
ekonomi Indonesia hendaknya berorientasi
pada pembangunan agribisnis yang berbasis
pertanian. Maka, pengembangan Kawasan
Agropolitan pun menjadi alternatif solusi
pembangunan kawasan perdesaan. Kawasan
Agropolitan memungkinkan pembangunan
dengan tetap berbasis pada sektor pertanian
sebagai sumber pertumbuhan ekonomi desa
yang dipadukan dengan pembangunan sektor
industri melalui pengembangan prasarana dan
sarana layaknya perkotaan yang disesuaikan
dengan lingkungan perdesaan.

20

Dengan kata lain, pengembangan Kawasan


Agropolitan merupakan penguatan sentrasentra produk pertanian yang berbasiskan
pada kekuatan internal sehingga perdesaan
menjadi kawasan yang memiliki pertumbuhan
ekonomi dan daya kompetensi, baik secara
interregional maupun intraregional. Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan Kawasan
Agropolitan membutuhkan komitmen dan
tanggung jawab dari segenap aparatur pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Dengan
demikian, pembangunan kawasan ini dapat
berlangsung secara terintegrasi, terarah, efektif,
dan efisien sehingga tercipta keterpaduan
dengan pembangunan sektor lainnya dan
pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Pengembangan Kawasan Agropolitan pun
menjadi salah satu program pengembangan
permukiman perdesaan yang dilaksanakan
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui
Direktorat Jenderal Cipta Karya, Direktorat
Pengembangan Permukiman. Dengan program
yang terfokus pada penyediaan dan kemajuan

infrastruktur perdesaan, yaitu berupa prasarana


dan sarana yang memadai dan mendukung
pengembangan sistem dan usaha agribisnis,
diharapkan dapat memberikan manfaat bagi
pembangunan Kawasan Agropolitan, khususnya masyarakat perdesaan.

Konsep Kawasan Agropolitan


Secara harafiah. istilah Agropolitan berasal dari
kata Agro yang berarti pertanian dan Polis/Politan yang berarti kota. Dalam buku Pedoman
Umum Pengembangan Kawasan Agroplitan
& Pedoman Program Rintisan Pengembangan
Kawasan Agropolitan yang diterbitkan oleh
Kementerian Pertanian, Agropolitan didefinisikan sebagai kota pertanian yang tumbuh dan
berkembang karena berjalannya sistem dan
usaha agribisnis sehingga mampu melayani,
mendorong, menarik, serta menghela kegiatan

pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah


sekitarnya. Buku tersebut juga mendefinisikan
Kawasan Agropolitan sebagai sistem fungsional
desa-desa yang ditunjukkan dari adanya hirarki
keruangan desa yang ditandai dengan keberadaan pusat agropolitan dan desa-desa di
sekitarnya sehingga terbentuklah Kawasan
Agropolitan.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Friedman mengungkapkan konsep agropolitan


sebagai distrik-distrik agropolitan yang merupakan kawasan pertanian perdesaan dengan
kepadatan penduduk rata-rata 200 jiwa/km2.

Kawasan Agropolitan
Ngombol, Purworejo

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Definisi Kawasan Agropolitan pun telah termaktub dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang yang menyebutkan
Kawasan Agropolitan sebagai kawasan yang
terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada
wilayah perdesaan sebagai sistem produksi
pertanian dan pengelolaan sumber daya alam
tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hirarki keruangan satuan
sistem permukiman dan agrobisnis.

Adapun konsep Agropolitan merupakan konsep yang dikenalkan Friedman dan Douglas
(1975). Konsep ini ditawarkan atas pengalaman
kegagalan pengembangan sektor industri yang
terjadi dialami negara-negara berkembang di
Asia. Kegagalan tersebut mengakibatkan terjadinya hyper ubanization, pembangunan hanya terjadi di beberapa kota saja, tingkat pengangguran dan setengah penggangguran
yang tinggi, kemiskinan akibat pendapatan
yang tidak merata, terjadinya kekurangan bahan
pangan, penurunan kesejahteraan masyarakat
desa, serta ketergantungan kepada dunia luar.

21

Kawasan Agropolitan
Serang, Banten

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Distrik agropolitan terdiri atas kota-kota tani


berpenduduk 10.00025.000 jiwa. Luas wilayahnya dibatasi dengan radius sejauh 510 km
sehingga menghasilkan jumlah penduduk total
antara 50.000150.000 jiwa yang mayoritas
bekerja di sektor pertanian. Konsep Friedman
tidak membedakan secara spesifik antara pertanian modern ataupun konvensional dan menyebutkan setiap distrik sebagai satuan tunggal
yang terintegrasi.

22

Definisi Friedman di atas menggunakan besaran penduduk dan luasan wilayah sebagai
ukuran. Maka. dapat disimpulkan bahwa suatu
distrik Agropolitan setara dengan 1 Wilayah
Pengembangan Parsial (WPP) permukiman
transmigrasi jika dilihat dari besaran penduduknya. Sedangkan. jika dilihat dari luasan
wilayahnya yang berkisar pada 100250 km2
atau 10.00025.000 ha. ukurannya dapat lebih
kecil dari luasan 1 WPP. Apabila dilihat secara
administratif, besaran penduduk dan luasan
wilayah tersebut setara dengan luasan wilayah
kecamatan yang berpenduduk sampai dengan
25.000 jiwa dan sudah dapat berfungsi sebagai
suatu simpul jasa distribusi.
Sementara, berdasarkan strukturnya, Kawasan
Agropolitan dibedakan atas Orde Pertama
(Kota Tani Utama), Orde Kedua (Pusat Distrik

Agropolitan atau Pusat Pertumbuhan), dan


Orde Ketiga (Pusat Satuan Kawasan Pertanian).
Setiap orde berfungsi sebagai simpul jasa koleksi dan distribusi dengan skala yang beragam dan berjenjang (hirarki) serta pusat pelayanan permukiman. Antarsimpul tersebut
disambungkan oleh jaringan transportasi yang
sesuai. Orde Pertama dan Kedua dipisahkan
oleh jarak sekitar 3560 km. sesuai dengan
kondisi gegografis wilayah. Sedangkan, Orde
Kedua dan Ketiga terletak dalam satu distrik
agropolitan yang berjarak sekitar 1535 km satu
sama lainnya.
Menurut definisi yang ada, Agropolitan atau Kota Pertanian dapat merupakan Kota Menengah,
Kota Kecil, Kota Kecamatan, Kota Perdesaan,
atau Kota Nagari yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Sebagai pusat
pertumbuhan, Kota Pertanian ini pun mampu
mendorong pertumbuhan pembangunan perdesaan dan desa-desa di wilayah sekitarnya
(hinterland) melalui pengembangan berbagai
sektor, mulai dari pertanian, industri kecil, jasa
pelayanan, hingga pariwisata.
Pengembangan Kawasan Agropolitan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat melalui percepatan
pengembangan wilayah dan peningkatan

LFUFSJLBUBO EFTB EBO LPUB )BM JOJ EBQBU UFS


wujud melalui pengembangan sistem dan
usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis
kerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi
di Kawasan Agropolitan. Sementara itu, pengembangan kawasan ini juga ditujukan untuk mengembangkan kawasan pertanian yang
berpotensi menjadi Kawasan Agropolitan melalui strategi pengembangan sebagai berikut :
t Meningkatkan diversifikasi ekonomi perdesaan melalui peningkatan nilai tambah dan
daya saing produk pertanian, baik berupa
hasil produksi maupun olahan.
t Meningkatkan akses petani terhadap sumberdaya produktif dan permodalan dengan memfasilitasi ketersediaan layanan
yang dibutuhkan petani dan masyarakat.
Layanan dapat berupa penyediaan sarana produksi, sarana pascapanen, dan
permodalan yang tersedia di kawasan
dalam jumlah, jenis, waktu, kualitas, dan
lokasi yang tepat.
t Meningkatkan prasarana dan sarana yang

dibutuhkan dalam upaya memajukan


industri pertanian sesuai kebutuhan masyarakat. Prasarana dan sarana publik
yang disediakan pemerintah dilaksanakan
dengan pendekatan kawasan, yaitu memerhatikan hasil identifikasi sumberdaya
alam, sumberdaya manusia, sumberdaya
buatan, serta tingkat perkembangan
Kawasan Agropolitan.
t Mewujudkan permukiman perdesaan yang
nyaman dan tertata, serta menjaga kelestarian lingkungan melalui pengaturan
dan pelaksanaan masterplan Kawasan
Agropolitan secara konsisten dan terkoordinasi.
Visi dan misi yang telah ditetapkan, kemudian
diterjemahkan ke dalam Kebijakan dan Strategi
Pembangunan Infrastruktur Agropolitan berupa dukungan terhadap pengembangan sistem dan usaha Agribisnis. Dengan demikian,
kebijakan dan strategi yang ditetapkan mampu
mendorong ketiga hal, yaitu :
Sarana irigasi di
Kawasan Minapolitan
Mina Asri, Desa
Tanjungsari,
Kabupaten Boyolali
yang sudah terbangun
memudahkan petani
untuk mendapat air

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

23

Petani di kawasan
agropolitan Ngombol
Purworejo mengangkut
hasil taninya melalui
jalan poros desa yang
telah beraspal

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

a. Peningkatan produktivitas hasil pertanian


sehingga dihasilkan produk-produk pertanian yang berdaya saing tinggi dan diminati
pasar.
b. Pengolahan hasil pertanian untuk memperoleh nilai tambah atas produk hasil pertanian sebagai produk primer dengan menjadikannya berbagai produk olahan, baik
intermediate product maupun final product.
c. Pemasaran hasil pertanian untuk menunjang sistem pemasaran hasil pertanian
dengan memperpendek mata rantai tata
niaga perdagangan hasil pertanian. Mulai
dari sentra produksi sampai ke sentra pemasaran akhir (outlet).

24

Pengembangan Kawasan Agropolitan yang


sepenuhnya memanfaatkan potensi lokal merupakan konsep Agropolitan yang sangat mendukung perlindungan dan pengembangan
budaya sosial lokal. Sesuai dengan Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN),
pengembangan Kawasan Agropolitan haruslah
mendukung pengembangan kawasan andalan.

Oleh karena itu, pengembangannya tidak bisa


terlepas dari pengembangan sistem pusatpusat kegiatan di tingkat nasional, provinsi, dan
kabupaten.
Sementara itu, kondisi negeri ini sangat memungkinkan untuk dikembangkannya Kawasan
Agropolitan. Kondisi yang dimaksud adalah
adanya ketersediaan lahan pertanian dan tenaga kerja yang murah di Indonesia. Sebagian
besar petani juga telah memiliki kemampuan
(skills) dan pengetahuan (knowledge) yang didukung oleh keberadaan jaringan sektor hulu dan
hilir serta kesiapan institusi.
Namun demikian, pengembangan Kawasan
Agropolitan bukan tanpa kendala. Beragam
permasalahan yang dihadapi, antara lain pengembangan produk pertanian yang belum
mendapat dukungan makro ekonomi sepenuhnya, keterbatasan jaringan infrastruktur
fisik dan ekonomi, serta potensi dan peluang
investasi di seluruh sektor yang masih belum
tergali sehingga investor lebih berminat me-

nanamkan modalnya di kawasan yang telah


maju. Selain itu, kebijakan fiskal dan moneter
juga belum berpihak pada sektor pertanian
yang ditandai dengan masuknya produkproduk pertanian impor secara bebas serta
tingginya suku bunga kredit pertanian.

terpadu. Pada dasarnya, perdesaan yang menjadi sasaran lokasi pengembangan Kawasan
Agropolitan adalah yang memiliki komoditi
unggulan pertanian, seperti tanaman pangan,
hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

Mekanisme Pengembangan Kawasan


Agropolitan

Dalam pengembangan Kawasan Agropolitan,


terurai mekanisme pengajuan usulan pengembangan Kawasan Agropolitan. Cakupan mekanisme berupa prosedur pengajuan lokasi dan
proses pemilihan/penilaian Kawasan Agropolitan. Berkenaan dengan prosedur pengajuan
lokasi, mekanismenya meliputi kegiatan-kegiatan berikut ini.

Secara internal, Kawasan Agropolitan terdiri


dari kota-kota pertanian dan desa-desa sentra
produksi pertanian. Kawasan ini tidak dibatasi
oleh batasan administratif pemerintahan (desa/
kelurahan, kecamatan, dan kabupaten/kota).
Melainkan, disesuaikan dengan memerhatikan
skala ekonomi kawasannya sehingga dirasakan
lebih fleksibel. Dengan demikian, bentuk dan
luasan Kawasan Agropolitan dapat meliputi
satu desa/kelurahan, kecamatan, atau beberapa
kecamatan dalam satu wilayah Kabupaten/Kota.
Kawasan ini dapat pula meliputi wilayah yang
menembus wilayah Kabupaten/Kota lain yang
berbatasan.
Dari sisi eksternal, Kawasan Agropolitan harus memiliki aksesibilitas dengan kota-kota
berjenjang lebih tinggi di sekitarnya untuk
menciptakan sebuah sistem pemasaran yang

a. Usulan dari Kabupaten oleh Pemerintah


Provinsi. Pemerintah Kabupaten mengajukan usulan mengenai Kawasan Agropolitan.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten telah
melakukan identifikasi potensi dan masalah
terlebih dahulu. Identifikasi dimaksudkan
untuk mengetahui kondisi dan potensi
lokal, yaitu komoditas unggulan. Lokasi
Kawasan Agropolitan yang berada di dalam
kawasan kabupaten/kota ditetapkan oleh
Bupati/Walikota.
b. Pemerintah Pusat menilai kesiapan lokasi

od
ala
n
rm
Pe

ktu

tru

ras

Keterangan :
SK Menteri Pertanian
155/TU.210/A/VI/2003

Ma
y sy
Pe ang arak
md di at
a S fasi Ta
ete litas ni
mp i
at

Agropolitan
Mandiri

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Monitoring
dan Evaluasi

Pengembangan
Kawasan

(Master Plan/
RPIJM/DED)

at/P
Kab rovin
/Ko si/
ta

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Perencanaan

Pus

Inf

oleh Menteri
Pertanian

Sosialisasi

(Pokja Agropolitan)

an

dari Bupati /
Gubernur

Pemda
Kab/Kota

aga

Pusat/Provinsi/
Kab/Kota

emb

Kel

Program
Agropolitan

Pe
ge
mb
.S
DM

Mekanisme Penyelenggaraan Agropolitan

25

untuk dapat dikembangkan sebagai Kawasan Agropolitan. Penilaian dilakukan


berdasarkan kelengkapan persyaratan administrasi dan potensi lokasi kawasan yang
diusulkan. Persyaratan administrasi berupa
dokumen perencanaan yang terdiri dari
SK lokasi, SK pokja, Masterplan, RPIJM, dan
DED.
c. Pengembangan Kawasan Agropolitan yang
diusulkan dapat dipenuhi jika telah memenuhi kondisi berikut.
t Apabila kelengkapan administrasi dan
potensi kawasan yang diusulkan telah
memenuhi persyaratan dalam butir
huruf b.
t Apabila kelengkapan administrasi belum
terpenuhi semua, tetapi kawasan yang
diusulkan memiliki potensi yang baik,
dilihat dari profil kawasan tersebut, maka
kawasan ini akan diberi kesempatan
untuk melengkapinya. Apabila dalam
kurun waktu 1 tahun belum terlengkapi,
dana bantuan pembangunan pada
tahun berikutnya akan dihentikan untuk
sementara.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kawasan agropolitan
Bali

26

Kawasan Agropolitan yang dikembangkan merupakan bagian dari sistem kewilayahan kabupaten. Oleh karena itu, potensi kabupaten
harus dikaji terlebih dahulu berdasarkan pertimbangan aspek strategis dari unsur/komponen makro pembentuk Kawasan Agropolitan,
yakni memiliki komoditas/potensi unggulan
yang dapat diandalkan untuk mengembangkan
kawasan secara keseluruhan. Potensi/komoditas
unggulan dapat berupa ketersediaan sumber
alam potensial, prasarana dan sarana, atau kuantitas dan kualitas sumber daya manusia yang
memadai. Proses penilaian/pemilihan Kawasan
Agropolitan yang diusulkan diuraikan secara lebih detil berikut ini:
t Program-program pengembangan kawasan dari departemen/badan yang memiliki
keterkaitan lingkup kegiatan (tupoksi) dengan pengembangan kawasan berbasis
agribisnis.
t Komoditas unggulan sebagai pemicu untuk tumbuh kembangnya kehidupan dan
penghidupan dari sektor-sektor komoditi
ikutan lainnya. Komoditas tersebut melipu-

Jalan poros desa di


kawasan agropolitan
Kobalima. Belu - NTT

Pada kawasan yang telah berhasil dikembangkan sebagai Kawasan Agropolitan, kawasan tersebut memiliki ciri-ciri yang dapat diidentifikasi
dengan jelas. Adapun ciri khas dari Kawasan
Agropolitan yang telah berkembang, dijabarkan
sebagai berikut:
a. Kegiatan agribisnis (pertanian) merupakan
kegiatan perekonomian utamanya, kegiatan ini mencakup industri pengolahan ha-

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Disamping itu, pemilihan Kawasan Agropolitan


pun harus dapat meliputi sejumlah kriteria, sebagai berikut:
t Kawasan Agropolitan merupakan satu kesatuan kawasan perdesaan yang terdiri dari

desa pusat dan desa-desa hinterlandnya


yang diindikasikan oleh adanya hubungan
fungsional antara kegiatan di desa pusat
(zona inti) dan di desa hinterlandnya;
t Mempunyai potensi khusus atau komoditas unggulan yang dapat diandalkan
untuk mengembangkan kawasan secara
keseluruhan.
t Kawasan Agropolitan yang diusulkan sudah
menetapkan struktur hirarki kawasan.
t Memiliki sistem kelembagaan dan sistem
pengelolaan yang mendukung berkembangnya Kawasan Agropolitan seperti adanya organisasi petani, organisasi produsen
agribisnis, dan lain-lain.
t Komitmen yang kuat dari pemerintah daerah dengan diterbitkannya SK penetapan
kawasan dari Bupati atau dana bantuan
dari pemerintah daerah setempat.
Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

ti komoditas subsektor tanaman pangan,


subsektor perkebunan, subsektor perikanan, dan subsektor peternakan.
t Potensi kabupaten yang akan dikembangkan menjadi Kawasan Agropolitan. Potensi
kabupaten merupakan faktor pendukung
berkembangnya Kawasan Agropolitan.
t Kawasan Agropolitan tidak ditentukan
oleh batasan administrasi pemerintahan.
Namun, prosedur penetapannya dimulai
dari penetapan kabupaten terpilih dan
basis analisa data berdasarkan batas administrasi. Oleh karena itu, proses penilaian Kawasan Agropolitan diawali dengan proses penilaian Kabupaten yang
berpotensi untuk mendapatkan kawasan
terpilih.
t Ketersediaan infrastruktur sebagai unsur
penting dalam pembangunan Kawasan
Agropolitan.
t Persyaratan pengembangan Kawasan Agropolitan sebagai kriteria untuk mengidentifikasi Kawasan Agropolitan.

