Anda di halaman 1dari 59

1

UNIVERSITAS INDONESIA

MAKALAH
MANUSIA SEBAGAI INDIVIDU, KELOMPOK, DAN MASYARAKAT



Disusun oleh











FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014

ADELA SURYA P 130
ANDIANI WANDA 1306480162
ADITYA SINDU SAKTI 1306397072
SUNG ENDAH 130
RIKY RAHMAWATI
SATYA
2

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Penulisan makalah
ini bertujuan untuk memenuhi tugas MPKT terintegrasi A semester satu dan menambah
wawasan para mahasiswa akan kedudukan manusia sebagai individu, kelompok, dan juga bagian
dari masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam proses penulisan makalah ini, kami menemui beberapa kesulitan. Namun berkat
bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, makalah ini akhirnya dapat terselesaikan dengan
baik. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih banyak:
1. Bapak Slamet Soemiarno, selaku fasilitator sekaligus pembimbing kami dalam
penyusunan makalah ini.
2. Teman-teman dari Focus Group kelas MPKT A (H), telah memberikan penjelasan
tetang materi secara sistematis dan menyeluruh.
3. Serta semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Selain itu, kami juga menyadari bahwa baik dalam segi sistematika penyusunan maupun
materi yang dipaparkan masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami berharap agar
adanya kritik dan saran yang sekiranya dapat membantu kami untuk perbaikan di masa yang
akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.



Depok, 22 Maret 2014



Penulis





3

DAFTAR ISI

Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 5
I.2 Tujuan 5
1.3 Rumusan Masalah 5

2. ISI
2.1 Apakah Manusia Itu
2.1.1 Fungsi Otak 6
2.1.2 Jenis Jenis Kecerdasan 8
2.1.3 Perbedaan Individual 10
2.1.4 Empat Dimensi Kepribadian 11
2.1.5 Tempramen 16
2.2 Individu dan Kelompok
2.2.1 Tahap Perkembangan Kelompok 21
2.2.2 Kelompok Formal dan Informal 23
2.2.3 Tipe Kelompok Berdasarkan Efektivitasnya 24
2.2.4 Peran Persepsi dalam Hubungan Antar Pribadi 25
2.2.5 Pentingnya Komunikasi 26
2.2.6 Pengertian Komunikasi 30
2.2.7 Komponen-Komponen Komunikasi 30
2.2.8 Jenis-Jenis Komunikasi 31
2.2.9 Tingkat Komunikasi 32
2.2.10 Hambatan Komunikasi 34
4

2.2.11 Kepemimpinan 34
2.3 Masyarakat dan Kebudayaan
2.3.1 Pengertian Masyarakat 38
2.3.2 Fungsi Masyarakat 40
2.3.3 Bentuk bentuk Masyarakat 40
2.3.4 Pentingnya Memahami Konsep Masyarakat 46
2.3.5 Memahami Konsep Kebudayaan 47
2.3.6 Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan 53
3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan 58
3.2 Daftar Pustaka 59















5

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang unggul diantara makhluk lainnya. Banyak bagian tubuh
manusia yang sangat berfungsi diantaranya adalah otak. Ada 3 serangkai otak, yang pertama R-
complex yang berfungsi mengendalikan semua gerakan involunter dari jantung, peredaran darah,
reproduksi dan sangat penting bagi kelangsungan hidup. Kedua,Limbic system berfungsi dalam
pengaturan emosi serta motivasi juga pemelajaran dan memori. Ketiga, amygdala berfungsi
membantu organisme untuk mengenali apakah situasi yang dihadapinya berbahaya atau tidak.
Ada dua belahan otak, yaitu otak kanan dan otak kiri. Jenis jenis kecerdasan, Intelegensi IQ,
kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, Titik tuhan, perbedaan individual, Empat dimensi
kepribadian, tempramen.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar pembaca mengetahui dan bisa bersyukur
bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk yang lebih unggul dari makhluk lainnya. Jadi
penulis membahas tentang adanya 3 serangkai otak, dua belahan otak, Jenis jenis kecerdasan,
Intelegensi IQ, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, Titik tuhan, perbedaan individual,
Empat dimensi kepribadian, tempramen. Manusia memiliki banyak sifat-sifat dalam dirinya.

1.3 Rumusan Masalah

- Bagaimana manusia menggunakan otak untuk mengembangkan akalnya?
- Bagaimana perilaku manusia dalam hidup individu maupun berkelompok?
- Bagaimana perilaku manusia dalam bermasyarakat maupun berbudaya?


6

BAB II
ISI


2. 1 APAKAH MANUSIA ITU

2.1.1 Fungsi Otak
MacLean, seorang ahli neurologi mantan direktur Laboratory of the Brain and Behaviour
pada United States National Institute of Mental Health mengajukan konsep Tiga
Serangkai Otak (The Triune Brain). Konsep ini menjelaskan tentang tiga lapisan otak
yang telah berevolusi. Setiap lapisan otak ini memiliki peran dalam menentukan perilaku
oleh individu. Berikut tiga lapisan otak tersebut :
a. R-complex
Lapisan ini terdiri atas batang otak dan cerebellum. Pada reptilian, otak inilah yang
paling dominan, sehingga otak ini disebut juga Otak Reptil. Fungsinya antara lain
mengendalikan semua gerakan involunter dari jantung, peredaran darah, reproduksi,
dan sebagainya. Otak Reptil juga berperan dalam pola perilaku pertahanan diri. Salah
satunya adalah reaksi tempur atau kabur (fight or flight). Individu bias secara refleks
mempertahakan dirinya tanpa memikirkan dengan cermat yang dilakukannya.
b. Limbic System
Limbic System disebut juga sebagai Otak Mamalia karena perkembangannya terjadi
pada masa awal evolusi manusia. Otak Mamalia terdiri dari dua struktur yaitu :
- Amygdala
Amygdala berfungsi untuk mengenali suatu ransangan apakah berbahaya atau
tidak. Selain itu, Amygdala juga membantu manusia memahami ekspresi orang
yang dihadapinya. Fungsinya banyak dipengaruhi oleh persepsi. Oleh karena itu,
organisme bias menampilkan perilaku yang tidak sesuai jika ia menangkap tanda-
tanda secara keliru dari ransangan yang ia terima.
- Hippocampus
7

Hippocampus berperan dalam mengintegrasikan berbagai ransangan sekaligus
membantu dalam ingatan jangka panjang walaupun ingatan tidak tersimpan dalam
Limbic System. Hippocampus berperan penting dalam proses belajar.
c. Neocortex
Lapisan ini merupakan lapisan teratas yang mengelilingi Otak Mamalia dan hanya
dimiliki oleh jenis mamalia. Lapisan ini disebut juga Otak Neomamalian. Manusia
memiliki Neocortex yang paling luas dibandingkan mamalia jenis lain, yaitu sekitar
80% dari otak. Perbedaan luas inilah yang mempengaruhi banyaknya saraf dan
kompleksitas hubungan antarsaraf yang berkaitan dengan kemampuan berpikir.
Neocortex mengendalikan keterampilan berpikir tingkat tinggi, nalar, pembicaraan,
dan berbagai tipe kecerdasan lainnya. Oleh karena itu, sering disebut juga sebagai
Otak Berpikir.
Limbic System menentukan arah respon menuju Otak Reptil atau Neocortex. Jika
sistem limbik tidak dapat membuat individu menjadi lebih nyaman, maka yang lebih
sering berperan adalah Otak Reptil dengan refleks-refleks pertahanan diri tanpa
memikirkan secara mendalam bagaimana keadaan sebenarnya dan tindakan apa yang
sebaiknya diambil. Sebaliknya, jika sistem limbic dapat membuat individu merasa
nyaman, maka Neocortex berperan apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya
tidak dilakukan.
Pada tahun 1960, Roger W. Sperry, seorang ahli neuropsikologi dan neurobiology,
menemukan perbedaan fungsi dan karakter antara dua belahan otak yaitu belahan otak
kiri dan belahan otak kanan. Otak kiri memiliki spesialisasi dalam menghadapi masalah
sekuensial, analitikal, bahasa lisan, operasi aritmatika, penalaran, dan operasi rutin
(Sousa, 2003). Individu yang memiliki kekuatan pada otak kirinya, cenderung bergerak di
bidang sains. Mereka cenderung berpikir sistematis, dan taat pada aturan. Otak kanan
berperan dalam menghadapi masalah holistic, abstrak, bahasa tubuh, pencerahan, dan
operasi baru (Sousa, 2003). Seniman-seniman seringkali memiliki otak kanan yang
sangat kuat. Hasil kerja sama kedua belah otak menghasilkan kreativitas. Orang-orang
yang unggul memiliki keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan.


8

2.1.2 Jenis-jenis Kecerdasan
Neuroscience merupakan ilmu yang menemukan antara lain perilaku, kreativitas,
bermusik, matematika, dan sebagainya merupakan hasil aktivitas bagian otak tertentu.
Aktivitas-aktivitas tersebut akan semakin baik jika terjadi proses belajar. Jika
dianalogikan seperti computer, otak adalah keping prosesor yang diisi dengan intelegensi
yang merupakan system operasinya. Intelegensi adalah system operasi yang
mengendalikan terjadinya semua perilaku manusia.

1. Inteligensi dan IQ
Konsep intelegensi berpangkal pada pandangan Darwin mengenai survival of the
fittest, yang mana spesies yang bertahan adalah spesies yang memiliki kemanpuan
adaptasi terbaik. Intelegensi mempunyai tujuan untuk memecahkan masalah dan
beradaptasi dengan tuntutan lingkungan. Pengukuran intelegensi biasanya digunakan
untuk mendapatkan orang-orang yang tepat dalam pendidikan dan perusahaan. Hasil
pengukurannya disebut IQ (intelligence quotient). Pengujian intelegensi umumnya
berupa kemampuan analisis.
Menurut Sternberg, kecerdasan tidak hanya ada satu macam, melainkan ada tiga,
yaitu Analytical Intelligence (Kecerdasan Analitikal), Practical Intelligence
(Kecerdasan Praktikal), dan Creative Intelligence (Kecerdasan Krestif). Di sekolah
kita membutuhkan Kecerdasan Analitikal, tetapi di masyarakat kita membutuhkan
Kecerdesan Praktikal.
Dalam perkembangannya, para ahli memusatkan perhatian pada masalah
kecerdasan. Gardner dari Harvard mengajukan teori Multiple Intelligence
(Kecerdasan Majemuk). Menurut Gardner, kecerdasan adalah kemampuan
seseoranhg untuk menciptakan produk/karya yang bernilai bagi masyarakatnya.
Dalam Frame of Mind, Gardner mengajukan delapan macam kecerdasan, yakni (1)
linguistik, (2) matematik-logikal, (3) spasial, (4) kinestetik-jasmani, (5) musical, (6)
interpersonal, (7) intrapersonal, dan (8) naturalistik.
Orang yang sukses bisa dengan berbagai macam kecerdasan, tidak hanya dengan
kecerdasan analitik saja. Ada dua pilihan yang dapat dilakukan untuk
mengembangkan kecerdasan, yaitu dengan fokus terhadap kecerdasan yang menjadi
9

kekuatan kita atau mengembangkannya secara merata. Saat anak masih muda,
sebaiknya diberikan berbagai macam ransangan untuk mengetahui letak
kecerdasannya.


2. Kecerdasan Emosional
Goleman (1996) mengajukan bahwa adanya faktor lain yang mendukung
keberhasilan seseorang, yaitu kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi memungkinkan
inteligensi berfungsi secara optimal karena mudah mengarahkan kognisinya dalam
berpikir dan memecahkan masalah. Goleman (1996) juga menemukan lima domain
dari kecerdasan emosi, yaitu memahami emosinya sendiri, mengendalikan emosi,
memotivasi diri sendiri, memahami emosi orang lain, dan menangani hubungan
dengan orang lain.

3. Kecerdasan Spiritual
Manusia memiliki kebutuhan untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar
daripadanya dan berpikir melampaui dirinya (transendental). Yang lebih besar yang
dimaksud adalah Allah, Tuhan, dewa, alam semesta, atau kekuatan-kekuatan hebat
lainnya bergantung pada kepercayaannya. Hal ini menunjukkan manusia berdasarkan
sisi spiritualnya. Oleh karena itu, untuk memahaminya dibutuhkan kecerdasan
spiritual (SQ).
Kecerdasan spiritual menurut Zohar dan Marshall (2007) adalah kecerdsan untuk
memahami dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk
menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya,
kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna
dibandingkan dengan yang lain.
Kecerdasan ini erat kaitannya dengan keagamaan. Untuk menjalankan keagamaan
dengan penuh kesadaran dan mendapatkan pemahaman agama dibutuhkan kecerdasan
spiritual namun kecerdasan spiritual sendiri tidak menjamin seseorang beragama.


10

4. Titik Tuhan
Titik Tuhan terletak pada otak bagian lobus temporal. Para ahli neurologi
menemukan Titik Tuhan erat kaitannya dengan pengalaman spiritual. Walalupun
banyak ahli yang menyatakan bahwa titik Tuhan tidak membuktikan Tuhan itu ada,
namun sebetulnya ini juga tidak membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Titik Tuhan
memungkinkan manusia untuk berpikir jauh melampaui dirinya (transedental).

