Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN FARMAKOGNOSI II

PENGENALAN ALAT-ALAT
LABORATORIUM


Disusun oleh :
Nama : Isna Zulmaini
NIM : 12390024

JURUSAN FARMASI
POLTEKKES KEMENKES RI PANGKALPINANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penelitian merupakan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji
kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan metode atau pendekatan ilmiah. Proses
penelitian membutuhkan instrument atau alat-alat yang berfungsi untuk membantu pengumpulan
data selama penelitian berlangsung.
Setiap teknik atau metode pengumpulan data menggunakan instrumen pengumpulan data
yang berbeda-beda. Secara umum instrumen adalah sesuatu yang karena memenuhi persyaratan
akademis dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur objek ukur atau mengumpulkan data
mengenai suatu variabel. (Drs. Toto Syatori Nasehudin, 2012)
Pada konteks penelitian, instumen diartikan sebagai alat untuk mengumpulkan data mengenai
variabel-variabel penelitian untuk kebutuhan penelitian sehingga disebut Instrumen
Pengumpulan Data (IPD). Instrument atau alat-alat yang digunakan bermacam-macam, terkait
dengan setiap disiplin ilmunya. Setiap instrument memiliki fungsinya masing-masing. Pada
eksperimen, alat-alat yang digunakan adalah alat/instrument seperti yang berada pada
laboratorium umumnya, yaitu alat-alat gelas; beaker, Erlenmeyer, tabung reaksi dan lain
sebaginya. Instrument yang digunakan mulai dari bentuk mikro hingga makro. Setiap instrument
memiliki manfaat untuk eksperimen sederhana hingga dalam konteks yang lebih berat.
Pada saat akan melakukan suatu eksperimen, praktikan haruslah menyusun dan menyiapakan
alat- alat yang akan digunakan. Hal ini bertujuan untuk menhindarai trjadinya kesalahan atau
kekeliruan saat melakukan eksperimen terkait dengan alat yang digunakan beserta fungsinya.
Oleh karena itu, kita harus mengetahui dan mengenal nama alat-alat tersebut serta fungsinya.
Jika kita memahami nama dan fungsi serta prinsip kerja dari setiap alat / instrument
laboratorium tersebut, tentunya sangat membantu dalam melakukan suatu eksperiemen. Hal ini
tentunya dapat meminimalisir kesalahan yang dilakukan praktikan ataupun mengurangi
kecanggungan terhadap instrument yang akan digunakan karena masih asing

