Anda di halaman 1dari 86

ANALISIS PENGARUH PEMAHAMAN PARA PELAKU UMKM

TERHADAP KEPATUHAN PELAKSANAAN


PERATURAN PEMERINTAH NO.46 TAHUN 2013
(Survey pada UMKM di pasar 16 Ilir Palembang)

SKRIPSI
Sebagai Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Meraih
Gelar Sarjana Ekonomi


Oleh
Nama : Ridho Tri Andala
NIM : 10.152.095

FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
UNIVERSITAS BINA DARMA
PALEMBANG
2014




LEMBAR PENGESAHAN KOMPREHENSIF

Skripsi Dengan Judul:
ANALISIS PENGARUH PEMAHAMAN PARA PELAKU UMKM
TERHADAP KEPATUHAN PELAKSANAAN
PERATURAN PEMERINTAH NO.46 TAHUN 2013
(Survey Pada UMKM di Pasar 16 Ilir Palembang)

Yang Disusun Oleh:
Nama : Ridho Tri Andala
NIM : 10 152 095
Fakultas : Ekonomi
Program Studi : Akuntansi
Konsentrasi : Akuntansi Keuangan
Disetujui untuk digunakan dalam ujian komprehensif

Palembang, Februari 2014
Fakultas Ekonomi
Universitas Bina Darma

Pembimbing I Ketua Program Studi,




Fitriasuri, S.E., Ak., M.M Ade Kemala Jaya, S.E., Ak., M.Acc.



Pembimbing II




Yeni Widyanti, S.E., M.Ak






LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi Dengan Judul:
ANALISIS PENGARUH PEMAHAMAN PARA PELAKU UMKM
TERHADAP KEPATUHAN PELAKSANAAN
PERATURAN PEMERINTAH NO.46 TAHUN 2013
(Survey Pada UMKM di Pasar 16 Ilir Palembang)

Yang disusun oleh:
Nama : Ridho Tri Andala
NIM : 10 152 095
Fakultas : Ekonomi
Program Studi : Akuntansi
Konsentrasi : Akuntansi Keuangan
Telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi.

Palembang, Maret 2014
Fakultas Ekonomi
Universitas Bina Darma


Pembimbing I Dekan,




Fitriasuri, S.E., Ak., M.M. Dr. Emi Suwarni, S.E., M.Si.


Pembimbing II




Yeni Widyanti, S.E., M.Ak.





LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

Skripsi dengan judul :
ANALISIS PENGARUH PEMAHAMAN PARA PELAKU UMKM
TERHADAP KEPATUHAN PELAKSANAAN
PERATURAN PEMERINTAH NO.46 TAHUN 2013
(Survey Pada UMKM di Pasar 16 Ilir Palembang)

Yang disusun oleh:
Nama : Ridho Tri Andala
NIM : 10 152 095
Fakultas : Ekonomi
Program Studi : Akuntansi
Konsentrasi : Akuntansi Keuangan
Telah dipertahankan di depan komisi penguji pada tanggal 25 Februari 2014 dan
dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima.

SUSUNAN KOMISI PENGUJI :
1. Fitriasuri, S.E., Ak., M.M. (Ketua) (.....................)
2. Yeni Widyanti, S.E., M.Ak. (Sekretaris) (.....................)
3. Andrian Noviardy, S.E., M.Si. (Anggota) (.....................)
3. Siti Nurhayati Nafsiah, S.E., M.Si. (Anggota) (.....................)


Mengetahui,
Ketua Program Studi,


Ade Kemala Jaya, S.E., Ak., M.Acc.






SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Ridho Tri Andala
NIM : 10152095

Dengan ini menyatakan bahwa :

1. Karya tulis saya (tesis, skripsi, tugas akhir) ini adalah asli dan belum pernah
diajukan untuk mendapatkan gelar akademik baik (magister, sarjana, dan ahli
madya) di Universitas Bina Darma;
2. Karya tulis ini adalah murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri
dengan arahan tim pembimbing;
3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah di tulis
atau di publikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dikutip
dengan mencantumkan nama pengarang dan memasukkan ke dalam daftar
pustaka;
4. Karena yakin dengan keaslian karya tulis ini, Saya menyatakan bersedia
tesis/skripsi/tugas akhir, yang saya hasilkan di unggah ke internet;
5. Surat pernyataan ini saya tulis dengan sungguh-sungguh dan apabila terdapat
penyimpangan atau ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia
menerima sanksi dengan aturan yang berlaku di perguruan tinggi ini;

Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.


Palembang, Maret 2014
Yang Membuat Pernyataan,



RIDHO TRI ANDALA
NIM : 10152095






ABSTRAK
Analisis Pengaruh Pemahaman Para Pelaku UMKM
Terhadap Kepatuhan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun
2013
(Survey Pada UMKM Di Pasar 16 Ilir Palembang)


Oleh :
Ridho Tri Andala

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada pengaruh antara pemahaman
akan pajak para pelaku UMKM terhadap kepatuhan pelaksanaan Peraturan
Pemerintah No.46 Tahun 2013 survey pada UMKM di pasar 16 ilir Palembang.
Yang menjadi responden dalam penelitian adalah pelaku UMKM di pasar 16 ilir
lantai dasar Palembang yang memiliki pendapatan kurang dari 4,8 Miliar pertahun
sebagaimana syarat PP No.46 Tahun 2013. Data diperoleh dengan membagikan
kuesioner kepada para pelaku UMKM yang bersedia untuk menjadi responden.
Analisis data kuesioner menggunakan analisis regresi linier sederhana.
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan melalui uji regresi, hasil uji
hipotesis menunjukkan bahwa pemahaman para pelaku UMKM memiliki
pengaruh yang signifikan dan positif terhadap kepatuhan pelaksanaan Peraturan
Pemerintah No.46 Tahun 2013. Dalam artian, bahwa pemahaman para pelaku
UMKM memiliki peran yang penting terhadap kepatuhan pelaksanaan Peraturan
Pemerintah No.46 Tahun 2013. Setiap peningkatan nilai pemahaman para pelaku
UMKM berpengaruh terhadap peningkatan nilai kepatuhan pelaksanaan peraturan
pemerintah No.46 Tahun 2013.
Kata Kunci : UMKM, Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013.


















ABSTRACT

Analysis of The Influence of Understanding by SMEs
to Obedience of Implementation Government Regulation PP No. 46 Tahun
2013
(Survey of SMEs in the traditional market 16 ilir Palembang)

By :
Ridho Tri Andala

This research is aimed examine wheather there is the influence between
understanding of tax by SMEs on obedience of implementation goverment
regulation PP No.46 Tahun 2013 survey of SMEs in the market 16 ilir Palembang.
Who were respondents in this study are SMEs in the market 16 ilir basement
Palembang which have income less than 4,8 billion in a year such as requirement
of PP 46 Tahun 2013. Data was acquired from the primer data by giving the
questionnaires to the SMEs who are willing to be responders. The questionnaires
data analysis was done by using simple linear regression. Based on the result of
data analysis by regression testing, and hypothesis the result of research is show
that the understanding of the SMEs have a Significant and Positive influence on
the obedience of implementation goverment regulation PP No.46 Tahun 2013. It
means, that the understanding of SMEs have an important role to adherence
obedience of implementation goverment regulation PP No.46 Tahun 2013. At any
increase of the understanding the SMEs value affect the increased of the obdience
of implementation goverment regulation PP No.46 Tahun 2013 value.
Key Words: SMEs, PP No.46 Tahun 2013

















MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Mulailah dari yang kecil untuk cita-citamu yang besar

Isy Kariman Au Mut Syahidan

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
(Al-Insyirah ; 5)

Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
(Al-Insyirah ; 7)

Ku Persembahkan:
My Lord Allah SWT
Orangtuaku tercinta
Kedua Saudaraku
Teman-teman seperjuangan
Almamaterku










RIWAYAT HIDUP

Nama : Ridho Tri Andala
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Tempat/ Tanggal lahir : Palembang, 21 Maret 1992
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Alamat Rumah : Jl. May Zen Lr. Cendana No.21 RT.16 RW.05 Kel. Sei
Selayur Kec. Kalidoni, Palembang, Sumatera Selatan.
Nomor Telepon/Hp : 08981043666/081277776880
Alamat Email : ridhoandala@yahoo.com

Pendidikan Formal :
Sekolah Dasar (1998-2004) : SD Negeri 68 Palembang.
SMP (2004-2007) : SMP Yayasan Sosial Pendidikan Pusri
(YSPP) Palembang.
SMA (2007-2010) : SMA Negeri 5 Palembang.
Perguruan Tinggi (2010-2014) : S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Bina Darma Palembang.

Pendidikan Non Formal :
- Budiwijaya English Course Palembang (2007-2010).
- ESQ Basic Training di Universitas Bina Darma angkatan 2010.
- Seminar Redominasi Rupiah di Universitas Bina Darma (2010).
- Workshop Microsoft Excel di BDCTC Universitas Bina Darma (2011).
- Pelatihan Dasar Akuntansi Tingkat Dasar, LP3I Course Palembang (2011).
- Pelatihan Dasar Akuntansi Tingkat Madya, LP3I Course Palembang (2012).
- Seminar SAK ETAP dan IFRS di UBD Palembang (2011).
- Seminar sosialisasi dan edukasi pasar modal dan industri asuransi di
Indonesia, BAPEPAM-LK (2011).
- Seminar Investasi Reksa Dana, APRDI di Hotel Horison Palembang (2011).
- Seminar pengelolaan keuangan negara, Balai diklat Keuangan Palembang
(2011).
- Seminar Keuangan Islam Dinar&Dirham, PAKIES IAIN Raden Fatah (2012).
- Kunjungan industri PT.Indofood Sukses Makmur Tbk (2012).
- Pelatihan Pajak Terapan Brevet A & B Terpadu di BDCTC (2013).
- Pelatihan wirausaha muda mandiri jarak jauh dari Kementrian Koperasi dan
UKM (2013).




- Seminar sosialisasi PP No.46 Tahun 2013 dan identifikasi faktor penyebab
wajib pajak belum gemar membayar dan melaporkan pajak, di STIE MUSI
(2013).
- Pendidikan konsultan pajak brevet A & B terpadu, Bina Darma Career and
Training Center (BDCTC) angkatan II (2013)
Penghargaan:
- Semifinalis Kategori 9 Besar Lomba Cepat Tepat Akuntansi (LCTA) IAI di
Politeknik Srwijaya (2012).
- Peserta Musi Accounting External Competition (MAXION) di STIE MUSI
Palembang (2013).
- Peserta Lomba Cepat Tepat Akuntansi (LCTA) IAI di STIE MUSI
Palembang (2013).

























KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan skripsi yang berjudul
ANALISIS PENGARUH PEMAHAMAN PARA PELAKU UMKM
TERHADAP KEPATUHAN PELAKSANAAN PERATURAN
PEMERINTAH NO.46 TAHUN 2013 (Survey Pada UMKM di Pasar 16 Ilir
Palembang), dapat diselesaikan sebagai prasyarat untuk meraih gelar Sarjana
Ekonomi pada jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Bina Darma
Palembang.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-
pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan dan bimbingan dalam penulisan
skripsi ini. Ucapan terima kasih tersebut penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Prof. Ir. H. Bochari Rachman, M.Sc. selaku Rektor Universitas Bina
Darma Palembang.
2. Ibu Dr. Emi Suwarni, S.E., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Bina Darma Palembang.
3. Bapak Ade Kemala Jaya, SE., Ak., M.Acc. Selaku Ketua Program Studi
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Bina Darma Palembang.
4. Ibu Fitriasuri, S.E., Ak., M.M., selaku Dosen Pembimbing 1 skripsi di
Universitas Bina Darma Palembang.




5. Ibu Yeni Widyanti, S.E., M.Ak., selaku Dosen Pembimbing 2 skripsi di
Universitas Bina Darma Palembang.
6. Bapak H. Achmad Bastari, S.E., M.M selaku Dir.Adm & Keuangan PD.Pasar
Palembang Jaya yang telah memberikan kesempatan untuk mengambil data
penelitian.
7. Keluargaku, kedua orang tuaku, dan kedua kakak ku tercinta yang terus
mendukung, membimbing, dan mendoakan.
8. Sahabat-sahabatku yang masih berdiri saat ini disampingku.
8. Teman-Teman Seperjuangan Universitas Bina Darma.
Penulis menyadari bahwa sepenuhnya dalam penyusunan Skripsi ini masih
terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan, maka kritik dan saran yang bersifat
membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan oleh penulis.
Sebagai penutup, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat
dan Karunia serta Hidayah-Nya kepada orang-orang yang yang telah membantu
penulis dalam penyusunan Skripsi ini, semoga kita tergolong orang-orang yang
beruntung dan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi yang
membacanya, Amien.