2.1.3 Perbedaan Individual
Setiap manusia adalah unik. Tidak ada orang yang benar-benar sama, bahkan
sepasang kembar sekalipun. Adanya keanekaragaman manusia ini membawa dinamika
kehidupan. Perbedaan individual dalam kelompok dapat membawa pada sinergi yang
kaya,namun dapat juga menimbulkan konflik yang menguras tenaga.
Sebagai makhluk sosial,kita memiliki kecendrungan untuk berinteraksi dengan
sesama manusia. Interaksi ini akan menjadi lebih efektif jika kita mampu memahami diri
kita sendiri dan orang yang kita hadapi. Memahami diri adalah memahami ciri-ciri
kepribadian yang dapat mempengaruhi sikap,kecendrungan,dan perilaku kita.
Ada berbagai teori kepribadian yang berusaha membantu kita memahami
keanekaragaman individu. Salah satunya adalah teori kepribadian Myers-Briggs
(sepasang psikolog,ibu dan anak) yang mengembangkan sebuah model yang disebut
Myers-Briggs Type Indicator (MBTI),yang dikembangkan berdasarkan teori
kepribadian Carl Jung. Teori MBTI ini telah membantu menjelaskan teori tipe psikologi
dari Jung sehingga lebih mudah dipahami dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
MBTI ini mengidentifikasi dan mengkategorisasi kecendrungan perilaku individu
dalam empat dimensi,yaitu :
1. (E) Ekstraversion / Introversion (I)
2. (S) Sension / Intuition (I)
3. (T) Thinking / Feeling (F)
4. (J) Judging / Perceiving (P)
Berdasarkan skala empat dimensi ini mereka mengelompokkan enam belas tipe
kepribadian, dan setiap orang masuk dalam salah satu kategori tersebut.
11

Tes MBTI atau inventori MBTI juga merupakan salah satu cara untuk mengetahui
tipe kepribadian seseorang,tentunya hal ini dilakukan dengan bantuan seorang profesional
terlatih untuk menginterpretasikannya. Mempelajari tipe kebribadian ini dapat membantu
kita memahami orang lain,terutama orang yang berhubungan dan yang bekerja sama
dengan kita. Memahami orang-orang di sekitar dan yang bekerja sama dengan kita akan
membantu melancarkan hubungan kerja sama tersebut.

2.1.4 Empat Dimensi Tipe Kepribadian
Empat dimensi tipe kepribadian MBTI bukanlah sesuatu yang mutlak,melainkan
mengestimasikan suatu titik dalam sebuah garis kontinum. Dalam mempelajari tipe
kepribadian ini hendaknya kita tidak melihat satu sisi saja,tetapi kita juga harus melihat
dari sisi lawannya.Misalnya, seberapa individu lebih ekstraversi daripada introversi.Oleh
karena itu, sebaiknya fokus dalam mempelajari dan menganalisis tipe kepribadian kita
maupun orang lain hendaknya tidak hanya melihat dari tipe extravert saja,tetapi juga
mempelajari tipe introvert (lawannya).
a. Dimensi Extraversion (E)/Introversion(I)
Interaksi individu dengan dunia dan dari ana asal energy yang dimiliknya.
Extravert
Seorang dengan tipe ini lebih tertarik dengan objek di luar dirinya.
Umumnya, mereka lebih senang bergaul, bekerja dalam kelompok, dan berada
dalam keramaian.
Adanya orang lain dapat memberikan semangat sekaligus energy yang
membuatnya bersemangat dan bergairah.
Tipe ini juga dapat bekerja secara sendirian, namun dalam jangka waktu
yang panjang dapat menurunkan energinya. Maka dari itu orang orang
extravert sebaiknya menyediakan waktu untuk berkumpul agar energinya
kembali dan dapat kerja secara maksimal.

I ntrovert
12

Seorang dengan tipe ini lebih melakukan kegiatan kegiatannya sendiri
dalam ketenangan.
Walaupun introvert suka bekerja sendirian namun dapat saja mempunya
kemampuan kerja sama yang baik. Namun, dalam jangka waktu yang panjang,
orang orang introvert terkuras energinya dan menjadi cepat lelah. Maka dari
itu, mereka perlu meluangkan waktu untuk beraktivitas seharian seperti
mendengarkan music sendirian, membaca buku atau bermain main dengan
gagasannya sendiri.

Perbedaan Ciri Extravert dan Introvert

Extraverts I ntroverts
Semangat dengan kehadiran orang lain
Senang menjadi pusat perhatian
Bertindak, lalu (atau sambil) berpikir
Cenderung berpikir dengan bersuara
Mudah dibaca dan mudah ditebak;
membagi informasi pribadi dengan bebas
Lebih banyak bicara daripada mendengarkan
Berkomunikasi dengan antusias

Memberi respons dengan cepat, menyukai
pacu pembicaraan yang cepat
Lebih menyukai pembicaraan yang luas
daripada mendalam
Semangat menhabiskan waktu sendirian
Menghindar dari pusat perhatian
Berpikir, baru bertindak
Berpikir dalam kepala
Lebih pribadi, lebih suka membagi informasi
pribadi kepada orang tertentu saja
Lebih banyak mendengarkan daripada berbicara
Antusias disimpan hanya bagi dirinya sendiri
Memberi respons setelah berpikir panjang, lebih
suka pacu pembicaraan yang lambat
Lebih menyukai pembicaraan yang mendalam
daripada meluas

b. Dimensi Sensing (S)/Intuition (N)
Dimensi ini membicarakan bagaimana orang menangkap informasi.

Sensing
13

Seorang dengan tipe ini lebih mudah menangkap informasi melalui
pancaindera dan fakta fakta. Namun, orang ini harus berusaha keras saat
mencari makna di belakang fakta tersebut.

Intuition
Seorang dengan tipe ini cepat menangkap makna dari sebuah fakta,
namun harus hati hati saat menangkap fakta dengan inderanya, karena kurang
jeli dan kadang kadang keliru.

Perbedaan Ciri sensor dan intuitive

Sensors I ntuitives
Percaya pada apa yang pasti dan konkret
Menyukai ide baru hanya bila bisa digunakann
dengan praktis
Menghargai realism dan akal sehat
Senang menggunakan dan mengasah keterampilan
yang sudah dimiliki

Cenderung spesifik dan harafiah; memberikan
dekskripsi detail

Mengajukan informasi dengan cara step-by-step
Berorientasi pada masa kini
Percaya pada inspirasi dan inference
Menyukai ide baru dan konsep konsep
Menghargai imajinasi dan inovasi
Senang mempelajari keterampilan baru;
cepat bosan setelah menguasai sebuah
keterampilan
Cenderung general dan figurative; senang
menggunakan perumpamaan dan peribahasa
Mengajukan informasi secara umum dan
garis besar
Berorientasi pada masa depan

c. Dimensi (T) Thinking / Feeling (F)
Dimensi ini berkaitan dengan pengambilan keputusan. Individu yang
memiliki kecenderungan thinking biasa disebut thinkers. Mereka biasa berpikir
panjang dan semuanya dipikirkan dengan matang sebelum mengambil keputusan.
Benar salahnya, baik buruknya, aturan-aturannya, semua dianalisis dengan
14

cermat. Setelah ia yakin dengan keputusan yang akan diambilnya, baru seorang
thinker berani untuk menetapkan keputusan. Thinkers sangat berhati-hati
terhadap setiap keputusan yang akan diambil dan cenderung tidak ceroboh.
Seorang thinker berpikir secara rasional dan ia hanya menerima hal yang
menurutnya masuk akal saja. Berbeda dengan mereka yang memiliki
kecenderungan feeling. Individu yang cenderung menggunakan feeling disebut
feelers. Seorang feeler menggunakan perasaannya untuk menilai sesuatu.
Mereka sangat peka terhadap perasaan orang lain. Feelers lebih mudah untuk
mengekspresikan apa yang dirasakannya karena sering menggunakan perasaan,
berbeda dengan thinkers yang tidak mau apa yang dirasakannya diketahui orang
lain. Sebuah keputusan diambil seorang feeler setelah memperhitungkan
dampaknya bagi orang lain dengan mengikuti suara hatinya. Oleh karena itu,
feelers bisa menerima pengecualian perlakuan, berbeda dari thinkers yang
bersikukuh dengan satu hukum atau aturan yang berlaku bagi semua. Orang
dengan sifat thinking cenderung kaku dan strict terhadap peraturan, sedangkan
individu yang mengguunakan feeling bersifat lebih fleksibel akan perubahan
dengan menyesuaikan situasi yang sedang dialaminya. Dengan melihat ciri-ciri
orang tipe thinker maupun feeler di bawah ini, kita bisa mengenali
kecenderungan yang ada pada diri kita
Thinker Feeler
Saat akan memutuskan sesuatu, melangkah
mundur; menggunakan analisis objektif
terhadap situasi
Saat akan memutuskan sesuatu, melangkah ke
depan; memikirkan dampak dari keputusan
tersebut bagi orang lain
Menghargai logika, hukum dan keadilan; satu
standar berlaku bagi semua
Menghargai empati dan harmoni; bisa
menerima kekecualian dari suatu peraturan,
tergantung situasi
Mudah menangkap kesalahan dan cenderung
kritis
Suka menyenangkan hati orang lain, mudah
menghargai orang lain
Bisa tampak tidak berperasaan, tidak peka dan
tidak peduli
Bisa kelihatan terlalu emosional, tidak logis,
dan lemah
15

Menganggap lebih penting kebenaran
daripada memikirkan cara menyampaikannya
Menganggap cara menyampaikan sesuatu
sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri
Menganggap perasaan hanya sahih bila logis Menganggap perasaan itu sahih, masuk akal
ataupun tidak
Dimotivasi oleh keinginan berprestasi dan
berhasil
Dimotivasi oleh keinginan untuk dihargai




d. (J) Judging / Perceiving (P)
Dimensi keempat ini membahas mengenai gaya hidup. Ada orang yang
lebih suka hidup dengan cara yang teratur, ada pula yang lebih spontan. Orang
yang termasuk judging disebut judger. Mereka cenderung hidup secara teratur
dan lebih suka bila kehidupannya terstruktur dengan jelas. Judgers merupakan
tipe pekerja keras dan lebih menghargai jerih payahnya. Mereka tidak senang
membuang waktu tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tipe ini cenderung
memiliki prinsip hidup yang tidak bisa diubah. Mereka juga cenderung keras
kepala dibandingkan tipe perceiver. Individu yang memiliki sifat judger
biasanya membuat skala prioritas dan memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap
hal yang akan dikerjakannya karena cenderung perfeksionis. Mereka senang
mengambil keputusan. Judgers mencari keteraturan dan senang mengendalikan
hidupnya, sedangkan mereka yang memiliki kecenderungan perceiving, yang
biasa disebut perceivers lebih suka hidup secara spontan dan lebih menyukai
kehidupan yang luwes. Tipe ini bersifat lebih terbuka akan perubahan dan lebih
fleksibel tergantung dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapinya.
Perceivers lebih menekankan pada proses, yaitu bagaimana cara mereka
menyelesaikan tugas dibandingkan dengan judgers yang lebih berorientasi pada
hasil. Mereka menyukai berbagai kemungkinan, dan lebih suka mencari apa
makna dari kehidupan daripada mengendalikannya.