1.2 Tujuan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Mengetahui dan menguasai jenis, nama, fungsi dan prinsip kerja alat-alat yang ada di
laboratorium.
2. Menghindari kesalahan yang dilakukan praktikan pada saat praktikum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Istilah farmakognosi pertama kali dicetuskan oleh C.A. Seydler (1815), seorang peneliti
kedokteran di Haalle Jerman, dalam disertasinya berjudul Analecta Pharmacognostica.
Farmakognosi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua suku kata Pharmakon dan
gignosco. Pharmakon artinya obat (ditulis dalam tanda petik karena obat di sini maksudnya
adalah obat alam, bukan obat sintetis) dan gignosco yang artinya pengetahuan. Jadi,
farmakognosi adalah pengetahuan tenatang obat-obat alamiah.
Farmakognosi merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian
tumbuhan dan hewan yang dapat digunakan sebagai obat alami yang telah melewati berbagai
macam uji seperti uji farmakodinamik, uji toksitologi dan uji biofarmasetika.
Farmakognosi merupakan cara pengenalan ciri-ciri atau karakteristik obat yang berasal dari
bahan alam. Farmakognosi mencakup seni dan pengetahuan pengobatan dari alam yang meliputi
tanaman, hewan, mikroorganisme, dan mineral. Perkembangan farmakognosi saat ini sudah
melibatkan hasil penyarian atau ekstrak yang tentu akan sulit dilakukan indentifikasi zat aktif
jika hanya mengandalkan mata (Azizah,2011).
Saat ini, dunia farmakognosi telah berkembang pesat dengan ditemukannya berbagai obat
herbal yang baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, sebagai tenaga kesehatan maupun para
peneliti harus senantiasa memiliki ide-ide yang bersifat dinamis guna memajukan kesehatan
masyarakat. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan berbagai macam
riset. Pelaksanaa dari riset-riset tersebut tak terlepas dari kegiatan laboratorium, karena
farmakognosi bersifat eksperimental.
Laboratorium merupakan sebuah tempat yang digunakan untuk melakukan suatu percobaan
dan penelitian yang disebut praktikum. Praktikum di laboratorium sangat dibutuhkan untuk
mempelajari ilmu-ilmu secara nyata dan diperlukan untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Sebelum melakukan suatu percobaan, praktikan harus mengetahui dan memahami
terlebih dahulu mengenai alat, fungsi, serta prinsip kerjanya. Hal ini bertujuan agar praktikum
yang kita lakukan bisa berjalan dengan lancar, baik, dan benar. Selain itu, kita juga harus berhati-
hati serta penuh ketelitian dalam menggunakan alat-alat laboratorium, karena sebagian alat-alat
laboratorium tersebut terbuat dari kaca,porselin, dan sejenisnya yang bersifat mudah pecah.
Eksperimen di Laboratorium merupakan mata rantai untuk menghubungkan apresiasi aspek
estetika dan ilmu kimia. Eksperimen dapat membangkitkan keingintahuan seseorang terhadap
suatu ilmu.
Pada laboratorium farmakognosi, kegiatan laboratoriumnya meliputi analisis
makroskopis dan mikroskopis, histokimia, screeening fitokimia, pemeriksaan kadar senyawa
aktif, isolasi dan identifikasi metabolit sekunder serta penetapan paramater standar ekstrak dan
simplisia tanaman obat, secara densitometri maupun spektrofotometri (Anonim,2014)
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa di dalam laboratorium terdapat
bermacam-macam alat-alat laboratorium.
Berikut ini akan diuraikan secara singkat mengenai alat-alat yang umumnya terdapat di
laboratorium.
1. Gelas Kimia (beaker) : berupa gelas tinggi, berdiameter besar dengan skala sepanjang
dindingnya. Terbuat dari kaca borosilikat yang tahan terhadap panas hingga suhu 200 oC.
Ukuran alat ini ada yang 50 mL, 100 mL dan 2 L.
2. Labu Erlenmeyer : berupa gelas yang diameternya semakin ke atas semakin kecil dengan
skala sepanjang dindingnya. Ukurannya mulai dari 10 mL sampai 2 L.
3. Gelas ukur : berupa gelas tinggi dengan skala di sepanjang dindingnya. Terbuat dari kaca
atau plastik yang tidak tahan panas. Ukurannya mulai dari 10 mL sampai 2 L.
4. Pipet : alat untuk mengambil cairan dalam jumlah tertentu maupun takaran bebas.
Jenisnya :
Pipet seukuran : digunakan untuk mengambil cairan dalam jumlah tertentu secara
tepat, bagian tengahnya menggelembung.
Pipet berukuran : berupa pipa kurus dengan skala di sepanjang dindingnya.
Berguna untuk mengukur dan memindahkan larutan dengan volume tertentu
secara tepat.
Pipet tetes : berupa pipa kecil terbuat dari plastik atau kaca dengan ujung
bawahnya meruncing serta ujung atasnya ditutupi karet. Berguna untuk
mengambil cairan dalam skala tetesan kecil.
5. Buret : berupa tabung kaca bergaris dan memiliki kran di ujungnya. Ukurannya mulai
dari 5 dan 10 mL (mikroburet) dengan skala 0,01 mL, dan 25 dan 50 mL dengan skala
0,05 mL.
6. Tabung reaksi : berupa tabung yang kadang dilengkapi dengan tutup. Terbuat dari kaca
borosilikat tahan panas, terdiri dari berbagai ukuran.
7. Kaca arloji : terbuat dari kaca bening, terdiri dari berbagai ukuran diameter.
8. Corong : terbuat dari plastik atau kaca tahan panas dan memiliki bentuk seperti gelas
bertangkai, terdiri dari corong dengan tangkai panjang dan pendek.