27

sil pertanian, perdagangan dan kegiatan


ekspor hasil pertanian, perdagangan agribisnis hulu berupa sarana pertanian dan
permodalan, agrowisata, serta jasa pelayanan.
b. Dengan agribisnis sebagai kegiatan utamanya, maka pendapatan sebagian besar
masyarakatnya pun diperoleh dari kegiatan
agribisnis.
c. Tercipta hubungan timbal balik (interdependensi) yang harmonis dan saling
membutuhkan antara kota dan desa-desa
di Kawasan Agropolitan. Dalam Kawasan
Agropolitan dikembangkan usaha budidaya (on farm) dan industri olahan skala
rumah tangga (off farm). Sementara, kota

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Prasarana jalan di
kawasan Agropolitan
Pacet. Cianjur

28

menyediakan beragam fasilitas yang mendukung perkembangan usaha budidaya


dan agribisnis.
d. Ketersediaan infrastruktur berupa prasarana dan sarana yang memadai di Kawasan
Agropolitan telah menciptakan kehidupan
masyarakat layaknya di kawasan perkotaan.
Dalam hal pembiayaan, pada prinsipnya, pembiayaan Kawasan Agropolitan dilakukan secara swadaya masyarakat, baik masyarakat
tani, pelaku penyedia agroinput, pengolah
hasil, pelaku pemasaran, penyedia jasa yang
mendapat dukungan dan fasilitasi APBN dan
APBD dari Pemerintah. Pembiayaan Pemerintah
lebih diarahkan untuk membiayai prasarana dan

Pembangunan jalan setapak


di salah satu Kawasan
Agropolitan Bali.

sarana publik dan berbagai kegiatan strategis,


seperti penelitian, pelatihan, pendidikan penguatan kelembagaan petani, serta promosi.

Dukungan Infrastruktur Kawasan


Agropolitan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

a. Sub-sistem agribisnis hulu


Prasarana dan sarana yang disediakan dapat berupa kios-kios Sarana Produksi Pertanian (Saprotan), gudang, pelataran parkir,
dan tempat bongkar muat barang.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Keberhasilan pengembangan Kawasan Agropolitan tak terlepas dari dukungan sistem infrastruktur dasar yang membentuk struktur ruang.
Untuk itu, melalui Satuan Kerja Penyediaan
Prasarana dan Sarana Agropolitan, Ditjen Cipta
Karya membangun infrastruktur dasar bagi perdesaan yang menjadi sasaran lokasi Kawasan
Agropolitan. Infrastruktur yang disediakan meliputi prasarana dan sarana yang mendukung
berbagai kegiatan agribisnis berikut.

b. Sub-sistem usaha tani (on-farm agribisnis)


Prasarana dan sarana yang disediakan berupa:
t Penyediaan air baku untuk meningkatkan produksi dengan saluran irigasi terbuka, irigasi tetes, embung-embung,
sumur bor, dan sprinkler.
t Penyediaan air bersih untuk pencucian
hasil dengan sistem perpipaan atau sumur dalam.
c. Sub-sistem pengolahan hasil
Prasarana dan sarana dapat berupa tempat
penjemuran hasil pertanian; gudang penyimpanan yang dilengkapi sarana pengawetan/pendinginan (cold storage) dan
packing house untuk tempat sortasi dan
pengepakan; sarana industri kecil, termasuk
food services TFSUB 3VNBI 1PUPOH )FXBO
31)

d. Sub-sistem pemasaran hasil
Prasarana dan sarana dapat berupa pasar
tradisional yang terdiri dari kios-kios, los-

29

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Aktivitas di STA Sewukan.


Magelang sudah dimulai
sejak jam 02.00 dini hari

30

los, pelataran parkir, dan tempat bongkar


muat barang, prasarana dan sarana SubTerminal Agribisnis (STA), pasar hewan,
jalan antar desa-kota, serta jembatan.
e. Sub-sistem jasa penunjang
Prasarana dan sarana yang disediakan
dapat berupa:
t Sarana Utilitas Umum, seperti jaringan air
bersih, sanitasi, persampahan, drainase,
listrik, telepon, dan internet.
t Sarana Pelayanan Umum, seperti pusat
perbelanjaan, kesehatan, pendidikan,
perkantoran, peribadatan, rekreasi dan
olahraga, serta ruang terbuka hijau.
t Sarana Kelembagaan, seperti Badan Pengelola Agropolitan, Kantor Perbankan,
Koperasi, Unit-unit Usaha Agropolitan.
t Pembangunan Kasiba dan Lisiba berikut fasilitas umum dan sosial yang
dibutuhkan.
t Penyusunan kebijakan pengembangan
Kawasan Agropolitan.

t Penyusunan rencana tata ruang Kawasan


Agropolitan.
Keberhasilan pengembangan Kawasan Agropolitan juga dapat tercapai dengan menerapkan konsep agropolitan secara tepat di
lapangan. Pelaksanaannya harus berjalan secara terpadu dan di bawah pemantauan (monitoring) kelompok kerja (Pokja) yang ditetapkan dan bertanggung jawab kepada Bupati/
Walikota. Apabila wilayah Kawasan Agropolitan
merupakan lintas kabupaten, maka pemantauan
oleh Pokja Provinsi yang bertanggung jawab
kepada Gubernur.
Disamping itu, pengembangan kota pertanian
ini harus melibatkan petani-petani perdesaan
untuk bersama-sama membangun sebuah
sistem pertanian yang terintegrasi. Kemudian,
melibatkan setiap instansi sektoral di perdesaan
untuk mengembangkan pola agribisnis dan

agroindustri yang dilaksanakan secara simultan.


Peran serta dan dukungan dari stakeholder
terkait seperti Pemerintah Pusat, Pemprov,
Pemkab, RPJM Nasional dan Daerah, swasta,
dan masyarakatjuga sangat dibutuhkan demi kelancaran perkembangan Kawasan Agropolitan.
Kunci keberhasilan lainnya adalah dengan
menetapkan setiap distrik agropolitan sebagai
suatu unit tunggal otonom mandiri sehingga
dapat terjaga dari besarnya intervensi sektorsektor pusat yang tidak terkait. Dilihat dari
segi ekonomi, unit tunggal yang mandiri
akan mampu mengatur perencanaan dan pelaksanaan pertaniannya sendiri, tetapi tetap
terintegrasi secara sinergis dengan keseluruhan
sistem pengembangan wilayah.
Dengan kata lain. keberhasilan pengembangan Kawasan Agropolitan membutuhkan
sebuah kesiapan, komitmen, konsistensi,
serta perubahan mendasar dalam sistem pelaksanaan pembangunan daerah. Disamping
itu, Pemerintah Daerah pun harus memiliki
kesanggupan untuk meneruskan pengembangan Kawasan Agropolitan secara berkelanjutan demi tercapai kawasan yang mandiri
melalui kemampuan sumber daya yang dimiliki.

dalian, dan pengawasan secara berkala


dan teratur agar seluruh kegiatan dapat
berlangsung secara efisien dan efektif.
Salah satu upaya evaluasi dalam pelaksanaan
program pengembangan Kawasan Agropolitan
adalah dengan menyusun Indikator Keberhasilan. Indikator Keberhasilan yang disesuaikan
dengan situasi, kondisi, dan kemampuan daerah masing-masing ini mencakup dampak dan
output, dijelaskan dalam jenis dan angka-angka
persentase.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Dampak pengembangan Kawasan Agropolitan


diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya petani, dan produktivitas lahan di Kawasan Agropolitan minimal 5%. Selain itu, investasi masyarakat
(petani, swasta, BUMN) di Kawasan Agropolitan
meningkat minimal 10%. Sementara, dari sisi
output, Indikator Keberhasilan dapat terlihat
dari beberapa hal berikut
a. Sebanyak 80% kelembagaan petani mampu menyusun usaha yang berorientasi
pasar dan lingkungan.
b. Jaringan bisnis dari petani/kelompok petani terbentuk dan berlangsung aktif.
c. Tiap desa dan kecamatan di Kawasan
Agropolitan menyusun program tahunan
secara partisipatif dan disetujui bersama
untuk dilaksanakan.
d. Rencana Kegiatan Jangka Panjang dan
Detail Engineering Design untuk pelaksanaan fisik prasarana dan sarana di Kawasan
Agropolitan disetujui bersama untuk dilaksanakan dan 70% dapat dilaksanakan di
Kawasan Agropolitan.
e. Sebanyak 80% kontak tani/petani maju terpilih yang dilatih mampu menjadi tempat
belajar bagi petani di lingkungannya.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Dari uraian tersebut, maka pelaksanaan program pengembangan Kawasan Agropolitan harus memerhatikan beberapa hal berikut ini:
t Pembangunan, pemeliharaan, serta pengembangan prasarana dan sarana berdasarkan program yang disepakati bersama
dalam rangka menyediakan fasilitas yang
memadai dan mendukung sistem dan usaha agribisnis, serta mewujudkan tujuan dan
sasaran pengembangan Kawasan Agropolitan.
t Mendorong kemitraan dengan seluruh
stakeholder, terutama kemitraan antara
swasta/BUMN dengan petani/kelembagaan
petani.

t Pelaksanaan monitoring, evaluasi, pengen-

31

Beras organik hasil


olahan petani Ngombol,
Purworejo

Kinerja Dukungan Infrastruktur


Kawasan Agropolitan
Sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun
2002. program pengembangan Kawasan

Agropolitan yang dilaksanakan oleh Direktorat


Pengembangan Permukiman ini mengalami
peningkatan setiap tahunnya, baik dari segi
kuantitas maupun kualitas. Di awal pelaksanaannya, Direktorat Pengembangan Permukiman
telah berhasil mengembangkan 8 Kawasan
Agropolitan baru. Sampai dengan tahun 2011,
sebanyak 292 kawasan telah selesai difasilitasi
sebagai Kawasan Agropolitan. Kawasan yang
difasilitasi secara berlanjut di tahun 2011 tercatat sebanyak 12 kawasan. Sedangkan, jumlah Kawasan Agropolitan baru yang difasilitasi di tahun 2011 mencapai 20 kawasan.
Pengembangan Kawasan Agropolitan oleh
Direktorat Pengembangan Permukiman dapat
dilihat pada tabel berikut:

Pencapaian Kawasan Agropolitan 2002-20011


Tahun

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

Baru

27

18

36

57

47

78

35

20

35

52

48

82

75

46

24

12

41

64

118

225

282

292

89

146

193

271

306

312

324

Lanjutan
Selesai
8

Total

35

53

350

306

300

271

250

35

312
6
24

324
20
12

46

78

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

193

200
146

89

100
53

50
0

35
8
8

2002

27
8

2003

18
35

2004

36
52

75

282

292

2010

2011

225

57
82
118

48
41

64

2006

2007

2005
Baru

32

47

150

Lanjutan

2008

2009

Selesai

Dari tabel ini terlihat peningkatan jumlah


Kawasan Agropolitan yang dikembangkan. Pada awal pelaksanaan di tahun 2002, sebanyak
8 kabupaten telah difasilitasi senilai Rp 5,26
miliar. Jumlah kawasan meningkat menjadi 39
kabupaten di tahun 2003 dengan anggaran sebesar Rp 80 miliar. Kemudian, sebanyak 57 kabupaten di tahun 2004 dengan anggaran Rp
80 miliar, 75 kabupaten di tahun 2005 dengan
anggaran Rp 120 miliar, dan 91 kabupaten di
tahun 2006 dengan anggaran sebesar Rp 129
miliar.
Program pengembangan Kawasan Agropolitan
yang telah berlangsung selama satu dekade
ini menghadirkan berbagai pengalaman yang
dapat dicermati dan menjadi tantangan dalam pengembangan Kawasan Agropolitan berikutnya. Misalnya saja, berkembangnya sistem
calo/ijon yang menguasai produk pertanian
sehingga produk tersebut dijual ke pasar tanpa
melalui pusat Kawasan Agropolitan. Jika praktik ijon dibiarkan, Kawasan Agropolitan yang
terintegrasi dan dapat memberikan nilai tambah akan sulit terwujud.
Tingkat produktivitas petani yang cenderung
subsisten dan sulit sangat memengaruhi pengembangan agroindustri. Oleh karena itu,
para petani perlu mendapatkan pelatihan dan
pemahaman lebih lanjut sehingga budaya
subsisten, lambat laun, dapat ditinggalkan.
Tantangan lainnya adalah infrastruktur/fasilitas
yang tersedia tidak memadai, seperti jalan poros desa yang rusak atau pasar yang terbatas.

Pengembangan Kawasan Agropolitan Cipanas


juga dilaksanakan sesuai dengan kondisi
sumberdaya alamnya. Oleh karena itu, Cipanas
berkembang sebagai Kawasan Agropolitan
sekaligus Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang
mengandalkan keanekaragaman hayati bidang
pertanian dan keindahan alamnya, seperti air
terjun, pegunungan alami, perkebunan, peternakan sapi/kambing, tanaman pangan, dan tanaman hias, Dengan demikian, sebagai DTW,
Cipanas menawarkan beragam wanawisata.
seperti outbound, hortiwalk, camping ground,
kolam renang dengan air pegunungan alami,
belanja sayur organik, dan kebun petik stroberi.
)BM TFSVQB EJSBTBLBO PMFI NBTZBSBLBU QFUBOJ
di Kecamatan Sewukan, Kabupaten Magelang.
Jawa Tengah. Pengembangan Kawasan Agropolitan di wilayah ini sepanjang Tahun Anggaran
20042008 mencakup pembangunan 1 unit
Stasiun Terminal Agribisnis (STA), pembuatan
1 unit sarana Komposting, peningkatan jalan
usaha tani sepanjang 520 m, pembangunan
1 unit STA Ngablak, penyempurnaan STA Sewukan, peningkatan jalan usaha tani dengan
perkerasan sepanjang 1.000 m, peningkatan
SDM dan pemberian modal pertanian, serta
pembangunan jalan poros desa sepanjang
1.200 m.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Manfaat pengembangan kawasan yang mendapatkan pembiayaan melalui APBN, APBD


I, dan APBD II tersebut telah dapat dinikmati
masyarakat. Adapun manfaat yang dinikmati
masyarakat adalah terciptanya sistem pemasaran dan perdagangan produksi hasil pertanian, berkembangnya kemitraan antara
pemerintah, swasta, dan masyarakat, serta meningkatnya pendapatan masyarakat.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kendati demikian, keberhasilan pengembangan


Kawasan Agropolitan juga telah dapat dinikmati
masyarakat di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa
Barat. Cipanas merupakan salah satu kawasan
rintisan Agropolitan di Indonesia yang mulai
dikembangkan sejak tahun 2002. Kawasan ini
dikembangkan dengan keterpaduan berbagai
program dan kegiatan dari kementerian dan

instansi terkait sehingga Cipanas tumbuh menjadi Kawasan Agropolitan yang memiliki kelengkapan infrastruktur.

33

34

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Jalan poros Desa Wasiat.