16

J udgers Perceiver
Paling bahagia bila keputusan sudah dibuat Paling senang meninggalkan pilihan terbuka
Memiliki etika kerja: kerja dulu, bermain
kemudian (itupun kalau sempat)
Memilik etika bermain: nikmati hidup
sekarang, menyelesaikan tugas nanti (itupun
kalau masih ada waktu)
Menetapkan sasaran dan berusaha untuk
mencapainya
Mengganti-ganti sasaran bila mendapat
informasi baru
Lebih suka mengetahui apa yang akan
dihadapinya terlebih dahulu baru bertindak
Suka beradaptasi pada situasi baru, bertindak
sambil mempelajari situasi
Lebih berorientasi pada produk (penekanan
pada penyelesaian tugas)
Lebih berorientasi pada proses (penekanan
pada bagaimana menyelesaika tugas)
Mendapatkan kepuasan dalam menyelesaikan
proyek
Mendapatkan kepuasan dari memulai proyek
Melihat waktu sebagai sumberdaya yang pasti
dan serius menanggapi tenggang waktu
Melihat waktu sebagai sumberdaya yang bisa
diperbaharui dan melihat tenggang waktu
sebagai elastik (bias jam karet)


2.1.5 TEMPRAMEN
Temperamen merupakan sebuah pola dari perilaku karakteristik yang merefleksikan
kecenderungan-kecenderungan alamiah dari individu (Baron, 1998). Temperamen akan
berdampak pada bagaimana individu melihat dunia; apa nilai dankeyakinannya, bagaimana
pikiran, tindakan, maupun perasaannya. Temperamen merupakan bawaan, sehingga tindakandan
perilaku konsisten sudah tampak sejak muda.
Berdasarkan model MBTI, David Keirsey membagi empat kelompok temperamen
dandalam tiap temperamen terdapat empat tipe yang berbeda, namun keempatnya memiliki
beberapa persamaan.
Guardians/Tradisionalists (SJ): ESTJ ISTJ ESFJ ISFJ
Artis/Experiences (SP): ESTP ISTP ESFP ISFP
Idealists (NF): ENFJ INFJ ENFP INFP
Rationals/Conceptualizers (NT): ENTJ INTJ ENTP INTP
17


a. Pembimbing/Tradisionalis (Sensing J udgers)
Sensing Judger adalah tipe pribadi yang menapak bumi dan tegas, disebut juga
Pembimbing/Tradisionalis yang merupakan gabungan dari kaum sensors yang percaya pada
fakta, pengalaman dan informasi yang ditangkap panca inderanya, dengan kaum judgers yang
menyukai struktur serta keteraturan yang akan memengaruhi saat mengambil keputusan.
Tipe ini menghargai hukum, keteraturan, jaminan, sopan santun, aturan, dan mudah
menyesuaikan diri, serta didorong oleh motivasi untuk melayani kebutuhan masyarakat,
menghormati otoritas, hirarki dan garis komando, terikat pada tanggung jawab dan selalu
berusaha melakukan hal yang benar sehingga tipe ini menjadi orang yang dapat diandalkan,
dipercaya, dan bertanggung jawab.
Tipe ini juga bisa dibentuk oleh kaum thinking dan feeling. Pada tipe ini, ciri di atas tidak
sekuat ciri yang ditunjukan gabungan sensors dan judging, melainkan lebih akan berusaha
membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain dan mencari kesempatan untuk
melakukan pekerjaan yang dapat membantu orang lain secara nyata.
Kekuatan dari tipe ini, mereka adalah orang-orang yang solid, dapat dipercaya, dan
diandalkan. Tetapi juga memiliki kelemahan khususnya dalam perencanaan jangka panjang. Tipe
ini sering kurang luwes dan susah menyesuaikan diri, cenderung dogmatis dan kurang imajinatif.
Contoh dari tipe ini adalah Mother Theresa, Jenderal Washington, Marie Muhammad, dan
Ir.Ciputra.

b. Artis/Experiencers (Sensing Perceivers)
Sensing Perceiver adalah tipe yang responsif dan spontan atau disebut sebagai
Artis/Experiencers. Tipe ini merupakan gabungan dari perceivers yang terbuka pada berbagai
kemungkinan dan hidup secara luwes, dengan sensors yang berkonsentrasi pada apa yang dirasa
oleh pancainderanya serta percaya pada yang dapat diukur dan dicatat.
Tipe ini fokus pada situasi saat ini dan berkemampuan menetapkan apa yang akan
dilakukan saat ini. Tipe ini menghargai kebebasan dan spontanitas, merupakan risk-taker, mudah
menyesuaikan diri, easy going, dan pragmatis, mengagumi pertunjukan keterampilan di segala
bidang.
18

Sama seperti tipe sebelumnya, tipe ini juga memiliki macam SFP yang cirinya tidak sekuat
ciri yang disebutkan di atas dan lebih cenderung pada berespons pada kebutuhan orang lain dan
ingin hasil kerjanya membawa perubahan segera pada orang lain.
Kelebihan tipe ini adalah ketangkasan dalam menangkap kesempatan, unggul mengenali
masalah dan melakukan pendekatan masalah secara luwes dan berani. Tipe ini memiliki banyak
akal, mengasyikkan, pengamat yang tajam dan negosiator yang hebat.
Tetapi tipe ini juga memiliki kelemahan yaitu sulit ditebak dan kadang tidak berpikir
cermat sebelum bertindak, cenderung kehilangan antusiasme setelah fase krisis berlalu, tidak
selalu mengikuti aturan dan kadang menghindari komitmen. Sehingga, tipe ini bisa saja kurang
bertanggung jawab, kekanak-kanakan dan impulsif.
Contoh tokok dari tipe ini adalah Ernest Hemmingway, Barbara Streissant, Gus Dur.

c. Idealis (Intuitive Feelers)
ENFJ INFJ ENFP INFP
Kaum Intuitif adalah orang-orang yang tertarik pada arti, hubungan dan
kemungkinan-kemungkinan, dan Feelers cenderung membuat keputusan berdasarkan
nilai pribadi. Bila digabung menghasilkan Intuitive Feeler, tipe yang peduli akan
tumbuh kembang orang lain dan memahami dirinya maupun orang lain. Mereka biasa
disebut sebagai Idealis. Mottonya Jujurlah pada diri sendiri. Idealis adalah tipe yang
paling filosofis spiritual. Seolah-olah mereka terus-menerus dalam pencarian arti
kehidupan. Mereka sangat menghargai kejujuran dan integritas pada orang maupun suatu
hubungan, dan cenderung mengidealkan orang lain. Sering kali tipe Idealis ini
merupakan komunikator ulung dan bisa dianggap katalisator bagi perubahan yang positif.
Idealis senang menggunakan kemampuan alami mereka untuk memahami dan
menghubungkan mereka dengan orang lain.

Kekuatan
Idealis tahu bagaimana mengeluarkan potensi terbaik orang dan memahami cara
memotivasi orang lain untuk bekerja sebaik-baiknya. Mereka ahli dalam menyelesaikan
konflik dengan orang lain serta membangun tim yang bisa bekerjasama dengan efektif.
Idealis pandai dalam mengidentifikasi solusi kreatif bagi berbagai masalah. Idealis
19

umumnya adalah orang yang karismatik, mau menerima gagasan baru dan bisa menerima
orang lain apa adanya. Romo Magnis

Kemungkinan kelemahan
Idealis memiliki kecenderungan mengambil keputusan berdasarkan perasaannya
dan mudah larut pada masalah orang lain sehingga membuatnya kewalahan. Mereka
kadang-kadang terkesan kurang praktis. Walaupun mereka memiliki kemampuan untuk
mencela dirinya sendiri, Idealis kurang mampu mendisiplin ataupun mengkritik orang
lain. Kadang-kadang mereka akan mengorbankan pendapatnya demi hubungan harmoni,
kelemahan terbesar adalah mereka bisa angin-anginan, tidak bisa diterka dan terlalu
emosional. Contoh tokoh dengan temperamen ini adalah Mahatma Gandhi, Putri Diana,
Romo Magnis.

d. Rasional/Konseptualis (I ntuitive Thinkers)
ENTJ INTJ ENTP INTP
Intuitive cenderung mencari arti dari segala sesuatu dan fokus pada implikasinya,
sedangkan Thinkers mengambil keputusan secara impersonal dan logis. Bila disatukan
menghasilkan Intuitive Thinker, sebuah tipe yang intelektual dan kompeten, yang
disebut Rasional/Konseptualis. Motto kaum Conceptualizer adalah Unggullah
dalam segala sesuatu. Mereka adalah yang paling mandiri dari keempat temperamen
Keirsey. Secara alami Rasional/Konseptualis penuh rasa ingin tahu. Mereka biasanya
dapat melihat berbagai segi mengenai suatu argument atau isu. Rasional/Konseptualis
unggul dalam melihat berbagai kemungkinan, memahami kompleksitas, serta merancang
solusi pada masalah riil maupun hipotetis. Peranannya sering menjadi arsitek perubahan.

Kekuatan dan kelemahan
Rasional/Konseptualis senang menggunakan kemampuannya untuk melihat
kemungkinan-kemungkinan dan menganalisisnya secara logis untuk mendapatkan
pemecahannya. Mereka berminat untuk terus-menerus mendapatkan pengetahuan, baik
demi pengetahuan itu sendiri maupun untuk alasan stratejik.

20

Kekuatan
Rasional/Konseptualis memiliki visi dan bisa menjadi innovator yang hebat. Mereka
unggul dalam membuat strategi, rencana, dan membangun sistem untuk mencapai sasaran,
dan menikmati prosesnya. Rasional/Konseptualis sangat mudah dalam memahami
gagasan yang kompleks dan teoretikal serta pandai dalam mendeduksi prinsip-prinsip
atau kecenderungan-kecenderungan. Mereka senang akan tantangan dan menuntut dirinya
sendiri maupun orang lain untuk mencapai standar yang tinggi, dan biasanya mampu
menerima kritikan yang konstruktif tanpa merasa diserang secara pribadi. Dalam
keadaannya yang terbaik Rasional/Konseptualis itu penuh percaya diri, tangkas, dan
imajinatif.

Kemungkinan kelemahan
Kadang-kadang Rasional/Konseptualis bisa terlalu rumit untuk dipahami oleh orang
lain. Mereka memiliki kecenderungan untuk mengabaikan detail-detail yang penting.
Mereka bisa menjadi sangat skeptis dan sering menantang aturan-aturan, asumsi, atau
adat istiadat yang berlaku. Rasional/Konseptualis juga kadang-kadang bisa tampil sebagai
elitis. Mereka sering kali mengalami kesulitan melihat dampak tindakannya pada orang
lain. Mereka bisa tidak menganggap penting hubungan yang harmoni, maupun
pentingnya perasaan. Mereka kadang-kadang tidak peduli dengan suatu tugas bila mereka
tidak merasa bisa unggul di sana. Yang paling parah, Rasional/Konseptualis bisa arogan,
menarik diri, dan asyik dalam dunianya sendiri. Dalam bekerjasama
Rasional/Konseptualis membutuhkan banyak kebebasan, keanekaragaman, banyak
rangsangan intelektual, dan kesempatan untuk menghasilkan gagasan, dan harus melihat
bahwa pekerjaannya menantang. Contoh dari tokoh-tokoh dengan temperamen
Rasional/Konseptualis adalah Einstein, Thatcher, Bung Hatta.






21

2.2 INDIVIDU DAN KELOMPOK
Sebagai makhluk sosial, tiap individu memiliki kebutuhan yang kuat untuk hidup bersana dalam
kelompok. Ketika berada di dalam kelompok, akan terjadi interaksi antar individu untuk
mengembangkan kemanusiaannya. Selain itu, dalam kelompok akan disepakati aturan aturan dan
norma yang berlaku dalam kehidupan berkelompok.
2.2.1 Tahap Perkembangan Kelompok
Menurut Tuckman (2009), kelompok tumbuh dan berkembang melalui serangkaian
tahapan yaitu berawal dari tahap pembentukan (forming), goncangan (storming), pembentukan
norma (norming), melakukan (performing) dan penangguhan (adjourning). Setiap tahapan
memiliki karakteristik yang berbeda dan menyajikan tantangan khusus bagi anggota dan
pemimpin kelompok.
1. Tahap Pertama: Pembentukan (forming)
Pada tahap pembentukan, anggota kelompok akan terlibat dalam kegiatan, seperti
mendefinisikan tugas awal, membahas bagaimana pembagian tugas, memahami ruang lingkup
tugas, tujuan tugas, dan belajar tentang sumber daya (waktu, peralatan, personil) yang tersedia
untuk kelompok bekerja menyelesaikan tugas. Pada tahap ini, beberapa anggota melakukan uji
peran kepemimpinan, menemukan kesamaan kepribadian dan perbedaan, dan membuat beberapa
pengungkapan awal, namun kemajuan relatif sedikit. Peran anggota kelompok di tahap pertama
adalah untuk mendorong kelompok untuk memantapkan misi dan tujuan, mengatur jadwal kerja,
mengenal satu sama lain, dan menetapkan beberapa norma awal untuk bekerja sama.

2. Tahap Kedua: Goncangan (Storming)
Pada tahap ini, di antara anggota kelompok timbul beberapa perbedaan seperti arah,
kepemimpinan, gaya kerja dan pendekatan, dan persepsi tentang kualitas yang diharapkan dan
produk akhir. Sama halnya dengan hubungan antar manusia lainnya, konflik tidak dapat
dihindari. Muncul perasaan-perasaan tertentu seperti resistensi terhadap tugas atau pendekatan
yang dilandasi oleh kebencian, perbedaan beban kerja, kemarahan tentang peran dan tanggung
jawab, dan perubahan sikap terhadap kelompok atau anggota kelompok dan kekhawatiran.
22

Biasanya dalam tahap goncangan, kelompok dalam kondisi konflik dan kacau, karena belum
ditetapkannya cara untuk berkomunikasi tentang perbedaan-perbedaan ini.
Pada tahap ini, peran anggota kelompok atau pemimpin adalah untuk menahan diri dari
mengambil sisi, mendorong kelompok untuk mengembangkan saluran komunikasi, dan
membantu anggota kelompok lain agar terpusat pada tugas dan bukan pada perbedaan pribadi.

3. Tahap Ketiga: Membangun Norma (Norming)
Pada tahap membangun norma (norming), anggota kelompok merasa memiliki
kemampuan baru untuk mengekspresikan kritik yang konstruktif, mereka merasa menjadi bagian
dari sebuah kelompok kerja dan memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan akan
berhasil. Pada tahap ini, anggota berusaha untuk mencapai keselarasan dengan menghindari
konflik yang tidak perlu, bertindak lebih ramah terhadap sesama anggota kelompok, saling
percaya satu sama lain, dan mengembangkan rasa kesatuan kelompok ("bersama-sama, kita
mampu memecahkan masalah ini"). Norma tidak harus sama untuk setiap keputusan atau
kebijakan.
Sebagai anggota atau pemimpin kelompok, berperan mendorong anggota kelompok untuk
mengambil tanggung jawab lebih, bekerja sama menciptakan cara yang dapat diterima untuk
memecahkan masalah, menetapkan tujuan yang menantang, dan mengambil tanggung jawab
pribadi untuk keberhasilan kelompok.

