Anda di halaman 1dari 5

Tugas Wawancara ke Panti

Nama : Lidomon*
Nim : 102012154
Kelompok : E1
Email : Lidomon@yahoo.com
*Mahasiswa fakultas kedokteran UKRIDA 2012



UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
KRIDA WACANA CHRISTIAN UNIVERSITY
FAKULTAS KEDOKTERAN
FACULTY OF MEDICINE
JL.. Arjuna Utara No. 6, Tel. 56942061 (Hunting), Fax. 5631731, jakarta 11510
E-mail: tu.fk@ukrida.ac.id

Pada hari Sabtu tanggal 14 Oktober 2012, kelas E di FK Ukrida mendapatkan kelas
skill lab ke Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih yang beralamat di Jl. Peta Utara No. 29
A Kalideres, Jakarta Barat. Panti ini dibangun pada tahun 1996 yang memiliki tujuan untuk
menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial penyandang ganda meliputi pembinaan
fisik, mental, sosial dan pendidikan dalam rangka perlindungan dan perkembangan. Panti
sosial ini dibawah naungan Dinas Sosial Pemda DKI dan dikelola oleh ibu Hj.Sri
Hartiningsih yang sudah bekerja 12 tahun di Panti Asuhan tersebut. Panti sosial ini berisi
pasien yang berumur 6-35 tahun.
Terdiri dari 67 orang laki-laki dan 33 orang perempuan. Panti ini didominasi oleh
pasien yang berumur 10-20 tahun yang kira-kira 60% dari jumlah pasien seluruhnya. 30%
pasien yang berumur 20 tahun keatas dan 10% pasien yang berumur 6-10 tahun. Dan juga
terdapat 32 orang pengawas. Pasien di panti sosial ini ialah pasien yang mengalami
keterbelakangan mental, cacatfisik, bisu, tuli, dan buta. Pasien yang berada disini bukanlah
pasien yang berasal dari titipan keluarga melainkan yang terlantar.
Di panti sosial ini, pimpinan panti mengisi waktu luang pasien dengan pendidikan
seperti mendatangkan guru SLB, mendatangkan guru menari, mengaji, dan guru untuk
mengajar bicara. Pasien yang berada disini ialah pasien yang diterima dengan cara rujukan
dari instansi / lembaga sosial atau permohonan dari keluarga / masyarakat. Jika ada keluarga
yang ingin mengambil anak mereka, maka orang tua mereka harus menunjukkan KTP, Kartu
Keluarga, melakukan perjanjian dengan panti asuhan dan harus ada surat dari polisi.
Wawancara tidak bisa dilakukan dengan sempurna karena banyak dari pasien yang berlari
saat ditanya oleh pewawancara.
Disana saya bertemu dengan pak johan yang sudah 6 tahun, di sana ia mempunyai
kesulitan untuk mengajarkan anak-anak yang mempunyai keterbelakangan itu, untuk
membuang air besar. Dan ia mengatakan kalau semua anak yang ada di panti tersebut
semuannya mempunyai bina diri yang kurang.




Hasil wawancara:
Opik(14 tahun)
Dia adalah seseorang yang suka berbagi dengan apa yang ia punya. Pada saat saya
memberikan kue, dia segera memecahkannya menjadi beberapa keping dan ia memberikan
kepada teman-teman yang dekat dengannya. Dari hasil wawancara saya dengan opik. Ia
mengatakan kalau ia senang berada di dalam panti ini dan ia sudah berada selama 4 tahun di
dalam panti ini. walaupun begitu, ia mempunyai berbagai sifat yang tidak baik. Ia sangat
mudah untuk menyerah. Ketika saya mencontohkan untuk membuat angka satu, dan saya
menyuruh opik untuk mengulanginya, ia hanya membuat setengah jalan dari angka satu. Dan
seketika ia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa. Lalu saya mencoba lagi untuk membuat
huruf A dan ia dengan lantang menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa. Ia hanya mampu
untuk menimpa kembali apa yang telah saya tulis. Akan tetapi ia sangat akrab dan
mengetahui semua pengajarnya, dan ia memperkenalkan semua pengajarnya satu per satu
kepada saya. Saya mengenal bapak johan dan bapak omo di sana. Ia mengajak saya
berkeliling panti dan saya ditunjukan foto-foto temannya. Dan ketika saya dan opik kembali
ke taman. Opik menunjukkan ke saya kalau ada kue di dalam bis yang terlihat dari kaca
depannya dan ia merengek meminta saya untuk mengambilnya. dengan hal ini saya dapat
mengetahui kalau opik sangat suka dengan kue.



