Anda di halaman 1dari 115

BIDANG TATA RUANG

DINAS PEKERJAAN UMUM


PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN i
KATA PENGANTAR

LAPORAN PENDAHULUAN ini merupakan salah satu hasil dari Kegiatan Penyusunan Rencana
Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Sungai Penuh yang dilaksanakan dibawah koordinasi Dinas
Pekerjaan Umum Kota Sungai Penuh.
LAPORAN PENDAHULUAN ini berisikan Pendahuluan, Dinamika Perkembangan Penataan
Ruang, Kebijakan Pembangunan, Gambaran Umum Wilayah Perencanaan, Metodologi dan
Pendekatan, Rencana Kerja, serta Organisasi Pelaksanaan dan Uraian Tugas.
Semoga LAPORAN PENDAHULUAN ini dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan tahap
selanjutnya. Dan atas bantuan semua pihak kami ucapkan terima kasih.



Sungai Penuh, Oktober 2012


Tim Penyusun

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR I
DAFTAR ISI II
DAFTAR TABEL VI
DAFTAR GAMBAR VII
BAB I PENDAHULUAN I-1
1.1 LATAR BELAKANG I-1
1.2 MAKSUD, TUJUAN, DAN SASARAN I-2
1.3 RUANG LINGKUP I-2
1.3.1 RUANG LINGKUP WILAYAH I-2
1.3.2 RUANG LINGKUP MATERI I-2
1.4 DASAR HUKUM I-3
1.5 METODOLOGI I-6
1.6 SISTEMATIKA I-8
BAB II DINAMIKA PERKEMBANGAN PENATAAN RUANG DALAM PENYUSUNAN RDTR II-1
2.1 PEMAHAMAN DASAR-DASAR PERENCANAAN KOTA II-1
2.1.1 PEMAHAMAN DASAR-DASAR PERENCANAAN KOTA II-1
2.1.2 PARADIGMA PENATAAN RUANG DI INDONESIA PASCA UU 26 TAHUN 2007 II-4
2.1.3 HIRARKI DAN JENIS RENCANA TATA RUANG II-8
2.1.4 RDTR DALAM KERANGKA PENATAAN RUANG DI INDONESIA II-10
2.2 KEBERADAAN RDTR DALAM RANGKAIAN PELAKSANAAN PENATAAN RUANG II-11
2.2.1 KEDUDUKAN RDTR DALAM KERANGKA PENATAAN RUANG DI INDONESIA II-11
2.2.1.1 Persyaratan RDTR II-12
2.2.1.2 Muatan RDTR II-13
2.2.1.3 Format RDTR II-14
2.2.1.4 Masa Berlaku RDTR II-14
2.2.2 PENYUSUNAN RDTR DAN PERATURAN ZONASI II-14
2.2.2.1 RDTR dan Proses Penyusunannya II-14
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN iii
2.2.2.2 Penyusunan Peraturan Zonasi Sebagai Instrument Pengendalian Dan
Pemanfaatan Ruang II-16
2.2.2.3 Kedudukan Peraturan Zonasi Dalam Kerangka Proses Penyusunan
Rencana Tata Ruang II-18
2.2.2.4 Kedudukan Peraturan Zonasi Dalam Kerangka Proses Pemanfaatan
Ruang Dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang II-19
2.2.2.5 Kedudukan Peraturan Zonasi Dalam Kerangka Perangkat
Pengendalian II-20
2.2.2.6 Pertimbangan Mitigasi Bencana dalam Pengembangan Kawasan
Perkotaan II-23
BAB III KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KOTA SUNGAI PENUH III-1
3.1 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH KOTA SUNGAI PENUH TAHUN 2005 2025
(PERDA NO 6 TAHUN 2012) III-1
3.2 RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SUNGAI PENUH (PERDA NO.5/2012) III-2
3.2.1 TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG KOTA SUNGAI PENUH III-2
3.2.2 STRUKTUR RUANG KOTA SUNGAI PENUH III-6
3.2.3 POLA RUANG KOTA SUNGAI PENUH III-7
3.2.3.1 Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung III-7
3.2.3.2 Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya III-8
BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN IV-1
4.1 GAMBARAN UMUM KOTA SUNGAI PENUH IV-1
4.1.1 ADMINSTRASI DAN LETAK GEOGRAFIS IV-1
4.1.2 KONDISI FISIK DASAR IV-5
4.1.2.1 Kondisi Fisiografis IV-5
4.1.2.2 Kondisi Topografi IV-5
4.1.2.3 Klimatologi IV-6
4.1.2.4 Jenis Tanah IV-6
4.1.2.5 Hidrologi IV-6
4.1.2.6 Kebencanaan IV-7
4.1.3 PENGGUNAAN LAHAN KOTA IV-9
4.1.4 KEPENDUDUKAN IV-12
4.1.4.1 Jumlah dan Karakteristik Penduduk IV-12
4.1.4.2 Sosial Budaya Masyarakat IV-14
4.1.5 PEREKONOMIAN KOTA IV-14

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN iv
4.2 GAMBARAN UMUM KECAMATAN SUNGAI PENUH IV-17
4.2.1 KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASIF IV-17
4.2.2 KARAKTERISTIK KEPENDUDUKAN IV-19
4.2.3 PENGGUNAAN LAHAN IV-20
4.2.4 POTENSI PENGEMBANGAN KOTA IV-22
4.2.4.1 Perkembangan Kawasan Terbangun IV-22
4.2.4.2 Keberadaan Pusat-Pusat Kegiatan Kota IV-22
4.2.4.3 Potensi Lansekap Kota IV-23
4.2.4.4 Keberadaan Bangunan Bersejarah IV-24
BAB V METODOLOGI DAN PENDEKATAN V-1
5.1 PENDEKATAN PENYUSUNAN RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) V-1
5.2 METODOLOGI TEKNIS V-5
5.2.1 PENDEKATAN DAN METODOLOGI DALAM PROSES IDENTIFIKASI AWAL DAN PENDATAAN V-5
5.2.1.1 Pendekatan Studi Dokumenter dalam Identifikasi dan Kajian Materi
Pekerjaan V-5
5.2.1.2 Metode Survey V-5
5.2.1.3 Metode Observasi V-9
5.2.1.4 Metode Survey Blok V-9
5.2.1.5 Metode Wawancara V-12
5.2.1.6 Metode Survey Instansional V-12
5.2.1.7 Kebutuhan Data dan Peta V-12
5.2.2 PENDEKATAN DAN METODOLOGI DALAM PROSES ANALISIS PERENCANAAN V-15
5.2.2.1 Pendekatan Analisis Perencanaan V-15
5.2.2.2 Metode Analisis Perencanaan V-16
5.2.2.3 Metode Analisis Kependudukan V-19
5.2.3 PENDEKATAN DAN METODOLOGI DALAM PERUMUSAN KONSEP DAN PENYUSUNAN
RENCANA DETAIL TATA RUANG V-21
5.2.3.1 Pendekatan Preskriptif dalam Perumusan Konsep Pengembangan
Kawasan V-22
5.2.3.2 Pendekatan Interpretasi Kebutuhan Perencanaan V-22
5.2.4 BERBAGAI PENDEKATAN DAN METODE PENYUSUNAN RENCANA DETAIL LAINNYA V-24
5.2.4.1 Pendekatan Perencanaan Incremental-Strategis dan Strategis
Proaktif dalam Penyusunan RDTR dan Zoning Regulation Kawasan
Perkotaan V-24
5.2.4.2 Identifikasi Permasalahan Pembangunan dan Perwujudan Ruang
Kawasan V-26
5.2.4.3 Perkiraan Kebutuhan Pelaksanaan Pembangunan Kawasan V-28
5.2.4.4 Pendekatan Pelibatan Pelaku Pembangunan V-32
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN v
5.2.4.5 Metode Analisis SWOT V-33
BAB VI RENCANA PELAKSANAAN PEKERJAAN VI-1
6.1 TAHAPAN RENCANA KERJA VI-1
6.1.1 TAHAP PERSIAPAN VI-1
6.1.2 TAHAP SURVEI VI-1
6.1.3 TAHAP ANALISIS VI-2
6.1.4 TAHAP RANCANGAN RENCANA VI-2
6.1.5 TAHAP PENYUSUNAN RENCANA VI-3
6.2 WAKTU PELAKSANAAN KERJA VI-3
6.3 STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA PEKERJAAN VI-5
6.4 STRUKTUR ORGANISASI KONSULTAN VI-6
6.5 JADWAL PENUGASAN PERSONIL VI-7


BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN vi
DAFTAR TABEL
Tabel II-1 Tingkat Ketelitian Peta Rencana Sesuai Perundang-Undangan Peta Wilayah II-10
Tabel II-2 Prosedur Penyusunan Peraturan Zonasi II-20
Tabel II-3 Proses Penetapan Aturan Dalam Peraturan Zonasi II-21
Tabel IV-1 Luas Wilayah Kota Sungai Penuh dan Pembagian Daerah Administrasi
Menurut Kecamatan Tahun 2011 IV-3
Tabel IV-2 Ketinggian Kota Sungai Penuh IV-5
Tabel IV-3 Klasifikasi Lereng di Kota Sungai Penuh IV-5
Tabel IV-4 Jenis Tanah di Kota Sungai Penuh IV-6
Tabel IV-5 Susunan Batuan Kota Sungai Penuh IV-8
Tabel IV-6 Penggunaan Lahan Kota Sungai Penuh Tahun 2010 IV-10
Tabel IV-7 Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Sungai Penuh Tahun 2006 - 2010 IV-12
Tabel IV-8 Kepadatan Penduduk Kota Sungai Penuh Tahun 2010 IV-12
Tabel IV-9 Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur Kota Sungai Penuh Tahun 2009
- 2010 IV-13
Tabel IV-10 Penduduk Kota Sungai Penuh menurut Jenis Pekerjaan IV-14
Tabel IV-11 Luas Kecamatan Sungai Penuh Menurut Desa Tahun 2010 IV-17
Tabel IV-12 Jumlah Penduduk Kecamatan Sungai Penuh Tahun 2010 IV-19
Tabel IV-13 Kepadatan Penduduk di Kecamatan Sungai Penuh Menurut Desa IV-20
Tabel IV-14 Luas Penggunaan Lahan di Kecamatan Sungai Penuh Menurut Desa IV-21
Tabel V-1 Identifikasi Kebutuhan Data dalam Penyusunan RDTR V-6
Tabel V-2 Jenis Kegiatan Untuk Survey Blok Dalam Penyusunan RDTR Kecamatan
Sungai Penuh V-10
Tabel V-3 Daftar Kebutuhan Data Dalam Penyusunan RDTR Kecamatan Sungai Penuh V-13
Tabel V-4 Daftar Kebutuhan Peta Dalam Penyusunan RDTR Kecamatan Sungai Penuh V-15
Tabel VI-1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota
(RDTR) dan Peraturan Zonasi VI-4
Tabel VI-2 Jadwal Penugasan Personil VI-7


BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar II-1 Pembagian Kewenangan dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang II-7
Gambar II-2 Jenis dan Hirarki Produk Rencana berdasarkan UU No 26 Tahun 2007 II-9
Gambar II-3 Komposisi Muatan Rencana Tata Ruang II-11
Gambar II-4 Kerangka Penyusunan Peraturan Zonasi II-18
Gambar II-5 Kedudukan Peraturan Zonasi dalam Kerangka Proses Penyusunan Rencana
Tata Ruang II-19
Gambar II-6 Kedudukan Peraturan Zonasi Dalam Kerangka Perangkat Pengendalian II-20
Gambar II-7 Contoh Zoning Regulation dan Zoning Text Dalam Penyusunan Rencana
Detail Tata Ruang (RDTR) II-22
Gambar II-8 Upaya Mitigasi Bencana Alam Secara Menyeluruh II-23
Gambar IV-1 Peta Administrasi Kota Sungai Penuh IV-4
Gambar IV-2 Peta Penggunaan Lahan Eksisting Kota Sungai Penuh IV-11
Gambar IV-3 Piramida Penduduk Kota Sungai Penuh IV-13
Gambar IV-4 Peta Administrasi Kecamatan Sungai Penuh IV-18
Gambar V-1 Kerangka Pendekatan Penyusunan RDTR Kecamatan Sungai Penuh V-4
Gambar V-2 Keterlibatan Pelaku Pembangunan Dalam Penyusunan Rencana V-32
Gambar V-3 Matriks SWOT Analysis V-34
Gambar VI-1 Struktur Organisasi Proyek VI-5




BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang
Dalam rangka tercapainya pemenuhan kebutuhan masyarakat secara layak sesuai dengan
standar kebutuhan yang semestinya maka upaya yang ditempuh pemerintah berupa
pembangunan. Perkembangan penduduk suatu kota mempengaruhi kondisi internal kota
didalamnya. Perkembangan ini disebabkan oleh pertambahan penduduk yang tinggi
sedangkan lahan perkotaan terbatas. Kegiatan kota yang tinggi memerlukan suatu sarana dan
prasarana yang baik termasuk didalamnya utilitas dan perumahan. Apabila perkembangan
kota tidak didukung oleh pembangunan baik secara fisik maupun non fisik, maka
perkembangan kota ini akan tidak sehat dan akan membawa konsekuensi negatif pada
perkembangan kota.
Upaya untuk mengkoordinasikan pembangunan sektoral di daerah yang selama ini telah
dilakukan dalam bentuk pemanfaatan rencana tata ruang, dapat diamati masih belum mantap.
Hal ini terutama dikaitkan dengan keberadaan rencana tata ruang belum merupakan suatu
kesatuan dengan pola dasar pembangunan daerah, baik dari segi substansinya maupun
landasan perundangannya.
Dengan adanya kondisi pembangunan di Kota Sungai Penuh yang masih kurang berkembang,
untuk mengantisipasi dan diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah kota yang timbul,
maka perlu adanya rencana penataan ruang kota yang bersifat umum, detail maupun teknis.
Untuk mengantisipasi perkembangan ke depan, terutama dengan adanya Undang-undang
Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai pengganti Undang-undang Nomor 24
Tahun 1992, diperlukan peninjauan kembali terhadap produk rencana tata ruang yang sudah
ada.
Rencana Detail Tata Ruang juga merupakan rencana yang menetapkan blok-blok peruntukkan
pada kawasan fungsional perkotaan, sebagai penjabaran kegiatan kedalam wujud ruang,
dengan memperhatikan keterkaitan antara kegiatan dalam kawasan fungsional, agar tercipta
lingkungan yang harmonis antara kegiatan utama dan kegiatan penunjang dalam kawasan
fungsional tersebut.


BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN I-2
1.2 Maksud, Tujuan, dan Sasaran
Tujuan dari Penyusunan RDTR Kota Sungai Penuh adalah :
- Sebagai arahan bagi masyarakat dalam pengisian pembangunan fisik kawasan,
- Sebagai pedoman bagi instansi dalam menyusun zonasi, dan pemberian perijinan
kesesuaian pemanfaatan bangunan dengan peruntukan lahan.
Sasaran dari Penyusunan RDTR Kota Sungai Penuh adalah :
- Menciptakan keselarasan, keserasian, keseimbangan antar lingkungan permukiman
dalam kawasan.
- Mewujudkan keterpaduan program pembangunan antar kawasan maupun dalam
kawasan.
- Terkendalinya pebangunan kawasan strategis dan fungsi kota, baik yang dilakukan
pemerintah maupun masyarakat/swasta
- Mendorong investasi masyarakat di dalam kawasan.
- Terkoordinasinya pembangunan kawasan antara pemerintah dan masyarakat/swasta.

1.3 Ruang Lingkup

1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah
Letak Geografis Kota Sungai Penuh antara 101
0
14' 32'' BT sampai dengan 101
0
27' 31'' BT dan
02
0
01' 40'' LS sampai dengan 02
0
14' 54'' LS. Dengan luas keseluruhan 39.150 ha, Secara
administrasi batasan wilayah Kota Sungai Penuh sebagai berikut :
- Sebelah Utara : Kecamatan Depati Tujuh Kabupaten Kerinci.
- Sebelah Selatan : Kecamatan Sitinjau Laut, dan Kecamatan Keliling Danau Kabupaten
Kerinci.
- Sebelah Barat : Kab. Pesisir dan Kab. Mukomuko.
- Sebelah Timur : Kecamatan Air Hangat Timur.
Kota Sungai Penuh terdiri dari lima kecamatan.

1.3.2 Ruang Lingkup Materi
Muatan RDTR kawasan meliputi struktur dan sistematika tujuan dan sasaran pembangunan
kawasan perencanaan, perumusan kebijakan dan strategi pengembagnan kawasan, identifikasi
potensi dan masalah kawasan, analisis ruang makro dan mikro kawasan perumusan kebutuhan
pengembangan dan penataan ruang kawasan, perumusan rencana detail tata ruang kawasan,
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN I-3
perumusan dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang, sebagai mana digambarkan
dalam uraian berikut:
- Persiapan penyusunan RDTR
- Pengumpulan dan pengolahan data;
- Analisa kawasan perencanaan
- Perumusan dan ketentuan teknis rencana detail
- Pengendalian rencana detail
- Kelembagaan dan peran serta aktif masyarakat

1.4 Dasar Hukum
Dalam penyusunan RDTR Kota Sungai Penuh akan berlandaskan Undang-undang, peraturan
pemerintah, peraturan menteri maupun pada peraturan daerah Kota Sungai Penuh, landasan
tersebut terdiri dari :
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun
1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274).
2. Undang-Undang 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran negara Republik
Indonesia Tahun 1985 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3317).
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan
Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Nomor3419).
4. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Tahun
1990 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3427).
5. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3469).
6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran Negara
Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3470).
7. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478).
8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran
Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699).
9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
Pokok Agraria.
10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN I-4
13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
14. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Tahun
2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4377).
15. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional.
16. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 2004
Nomor 132, tambahan Lembaran Negara Nomor 4444).
17. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Tahun
1999 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3881).
18. Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1999
Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888).
19. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara (Lembaran Negara
Tahun 2003 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4169).
20. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan
Pelestarian Alam.
21. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Dampak Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838).
22. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk
Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran
Negara 3934).
23. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol (Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4489).
24. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan.
25. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal
di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3373).
26. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai.
27. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan.
28. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan
Lalu Lintas Jalan.
29. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak
dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang.
30. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.
31. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan
Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.
32. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan, dan Penggunaan Kawasan
Hutan.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN I-5
33. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan
Tanah.
34. Peraturan Pemeritah Republik Indonesia Nomor 60 tahun 2009 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan.
35. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol.
36. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi.
37. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan.
38. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman
Pengelolaan Kawasan Perkotaan.
39. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional.
40. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang.
41. Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005 tentang Pengelolaan Tanah bagi Pelaksanaan
Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
42. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
43. Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1991 tentang Penggunaan Tanah bagi Kawasan
Industri.
44. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2008 tentang Kawasan Jabodetabekpunjur.
45. Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 2001 tentang Tata Cara Pengawasan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
46. Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang
Pertanahan.
47. Keputusan Presiden Nomor 4 tahun 2009 tentang Koordinasi Penataan Ruang Nasional.
48. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha
dan/atau kegiatan yang wajib di lengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan
hidup.
49. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 174 Tahun 2004 tentang Pedoman Koordinasi
Penataan Ruang Daerah.
50. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Prasyarat
Teknis Bangunan Gedung.
51. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Perencanaan
Kawasan Perkotaan.
52. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 5 Tahun 2008 tentang Pedoman Ruang Terbuka
Hijau di Perkotaan.
53. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 20 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi.
54. Standar Nasional Indonesia Nomor 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan
Lingkungan Perumahan di Perkotaan.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN I-6
55. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Sungai
Penuh.
56. Peraturan Daerah No 6 Tahun 2012 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah Kota Sungai Penuh.
57. Peraturan Daerah No 12 Tahun 2012 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah Kota Sungai Penuh.

1.5 Metodologi
Metodologi penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Sungai Penuh
dilakukan dalam 4 tahap yaitu pendahuluan/persiapan, pemahaman terhadap kondisi wilayah
perencanaan dan kedalaman materi analisa keruangan dan sistem kegiatan, serta perumusan
Rencana Detail Tata Ruang.
1. Tahap Persiapan
Tujuan pada tahap ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi awal dan dan dapat
memberikan suatu potret awal dari wilayah perencanaan berdasarkan data-data yang
akan diperoleh. Beberapa langkah yang dilaksanakan dalam tahap pendahuluan/persiapan
ini adalah sebagai berikut:
Studi kepustakan untuk menentukan visi, misi, dan tujuan serta mengumpulkan
kebijaksanaan, strategi, rencana dan perogram yang terdapat dalam dokumen
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Sungai Penuh, serta dokumen lain yang berkaitan.
Inventarisir data primer dengan cara observasi ataupun wawancara dengan
masyarakat, juga pengumpulan data sekunder dengan melakukan survei instansional
untuk mengumpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan.
Melakukan kajian mengenai gambaran awal atas kondisi eksisting, yang terdiri atas
kondisi fisik, sosial, ekonomi dan prasarana dan sarana dasar, serta merumuskan
potensi dan permasalahan di wilayah studi yang terangkum dalam laporan
pendahuluan.
2. Tahap Identifikasi Wilayah Perencanaan
Pada tahap ini, sasaran utamanya adalah mengidentifikasi karakteristik dari wilayah
perencanaan berdasarkan data-data yang diperoleh maupun hasil observasi lapangan.
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah sebagai berikut:
Studi kepustakaan untuk menentukan visi, misi, dan tujuan serta mengumpulkan
kebijaksanaan, strategi, rencana dan program yang terdapat dalam dokumen Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota Sungai Penuh, serta dokumen yang berkaitan.
Inventarisir data primer dengan cara observasi ataupun wawancara dengan
masyarakat, juga pengumpulan data sekunder dengan melakukan survey instansional
mengumpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN I-7
Merumuskan potensi, permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam
pembangunan di wilayah studi baik yang telah, sedang dan akan dilaksanakan.
Membuat kompilasi data atas kondisi eksisting kawasan perencanaan, yang terdiri atas
kondisi sumberdaya alam, manusia, buatan, kondisi kegiatan sosial dan ekonomi.
3. Tahap Analisa Keruangan dan Sistem Kegiatan
Tahap ini dimaksudkan untuk memahami kondisi ruang wilayah, dengan memperhatikan
kebijaksanaan yang ada. Analisa yang dilakukan meliputi analisis kondisi ekisting dan
kecenderungan di masa mendatang, dengan menggunakan data-data yang telah
dikumpulkan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah:
Analisis Kebijaksanaan Pembangunan Wilayah Kota Sungai Penuh
Analisis regional dan keterkaitan wilayah perencanaan dengan kawasan sekitarnya
Analisis perekonomian dan sistem kegiatan
Analisis sumberdaya, manusia dan buatan yang meliputi:
- Kondisi fisik geografis
- Kondisi kependudukan dan kualitas pendidikan
- Kondisi sarana dan prasarana wilayah perencanaan
Analisis pola penggunaan lahan yang meliputi:
- Kawasan budidaya
- Kawasan lindung
4. Tahap Perumusan Rencana dan Program
Pada tahap ini akan dilakasanakan kegiatan perumusan rencana kota yang disusun
berdasarkan hasil pengkajian pada tahap sebelumnya. Adapun muatan dari tahap
perumusan rencana dan program ini adalah:
1) Perumusan rencana struktur ruang atau struktur pelayanan, meliputi Rencana
Distribusi Penduduk Kawasan Perkotaan, Rencana Struktur Pelayanan Kegiatan
Kawasan Perkotaan, Rencana Sistem Jaringan Pergerakan, dan Rencana Sistem
Jaringan Utilitas.
2) Perumusan rencana alokasi pemanfaatan ruang, menggambarkan ukuran, fungsi serta
karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam, yang dituangkan dalam blok-blok
peruntukan, dengan memperhatikan pedoman yang ada yaitu pedoman pelaksanaan
pembangunan kawasan perkotaan, meliputi arahan kepadatan bangunan, arahan
ketinggian bangunan, arahan perpetakan bangunanm arahan garis sempadan, rencana
penanganan blok peruntukan, serta rencana penanganan prasarana dan sarana.
3) Perumusan rencana pengendalian pemanfaatan ruang, berupa kegiatan pengawasan
penertiban terhadap pemanfataan ruang berdasarkan mekanisme perijinan,
pemberian insentif dan disinsentif, pemberian kompensasi, mekanisme pelaporan,
mekanisme pemantauan, mekanisme evaluasi dan mekanisme pengenaan sanksi.

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN I-8
1.6 Sistematika
Laporan Pendahuluan merupakan laporan pertama dalam rangkaian pelaporan yang harus
disusun dalam pelaksanaan pekerjaan Penyusunan RDTR Kecamatan Sungai Penuh ini. Pada
dasarnya laporan pendahuluan berisi usulan metodologi pelaksanaan dan rencana
pelaksanaan pekerjaan ini. Laporan ini disusun dalam 5 (lima) bab dengan sistematika sebagai
berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab pendahuluan ini berisi tentang latar belakang pekerjaan, maksud, tujuan dan
sasaran serta ruang lingkup dari pelaksanaan pekerjaan Penyusunan RDTR
Kecamatan Sungai Penuh ini.
BAB 2 DINAMIKA PERKEMBANGAN PENATAAN RUANG DALAM PENYUSUNAN RDTR
Bab ini berisi uraian tentang pengertian perencanaan ruang dengan segala
tingkatannya, serta kedudukan dari RDTR dalam system perencanaan ruang yang
berlaku saat ini.
BAB 3 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KOTA SUNGAI PENUH
Bab ini berisi uaraian tentang kajian kebijakan dalam penyusunan tata ruang Kota
Sungai Penuh
BAB 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN
Bab ini berisi uaraian tentang kajian gambaran umum wilayah Kota Sungai Penuh dan
kawasan perencanaan Kecamatan Sungai Penuh.
BAB 5 METODOLOGI DAN PENDEKATAN
Bab ini berisi usulan pendekatan serta metodologi yang akan digunakan dalam
pelaksanan pekerjaan ini. Diuraikan pula rencana metodologi teknis yang dapat
digunakan untuk melakukan analisis pada setiap aspek yang terkait dalam proses
penyusunan RDTR ini.
BAB 6 RENCANA PELAKSANAAN PEKERJAAN
Bab ini berisi usulan rencana pelaksanaan pekerjaan yang meliputi rencana tahapan
pelaksanaan, rencana jadwal pelaksanaan, usulan tenaga ahli dan struktur organisasi
pelaksanaan pekerjaan.