4. Tahap Keempat: Melakukan atau Melaksanakan (Performing)
Pada tahap Melakukan atau Melaksanakan (Performing), status keanggotaan anggota
kelompok sudah stabil, tugas sudah jelas, dan perhatian anggota kelompok lebih pada ganjaran.
Anggota kelompok sangat termotivasi untuk menyelesaikan tugas mereka dan pusat perhatian
lebih pada tujuan kelompok daripada kepentingan individu
Peran anggota dan pemimpin kelompok pada tahap ini adalah untuk mendorong anggota untuk
memberikan dukungan dan berfungsi sebagai sumber daya satu sama lain. Anggota dan
pemimpin kelompok juga berperan agar kelompok melanjutkan kemajuan yang sudah dicapai
dan mempertahankan kohesi dan moral, dan memandu agar tetap sukses.

5. Tahap Kelima: Penangguhan (Adjourning)
23

Setelah berhasil menyelesaikan tugas atau tujuan, kelompok dapat bubar secara permanen
atau beristirahat sementara. Tugas pada tahap ini adalah untuk mengendurkan ikatan kelompok
untuk kemudian menindaklanjuti tugas-tugasnya. Sebagai anggota atau pemimpin kelompok,
peranan pada tahap akhir ini adalah mendorong anggota kelompok untuk mendiskusikan proyek
atau tugas, dengan membahas pelajaran yang dapat diperoleh dari hasil pekerjaan mereka dan
menyampaikan kepada kelompok baru cara pemecahan masalah apabila berhadapan dengan
masalah yang serupa. Tahap ini juga bermanfaat sebagai upaya mengakui kelompok. Hal ini
dapat dilakukan dalam bentuk pengakuan publik (uraian atas prestasi kelompok dalam newsletter
bulanan), hadiah (imbalan organisasi berupa persentase dari pendapatan tabungan diwujudkan
sebagai hasil dari kerja kelompok), atau manfaat lainnya (seperti mengajak kelompok untuk
makan siang di luar kampus). Dengan memberikan dorongan dan mengakui prestasi, kerja keras,
dan upaya, berarti membantu untuk melanjutkan momentum dan membangun motivasi.

2.2.2 Kelompok Formal dan Informal
Kelompok formal adalah kelompok yang mempunyai struktur organisasi dan peraturan
yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh anggotanya untuk mengatur hubungan diantara
anggotanya. Kelompok informal adalah kelompok yang tidak mempunyai struktur dan organisasi
tertentu. Kelompok formal dan kelompok informal memiliki keterkaitan satu sama lain. Setelah
seseorang menjadi anggota organisasi formal seperti sekolah,universitas, atau perusahaan
biasanya ia mulai menjalin hubungan persahabatan dengan anggota lain dalam organisasi formal
tersebut sehingga tampak dalam organisasi formal akan terbentuk kelompok informal. Apabila
kelompok persahabatan memiliki nilai dan norma yang searah dengan tujuan kelompok formal,
belajar bersama untuk mendapatkan nilai A, tujuan belajar akan mendukung tujuan perguruan
tinggi sebagai kelompok/organisasi formal. Bila di kalangan siswa dan mahasiswa tujuan
kesetiakawanan bertentangan dengan aturan organisasi, seperti melakukan pelangaran disiplin
dalam melengkapi daftar hadir, tentunya akan mempersulit tercapainya tujuan institusi
pendidikan sebagai organisasi formal.




24

2.2.3 Tipe Kelompok Berdasarkan Efektivitasnya
Berdasarkan efektivitasnya, Johnson dan Johnson (2006) membedakan empat macam
kelompok yaitu kelompok pseudo (pseudogroups), tradisional (traditional groups), efektif
(effective groups) dan kinerja tinggi (high-performance groups).

1. Kelompok Pseudo
Kelompok pseudo adalah kelompok yang tidak tertarik dalam bekerja sama di suatu
kelompok tertentu. Biasanya dalam kelompok ini, masing masing individu mementingkan
kepentingannya sendiri. Dapat dikatakan bahwa individu dalam kelompok ini memiliki ego yang
kuat untuk menjadi individu yang paling baik. Dalam diri masing masing individu mereka
beranggapan bahwa ada persaingan dalam kelompok tersebut sehingga hasil kerja kelompok
tidak akan maksimal karena anggotanya tidak komit akan masa depan kelompoknya. Contoh dari
Kelompok Pseudo adalah kelompok para salesman yang anggotanya saling bersaing untuk jadi
salesman terbaik dan melakukan penjualan terbanyak.

2. Kelompok Tradisional
Kelompok Tradisional adalah kelompok yang anggotanya mendapat tugas untuk bekerja
sama namun dalam praktiknya tidak terlihat adanya kerjasama sebagai tim. Maksudnya, tiap
anggota kelompok merasa akan dinilai sebagai individu bukan sebagai kelompok. Mereka juga
berusaha mendapatkan infoormasi tapi tidak mau berbagi informasi yang dimiliki. Anggota
kelompok di kelompok ini juga cenderung bertanggungjawab atas pekerjaan masing masing.
Kelompok Tradisionasl banyak ditemui pada kelas-kelas dimana kelompok ditetapkan oleh guru
atau dosennya.

3. Kelompok Efektif
Kelompok Efektif bukan sekedar jumlah dari bagian-bagiannya. Kelompok Efektif
adalah kelompok yang anggota-anggotanya komit untuk memaksimalkan keberhasilan dirinya
maupun keberhasilan anggota-anggota yang lain. Beberapa karakteristik dari Kelompok Efektif
adalah saling ketergantungan yang positif (positive interdependence), yang menyatukan para
anggota kelompok untuk mencapai sasaran operasional yang jelas, komunikasi-dua-arah,
kepemimpinan didistribusikan (mimpin secara bergantian), dan kekuasaan berdasarkan keahlian.
25

Sebagai tambahan, kelompok yang efektif ini menampilkan proses pengambilan keputusan yang
memungkinkan setiap anggota kelompok untuk saling mempertanyakan informasi dan
penalarannya dan mengatasi konflik secara konstruktif. Anggota Kelompok Efektif saling
mengandalkan tanggungjawab satu sama lain dalam menjalankan bagian tugasnya, membantu
keberhasilan satu sama lain, memiliki keterampilan berkelompok, dan kerjasama yang efektif.

4. Kelompok Kinerja Tinggi
Kelompok Kinerja-Tinggi memenuhi seluruh kriteria dari kelompok yang efektif,
bedanya dari kelompok efektif adalah pada tingkat komitmen anggota-anggotanya satu sama lain
maupun komitmen pada keberhasilan kelompok. Kelompok ini memiliki tingkat komitmen yang
lebih tinggi, tidak hanya kepercayaan, respek satu sama lain, mereka sangat peduli pada anggota-
anggota timnya, termasuk pada pengembangan pribadi setiap anggota kelompok. Selalu siap
untuk membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan. Sayangnya jarang sekali ada kelompok
yang mencvapai tingkat perkembangan ini, menjadi Kelompok Kinerja Tinggi.


2.2.4 Peran Persepsi dalam Hubungan Antar Pribadi
Persepsi adalah sebuah proses mengorganisasi dan menginterpretasikan informasi
sehingga menjadi berarti (King, 2011). Dengan demikian dalam mempersepsi, individu
mengorganisasi dan menginterpretasikan apa yang ditangkap oleh inderanya. Contohnya,
walaupun seorang seorang ibu telah berlaku adil, tapi bila salah seorang anaknya merasa tidak
diperlakukan secara adil, maka anak tersebut akan berpendapat, bersikap maupun memilih
tindakan sesuai dengan persepsinya itu ; ia dianak tirikan.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi persepsi, yang membentuk dan kadang mendistorsi
persepsi. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1. Karakteristik dari individu yang mempersepsi (perceiver) seperti sikap, motif, minat,
pengalaman masa lalu serta ekspektasinya. Misalnya
2. Karakteristik dari target, misalnya menarik atau tidak, gerakan, suara, ukuran dan lain
sebagainya.
3. Situasi adalah konteks dari lingkungan sekitar yang mempengaruhi persepsi.
26


Dalam menilai orang lain seringkali kita menggunakan jalan pintas. Walaupun seringkali jalan
pintas membantu mempercepat individu menyimpulkan apa yang dipersepsi, cara ini bisa
menyesatkan. Oleh karena itu, mempelajari jalan pintas bisa membantu dalam mengenali saat
terjadi dan menghindari distorsi dalam persepsi. Jalan pintas yang sering diambil ini adalah
sebagai berikut:
1. Persepsi yang selektif individu menginterpretasi apa yang dilihatnya secara selektif
berdasarkan minat, latar belakang, pengalaman, dan sikapnya namun membusang bagian
informasi yang dirasakan mengancam atau dianggap tidak relevan.
2. Proyeksi mengatribusikan sikap, karakteristik atau keterbatasannya sendiri pada orang lain.
3. Setreotipi menilai seseorang atau kelompok berdasarkan penilaian umum; orang Jawa halus,
anak bungsu manja, orang tua kolot.
4. Halo Effect perasaan positif mengenai sebuah karakteristik pada individu mempengaruhi
penilaiannya mengenai karakteristik yang lain.
Karena persepsi sangat mempengaruhi keyakinan individu akan apa yang dihadapinya, maka
persepsi juga akan mempengaruhi bagaimana orang berkomunikasi satu sama lainnya.

2.2.5 Pentingnya Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses atau kegiatan penyampaian pesan dari seseorang
kepada orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Komunikasi adalah prasyarat kehidupan
manusia. Karena tanpa komunikasi, interaksi antar manusia, baik secara perorangan, kelompok,
ataupun organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Dua orang dikatakan melakukan interaksi
apabila masing-masing melakukan aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi dilakukan manusia baik
secara perorangan, kelompok, atau organisasi.
Komunikasi merupakan pusat kehidupan kita sebagai manusia. Komunikasi yang efektif
berfungsi memecahkan masalah dalam kehidupan profesional dan meningkatkan hubungan
dalam kehidupan pribadi kita. Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif akan
27

meningkatkan dan memperkaya hidup kita. Para ahli komunikasi percaya bahwa komunikasi
yang buruk adalah akar dari banyak masalah dan bahwa komunikasi yang efektif adalah salah
satu solusi untuk masalah ini
Mempelajari komunikasi secara komprehensif memberikan setidaknya tujuh keuntungan
(Pearson, Nelson, Titsworth, dan Harter, 2011):
a. Mempelajari komunikasi dapat meningkatkan cara kita memandang diri sendiri. Sebagian
dari pengetahuan berasal dari pengalaman komunikasi. Seperti terlibat dalam pikiran
(komunikasi intrapersonal) dan dalam interaksi dengan orang lain yang signifikan
(komunikasi interpersonal), kita belajar tentang diri kita sendiri. Melihat pengaruh
komunikasi dalam menentukan persepsi diri dapat menyebabkan kesadaran yang lebih besar
dan penghargaan diri (Pearson, Nelson, Titsworth, dan Harter, 2011).
b. Belajar keterampilan komunikasi dapat meningkatkan cara kita memandang diri sendiri
dengan cara kedua. Keberhasilan kita dalam berinteraksi dengan orang lain dalam situasi
sosial dan prestasi kita dalam pengaturan profesional akan menimbulkan perasaan yang
lebih positif tentang diri kita sendiri (Ford & Wolvin, 1993).
c. Mempelajari komunikasi dapat meningkatkan pengetahuan tentang hubungan antar
manusia. Belajar komunikasi termasuk belajar tentang bagaimana orang berhubungan satu
sama lain dan tentang apa jenis komunikasi yang sesuai untuk situasi tertentu. Kebanyakan
orang menghargai hubungan antar manusia dan menemukan kenyamanan dalam
persahabatan, hubungan keluarga, dan hubungan masyarakat. Dalam hubungan ini kita
belajar tentang kepercayaan, keakraban, dan hubungan timbal balik (Pearson, Nelson,
Titsworth, dan Harter, 2011).
d. Mempelajari komunikasi dapat mengajarkan seseorang akan pentingnya keterampilan
hidup.
Mempelajari komunikasi berarti pula belajar keterampilan penting lainnya yang akan
digunakan dalam menjalankan kehidupannya, seperti berpikir kritis, pemecahan masalah,
pengambilan keputusan, resolusi konflik, membangun tim, melek media, dan berbicara di
depan orang banyak (Allen, Berkowitz, Hunt, dan Louden, 1999).
e. Mempelajari komunikasi dapat membantu kita menggunakan kebebasan konstitusional
karena kita memahami bagaimana berkomunikasi secara efektif. Beberapa negara memiliki
28

hak untuk mengajak warganya untuk menyampaikan pendapat dan ide-ide mereka, namun
kebebasan berbicara adalah penting untuk suatu bentuk pemerintahan yang demokratis.
Mempelajari komunikasi akan membantu kita belajar bagaimana berbicara secara efektif,
menganalisisargumen, mensintesis sejumlah besar informasi, dan kritis mengkonsumsi
informasi dari berbagai sumber
f. Mempelajari komunikasi dapat membantu kita sukses secara profesional. Orang yang
berpendidikan dalam komunikasi akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang lebih
diinginkan (Bardwell, 1997; Cockrum, 1994: Peterson, 1997: Ugbah & Evuleocha, 1992
dalam Pearson, Nelson, Titsworth, dan Harter, 2011). Banyak profesi yang keberhasilannya
ditentukan oleh keterampilan komunikasi. Profesional di bidang-bidang seperti akuntansi,
audit, perbankan, konseling, teknik, higiene industri, ilmu informasi, humas, dan penjualan
semua ditulis tentang pentingnya kemampuan komunikasi lisan (Hanzevack & McKean,
1991; Horton & Brown, 1990; LaBar , 1994; Messmer, 1997; Nisberg, 1996; Ridley, 1996;
Simkin, 1996, dalam Pearson, Nelson, Titsworth, dan Harter, 2011
g. Mempelajari komunikasi dapat membantu Anda mengendalikan dunia yang semakin
beragam. Belajar bagaimana komunikasi di dunia sekarang ini, apakah bahasa Inggris
adalah bahasa pertama atau tidak, memerlukan pemahaman tentang komunikasi dan budaya
dan bagaimana dua konsep terkait.

