Anda di halaman 1dari 59

BAB III : BESI & PADUANNYA

BESI & PADUANNYA


A. Struktur mikro logam & paduan.
1. Struktur mikro
2. Struktur makro paduan
3. Paduan fasa tunggal
4. Sifat paduan fasa tunggal
5. Pemrosesan paduan fasa tunggal
6. Struktur mikro paduan fasa ganda
7. Diagram fase
B. Struktut makro
1. Kekosongan
2. Inklusi
3. Segregasi
4. Struktur serat
C. Pengaruh pengerjaan mekanik
1. Pengaruh pengerjaan mekanik terhadap sifat-sifat logam
2. Pengaruh pemanasan terhadap sifat-sifat logam
3. Proses pengerasan endapan
4. Proses laku panas
D Deformasi elastik & deformasi plastik.

A. Struktur mikro & makro logam
Logam merupakan bahan yang lebih sederhana bila
dibandingkan dengan dua kelompok bahan utama lainnya
polimer & keramik. Hal ini memang suatu kenyataan, oleh
karena banyak logam hanya terdiri dari satu jenis atom
atau merupakan larutan padat seperti kuningan dimana
seng menggantikan tembaga tanpa ada perubahan
struktur. Oleh karena itu akan diteliti hubungan antara
struktur dan sifat logam.
Dalam membahas deformasi elastik & plastik atau
perpatahan harus diperhatikan struktur kristalin maupun
struktur mikro. Suatu hal yang baru adalah
menghilangkan ketidak sempurnaan struktur yang terjadi
sebelumnya dengan menganil logam. Setelah menelaah
struktur atom, perlu pula ditinjau kaitannya dengan
struktur bahan yang utuh. Tidak terdapat tahapan yang
jelas kapan konglomerasi atom yang menghasilkan ciri
yang dapat diamati dengan mikroskop optik.
Akan tetapi sebelum tersedia mikroskop elektron ahli
metalurgi menggunakan mikroskop optik untuk
menetapkan batas ukur bagian struktur mikro. Struktur
yang berukuran lebih kecil dari 10
-4
mm dianggap
berskala atomik atau molekuler. Sedang yang berukuran
lebih besar dari 10
-4
mm atau sama dengan 1 mm disebut
struktur mikro dan yang lebih besar dari 1mm disebut
berskala struktur makro. Penggolongan seperti ini masih
tetap berlaku.
Apabila atom berbagai jenis unsur logam dicampur, dapat
terjadi paduan dan akan terbentuk bermacam-macam
struktur mikro.
A. Struktur mikro logam & paduan
1. Struktur mikro.
merupakan struktur logam yang mempunyai ukuran 10
-4

mm sampai 1 mm dan bila lebih besar dari 1 mm disebut
dengan struktur makro.
2. Struktur mikro paduan.
Bila atom berbagai jenis logam dicampur dapat terjadi
paduan dan akan terbentuk bermacam-macam struktur
mikro.
Ahli metalurgi telah mengembangkan suatu diagram yang
disebut diagram fase yang dapat memberikan informasi
megenai perubahan struktur yang mungkin terjadi bila
berbagai unsur logam dan non logam dicampurkan.
3. Paduan fasa tunggal.
Adalah logam yang terdiri dari beberapa unsur logam dan
logam paduan yang memiliki satu fasa. Logam paduan
satu fasa yang terdiri atas satu komponen merupakan
logam murni, komersial dan banyak digunakan secara
meluas.
4. Sifat paduan fasa tunggal.
Logam paduan lebih kuat dan lebih keras dari logam
murni, ini disebabkan adanya atom-atom yang larut
kemudian menghambat pergerakan dislokasi dalam
kristal-kristal logam tersebut.
Struktur mikro logam paduan fasa tunggal.
Butir merupakan kristal individu. Bahan yang berbutir
banyak disebut poligranular atau polikristallin. Struktur
mikro dengan fasa tunggal dapat diubah dengan
mengubah-ubah :
1. ukuran butir
2. bentuk butir
3. orientasi butir.
Ketiga aspek ini saling bergantungan karena bentuk dan
ukuran butir bergantung pada pertumbuhan butir dan
orientasi kristal selama pertumbuhan.