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-1
BAB II DINAMIKA PERKEMBANGAN
PENATAAN RUANG DALAM
PENYUSUNAN RDTR



2.1 PEMAHAMAN DASAR-DASAR PERENCANAAN KOTA

2.1.1 Pemahaman Dasar-Dasar Perencanaan Kota
Bagian berikut akan membahas landasan teoritis mengenai kawasan perkotaan itu sendiri.
Pengertian kota dapat ditinjau dari beberapa lingkup yaitu :
1. Secara Geografis : Kota adalah suatu wilayah dengan wilayah terbangun (built up area)
yang lebih padat dibandingkan dengan wilayah sekitarnya. Secara geografis kota berlokasi
pada suatu lokasi strategis.
2. Secara Fisik: Kota merupakan suatu wilayah yang didominasi oleh struktur binaan (man
made structure).
3. Secara demografis: Kota adalah wilayah dimana terdapat konsentrasi penduduk yang
jumlah dan tingkat kepadatannya lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya.
4. Secara Statistis: Kota merupakan suatu wilayah yang besaran atau ukuran penduduknya
sesuai dengan batasan atau ukuran kriteria kependudukan kota.
5. Secara Sosial : Kota merupakan suatu wilayah di mana terdapat kelompok kelompok sosial
masyarakat yang bersifat beragam (heterogen) - tradisional-modern; formal - informal;
maju terbelakang.
6. Secara Ekonomi : Kota adalah suatu wilayah di mana terdapat kegiatan usaha masyarakat
yang sangat beragam (heterogen) dengan dominasi sektor kegiatan non pertanian atau
sektor kegiatan primer seperti perdagangan, industri, pelayanan jasa, perkantoran ,
perangkutan dll. Pada kehidupan kota terdapoat suatu sirkulasi dan mobilitas finansial
yang tinggi baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
7. Secara Administratif : Kota merupakan suatu wilayah kewenangan pemerintahan yang
dibatasi oleh suatu garis batas kewenangan administrasi pemerintahan yang ditetapkan
berdasarkan Undang Undang.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-2
Perkembangan dan pertumbuhan kota pada dasarnya merupakan konsekwensi dari berbagai
perubahan sosial budaya, sosial ekonomi dan politik. Salah satu faktor yang sangat kuat
berpengaruh atas perkembangan kota adalah karena pertambahan penduduk, baik secara
alami maupun karena migrasi desa-kota dan perkembangan, perubahan kegiatan usaha dan
kehidupan penduduk kota tersebut. Keadaan ini mengakibatkan timbulnya berbagai
permasalahan di perkotaan, seperti meningkatnya kebutuhan akan fasilitas sarana dan
prasarana.
Enam tahapan Perkembangan Kota, meliputi :
Tahap I : Terjadinya pengelompokan (konsentrasi) manusia dengan berbagai kegiatan dan
mobilitasnya pada suatu lokasi geografis yang dapar memenuhi kebutuhan tempat
tinggal, berusaaha, bekerja terutama dalam sekotor agraris dan berkomunikasi ke
tempat lain. Tahapan pertama ini masih dalam skala lingkup yang terbatas disebut
sebagai Eopolis.
Tahap II : Terjadinya pengelompokan manusia yang semakin padat dalam proporsi jumlah
penduduk dengan ruang. Kegiatan usaha dan kerja sudah lebih berorientasi kepada
kegiatan non agraris seperti perdagangan (pertukaran), pengolahan bahan baku
menjadi barang pakai, kegiatan pertukaran dan kegiatan pasar yang semakin luas,
perhubungan antar lokasi konsentrasi manusia dengan berbagai kegiatan dan
pertukaran alat tukar (finansial) yang semakin intensif. Fenomena tahapan kedua
ini disebut sebagai Polis
Tahap III : Terjadinya peningkatan fungsi dan kemampuan kota untuk semakin menempatkan
atau menanpung manusia dari berbagai kegiatan fungsional telah membuka
hubungan bahkan hubungan kesaling bergantungan antara suatu polis (kota) induk
dengan wilayah, kota kota lain atau desa desa lain yang berada di dalam wilayah
sekitarnya. Dengan demikian akan terjadi suatu formasi kota induk (mother city)
dengan konurbasi dari kota kota kecil atau menengah yang berada di dalam wilayah
di sekitar kota induk. Dalam keadaan ini suatu kota induk bukan merupakan suatu
kota parasitik yang berkembang sendiri dengan dukungan wilayah sekitarnya tetapi
akan saling memiliki kepentingan yang saling menunjang (mutual dependency).
Terjadilah suatu kota Metropolis dengan Wilayah Metropolitannya
Tahap IV : Dominasi dari beberapa kota metropolis yang masing masih sudah membentuk
suatu wilayah metropolitan menyebabkan semakin luasnya hubungan fungsional
maupun demografis antara wilayah metropolitan dari suatu metropolis dengan
wilayah wilayah metropolitan dengan metropolis metropolis lainnya. Maka akan
terjadi suatu koalisi antara beberapa wilayah metropolitan dengan metropolisnya
dalam suatu kesatuan yang sangat besar melewati batas wilayah kewenangan
daerah. Kejadian ini disebabkan oleh karena hubungan kepentingan sosial, ekonomi
maupun fisik dari suatu wilayah mtropolitan yang satu dengan wilayah wilayah
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-3
metropolitan lainnya. Maka terjadilah suatu wilayah yang secara masif tumbuh
berkembang sebagai suatu wilayah terbangun. Dengan demikian akan terjadi suatu
formasi wilayah metropolitan induk dalam suatu kolusi (coalescence) dengan
wilayah metropolitan lainnya yang berbatasan langsung. Dalam keadaan ini ada
kalanya suatu wilayah metropolitan mengingat semakin besarnya peran yang harus
ditanggung akan menjadi wilayah parasitik dari wilayah metropolitan tetangganya
atau akan mendjadi suatu wilayah koalitif yang saling menunjang. Terjadilah suatu
kota raksasa yang disebut sebagai Megalopolis dengan wilayah megalopolitannya.
Tahap V : Terjadinya suatu kota besar yang sangat ditentukan oleh pertimbangan kapitalisme.
Kota merupakan suatu pusat kewenangan ekoniomi dan politik sehingga
kesemuanya kekuatan yang ada dalam kota besar hanyalah untuk kepentingan
pengembangan ekonomi dan kekuasaan pemerintahan. Peran kota dalam hal
perekonomian dan penguasaan pemerintah demikian besarnya sehingg pranan
kota akan ditentukan oleh kekuatan kekuatan ekonomi (pemodal) dan penguasa
pemerintahan (politik). Terjadilah suatu kota raksasa yang diatur secara tunggal
oleh kekuiatan politik pemerintahan yang berkoalisi dengan pemodal untuk
memperoleh kekuatan ekonomi. Saat ini kota raksasa ini dikatakan sebagai Kota
Tirani (Tyrannopolis).
Tahap VI : Terjadinya suatu kota besar yang sudah mencapai keadaan limit penunjang
kebutuhan kehidupannya sehingga kota kota raksasa ini akan kehilangan
kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berbagai kelengkapan kota
mengalami degradasi secara besar besaran dalam mencari nafkah, memenuhi
kebutuhan fasilitas, dan utilitas umum. Untuk memperoleh kebutuhannya
penduduk kota tidak akan segan segan untuk memperebutkannya dengan berbagai
cara apapun. Baik pemerintah kota maupun penduduknya akan berbuat anarkis
untuk memenuhi kebutuhannya atau mengatur kotanya. Kepemntingan
pemenuhan kebutuhan individual akan menentukan pola kehidupan kota. Survival
akan ditetukan oleh kekuatan fisik kelompok atau individu. Pada saat ini suatu kota
akan menjadi suatu kota yang penuh anarki. Kota pada tahapan ini disebut sebagai
Nekropolis atau Anarkopolis.
Ruang kota yang berkualitas terbentuk dari beberapa elemen rancang kota. Menurut Shirvani
(1985) elemen ini merupakan komponen-komponen yang dapat diatur dalam perancangan
kota, yaitu :
a. Tata guna lahan, kebijakan tata guna lahan berkaitan dengan menentukan fungsi-fungsi
yang sesuai untuk kawasan tertentu. Modifikasi pola tata guna lahan dapat meningkatkan
ragam kegiatan pada lingkungan binaan. Penetapan guna lahan dan densitas
pembangunan pada kawasan memberikan kemungkinan karakter berbeda kawasan.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-4
b. Tata massa bangunan, berkaitan dengan konfigurasi dan raut massa bangunan. Peraturan
tentang massa bangunan mencakup hal-hal seperti ketinggian maksimum, sempadan, FAR,
material, langgam, tekstur dan koefisien bangunan.
c. Sirkulasi dan parkir, sirkulasi terkait dengan guna lahan pada kawasan. Sirkulasi
merupakan elemen pembentuk pola dan struktur lingkungan binaan. Sirkulasi mampu
memberi karakter dan pendukung aktivitas pada suatu kawasan tertentu. Kapasitas
pelayanan kawasan yang direncanakan berbanding lurus dengan rute pencapaian dan
ruang parkir.
d. Ruang terbuka, ruang terbuka dapat dikatakan sebagai unsur ruang alam yang dibawa ke
dalam kota. Korelasi massa membentuk derajat ketertutupan baik berupa linier maupun
node. Secara visual ruang terbuka memberikan persepsi visual dan orientasi penggunanya.
Ruang terbuka kota harus mempunyai keterkaitan dengan elemen lain suatu kota dan
kemudahan akses bagi semua warga kota. Ruang terbuka meliputi taman kota, ruang
terbuka hijau, dan elemen pendukung seperti vegetasi, bangku, kolam, kios, dan
sebagainya.
e. Jalur pejalan, jalur pejalan merupakan elemen yang aktraktif dan menyumbangkan
vitalitas sebuah kota. Pertimbangan dalam merancang jalur pejalan adalah faktor
kapasitas, keamanan dan kenyamanan baik fisik maupun psikis. Elemen perancangan jalur
pejalan meliputi tata vegetasi, sistem penanda, perabot jalan, material, dimensi,
perawatan, durabilitas dan fleksibilitas.
f. Kegiatan pendukung, aktivitas pendukung meliputi fungsi-fungsi yang dapat memperkuat
karakter ruang publik kota. Rancangan ruang urban harus mampu menarik orang dan
kegiatan yang beragam. Integrasi kegiatan indoor maupun outdoor merupakan salah satu
aspek perencanaan.
g. Penanda Kawasan, penanda kawasan dapat berupa informasi umum dan komersial. Aspek
perancangan penanda kawasan yang perlu diatur adalah dimensi dan tampilannya agar
tidak merusak tampilan kawasan secara keseluruhan

2.1.2 Paradigma Penataan Ruang di Indonesia Pasca UU 26 Tahun 2007
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 yang baru diberlakukan membawa perubahan yang
cukup signifikan dalam proses penataan ruang. Beberapa hal mendasar yang berubah antara
lain : matra laut dan ruang bawah tanah yang diatur dalam penataan ruang, hirarki dan
kedalaman rencana tata ruang, jangka waktu perencanaan hingga 20 tahun untuk semua
jenjang rencana, pengaturan pengendalian yang cukup jelas melalui zoning regulation, insentif
dan disisentif, pemberian sanksi hukum, dan sebagainya.
Berikut hal-hal menonjol yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 :
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-5
1. Penataan Ruang dibutuhkan untuk mewujudkan ruang Nusantara yang Aman, Nyaman,
Produktif dan Berkelanjutan.
2. Perwujudan Tujuan Penataan Ruang dilakukan dengan Strategi Umum seperti Penyiapan
Kerangka Strategis Pengembangan Penataan Ruang Nasional dan Strategi Khusus berupa
Penyiapan Peraturan Zonasi, Pemberian Insentif dan Disinsentif, Pengenaan Sanksi, dan
lain-lain.
3. Produk perencanaan tata ruang tidak hanya bersifat Administratif akan tetapi juga
mengatur perencanaan tata ruang yang bersifat Fungsional dan di klasifikasikan ke dalam
Rencana Umum dan Rencana Rinci Tata Ruang.
4. Penataan Ruang Wilayah Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/ Kota dilakukan secara
Berjenjang dan Komplementer sehingga saling melengkapi satu dengan yang lain,
bersinergi, dan tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dalam penyelenggaraannya.
5. Undang-undang Penataan Ruang telah mengakomodasi perkembangan lingkungan
strategis seperti pengaturan Ruang Terbuka Hijau (Rth) di Perkotaan dan Daerah Aliran
Sungai (DAS), Standar Pelayanan Minimal (SPM), integrasi penataan ruang Darat, Laut,
dan Udara, Pengendalian Pemanfaatan Ruang, Penataan Ruang Kawasan Perkotaan dan
Perdesaan, dan Aspek Pelestarial Lingkungan Hidup.
6. Untuk menjamin pelaksanaan UU Penataan Ruang yang tertib dan konsisten telah diatur
Ketentuan Peralihan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), dan Kelembagaan Penataan
Ruang.
Dengan telah diakomodasikannya berbagai isu strategis penataan ruang di dalam UU Penataan
Ruang, diharapkan nantinya penyelenggaraan penataan ruang dapat lebih berdayaguna dan
berhasilguna.
Strategi Umum dan Strategi Impelementasi Penyelenggaraan Penataan Ruang
Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang
aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan
Ketahanan Nasional dengan :
a. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
b. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam dan sumberdaya
buatan dengan memperhatikan sumberdaya manusia; dan
c. Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaaatan ruang.
Strategi Umum
a) Menyelenggarakan penataan ruang wilayah nasional secara komprehensif, holistik,
terkoordinasi, terpadu, efektif dan efisien dengan memperhatikan faktor-faktor politik,
ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan kelestarian lingkungan hidup
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-6
b) Memperjelas pembagian wewenang antara Pemerintah, pemerintah provinsi, dan
pemerintah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan penataan ruang
c) Memberikan perhatian besar kepada aspek lingkungan/ekosistem
d) Memberikan penekanan kepada aspek pengendalian pemanfaatan ruang
Strategi Implementasi
a) Penerapan prinsip-prinsip komplementaritas dalam rencana struktur ruang dan
rencana pola ruang RTRW Kabupaten/Kota dan RTRW Provinsi.
b) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) harus dapat dijadikan acuan pembangunan,
sehingga RTRW harus memuat arah pemanfaatan ruang wilayah yang berisi indikasi
program utama jangka menengah lima tahunan.
c) Pemanfaatan ruang harus mampu mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang
berkelanjutan dan tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang.
d) Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan peraturan zonasi,
perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, dan pengenaan sanksi.
e) Penegakan hukum yang ketat dan konsisten untuk mewujudkan tertib tata ruang.
Penyelenggaraan Penataan Ruang
Pembagian Kewenangan yang lebih Jelas antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang diatur dalam Undang-
Undang Nomor 26 Tahun 2007, sebagaimana terlihat pada skema berikut :

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-7

Gambar II-1 Pembagian Kewenangan dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-8
2.1.3 Hirarki dan Jenis Rencana Tata Ruang
Sehubungan dengan tingkat kepentingan dan lingkup strategi permasalahannya, maka rencana
tata ruang disusun secara bertahap dan dalam jenjang cakupan yang berurutan. Secara
sistematis jenjang cakupan rencana ini dimulai dari lingkup yang lebih luas dan substansinya
menyeluruh hingga ke jenjang cakupannya semakin terinci (detailed). Semakin kecil cakupan
wilayahnya, maka rencana tersebut semakin terinci dan semakin tertuju kepada segi fisik yang
lebih nyata.
Pada awalnya penyusunan rencana kota di Indonesia telah diatur melalui Permendagri No. 2
Tahun 1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota. Mengingat peraturan perundang-
undangan yang telah ada belum dapat menampung tuntutan perkembangan pembangunan,
maka Pemerintah mengeluarkan Undang-undang No. 24 Tahun 1992 mengenai Penataan
Ruang. Tata ruang yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah wujud struktural dan
pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak. Mengacu pada UU No 24 Tahun
1992, jenis rencana tata ruang dibedakan menurut hirarki adminstrasi pemerintahan, fungsi
wilayah serta kawasan, dan kedalaman rencana. UU No. 26 Tahun 2007 membawa perubahan
yang cukup signifikan terhadap produk rencana tata ruang, yaitu bukan hanya berdasar pada
wilayah administrasi saja, tetapi dapat didasarkan pada fungsional dari suatu kawasan.
Setiap tingkatan rencana tata ruang tersebut memiliki cakupan wilayah perencanaan yang
berbeda dengan maksud yang berbeda pula.. Dengan berlakunya UU No. 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang, maka acuan penataan ruang di Indonesia haruslah mengikuti UU No.
26 Tahun 2007. Dalam setiap proses perumusannya, rencana tata ruang kota tersebut selalu
mengacu kepada kebijakan-kebijakan lain yang secara luas terkait dalam suatu struktur
kebijakan pembangunan, yang dimulai dari kebijakan skala nasional, regional hingga kebijakan
pembangunan kota itu sendiri.
Substansi rencana tata ruang biasanya dibedakan dari yang sangat makro sampai ke sangat
rinci. Pada masa Undang-Undang Penataan Ruang No. 24 tahun 1992 maupun UU No. 26
Tahun 2007, judul tidak mencerminkan substansi. Pada masa sebelum Undang-Undang No. 24
tahun 1992 maupun UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, judul baik dari RTR
tingkat wilayah dan RTR di tingkat kawasan, judul jenis RTR sangat mencerminkan substansi
atau isi.
Tingkat kedalaman pengamatan atau skala rencana sangat dipengaruhi oleh isi dan produk dari
setiap jenis RTR. Pada skala mana isi dan produk tersebut dapat diamati dasar-dasar
penyusunannya di lapangan dan kemudian dapat ditampilkan dengan baik agar manfaatnya
dapat tercapai.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-9
Gambar II-2 Jenis dan Hirarki Produk Rencana berdasarkan UU No 26 Tahun 2007

Di dalam penjelasan UU Penataan Ruang No. 24/1992 pasal 19 maupun UU No. 26 Tahun 2007
tingkat ketelitian rencana disesuaikan dengan perundang-undangan yang mengatur peta
wilayah. Namun demikian tingkat dalam penjelasan pasal 19 ini adalah tingkat ketelitian
dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tingkat ketelitian yang dimaksud/diminta adalah
tingkat ketelitian minimal. Pengertian minimal ini untuk skala peta dikandung arti bahwa suatu
rencana tata ruang dapat digambarkan dalam peta wilayah berskala yang lebih besar.







BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-10
Tabel II-1 Tingkat Ketelitian Peta Rencana Sesuai Perundang-Undangan Peta Wilayah
Pra UUPR No.24/1992
UUPR No.24/1992
UUPR No.26/2007
Jenis/Jenjang Skala Peta Jenis/Jenjang Skala Peta (Minimal)
SNPPTR 1 : 1.000.000 RTRW Nasional 1 : 1.000.000
RSTRP 1 : 250.000 RTRW Provinsi 1 : 250.000
RUTRD 1 : 1.000/50.000 RTRW kab/kot 1 : 1.000/ 50.000
RUTR Perkotaan 1 : 50.000 RTR-K perkotaan
RTR-K pedesaan, RTR Rinci
RUTRK 1 : 10.000
RDTRK 1 : 5.000
RTRK 1: 1.000

2.1.4 RDTR Dalam Kerangka Penataan Ruang di Indonesia
Perkembangan suatu kota atau wilayah, pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari ruang.
Ruang ini menjadi suatu wadah atau tempat bagi berlangsungnya aktivitas kehidupan manusia
dan makhluk hidup lainnya (pasal 1 ayat 1 UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang),
yang berarti pula tempat terjadinya segala pembangunan dan perkembangan suatu kota.
Terkait dengan hal ini, untuk menciptakan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan
berkelanjutan diperlukan suatu proses penataan ruang yang pada intinya merujuk pada suatu
sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan
ruang (pasal 1 ayat 1 UU No. 26 Tahun 2007). Dalam UU No. 26 Tahun 2007 sebagai pengganti
UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, proses penataan ruang ini merupakan bagian
dari proses pelaksanaan1. Proses ini berlaku untuk semua wilayah, baik dalam lingkup
nasional, regional, maupun lokal.
Proses perencanaan tata ruang itu sendiri sebagai bagian dari pelaksanaan penataan ruang,
pada dasarnya, dilakukan dengan mengikuti berbagai ketentuan atau tata cara minimum yang
berlaku untuk mendapatkan kualitas produk rencana tata ruang yang bagus. Adapun
ketentuan atau tata cara minimum dalam penyusunan rencana detail tata ruang tersebut
diatur dalam Permen Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota. Terkait dengan pekerjaan
Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Sungai Penuh Kota Sungai Penuh.
Pemahaman mengenai produk rencana tata ruang beserta proses dan prosedur
penyusunannya menjadi suatu yang penting, karena nantinya menjadi dasar dalam
penyusunan RDTR kawasan di lokasi yang menjadi salah satu keluaran dalam rangkaian
pekerjaan ini.

1
Dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, proses penyelenggaraan penataan ruang meliputi
pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang. Dalam proses pelaksanaan meliputi
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang yang sebelumnya adalah menjadi
domain dari penataan ruang itu sendiri.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-11
2.2 Keberadaan RDTR dalam Rangkaian Pelaksanaan Penataan Ruang
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, keberadaan UU No. 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang, telah membawa perubahan baru dalam penyelenggaraan penataan ruang di
Indonesia. Salah satunya terkait dengan pengadaan RDTR sebagai suatu bentuk rencana rinci
tata ruang. Dalam sudut pandang ini, RDTR pada dasarnya diselenggarakan pada tingkat
daerah (kabupaten/kota) yang ada akhirnya ditetapkan dalam suatu dokumen peraturan
daerah.
Keberadaan kegiatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Sungai
Penuh ini pada intinya merupakan suatu bentuk kegiatan yang dibiayai dan dilaksanakan oleh
Pemerintah Kota Sungai Penuh untuk mewujudkan rencana detail tata ruang yang mendukung
terciptanya kawasan strategis maupun kawasan fungsional secara aman, produktif, dan
berkelanjutan. Sebagai bagian dari suatu proses bantek, kegiatan penyusunan RDTR dalam
rangkaian kegiatan ini harus memperhatikan 3 hal, yaitu adanya pembangunan kesadaran
aparat/pelaku pembangunan daerah, fasilitasi kegiatan, dan inisiasi tindak lanjut.

2.2.1 Kedudukan RDTR dalam Kerangka Penataan Ruang di Indonesia
Dalam UU No. 26 Tahun 2007 ini, perencanaan tata ruang merupakan suatu proses untuk
menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana
tata ruang. Proses perencanaan tata ruang salah satunya menghasilkan produk yang disebut
sebagai rencana tata ruang, yang pada intinya memuat mengenai struktur ruang dan pola
ruang. Kebutuhan mengenai perwujudan struktur ruang dan pola ruang tersebut berbeda-
beda sesuai dengan tingkat rencana tata ruang. Terkait dengan hal tersebut, saat ini dikenal 2
(dua) kelompok rencana tata ruang, meliputi rencana umum dan rencana rinci. Rencana
umum pada dasarnya memuat mengenai kebijakan umum dari penataan ruang suatu wilayah
atau kawasan, sedangkan rencana rinci adalah penjabaran operasionalisasi dari rencana umum
yang dalam pelaksanaannya tetap memperhatikan aspirasi masyarakat (penjelasan pasal 14
ayat 1 (b)).
RENCANA TATA
RUANG KAWASAN
RENCANA DETAIL
Pengaturan Struktur
Pemanfaatan Ruang
Pengaturan Pola
Pemanfaatan Ruang

Sumber : Keputusan Menteri Kimpraswil No. 327/KPTS/M/2002
Gambar II-3 Komposisi Muatan Rencana Tata Ruang
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-12
Di dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang juga memuat mengenai arahan
pengendalian pemanfaatan ruang sebagai suatu bentuk perwujudan tertib tata ruang (Pasal 1
ayat 15). Arahan pengendalian tersebut diwujudkan dalam berbagai instrumen pengendalian
yang minimal terdiri atas arahan peraturan zonasi (zoning regulation), arahan perizinan,
arahan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi. Arahan perturan zonasi ini nantinya
menjadi pertimbangan dalam penyusunan dokumen peraturan zonasi yang diturunkan dari
dokumen RDTR Kecamatan Sungai Penuh Kota Sungai Penuh.

2.2.1.1 Persyaratan RDTR
Rencana Detail Tata Ruang Kota adalah rencana yang disusun dan ditetapkan Pemerintah
Daerah dengan prasyarat perencanaan sebagai berikut :
1. RDTR disusun menurut bagian wilayah kota yang telah ditetapkan fungsi kawasannya
dalam struktur ruang RTRW Kota.
2. RDTR dapat ditentukan menurut kawasan yang mempunyai nilai sebagai kawasan yang
perlu percepatan pembangunan, pengendalian pembangunan, mitigasi bencana, dan
lainya.
3. RDTR mempunyai wilayah perencanaan mencakup sebagian atau seluruh kawasan
tertentu yang terdiri dari beberapa unit lingkungan perencanaan, yang telah terbangunan
ataupun yang akan dibangun.
4. RDTR mempunyai skala perencanaan 1: 5000 atau lebih besar sesuai dengan kebutuhan
tingkat kerincian dan peruntukan perencanaannya.
5. RDTR merupakan salah satu pedoman pembangunan daerah yang memiliki kekuatan
hukum berupa Peraturan Daerah (Perda)
6. RDTR ini dilakukan dengan memeriksa kesesuaian semua rencana dan ketentuan sektoral
baik horizontal, vertikal, diagonal seperti UU, PP, Kepres, Kepmen, Perda, KepGub, KepWal
atau KepBup, SKB, NSPM dan pedoman-pedoman yang menunjang termasuk produk pra
desain serta desain kegiatan sektoral tersebut.
7. RDTR merupakan pedoman berkekuatan hukum yang merupakan arahan pembangunan
daerah untuk :
a. Perijinan pemanfaatan ruang
b. Perijinan letak bangunan dan bukan bangunan,
c. Kapasitas dan intensitas bangunan dan bukan bangunan
d. Penyusunan zonasi
e. Pelaksanaan program pembangunan
Menetapkan dan mengoperasionalisasikan Rencana Detail Tata Ruang Kota, perlu
mempertimbangkan beberapa aspek kebutuhan pembangunan daerah, baik untuk
kepentingan ekonomi, sosial, budaya, politik dan lingkungan. Oleh karena itu RDTR merupakan
perwujudan Kegiatan yang membentuk suatu kawasan kedalam ruang, yang terukur baik
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-13
memenuhi aspek ekonomi, sosial, budaya, keamanan, kenyamanan, keserasian dan
keterpaduan, serta berkesinambangan. Dengan memperhatikan keterkaitan antar kegiatan,
yaitu tercipta lingkungan yang harmonis antara kegiatan utama, kegiatan penunjang serta
pelengkapnya dalam suatu kawasan.

2.2.1.2 Muatan RDTR
Struktur dan sistematika Rencana Detail Tata Ruang Kota memuat langkah-langkah penentuan
tujuan dan sasaran pembangunan kawasan perencanaan, perumusan kebijakan dan strategi
pengembangan kawasan, identifikasi potensi dan masalah kawasan, analisis ruang makro dan
mikro kawasan, perumusan kebutuhan pengembangan dan penataan ruang kawasan,
perumusan rencana detail tata ruang kawasan, pengaturan ketentuan amlop ruang, dan
ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang, sebagaimana digambarkan dalam uraian berikut.
1. Persiapanan penyusunan RDTR;
2. Pengumpulan dan pengolahan data;
a. Inventarisasi
b. Elaborasi
3. Analisa kawasan perencanaan
a. Analisa struktur kawasan perencanaan
b. Analisa peruntukan blok rencana
c. Analisa prasarana transportasi
d. Analisa Fasilitas Umum
e. Analisa utilitas umum
f. Analisa amplop ruang
g. Analisa kelembagaan dan peran serta masyarakat
4. Perumusan dan ketentuan teknis rencana detail
h. Konsep rencana
i. Produk rencana detail tata ruang
Rencana struktur ruang kawasan
Rencana peruntukan blok
Rencana penataan bangunan dan lingkungan (amplop ruang)
Indikasi Program pembangunan
Legalisasi rencana detail tata ruang
5. Pengendalian rencana detail
j. Tujuan
k. Komponen pengendalian
Zonasi
Aturan insentif dan dis insentif
Perijinan dalam pemanfaatan ruang
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-14
Pengendalian Pemanfaatan Ruang Melalui Pengawasan
6. Kelembagaan dan peran serta aktif masyarakat :
l. Peran kelembagaan,
m. Peran serta masyarakat

2.2.1.3 Format RDTR
Format Rencana Detail Tata Ruang Kota mempertimbangkan faktor ekonomis dan kebutuhan
pembangunan daerah, untuk itu pengaturan skala perencanaan adalah :
1. Produk RDTR mempunyai skala perencanaan 1: 5.000
2. Sedangkan kegiatan yang memerlukan pendetailan yang lebih rinci, kegiatan analisis
dibuat dalam peta kerja 1:1.000., atau sebaliknya pada fungsi ruang yang ektensif
(pertanian, perkebunan, kehutanan) skala peta dapat lebih kecil 1:25.000
3. Format peta analisis sekurang-kurang skala 1:5000, untuk lingkungan yang lebih detail
dibuat dalam skala 1:1000.
4. Peta dasar dapat menggunakan sumber hasil foto udara, citra satelit, disarankan setiap
daerah telah memiliki foto udara pada kawasan perkotaan, kawasan cepat tumbuh, dan
kawasan strategis kota.
5. Format laporan disajikan dalam buku berukuran A-4, terkecuali pada laporan akhir dalam
format A-3, dengan album peta A-1(full color).
6. Dokumen RDTR merupakan bagian dari rencana wilayah, yang ditetapkan serendahnya
melalui Keputusan kepala daerah.

2.2.1.4 Masa Berlaku RDTR
Rencana Detail Tata Ruang Kota dilaksanakan dalam rentang waktu 20 (dua puluh) tahun, atau
sesuai dengan masa berlaku Rencana Tata Ruang Wilayah, dan ditinjau kembali setiap 5 (lima)
tahun.

2.2.2 Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi
2.2.2.1 RDTR dan Proses Penyusunannya
Berdasarkan Permen Pekerjaan Umum No. 20/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota, RDTR (Rencana Detail Tata
Ruang) pada dasarnya merupakan penjabaran dari rencana umum tata ruang. Dalam RDTR ini
memuat mengenai :
Rencana pemanfaatan ruang bagian wilayah kabupaten/kota secara rinci;
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-15
Penetapan blok-blok peruntukan pada kawasan fungsional sebagai suatu bentuk
penjabaran kegiatan dalam wujud ruang;
Program pembangunan yang lebih rinci sebagai penjabaran dari indikasi program
dalam rencana umum.
Sebagai suatu pendetailan dari suatu rencana umum, maka segala bentuk kebijakan spasial
dalam RDTR dan peraturan zonasi ini dituangkan dalam skala peta yang lebih besar yaitu skala
1: 5.000 atau lebih. Secara khusus RDTR dan peraturan zonasi berfungsi untuk:
Kendali mutu pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota berdasarkan RTRW;
Acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari kegiatan pemanfaatan
ruang yang diatur dalam RTRW;
Acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang;
Acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang; dan
Acuan dalam penyusunan RTBL.
Sedangkan manfaat RDTR dan peraturan zonasi yaitu sebagai:
Penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaan fungsi dan lingkungan
permukiman dengan karakteristik tertentu;
Alat operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan pengawasan pelaksanaan
pembangunan fisik kabupaten/kota yang dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah, swasta dan/atau masyarakat;
Ketentuan intensitas pemanfaatan ruang untuk setiap bagian wilayah sesuai dengan
fungsinya dalam struktur ruang kabupaten/kota secara keseluruhan; dan
Ketentuan bagi penetapan kawasan yang diprioritaskan untuk disusun program
pengembangan kawasan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya pada tingkat BWP
atau Sub BWP.
Berdasarkan Permen Pekerjaan Umum No. 20/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota, masing-masing dokumen
rencana telah dijelaskan muatan minimal yang harus tercakup. Untuk dokumen RDTR dan
perturan zonasi muatan minimalnya adalah sebagai berikut :
Tujuan penataan Bagian Wilayah Perkotaan (BWP);
Rencana Pola Ruang yang terdiri dari rencana zona lindung dan zona budidaya;
Rencana Jaringan Prasarana yang meliputi; rencana pengembangan jaringan
pergerakan, jaringan energi/kelistrikan, jaringan telekomunikasi, jaringan air minum,
jaringan drainase, jaringan air limbah dan pengembangan prasarana lainnya.
Penetapan SUB BWP yagn diprioritaskan penanganannya;
Ketentuan pemanfaatan ruang; dan
Peraturan zonasi
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-16
Terkait dengan keberadaan UU Penataan Ruang yang terbaru yaitu UU No. 26 Tahun 2007,
dalam proses penyusunan rencana tata ruang termasuk didalamnya penyusunan RDTR perlu
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1. Sinkronisasi rencana tata ruang, dimana dalam hal ini semua dokumen rencana yang
disusun harus terintegrasi satu sama. Selain itu, sinkronisasi juga dilakukan terhadap
kegiatan penataan ruang lainnya meliputi sikronisasi dengan pengaturan, pembinaan, dan
pengawasan penataan ruang.
2. Pemanfaatan media tayang dalam penataan ruang, dimana diarahkan sebagai suatu upaya
sosialisasi terhadap dokumen penataan ruang yang sudah ada. Dengan media tayang yang
menarik dan informatif diharapkan ada suatu pemahaman yang lebih baik terkait dengan
perencanaan tata ruang yang dilakukan tersebut.
3. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang, dimana diarahkan sebagai suatu bentuk
perwujudan tertib tata ruang. Arah pengendalian pemanfaatan ruang tersebut menjadi
penting terkait dengan banyaknya penyimpangan terhadap dokumen perencanaan yang
telah disusun. Arahan pengendalian tersebut dapat berupa pengaturan zonasi, aturan
insentif dan disinsentif, aturan sanksi, dan aturan perizinan.