9. Cawan : terbuat dari porselen dan biasa digunakan untuk menguapkan larutan.
10. Mortir dan stamper : terbuat dari porselen, kaca atau batu granit yang dapat digunakan
untuk menghancurkan dan mencampurkan padatan kimia.
11. Spatula : berupa sendok panjang dengan ujung atasnya datar, terbuat dari stainless steel
atau alumunium.
12. Botol semprot : berupa botol tinggi bertutup yang terbuat dari plastik.
13. Kawat kasa : kawat yang dilapisi dengan asbes, digunakan sebagai alas dalam
penyebaran panas yang berasal dari suatu pembakar.
14. Kaki tiga : besi yang menyangga ring dan digunakan untuk menahan kawat kasa dalam
pemanasan.
15. Burner / pembakar spiritus : digunakan untuk memanaskan bahan kimia.
16. Bola hisap : digunakan untuk membantu proses pengambilan cairan. Terbuat dari karet
yang disertai dengan tanda untuk menyedot cairan (suction), mengambil udara (aspirate)
dan mengosongkan (empty).
17. Neraca analisis : digunakan untuk menimbang padatan kimia.
18. Batang pengaduk : terbuat dari kaca tahan panas, digunakan untuk mengaduk cairan di
dalam gelas kimia.
19. Labu ukur : berupa labu dengan leher yang panjang dan bertutup; terbuat dari kaca dan
tidak boleh terkena panas karena dapat memuai. Ukurannya mulai dari 1 mL hingga 2 L.
20. Labu bundar : berupa labu dengan leher yang panjang, alasnya ada yang bundar, ada yang
rata. Terbuat dari kaca tahan panas pada suhu 120-300 oC.Ukurannya mulai dari 250 mL
sampai 2000 mL.
21. Corong Buchner : berupa corong yang bagian dasarnya berpori dan berdiameter besar.
Terbuat dari porselen, plastik atau kaca. Berguna untuk menyaring sampel agar lebih
cepat kering. Cara menggunakannya dengan meletakkan kertas saring yang diameternya
sama dengan diameter corong.
22. Erlenmeyer Buchner : berupa gelas yang diameternya semakin ke atas semakin mengecil,
ada lubang kecil yang dapat dihubungkan dengan selang ke pompa vakum. Terbuat dari
kaca tebal yang dapat menahan tekanan sampai 5 atm. Ukurannya mulai dari 100 mL
hingga 2 L.
23. Corong pisah : berupa corong yang bagian atasnya bulat dengan lubang pengisi terletak
di sebelah atas, bagian bawahnya berkatup. Terbuat dari kaca.
24. Desikator : berupa panci bersusun dua yang bagian bawahnya diisi bahan pengering,
dengan penutup yang sulit dilepas dalam keadaan dingin karena dilapisi vaseline. Ada 2
macam desikator :desikator biasa dan vakum. Desikator vakum pada bagian tutupnya ada
katup yang bisa dibuka tutup, yang dihubungkan dengan selang ke pompa. Bahan
pengering yang biasa digunakan adalah silika gel.
25. Cawan petri : berbentuk seperti gelas kimia yang berdinding sangat rendah. Terbuat dari
kaca borosilikat tahan panas. Berfungsi sebagai wadah menimbang dan menyimpan
bahan kimia, mikrobiologi.
26. Krusibel : berupa mangkok kecil yang dilengkapi tutup dan terbuat dari porselen tahan
panas, alumina. Dipakai sebagai tempat untuk mereaksikan bahan kimia. Pada saat krus
masih dalam keadaan panas, jangan langsung dikenai air. Perubahan suhu mendadak
menyebabkan krus pecah.
27. Kaki tiga krus : terbuat dari porselen dan berfungsi untuk menaruh krusibel saat akan
dipanaskan langsung di atas api.
28. Statif : terbuat dari besi atau baja yang berfungsi untuk menegakkan buret, corong,
corong pisah dan peralatan gelas lainnya pada saat digunakan.
29. Klem manice : terbuat dari besi atau alumunium yang berfungsi untuk memegang
peralatan gelas yang dipakai pada proses destilasi. Bagian belakangnya dihubungkan
dengan statif menggunakan klem bosshead.
30. Klem bosshead : terbuat dari besi atau alumunium yang berfungsi untuk menghubungkan
statif dengan klem manice atau pemegang corong.
31. Klem buret : terbuat dari besi atau baja untuk memegang buret yang digunakan untuk
titrasi.
32. Pemegang corong : terbuat dari besi atau baja untuk memegang corong atau corong pisah
yang dipakai pada proses penyaringan atau pemisahan. Bagian belakang disambungkan
dengan statif menggunakan klem bosshead.
33. Tang krusibel : terbuat dari besi atau baja untuk mengambil dan membawa krusibel.
34. Stirrer magnetic : magnet yang digunakan untuk mengaduk larutan.
35. Sentrifuge : berfungsi untuk mengendapkan dan memisahkan padatan dari larutan.
36. Chromatography chamber : terbuat dari kaca yang digunakan dalam proses kromatografi
kertas.
37. Spectronic 20 : digunakan untuk mengukur absorbansi larutan berwarna dalam proses
spektrofotometri.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Pengenalan Alat-Alat Laboratorium ini dilaksanakan pada :
Waktu : 07.30 WIB 12.30 WIB
Hari / Tanggal : Senin, 15 September 2014
Tempat : POLTEKKES KEMENKES RI Pangkalpinang
3.2 Tujuan dan Prinsip Percobaan
Adapun tujuan dan prinsip praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui dan menguasai jenis, nama, fungsi dan prinsip kerja alat-alat yang ada di
laboratorium.
2. Menghindari kesalahan yang dilakukan praktikan pada saat praktikum.
3.3 Alat
Alat- alat yang digunakan antara lain :
Alat-alat destilasi
Alat-alat ekstraksi
Beaker glass
Bunsen
Buret
Corong
Erlenmeyer
Kaki tiga
Kromatografi
Mortar dan stamper
Pipet gondok
Pipet tetes
Pipet ukur
Spatula
Tabung reaksi dan rak
Thermometer

