Anda di halaman 1dari 8

MACAM - MACAM PENYAKIT

PADA GANGGUAN SISTEM MUSCULOKELETAL





Contoh :

1. Osteo porosis
2. osteo malacia
3. scoliosis
4. osteo mielitis
5. osteo arthtritis
6. rheumatoid arthtritis
7. spondilitis
8. kanker tulang
9. kelainan otot
10. amputasi
11. fraktur













OBAT OBATAN PADA SISTEM MUSKULOSKELETAL
Berikut beberapa obat yang sering digunakan pada gangguan muskuloskeletal
OBAT ANALGESIK
Merupakan obat yang mempunyai efek meringankan/ menghilangkan rasa
nyeri
Mekanisme kerja obat:
- Sentral pada hipotalamus
- Perifer menghambat pembentukan prostaglandin ditempat terjadinya
radang, mencegah sensitasi reseptor rasa sakit terhadap rangsang
mekanik dan kimiawi

A. Analgesik non opioid
o Parasetamol
- untuk nyeri ringan-sedang
- juga mempunyai efek antipiretik/menurunkan demam
- efek analgesik dan antipiretiknya sama dengan aspirin
- mempunyai efek anti inflamasi/radang sangat lemah sehingga tidak
digunakan untuk rematik
- efek samping : alergi, kurang/tidak mengiritasi lambung
- dosis lazim : 500-1000 mg, tiap 4 6 jam/hari
- pada dosis toksik (> 4000mg/hari ) kerusakan hati/hepatotoksik

o Non Steroidal Antiinflamotory Drugs (NSAIDs)
- untuk nyeri ringan-berat
- mempunyai efek analgesik dan anti inflamasi/radang
- mempunyai efek antipiretik, tetapi karena efek antipiretiknya baru
terlihat pada dosis yang lebih besar dari efek lainya, dan relative lebih
toksik sehingga hanya digunakan untuk terapi penyakit inflamasi; seperti
RA,OA, spondilitis ankilosa, dan penyakit pirai
- dapat mengiritasi lambung
- untuk mengurangi efek samping pada saluran cerna dapat diberikan pada
kondisi lambung terisi/setelah makan
- bekerja pada enzim siklooksigenase (COX);
COX
1
enzim yang penting pada pembentukan prostaglandin
(PG) yang melindungi saluran cerna, trombosit, dan ginjal
COX
2
enzim yang bertanggungjawab terhadap produksi
prostaglandin oleh sel yang terlibat dalam peradangan


Contoh obat:
1. Ibuprofen (peroral)
- Dosis : 1200-1800 mg/hari, dalam 3-4 kali/hari
2. Diklofenak (peroral, topical)
- Dosis peroral : 50-150 mg/hari, dalam 2-3 kali/hari
3. Ketoprofen (peroral, rectal)
- Dosis peroral : 100-200 mg/hari, dalam 2-4 kali/hari
4. Piroxicam (peroral, topical)
- Dosis peroral : 100-300 mg/hari, dalam 1-3 kali/hari
5. Ketorolac (parenteral)
- Dosis : 10-30 mg/hari, tiap 4-6 jam/hari
6. Celecoxib (peroral) selektif terhadap COX
2

- Dosis peroral : 100-400 mg/hari, dalam 1-2 kali/hari
7. Aspirin/asetosal (peroral)
- dosis lazim : 300-900 mg, tiap 4 6 jam/hari


B. Analgesik Opioid
Adalah golongan obat penghilang nyeri alamiah, semi sintetis dan sintetis
yang sifat-sifatnya sama atau hampir sama dengan opium atau morfin
Penggunaan utama opioid ini untuk menghilangkan rasa nyeri yang tidak
hilang dengan analgesik biasa
Analgesia terjadi tanpa hilangnya kesadaran
Efek samping ; mual dan muntah, depresi pusat pernafasan dan menimbulkan
adiksi (kecanduan) serta ketergantungan psikis dan fisik pengadaan dan
distribusi diatur UU dan diawasi ketat pemerintah
Disebut juga sebagai opiat (obat yg diturunkan dari opium, seperti morfin,
codein) atau narkotik (karena menurunkan kesadaran)


Penggolongan Analgesik opioid, menurut sumber dan zat kimianya:
1. Golongan morfin dan alkaloid alamiah lainnya
2. Golongan opioid semi sintetis diturunkan dari rumus molekul morfin,
contoh; heroin, codein
3. Golongan opioid sintetis, tidak mempunyai kaitan dengan rumus molekul
opioid tetapi mempunyai efek hampir sama dengan opioid, contoh;
meperidin.



