Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH GIZI

TENTANG
IMPLEMENTASI PEMENUHAN GIZI PADA BUMIL DENGAN KASUS
HYPEREMESIS

OLEH:
KELOMPOK 5
Tingkat I.a
ANGGOTA:
PRINITA RAHMI PUTRI
RENO PUTRI MUSLIM
REZYY NOVITA SARI
SISKA RIZA
SITIFANI PUTRIAMMY ALAMS
YUNDA PUTRIMA PERNADI

DOSEN PEMBIMBING : SUPIYAH,S.Kp,M.Kep


PRODI KEBIDANAN BUKITTINGGI
POLTEKKES KEMENKES RI PADANG
TA 2010/2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat
dan karuniaNYA sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Implementasi Pemenuhan Gizi pada Bumil dengan Kasus Hyperemesis ini.
Salawat beserta salam juga tak lupa penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad
SAW. Makalah ini dibuat untuk memberikan pengetahuan terhadap gizi pada bumil yang
mengalami hyperemesis.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khsusnya
kepada :
Dosen pembimbing mata pelajaran Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi.
Rekan-rekan semua di tingkat l.A Prodi Kebidanan Bukittinggi.
Secara khusus penulis menyampaikan terimakasih kepada keluarga tercinta yang telah
memberikan dorongan dan bantuan.
Semua pihak pihak lain yang tidak tersebutkan yang telah memberikan bantuan
dalam penulisan makalah ini.

Pembuatan makalah ini tidak lepas dari kesalahan-kesalahan, baik yang disengaja
maupun yang tidak disengaja. Penulis menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di
atas muka bumi ini. Untuk itu penulis minta maaf jika ada kekurangan dalam pembuatan
makalah ini.
Penulis juga berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan
diharapkan juga pembaca dapat memberikan kritik dan sarannya kepada penulis serta
memaklumi kekurangan makalah ini.

Bukittinggi, Mei 2011


Penulis



i
DAFTAR ISI






















BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kekurangan gizi hingga kini masih menjadi masalah besar bagi dunia termasuk
Indonesia. Masalah gizi menjadi serius sebab akan berdampak pada melemahnya daya
saing bangsa akibat tingginya angka kesakitan dan kematian, serta timbulnya gangguan
kecerdasan dan kognitif anak. Golongan yang paling rentan terhadap kekurangan gizi
adalah ibu hamil, bayi, dan balita. Pada kehamilan, selain terjadi perubahan fisiologis
juga disertai perubahan psikologis. Psikologis memegang peranan yang penting dalam
timbulnya hyperemesis.
Hypermesis adalah suatu keadaan dimana ibu merasa mual dan muntah. Hypermesis
sering mengganggu pada kehamilan muda atau pada trisemester I dan telah
dikemukakan oleh 50% dari wanita yang hamil. Hypermesis biasanya terjadi pada pagi
hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih
terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih
10 minggu Mual dan muntah terjadi 60-80% primi gravida dan 40-60% multigravida.
Satu diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini
disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dalam serum pengaruh
fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau
pengosongan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan
dengan keadaan itu, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat
berlangsung sampai 4 bulan. pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan
umum menjadi buruk. Maka dengan alasan tersebut kami menyusun makalah agar
wanita yang hamil pada trisemester I tidak mengalami kekurangan nutrisi akibat mual
dengan mengatur pola makan atau menu yang sehat pada ibu yang mengalami
hypermesis.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Gizi Reproduksi dan untuk menambah peneetahuan
mahasiswa tantang diit ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum.

1.2.2 Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui pengertian diet makanan pada hiperemesis gravidarum

b. Untuk mengetahui tingkatan hiperemesis gravidarum

c. Untuk mengetahui tujuan diet hiperemesis gravidarum

d. Untuk mengetahui bagaimanakah diet komplikasi kehamilan berupa hiperemesis
gravidarum.


BAB II
BUMIL DENGAN KASUS HIPEREMESIS
2.1 Patofisiologi
a. Pengertian

a. Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah pada ibu hamil yang hebat
sehingga menggangu pekerjaan sehari-hari, dan keadaan umum menjadi buruk
(Prawirohardjo, 1996).

b. Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang terjadi secara terus-
menerus, sehingga menggangu kehidupan sehari-hari serta menimbulkan
kekurangan cairan dan terganggunya keseimbangan elektrolit (Manuaba, 1998).

c. Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil
sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena pada umumnya menjadi buruk
karena terjadi dehidrasi (Rustam Mochtar, 1998).

d. Hiperemesis Gravidarum (Vomitus yang merusak dalam kehamilan) adalah
nousea dan vomitus dalam kehamilan yang berkembang sedemikian luas
sehingga menjadi efek sistemik, dehidrasi dan penurunan berat badan (Ben-Zion,
MD, Hal:232)

e. Hiperemesis diartikan sebagai muntah yang terjadi secara berlebihan selama
kehamilan (Hellen Farrer, 1999, hal:112)

Dari beberapa pengertian di atas peneliti menyimpulkan bahwa Hiperemesis Gravidarum
merupakan komplikasi dari kehamilan yang menyebabkan mual dan muntah yang terjadi
secara terus menerus sehingga menganggu kehidupan sehari-hari serta menimbulkan
kekurangan cairan.


b. Etologi

Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor
prodisposisi yang dapat dijabarkan sebagai berikut.