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarakan hasil yang diperoleh dari pengenalan alat-alat laboratorium serta literature-
literatur yang diperoleh, maka data pengamatan mengenai hal tersebut disajikan dalam bentuk
table sebagai berikut.
Tabel 1. Alat alat laboratorium
No Gambar Alat Nama Alat Fungsi
1.



Gelas
Beaker
Untuk mengukur volume larutan
yang tidak memerlukan tingkat
ketelitian yang tinggi
Menampung zat kimia
Memanaskan cairan
Media pemanasan cairan
2.


Erlenmeyer
o Untuk menyimpan dan
memanaskan larutan
o Menampung filtrat hasil
penyaringan
o Menampung titran (larutan
yang dititrasi) pada proses titrasi
3.
Labu
destilasi
Untuk destilasi larutan. Pada
bagian atas terdapat karet penutup
dengan sebuah lubang sebagai
tempat termometer.


4.


Kondensor
Untuk destilasi larutan. Lubang
lubang bawah tempat air masuk,
lubang ata tempat air keluar
5.


Corong
gelas
Untuk memasukan atau
memindah larutan dari satu
tempat ke tempat lain dan
digunakan pula untuk proses
penyaringan setelah diberi kertas
saring pada permukaannya.

6.


Corong
bucher
Untuk menyaring larutan dengan
bantuan pompa vakum
7.
Corong
pisah
-Untuk proses ekstraksi
-Untuk memisahkan dua larutan
yang tidak bercampur karena
adanya perbedaan massa jenis

8.


Labu ukur
Untuk membuat dan atau
mengencerkan larutan dengan
ketelitian yang tinggi
9.





Gelas ukur
Untuk mengukur volume
larutan,tidak memerlukan tingkat
ketelitian yang tinggi dalam
jumlah tertentu
10.


Filler (karet
penghisap)
Alat ini dipasangkan pada pipet
ukur,volume, maupun gondok
yang berfungsi untuk
memudahkan pengambilan
larutan (untuk menhisap larutan).
-Digunakan untuk membantu
proses pengambilan cairan.
Terbuat dari karet yang disertai
dengan tanda untuk menyedot
cairan (suction), mengambil
udara (aspirate) dan
mengosongkan (empty).

11.


Pipet ukur
Berupa pipa kurus dengan skala
di sepanjang dindingnya. Berguna
untuk mengukur dan
memindahkan larutan dengan
volume tertentu secara tepat.
12.


Pipet
volume
Digunakan untuk mengambil
larutan dengan volume tertentu
sesuai dengan label yang tertera
pada bagian yang menggembung
13.


Pipet tetes
Berupa pipa kecil terbuat dari
plastik atau kaca dengan ujung
bawahnya meruncing serta ujung
atasnya ditutupi karet. Berguna
untuk mengambil cairan dalam
skala tetesan kecil.