Contoh obat opioid yang sering digunakan dalam terapi :
o Morfin (peroral, parenteral)
- Morfin dan alkaloid opium diperoleh dari opium (candu) yg berasal dari getah
kering tanaman Papaver somniferum
- Morfin dosis terapeutik pada pasien yang mengalami nyeri nyeri
berkurang/nyeri hilang. Selain mengantuk, beberapa pasien mengalami
euphoria
- Morfin dosis terapeutik pada individu normal yang tidak mengalami nyeri
timbul akibat yg tidak menyenangkan, mual dan muntah bisa terjadi,
- Dosis parenteral (i.m, s.c) : 10 mg setiap 4 jam (nyeri akut)
- Dosis peroral : 5-20 mg/hari, dalam 4 kali/hari

o Codein (peroral, parenteral) dikonversi menjadi morfin timbul efek
- Dosis oral/perenteral : 15-60 mg/hari, tiap 4-6 jam/hari

o Tramadol (peroral, parenteral) analog codein sintetik
- Untuk nyeri ringan-sedang
- Untuk nyeri berat kurang efektif
- Dosis peroral/parenteral : 50-100 mg 4 kali/hari

o Fentanil (parenteral, topical)
- Suatu opiod sintetik
- 100 kali lebih kuat dibanding morfin sebagai analgesic

OBAT KORTIKOSTEROID
Memberikan efek sebagai anti inflamasi/radang
menghambat manifestasi awal dan akhir inflamasi, yakni tidak hanya tanda-
tanda radang (kemerahan, panas, sakit, edema, gangguan fungsi), tetapi juga
stadium lanjut penyembuhan luka dan perbaikan dan reaksi proliferasi yang
terlihat pada inflamasi kronis
Efek samping penggunaan jangka panjang/dosis besar
- Supresi respon terhadap infeksi
- Osteoporosis
- Moon face
- Hiperglikemi
- Euphoria, dll


Contoh obat kortikosteroid:
1. Dexamethasone (peroral, parenteral)
Dosis peroral/parenteral : 0,75-9 mg/hari, dalam 6-12 jam/hari
2. Methylprednisolone (peroral, parenteral)
- Dosis peroral : 2-60 mg/hari, dalam 1-4 kali/hari
- Dosis perenteral : 10-80 mg/hari, dalam 1 kali/hari
3. Triamcinolone (peroral)
- Dosis peroral : 4-48 mg/hari, dalam 2-3 kali/hari


OBAT ANTI PIRAI/GOUT
Serangan pirai akut terjadi akibat peradangan terhadap kristal natrium urat
yang terdeposit dalam jaringan sendi
Contoh obat-obatan yang digunakan dalam penanganan serangan pirai:
1. Kolkisin
- Efek anti radang kolkisin hanya efektif terhadap arthritis pirai akut
- Tidak mempunyai efek analgesik
- Tidak mempengaruhi ekskresi, sintesis kadar asam urat dalam darah
- Dosis tunggal i.v 2 mg, diencerkan dalam 10-20 ml larutan NaCl 0,9%.
Dosis max : 4 mg (serangan akut)
- Dosis oral : 0,5 mg dalam 2-4 kali/minggu (profilaksis)
- Sebelum dan setelah pembedahan pada pasien pirai, diberikan selama
3 hari (dosis : 0,5 mg , 3 kali/hari), ini sangat menurunkan insiden
serangan akut arthritis pirai yang sangat tinggi yang dipicu oleh
tindakan operasi
- Efek samping: mual, muntah, diare, depresi sumsum tulang, alergi,

2. Allopurinol
- Menghambat tahap akhir biosintesis asam urat
- Menurunkan konsentrasi asam urat hingga < 6 mg/dl
- Dosis lazim 100-300 mg/hari
- Dosis > 300 mg/hari harus dalam dosis terbagi.
- Dosis max 800 mg/hari
- Efek samping; kulit kemerahan, demam, pruritus, leucopenia,
gangguan saluran cerna,