2.2.2.2 Penyusunan Peraturan Zonasi Sebagai Instrument Pengendalian Dan Pemanfaatan
Ruang
Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan UU no. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, masing-masing Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyusun
Rencana Tata Ruang Kawasan Kota/Perkotaan. Untuk dapat mengefektifkan pelaksanaannya,
diperlukan suatu Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) sebagai alat operasional
rencana tata ruang. Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang ditetapkan berdasarkan kondisi
kawasan kota/perkotaan yang direncanakan. Semakin besar dan semakin kompleks kondisi
kota, semakin beragam jenis-jenis zona yang harus diatur.
Di beberapa negara maju, istilah Aturan Pola Pemanfaatan Ruang dikenal dengan berbagai
istilah seperti land development, zoning code, zoning regulation, zoning resolution, urban
code, planning act dan lain sebagainya. Pengertian dasar istilah-istilah ini adalah sama, yaitu
mengatur ketentuan-ketentuan teknis tentang pembangunan kota. Adapun Peraturan Zonasi
(Zoning regulation) di negara-negara berkembang diprioritaskan terutama untuk kawasan yang
memiliki trend perkembangan relatif tinggi.
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang memiliki tujuan sebagai berikut:
Mengatur keseimbangan keserasian pemanfaatan ruang dan menentukan program
tindak operasional pemanfaatan ruang atas suatu satuan ruang;
Melindungi kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat;
Meminimumkan dampak pembangunan yang merugikan;
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-17
Memudahkan pengambilan keputusan secara tidak memihak dan berhasil guna serta
mendorong partisipasi masyarakat (pengendalian pemanfaatan ruang : pengaturan
perijinan).
Untuk melengkapi standar dan acuan/pedoman penataan ruang maupun sebagai bahan
rujukan kegiatan perencanaan tata ruang, Direktorat Penataan Ruang Nasional Ditjen
Penataan Ruang Departemen Kimpraswil mengeluarkan pedoman Penyusunan ATURAN POLA
RUANG (ZONING REGULATION) KAWASAN PERKOTAAN yang diterbitkan pada bulan April
2003.
Dalam kaitan dengan pengelolaan lahan, kedudukan aturan ini juga menjadi acuan dalam
pengembangan lahan atau land development. Pihak yang akan melaksanakan pengembangan
lahan harus menjabarkan kegiatannya sesuai dengan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang di
kawasan yang akan menjadi lokasi pengembangan lahannya. Demikian pula sebaliknya,
instansi yang berwenang dalam memberikan perijinan akan menggunakan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang ini sebagai dasar pemberian ijin.
Masyarakat dan stakeholder lain dapat berpartisipasi dalam seluruh mekanisme pengaturan
zoning :
Tahap penyusunan aturan : penyediaan data/informasi, pemberian masukan/saran
Pemanfaatan aturan : menerapkan aturan zoning dan memelihara lingkungan
berdasarkan aturan zoning
Pengendalian aturan : partisipasi menegakkan transparansi penerapan aturan zoning dengan
cara pengawasan, memberikan koreksi atau tanggapan terhadap pemanfaatan ruang yang
menyimpang dari aturan yang ditetapkan oleh daerah.
Institusi yang terkait dalam penyusunan dan penerapan Aturan Pola Ruang adalah instansi dan
pihak yang terkait dengan pelaksanaan pembangunan kota, yaitu :
DPRD sebagai institusi yang terkait dalam pengesahan aturan menjadi Peraturan
Daerah
BAPEDA
Kantor atau Dnas Pertanahan
Dinas PU atau Dinas Kimpraswil atau Dinas Tarkim
Dinas Tata Kota
Dinas Pertanian
Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Dinas Bangunan
Dinas Pertamanan
BUMN/BUMD dan Swasta : PT TELKOM, PLN, PDAM, PN GAS, Operator Telekomunikasi
Seluler
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-18
Pihak-pihak yang menggeluti masalah pelaksanaan pembangunan fisik kota, yaitu Organisasi
Masyarakat, Perguruan Tinggi, Organisasi Profesi.

2.2.2.3 Kedudukan Peraturan Zonasi Dalam Kerangka Proses Penyusunan Rencana Tata
Ruang
Terkait dengan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Sungai Penuh, dan
sebagai bagian dari suatu proses penataan ruang, keberadaan Peraturan Zonasi tidak dapat
dipisahkan dari suatu kerangka kebijakan penataan ruang. Berdasarkan Konsep Dasar Panduan
Penyusunan Peraturan Zonasi Wilayah Perkotaan, keberadaan Peraturan Zonasi ini dalam
kerangka kebijakan tersebut dapat dilihat dari 3 sudut pandang, yaitu dalam kaitannya dengan
proses penyusunan Rencana Tata Ruang, dalam proses pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang, serta dalam kerangka perangkat pengendalian pembangunan.
Dalam kerangka proses penyusunan Rencana Tata Ruang, Peraturan Zonasi merupakan bentuk
pengaturan lebih lanjut mengenai pemanfaatan ruang sebagaimana yang telah diatur dalam
RTRW Kota dan untuk melengkapi aturan pembangunan pada penetapan penggunaan lahan
yang telah ditetapkan dalam RDTRK. Terkait dengan hal ini, maka Peraturan Zonasi menjadi
suatu rujukan dalam penyusunan rencana yang lebih rinci dari RDTRK seperti Rencana Teknik
Ruang Kawasan (RTRK), atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Secara skematik,
kerangka proses penyusunan Peraturan Zonasi ini dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar II-4 Kerangka Penyusunan Peraturan Zonasi
Sumber : Konsep Dasar Panduan Penyusunan Peraturan Zonasi Wilayah Perkotaan


BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-19
2.2.2.4 Kedudukan Peraturan Zonasi Dalam Kerangka Proses Pemanfaatan Ruang Dan
Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Dalam kerangka proses pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang, Peraturan
Zonasi ini menjadi suatu panduan rinci mengenai pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang sebagaimana diatur dalam RTRW Kota. Walaupun merupakan penjabaran
dari RTRW Kota, dalam kaitannya dengan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan
ruang, Peraturan Zonasi ini perlu dipahami sebagai sesuatu yang berbeda dari RDTRK. Adapun
perbedaan antara keduanya adalah :
Peraturan Zonasi memiliki tingkat ketelitian yang sama dengan RDTRK namun
mengatur lebih rinci dan lebih lengkap
RDTRK merupakan salah satu jenjang rencana tata ruang kota yang memuat mengenai
arahan perencanaan ruang, sedangkan Peraturan Zonasi merupakan salah satu
perangkat pengendalian pemanfaatan ruang yang memuat ketentuan teknis dan
administratif pemanfaatan ruang dan pengembangan tapak
Peraturan Zonasi lebih diarahkan untuk melengkapi aturan pemanfaatan ruang dalam
RDTRK yang telah ditetapkan
Peraturan Zonasi ini dalam kaitannya dengan kerangka proses pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang menjadi rujukan perijinan, pengawasan, dan
penertiban dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Selain itu, Peraturan Zonasi ini
menjadi landasan untuk manajemen lahan dan pengembangan tapak. Secara
diagramatis kedudukan Peraturan Zonasi dalam kerangka pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar II-5 Kedudukan Peraturan Zonasi dalam Kerangka Proses Penyusunan Rencana Tata
Ruang

Sumber : Konsep Dasar Panduan Penyusunan Peraturan Zonasi Wilayah Perkotaan
Kegiatan
Intensitas
Tata Masa Bangunan
Sarana dan Prasarana
Indikasi Program
Manajemen Lahan
(Kawasan)
Land Development
(persil ; blok ; sektor)
Undang-Undang
Manajemen Lahan
Peraturan, Perijinan,
Pengawasan, Penertiban,
Kelembagaan
Peraturan Zonasi
- Peraturan dan Peta
- Kelembagaan dan Administrasi
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-20
2.2.2.5 Kedudukan Peraturan Zonasi Dalam Kerangka Perangkat Pengendalian
Dalam kerangka perangkat pengendalian pembangunan, sebagaimana telah dijelaskan di atas,
Peraturan Zonasi ini merupakan salah satu dari sekian banyak perangkat pengendalian yang
ada, terutama yang terkait dengan proses perizinan. Peraturan Zonasi menjadi salah satu dasar
rujukan dalam memeriksa kesesuaian pemohonan ijin. Peraturan Zonasi ini bukan sesuatu
yang tunggal, didalamnya terdapat berbagai teknik yang menjadi suatu varian dan diterapkan
sesuai dengan lokasi, kasus, maupun kondisi yang ada.

Gambar II-6 Kedudukan Peraturan Zonasi Dalam Kerangka Perangkat Pengendalian

Tabel II-2 Prosedur Penyusunan Peraturan Zonasi
TAHAPAN TUJUAN KOMPONEN
MEMBUAT TIPOLOGI ZONA Memastikan penggunaan lahan
ditempatkan di tempat yang
benar
Memastikan tersedia ruang yang
cukup
4 Zona dasar dirinci atas 15 sub zona
Zona spesifik (fungsi khusus)
MENENTUKAN NORMA
ZONA
Mengatur ketentuan dasar
pengembangan zona
4 Zona dasar dirinci atas 15 sub zona
Zona spesifik (fungsi khusus)
MENENTUKAN KRITERIA Menentukan persyaratan dasar, Persyaratan dasar : aksesibilitas,
PLAN
RTRWN
RTRWP
RTRWK
RDTRK
RTBL
ZONING
REGULATIONS
AND
STANDAR
GUIDELIN
LEGISLATI
PERMI DEVELOPMENT
Relevant
standards to
urban planning
and
- Performance Zoning
- Special Zoning
- Bonus Zoning
- TDR
- Negotioned Devt
- Flood Plain Zoning
- Conditional Uses
- Non-Conforming Uses
- Spot Zoning
- Floating Zoning
- Exclusionaary Zoning
- Contract Zoning
- Growth Control
- Etc
- Special Site Control
- Site Plan Control
- Building, Housing amd
Sanitary Codes
- Design and Historic
Preservation,
- Etc
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-21
TAHAPAN TUJUAN KOMPONEN
ZONA kriteria teknis dan kriteria
ekologis bagi masing-masing
tipologi zona
kompatibilitas, fleksibilitas, ekologi
Persyaratan teknis : persyaratan kesehatan,
persyaratan keandalan sarana dan prasarana
lingkungan
Persyaratan ekologis : keserasian-
keseimbangan lingkungan fisik dengan sos-
bud
MENENTUKAN
PENGGUNAAN ZONA
Menentukan peraturan
penggunaan, fasilitas zona dan
teknis pembangunan
Identifikasi paket penggunaan zona
Peraturan penggunaan zona
Peraturan penggunaan tambahan zona
Peraturan penyediaan fasilitas lingkungan
permukiman
Peraturan teknis pembangunan zona

Tabel II-3 Proses Penetapan Aturan Dalam Peraturan Zonasi
KONDISI AWAL KOTA MEMILIKI RTRW ADA ZONING
REGULATION
Evaluasi RTRW
Memantapkan zoning regulation
KOTA MEMILIKI RTRW TANPA ZONING
REGULATION
Menyusun zoning regulation
Menetapkan zoning regulation sebagai
amandemen RTRW
KOTA BELUM MEMILIKI RTRW Menyusun RTRW termasuk zoning regulation
Menetapkan RTRW (termasuk zoning
regulation)
PROSES PENETAPAN
ZONING REGULATION
Persiapan Evaluasi RTRW dan aturan pelaksanaannya
Penyusunan rencana kerja
Administrasi dan teknis
Pengumpulan data dan informasi Fisik dasar
Penggunaan lahan dan bangunan
Sempadan bangunan dan ketinggian lantai
bangunan
Kondisi prasarana lingkungan
Perda pemanfaatan lahan, bangunan dan
prasarana lingkungan kota
Referensi zoning regulation dari kota lain
Perumusan rancangan zoning regulation yang
akan menjadi instrumen pengendalian
pembangunan kota

Pembahasan rancangan zoning regulation
Penetapan zoning regulation
MUATAN ZONING
REGULATION
Substansi zoning (materi yang diatur,
kedalaman materi yang diatur,
pengelompokan materi yang diatur
Arahan penentuan zona
Ketentuan penggunaan zona
Peraturan pembangunan
Pengendalian pemanfaatan zona
Kelembagaan dan prosedur pengesahan Kelembagaan
Tugas dan wewenang
Jenis perijinan
Proses perijinan
Peranserta masyarakat
Proses peninjauan kembali
PEMANFAATAN
ZONING REGULATION
Sbg instrumen pengendalian
pembangunan
Sbg pedoman penyusunan rencana
operasional
Sbg panduan teknis pengembangan lahan
di kawasan perkotaan
Sbg alat bantu pencegahan dampak
pembangunan yang merugikan
Sbg rujukan rancang bangun bangunan
dan prasarana
Sbg jaminan kepastian hukum dalam
pelaksanaan pembangunan

PENGENDALIAN Kegiatan pemantauan Pemantauan pemanfaatan zona, fungsi kawasan,
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-22
ZONING REGULATION sarana dan prasarana, kesesuaian terhadap
peraturan pembangunan yang telah ditetapkan
Kegiatan evaluasi dan peninjauan kembali Merekam perubahan-perubahan sejalan dengan
perkembangan kota
Penertiban Pengenaan sanksi
Pembatalan ijin pembangunan
Penundaan pembangunan
Dan/atau penerapan persyaratan2 teknis
PENINJAUAN KEMBALI Tujuan :
Mengakomodir kemungkinan
pemanfaatan baru dari bangunan dan
lahan
Mengakomodir alihfungsi bangunan dan
lahan
Mengakomodir kebutuhan akan ketentuan
teknis yang lebih sesuai
Mengakomodir dampak yang belum
diperhitungkan

Posisi Zoning Regulation setelah peninjauan
kembali :
Diganti karena banyak perubahan yang
mendasar
Diperbaiki karena terjadi beberapa simpangan
Diberi aturan tambahan bila ada materi yang
kurang

Pada gambar berikut akan ditampilkan contoh dari sebuah produk zoning regulation yang
merupakan zoning map beserta legal text dari zoning regulation tersebut.
Gambar II-7 Contoh Zoning Regulation dan Zoning Text Dalam Penyusunan Rencana Detail
Tata Ruang (RDTR)
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-23
2.2.2.6 Pertimbangan Mitigasi Bencana dalam Pengembangan Kawasan Perkotaan
Pada dewasa ini konsep pembangunan yang sesuai (utamanya di wilayah pesisir) adalah yang
bersifat proaktif, yaitu mencegah (prevent), memperbaiki (mitigate) dan
mengurangi/memperkecil (reduce) dari kerugian-kerugian dan dampak lingkungan yang terjadi
akibat adanya potensi bencana.
Langkah-langkah tersebut dituangkan dalam penataan ruang melalui pengelolaan ruang yang
tanggap terhadap bencana, yang selanjutnya dapat sebagai dasar dalam tahapan rekonstruksi
dan rehabilitasi pasca terjadinya bencana.
Program pengelolaan ruang berupa kesiapan dalam menghadapi resiko bencana, dengan
dikembangkannya perencanaan spasial untuk mendorong pemanfaatan ruang (pemanfaatan
lahan) yang lebih tepat, berdasarkan pada hasil studi/kajian tentang karakteristik tipe bencana,
frekuensi terjadinya bencana, tingkat keparahan akibat bencana dan lokasi (zonasi) terjadinya
bencana. Dalam hal bencana gempabumi, gunungapi, tsunami dan banjir dilengkapi dengan
data historis tentang kejadiannya.
Secara menyeluruh upaya mitigasi bencana alam dapat dilakukan dengan upaya struktur (fisik)
dan upaya non struktur (non fisik). Untuk lebih jelasnya mengenai upaya mitigasi bencana
alam secara menyeluruh untuk mengurangi besarnya kerugian akibat bencana dapat dilihat
berikut ini.


Gambar II-8 Upaya Mitigasi Bencana Alam Secara Menyeluruh
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-24
Pengelolaan kawasan dari bahaya bencana alam pada dasarnya tidak terlepas dari berbagai
faktor dan aspek yang mempengaruhinya, baik politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Oleh
karena itu dalam upaya pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana haruslah
mempertimbangan aspek-aspek tersebut.
Usaha mitigasi bencana yang direncanakan didasarkan kepada tinjauan berbagai tingkatan
wilayah yaitu pada lingkup nasional yang diarahkan berdasarkan rencana tata ruang nasional;
pada lingkup daerah provinsi yang secara lebih spesifik berdasarkan ancaman bencana dalam
lingkup provinsi serta pada lingkup daerah kabupaten dan daerah kota.
Enam hal pokok dalam pengembangan wilayah dan kota yang tanggap terhadap bencana
adalah :
1. Pencegahan

Pembatasan wilayah yang dapat dibangun untuk mendirikan bangunan. Dalam usaha
pencegahan ini juga dilakukan pembatasan perkembangan penggunaan lahan pada
wilayah wilayah yang rentan kemungkinan bencana alam seperti wilayah yang rawan
banjir, rentan kelongsoran, rentan gempa bumi dan tsunami, wilayah wilayah sesar ,
maupun dari bagian wilayah yang sudah atau sedang dieksploitasi seperti wilayah pasca
penambangan terutama batu bara, wilayah penambangan mineral atau bahan bangunan
(galian C), tanah garapan atau pembukaan lahan pada wilayah lereng,pengembangan
wilayah penyanggah (buffer area) pada industri pencemar.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN II-25
2. Penyiapan suatu struktur bangunan yang tingkat keamanannya tinggi
Desain struktur bangunan dengan tingkat keamanan yang tinggi misalnya bangunan yang
dipertinggi dengan dukungan tiang tiang pada wilayah banjir atau konstruksi khusus yang
anti gempa (anchored building construction). Dalam hubungan ini juga termasuk
perancangan lokasi tapak dan struktur konstruksi bangunan yang sesuai dengan sifat
lingkungan fisik seperti lokasi pada jarak aman, orientasi perletakan bangunan dari gejala
bencana alam, konstruksi pondasi dan bangunan tahan terhadap suatu bentuk bencana
alam tertentu (gempa bumi, longsor, banjir, badai , amblesan).
3. Pembatasan pemanfaatan dan penggunaan lahan
Untuk jenis penggunaan lahan seperti perumahan, industri, pusat perdagangan, pertanian
harus diatur dalam usaha menghadapi bencana pada wilayah yang bersangkutan.
Demikian pula pemanfaatan lahan misalnya kepadatan penduduk, kepadatan bangunan
harus diatur dengan peraturan di dalam menghadapi potensi bencana di suatu wilayah
tertentu, pembatasan kepadatan penggunaan lahan dengan pembatasan KDB, KLB,
ketinggian bangunan.
4. Pengembangan Sistem Peringatan
Beberapa jenis bencana dapat diperkirakan untuk mem-punyai waktu guna melakukan
tindakan darurat. Sistem peringatan dini dilakukan melalui sosialisasi reguler, sistem
komunikasi peringatan, sistem informasi melalui media elektronik dan media cetak;
peningkatan pema-haman masyarakat tentang lingkungannyadan pengembangan pola
perilaku masyarakat terhadap lingkungannya.
5. Penetapan Kebijaksanaan dan Peraturan Daerah Tentang Pembangunan Dalam Mitigasi
Bencana
Penetapan kebijaksanaan dan peraturan penggunaan lahan (peruntukan bagian wilayah,
peraturan bangunan, peraturan penetapan intensitas penggunaan lahan yang sesuai
dengan lingkungan, jaringan prasarana dan pengamanan lingkungan.
6. Asuransi Kebencanaan
Sistem suatu jaminan asuransi dari pemerintah daerah untuk penduduk yang berada di
dalam wilayah rentan bencana dapat diusahakan dengan sistem yang disesuaikan dengan
kemampuan ekonomi masyarakat

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN III-1
BAB III KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KOTA
SUNGAI PENUH



3.1 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Sungai Penuh
Tahun 2005 2025 (Perda No 6 Tahun 2012)
Perencanaan pembangunan daerah merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan
pembangunan nasional, yang disusun dalam jangka panjang, jangka menengah dan jangka
pendek, oleh karena itu untuk memberikan arah dan tujuan dalam mewujudkan cita-cita dan
tujuan daerah sesuai dengan visi, misi dan arah kebijakan daerah, maka perlu disusun Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah kurun waktu 20 (dua puluh) tahun mendatang.
RPJP Daerah Kota Sungai Penuh digunakan sebagai pedoman dalam menyusun RPJM Daerah
Kota Sungai Penuh pada masing-masing tahapan dan periode RPJM Daerah Kota Sungai Penuh
sesuai denganvisi, misi, dan program Kepala Daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat.
RPJM Daerah tersebut dijabarkan lebih lanjut ke dalam Rencana KerjaPemerintah Daerah
(RKPD) yang merupakan rencana pembangunan tahunan daerah, yang memuat prioritas
pembangunan daerah,rancangan kerangka ekonomi makro, yang mencakup gambaran
perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal serta program dan kegiatan
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kota Sungai Penuh.
Tujuan yang ingin dicapai dengan ditetapkannya Peraturan Daerah tentang RPJP Daerah Kota
Sungai Penuh Tahun 2005-2025 adalah untuk (a) mendukung kelancaran koordinasi antar
pelaku pembangunan dalam pencapaian tujuan daerah, (b) menjamin terciptanya integrasi,
sinkronisasi dan sinergisitas baik antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi
pemerintah pusat dan daerah, (c) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan, (d) menjamin tercapainya penggunaan sumber
daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan serta (e) mengoptimalkan
partisipasi masyarakat.
keterkaitan dokumen RPJPD dengan dokumen rencana pembangunan daerah lain, secara
hubungan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. RPJPD Kota Sungai Penuh 2005-2025 disusun mengacu pada RPJP Nasional Tahun
2005-2025. Keterkaitan dengan RPJPD Kota Sungai Penuh disamping dengan dokumen
lainnya, adalah guna memahami posisi kerangka sistem perencanaan pembangunan
nasional dan menyelaraskan antara visi, misi arah dan kebijakan pembangunan serta
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN III-2
tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang sehingga muatan RPJPD Kota
Sungai Penuh tercipta sinkronisasi dan sinergi baik dalam pelaksanaan pembangunan
maupun arah pembangunan dengan tetap memperhatikan visi dan misi RPJP Nasional
2005-2025, dengan harapan akan terwujudnya kesejahteraan masyarakat
sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945.
2. RPJPD Kota Sungai Penuh 2005-2025 disusun mengacu pada RPJP Provinsi Jambi Tahun
2005-2025 dan RPJMD Provinsi Jambi 2011-2015, yang merupakan pola dasar utama
yang tidak terpisahkan dari visi dan misi pemerintah Provinsi Jambi yang diarahkan
pada pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan Provinsi Jambi 2005-2025. Untuk
mewujudkan visi pembangunan jangka panjang tersebut ditempuh melalui 6 (enam)
misi pembangunan yaitu :1) Mewujudkan daerah yang memiliki keunggulan
kompetitif, 2) Mewujudkan masyarakat beriman, bertaqwa dan berbudaya, 3)
Mewujudkan masyarakat demokratis dan budaya hukum, 4) Mewujudkan kondisi yang
aman, tentram dan tertib, 5) Mewujudkan pembangunan yang merata dan
berkeadilan, 6) Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Pada tahap kedua
RPJMD Provinsi Jambi yang dimuat di dalam RPJPD Provinsi Jambi, fokus
pembangunan diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan dasar, pertumbuhan
ekonomi serta peningkatan kualitas pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan
hidup. Ketiga fokus pembangunan ini ditujukan dalam rangka meningkatkan dan
memperkuat identitas pembangunan Provinsi Jambi yang konsisten menuju
terwujudnya visi dan misi pembangunan Provinsi Jambi 2005-2025.
3. RPJPD Kota Sungai Penuh 2005 - 2025 disusun berpedoman dan memperhatikan
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional , RTRW Provinsi Jambi dan RTRW Kota
Sungai Penuh serta RTRW daerah lainnya, mempunyai kepentingan yang saling
terkait, agar penyusunan kebijakan sesuai dengan daya dukung lingkungan dan
pemanfaatan ruang sesuai dengan arah kebijakan yang telah ditetapkan dengan RPJPD
Kota Sungai Penuh. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah menjadi acuan
dalam penyusunan Dokumen Perencanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD), Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD),
Dokumen Satu Tahunan seperti Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Renja-RKPD)
untuk skala Daerah, dan Rencana Kerja SKPD untuk Satuan Kerja Perangkat Daerah.

3.2 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Sungai Penuh (Perda No.5/2012)

3.2.1 Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Kota Sungai Penuh
Tujuan penataan ruang adalah mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman,
produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional
dengan, terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN III-3
terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan
dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan
pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Adapun tujuan Penataan Ruang Kota Sungai Penuh 2011-2031 Yaitu :
Mewujudkan Kota Sungai Penuh sebagai pusat pelayanan pendidikan, perdagangan dan jasa
serta pariwisata berskala regional yang aman nyaman, produktif, dan berkelanjutan
Kebijakan dan strategi Penataan Ruang Wilayah Kota Sungai Penuh meliputi kebijakan dan
strategi pengembangan struktur ruang dan pola ruang.
A. Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi :
1. Pemantapan pusat pelayanan kegiatan yang memperkuat kegiatan berskala
2. regional.
3. Peningkatan aksesibilitas dan keterkaitan antar pusat kegiatan skala lokal dan
4. regional.
5. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem sarana dan prasarana
6. umum skala lokal dan regional.
B. Kebijakan pengembangan pola ruang meliputi :
1. Pemeliharaan dan pelestarian fungsi kawasan lindung dan ruang terbuka hijau.
2. Pengendalian kegiatan budidaya yang berdampak kepada kelestarian lingkungan
hidup.
3. Perwujudan pengembangan kegiatan budi daya yang optimal dan efisien.
4. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.
C. Kebijakan pengembangan kawasan strategis meliputi :
1. Pengembangan kawasan strategis perspektif ekonomi.
2. Pengembangan kawasan strategis perspektif sosial budaya.
3. Pengembangan kawasan strategis perspektif fungsi dan daya dukung lingkungan
hidup.