Fungsi Komunikasi menurut Onong Uchjana Effendy:
1. Menginformasikan (to inform)
Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi, ide atau pikiran dan
tingkah laku orang lain, serta segala sesuatu yang disampaikan orang lain.
2. Mendidik (to educated)
Komunikasi merupakan sarana pendidikan. Dengan komunikasi, manusia dapat menyampaikan
ide dan pikiranya kepada orang lain, sehingga orang lain mendapatkan informasi dan ilmu
pengetahuan.
3. Menghibur (to entertain)
29

Komunikasi selain berguna untuk menyampaikan komunikasi, pendidikan dan mempengaruhi
juga berfungsi untuk menyampaikan hiburan atau menghibur orang lain.
4. Mempengaruhi (to influence)
Fungsi mempengaruhi setiap individu yang berkomunikasi, tentunya berusaha saling
mempengaruhi jalan pikiran komunikan dan lebih jauh lagi berusaha merubah sikap dan tingkah
laku komunikan sesuai dengan yang di harapkan.

Fungsi Komunikasi menurut William I Gordon:
1. Komunikasi Sosial
Fungsi komunikasi untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk
kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan
ketegangan.
Komunikasi sosial penting untuk:
1. Konsep diri, yaitu pandangan kita mengenai siapa diri kita sendiri
dan itu hanya bisa kita peroleh melalui informasi yang diberikan
orang lain kepada kita.
2. Eksistensi diri. Dengan berkomunikasi, kita dapat menunjukkan
eksistensi diri kita atau aktualisasi diri.
3. Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan dan memperoleh
kebahagiaan.
2. Komunikasi Ekspresif
Komunikasi ekspresif dapat dilakukan sendirian maupun dalam kelompok. Komunikasi
ekspresif dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk
menyampaikan perasaan atau emosi kita. Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan
mempengaruhi orang lain. Perasaan tersebut terutama dikomunikasikan melalui pesan-
pesan non verbal.
a. Komunikasi Ritual
30

Komunikasi ritual sering dilakukan secara kolektif. Mereka yang berpartisipasi
dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan komitmen mereka kepada tradisi
keluarga, suku, bangsa, negara, ideologi, atau agama.
b. Komunikasi Instrumental
Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum, antara lain
menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah
perilaku atau menggerakkan tindakan dan juga untuk menghibur.

Harold D. Lasswell mengemukakan bahwa fungsi komunikasi antara lain:
(1) Manusia dapat mengontrol lingkungannya,
(2) Beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka berada,
(3) Serta melakukan transformasi warisan sosial ke generasi berikutnya

2.2.6 Pengertian Komunikasi
Komunikasi berasal dari bahasa Latin, communicare, yang berarti untuk membuat umum atau
untuk berbagi. Menurut Pearson, Nelson, Titsworth, dan Harter (2011) mendefinisikan
komunikasi sebagai proses menggunakan pesan untuk menghasilkan makna.

2.2.7 Komponen-Komponen Komunikasi
Pearson, Nelson, Titsworth, dan Harter, (2011) menyebutkan beberapa komponen komunikasi,
diantaranya:
1. Orang
31

Orang-orang yang terlibat dalam komunikasi memiliki dua peran, yakni sebagai sumber,
orang yang menyampaikan pesan dan penerima, orang yang menerima pesan.
2. Pesan
Ada dua bentuk pesan yaitu, pesan verbal dan non-verbal. Pesan merupakan isi dari
interaksi dan berisi simbol-simbol dalam komunikasi.
3. Saluran atau Media
Saluran atau media merupakan sarana untuk menyampaikan pesan dari sumber ke
penerima.
4. Umpan balik
Umpan balik merupakan bagian dari situasi dalam komunikasi. Tidak ada tanggapan dan
diam juga termasuk umpan balik.
5. Kode
Kode adalah susunan sistematis simbol yang digunakan untuk membuat makna dalam
pikiran orang lain. Ada dua jenis kode, yaitu kode verbal dan kode non-verbal. Kode
verbal terdiri atas simbol dan pengaturan tata bahasa, sedangkan kode non-verbal terdiri
atas semua simbol yang bukan kata-kata.
6. Encoding dan Decoding
Encoding adalah proses menerjemahkan ide atau pemikiran ke kode. Decoding adalah
proses untuk menempatkan ide atau pemikiran.
7. Kebisingan
Adalah gangguan dalam komunikasi yang mengurangi kejelasan pesan. Kebisingan dapat
berupa fisik atau mental, contoh: suara keras, sakit kepala, ketidakpastian.

2.2.8 Jenis-Jenis Komunikasi
Ada empat jenis komunikasi, yaitu
1. Komunikasi verbal, meliputi suara, kata, bahasa, dan wicara.
2. Komunikasi non-verbal, melibatkan cara-cara fisik dari komunikasi, seperti nada,
sentuhan, suara, dan gerakan tubuh.
3. Komunikasi tertulis, berupa tulisan kata-kata saat berkomunikasi. Komunikasi ini penting
untuk tujuan pendidikan dan bisnis.
32

4. Komunikasi visual, merupakan tampilan visual dari informasi, seperti topografi, fotografi,
tanda, simbol, dan desain.

2.2.9 Tingkat Komunikasi
Kegiatan komunikasi terjadi dalam konteks, yaitu
1. Komunikasi intrapersonal
Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa atau
pemikiran internal sebagai komunikator. Cakupan dalam komunikasi intrapersonal, yakni
mimpi, introspeksi diri, berbicara dengan suara keras, menulis dan menyalin merupakan
kegiatan yang membantu dalam memetakan pemikiran seseorang, mengambil keputusan,
mengintepretasikan komunikasi non-verbal, dan komunikasi antar bagain tubuh.
2. Komunikasi Interpersonal
Komunkasi interpersonal adalah komunikasi yang melibatkan perserta dan
berinteraksi satu sama lain. Saluran komunikasi yang diguakan adalah medium yang
digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim ke penerima. Saluran komunikasi
ada dua jenis, yaitu saluran komunikasi langsung dan saluran komunikasi tidak langsung.
Menurut Pearson, Nelson, Titsworth, dan Harter (2011), diad dan komunikasi kelompok
kecil adalah dua himpunan bagian dari komunikasi interpersonal. Komunikasi diad hanya
melibatkan dua orang, misal wawancara. Komunikasi kelompok kecil adalah proses
menggunakan pesan untuk menghasilkan makna dalam sebuah kelompok kecil (Brilhart
dan Galanes, 1998). Contoh komunikasi dalam kelompok kecil yaitu: komunikasi dalam
keluarga, rekan kerja, kelompok belajar, dan lainnya.
3. Komunikasi kelompok
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa
orang dalam suatu kelompok kecil seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan
sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005)
mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga
orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga
diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik
33

pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di
atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, peserta komunikasi
lebih dari dua orang, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan
kelompok.
Dan B. Curtis, James J.Floyd, dan Jerril L. Winsor (2005, h. 149) menyatakan
komunikasi kelompok terjani ketika tiga orang atau lebih bertatap muka, biasanya di
bawah pengarahan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama dan
mempengaruhi satu sama lain.
4. Komunikasi Publik
Komunikasi publik adalah proses menggunakan pesan untuk menghasilkan makna
dalam situasi di mana satu sumber mengirimkan pesan ke banyak penerima, yang disertai
komunikasi nonverbal, dan kadang-kadang dengan mengajukanpertanyaan dan jawaban
atau umpan balik. Dalam komunikasi publik sumber menyesuaikan pesan ke penerima
pesan dalam upaya untuk mencapai pemahaman maksimum.
Komunikasi publik paling sering digunakan untuk tujuan menginformasikan atau
membujuk, tetapi juga dapat pula untuk tujuan menghibur, memperkenalkan suatu
produk, mengumumkan suatu informasi atau keputusan. Bentuk komunikasi public antara
lain: kuliah di dalam ruangan kelas, seminar atau ceramah di ruang aula atau auditorium,
dan ibadah.
5. Komunikasi Masa
Komunikasi massa merupakan proses penyampaian pesan untuk menghasilkan
makna, antara sumber dan sejumlah besar penerima yang melibatkan beberapa sistem
transmisi (mediator).
6. Komunikasi Melalui Komputer
Pearson, Nelson, Titsworth, dan Harter (2011) mengemukakan komunikasi lain:
Komunikasi Melalui Komputer, meliputi komunikasi manusia dan berbagi informasi
melalui jaringan komputer. Komunikasi Melalui Komputer ini membutuhkan keaksaraan
digital, yaitu kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi
yang tersedia melalui komputer.
34

2.2.10 Hambatan Komunikasi
1. Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat
komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan
sebagainya.
2. Hambatan Persepsi
Komunikasi tidak akan berjalan efektif, jika persepsi si pengirim pesan tidak sama
dengan si penerima pesan. Perbedaan ini bahkan bisa menimbulkan pertengkaran, diantara
pengirim dan penerima pesan
3. Hambatan Emosional
Salah satu hambatan utama untuk membuka dan komunikasi bebas adalah hambatan
emosional. Hal ini terutama terdiri dari ketakutan, ketidakpercayaan dan kecurigaan.
4. Hambatan Budaya
Ketika kita bergabung dalam kelompok dan ingin tetap di dalamnya, cepat atau lambat
kita perlu mengadopsi pola perilaku kelompok. Dalam kelompok yang senang menerima
anggotanya, dan anggota kelompok tersebut dengan senang hati akan menyesuaikan diri, apabila
terdapat hambatan untuk menyesuaikan diri sebagai anggota kelompok, tidak terjadi komunikasi
yang baik.
5. Hambatan Bahasa
Bahasa yang menggambarkan apa yang kita ingin katakan dalam dapat menjadi sumber
hambatan komunikasi kita dengan orang lain yang tidak akrab
2.2.11 KEPEMIMPINAN
1. Menginspirasi Visi Bersama Secara Jelas
Tanggung jawab kepemimpinan kedua adalah untuk menciptakan visi bersama dari apa
yang tim atau organisasi harus dan bisa, misi yang jelas bahwa semua anggota berkomitmen
35

untuk mencapai satu tujuan sebagai upaya-upaya membimbing anggotanya. Untuk
melakukannya seorang pemimpin harus:
1) Memiliki visi / impian yang dapat dicapai organisasi.
2) Mengkomunikasikan visi itu dengan komitmen dan antusiasme.
3) Membuat visi bersama diadopsi anggota staf sebagai milik mereka.
4) Membuat visi yang rasional dan prosedur pelaksanaan disusun berdasarkan kesepakatan
bersama.
Pemimpin hendaknya antusias dan sering berkomunikasi tentang impian tim dan
organisasi serta menjadi tempat di mana anggota kelompok saling berbagi, membantu,
mendorong, dan mendukung usaha satu sama lain untuk mencapai dan berhasil.

2. Memungkinkan Orang Lain Untuk Bertindak
Pemimpin yang efektif akan berkolaborasi dan memberdayakan anggotanya untuk
menetapkan dan mencapai tujuan koperatif. Anggota kelompok perlu tahu bagaimana
memberikan kontribusi dalam cara yang berarti. Dengan mendengarkan dan mendukung semua
anggota kelompok akan menciptakan suasana saling percaya dan menghormati untuk
mengembangkan potensi mereka.

3. Model Bagaimana Kelompok Berfungsi
Seorang pemimpin adalah bagian dari dan tidak terlepas dari kelompok. Agar efektif,
pemimpin harus menunjukkan perilaku yang diharapkan oleh orang lain dan memastikan
konsisten antara kata dan perbuatan mereka. Para pemimpin yang mengharapkan ketekunan dan
dedikasi tidak boleh menyerah, bahkan di tengah-tengah kesulitan.