14. Buret
Berupa tabung kaca bergaris dan
memiliki kran di ujungnya.
Ukurannya mulai dari 5 dan 10
mL (mikroburet) dengan skala

0,01 mL, dan 25 dan 50 mL
dengan skala 0,05 mL.
Fungsi :
Untuk mengeluarkan larutan
dengan volume tertentu, biasanya
digunakan untuk titrasi.
15.



Spatula
Berupa sendok panjang dengan
ujung atasnya datar, terbuat dari
stainless steel atau alumunium.
Fungsi :
-Untuk mengambil bahan kimia
yang berbentuk padatan
-Dipakai untuk mengaduk larutan

15.


Mortar dan
stamper
Mortar dan stamper digunakan
untuk menggiling partikel ke
dalam bubuk halus (triturasi).
Penggabungan cairan (levigasi)
dapat mengurangi ukuran partikel
lebih lanjut. Mortar dan stamper
terbuat dari kaca, porselin,
wedgwood atau marmer
16.


Pipet kapiler
Untuk mengalirkan gas ke tempat
tertentu dan digunakan pula
dalam penentuan titik lebur suatu
zat
17 Kaca arloji
Sebagai penutup
saat melakukan
pemanasan

terhadap suatu
bahan kimia
Untuk menimbang
bahan-bahan kimia
Untuk
mengeringkan
suatu bahan dalam
desikator.
untuk menahan
sampel kecil untuk
pengamatan di
bawah mikroskop
berdaya rendah
untuk menguapkan
cairan dari sampel

18


Tabung
reaksi
Berupa tabung yang kadang
dilengkapi dengan tutup. Terbuat
dari kaca borosilikat tahan panas,
terdiri dari berbagai ukuran.
Fungsi :
-Sebagai tempat untuk
mereaksikan bahan kimia
- Untuk melakukan reaksi kimia
dalam skala kecil
19


Rak tabung
reaksi
Wadah untuk tabung reaksi
20 Penjepit Untuk menjepit tabung reaksi

21


Bunsen Pembakar atau pemanas zat
22


Kaki tiga
besi yang menyangga ring dan
digunakan untuk menahan kawat
kasa dalam pemanasan.
tungku pemanasan
23


Kawat kassa
Kawat yang dilapisi dengan
asbes, digunakan sebagai alas
dalam penyebaran panas yang
berasal dari suatu pembakar Alat
pemanas
24


Klem dan
statif
Sebagai penjepit, misalnya:
-Untuk menjepit soklet pada
proses ekstraksi
-Menjepit buret dalam proses
titrasi
-Untuk menjepit kondensor
pada proses destilasi

25
Stirer dan
batang
Pengaduk magnetik. Untuk
mengaduk larutan. Batang-batang


strirer magnet diletakan di dalam larutan
kemudian disambungkan arus
listrik maka secara otomatis
batang magnetik dari stirer akan
berputar

26


Distiller Alat untuk distilasi
27


Neraca
Untuk mengetahui berat suatu
timbangan
28


Neraca
analitik
Sebagai alat pengukur massa
29
Kertas
saring
Untuk menyaring larutan

30


Cawan
porselin
Sebagai wadah bahan kimia
31


Hot plate
Untuk memanaskan larutan
(larutan yang mudah terbakar)
32


Oven Untuk pengeringan
33


Soxhlet Alat untuk ekstraksi
34 Percolator Alat untuk perkolasi(ekstraksi)

35


Destilasi
uap

Alat untk destilasi





36


Oil claifier
Alat ekstraksi pada industry
minyak sawit
37


Alat Ekstrak
Vakum
Multi Effect

Digunakan untuk penanganan
proses Ekstraksi dan
pengkonsentrasian cairan dalam
farmasi, kimia, makanan, susu
produk industri, terutama yang
berlaku untuk berkonsentrasi
obat termal di bawah system
vakum dan suhu
rendahDigunakan untuk
penanganan proses Ekstraksi dan
pengkonsentrasian cairan dalam
farmasi, kimia, makanan, susu
produk industri, terutama yang
berlaku untuk berkonsentrasi
obat termal di bawah system
vakum dan suhu rendah
38


Rotavapor Alat ekstraksi
39



Seperang-
kat alat
kromatogra-
fi gas
Sebagai alat kromatografi gas
40


Kromaogra-
fi kolom
Untuk memisahkan senyawa
dalam jumlah banyak
berdasarkan prinsip absorbs dan
partisi
41


