Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KULIAH LAPANGAN GEOLOGI

EKSPLORASI
TAMBANG EMAS GUNUNG PONGKOR, PT.
ANTAM
DESA BANTAR KARET, KECAMATAN
NANGGUNG
KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT



Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Geologi Eksplorasi






Disusun oleh

TIGGI CHOANJI
DIH 03 018












JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
Jatinangor
2006
i
KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusunan laporan kuliah
lapangan geologi eksplorasi ini dapat diselesaikan. Laporan ini disusun untuk
memenuhi persyaratan kurikulum semester lima mata kuliah Geologi Eksplorasi
serta untuk memperdalam materi kuliah yang telah dipelajari selama ini
Laporan yang telah disusun ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu
penulis sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang membangun dari
seluruh pihak sebagai bahan pembelajaran bagi penulis. Dan semoga laporan ini
dapat memberi motivasi bagi penulis khususnya dan mahasiswa geologi pada
umumnya.
Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak khususnya seluruh staf PT. ANTAM dan para dosen yang telah
membantu dalam pelaksanaan kegiatan lapangan dan penyusunan laporan ini
hingga dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.





J atinangor, Februari 2006


Penulis












ii





DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ................................................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................1
1.1 Latar belakang ............................................................................................1
1.2 Maksud dan Tujuan ....................................................................................1
1.3. Lokasi Daerah Kuliah Lapangan ...............................................................1
1.4 Kesampaian Wilayah dan Kelancaran Kerja ..............................................2
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA ....................................................................................3
2.1 Geologi Regional .........................................................................................3
2.2 Teori Dasar ..................................................................................................4
A. Endapan Hidrotermal ................................................................................4
B. Eksplorasi Geokimia ..................................................................................6
C. Endapan Emas .........................................................................................6
BAB III Metode Penelitian ........................................................................................8
3.1 Objek Penelitian .........................................................................................8
3.2 Peralatan Yang digunakan ..........................................................................8
3.3 Langkah Langkah Penelitian ...................................................................8
3.3.1 Tahap Persiapan .................................................................................8
3.3.2 Tahap Kegiatan Lapangan ..................................................................9
3.3.3 Tahap Penulisan Laporan ....................................................................9
BAB IV PEMBAHASAN ...........................................................................................10
3.1 Sesi Pertama ............................................................................................10
3.1.1 Kegiatan Pertambangan Emas Pongkor, PT. ANTAM .......................10
A. Sejarah Singkat .............................................................................10
B. Penambangan ...............................................................................11
C. Pengolahan Emas ........................................................................12
3.1.2 Kondisi Geologi Daerah Pertambangan Emas Pongkor .....................13
iii
3.1.3 Geoteknik Sistem Penambangan Emas Pongkor ...............................14
3.2 Sesi Kedua ...............................................................................................14
3.2.1 Stasiun 1 .............................................................................................15
3.2.2 Stasiun 2 ............................................................................................16
BAB V PENUTUP ....................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................18








1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.
Kegiatan kuliah lapangan di daerah Pongkor dilatarbelakangi oleh
program studi Geologi Eksplorasi dengan peninjauan secara langsung ke salah satu
daerah pertambangan yaitu tambang emas Pongkor untuk memahami materi yang
selama ini telah diberikan di perkuliahan serta aplikasinya dilapangan, karena dalam
mempelajari ilmu geologi selain teori dan hitungan , praktek-pun sangat diperlukan
dalam pemahaman yang lebih dalam dan luas , dan dengan kegiatan kuliah
lapangan ini telah menjadikan jembatan bagi keduanya. Hal ini juga dimaksudkan
agar setiap peserta mendapat gambaran yang jelas mengenai kegiatan
pertambangan.

1.2. Maksud dan Tujuan.
Kegiatan kuliah lapangan ini dimaksudkan agar para peserta dapat
melihat langsung kegiatan pertambangan emas didaerah Pongkor dengan
melakukan kunjungan ke lokasi pertambangan dan memperoleh penjelasan singkat
dari para geologist dan para stafnya yang beroperasi didaerah tersebut.