4. Mendorong Berkembangnya Semangat Kebersamaan
Pemimpin hendaknya mampu menemukan cara untuk menghargai anggota dan kelompok.
Pemimpin yang efektif akan memberikan pelatihan, umpan balik, dan pengakuan pada
anggotanya untuk menunjukkan penghargaan atas upaya mereka. Kepemimpinan dapat dipelajari,
misalnya melalui suatu pelatihan atau memanfaatkan peluang untuk menjadi seorang pemimpin.
Hal-hal yang akan dilakukan seseorang jika tidak ingin menjadi pemimpin :
1. Sesering mungkin tidak hadir pada pertemuan kelompok
36

2. Jika hadir di pertemuan, tidak memberikan kontribusi apa-apa
3. Menunjukkan bahwa hanya mau melakukan yang dianggap harus dilakukan dan
tidak lebih
4. Selama pertemuan melakukan hal lain

5. Membangun Kelompok Yang Efektif
Untuk bisa menjadi efektif, sebuah kelompok harus melakukan tiga hal: mencapai
sasaran, mempertahankan hubungan yang baik antar anggota kelompok; dan menyesuaikan diri
terhadap kondisi yang berubah dari lingkungannya.
Johnson dan Johnson (2008) mengajukan tujuh pedoman untuk membangun kelompok yang
efektif.
a. Tetapkan sasaran kelompok yang jelas, operasional dan relevan sehingga menciptakan saling
ketergantungan yang positif dan membangkitkan komitmen yang tinggi dari setiap
anggotanya.
b. Bangun komunikasi-dua-arah yang efektif dalam kelompok dimana setiap anggota dapat
mengkomunikasikan gagasan dan perasaannya secara tepat dan jelas.
c. Pastikan bahwa setiap anggota berkesempatan untuk menjadi pemimpin dan berpartisipasi.
d. Pastikan bahwa kekuasaan dibagi di antara anggota kelompok dan bahwa pola pengaruh
bervariasi sesuai dengan kebutuhan dari kelompok. Dalam kelompok yang efektif kekuatan
didasarkan pada keahlian, kemampuan, dan akses pada informasi, bukan pada otoritas
ataupun karakter kepribadian.
e. Sesuaikan prosedur pengambilan keputusan dengan situasinya. Harus ada keseimbangan
antara waktu dan sumberdaya yang dimiliki dengan metode pengambilan keputusan yang
dipilih.
f. Melibatkan kontroversi yang konstruktif melalui ketidaksetujuan dan tantangan terhadap
kesimpulan dan penalaran satu sama lain, sehingga akan meningkatkan pengambilan
keputusan dan pemecahan masalah yang kreatif.
g. Hadapi dan pecahkan konflik secara konstrutktif. Konflik kepentingan bisa terjadi akibat
kebutuhan dan tujuan yang tidak selaras, langkanya sumberdaya maupun adanya persaingan.
37

Dalam menangani konflik ini, ada dua kepentingan yang menjadi pertimbangan, tujuan
atau sasaran kelompok dan hubungan antar anggota kelompok. Lima strategi dasar dapat
digunakan untuk mengangani konflik kepentingan, yaitu :

a) Burung Hantu (Kolaborasi)
Strategi burung hantu sangat menghargai tujuan maupun hubungan. Bila baik tujuan maupun
hubungan dianggap sama-sama pentingnya, untuk menyelesaikan konflik individu akan
memilih pemecahan masalah negosiasi.
b) Boneka Beruang (Akomodasi)
Dalam strategi boneka beruang, hubungan dianggap sangat penting, sedangkan tujuan
memiliki derajat kepentingan yang rendah. Individu yang menggunakan strategi ini, dalam
menghadapi konflik dengan orang lain, cenderung lebih mempertahankan kualitas hubungan
dan mengorbankan tujuannya sendiri.
c) Hiu (Konfrontasi)
Strategi Hiu menganggap hubungan tidak penting sedangkan tujuannya sangat penting, oleh
karena itu individu ini akan mencoba untuk mengalahkan lawan dengan memaksa mereka
untuk menyerah sehingga ia dapat mencapai tujuannya.
d) Rubah (Kompromi)
Rubah menganggap tujuan dan hubungan dengan anggota kelompok lainnya sama-sama
cukup penting. Dalam rangka untuk mencapai kesepakatan, orang dengan gaya rubah merasa
perlu untuk menyerahkan sebagian dari tujuannya dan sedikit mengorbankan hubungannya
kepada anggota kelompok lainnya yang terlibat konflik dengan dirinya.
e) Kura-Kura (Menghindar)
Strategi kura-kura apabila terlibat konflik dengan orang lain cenderung menarik diri
menghindari konflik. Ia tidak mementingkan hubungannya dengan orang lain dan tujuannya
tidak akan tercapai.
Anggota kelompok yang efektif akan menghadapi konflik dan terlibat dalam mengatasi
konflik tersebut dengan cara negosiasi integratif. Jika negosiasi gagal, mediasi dapat terjadi.
Apabila konflik berhasil diselesaikan secara konstruktif, efektivitas kelompok akan meningkat.
Oleh karena itu konflik merupakan aspek penting dan sangat diperlukan guna meningkatkan
efektivitas kelompok.
38

2.3 MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

2.3.1 Pengertian Masyarakat
Istilah masyarakat bukanlah istilah sederhana yang dapat dijelaskan, melainkan suatu
istilah yang kompleks. Istilah masyarakat berasal dari berbagai bahasa , seperti dalam bahasa
arab yaitu musyarak yang artinya ikut serta, sedangkan dalam bahasa inggris masyarakat
disebut society yang berarti teman atau kerabat. Namun, emang pengertian masyarakat
secara etimologi dapat didefinisikan sebagai sekelompok manusia yang saling berpartisipasi ,
berteman dan bergaul.

Disamping itu pengertian masyarakat juga telah dikemukakan oleh beberapa ahli,
seperti :
Hasan Shadily (1983:47) mendefinisikan masyarakat sebagai golongan besar atau
kecil yang terdiri atas beberapa manusia , yang dengan atau karena sendirinya
bertalian secara golongan dan pengaruh-mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
Ralph Linton (terj.1984:118) menjelaskan masyarakat adalah setiap kelompok
manusia yang hidup dan bekerja sma dalam waktu yang relative lama dan mampu
membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka menganggap sebagai
satu kesatuan social.(sehingga dari definisi masyarakat menurut ralph tersebut,
dapat disimpulkan bahwa jika masyarakat tidak hanya dapat dianggap sebagai
suatu kelompok manusia yang berkumpul dalam waktu yang temporal, sehingga
jika sekelompok siswa yang sedang belajar di kelas, ataupun sekelompok orang
yang sedang menonton pertunjukkan music tidaklah dapat disebut sebagai
masyarakat).
Menurut Koencaraningrat (2009:118) , masyarakat merupakan kesatuan hidup
manusia yang berinteraksi menurut suatu system adat istiadat tertentu yang
bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas yang sama.
Soekanto (1990:26-29 & 187) menyatakan bahwa , yang mengangkat konsep
masyarakat menurut tokoh Sosiologi Indonesia , Selo Soemardjan , yaitu suatu
system social yang menghasilkan kebudayaan.
39

Selain itu, Mutakkin , dkk .(2004:26&29) mereka mengemukakan suatu ringkasan
mengenai ciri-ciri masyarakat, antara lain :
1. Kumpulan manusia yang hidup bersama ; meskipun secara teori jumlah manusia itu
bisa dua atau lebih , namun pada umumnya sebutan masyarakat ditujukan kepada
sekumpulan manusia yang cukup besar.
2. Bergaul dalam jangka waktu yang relative lama.
3. Setiap anggotanya menyadari sebagai satu kesatuan.
4. Bersama membangun sebuah kebudayaan yang membuat keteraturan dalam
kehidupan bersama.

Disamping itu, Istilah masyarakat juga sering dipergunakan atau direlasikan dengan
istilah-istilah lain seperti komunitas, rakyat , penduduk , suku bangsa, dan
bangsa.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) , istilah-istilah tersebut dapat
dijelaskan , anatara lain :
a. Komunitas merupakan kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan
saling berinteraksi di suatu daerah tertentu, seperti masyarakat , paguyuban,dan
sebagainya. Dari pengertian KBBI ini dapat disimpulkan bahwa ada beberapa
perbedaan yang mewakili sifat-sifat komunitas dan masyarakat itu sendiri. Istilah
komunitas merujuk kepada kesatuan kelompok baik manusia maupun organisme
lainnya, sedangkan masyarakat menunjukkan kelompok social atau kelompok
manusia. Selain itu, jikan yang dimaksud adalah kelompok social, maka istilah
komunitas menunjukkan adanya kesamaan anggota kelompoknya, baik sifat,
kebiasaan , tempat tinggal dan yang lainnya. Sedangkan istilah masyarakat lebih
menunjukkan definisi kelompok yang heterogen, sehingga cakupannya lebih luas.
b. Rakyat adalah penduduk suatu negara (2002:924) . Berdasarkan pengertian ini dapat
diambil suatu kesimpulan bahwa istilah masyarakat lebih luas dari istilah rakyat. Kita
dapat menyebut masyarakat dunia namun tidak mungkin menyebut rakyat dunia.
c. Warga adalah anggota (keluarga, perkumpulan, dan sebagainya) atau tingkatan dalam
masyarakat (2002:1268). Istilah warga ini lebih dekat dengan istilah rakyat, yaitu
mengacu kepada anggota suatu lembaga atau suatu wilayah.
40

d. Penduduk adalah orang atau orang-orang yang mendiami suatu tempat. Istilah
penduduk ini hampir sama dengan istilah warga.
e. Suku bangsa adalah kesatuan social yang dapat dibedakan dari kesatuan social lain
berdasarkan kesadaran akan identitas perbedaan kebudayaan, khususnya bahasa
(2002:1009). Berbeda dengan istilah warga,rakyat,maupun penduduk yang diberikan
oleh suatu lembaga,institusi, atau negara. Istilah suku bangsa diberikan oleh
masyarakat suku bangsa tersebut.pengakuan sebagai anggota suku bangsa datang atas
kesadaran diri si individu berdasarkan latar belakang asal-usul dirinya.
f. Bangsa adalah kelompok masyarakat yang bersamaan asal-usul
keturunan,adat,bahasa, dan sejarahnya,serta pemerintahan sendiri; serta kumpulan
manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti
umum,dan menempati wilayah tertentu di muka bumi. (2002:102).

Sehingga dari penjabaran definisi akan istilah-istilah diatas dapat ditemuka suatu
perbedaan arti dengan istilah masyarakat, yang walaupun dalam beberapa tulisan
sering ditemukan penggunaan istilah-istilah tersebut secara tumpang tindih.

2.3.2 Fungsi Masyarakat
Dari definisi masyarakat yang telah dijelaskan sebelumnya , maka dapat disimpulkan
bahwa fungsi dari masyarakat itu terbagi menjadi beberapa poin , antara lain :
Sebagai wadah bagi individu-individu berkumpul dan berinteraksi,
Sebagai tempat dimana indiviu dapat menunjukkan eksistensinya dan
menemukan makna dalam kehidupannya , termasuk untuk melakukan
reproduksi dan regenerasi,
Sebagai tempat individu berekspresi dan berekreasi mengembangkan
kebudayaan.

2.3.3 Bentuk-bentuk Masyarakat

41

1. Masyarakat Berdasarkan Mata Pencahariannya
Masyarakat berdasarkan mata pencahariannya dibagi menjadi : masyarakat berburu dan
meramu, masyarakat pertanian dengan sistem irigasi,masyarakat industri, dan masyarakat post-
industri. Meskipun penjelasan masyarakat berdasarkan mata pencaharian ini menunjukkan suatu
proses evolusi/perubahan, namun ternyata proses evolusi ini berkembang secara multilinier
(bercabang-canbang dan berbeda-beda).
a. Masyarakat Berburu dan Meramu ( Hunting and gathering societies )
Mata pencaharian berburu dan meramu ini merupakan mata pencaharian manusia
yang paling tua. Masyarakat ini masih mengandalkan alam untuk pemenuhan
kebutuhan hidup kelompoknya. Kegiatan berburu pada umumnya dilakukan oleh laki-
laki, sedangkan meramu dilakukan oleh perempuan.
Beberapa contoh masyarakat yang berburu dan meramu misalnya : suku bangsa
Eskimo yang berburu binatang kutub di wilayah Pantai Utara Kanada, orang-orang
Buschmen di wilayah Gurun Kalihari, Afrika Selatan, dan ras Australoid yang
berburu binatang gurun di wilayah gurun Australia.
Sementara itu di Indonesia, kita masih menemui masyarakat peramu di wilayah
rawa dan pantai Irian Jaya yang meramu sagu.
Namun saat ini kegiatan berburu sudah semakin berkurang karena hutan-hutan yang
menyediakan binantang buruan sudah semakin sedikit.

b. Masyarakat Berladang dan Beternak ( Horticulturalist and Pastoralist )
Pada dasarnya bercocok tanam di ladang berbeda dengan bertani di sawah.
Kebudayaan berladang masih mengandalkan alam, yaitu menanti hujan untuk
menyuburkan tanaman dan menggunakan teknik pengolahan tanah yang sederhana,
sementara kegiatan bertani sudah menggunakan sistem pengairan yang teratur.
Biasanya, kegiatan berladang dilakukan dengan membuka lahan di hutan, yaitu
dengan menebang atau membakar pepohonan di hutan dan menggantinya dengan
menanami tumbuh-tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Jika ladang tersebut sudah ditanami 2-3 kali, maka biasanya unsur hara tanah di
daerah tersebut akan hilang, sehingga saat ditanami lagi tidak akan menghasilkan.
42