Gambar : variabel struktur mikro logam fasa tunggal.
5. Pemrosesan paduan fasa tunggal.
Proses permulaan yang dialami sebagian besar logam
adalah pengecoran. Dalam keadaan cair logam tersebut
dimurnikan secara kimia untuk menghilangkan ketidak
murnian. Langkah selanjutnya, logam cair dituang
kedalam cetakan dan dibiarkan membeku, cetakan
berbentuk benda akhir sesuai keinginan seperti lonceng
perunggu atau coran dimana jika telah membeku
memerlukan permesinan lebih lanjut.
Cetakan lain dapat juga berbentuk balok logam yang
memerlukan pengolahan lanjutan berupa pengerjaan
mekanik berupa : batang; kawat; pipa; pelat; benda
tempa lain dlsb. Selama mengalami proses mekanik,
bentuknya berubah. Pada benda bekerja gaya-gaya
melebihi kekuatan luluh. Oleh karena itu pengerjaan
mekanik pada balok logam yang besar dilakukan pada
suhu yang tinggi karena bahan lebih lunak dan ulet.

Pada suhu tinggi energi deformasi yang diiperlukan lebih
rendah dan kemungkinan terjadi perpatahan selama
proses pembentukan sedikit.
Pencairan, penempaan dan ekstrusi adalah proses
deformasi panas yang lazim dijumpai.

6. Struktur mikro paduan fasa ganda.
Logam paduan fasa ganda adalah logam yang terdiri dari
dua fasa atau lebih. Pada struktur ini; ukuran, bentuk,
orientasi dan perbandingan jumlah fasa masing-masing
sehingga terdapat distribusi fasa yang berbeda yaitu :
ukuran fasa, jumlah fasa, bentuk dan distribusi fasa.

Ukuran fasa (gambar),
baja pada gambar (a) ditempa selama 1 jam membentuk
partikel kecil. Pada gbr.(b) ditempa selama 12 jam
sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk bersatu
membentuk partikel besar.
Kedua struktur mikro tersebut berasal dari baja yang
sama, jadi komposisinya sama, dimana keduanya
mengalami pemanasan dan dicelup sampai mencapai
kekerasan maksimal.

* Jumlah fasa.
sejumlah baja mempunyai komposisi fasa yang berbeda-
beda. Jika dua baja mempunyai berat jenis yang hampir
sama maka fraksi volume kedua fasa mendekati fraksi
beratnya.
* Bentuk & distribusi fasa.
dapat dijumpai pada baja dengan komposisi C(0,8) &
Fe(99,2) pada gambar ini.
Pada gambar (a) : struktur dari baja beerbentuk
memanjang dimana kadar C dalam jumlah kecil
memisahkan diri.
Pada gambar (b) : baja dipanaskan untuk waktu yang
lama sehingga strukturnya memanjang tadi menggumpal
menjadi bentuk bulatan.
Diagram fasa
Diagram fasa ialah diagram yang menunjukkan fasa yang
ada pada suhu tertentu atau komposisi paduan pada
keadaan keseimbangan (equilibrium), bila semua reaksi
yang mungkin terjadi telah selesai.
Jadi diagram ini dapat digunakan sebagai peta.
Nama fasa
Beberapa fasa larutan padat diberi nama-nama tertentu.
Kuningan ialah fasa dari seng dalam tembaga.
Perak sterling ialah fasa larutan padat tembaga dalam
perak.
Ferit ialah fasa besi yang mengandung larutan.
Austenit ialah besi yang mengandung elemen
tambahan.