Palembang, Maret 2014
Penulis

Ridho Tri Andala




DAFTAR ISI


Halaman
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN KOMPREHENSIF ......................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ....................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI .......................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................ v
ABSTRAK INDONESIA ............................................................................... vi
ABSTRAK INGGRIS .................................................................................... vii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN .......................................... viii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...................................................................... ix
KATA PENGANTAR .................................................................................... xi
DAFTAR ISI ................................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xviii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xix

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah ..................................................................... 4
1.3 Ruang Lingkup Permasalahan ..................................................... 4
1.4 Tujuan dan Manfaat penelitian .................................................... 4
1.4.1 Tujuan Penelitian ............................................................. 4
1.4.2 Manfaat Penelitian ........................................................... 5
1.4.3 Sistematika Penulisan ...................................................... 5
BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Landasan Teori............................................................................. 7
2.1.1 Pengertian Pajak .............................................................. 7
2.1.2 Fungsi Pajak .................................................................... 9




2.1.3 Jenis-jenis Pajak .............................................................. 9
2.1.4 Sistem Pemungutan Pajak ............................................... 11
2.1.5 Teori-Teori Pemahaman Pajak ........................................ 11
2.1.6 Teori Kepatuhan Pajak .................................................... 13
2.1.7 PP No.46 Tahun 2013...................................................... 14
2.2 Penelitian Terdahulu .................................................................... 18
2.3 Kerangka Pemikiran..................................................................... 19
2.4 Paradigma Penelitian ................................................................... 22
2.5 Hipotesis ...................................................................................... 23
BAB III OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian ........................................................................... 24
3.2 Metodologi Penelitian .................................................................. 24
3.2.1 Operasional Variabel ....................................................... 24
3.2.2 Jenis dan Sumber Data .................................................... 26
3.2.3 Teknik Pengumpulan data ............................................... 26
3.2.4 Populasi dan Sample........................................................ 27
3.2.5 Instrumen Penelitian dan Pengujian ................................ 28
3.2.6 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas .................................... 31
3.2.7 Teknik Analisis Data ....................................................... 32
3.2.8 Uji Hipotesis .................................................................... 33
3.2.8.1 Uji t ................................................................... 33
3.2.8.2 Analisis Korelasi Sederhana ............................. 34
3.2.9 Uji Asumsi Klasik ........................................................... 35
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis ........................................................................................ 37
4.1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ................................. 37
4.1.2 Rincian Pengembalian Kuesioner .................................... 41
4.1.3 Deskripsi Responden ....................................................... 41
4.2 Analisis Pendahuluan ................................................................... 42
4.3 Teknik Analisis Data.................................................................... 44
4.3.1 Uji Heteroskedastisitas .................................................... 44




4.3.2 Uji Autokorelasi .............................................................. 45
4.3.3 Uji Normalitas ................................................................. 46
4.4 Deskripsi Hasil Penelitian ............................................................ 47
4.5 Analisis Regresi Linear Sederhana .............................................. 56
4.5.1 Uji t .................................................................................. 57
4.5.2 Analisis Korelasi Sederhana ............................................ 58
4.6 Pembahasan.................................................................................. 58
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ...................................................................................... 63
5.2 Saran ............................................................................................ 64
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN






















Daftar Tabel
Halaman
2.1 Tabel Penelitian Terdahulu ........................................................................ 18
3.1 Operasional Variabel .................................................................................. 25
3.2 Klasifikasi Interval Untuk Penilaian Pemahaman PP 46 Tahun 2013 ....... 30
3.3 Klasifikasi Interval Untuk Penilaian Kepatuhan Pelaksanaan PP 46
Tahun 2013 ................................................................................................ 30
3.4 Interpretasi Koefisien Korelasi .................................................................. 35
4.1 Rincian Kuesioner ...................................................................................... 41
4.2 Gambaran Umum Responden .................................................................... 41
4.3 Hasil Pengujian Validitas ........................................................................... 43
4.4 Hasil Pengujian Reliabilitas ....................................................................... 44
4.5 Hasil Uji Heterokedastisitas ....................................................................... 45
4.6 Hasil Uji Autokorelasi ............................................................................... 46
4.7 Hasil Uji Normalitas .................................................................................. 47
4.8 Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM
(X) Indikator Pengetahuan Mengenai NPWP (Klasifikasi Interval).......... 48
4.9 Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM
(X) Indikator Pemahaman mengenai Hak dan Kewajiban Pajak
(Klasifikasi Interval) .................................................................................. 49
4.10 Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM
(X) Indikator Pengetahuan dan Pemahaman Mengenai Sanksi
Perpajakan (Klasifikasi Interval).............................................................. 50
4.11 Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM
(X) Indikator Pengetahuan dan Pemahaman Mengenai Batas Maksimal
dan Tarif PP 46 Tahun 2013 (Klasifikasi Interval) .................................. 51
4.12 Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM
(X) Indikator Pemahaman Mengenai Prosedur Perpajakan
(Klasifikasi Interval) ................................................................................ 52
4.13 Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM (X)
Indikator Pemahaman Melalui Sosialisasi Pajak (Klasifikasi Interval) ... 53




4.14 Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Kepatuhan Pelaksanaan
PP 46 Tahun 2013 (Y) Indikator Tepat Dalam Penyampaian SPT
(Surat Pemberitahuan) (Klasifikasi Interval) ........................................... 54
4.15 Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Kepatuhan Pelaksanaan
PP 46 Tahun 2013 (Y) Indikator Tidak Mempunyai Tunggakan Untuk
Semua Jenis Pajak (Klasifikasi Interval) ................................................. 55
4.16 Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana ................................................. 56
4.17 Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana (Uji t) ...................................... 57
4.18 Hasil Analisis Korelasi Sederhana ........................................................... 58


























Daftar Gambar
Halaman
2.1 Gambar Paradigma Penelitian .................................................................... 22
4.1 Hasil Uji Normalitas .................................................................................. 47































DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Balasan PD. Pasar Palembang Jaya
Lampiran 2 Tabulasi Uji Validitas
Lampiran 3 Output Validitas dan reliabilitas
Lampiran 4 Rekapitulasi Hasil Kuesioner
Lampiran 5 Deskriptif Variabel X
Lampiran 6 Deskriptif Variabel Y
Lampiran 7 Uji Asumsi Klasik dan Uji Regresi
Lampiran 8 Formulir Pengajuan Judul
Lampiran 9 Lembar Konsultasi Pembimbing I dan II
Lampiran 10 Surat Keterangan Lulus Ujian Proposal
Lampiran 11 Surat Keterangan Lulus Ujian Skripsi
Lampiran 12 Lembar Perbaikan Proposal
Lampiran 13 Lembar Perbaikan Komprehensif
Lampiran 14 SK Pembimbing
Lampiran 15 Daftar Hadir Seminar Proposal
Lampiran 16 Formulir Bebas Pustaka









BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Untuk menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan, sebuah negara
membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana APBN yang didapatkan dihimpun
dari semua potensi sumber daya yang dimiliki negara tersebut, baik itu berupa
hasil kekayaan bumi maupun berupa iuran dari masyarakat. Salah satu bentuk
iuran yang diberikan masyarakat kepada negara adalah pajak. Sebagai salah satu
unsur penerimaan negara, pajak memiliki peran yang sangat besar dan semakin
diandalkan untuk kepentingan pembangunan dan pengeluaran pemerintahan
(Supadmi, 2009).
Pajak memiliki peran yang penting dalam pembangunan indonesia karena
pajak menyumbang kontribusi terbesar bagi pemasukan negara. Untuk tahun 2012
saja, sektor pajak menyumbang sedikitnya sekitar 980,1 T dari jumlah total
realisasi APBN-P 2012 sebesar 1331,7 T atau sekitar 73,59 % APBN-P 2012
(www.pajak.go.id). Karena kontribusi yang besar itulah dibutuhkan kesadaran
warga negara sebagai wajib pajak untuk membayar pajak kepada negara.
Salah satu sumber pajak yang terbesar adalah pajak penghasilan. Pajak
penghasilan yang masuk ke kas negara perbulan agustus 2013 saja sejumlah
34.908,89 M dari total penerimaan 72.348,70 M atau sekitar 48,25%
(www.pajak.go.id), jelas bahwa pajak penghasilan merupakan sektor penting bagi
pemasukan APBN dari pajak. Potensi pajak dari sektor UMKM dinilai sangat
besar. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM, 60% dari PDB




Indonesia dihasilkan oleh sektor UMKM. Hal tersebut berbanding terbalik dengan
sumbangsihnya terhadap penerimaan pajak, yaitu hanya 5% saja
(www.dannydarussalam.com).
Selama ini, pelaku UMKM digolongkan termasuk dalam PPh orang
pribadi, hal ini berdasarkan UU 36 tahun 2008. Namun sejak tanggal 26 juni 2013
Peraturan Pemerintah nomor 46 tahun 2013 sudah dikeluarkan dan mulai berlaku
sejak tertanggal 1 juli 2013 tentang pajak penghasilan atas penghasilan dari usaha
yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.
Peraturan perpajakan yang dikeluarkan pemerintah dalam PP 46 tahun 2013 ini
ditujukan bagi pelaku UMKM yang selama ini luput dari pajak serta menfasilitasi
UMKM dalam membayar pajak sebagai kewajiban mereka selaku warga negara.
PP 46 tahun 2013 ini, mengatur pajak penghasilan bagi usaha dengan peredaran
bruto tertentu yang tidak melebihi 4,8 M dalam satu tahun pajak.
Menurut Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota
Palembang Ibnu Rohim, banyaknya sektor UMKM yang tumbuh 5-10% perbulan
membuat sektor UMKM tersebut sebagai sumber pajak yang potensial. Namun
dari sekian pesatnya pertumbuhan UMKM yang ada di kota palembang dari
sekitar 30.000 UMKM yang ada, hanya sekitar baru 60 % yang tercatat resmi
sebagai wajib pajak, atau memiliki NPWP (www.koran-sindo.com). Hal ini
menunjukkan bahwa masih rendahnya kepatuhan pelaku UMKM dalam
membayar pajak. Padahal, untuk mengembangkan usahanya, UMKM
membutuhkan pinjaman kredit modal dari bank dan bank mewajibkan setiap
nasabah yang ingin meminjam uang untuk memiliki KTP dan NPWP. Dengan




membayar pajak penghasilan ini, secara otomatis para pelaku UMKM ini sudah
memiliki NPWP dan mempermudah mereka untuk mendapatkan pinjaman modal.
PP 46 tahun 2013 termasuk PPh nonfinal yang diangsur dengan angsuran masa
paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya. Tarif yang dikenakan adalah 1% dari
total peredaran bruto usaha. PP 46 tahun 2013 timbul seiring dengan gencarnya
program pemerintah untuk menyentuh sektor-sektor yang luput dari perpajakan
untuk meningkatkan pendapatan negara.
Pasar 16 ilir merupakan salah satu sentra ekonomi terbesar di palembang.
Di pasar 16 ilir sedikitnya terdapat 870 kios. Untuk lantai dasar dihuni lebih dari
320-an pedagang. Dilantai satu dan dua berkisar 300 sampai kios pedagang.
Sementara dilantai tiga 50-an kios pedagang dari 300-an kios yang ada. Dan
dilantai 4-5 dari 600 kios yang ada, baru terisi 200 pedagang. Banyaknya
perputaran uang yang terjadi di tempat ini, sehingga menjadikannya sebagai
penopang perekonomian palembang.
Pasar 16 ilir memegang peranan penting atas kegiatan ekonomi terutama
terhadap sektor UMKM yang tengah tumbuh. Dengan banyaknya UMKM yang
terdapat di pasar 16 ilir, maka layaklah menurut penulis dikenakan pajak
penghasilan PP 46 tahun 2013. Pemahaman dan kepatuhan para pelaku UMKM
sangat dibutuhkan untuk menyukseskan peraturan pemerintah ini. Dengan status
sebagai pasar terbesar di palembang, maka setidaknya pasar 16 ilir telah
merepresentasikan secara umum keadaan perekonomian yang sebenarnya terjadi.
Maka penelitian yang dilakukan dapat mendapatkan hasil yang lebih
komprehensif dan relevan.




Berdasarkan uraian-uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengambil
judul Analisis Pengaruh Pemahaman Para Pelaku UMKM Terhadap
Kepatuhan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No.46 Tahun 2013 (Survey
Pada UMKM di Pasar 16 Ilir Palembang).
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka perumusan masalah
dalam penelitian ini adalah Apakah ada Pengaruh Pemahaman Para Pelaku
UMKM Terhadap Kepatuhan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No.46 Tahun
2013 (Survey Pada UMKM di Pasar 16 Ilir Palembang) ?
1.3 Ruang Lingkup Permasalahan
Untuk menghindari terlalu luasnya ruang lingkup pembahasan serta
tercapainya suatu hasil pembahasan yang lebih rinci dan terarah maka ruang
lingkup pembahasan yang penulis lakukan yaitu mengenai Bagaimana Pengaruh
Pemahaman Para Pelaku UMKM Terhadap Kepatuhan Pelaksanaan Peraturan
Pemerintah No.46 Tahun 2013 (Survey Pada UMKM di Pasar 16 Ilir Palembang)
di lantai dasar.
1.4 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1.4.1 Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
Bagaimana Pengaruh Pemahaman Para Pelaku UMKM Terhadap Kepatuhan
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No.46 Tahun 2013 (Survey Pada Pasar 16 ilir
Palembang).
1.4.2 Manfaat Penelitian




Manfaat yang dihasilkan penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Praktis
Sebagai masukan bagi para pelaku UMKM, dan Direktorat Jendral Pajak
untuk bahan informasi dalam mengetahui Pengaruh Pemahaman Para Pelaku
UMKM Terhadap kepatuhan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No.46 Tahun
2013 (Survey Pada UMKM di Pasar 16 Ilir Palembang).
2. Teoritis
Sumbangan dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang ekonomi,
khususnya akuntansi dan merupakan informasi bagi penelitian selanjutnya.
1.4.3 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan laporan ini, penulis menyajikan laporan dalam 5 bab
yang terdiri dari :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini secara garis besar mengenai latar belakang, perumusan
masalah, ruang lingkup permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian
dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
Bab ini memuat teori-teori yang digunakan penulis dalam
menganalisis tingkat pengaruh pemahaman pelaku UMKM terhadap
kepatuhan pelaksanaan PP 46 Tahun 2013 yaitu pengertian pajak,
fungsi pajak, jenis-jenis pajak, sistem pemungutan pajak, teori-teori
pemahaman, penjelasan PP 46 tahun 2013, penelitian sebelumnya,
kerangka penelitian dan paradigma penelitian.




BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini akan dijelaskan mengenai objek penelitian, operasional
variabel, sumber dan teknik analisis data.
BAB IV ANALISIS PEMBAHASAN
Bab ini menyajikan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan
tentang Pengaruh Pemahaman Para Pelaku UMKM Terhadap
Kepatuhan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah 46 Tahun 2013 (Survey
Pada UMKM di Pasar 16 Ilir Palembang).
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan bab penutup, pada bab ini diuraikan kesimpulan
dan saran yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan.
















BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Pajak
Banyak sekali para ahli dibidang perpajakan yang memberikan definisi
yang berbeda mengenai pajak. Namun demikian, berbagai definisi tersebut pada
dasarnya memiliki tujuan dan inti yang sama yaitu merumuskan pengertian pajak
sehingga mudah dipahami. Menurut beberapa ahli, pengertian pajak adalah
sebagai berikut :
1. Pengertian menurut Soemitro dalam Mardiasmo (2006:1) pajak adalah iuran
rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung
dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
2. Menurut Soemitro dalam Sukrisno dan Estralita (2012:4), pajak adalah iuran
rakyat kepada Kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal-balik (kontraprestasi) yang
langsung dapat ditunjukkan, digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
3. Menurut Andriani dalam Sukrisno dan Estralita (2012:4), pajak adalah iuran
kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib
membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi
kembali, langsung dapat ditunjuk, dan berguna untuk membiayai berbagai




pengeluaran umum terkait dengan tugas negara untuk menyelenggarakan
pemerintahan.
4. Dan menurut Smeets dalam Sukrisno dan Estralita (2012:4), pajak adalah
prestasi kepada pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum, dapat
dipaksakan, tanpa adanya kontraprestasi yang dapat ditunjukkan secara
individual maksudnya adalah untuk membiayai pengeluaran pemerintah.
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Perubahan Ketiga
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (UU KUP), pajak adalah suatu kontribusi wajib kepada negara yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dari pengertian-pengertian yang telah disebutkan diatas, dapat
disimpulkan bahwa ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak, adalah :
1. Pembayaran pajak harus berdasarkan undang-undang.
2. Pajak dipungut oleh negara, baik pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah.
3. Pajak bersifat dapat dipaksakan.
4. Tidak ada kontraprestasi (imbalan) yang langsung dapat dirasakan oleh
pembayar pajak.
5. Pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah.
Dengan demikian, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa definisi pajak
adalah suatu iuran dari rakyat kepada negara, yang berdasarkan undang-undang,




yang sifatnya memaksa, dan dipungut oleh negara tanpa adanya kontraprestasi
(timbal balik) langsung yang dapat ditunjukkan, dan digunakan untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran pemerintah dalam menjalankan negara.
2.1.2 Fungsi Pajak
Pengertian pajak merupakan iuran rakyat yang berfungsi untuk membiayai
semua pengeluaran-pengeluaran negara untuk kepentingan umum. Seperti yang
telah diketahui dari ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak dari berbagai
definisi maka pajak memiliki fungsi tertentu. Menurut Suandy (2011:12), fungsi
pajak dapat dibedakan menjadi 2 fungsi, yaitu:
1. Fungsi Penerimaan (Budgetair).
Yaitu memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke kas negara, dengan tujuan
untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara. Contoh, dimasukkannya
pajak dalam APBN sebagai penerimaan dalam negeri.
2. Fungsi Mengatur (Regulerend).
Yaitu pajak digunakan sebagai alat untuk mengatur masyarakat baik di bidang
ekonomi, sosial, maupun\ politik dengan tujuan tertentu. Contohnya yaitu
pemberian insentif pajak (misalnya tax holiday, penyusutan dipercepat) dalam
rangka menigkatkan investasi baik investasi dalam negeri maupun investasi
asing.
2.1.3 Jenis Jenis Pajak
Masalah perpajakan tidaklah sesederhana hanya sekedar menyerahkan
sebagian penghasilan atau kekayaan kepada negara. Tetapi, coraknya bermacam-




macam tergantung pada pendekatannya. Menurut Sukrisno dan Estralita (2012:5),
jenis-jenis pajak dapat digolongkan menjadi 3 macam, yaitu:
1. Berdasarkan golongannya, pajak dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Pajak Langsung, adalah pajak yang harus ditanggung sendiri oleh Wajib
Pajak (WP) dan pembebanannya tidak dapat dilimpahkan kepada pihak
lain, contohnya: Pajak Penghasilan (PPh).
b. Pajak Tidak Langsung, adalah pajak yang pembebanannya dapat
dilimpahkan kepada pihak lain, contohnya: Pajak Pertambahan Nilai untuk
Barang dan Jasa serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
2. Berdasarkan Sifatnya, pajak dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a. Pajak Subyektif, adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan keadaan
pribadi WP, contohnya, PPh.
b. Pajak Objektif, adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan pada
objeknya, baik berupa benda, keadaan, perbuatan, atau peristiwa yang
mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar pajak, tanpa
memperhatikan keadaan pribadi WP, contohnya adalah Pajak Pertambahan
Nilai untuk Barang dan Jasa, Pajak Penjualan atas Barang Mewah dan
Pajak Bumi dan Bangunan.
3. Berdasarkan lembaga pemungutnya, pajak dikelompokkan menjadi dua:
a. Pajak Pusat (Negara), adalah pajak yang dipungut oleh pemerintahpusat dan
digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, contohnya adalah PPh,
Pajak Pertambahan untuk Barang dan Jasa, Pajak Penjualan atas Barang
Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Materai.




b. Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan
digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah, contohnya adalah Pajak
Kendaran Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Bea Balik
Nama Tanah, Pajak Reklame, serta Pajak Hotel dan Restoran.
2.1.4 Sistem Pemungutan Pajak
Menurut Erly Suandy (2011:128), sistem pemungutan pajak dapat dibagi
menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Official Assessment System, adalah sistem pemungutan pajak yang dimana
jumlah pajak yang harus dilunasi atau terutang oleh Wajib Pajak dihitung dan
ditetapkan oleh fiskus/aparat pajak. Jadi, dalam sistem ini Wajib Pajak bersifat
pasif sedang fiskus bersifat aktif.
b. Self Assessment System, adalah sistem pemungutan pajak yang dimana Wajib
Pajak harus menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan
jumlah pajak yang terutang.Aparat pajak (fiskus) hanya bertugas melakukan
penyuluhan dan pengawasan untuk mengetahui kepatuhan Wajib Pajak.
c. Withholding System, adalah sistem pemungutan pajak yang mana besarnya
pajak terutang dihitung dan dipotong oleh pihak ketiga. Pihak ketiga yang
dimaksud di sini antara lain pemberi kerja dan bendaharawan pemerintah.
2.1.5 Teori-teori pemahaman Pajak
Menurut Fikriningrum (2012) pemahaman merupakan kemampuan untuk
menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Pengetahuan dan
pemahaman peraturan perpajakan merupakan penalaran dan penangkapan makna
tentang peraturan perpajakan.




Sebuah kepatuhan pajak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Rajif
(2011) variabel pemahaman, kualitas pelayanan, dan ketegasan sanksi perpajakan
berpengaruh positif signifikan terhadap kepatuhan pajak. Menurut Widayati dan
Nurlis (2010) dalam penelitian Fikriningrum (2012) untuk mengetahui
pengetahuan dan pemahaman wajib pajak terhadap peraturan perpajakan, dapat
dilihat dari beberapa hal, yaitu:
1. Kepemilikan NPWP.
2. Pengetahuan dan pemahaman mengenai hak dan kewajiban sebagai wajib
pajak.
3. Pengetahuan dan pemahaman mengenai sanksi perpajakan.
4. Pengetahuan dan pemahaman mengenai Penghasilan Tidak Kena Pajak
(PTKP), Penghasilan Kena Pajak (PKP), dan tarif pajak.
5. Adalah wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan perpajakan melalui
sosialisasi yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP).
6. Wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan pajak melalui training
perpajakan yang mereka ikuti.
Menurut Hardiningsih (2011), pemahaman wajib pajak terhadap peraturan
perpajakan adalah cara wajib pajak dalam memahami peraturan perpajakan yang
telah ada. Wajib pajak yang tidak paham akan peraturan perpajakan maka
cenderung menjadi wajib pajak yang tidak taat. Indikator pemahaman akan
peraturan perpajakan antara lain :
1. Pemahaman wajib pajak yang mau membayar pajak harus mempunyai NPWP.
2. Pemahaman akan hak dan kewajiban wajib pajak.




3. Pemahaman akan sanksi perpajakan jika mereka lalai akan kewajibannya.
4. Pemahaman wajib pajak akan PTKP, PKP, dan tarif pajak.
5. Pemahaman akan SSP, Faktur Pajak, Surat Pemberitahuan harus dicantumkan
NPWP.
6. Paham akan pemberian kode dalam NPWP yang terdiri dari 15 (lima belas)
digit.
7. Pemahaman akan peraturan perpajakan melalui sosialisasi yang dilakukan
KPP.
Menurut Perdhana, dkk (2012) pemahaman akan kewajiban perpajakan
dibagi atas 3 indikator pemahaman, yaitu :
1. Pemahaman mengenai pengetahuan umum mengenai pajak penghasilan.
2. Pemahaman prosedur pelaksanaan kewajiban pajak.
3. Pemahaman prosedur pelaksanaan pembayaran pajak penghasilan.
2.1.6 Teori kepatuhan pajak
Kepatuhan pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013 sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Termasuk didalamnya adalah faktor pemahaman berdasarkan
penelitian terdahulu Wijaya (2011). Kepatuhan diukur melalui kategori yang telah
ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan
Nomor.74/PMK.03/2012.
Kepatuhan wajib pajak menurut Peraturan Menteri Keuangan
Nomor.74/PMK.03/2012 yang disebut wajib pajak patuh adalah wajib pajak yang
memenuhi kategori sebagai berikut :
1. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan




2. Tidak mempunyai tunggakan untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak
yang telah memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak.
3. Laporan keuangan diaudit oleh akuntan publik atau lembaga pengawasan
keuangan pemerintah dengan pendapat wajar tanpa pengecualian selama
3(tiga) kali berturut-turut; dan
4. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
dalam jangka waktu 5(lima) tahun terakhir.
Di dalam penelitian ini, maka kategori yang dipakai sebagai wajib pajak yang
patuh untuk para pelaku UMKM adalah tepat waktu dalam menyampaikan Surat
Pemberitahuan, dan tidak mempunyai tunggakan semua jenis pajak. Hal ini
dilakukan untuk menyesuaikan dengan kondisi usaha para pelaku UMKM itu
sendiri yang tidak memungkinkan untuk menggunakan kategori poin 3 dan 4.
2.1.7 PP No.46 Tahun 2013
a. Maksud dan Tujuan PP 46 Tahun 2013
Maksud dari dikeluarkannya Peraturan Perpajakan melalui PP 46 Tahun
2013 ini adalah :
1. Memberikan kemudahan dan penyederhanaan aturan perpajakan.
2. Mengedukasi masyarakat untuk tertib beradministrasi.
3. Mengedukasi masyarakat untuk transparansi.
4. Memberikan kesempatan masyarakat untuk berkontribusi dalam
penyelenggaraan negara.
Sedangkan tujuan dari PP 46 Tahun 2013 ini adalah :




1. Kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.
2. Meningkatnya pengetahuan tentang manfaat perpajakan bagi masyarakat.
3. Terciptanya kondisi kontrol sosial dalam memenuhi kewajiban perpajakan.
Dari maksud dan tujuan tersebut, hasil yang diharapkan dalam
pemberlakuan PP 46 Tahun 2013 ini adalah penerimaan pajak meningkat sehinga
kesempatan untuk mensejahterakan masyarakat meningkat.
b. Dasar Hukum
Dasar hukum dari dikeluarkannya PP 46 Tahun 2013 ini adalah ada 2
landasan hukum, yaitu :
1. Pasal 5 ayat (2) huruf e UU PPh :
Dengan menggunakan Peraturan Pemerintah (PP) dapat ditetapkan cara
menghitung Pajak Penghasilan yang lebih sederhana dibandingkan dengan
menggunakan UU PPH secara umum.
Penyederhanaannya yakni WP hanya menghitung dan membayar pajak
berdasarkan peredaran bruto (omset).
2. Pasal 17 ayat (7) UU PPh :
Pada intinya penerbitan PP 46 Tahun 2013 ditujukan terutama untuk
kesederhanaan dan pemerataan dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.
c. Pokok-Pokok Ketentuan PP 46 Tahun 2013
Yang dikenai sebagai objek pajak berdasarkan PP 46 tahun 2013 ini
adalah :




1. Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak dengan
peredaran bruto (omset) yang tidak melebihi Rp. 4,8 Miliar dalam 1 tahun
pajak.
2. Peredaran bruto (omset) merupakan jumlah peredaran bruto (omset) semua
gerai/counter/outlet atau sejenisnya baik pusat maupun cabangnya.
3. Tarif pajak yang terutang dan harus dibayar adalah 1% dari jumlah peredaran
bruto (omset).
4. Usaha dapat meliputi usaha dagang dan jasa, seperti toko/kios/los kelontong,
pakaian, elektronik, bengkel, penjahit, warung/rumah makan, salon, dan usaha
lainnya.
Hal-hal yang dikecualikan, atau tidak dikenai pajak penghasilan atau non objek
pajak berdasarkan PP 46 Tahun 2013 adalah :
1. Penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, seperti misalnya
dokter, advokat/pengacara, akuntan, notaris, PPAT, arsitek, pemain musik,
pembawa acara, dan sebagaimana dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) PP 46
Tahun 2013.
2. Penghasilan dari usaha dagang dan jasa yang dikenai PPh Final (Pasal 4 ayat
(2)), seperti misalnya sewa kamar kos, sewa rumah, jasa konstruksi
(perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan), PPh usaha migas, dan lain
sebagainya yang diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah.
Subjek pajak PP 46 Tahun 2013 ini adalah :
1. Orang pribadi
2. Badan, tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT).




Yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto (omset)
yang tidak melebihi Rp. 4,8 Miliar dalam 1 (satu) tahun pajak. Tahun pajak disini
adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender, kecuali wajib pajak menggunakan
tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
Non subjek pajak, atau yang tidak dikenai pajak berdasarkan PP 46 Tahun
2013 ini adalah :
1. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang
menggunakan sarana yang dapat dibongkar pasang dan menggunakan
sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum. Misalnya pedagang
keliling, pedagang asongan, warung tenda di area kaki-lima, dan sejenisnya.
2. Badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka waktu
1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran
bruto melebihi Rp. 4,8 Miliar.
3. Orang Pribadi atau Badan yang dimaksud diatas meskipun tidak dikenai PP 46
Tahun 2013, wajib melaksanakan ketentuan perpajakan sesuai dengan UU
KUP maupun UU PPh secara umum.
Masa penyetoran dan pelaporan pajak PP 46 Tahun 2013 adalah :
1. Penyetoran paling lama tanggal 15 bulan berikutnya.
2. SSP berfungsi sekaligus sebagai SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2). Jika SSP
sudah validasi NTPN tidak perlu lapor SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2).
3. Penghasilan yang dibayar berdasarkan PP 46 Tahun 2013 dilaporkan dalam
SPT Tahunan PPh pada kelompok penghasilan yang dikenai pajak final
dan/atau bersifat final.