1.3. Lokasi Daerah Kuliah Lapangan
Daerah kuliah lapangan terletak di daerah Pongkor, Desa Bantar Karet,
Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi J awa Barat. Sekitar 40 km dari
daerah Bogor. Di lokasi ini terdapat tambang emas Pongkor yang merupakan salah
satu unit bisnis pertambangan emas yang dikelola oleh PT. ANTAM.


2



1.4. Kesampaian Wilayah dan Kelancaran Kerja.
Kuliah lapangan geologi eksplorasi ini bekerja sama dengan PT. Antam
yang mengelola tambang emas di daerah Pongkor tersebut, yang dilaksanakan
pada hari selasa tanggal 7 Februari 2006. Lokasi pertambangan di daerah Pongkor
ditempuh dengan menggunakan bus pariwisata sekitar 7 jam dari J atinangor,
kendala selama diperjalanan dapat diatasi dengan baik sehingga tidak terlalu
mengganggu kelancaran kuliah lapangan tersebut.
Selama berada didaerah pertambangan, terutama saat memasuki
tunnel - tunnel setiap peserta dapat menggunakan alat-alat keamanan yang telah
dipersiapkan oleh pihak P. Antam seperti Helm, sepatu bot lapangan, headlamps
dan wearpack.




3
Qvep
Qvsl
Qvsb
Qvst
Qvu
Qvb
Tmtb
GN.PONGKOR
GN.DAHU
CIANTENHERANG
AWI BENGKOK
GN.SALAK
PERBAKTI
LAVAGUNUNGENDUT PRABAKTI
ALI RANLAVA
LAHAR, BREKSI TUFANDANLAPI LI
TUFBATUAPUNGPASI RAN
BATUANGUNUNGAPI TAKTERPI SAHKAN
BREKSI GUNUNGAPI
ANGGOTABREKSI FORMASI CANTAYAN
0 5 10km
Qvep HOLOSEN
PLEI STOSEN
PLI OSEN
MI OSEN
AKHI R
K
U
A
R
T
E
R
Qvsl
Qvsb
Qvst
Qvu Qvb
Tmtb
GNPONGKOR
BAB I I
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Geologi Regional
Daerah Pongkor terletak pada morfologi yang relatif terjal yaitu 500
700 m dpl. Dengan litologi berupa tufa lapili, tufa dan breksi. Memiliki alterasi berupa
argilik, silisifikasi, dan propilik. Dari aspek stratigrafi daerah Pongkor memiliki
beberapa satuan batuan yaitu :
a. Satuan batuan breksi --- Fm. Andesit Tua (Miosen Awal)
b. Satuan batuan tufa --- Fm. Cimapag (Miosen bawah bagian atas)
c. Satuan batuan andesit --- Miosen Atas
d. Satuan batuan breksi tufa ---- Pliosen Pistosen
e. Aluvial
Dilihat dari geologi regionalnya, daerah ini memiliki Cebakan emas Gn.
Pongkor, terletak dibatas antara zona Bogor dengan Quartenary Volcanoes
Complex (Gn. Salak, Gn. Halimun, Gn. Gagak), dan kaki / batas bayah dome di
bagian Timur. Tektonik jalur pegunungan Bayah telah mengalami siklus orogenesa
Tersier yang menggambarkan 3 evolusi tektonik (Paleogen, Miosen Tengah dan
Pliosen), didaerah tersebut ditemukan endapan volkanik, sebagian mengalami
ubahan hidrothermal .









Geologi Regional Daerah Pongkor
4
Daerah Pongkor dsk. termasuk dalam jalur penyebaran orogen
Sunda yang mirip dengan penyebaran busur magmatik Tersier yang merupakan
daerah potensial untuk mineralisasi emas.
Berdasarkan interpretasi landsat, volkanisme daerah Pongkor dsk
minimal terdapat 8 pusat erupsi dengan umur yang berbeda membentuk kaldera
yang merupakan hasil erupsi eksplosif dan kerucut gunungapi komposit dari hasil
erupsi efusif/ekplosif lemah. Seluruh pusat erupsi tersebut ditemukan alterasi dan
mineralisasi baik yang sudah bernilai ekonomis maupun masih dalam kajian lebih
lanjut.