Kromatogra-
fi vakum
cair
Untuk fraksinasi kasar yang
cepat terhadap suatu ekstrak
42
Kromatogra-
fi lapis tipis
Untuk mengidentifikasi dan
mengisolasi ekstrak

prefaratif
43
Kromatogra-
fi lapis tipis
2 dimensi
Untuk mengetahui kemurnian
senyawa hasil isolat dengan
metode ini yaitu dengan
mengelusi noda pada 2 arah yang
berbeda dan menggunakan eluen
yang berbeda, isolat dikatakan
murni apabila noda yang
dinampakkan adalah tunggal
44


HPLC
Untuk mengidentifikasi suatu zat
Sebagai alat kromatografi
45


Destilasi
fraksionasi
Fungsi distilasi fraksionasi adalah
memisahkan komponen-
komponen cair, dua atau lebih,
dari suatu larutan berdasarkan
perbedaan titik didihnya. Distilasi
ini juga dapat digunakan untuk
campuran dengan perbedaan titik
didih kurang dari 20 C dan
bekerja pada tekanan atmosfer
atau dengan tekanan rendah.
Aplikasi dari distilasi jenis ini
digunakan pada industri minyak
mentah, untuk memisahkan
komponen-komponen dalam
minyak mentah
46
Destilasi
azetrop
Digunakan dalam memisahkan
campuran azeotrop (campuran
campuran dua atau lebih

komponen yang sulit di
pisahkan), biasanya dalam
prosesnya digunakan senyawa
lain yang dapat memecah ikatan
azeotrop tsb, atau dengan
menggunakan tekanan tinggi
47



Thermome-
ter
Alat pengukur suhu
48


Desikator
Untuk menyimpan bahan-bahan
yang harus bebas air dan
mengeringkan zat-zat dalam
laboratorium
49


Waterbath
Sebagai wadah bahan yang akan
digunakan kembali
50 Autoklaf Alat untuk sterilisasi