STRATEGI PENATAAN RUANG
A. Strategi pemantapan pusat pelayanan kegiatan yang memperkuat kegiatan berskala
regional meliputi :
1. Menetapkan hirarki sistem pusat pelayanan secara berjenjang.
2. Mengembangkan aksesibilitas transpostasi darat ke bandar udara.
3. Mengembangkan pusat perdagangan dan jasa berskala regional.
4. Mengembangkan kegiatan pendidikan dan pelatihan.
5. Mengembangkan kegiatan wisata alam dan wisata budaya.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN III-4
B. Strategi peningkatan aksesibilitas dan keterkaitan antar pusat kegiatan skala lokal dan
regional meliputi :
1. Meningkatkan kapasitas jaringan jalan yang mendorong interaksi kegiatan antar pusat
pelayanan kegiatan kota.
2. Mengembangkan jalan lingkar dalam dan lingkar luar.
3. Meningkatkan pelayanan moda transportasi yang mendukung tumbuh dan
berkembangnya pusat pelayanan kegiatan kota secara terintegrasi.
4. Mengembangkan terminal angkutan umum regional dan terminal angkutan umum
dalam kota.
C. Strategi peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem sarana dan prasaran umum
skala lokal dan regional :
1. Mendistribusikan sarana lingkungan di setiap pusat kegiatan sesuai fungsi kawasan
dan hirarki pelayanan.
2. Mengembangkan sistem prasarana energi.
3. Mengembangkan sistem jaringan telekomunikasi dan informasi.
4. Mengembangkan prasarana sumber daya air.
5. Meningkatkan sistem pengelolaan persampahan.
6. Meningkatkan jangkauan pelayanan air bersih.
7. Meningkatkan prasarana pengelolaan air limbah.
8. Mengembangkan sistem prasarana drainase secara terpadu.
D. Strategi pemeliharaan dan pelestarian fungsi kawasan lindung dan ruang terbuka hijau
meliputi :
1. Mengembangkan kerjasama antar wilayah Perbatasan dalam mempertahankanfungsi
lindung.
2. Mempertahankan dan melestarikan kawasan yang berfungsi lindung sesuai
3. dengan kondisi ekosistemnya.
4. Melestarikan daerah resapan air untuk menjaga ketersediaan sumberdaya air.
5. Mencegah dilakukannya kegiatan budidaya di sempadan mata air yang dapat
6. mengganggu kualitas air, kondisi fisik dan mengurangi kuantitas debit air.
7. Mengelola dan melestarikan sumberdaya hutan melalui kegiatan penanaman
8. kembali hutan yang gundul dan menjaga hutan dari pembalakan liar.
9. Mengamankan benda cagar budaya dan sejarah dengan melindungi tempat
10. serta ruang di sekitar bangunan bernilai sejarah, dan situs purbakala.
11. Menetapkan daerah evakuasi bencana.
12. Mewujudkan jalur evakuasi bencana secara terpadu dengan wilayah yang
13. berbatasan.
14. Mempertahankan fungsi dan menata ruang terbuka hijau yang ada;
15. Mengembalikan ruang terbuka hijau yang telah beralih fungsi
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN III-5
16. Meningkatan dan menyediakan ruang terbuka hijau 30% secara proporsional di
seluruh wilayah kota.
E. Strategi pengendalian kegiatan budidaya yang berdampak kepada kelestarian lingkungan
hidup meliputi :
1. Mengendalikan perkembangan pusat-pusat kegiatan agar tetap terjadi keseimbangan
perkembangan antar wilayah.
2. Mengendalikan kegiatan pertanian pada kawasan yang seharusnyaberfungsi lindung
untuk memelihara kelestarian lingkungan.
3. Mengembangkan dan memanfaatkan kawasan hutan produksi pola partisipasi
masyarakat dengan pertanian konservasi.
4. Mengendalikan perluasan pertanian pada kawasan rawan bencana dan kawasan yang
seharusnya berfungsi lindung untuk memelihara kelestarian lingkungan.
F. Strategi Perwujudan pengembangan kegiatan budi daya yang optimal dan efisien
meliputi :
1. Menetapkan kawasan budi daya sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan.
2. Mendorong pengembangan kawasan budi daya secara vertikal di kawasan kepadatan
tinggi.
3. Mengembangkan wilayah tanaman holtikultura sesuai dengan potensi dan kesesuaian
lahan secara optimal.
4. Memperhatikan keterpaduan antar kegiatan budi daya.
G. Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara, meliputi :
1. Mendukung menetapkan kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan;
2. Mengembangkan budidaya secara selektif didalam dan disekitar kawasan untuk
menjaga fungsi pertahanan dan keamanan;
3. Mengembangkan kawasan lindung dan / atau kawasan budidaya tidak terbangun
disekitar kawasan pertahanan dan keamanan negara sebagai zona penyangga; dan
4. Turut serta memelihara dan menjaga aset-aset pertahanan dan keamanan.
H. Strategi Kebijakan pengembangan kawasan strategis perspektif ekonomi meliputi:
1. Menetapkan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi yang berbasis ekowisata.
2. Menetapkan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi yang berbasis industri kecil.
3. Menetapkan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi yang berbasis kawasan
perdagangan dan jasa skala kota.
4. Menetapkan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi yang berbasis kawasan terpadu
skala wilayah.
I. Strategi Kebijakan pengembangan kawasan strategis perspektif sosial budaya meliputi :
1. Menetapkan kawasan pendidikan dan pelatihan
2. Menetapkan kawasan kebudayaan islam.

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN III-6
J. Strategi Kebijakan pengembangan kawasan strategis perspektif fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup meliputi :
1. Menetapkan kawasan strategis dari sudut pandang fungsi dan daya dukung lingkungan
berupa Taman Nasional Kerinci Seblat.
2. Menetapkan kawasan strategis dari sudut pandang fungsi dan daya dukung lingkungan
berupa Kawasan Resapan Air.

3.2.2 Struktur Ruang Kota Sungai Penuh
Pusat Pelayanan Kota Sungai Penuh berada di Kecamatan Sungai Penuh dan akan
dikembangkan pada kawasan yang meliputi Desa Gedang, Desa Sumur Anyir, Desa Aur Duri,
Kelurahan Pasar Sungai Penuh, Desa Talang Lindung, Desa Karya Bakti, Kelurahan Sungai
Penuh, Desa Pelayang Raya, sebagian Kelurahan Pondok Tinggi, Desa Permanti, Desa Pasar
Baru, Desa Pondok Agung dan Desa Amar Sakti.
Fungsi Pusat Pelayanan Kota Sungai Penuh berupa pelayanan skala kota dan wilayah, yang
terdiri dari :
1. Pusat pemerintahan kota.
2. Pusat perdagangan dan jasa yang melayani Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci,
Sebagian Kabupaten Pesisir Selatan (Provinsi Sumatera Barat) serta sebagian wilayah
Kabupaten Muko-muko (Provinsi Bengkulu).
3. Pusat Pelayanan kesehatan umum dan khusus skala kota.
4. Pusat Permukiman Perkotaan.
Kota Sungai Penuh direncanakan memiliki 4 (empat) Sub Pusat Pelayanan,mencakup Sub Pusat
Pelayanan Tanah Kampung, Hamparan Rawang, Pesisir Bukit, dan Kumun Debai.
Pusat Lingkungan merupakan pusat pelayanan untuk melayani kegiatan dengan skala wilayah
lingkungan kota. Fungsi yang diarahkan pada pusat pelayanan unit lingkungan adalah fasilitas-
fasilitas lingkungan untuk melayani kawasan permukiman antara lain:
Pendidikan tingkat dasar;
Kesehatan: balai pengobatan;
Ruang Terbuka Hijau dalam bentuk Taman lingkungan / olahraga lingkungan;
Fasilitas peribadatan skala lingkungan;
Fasilitas perdagangan skala lingkungan.




BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN III-7
3.2.3 Pola Ruang Kota Sungai Penuh
Rencana pola ruang wilayah kota merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam
wilayah kota yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan rencana
peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.

3.2.3.1 Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung
A. Kawasan Suaka Alam
Kawasan hutan lindung di Kota Sungai Penuh adalah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)
yang meliputi Sebagian Kecamatan Sungai Penuh, Kecamatan Pesisir Bukit dan Kecamatan
Kumun Debai yang juga merupakan kawasan strategis nasional dengan luas 23.177,6 ha.
Arahan pengelolaan kawasan pada pemantapan fungsi lindung dan pengembangan fungsi
wisata serta penelitian.
B. Kawasan Lindung yang memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya
Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan resapan air di Kota Sungai Penuh adalah
kawasan berada di sebagian Kecamatan Pesisir Bukit, sebagian Kecamatan Sungai Penuh
dan sebagian Kecamatan Kumun Debai. Arahan pengelolaan kawasan yaitu pemantapan
fungsi lindung dan melakukan rehabilitasi kawasan resapan air.
C. Kawasan Perlindungan Setempat
Kawasan perlindungan setempat di KotaSungai Penuh berupa kawasan sempadan sungai
yang meliputi sempadan sungai sepanjang aliran Sungai Batang Merao, Sungai Batang
Sangkir, Sungai Terung dan Sungai Bungkal, kawasan ini memiliki luas wilayah seluas 159
ha.
D. Ruang Terbuka Hijau
Penyediaan ruang terbuka hijau Kota Sungai Penuh ditujukan untuk menjamin
keseimbangan lingkungan perkotaan dengan dominasi ruang terbangun (built-up area)
dengan ruang terbuka, serta sebagai sarana rekreasi masyarakat. Sehingga pengembangan
RTH Kota Sungai Penuh disediakan untuk menyeimbangkan ruang terbangun kota
terhadap ruang terbuka hijau berupa penyediaan taman kota, pemakaman umum,
sempadan jalan, sempadan sungai serta hutan kota sebagai bagian RTH kota.
E. Ruang Terbuka Hijau
Kawasan rawan bencana Kota Sungai Penuh terdiri dari kawasan rawan gerakan tanah,
kawasan rawan genangan (banjir) dan kawasan jalur sesar (gempa bumi). Selain itu
kawasan rawan bencana kebakaran juga harus mendapat perhatian dan arahan yang jelas
dalam pengelolaannya.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN III-8
3.2.3.2 Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya
A. Kawasan Peruntukan Perumahan
1. Perumahan Kepadatan Tinggi
Perumahan kepadatan tinggi merupakan kawasan perumahan dengan intensitas
pemanfaatan ruang tinggi dan didukung dengan kepadatan penduduknya yang juga
tinggi, hal ini dipengaruhi oleh nilai lahan dan daya dukung kawasan. Pada kawasan
yang cepat tumbuh dan nilai lahan yang tinggi kawasan perumahan diarahkan pada
kecamatan Sungai Penuh dan kecamatan Pesisir Bukit.
2. Perumahan Kepadatan Sedang
Perumahan kepadatan Sedang merupakan kawasan perumahan dengan intensitas
pemanfaatan ruang Sedang dan didukung dengan kepadatan penduduknya yang juga
tidak memungkinkan untuk kepadatan bangunan tinggi, hal ini dipengaruhi oleh
nilailahan dan daya dukung kawasan. Kawasan perumahan kepadatan sedang di Kota
Sungai Penuh diarahkan pada Kecamatan Sungai Penuh, Kecamatan Pesisir Bukit,
Kecamatan Hamparan Rawang, dan kecamatan Kumun Debai.
3. Perumahan Kepadatan Rendah
Perumahan kepadatan Rendah merupakan kawasan perumahan dengan intensitas
pemanfaatan ruang rendah dan didukung dengan kepadatan penduduknya yang juga
tidak memungkinkan untuk kepadatan bangunan sedang hingga tinggi, hal ii
dipengaruhi oleh daya dukung lahan sehingga pengembangan perumahan pada
kawasan ini harus dengan konstruksi yang tahan terhadap gempa. Perumahan
kepadatan rendah ini tersebar di Kecamatan Hamparan Rawang, Pesisir Bukit, Tanah
Kampung, Kumun Debai dan Kecamatan Sungai Penuh.
B. Kawasan Peruntukan Perdagangan dan Jasa
Pemanfaatan ruang untuk kawasan peruntukan perdagangan dan jasa mengatur
peruntukan untuk pasar tradisional dan pusat perbelanjaan serta toko modern.
Peruntukan bagi kawasan pasar tradisional perlu tingkatkan fasilitas sarana dan
prasarananya di Kelurahan Pasar Sungai Penuh. Adapun peruntukan kawasan pusat
perbelanjaan dapat dipertahankan kondisi persebaran yang ada, yakni di Kelurahan
PasarSungai Penuh dan Desa Pasar Baru serta rencana pengembangan pasar penyangga
disetiap Kecamatan. Rencana Luas kawasan perdagangan dan jasa mencapai 98,41 ha.
C. Kawasan Peruntukan Perkantoran
Pemanfaatan ruang untuk kawasan peruntukan perkantoran mencakup perkantoran
pemerintah maupun swasta. Arahan pemanfaatan ruang untuk kawasan perkantoran
dapat dilakukan di Kecamatan dalam Kota Sungai Penuh sesuai dengan potensi, sedangkan
untuk kawasan perkantoran swasta di Kecamatan Sungai Penuh karena memiliki lokasi
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN III-9
yang strategis dan konektivitas yang baik antar wilayah. Rencana Luas keseluruhan lahan
yang digunakan untuk perkantoran pemerintahan ialah seluas 17,46
D. Kawasan Peruntukan Industri
Adapun untuk kawasan peruntukan industri berupa kawasan industri kecil maupun industri
rumah tangga tersebar di Kecamatan Hamparan Rawang, Kecamatan Pesisir Bukit dan
Kecamatan Sungai Penuh disamping Kecamatan Lainnya.
E. Kawasan Peruntukan Pariwisata
Kawasan peruntukan pariwisata bertujuan untuk menyelenggarakan jasa pariwisata atau
mengusahakan objek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain yang
terkait di bidang tersebut.
Daya tarik wisata tersebut terdiri atas :
daya tarik wisata alam;
daya tarik wisata buatan; dan
daya tarik wisata budaya.
F. Ruang Terbuka non Hijau
Pengembangan ruang terbuka non hijau juga didorong untuk dilakukannya konsep park
and ride dimana Ruang Terbuka Non Hijau Kawasan Pujasera, kawasan Pertokoan Kincai
plaza, kawasan pasar kota, jaringan jalan, serta terminal diharapkan dapat memberikan
ruang yang lebih luas bagi sirkulasi pejalan kaki dan kendaraan non bermotor seperti
sepeda, dan sebagainya. Hal ini diperlukan untuk menjaga iklim mikro ruang terbuka non
hijau dan mengoptimalkan kenyamanan ruang.
G. Ruang Untuk Evakuasi Bencana
Arahan pengembangan ruang evakuasi bencana diantaranya : Lapangan Merdeka
Kecamatan Sungai Penuh, Gelanggang Olah Raga Kecamatan Tanah Kampung, Lapangan
Pemda Kecamatan Pesisir Bukit, SMP N 6 Sungai Penuh Kecamatan Kumun Debai, Kawasan
Pendidikan Tinggi Kecamatan Pesisir Bukit, Masjid Raya Rawang Kecamatan Hamparan
Rawang dan seluruh ruang terbuka termasuk semua fasilitas perkantoran dan pendidikan
di setiap kecamatan.
H. Kawasan Peruntukan Sektor Informal
Arahan lokasi kegiatan sektor informal diarahkan untuk memanfaatkan ruang pada
kawasan Pujasera Kelurahan Pasar Sungai Penuh, ruang terbuka non hijau dan pelataran
parkir depan Kincai Plaza, serta pada kawasan Terminal Kota Sungai Penuh berupa
pelataran terbuka.
I. Kawasan Peruntukan Pendidikan
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN III-10
Kawasan peruntukan pendidikan di Kota Sungai Penuh berupa kawasan pendidikan dan
pelatihan yang berada di Kecamatan Pesisir Bukit dan di Kecamatan Sungai Penuh dengan
dukungan keberadaan jalur pergerakan regional, ketersediaan lahan pengembangan dan
telah terdapat beberapa perguruan tinggi di lokasi tersebut.
J. Kawasan Peruntukan Kesehatan
Pemanfaatan ruang untuk kegiatan pelayanan kesehatan dalam skala yang cukup besar
diarahkan di desa Koto Renah dan di Kelurahan Pasar Sungai Penuh dengan adanya
fasilitas rumah sakit umum dan rumah sakit TNI Angkatan Darat dan rencana
pengembangan fasilitas rumah sakit khusus di Kecamatan Sungai Penuh serta rencana
pengembangan dan peningkatan puskesmas di kecamatan dalam Kota Sungai Penuh.
K. Kawasan Peruntukan Lainnya
Kawasan peruntukan lainnya terdiri dari kawasan pertahanan dan keamanan, kawasan
pertanian (tanaman pangan dan perkebunan) dan kawasan hutan produksi. Kawasan
peruntukan lainnya ini umumnya berada di Kecamatan Sungai Penuh, Kecamatan Pesisir
Bukit, dan Kecamatan Kumun Debai.

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-1
BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH
PERENCANAAN



4.1 Gambaran Umum Kota Sungai Penuh

4.1.1 Adminstrasi dan Letak Geografis
Secara astronomis, Kota Sungai Penuh terletak antara 1010 14' 32'' BT sampai dengan 1010 27'
31'' BT dan 020 01' 40'' LS sampai dengan 020 14' 54'' LS. Sedangkan secara geografis Kota
Sungai Penuh berada dalam lingkup Kabupaten Kerinci di bagian Barat Provinsi Jambi yang
berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Bengkulu.
Kota Sungai Penuh merupakan wilayah hasil pemekaran Kabupaten Kerinci sesuai dengan UU
No. 25 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Sungai Penuh yang diresmikan pada tanggal 08
November 2008. Secara administratif Kota Sungai Penuh berbatasan dengan :
- Sebelah utara berbatasan dengan Kec. Siulak, Kec. Depati Tujuh dan Kec. Air Hangat
Timur Kab. Kerinci
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kec. Keliling Danau Kab. Kerinci
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kab. Pesisir Selatan Prov. Sumbar
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kec. Air Hangat Timur dan Kec. Sitinjau Laut Kab.
Kerinci
Dilihat dari sisi arahan sistem perkotaan nasional yang diatur dalam RTRWN dan arah
pengembangan wilayah Provinsi Jambi, letak geografis Kota Sungai Penuh cukup strategis.
Kota Sungai Penuh terletak pada posisi sentral antara Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Jambi
dan Provinsi Bengkulu, dengan PKN yang terdekat dengan Kota Sungai Penuh adalah Kota
Padang (PKN Sumbar) yang jalur lintasnya melalui PKW Muara Labuh atau PKW Painan.
Sedangkan jalur lintas menuju PKN Kota Jambi melalui PKWp Bangko dan Muaro Bungo yang
merupakan PKW terdekat dengan Kota Sungai Penuh dalam wilayah Provinsi Jambi.
Muara Bungo juga merupakan kawasan andalan yang terdekat dengan Kota Sungai Penuh,
dengan sektor unggulannya adalah : perkebunan, pertanian dan kehutanan. Di sisi lain PKW
Muko-muko merupakan jalur lintas menuju PKN Bengkulu. Kota Sungai Penuh juga menjadi
daerah pusat kegiatan dari beberapa PKL di Kabupaten Kerinci (Sanggaran Agung, Siulak Mukai
dan Batang Sangir) dan Provinsi Sumatera Barat (Tapan) serta Provinsi Bengkulu (Muko-muko).
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-2
Oleh karena itu Kota Sungai Penuh dikemudian hari dapat diorientasikan menjadi Pusat
Kegiatan Wilayah bagi daerah sekitarnya.

Luas Kota Sungai Penuh adalah 391,5 Km2 (39.150 Ha) yang sekitar 59,2 % (23.177,6 Ha)
merupakan Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan merupakan kawasan lindung
dan kawasan strategis nasional. Wilayah administrasi Kota Sungai Penuh terbagi menjadi 5
kecamatan yang meliputi 4 kelurahan dan 65 desa, yaitu :
1) Kecamatan Pesisir Bukit dengan luas areal 21,10 Km2 (2.110 Ha) atau 5,39 % dari total
luas Kota Sungai Penuh yang meliputi 15 desa.
2) Kecamatan Hamparan Rawang dengan luas areal 12,15 Km2 (1.215 Ha) atau 3,1 % dari
total luas Kota Sungai Penuh yang meliputi 13 desa.
3) Kecamatan Sungai Penuh dengan luas areal 205,25 Km2 (20.525 Ha) atau 52,43 % dari
total luas Kota Sungai Penuh yang meliputi 4 kelurahan dan 15 desa.
4) Kecamatan Tanah Kampung dengan luas areal 11,00 Km2 (1.100 Ha) atau 2,81% dari
total luas Kota Sungai Penuh yang meliputi 13 desa.
5) Kecamatan Kumun Debai dengan luas areal 142,00 Km2 (14.200 Ha) atau 36,27% dari
total luas Kota Sungai Penuh yang meliputi 9 desa.

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-3
Tabel IV-1 Luas Wilayah Kota Sungai Penuh dan Pembagian Daerah Administrasi Menurut
Kecamatan Tahun 2011


BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-4

Gambar IV-1 Peta Administrasi Kota Sungai Penuh
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-5
4.1.2 Kondisi Fisik Dasar
4.1.2.1 Kondisi Fisiografis
Dalam sistem fisiografis, Kota Sungai Penuh secara umum berada pada ketinggian antara 500 -
1000 mdpl yakni mencapai 52, 59% dari luas wilayah, ketinggian lebih dari 1000 mdpl 46,90 %,
sedangkan sisanya berada pada ketinggian kurang dari 500 mdpl. Kota Sungai Penuh dikelilingi
oleh perbukitan di sebelah utara dan barat. Dengan kondisi demikian, maka Kota Sungai Penuh
menjadi perlintasan sistem sungai regional, yang mengalir dari hulu di utara ke arah hilir di
selatan. Sistem drainase di Kota Sungai Penuh akan didukung oleh sistem sungai regional
tersebut, dengan mengalirkan limpasan air hujan yang jatuh di Kota Sungai Penuh ke sistem
sungai terkait, yang secara topografis mengalir ke arah hilir selatan di Kabupaten Kerinci.
Tabel IV-2 Ketinggian Kota Sungai Penuh


4.1.2.2 Kondisi Topografi
Dengan lokasi yang berada pada dataran tinggi, kemiringan lereng wilayah Kota Sungai Penuh
sangat bervariasi, dapat dibagi menjadi topografi yang relatif datar, berbukitbukit, dan terjal.
Wilayah yang terjal berada di bagian tengah Kecamatan Sungai Penuh dan Kumun Debai (24,3
%), sementara daerah perbukitan (28,2 %) berada di bagian barat Kecamatan Sungai Penuh
dan Kumun Debai dan dikasawan perbatasan Kota Sungai Penuh dengan Kabupaten Pesisir
Selatan. Lahan yang memiliki kemiringan relatif datar (12,3 %) terdapat sebagian besar di
Kecamatan Hamparan Rawang dan Tanah Kampung, serta di Kecamatan Pesisir Bukit, Sungai
Penuh dan Kumun bagian timur.
Tabel IV-3 Klasifikasi Lereng di Kota Sungai Penuh

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-6
4.1.2.3 Klimatologi
Curah Hujan harian rata-rata Kota Sungai Penuh dalam satu tahun 49,4 - 169,2 mm/th dengan
kecepatan angin rata-rata dalam satu tahun 13 m/detik, kelembapan udara harian rata-rata
dalam satu tahun 39 % dan suhu harian rata-rata dalam satu tahun 17,2 - 29,3 0C.

4.1.2.4 Jenis Tanah
Jenis tanah yang terdapat di Kota Sungai Penuh meliputi 4 (empat) macam jenis tanah, yaitu:
andosol, latosol, podsolik, dan alluvial yang dapat dilihat pada tabel 1.5.
Pemanfaatan tanah jenis alluvial pada usaha pertanian dapat dilakukan di daerah endapan
sungai atau daerah rawa-rawa pasang surut, sedangkan tanah aluvial yang berasal dari bahan
alluvium umumnya merupakan tanah subur. Perbaikan drainase perlu diperhitungkan agar
tidak mengakibatkan munculnya cat clay yang sangat masam akibat oksidasi sulfida menjadi
sulfat. Jenis tanah alluvial di Kota Sungai Penuh umumnya berupa tanah subur yang
dimanfaatkan menjadi lahan pertanian sawah.
Tabel IV-4 Jenis Tanah di Kota Sungai Penuh


4.1.2.5 Hidrologi
Pada dasarnya kondisi hidrologi Kota Sungai Penuh dapat terlihat dari adanya sumbersumber
air, baik berupa air permukaan, mata air, maupun air tanah sebagai berikut.
(a) Air permukaan
Wilayah Kota Sungai Penuh termasuk dalam Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari, yang
merupakan rangkaian daerah aliran sungai dari Kabupaten Kerinci. Wilayah Kabupaten Kerinci
didominasi oleh pegunungan Bukit Barisan, sebagai bagian dan rangkaian pegunungan Bukit
Barisan yang memanjang sepanjang pantai Barat Sumatera, titik tertinggi adalah puncak
Gunung Kerinci. Terdapat banyak dataran sepanjang lembah Bukit Barisan tersebut.
Pegunungan Bukit Barisan yang berada sebelah Barat dan timur Kerinci ini menjadi titik
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-7
tertinggi di wilayah Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, sehingga semua sungai yang
mengalir di Kota Sungai Penuh mengalir ke arah tengah dan selatan menuju dan bermuara ke
Danau Kerinci dan selanjutnya mengalir ke Sungai Batang Hari.
Berdasarkan hasil penyelidikan hidrogeologi regional lembar Sungai Penuh dapat dibagi
kedalam tiga (tiga) wilayah produktivitas akuifer (lapisan pembawa air) yaitu:
1) Akuifer Produktif sedang dengan penyebaran luas, keterusan rendah sampai sedang,
muka air tanah beragam dan debit sumur kurang dari 5 l/det.
2) Akuifer dengan produktifitas rendah setempat dimana umumnya keterusan rendah,
setempat sedang, air tanah dalam jumlahnya cukup dapat diperoleh terutama
dilembah-lembah atau zona sesar dan pelapukan.
3) Daerah air tanah langka. Pemanfaatan air permukaan sebagai air baku untuk
pelayanan air bersih di Kota Sungai Penuh terutama berasal dari anak Sungai Ampuh
yang terletak 3 m di bagian tenggara pusat Kota Sungai Penuh yakni di desa sungai
jernih Kecamatan Sungai Penuh.

(b) Mata Air
Di wilayah Kota Sungai Penuh juga dijumpai mata air, yang terbentuk dari dasar lembah atau
kaki perbukitan yang disebabkan adanya lapisan batuan kedap air dibawahnya, sehingga
peregangan tidak terus ke dalam melainkan ke arah kateral dan muncul di kaki tebing/ lembah
atau kaki perbukitan. Hal ini ditunjukkan adanya beberapa danau, dan air terjun di daerah
pegunungan.

(c) Air Tanah
Keberadaan air tanah dipengaruhi oleh curah hujan, luas daerah resapan, sifat kelulusan bahan
permukaan dan batuan yang terdapat dibawahnya serta morfologi. Potensi air tanah
umumnya relatif dalam, sekitar > 60 meter. Hampir seluruh Kecamatan di Kota Sungai Penuh
mempunyai kedalaman efektif tanah >90 meter. Sungai-sungai utama yang terdapat di Kota
Sungai Penuh adalah : Sungai Ning, Sungai Pengasah, Sungai Air Sesat, Sungai Air Sempit,
Sungai Terung, Sungai Air Hitam, Sungai Batang Sangkir, Sungai Air Bungkal, Sungai Rampuh,
Sungai Ulu Air Kumun, Sungai Batang Bungkal dan Sungai Batang Merao.

4.1.2.6 Kebencanaan
Kota Sungai Penuh secara regional berada di lingkungan Bukit Barisan yang dibentuk oleh
bentang alam perbukitan dan pegunungan dengan relief permukaan yang umumnya tinggi.
Pembentukan bentang alam yang tampak seperti sekarang ini sangat dipengaruhi oleh
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-8
susunan batuan (litologi), struktur geologi yang berkembang, serta proses-proses geologi yang
sedang berlangsung. Pusat kegiatan kota menempati bagian kaki dari bentang alam tersebut
yang disusun oleh endapan material rombakan, batuan gunung api, sedimen, dan batuan
terobosan yang secara morfologi berupa kipas.
Batuan Sedimen; terletak di bagian selatan Kota Sungai Penuh dan dikenal dengan nama
Formasi Kumun membentuk bentang alam perbukitan berelief terjal memanjang barat laut
tenggara, terdiri dari batu pasir, konglomerat, breksi, dan tuf dengan sisipan lignit dan berlapis
baik. Batuan Gunung Api; bersusunan andesit-basal, menempati bagian barat Kota Sungai
penuh membentuk bentang alam pegunungan dan perbukitan yang terdiri dari lava andesit-
basalan, tuf, dan breksi gunung api. Batuan Terobosan; terdiri dari Gronodiorit terletak di
sekitar Kota Sungai penuh membentuk perbukitan yang memanjang barat laut tenggara, dan
batuan terobosan granit yang menempati bagian barat laut. Batuan Sedimen Lainnya dan
Endapan Aluvium; mengalasi bentang alam dataran, yaitu formasi pengasih terdiri dari batu
lempung, batu lanau, batu pasir berbatu apung dengan sisipan lignit dan konglomerat.
Endapan aluvium ini menempati bentang alam dataran di sekitar wilayah Kota Sungai Penuh.
Struktur geologi berupa lipatan, patahan, dan kelurusan banyak dijumpai di wilayah Kota
Sungai Penuh, dimana umumnya berarah tenggara barat laut. Struktur patahan
mempengaruhi seluruh batuan penyusun yang terbentuk di jaman Pra-Holosen bahkan hingga
jaman Resen. Patahan ini mempengaruhi pula terhadap endapan aluvium di bagian dataran,
yang tercerminkan oleh adanya retakan/lipatan dan kelurusan. Wilayah dataran yang disusun
oleh endapan aluvium sungai merupakan endapan yang sangat sensitif terhadap kegempaan.
Berdasarkan kejadian gempa yang pernah terjadi pada tahun 1995, bangunan rumah dan
infrastruktur yang ada diatasnya telah mengalami rusak berat dibandingkan dengan bangunan
yang bertumpu pada batuan lainnya, seperti batuan sedimen, batuan gunung api, batuan
terobosan, dan endapan kipas (kolovial).
Tabel IV-5 Susunan Batuan Kota Sungai Penuh

Pada skala lokal 1:100.000, sesuai dengan struktur geologi di kota Sungai Penuh terdapat sesar
berarah ke barat laut tenggara, yaitu sesar Siulak (hasil studi Pusat Geologi yang bekerjasama
dengan Bappeda Kabupaten Kerinci Tahun 2003). Sesar ini terdiri atas dua Sesar yang sejajar
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-9
melintasi Kota Sungai Penuh. Panjang Sesar kurang lebih 37 Km dan Lebarnya 17 Km. Sesar ini
mulai aktif sejak Miosen Tengah, yang berhubungan dengan pembentukan Formasi Kumun dan
diaktifkan lagi pada Pilio-Plitosen. Sesar ini merupakan sesar geser menganan dengan
kemiringan hampir tegak.