2.2 Teori Dasar
A. Endapan Hidrotermal
Endapan hidrotermal, terjadi disebabkan oleh proses pengendapan
larutan sisa magma yang temperaturnya cukup rendah, dibawah temperatur kritik air
(372
o
C). Larutan ini antara lain mengandung oksida - oksida dan atau sulfide -
sulfida logam Au, Ag, Pb, Zn, Sb, Hg, dan Fe. Mineral kuarsa sangat lazim terdapat
bersama-sama dengan endapan mineral lain dengan warna keruh hingga bening,
kompak dengan bentuk yang cukup baik sampai sempurna, kadang kadang
berupa mineral peusedomorf dari mineral flourit dan barit.
Bentuk bentuk jebakan hidrotermal sering mengikuti bentuk rongga atau
rekahan yang diisinya, kadang-kadang diikuti oleh proses replacement. Pada
jebakan cavity filling bisa terjadi dua proses, yaitu : pembentukan rongga dan
pengisian larutan mineral, dimana proses tersebut bisa terjadi bersamaan atau
dipisahkan oleh interval waktu.
Dalam proses hidrotermal sering terdapat minerl-mineral ubahan yang terbentuk
akibat kontak demham larutan hidrotermal. Ubahan ubahan itu antar lain berupa :
1. Dolomitisasi ; perubahan mineral kalsit (CaCO
3
) menjadi dolomit MgCO
3
2. Silisifikasi ; Penambahan kandungan kuarsa atau opaline silika pada batuan.
Solubilitas SiO
2
berubah pada P, T >> ; redeposisi pada rekahan-
rekahan/vein
5
3. Argilitisasi ; Pembentukan mineral lempung dari larutan hipogen (primer)
yang bereaksi dengan batuan dinding dan leaching lime.
4. Seritisasi ; (alterasi potasik), banyak dijumpai, mika putih; ortoklas terubah
menjadi serisit. Mineral asosiasinya berupa kuarsa dan pirit,
5. dan lain-lain.
Secara garis besar pembagian jenis endapan hidrotermal dapat dibedakan
ke dalam 3 tipe yaitu :
1. Endapan Hypothermal, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Tekakan dan temperatur pembentukan relatif tinggi ;. >400
o
C
b. Endapan berupa urat urat dan korok atau dike yang berasosiasi dengan
intrusi yang sangat dalam.
c. Wall rock alteration dicirikan oleh proses replacement yang kuat.
d. Asosiasi mineralnya berupa sulfida, misalnya pirit, kalkopirit, galena, dan
sfalerit serta oksida besi.
e. Pada intrusi granit sering berupa endapan mineral logam Au, Pb, Sn, W, dan
Zn.
2. Endapan Mesothermal, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Tekanan dan temperatur yang berpengaruh lebih rendah dari pada endapan
hypothermal., sekitar 300 400
o
C
b. Endapan berasosiasi dengan batuan beku asm basa dan dekat dengan
permukaan bumi.
c. Tekstur akibat cavity filling jelas terlihat, sekalipun sering mengalami proses
replacement, antara lain berupa crustification atau banding.
d. Asosiasi mineralnya berupa sulfida : Au, Cu, Ag, As, Sb dan oksida Sn.
e. Proses pengayaan ( Supergene-enrichment) sering terjadi.
3. Endapan Ephithermal, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Tekanan dan temperatur paling rendah yaitu sekitar 150 300
o
C
b. Tekstur replacement tidak khas, jarang terjadi.
c. Endapan dekat dengan permukaan bumi , 1 km.
d. Kebanyakan teksturnya berlapis atau berupa fissure-vein.
6
e. Struktur khas sering terjadi berupa cockade,crustiform, colloform, sedikit
kalsedon.
f. Asosiasi mineral logamnya berupa Au dan Ag dengan mineral gangue
berupa kalsit dan zeolit disamping mineral kuarsa.
Contoh tipe endapan lain yang erat hubungannya dengan aktifitas hidrotermal
adalah endapan Porphyry Copper.Di daerah ini dikenal 4 jenis ubahan yang biasa
terjadi secara luas yaitu (tersusun secara memusat, konsentris dari pusat ke luar) :
a. Potasik ; Serisit, Biotit, K-Feldspar, Kuarsa
b. Filik ; kuarsa, Serisit Pirit
c. Argilik ; Clay minerals , kaolinit, monmorilonit.
d. Propilit. ; Klorit epidot, karbonat, dan sedikit clay.