Huruf-huruf yunani , , banyak digunakan karena
lebih mudah,
jadi dan adalah fasa dalam sistem Pb-Sn.
Nama , terdapat pada hampir semua sistem dan
diberikan pada fase pertamanya.
Batas daya larut padat.
Pada diagram Pb-Sn, bahan padat yang kaya timah
hitam terdapat atom timah putih yang larut dalam struktur.
Jumlah ini berkisar antara 29 % atom Sn atau 19 %
berat dalam bahan padat yang kaya Pb pada 183
0
C dan
10 % atom Sn pada 300
0
C. Bahan padat yang kaya Sn
dapat mengandung 2,5 % berat atau 1,5 % atom Pb
pada 183
0
C, kedua fasa disebut diberi sebutan dan .
Batas daya larut padat mempunyai harga maksimum
pada suhu Euteknik.
Baik batas atas maupun dibawah 183
0
C jumlah timah
putih yang dapat larut dalam kps, yang kaya akan timah
hitam, menurun. Hal serupa terjadi pada timah hitam
pada 183
0
C, maksimal 2,5 % berat timah hitam larut
dalam tpr yang kaya akan timah putih.
Pada diagram Pb-Sn, pada 50 % timah putih dan suhu
100
0
C, diagram menunjukkan bahwa terdapat dua fasa
padat yaitu ;
1. larutan padat yang kaya timah hitam dengan
sedikit timah putih yang larut.
2. yang hampir seluruhnya terdiri dari timah putih
dengan sedikit timah hitam.
Pada 200
0
C, paduan 10 % Sn dan 90 % Pb terdapat
didaerah yang seluruhnya terdiri dari fasa , yang
merupakan larutan padat dari timah hitam dengan sedikit
timah putih. Pada suhu yang sama tetapi dengan
komposisi 30 % Sn dan 70 % Pb, diagram fasa
menunjukkan bahwa ada campuran dari dua fasa yaitu
cairan dan larutan padat , bila paduan ini dipanaskan
sampai 300
0
C kseluruhannya akan mencair.
Contoh lain ialah paduan tembaga dengan seng yang
disebut kuningan merupakan bahan teknik serba guna.
Campuran seng-tembaga tersebut dapat digambarkan
pada suatu diagram fase untuk sistem tembaga-seng
dengan kandungan hingga 50 %, seperti terlihat pada
gambar dibawah ini. Kuningan yang merupakan larutan
padat seng dalam kisi kristal tembaga. Sangat ulet, lunak
& mudah dibentuk.
Ada gambar :
Bila kadar seng bertambah, kekuatan kuningan naik dan
diperoleh berbagai kombinasi yang rata-rata mudah
dibentuk. diagram fasa menunjukkan perbandingan
struktur kristal yang terdapat pada kombinasi tertentu.
Garis miring yangmenentukan daerah-daerah pada
diagran fase tembaga-seng. Pada gambar bertanda
cairan menunjukkan bahwa titik cair paduan tembaga-
seng berkurang dengan meningkatkan kadar seng.

Diagram fase sistem tembaga-seng dipakai sebagai
contoh untuk menjelaskan pentingnya diagram tersebut.
Diagram ini banyak bermanfaat untuk menentukan
komposisi bahan dan penentuan proses produksi yang
akan ditempuh.
B. Struktur makro logam
B. 1. Kekosongan.
ada dua penyebab terjadinya kekosongan yaitu
gelembung udara atau gas dan rongga susut.
Gelembung gas mungkin terperangkap dalam logam
yang akan dilebur dan gas meninggalkan larutan sewaktu
logam didinginkan tetapi tidak sempat keluar sebelum
terjadi pengerasan.
Rongga susut terjadi karena logam susut sewaktu
membeku. Cairan yang terdapat ditengah cetakan dapat
mengisi kekosongan ditempat lainnya. Bila hal ini tidak
mungkin maka akan terbentuk rongga.
B. 2. inklusi.
Ketika logam membeku kotoran bukan logam yang terda
pat didalamnya akan terperangkap. Kotoran tersebut
dapat berupa partikel oksida halus, bahkan dapat berupa
keramik. Inklusi ini dapat melemahkan bahan karena
mengurangi daya tahan beban.
B. 3. Segregasi.
Ialah perubahan komposisi kimia secara bertahap pada
penampang logam, biasanya dijumpai pada coran.
Segregasi terbagi atas :
a. segregasi gravitasi
b. segregasi normal
c. segregasi inversi
a. segregasi gravitasi.
dapat didefinisikan sebagai pemisahan bertahap dari
bahan akibat perbedaan berat jenis pada waktu proses
pembekuan berlangsung.
Contohnya : pemisahan kubus-kubus SbSn pada paduan
timah-timbal-antimon yang digunakan untuk membuat
bantalan logam putih.
b. segregasi normal
dapat didefinisikan sebagai pertambahan bertahap
bagian-bagian yang mempunyai titik cair rendah yang
terhimpun dalam bagian terakhir coran yang akan
membeku.