Akibatnya, ladang tersebut akan ditinggalkan begitu saja dan mereka mencari hutan
lain untuk dijadikan ladang baru. Namun, dalam jangka waktu 10-12 tahun kemudian,
jika ladang yang mereka tinggalkan sudah menjadi hutan lagi, maka mungkin saja
mereka kembali ke hutan itu dan menjadikannya ladang lagi. Demikianlah, mereka
melakukan kegiatan bercocok tanam secara temporal dan berpindah-pindah.
Sementara itu, kegiatan beternak adalah kegiatan memelihara binatang ternak,
seperti sapi, kuda, domba, unggas, dan unta untuk dimanfaatkan, baik daging, telur,
susu, maupun tenaganya. Biasanya mereka memelihara ternak dalam jumlah yang
sangat besar (mencapai ratusan), sehingga membutuhkan daerah yang subur yang
dapat menyediakan rerumputan banyak untuk ternak mereka.
Oleh karena itu, sama seperti berladang, masyarakat peternak juga cenderung
berpindah-pindah (nomaden) untuk mencari tempat baru saat di tempat lama sudah
kehabisan makanan. Biasanya mereka hidup dengan mendirikan kemah-kemah.
Contoh msyarakat peternak adalah bangsa Arab Badui yang memelihara unta,
kambing, dan kuda di wilayah Gurun Semenanjung Arab, dan masyarakat yang hidup
di daerah stepa Asia Tengah, seperti suku bangsa Mongolia, Turki, Kirgiz, Kazakh,
dan Uzbek.

c. Masyarakat Pertanian ( Intensive Agriculturalists)
Kegiatan pertanian dibedakan dengan kegiatan berladang pindah. Pertanian adalah
kegiatan bercocok tanam di suatu tempat dengan melakukan penanaman yang intensif dan
menggunakan irigasi. Dengan adanya irigasi, maka ketergantungan manusia pun semakin
berkurang pada turunnya hujan.
Dengan adanya penemuan teknologi pertanian, maka berkembanglah budaya dan
pencapaian peradaban pada beberapa bangsa. Masyarakat yang telah menemukan system ini
memiliki banyak waktu untuk melakukan hal lain seperti : system bahasa, organisasi social,
kesenian, dan sebagainya. Karena perkembangan ini, maka masyarakat pun semakin pesat
perkembangannya ke system yang lebih tinggi
d. Masyarakat Industri
43

Masyarakat industry hadir tetapi tidak terlepas dari kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Bertitik tolak dari munculnya ilmuwan-ilmuwan Eropa Barat pada sekitar abad ke-16
(1500 M), yang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ditemukannya mesin-mesin
yang dapat menghasilkan barang-barang produksi kemudian menyebabkan kegiatan produksi
dapat dilakukan dalam jumlah besar dan berlipat-lipat dari kegiatan sebelumnya. Kegiatan
ekonomi awalnya dikerjakan oleh tangan-tangan manusia kemudian digantikan oleh mesin-
mesin. Dampaknya adalahkemajuan di bidang perekonomian dan meningkatnya kemakmuran
masyarakat.
Industrialisasi merupakan keadaan dimana suatu system perekonomian dilengkapi dengan
mesin/pabrik yang selanjutnya hal ini menjadi stimulus bagi sector-sektor perekonomian lainnya.
Akibat dari industrialisasi, masyarakat berkembang berubah menjadi masyarakat modern.
Perubahan juga terjadi pada solidaritas sosialnya.
Secara singkat, industrialisasi telah mereduksi kolektivisme yang dimiliki masyarakat
tradisional dan menumbuhkan individualisme.

e. Masyarakat Post-Industri
Setelah industrialisasi yang berkembang selama 3 abad, selanjutnya pada abad ke-21 ini,
masyarakat modern semakin menunjukkan kemajuan dan peningkatan. Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang teknologi informatika, menyebabkan hubungan
manusia semakin intensif dan cepat.
Misalkan adalah Hp. Semenjak ada Hp, manusia semakin cepat untuk bekerja karena
komunikasinya semakin lancar.

Di Indonesia, garis-garis kedaerahan pokok antara daerah social dan daerah kebudayaan,
secara historis telah dipengaruhi oleh keadaan geografisnya. Masyarakat berdasarkan letak
geografis dan pengaruh lingkungannya secara kasar dikategorikan ke dalam tiga kelompok :
a. Masyarakat Agraris
44

Masyarakat agraris identik dengan kegiatan bercocok tanam. Tentu saja, pekerjaan
mereka didukung oleh geografis daerah tempat tinggal, seperti ketinggian tanah,
kesuburan tanah, cuaca, curah hujan, dan lain-lain. Di Indonesia, masyarakat agraris
biasanya penduduk di daerah Jawa dan Bali.
b. Masyarakat Maritim
Masyarakat maritim identik dengan laut sebagai sumber ekonomi. Laut menyediakan
sumber daya alam berupa ikan dan tumbuhan laut, serta menjadi sarana untuk
berlayar. Di Indonesia, masyarakat maritim biasanya penduduk Makassar, Bugis, dan
lain-lain.
c. Masyarakat Pedalaman
Masyarakat pedalaman biasanya mengisolasikan diri dari kehidupan luar. Mereka
tidak terpengaruh oleh kemajuan teknologi di sekitar mereka, bahkan beberapa
sengaja menolak pengaruh tersebut. Di Indonesia, yang termasuk masyarakat
pedalaman adalah suku bangsa di Papua, suku Dayak di Kalimantan, suku Anak
Dalam di Sumatera, dan lain-lain.
Selain ketiga jenis masyarakat tersebut, dikenal pula istilah masyarakat tradisional dan
masyarakat modern.
Konsep masyarakat tradisional dan masyarakat modern saling berkontradiksi. Di satu sisi,
masyarakat tradisional dianggap sebagai masyarakat yang belum atau tidak modern; sementara
masyarakat modern dianggap sebagai masyarakat yang telah meninggalkan tradisi lama.
Masyarakat tradisional pun identik dengan pedesaan dan masyarakat modern identik dengan
perkotaan. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai konsep masyarakat tradisional dan
masyarakat modern.
1. Masyarakat Tradisional
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, masyarakat tradisional identik dengan
tradisi lama atau tertinggal, sehingga kadang dianggap sebagai penghambat
pembangunan menuju modernisasi. Menurut Mutakin, masyarakat tradisional ada
yang bertempat tinggal di tempat yang sulit dijangkaubaik itu karena terisolasi oleh
alam atau memang mereka sendiri yang tak mau bersentuhan dengan masyarakat luar.
45

Namun Michael R, Dove mengatakan bahwa masyarakat tradisional tak harus
selalu disamakan dengan masyarakat terbelakang yang tak mau mengalami perubahan.
Mereka mau menerima perubahan, tetapi dengan tetap mempertahankan
kebudayaannya. Misalnya di Yogyakarta. Keraton dan kesultanan mungkin bukan
lagi pusat kekuasan politik, tetapi tetap dipertahankan sebagai pusat tradisi
masyarakatnya.
Tak hanya itu, dalam budaya tradisional yang dimiliki masyarakat tradisional
didapati hal positif. Misalnya masyarakat Badui di Kalimantan yang memiliki tradisi
menghormati hutan. Hal ini tentu saja positif, sebab dengan begitu hutan di
Kalimantan terlindungi dan terjaga kelestariannya. Berbeda dengan kehidupan
masyarakat modern. Dalam sekejap, hutan-hutan bisa habis ditebang dan dijadikan
kebutuhan mereka sehingga berakibat banjir.
Jadi, bila budaya yang bernilai positif diterapkan, hal itu justru dapat membantu
pembangunan. Indonesia pun memiliki beberapa nilai positif yang sudah membudaya,
seperti tradisi gotong royong, budaya hemat dan hidup sederhana.
2. Masyarakat Modern
Bertentangan dengan masyarakat tradisional sebagaimana dijelaskan
sebelumnya, masyarakat modern cenderung sudah mengalami perubahan dan
memiliki kebudayaan baru seiring perkembangan zaman. Soekanto berpendapat
bahwa karakter manusia modern adalah sebagai berikut:
Lebih terbuka kepada pengalaman atau kejadian baru.
Siap menerima perubahan.
Memiliki kepekaan sosial.
Mempunyai informasi yang lengkap mengenai pendiriannya.
Berorientasi ke masa kini dan masa depan.
Yakin bahwa potensi dalam diri bisa dikembangkan.
Berpedoman pada perencaan (terhadap masa depan).
Tidak pasrah terhadap nasib.
Percaya pada kecanggihan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Adanya toleransi (menghormati dan menghargai hak dan kewajiban pihak lain)
46

Untuk bisa merespon terhadap perubahan, perlu ditanamkannya nilai-nilai atau
karakter masyarakat modern tersebut, salah satunya dengan pendidikan. Oleh karena
itu, diperlukan pula pendidikan yang membangun karakter, bukan hanya mengajarkan
ilmu pengetahuan. Dengan begitu, masyarakat dini seperti anak-anak bisa tumbuh
dengan karakter bercirikan masyarakat modern.

2.3.4 Pentingnya Memahami Konsep Masyarakat
Dalam karyanya, Mutakin berpendapat bahwa memahami konsep masyarakat dalam membawa
dampak positif seperti:
Munculnya rasa senasib sepenanggungan. Dengan adanya rasa senasib sepenanggungan,
maka beban atau tekad untuk membangun bangsa juga dirasakan bersama. Hal inilah
yang akan menyatukan bangsa Indonesia dalam pembangunannya.
Adanya kesadaran untuk saling bergantung. Seperti yang kita ketahui, masyarakat tak
bisa berdiri sendiri. Mereka saling membutuhkan satu sama lain, saling bergantung.
Dengan adanya rasa saling bergantung, masyarakat saling membantu, sehingga
terciptalah hubungan yang harmonis,
Muncul rasa toleransi. Jika seorang individu memahami konsep masyarakat, maka ia bisa
bertoleransi jika menemui suatu sifat atau keadaan masyarakatsebab ia telah
mempelajari konsep masyarakat tersebut sebelumnya. Misalnya, masyarakat Mentawai
saat ini masih ada yang tidak mengenakan pakaian, masih menganut paham animisme,
dan memiliki tradisi mentato tubuh mereka. Apa yang mereka lakukan mungkin sudah
menjadi tradisi turun temurun dan jika tidak dilakukan akan membawa bencana nantinya.
Karena itulah dibutuhkan rasa toleransi, sebab kita tidak bisa seenaknya mencegah atau
menghalangi mereka melakukan hal yang sudah menjadi tradisinya.
Terukurnya keberartian individu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, manusia tak
bisa berdiri sendiri. Karena itu di dalam masyarakat, tentu tiap individu memiliki peran
atau arti diri dalam kelompok itu masing-masing.
Tertanamnya nilai demokrasi. Sama seperti bagaimana rasa toleransi muncul, dengan
adanya keberagaman dalam masyarakat, maka nilai-nilai demokrasi pun turut tertanam.
47

Dampak positif tersebut membawa perubahan dan juga membawa individu menjadi seorang
yang peka akan masalah sosial sehingga mau ikut berkontribusi demi bangsa dan
pembangunannya ke arah yang lebih baik.