B. Endapan Emas
Endapan emas dan logam dasar dapat ditemukan sebagai individu
atau berasosiasi dengan mineral lainnya, contoh:
a. Endapan plaser emas dapat berasosiasi dengan platinum
b. Endapan primer emas ditemukan sebagai inklusi dalam mineral galena,
sfalerit, bismut, stibnit, dan lain-lain.
c. Endapan primer emas berasosiasi dengan mineral elektrum, bornit, enargit,
cinabar, dan sebagainya.
d. Endapan primer tembaga dapat berasosiasi dengan mineral logam Au, Cu,
Pb, Zn, As.
e. Dan lain - lain

2.3 Pertambangan Emas Daerah Gunung Pongkor
Pertambangan emas daerah Pongkor dikelola oleh PT. Antam
dengan luas area Kuasa Pertambangan 6047 Ha telah memulai kegiatan
eksplorasinya sejak tahun 1979 sampai dengan sekarang dan telah ditemukan 3
vein utama yaitu : Vein Kubangcicau (gambar A), Vein Ciurug (gambar B) dan Vein
Ciguha (gambar C).
7
Vein kuarsa sebagai pembawa mineralisasi terperangkap pada Fm. Andesit Tua
dan Fm. Cimapag. Fm. Bojongmanik. Data analisa Fi 103 - 390 C, inklusi dari
cairan sampai gas yaitu 2 fase larutan yang memberikan gambaran kondisi boiling.
Ps. J awa 180 C dan Ciurug 149 C
yaitu indikasi adanya perbedaan
tingkat erosi, juga secara tidak
langsung menunjukkan adanya
struktur patahan dimana daerah
Ciurug relatif turun dari Kubang Cicau
Ciguha dan Ps. J awa.
Salinitas 1,0% NaCl yaitu larutan
pembawa emas sangat encer
menyebabkan Au/Ag terendapkan
relatif homogen.












ALTERASI & MINERALISASI di
tambang Emas Gn. Pongkor :
a. Host rock breksi, tufa lapili.
b. Alterasi argilik (smectite, illite,
pink adularia, kaolinite)
c. Alterasi propilit (chlorit, calcite)
d. Alterasi silisik (Quartz >40%) -
--Kubang Cicau
e. Mineralisasi berupa urat
kuarsa dengan tekstur umum
berupa banded, colloform,
crustiform dan cockade
(endapan epithermal).
Temperatur homogenitas dari
analisa Fi 103 - 390 C,
dengan salinitas 0,78% NaCl.
f. Mineralogi alterasi endapan
emas Pongkor adalah low-
sulphidation (adularia sericite
epithermal vein deposit)





8































9



























8
BAB III
METODA PENELITIAN


Dalam bab ini dibahas mengenai metoda kuliah lapangan yang meliputi
objek kuliah lapangan, peralatan yang digunakan, dan langkah-langkah kuliah
lapangan.

3.1 Objek Penelitian
Objek yang diamati selama kuliah lapangan adalah : tunnel tunnel
pertambangan emas Pongkor, vein dan mineral mineral ubahan yang
berasosiasi dengan emas, serta kegiatan pertambangan emas di daerah
Pongkor.