2.2 Penelitian Terdahulu
No. Nama Peneliti Judul Simpulan
1. Sri Rustyaningsih (2011)
Universitas Katolik Widya
Mandala Madiun
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kepatuhan
Wajib Pajak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib
pajak antara lain : Pemahaman terhadap self assesment
system, kualitas pelayanan, tingkat pendidikan, tingkat
penghasilan, persepsi wajib pajak terhadap sanksi
perpajakan.
2. Pancawati Hardiningsih, Nila
Yulianawati (2011) Universitas
STIKUBANK, Semarang.
Faktor-faktor yang
mempengarui kemauan
membayar pajak
Kesadaran membayar pajak berpengaruh positif
terhadap kemauan membayar pajak.
3. Mohamad Rajif (2011)
Universitas Gunadarma, Depok.
Pengaruh Pemahaman,
Kualitas Pelayanan, dan
Ketegasan Sanksi Perpajakan
Terhadap Kepatuhan Pajak
Pengusaha UKM di Daerah
Cirebon
Sebagian besar pengusaha UKM di daerah cirebon
sudah Memiliki NPWP, para pengusaha di daerah
cirebon sudah memiliki cukup pemahaman tentang
pajak, variabel pemahaman, ketegasan sanksi
perpajakan, dan kualitas pelayanan berpengaruh
signifikan terhadap kepatuhan pajak.
4. Putra Rezki Perdhana, dkk
(2012) Universitas Putra
Indonesia YPTK Padang.
Analisis Pemahaman
Kewajiban Perpajakan Wajib
Pajak Orang Pribadi di Kota
Padang (studi kasus pada KPP
Pratama Padang Jl. Bagindo
Azis Chan No.26 Padang).
Wajib pajak dikota padang cukup paham walaupun
hanya sebatas gambaran umum, pemahaman yang
cukup baik meminimalkan pelanggaran perpajakan,
masih ada sedikit yang kurang mengerti akan
pemahaman perpajakan, adanya hubungan yang
relevan antara peraturan perpajakan dengan kondisi
dikota padang.



2.3 Kerangka Pemikiran
Sebagai seorang warga negara, sudah sepantasnya untuk turut ikut
berperan serta dalam pembangunan negara. Pajak sebagai sebuah iuran wajib yang
dibebankan kepada warga negara sifatnya memaksa, dalam artian pajak
merupakan kewajiban bagi setiap waga negara.
Berdasarkan UU KUP No.28 Tahun 2007, pajak merupakan kontribusi
wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak medapatkan imbalan secara
langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Dengan pengertian tersebut, jelaslah bahwa fungsi pajak itu
sangat penting untuk menjalankan roda pemerintahan, tanpa pajak maka roda
pemerintahan akan terganggu atau malah berhenti.
Warga negara yang memiliki penghasilan atau usaha diwajibkan untuk
membayarkan pajak penghasilan. Salah satu usaha yang dilakukan masyarakat
adalah usaha dalam sektor UMKM. Sektor UMKM termasuk salah satu sektor
terbesar penyumbang PDB di Indonesia berdasarkan data dari Kementrian
Koperasi dan UKM, 60% dari total PDB Indonesia dihasilkan dari sektor UMKM.
Namun, hal ini berbanding terbalik dengan dengan sumbangsihnya terhadap
penerimaan pajak yang hanya sekitar 5% saja. Dari data yang tersebut, tercermin
bahwa kepatuhan para pelaku UMKM terhadap pajak masih sangat rendah.
Pasar 16 Ilir Palembang merupakan salah satu sentra perekonomian
terbesar yang ada di Palembang. Dengan jumlah yang mencapai hingga 870 kios,
dan khusus dilantai dasar yang menjadi ruang lingkup penelitian memiliki jumlah



kios berkisar 320-an pedagang. Dengan banyaknya jumlah pelaku UMKM
tersebut, diharapkan dapat merepresentasikan keadaan UMKM yang
sesungguhnya, namun hasil wawancara yang didapatkan oleh peneliti hanya 1 dari
7 pedagang yang memiliki NPWP. Padahal, sebagai pelaku UMKM, penghasilan
yang mereka dapatkan harus disetorkan pajak penghasilannya kepada kas negara.
Dengan besarnya potensi pajak yang terlihat dari sektor UMKM tersebut,
maka semenjak pertanggal 1 juli 2013, pemerintah mulai memberlakukan
peraturan pemerintah mengenai pajak penghasilan yaitu PP 46 Tahun 2013, yaitu
pajak penghasilan dari usaha yang tidak melebihi dari 4,8M pertahun pajak. Tarif
pajak yang diberlakukan adalah sebesar 1% dari total peredaran bruto, atau omset
dari usaha.
Namun, dilihat dari tanggal dikeluarkannya peraturan tersebut, sangat
dimungkinkan para pelaku UMKM ini belum paham terhadap peraturan yang
tegolong baru tersebut. Hal ini didasarkan dari observasi dan data-data yang
didapatkan oleh penulis seperti pernyataan Kepala Dinas Perindustrian,
Perdagangan, dan Koperasi Kota Palembang Ibnu Rohim, dari sekitar 30.000
UMKM yang tercatat, hanya sekitar 60%nya yang memiliki NPWP. Hal ini
sangat memprihatinkan, untuk mempunyai NPWP sendiri, para pelaku UMKM ini
masih tergolong sedikit, apalagi pengetahuan mereka tentang PP 46 Tahun 2013
dikhawatirkan mereka tidak paham.
Kepatuhan pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013 sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Termasuk didalamnya adalah faktor pemahaman berdasarkan
penelitian terdahulu Rajif (2011). Faktor pemahaman para pelaku UMKM adalah



sebuah faktor yang berdiri sendiri. Pemahaman pelaku UMKM bisa saja
berpengaruh positif ataupun negatif , atau malah tidak berpengaruh sama sekali
terhadap PP No.46 Tahun 2013. pemahaman diukur melalui indikator berdasarkan
penelitian terdahulu. Pemahaman akan pajak sangat dipengaruhi oleh beberapa
indikator, Menurut Widayati dan Nurlis (2010) dalam penelitian Fikriningrum
(2012) indikator-indikator tersebut adalah :
1. Kepemilikan NPWP.
2. Pengetahuan dan pemahaman mengenai hak dan kewajiban sebagai wajib
pajak.
3. Pengetahuan dan pemahaman mengenai sanksi perpajakan.
4. Pengetahuan dan pemahaman mengenai Penghasilan Tidak Kena Pajak
(PTKP), Penghasilan Kena Pajak (PKP), dan tarif pajak.
5. Adalah wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan perpajakan melalui
sosialisasi yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP).
6. Wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan pajak melalui training
perpajakan yang mereka ikuti.
Kepatuhan diukur melalui kategori yang telah ditetapkan pemerintah
melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor.74/PMK.03/2012. Sedangkan
kriteria wajib pajak patuh menurut Peraturan Menteri Keuangan
Nomor.74/PMK.03/2012 adalah :
1. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan



2. Tidak mempunyai tunggakan untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan
pajak yang telah memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran
pajak.
3. Laporan keuangan diaudit oleh akuntan publik atau lembaga pengawasan
keuangan pemerintah dengan pendapat wajar tanpa pengecualian selama
3(tiga) kali berturut-turut; dan
4. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
dalam jangka waktu 5(lima) tahun terakhir.
Di dalam penelitian ini, maka kategori yang dipakai sebagai wajib pajak yang
patuh untuk para pelaku UMKM adalah tepat waktu dalam menyampaikan Surat
Pemberitahuan, dan tidak mempunyai tunggakan semua jenis pajak. Penelitian ini
akan melihat bagaimana pengaruh pemahaman para pelaku UMKM terhadap
kepatuhan pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013.
2.4 Paradigma Penelitian
Berdasarkan uraian kerangka pemikiran penelitian diatas, maka paradigma
yang digunakan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1
Paradigma Penelitian




2.5 Hipotesis
Pemahaman Para pelaku
UMKM (X)
Kepatuhan Pelaksanaan PP
46 tahun 2013 (Y)



Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan disebelumnya,
maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H
0 :
Pemahaman para pelaku UMKM tidak berpengaruh signifikan terhadap
Pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013.
H
1 :
Pemahaman para pelaku UMKM berpengaruh signifikan terhadap
Pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013.




















BAB III
OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Untuk mendapatkan data-data yang penulis butuhkan penulis mengadakan
penelitian langsung ke lokasi yang menjadi objek penelitian yaitu pemilik toko di
Gedung Pasar 16 ilir Palembang lantai dasar.
3.2 Metodologi Penelitian
3.2.1 Operasional Variabel
Sanusi (2011:49), menjelaskan bahwa pada tataran empiris, peneliti
mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan mengoperasionalkan variabel-variabel,
termasuk menemukan hubungan-hubungan antar variabel.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berkut :
1. Variabel Bebas (X)
Menurut Sanusi (2011:50), variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi
variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemahaman para pelaku
UMKM (X).
2. Variabel Terikat (Y)
Menurut Sanusi (2011:50), variabel terikat atau variabel tergantung (dependent
variable) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain. Dalam penelitian
ini, Pemahaman akan PP 46 tahun 2013 (Y).

Tabel 3.1



Operasional Variabel
Variable Definisi Indikator Tolak Ukur
Variabel Bebas
Pemahaman
individu Para
Pelaku UMKM
(X)
pemahaman
merupakan
kemampuan
untuk menangkap
makna dan arti
dari bahan yang
dipelajari
- Pengetahuan
mengenai NPWP.
- Pemahaman
mengenai hak dan
kewajiban pajak.
- Pengetahuan dan
pemahaman
mengenai sanksi
perpajakan.
- Pengetahuan dan
pemahaman
mengenai
Penghasilan Tidak
Kena Pajak
(PTKP),
Penghasilan Kena
Pajak (PKP), dan
tarif pajak.
- Pemahaman
mengenai prosedur
perpajakan.
- Pemahaman
melalui sosialisasi
pajak.
Skala Likert
Variabel Terikat
(Y).

Kepatuhan PP 46
tahun 2013 (Y)
Kategori wajib
pajak yang
dimasukkan
kedalam kriteria
wajib pajak patuh
menurut
Peraturan Menteri
Keuangan.
- Tepat waktu
dalam
penyampaian
SPT.
- Tidak memiliki
tunggakan untuk
semua jenis
pajak.
Skala Likert




3.2.2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut ;
a. Data kualitatif, yaitu data non angka yang sifatnya deskriptif dalam bentuk
informasi tulisan (kuisioner) yang diperoleh dari pedagang-pedagang
UMKM memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
b. Data kuantitatif, yaitu data yang telah diolah dari jawaban kuisioner yang
telah dibagikan kepada responden yang penulis anggap berkompeten.
Sumber data penelitian ini adalah :
1. Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara
langsung dari sumber asli. Data primer penelitian ini adalah kuesioner
yang dikumpulkan penulis.
2. Data sekunder yang digunakan peneliti adalah dilakukan melalui
literatur-literatur, buku-buku serta sumber-sumber lain yang
berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas.mengenai jumlah
kios, sejarah pasar 16 ilir, dan penjelasan mengenai PP 46 Tahun 2013.
3.2.3 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode
survei. Metode survei merupakan metode pengumpulan data primer yang
menggunakan pernyataan tertulis.
Dalam penelitian ini digunakan kuesioner sebagai teknik pengumpulan
data. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan mendatangi satu persatu calon
responden, mengecek apakah calon responden bersedia untuk mengisi kuesioner.



Prosedur ini penting dilaksanakan karena peneliti ingin menjaga agar kuesioner
hanya diisi oleh responden yang telah sesuai dengan kriteria penulis.
3.2.4 Populasi dan Sampel
a. Populasi
Menurut Sanusi (2011:87) pengertian populasi adalah seluruh kumpulan
elemnen yang menunjukkan ciri-ciri tertentu yang dapat digunakan untuk
membuat suatu kesimpulan. Jadi, kumpulan elemen itu menunjukkan jumlah,
sedangkan ciri-ciri tertentu menunjukkan karakteristik dari kumpulan itu. Populasi
dalam penelitian ini para palaku UMKM yang berada di lantai dasar pasar 16 ilir
Palembang yang berjumlah sekitar 320 pedagang.
b. Sampel
Menurut Sanusi (2011:87) seorang peneliti jarang sekali melakukan
penelitian terhadap keseluruhan kumpulan elemen (populasi). Peneliti biasanya
melakukan seleksi terhadap bagian elemen-elemen populasi dengan harapan hasil
seleksi tersebut dapat merefleksikan seluruh karakteristik yang ada. Elemen
adalah subjek dimana pengukuran itu dilakukan. Bagian dari elemen-elemen
populasi yang terpilih disebut sampel. Maka dalam penelitian ini penulis
menggunakan teknik convenience sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan
kemudahan. Teknik ini merupakan teknik pengambilan sampel secara tidak acak
(non-random sampling) yang tidak mempertimbangkan peluang. Hal ini
dilakukan agar jumlah sampel yang digunakan peneliti representatif dari populasi
yang ada.