3. Probenesid
- Meningkatkan laju ekskresi asam urat
- Dosis 250 mg, diberikan 2 kali/hari
- Efek samping; gangguan saluran cerna, nyeri kepala, alergi

OBAT-OBATAN IMMUNOSUPRESSAN / DMARD
Digunakan hanya untuk rematoid arthritis; pada dosis rendah.
1. Penicillamin
- Dosis oral : 125-250 mg/hari, selama 1 bulan
- Dosis max : 1500mg/hari
- ES : skin rash, nefrotoksik

2. Methotrexate
- Dosisi oral : 7,5-15 mg 1x/minggu
- ES : mual, muntah, diare, hepatotoxicity, pulmonary toxicity

3. Sulfasalazin
- Dosis oral : 500 mg/hari, selama 1 minggu
- ES : mual, muntah, sakit kepala, hearth burn


BLOKER NEUROMUSKULAR
bekerja menghambat transmisi kolinergik antara ujung saraf motorik dengan
reseptor nikotinik pada reseptor nikotinik
Reseptor nikotinik terdapat dalam SSP, medula adrenal, ganglion-ganglion otonom,
dan di sambungan saraf otot (myoneural junction).
Mekanisme kerja :
a. blokade nondepolarisasi bekerja dengan penghambatan kompetitif, berikatan
dengan reseptor nikotinik dan mencegah ACh berkombinasi dengan reseptor.
Contoh : tubokurarin, atrakurium, pankuronium, rokuronium, vekuronium,
b. Blokade depolarisasi berikatan dengan reseptor ACh dan menyebabkan
depolarisasi. Contoh : suksinilkolin











Penggolongan bloker neuromuskular
Senyawa Onset (mulai berefek), menit Durasi (lama efek),menit
Suksinilkolin 1-1,5 Sangat singkat, 5-8
Tubokurarin 4-6 Lama, 80-120
Atrakurium 2-4 Sedang, 30-60
Doksakurium 4-6 Lama, 90-120
Mivakurium 2-4 Singkat, 12-18
Pankuronium 4-6 Lama, 120-180
Pipekuronium 2-4 Lama, 80-100
Rapakuronium 1-2 Sedang, 15-30
Rokuronium 1-2 Sedang, 30-60
Venkuronium 2-4 Sedang, 60-90



ANTIBIOTIK PADA PENYAKIT MUSKULOSKELETAL
Antibiotik adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau dihasilkan secara
sintetik yang dapat membunuh atau menghambat perkembangan bakteri dan organisme lainnya.
Secara umum terapi dengan antibiotika dibagi 2:
1. Terapi secara empiris
Pemilihan antibiotik berdasarkan perkiraan kuman penyebab. Pertimbangan terapi ini untuk
memperkecil resiko komplikasi atau perkembangan lebih lanjut dari infeksinya.
2. Terapi definitif
Berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologis yang sudah pasti, yaitu jenis kuman dan
kepekaan terhadap antibiotika.

Kuman penyebab infeksi :
1. Kuman gram positif:
a. Aerob : streptokokus, stafilokokus, basilus, treponema, kosinbakteria,
b. Anaerob : klostridium (C.tetani, C.ganggren,)
2. Kuman gram negatif:
a. Aerob : N.gonorhoe, E.coli, klebsiela, salmonella, sigella, pseudomonas,
b. Anaerob : bakteriuodes, fusobakterium

Contoh anti biotik yang sering digunakan:
Sefalosforin generasi III : misal, cefotaxime, ceftriaxon. Paling sering digunakan pada terapi
infeksi yang berkaitan dengan penyakit musculoskeletal.
Makrolida : misal, klindamisin. Didistribusikan secara luas ke tulang, cairan dan jaringan.
Tidak efektif untuk bakteri gram negatif.
Aminoglikosida : misal, gentamisin, tobramisin, amikasin, streptomisin, neomisin. Obat
utama untuk pengobatan infeksi gram negatif.
Meropenem : untuk pengobatan infeksi gram negatif.