3.2 Peralatan Yang Digunakan
Peralatan yang digunakan dalam kuliah lapangan ini antara lain :
a. Palu geologi, dipergunakan untuk mengambil sampel batuan.
b. Lup dengan pembesaran 10 kali dan 20 kali.
c. Kantong sampel
d. Buku catatan lapangan dan alat tulis
e. Kamera digital
f. Tas lapangan ( day pack ).
g. Head lamps, wearpack, bot lapangan.
h. Peralatan pribadi
i. Senter

3.3 Langkah Langkah Penelitian
Kuliah lapangan ini bersifat mengamati data geologi melalui pengamatan
singkapan di lapangan. Untuk memperlancar jalannya penelitian, kegiatan
penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu tahap persiapan, tahap
kegiatan lapangan, dan tahap penulisan laporan.
3.3.1 Tahap Persiapan
Tahap ini dikerjakan sebelum berangkat ke lapangan. Tahap persiapan
meliputi peizinan terutama ke PT. Antam, inventarisasi data sekunder, studi awal,

9
penyediaan alat, dan penulisan rencana kerja. Tahap persiapan perlu dilakukan
untuk mempermudah tahap pekerjaan di lapangan.
3.3.2 Tahap Kegiatan Lapangan
Tahap ini dilakukan dengan mengamati lokasi pertambangan berupa
tunnel tunnel pertambangan, kegiatan ini dibimbing oleh dosen dan juga pihak
PT. Antam.
Setiap peserta dapat mencatat, mengambil data, dokumentasi tiap titik
pengamatan, dan melakukan pengambilan sampel, semakin lengkap data yang
diambil maka akan semakin memudahkan dalam pembuatan laporan penelitian.
3.3.3 Tahap Penulisan Laporan
Tahap ini merupakan tahap akhir penelitian yaitu membuat laporan
tertulis tentang setiap kegiatan selama kuliah lapangan dan data-data yang
dicatat dan diamati yang kemudian disajikan dalam bentuk laporan penelitian.
Tahap ini dilakukan setelah pulang dari lapangan.



10
BAB IV
PEMBAHASAN

Kegiatan kuliah lapangan ini dibagi menjadi dua sesi yaitu:
3.1 Sesi Pertama
Waktu : pukul 10.45 12.30 WIB
3.1.1. Kegiatan Pertambangan Emas Pongkor, PT. ANTAM.
A. Sejarah Singkat
1974 Keberadaan Tambang Emas Pongkor dimulai dengan eksplorasi logam dasar
(Pb dan Zn) dibagian utara gunung Pongkor oleh para geologiwan ANTAM
1981 Survey pendahuluan di daerah Pongkor menemukan endapan urat kwarsa
(quartz vein) berkadar 4 GPT Au dan 126 GPT Ag.
1982 Kegiatan difokuskan pada eksplorasi areal tambang Cikotok.
1988 Dilanjutkan kembali dengan lebih sistematis dan lengkap, dibuatkan studi
kelayakan dan terbit Kuasa Pertambangan Eksploitasi yang pertama KP. DU
893/J abar seluas 4.058 Ha diperoleh tahun 1991.
1992 Pembangunan jalan masuk (access road) Parempeng ke Pongkor sepanjang
12,5 Km, kerjasama dengan Pemda Bogor dan Program Karya Bhakti ABRI.
1993 Pembangunan fisik pabrik berkapasitas 2,5 ton emas dan Tailing Dam.
1994 Commisioning pabrik pengolahan emas.
Menjadi salah satu unit produksi Unit Pertambangan Emas Pongkor.
1997 Perluasan tambang Ciurug (Mechanized Mine) dan pembangunan pabrik II
kapasitas produksi menjadi 5 ton pertahun.
1998 Terjadi rusuh massa yang dipicu oleh PETI tanggal 3 Desember dan
mengakibatkan terhentinya produksi selama 10 hari.
1999 Mendapatkan KP (Kuasa Pertambangan exploitasi) KW 98 PPO 138
tanggal 1 Agustus 200 seluas 6.047 Ha.
Menjadi Unit Bisnis Pertambangan Emas sejalan dengan restrukurisasi PT
ANTAM
Memperoleh sertifikat ISO 9001 : 2000.
2000 Memperoleh sertifikat ISO 14001 : 2000
2004 Peluncuran Standar Etika Perusahaan.
2005 Implementasi SMUK (Sistem Manajemen Untuk Kerja).