4.1.3 Penggunaan Lahan Kota
Kota Sungai Penuh saat ini pada dasarnya terbentuk dari percampuran kegiatan-kegiatan yang
bersifat perkotaan dan sebagian kecil bersifat perdesaan berupa lahan-lahan pertanian, serta
kegiatan kepariwisataan. Kegiatan perkotaan yang mempunyai jangkauan pelayanan wilayah
(regional) berupa fasilitas perdagangan, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas
transportasi regional dan fasilitas perkantoran dan/atau pemerintahan. Sedangkan kegiatan-
kegiatan kepariwisataan di Kota Sungai Penuh memiliki tingkat pelayanan nasional maupun
regional antara lain berupa fasilitas akomodasi hotel dalam memberikan pelayanan jasa
kepariwisataan yang mengkaitkan objek-objek wisata baik yang berada di dalam kota ataupun
yang terletak di luar kota dan daerah lain di Kabupaten Kerinci.
Komponen ruang kota yang bersifat pedesaan berupa lahan-lahan pertanian tanaman pangan
sawah dan kebun lahan kering terdapat lebih banyak di wilayah hinterland kota dengan hasil
produksi yang dipasarkan ke Propinsi Jambi, dan wilayah SumateraBarat. Daerah pertanian ini
sebagian besar berada di bagian timur dan selatan wilayah kota, terutama di Kecamatan Tanah
Kampung dan Hamparan Rawang. Secara umum gambaran penggunaan lahan di Kota Sungai
Penuh dapat dijelaskan sebagai berikut:
(a) Kawasan Pusat kota yang merupakan konsentrasi kegiatan perdagangan, pemerintahan
dan perkantoran, pelayanan kegiatan sosial dan pariwisata dengan lingkup pelayanan
regional wilayah kota dan daerah pinggiran. Kegiatan ini berada di Kelurahan Pasar Sungai
Penuh, Pondok Tinggi, Sungai Penuh, Desa Gedang, Permanti, Koto Tinggi, serta Aur Duri.
(b) Kawasan pariwisata dan kegiatan pendukungnya yaitu sepanjang Bukit Sentiong, Bukit
Kayangan dan kawasan Taman Bunga di Talang Lindung serta kawasan Bukit Khayangan.
(c) Kawasan perumahan yang menyebar dengan intensitas yang semakin tinggi ke arah pusat
kota. Bagian barat dan tenggara serta utara kota merupakan daerah perkembangan
perumahan yang antara lain di Kecamatan Sungai Penuh bagian barat, dan Pesisir Bukit.
(d) Kawasan Pertanian pada kawasan utara dan tenggara kota yang besaran lahannya semakin
menyusut karena beralih fungsi menjadi lahan perumahan.
Perkembangan fisik ruang kota dari awal hingga mencapai besaran luas seperti sekarang
berawal dari lingkungan pusat kota. Perkembangan mengikuti rencana pola jaringan jalan
lingkar yaitu poros jalan Desa Gedang Jembatan I Tanah Kampung.
Struktur Kota Sungai Penuh yang bersifat konsentrik cenderung mengarah ke pola pembauran
sektoral yang terintegrasi tanpa zonasi yang tidak begitu jelas batasnya. Terjadi pemusatan
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-10
kegiatan-kegiatan utama seperti kegiatan perdagangan, perkantoran, perhotelan dan
kepariwisataan, pendidikan, dan kesehatan dengan konsentrasi tinggi pada pusat kota.
Tabel IV-6 Penggunaan Lahan Kota Sungai Penuh Tahun 2010

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-11

Gambar IV-2 Peta Penggunaan Lahan Eksisting Kota Sungai Penuh
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-12
4.1.4 Kependudukan
4.1.4.1 Jumlah dan Karakteristik Penduduk
Jumlah penduduk Kota Sungai Penuh pada tahun 2010 sebesar 82.293 jiwa, Kecamatan Sungai
Penuh mempunyai jumlah penduduk paling besar yaitu 35.067 jiwa, sedangkan Kecamatan
yang mempunyai jumlah penduduk paling kecil adalah Kecamatan Tanah Kampung dengan
jumlah 8.396 jiwa. Sedangkan rata rata laju pertumbuhan penduduk Kota Sungai Penuh
adalah sebesar 1,04%
Pertumbuhan penduduk Kota Sungai Penuh dipengaruhi oleh kebiasaan penduduk mencari
pekerjaan di luar Kota wilayah Sungai Penuh. Selain itu perlu diperhatikan perbedaan jumlah
penduduk yang beraktivitas di Kota Sungai Penuh (penduduk siang hari) lebih besar dari pada
jumlah penduduk pada malam hari (penduduk domisili). Hal ini dikarenakan Kota Sungai Penuh
telah menjadi destinasi perjalanan bagi wilayah wilayah hinterland Kota Sungai Penuh yang
pada umumnya adalah wilayah administrasi Kabupaten Kerinci.
Tabel IV-7 Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Sungai Penuh Tahun 2006 - 2010

Kepadatan rata-rata penduduk di Kota Sungai Penuh adalah sebesar 515 jiwa/km2, dengan
Kecamatan terpadat yaitu Kecamatan Hamparan Rawang 1.047 jiwa/km2. Sedangkan
kepadatan terendah yaitu Kumun Debai dengan 250 jiwa/Km2. Untuk lebih jelasnya kepadatan
penduduk Kota Sungai Penuh dapat dilihat pada tabel 1.14, Grafik 1.17. dan gambar.
Tabel IV-8 Kepadatan Penduduk Kota Sungai Penuh Tahun 2010

Kota Sungai Penuh secara umum dihuni oleh penduduk usia produktif, ini menandakan bahwa
perkembangan Kota Sungai Penuh ke depan harus mengakomodasi pengembangan
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-13
pengembangan tempat bekerja, baik kegiatan perdagangan dan jasa maupun kegiatan
perkantoran. Struktur Penduduk Kota Sungai Penuh berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat
dilihat pada tabel dan piramida berikut ini.
Tabel IV-9 Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur Kota Sungai Penuh Tahun 2009 - 2010


Gambar IV-3 Piramida Penduduk Kota Sungai Penuh

Dari piramida penduduk diatas dapat dilihat bahwa kelompok usia 5-14 tahun merupakan
penduduk terbanyak menurut kelompok umur di Kota Sungai Penuh, hal ini menunjukan
bahwa 10 sampai dengan 15 tahun mendatang Kota sungai Penuh memiliki banyak penduduk
produktif/ usia kerja sehingga diperlukan lapangan usaha yang mampu menyerap tenaga kerja
tersebut. Selain itu jika dilihat jumlah penduduk usia 20 24 tahun, memperlihatkan bahwa
jumlah penduduk usia penduduk 20 24 tahun hanya sebesar 7,4 % hal ini di sebabkan oleh
banyaknya penduduk Kota Sungai Penuh yang melanjutkan pendidikan keluar daerah, hal ini
merupakan potensi dalam pengembangan sektor pendidikan untuk Kota Sungai penuh
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-14
sehingga penduduk usia 20 24 tahun dapat melanjutkan pendidikan hanya dalam Kota Sungai
Penuh.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci Tahun 2010
diketahui bahwa mata pencaharian utama penduduk di Kota Sungai Penuh mayoritas
berkecimpung dalam sektor pertanian, Perdagangan, Buruh, serta pegawai negeri sipil. Dengan
data tersebut terlihat bahwa penduduk di Kota Sungai Penuh masih tergantung pada sektor
ekstraktif terutama pertanian; perkebunan dan kehutanan serta kegiatan jasa kemasyarakatan
lainnya.
Struktur penduduk menurut jenis pekerjaan di Kota Sungai Penuh tahun 2009 menunjukan
bahwa jumlah penduduk Kota Sungai Penuh sebagian besar bekerja di sektor pertanian 44,70
%, diikuti perdagangan 20,29 %, sektor buruh 13,18 % dan sektor lainnya.
Tabel IV-10 Penduduk Kota Sungai Penuh menurut Jenis Pekerjaan


4.1.4.2 Sosial Budaya Masyarakat
Penduduk (masyarakat) Kota Sungai Penuh adalah penduduk asli, artinya masyarakat Kota
Sungai Penuh sejak nenek moyangnya telah lama menetap di daerah ini. Keadaan sosial
masyarakat Kerinci dicirikan oleh adanya suku Kerinci, yaitu merupakan turunan suku Melayu
Tua yang telah menetap sejak zaman Mezoliticum, serta mempunyai bahasa dan dialek spesifik
(bahasa Kerinci) dengan tulisan Incung.
Daerah pertanian merupakan enclave yang terluas dalam kawasan TNKS dan merupakan
daerah yang subur dan relatif terisolir. Hal tersebut menyebabkan perkembangan kebudayaan
lebih menonjolkan sifat religius yang mayoritas Islam serta penghormatan pada peninggalan
nenek moyang. Hubungan kekerabatan lebih erat dan terikat satu sama lain yaitu terlihat
adanya suatu strata masyarakat tuo-tuo tengganai (tokoh masyarakat, ninik mamak, kaum
kerabat) alim ulama, cerdik pandai, masyarakat biasa, dan golongan orang-orang tua, serta
golongan orang muda.

4.1.5 Perekonomian Kota
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-15
Secara regional, Kota Sungai Penuh merupakan pusat ekonomi bagi wilayah hinterlandnya,
dalam hal ini wilayah Kabupaten Kerinci. Karakteristik ekonomi Kota Sungai Penuh tercermin
dari dominasi kegiatan perdagangan dan jasa di Kota Sungai Penuh, yang menjadi orientasi
bagi wilayah hinterlandnya. Dalam hal ini Kota Sungai Penuh berperan sebagai pusat distribusi
dan koleksi barang dan jasa bagi wilayah di Kota Sungai Penuh itu sendiri maupun wilayah
regionalnya. Terkait dengan Kabupaten Kerinci yang memiliki sektor unggulan pada sektor
pertanian, Kota Sungai Penuh berperan sebagai pusat pemasaran produksi pertanian dari
Kabupaten Kerinci, yang tercermin dari maraknya kegiatan pasar di Kota Sungai Penuh, yang
berpusat di Kawasan Tanjung Bajure dan Pasar Pond. Dengan demikian dapat dikatakan pula
bahwa perekonomian Kota Sungai Penuh yang ditopang oleh sektor perdagangan dan jasa
didukung oleh keberadaan sektor-sektor primer di Kabupaten Kerinci, seperti sektor pertanian,
serta maraknya berbagai kegiatan industri kecil kerajinan tangan.
Dalam kaitannya antara sektor unggulan kota dengan mata pencaharian utama penduduk
kota, dapat dikatakan bahwa saat ini kegiatan ekonomi utama yang ada saling mendukung
dengan mata pencaharian utama masyarakat Kota Sungai Penuh sebagai pedagang dan petani.
Mata pencaharian sebagai pedagang tercermin dari kegiatan ekonomi yang didominasi oleh
kegiatan perdagangan dan jasa, sementara mata pencaharian sebagai petani tercermin dari
masih banyaknya penggunaan lahan pertanian di pinggiran kota. Selain itu, dukungan kota
terhadap masyarakat yang memiliki mata pencaharian utama sebagai petani adalah sebagai
pusat pemasaran hasil produksi pertaniannya. Ilustrasi di atas tercermin dalam perkembangan
PDRB Kota Sungai Penuh.
Perekonomian Kota Sungai Penuh berdasarkan perkembangan nilai PDRB atas dasar harga
konstan dari tahun ke tahun bila dilihat dari distribusinya ternyata tidak mengalami pergeseran
yang terlalu signifikan. Secara umum, dominasi sektor tersier sangat besar kontribusinya
terhadap perekonomian Kota Sungai Penuh, yaitu pada tahun 2009 mencapai hingga 80%. Hal
ini mengindikasikan bahwa Kota Sungai Penuh telah menunjukkan sifatnya sebagai kawasan
perkotaan, dimana sektor-sektor ekonomi yang berkembang sudah tidak tergantung lagi pada
esktraksi sumber daya alam secara langsung dan pengolahan lanjutannya. Apabila dilihat
dengan lebih seksama, maka sektor-sektor yang memberikan kontribusi terbesar di Kota
Sungai Penuh adalah sektor perdagangan besar dan eceran, angkutan jalan raya,
pemerintahan umum, industri pengolahan non migas, dan komunikasi. Dengan pariwisata
sebagai salah satu andalan Kota Sungai Penuh, maka dapat terlihat bahwa sektor-sektor yang
memberikan kontribusi besar di atas adalah sektor-sektor yang terkait langsung dengan
kegiatan pariwisata.
Apabila dibandingkan dengan perekonomian Provinsi Jambi, maka bila dilihat dari nilai LQ dari
tahun ke tahun, sektor hotel, restoran, dan komunikasi memperlihatkan bahwa Kota Sungai
Penuh memiliki keunggulan yang sangat besar dalam lingkup Provinsi Jambi. Hal ini semakin
mengukuhkan bahwa dalam konstelasi Provinsi Jambi, Kota Sungai Penuh adalah merupakan
salah satu unggulan dari Provinsi tersebut di bidang pariwisata. Berdasarkan perhitungan Shift
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-16
Share, juga dapat diketahui bahwa dalam konstelasi Provinsi Jambi, sektor-sektor yang
merupakan unggulan dari Kota Sungai Penuh adalah sektor industri non migas, perdagangan
besar dan eceran, hotel, restoran, dan bank serta pemerintahan umum. Indikasi-indikasi ini
dapat menguatkan bahwa sektor perekonomian Kota Sungai Penuh secara garis besar
didukung oleh adanya kegiatan pariwisata.
Terkait dengan kesejahteraan masyarakat, maka hal ini dapat dilihat dari nilai PDRB per kapita.
Berdasarkan nilai PDRB atas harga konstan tahun 2009, dapat diketahui bahwa terjadi
peningkatan yang cukup signifikan. Apabila dibandingkan dengan rata-rata Provinsi Jambi,
maka nilai PDRB/kapita Kota Sungai Penuh masih lebih besar dibandingkan dengan Provinsi
Jambi. Hal ini setidaknya memberikan gambaran bahwa kesejahteraan penduduk Kota Sungai
Penuh masih lebih besar bila dibandingkan dengan rata-rata penduduk di Provinsi Jambi.


BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-17
4.2 Gambaran Umum Kecamatan Sungai Penuh

4.2.1 Kondisi Geografis dan Administrasif
Secara geografis, Kecamatan Sungai Penuh terletak di sebelah barat Kota Sungai Penuh.
Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Sungai Penuh adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pesisir Bukit dan Kabupaten Kerinci;
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan ;
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kumun Debai;
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Hamparan Rawang dan Kecamatan
Tanah Kampung.
Kecamatan Sungai Penuh Kota Sungai Penuh terdiri dari 15 desa definitif dan 4 kelurahan
dengan luas wilayah sebesar 19.177 Ha. Desa paling luas di wilayah perencanaan adalah Desa
Sungai Ning dengan luas 6.543,7 Ha atau 34,12% dari luas Kecamatan Sungai Penuh.
Sedangkan desa paling kecil di wilayah perencanaan berada di Desa Amar Sakti dengan luas 7,8
Ha atau 0,04% dari luas Kecamatan Sungai Penuh.
Untuk lebih jelasnya mengenai rincian luas di tiap wilayah perencanaan tersebut dapat dilihat
Tabel 4.4.
Tabel IV-11 Luas Kecamatan Sungai Penuh Menurut Desa Tahun 2010
NO DESA / KELURAHAN LUAS
(Ha)
LUAS
(KM2)
(%)
1 Koto Lebu 506,6 5,07 2,64
2 Sungai Jernih 5.553,4 55,53 28,96
3 Karya Bakti 786,5 7,87 4,10
4 Aur Duri 205,0 2,05 1,07
5 Pondok Agung 3,4 0,03 0,02
6 Lawang Agung 117,6 1,18 0,61
7 Permanti 5,5 0,06 0,03
8 Kel. Pondok Tinggi 134,5 1,35 0,70
9 Pasar Baru 6,6 0,07 0,03
10 Desa Gedang 249,5 2,50 1,30
11 Kel. Sungai Penuh 43,5 0,44 0,23
12 Sumur Anyir 217,2 2,17 1,13
13 Kel. Pasar Sungai Penuh 26,3 0,26 0,14
14 Amar Sakti 7,8 0,08 0,04
15 Pelayang Raya 108,3 1,08 0,56
16 Talang Lindung 4.503,1 45,03 23,48
17 Sungai Ning 6.543,7 65,44 34,12
18 Koto Tinggi 45,6 0,46 0,24
19 Kel. Dusun Baru 112,9 1,13 0,59
19.177,0 191,77 100,00
Sumber: BPS, Kecamatan Sungai Penuh Dalam Angka 2011

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-18

Gambar IV-4 Peta Administrasi Kecamatan Sungai Penuh
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-19
4.2.2 Karakteristik Kependudukan
Berdasarkan informasi awal yang didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sungai Penuh,
dapat diketahui bahwa jumlah penduduk tahun 2010 berjumlah 34.711 jiwa dengan rincian
jumlah penduduk laki-laki sebanyak 17.388 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak
17.323 jiwa, adapun jumlah penduduk yang paling banyak adalah berada di Desa Gedang, Desa
Lawang Agung, dan Kelurahan Pondok Tinggi. Sedangkan jumlah penduduk kurang dari 1000
jiwa berada di Desa Amar Sakti, Desa Pasar Baru, Desa Koto Lebu, dan Desa Sungai Ning. Untuk
lebih jelas mengenai kondisi kependudukan di Kecamatan Sungai Penuh dapat dilihat pada
table berikut ini.
Tabel IV-12 Jumlah Penduduk Kecamatan Sungai Penuh Tahun 2010
NO DESA / KELURAHAN Laki-laki Perempuan Penduduk
1 Koto Lebu 443 501 944
2 Sungai Jernih 620 624 1.244
3 Karya Bakti 760 782 1.542
4 Aur Duri 1.237 1.222 2.459
5 Pondok Agung 612 596 1.208
6 Lawang Agung 1.788 1.829 3.617
7 Permanti 727 759 1.486
8 Kel. Pondok Tinggi 1.635 1.487 3.122
9 Pasar Baru 371 368 739
10 Desa Gedang 2.035 2.066 4.101
11 Kel. Sungai Penuh 1.241 1.366 2.607
12 Sumur Anyir 876 814 1.690
13 Kel. Pasar Sungai Penuh 798 751 1.549
14 Amar Sakti 311 274 585
15 Pelayang Raya 947 972 1.919
16 Talang Lindung 616 564 1.180
17 Sungai Ning 502 467 969
18 Koto Tinggi 611 635 1.246
19 Kel. Dusun Baru 1.258 1.246 2.504
17.388 17.323 34.711
Sumber: BPS, Kecamatan Sungai Penuh Dalam Angka 2011

Berdasarkan tingkat kepadatan penduduknya, desa dengan tingkat kepadatan paling tinggi di
Kecamatan Sungai Penuh berada di Desa Pondok Agung dengan kepadatan penduduk
mencapai 35.529 Jiwa/Km
2
. Tingkat kepadatan penduduk paling rendah berada di Desa Sungai
Ning dengan kepadatan penduduk hanya 15 Jiwa/Km
2
. Sementara itu, rata-rata kepadatan
penduduk Kecamatan Sungai Penuh yaitu sebesar 181 Jiwa/Km
2
.



BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-20
Tabel IV-13 Kepadatan Penduduk di Kecamatan Sungai Penuh Menurut Desa
NO DESA / KELURAHAN LUAS
(KM2)
Penduduk Kepadatan
(Jiwa/Km2)
1 Koto Lebu 5,07 944 186
2 Sungai Jernih 55,53 1.244 22
3 Karya Bakti 7,87 1.542 196
4 Aur Duri 2,05 2.459 1.200
5 Pondok Agung 0,03 1.208 35.529
6 Lawang Agung 1,18 3.617 3.076
7 Permanti 0,06 1.486 27.018
8 Kel. Pondok Tinggi 1,35 3.122 2.321
9 Pasar Baru 0,07 739 11.197
10 Desa Gedang 2,50 4.101 1.644
11 Kel. Sungai Penuh 0,44 2.607 5.993
12 Sumur Anyir 2,17 1.690 778
13 Kel. Pasar Sungai Penuh 0,26 1.549 5.890
14 Amar Sakti 0,08 585 7.500
15 Pelayang Raya 1,08 1.919 1.772
16 Talang Lindung 45,03 1.180 26
17 Sungai Ning 65,44 969 15
18 Koto Tinggi 0,46 1.246 2.732
19 Kel. Dusun Baru 1,13 2.504 2.218
191,77 34.711 181
Sumber: BPS, Kecamatan Sungai Penuh Dalam Angka 2011

4.2.3 Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Kabupaten Boven Digoel masih didominasi kawasan hutan. Permukiman
cenderung berkembang mengikuti jaringan jalan.
Karakteristik penggunaan lahan di Lokpri Distrik Mindiptana dan Distrik Waropko juga
didominasi kawasan hutan dan kebun-kebun milik masyarakat. Secara garis besar penggunaan
lahan di Lokpri Distrik Mindiptana dan Distrik Waropko terdiri dari :
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-21
Tabel IV-14 Luas Penggunaan Lahan di Kecamatan Sungai Penuh Menurut Desa
NO DESA / KELURAHAN Pekarangan Tegal/Kebun Ladang/huma Padang
Rumput
Sawah Rawa Tanah
Sementara
Tdk
Diusahakan
Hutan
Negara/
TNKS
Lain-
lain
TOTAL
1 Koto Lebu 35,0 152,0 38,0 76,0 45,0 65,0 49,0 - 46,6 506,6
2 Sungai Jernih 20,0 94,0 100,0 206,0 1,0 - 75,0 4.946,8 110,6 5.553,4
3 Karya Bakti 80,0 140,0 10,0 55,0 210,0 - 113,0 - 178,5 786,5
4 Aur Duri 35,0 16,0 11,0 - 1,0 - 87,0 - 55,0 205,0
5 Pondok Agung 3,0 - - - - - - - 0,4 3,4
6 Lawang Agung 43,0 - - - 67,0 - - - 7,6 117,6
7 Permanti 4,0 - - - - - - - 1,5 5,5
8 Kel. Pondok Tinggi 19,0 8,0 10,0 89,0 - 4,3 - 4,2 134,5
9 Pasar Baru 5,0 - - - - - - - 1,6 6,6
10 Desa Gedang 25,0 - - - 220,0 - - - 4,5 249,5
11 Kel. Sungai Penuh 39,0 - - - - - - - 4,5 43,5
12 Sumur Anyir 30,0 3,0 - - 147,0 - - - 37,2 217,2
13 Kel. Pasar Sungai
Penuh
21,0 - - - - - - - 5,3 26,3
14 Amar Sakti 6,0 1,0 - - - - - - 0,8 7,8
15 Pelayang Raya 18,0 30,0 56,0 - 1,0 - 2,0 - 1,3 108,3
16 Talang Lindung 30,0 200,0 493,0 72,0 - - 926,0 2.750,0 32,1 4.503,1
17 Sungai Ning 20,0 171,0 666,0 104,0 - - 21,0 4.975,0 586,7 6.543,7
18 Koto Tinggi 38,0 - - - - - - - 7,6 45,6
19 Kel. Dusun Baru 50,0 - - - 25,0 - - - 37,9 112,9
TOTAL 521,0 815,0 1.384,0 513,0 806,0 65,0 1.277,3 12.671,8 1.123,9 19.177,0

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-22
4.2.4 Potensi Pengembangan Kota
4.2.4.1 Perkembangan Kawasan Terbangun
Berdasarkan daerah terbangunnya, bentuk Kota Sungai Penuh mencerminkan pola konsentrik,
hal tersebut dipengaruhi oleh letak geografis kota yang berada di tepi Taman Nasional Kerinci
Seblat (TNKS). Keberadaan TNKS membatasi perkembangan kota ke arah Barat.
Berbatasannya Kota Sungai Penuh dengan wilayah Kabupaten Kerinci, Kabupaten Pesisir
Selatan dan Kabupaten Muko - Muko memberikan kecenderungan bahwa Kota Sungai Penuh
merupakan pusat pelayanan yang melayani wilayah sekitarnya, terutama wilayah perbatasan
Kabupaten Kerinci sebagai pusat kegiatan perumahan. Semakin berkembangnya kawasan
terbangun perkotaan ke arah timur wilayah kota semakin membentuk citra Kota Sungai Penuh
sebagai kota tujuan perjalanan (destinasi) sementara pada wilayah sekitarnya (wilayah
Kabupaten Kerinci) merupakan pusat domisili penduduk yang sehari-hari memiliki destinasi
perjalanan ke Kota Sungai Penuh.

4.2.4.2 Keberadaan Pusat-Pusat Kegiatan Kota
Saat ini pada Kota Sungai Penuh terdapat kawasan-kawasan yang dapat diidentifikasi sebagai
pusat kegiatan kota, dan berpotensi untuk menjadi pusat kegiatan di masa mendatang.
Kawasan-kawasan pusat kegiatan tersebut diantaranya: kawasan pusat pelayanan
perdagangan dan jasa, kawasan pusat pelayanan pariwisata, kawasan pusat pemerintahan,
kawasan pusat pelayanan sarana umum pendidikan dan kesehatan, serta kawasan pusat
pelayanan perumahan.
A. Pusat Pendidikan dan Kesehatan
Saat ini pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan pada Kota Sungai Penuh terletak di
Kecamatan Pesisir Bukit, dimana terdapat berbagai pendidikan dasar, menengah dan tinggi,
serta pelayanan kesehatan setingkat kota. Selain itu pada kawasan ini juga terdapat pusat
pemerintahan lama. Hal ini mengakibatkan kawasan ini memiliki tarikan dan bangkitan harian
yang cukup besar. Berdasarkan kondisi tersebut, maka kawasan ini perlu dipertimbangkan dan
berpeluang sebagai salah satu pusat kegiatan kota dalam pembentukan struktur dan pola
ruang Kota Sungai Penuh di masa mendatang.
B. Pusat Perdagangan dan Jasa
Pusat pelayanan perdagangan dan jasa yang saat ini berkembang pada Kota Sungai Penuh
adalah pusat pelayanan perdagangan dan jasa di Kawasan Pasar Tanjung Bajure dan Kawasan
Kincai Plaza. Saat ini Kawasan Kawasan Pasar Tanjung Bajure dan Kawasan Kincai Plaza
merupakan pusat distribusi dan koleksi barang dan jasa dimana transaksi perdagangan dan
jasa cukup dominan pada kawasan ini. Perkembangan kawasan ini sebagai pusat pelayanan
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-23
perdagangan dan jasa diindikasikan melalui kegiatan perdagangan dan jasa yang terpusat.
Dengan adanya pemusatan kegiatan perdagangan dan jasa pada kawasan ini, aliran distribusi
barang dan jasa menjadi semakin deras dan memberikan kontribusi yang sangat besar
terhadap pertumbuhan ekonomi kota sehingga dapat dikatakan bahwa kawasan ini sangat
berpotensi menjadi pusat kegiatan di masa mendatang.
Dengan demikian Kawasan Pasar Tanjung Bajure dan Kawasan Kincai Plaza memiliki peluang
untuk dikembangkan sebagai pusat pelayanan perdagangan dan jasa di masa mendatang pada
penetapan rencana struktur dan pola ruang kawasan.
C. Pusat Pariwisata
Kota Sungai Penuh pada bagian Barat kota ( Bukit Khayangan) merupakan kawasan yang masih
didominasi oleh kebun campuran dan semak belukar, namun memiliki potensi besar untuk
pengembangan kawasan pariwisata alam, karena potensi pemandangan dan hawanya yang
sejuk. Namun kawasan ini masih jauh dari kondisi yang diharapkan dari sebuah kawasan wisata
alam, cenderung belum dieksplorasi dengan baik. Oleh karena itu perlu diarahkan
pengembangan kawasan wisata alam pusat komersial wisata untuk mengoptimalkan potensi
yang ada.
Untuk mendukung pengembangan pariwisata kota agar tetap eksis perlu dirumuskan rencana
struktur dan pola ruang yang akomodatif terhadap pengembangan pariwisata, yaitu dengan
menetapkan pusat kegiatan pelayanan pariwisata serta dengan menetapkan zona/kawasan
khusus pariwisata pada Kota Sungai Penuh.
D. Pusat Pemerintahan
Pada Kota Sungai Penuh, penetapan struktur dan pola ruang di masa mendatang akan
dipengaruhi oleh keberadaan pusat pemerintahan baru yang saat ini telah dikembangkan di
pusat pemerintahan baru di Desa Aur Duri akan menjadi potensi baru dan akan menarik
perkembangan Kota Sungai Penuh ke arah Barat dan sekitarnya. Hal ini akan menjadikan
kawasan ini memiliki beban pelayanan hingga skala Kota Sungai Penuh.
Dengan demikian, pembentukan struktur dan pola ruang Kota Sungai Penuh di masa
mendatang perlu mempertimbangkan keberadaan kawasan pusat pemerintahan baru di Desa
Aur Duri, sebagai salah satu pusat kegiatan yang melayani dalam skala kota.

4.2.4.3 Potensi Lansekap Kota
Kondisi topografi yang berbukit dapat memberi warna bagi pengembangan Kota Sungai Penuh
ke depan, yaitu potensi pemandangan lansekap kota. Kawasan perbukitan di Kota Sungai
Penuh memiliki potensi pandang ke arah perkotaan yang memiliki ketinggian yang lebih
rendah. Keberadaan bukit-bukit tersebut dapat menjadi titik-titik pengembangan yang
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN IV-24
memberikan nilai view yang terbaik di Kota Sungai Penuh. Lokasilokasi perbukitan yang dapat
diidentifikasi diantaranya:
1. Kawasan bukit sentiong, Kawasan ini memiliki potensi city view dan pandangan ke
arah pegunungan di hinterland kota dari lokasi-lokasi perbukitan.
2. Koridor sepanjang Sungai Jernih dan Renah Kayu Embun pariwisata Bukit Khayangan,
Kawasan ini memiliki potensi pandangan ke arah pegunungan di hinterland kota dari
lokasi-lokasi perbukitan.
3. Kawasan Pemerintahan Kantor Walikota. Kawasan ini memiliki potensi pandangan ke
arah persawahan, pegunungan di hinterland kota, serta city view.
4. Kawasan Taman Bunga Talang Lindung. Kawasan ini memiliki pandangan ke arah
persawahan, pegunungan di hinterland kota, serta city view.