Faktor adaptasi dan hormonal

Pada waktu hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi Hiperemesis Gravidarum dapat
dimasukkan dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia, wanita
primigravida overdistensi rahim, ganda dan hamil molahidatidosa. Sebagian kecil
primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen dan koreonik
gonadotropin, sedangkan pada hamil ganda dan molahidatidosa jumlah hormon yang
dikeluarkan terlalu tinggi dan menyebabkan terjadinya hiperemesis gravidarum

Faktor Psikologis

Hubungan faktor psikologis dengan kejadian hiperemesis gravidarum belum jelas, jelas besar
kemungkinan bahwa wanita yang mendadak kehamilan, takut kehilangan pekerjaan,
keretakan hubungan dengan suami, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu dan
sebagainya, diduga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidarum. Dengan
perubahan suasana dan masuk rumah sakit penderitanya dapat berkurang sampai menghilang.

Faktor Alergi

Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invasi jaringan vili karralis yang masuk kedalam
peredaran darah ibu, maka faktor alergi dianggap dapat menyebabkan terjadinya hiperemesis
gravidarum.
c . Patofisiologi

Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual dan muntah adalah akibat dari
meningkatnya kadar estrogen, oleh karena ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh
fisiologis hormon progesteron ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem syaraf pusat atau
akibat berkurangnya pengosongan lambung. Hiperemesis Gravidarum yang merupakan
komplikasi mual dan muntah pada ibu hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat
menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit, penurunan berat badan, efek sistemik
dan menimbulkan kekurangan cairan dan terganggunya keseimbangan elektrolit. Belum jelas
mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologis
merupakan faktor utama, di samping pengaruh hormonal, yang jelas wanita yang sebelum
kehamilannya sudah menderita lambung spesifik (khas) dengan gejala tidak suka makan dan
mual, akan mengalami hiperemesis gravidarum yang berat.

Hiperemesis Gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak
habis terpakai untuk keperluan energi, sehingga pembakaran tubuh beralih pada cadangan
lemak dan protein. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, terjadilah ketosis dengan
tertimbunnya asam asetan-asetik, asam hidroksitirat dan aseton dalam serum. Kekurangan
cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga
cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Melalui muntah dikeluarkan sebagaian cairan
lambung serta elektrolit natrium. Penurunan kalium akan menambah beratnya muntah,
sehingga semakin berkuarng dalam keseimbangan tubuh semakin menambah berat terjadinya
muntah. Natrium dan klorida darah turun, dengan demikianjuga klorida air kemih (
Prawiroharjo, 1996)
2.2 kebutuhan gizi
A. Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dibolehkan.

Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III adalah sebagai
berikut:

- Roti panggang, biskuit, crackers.

- Buah segar, sari buah.

- Minuman botol ringan, sirop, kaldu tak berlemak, teh, dan kopi encer.
Makanan yang tidak dianjurakan
Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III adalah
makanan yang merangsang saluran cerna dan berbumbu tajam, bahan
makanan yang mengandung alkohol, kopi, dan yang mengandung zat
tambahan (pengawet, pewarna, dan bahan penyedap).
B. Syarat atau kriteria diet hyperemesis
Tujuan diet hiperemesis adalah untuk:
Mengganti persedian glikogen tubuh untuk mengontrol asidosis.
Secara berangsur memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup.
Adapun syarat atau kriteria diet hyperemesis adalah :
1) Karbohidrat tinggi, yaitu 75-80% dari kebutuhan energi total.

2) Lemak rendah, yaitu

3) Protein sedang, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total.

4) Makanan diberikan dalam bentuk kering, pemberian cairan disesuaikan dengan
keadaan pasien, yaitu 7-10 gelas per hari.

5) Makanan mudah cerna, tidak merangsang saluran cerna, dan diberikan sering dalam
porsi kecil.

6) Bila makan pagi dan siang sulit diterima, dioptimalkan makan malam dan selingan
malam.

7) Makanan secara berangsur ditingkatkan dalam porsi dan nilai gizi sesuai dengan
keadaan dan kebutuhan gizi pasien.