Adapun rumus yang digunakan untuk menentukan ukuran sampel menurut
ketentuan Slovin dalam Sanusi (2011:101), yang memasukkan unsur kelonggaran
ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat
ditoleransi. Batas toleransi ketidaktelitian dalam penelitian ini adalah 10%.
Rumus :
Dimana :
n= ukuran sampel
N= Jumlah populasi
= Toleransi ketidaktelitian yang digunakan (dalam persen)
Jawab :
= = 76,1 = 76
Dari perhitungan di atas maka jumlah sampel dalam penelitian ini
sebanyak 76 orang pelaku UMKM dari 320 orang pelaku UMKM. Pemakaian
rumus diatas mempunyai asumsi bahwa populasi berdistribusi normal.
3.2.5 Instrumen Penelitian dan Pengujian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan
dan pernyataan tertulis (kuesioner). Pertanyaan yang diajukan kepada responden
menggunakan skala likert. Menurut Sanusi (2011:59), skala likert adalah skala
yang didasarkan pada penjumlahan sikap responden dalam merespon pernyataan
berkaitan indikator-indikator suatu konsep atau variabel yang sedang diukur.
Penelitian ini menggunakan lima skala untuk jawaban responden yaitu sebagai
berikut :



Kategori Simbol Skor
Sangat Setuju
(SS) 5
Setuju (S) 4
Netral (N) 3
Tidak Setuju (TS) 2
Sangat Tidak Setuju (STS) 1
Menurut Purwanto (2009:27) rumus kelas interval adalah sebagai berikut :
Interval kelas=
=
= 0.80
Penulis membagikan kuesioner dengan jawaban sebanyak 7 pertanyaan
dengan perincian mengenai pengetahuan mengenai NPWP, Pemahaman mengenai
hak dan kewajiban pajak, pengetahuan dan pemahaman mengenai sanksi
perpajakan, pengetahuan mengenai tarif pajak PP46 tahun 2013, pemahaman
mengenai prosedur perpajakan, pemahaman mengenai sosialisasi pajak dengan
jumlah responden sebanyak 76 orang.
Dan dengan menggunakan rumus rata-rata hitung sample dalam buku
Purwanto (2003:48) maka didapat indikator-indikator atau kategori dari hasil
pemahaman tersebut. Rumus rata-rata hitung sample dihitung dengan cara :



Rata-rata hitung sample = dapat disajikan dalam
bentuk simbol sebagai berikut : =
X = rata-rata hitung sample
X = jumlah keseluruhan nilai X sample
N = jumlah total data atau pengamatan dari sample
Tabel 3.2
Klasifikasi interval
Untuk penilaian pemahaman PP 46 tahun 2013
4,20 5,00 Sangat paham
3,40 4,19 Paham
2,60 3,39 Cukup paham
1,80 2,59 Tidak paham
1,00 1,79 Sangat tidak paham
Sumber : Wijaya (2011)
Tabel 3.3
Klasifikasi interval
Untuk penilaian Kepatuhan Pelaksaan PP 46 Tahun 2013
4,20 5,00 Sangat patuh
3,40 4,19 Patuh
2,60 3,39 Cukup patuh
1,80 2,59 Tidak patuh



1,00 1,79 Sangat tidak patuh
Sumber : Wijaya (2011)
3.2.6 Uji Validitas, dan Uji Reliabilitas
1. Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah suatu instrumen alat ukur
telah menjalankan fungsi ukurnya. Menurut Sanusi (2011:76), suatu instrumen
dikatakan valid jika instrumen tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur.
validitas merupakan bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan
data yang sesungguhnya yang terjadi pada objek yang diteliti. Suatu skala
pengukuran disebut valid bila ia melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan
mengukur apa yang seharusnya diukur.
Uji validitas kuesioner penelitian menggunakan teknik korelasi product
moment pearson, yaitu mengkorelasikan skor item dengan skor total. Dalam buku
Sanusi (2011:77) dengan rumus sebagai berikut :
r

=
Keterangan :
r= koefisien korelasi
x= skor butir
y= skor total butir
N= jumlah sampel (responden)
Adapun cara untuk mengetahui apakah suatu item valid atau gugur maka
dilakukan pembandingan antara koefisien r hitung dengan koefisien r tabel. Jika



rhitung > rtabel, maka dapat dikatakan valid. Namun jika sebaliknya yang terjadi
rhitung < rtabel, berarti item tidak valid. Uji validitas dalam penelitian ini
menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 19,
dengan cara mengkorelasikan masing-masing pertanyaan dan pernyataan dengan
skor untuk masing-masing variabel.
2. Reliabilitas
Menurut Sanusi (2011:81) perhitungan reliabilitas dilakukan terhadap
pertanyaan atau pernyataan yang sudah valid. Ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk menghitung reliabilitas instrumen yang sering digunakan antara
lain dengan cara pengukuran ulang dan belah dua. Pengukuran dalam penelitian
ini hanya dilakukan sekali kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan
lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. Reliabilitas diukur dengan
data statistik Cronbach Alpha. Jika nilai alpha > 0,6 maka dikatakan reliabel.
3.2.7 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
statistik inferensial parametik. Statistik inferensial parametik digunakan unutk
melihat keeratan hubungan dan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara satu
variabel terikat dengan satu atau lebih variabel bebas. Skala ukur variabel yang
dilibatkan dalam perhitungan adalah minimal interval. Metode analisis yang
digunakan adalah analisis regresi linear sederhana. Menurut Sanusi (2011) regresi
linier sederhana terdiri dari 2 variabel. Satu variabel berupa variabel
terikat/tergantung yang diberi simbol Y, dan variabel kedua yang berupa variabel
bebas diberi simbol X. Dalam penelitian ini variabel Y adalah pemahaman para



pelaku UMKM, dan variabel X adalah kepatuhan terhadap PP 46 Tahun 2013.
Regresi sederhana ini menyatakan hubungan kausalitas antara dua variabel, dan
memperkirakan nilai variabel terikat berdasarkan nilai variabel bebas. Persamaan
yang dipergunakan untuk memprediksi nilai variabel Y. Menurut Sanusi (2011)
bentuk umum dari persamaan regresi dinyatakan dengan persamaan matematika
yaitu :
= a + bX
Dimana :
= nilai prediksi dari variabel Y berdasarkan nilai variabel X.
a = titik potong Y; merupakan nilai bagi Y ketika X = 0
b = kemiringan atau slope perubahan rata-rata dalam untuk setiap perubahan dari
satu unit X, baik berupa peningkatan maupun penurunan.
X = nilai variabel X yang dipilih.
Nilai b (koefisien regresi) dan a (konstanta) dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :

a = b
n = jumlah pengamatan (sample); X = variabel bebas; dan Y = nilai variabel terikat.
3.2.8 Uji Hipotesis
3.2.8.1 Uji t
Menurut Sanusi (2011) Uji t, atau Sign Test dapat dipergunakan untuk
mengevaluasi efek dari suatu kegiatan yang menggunakan perlakuan tertentu. Efek



dari perlakuan itu adakalanya tidak dapat diukur, tetapi hanya diberikan tanda positif
(+) dan tanda negatif (-) terhadap hasil suatu pelakuan tersebut.
Langkah-langkah menentukan uji t :
a. Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif.
p = 0,05 (perlakuan membawa hasil positif/ada perubahan)
p = 0,05 (perlakuan tidak membawa hasil/tidak ada perubahan)
b. Menyusun pengamatan dalam bentuk tabel lalu memberi tanda (+) apabila
perubahan ke arah positif dan memberi tanda (-) apabila perubahan ke arah
negatif. Sedangkan apabila tanpa perubahan diberi tanda (0).
c. Menghitung tanda positif ( ) dan tanda negatif ( ), sedangkan tanda 0
diabaikan saja.
d. Menghitung besaran dengan rumus
=
5. Mengambil keputusan diterima atau ditolak dengan menggunakan kriteria
berikut.
Jika ( : maka diterima
(( : maka ditolak.
3.2.8.2 Analisis Korelasi Sederhana
Fungsi utama dari analisis korelasi adalah untuk menentukan seberapa erat
hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Ukuran yang menyataka
keeratan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Ukuran yang
menyatakan keeratan hubungan tersebut adalah koefisien korelasi atau yang sering



disebut korelasi Pearson (Pearson product moment). Koefisien korelasi Pearson
bernilai -1 sampai dengan +1. Menurut Sanusi (2011:122) untuk menghitung
koefisien korelasi digunakan rumus berikut ini :
=
Dimana Y = variabel terikat; X = variable bebas; dan n = banyaknya pengamatan.
Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien
korelasi sebagai berikut :
Tabel 3.4
Interpretasi Koefisien Korelasi
0,00 0,199 Sangat rendah
0,20 0,399 Rendah
0,40 0,599 Sedang
0,60 0,799 Kuat
0,80 1,000 Sangat kuat
Sumber : Priyatno (2010)
3.2.9 Uji Asumsi Klasik
Pada penelitian ini juga akan dilakukan beberapa uji asumsi klasik
terhadap model regresi yang telah diolah dengan menggunakan program SPSS 16,
yang meliputi :
1) Uji Heteroskedastisitas
Gejala Heteroskedastisitas diuji dengan metode Glejser dengan cara menyusun
regresi antara nilai absolut residual dengan variabel bebas. Apabila masing-
masing variabel bebas tidak berpengaruh signifikan terhadap absolut residual (
= 0,05) maka dalam model regresi tidak terjadi gejala heteroskedastitas.




2) Uji Autokorelasi
Untuk mendeteksi gejala autokorelasi dapat dilakukan dengan pengujian Durbin-
Watson (d). Hasil perhitungan Durbin-Watson (d) dibandingkan dengan nilai
pada = 0,05. Tabel d memiliki dua nilai, yaitu nilai batas atas ( ) dan
nilai batas bawah ( ) untuk berbagai nilai n dan k.
Jika d < : maka terjadi autokorelasi positif
d > 4 - : maka terjadi autokorelasi negatif
< d < 4 - : maka tidak terjadi autokorelasi
d atau 4 - d 4 - : maka pengujian tidak meyakinkan.
3) Uji Normalitas
Bertujuan menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen dan
variabel independen mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi
yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Deteksi
adanya normalitas ialah dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu
diagonal dari grafik.











BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis
4.1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Menurut Djohan Hanafiah, seorang budayawan Palembang,
memperkirakan bangunan ruko di pasar baru kawasan pasar 16 ilir Palembang
dibangun sekitar tahun 1828. Saat itu kawasan pasar 16 ilir telah menjadi pusat
perniagaan dimana untuk menuju ruko-ruko pasar baru penduduk menggunakan
sampan dari sungai Musi melewati sungai Tengkuruk. Perkembangan pasar
tersebut berawal dari peroide 1552-1821 yang merupakan masa kesultanan
Palembang. Pada masa tersebut diduga adalah lingkungan permukiman pribumi di
tepian sungai antara lain sungai musi dan beberapa anak sungai Musi antara lain
sungai Tengkuruk, sungai Rendang, sungai Sekanak dll.
Kemudian pada periode tahun 1821-1950 merupakan masa kolonial
Belanda pra kemerdekaan. Pada masa tersebut, kawasan pasar 16 ilir berkembang
pesat menjadi kawasan perdagangan dan sungai Tengkuruk pun ditimbun dan
dijadikan jalan Tengkuruk yang saat itu menjadi sentra perdagangan pakaian, toko
pecah belah, grosir mainan, lampu, toko bumbu masak, dan lain sebagainya.
Sebagai pusat dari Kesultanan Palembang Darussalam, kota Palembang
tempo dulu tentu membutuhkan tempat yang pas sebagai pusat perekonomian
masyarakatnya. Apalagi hampir sebagian besar wilayah Palembang merupakan
daerah sungai, maka dipilihlah kawasan 16 ilir yang berada di tepian sungai Musi
sebagai pasar dan pusat perekonomian masyarakat Palembang terdahulu hingga



saat ini. Bahkan seiring waktu, pasar 16 ilir terus berkembang dan tercatat sebagai
pusat grosir di Palembang.
Menurut catatan sejarah Palembang, sebelum ada campur tangan dari
pemerintah kolonial Belanda terhadap Palembang ini, yaitu sebelum abad ke-20,
kawasan Pasar 16 ilir (saat ini) dahulunya merupakan pemukiman masyarakat di
tepian sungai Musi. Dikawasan itu, terdapat sungai Tengkuruk, yang merupakan
salah satu anak Sungai Musi dan salah satu bagiannya bertemu dengan sungai
Kapuran. Sementara, sungai Kapuran, bertemu pula dengan sungai Sekanak.
Sebagaimana sifat orang Melayu Palembang, kawasan tepian sungai merupakan
lokasi favorit untuk pemukiman. Pilihan ini juga mengingat saat itu jalur
transportasi adalah air. Perahu-perahu yang berasal dari pedalaman (hulu) dengan
tujuan utama berdagang, menjadikan Sungai Tengkuruk sebagai tempat singgah.
Hingga sekitar tahun 1910. Sungai Tengkuruk masih normal.
Di atas sungai tersebut, terdapat jembatan dan tangga-tangga yang
menghubungkannya dengan daratan. Jika dilihat dari arah pertigaan Jl. Masjid
Lama (saat ini), disepanjang tepian sungai sebelah kiri, berjajar pertokoan.
Sedangkan di bagian kanan, tampak rumah-rumah panggung milik masyarakat. Di
bagian lain sungai itu, tampaklah tangga raja (hingga kini masih dinamakan
demikian meskipun sudah tak ada lagi sungai dan tangganya). Tangga ini
berfungsi sebagai tempat naik turunnya para pembesar Kesultanan Palembang
Darussalam.
Seperti lazimnya perkembangan pasar saat ini, perdagangan di pasar 16 ilir
berawal dari pasar tumbuh, yang terletak di tepian Sungai Musi (sekarang Gedung



Pasar 16 Ilir Baru hingga Sungai Rendang, Jl kebumen). Pola perdagangan di
lokasi itu, setidaknya hingga awal 1900-an, dimulai dari berkumpulnya pedagang
cungkukan (hamparan), yang kemudian berkembang dengan pembangunan petak
permanen. Untuk kawasan Pasar Baru (hingga kini masih bernama Jl. Pasar Baru),
yang saat itu sudah berderet bangunan bertingkat dua, yang bagian bawahnya
menjadi tempat berjualan. Los-los mulai dibangun sekitar tahun 1918 dan
dipermanenkan sekitar tahun 1939. Sementara itu, muara Sungai Rendang,
menjadi salah satu dermaga pilihan perahu kajang (perahu beratap) berlabuh.
Pada saat ini, pasar 16 Ilir Palembang telah menjelma menjadi pusat kota
dan perekonomian bagi masyarakatnya. Semua barang tersedia disini. Dan
semuanya itu tidak terlepas dari kerja keras pemerintah Kota Palembang dan
pemerintah Provinsi Sumatera selatan dalam melihat aset dan peluang yang
dimiliki pasar ini. Pasar 16 Ilir sering dikenal juga dengan sebutan pasar
tengkuruk karena gedung-gedung atau tokonya tampak bersejajar menghadap
tepian sungai Tengkuruk. Di pasar 16 ilir Palembang kurang lebih terdapat 870
lapak/kios.
Aktivitas perdagangan umumnya berasal dari daerah hulu sungai Musi,
daerah Jakabaring, dan sekitarnya, yang membawa hasil bumi, terutama buah,
sayuran, dan kebutuhan lainnya dengan menggunakan perahu kayu atau sering
disebut perahu jukung, dengan semacam tenda di bagian belakang sebagai tempat
beristirahat. Pasar 16 ilir adalah pasar yang cukup modern yang berada di tepian
sungai musi dan berada di samping Jembatan Ampera di Palembang. Air Mancur
depan Masjid Agung Palembang, kawasan perekonomian tersibuk di Palembang.