Kecamatan Ngombol. Purworejo

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

35

STA BAGELEN :

Metamorfosa

Pasar Tradisional
menjadi Agribisnis
berwawasan
Global Kosmopolitan
Status :
Kawasan Agropolitan Bagelen.
Kabupaten Purworejo
Keputusan Bupati Purworejo
No. 188.4/13/2007

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Luas :
1.500m2
Terdiri dari 2 shelter. 6 kios
dan 1 gedung kantor pengelola

36

Fungsi:
Sarana Penunjang bagi pemasaran hasil
pertanian di Kawasan Agropolitan Bagelen
yang mencakup Kecamatan Bagelen.
Kaligesing. Purwodadi dan Ngombol

Embun pagi Kawasan


Agropolitan Bagelen,
Kabupaten Purworejo
belum lagi menetes.
Namun beberapa sepeda
onthel dan sepeda motor
sudah melaju cepat
memasuki areal Sub
Terminal Agribisnis (STA)
Bagelen.

SEJURUS kemudian, puluhan sepeda motor pun


ikut meramaikan STA ini dengan ratusan ayam
kampung dan hasil pertanian seperti kelapa,
petai, pisang hingga beras organik. Panas terik
matahari tak lagi menjadi penghalang transaksi
jual beli ini. Petani dan pedagang melebur
menjadi satu bersama riuhnya suara ayam
jantan yang terus berkokok pagi itu.

Penetapan Kawasan Agropolitan


Bagelen
Kabupaten Purworejo merupakan salah satu
wilayah agraris yang berada di Provinsi Jawa
Tengah. Perekonomian di Kabupaten Purworejo
didominasi oleh sektor pertanian dengan kontribusi lebih dari 33% terhadap produk domestik regional bruto.

Suasana pagi di STA


Bagelen, Purworejo

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Upaya pembangunan sektor pertanian dalam arti luas tidak hanya ditekankan pada
pembangunan sektoral saja tetapi juga mencakup pembangunan kewilayahan. Konsep
dengan pendekatan Kawasan Agropolitan ini
sudah direncanakan oleh Pemerintah Kabupaten Purworejo dengan menetapkan rencana
induk dan rencana pengembangan jangka
menengah Kawasan Agropolitan.

Kendati mayoritas penduduknya bermata


pencaharian sebagai petani, dan tanahnya
cocok untuk pertanian, predikat Kawasan
Agropolitan pun tak langsung disandangnya.
Seperti Kawasan Agropolitan pada umumnya,
penetapan Kawasan Agropolitan Bagelen didahului dengan proses identifikasi potensi
dan masalah untuk mengetahui kondisi dan
potensi lokasi (komoditas unggulan), antara
lain: potensi Sumber Daya Alam, Sumber Daya
Manusia, Kelembagaan, Iklim Usaha, kondisi
Prasarana dan Sarana Dasar, dan sebagainya
yang terkait dengan sistem permukiman
nasional. Kemudian, Provinsi Jawa Tengah
dan Kabupaten Purworejo memproses penyusunan master plan pengembangan Kawasan Agropolitan serta proses sosialisasi
kepada stakeholder yang terkait dengan pengembangan program agropolitan baik di
kabupaten maupun di kecamatan. Penetapan
Kawasan Agropolitan Bagelen berdasarkan
Keputusan Bupati Purworejo No. 188.4/13/2007
yang kemudian akan diperundangkan lebih
lanjut dalam peraturan daerah dalam RDTR
Kawasan Agropolitan.

37

Maksimalkan Peran STA dan Internet


untuk Meraih Pasar
Kondisi prasarana dan sarana di Kawasan
Agropolitan Bagelen saat ini masih perlu dikembangkan untuk memperlancar segala
kegiatan pada setiap sub sistem dalam sistem
agribisnis, terutama proses pemasaran hasil
produksi pertanian.
Pemasaran hasil pertanian merupakan sub
sistem agribisnis yang sangat vital untuk dikembangkan. STA merupakan sarana penunjang
bagi pengembangan sektor perekonomian di
Kawasan Agropolitan Bagelen.
Saat ini Kawasan Agropolitan Bagelen telah
memiliki sarana pemasaran berupa bangunan STA Bagelen di Desa Krendetan yang telah
diresmikan penggunaannya oleh Bupati PurwoSFKP  %ST ) .BITVO ;BJO  ."H  QBEB 0LUPCFS
2011. Bangunannya berupa 2 shelter, 6 kios dan
1 gedung kantor di atas areal seluas 1.500 m2.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Aktivitas pedagangpembeli di STA


Bagelen sepanjang
hari pasar

38

Tak ada ketentuan khusus bagi petani atau


pedagang yang ingin berjualan di STA Bagelen.
Mereka cukup membayar biaya kebersihan,
Rp 1.000.-/hari. Saat ini setiap hari pasar ada
sekitar 75 orang petani dan pedagang yang
bertransaksi di STA, jelas Suradi.
Ketua Pengelola STA Bagelen
yang juga Kepala Desa
Krendetan. Lebih lanjut
ia menjelaskan bahwa

sebelum dibangun STA, areal ini adalah pasar


kambing dan pasar tradisional penduduk
TFLJUBS i+BEJNFNBOHTVEBIBEBFNCSJPOZB)BM
tersebut menghindari tidak berfungsinya STA
yang dibangun, alias mangkrak.
Keberadaan STA Bagelen membantu petani
untuk dapat mempromosikan hasil tani mereka
yang berpotensi di Kawasan Agropolitan.
Secara umum penjualan sudah berjalan
walaupun terbentur dengan hari pasar yang
hanya dilakukan pada Rabu dan Sabtu. Ini
masalah kebiasaan. Walau demikian kami
sedang mengupayakan agar petani dapat
memaksimalkan keberadaan STA dan mengarahkan mereka agar dapat menggunakan
teknologi informasi berupa internet untuk pemasarannya, tambah Setiyadi, S.Sos., Camat
Bagelen.
Menjawab kebutuhan masyarakat tersebut, Pemerintah Kabupaten Purworejo kemudian menjalin kerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan mendatangkan
mobil komuter, yaitu mobil yang dilengkapi 2
unit komputer dengan jaringan internet dan

petugas yang siap membantu. Sesuai dengan


hari pasarnya, mobil ini dapat digunakan petani
untuk mengakses internet setiap Rabu dan
Sabtu. Saat ini penggunaan mobil komuter
masih dalam tahap sosialisasi. Pengelola STA
yang akan membantu petani memanfaatkan
KBSJOHBO JOUFSOFU JOJ w KFMBT 6OBOH /VS )JEBZBU 
Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Kabupaten
Purworejo.
)BM UFSTFCVU TFKBMBO EFOHBO WJTJ ,BXBTBO
Agropolitan Bagelen, yakni menjadikan
Kawasan Agropolitan Bagelen sebagai daerah
produsen pertanian dalam arti luas, berorientasi
agribisnis, berwawasan global-kosmopolitan
dengan peningkatan kemandirian serta daya
saing menuju kesejahteraan.

Daya Beli Meningkat Kuantitas Komoditi


Terbatas
Untuk memaksimalkan keberadaan STA Bagelen, Pemerintah Kabupaten Purworejo
membentuk 4 wilayah agropolitan, yakni Kecamatan Bagelen, Kecamatan Kaligesing, Kecamatan Purwodadi dan Kecamatan Ngombol, Kecamatan Ngombol merupakan lahan
persawahan dengan ekosistem pantai; Keca-

matan Purwodadi dan Kecamatan Bagelen


merupakan daerah dengan kombinasi usaha
tani persawahan, perladangan serta tambak;
dan Kecamatan Kaligesing merupakan daerah
dengan eksisting produksi ruminansia kecil
kambing ettawa (PE) ras Kaligesing, yang telah banyak membantu daerah lain dalam
pemenuhan kebutuhan bakalan (bibit) PE.
Keempat kecamatan tersebut dapat membentuk suatu sistem produksi farming dan
akan memiliki kinerja yang bersinergis karena
adanya aspek ekologis yang berbeda dan saling
melengkapi.
Untuk beras organik, Dinas Pertanian mendampingi dan memberikan penyuluhan pada
petani dengan menanam padi pola SRI (System
Rice Intensification) di areal seluas 200 ha di Kecamatan Ngombol. Dengan pola tanam tersebut, produksi padi kini bisa mencapai 8,7 ton
dari yang sebelumnya hanya 5 ton, jelas Kepala
Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten
Purworejo, Ir. Dri Sumarno. Namun sayang,
lanjut Dri, untuk komoditas unggulan seperti
kelapa, durian ataupun beras organik hasil panennya belum dapat memenuhi permintaan
pasar. Karena komoditasnya yang kurang, para
Mobil komuter.
membantu petani untuk
melek internet

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

39

pembeli pun rela menjemput bola langsung ke


rumah petani.

Pembangunan Infrastruktur pendukung


di kawasan hinterland (daerah
penyangga)
Pembangunan Kawasan Agropolitan Bagelen
memang bukan tanpa perencanaan. Kami
sudah mulai menyusun master plan dan RPJMD
Kawasan Agropolitan Bagelen pada tahun
2006. Kemudian tahun 2007, mulai dengan
penetapan kawasan, pembentukan pokja
tingkat kabupaten, pembangunan Jembatan
Sembir tahap I yang menghubungkan
wilayah agropolitan Kecamatan Purwodadi
dengan Kecamatan Ngombol dan Kecamatan
Bagelen dengan Kaligesing, terutama untuk
mempermudah aksesibilitas menuju STA,
jelas Bambang Jati, Kasubid Produksi Bappeda
Kabupaten Purworejo.
Tahun 2008, lanjut Jati, dengan menggunakan
dana APBD Kabupaten, Jembatan Sembir Tahap
II dilanjutkan. Lalu tahun 2009 pembahasan
Raperda Kawasan Agropolitan Bagelen ditunda
karena menunggu Perda RTRW. Tahun 2010,
pembentukan pokja kecamatan di 4 wilayah
Kawasan Agropolitan Bagelen. Pada tahun

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kesibukan pedagang
masuk keluar STA Bagelen
sepanjang pagi

40

ini pula, Kawasan Agropolitan Bagelen memperoleh dana bantuan berupa Specific Grant
program agropolitan dari Provinsi Jawa Tengah
melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang yang
dimanfaatkan untuk pembinaan kelembagaan
dan peningkatan jalan poros Desa KrendetanTlogokotes dan Semawung-Nadri.
Di tahun 2011, Pemerintah Pusat melalui
Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa
Tengah memberikan paket pembangunan infrastruktur perdesaan antara lain pembangunan
STA Bagelen, peningkatan jalan poros Desa
Guyangan-Bongkot, jalan poros Desa Wasiat,
jalan poros Desa Wonosari-Kedondong, jalan
poros Desa Tlogohulu-Somowono, dan jalan
poros Desa Kalirejo-Sokoagung, jelas Faiq
Anung Nindito, ST., MM., Satker Pengembangan
Permukiman Perdesaan Provinsi Jawa Tengah.
Aksesibilitas jalan poros desa yang semakin
baik serta keberadaan Sub Terminal Agribisnis
yang ramai memiliki andil besar dalam
menggairahkan ekonomi Kawasan Agropolitan.
Dimana potensi daerah tersebut dapat dengan
mudah dipasarkan. Sehingga para petani
mempunyai harapan baru dalam menata masa
depannya.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Saluran irigasi di Desa Wasiat,


Kecamatan Ngombol, Purworejo

41

Melirik Potensi
Gula Kelapa
di Bagelen

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Rambutnya hampir putih


menyeluruh. Giginya pun
tak lagi lengkap. Hanya
sedikit warna merah bata
sisa kunyahan sirih yang
tampak mencolok dilapisan
bibirnya. Namun tangan
keriput Mbah Minah (70
tahun) masih cekatan
mengaduk adonan gula
kelapa yang setiap hari
dibuatnya, aktivitas rutin
yang telah ia geluti sejak
usianya 10 tahun.

42

berselang, ia mengangkat singkong rebus dari


salah satu panci hitam dan menyuguhkannya
didalam piring, lengkap dengan gula kelapa
yang telah dibuatnya. Dengan bahasa
Jawanya yang kental, ia mempersilakan
kami mencicipi penganan tradisional
yang istimewa ini. Gula kelapa
yang kami buat murni tanpa
bahan
campuran
apapun.
Untuk pewarnanya, kami menggunakan kulit manggis, makanya
warna yang dihasilkan tidak
segelap gula kelapa yang pakai
pewarna buatan, tutur Juminah
(34 tahun), putri pertama Mbok Minah
yang ikut membantu produksi gula kelapa.
MENJADI pengrajin gula kelapa bukanlah profesi pilihan. Tempat tinggalnya berada di lereng bukit dengan pohon kelapa dan pohon
jati sebagai tanaman utamanya. Keterbatasan
infrastruktur membuat Mbah Minah dan penduduk desa lainnya berusaha mencari cara untuk mempertahankan hidup. Menjadi pengrajin
gula kelapa adalah salah satunya.

Sejak tahun 2011, jalan ruas desa yang menghubungkan antara Desa Kalirejo dan Desa
Sokoagung memang sudah berlapis aspal.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

)NNN  BSPNB HVSJIOZB BEPOBO HVMB LFMBQB


Mbah Minah menyergap masuk ke setiap hidung orang-orang di sekelilingnya. Tak lama

Jalan aspal yang mendongkrak harga


tanah

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Mbah Minah, hanyalah salah satu warga Desa


Sokoagung, Kecamatan Bagelen, yang membuat gula kelapa sebagai olahan hasil pertanian
kelapa yang menjadi salah satu komoditas
unggulan Kawasan Agropolitan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Alat yang digunakannya terbilang sangat sederhana, ruas bambu sebagai
cetakan, wajan hitam dengan 2 tungku kayu
yang terus menyala dan kulit manggis sebagai
QFXBSOB BMBNJOZB )BNQJS UBL BEB QFSBMBUBO
moderen yang ditemukan. Sesekali cahaya
matahari menerobos masuk ke dalam dapur
melalui celah atap rumahnya yang bolong di
sana-sini.

Rumah yang terbuat dari kayu dan beralaskan


tanah itu memiliki jarak yang cukup jauh dari
pusat kegiatan jual beli. Dimasa mudanya, ia
habiskan waktu berjalan kaki dengan kondisi
jalan tanah yang licin untuk menjual gula kelapa produksinya ke pasar tradisional. Tapi sekarang sudah enak, jalan ke pasar sudah bagus,
tuturnya dalam bahasa jawa sambil tersenyum.
Kendati kini yang berangkat ke pasar adalah
anak-anaknya, Mbah Minah turut senang dengan adanya pembangunan jalan ini. Setelah
akses jalan ruas Desa Kalirejo terbuka, para
pembeli pun banyak yang datang langsung ke
rumahnya. Maklum, harga jual gula kelapa ini
memang akan lebih rendah bila kita langsung
membelinya di rumah penjual. Saat ini Mbah
Minah menjual gula kelapa dengan harga Rp
11.000.-/kg. Penghasilan yang didapat ya ndak
tentu. kalau sedang banyak nira yang di dapat
ya kita bisa buat gula kelapanya lebih banyak,
jelas Mbah Minah tersipu.

43

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Jalan poros
Desa Sokoagung,
Bagelen,
Purworejo

44

Jalan sepanjang 2.100 m dengan lebar 3 m ini


membawa dampak positif bagi perekonomian
penduduk setempat yang mayoritas adalah
petani dan pembuat gula kelapa. Menurut
Elizabeth Reni Suzana, Kepala Desa Sokoagung.
proses pembangunan jalan ini memang sangat
diharapkan oleh penduduk desa. Sehingga
dalam pelaksanaan pembangunannya, tidak
ada kendala terhadap pembebasan lahan.
Bahkan mereka dengan senang hati membantu.
Penduduk hanya ingin akses jalan ke daerah

mereka lebih baik dan dapat dilalui dengan


kendaraan bermotor, jelas Reni.
)BM TFOBEB KVHB EJVOHLBQLBO )BSUPTP  "OH
gota DPRD Kabupaten Purworejo yang juga
penduduk Desa Sokoagung. Sejak jalan ruas
desa terbangun, angkutan umum bisa masuk
ke desa kami. Karena akses jalan yang baik, otomatis harga jual tanah terus melambung. Untuk
luas tanah 80m2 saja. sekarang tak lagi dapat
EJCFMJ EFOHBO IBSHB 3Q  KVUB )JOHHB LJOJ

masih banyak jalan poros desa di Kecamatan


Bagelen yang perlu dibangun dan ditingkatkan
kualitasnya. Karena kondisi jalan yang tidak
memadai, dari Desa Sokoagung menuju Desa
Semono harus melalui jalan memutar, padahal
letak kedua desa ini berdampingan.

Kehadiran jalan aspal nan mulus memang masih menjadi barang mewah bagi sebagian penduduk Kecamatan Bagelen dan sekitarnya.
5FSNBTVL )FSV  UBIVO
 QFOHSBKJO HVMB TF
mut (brown sugar) yang hingga kini masih
melewati jalan tanah yang licin sepanjang 4 km
sebelum bisa menggulirkan roda motornya di
jalan beraspal. Warga Desa Semono ini sangat
menginginkan jalan pintas dari desanya menuju
Desa Sokoagung dan Desa Kalirejo segera dibangun. Saya mengalami kesulitan untuk
membawa hasil gula semut ini ke STA. Padahal
QFSNJOUBBO QBTBS TFNBLJO CBOZBL w LBUB )FSV
penuh harap. Padahal gula semut yang dijual
dengan harga Rp 14.000.- per kilogram sudah
mulai diekspor melalui sebuah perusahaan perdagangan hingga ke Jepang. Tiap minggu, ia
dan keluarganya bisa menghasilkan 4 kuintal
gula semut.

