Anda di halaman 1dari 3

Sistem Drainase Jakarta Buruk

Pekerja melakukan perbaikan aspal di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara, kemarin. Perbaikan tersebut dilakukan
untuk memperbaiki jalan yang berlubang akibat sering terjadi genangan banjir.
JAKARTA Sistem jaringan saluran air (drainase) di Ibu Kota buruk. Banjir yang menimpa daerah ring 1 Ibu Kota
pada Rabu (5/2) bukan akibat curah hujan terlalu tinggi, melainkan lebih disebabkan sarana penanggulangannya
yang tidak bagus.
Tidak ada kaitannya hujan deras di Jakarta Rabu kemarin dengan banjir di wilayah ring 1. Waduk dan situ Melati
dan Setia Budi tidak ada yang meluber. Ini menunjukan sistem saluran air tidak berfungsi dengan baik, ungkap
Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti Nirwono Joga, kemarin. Seperti diketahui, banjir Jakarta
makinmemprihatinkan. Salah satu buktinya adalah tergenangnya kawasan Ring 1 Ibu Kota terutama jalan di
depan Istana Merdeka pada Rabu (5/2) pagi yang sebelumnya sangat jarang dihampiri banjir.
Hujan yang mengguyur Ibu Kota pada Rabu pagi tersebut juga menggenang kawasan lainnya di sekitar
Monumen Nasional. Kemacetan parah akibat banjir juga tak bisa dihindari. Banjir juga telah mengganggu
pelayanan bus Transjakarta dan KRL Commuter Line di sejumlah tempat. Bahkan, kemarin titik-titik banjir masih
banyak yang belum surut. Berdasarkan Data BPBD DKI, kemarin banjir dan genangan air masih merendam 24
kelurahan di 14 kecamatan dengan 431 RT dan 100 RW. Sebanyak 27.399 kepala keluarga (KK) atau 91.789
jiwa terdampak banjir.
Sebanyak 12.662 warga pun terpaksa mengungsi di 67 lokasi yang tersebar di seluruh wilayah Kota Jakarta.
Lebih jauh, Nirwono mengungkapkan, dalam penanganan ancaman banjir, Jakarta perlu memiliki sistem jaringan
saluran air sangat terjaga dan terkendali. Mulai dari tingkat mikro, sub makro dan makro. Maka dari itu perlu
dibuat baragam jenis bentuk prasarana banjir berupa waduk, situ, drainase, gorong-gorong maupun saluran
kecil, kata Nirwono.
Tujuannya agar kawasan protokol harus aman dari ancaman banjir. Karena di sekitar jalan itu terdapat Istana
Merdeka, sejumlah kantor kementerian, kantor BUMN, swasta maupun kantor Pemprov DKI Jakarta.
Menurutnya, beberapa banjir yang terjadi di Jakarta beberapa waktu terakhir juga tidak semua dipicu oleh banjir
kiriman dari daerah hulu. Karena, banjir tidak semuanya terdampak di daerah aliran sungai besar. Tidak sedikit
daerah terkena banjir di areal yang jauh dari aliran sungai, seperti genangan yang merendam jalan raya.
Semua itu disebabkan oleh saluran air yang tidak ada berfungsi optimal. Kalau drainase berfungsi, air tidak
akan menggenang sampai setinggi 30-70 cm, jelasnya. Sementara, banjir akibat kiriman air dari daerah hulu
sebagian besar hanya menggenangi wilayah sepadan sungai atau dekat dengan daerah aliran sungai (DAS).
Banjir di lokasi tersebut tidak tergantung tingginya curah hujan. Tak mengherankan, jika tidak ada hujan pun di
kawasan Kampung Pulo Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur seringkali kebanjiran. Begitu
juga dengan banjir di bagian utara Jakarta, lebih karena permukaan air laut naik atau pasang.
Makanya jangan serta merta menyalahkan daerah hulu. Pemprov DKI Jakarta juga harus memerhatikan
infrastruktur miliknya, ujar Nirwono. Dia menyarankan Pemprov DKI Jakarta menginspeksi lagi semua
infrastruktur banjir tersebut. Termasuk juga kavling bangunan di sepanjang jalan protokol. Bangunan tersebut
harus memiliki areal tampungan atau resapan air. Supaya air jatuhan hujan di setiap kavling itu tidak melimpah
ke goronggorong atau drainase.