11
B. Penambangan
Tambang Emas Pongkor adalah Tambang Bawah Tanah (Underground
Mine) dengan metode Cut and Fill. Tahap penambangan dimulai:
Drilling (pengeboran) yang dilakukan dengan alat-alat:
Jack Leg (mesin bor manual)
Jumbo Drill (mesin bor mekanis)
Blasting (peledakan)
Mucking/Loading (pemuatan)
Transporting (pengengkutan)
Backfilling (penimbunan kembali)
Pengisian kembali rongga yang terbentuk karena ditambang dilakukan
dengan menggunakan 50% limbah pabrik (solid tailing) yang telah dipisahkan dari
material halusnya (-10 mikron).
Hasil peledakan berupa pecahan batuan keras (broken ore) ditarik dengan
electric scrapper atau LHD kedalam corongan. Kemudian diangkut keluar tambang
dengan menggunakan lori yang digerakan oleh battery dan trolleylocomotive.

C. Pengolahan Emas
Proses pengolahan bijih emas Pongkor dikelompokan dalam lima tahapan
pengolahan, yaitu:
1. Crushing
Proses pengecilan ukuran bijih emas dari tambang. Dilakukan melalui dua tahap
pemecahan (primary dan secondary crusher), sehingga diperoleh bijih berukuran lebih
kecil dari 12,5 mm.
2. Milling
Bijih emas dari proses crushing, selanjutnya digerus dalam unit Ballmill dengan
kapasitas masing-masing 22,7 dmt/jam dan 32,7 dmt/jam. Produk milling berupa
Lumpur dangan kehalusan 80% lolos 200 mesh (-74 micron).
3. Leaching and CIL
Produk dari Ballmill selanjutnya masuk dalam tangki Leaching. Logam emas dan
perak dilarutkan secara selektif menggunakan larutan sianida dengan konsentrasi 700
900 ppm.
Kapur mati ditambahkan untuk menjaga PH sekitar 10 10,5, sedangkan
penambahan Lead Nitrat dilakukan sebagai katalis pelarut perak. Selanjutnya proses
pelarutan ini dilakukan secara serentak dengan proses absorpsi, dimana emas

12
perak yang terlarut diserap oleh karbon aktif. Proses ini dikenal dengan istilah proses
sianidasi Carbon In Leach (CIL).
4. Gold Recovery Unit
Karbon aktif yang telah bermuatan logam emas perak dengan kadar tertentu
(disebut dengan Loaded Carbon) selanjutnya dipindahkan kedalam kolom elution
(melalui pemompaan dan screening).
Proses selanjutnya adalah proses untuk melepaskan kembali logam emas perak
yang terkait oleh Karbon aktif kembali ke fase larutan. Larutan yang digunakan adalah
larutan caustic cyanide dengan konsentrasi NaOH-NaCN 3% w/w. Proses ini
disebut dengan proses elution.
Larutan kaya (rich solution) hasil dari proses elution selanjutnya dimasukan kedalam
elektrowinning, yaitu proses pengendapan logam emas perak dengan menggunakan
arus searah (elektrolisa). Logam yang menempel pada suatu kawat Katoda (disebut
cake) selanjutnya dipisahkan, dikeringkan, kemudian dilebur untuk menghasilkan
logam dore bullion.
Dore bullion merupakan produk akhir proses pengolahan emas Pongkor, berupa
logam campuran emas 9%, perak 90% dan impurities maksimum 1%. Proses
pemurnian selanjutnya dilakukan di Unit Bisnis Pemurnian Logam Mulia di J akarta.
5. Tailing Treatment
Tailing merupakan limbah lumpur sisa proses sianidasi - CIL. Kandungan sianida
yang masih tinggi didalam tailing diambil kembali melalui air overflow yang dihasilkan
dari Counter Curent Decantation Thickener, kemudian dikembalikan kembali ke dalam
proses milling dan leaching. Lumpur tailing dipompakan ke unit backfill cyclone untuk
mendapatkan fraksi kasar (+10 mikron) yang selanjutnya digunakan sebagai material
pengisi rongga di dalam tambang (backfill). Limbah pabrik yang ,masih mengandung
NaCN 64-225 ppm kemudian diproses pada tangki mixing Cyanide detoxcification
dengan penambahan reagen sodium metabisulfat dan CuSO
4
sebagai katalisator dan
sebagian fraksi halus dipompakan dan ditampung di Tailing Dam dengan konsentrasi
cyanide yang aman dan ramah lingkungan.