Jalan poros Desa


SemonoSokoagung
yang belum tersentuh
aspal

.FOVSVU )BSUPTP  TFCBHBJ EBFSBI QFOZBOHHB


Kawasan Agropolitan Bagelen, akses jalan ruas
desa harus segera dibenahi agar para petani
dapat dengan mudah menjual hasil produksi
taninya.

Heru dan Istri. pengrajin


gula semut

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

45

Dengan adanya STA Bagelen ini,


sangat membantu petani kami untuk
mempromosikan hasil tani mereka yang
berpotensi di kawasan Agropolitan. Saat ini
kami juga sedang mengarahkan petani agar
dapat menggunakan teknologi informasi
(internet) untuk pemasarannya.

Setiyadi. S.Sos
Camat Bagelen
Purworejo

Judi Indradjaja
PPK P2S Agropolitan
Ditjen Cipta Karya
Kem. Pekerjaan
Umum

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonisan

Kawasan Agropolitan Bagelen


sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan agribisnis. Kami
dari Dinas Pertanian dan Kehutanan
melakukan penyuluhan kepada petani
agar kualitas tanam mereka semikin
baik, dan sesuai dengan mutu
yang kita harapkan.

46

Marsini
Petani/Pedagang/
Pengepul Kelapa

Pemerintah melalui Kementerian


Pekerjaan
Umum
berupaya
mengembangkan potensi lokal dengan
cara memfasilitasi Kawasan Agropolitan
dan Minapolitan berupa penyediaan
infrastruktur perdesaan dasar bidang
permukiman. Dukungan ini diharapkan,
dapat mendorong perkembangan dan
kelangsungan sektor pertanian.

Ir. Dri Sumarno


Kepala Dinas Pertanian
dan Kehutanan
Kab. Purworejo

Saya mulai berdagang dari kelas 6 SD.


Sekarang saya punya 100 pohon kelapa
lebih. Harga jual kelapanya Rp 1.000/butir.
Saya jual di STA dan di rumah. Dulu susah
sekali mau jualnya, jalannya jelek. Sekarang
jalan disekitar tempat tinggal saya sudah lebih
baik apalagi sekarang ada STA, selain jual
kelapa, saya juga bisa jual beras.

DI BALIK CAKRAWALA
BIRU INDONESIA

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonisan

47

Di Balik
Cakrawala Biru
Indonesia
Konsep kawasan :
Minapolitan
Kawasan Minapolitan
TA 2005-2011 :
29 provinsi
48 kawasan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Jenis Pengembangan :
Budidaya ikan air tawar
Ikan hasil tangkap

48

Dukungan Infrastruktur :
Peningkatan jalan poros desa, jalan usaha tani,
pembangunan talud, packing house, cold
storage, peningkatan tambatan perahu

Hamparan laut nan biru


mewarnai lukisan alam
Indonesia yang terlihat
begitu serasi dengan
birunya langit dan hijaunya
daratan negeri ini. Dengan
luas perairan tiga kali dari
luas keseluruhan, pantaslah
jika Indonesia dinobatkan
sebagai Negara Kepulauan/
Maritim Terbesar di dunia
dengan gugusan pulau
besar dan kecil yang
jumlahnya mencapai
17.508 pulau.

SEBUTAN negara kepulauan, sebenarnya, merupakan arti dari nama Indonesia itu sendiri,
yang sudah digunakan jauh sebelum Indonesia
menjadi negara berdaulat, Indonesia berasal
dari kata indus (bahasa Latin) yang berarti
i)JOEJBwEBOOFTPT CBIBTB:VOBOJ
ZBOHCFSBSUJ
pulau. Dengan demikian, Indonesia berarti
iLFQVMBVBOZBOHCFSBEBEJ)JOEJBw

2003).

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

(Sumber: United Nations Environment ProgramUNEP.

Sementara, badan pangan dan pertanian


sedunia (Food and Agriculture Organization
FAO) menyebutkan Indonesia sebagai produsen
JLBO UFSCFTBS EJ EVOJB )BM JOJ CFSEBTBSLBO
data di tahun 2006 yang menunjukkan bobot
produksi ikan Indonesia mencapai 87,1 juta ton.
)BTJM UBOHLBQBO MBVU *OEPOFTJB NFODBQBJ 

Kawasan Minapolitan
Mina Asri, Desa
Tanjungsari,
Kabupaten Boyolali

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Wilayah Indonesia yang terbentang di antara


Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik
memiliki luas keseluruhan sebesar 7,9 juta km2.
Dengan luas daratan hanya sebesar 22% saja
atau 1,8 juta km2. Sedangkan. luas perairannya
mencapai 77% dari luas keseluruhan atau 6,1
juta km2. Luas perairan tersebut terbagi atas laut
teritorial seluas 3,2 juta km2 (terluas di dunia)
EBO QFSBJSBO ;POB &LPOPNJ &LTLMVTJG ;&&

sebesar 2,9 juta km2 (terluas ke-12 di dunia).

Dengan kondisi geografis seperti disebutkan


di atas, Indonesia memiliki potensi ekonomi
kelautan yang sangat besar. Berdasarkan
prakiraan para pakar dan lembaga terkait di
tahun 2009 terhadap nilai ekonomi potensi dan
kekayaan laut Indonesia, hasilnya mencapai
149,94 miliar dolar AS atau sekitar Rp 14,994
triliun. Nilai tersebut meliputi perikanan senilai
31,94 miliar dolar AS, wilayah pesisir lestari
65 miliar dolar AS, bioteknologi laut 40 miliar
dolar AS, wisata bahari 2 miliar dolar AS, minyak
bumi 6,64 miliar dolar AS, dan transportasi laut
sebesar 20 miliar dolar AS.

49

dari hasil keseluruhan tangkapan laut dunia.


Selain potensi kekayaan laut, perairan Indonesia
juga memiliki andil besar dalam perdagangan
dunia. Lebih dari 80% perdagangan dunia dengan nilai lebih dari 500 miliar dolar AS (tahun
2006) berlangsung melalui laut. Oleh karena
itu, keberadaan negara-negara maritim, seperti
Indonesia, memiliki pengaruh besar dalam perdagangan dunia.
Potensi besar dari perairan Indonesia dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian dari sektor kelautan. Namun, pengembangan sektor kelautan ini masih belum
menjadi prioritas dan mendapatkan perhatian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kawasan Minapolitan
Kojadoi. Kabupaten
Sikka. NTT

50

sepenuhnya dari para pemegang kebijakan.


Akibatnya, potensi kelautan Indonesia belum
diolah secara maksimal sehingga sektor kelautan belum mampu meningkatkan perekonomian
TFDBSB TJHOJLBO )BM JOJ CFSVKVOH QBEB CFMVN
tercapainya kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir, khususnya para nelayan.
)BM UFSTFCVU UBNQBL EBSJ TFKVNMBI EBUB ZBOH
dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam Pedoman Umum Minapolitan
2011. Dimana, luas lautan Indonesia yang jumlahnya mencapai 2/3 dari luas keseluruhan
hanya memberikan Product Domestic Bruto
(PDB) perikanan sebesar 3,2%. Potensi budidaya

laut yang dimiliki negeri ini seluas 8.363.501


ha, tetapi yang terealisasi baru seluas 74.543
ha. Begitu pula dengan potensi tambak seluas
1.224.076 ha, baru dapat terwujud seluas
612.530 ha.
Disamping itu, potensi sumberdaya perikanan
tangkap negeri ini sebesar 6,4 juta ton per
tahun, tetapi masih banyak nelayan yang
hidup dalam kemiskinan. Lebih dari separuh
(50%) dari jumlah nelayan di negeri ini, yaitu
2.755.794 orang (nelayan laut dan perairan
umum), masih berstatus sambilan utama dan
sambilan tambahan. Sementara itu, jumlah
nelayan terus mengalami peningkatan, seperti

di tahun 2006-2007 terjadi peningkatan jumlah


nelayan sebesar 2,06%. Namun, peningkatan
berbanding terbalik dengan jumlah ikan di perairan negeri ini yang kian langka.
Kondisi ini melatarbelakangi upaya-upaya untuk mengembangkan wilayah perairan/pesisir dengan sektor kelautan dan perikanan
sebagai kegiatan utama demi meningkatnya
kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat,
terutama para nelayan. Untuk itu, diperlukan
perubahan cara berpikir dan orientasi pembangunan dari daratan ke maritim dengan
konsep pembangunan berkelanjutan dan gerakan yang mendasar dan cepat. Perubahan
ini disebut dengan Revolusi Biru. Revolusi
Biru pun diimplementasikan melalui sistem
pembangunan sektor kelautan dan perikanan
berbasis wilayah yang menggunakan konsep
Minapolitan.

Menurut UU Penataan Ruang No. 26/2007,


Kawasan Minapolitan merupakan turunan dari
Kawasan Agropolitan, yaitu kawasan yang terdiri

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Minapolitan

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Pengembangan Kawasan Minapolitan merupakan alternatif solusi pembangunan wilayah perdesaan, dalam hal ini adalah kawasan perairan/
pesisir (tangkap) dan kawasan budidaya
(kolam). Kegiatannya difokuskan pada sistem
dan usaha perikanan (minabisnis) sehingga
mampu mendorong kegiatan perikanan di wilayah sekitarnya. Pengembangan Kawasan
Minapolitan turut diwujudkan oleh Direktorat
Pengembangan Permukiman, Ditjen Cipta
Karya, Kementerian Pekerjaan Umum di
sejumlah wilayah di Indonesia. Dengan
pengembangan
Kawasan
Minapolitan
diharapkan dapat mewujudkan pembangunan
berkelanjutan melalui peningkatan produksi
perikanan tangkap maupun budidaya sehingga
mampu meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakatnya.

51

Petani sedang memberi


makan di kolam
budidaya ikan lele

atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah


perdesaan sebagai sistem produksi perikanan
dan pengelolaan sumberdaya alam tertentu
yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan
fungsional dan hirarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem minabisnis. Sama
halnya dengan Agropolitan, konsep Minapolitan juga dicetuskan Friedman dan Douglas
(1985) sebagai aktivitas pembangunan yang
terkonsentrasi di wilayah perdesaan berpenduduk antara 50.000150.000 jiwa.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Berdasarkan asal katanya, Minapolitan adalah


gabungan dua kata, yaitu mina yang berarti
ikan dan polis/politan yang berarti kota.
Dengan demikian, Minapolitan diartikan sebagai kota perikanan. Konsep minapolitan pun
diuraikan sebagai kota perikanan berbasis
pada pembangunan ekonomi kelautan dan
perikanan wilayah melalui pendekatan dan
sistem manajemen kawasan yang terintegrasi,
efisien, berkualitas, dan berakselerasi tinggi.

52

Sedangkan, Kawasan Minapolitan adalah suatu


bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama
ekonomi yang terdiri dari sentra produksi,
pengolahan, pemasaran komoditas perikanan,
pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung
lainnya.
Secara konseptual, Minapolitan memiliki 2
unsur utama, yakni Minapolitan sebagai konsep pembangunan sektor kelautan dan perikanan berbasis wilayah serta Minapolitan

sebagai kawasan ekonomi unggulan dengan


produk kelautan dan perikanan sebagai komoditas utamanya. Konsep Minapolitan dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan ini berlandaskan pada 3 asas, yakni
demokratisasi ekonomi kelautan dan perikanan
prorakyat; keberpihakan pemerintah pada rakyat kecil melalui pemberdayaan rakyat kecil;
serta penguatan peranan ekonomi daerah dengan prinsip: daerah kuat, maka bangsa dan
negara pun kuat.
Kawasan Minapolitan begitu khas dengan mayoritas masyarakatnya yang mendapatkan
penghasilan dari kegiatan minabisnis. Kegiatan
minabisnis merupakan kegiatan penangangan
komoditas secara komprehensif, mulai dari hulu sampai hilir, seperti pengadaan, produksi,
pengolahan, hingga pemasaran.
Kegiatan minabisnis dicirikan dengan keberadaan sentra-sentra produksi dan pemasaran
berbasis perikanan yang sangat memengaruhi
perekonomian di sekitar kawasan. Disamping
itu, karakteristik minapolitan tampak dari keanekaragaman kegiatanekonomi, produksi,
perdagangan, jasa, pelayanan, kesehatan, dan
sosialyang saling terkait. Sebagai pendukung
kegiatan, Kawasan Minapolitan juga telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai.
layaknya sebuah kota.
Kawasan Minapolitan sangat penting untuk
EJLFNCBOHLBOEJ*OEPOFTJB)BMJOJEJTFCBCLBO
oleh tersedianya lahan perikanan dan tenaga
kerja yang murah, masyarakat pembudidaya
perikanan telah memiliki kemampuan dan
pengetahuan, telah terbentuk jaringan antara
sektor hulu dan hilir, serta kesiapan institusi.
Adapun tujuan dari pengembangan Kawasan
Minapolitan sebagai konsep dari Revolusi Biru
adalah:
t .FOJOHLBULBO QSPEVLTJ  QSPEVLUJWJUBT  TFSUB
kualitas dari komoditas kelautan, perikanan

budidaya dan produk olahannya.


t .FOHFNCBOHLBOTJTUFNNJOBCJTOJT
t .FOHFNCBOHLBO QVTBU QFSUVNCVIBO FLP
nomi di Kawasan Minapolitan.
t .FOJOHLBULBO QFOEBQBUBO EBO LFTFKBIUFSB
an masyarakat secara adil dan merata, khususnya para nelayan, pembudidaya ikan, dan
pengolah ikan.
Untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut, disusunlah strategi utama pembangunan sektor
kelautan dan perikanan melalui Minapolitan.
Strategi tersebut mencakup penguatan lembaga dan sumber daya manusia secara terintegrasi, pengelolaan sumber daya kelautan dan
perikanan secara berkelanjutan, peningkatan
produktivitas dan daya saing berbasis
pengetahuan, serta perluasan akses pasar
domestik dan internasional. Sebagai upaya
percepatan, strategi utama direalisasikan
melalui langkah-langkah strategis berikut:
a. Kampanye Nasional melalui media massa, komunikasi antarlembaga, ataupun pameran.
b. Menggerakkan produksi, pengolahan, dan/
atau pemasaran di sentra produksi unggulan
pro-usaha kecil, di bidang perikanan tangkap,
perikanan budidaya, serta pengolahan dan

pemasaran.
c. Mengintegrasikan sentra produksi pengolahan, dan/atau pemasaran menjadi kawasan
ekonomi unggulan daerah menjadi Kawasan
Minapolitan.
d. Pendampingan usaha dan bantuan teknis
di sentra produksi, pengolahan, dan/atau
pemasaran unggulan berupa penyuluhan,
pelatihan, dan bantuan teknis.
e. Pengembangan sistem ekonomi kelautan
dan perikanan berbasis wilayah.
Pengembangan Kawasan Minapolitan yang
sepenuhnya memanfaatkan potensi lokal
ini sangat mendukung perlindungan dan
pengembangan
terhadap
budaya-sosial
lokal. Dengan demikian, pengembangannya
telah sesuai dengan Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (RTRWN) yang mendukung
pengembangan kawasan andalan. Oleh karena
itu, pengembangan Kawasan Minapolitan
tidak bisa terlepas dari pengembangan sistem
pusat kegiatan di tingkat nasional, provinsi, dan
kabupaten. Kawasan ini pun memiliki batasan
yang hanya ditentukan oleh skala ekonomi
(economic of scale).
Pembatasan aktivitas
tertentu di kawasan
minapolitan Mina Asri,
Desa Tanjungsari,
Kabupaten Boyolali

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

53

Mekanisme Pengembangan Kawasan


Minapolitan
Untuk dapat dikembangkan menjadi Kawasan
Minapolitan, suatu wilayahdalam hal ini sistem
kewilayahan kabupaten, harus memenuhi beberapa persyaratan yang akan menjadi pertimbangan berdasarkan aspek strategis dari
unsur makro pembentuk Kawasan Minapolitan.
Salah satunya memiliki komoditas unggulan di
bidang kelautan dan perikanan dengan nilai
ekonomi tinggi yang akan dikembangkan.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Komoditas unggulan merupakan komoditas


andalan yang paling menguntungkan untuk
dikembangkan karena memiliki prospek pengembangan tinggi di masa depan, keberadaannya melimpah, dan dapat meningkatkan
penghasilan/kesejahteraan masyarakatnya. Pola pengembangan yang terpadu akan meningkatkan efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan
sumber daya sehingga mampu meningkatkan
produksi sekaligus pendapatan masyarakat.