4.2.4.4 Keberadaan Bangunan Bersejarah
Keberadaan bangunan-bangunan bersejarah pada Kota Sungai Penuh berkaitan dengan
sejarah masa lalu Kota Sungai Penuh yang diwujudkan melalui bentuk-bentuk peninggalan fisik
berupa situs-situs dan bangunan yang memiliki nilai historis.
Perkembangan dan modernisasi Kota Sungai Penuh hingga 20 tahun mendatang harus
dibarengi dengan perwujudan aksentuasi objek dan kawasan bersejarah yang lebih kuat dan
diselaraskan dengan objek dan kawasan dengan ciri khas modern.
Dalam keterkaitannya dengan pengembangan Kota Sungai Penuh, maka perwujudan ruang
yang aman, nyaman dan estetis menjadi suatu kebutuhan, yang salah satunya dapat
diwujudkan dengan pembentukan image kota sebagai kota dengan nilai historis melalui
pelestarian peninggalan-peninggalan bersejarah. Oleh karena itu pengembangan ruang
kawasan dengan pertimbangan terhadap pelestarian objek-objek bersejarah menjadi
kebutuhan penting.
Pada Kota Sungai Penuh dapat diidentifikasi objek wisata bersejarah Mesjid Agung dapat
menjadi potensi bagi penciptaan ruang-ruang kota yang nyaman dan estetis. Objek-objek
tersebut pada umumnya terletak di kawasan pusat kota, dan merupakan bangunan
peninggalan sejarah karena mempunyai ciri khas arsitektur.



BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-1
BAB V METODOLOGI DAN PENDEKATAN



5.1 Pendekatan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Di satu sisi kebutuhan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Sungai
Penuh adalah sebagai tindaklanjut disusunnya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota
Sungai Penuh. Walaupun demikian di sisi lain dapat dipahami bahwa ada pertimbangan lain
terkait dibutuhkannya pelaksanaan penyusunan RDTR Kecamatan Sungai Penuh ini. Kondisi ini
dapat ditunjukkan dalam kerangka pikir pada Gambar 4.1 pada kerangka pikir tersebut dapat
disampaikan bahwa kebutuhan RDTR Kecamatan Sungai Penuh ini setidaknya terkait dengan
pertimbangan atas tiga hal penting yaitu:
- Antisipasi perkembangan kota dan wilayah
- Antisipasi perkembangan perekonomian kawasan
- Antisipasi perkembangan kependudukan
Selanjutnya pertimbangan ketiga aspek tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
kerangka penyusunan RDTR tersebut. Secara garis besar apa yang ditampilkan dalam kerangka
tersebut dapat dijelaskan sebagai suatu rangkaian tahapan sebagai berikut :
a. Identifikasi Potensi dan Permasalahan
b. Analisis
c. Rencana Detail Tata Ruang

a. Identifikasi Potensi dan Permasalahan
Tahap ini merupakan tahapan perumusan potensi dan permasalahan pengembangan
kawasan yang tentunya akan menjadi pertimbangan penting dalam analisis
pengembangan kawasan. Identifikasi potensi dan permasalahan ini dilakukan dengan
mempertimbangkan informasi-informasi terkait aspek :
- Kondisi fisik wilayah
- Kondisi kependudukan
- Kondisi perekonomian
- Ketersediaan daya dukung infrastruktur
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-2
Selain pertimbangan keempat aspek tersebut, identifikasi potensi dan permasalahan juga
mempertimbangkan masukan yang diberikan oleh masyarakat melalui mekanisme
perencanaan partisipatif. Melalui langkah ini diharapkan pemahamn terhadap potensi dan
permasalahan kawasan dapat dirumuskan dengan tepat dan teraah sehingga bias menjadi
masukan yang tepat pada proses analisis.

b. Analisis
proses analisis adalah proses pengolahan data sehingga bias menghasilkan informasi-
informasi yang lebih spesifik dalam menggambarkan kondisi yang harus ditangani di
lapangan. Analisis ini akan dititikberatkan pada:
- Anaisis fungsi kawasan; dititikberatkan untuk bisa menghasilkan identifikasi kawasan
potensial pengembangan dan kawasan non pengembangan
- Analisis kependudukan; dititikberatkan untuk bisa menghasilkan proyeksi jumlah
penduduk dan arahan pola penyebaran penduduk
- Analisis struktur ruang dan struktur kegiatan; dititikberatkan untuk dapat
menghasilkan arahan system pusat-pusat kegiatan dan system jaringan
- Analisis pengembangan perekonomian wilayah; dititikberatkan untuk dapat
menghasilkan arahan sector potensial dan arahan pengembangan sektor
- Analisis pengembangan daya dukung infrastruktur; dititikberatkan untuk dapat
menghasilkan arahan pelayanan dan arahan pengembangan jaringan
Seluruh proses analisis tersebut dilakukan dengan metodologi teknis yang sesuai serta
mempertimbangkan berbagai factor eksternal yang diantaranya yang paling penting
adalah meliputi :
- Pertimbangan perencanaan makro (RTRW Propinsi Jambi dan RTRW Kota Sungai
Penuh)
- Dasar hukum yang berlaku (diantaranya UU 26/2007 dan Permen PU No.
20/PRT/M/2011)
- Analisis mitigasi bencana
- Penggunaan standard dan kriteria yang berlaku

c. Rencana Detail Tata Ruang
Diakhir proses analisis akan dihasilkan rumusan tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
Selain mempertimbangkan hasil analisis yang telah dilakukan, rumusan RDTR ini juga
mempertimbangkan aspek mitigasi bencana, dan juga partisipasi masyarakat. Artinya
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-3
konsep RDTR yang dihasilkan haruslah mendapat legitimasi dari masyarakat agar dapat
dicapai tujuan penataan ruang secara optimal. Dalam RDTR ini khususnya melalui
pertimbangan dari identifikasi kawasan potensial pengembangan dan kawasan non
pengembangan perlu dibuat suatu pembagian blok perencanaan. Yaitu kawasan
perencanaan dibagi habis dalam blok-blok yang lebih kecil menggunakan batas fisik yang
ada ataupun pertimbangan lain sehingga menjadi bagian kawasan yang lebih kecil yang
lebih memungkinkan untuk dapat memberikan tingkat perencanaan yang lebih detail.
Secara lebih rinci RDTR yang akan dihasilkan setidaknya harus meliputi :
- Rencana Struktur Kawasan
- Rencana Peruntukan Blok Kawasan
- Rencana Sistem Jaringan
- Rencana Penataan Bangunan dan Lingkungan
- Indikasi Program Pembangunan
- Rencana Pengendalian;
o Aturan zonasi
o Aturan perijinan
o Sistem insentif-disinsentif
o Mekanisme sanksi

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-4
Gambar V-1 Kerangka Pendekatan Penyusunan RDTR Kecamatan Sungai Penuh
SKEMA PENTAHAPAN WAKTU
BULAN BULAN KE 1
MINGGU
TAHAPAN
KEGIATAN
1 2 3 4
BULAN KE 2
1 2 3 4
BULAN KE 3
1 2 3 4
A
.
T
A
H
A
P

P
E
N
Y
U
S
U
N
A
N

R
D
T
R

K
E
C
A
M
A
T
A
N

S
U
N
G
A
I

P
E
N
U
H
T
A
H
A
P
P
E
N
Y
U
S
U
N
A
N

D
O
K
U
M
E
N

S
P
A
S
I
A
L
LAPORAN
PENDAHULUAN
LAPORAN
FAKTA DAN ANALISIS
BUKU RENCANA PELAPORAN
Identifikasi dan Analisis
Persiapan & Kajian
Strategi
B.1
Survey
Lapangan
(data
primer)
A.5
Menyusun
Desain
Survey
A.1
PERSIAPAN
Koordinasi dan Mobilisasi Tim
Penyepakatan lingkup
metodologi & rencana kerja
Penyusunan perangkat kerja
A.2
Inventarisasi Produk Peraturan &
Kebijakan Kab. Lampung Selatan
UUPR No.26 Th 2007 ttg Penataan
Ruang
PERMEN PU No.20/PRT/M/2011
tentang Pedoman Penyusunan RDTR
dan Peraturan Zonasi Kab./Kota
RTRWP Provinsi Jambi
RTRW Kota Sungai Penuh
KEPMENKIMPRASWIL No.327/KPTS/
M/2002 tentang Penetapan Enam
Pedoman Bidang Penataan Ruang
A.3
Identifikasi Issue Awal
Alih fungsi lahan
Mixed Land Use
Sarpras Transportasi kurang memadai
Banjir dan genangan air
Minimnya Prasarana, Sarana dan
Utilitas
Kawasan Strategis dari perspektif
ekonomi, sosial budaya, fungsi dan
daya dukung lingkungan
A.4
Merumuskan
Hipotesa Awal
B.2
Survey
Instansional
(data
sekunder)
B.3
Tabulasi
dan
Kompilasi
Data
B.4
Updating
Kajian
Issue dan
masalah
Kawasan
B.5
Melakukan
Analisis
Karakteristik
Wilayah dan
daya dukung
lingkungan
B.6
Melakukan
Analisis
Perkiraan
Kebutuhan dan
Kecenderungan
Perkembangan
B.7
Melakukan
Analisis
Perencanaan
Pembangunan
dan Pembiayaan
C.2
Menyusun
Draft Materi
Teknis RDTR
C.1
Merumuskan
Konsepsi
RDTR
C.3
Merumuskan
Konsepsi
Zonning
Regulation
C.4
Menyusun
Draft Zonning
Regulation
C.5
Menyusun
Indikasi
Program
D.2
Menyusun Draft
Raperda &
Zonning
Regulation
D.1
Finalisasi & Perbaikan
- RDTR KAWASAN
Draft RAPERDA
Zonning Regulation
D.3
Penyusunan dan
Produksi
- Dokumen RDTR
KAWASAN
- Executive Summary
- CD semua laporan
- Album Peta
D.4
Produksi
Dokumen
Menyiapkan Peta
Dasar
Desain dan Struktur
Basis Data
Peta Tematik
Eksisting
Peta Tematik
Analisis
Pembuatan Peta-
Peta Konsepsi RDTR
Peta Rencana
RDTR
Peta Konsep ZR Zonning Map
Finalisasi Album
Gambar/Peta RDTR dan
Zoning Regulation
Finalisasi & Hasil
Kesepakatan
Penyusunan RDTR dan ZR

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-5
5.2 Metodologi Teknis
5.2.1 Pendekatan dan Metodologi Dalam Proses Identifikasi Awal dan Pendataan
Terdapat dua kegiatan utama dalam tahap ini yaitu : review literature awal serta kegiatan
survai dan kompilasi data.

5.2.1.1 Pendekatan Studi Dokumenter dalam Identifikasi dan Kajian Materi Pekerjaan
Pekerjaan ini memiliki kecenderungan sifat studi yang memerlukan dukungan kegiatan kajian,
baik terhadap literatur berupa tulisan, jurnal, dan hasil studi terkait, hingga berbagai jenis
regulasi dan kebijakan yang terkait dengan upaya penataan kawasan perkotaan. Untuk itu,
diperlukan model pendekatan studi dokumenter yang akan menginventarisasi dan
mengeksplorasi berbagai dokumen terkait dengan materi pekerjaan. Studi dokumenter
memiliki ciri pendekatan yang mengandalkan dokumen/data-data sekunder seperti:
- Peraturan perundangan-undangan dan dokumen kebijakan yang terkait
- Laporan perencanaan penataan kawasan perkotaan pada wilayah lain (best practice)
- Teori maupun konsep-konsep penataan kawasan perkotaan, termasuk dalam aspek
pendukungnya seperti kelembagaan, pengelolaan kawasan, serta aspek pembiayaan.

5.2.1.2 Metode Survey
Kegiatan pengumpulan data, terdiri dari survai pendahuluan dan survai lanjutan. Survai
pendahuluan dilakukan dengan memfokuskan pada isu-isu penting yang perlu dilihat di
lapangan serta dengan mencatat sumber informasi (kontak person) yang sekiranya akan dapat
membantu mendetailkan informasi pada pelaksanaan survai lanjutan. Hasil dari survai
pendahuluan akan memberikan gambaran bagi kebutuhan riil pelaksanaan survai lanjutan.
Survai lanjutan dilakukan melalui survai sekunder (instansional) dan survai primer.

a. Survai sekunder (instansional)
Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan data dan informasi yang telah terdokumentasikan
dalam buku, laporan dan statistik yang umumnya terdapat di instansi terkait. Di samping
pengumpulan data, pada kegiatan ini dilakukan pula wawancara atau diskusi dengan pihak
instansi mengenai permasalahan-permasalahan di tiap bidang/aspek yang menjadi
kewenangannya serta menyerap informasi mengenai kebijakan-kebijakan dan program yang
sedang dan akan dilakukan.

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-6
Tabel V-1 Identifikasi Kebutuhan Data dalam Penyusunan RDTR
No. Klasifikasi data Data yang Dibutuhkan Jenis Survai Skala Data
Primer Sekunder Kota Kec
Pengamatan
Lapangan
Wawancara/
Kuesioner
1 Fisik Dsar, Sumber
daya alam dan
Lingkungan
Topografi
Geologi
Jenis tanah
Kemiringan lahan
Hidrogeologi
Hidrologi
2 Kependudukan (trend
perkembangan &
proyeksi penduduk)
Jumlah penduduk
Sebaran penduduk
Komposisi penduduk
Mata pencaharian
Pendapatan
Pertumbuhan penduduk
Kepadatan
Pola pergerakan
3 Sosial budaya Kondisi sosial dan budaya
Pola Partisipasi
4 Kemampuan tumbuh
& berkembang dalam
skala regional
Kecenderungan
perkembangan kota

Kebijaksanaan terkait
Fungsi dan peran kota
Sektor unggulan wilayah
sekitar

Sistem regional
5 Struktur dan pola
pemanfaatan ruang
Guna lahan / land use
Kecenderungan
perkembangan guna lahan

6 Kegiatan
perekonomian Kota
Jenis aktivitas
perekonomian

Lokasi kegiatan ekonomi
Sektor unggulan
Sektor prioritas
PDRB
Kecenderungan pola
aktivitas

Kondisi pasar
Skala pelayanan ekonomi
yang ada

7 Transportasi Data Jaringan jalan
Titik konflik
Jumlah & sebaran Terminal
Data angkutan umum
Volume kendaraan
Permasalahan transportasi
8 Fasilitas Umum &
sosial
Fasilitas peribadatan
Fasilitas pendidikan
Fasilitas kesehatan
Fasilitas perekonomian
Fasilitas OR & taman
Sarana pos &
telekomunikasi

9 Utilitas Data Air bersih
Data Air Limbah
Data Persampahan
Data Drainase
Data jaringan listrik
Data jaringan telepon
10 Pertanahan Status tanah
Kepemilikan tanah
Data ijin lokasi
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-7
11 Kelembaagan Stakeholder terkait
Pola kelembagaan
Permasalahan
12 Hukum dan
peraturan
Pembangunan
Peraturan terkait
13 Mekanisme
administrasi
management
pembangunan
Sistem perijinan
14 Pembiayaan
pembangunan
Pola pembiayaan
Sumber pembiayaan
15 Kebijaksanaan terkait Rencana tata ruang kota
yang telah ada

Kebijaksanaan regional
terkait

16 Data kepustakaan Pembiayaan pembangunan
dan anggaran
pembangunan

Standar kebutuhan ruang
Pola kemitraan &
kerjasama pembangunan

Pola manajemen
pertanahan

Paket-paket insentif dan
disinsentif

Sumber : Diambil dari beberapa referensi

b. Survai primer
Survai ini dilakukan untuk mendapatkan data terbaru/ terkini langsung dari lapangan atau
obyek kajian. Survai primer yang akan dilakukan dalam penyusunan RDTR setidaknya terdiri
dari 5 tipe survai, disesuaikan dengan kebutuhan informasi dan pendataan, yaitu:
1. Survai land use dan bangunan
Survai yang dilakukan adalah pengecekan di lapangan mengenai guna lahan eksisting serta
bangunan penting yang ada di wilayah perencanaan. Data-data yang diperoleh dari survai
ini digunakan untuk menganalisis struktur ruang eksisting dan kemudian menetapkan
struktur tata ruang dan pola pemanfaatan ruang pada tahun yang direncanakan.
2. Survai infrastruktur
Survai ini dilakukan untuk memperoleh data infrastruktur dengan cara pengamatan
lapangan guna menangkap/ menginterpretasikan data-data sekunder lebih baik. Di
samping itu survai ini dilakukan untuk memperoleh masukan dari para stakeholders terkait
mengenai permasalahan dan kondisi infrastruktur kota yang bersangkutan. Masukan
tersebut dapat diperoleh melalui wawancara maupun penyebaran kuesioner.
3. Survai Transportasi
Survai ini dilakukan untuk memperoleh data dan informasi mengenai transportasi kota
dengan bentuk survai yang dilakukan adalah:
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-8
- pengamatan lapangan untuk mengamati kondisi dan permasalahan jaringan dan
sistem transportasi sehingga dapat menangkap/menginterpretasikan data-data
sekunder lebih baik
- traffic counting, untuk memperoleh data volume lalu lintas harian rata-rata (LHR) pada
jalan-jalan utama dan persimpangan penting.

4. Survai Pelaku ekonomi
Data dan infromasi yang ingin didapat dari kegiatan survai ini adalah data pelaku, lokasi,
kecenderungan dan potensi pasar, rencana, permasalahan dan keinginan para pelaku
tersebut. Pengumpulan data pelaku ekonomi dilakukan dengan cara:
- pengamatan lapangan untuk mengamati pola penyebaran dan jenis intensitas kegiatan
ekonomi tersebut
- wawancara/kuesioner terhadap pelaku aktivitas

5. Survai Sosial Kependudukan (survai rumah tangga)
Pengumpulan data mengenai sosial kependudukan dilakukan dengan survai primer dan
sekunder, dengan materi yang dikumpulkan adalah data penduduk dan distribusinya,
struktur penduduk, serta sosial kemasyarakatan. Untuk pengumpulan data yang
bersumber langsung dari masyarakat akan digunakan wawancara semi-terstruktur secara
random sampling. Data yang akan dikumpulkan meliputi jenis data:
- Data fakta, yaitu data faktual berupa data demografis dan data status lainnya yang
melekat pada masyarakat, baik secara individual maupun kolektif;
- Data sikap, yaitu data mengenai sikap preferensi masyarakat terhadap kondisi dan
aspek pelayanan perkotaan, suasana lingkungan, kebijaksanaan yang berlaku dan
program-program pembangunan yang akan dilaksanakan, dengan berbagai nilai,
seperti suka atau tidak suka, serta puas atau tidak puas;
- Data pendapat, yaitu data mengenai pendapat masyarakat terhadap persoalan yang
ada pada sistem lingkungan perkotaan. Pernyataan dari masyarakat mengungkapkan
ide serta gagasan masyarakat.
- Data perilaku, yaitu data mengenai perilaku dan tindakan yang dilakukan masyarakat
secara individu terhadap suatu hal.
- Dalam teknik wawancara akan menggunakan cara:
- Teknik wawancara langsung pada tempat alamat responden
- Teknik wawancara pada tempat kegiatan masyarakat seperti kampus, jalan, tempat-
tempat umum
- Teknik seminar dengan mengundang responden yang kompeten

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-9
5.2.1.3 Metode Observasi
Observasi yaitu pengamatan langsung secara visual untuk mengetahui dan mencatat keadaan
wilayah sebenarnya di lapangan. Alat yang digunakan adalah lembar observasi. Teknik ini
dipergunakan untuk memperoleh informasi dan data yaitu dengan mengadakan pengamatan
secara langsung di lapangan (wilayah perencanaan) dan hasilnya dicatat atau dispasialkan
(peta/gambar/foto) hasil dari observasi ini dapat berupa data kualitatif dan kuantitatif.
Sebaiknya sebelum melakukan metode observasi diharapkan untuk memahami karakteristik
wilayah survey, hal ini dilakukan agar kegiatan observasi mampu menangkap isu potensi dan
masalah wilayah dengan tepat.
Pengumpulan data primer dengan observasi meliputi pengumpulan data secara langsung
maupun tidak langsung. Teknik observasi langsung adalah cara mengumpulkan data yang
dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada obyek yang
pelaksanaannya langsung pada tempat dimana suatu peristiwa, keadaan atau situasi
sedang terjadi. Sedang teknik observasi tidak langsung adalah cara mengumpulkan data
yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada obyek
pelaksanaannya tidak langsung di tempat atau pada saat peristiwa, keadaan atau situasi
terjadi.

5.2.1.4 Metode Survey Blok
Dalam mendapatkan akurasi data secara tepat mengenai sejumlah kegiatan di wilayah
Kecamatan Sungai Penuh diperlukan metode survey blok. Metode ini diharapkan mampu
menyesuaikan data antara data sekunder dengan data pengamatan langsung di lapangan.
Metode ini juga berguna dalam penzoningan dan membuat blok plan. Zoning ini dibuat dalam
berbagai alternatif gambar konseptual penggunaan tapak. Disini zoning tapak dikeluarkan
dalam bentuk site plan dengan kedalaman peta 1: 5000. Dalam metode survey blok data
penggunaan ruang yang menggambarkan karakteristik penebaran bentuk-bentuk fisik buatan
manusia, dapat dirinci sebagai berikut :
1. Rincian jenis penggunaan lahan
2. Struktur dan kualitas bangunan untuk masing masing jenis penggunaan lahan.
3. Kepadatan bangunan pada setiap jenis penggunaan lahan.
4. Kedudukan/peran/estetika bangunan pada lingkungan/wilayah perencanaan yang
bersangkutan.
5. Data tersebut disajikan dalam bentuk peta dengan skala 1 : 5.000 dan menggunakan
perbedaan warna/kode serta dilengkapi tabel-tabel data.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-10
Sedangkan Uraian secara detail dalam melaksanakan survey blok, jenis kegiatan yang harus
diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan lahan dan Bangunan, meliputi :
- Perumahan
- Perdagangan
- Perkantoran
- Bangunan Umum
- Industri
- Ruang Terbuka Hijau

2. Kondisi Fisik Bangunan, meliputi :
- Garis sempadan bangunan
- Kapadatan bangunan
- Ketinggian bangunan
- Kondisi rumah
Untuk Lebih Jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel V-2 Jenis Kegiatan Untuk Survey Blok Dalam Penyusunan RDTR Kecamatan Sungai
Penuh
N
o
JENIS KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN KETERANGAN
1 Penggunaan Bangunan
dan Lahan

PERUMAHAN 1. Perumahan Tunggal
2. Perumahan Deret
PERDAGANGAN 1. Perdagangan Tunggal :
- Pasar Tradisional
- Super market
- Pasar Swalayan
2. Perdagangan Kelompok
- Pasokan Bahan Bangunan dan Alat Pertukaran
- Alat-Alat Rumah Tangga, Perabot dan Perkakas
- Toko Minuman dan Makanan
- Barang Kelontong dan Kebutuhan Sehari-Hari
- Pakaian dan Perlengkapannya
- Pasokan Pertanian
- Apotik dan Toko Obat
3. Perdagangan dan Jasa
- Jasa Keuangan
- Jasa Bangunan
- Jasa Pelayanan Bisnis
- Jasa Usaha Makanan dan Minuman
- Jasa Perawatan/Perbaikan/Reparasi
- Jasa Pengiriman Pesanan/Ekspedisi
- Jasa Personal
- Fasilitas Penitipan Anak
- Panti Pijat, Spesialis/Ahli
- Klab Malam dan Bar
- Klinik dan Laboratorium Kesehatan
- Salon dan Spa Peawatan Kecantikan
- Jasa Foto Kopi
- Jasa Rental Komputer/Print
- Jasa Telekomunikasi/Wartel/Warnet
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-11
N
o
JENIS KEGIATAN RINCIAN KEGIATAN KETERANGAN
- Jasa Pemakaman
4. Pelayanan dan Jasa Kendaraan Bermotor
- Bengkel Kendaraan Pribadi/Niaga
- Penjualan/Persewaan Kendaraan Pribadi/Niaga
- Penjualan /Persewaan Peralatan dan Perlengkapan
Kendaraan
- Penjualan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
PERKANTORAN 1. Kantor Pemerintahan
2. Kantor swasta
BANGUNAN UMUM 1. Tempat Ibadah
- Gereja
- Mesjid
- Langgar
- Vihara
2. Pendidikan
- Play Group/TK
- Taman kanak-kanak
- Sekolah dasar
- Sekolah tingkat pertama
- Sekolah tingkat menengah
- Perguruan tinggi
3. Kesehatan
- Rumah Sakit
- Rumah Bersalin
- Puskesmas
- Poliklinik/balai pengobatan
4. Pelayanan Sosial (Panti Asuhan)
5. Museum
6. Gedung Olah Raga
7. Pelayanan Pemerintahan
- Kantor Polisi
- Kantor Pos dan Giro
8. Fasilitas Transportasi
- Stasiun Kereta Api
- Terminal bis/angkutan kota
9. Telekomunikasi (Transmisi induk, relay dan distribusi komunikasi)
INDUSTRI 1. Industri pergudangan
2. Industri berat
3. Industri ringan
RUANG TERBUKA HIJAU 1. Taman (pasif)
2. Taman (aktif)
3. Pemakaman
4. Lapangan Olah Raga
5. Ruang terbuka bukan sarana lingkungan (lahan budidaya atau
lahan kosong belum terbangun)
6. Ruang terbuka pengaman (yang terbentuk karena sempadan
jalan, sempadan sungai)
2. FISIK BANGUNAN Garis Sempadan 1. Garis Sempadan Bangunan
2. Garis Sempadan Sungai
Kepadatan Bangunan 1. Rendah (ada ruang terbuka disekitar bangunan, halaman
bermain dan taman)
2. Sedang (ada ruang terbuka, tidak luas)
3. Tinggi (tidak ada ruang terbuka, tidak ada halaman, berhimpitan)
Ketinggian Bangunan 1. 1 lantai
2. 2 3 lantai
3. 4 6 lantai
4. > 6 lantai
Kondisi rumah 1. Permanen
2. Semi permanen
3. Tidak permanen
Kontruksi Rumah 1. Beton
2. Papan/kayu
3. Campuran (beton dan papan/kayu)
Sumber : Pedoman Penyusunan RDTR Kab./Kota, 2011
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-12
5.2.1.5 Metode Wawancara
Dalam suatu penelitian, wawancara memiliki peranan penting karena merupakan teknik
pengumpulan data primer yang paling baik untuk mengetahui tanggapan dan memungkinkan
peneliti untuk menguraikan pertanyaan dan menelusuri responden untuk informasi yang lebih
lanjut. Alat yang digunakan adalah lembar wawancara. Responden wawancara adalah tokoh
masyarakat di lingkungan wilayah perencanaan, instansi pemerintah dan pihak-pihak yang
terkait.

5.2.1.6 Metode Survey Instansional
Dokumen pustaka berguna dalam memberikan memberikan informasi dasar, memberikan
informasi masa lampau, sebagai bahan untuk manambah konsep studi, dan sebagai bahan
perbandingan berupa keputusan-keputusan, pokok pikiran, kumpulan yang sudah pernah
dilakukan orang. Dokumen pustaka juga dapat memberikan informasi tentang kegiatan-
kegiatan terdahulu sehingga mencegah pengulangan studi dan memperluas pandangan. Data
ini umumnya sudah terpola sesuai dengan aturan masing-masing instansi dan untuk
memperoleh data yang benar-benar akurat, sekurang-kurangnya data harus dalam interval 5
tahun terakhir (time series). Adapun penyusunan RDTR ini dilakukan dari berbagai sumber,
sebagai berikut:
1. Studi literatur yang berkaitan dengan studi partisipasi masyarakat dan penyusunan
RDTR
2. Informasi dari media cetak (Koran, Majalah), Media Elektronik (Internet).
3. Instansi pemerintahan diantaranya Badan Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, Dinas
Pekerjaan Umum, Bappeda pihak kecamatan dan instansi pemerintah yang terkait
dengan penyusunan RDTR.