Macam diet dan indikasi pemberian
Ada tiga macam diet hiperemesis, yaitu diet hiperemesis I, II, dan III

Diet hiperemesis I

Diet hiperemesis I diberikan kepada pasien dengan heperemesis berat, makanan hanya terdiri
dari roti kering, singkong bakar atau rebus, ubi bakar atau rebus, dan buah-buahan. Cairan
tidak diberikan bersama makanan, tetapi 1-2 jam sesudahnya semua zat gizi pda makanan ini
kurang kecuali vitamin C, sehingga hanya diberikan selama beberapa hari.



Diet hiperemesis II

Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah sudah berkurang. Secara berangsur
mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama
makanan. Pemilihan bahan makanan yang tepat pada tahap ini dapat memenuhi kebutuhan
gizi, kecuali kebutuhan energi.

Diet hiperemesis III

Diet hiperemesis III diberikan pada pasien dengan hiperemesis ringan. Sesuai dengan
kesanggupan pasien, minuman boleh diberikan bersama makanan, makanan ini cukup energi
dan semua zat gizi.

C. Kebutuhan total kalori.

Diet Hiperemesis
I
Diet Hiperemesis
II
Diet Hiperemesis
III
Energi (kkal) 1059 1672 2269
Protein (g) 15 57 73
Lemak (g) 2 33 59
Karbohidrat (g) 259 33 59
Kalsium (mg) 100 300 400
Besi (mg) 9,5 17,9 24,3
Vitamin A (RE) 542 2202 2270
Tiamin (mg) 0,5 0,8 1,0
Vitamin C (mg) 283 199 199
Natrium (mg) - 267 362




BAB III
PERENCANAAN PEMENUHAN DIET
A. Kasus
Bumil Ny. Z umur 28 tahun dengan berat badan kg. Hamil 12 minggu.
Mengalami hyperemesis gravidarum tingkat II.
B. Total kalori

C. Susunan menu.
Pembagian bahan makanan sehari diet hyperemesis III
Waktu Bahan makanan
Diet hiperemesis III
Berat(g) urt
Pagi
Roti 40 2 iris
Telur ayam 50 1 btr
Margarine 10 1sdm
Jam 10 1 sdm
Buah 100 1 ptg sdg pepaya
Pukul 10.00
Gula pasir 10 1 adm
Biscuit 20 2 bh
Siang
Beras 100 1 gls nasi
Daging 50 1 ptg sdg
Sayuran 50 bh bsr
Buah 100 1 ptg sdg
Minyak 5 sdm
Pukul 16.00
Buah 100 1 ptg sdg pepaya
Gula pasir 20 2 sdm
Biscuit 20 2 bh
Agar 2 sdm
Susu 200 1 g
Malam
Beras 100 gls nasi
Ayam 50 1 ptg sdg
Tempe 50 2 ptg sdg
Sayuran 75 gls
Buah 100 1 ptg sdg papaya
Minyak 5 sdm
Pukul 20.00
Roti 40 2 iris
Margarine 10 1 sdm
Jam 10 1 sdm
Gula pasir 10 1 sdm


Susunan menu sehari
Pagi Siang Malam
Roti panggang isi jam Nasi Nasi
Telur rebus
Perkedel daging
panggang
Ayam & tempe, semur

Tahu bacam Setup wortel

Setup bayam Pisang

Papaya

Pukul 10.00 Pukul 16.00 Pukul 20,00
Selada buah Selada buah Roti panggang isi selai
Susu Agar-agar Teh
Biskuit









BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah pada ibu hamil yang hebat sehingga
menggangu pekerjaan sehari-hari, dan keadaan umum menjadi buruk.

Tujuan diet hiperemesis gravidarum adalah mengganti persedian glikogen tubuh untuk
mengontrol asidosis dan memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup. Selain itu
diketahui pula bahwa diet hiperemesis terdiri dari tiga tahap.
4.2 Saran
1. Diharapkan bagi petugas kesehatan dapat memberikan pendidikan kesehatan
berupa penyuluhan bagi ibu hamil mengenai dampak yang dapat terjadi dari
komplikasi pada masa kehamilan.

2. Bagi ibu hamil agar rajin dan memeriksakan kehamilannya secara rutin
(setidaknya 1 kali setiap bulannya) dengan harapan dapat mengurangi risiko
komplikasi pada kehamilan

3. Ibu hamil sebaiknya selalu mengkonsumsi makanan yang bergizi selama
kehamilanya agar terhindar dari bahaya komplikasi kehamilan.

4. Sebaiknya ibu hamil segera menghubungi tenaga kesehatan terdekat jika terjadi
tanda-tanda komplikasi kehamilan agar dapat segera memperoleh penanganan.


DAFTAR PUSTAKA