54

Selain memiliki komoditas unggulan di bidang


kelautan dan perikanan, Kawasan Minapolitan
hendaknya telah memiliki sistem mata rantai
produksi (huluhilir), kelayakan daerah, dukungan infrastruktur yang memadaiseperti
transportasi, jaringan listrik, dan air bersih, serta
dukungan berbagai fasilitas minabisnisseperti
pasar, balai benih ikan, lembaga keuangan, dan
kelompok budidaya. Sumber daya manusia yang
cukup dan mampu menggerakkan kegiatan di
dalam kawasan juga sangat dibutuhkan bagi
perkembangan Kawasan Minapolitan. Dengan
didukung komitmen kuat dari pemerintah
daerah, Kawasan Minapolitan yang serasi, seimbang, dan terintegrasi pun akan segera
terwujud.
Sebagai sebuah kawasan ekonomi potensial
unggulan, Kawasan Minapolitan memiliki karakteristik tersendiri, yaitu:
a. Memiliki sentra produksi, pengolahan, dan/

atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya,


seperti jasa pelayanan dan perdagangan.
b. Memiliki sarana dan prasarana sebagai pendukung aktivitas ekonomi.
c. Menampung dan mempekerjakan sumber
daya manusia di dalam Kawasan Minapolitan
dan daerah sekitarnya.
d. Mempunyai dampak positif terhadap perekonomian di daerah sekitarnya.
Seperti halnya kawasan Agropolitan, pengembangan Kawasan Minapolitan harus melalui
mekanisme pengajuan usulan terlebih dahulu.
Dalam mekanisme tersebut, diuraikan prosedur
tentang pengajuan lokasi Kawasan Minapolitan
yang meliputi kegiatan-kegiatan berikut ini:
1. Usulan dari Kabupaten oleh Pemerintah
Provinsi. Pemerintah Kabupaten mengajukan
usulan mengenai Kawasan Minapolitan. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten telah melakukan identifikasi potensi dan masalah
terlebih dahulu. Identifikasi dimaksudkan
untuk mengetahui kondisi dan potensi lokal,
yaitu komoditas unggulan. Lokasi Kawasan
Minapolitan yang berada di dalam kawasan
kabupaten ditetapkan oleh Bupati/Walikota.
2. Pemerintah Pusat menilai kesiapan lokasi untuk dapat dikembangkan sebagai Kawasan
Minapolitan. Penilaian dilakukan berdasarkan
kelengkapan persyaratan administrasi, berupa dokumen perencanaan yang terdiri
dari SK lokasi, SK pokja, Masterplan, RPIJM,
dab DED, serta potensi lokasi kawasan yang
diusulkan.
3. Pengembangan Kawasan Minapolitan yang
diusulkan dapat dipenuhi jika telah memenuhi kondisi berikut:
t "QBCJMB LFMFOHLBQBO BENJOJTUSBTJ EBO
potensi kawasan yang diusulkan telah
memenuhi persyaratan dalam butir
nomor 2.
t "QBCJMB LFMFOHLBQBO BENJOJTUSBTJ CFMVN
terpenuhi semua, tetapi kawasan yang
diusulkan memiliki potensi yang baik.

dilihat dari profil kawasan tersebut.


Kawasan ini akan diberi kesempatan untuk
melengkapi kekurangan persyaratan
administrasi dalam waktu 1 tahun. Apabila
dalam kurun waktu 1 tahun belum
terlengkapi, dana bantuan pembangunan
pada tahun berikutnya akan dihentikan
untuk sementara.
Setelah adanya pengajuan tentang usulan lokasi
Kawasan Minapolitan yang akan dikembangkan,
dilaksanakan penilaian/pemilihan kawasan
dengan mempertimbangkan beberapa hal di
bawah ini:
t 1SPHSBNQSPHSBNQFOHFNCBOHBOLBXBT
an dari departemen/badan yang memiliki
keterkaitan lingkup kegiatan (tupoksi) dengan pengembangan kawasan berbasis
minabisnis.
t ,PNPEJUBT VOHHVMBO TFCBHBJ QFNJDV VO
tuk tumbuh kembangnya kehidupan dan
penghidupan dari sektor-sektor komoditi
ikutan lainnya.

t 1PUFOTJLBCVQBUFOZBOHBLBOEJLFNCBOH
kan menjadi Kawasan Minapolitan. Potensi
kabupaten merupakan faktor pendukung
berkembangnya Kawasan Minapolitan.
t ,BXBTBO .JOBQPMJUBO UJEBL EJUFOUVLBO
oleh batasan administrasi pemerintahan.
Namun, prosedur penetapannya dimulai
dari penetapan kabupaten terpilih dan
basis analisa data berdasarkan batas administrasi. Oleh karena itu, proses penilaian Kawasan Minapolitan diawali dengan proses penilaian Kabupaten yang
berpotensi untuk mendapatkan kawasan
terpilih.
t ,BXBTBO .JOBQPMJUBO NFSVQBLBO TBUV
kesatuan kawasan perdesaan yang terdiri dari desa pusat dan desa-desa hinterland-nya yang diindikasikan oleh adanya
hubungan fungsional antara kegiatan di
desa pusat dan di desa hinterlandnya.
t ,BXBTBO .JOBQPMJUBO ZBOH EJVTVMLBO TV
dah menetapkan struktur hirarki kawasan.
t .FNJMJLJ TJTUJN LFMFNCBHBBO EBO TJTUFN

Mekanisme Penyelenggaraan Minapolitan

DM
.S
mb

Pus

Pe

ge

at/P
Kab rovin
/Ko si/
ta

Monitoring
dan Evaluasi

Pengembangan
Kawasan

06/MEN-KP/KB/VI/2010
PR.0103-DC/PKS/16/2010

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Nomor 41/MEN/2009
Nomor 32/MEN/2010
Nomor 39/MEN/2011

Minapolitan
Mandiri

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

ktu

tru

Keterangan :

Ma
y sy
Pe ang arak
md di at
a S fasi Ta
ete litas ni
mp i
at

ras

od
ala
n

(Master Plan/
RPIJM/DED)

Inf

oleh Menteri
Kelautan dan
Perikanan
oU

Perencanaan

Pe
rm

Sosialisasi

(Pokja Agropolitan)

an

dari Bupati /
Gubernur

Pemda
Kab/Kota

aga

Pusat/Provinsi/
Kab/Kota

emb

Kel

Program
Minapolitan

55

Abon Ikan Patin yang


mengandung OMEGA 3&6
serta kaya protein

pengelolaan yang mendukung berkembangnya Kawasan Minapolitan.


t ,PNJUNFO ZBOH LVBU EBSJ QFNFSJOUBI
daerah dengan diterbitkannya SK penetapan kawasan dari Bupati atau dana
sharing dari pemerintah daerah setempat
t 1FSTZBSBUBO QFOHFNCBOHBO ,BXBTBO
Minapolitan sebagai kriteria untuk mengidentifikasi Kawasan Minapolitan.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Dukungan Infrastruktur Kawasan


Minapolitan

56

Sistem infrastruktur yang tersedia menjadi


salah satu kunci keberhasilan pengembangan
Kawasan Minapolitan. Infrastruktur tersebut
membentuk struktur ruang, seperti jaringan
jalan, sumber air, jaringan listrik, dan jaringan
telekomunikasi yang bermanfaat bagi peningkatan produktivitas hasil perikanan, pengolahan
hasil perikanan, dan pemasaran hasil perikanan.
t 1FOJOHLBUBO1SPEVLUJWJUBT)BTJM1FSJLBOBO
Infrastruktur yang sangat memadai
seperti peningkatan jalan poros desa,
jalan usaha tani dan pembangunan talud
yang dibangun Kementerian Pekerjaan
umum sangat mendukung upaya-upaya
peningkatan produktivitas hasil perikanan
sehingga hasilnya berdaya saing dan

diminati pasar.
t 1FOHPMBIBO)BTJM1FSJLBOBO
Adanya upaya untuk mendapatkan nilai
tambah dari hasil perikanan. Jika semula
hasil pertanian hanya diperoleh dalam
bentuk produk primer, kini, mampu menghasilkan produk olahan. Dalam upaya ini,
packing house dan tempat penjemuran
merupakan infrastruktur yang mendukung
proses pengolahan.
t 1FNBTBSBO)BTJM1FSJLBOBO
Infrastruktur yang tersedia sangat menunjang upaya pemasaran hasil perikanan,
yang dapat memperpendek mata rantai
tata niaga perdagangan, mulai dari sentra
produksi sampai ke sentra pemasaran
akhir. Misalnya saja, tambatan perahu dan
Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Disamping dukungan infrastruktur, keberhasilan pelaksanaan pengembangan Kawasan
Minapolitan juga didukung oleh kelembagaan
yang kuat di Kabupaten/Kota. Kelembagaan
Minapolitan ini dibentuk oleh Bupati/Walikota
yang bertujuan mengintegrasikan kegiatankegiatan sektoral di daerah. Ruang lingkup
kegiatan dari kelembagaan Minapolitan mencakup perencanaan, pelaksanaan, monitoring,
dan pelaporan.
Kelembagaan Minapolitan juga dibentuk di
tingkat Provinsi yang memiliki fungsi koordinasi
sebagai fasilitasi hubungan antara Kabupaten/
Kota dan antara daerah dengan Pusat. Kelembagaan yang dibentuk oleh Gubernur ini berupa Kelompok Kerja (Pokja). Sementara, untuk
mengintegrasikan seluruh kegiatan antarunit
kerja teknis dengan instansi sektoral terkait,
dibentuklah Tim Koordinasi Minapolitan yang
tugas pokok dan fungsinya bersifat koordinatif.

Kinerja Dukungan Infrastruktur


Kawasan Minapolitan
Pengembangan Kawasan Minapolitan oleh Di-

rektorat Pengembangan Permukiman telah


berlangsung sejak tahun 2005 dengan hanya
memfasilitasi 1 kawasan. Di tahun 2006, dikembangkan kembali sebuah kawasan lain seiring
dengan pembangunan lanjutan dari tahun
sebelumnya. Sampai dengan tahun 2011, terdapat 48 Kawasan Minapolitan dengan 10 kawasan yang telah selesai difasilitasi. Di tahun
2011, sebanyak 18 kawasan baru juga telah
dikembangkan menjadi Kawasan Minapolitan.
Kinerja pengembangan Kawasan Minapolitan
sejak tahun 20052011 terurai dalam tabel dan
grafik berikut ini:

Kerupuk olahan
ikan Patin

Pencapaian Kawasan Minapolitan 2005-20011


Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

Baru

20

18

Lanjutan

21

20

Selesai

10

Total

25

30

48

48

50
45
40

18

35

30

30

25

25

15
10

20

21

5
2

1
1

3
2

2
3

2005

2006

2007

2008

2009

2010

5
0
Baru

Lanjutan

Selesai

10

2011

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

20

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

20

57

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

58

Kawasan Minapolitan Mina Asri,


Desa Tanjungsari,
Kabupaten Boyolali

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

59

KAWASAN MINAPOLITAN MUARO JAMBI:

Sumber penghasilan
sekaligus investasi yang
menggiurkan
Status :
Kawasan Minapolitan Muaro Jambi
Luas :
2.500m2
Terdiri dari 12 kolam ikan budidaya

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Potensi Unggulan :
Budidaya ikan patin

60

Hasil Olahan :
Kerupuk kulit dan abon ikan patin

Bila Jakarta, kota


kosmopolitan yang
serba gemerlap mampu
menyihir jutaan rakyat
Indonesia untuk mengadu
peruntungan nasibnya
disana, tidak demikian
halnya dengan Timan
(54 tahun). Dengan
segenap harapan, Timan
mengarahkan nasib
hidupnya di Kabupaten
Muaro Jambi, Provinsi
Jambi.

KABUPATEN Muaro Jambi merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Batang
)BSJ ZBOH EJCFOUVL CFSEBTBSLBO 6OEBOHVO
dang Nomor 54 tahun 1999 dengan pusat pemerintahan di Sengeti, Kecamatan Sekernan
yang berjarak sekitar 38 Km dari Kota Jambi.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Puluhan tahun silam, Timan mulai mengadu


nasib di ranah Jambi. Bukan sebagai transmigran yang pada waktu itu sedang digalakkan

Tahun 2004, Timan dan warga sekitar menyulap


ladang pangan seluas 2.500 m2, menjadi 12
kolam budidaya ikan patin. Kenapa ikan patin? Karena hanya ikan patin yang mampu
hidup di air yang tidak mengalir, daerah kami
adalah rawa dimana airnya tidak mengalir seperti sungai, jelas Timan. Melalui tangan dingin
Timan, Budidaya ikan patin memperoleh hasil
panen perdana yang menggembirakan. Kemudian lahirlah Kelompok Pembudidaya Ikan

Jalan di kawasan
Minapolitan Desa
Pudak. Kumpeh Ulu.
Muaro Jambi

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Secara geografis, Kabupaten Muaro Jambi


berada pada posisi strategis karena selain
merupakan hinterland Kota Jambi, kabupaten
ini juga merupakan center point pertemuan
lintas timur dan penghubung lintas barat
Sumatera. Posisi ini secara ekonomis sangat
menguntungkan, karena dapat memacu laju
pertumbuhan perekonomian daerah.

programnya oleh Pemerintah, tapi sebagai petani ladang, profesi yang telah dilakoni leluhurnya di Jawa Tengah sejak dahulu. Saya
datang kesini tahun 1994. Dulu saya petani
ladang yang menanam jagung, kacang-kacangan dan lain-lain. Tetapi karena lahannya
kurang subur untuk ditanami, saya mencoba
budidaya ikan, kenang Timan.

61

(Pokdakan) Tunas Baru dimana Timan menjadi


Ketua Kelompoknya. Kolam-kolam patin kian
banyak dijumpai di Desa Pudak. Dari 12 unit
kolam bertambah menjadi 30 kolam dan terus
meningkat setiap tahunnya.
Kendati demikian, bukan tanpa kendala Timan
dan kelompoknya menjalani usaha ini. Ia dan
puluhan petani budidaya ikan kolam maupun
keramba pun mengalami masa jatuh bangun
ketika ikan-ikan mereka terserang penyakit yang
NFOZFCBCLBO HBHBM QBOFO )JOHHB TVBUV
hari ada informasi dari Dinas Kelautan dan
Perikanan bahwa Desa Pudak, Kecamatan
Kumpeh Ulu akan
dijadikan
K aw a s a n
Minapolitan.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Timan memang tak pernah


menyangka bila tempat tinggal yang dulunya adalah daerah
rawa ini menjadi zona inti Kawasan
Minapolitan di Kabupaten Muaro Jambi.
sesuai Keputusan Menteri Kelautan d a n
Perikanan Nomor : 32/
MEN/2010 tanggal 14 Mei
2010 dan SK Bupati Nomor:
355/2010. Saya dan temanteman semakin semangat
mengembangkannya.
Kami
diberi
penyuluhan
tentang
budidaya ikan kolam seperti memilih
bibit ikan serta pakan yang baik, jelas Timan.

62

Menurut Paruhuman Lubis,


Kepala
Dinas
Kelautan
dan Perikanan Kabupaten Muaro Jambi,
sebelum adanya program Kawasan Minapolitan, masyarakat Desa Pudak memang sudah melakukan budidaya ikan patin. Kami
hanya bersifat mendampingi dan memberikan
penyuluhan.

Perlahan
tapi pasti,
pengembangan budidaya
ikan patin ini
terus meningkat.
Sehingga banyak
dari petani
budidaya ikan kerambah
beralih ke kolam seperti yang dilakukan Syaiful
(45 tahun). Sebetulnya untuk pengembangan
budidaya ikan kolam atau keramba sama
TBKB )BOZB TBZB NFOJMBJ VOUVL JLBO LPMBN
lebih rendah risikonya, ujar pria asli warga
,VNQFI6MVJOJTBNCJMUFSTFOZVN)BMUFSTFCVU

dibuktikannya dengan hasil panen 10 kolam


miliknya yang mampu menghasilkan 8.000 ekor
ikan patin.

Sejak tahun 2011, kami sangat terbantu dengan adanya peningkatan jalan produksi di

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Demam budidaya patin pun mulai menyebar


ke desa tetangga lainnya. Pokdakan Tunas Baru
tak lagi bisa menampung anggotanya hingga
kemudian dikembangkan menjadi 6 Pokdakan.
yakni Mina Teladan, Mina Barokah, Usaha
Mina Makmur, Usaha Mina Mandiri serta Mina
)BOEBZBOJ EFOHBO 5VOBT #BSV UFUBQ TFCBHBJ
induknya.

Panen ikan patin di


Pokdakan Tunas Baru

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Peran Infrastruktur di Kawasan


Minapolitan

Keenam pokdakan tersebut kini mengolah


630 unit kolam di lahan seluas 63 hektar yang
terbagi di empat lokasi. Alhamdulilah...setiap
hari per kelompok kami bisa panen 5-6 ton
dengan harga jual per kilogramnya Rp 10.000.-.
ujar Timan yang siang itu ditemani oleh masingmasing ketua Pokdakan, Supriyanto, Syaiful,
4VUSJTOP  4VXBSEJ EBO 5SJOBSUP )BTJM QBOFO JOJ
kemudian dipasarkan dengan pembagian 3 ton
ke luar kota seperti Palembang dan Medan, 3
ton lagi untuk memenuhi pasar lokal.