c. Segregasi inversi.
Merupakan kebalikan dari segregasi normal. Bagian
bahan yang titik cair rendah terdapat diluar bagian coran.
B. 4. Struktur serat.
Bila logam yang mengandung kekosongan, inklusi dan
segregasi diubah bentuk melalui pengerjaan panas atau
dingin, didiskontinuitas atau cacat tersebut akan ikut
tertarik dalam arah pembentukan dan terjadilah struktur
serat yang mirip struktur serat kayu, serat merupakan ciri
struktur penting pada komponen logam, baik komponen
besar atau kecil. Terjadinya serat selama proses
pembentukan merupakan salah satu penyebab mengapa
produk tempa lebih unggul dari pada coran.
C. Pengaruh pengerjaan mekanik &
pemanasan

C.1. Pengaruh pengerjaan mekanik terhadap sifat-
sifat logam.
Pengerjaan mekanik pada struktur coran akan
menimbulkan deformasi yang berat. Selain mengubah
bentuk struktur akan terjadi pula rangkaian dislokasi dan
sebagian energi yang digunakan akan tersimpan dalam
logam. Bila pengerjaan dilakukan pada temperatur tinggi,
atom terdifusi dengan cepat dan rangkaian dislokasi
ditiadakan hampir secepat pembentukannya.
Oleh karena itu tidak terjadi penimbunan energi regangan
yang berarti didalam kristal. Sebaliknya struktur coran
pecah atau rusak dan akan timbul batas butir baru. Butir
baru cendrung berbentuk polihedral. Bila pengerjaan
dilaksanakan pada temperatur yang lebih rendah, yang
menyebabkan difusi berlangsung dengan lambat akan
terbentuk rangkaian dislokasi dan sebagian energi
deformasi ditimbun dalam butir. Dalam kondisi ini
Kekuatan logam bertambah sedangkan keuletannya
berkurang dibanding keadaan semula.
C. 2. Pengaruh pemanasan terhadap sifat logam.
Sifat bahan dapat dirubah melalui pemanasan yang
disusul dengan pendinginan, yang menyebabkan
terjadinya struktur mikro. Perubahan struktur ini
menghasilkan proses-proses baru yang meningkatkan
kemampuan bahan sehingga bertambah daya guna
teknik bahan-bahan tersebut.
Proses yang sering digunakan ialah :
a. proses anil
b. proses normalisasi
a. Proses anil
Pada proses ini bahan dipanaskan sampai suhu tinggi
disusul dengan pendinginan perlahan-lahan.
Gelas dianil untuk menghindarkan terjadinya retak-retak.
Anil tidak merubah kekerasan gelas yang digunakan.
Kuningan yang alami pendinginan anil bertujuan untuk
melunakkannya. Selama proses anil kuningan mengalami
rekristalisasi.
Pada besi cor mengakibatkan meningkatnya keuletan.
b. Proses normalisasi
Kebanyakan produk memerlukan struktur yang seragam.
Struktur yang lebih seragam dapat dihasilkan melalui laku
panas yang sesuai.
Dalam proses normalisasi ada :
1. homogenisasi
2. normalisasi
1. Homogenisasi
Proses ini bertujuan untuk menyeragamkan komposisi
bahan yang dilakukan terhadap logam cor pada
pembekuan. Benda padat pertama yang dibentuk tidak
sama dengan komposisi meneluruh. Proses ini dilakukan
pada suhu tinggi sekali asalkan logam tidak mencair dan
tidak menimbulkan pertumbuhan butir yang berlebihan.
Beberapa atom harus berdifusi cukup jauh dibandingkan
dengan skala atom, karena itu logam perlu dipanaskan
diatas suhu rekristalisasi agar homogenisasi dapat
terlaksana dalam batas waktu yang wajar.
2. Normalisasi
Proses ini bertujuan untuk membentuk struktur mikro
dengan butir halus dan seragam terhadap baja. Proses
ini dilakukan dengan cara austenisasi 50
0
C - 60
0
C
dalam daerah austenit murni disusul dengan pendinginan
udara. Pendinginan udara mencegah timbulnya segresi
pra-autektoid yang berlebihan, karena tidak diperlukan
kekerasan yang rendah, produk dpat dikeluarkan dari
dapur dan didinginkan dalam udara sehingga dapur dapat
digunakan untuk pemanasan produk lain.
C. 3. Proses pengerasan endapan.
Pengerasan ini dapat dilakukan pada berbagai sistem
paduan, sering dijumpai pada aluminium dan tembaga.
Proses pengerasan endapan dilaksanakan dalam dua
tahap. Tahap 1 :
Perlakuan panas pelarutan, disini bahan dipanaskan
untuk membentuk larutan padat homogen, yang tetap
memiliki komposisinya setelah pencelupan.