4.2 Pembahasan
Berdasarkan uraian hasil alat-alat laboratorium, dapat diketahui bahwa alat-alat
laboratorium bermacam-macam dan sebagiannya ada yang mirip satu dengan yang lainnya.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa praktikan tidak hanya mengetahui alat dan fungsinya saja,
tetapi praktikan juga harus memahami prinsip kerja dari setiap alat-alat yang digunakan.
Berikut ini uraian mengenai cara kerja dari beberapa alat- alat laboratorium.
1) Labu ukur : Isikan larutan yang akan diencerkan atau padatan yang akan dilarutkan.
Tambahkan cairan yang dipakai sebagai pelarut sampai setengah labu terisi, kocok
kemudian penuhkan labu sampai tanda batas. Sumbat labu, pegang tutupnya dengan jari,
kocok dengan cara membolak-balikkan labu sampai larutan homogen.
2) Corong Buchner : Letakkan kertas saring yang ukurannya sama dengan permukaan
corong pada permukaan corong.
3) Erlenmeyer Buchner : Diawali dengan memasang corong Buchner di leher labu, pasang
selang yang tersambung ke pompa vakum pada bagian yang menonjol.
4) Corong pisah : Campuran yang akan dipisahkan dimasukkan lewat lubang atas, katup
dalam keadaan tertutup. Pegang tutup bagian atas, corong dipegang dengan tangan kanan
dan kiri dalam posisi horisontal, kocok agar ekstraksi berlangsung dengan baik. Buka
tutup bagian atas, keluarkan larutan bagian bawah melalui katup secara pelan. Tutup
kembali katup jika larutan lapisan bawah sudah keluar.
5) Desikator : Dengan membuka tutup desikator dengan menggesernya ke samping,
letakkan sampel dan tutup kembali dengan cara yang sama. Keterangan : Silika gel yang
masih bisa menyerap uap air berwarna biru; jika silika gel sudah berubah menjadi merah
muda maka perlu dipanaskan dalam oven bersuhu 105 oC sampai warnanya kembali biru.
6) Memanaskan cairan :
a. Pemanasan cairan dalam tabung reaksi
- Jangan sampai mengarahkan mulut tabung reaksi kepada praktikan baik
diri sendiri maupun orang lain
- Jepit tabung reaksi pada bagian dekat dengan mulut tabung
- Posisi tabung ketika memanaskan cairan agak miring, aduk dan sesekali
dikocok
- Pengocokan terus dilakukan sesaat setelah pemanasan
b. Pemanasan cairan dalam gelas kimia dan labu Erlenmeyer
Bagian bawah dapat kontak langsung dengan api sambil cairannya
digoyangkan perlahan, sesekali diangkat bila mendidih.
7) Cara membaca volume pada gelas ukur :
Masukkan cairan yang akan diukur lalu tepatkan dengan pipet tetes sampai skala yang
diinginkan. Bagian terpenting dalam membaca skala di gelas ukur tersebut adalah garis
singgung skala harus sesuai dengan meniskus cairan. Meniskus adalah garis lengkung
permukaan cairan yang disebabkan adanya gaya kohesi atau adhesi zat cair dengan gelas
ukur.
8) Cara menggunakan buret
Sebelum digunakan, buret harus dibilas dengan larutan yang akan digunakan. Cara
mengisinya : Kran ditutup kemudian larutan dimasukkan dari bagian atas menggunakan
corong gelas. Jangan mengisi buret dengan posisi bagian atasnya lebih tinggi dari mata
kita. Turunkan buret dan statifnya ke lantai agar jika ada larutan yang tumpah dari corong
tidak terpercik ke mata. Jangan sampai ada gelembung yang tertinggal di bagian bawah
buret. Jika sudah tidak ada gelembung, tutup kran. Selanjutnya isi buret hingga melebihi
skala nol, lalu buka kran sedikit untuk mengatur cairan agar tepat pada skala nol.
9) Cara menggunakan neraca analitis
o Nolkan terlebih dulu neraca tersebut
o Letakkan zat yang akan ditimbang pada bagian timbangan
o Baca nilai yang tertera pada layar monitor neraca
o Setelah digunakan, nolkan kembali neraca tersebut
10) Cara menghirup bau zat
Ingat : Jangan pernah menghirup gas atau uap senyawa secara langsung!
Gunakan tangan dengan mengibaskan bau sedikit sampel gas ke hidung.
11) Soxhlet
Soxhlet merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk mengekstrak suatu bahan
dengan pelarutan yang berulang-ulang dengan pelarut yang sesuai. Sampel yang akan
diekstraksi ditempatkan dalam suatu timbel yang permeabel terhadap pelarut dan
diletakkan di atas tabung destilasi, dididihkan dan dikondensaasikan di atas sampel.
Kondesat akan jatuh ke dalam timbel dan merendam sampel dan diakumulasi sekeliling
timbel. Setelah sampai batas tertentu, pelarut akan kembali masuk ke dalam tabung
destilasi secara otomastis. Proses ini berulang terus dengan sendirinya di dalam alat
terutama dalam peralatan Soxhlet yang digunakan untuk ekstraksi lipida (Wirakusumah
2007). Soxhlet merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk mengekstrak suatu
bahan dengan pelarutan yang berulang-ulang dengan pelarut yang sesuai. Sampel yang
akan diekstraksi ditempatkan dalam suatu timbel yang permeabel terhadap pelarut dan
diletakkan di atas tabung destilasi, dididihkan dan dikondensaasikan di atas sampel.
Kondesat akan jatuh ke dalam timbel dan merendam sampel dan diakumulasi sekeliling
timbel. Setelah sampai batas tertentu, pelarut akan kembali masuk ke dalam tabung
destilasi secara otomastis. Proses ini berulang terus dengan sendirinya di dalam alat
terutama dalam peralatan Soxhlet yang digunakan untuk ekstraksi lipida (Wirakusumah
2007).
Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya
sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya
pendingin Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang
umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan
adanya pendingin balik (Anonim,2012)
12) Percolator
Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia dimaserasi selama 3
jam, kemudian simplisia dipindahkan ke dalam bejana silinder yang bagian bawahnya
diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui simplisia
tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui
sampai keadan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh karena gravitasi, kohesi, dan
berat cairan di atas dikurangi gaya kapiler yang menahan gerakan ke bawah. Perkolat
yang diperoleh dikumpulkan, lalu dipekatkan.
13) Prinsip Refluks
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam
labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap-uap cairan
penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari
yang akan turun kembali menuju labu alas bulat, akan menyari kembali sampel yang
berada pada labu alas bulat, demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan
sampai penyarian sempurna, penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4
jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.
14) Prinsip Destilasi Uap Air
Penyarian minyak menguap dengan cara simplisia dan air ditempatkan dalam labu
berbeda. Air dipanaskan dan akan menguap, uap air akan masuk ke dalam labu sampel
sambil mengekstraksi minyak menguap yang terdapat dalam simplisia, uap air dan
minyak menguap yang telah terekstraksi menuju kondensor dan akan terkondensasi, lalu
akan melewati pipa alonga, campuran air dan minyak menguap akan masuk ke dalam
corong pisah, dan akan memisah antara air dan minyak atsiri.
15) Prinsip Rotavapor
Proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh
putaran dari labu alas bulat, cairan penyari dapat menguap 5-10 C di bawah titik didih
pelarutnya disebabkan oleh karena adanya penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa
vakum, uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi
menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat
penampung.
16) Prinsip Ekstraksi Cair-Cair (Corong pisah)
Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia di antara 2 fase
pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian komponen larut pada fase pertama
dan sebagian larut pada fase kedua, lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi
dikocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan
fase cair, dan komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase tersebut sesuai dengan
tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap.
17) Prinsip Kromatografi Lapis Tipis
Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip adsorbsi dan partisi, yang ditentukan
oleh fase diam (adsorben) dan fase gerak (eluen), komponen kimia bergerak naik
mengikuti fase gerak karena daya serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia
tidak sama sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda
berdasarkan tingkat kepolarannya, hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan.