63

areal kolam, karena hasil panen sudah dapat dibawa dengan Torsa (sepeda motor beroda
UJHB
 UBL MBHJ EJQJLVM )FNBU XBLUV 
hemat tenaga dan hemat biaya,
kata Timan.
Pembangunan
jalan
produksi
ini
sesuai dengan salah satu arah kebijakan
pembangunan infrastruktur Cipta Karya, yaitu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi desa
yang didalamnya terdapat kebijakan mengenai
akses infrastruktur bagi pertumbuhan ekonomi
MPLBM wKFMBT)*WBO8JSBUB 45 .. .5 ,FQBMB
Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi.
Selain itu, Dudi Mulyana, ST., MT., Kasubid
Produksi Bappeda Kabupaten Muaro Jambi
menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur juga diharapkan mampu mempercepat
pengembangan kawasan, meningkatkan nilai
tambah komoditas unggulan perikanan, meningkatkan akses pergerakan orang dari dan
menuju kawasan termasuk pergerakan barang
dan jasa serta meningkatkan daya tarik investasi
di kawasan minapolitan.

Menurut Timan, saat ini memiliki kolam ikan tidak hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi
juga memiliki nilai investasi yang cukup tinggi.
Sejak akses jalan produksi terbuka, harga tanah yang tadinya hanya Rp 500.000,-/m2, kini
menjadi Rp 1.500.000,-.

Serap Tenaga Lokal dan Membuka


peluang usaha
Dampak positif lain dari pembentukan kawasan
minapolitan adalah mampu menyerap tenaga
kerja lokal terutama usia produktif. Bagi yang
pria, bisa bekerja di kolam dan yang wanita bisa
menambah penghasilan dapurnya di tempat
pengolahan ikan. Kami juga mendukung proses pengolahan ikan patin yang dilakukan oleh
kelompok tani wanita menjadi penganan ringan seperti abon patin dan kerupuknya. Di
halaman rumah, para petani juga menanam
tanaman hortikultura sehingga kampung ini
menjadi Kampung Pangan Terpadu Minapolitan
Pudak, jelas Paruhuman Lubis.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

)BM JOJ EJEVLVOH EFOHBO BEBOZB /PUB


Kesepahaman (MoU) No. 06/MEN-KP/
KB/VI/2010 antara Kementerian
Pekerjaan Umum dan Kementerian
Kelautan dan Perikanan tentang
pengembangan kawasan ekonomi
berbasis kelautan dan perikanan dengan
konsep minapolitan.

64

Adalah
Rusmiyati
(50
tahun)
yang
kini
dipercaya
mengkoordinir
ibu-ibu
rumah tangga di Desa
Pudak
dalam Kelompok
Wanita Tani (KWT) Tunas Baru.
Saat ini pesanan produk yang
paling banyak adalah kerupuk
kulit ikan patin. Menurut para
pembeli, kerupuk ini rasanya

Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum


pada Kawasan Minapolitan Kumpeh Ulu. Kabupaten Muaro Jambi
No

Kegiatan

Volume

Biaya (Rp)

Tahun

Peningkatan jalan produksi Tangkit


Baru. Kecamatan Sei Gelam

2.548 m

1.225.500.000

2011

Peningkatan jalan produksi Pudak.


Kecamatan Kumpeh Ulu (SKPA)

1.249 m

570.645.000

2011

Peningkatan jalan produksi


Kecamatan Kumpeh Ulu

1.650 m

895.860.000

2011

renyah dan gurih. Untuk penjualan abon


patin belum terlalu banyak penjualannya,
jelas Rusmiyati. Untuk aktivitas pengolahan
ikan patin ini, Kementerian Kelautan dan
Perikanan memfasilitasi 1 buah bangunan Unit
Pengelolaan Ikan serta kelengkapan mesin
penunjang seperti alat potong, dan packing.
Peralatan ini kami gunakan secara bergantian
dengan KWT lainnya di Kawasan Minapolitan
daerah kami. Produk-produk olahan ini adalah
hasil pengetahuan yang kami dapat dari
pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh KKP,
tambah Rusmiyati.
Kendati masih dalam kapasitas home industry,
pengolahan ikan patin ini juga tetap memperhatikan kandungan gizinya, karena abon
dibuat dengan menggunakan 100% daging
ikan patin segar yang banyak mengandung
OMEGA 3 & 6 dan kaya akan protein. Packaging
juga dikemas apik agar dapat bersaing dengan
produk lainnya di pasaran. Untuk kemasan
100gr, biasanya dibandrol dengan harga
Rp 15.000,- hingga Rp 20.000,-. Sedangkan
harga kerupuk kulit ikan patin Rp 12.500,- per
250 gram. Insya Allah kami siap bersaing di
pasaran untuk kualitas dan rasanya. Saat ini
kami dibantu Dinas Perikanan dan Kelautan
sedang berupaya menembus pasar nasional

dengan memasok hasil olahan ini ke beberapa


supermarket. Kami mohon bantuan dari semua
pihak untuk pemasarannya, jelas Rusmiyati
sambil tersenyum.
)BTJMQBOFOCVEJEBZBJLBOQBUJOZBOHNFMJNQBI
serta hasil pengolahan ikan yang baik tentu
saja memberikan berkah bagi penduduk
Desa Pudak. Termasuk salah satunya menarik
perhatian Presiden Republik Indonesia, Susilo
Bambang Yudhoyono untuk bersama para
menteri terkait dan masyarakat Kabupaten
Muaro Jambi melakukan Panen Raya di awal
Februari 2012 lalu. Dalam kunjungannya itu,
Presiden berharap Kampung Pangan Terpadu
Minapolitan Pudak mampu menginspirasi
daerah lainnya untuk mencukupi kecukupan
pangan negara kita ditengah gejolak pangan
dunia seperti saat ini.
Senyuman Rusmiyati, Timan dan petani
budidaya ikan patin/hortikultura di Desa Pudak
adalah senyum kegigihan mereka mengubah
Desa Pudak menjadi Kampung Pangan Terpadu
Minapolitan yang membanggakan. Semoga
kami bisa menjaganya dengan baik, ujar Timan.
Sebuah harapan sederhana, dari sebuah desa
kecil yang kini sangat menjanjikan!
Unit Pengolahan Ikan
Desa Pudak

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

65

Koordinasi serta kerja sama


yang baik antara Dinas
Perikanan dan Kelautan, Dinas
Pekerjaan Umum, dan masyarakat
menjadikan Kawasan Minapolitan
Muaro Jambi menjadi salah satu
percontohan yang sukses.

H. Ivan Wirata. ST.. MM.. MT.


Kepala Dinas PU
Provinsi Jambi

Paruhuman Lubis

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kepala Dinas Kelautan


dan Perikanan
Kab. Muaro Jambi

66

Alhamdulillah..... dengan adanya Kawasan Minapolitan di


Desa Pudak. kehidupan kami bisa
lebih meningkat. Dulu dengan
tanaman pangan, sebulan kami dapat
penghasilan Rp 1 juta sekarang kami
bisa dapat Rp 2-3 juta. Apalagi dengan
adanya peningkatan jalan produksi
kami jadi lebih hemat waktu, tenaga
dan biaya tentunya.

Timan
Petani
budidaya ikan

Kunci keberhasilan Kawasan


Minapolitan Desa Pudak adalah
keuletan dan kegigihan para petani
budidaya. Kita dari Pemerintah
daerah harus bisa membimbing
mereka melalui penyuluhan, dan yang
terpenting adalah jangan sekali-kali
membohongi para petani.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

67

KAWASAN MINAPOLITAN TERNATE:

Kota Bahari
Nan Kaya
Status :
Kawasan Minapolitan
Kementerian Kelautan dan Perikanan
melalui SK No. KEP.32/MEN/2010
Luas Wilayah Laut Maluku Utara:
106.977,32 Km2

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Potensi Sumber Daya Ikan:


143.165,36 ton per tahun

68

Potensi Unggulan:
Pelagis Besar (ikan tuna dan cakalang)
Pelagis Kecil (ikan layang dan tembang)
Demersal (ikan kakap merah, ekor
kuning,kerapu)

Pagi itu, Pelabuhan


Perikanan Nusantara
Bastiong (Ternate) tampak
lebih ramai. Selain tertutup
kapal-kapal penangkap
ikan, suara nelayan penjual
ikan pun bersahutan seraya
menyebut angka rupiah
yang terbilang murah untuk
ratusan kilogram ikan laut
segar. Kondisi ini menjadi
aktivitas rutin awak
pelabuhan, dari dini hari
hingga siang menjelang.

PULAU TERNATE merupakan wilayah kepulauBOZBOHUFSMFUBLEJQFTJTJSCBSBUQVMBV)BMNBIFSB


dan merupakan bagian dari Provinsi Maluku
Utara. Pulau kecil yang berada di kaki Gunung
Gamalama ini memiliki luas 5.681,30 km2, yang
didominasi oleh perairan laut dengan luas sekitar 5.457,55 km2, dan luas daratan 133,74 km2.
Secara geografis Kota Ternate terletak pada
126o20 128o05 BB dan 0o50 2o10 LU.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Dari sisi geografis wilayah, pulau pulau kecil di


Ternate ini sangat strategis, karena merupakan
daerah migrasi/ruaya berbagai jenis ikan pelagis
besar (tuna dan cakalang) yang merupakan komoditas andalan perikanan. Karena itu, potensi
di bidang perikanan dan kelautan di wilayah ini
cukup besar. Berdasarkan data sekunder yang
diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan
tahun 2004, potensi lestari ikan di perairan
Ternate sebesar 23.919,25 ton per tahun dari
standing stock yang dimiliki sebesar 47.838,25
ton yang terdiri dari ikan pelagis besar seperti
tuna, cakalang, tongkol, cucut, tenggiri, dan
ikan pelagis kecil seperti ikan layang dan
tembang. Ikan demersal seperti kakap merah,

Jalan di kawasan
Minapolitan PPN Ternate
yang tak lagi digenangi
air

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kota Ternate sendiri terbagi atas 7 kecamatan


yaitu Kecamatan Pulau Ternate, Ternate Selatan,
Ternate Utara, Moti, Ternate Tengah, Batang
%VBEBO1VMBV)JSJ4FLJUBSLFMVSBIBOEFTB
memiliki pantai sedangkan 18 desa sisanya tidak mempunyai wilayah pantai. Tak hanya itu,
kekayaan alam Kota Ternate juga tersebar dalam
CVBIQVMBVLFDJM ZBLOJ1VMBV)JSJ 1VMBV.PUJ 

Pulau Mayau, Pulau Tifure, Pulau Maka, Pulau


Mano dan Pulau Gurida.

69

skuda, kakap sejati, ekor kuning serta berbagai


jenis ikan kerapu. Tingkat pemanfaatan potensi
perikanan baru mencapai 29,80 % dari potensi
lestarinya. Potensi lain yang dimiliki oleh Pulau
Ternate yaitu sebagian pulau-pulaunya dapat
dijadikan sebagai tempat untuk kegiatan marikultur, diantaranya hatchery, budidaya rumput laut, keramba (pembenihan dan pembesaran). Selama ini masyarakat cenderung lebih
banyak pada kegiatan penangkapan, baik
ikan pelagis, ikan demersal, sehinga cukup sulit mengubahnya menjadi perilaku pembudidayaan. Di pesisir pantai Kota Ternate, banyak
terdapat bibit bandeng nener dan benur yang
dapat digunakan sebagai bibit alami budidaya

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Selain memiliki
panorama alam yang
indah, Kota Ternate juga
memiliki kekayaan laut
yang luar biasa

70

tambak. Luas perairan potensial untuk budidaya


MBVUNFODBQBJ)B
Pulau Ternate dilihat dari aspek pemasaran
sangat strategis karena merupakan pusat pasar
dan ekspor dari propinsi Maluku Utara yang telah memiliki sarana dan prasarana pendukung
antara lain: pelabuhan Ahmad Yani, Pelabuhan
Perikanan Nusantara (PPN) Ternate, dan pusat
pendaratan ikan Dufa-Dufa. Dibukanya Bandara Baabulah juga menunjang aksesibilitas
komoditas perikanan maupun produk lain dari
sentra produksi ke pasaran interinsuler maupun
ekspor.

Melihat potensi yang ada di kota yang lokasinya


persis di kaki Gunung Gamalama ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui SK No.
KEP.32/MEN/2010 menetapkan PPN Ternate
menjadi salah satu kawasan minapolitan percontohan berbasis perikanan tangkap dari 9
(Sembilan) PPN lainnya, yakni PPN Pelabuhan
Ratu, Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS)
Cilacap, PPN Tamperan, PPN Muncar, PPN Sungai
Liat, PPS BItung, PPS Belawan, dan PPN Ambon.

Peningkatan jalan dan revitalisasi


Kawasan Minapolitan PPN Ternate
Saat ini Pelabuhan Perikanan Nusantara Ternate merupakan salah satu pelabuhan lingkar

luar (Outter Ring Fishing Port) dengan potensi perikanan 1.035.230 ton/tahun. Namun sayang, banyaknya ikan hasil tangkap ini tidak
diimbangi dengan prasarana dan sarana yang
memadai untuk mendukung produksi perikanan nelayan, terutama infrastruktur jalan
di lingkungan pelabuhan. Rustardi, A.Pi, M.Si,
Kepala PPN Ternate mengatakan kondisi
jalan di lingkungan pelabuhan hingga tahun
2011 sangat memprihatinkan. Genangan air
ada dimana-mana, semua jalan terendam.
Drainase juga tidak berfungsi dengan baik
hingga mengganggu operasional beberapa
perusahaan yang ada di pelabuhan. Banyak
mobil rusak karena terendam air. Sebelum ada
program kawasan minapolitan, di lingkungan
pelabuhan sudah ada 10 perusahaan yang
beroperasi dengan jenis usaha antara lain
pembelian ikan, pabrik es balok, kios dan
penampungan lobster, pengasapan ikan serta
lembaga keuangan, tambah Rustardi. Dampak
ini meluas pada keinginan pembeli ikan yang
segan melihat kondisi Tempat Pelelangan Ikan
yang becek dan terkesan kumuh.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Perubahan peningkatan jalan di lingkungan


pelabuhan juga dirasakan oleh Ayi (54 tahun)
yang telah 10 tahun mempertaruhkan nasibnya

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Untuk menghindari dampak negatif yang berkelanjutan, di awal tahun 2012 Kementerian
Pekerjaan Umum menurunkan anggaran sebesar Rp 1.666.627.000,00 untuk meningkatkan
jalan dan revitalisasi drainase kawasan minapolitan di PPN Ternate. Pembangunan prasana dan sarana di lingkungan PPN Ternate
ini bertujuan untuk memfasilitasi kegiatan
pelabuhan yang terus meningkat. Kurang
memadainya infrastruktur jalan dan drainase
menjadi perhatian kami dalam membangun
,BXBTBO.JOBQPMJUBO11/5FSOBUF wVKBS)'BTSJ
Bachmid, ST., Kepala Satuan Kerja Kawasan
Permukiman dan Perbatasan Dinas Pekerjaan
Umum Maluku Utara.

71

Jalan di kawasan
Minapolitan PPN
Ternate sudah
tidak tergenang
dan becek lagi
seperti sebelumnya
(foto kanan)
setelah dilakukan
peningkatan
jalan dan revitalisasi
drainase

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

sebagai kuli angkut di PPN Ternate.


Dalam sehari ia bisa mengangkut ikan
dari kapal menuju Tempat Pelelangan
Ikan (TPI) sebanyak 10 kali. Kalau
nasib sedang bagus, saya bisa bawa
pulang uang Rp 100.000,00 untuk
satu hari, karena laju gerobak saya
bisa lebih cepat. Kalau dulu jalannya becek, kaki
saya saja suka gatal, jelas Ayi.

72

Dukungan lintas sektoral seperti yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum ini
memang sangat kami perlukan. Peningkatan
jalan serta revitalisasi drainase menambah semangat kami, para pengusaha dan nelayan
untuk lebih giat lagi mengingkatkan ekonomi
lokal. Bisa dibayangkan, bila potensi ikan yang
melimpah ruah di perairan Maluku Utara terbengkalai hanya karena prasarana dan sarana
yang dimiliki tidak memadai. Kualitas ikan
yang kami miliki pun pasti menurun, padahal
penjualan ikan tuna dan cakalang sudah mulai
EJFLTQPSIJOHHBLF+FQBOH wLBUB)3VTMBO#JBO
S.Pi., M.Si., Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan

Kota Ternate. Kini, tambah Ruslan, mulai banyak


usaha-usaha home industry bermunculan seperti pengolahan ikan asin, ikan asap, hingga
abon ikan. Kami dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ternate membantu membina dan
mengarahkan dengan membentuk kelompok
masyarakat pengawas serta kelompok usaha
bersama.

Berharap ada investor


Pengembangan kawasan minapolitan memang
sedianya diarahkan kepada pengembangan
ekonomi lokal yang berbasis pada pengembangan sistem produksi, budidaya, pengolahan
perikanan, pemasaran, dan sistem permukiman
di kawasan tersebut.

Alhamdulilah...Setelah adanya peningkatan


jalan, kegiatan di pelabuhan lebih meningkat.
Cold storage yang tadinya enggan digunakan
karena jalannya terendam air, kini sudah digunakan secara maksimal. Badan usaha di lingkungan pelabuhan juga terus bertambah, dari
10 perusahaan kini menjadi 14 perusahaan.
Dengan demikian terjadi penyerapan tenaga
lokal, ujar Rustardi penuh syukur.