3.1.2. Kondisi Geologi Daerah Pertambangan Emas Pongkor dan sekitarnya
Geomorfologi daerah Pongkor (Gn. Pongkor) dan sekitarnya memiliki morfologi
yang terjal yaitu pada ketinggian 500 750 m dpl, yang disusun oleh litologi berupa tufa
lapilli, tufa dan breksi.
Stratigrafi daerah Pongkor dibagi menjadi :
Satuan batuan breksi yang merupakan Fm. Andesit Tua (Miosen Awal)

13
Satuan batuan tufa yang merupakan Fm. Cimapag (Miosen bawah bagian atas)
Satuan batuan andesit berumur Miosen Atas
Satuan batuan breksi tufa berumur Pliosen Pistosen
Aluvial
Pola struktur geologi yang berkembang di daerah Pongkor dan sekitarnya antara
lain sesar-sesar seperti sesar normal Ciguha dan pola-pola kelurusan struktur yang
berarah barat laut tenggara, yang dipengaruhi oleh sistem tegasan yang bersifat
ekstensional.
Mineralisasinya berupa urat kuarsa dengan tekstur umum berupa banded,
colloform, crustiform dan cockade (endapan epithermal). Temperatur homogenitas dari
analisa Fi 103 - 390 C, dengan salinitas 0,78% NaCl. Mineralogi alterasi endapan emas
Pongkor adalah low-sulphidation (adularia sericite epithermal vein deposit)

3.1.3. Geoteknik Sistem Penambangan Emas Pongkor
Sistem penambangan emas Pongkor yang dilakukan oleh PT. ANTAM adalah
system tambang bawah tanah (Underground mine) yang berada pada level 600 M amsl
dan 700 M amsl. Metode penambangan yang dilakukan yaitu Cut and fill, dimana tunnel
yang sudah tidak aktif diekploitasi, diisi oleh tailing penambangan yang sebelumnya
melalui proses tailing treatment.
Sistem penyanggaan tunnel tambang adalah untensioned rock bolts dan steel set
serta strap sebagai penahan kestabilan batuan pada weakpoint dinding dan atap tunnel
sepanjang jalur penambangan. Kemudian untuk menjaga agar tidak terjadi runtuhan
batuan dari atap tunnel yang disebabkan oleh goncangan akibat kegiatan penambangan,
maka dipasang wire mesh pada atap tunnel di daerah-daerah dimana litologinya
dianggap lembek atau kurang kuat.
Pada sebagian jalur penambangan, terdapat lokasi yang posisinya berada di
bawah aliran sungai, maka untuk mencegah aliran air sungai supaya tidak masuk ke area
tunnel penambangan, dibuat konstruksi berupa impermeable barrier pada dinding-dinding
dan atap tunnel tersebut

3.2 Sesi Kedua
Kunjungan ke Tunnel Penambangan
Waktu : pukul 13.30 17.00 WIB
3.2.1 Stasiun 1
Deskripsi Vein
J enis vein : Quartz vein ; merupakan cabang dari vein Ciguha

14
Tebal : 40 60 cm
Strike/dip : N 300
o
E / 60
o
N 330
o
E / 70
o

Tekstur vein : Banded.