Setiap bangunan harus menerapkan zero run of, sebutnya. Pengamat perencanaanpembangunan nasional
Syahrial Loetan mengungkapkan untuk mengatasi banjir dan menekan angka kerugian dampak dari bencana
alam tersebut di wilayah DKI Jakarta dapat dilakukan dengan memperkuat koordinasi antar-institusi pemerintah
yang terkait dengan kawasan ibu kota negara itu.Perlunya upaya koordinasi antara Pemerintah Pusat,
Pemerintah DKI, Pemerintah Jawa Barat, serta Kabupaten-Kabupaten yang terkait dengan masalah banjir,
katanya.
Menurut Syahrial, upaya koordinasi itu perlu secara spesifk dituangkan dalam perencanaan pengkajian bersama
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), pemberian izin, dan penegakan hukum. Dengan koordinasi itu, ujar dia,
diharapkan dapat terjaga konsistensi dan sinkronisasi dari setiap langkah atasi banjir. Dia juga mengemukakan
perlunya penegakan hukum yang tegas dan secara proporsional di dalam penangan banjir Jakarta. Izin-izin
yang sudah telanjur dikeluarkan perlu penanganan yang optimal agar segera dapat diselesaikan. Bagi
bangunanbangunan yang berada di sana tanpa izin tentunya harus diupayakan penyelesaian yang lebih keras,
ujarnya.
Syahrial juga menekankan adanya evaluasi terhadap RTRW sudah sangat mendesak agar terdapat kejelasan
status bagi setiap pihak yang berkepentingan. Hasil evaluasi dan pengkajian itu, harus dapat diinformasikan
kepada masyarakat luas sehingga dapat dihindari dampak negatif yang mungkin timbul karena adanya spekulan.
Mulai Pesimistis
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tampaknya mulai pesimis bisa menyelesaikan masalah banjir di Ibu
Kota. Menurut dia, penanganan banjir di Jakarta membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Masalah banjir tidak
bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Prosesnya panjang dan waktu yang diperlukan juga lama. Jadi, tidak bisa
cepat-cepat, kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta Pusat, kemarin.
Menurut dia, sampai dengan saat ini, pihaknya telah mengerahkan seluruh daya dan upaya dalam mengurangi
banjir atau genangan air yang ada di wilayah Kota Jakarta. Dari tahun kemarin, kita sudah coba lakukan
berbagai penanganan, mulai dari hulu ke hilir. Kita lakukan semuanya. Tapi, tetap saja semua itu perlu waktu, kita
tidak bisa tergesa-gesa, ujar mantan Wali Kota Solo ini. Dia menuturkan penyelesaian masalah banjir di Jakarta
juga tidak dapat dilakukan sendiri oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI, sehingga harus ada kerja sama
dengan pemerintah pusat.
Terdapat 13 sungai besar yang melewati Kota Jakarta dan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.
Sedangkan, sebanyak 884 sungai kecil merupakan tanggung jawab kita (Pemprov DKI), tutur Jokowi. Selain
kerja sama dengan pemerintah pusat, dia mengungkapkan Pemprov DKI juga harus menjalin koordinasi dengan
wilayah lain yang berada di sekitar Jakarta. Jadi, Pemprov DKI juga harus berkoordinasi dengan beberapa
wilayah disekelilingnya, misalnya Pemprov Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Bogor. Dengan begitu, maka
masalah banjir bisa selesai, ungkap Jokowi.
Terkait banjir di sekitaran Istana Merdeka, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
mengungkapkan, penyebab banjir di kawasanIstana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara disebabkan karena
banyaknya sampah yang menutupi saluran air. Seharusnya, kata Ahok, wilayah Istana tidak mungkin tergenang
air karena posisi Pintu Air Istiqlal masih rendah. Mungkin setelah satu bulan banjir terus itu, kita ada sampah-
sampah yang buntu saluran. Nah itu penyebabnya. Karena sebenarnya komposisi laut kita lepas, begitu lautnya
rendah kita buka pintu air langsung turun, kata Ahok di Jakarta, Rabu (5/2).
Kepala Dinas Pekerjaan Umum(PU) DKIJakartaManggas Rudy Siahaan mengatakan tengah melakukan
pengecekan saluran penghubung yang terhubungan dengan kawasan sekitar Monas. Dia menganggap
saluranairdisekitararealitutidak mampu menampung curah hujan. ilham safutra/ okezone/ant
http://www.koran-sindo.com/node/365312