Namun demikian, Kawasan Minapolitan PPN


Ternate masih perlu banyak berbenah. Salah
satunya adalah memaksimalkan lahan pelabuhan yang belum termanfaatkan seluas
  )B EFOHBO NFNCBOHVO HVEBOH LJPT
serta merehab beberapa fasilitas yang sudah
ada seperti TPI dan transit sheet sesuai kebutuhannya saat ini, karena kunjungan kapal di
PPN Ternate yang rata-rata 4.903 kali per tahun
serta produksi ikan yang mencapai
5.219 ton per tahun terus meningkat.
Untuk itu diperlukan dukungan lintas
sektoral seperti yang telah dilakukan
Kementerian Pekerjaan Umum.
Rustardi, Ruslan Bian, Fasri Bachmid, Ayi
dan nelayan di Maluku Utara optimis bila
kawasan minapolitan terbangun dengan
baik, perekonomian mereka akan terus
berkembang. Tak hanya berharap memperoleh hasil tangkapan yang terus
bertambah, tetapi juga berharap ada
investor yang siap merangkul mereka
untuk terus mengeksplorasi kekayaan
bahari Maluku Utara.
Pembeli yang semakin
banyak datang ke TPI
kawasan Minapolitan
PPN Ternate (foto
bawah) dan kegiatan
di cold storage sebelum
ikan dikirim ke berbagai
daerah (foto atas)

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

73

Kawasan Minapolitan PPN


Ternate masih memerlukan
sentuhan pembangunan yang lebih
serius, mengingat potensi bahari
yang dimiliki sangat besar. Konsep
kawasan ini memberikan harapan
baru bagi nelayan Ternate dan
sekitarnya

H. Fasri Bachmid, ST.


Kepala Satker
Pengembangan Kawasan
Permukiman dan
Perbatasan Maluku Utara

H. Ruslan Bian
Kepala Dinas
Perikanan dan Kelautan
Kota Ternate

Kawasan Minapolitan sangat


efektif bila diterapkan di
Provinsi Maluku Utara yang kaya
akan potensi sumber daya ikan. Kekayaan bahari yang melimpah ini harus
diimbangi dengan infrastruktur yang
memadai. Dukungan dari Pemerintah Daerah dan Pusat juga para
stakeholder sangat diharapkan.

Rustardi
Kepala Pelabuhan
Perikanan Nusantara
Ternate

Ayi
AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kuli Angkut Ikan

74

Dukungan
infrastruktur
yang baik dari Kementerian
Pekerjaan Umum sangat membantu nelayan untuk bergerak lebih
cepat memasarkan ikan hasil
tangkapnya. Kami berharap pembangunan infrastruktur di wilayah
kami dapat diteruskan.

Terimakasih kepada Pemerintah karena jalan di pelabuhan


sudah bagus. Sudah tidak perlu
becek-becekan lagi. Harapan saya
pembangunan di pelabuhan terus
ditingkatkan biar tambah ramai
pembeli ikannya.

PENUTUP

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

75

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Aktivitas STA Bagelen, Kabupaten


Purworejo di pagi hari

76

Pengembangan Kawasan
Agropolitan dan
Minapolitan merupakan
upaya pemerataan
pembangunan sampai
wilayah perdesaan.
Pembangunan perdesaan
ini sangatlah penting
karena besarnya potensi
perdesaan yang belum
dikembangkan secara
maksimal.

PENGOLAHAN potensi dan kekayaan alam


perdesaan memunculkan permasalahan pangan yang berujung pada keresahan akan
terjadinya kondisi rawan pangan di masa
mendatang.
Kawasan Agropolitan dan Minapolitan yang
menjadi bagian dari potensi kewilayahan kabupaten dikembangkan melalui penguatan
sentra-sentra produksi, keunikan/keunggulan
lokal. serta kegiatan utama masyarakatnya.
Dengan harapan, kawasan ini dapat menjadi
kawasan pertumbuhan ekonomi yang berdaya
saing dan memiliki kompetensi.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Disamping itu, keberadaan sarana dan prasarana berupa infrastruktur yang memadai
juga sangat berperan dalam kelangsungan pertumbuhan ekonomi di Kawasan Agropolitan

Maka, sejak dimulai tahun 2002 hingga tahun


2012, program pengembangan perdesaan,
khususnya di wilayah-wilayah hinterland, telah
berhasil memfasilitasi sebanyak 415 Kawasan
Agropolitan dan Minapolitan. Berbagai kendala tak luput dari pelaksanaan sehingga
menghadirkan tantangan tersendiri dalam mewujudkan kawasan agribisnis dan minabisnis
yang utuh dan terpadu. Namun demikian,
upaya pembangunan yang telah berlangsung
selama sepuluh tahun tersebut mampu memberikan pencerahan dan membawa perubahan
signifikan bagi kawasan perdesaan. Pada akhirnya, kawasan perdesaan ini mampu mendorong
pembangunan nasional.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Demi mencapai keberhasilan pengembangan


kedua kawasan ini, dibutuhkan dukungan dan
peran aktif masyarakat setempat serta lembagalembaga/instansi-instansi terkait.

dan Minapolitan. Oleh karena itu, Ditjen Cipta


Karya Kementerian Pekerjaan Umum melalui
DIrektorat Pengembangan Permukiman berupaya memberikan dukungan infrastruktur
yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan
produktivitas, pengolahan, serta pemasaran
hasil pertanian/perikanan.

77

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Peningkatan jalan
poros desa Kawasan
Agropolitan Kobalima,
Kab. Belu, NTT

78

PENCAPAIAN DUKUNGAN
INFRASTRUKTUR
PENGEMBANGAN KAWASAN
AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN
AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

79

Pencapaian Dukungan Infrastruktur


Pengembangan Kawasan Agropolitan
Tahun Anggaran 2003 2012
1. PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Aceh Besar, Kab. Pidie, Kab. Aceh Tamiang, Kab. Aceh Selatan, Kab. Aceh Timur,
Kab. Biruen
KAWASAN

: 6 Kawasan
Kws. Indrapuri, Kws. Lembah Seulawah, Kws. Mutiara, Kws. Peudada, Kws. Kluet,
Kws. Idi

KEGIATAN FISIK

Desa Sp. Empa, Desa Kr. Batee, dan Desa Ps. Asahan.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 24.962.779.000

80

2. PROVINSI SUMATERA UTARA


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 11 Kabupaten, 1 Kota
Kab. Karo, Kab. Asahan, Kab. Toba Samosir, Kab. Simalungun, Kab. Tapanuli Utara,
Kab. Dairi, Kab. Humbang Hasundutan, Kab. Samosir, Kab. Serdang Berdagai,
Kab. Mandailing Natal, Kab. Batubara, Kota Medan
KAWASAN
: 14 Kawasan
Kws. Merek, Kws. Tanjung Sigoni, Kws. Lumban Julu, Kws. Pematang Cengkering,
Kws. Silimakuta, Kws. Parbuluan, Kws. Medang Deras, Kws. Tanjung Tiram,
Kec. Siborong-borong, Kws. Dolok Sanggul, Kec. Harian, Kws. Tanjung Beringin,
Kws. Sikara-kara, Kws. Medan Utara
KEGIATAN FISIK

TOTAL ANGGARAN : Rp 37.675.491.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

81

3. PROVINSI SUMATERA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 9 Kabupaten, 1 kota
Kab. Agam, Kab. Solok, Kab. Tanah Datar, Kab. Pesisir Selatan,
Kab. Padang Pariaman, Kab. Lima Puluh Koto, Kab. Dharmasyara, Kab. Pasaman,
Kab. Sijunjung, Kota Payakumbuh
KAWASAN
: 13 Kawasan
Kws. Kecamatan IV Angkat Candung, Kws. Koto Gadang, Kws. Lembah Gumanti,
Kws. X Koto, Kws. Sutera, Kws. VII Koto, Kws. Mungka, Kws. Sitiung, Kws. Mandeh,
Kws. Rao, Kws. Palangki, Kws. Bukit P. Sembilan, Kws. Kamang Magek
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

82

: Rp 30.548.625.000

4. PROVINSI RIAU
TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 7 Kabupaten
Kab. Indragiri Hilir, Kab. Rokan Hulu, Kab. Kampar, Kab. Indragiri Hulu,
Kab. Kuantan Senggigi, Kab. Pelalawan, Kab. Dumai
KAWASAN
: 13 Kawasan
Kws. Tempuling, Kws. Rambah Samo, Kws. Tapung Hilir, Kws. XII Koto Kampar,
Kws. Rengat Barat, Kws. Benai, Kws. Kebun Durian Gunung Sahilan, Kws. Sei Bagan,
Kws. Sungai Sembilan, Kws. Sei Upih Teluk Beringin
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN : Rp 32.020.100.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

83

5. PROVINSI KEPULAUAN RIAU


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 3 Kabupaten
Kab. Karimun, Kab. Bintan, Kab. Natuna
KAWASAN
: 4 Kawasan
Kws. Agropolitan Kundur, Kws. Tuapaya, Kws. Mantang, Kws. Serasan
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

84

: Rp 19.637.774.000

6. PROVINSI JAMBI
TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Tanjung Jabung Timur, Kab. Muaro Jambi, Kab. Kerinci, Kab. Sorolangun,
Kab. Merangin, Kab. Batanghari
KAWASAN
: 6 Kawasan
Kws. Rantau Rasau, Kws. Kumpeh Hulu, Kws. Kayu Aro, Kws. Singkut,
Kws. Batang Mesumai, Kws. Pemayung
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp. 19.532.694.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

85

7. PROVINSI SUMATERA SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2003 2010
KABUPATEN/KOTA : 8 Kabupaten, 2 Kota
Kab. Ogan Komering Ulu Timur, Kab. Ogan Komering Ulu Induk,
Kab. Banyu Asin, Kab. Ogan Komering Ulu Selatan, Kab. Musi Rawas,
Kab. Ogan Ilir, Kab. Ogan Komering Ulu, Kabupaten Ogan Komering Ilir,
Kota Pagar Alam, Kota Palembang
KAWASAN
: 12 Kawasan
Kws. Martapura, Kws. Dempo Utara, Kws. Lengkiti, Kws. Pulau Beringin,
Kws. Banyu Urip, Kws. Tugu Mulyo, Kec. Tanjung Lago, Kws. Muara Beliti,
Kec. Gandus, Kws. Bakung, Kws. Baturaja Timur, Kws. Lempuing
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

86

: Rp 25.740.246.000

8. PROVINSI BANGKA BELITUNG


TAHUN ANGGARAN : 2004 2012
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten
Kab. Belitung, Kab. Bangka Tengah, Kab. Bangka, Kab. Bangka Selatan
KAWASAN
: 8 Kawasan
Kws. Mambalong, Kws. Tanjung Binga Kecamatan Sijuk, Kws. Pangkalan Baru,
Kws. Sungai Selatan, Kws. Sungailiat, Kws. Tanjung Gunung, Kws. Mendo Barat,
Kws. Salepliat
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 21.709.952.422

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

87

9. PROVINSI BENGKULU
TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 7 Kabupaten
Kab. Rejang Lebong, Kab. Bengkulu Utara, Kab. Kepahiang, Kab. Bengkulu Selatan,
Kab. Lebong, Kabupaten Seluma, Kab. Kaur
KAWASAN
: 8 Kawasan
Kws. Selupu Rejang, Kws. Padang Jaya, Kws. Ujan Mas, Kws. Seginim,
Kws. Lebong Tengah, Kws. Seluma Selatan, Kws. Maje dan Kaur Selatan,
Kws. Maje dan Nasal
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

88

: Rp 29.923.825.000

10. PROVINSI LAMPUNG


TAHUN ANGGARAN : 2004 2012
KABUPATEN/KOTA : 8 Kabupaten
Kab. Lampung Tengah, Kab. Tanggamus, Kab. Lampung Timur,
Kab. Lampung Selatan, Kab. Tulang Bawang, Kab. Lampung Barat, Kab. Pesawaran,
Kab. Pringsewu
KAWASAN
: 10 kawasan
Kws. Terbagi Besar, Kws. Gisting, Kws. Sribawono, Kws. Jati Ayu, Kws. Ketapang,
Kws. Sidomulyo, Kws. Mesuji Atas, Kec. Batu Brak, Kws. Srikaton,
Kws. Padang Cermin-Punduh Pidada
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 26.507.265.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

89

11. PROVINSI BANTEN


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten
Kab. Pandeglang, Kab. Serang, Kab. Tangerang, Kab. Lebak
KAWASAN
: 10 kawasan
Kws. Menes, Kws. Mandalawangi, Kws. Pontang, Kws. Waringin Kurung,
Kws. Pabuaran, Kws. Baros, Kws. Gunung Sari, Kws. Sepatan, Kws. Kronjo,
Kws. Wanasalam
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

90

: Rp 23.544.204.000

12. PROVINSI JAWA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 13 Kabupaten
Kab. Cianjur, Kab. Indramayu, Kab. Kuningan, Kab. Bogor, Kab. Purwakarta,
Kab. Bandung, Kab. Garut, Kab. Ciamis, Kab. Sukabumi, Kabupaten Subang,
Kab. Majalengka, Kab. Cirebon, Kab. Karawang
KAWASAN
: 18 Kawasan
Kws. Pacet, Kws. Jatinyuat Karangsong, Kws. Eretan, Kws. Cigugur,
Kws. Leuwiliang, Kws. Ciseeng, Kws. Bojong, Kws. Pangalengan, Kws. Cisurupan,
Kws. Panumbangan, Kws. Kadudampit, Kws. Sukamaju, Kws. Ciemas,
Kws. Sagala Herang, Kws. Serang Panjang, Kws. Lemah Sugih, Kws. Losari,
Kws. Cilamaya
KEGIATAN FISIK
:

Holding Ground
Meeting
Green House

diameter 150 mm
Packing House
dan Kios Sayuran
Poros Desa
Pembawa Air Baku
Pembangunan Bak HU
diameter 75mm
Potensial Agropolitan
Hasil Panen
Desa Agropolitan
TOTAL ANGGARAN : Rp 44.143.921.000
AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

91

13. PROVINSI JAWA TENGAH


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 14 Kabupaten
Kab. Semarang, Kab. Pemalang, Kab. Wonosobo, Kab. Batang, Kab. Magelang,
Kab. Purbalingga, Kab. Karanganyar, Kab. Brebes, Kab. Boyolali, Kab. Banjarnegara,
Kab. Banyumas, Kab. Cilacap, Kab. Purworejo, Kab. Pekalongan
KAWASAN
: 14 Kawasan
Kws. Sumowono, Kws. Belik, Kws. Rojonoto, Kws. Surbanwali, Kws. Merapi Merbabu,
Kws. Larangan, Kws. Bunga Kondang, Kws. Sutomadansih, Kws. Goasebo, Kws. Beji,
Kws. Jayabaya, Kws. Bagelen, Kws. Majenang, Kws. Talang Kerido
KEGIATAN FISIK
:

Hasil Produksi
Hortikultura
Sub-Terminal Agribisnis
Hasil Produksi
Agropolitan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Sub-Terminal Agribisnis

92

Produksi Peternakan
Agropolitan Sub-Terminal Agropolitan
TOTAL ANGGARAN

: Rp 44.761.428.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

93

14. PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten
Kab. Kulon Progo, Kab. Sleman, Kab. Gunung Kidul, Kab. Bantul
KAWASAN
: 9 Kawasan
Kws. Kali Bawang, Kws. Temon, Kws. Turi, Kws. Karangmojo, Kws. Playen,
Kws. Bejiharjo, Kec. Girisobo Desa Baron, Kws. Imogiri, Kws. Gadingsari
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

94

: Rp 23.364.942.000

15. PROVINSI JAWA TIMUR


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 18 Kabupaten
Kab. Ngawi, Kab. Banyuwangi, Kab. Mojokerto, Kab. Lumajang, Kab. Tulungagung,
Kab. Bangkalan, Kab. Blitar, Kab. Pasuruan, Kab. Pacitan, Kab. Madiun,
Kab. Pamekasan, Kab. Ponorogo, Kab. Trenggalek, Kab. Nganjuk, Kab. Malang,
Kab. Lamongan, Kab. Tuban, Kab. Gresik
KAWASAN
: 21 Kawasan
Kws. Paron, Kws. Bangorejo, Kws. Muncar, Kws. Pacet, Kws. Senduro,
Kws. Sendang, Kws. Soburbang, Kws. Kanigoro, Kws. Nglegok, Kws. Tutur,
Kws. Nawangan Bandar Tamperan, Kws. Gedangsari, Kws. Pakong dan Waru,
Kws. Ngebel, Kws. Bendungan, Kws. Sukomoro, Kws. Wajak, Kws. Poncokusumo,
Kws. Ngimbang, Kws. Paseban, Kws. Sidayu
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 50.856.508.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