Di sekitar vein terdapat mineral-mineral ubahan berupa clay mineral yang
merupakan penciri ubahan zona argilik dan Chlorite yang merupakan penciri zona
propilit. Selain itu terdapat pula oksida-oksida logam seperti mangan oksida dan limonit.
Pada umumnya logam emas yang terdapat pada Quartz vein berukuran mikroskopis.
Mineralisasi yang terjadi di daerah ini adalah tipe epitermal.
Host rock terdapatanya mineralisasi di daerah Pongkor ini adalah tufa andesitik
dan breksi, yang termasuk ke dalam Formasi Cimapag, yaitu batas sebelah timur Bayah
Dome.

3.2.2 Stasiun 2
Deskripsi vein :
J enis vein : vein quartz, merupakan salah satu vein utama dari vein Kubang
Cicau
Tebal : lebarnya sampai dengan 10 m searah strike
Tekstur vein : banded, crustiform dan masif.
Crustiform merupakan tekstur kuarsa yang berlapis-lapis dengan komposisi tiap
lapisan berbeda, selain itu juga ada tekstur colloform yaitu tekstur berlapis yang memiliki
komposisi yang sama, kedua tekstur ini merupakan tekstur yang baik untuk keberadaan
emas atau baik untuk eksplorasi disebut juga prospek.

a b c d e f g h i
1

2
3
4
5
6
7
a b c d e f g h i
1

2
3
4
5
6
7
Foto 1. F3 ; Chlorite (warna hijau),
G2 ; mineral lempung;kaolinite
(warna putih)
Foto 2. D3 ; Quartz vein (warna
putih keabuan) banded collorform

15


Vein ini berada pada ketinggian 500 m
merupakan vein utama yaitu vein Kubang
Cicau, vein yang kaya akan emas biasanya
berasosiasi dengan oksida mangan.

a b c d e f g h i
1
2
3
4
5
6
7
16
BAB V
PENUTUP

Pertambangan emas Gunung Pongkor merupakan salah satu unit bisnis
pertambangan emas nasional yang dikelola oleh PT. ANTAM, dengan luas area
Kuasa Pertambangan 6047 Ha. Mineralisasi emas Gunung Pongkor ini termasuk
ke dalam tipe mineralisasi endapan epitermal yang dicirikan dengan adanya vein-
vein kuarsa yang bertekstur crustiform dan banded serta berbagai jenis mineral
ubahan yang merupakan penciri dari tipe endapan epitermal. Vein-vein yang
menjadi tempat mineralisasi emas di Gunung Pongkor diantaranya adalah: Vein
Ciguha, Vein Kubang Cicau, dan Vein Ciurug
Evolusi tektonik yang mengontrol penyebaran vein-vein tersebut bersifat
ekstensional, yang terjadi pada Kala Mio - Pliosen. Pada umumnya arah jurus vein
yaitu sekitar N 300
o
E/ 60
o
70
o
.
Sistem penambangan emas Pongkor yaitu penambangan bawah tanah
(underground mine) dengan metode cut and fill. Tailing management pada
penambangan emas Pongkor telah memenuhi standar mutu internasional, yaitu
dengan diperolehnya sertifikasi ISO 14001 : 2000 pada tahun 2000.

17
DAFTAR PUSTAKA


2005. Tambang Emas Pongkor (Pongkor Gold Mining). PT. ANTAM Unit Bisnis
Pertambangan Emas. Bogor. Tidak diterbitkan. 8h

Sudrajat M, D. 1982. Geologi Ekonomi. Laboratorium Geologi Ekonomi; J urusan
Pendidikan Geologi; Fak.Teknologi Industri. ITB. Bandung.

Hidayat S., Asep. 2005. Diktat Endapan Mineral. Laboratorium Geologi Lingkungan dan
Pengembangan Wilayah. J urusan Teknik Geologi; Fak. Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. UNPAD. Bandung.

Internet : www.antam.com