5.2.1.7 Kebutuhan Data dan Peta
Kebutuhan data serta peta yang harus ada dalam proses penyusunan RDTR Kecamatan Sungai
Penuh ini sangat diperlukan, karena dengan tersedianya data yang terbaru (up to date) akan
berpengaruh juga terhadap rencana yang akan dibuat. Berikut data penunjang yang diperlukan
dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota :
1. Data keadaan fisik dasar, yang meliputi keadaan topografi/kemiringan tanah, geologi /
daya dukung ruang / hidrologi / sumber-sumber air untuk seluruh wilayah perencanaan.
Informasi tersebut perlu dilengkapi peta dengan kedalaman skala 1 : 5.000 yang dilengkapi
dengan kedudukan, tepat dari setiap unsur kota.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-13
2. Data penggunaan ruang yang menggambarkan karakteristik penebaran bentuk-bentuk fisik
buatan manusia, yaitu :
- Rincian jenis penggunaan lahan
- Struktur dan kualitas bangunan untuk masing masing jenis penggunaan lahan.
- Kepadatan bangunan pada setiap jenis penggunaan lahan.
- Kedudukan/peran/estetika bangunan pada lingkungan/wilayah perencanaan yang
bersangkutan.
- Data tersebut disajikan dalam bentuk peta dengan skala 1 : 5.000 dan menggunakan
perbedaan warna/kode serta dilengkapi tabel-tabel data.
Sedangkan Data-data yang dibutuhkan dari instansi-instansi / badan terkait dalam penyusunan
Rencana detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Sungai Penuh mencakup :
1. Data keadaan wilayah perencanaan yang menggambarkan pola dan kualitas jaringan jalan
yang ada di kota yaitu meliputi :
- Panjang dan lebar menurut fungsinya;
- Jenis dan kondisi perkerasan jalan
- Kondisi fasilitas jalan lainnya seperti saluran air limbah, saluran pengeringan dan lain-
lain;
- Garis sempadan bangunan untuk setiap ruas jalan;
- Arus lalu-lintas, parkir dan sebagainya.
- Data tersebut disajikan dalam bentuk peta dengan skala 1 : 5.000 dan menggunakan
perbedaan warna/kode serta dilengkapi tabel-tabel.
Tabel V-3 Daftar Kebutuhan Data Dalam Penyusunan RDTR Kecamatan Sungai Penuh
No Jenis Data Sumber
1 Potensi dan masalah wilayah perencanaan Observasi
2 Survei blok wilayah perencanaan Observasi
3 Keadaan Fisik, meliputi :
- Topografi
- Keadaan geologi
- Keadaan tanah
- Hidrologi
- Klimatologi
Observasi
4 Penggunaan ruang fisik buatan, meliputi :
- Pola dan jenis peruntukan lahan (TGL)
- Struktur dan kualitas bangunan
- Kepadatan bangunan.
- Kedudukan/peran/estetika bangunan pada lingkungan/
wilayah perencanaan yang bersangkutan.
Observasi
5 Jaringan Jalan, meliputi :
- panjang dan lebar menurut fungsinya;
Observasi
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-14
No Jenis Data Sumber
- jenis dan kondisi perkerasan jalan
- kondisi fasilitas jalan lainnya seperti saluran air limbah,
saluran pengeringan dan lain-lain;
- garis sempadan bangunan untuk setiap ruas jalan;
- arus lalu-lintas, parkir dan sebagainya.
6 Data sistem transportasi
- Data kapasitas dan kondisi terminal
- Matriks asal tujuan
- Sistem parkir (on & off street)
- Kondisi jalan dan pelengkapnya
Observasi
7 Data Sarana
- Persebaran dan skala pelayanan sarana
- Lokasi dan kondisi kawasan lindung
(sempadan, lahan resapan, konservasi, cagar budaya)
Observasi
8 Data Air Bersih
- Lokasi dan kondisi hidran
- Lokasi dan kondisi kran umum
Observasi
9 Data Sanitasi
- Lokasi dan kondisi
Observasi
10 Data Sampah
- Lokasi dan Kondisi TPS/TPA
- Lokasi penumpukan/timbunan sampah
Observasi

2. Data mengenai tanah perkotaan meliputi data pola pemilikan tanah secara umum, dan
perkiraan umum harga/nilai yang disajikan dalam peta dengan skala 1 : 5.000.
3. Data mengenai sarana dan prasarana utama perkotaan dari pusat layanan primer hingga
pusat layanan tersier meliputi:
- Pola distribusi fasilitas pendidikan, per-belanjaan, kesehatan dan rekreasi beserta
intensitas fungsi pelayanannya, pergudangan dan sebagainya
- Sistem distribusi dan kapasitas sumber air bersih/minum kota
- Sistem distribusi jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi kota
- Sistem pembuangan air limbah dan drainase kota
- Sistem pembuangan sampah.
4. Data mengenai aspek kependudukan sebagai bahan evaluasi kebijaksanaan kependudukan
yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. Data tersebut meliputi :
- Data jumlah penduduk kota 5 tahun terakhir
- Data distribusi jumlah penduduk diuraikan dalam unit data kota dalam wilayah
administrasi terkecil untuk 5 tahun terakhir
- Data penduduk berdasarkan usia kerja untuk seluruh kota untuk 5 tahun terakhir
- Data distribusi jenis struktur tenaga kerja diuraikan dalam unit data kota terkecil
(Kelurahan/Desa) untuk 5 tahun terakhir.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-15
- Data tersebut disajikan dalam bentuk tabel dengan dilampiri peta kepadatan
penduduk.
5. Kajian kajian literatur seperti rencana rencana yang pernah dilakukan di Wilayah
Pengembangan
Berikut ini peta-peta yang dibutuhkan dalam penyusunan RDTR Kecamatan Sungai Penuh,
yaitu :
Tabel V-4 Daftar Kebutuhan Peta Dalam Penyusunan RDTR Kecamatan Sungai Penuh
No Peta yang diperlukan Sumber
1 Peta Kecamatan Sungai Penuh BAPPEDA,
KANTOR KECAMATAN
2 Peta Peta RTRW Kota Sungai Penuh BAPPEDA
3 Peta Citra dan hasil digitasinya BAPPEDA,
DINAS PU
4 Peta tata guna lahan BAPPEDA
5 Peta penataan bangunan BAPPEDA
6 Peta intensitas penggunaan ruang BAPPEDA
7 Peta kepadatan bangunan BAPPEDA
8 Peta jaringan jalan raya hirarki, perkerasan, lebar jalan) DINAS PERHUBUNGAN
9 Peta jalur MPU DINAS PERHUBUNGAN
10 Peta jaringan pergerakan angkutan jalan raya DINAS PERHUB
11 Peta Persebaran sarana/fasilitas umum BAPPEDA
12 Peta jaringan air bersih PDAM
13 Peta jaringan drainase DINAS PU,
BAPPEDA
14 Peta jaringan listrik PLN
15 Peta jaringan telepon TELKOM
16 Peta jaringan pipa air minum PDAM
17 Peta sarana persampahan Dinas Kebersihan dan
Pertamanan
19 Peta sanitasi umum Dinas Kebersihan dan
Pertamanan
20 Peta topografi/peta garis BPN
21 Gambar penampang melintang/geometrik jalan DINAS PU
DINAS PERHUBUNGAN
22 Gambar penampang/irisan pipa distribusi air PDAM
23 Peta lokasi titik-titik genangan/banjir DINAS PU, BAPPEDA
24 Peta persebaran industri dan pengelolaan limbah DINAS KOPERINDAG DAN UKM


5.2.2 Pendekatan Dan Metodologi Dalam Proses Analisis Perencanaan
5.2.2.1 Pendekatan Analisis Perencanaan
Kelanjutan dari proses kompilasi dan tabulasi adalah proses analisis. Ada empat hal utama
yang perlu dinilai dalam analisis ini yaitu :
1. Analisis keadaan dasar yaitu menilai kondisi eksisting pada saat sekarang;
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-16
2. Analisis kecenderungan perkembangan yaitu menilai kecenderungan sejak masa lalu
sampai sekarang dan kemungkinan-kemungkinannya di masa depan, terutama
pengaruh tumbuhnya fungsi baru khususnya pada pelayanan kabupaten;
3. Analisis sistem serta kebutuhan ruang yaitu menilai hubungan ketergantungan antar
sub sistem atau antar fungsi, dan pengaruhnya apabila sub sistem atau fungsi baru itu
berkembang, serta perhitungan ruang dalam kawasan sebagai akibat perkembangan di
masa depan;
4. Analisis kemampuan pengelolaan pembangunan daerah yaitu menilai kondisi
keuangan Daerah, organisasi pelaksana dan pengawasan pembangunan, personalia,
baik pada saat sekarang maupun yang diperlukan di masa depan.
Dalam pekerjaan ini analisis yang dilakukan menggunakan model pendekatan SWOT (Strength,
Weakness, Opportunity, and Threat) yaitu suatu analisis yang bertujuan mengetahui potensi
dan kendala yang dimiliki kota, sehubungan dengan kegiatan pengembangan kota yang akan
dilakukan di masa datang. Analisis ini meliputi tinjauan terhadap:
1. Kekuatan-kekuatan (strength) yang dimiliki kota, yang dapat memacu dan mendukung
perkembangan kota, misalnya kebijaksanaan-kebijaksanaan pengembangan yang
dimiliki, aspek lokasi yang strategis, dan ruang yang masing tersedia;
2. Kelemahan-kelemahan (weakness) yang ada yang dapat menghambat pengembangan
kota, baik hambatan dan kendala fisik kota maupun non fisik, misalnya kemampuan
sumber daya manusia, aspek lokasi, keterbatasan sumber daya alam pendukung,
keterbatasan/ketidakteraturan ruang kegiatan, atau pendanaan pembangunan yang
terbatas;
3. Peluang-peluang (opportunity) yang dimiliki untuk melakukan pengembangan kota,
berupa sektor-sektor dan kawasan strategis;
4. Ancaman-ancaman (threat) yang dihadapi, misalnya kompetisi tidak sehat dalam
penanaman investasi, pembangunan suatu kegiatan baru atau pertumbuhan dinamis
di sekitar kawasan yang dapat mematikan kelangsungan kegiatan strategis kota yang
telah ada.

5.2.2.2 Metode Analisis Perencanaan
Dalam penyusunan RDTR Kecamatan Sungai Penuh ini dibutuhkan beberapa metoda analisis
yang pemakaiannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi data dan informasi yang akan
diperoleh. Walaupun demikian pada usulan teknis ini disajikan beberapa gagasan mengenai
teknik proyeksi, model dan formula analisis yang umum dan banyak dipergunakan dalam suatu
kegiatan analisis perencanaan yang kemungkinan dapat dijadikan sebagai salah satu teknik
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-17
analisis. Lebih jauh beberapa metoda analsis yang dapat digunakan pada pekerjaan ini akan di
ulas pada bagian lain dari bab ini.
Selanjutnya hasil dari analisis antara lain memuat : langkah-langkah penentuan arah
pengembangan, identifikasi potensi dan masalah pembangunan dan perumusan konsep
rencana.
1. Penentuan arah pengembangan
Dalam menentukan arah pengembangan Kawasan dilakukan pula penentuan batas wilayah
perencanaan. Batas Kawasan Perkotaan ditentukan berdasarkan kriteria yang berlaku,
dimana kawasan perencanaan meliputi beberapa bagian kawasan dari Wilayah Kecamatan
Sungai Penuh. Selain itu diperlukan peninjauan terhadap aspek ekonomi, sosial, budaya,
daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta fungsi pertahanan keamanan.
2. Identifikasi potensi dan masalah pembangunan
Mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan Kawasan Perencanaan
dalam mewujudkan keterpaduan, keseimbangan, dan keserasian pembangunan antar
sektor dalam rangka penyusunan dan pengendalian program-program pembangunan
kawasan perkotaan jangka panjang.
Dalam melakukan kegiatan identifikasi permasalahan di Kawasan perencanaan, ada
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :
a. Perkembangan sosial-kependudukan;
Dimaksudkan untuk melihat gambaran kegiatan sosial kependudukan, baik tingkat
pertumbuhan penduduk, ukuran keluarga, budaya atau aktivitas sosial penduduk
termasuk tradisi, serta pergerakan penduduk (migrasi) yang mencerminkan daya tarik
kawasan.
b. Prospek pertumbuhan ekonomi;
Dimaksudkan untuk melihat gambaran sektor-sektor pendorong perkembangan
ekonomi dan tingkat perkembangannya yang dapat dilihat dari faktor
ketenagakerjaan, PDRB, kegiatan usaha dan perkembangan penggunaan tanah dan
produktivitasnya.
c. Daya dukung fisik dan lingkungan;
Dimaksudkan untuk melihat kemampuan fisik dan lingkungan perkotaan dalam
mendukung pengembangan yang akan terjadi maupun yang ada pada saat ini.
Termasuk diantaranya adalah untuk mengidentifikasikan lahan-lahan potensial bagi
pengembangan selanjutnya. Informasi yang dibutuhkan bagi keperluan tersebut
antara lain:
- Kondisi tata guna tanah (penggunaan tanah);
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-18
- Kondisi bentang alam kawasan;
- Lokasi geografis;
- Sumber daya air;
- Kondisi lingkungan yang tergambarkan dari kondisi topografi dan pola drainase;
- Sensitivitas kawasan terhadap lingkungan, bencana alam dan kegempaan;
- Status dan nilai tanah;
- Ijin lokasi, dll.
d. Daya dukung prasarana dan fasilitas perkotaan;
Dimaksudkan untuk melihat kondisi tingkat pelayanan prasarana dan sarana perkotaan
bagi kebutuhan aktivitas penduduk perkotaan dalam menunjang fungsi dan peran
kawasan di wilayah perkotaan. Informasi yang dibutuhkan bagi keperluan ini antara
lain:
- Jenis infrastruktur perkotaan;
- Jangkauan pelayanan;
- Jumlah penduduk yang terlayani;
- Kapasitas pelayanan.
Dengan informasi tersebut, diharapkan dapat diformulasikan kondisi kawasan
terutama yang menyangkut keserasian dan keterpaduan pengembangan Kawasan
perencanaan, antara pengembangan kota inti dan pusat-pusat aktivitas maupun
wilayah pengaruhnya. Formulasi kondisi kawasan tersebut mencakup permasalahan,
potensi, peluang, serta tantangan yang ada maupun kecenderungan yang akan datang.

Segala proses kegiatan pada tahap kompilasi dan analisis ini selalu mengikutsertakan instansi
teknis di daerah dalam bentuk fasilitasi, konsultasi, maupun diskusi. Pada saat
pengkompilasian data, pelibatan instansi teknis dilakukan melalui pemaparan hasil-hasil serta
cara pengkompilasian data yang dilakukan konsultan. Demikian juga, ketika struktur data telah
tersusun, dilakukan kegiatan konsultatif untuk memverifikasikan hasil survai yang diperoleh.
Kegiatan bantuan teknis dilanjutkan pula pada saat rumusan hasil analisis telah diperoleh,
yaitu melalui kegiatan temu wicara stakholders. Kegiatan temu wicara stakeholder ini
merupakan tahap kegiatan Bantuan Teknis yang ditujukan untuk mendapatkan/menyerap
aspirasi stakeholder berkaitan dengan isu strategis (termasuk faktor eksternal), potensi dan
konsep pengembangan wilayah, serta untuk melakukan penyempurnaan isu strategis, potensi,
konsep dan arahan pengembangan dari RDTR.

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-19
5.2.2.3 Metode Analisis Kependudukan
Penduduk merupakan faktor utama perencanaan, sehingga pengetahuan akan kegiatan dan
perkembangan penduduk merupakan bagian pokok dalam penyusunan rencana. Analisis
kependudukan merupakan faktor utama untuk mengetahui ciri perkembangan suatu daerah,
sehingga data penduduk masa lampau sampai tahun terakhir sangat diperlukan dalam
memproyeksikan keadaan pada masa mendatang. Salah satu yang penting dalam analisis
penduduk yaitu mengetahui jumlah penduduk di masa yang akan datang. Untuk hal tersebut,
dapat digunakan beberapa metoda atau model analisis, seperti:
- Kurva polinomial garis lurus
- Kurva polinomial regresi
- Metoda bunga berganda
- Kurva Gompertz
- Kurva logistik
Teknik atau metoda tersebut di atas memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing,
sehingga dalam penerapannya perlu dilakukan pemahaman terlebih dahulu terhadap kondisi
kependudukan pada wilayah perencanaan, seperti pola pertumbuhan yang terjadi di masa
lampau, ketersediaan data dan sebagainya. Hal ini untuk memperoleh hasil proyeksi yang
mendekati ketepatan dan menghindari kesulitan-kesulitan dalam proses analisis.
a. Model Kurva Polinomial
Pada penyusunan RDTR, perhitungan jumlah penduduk tahun tertentu pada masa yang
akan datang ditetapkan berdasarkan hasil proyeksi tahun-tahun sebelumnya hingga tahun
terakhir dengan mengikuti pola garis lurus mengikuti model persamaan :
( ) u
u
b P P
t t
+ =
+

( ) 1
1
1

t
b
b
t
n

dimana :
b
P
P
t
t
u
u +

= penduduk daerah yang diselidiki pada tahun t + u
= penduduk daerah yang diselidiki pada tahun dasar t
= selisih tahun dari tahun t ke tahun t +u
= rata-rata tambahan jumlah penduduk tiap tahun pada masa lalu
hingga data tahun terakhir



BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-20
b. Model Regresi
Untuk memperhalus perkiran, teknik yang berdasarkan data masa lampau dengan
penggambaran kurva polinomial akan dapat digambarkan sebagai suatu garis regresi. Cara
ini disebut metode selisih kuadrat terkecil (least square). Cara ini dianggap penghalusan
cara ekstrapolasi garis lurus diatas, karena garis regresi memberikan penyimpangan
minimum atas data penduduk masa lampau (dengan menganggap ciri perkembangan
penduduk masa lampau berlaku untuk masa depan). Teknik ini menggunakan persamaan
matematis :
( ) X b a P
x t
+ =
+


P
t + x

X
a, b
= jumlah penduduk tahun (t + x)
= tambahan tahun terhitung dari tahun dasar
= tetapan yang diperoleh dari rumus berikut



c. Model Bunga Berganda
Teknik ini menganggap perkembangan jumlah penduduk akan berganda dengan
sendirinya. Disini dianggap tambahan jumlah penduduk akan membawa konsekuensi
bertambahnya tambahan jumlah penduduk. Hal ini analog dengan bunga berbunga. Oleh
karenanya persamaan yang digunakan merupakan persamaan bunga berganda, yaitu :
( )
u
u
r P P
t t
+ =
+
1


r = rata-rata persentase tambahan jumlah penduduk daerah yang diselidiki
berdasarkan data masa lampau

d. Model Kurva Gompertz
Kurva Gompertz mengikuti pola hiperbolik yang memiliki batas (asimtot) pada kedua belah
sisinya (atas dan bawah). Dasar pertimbangan model ini adalah prinsip Gompertz, yaitu
bahwa pertumbuhan penduduk di daerah yang sudah maju adalah rendah yang diikuti
oleh pertumbuhan yang cepat pada periode berikutnya, namun lebih lanjut pada periode
berikutnya lagi pertumbuhan tersebut menurun apabila jumlah dan kepadatan penduduk
mendekati maksimal. Kurva Gompertz ini mempunyai persamaan umum :
( ) a b k P atau a k P
x
x t
b
x t
x
log log log + = - =
+ +




BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-21
Model ini sering digunakan karena didalamnya mempertimbangkan faktor perkembangan
penduduk pada setiap periode waktu.
Adapun persamaan umum untuk mendapatkan tetapan Gompertz adalah :


=
2 1
3 2
log log
log log
Y Y
Y Y
b
n

( )
( )
2
2 1
1
1
log log log

=

n
b
b
Y Y a
|
|
.
|

\
|

1
log
1
1
log
1
log a
b
b
Y
n
k
n

Atau
( ) ( )
|
|
.
|

\
|
+

=


1 3 2
1
2
2 3
log 2 log log
log log log
1
log
Y Y Y
Y Y Y
n
k
dimana :
n adalah sepertiga banyaknya data

5.2.3 Pendekatan Dan Metodologi Dalam Perumusan Konsep dan Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang
Perumusan Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Sungai Penuh meliputi hal-hal berikut :
- Perumusan visi, misi, dan tujuan pembangunan Kecamatan Sungai Penuh yang
dilakukan berdasarkan hasil analisis di atas.
- Perkiraan Kebutuhan Pengembangan: Tujuan pengembangan dijabarkan ke dalam
perkiraan kebutuhan pengembangan fungsional pusat-pusat dan kawasan serta
kebutuhan keterkaitan fungsional pusat-pusat dan wilayah pengaruhnya yang
meliputi:
o Perkiraan kebutuhan pengembangan kependudukan;
o Perkiraan kebutuhan pengembangan ekonomi perkotaan;
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-22
o Perkiraan kebutuhan fasilitas sosial dan ekonomi perkotaan;
o Perkiraan kebutuhan pengembangan lahan perkotaan;
- kebutuhan ekstensifikasi;
- kebutuhan intensifikasi;
- perkiraan ketersediaan lahan bagi pengembangan.
o Perkiraan kebutuhan prasarana dan sarana perkotaan.
- Perumusan RDTR Kecamatan Sungai Penuh : Hasil-hasil rumusan RDTR Kecamatan
Sungai Penuh selanjutnya diajukan dalam seminar dalam rangka membahas serta
menyepakati materi-materi RDTR :
o Isu strategis wilayah.
o Potensi dan permasalahan wilayah.
o Alternatif konsep pengembangan.
o Prioritas program pengembangan.
o Mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang.

5.2.3.1 Pendekatan Preskriptif dalam Perumusan Konsep Pengembangan Kawasan
Pendekatan preskriptif (prescriptive approach) merupakan jenis pendekatan yang bersifat
kualitatif dan dapat memberikan deskripsi analitis untuk menghasilkan rekomendasi yang
bermanfaat dalam mendukung suatu strategi penanganan ataupun kebijakan. Pendekatan ini
bertujuan untuk mengevaluasi dan menilai suatu rencana alternatif kebijakan untuk kemudian
mengeluarkan rekomendasi yang tepat berkaitan dengan kemungkinan implementasi
kebijakan dan program-programnya di masa yang akan datang. Dengan penggunaan
pendekatan preskriptif ini, diharapkan studi tidak hanya terfokus pada analisa kondisi
eksisting, namun juga dapat memperhatikan potensi implikasi pemanfaatan suatu konsepsi
penanganan atau kebijakan.

5.2.3.2 Pendekatan Interpretasi Kebutuhan Perencanaan
Dari hasil analisis kemudian dapat dilakukan interpretasi untuk berbagai macam faktor yang
akan memperngaruhi hasil rencana, yaitu:
1. Aspek strategis, yaitu mengkaji kota dalam konteks kebijaksanaan lokal dan regional serta
aspek implementasi dan persoalan/kondisi eksisting dewasa ini, dengan tahapan kajian
rinci sebagai berikut:
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-23
o Melakukan kajian terhadap berbagai kebijakan peran dan fungsi yang diemban oleh
kota dengan penekanan pada keselarasan, konsistensi berbagai peran dalam konteks
kebijaksanaan lokal maupun regional, serta aspek implementasi kebijaksanaan dengan
rencana tata ruang yang akan disusun.
o Kajian kondisi eksisting, yaitu identifikasi berbagai persoalan nyata akibat peran dan
fungsi yang diemban berdasarkan kebijaksanaan, rencana dan implementasinya serta
aspek manajemen pembangunan dan proses dinamis akifitas perkotaan dengan kajian
dalam konteks hubungan makro maupun mikro. Kajian kondisi eksisting tidak hanya
pada data yang bertitik berat pada aspek fisik bernuansa spasial namun juga akan
mengungkapkan fenomena spasial dengan kajian aspek sosial ekonomi terkait
perwujudan kehidupan perkotaan berdasarkan pengalaman lapangan. Aspek-aspek
yang akan dikaji meliputi penelaahan kecenderungan perkembangan, sosial
kemasyarakatan dan kependudukan, pola struktur dan pemanfaatan ruang, aspek
perizinan, potensi dan daya dukung wilayah, perkembangan ekonomi kota,
kelengkapan sarana dan prasarana serta sistem pelayanan transportasi.
2. Aspek skenario masa depan kota apabila perkembangannya dibiarkan seperti adanya (do
nothing) dan issue apa yang menjadi faktor-faktor kritis masa depan untuk melakukan
tindakan antisipasi (do something) dengan meliha faktor negatif (kelemahan, ancaman)
dan faktor positif (kekuatan, peluang) berdasarkan tujuan pembangunan kota yang
diharapkan. Adapun kajian rincinya adalah sebagai berikut:
o Skenario perkembangan masa depan dalam berbagai aspek yang akan menjadi
gambaran perkembangan kota di masa yang akan datang;
o Isu kota; berdasarkan gambaran skenario masa datang dan dikaitkan dengan harapan
terhadap kota dapat dilihat kesenjangan antara harapan dengan realita. Berbagai
kesenjangan tersebut yang akan menjadi titik tolak pemikiran dalam melihat
permasalahan dalam konteks ruang dan waktu dan akan dicoba dikaitkan dengan
fakta-fakta persoalan yang terungkap baik berdasarkan kajian data sekunder,
pengamatan lapangan dan survai sosial ekonomi. Dengan kajian sesuai standar teknis
perencanaan kota dan wilayah serta masukan dari berbagai pihak maupun aspirasi
masyarakat dapat diungkapkan berbagai isu penting dalam rangka menentukan
berbagai faktor-faktor yang harus diperhatikan dan menjadi faktor kritis di masa yang
akan datang;
o Rumusan SWOT sebagai pengembangan lebih rinci dari analisis potensi dan masalah
yang dijabarkan dalam kajian eksternal dan internal. Berdasarkan kajian SWOT dapat
dibuat rumusan strategi pembangunan dan strategi arahan pemanfaatan ruang dan
sebagai landasan kajian analisis aspek-aspek strategis;
o Menentukan faktor kritis masa datang dengan dukungan pendekatan SWOT. Yang
dimaksud dengan faktor kritis adalah faktor yang bersifat membatasi perkembangan,
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-24
faktor yang menjadi ancaman yang akan menjadi persoalan yang dapat mengganggu
eksistensi kota sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Aspek kajian sudah bersifat
integral dan komprehensif memperkaitkan berbagai aspek baik aspek fisik tata ruang,
lingkungan hidup dan sumber daya, fungsi-fungsi kegiatan, aspek sosial ekonomi
budaya kemasyarakatan, aspek kelembagaan dan manajemen pembangunan dalam
konteks regional maupun lokal;

5.2.4 Berbagai Pendekatan Dan Metode Penyusunan Rencana Detail Lainnya
Selain pendekatan dan metodologi spesifik yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaksanaan
pekerjaan di setiap tahapan, sebagaimana dijabaran dalam sub bab sub bab di atas, terdapat
beberapa pendekatan dan metodologi umm yang dapat digunakan pada setiap tahapan dan
proses berkegiatan, sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan pekerjaan. Pendekatan dan
metodologi tersebut dijelaskan sebagai berikut:

5.2.4.1 Pendekatan Perencanaan Incremental-Strategis dan Strategis Proaktif dalam
Penyusunan RDTR dan Zoning Regulation Kawasan Perkotaan
a. Pendekatan Incremental-Strategis
Rencana Detail Tata Ruang untuk Kawasan Perkotaan merupakan bagian dari penataan
ruang kota, yang merupakan penjabaran dari tujuan pembangunan kota dalam aspek
keruangan. Rencana rinci penataan kawasan tersebut memuat serangkaian kegiatan yang
bertujuan untuk mencapai maksud dan tujuan pembangunan ruang kota, yaitu
membentuk wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang kota yang efektif dan efesien.
Suatu produk Rencana Detail Tata Ruang kawasan perkotaan yang baik harus operasional,
oleh karenanya maksud dan tujuan perencanaan yang ditetapkan harus realistis, demikian
pula dengan langkah-langkah kegiatan yang ditetapkan untuk mencapai maksud dan
tujuan tersebut. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan perencanaan yang realistis
adalah:
- Mengenali secara nyata masalah-masalah pembangunan kota.
- Mengenali secara nyata potensi yang dimiliki kota.
- Mengenali secara nyata kendala yang dihadapi kota dalam proses pembangunan.
- Memahami tujuan pembangunan secara jelas dan nyata.
- Mengenali aktor-aktor yang berperan dalam pembangunan kota.
- Mengenali aturan main yang berlaku dalam proses pembangunan kota.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-25
Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang adalah
Pendekatan Incremental yang lebih bersifat strategis, dimana sebagian besar kondisi-
kondisi awal (pra-kondisi) dari suatu persoalan pembangunan tidak diperhatikan atau
diluar kontrol. Adapun karakteristik pendekatan ini antara lain:
- Berorientasi pada persoalan-persoalan nyata.
- Bersifat jangka pendek dan menengah
- Terkonsentrasi pada beberapa hal, tetapi bersifat strategis
- Mempertimbangkan eksternalitas
- Langkah-langkah penyelesaian tidak bersifat final
Metoda SWOT merupakan contoh penjabaran dari pendekatan yang bersifat incremental-
strategis.

b. Pendekatan Strategis-Proaktif
Pendekatan strategis-proaktif merupakan bentuk kebalikan dari pendekatan incremental-
strategis. Adapun yang dimaksud rencana strategis proaktif adalah :
- Rencana yang kurang menekankan pada penentuan maksud dan tujuan pembangunan,
tetapi cenderung menekankan pada proses pengenalan dan penyelesaian masalah,
yang kemudian dijabarkan pada program-program pembangunan dan alokasi
pembiayaan pembangunan.
- Rencana yang melihat lingkup permasalahan secara internal maupun eksternal,
dengan menyadari bahwa pengaruh faktor-faktor eksternal sangat kuat dalam
membentuk pola tata ruang kawasan yang terjadi.
- Rencana yang menyadari bahwa perkiraan-perkiraan kondisi di masa yang akan datang
tidak bisa lagi hanya didasarkan pada perhitungan-perhitungan proyeksi tertentu, akan
tetapi sangat dimaklumi bahwa terdapat kemungkinan-kemungkinan munculnya
kecenderungan-kecenderungan baru, faktor-faktor ketidakpastian, serta kejutan-
kejutan lain yang terjadi diluar perkiraan semula.
- Rencana yang lebih bersifat jangka pendek dan menengah, dengan memberikan satu
acuan arah-arah pembangunan kawasan.
- Rencana yang berorientasi pada pelaksanaan (action)

c. Pencampuran Kedua Pendekatan
Kedua jenis pendekatan ini dapat digunakan dalam pekerjaan ini. Perbedaan
penggunaannya hanya terdapat pada kesesuaian sifat pendekatan dengan karakteristik
kegiatan yang sedang dilakuakan. Penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut:
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-26
- Dalam perumusan konsepsi dan penyusunan rencana struktur, maka pendekatan
incremental-strategis perlu dikedepankan untuk dapat menghasilkan suatu konsepsi
pengembangan yang sifatnya cenderung utopis, namun hal ini memang disesuaikan
dengan kebutuhan perumusan visi-misi dan tujuan pengembangan kawasan yang
memiliki kecenderungan untuk mencapai suatu kondisi yang paling ideal, setidaknya
sebagai sebuah target jangka panjang yang perlu diwujudkan
- Dalam penyusunan rencana pembangunan, program pentahapan, dan aspek
pendukung lainnya, perlu dikedepankan pendekatan strategis-proaktif untuk dapat
menghasilkan suatu produk dokumen rencana yang realistis dan dapat
diimplementasikan sesuai tahapan pelaksanaannya.