Pengulangan yang dilakukan opik
Gambar abstrak yang digambar opik




Pengulangan angka 1 yang belum terselesaikan oleh opik, dimana sebelumnya dicontohkan oleh saya.

Reni (20 tahun)
Ia mengatakan kalau dirinya sudah lama berada di dalam panti ini. dia mengatakan
kalau ia mempunyai hobi untuk nari tetapi ia malu, ia suka nyanyi, nonton tv, tidur, masak.
Di panti itu ia mempunyai aktifitas untuk nyuci. Ia mempunyai fisik yang sehat,dan ia semi
bisu. Dimana ia bisa berbicara akan tetapi kurang jelas.
Hamza(25 tahun).
Menurut saya ia adalah anak yang paling bisa berinteraksi daripada anak-anak
lainnya. Ia mengalami kebutaan dan keterbelakangan mental. Ia berada di panti sejak
berumur 12 tahun, ia mengaku kalau ia pernah ditangkap oleh polisi karena razia gepeng
(gelandangan dan pengemis) di lampu merah. di dalam panti ia mendapat banyak pengajaran
dasar, seperti membaca, menari bernyanyi. Saya juga menanyakan apa hobi hamza dan ia
menjawab bahwa ia suka menulis. Saya agak bingung dengan hobi yang hamza punya,
sedangkan hamza sendiri melihat saja sudah sulit. Setelah saya berikan pulpen dan kertas ia
menulis huruf A, lalu saya tanya mengapa hanya A yang ditulis, dan ia menjawab saya
suka menulis huruf A kakak .
Lalu saya bertanya tentang keluarganya. Hamza menjawab orang tuanya sudah
meninggal sejak ia berumur 12 tahun. Orang tua hamza tidak bekerja dan karena itu orang tua
hamza menyuruh hamza agar mengemis di lampu merah untuk menghidupi keluarganya Ia
sangat senang berada di panti bersama 5 teman seperjuangan yang sama-sama di tangkap
oleh polisi di lampu merah yang sama. Semua informasi ini saya dapatkan dari hamza sendiri
yang diketahui memiliki keterbelakangan mental. Sehingga kebenaran tentang apa yang
diinformasikan belum tentu benar.
Dari ajakan-ajakan opik untuk berkenalan dengan anak-anak lainnya. Saya
dikenalkan dengan orang pertama yang bernama butet. Akan tetapi butet adalah orang yang
sama sekali tidak mau berinteraksi dengan orang lain. Saya menyodorkan tangan saya untuk
berkenalan, akan tetapi dia menolak saya dan menyuruh saya untuk menjauh. Saya mencoba
kembali memanggil butet akan tetapi respons yang ditimbulkan sama saja.
Orang kedua yang diperkenalkan opik adalah yono. Yono menderita kanker
kulit(hanya tebakan saya karena saya melihat bagian kulitnya yang menghitam dan seperti
jamur yang melebar). Saya mengajak yono untuk berkenalan dengan saya. Akan tetapi yono
menggeserkan pandangannya kesisi lain. saya mencoba lagi untuk mendekatinya, yono tetap
menggalihkan perhatiannya ke arah yang lainnya. Beberapa saat saya coba lagi dan respons
yang ditunjukkan sama saja.
Orang ketiga yang diperkenalkan opik adalah iwan, dimana iwan mau berinteraksi,
akan tetapi karena kondisinya yang bisu sehingga informasi yang diterima tidak begitu jelas.
Kesimpulan:
Saya melihat semua anak-anak yang berada disana semuanya memiliki
keterbelakangan yang berbeda-beda. Akan tetapi ada makna yang dapat diambil dari mereka
semua. Walaupun mereka keterbelakangan mental, akan tetapi mereka dapat menerima
kondisi mereka dengan apa adanya. Dan mereka memiliki semangat untuk hidup yang tinggi.
Dan dengan perjalanan ke panti ini, menjelaskan kalau empati dalam komunikasi
sangat dibutuhkan agar kita mengetahui apa yang terjadi dengan mereka dan mengerti apa
yang menjadi masalah bagi mereka.