Apabila pencelupan kurang cepat akan timbul nukleasi
atau bila pelarutan selama pemanasan awal tidak
sempurna, pengerasan precipitasi kurang baik.
Tahap 2 : Larutan mestabil kemudian disepuh pada suhu
tinggi untuk waktu tertentu, sehingga terjadi difusi antara
atom dengan cepat. Kemudian mungkin terjadi
pengelompokan atom larut dalam kisi kristal pelarut.
Ukuran kritis dan dispersi kelompok untuk menghasilkan
tingkat pengerasan precipitasi yang diinginkan tergantung
pada jenis paduan.
4. Proses laku panas pada baja komersial.
Proses ini dilakukan dalam berbagai cara yaitu :
a. prses anil
b. proses celup
c. proses celup terputus
d. proses temper.
a. Proses anil.
b. Proses celup.
Proses ini bertujuan untuk menghasilkan martensit yang
keras & agak rapuh. Austensit lebih padat dari pada
martensit. Hal ini merupakan masalah pada celup
langsung dari austensit ke martensit karena bagian
tengah yang lebih lamban pendinginannya berubah
menjadi martensit rapuh. Jadi retak dapat terjadi pada
tembaga denga ukuran lembaran atau kawat, khususnya
bila kadar karbon > 0,5 %.
Apabila waktu transformasi kemartensit cukup, baja
paduan dapat didinginkan lebih lambat, sehingga
permukaan dan bagian tengah bertransformasi serentak.
Jadi dapat dihindari perbedaan perubahan volume dan
terjadinya tegangan-tegangan yang dapat menimbulkan
retakan.
c. Proses celup putus.
Dalam proses ini baja dicelup dengan cepat dan
pendinginannya dilakukan terputus-putus.
Pendinginan dilanjutkan namun lebih lambat, dalam
daerah martensit sampai suhu ruang, sehingga
permukaan dan bagian tengah baja dapat
bertransformasi secara serentak, sehingga retak celup
dapat dihindarkan. Pendinginan yang lebih lambat
memang mungkin pada suhu rendah ini, karena
transformasi tertunda sedang martensit langsung terjadi
dengan turunnya suhu. Dari segi produksi proses ini sulit,
karena laju pendinginan harus diubah dari cepat ke tetap
dilanjutkan ke pendinginan lambat.
Hasil akhir berupa martensit, harus di temper agar
memiliki ketangguhan.
d. Proses temper.
Proses ini dilakukan dengan cara pemanasan ulang yang
bertujuan untuk peningkatan ketangguhan. Martensit
biasanya keras sekali selain itu sangat rapuh karena tidak
ulet bila mengandung karbon. Dari itu kekerasan dan
keuletan saling tolak belakang. Dengan mentemper
martensit dapat meningkatkan ketangguhan meskipun
kekerasan & keuletan turun.
Proses karburasi akan meningkatkan kadar karbon pada
lapisan permukaan baja, tetapi proses dekarburasi yaitu
pengurangan kadar karbon pada permukaan baja dapat
melemahkan daerah permukaan dan sifat bahan secara
keseluruhan. Juga mengalami kemunduran pemanasan
dan pendinginan selalu mengiring proses penyambungan
seperti :
1. pematrian
2. brasing
3. pengelasan.
1. pematrian.
Pematrian mencakup penyambungan logam dengan
logam cair tadi dibiarkan membeku. Proses ini dilakukan
pada suhu yang tidak terlalu tinggi sehingga tidak terjadi
perubahan struktur pada logam induk.
2. brasing.
Brasing dilakukan pada suhu agak tinggi meskipun masih
rendah daripada titik lebur logam yang akan disambung.
Suhu yang cukup tinggi ini dapat menimbulkan
perubahan struktur pada logam.
Logam brasing lebur dan membeku sehingga membentuk
struktur mirip coran.
3. pengelasan.
Logam disambung dengan cara peleburan setempat dan
sering pula ditambahkan logam pengisi untuk mengisi
rongga antara dua potongan logam induk. Pada proses
ini selalu menimbulkan perubahan struktur didaerah
tertentu.
D. Deformasi elastik & plastik
1. Deformasi elastik.
Deformasi elastik terjadinya bila sepotong logam atau
bahan dibebani gaya. Bila beban berupa gaya tarik,
benda akan bertambah panjang. Setelah gaya ditiadakan
benda akan kembali kebentuk semula. Sebaliknya beban
berupa gaya tekan akan mengakibatkan benda menjadi
sedikit pendek. Regangan elastik adalah hasil dari
perpanjangan sel satuan dalam arah tegangan tarik atau
konstraksi dari sel satuan dalam tekanan seperti gambar
ini :
Bila hanya ada deformasi elastik, regangan akan
sebanding dengan tegangan. Perbandingan antara
tegangan dan regangan disebut Modulus elastisitas (MY)
dan merupakan karakteristik suatu logam tertentu. Makin
besar gaya tarik menarik antar atom logam, makin tinggi
pula modulus elastisitasnya. Deformasi elastik dapat
terjadi jika adanya dislokasi suatu kristal. Dislokasi dapat
bergerak bebas dalam kisi kristal atau terpaku disuatu
tempat.