Pasar ini tergolong bersih karena merupakan pasar yang menjual tekstil,
batik, pakaian, songket, dll. Pasar 16 Ilir terkenal dengan banyaknya toko-toko
emas, pusat penjualan baju-baju bekas yang di impor dari luar negeri dan yang
terpenting adalah sebagai pusat grosir di kota Palembang, tidak heran jika terdiri
dari 4 tingkat bangunan. Ruko-ruko yang berjejer di pasar ini juga tergolong
bersih. Setelah mengalami renovasi, ruko disekitar pasar ini kembali terlihat
seperti bangunan perdagangan kolonial yang rapi, bersih, cantik, dan megah.
Moda transportasi menuju Pasar 16 Ilir anda bisa menggunakan angkot, bus
transmusi, bus air, hingga perahu kayu yang bermesin.
Pada lorong-lorong pasar 16 Ilir mulai dari lantai dasar, akan dijumpai
puluhan pedagang tekstil, pakaian impor, songket, tas wanita dan segala pernak-
pernik wanita. Harga yang ditawarkan sangat beragam. Berbagai kalangan mulai
dari masyarakat mulai dari kalangan bawah, menengah, hingga dari kalangan
masyarakat atas mencari keperluan mereka masing-masing untuk mendapatkan
harga yang murah dan berkualitas.
Lapak-lapak pedagang yang terdiri dari ruko-ruko berjejer rapi dan tertata
sesuai jenis barang dagangan. Di lantai 1 ini akan dijumpai pedagang busana
muslim, dan aneka perlengkapan sholat. Dan ada banyak pilihan lain yang
terdapat di lantai ini.
Pada lantai 2 masih sama dengan lantai 1, akan banyak dijumpai toko-toko
pakaian, dan perlengkapan sholat. Naik ke lantai 3 dan ke 4, masih dijumpai para
pedagang tekstil dan pakaian. Untuk dilantai 4, terdapat para pedagang bekas
pakaian impor. Dari lantai empat ini kita bisa menikmati pemandangan sungai



Musi yang membelah kota Palembang. Sedangkan dilantai 5 kita bisa menjumpai
para pedagang karpet bekas impor.
4.1.2. Rincian Pengembalian Kuesioner
Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah
penelitian lapangan, yaitu dengan menyebarkan kuesioner pada objek penelitian.
Kuesioner ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang ingin diketahui
oleh peneliti. Hasil penyebaran kuesioner untuk masing-masing sampel disajikan
dalam tabel berikut :
Tabel 4.1
Rincian Kuesioner
No Responden Kuesioner disebar Kuesioner diolah
1. Pelaku UMKM di Pasar 16
Ilir Palembang Lantai
Dasar
76 76
Sumber: Data primer, diolah 2014
4.1.3. Deskripsi Responden
Tabel 4.2
Gambaran Umum Responden
Kategori
Jumlah
(N=76)
Persentase
Pelaku UMKM di Pasar 16 Ilir
Palembang Lantai Dasar
76 100%
Jenis Kelamin:
-Pria
-Wanita

31
45

40,8%
59,2%
Umur:
-20-30 Tahun
-30-40 Tahun
-40-50 Tahun
-50 tahun keatas

30
21
18
7

39,5%
27,6%
23,7%
9,2%
Pendidikan Terakhir:
-SD Sederajat
-SMP/Sederajat
-SMA/Sederajat
-Perguruan Tinggi

3
7
39
27

4%
9,2%
51,3%
35,5%
Sumber: Data primer diolah 2014



Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan
responden Pelaku UMKM berjumlah 76 responden.
Selain itu dapat diketahui yang berjenis kelamin pria berjumlah 40,8%
responden dan yang berjenis kelamin wanita 59,2% responden. Untuk yang
berumur 20-30 tahun terdapat 39,5%, untuk yang berumur 30-40 tahun terdapat
27,6% responden, untuk yang berumur 40-50 tahun terdapat 23,7% responden,
dan untuk yang berumur 50 tahun keatas terdapat 9,2% responden. Responden ini
juga terbagi dalam beberapa tingkat pendidikan yakni, Pendidikan tingkat SD
terdapat 4% responden, Pendidikan tingkat SMP terdapat 9,2% responden,
Pendidikan tingkat SMA terdapat 51,3% responden, dan Pendidikan tingkat
Perguruan Tinggi terdapat 35,5% responden.
4.2. Analisis Pendahuluan
Uji instrument dilakukan untuk memastikan bahwa alat ukur yang
digunakan yang berupa kuesioner tersebut benar-benar mampu mengukur masing-
masing konsep yang digunakan. Uji kualitas data terdiri dari Uji Validitas dan Uji
Reliabilitas.


Tabel 4.3
Hasil Pengujian Validitas
No Variabel Pernyataan Pearson
Correlation
Signifikansi Keterangan
Pemahaman Pelaku
UMKM

1 Pernyataan 1 .566** .003 Valid
2 Pernyataan 2 .530** .006 Valid
3 Pernyataan 3 .678** .000 Valid
4 Pernyataan 4 .508** .010 Valid



5 Pernyataan 5 .468** .018 Valid
6 Pernyataan 6 .517** .008 Valid
7 Pernyataan 7 .738** .000 Valid
8 Pernyataan 8 .449** .024 Valid
9 Pernyataan 9 .566** .003 Valid
10 Pernyataan 10 .530** .006 Valid
11 Pernyataan 11 .678** .000 Valid
12 Pernyataan 12 .508** .010 Valid
13 Pernyataan 13 .468** .018 Valid
14 Pernyataan 14 .678** .000 Valid
15 Pernyataan 15 .593** .002 Valid
16 Pernyataan 16 .593** .002 Valid
17 Pernyataan 17 .417** .038 Valid
18 Pernyataan18 .517** .008 Valid
Kepatuhan Pelaksanaan
PP 46 Tahun 2013

1 Pernyataan 1 .704** .000 Valid
2 Pernyataan 2 .617** .001 Valid
3 Pernyataan 3 .559** .004 Valid
4 Pernyataan 4 .591** .002 Valid
5 Pernyataan 5 .738** .000 Valid
6 Pernyataan 6 .632** .001 Valid
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)
Sumber: Data Primer yang diolah 2014
Berdasarkan tabel diatas dapat terlihat bahwa hasil pengujian validitas
menunjukkan korelasi positif pada level 0,01 dan 0,05 yang berarti bahwa
pernyataan dalam kuesioner mampu mengungkapkan pemahaman para pelaku
UMKM terhadap kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013. Dari nilai Pearson
Correlation, dapat dilihat angka yang terdapat dalam tabel melebihi dari nilai
tabel r (Pearson Product Moment) yaitu diatas 0,398. Tabel tersebut menunjukkan
bahwa semua pernyataan yang digunakan untuk mengukur semua variabel dalam
penelitian ini dinyatakan sebagai item yang valid.
Tabel 4.4
Hasil Pengujian Reliabilitas



Variabel
Cronbachs
Alpha
N of Items Keterangan
Kepatuhan Pelaksanaan PP 46
Tahun 2013 (y)
Pemahaman Para Pelaku
UMKM (x)
.857

.681
18

6

Reliabel

Reliabel

Sumber: Data Primer yang diolah 2014
Dari output diatas dapat dilihat bahwa nilai Cronbachs Alpha dari setiap
varibel nilainya diatas 0,6, karena nilainya lebih dari 0,6 maka dapat disimpulkan
bahwa alat ukur dalam penelitian ini reliabel.
4.3. Teknik Analisis Data
Analisis berikutnya adalah menguji pernyataan alat uji hipotesis. Uji
asumsi klasik ini meliputi uji Heteroskedastisitas, uji Auto Korelasi, dan uji
Normalitas.
4.3.1. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model
regresi liner kesalahan pengganggu (e) mempunyai varians yang sama atau tidak
dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain.





Tabel 4.5
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Unstandard
ized
Residual
Pemahaman Individu Para
Pelaku UMKM
Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
.000
.1000
76
Sumber: Data Primer yang diolah 2014



Dari Output Correlations dapat diketahui korelasi antara Pemahaman Individu Para
Pelaku UMKM dengan Unstandardized Residual menghasilkan nilai signifikansi
0,1000. Karena nilai signifikansi korelasi lebih dari 0,05, maka dapat disimpulkan
bahwa pada model regresi tidak ditemukan adanya masalah heteroskedastisitas. Ini
membuktikan bahwa varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan
yang lain tetap, atau disebut homokedastisitas. Dalam hal ini berarti variabel bebas
(X), atau Pemahaman Individu Para Pelaku UMKM tidak berpengaruh signifikan
terhadap nilai absolut residual.
4.3.2. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi adalah untuk mengetahui adanya korelasi antara variabel
gangguan sehingga penaksir tidak lagi efisien baik dalam model sampel kecil
maupun dalam sampel besar. Salah satu cara untuk menguji autokorelasi adalah
dengan percobaan d (Durbin-Watson). Hasil perhitungan dilakukan
pembandingan dengan F tabel. Kriteria pengujiannya adalah apabila nilai durbin
watson < F tabel, maka diantara variabel bebas dalam persamaan regresi tidak ada
autokorelasi. Demikian sebaliknya.


Tabel 4.6
Hasil Uji Autokorelasi
Model R R Square
Adjusted
R Square
Durbin
Watson
1 .733
a
.538 .531 1.568
a. Predictors: (Constant), Pemahaman Individu Para Pelaku UMKM
b. Dependent Variable : Kepatuhan Akan PP 46 Tahun 2013
Sumber : Data Primer yang diolah 2014



Dari output setelah dilakukannya pengujian didapat nilai DW yang
dihasilkan dari model regresi adalah 1,568. Sedangkan dari tabel DW dengan
signifikansi 0,05 dan jumlah data (n) = 76, serta k = 1, maka diperoleh nilai dl
sebesar 1,442 dan du sebesar 1,544. Maka dapat disimpulkan bahwa nilai DW dari
model ini terletak antara du dan (4-du)= 1,544, 1,568, 2,456. Maka hipotesis nol
diterima, yang berarti tidak adanya autokorelasi, atau tidak terjadi korelasi antara
kesalahan pengganggu dan variabel Pemahaman Individu Para Pelaku UMKM (X)
dan variabel Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013 (Y) dapat ditaksir
nilainya dan tidak bias.
4.3.3. Uji Normalitas
Uji distribusi normal adalah uji untuk mengukur apakah data yang
didapatkan memiliki distribusi normal sehingga dapat dipakai dalam statistik
parametrik (statistik inferensial). Dengan kata lain, uji normalitas adalah uji untuk
mengetahui apakah data empirik yang didapatkan dari lapangan itu sesuai dengan
distribusi teoritik tertentu. Dalam kasus ini, distribusi normal. Dengan kata lain,
apakah data yang diperoleh berasal dari populasi yang berdistribusi normal.



Gambar 4.1
Hasil Uji Normalitas




Pengujian normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data
berdistribusi normal atau tidak. Dari gambar normal plot terlihat bahwa sebaran
titik-titik bersejajar/searah dengan garis sumbu diagonal dari grafik yang ada. Hal
ini menunjukkan variabel berdistribusi normal. Ini menunjukkan data yang
diperoleh dari sampel pasar 16 ilir, khususnya di lantai dasar didapat dari populasi
yang berdistribusi secara normal. Dalam hal ini, sifat dan karakteristik dari
populasi para pelaku UMKM secara umum yang ingin diamati terdistribusikan
secara normal ke sampel yang diteliti oleh penulis.
4.4. Deskripsi Hasil Penelitian
Dari pernyataan pada kuesioner yang telah diajukan kepada responden
diperoleh berbagai macam tanggapan terhadap variabel Pemahaman para pelaku
UMKM, dan Kepatuhan pelaksanaan PP 46 tahun 2013. Berbagai tanggapan dari
responden tersebut dapat disajikan sebagai berikut:

1. Variabel Pemahaman para pelaku UMKM (X)



Berdasarkan data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner yang
telah dibagikan, diperoleh deskripsi data mengenai Pemahaman para pelaku
UMKM secara umum, dimulai dari setiap indikator sebagai berikut:
a. Pengetahuan Mengenai NPWP
Tabel 4.8
Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM (X)
Indikator Pengetahuan Mengenai NPWP (Klasifikasi Interval)
No Pernyataan 1 2 3 4 5 Total Responden Rata-rata
1
Menurut saya seseorang
yang akan membayar pajak
harus memiliki NPWP.
0 0 42 27 7 269 76 3,539474
2
NPWP adalah sebagai
identitas bagi wajib pajak.
0 4 39 32 1 258 76 3,394737
3
Sebagai wajib pajak, untuk
menyetorkan pajak dari
penghasilan UMKM saya
harus mempunyai NPWP.
0 0 45 26 5 264 76 3,473684
Total 791 228 3,469298
Sumber : Data Primer yang diolah 2014
Berdasarkan tabel diatas, dari jumlah rata-rata untuk indikator
pengetahuan mengenai NPWP didapat nilai sebesar 3,469298. Di dalam tabel
klasifikasi interval yang ada maka responden dikategorikan Paham. Hal ini
menunjukkan bahwa untuk indikator pengetahuan mengenai NPWP berdasarkan
hasil kuesioner responden para pelaku UMKM di pasar 16 ilir khususnya di lantai
dasar adalah paham mengenai apa yang dimaksud dengan NPWP, dan tujuan
memiliki NPWP, dan kegunaan memiliki NPWP sebagai salah satu syarat untuk
menyetorkan pajak penghasilan UMKM mereka.


b. Pemahaman mengenai Hak dan Kewajiban Pajak
Tabel 4.9



Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM (X)
Indikator Pemahaman mengenai Hak dan Kewajiban Pajak (Klasifikasi
Interval)
No Pernyataan 1 2 3 4 5 Total Responden Rata-rata
1
Sebagai wajib pajak, untuk
menyetorkan pajak dari
penghasilan UMKM saya
harus mempunyai NPWP.
0 10 19 36 11 276 76 3,631579
2
Pembangunan fasilitas
umum berupa jalan,
jembatan, bendungan, dll
dibiayai dari pajak.
0 12 30 28 6 256 76 3,368421
3
Setiap penghasilan yang
didapat, maka wajib
dibayarkan pajak
penghasilannya jika sudah
memenuhi syarat.
0 4 42 28 2 256 76 3,368421
Total 788 228 3,45614
Sumber : Data Primer yang diolah 2014
Berdasarkan tabel diatas, dari jumlah rata-rata untuk indikator Pemahaman
mengenai Hak dan Kewajiban Pajak didapat nilai sebesar 3,45614. Di dalam tabel
klasifikasi interval yang ada maka responden dikategorikan Paham. Hal ini
menunjukkan bahwa untuk indikator Pemahaman mengenai Hak dan Kewajiban
Pajak berdasarkan hasil kuesioner responden para pelaku UMKM di pasar 16 ilir
khususnya di lantai dasar adalah paham bahwa pajak merupakan kewajiban setiap
warga negara, kegunaan pajak dalam membiayai pembangunan bangsa, dan
kewajiban membayar pajak untuk setiap penghasilan yang didapat jika sudah
memenuhi syarat sebagai objek pajak.