BAB V
PENUTUP
Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan, kesimpulan dari penulisan ini adalah :
1. Alat- alat laboratorium yang terbuat dari kaca atau gelas antara lain ; tabung reaksi,
beaker, labu, corong gelas, Erlenmeyer, corong pisah, spatula, pipet ukur, pipet volume,
pipet tetes.
2. Alat-alat yang digunakan untuk memanaskan antara lain adalah Bunsen dab hot plate.
3. Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu zat atau lebih dari suatu padatan atau
larutan dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Alat-alat yang digunakan pada proses
ekstraksi antara lain percolator, soxhlet, rotavapor, dan corong pisah.
4. Distilasi merupakan suatu proses pemisahan dua komponen zat atau lebih dengan
berdasarkan titik didih. Alat-alat yang digunakan untuk distilasi salah satunya adalah
distiller.
5. Kromatografi merupakan suatu alat atau metode untuk memisahkan komponen-
komponen antar zat sehingga menjadi lebih spesifik, contohnya adalah kromatografi lapis
tipis, kromatografi kolom, kromatografi kertas, dan kromatografi gas.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Ekstraksi. http://chemistry35.blogspot.com/2011/04/ekstraksi-pengertian-prinsip-
kerja.html, diakses 16 September 2014.
Anonim. 2011. Alat-alat lab. http://lukyrohendi.blog.com/2011/08/10/alat-alat-lab/, diakses 16
September 2014.
Anonim. 2011. Farmakognosi. http://nurazizahsyahrana.blogspot.com
/2011/09/farmakognosi.html, diakses 16 September 2014.
Anonim . 2012. Soxhlet. http://viskhasafitri.blogspot.com/2012/05/soxhlet-alat-ekstraksi-
lipid.html, diakses 16 September 2014.
Anonim. 2013. Laporan Pengenalan Alat Gelas. http://data-tugas-kuliah-
farmasi.blogspot.com/2013/03/laporan-penggenalan-alat-gelas-ware.html, diakses 16
September 2014.
Anonim. 2013. Alat-alat Ekstraksi dan Prinsip Kerja.
http://generalpoenya.blogspot.com/2013/04/alat-alat-ekstraksi-dan-prinsip-kerja.html,
diakses 16 September 2014.
Anonim. http://www.litbang.depkes.go.id/lab_farmakognosi, diakses 16 September 2014.
Anonim. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/pemurnian-
material/kromatografi/, diakses 16 September 2014.
Anonim. http://fitokimiaumi.wordpress.com/kegiatan-laboratorium/kegiatan-fitokimia-ii/,
diakses 16 September 2014.
Nasehudin, Drs. Toto Syatori, M. D. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: CV. Pustaka
Setia.