Atom asing dengan ukuran berbeda ditambahkan pada
kristal khusus untuk menimbulkan distorsi tambahan
disamping distorsi yang sudah ada. Distorsi tidak
mempersulit pergerakan dislokasi sehingga diperlukan
gaya yang lebih besar untuk menggerakkannya dalam
kristal. Ini berarti bahwa sifat elastis meningkat.
Dikatakan bahwa bahan diperkuat. Manambahkan atom
asing dalam kristal logam disebut perpaduan, dan efek
penguatan yang dihasilkannya disebut komposisi atau
pengerasan larutan padat.
2. Deformasi plastik.
Deformasi plastik terjadi bila logam atau bahan dibebani
gaya geser. Deformasi ini juga terjadi bila ada gaya tekan
ataau tegangan, karena gaya-gaya ini dapat diuraikan
menjadi tegangan geser. Deformasi plastik merubah
struktur internal logam. Oleh karena itu deformasi ini
dapat merubah pula sifat-sifat dari suatu logam. Bukti dari
perubahan sifat ini dapat dibuktikan dengan mengukur
tahanan.
Struktur yang mengalami distorsi mengurangi jarak bebas
rata-rata dari elektron dan karenanya meningkatkan
ketahanan. Sifat kedua yang juga berubah yang
mempunyai nilai teknik yang lebih besar adalah kekuatan.
Logam yang mengalami deformasi plastik menjadii lebih
kuat. Pertambahan kekerasan sebagai akibat deformasi
plastik disebut pengerasan regangan. Percobaan
dilaboratorium membuktikan bahwa pertambahan
kekuatan tarik dan kekuatan luluh mengiringi peningkatan
kekerasan ini.
Dismaping itu pengerasan regangan mengurangi
keuletan karena sebagian deformasi terjadi selama
pengerjaan dingin.