c. Pengetahuan dan Pemahaman Mengenai Sanksi Perpajakan
Tabel 4.10



Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM (X)
Indikator Pengetahuan dan Pemahaman Mengenai Sanksi Perpajakan
(Klasifikasi Interval)
No Pernyataan 1 2 3 4 5 Total Responden Rata-rata
1
Menurut sepengetahuan saya,
pajak UMKM ini memiliki
sanksi apabila wajib pajak
lalai dalam kewajibannya.
0 5 36 30 5 263 76 3,460526
2
Apabila terlambat dalam
menyetorkan pajak UMKM,
wajib pajak akan dikenakan
sanksi administrasi.
0 10 18 37 11 277 76 3,644737
3
Apabila data yang diisi wajib
pajak tidak sesuai dengan
yang ada, maka wajib pajak
dikenakan sanksi.
0 10 32 28 6 258 76 3,394737
Total 798 228 3,5
Sumber : Data Primer yang diolah 2014
Berdasarkan tabel diatas, dari jumlah rata-rata untuk indikator
Pengetahuan dan Pemahaman Mengenai Sanksi Perpajakan didapat nilai sebesar
3,5. Di dalam tabel klasifikasi interval yang ada maka responden dikategorikan
Paham. Hal ini menunjukkan bahwa untuk indikator Pengetahuan dan
Pemahaman Mengenai Sanksi Perpajakan berdasarkan hasil kuesioner responden
para pelaku UMKM di pasar 16 ilir khususnya di lantai dasar adalah paham
mengenai adanya sanksi apabila lalai, terlambat, dan terdapat kesalahan dalam
pengisian data dalam membayar pajak.



d. Pengetahuan dan Pemahaman Mengenai Batas Maksimal dan Tarif PP 46
Tahun 2013.
Tabel 4.11



Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM (X)
Indikator Pengetahuan dan Pemahaman Mengenai Batas Maksimal dan
Tarif PP 46 Tahun 2013 (Klasifikasi Interval)
No Pernyataan 1 2 3 4 5 Total Responden Rata-rata
1
PP 46 tahun 2013 ditujukan
bagi pelaku UMKM.
0 23 35 14 4 227 76 2,986842
2
Batas maksimal pendapatan
pengusaha untuk
menggunakan PP 46 tahun
2013 adalah dibawah 4,8 M
pertahun.
0 2 31 32 11 280 76 3,684211
3
Menurut sepengetahuan
saya, pajak penghasilan
untuk pelaku UMKM yang
terbaru adalah sebesar 1%
dari omset.
0 17 35 22 2 237 76 3,118421
Total 744 228 3,263158
Sumber : Data Primer yang diolah 2014
Berdasarkan tabel diatas, dari jumlah rata-rata untuk indikator
Pengetahuan dan Pemahaman Mengenai Batas Maksimal dan Tarif PP 46 Tahun
2013 didapat nilai sebesar 3,263158. Di dalam tabel klasifikasi interval yang ada
maka responden dikategorikan Cukup Paham. Hal ini menunjukkan bahwa untuk
indikator Pengetahuan dan Pemahaman Mengenai Batas Maksimal dan Tarif PP
46 Tahun 2013 berdasarkan hasil kuesioner responden para pelaku UMKM di
pasar 16 ilir khususnya di lantai dasar adalah cukup paham mengenai pengetahuan
tentang PP 46 tahun 2013, mengenai subjek pajaknya, batas maksimal
penghasilan yang ditetapkan, dan tarif pajak yang dikenakan dalam PP 46 tahun
2013.

e. Pemahaman Mengenai Prosedur Perpajakan
Tabel 4.12
Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM (X)
Indikator Pemahaman Mengenai Prosedur Perpajakan (Klasifikasi Interval)
No Pernyataan 1 2 3 4 5 Total Responden Rata-rata
1
Untuk menyetorkan pajak
UMKM, saya hanya
0 13 33 24 6 251 76 3,302632



memerlukan SSP (surat
Setor Pajak) sehingga tidak
membutuhkan lagi SPT
Masa.
2
Penyetoran pajak UMKM
dilakukan paling lambat 15
hari setelah bulan
berikutnya berjalan.
0 2 34 29 11 277 76 3,644737
3
SPT Tahunan disampaikan
paling lambat 3 bulan
setelah masa pajak
berakhir.
0 2 46 27 1 255 76 3,355263
Total 783 228 3,434211
Sumber : Data Primer yang diolah 2014
Berdasarkan tabel diatas, dari jumlah rata-rata untuk indikator
Pengetahuan Pemahaman Mengenai Prosedur Perpajakan didapat nilai sebesar
3,434211. Di dalam tabel klasifikasi interval yang ada maka responden
dikategorikan Paham. Hal ini menunjukkan bahwa untuk indikator Pengetahuan
Pemahaman Mengenai Prosedur Perpajakan berdasarkan hasil kuesioner
responden para pelaku UMKM di pasar 16 ilir khususnya di lantai dasar adalah
paham mengenai prosedur perpajakan khusus untuk menyetorkan pajak UMKM
berdasarkan PP 46 tahun 2013, mengenai batas waktu penyetoran, dan batas
waktu penyampaian SPT Tahunan.



f. Pemahaman Melalui Sosialisasi Pajak
Tabel 4.13
Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Pemahaman para pelaku UMKM (X)
Indikator Pemahaman Melalui Sosialisasi Pajak (Klasifikasi Interval)
No Pernyataan 1 2 3 4 5 Total Responden Rata-rata
1
Sosialisasi yang diadakan
pihak pajak mudah untuk
saya mengerti.
0 16 44 14 2 230 76 3,026316
2 Saya setuju apabila PP 46 0 1 41 30 4 265 76 3,486842



tahun 2013 disosialisasikan
langsung kepada pelaku
UMKM.
3
Sosialisasi pajak yang saya
pernah ikuti memberikan
pemahaman tentang PP 46
tahun 2013 baru bagi saya.
0 0 8 36 32 328 76 4,315789
Total 823 228 3,609649
Sumber : Data Primer yang diolah 2014
Berdasarkan tabel diatas, dari jumlah rata-rata untuk indikator Pemahaman
Melalui Sosialisasi Pajak didapat nilai sebesar 3,609649. Di dalam tabel
klasifikasi interval yang ada maka responden dikategorikan Paham. Hal ini
menunjukkan bahwa untuk indikator Pemahaman Melalui Sosialisasi Pajak
berdasarkan hasil kuesioner responden para pelaku UMKM di pasar 16 ilir
khususnya di lantai dasar adalah paham dalam sosialisasi yang diselenggarakan
oleh pihak Direktorat Jenderal Pajak tentang PP 46 tahun 2013.
Dari jumlah rata-rata setiap indikator, didapatlah nilai sebesar 3,470029
untuk nilai variabel Pemahaman Para Pelaku UMKM. Hal ini dapat digambarkan
bahwa secara umum, variabel X atau Pemahaman Para Pelaku UMKM dapat
digolongkan kedalam klasifikasi Paham. Hal ini menunjukkan untuk para pelaku
UMKM di pasar 16 ilir, khususnya di lantai dasar tergolong paham terhadap
perpajakan yang berlaku, dalam hal ini adalah PP 46 tahun 2013.
2. Variabel Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013 (Y)
Berdasarkan data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner yang
telah dibagikan, diperoleh deskripsi data mengenai Kepatuhan Pelaksanaan PP 46
Tahun 2013 secara umum, dimulai dari setiap indikator sebagai berikut:
a. Tepat Dalam Penyampaian SPT (Surat Pemberitahuan)
Tabel 4.14



Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun
2013 (Y) Indikator Tepat Dalam Penyampaian SPT (Surat Pemberitahuan)
(Klasifikasi Interval)
No Pernyataan 1 2 3 4 5 Total Responden Rata-rata
1
Selama ini saya selalu
menyampaikan SPT dengan
tepat waktu.
0 0 33 32 11 282 76 3,710526
2
SPT tahunan yang saya
sampaikan selalu sebelum
bulan maret tahun
sebelumnya.
0 6 34 25 11 269 76 3,539474
3
Saya mengerti betul dalam
hal bagaimana mengisi SPT
(Surat Pemberitahuan)
0 4 38 32 2 260 76 3,421053
Total 811 228 3,557018
Sumber : Data Primer yang diolah 2014
Berdasarkan tabel diatas, dari jumlah rata-rata untuk indikator Tepat
Dalam Penyampaian SPT (Surat Pemberitahuan) didapat nilai sebesar 3,557018.
Di dalam tabel klasifikasi interval yang ada maka responden dikategorikan Patuh.
Hal ini menunjukkan bahwa untuk indikator Tepat Dalam Penyampaian SPT
(Surat Pemberitahuan) berdasarkan hasil kuesioner responden para pelaku
UMKM di pasar 16 ilir khususnya di lantai dasar adalah tergolong patuh dalam
penyampaian SPT Tahunan dengan tepat waktu, dan mengerti batas akhir
penyampaian SPT, serta mengerti mengenai bagaimana tata cara pengisian SPT.

b. Tidak Mempunyai Tunggakan Untuk Semua Jenis Pajak
Tabel 4.15
Tanggapan Pelaku UMKM Mengenai Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun
2013 (Y) Indikator Tidak Mempunyai Tunggakan Untuk Semua Jenis Pajak
(Klasifikasi Interval)
No Pernyataan 1 2 3 4 5 Total Responden Rata-rata
1
Saya selalu tepat waktu
membayar pajak UMKM
perbulannya.
0 6 34 29 7 265 76 3,486842
2
Saya tidak pernah
melewatkan PBB, dan
Pajak penghasilan UMKM
atas jenis usaha saya.
0 12 32 21 11 259 76 3,407895



3
Saya rasa saya tidak pernah
menunggak pajak apapun.
0 6 38 25 7 261 76 3,434211
Total 785 228 3,442982
Sumber : Data Primer yang diolah 2014
Berdasarkan tabel diatas, dari jumlah rata-rata untuk indikator Tidak
Mempunyai Tunggakan Untuk Semua Jenis Pajak didapat nilai sebesar 3,442982.
Di dalam tabel klasifikasi interval yang ada maka responden dikategorikan Patuh.
Hal ini menunjukkan bahwa untuk indikator Tidak Mempunyai Tunggakan Untuk
Semua Jenis Pajak berdasarkan hasil kuesioner responden para pelaku UMKM di
pasar 16 ilir khususnya di lantai dasar adalah tergolong patuh dalam membayar
setiap jenis pajak yang tertanggung, baik itu PBB, maupun pajak penghasilan
UMKM, serta tidak pernah menunggak jenis pajak apapun.
Dari jumlah rata-rata setiap indikator, didapatlah nilai sebesar 3,5 untuk
nilai variabel Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013. Hal ini dapat
digambarkan bahwa Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013 termasuk kedalam
klasifikasi Patuh. Hal ini menunjukkan secara umum untuk para pelaku UMKM di
pasar 16 ilir, khususnya di lantai dasar tergolong patuh dalam pelaksanaan PP 46
tahun 2013.
4.5. Analisis Regresi Linear Sederhana
Tabel 4.16
Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana
Coefficients
a

Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) .512 .325

1.572 .120
Pemahaman individu Para
Pelaku UMKM
.865 .093 .733 9.275 .000
a. Dependent Variable: Pemahaman akan PP 46 tahun 2013
Sumber: Data Primer yang diolah 2014



Dari tabel diatas maka dapat diketahui persamaan regresinya yaitu sebagai
berikut:
Y= a + bX
Y= 0,512 + 0,865X
Arti persamaan ini sebagai berikut :
-Konstanta sebesar 0,512 ; artinya jika Pemahaman Para Pelaku UMKM (X)
nilainya adalah 0, maka Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013 (Y) nilainya
sebesar 0,512.
-Koefisien regresi variabel Pemahaman Individu Para Pelaku UMKM (X) sebesar
0,865; artinya jika tingkat Pemahaman Individu Para Pelaku UMKM mengalami
kenaikan tingkat 1 angka, maka tingkat Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun
2013 akan mengalami peningkatan sebesar 0,865. Adapun nilai a atau konstanta
sebesar 0,512 mengindikasikan bahwa seandainya tingkat Pemahaman Para
Pelaku UMKM (X) tidak mengalami kenaikan atau 0 maka tingkat Kepatuhan
Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013 (Y) adalah sebesar 0,512. Koefisien bernilai
positif, artinya terjadi hubungan positif antara Pemahaman Para Pelaku UMKM
dengan Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013. Semakin tinggi tingkat
Pemahaman Para Pelaku UMKM, maka semakin tinggi juga tingkat Kepatuhan
Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013.
4.5.1. Uji t
Tabel 4.17
Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana (Uji t)
Coefficients
a

Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta



1 (Constant) .512 .325

1.572 .120
Pemahaman individu Para
Pelaku UMKM
.865 .093 .733 9.275 .000
a. Dependent Variable: Pemahaman akan PP 46 tahun 2013
Sumber: Data Primer yang diolah 2014
Dari output diatas maka dapat dilihat pengaruh dari variabel independen
yang ada pada penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1. Pengujian Koefisien Regresi Variabel Pemahaman Para Pelaku UMKM
Oleh karena nilai t hitung variabel Pemahaman Para Pelaku UMKM sebesar
9,275 berarti nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel (9,275 > 1,992) maka
Ho ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial Pemahaman Para
Pelaku UMKM berpengaruh terhadap Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun
2013. t hitung positif artinya Pemahaman Para Pelaku UMKM berpengaruh
positif terhadap Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013.