5.2.4.2 Identifikasi Permasalahan Pembangunan dan Perwujudan Ruang Kawasan
Setelah dilakukan penetapan Kawasan Perencanaan Perkotaan, tahapan kedua dalam
penyusun RDTRK adalah identifikasi permasalahan dan perwujudan ruang kawasan. Tahapan
ini menekankan pada Identifikasi Isu-Isu startegis dan pengumpulan data-data terkait dengan
perwujudan ruang kawasan meliputi karekteristik wilayah pererencanaan dalam konstelasi
regional, karakteristik fisik alamiah, penggunaan lahan, sarana, parasarana, demografi,
kependudukan, sosial-ekonomi, transportasi, kelembagaan dan aspek perwujudan ruang kota
meliputi perpetakan bangunan, kepadatan bangunan, ketinggian bangunan dan sempadan
bangunan.
Isu-isu strategis ini diindentifikasikan sebagai hipotetisa awal untuk selanjutnya dilakukan
pengujian-pengujian lapangan maupun keterkaitannya dengan kebijaksanaan lainnya.
Tahapan Identifikasi isu strategis dan data-data karakteristik Kecamatan Sungai Penuh
dilaksanakan dengan pendekatan-pendekatan sebagai berikut :

A. Pendekatan bottom up planning
Pendekatan bottom up planning meliputi :
- Teknik wawancara semi terstruktur instansional oleh tim konsultan kepada
pejabat/perwakilan dinas, kantor dan badan yang terkait penyusunan RDTRK ini.
Tujuan wawancara ini adalah untuk mengetahui temuan pokok-pokok dinamika
perkembangan kota meliputi isu-isu strategis maupun teknis pengembangan kawasan
fungsional Kecamatan Sungai Penuh 5 tahun terakhir hingga 5 tahun ke depan.
- Teknik penyebaran angket/ koesioner yang dilakukan oleh tim konsultan meliputi
kuesioner masyarakat umum, pedagang, bangkitan lalu lintas dan motivasi perjalanan.
Tujuan penyebaran kuesioner ini untuk mengidentifikasikan aspirasi masyarakat, pola-
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-27
pola aktivitas, kecenderungan-kecenderungan yang terkait penataan ruang Kecamatan
Sungai Penuh yang sedang terjadi.
- Teknik diskusi jaring aspirasi masyarakat (jasmara) yang kemudian ditindak lanjuti
dengan visual preference (penilaian dan peninjauan kasus-kasus/ topik-topik diskusi
oleh penyedian jasa konsultasi bersama-sama masyarakat, unsur Pemerintahan dan
LPM sebagai perwakilan masyarakat di lapangan). Tujuan jasmara ini untuk
mengidentifikasikan potensi dan masalah lapangan serta aspirasi kebutuhan-
kebutuhan problem solving nya.
- Teknik observasi yaitu pengamatan lapangan oleh tim konsultan meliputi objek-objek
tertentu yang dinilai penting untuk penataan ruang Kecamatan Sungai Penuh. Tujuan
dari observasi ini adalah untuk identifikasi informasi gambaran visual keadaan wilayah
perencanaan Kecamatan Sungai Penuh secara eksisting. Teknik observasi ini juga
dilakukan oleh tim konsultasi bersama Penyedian Jasa untuk melihat bersama kasus-
kasus yang penting misalkan observasi trase jalan.
- Teknik survey blok yaitu pengamatan secara teliti oleh tim konsultan meliputi
keseluruhan objek bangunan, sarana dan prasarana yang di tiap blok perencanaan.
Tujuan survey blok ini untuk verifikasi penggunaan lahan hingga ketelitian jenis
bangunan, fungsi bangunan, ketinggian, sempadan bangunan, KDB dan kondisinya.
- Traffic Counting yaitu teknik pencatatan volume lalu lintas oleh tim konsultan. Tujuan
untuk me-nemukenali poetnsi dan masalah beban arus lalu intas eksisting.
- Survey data instansional berupa hasil kajian-kajian/ riset yang memuat data, analisis
dan kesimpulan serta rekomendasi yang mengarah pada upaya pengembangan
kawasan fungsional Kecamatan Sungai Penuh.

B. Pendekatan Top Down planning
Pendekatan top down planning dalam identifikasi isu strategis pengembangan kawasan
fungsional Kecamatan Sungai Penuh dilakukan dengan pendekatan studi litertur berupa
kajian komprehensif Kebijaksanaan dan rencana-rencana yang terkait penyusunan RDTR
Kecamatan Sungai Penuh meliputi:
a. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Sungai Penuh.
b. Rencana pengembangan dan penataan Kawasan inti Pusat Kota
c. Kebijkasanaan lainnya.



BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-28
5.2.4.3 Perkiraan Kebutuhan Pelaksanaan Pembangunan Kawasan
Tahapan perkiraan kebutuhan pelaksanaan pembangunan pada prinsipnya adalah analisis dan
perhitungan-perhitungan / proyeksi dan predisksi serta pengolahan data-data yang telah
dikumpulkan pada tahapan sebelumnya. Tahapan ini juga merupakan upaya menguji hipotesis
berupa isu strategis yang telah diidentifikasikan pada tahapan sebelumnya.

Pendekatan yang dilakukan untuk memperkirakan kebutuhan pelaksanaan pembangunan
meliputi :
a. Pendekatan Analisis Kuantitatif
Pendekatan memperkirakan kebutuhan pembangunan berdasarkan model perhitungan-
perhitungan tertentu dengan asumsi tertentu. Pendekatan ini dilaksanakan untuk
memberikan ukuran kebutuhan yang lebih bersifat teknis, akurat dan argumentatif
misalanya perhitungan proyeksi penduduk, kepadatan penduduk, perhitungan kebutuhan
jumlah dan luasan fasalitas, kebutuhan pengendalian bangunan meliputi perhitungan nilai/
besaran KDB, KLB dan sempadan.
b. Pendekatan Analisis Kualitatif
Pendekatan memperkirakan kebutuhan pembangunan berdasarkan model-model atau
metode analisis deskriptif dengan menggunkan perbandingan kriteria-kriteri / teori/
pedoman tertentu. Pendekatan ini dilaksanakan untuk memberikan ukuran kebutuhan
yang lebih bersifat strategis dan sosiologis misalkan analisis super imposes peta-peta fisik
alamiah untuk mendapatkan kesesuaian lahan dan daya dukung lahan. Contoh lain adalah
kebutuhan penanganan konservasi bangunan bersejarah dilakukan dengan perbandingan
kariteria-kriteria tertentu.
Berdasarkan subtansinya, tahapan perkiraan kebutuhan pelaksanaan pembangunan meliputi
tahapan sebagai berikut :
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-29
A. Perkiraan Kebutuhan pokok-pokok pengembangan
Perkiraan kebutuhan pokok-pokok pengembangan Kawasan Fungsional Kecamatan Sungai
Penuh, dilakukan dengan pendekatan analisis kualitatif dan kuantitatf bobot skor SWOT
(Strenght, Weekness, Opportunity dan Treath) dalam 3 (tiga) jenis skenario.
- Skenario pengembangan trend eksisting
- Skenario pengembangan target
- Skenario pengembangan moderat (gabungan)

B. Perkiraan Kebutuhan pengembangan Struktur Tata Ruang
Pengembangan struktur tata ruang Kecamatan Sungai Penuh meliputi :
b.1 Perkiraan kebutuhan pengembangan distribusi kepadatan penduduk dilakukan
dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sebagai berikuit :
- Perkiraan / proyeksi penduduk tiap unit lingkungan
- Perkiraan kepadatan penduduk tiap unit lingkungan
- Perkiraan daya tampung ruang tiap unit lingkungan.
b.2 Perkiraan kebutuhan pengembangan pusat-pusat pelayanan dilakukan dengan
pendekatan kualitatif dan kuantitatif sebagai berikuit :
- Perkiraan kebutuhan pengembangan tata jenjang kapasitas dan intensitas menurut
lokasi dan jenis pelayanan kegiatan dalam kawasan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan jenis dan jumlah fasilitas pusat unit
lingkungan skala pelayanan 30.000 penduduk atau setingkat kelurahan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan jenis dan jumlah fasilitas pusat tersier skala
pelayanan 120.000 penduduk atau setingkat Kecamatan atau Sub BWK.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan jenis dan jumlah fasilitas pusat sekunder
skala pelayanan 480.000 penduduk atau setingkat Wilayah Pengembangan atau
BWK.
b.3 Perkiraan kebutuhan pengembangan sistem per-gerakan dilakukan dengan
pendekatan kualitatif dan kuantitatif sebagai berikuit :
- Perkiraan kebutuhan pengembangan sistem jaringan jalan arteri sekunder,
jaringan jalan kolektor sekunder, jaringan jalan lokal sekunder, sistem primer
(jumlah lajur, daerah pengawasan jalan, daerah milik jalan, persimpangan utama);
- Perkiraan kebutuhan pengembangan sistem terminal.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-30
- Perkiraan kebutuhan pengembangan moda split.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan Sistem jaringan kereta api
- Perkiraan kebutuhan pengembangan pedestrian.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan sistem parkir.
b.4 Perkiraan kebutuhan pengembangan jaringan utilitas dilakukan dengan pendekatan
kualitatif dan kuantitatif sebagai berikuit :
- Perkiraan kebutuhan pengembangan jaringan primer, sekunder dan tersier
penyaluran air bersih dengan memperhatikan hasil perkiraan kebutuhan air secara
domestik dan fasilitas.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan jaringan penyaluran air kotor dengan
memperhatikan hasil perkiraan jumlah timbulan, keondisi geografis dan prasarana
pendukungnya.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan jaringan primer, sekunder dan tersier
drainase dengan memperhatikan hasil perkiraan jumlah limpasan keondisi
geografis dan prasarana pendukungnya.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan jaringan penyaluran persampahan dengan
memperhatikan hasil perkiraan jumlah timbulan/produksi sampah dan prasarana
pendukungnya.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan jaringan listrik dan telekomunikasi dengan
memperhati-kan hasil perkiraan jumlah kebutuhan layanan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan jaringan pemadam kebakaran dengan
memperhati-kan hasil perkiraan jumlah kebutuhan layanan.
C. Perkiraan Kebutuhan Pengembangan Kawasan lindung dan Budidaya
Perkiraan kebutuhan pengembangan pola pemanfaatan ruang Kecamatan Sungai Penuh
meliputi :
c.1 Perkiraan kebutuhan pengembangan Kawasan perlindungan setempat dilakukan
dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sebagai berikuit :
- Perkiraan kebutuhan pengembagan ruang terbuka hijau (RTH) / proyeksi penduduk
tiap unit lingkungan
- Perkiraan kebutuhan kawasan cagar budaya konservasi bangunan bersejarah
disekitar Inti Pusat Kota.
c.2 Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan Budidaya dilakukan dengan
pendekatan kualitatif dan kuantitatif sebagai berikuit :
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-31
- Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan perumahan menurut jenis dan
lokasi.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan perdagangan menurut jenis, lokasi
dan skala pelayanan meliputi regional, Kota, BWK, Sub BWK dan atau unit
lingkungan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan jasa menurut jenis, lokasi dan skala
pelayanan meliputi regional, Kota, BWK, Sub BWK dan atau unit lingkungan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan pendidikan menurut jenis, lokasi
dan skala pelayanan meliputi regional, Kota, BWK, Sub BWK dan atau unit
lingkungan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan kesehatan menurut jenis, lokasi dan
skala pelayanan meliputi regional, Kota, BWK, Sub BWK dan atau unit lingkungan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan peribadatan menurut jenis, lokasi
dan skala pelayanan meliputi regional, Kota, BWK, Sub BWK dan atau unit
lingkungan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan kawasan pertahanan dan keamanan menurut
jenis, lokasi dan skala pelayanan meliputi regional, Kota, BWK, Sub BWK dan atau
unit lingkungan.

D. Perkiraan Kebutuhan Pengembangan perangkat pelaksanaan perwujudan ruang
Perkiraan kebutuhan pengembangan sistem perang-kat pelaksanaan perwujudan ruang
dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sebagai berikuit:
- Perkiraan kebutuhan pengembangan pedoman perpetakan bangunan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan pedoman kepadatan bangunan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan pedoman ketinggian bangunan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan pedoman sempadan bangunan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan prioritas penanganan blok peruntukan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan prioritas penanganan blok sarana dan prasarana.

E. Perkiraan Kebutuhan Pengembangan perangkat Pengendalian Ruang
Perkiraan kebutuhan pengembangan sistem perangkat pengendalian perwujudan ruang
dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sebagai berikuit :
- Perkiraan kebutuhan pengembangan perangkat mekanisme perijinan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan perangkat mekanisme pemberian insentif dan
disinsentif.
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-32
- Perkiraan kebutuhan pengembangan perangkat mekanisme pemberian kompensasi.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan perangkat mekanisme pengawasan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan perangkat mekanisme pemberian sanksi.

F. Perkiraan Kebutuhan Pengembangan Pengelolaan Pembangunan
Perkiraan kebutuhan pengembangan pengelolaan dilakukan dengan pendekatan
kualitatif dan kuantitatif sebagai berikuit :
- Perkiraan kebutuhan pengembangan program pembangunan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan kelembagaan terkait program pembangunan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan sumber-sumber keuangan terkait pelaksanaan
program pembangunan.
- Perkiraan kebutuhan pengembangan partisipasi masyarakat terkait pelaksanaan
program pembangunan.

5.2.4.4 Pendekatan Pelibatan Pelaku Pembangunan
Penyusunan rencana tata ruang tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat sebagai pemanfaat
ruang (pelaksana rencana tata ruang) dan sebagai pihak yang terkena dampak positif maupun
negatif dari perencanaan ruang itu sendiri. Oleh karena itu dalam penyusunan rencana ini
digunakan pendekatan partisipasi pelaku pembangunan (stakeholder approach) untuk
mengikutsertakan masyarakat di dalam proses penyusunan rencana tata ruang melalui forum
diskusi pelaku pembangunan. Konsultan dalam hal ini berusaha untuk melibatkan secara aktif
pelaku pembangunan yang ada dalam setiap tahapan perencanaan. Pelibatan pelaku
pembangunan dalam pekerjaan ini dapat digambarkan dengan diagram berikut ini.

Gambar V-2 Keterlibatan Pelaku Pembangunan Dalam Penyusunan Rencana
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-33
Di dalam penyusunan rencana ini masyarakat tidak hanya dilihat sebagai pelaku pembangunan
(stakeholder) tetapi juga sebagai pemilik dari pembangunan (shareholder). Keterlibatan
masyarakat sebagai shareholder dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan wilayah
terhadap investor dari luar wilayah, tetapi yang diharapkan adalah kerjasama antara investor
dengan masyarakat sebagai pemilik lahan di wilayah tersebut. Dengan posisi sebagai
shareholder diharapkan masyarakat akan benar-benar memiliki pembangunan diwilayahnya,
dapat bersaing dengan penduduk pendatang, dan dengan demikian masyarakat lokal tidak
tergusur dari wilayahnya.

5.2.4.5 Metode Analisis SWOT
SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat, atau Kekuatan, Kelemahan, Peluang,
Ancaman) adalah metodologi yang populer untuk digunakan dalam banyak aspek dan sektor
penganalisaan. SWOT mempunyai keunggulan antara lain :
- Dapat diaplikasikan di banyak bidang penelitian dan pekerjaan
- Mudah dimengerti dan sederhana aplikasinya
- Merupakan pendekatan kualitatif
Hasil analisis SWOT sangat tergantung pada tingkat pengetahuan dan pemahaman
penggunanya. Semakin detail pemahaman pengguna maka semakin tajam pula hasil
analisisnya. SWOT akan menghasilkan rumusan masalah dan bahan untuk menentukan
langkah-langkah penanganan selanjutnya.
Prosedur SWOT yang umum digunakan adalah:
1. Tentukan variabel-variabel yang mempengaruhi, misalnya aspek kebijaksanaan dan
arahan pada penyelanggaraan prasarana dan sarana
2. Pilah-pilah varibel tersebut ke dalam empat kelompok, yaitu kelompok Kekuatan,
Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Pada proses ini sangat dibutuhkan kejelian
pengguna dalam mengklasifikasikan variabel tersebut untuk disesuaikan dengan goals
karena sebuah variabel dapat menjadi ancaman sekaligus sebagai peluang, tergantung
dari cara pandang dan tujuannya.
3. Setiap variabel yang dimasukkan sebagai Kekuatan diberikan label S1, S2, S3, dan
seterusnya. Demikian juga dengan Kelemahan (label W), Peluang (label O) dan
Ancaman (label T)
4. Kemudian pengguna mencoba mengkombinasikan setiap label, misalnya S1 dengan T1
(kekuatan 1 dengan ancaman 1) dan kemudian secara kualitatif dianalisis apa dampak
dan pengaruhnya terhadap pencapaian. Demikian juga untuk kombinasi variabel
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN V-34
lainnya. Disinilah dibutuhkan kejelian pengguna untuk mengkombinasikan setiap
variabel, mengembangkannya sesuai tujuan dan merumuskan hasilnya.
5. Kumpulan kesimpulan tersebut, kemudian dipilah sesuai prioritas dan besarnya
pengaruh, sehingga diperoleh rumusan kesimpulan sebagai masukan pegambilan
keputusan dan kebijakan.
Gambar V-3 Matriks SWOT Analysis

STRENGTHS WEAKNESSES
O
P
P
O
R
T
U
N
I
T
I
E
S

STRATEGI S-O
Ciptakan strategi yang
menggunakan kekuatan untuk
memanfaatkan peluang
STRATEGI W-O
Ciptakan strategi yang
meminimalkan kelemahan untuk
memanfaatkan peluang
T
H
R
E
A
T
H
S

STRATEGI S-T
Ciptakan strategi yang
menggunakan kekuatan untuk
mengatasi ancaman
STRATEGI W-T
Ciptakan strategi yang
meminimalkan kelemahan untuk
menghindari ancaman

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN VI-1
BAB VI RENCANA PELAKSANAAN
PEKERJAAN



6.1 Tahapan Rencana Kerja
Secara umum kegiatan pekerjaan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Sungai
Penuh meliputi tahapan kegiatan sebagai berikut:
6.1.1 Tahap Persiapan
Tahapan ini dituangkan dalam laporan pendahuluan dan dilakukan selama 1 (satu) minggu
setelah adanya surat perintah melaksanakan pekerjaan (SPMK). Tahap ini meliputi kegiatan
melengkapi administrasi pelaksanaan pekerjaan (kontrak kerja, SPK dan surat izin survei),
orientasi lapangan, mobilisasi tim, penyusunan jadual survey, penyusunan check list data serta
koordinasi dengan pemberi tugas/Tim Teknis. Hasil dari tahapan ini merupakan laporan
pendahuluan yang dilengkapi dengan :
- Mobilisasi Peralatan dan Konsolidasi Tim Konsultan
- Koordinasi dengan Pengguna Jasa
- Inventarisasi RRTRW Kecamatan di Wilayah Kota Sungai Penuh yang sudah ada
- Pengumpulan Data dan Informasi yang Terkait dgn Kegiatan
- Penyiapan Peta Dasar Skala 1: 5.000
- Perumusan Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan
- Penyusunan Rencana Kerja

6.1.2 Tahap Survei
Merupakan tahap pengumpulan data primer dan data sekunder, baik berupa peta, tabel
maupun data dan informasi yang lengkap meliputi :
1. Kebijaksanaan Pengembangan Tata Ruang
Data ini diperlukan untuk mendapatkan gambaran arah dan kebijakan pengembangan
rencana tata ruang wilayah Kota Jambi.
2. Kondisi existing wilayah kabupaten/kota
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN VI-2
Data ini diperlukan untuk mengenali potensi dan permasalahan Kota Jambi melalui
inventarisasi data sebagai berikut :
- Inventarisasi/Pengumpulan Data-data Kebijakan Pemerintah Kota Sungai Penuh
- Identifikasi Sistem, Pras. dan Sarana Transportasi Kota
- Identifikasi Ketersediaan dan Kualitas Pras. dan Sarana Perkotaan
- Identifikasi Kondisi dan Pola Tata Air
- Identifikasi Kondisi Geologi dan Lingkungan Kota
- Survei Peruntukan Lahan sampai Kedalaman Blok Peruntukan
- Inventarisasi Warisan Budaya Kota : Gedung dan Kawasan Bersejarah
- Pengumpulan Data Kependudukan dan Sosial Budaya
- Survei dan Pengumpulan Data Ekonomi Kota
- Review/Peninjauan Kembali terhadap RRTRW Kecamatan di Kota Sungai Penuh
Tahapan pengumpulan data dilakukan selama 1 (satu) bulan yaitu dimulai dari minggu ketiga
dan akan berakhir pada minggu enam dari dari jadwal pekerjaan.

6.1.3 Tahap Analisis
Tahapan analis dilakukan selama 1 (satu) bulan yaitu dimulai dari bulan dua dan akan berakhir
pada ketiga dari dari jadwal pekerjaan. Pekerjaan didalam pelaksanaan kegiatan ini meliputi :
- Analisis Daya Dukung Pras., Sarana dan Utilitas
- Analisis Daya Dukung Lingkungan
- Analisis Potensi dan Permasalahan Fisik Kota
- Analisis Kebutuhan Pelestarian Unsur-Unsur Kota
- Analisis Pemanfaatan Ruang
- Analisis Kependudukan dan Sosial Budaya
- Analisis Pengembangan Ekonomi Kota
- Analisis Potensi dan Permasalahan Sosial Ekonomi Kota
- Analisis Kapasitas Pengembangan Kawasan
- Analisis Kebutuhan Pengembangan Kawasan

6.1.4 Tahap Rancangan Rencana
Tahapan Rancangan Rencana dilakukan selama 1 (satu) bulan yaitu dimulai dari bulan ketiga
dan akan berakhir pada bulan keempat dari dari jadwal pekerjaan. Pekerjaan didalam
pelaksanaan kegiatan ini meliputi :
- Perumusan Konsep Rencana Detail Tata Ruang Kota
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN VI-3
- Perumusan Tujuan Pengembangan Kota
- Perumusan Rencana Struktur Dan Pola Ruang
- Perumusan Rencana Blok Pemanfaatan Ruang
- Perumusan Peraturan Zonasi
- Perumusan Arahan Pelaksanaan Dan Pengendalian Pembangunan

6.1.5 Tahap Penyusunan Rencana
Hasil rancangan rencana dibahas dalam forum diskusi/seminar, maka beberapa masukan/input
dalam forum diskusi/seminar tersebut akan dijadikan bahan perbaikan. Pekerjaan
penyempurnaan ini dilakukan dalam waktu 1 (satu) bulan, dimulai dari bulan keempat dari
jadwal pelaksanaan hingga bulan lima.

6.2 Waktu Pelaksanaan Kerja
Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK/TOR) Jangka waktu pelaksanaan Pekerjaan
PENYUSUNAN RDTR DAN PERATURAN ZONASI KOTA SUNGAI PENUH adalah 90 ( sembilan
puluh ) hari kalender atau 3 (tiga ) bulan terhitung sejak Surat Perjanjian Kerja Sama/Kontrak
ditandatangani.
Untuk melaksanakan Pekerjaan tersebut secara garis besar dimulai dengan tahap persiapan,
pengukuran dan inventarisasi data primer dan sekunder, tahap analisis, tahap rumusan
rancangan rencana dan tahap penyusunan rencana. Jadwal pelaksanaan pekerjaan tersebut
dapat dilihat pada Tabel VI-1.

BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN VI-4
Tabel VI-1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota
(RDTR) dan Peraturan Zonasi
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
I . Persiapan
1.1. Mobilisasi Team
1.2. Laporan Pendahuluan
1.3. Penyusunan Materi Survey
I I . Survey
2.1. Observasi Lapangan
2.2. Kunjungan Dinas / Instansi
2.3. Wawancara Tokoh Masyarakat
I I I . Kompilasi dan Analisa
3.1. Fisik Geografis
3.2. Kependudukan
3.3. Perekonomian
3.4. Sarana dan Prasarana
3.5. Daya Dukung Wilayah
3.7. Potensi dan Permasalahan
I V. Perumusan Konsep Rencana
4.1. Tata Ruang Wilayah
4.2. Kependudukan
4.3. Perekonomian
4.4. Sistem Sarana dan Prasarana
4.3. Pemanfaatan Ruang
4.4. Pengelolaan Ruang
V. Penyusunan Rencana
5.1. Tata Ruang Wilayah
5.2. Kependudukan
5.3. Perekonomian
5.4. Sarana dan Prasarana
5.5. Pemanfaatan Ruang
5.6. Pengelolaan Ruang
No. Tahapan Kegiatan
B U L A N
Keterangan I I I I I I






BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN VI-5
6.3 Struktur Organisasi Pelaksana Pekerjaan
Struktur organisasi pekerjaan Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi di Kota Sungai Penuh
menjelaskan hubungan struktural maupun koordinasi terdiri dari :
- Pemerintah Kota Sungai Penuh
- Dinas Pekerjaan Umum Kota Sungai Penuh
- Konsultan Pelaksana Teknis
- Instansi Terkait
Konsultan sebagai institusi yang diberi kepercayaan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kota Sungai
Penuh bertanggung jawab dan berkewajiban menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan
Kerangka Acuan Kerja (KAK). Didalam pelaksanaan pekerjaan, konsultan membawa surat tugas
dari Pemerintah Kota Sungai Penuh c/q Dinas Pekerjaan Umum Kota Sungai Penuh yang
ditujukan ke instansi-instansi terkait dalam upaya untuk memperoleh data yang akurat.
Untuk melakukan kontrol terhadap kualitas hasil pekerjaan pemberi tugas (Dinas Perhubungan
Provinsi Sungai Penuh) membentuk Tim Teknis yang terdiri dari beberapa instansi terkait.
Struktur organisasi pelaksanaan Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi di Kota Sungai
Penuh dapat dilihat pada Gambar VI-1.

Gambar VI-1 Struktur Organisasi Proyek















KOTA SUNGAI PENUH
BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN VI-6
6.4 Struktur Organisasi Konsultan
Didalam pelaksanaan kegiatan Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi di Kota Sungai
Penuh, PT. Santika Consulindo mengusulkan sebuah Tim yang lengkap dan mampu
menangani administrasi, teknis dan keuangan. Tim tersebut secara keseluruhan adalah
merupakan Regu Pelaksanaan Tugas (RPT) yang dipimpin oleh Ketua Regu Pelaksanaan Tugas
(KRPT). Agar pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan lancar, maka KRPT adalah Ketua Tim (Tim
Leader).
Ketua Regu Pelaksanaan Tugas (KRPT) bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan
pekerjaan kepada direktur proyek. Direktur proyek melakukan hubungan kontraktual dan
bertanggung jawab kepada pemberi tugas atau pimpinan proyek. Dalam pengendalian mutu
Direktur Proyek dibantu oleh Penasehat Senior Ahli, melakukan kontrol atas kualitas produk
yang dihasilkan.
KRPT atau Team Leader diberikan hak ( wewenang ) untuk mengelola keuangan / biaya untuk
melaksanakan Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi di Kota Sungai Penuh. Untuk
pelaksanaan tugas tersebut, KRPT menyusun Rencana Operasional Pelaksanaan Tugas (ROPT)
yang memuat rencana kerja dan rencana biaya untuk pelaksanaan pekerjaan. Mengacu dari
ROPT tersebut perusahaan akan mengeluarkan biaya operasional setiap bulan yang diperlukan
dalam pelaksanaan pekerjaan.
Tenaga ahli yang terlibat dalam Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi di Kota Sungai
Penuh terdiri dari :
1. Ahli Perencana Wilayah dan Kota sebagai Team Leader
2. Ahli Prasarana Wilayah sebagai Tenaga Ahli
3. Ahli Urban Design sebagai Tenaga Ahli
4. Ahli System Informasi Geografis (GIS) sebagai Tenaga Ahli
5. Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan sebagai Tenaga Ahli
6. Ahli Teknik Lingkungan sebagai Tenaga Ahli
7. Ahli Kelembagaan sebagai Tenaga Ahli
8. Ass. Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota sebagai Asisten Tenaga Ahli
9. Ass. Ahli Urban Design sebagai Asisten Tenaga Ahli
Struktur organisasi Tim Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi di Kota Sungai Penuh terdiri
dari ; tenaga ahli, asisten dan tenaga perndukung yang terlibat.




BIDANG TATA RUANG
DINAS PEKERJAAN UMUM
PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH
LAPORAN PENDAHULUAN VI-7
6.5 Jadwal Penugasan Personil
Jadwal penugasan personil dalam pekerjaan Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kota Sungai Penuh, baik tenaga ahli maupun tenaga pendukung dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
Tabel VI-2 Jadwal Penugasan Personil
NO TENAGA AHLI NAMA TENAGA AHLI
BULAN I BULAN II BULAN III
I II III IV I II III IV I II III IV
I
1 Ahli Perencana Wilayah dan Kota Yudi Syafril, ST
2 Ahli Prasarana Wilayah Ir. Sri Wiyasa
3 Ahli Urban Design Bimo Chondro T
4 Ahli GIS Ir. Bambang Gunarso W.

5 Ahli Lingkungan TB. Rafiudin

6 Ahli Hukum Yeltriana, SH.MH
7 Ahli Ekonomi Pembangunan Ir. Rian Permana, M. Si
II
1 Asisten Perencanaan Wilayah dan Kota To be Name
2 Asisten Urban Design To be Name
III
1 Operator Komputer Tobe Name
2 CAD Draftman Tobe Name
3 Surveyor Tobe Name
4 Tenaga Administrasi Tobe Name

Anda mungkin juga menyukai