95

16. PROVINSI BALI


TAHUN ANGGARAN : 2002 2011
KABUPATEN/KOTA : 8 Kabupaten
Kab. Bangli, Kab. Gianyar, Kab. Tabanan, Kab. Jembrana, Kab. Buleleng,
Kab. Badung, Kab. Karang Asem, Kab. Klungkung
KAWASAN
: 8 Kawasan
Kws. Catur-Kintamani, Kws. Payangan, Kws. Baturiti, Kws. Melaya, Kws. Depeha,
Kws. Sibeta (Bebandem), Kws. Plaga, Kws. Nusa Penida
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

96

: Rp 26.033.993.000

17. PROVINSI KALIMANTAN BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 7 Kabupaten, 1 Kota
Kab. Sambas, Kab. Pontianak, Kab. Bengkayang, Kab. Sintang, Kab. Ketapang,
Kab. Singkawang, Kab. Kubu Raya, Kota Pontianak
KAWASAN
: 13 Kawasan
Kws. Sepinggan-Semparuk, Kws. Pontianak Utara, Kws. Sungai Kakap,
Kws. Sanggau Ledo, Kws. Rasau Jaya, Kws. Sei Tebelian, Kws. Matan Hilir Selatan,
Kws. Pangmilang, Kws. Rasau Jaya, Kws. Sungai Rengas, Kws. Jawai Selatan,
Kws. Semparuk, Kws. Matan Hilir Sel. Pasaguan
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 36.054.280.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

97

18. PROVINSI KALIMANTAN TENGAH


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 8 Kabupaten
Kab. Kapuas, Kab. Barito Timur, Kab. Sukamara, Kab. Kotawaringin Barat,
Kab. Seruyan, Kab. Kotawaringin Timur, Kab. Pulau Pisau, Kab. Katingan
KAWASAN
: 10 kawasan
Kws. Basarang, Kws. Dusun Tengah, Kws. Pangkalan Lada, Kws. Jelai,
Kws. Seruyan Hilir, Kec. Teluk Sampit, Desa Sei Bakau, Desa Sebuai,
Kec. Teluk Sampit, Kec. Katingan Kuala
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

98

: Rp 32.328.302.000

19. PROVINSI KALIMANTAN TIMUR


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Kutai Timur, Kab. Bulungan, Kab. Pasir, Kab. Paser Utara, Kab. Malinau,
Kab. Berau
KAWASAN
: 7 Kawasan
Kws. Sangatta, Kws. Pasopati, Kws. Padang Pangrapat,
Kws. Penajam, Kws. Rantau Pulung, Kws. Kaliamok, Kws. Sabitta
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 30.979.285.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

99

20. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Hulu Sungai Tengah, Kab. Barito Kuala, Kab. Tanah Laut,
Kab. Hulu Sungai Utara, Kab. Banjar, Kab. Tabalong
KAWASAN
: 6 Kawasan
Kws. Labuhan Amas Utara, Kws. Terantang, Kws. Pelaihari, Kws. Amuntal,
Kws. Cindai Alus, Kws. Tanjung
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

100

: Rp 28.264.359.000

21. PROVINSI GORONTALO


TAHUN ANGGARAN : 2002 2011
KABUPATEN/KOTA : 5 Kabupaten
Kab. Pohuwato, Kab. Boalemo, Kab. Gorontalo, Kab. Bone Bolango,
Kab. Gorontalo Utara
KAWASAN
: 7 Kawasan
Kws. Randangan, Kws. Bongo Nol, Kws. Pulubala, Kws. Kabila, Kws. Tumbilato,
Kws. Kwandang, Kws. Anggrek
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 22.216.288.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

101

22. PROVINSI SULAWESI TENGGARA


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Kendari, Kab. Bombana, Kab. Muna, Kab. Buton, Kab. Konawe Selatan,
Kab. Kolaka
KAWASAN
: 7 Kawasan
Kws. Bondoala, Kws. Lantari, Kws. Kabangka, Kws. Lasalimu Selatan,
Kws. Tinanggea, Kws. Lalembuu, Kws. Wolo
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

102

: Rp 37.952.671.000

23. PROVINSI SULAWESI TENGAH


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 7 Kabupaten
Kab. Donggala, Kab. Parigi Moutong, Kab. Banggai, Kab. Toli-Toli,
Kab. Tojo Una-Una, Kab. Poso, Kab. Morowali
KAWASAN
: 10 Kawasan
Kws. Biromaru, Kws. Labean, Kws. Bolano Lambunu, Kws. Kasimbar,
Desa Kasimbar, Kws. Tolli, Kws. Galang, Kws. Wakai, Kws. Napu, Kws. Witaponda
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 26.758.966.708

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

103

24. PROVINSI SULAWESI BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2006 2012
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten
Kab. Polewali Mandar, Kab. Mamuju Utara, Kab. Majene, Kab. Mamuju
KAWASAN
: 4 Kawasan
Kws. Matakali, Kws. Pasang Kayu, Kws. Sendana, Kws. PPI Bonda
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

104

: Rp 13.880.635.000

25. PROVINSI SULAWESI SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 14 Kabupaten
Kab. Barru, Kab. Enrekang, Kab. Soppeng, Kab. Tana Toraja, Kab. Bulukumba,
Kab. Selayar, Kab. Bone, Kab. Sidrap, Kab. Gowa, Kab. Luwu Timur, Kab. Jeneponto,
Kab. Pangkep, Kab. Sinjai, Kab. Luwu
KAWASAN
: 14 Kawasan
Kws. Barru, Kws. Maiwa, Kws. Lajoa, Kws. Rindingallo, Kws. Gantarang,
Kws. Bontomanai, Kws. Pasaka, Kws. Alakuang, Kws. Bontonompo,
Kws. Malili, Kws. Kelara Rumbia, Kws. Labakkang, Kws. Sinjai Timur, Kws. Belopa
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 32.209.238.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

105

26. PROVINSI SULAWESI UTARA


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 9 Kabupaten
Kab. Minahasa Selatan, Kab. Minahasa, Kab. Sangihe, Kab. Minahasa Utara,
Kab. Bolaang Mongondow, Kab. Tomohon, Kab. Bolaang Mongondow Utara,
Kab. Bitung, Kab. Bolaang Mongondow Timur
KAWASAN
: 15 Kawasan
Kws. Modoinding, Kws. Tengasinonsayang, Kws. Ngasaan, Kws. Tatapaan,
Kws. Pakakaan, Kws. Dagho, Kws. Tabukan Selatan, Kws. Klabat, Kws. Managabata,
Kws. Dumoga, Kec. Lolayan, Kws. Tomohon, Kws. Bolaang Mongondow Utara,
Kws. Mondayag, Kws. PPN Bitung
KEGIATAN FISIK
:
Packing House

Green House

Terpadu
Jalan Poros Desa
Jalan Usaha Tani
Sub-Terminal Agribisnis
Nelayan
Ternak
(Perkerasan Telford)
Packing House Ikan Air Tawar

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 40.568.188.000

106

27. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 7 Kabupaten
Kab. Dompu, Kab. Lombok Timur, Kab. Sumbawa, Kab. Lombok Tengah,
Kab. Lombok Barat, Kab. Sumbawa Barat, Kab. Bima
KAWASAN
: 10 Kawasan
Kws. Agropolitan Manggelewa, Kws. Agropolitan Sikur, Kws. Agropolitan Alas Utan,
Kws. Agropolitan Aik Meneng, Kws. Pekat, Kws. Lembah Sempage Akar-akar Kuripan,
Kws. Sembalun, Kws. Keruwak Jerowaru, Kws. Kemuter Telu, Kws. Woha
KEGIATAN FISIK
:

Packing House

TOTAL ANGGARAN

: Rp 30.267.798.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

107

28. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Kupang, Kab. Manggarai, Kab. Bellu, Kab. Sumba Timur, Kab. Sikka,
Kab. Sumba Barat
KAWASAN
: 7 Kawasan
Kws. Oesao, Kws. Iteng, Kws. Betun, Kws. Koba Lima, Kws. Kambaniru,
Kws. Pesisir Sikka, Kws. Lamboya
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

108

: Rp 28.500.087.000

29. PROVINSI MALUKU


TAHUN ANGGARAN : 2004 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Seram Bagian Barat, Kab. Maluku Tenggara Barat, Kab. Buru,
Kab. Buru Selatan, Kab. Seram Bagian Timur, Kab. Ambon
KAWASAN
: 5 Kawasan

KEGIATAN FISIK

TOTAL ANGGARAN

: Rp 27.183.007.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

109

30. PROVINSI MALUKU UTARA


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 5 Kabupaten, 1 kota
Kab. Halmahera Barat, Kab. Halmahera Tengah, Kab. Halmahera Utara,
Kab. Halmahera Timur, Kab. Halmahera Selatan, Kota Ternate
KAWASAN
: 7 Kawasan
Kws. Sahu, Kws. Wairoro, Kws. Toliwang, Kws. Wasile, Kws. Mekar Sari,
Kws. Manggayoang, Kws. PPN Ternate
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

110

: Rp 24.643.845.000

31. PROVINSI PAPUA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2005 2011
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten
KAWASAN

: 4 Kawasan

KEGIATAN FISIK

TOTAL ANGGARAN

: Rp 17.979.965.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

111

32. PROVINSI PAPUA


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten, 1 Kota
Kab. Jayapura, Kab. Nabire, Kab. Yapen, Kab. Waropen, Kota Jayapura
KAWASAN
: 5 Kawasan
Kws. Grime Sekori, Kws. Wanggar, Kws. Distrik Kosiwo, Kws. Distrik Waropen,
Kws. Koya Distrik Muara Tami
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

112

: Rp 25.186.334.000

Peningkatan jalan
poros desa Kawasan
Agropolitan Kobalima,
Kab. Belu, NTT

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

113

Pencapaian Dukungan Infrastruktur


Pengembangan Kawasan Minapolitan
Tahun Anggaran 2005 2011
1. PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
TAHUN ANGGARAN : 2008 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Aceh Selatan
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kawasan Kluet, Kawasan Idie
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 6.605.933.000

2. PROVINSI SUMATERA UTARA


TAHUN ANGGARAN : 2008 2010
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kabupaten Serdang Berdagai
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Tanjung Beringin
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Hasil, Sorotasi, dan Packaging Ikan

114

TOTAL ANGGARAN

: Rp 4.903.613.000

3. PROVINSI SUMATERA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2009 2010
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Pesisir Selatan
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Mandeh
KEGIATAN FISIK
:
TOTAL ANGGARAN

: Rp 1.080.000.000

4. PROVINSI RIAU
TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Kampar, Kab. Kuantan Senggigi
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kawasan XIII Koto Kampar, Kawasan Teso Benai
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 4.477.788.000
AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

115

5. PROVINSI KEPULAUAN RIAU


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Bintan
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Mantang
KEGIATAN FISIK
:
TOTAL ANGGARAN

: Rp 3.032.222.000

6. PROVINSI JAMBI
TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Batang Hari, Kab. Muaro Jambi
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kawasan Pemayung, Kawasan Kumpeh Ulu
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

116

: Rp 6.849.475.000

7. PROVINSI BENGKULU
TAHUN ANGGARAN : 2010 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Kaur
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Nasal
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 1.922.300.000

8. PROVINSI SUMATERA SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2008 2010
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Ogan Ilir, Kab. Palembang
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kawasan Bakung, Kawasan Gandus
KEGIATAN FISIK
:
TOTAL ANGGARAN

: Rp 5.130.255.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

117

9. PROVINSI BANGKA BELITUNG


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Bangka, Kab. Bangka Selatan
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kawasan Sungai Liat, Kawasan Salepliat
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 3.662.688.000

10. PROVINSI LAMPUNG


TAHUN ANGGARAN : 2009
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Lampung Selatan
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Ketapang
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

118

: Rp 515.000.000

11. PROVINSI BANTEN


TAHUN ANGGARAN : 2019 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Serang
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kawasan Pontang, Kawasan Pabuaran
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 4.459.495.000

12. PROVINSI JAWA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2005 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Bogor, Kab. Sukabumi
KAWASAN
: 3 Kawasan
Kawasan Leuwiliang, Kawasan Ciseeng, Kawasan Pelabuhan
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 8.272.361.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

119

13. PROVINSI JAWA TENGAH


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Banyumas, Kab. Cilacap
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kawasan Beji, Kawasan Majenang
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 4.695.000.000

14. PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


TAHUN ANGGARAN : 2009
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Gunung Kidul
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Playen
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

120

: Rp 601.000.000

15. PROVINSI JAWA TIMUR


TAHUN ANGGARAN : 2010 2011
KABUPATEN/KOTA : 3 Kabupaten
Kab. Malang, Kab. Blitar, Kab. Pacitan
KAWASAN
: 3 Kawasan
Kawasan Wajak, Kawasan Nglegok, Kawasan PPI Tamperang
KEGIATAN FISIK
:
TOTAL ANGGARAN

: Rp 4.607.270.000

16. PROVINSI KALIMANTAN BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Sambas
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Jawal
KEGIATAN FISIK
:
TOTAL ANGGARAN

: Rp 2.865.190.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

121

17. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Pulang Pisau, Kab. Banjar
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kawasan Teluk Gohong, Kawasan Cindai Alus
KEGIATAN FISIK
:
TOTAL ANGGARAN

: Rp 7.486.632.000

18. PROVINSI KALIMANTAN TIMUR


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Malinau
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Kaliamok
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

122

: Rp 8.210.305.000

19. PROVINSI SULAWESI UTARA


TAHUN ANGGARAN : 2006 2011
KABUPATEN/KOTA : 3 Kabupaten
Kab. MInahasa Utara, Kab. Minahasa Selatan, Kab. Sangihe
KAWASAN
: 3 Kawasan
Kws. Klabat, Kws. Managabata, Kws. Tatapaan, Kws. Tabukan Selatan
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 13.549.749.000

20. PROVINSI GORONTALO


TAHUN ANGGARAN : 2010 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Gorontalo Utara
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Anggrek
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 1.602.718.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

123

21. PROVINSI SULAWESI TENGAH


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Tojo Una-Una, Kab. Donggala
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kawasan Wakai, Kawasan Labean
KEGIATAN FISIK
:
TOTAL ANGGARAN

: Rp 2.000.036.000

22. PROVINSI SULAWESI BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Mamuju
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Bonda
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

124

: Rp 1.000.000.000

23. PROVINSI SULAWESI TENGGARA


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Kolaka, Kab. Konawe Selatan
KAWASAN
: 3 Kawasan
Kawasan Wolo, Kawasan Tinanggea
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 7.417.402.000

24. PROVINSI SULAWESI SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2010 2011
KABUPATEN/KOTA : 3 Kabupaten
Kab. Luwu Timur, Kab. Gowa, Kab. Pangkep
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kws. Malili (Minapolitan), Kws. Bontonompo, Kws. Pangkajene
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 6.945.070.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

125

25. PROVINSI BALI


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Klungkung
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Nusa Penida
KEGIATAN FISIK
:
TOTAL ANGGARAN

: Rp 3.500.000.000

26. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Bima, Kab. Lombok Timur
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kws. Woha, Kws. Keruak Jerowaru
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

126

: Rp 5.766.375.000

27. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Sikka, Kab. Belu
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kawasan Pesisir Sikka, Kawasan Koba Lima
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 4.309.402.000

28. PROVINSI PAPUA


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Waropen, Kab. Jayapura
KAWASAN
: 2 Kawasan
Kws. Distrik Waropen Bawah, Kws. Distrik Muara Tami
KEGIATAN FISIK
:

TOTAL ANGGARAN

: Rp 5.959.655.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

127

29. PROVINSI PAPUA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Raja Ampat
KAWASAN
: 1 Kawasan
Kawasan Selat Segawin
KEGIATAN FISIK
:

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN

128

: Rp 4.643.654.000

Peningkatan jalan
poros desa Kawasan
Minapolitan Cilacap,
Jawa Tengah

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

129

Daftar Pustaka:
t
t
t
t

:VEIPIVTPEP 4JTXPOP -BQPSBO)JNQVOBO,FSVLVOBO5BOJ*OEPOFTJB 


Selayang Pandang Kawasan Agropolitan Bagelan Kabupaten Purworejo
Kawasan Agropolitan, Kementerian Pertanian, 2002.
Kawasan Minapolitan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2006.

Daftar Istilah :

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

130

APBD
APBN
DPRD
DTW
FAO
KKP
KWT
MoU
Perda
Pokja
PPN
RDTR
31)
RPIJM
RPJMD
RTRW
RTRWN
SDM
STA
SUPAS
SRI
51)
TPI
Tupoksi
UNEP
WPP
;&&

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

:
:
:
:
:
:
:
:

:
:
:
:


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah


Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Daerah Tujuan Wisata
Food and Agriculture Organization
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Kelompok Wanita Tani
Memorandum of Understanding
Peraturan Daerah
Kelompok Kerja
Pelabuhan Perikanan Nusantara
Rencana Detil tata Ruang
3VNBI1FNPUPOHBO)FXBO
Rencana Program Investasi Jangka Menengah
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Rencana Tata Ruang Wilayah
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Sumber Daya Manusia
Sub Terminal Agribisnis
Survei Penduduk Antarsensus
System Rice Intensification
5FNQBU1FOHVNQVMBO)BTJM
Tempat Pelelangan Ikan
Tugas pokok dan fungsi
United Nations Environment Program
Wilayah Pengembangan Parsial
;POB&LPOPNJ&LTMVTJG