4.5.2. Analisis Korelasi Sederhana
Tabel 4.18
Hasil Analisis Korelasi Sederhana

Correlations

Pemahaman individu
Para Pelaku UMKM
Pemahaman akan
PP 46 tahun 2013
Pemahaman individu Para
Pelaku UMKM
Pearson Correlation 1 .733
**

Sig. (2-tailed)

.000
N 76 76
Pemahaman akan PP 46
tahun 2013
Pearson Correlation .733
**
1
Sig. (2-tailed) .000

N 76 76



Correlations

Pemahaman individu
Para Pelaku UMKM
Pemahaman akan
PP 46 tahun 2013
Pemahaman individu Para
Pelaku UMKM
Pearson Correlation 1 .733
**

Sig. (2-tailed)

.000
N 76 76
Pemahaman akan PP 46
tahun 2013
Pearson Correlation .733
**
1
Sig. (2-tailed) .000

N 76 76
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber: Data Primer yang diolah 2014
Dari hasil analisis korelasi sederhana (r) didapat korelasi antara
Pemahaman Para Pelaku UMKM dengan Kepatuhan Pelaksanaan (r) adalah
0,733. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang kuat antara Pemahaman
Para Pelaku UMKM dengan Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013 karena
berada di rentang 0,60 0,799. Sedangkan arah hubungan adalah positif karena
nilai r positif, berarti semakin tinggi Pemahaman Para Pelaku UMKM maka
semakin meningkatkan Kepatuhan Pelaksanan PP 46 Tahun 2013.
4.6. Pembahasan
Dari deskriptif variabel yang dilakukan, untuk variabel X, atau variabel
pemahaman para pelaku UMKM didapat hasil sebagai berikut :
Dari total nilai deskriptif variabel X, yaitu sebesar 3,470029 maka dapat
dideskripsikan bahwa untuk variabel Pemahaman Para Pelaku UMKM
berdasarkan tabel 3.2, termasuk kedalam klasifikasi Paham. Hal ini
mendeskripsikan bahwa secara umum, untuk variabel X atau Pemahaman Para
Pelaku UMKM di pasar 16 ilir, khususnya di lantai dasar tergolong paham



terhadap perpajakan yang berlaku, baik itu dalam hal dasar, prosedural, sanksi,
hak dan kewajiban pajak, dan dalam hal ini lebih khususnya adalah mengenai PP
46 tahun 2013. Ditinjau dari nilai per indikator, ratarata per indikator
menunjukkan di klasifikasi paham. Hanya di indikator Pengetahuan dan
Pemahaman Mengenai Batas Maksimal dan Tarif PP 46 Tahun 2013 yang
menunjukkan di klasifikasi cukup paham. Ini menunjukkan bahwa pemahaman
mengenai tarif dan batas maksimal para pelaku UMKM masih perlu ditingkatkan.
Karena nilai klasifikasi indikator inilah yang terendah dibandingkan nilai
indikator-indikator variabel X lainnya.
Dari total nilai deskriptif variabel Y, didapatlah nilai sebesar 3,5 maka
untuk variabel Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013 dapat digolongkan
bahwa berdasarkan tabel 3.3, termasuk kedalam klasifikasi Patuh. Hal ini
menunjukkan bahwa secara umum untuk para pelaku UMKM di pasar 16 ilir,
khususnya di lantai dasar tergolong patuh dalam pelaksanaan PP 46 tahun 2013,
baik itu dalam hal ketepatan waktu dalam menyampaikan SPT, dan dalam tidak
mempunyai tunggakan dari semua jenis pajak, termasuk pajak penghasilan
UMKM PP 46 Tahun 2013.
Untuk analisis regresi sederhana didapatlah nilai sebagai berikut :
Y= a + bX
Y= 0,512 + 0,865X
Dari nilai persamaan regresi tersebut apabila terdapat peningkatan nilai
Pemahaman Para Pelaku UMKM sebesar 1 dalam tabel klasifikasi pemahaman,
maka akan terjadi kenaikan tingkat Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013



sebesar 0,865 dalam tabel klasifikasi kepatuhan. Adapun nilai konstanta sebesar
0,512 itu mengindikasikan jika nilai Pemahaman Para Pelaku UMKM tidak ada,
atau dalam hal ini adalah 0, maka tingkat Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun
2013 akan bernilai sebesar 0,512. Ini menunjukkan bahwa tingkat Pemahaman
Para Pelaku UMKM memiliki pengaruh terhadap Kepatuhan Pelaksanaan PP 46
Tahun 2013, walaupun nilainya tidak begitu besar. Hal ini terlihat dari tingkat
kenaikan Kepatuhan yang hanya sebesar 0,865 terhadap setiap kenaikan 1 tingkat
Pemahaman.
Berdasarkan dari hasil Uji t nilai t hitung untuk variabel Pemahaman Para
Pelaku UMKM (X) didapat nilai sebesar 9,275 ini berarti nilai t hitung yang
didapat lebih besar dari nilai t tabel (9,275 > 1,992).
H
0 :
Pemahaman para pelaku UMKM tidak berpengaruh signifikan terhadap
Pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013.
H
1 :
Pemahaman para pelaku UMKM berpengaruh signifikan terhadap
Pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013.
Berdasarkan nilai ini, maka Ho seperti yang telah diuraikan diatas ditolak,
maka hipotesis H
1
yang diterima. Artinya, koefisien regresi yang diuji itu adalah
signifikan. Dengan hasil ini dapat disimpulkan bahwa secara parsial, Pemahaman
Para Pelaku UMKM berpengaruh terhadap Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun
2013, atau dengan kata lain pengaruh Pemahaman Para Pelaku UMKM terhadap
Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013 adalah bukan karena kebetulan semata,
melainkan benar-benar nyata. t hitung yang bernilai positif artinya Pemahaman



Para Pelaku UMKM berpengaruh positif terhadap Kepatuhan Pelaksanaan PP 46
Tahun 2013.
Hasil yang didapat peneliti ini, searah dengan landasan teori penelitian
terdahulu yang mendukung bahwa faktor pemahaman mempengaruhi dalam
tingkat kepatuhan pajak. Berdasarkan hasil penelitian Sri Ernawati dan Mellyana
Wijaya (2011), didapat bahwa faktor pemahaman mempengaruhi dalam tingkat
kepatuhan pajak, dengan pemahaman yang benar maka wajib pajak dapat
menghitung sendiri pajak terutang mereka sendiri. Terutama pajak UMKM atau
PP 46 Tahun 2013 ini memang dibuat untuk menyederhanakan penghitungan
pajka terutang, agar para wajib pajak dapat dengan mudah menghitung pajak
berdasarkan omset mereka sendiri.
Sri Rustyaningsih (2011) juga menyatakan dalam jurnalnya yang berjudul
faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak, pemahaman akan self
assesment system, kualitas pelayanan, tingkat penghasilan, tingkat pendidikan,
persepsi wajib pajak terhadap sanksi perpajakan mempengaruhi kepatuhan wajib
pajak. Disini terlihat bahwa hipotesis yang digunakan penulis dalam penelitian
searah dan didukung dengan penelitian terdahulu. Namun ada hal yang
membedakan dengan penelitian terdahulu adalah objek penelitian dan
pembahasan akan pajak yang belum terlalu spesifik. Sedangkan disini peneliti
melakukan penelitian secara mendalam terhadap objek, dan mengkhususkan
membahas PP 46 Tahun 2013, dan didapat hasil bahwa pemahaman tetap menjadi
faktor yang berpengaruh atas kepatuhan membayar pajak.



Selain itu, dalam penelitian Mohamad Rajif meneliti dengan objek yang
berbeda kepatuhan pajak UKM di daerah Cirebon, dipengaruhi oleh pemahaman,
kualitas pelayanan, dan ketegasan sanksi perpajakan. Hal ini menunjukkan bahwa
dengan objek yang berbeda pun dalam membayar pajak, faktor pemahaman akan
pajak itu sendiri masih memegang peranan penting.
Dari beberapa kajian yang dipakai oleh penulis, semua mendukung akan
hipotesis penelitian, bahwa faktor Pemahaman Para Pelaku UMKM berpengaruh
secara signifikan terhadap Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013, ini juga
dibuktikan dari hasil uji hipotesis yang dilakukan penulis bahwa hipotesis yang
diajukan diterima secara statistik yang diperoleh dari kuesioner yang disebar. Ini
semakin menguatkan pendapat penulis dalam penelitian ini.















BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Dari semua pengujian hipotesis yang dilakukan maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Deskripsi variabel X, atau variabel Pemahaman Para Pelaku UMKM
menunjukkan pada nilai indikator Paham. Dan deskripsi variabel Y, atau
Kepatuhan Pelaksanaan PP 46 Tahun 2013, menunjukkan pada nilai indikator
Patuh.
2. Hasil dari uji regresi menunjukkan bahwa Y = 0,512 + 0,865X. Artinya
tingkat Pemahaman Para Pelaku UMKM memiliki pengaruh terhadap
Kepatuhan Pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013. Jadi kenaikan nilai Kepatuhan
terjadi sebesar 0,865 terhadap setiap kenaikan 1 tingkat nilai Pemahaman.
3. Pemahaman Para Pelaku UMKM mempengaruhi Kepatuhan Pelaksanaan PP
46 Tahun 2013. Artinya, berdasarkan nilai uji t yang dilakukan, maka H
0

ditolak, maka hipotesis H
1
yang diterima. Atau Pemahaman para pelaku
UMKM berpengaruh signifikan terhadap Pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013.
Artinya koefisien regresi yang diuji itu adalah signifikan.
4. Berdasarkan kajian penelitian terdahulu yang dilakukan, semua searah dan
menunnjukkan hipotesis yang diajukan penulis bahwa pemahaman
mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak.





5.2. Saran
Saran untuk penelitian yang akan datang yakni :
1. Tingkat pemahaman dan kepatuhan para pelaku UMKM sudah termasuk
baik, karena itu penulis menyarankan untuk pihak Direktorat Jenderal Pajak
agar lebih mengintensifkan lagi sosialisasi dan edukasi pajak terhadap para
pelaku UMKM ini akan pajak secara umum maupun langsung khusus ke PP
46 tahun 2013 agar tingkat kepatuhan semakin meningkat. Untuk pihak
pelaku UMKM agar tetap mencari informasi mengenai info-info perpajakan
terbaru dan langsung bertanya kepada pihak pajak apabila ada yang tidak
dimengerti tentang isu-isu pajak terbaru. Untuk peneliti selanjutnya
diharapkan untuk memperluas lagi ruang lingkup penelitian, Sampel yang
berbeda dan lebih banyak daripada sampel dalam penelitian ini, sehingga
penelitian tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih spesifik mengenai
pengaruh pemahaman para pelaku UMKM terhadap kepatuhan pelaksanaan
PP 46 tahun 2013.
2. Tingkat kepatuhan yang naik sebesar 0,865 dalam setiap 1 angka pemahaman
mengindikasikan bahwa pemahaman bukanlah faktor utama dalam
meningkatkan kepatuhan pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013, karena itu perlu
juga dicari lagi faktor-faktor lain selain pemahaman yang mempengaruhi
kepatuhan pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013 ini.
3. Dari hasil uji t, maka Pemahaman para pelaku UMKM berpengaruh
signifikan terhadap Pelaksanaan PP No.46 Tahun 2013. Hal ini harus



dipertahankan agar masyarakat terkhususnya para pelaku UMKM taat dalam
membayar pajak.
4. Meskipun berdasarkan kajian penelitian terdahulu dan dari hasil peneliti
menunjukkan bahwa pemahaman mempengaruhi kepatuhan wajib pajak
dalam membayar pajak, namun untuk peneliti selanjutnya ada baiknya
mencari faktor-faktor lain selain faktor pemahaman. Seperti faktor pelayanan,
sanksi, tingkat penghasilan, dan lain-lain. Selain itu juga perlu untuk diteliti
apakah faktor-faktor eksternal seperti surat tagihan dan surat paksa juga
berpengaruh terhadap untuk kepatuhan pelaksanaan pajak. Hal ini dilakukan
agar hasil penelitian yang didapat lebih mendalam.





























DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Sukrisno dan Trisnawati, Estralita. 2012. Akuntansi Perpajakan Edisi 2
Revisi. Salemba Empat: Jakarta.

Danny Darussalam Tax Center. 11 Juli 2013. DDCT Internal Discussion 17 :
Peraturan Pemerintah No 46 Tahun 2013, (online),
(http://www.dannydarussalam.com/2013/07/peraturan-pemerintah-no-46-
tahun-2013/ diakses 22 Oktober 2013).

Departemen Keuangan Republik Indonesia. 2010. Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor 146/PMK.03/2012 Tentang Tata Cara Verifikasi.

Departemen Keuangan Republik Indonesia. 2012. Peraturan Menteri Keuangan
Nomor.74/PMK.03/2012 Tentang Tata Cara Penetapan dan Pencabutan
Penetapan Wajib Pajak Dengan Kriteria Tertentu Dalam Rangka
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak.

Fikriningrum, W.K. 2012. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Wajib
Pajak Orang Pribadi Dalam Memenuhi Kewajiban Membayar Pajak. Skripsi.
Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.

Hardiningsih, Pancawati. 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemauan
Membayar Pajak. Dinamika Keuangan dan Perbankan, Vol.3.

IAI. 2012. Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat: Jakarta.

Koran Sindo. 1 Agustus 2013. Juknis Pajak UMKM Belum Jelas, (online),
(http://www.koran-sindo.com/node/316485 diakses 22 Oktober 2012).

Mardiasmo. 2005. Perpajakan. Andi: Yogyakarta.

Perdhana, Dkk. 2012. Analisis Pemahaman Kewajiban Perpajakan Wajib pajak
Orang Pribadi dikota Padang Studi Kasus Pada KPP Pratama Padang JL.
Bagindo Aziz Chan No.26 Padang. Universitas Putra Indonesia YPTK.
Padang.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 46 Tahun 2013. Tentang Pajak
Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.

Rustyaningsih, Sri. 2011. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib
Pajak. Widya Warta, No.02.

Rajif, Mohamad. 2011. Pengaruh Pemahaman, Kualitas Pelayanan, dan
Ketegasan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Pajak Pengusaha UKM di



Daerah Cirebon. Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas
Gunadarma.

Sanusi, Anwar. 2011. Metodologi Penelitian Bisnis. Salemba Empat: Jakarta.

Suandy, Erly. 2011. Hukum Pajak Edisi 5. Salemba Empat: Jakarta.

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Bisnis. CV. ALFABETA: Bandung.

Supadmi, 2009. Meningkatkan Kepatuhan Pajak Melalui Kualitas Pelayanan.
AUDI Jurnal Akuntansi dan Bisnis. Vol.2.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2007.

Undang-Undang Nomor Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga Atas
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata
cara Perpajakan.

Wijaya, mellyana. 2011. Pengaruh Pemahaman Akuntansi Pajak Terhadap
Kepatuhan Wajib Pajak Badan Usaha Dibidang Perdagangan di Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) Pratama. Universitas STIE Indonesia, Banjarmasin.

www.pajak.go.id. (diakses pada 25 oktober 2013).