2.3.5 Memahami Konsep Kebudayaan
1. Pengertian Kebudayaan
Secara etimologi, kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddayah, yang
merupakan bentuk jamak dari kata buddhi, yang berarti budi atau akal. Dari asal kata
itulah kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal.
(Koentjaraningrat, 2009:146). Setiap orang atau masyarakat dapat mendefinisikan konsep
kebudayaan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman atau berdasarkan kebudayaan yang
mempengaruhi pemikiran mereka tentang kebudayaan itu. Kebudayaan, menurut
Koentjaraningrat (2009:144), adalah keseluruhan ide atau gagasan, tingkah laku, dan hasil
karya manusia dalam rangka hidup bermasyarakat yang diperolehnya dengan cara belajar.
Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa suatu kebudayaan tampil dalam tiga wujud, yaitu
wujud pertama berupa ide atau gagasan yang bersifat abstrak, sehingga tidak dapat dipahami
sebelum ia dinyatakan melalui wujud kedua, yaitu gerak atau aktivitas tubuh, dan/atau
melalui wujud ke tiga, berupa benda-benda kongkret.
2. Fungsi dan Hakekat Kebudayaan
Secara ringkas Soekanto (1990:214), mengemukakan kegunaan kebudayaan bagi manusia, yaitu
untuk melindungi diri terhadap alam, mengatur hubungan antarmanusia dan sebagai wadah dari
segenap perasaan manusia. Lebih lanjut Soekanto menjelaskan hakekat kebudayaan, yaitu:
(1) Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia.
(2) Kebudayaan telah ada lebih dahulu mendahului lahirnya manusia; meskipun tidak selalu
demikian, karena dapat saja kebudayaan lahir dari manusia masa kini yang dapat disaksikan
atau dialami oleh manusia yang telah lahir sebelum kebudayaan itu ada.
(3) Kebudayaan diperlukan oleh manusia
(4) Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban, tindakan yang diterima atau
ditolak, tindakan yang dilarang atau yang diizinkan
48

(5) Kebudayaan tidak bersifat statis, melainkan dinamis, sebagai mana manusia dan masyarakat
yang melahirkan kebudayaan itu juga bersifatdinamis.
3. Wujud dan Unsur Universal Kebudayaan
Wujud Kebudayaan
Dari pengertian kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat, kebudayaan memiliki tiga
wujud: ide, tindakan, artefak. Pendapat Koentjaraningrat ini sejalan dengan pendapat Talcott
Parsons dan A.L. Kroeber (1958:582-583, yang dikutip dari Koentjaraningrat, 2009:150151)
yang membedakan tiga wujud kebudayaan sebagai:
a) Wujud pertama, yaitu kompleks dari ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, dan lain
sebagainya. Wujud ini bersifat abstrak, karena berada dalam alam pikiran manusia
(masyarakat). Ide atau gagasan ini memberi jiwa kepada masyarakat dan mempengaruhi
tindakan dan hasil kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat. Wujud pertama kebudayaan
ini disebut dengan istilah sitem budaya (cultural system), yang lebih dikenal dengan istilah
adat atau adat istiadat. Adat (adat istiadat) atau sistem budaya ini diwariskan secara lisan
turun temurun. Dalam perkembangan selanjutnya wujud ideal ini dapat disimpan dalam
disket, arsip, koleksi microfilm, kartu komputer, dan media sebagainya.
b) Wujud kedua meliputi kompleks dari aktivitas serta tindakan berpola dari manusia. Wujud
kedua ini disebut sistem sosial (social system), meliputi seluruh aktivitas manusia yang
berinteraksi, berhubungan, bergaul satu sama lain dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan
seterusnya, menurut pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan yang berlaku. Sistem
sosial ini bersifat kongkret, artinya dapat dilihat melalui indera, dapat diobservasi, juga
didokumentasikan dengan media foto atau video.
c) Wujud ketiga, berupa hasil karya manusia yang berwujud benda-benda fisik atau artefak,
baik berupa benda-benda yang berukuran besar seperti gedung dan rumah atau benda-benda
yang berukuran kecil, seperti kancing baju, jarum, dan lain-lain; baik bendabenda yang
mepunyai nilai guna maupun nilai seni yang indah. Wujud kebudayaan inilah yang paling
kongkret dan paling nampak. Wujud ketiga inilah yang juga sering kali dijadikan indikator
dalam menilai kemajuan kebudayaan suatu masyarakat. Ketiga wujud kebudayaan itu saling
berkaitan satu dengan lainnya. Suatu benda hasil karya manusia pastilah merupakan hasil
aktivitas manusia dan lahir dari suatu idea atau gagasan. Demikian juga suatu gagasan dapat
49

memiliki arti jika diketahui oleh manusia lainnya dan dijadikan sebagai suatu landasan
berperilaku dan terwujud melalui suatu karya yang bermanfaat. Sebagai contoh misalnya
ketika manusia memiliki ide untuk mengemburkan tanah agar dapat ditanami maka ia
melakukan pekerjaan menempa besi menjadi lempengan dan menebang hutan untuk
mengambil kayu yang dijadikan alat untuk menggerakkan lempengan besi itu, sehingga
terbentuklah cangkul, alat untuk menggemburkan tanah. Sifat manusia yang tidak pernah
puas dengan hasil karya yang telah dicapainya, menyebabkan manusia terus memikirkan
suatu alat yang dapat mempermudah pekerjaannya di sawah. Kemudian, agar memperoleh
hasil sawah yang lebih banyak, maka terbentuklah alat membajak sawah dan selanjutnya
berkembang menjadi traktor yang digerakkan oleh mesin.
Unsur Universal Kebudayaan
Meskipun kebudayaan yang dimiliki manusia di seluruh dunia beraneka ragam, namun menurut
C Wissler, terdapat cultural universals, yaitu unsur-unsur kebudayaan yang sifatnya universal,
artinya ada pada setiap masyarakat. Terdapat tujuh (7) unsur universal kebudayaan itu
(Koentjaraningrat, 2009:299), yaitu:
1. Sistem organisasi sosial; setiap masyarakat memiliki sistem organisasi sosial yang berfungsi
mengatur harmonisasi kehidupan masyarakatnya. Kesatuan sosial yang paling erat dan dekat
adalah kekerabatan, di mana unit terkecil dari sistem kekerabatan ini adalah keluarga inti,
selanjutnya keluarga besar dan seterusnya bentuk kekerabatan yang lebih luas lagi yang
biasanya terikat oleh adat istiadat dan norma yang secara turun temurun telah diterima oleh
kesatuan sosial ini.
2. Sistem matapencaharian; pada hakekat kebudayaan dihasilkan manusia dalam rangka
pemenuhan kebutuhan manusia. Manusia sebagai mana makhluk hidup lainnya
membutuhkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan
primer inilah manusia mengolah sumber daya alam di sekitarnya. Oleh karena keadaan alam
sekitar manusia bermacam-macam, ada yang kondisi tanahnya subur dan mudah dijadikan
tempat untuk bercocok tanam, ada kondisi alam yang di kelilingi dengan laut dan samudera,
dan sebagainya, sehingga manusia-manusia di berbagai tempat itu mengembangkan mata
pencaharian yang berbeda-beda.
50

3. Sistem teknologi; dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mempermudah kehidupan mereka,
masyarakat mengembangkan alat-alat teknologi. Masyarakat berburu, misalnya,
mengembangkan alat atau senjata untuk membunuh binatang buruannya.
4. Sistem pengetahuan; Penemuan teknologi tidak terlepas dari sistem pengetahuan yang
dimiliki dan dikembangkan oleh masyarakat. Suatu masyarakat, betapa pun kecilnya, pastilah
memiliki sistem pengetahuan, minimal pengetahuan tentang alam sekitarnya.Masyarakat
berburu dan meramu, sebagai masyarakat dengan kebudayaan tertua, misalnya, memahami
seluk beluk hutan yang menjadi tempat tinggal sekaligus arena berburu binatang hutan.
Perkembangan pengetahuan di setiap masyarakat memperlihatkan perbedaan sehingga
menciptakan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan yang berbeda pula, dan selanjutnya
memperlihatkan kemajuan teknologi dan pencapaian tingkat peradaban yang berbedabeda.
5. Kesenian; keseniaan adalah unsur kebudayaan yang mengandung nilai keindahan. Manusia
pada dasarnya menyukai keindahan. Seni atau kesenian merupakan ungkapan yang
menitikberatkan pada olah rasa manusia.
6. Bahasa; Dengan bahasa manusia dapat berkomunikasi dengan manusia lain. Bahasa yang
digunakan oleh sekelompok masyarakat ini menjadi (meskipun tidak selalu) identitas
masyarakat itu.
7. Religi; kepercayaan terhadap adanya suatu kekuatan gaib di luar manusia, yang disebut religi
dapat dijumpai pada setiap masyarakat. Religi merupakan suatu konsep yang berbeda dengan
agama yang dikenal oleh masyarakat Indonesia. Dalam konsep masyarakat Indonesia, yang
termasuk agama, yakni Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Hindu, dibedakan dengan
sistem religi lainnya, yaitu kepercayaan Sunda, Kejawen, dan ratusan sistem kepercayaan
yang masih dianut oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia di wilayah-wilayah pedalaman
di Indonesia.
Hubungan Wujud dan Unsur Universal Kebudayaan
Wujud dan unsur universal kebudayaan ini digambarkan dalam kerangka kebudayaan:
a) Lapisan paling dalam adalah wujud pertama kebudayaan, yaitu gagasan dan ide yang disebut
wujud ideal atau sistem budaya
b) Lapisan tengah adalah wujud kedua kebudayaan, yaitu keseluruhan aktivitas manusia yang
disebut sistem social
51

c) Lapisan terluar adalah wujud fisik kebudayaan atau artefak. Setiap unsur kebudayaan
memiliki tiga wujudnya, yaitu ide, tingkah laku, dan wujud fisik. Jika kita amati unsur bahasa,
misalnya bahasa Indonesia, ada ide untuk melakukan komunikasi antarwarga negara yang
terdiri dari berbagai suku bangsa dengan berbagai ragam bahasa yang mereka gunakan.
Berdasarkan ide itu, anggota masyarakat yang memiliki perhatian untuk mewujudkan ide
tersebut mengadakan pertemuan dan perencanaan untuk membangun sebuah bahasa yang
dapat dipahami oleh semua suku bangsa di negara itu. Selanjutnya terciptalah suatu bahasa,
yang kita kenal sebagai bahasa Indonesia. Dalam hal ini bahasa Indonesia yang diwujudkan
dengan bahasa tulisan pada sehelai kertas atau daun, dan pada dinding-dinding, menjadi bukti
fisik dari terwujudnya ide atau gagasan dan keseluruhan aktivitas manusia. Demikian juga
unsur kebudayaan lainnya dapat diamati dan/atau dijelaskan dari tiga wujudnya. Dalam suatu
masyarakat, unsur-unsur kebudayaan tersebut tidak mengalami perkembangan yang serentak.
Ada unsur kebudayaan yang cepat berubah ada unsur kebudayaan yang lambat dan sukar
berubah. Unsur kebudayaan yang paling cepat berubah adalah teknologi, sedangkan unsur
kebudayaan yang lambat atau sukar berubah adalah sistem religi. Namun, perubahan suatu
unsur kebudayaan sebaiknya terjadi pada ketiga wujudnya, karena apabila terdapat
ketimpangan perubahan dalam ketiga wujud kebudayaan tersebut sering terjadi culture lag
atau keterlambatan kebudayaan (Poerwanto, 2008:177-179). Contoh culture lag adalah
pemakain telepon selular (hand phone) atau internet dengan fasilitas komunikasi canggih
seperti facebook, twitter, dan media sosial lainnya, yang berangkat dari suatu konsep
mempermudah dan memperlancar aktivitas interaksi antarmanusia. Terciptanya produk
budaya tersebut pada dasarnya berangkat dari pemikiran akan pentingnya waktu, seperti yang
sering diungkapkan time is money, pada masyarakat pencipta kebudayaan itu. Namun
dalam kenyataannya sebagian masyarakat Indonesia malah menggunakan kemajuan
teknologi informatika ini untuk kesenangan semata dan malah membuang waktu yang sangat
berharga itu. Demikianlah culture lag (keterlambatan budaya), terjadi karena masyarakat
pengguna kebudayaan itu bukanlah pencipta kebudayaan, melainkan penerimakebudayaan
yang telah dibuat oleh masyarakat bangsa lain, di mana proses penerimaan kebudayaan
sebatas pada penerimaan wujud ketiga dari kebudayaan tertentu, tanpa diimbangi dengan
pemahaman yang baik tentang sistem budaya dan sistem sosial yang melatarbelakangi
penciptaan kebudayaan itu. Poerwanto (ibid.:180) menganjurkan agar fenomena culture lag
52

ini tidak terjadi, maka pada hakekatnya seseorang selalu dituntut untuk belajar tentang
kebudayaan, baik melalui proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi, sebagaimana akan
dijelaskan pada bagian berikut ini.
Belajar Kebudayaan
Setiap perilaku manusia ditentukan oleh lingkungannya. Situasi suatu lingkungan yang berada di
luar manusia disebut stimulus (S); situasi ini akan menimbulkan dorongan (D) untuk berbuat
sesuatu; dan akhirnya sesuatu yang ditampilkan seorang individu melahirkan respon (R). Setiap
kali ada suatu S tertentu mendorong D, maka akan timbullah R, sehingga jika S dan R yang sama
terus-menerus menimbulkan R yang sama menghasilkan kebiasaan, yang selanjutnya menjadi
kebudayaan. Demikian, dapat dikatakan bahwa kebudayaan adalah suatu R yang berulang-ulang
dari suatu S dan D yang sama, sehingga kebudayaan diartikan sebagai learning behavior atau
kelakuan yang diperoleh melalui proses belajar. Rahyono (Wacana, 2002:1819), menjelaskan
bahwa kebudayaan merupakan bentuk usaha manusia dalam mengatasi segala keterbatasan
yang dialami dalam kehidupannya. Manusia tidak begitu saja menerima keterbatasan-
keterbatasan, baik yang ditimbulkan oleh alam maupun oleh diri manusia itu sendiri. Dalam
upaya mengatasi keterbatasan itu, manusia tidak melakukan kegiatan secara individual,
melainkan secara kelompok. Dengan demikian, kebudayaan bukanlah milik diri, melainkan milik
kelompok. Melalui kesepakatan dan kegiatan kelompok itulah wujud kebudayaan menjadi ciri
kelompok tertentu, dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya melalui proses belajar.
Kebudayaan yang dimiliki oleh individu-individu di dalam masyarakat diturunkan dari generasi
ke generasi, sehingga dianggap sebagai sesuatu yang diturunkan secara genetis, padahal tidak
demikian, manusia mempelajari kebudayaan itu sejak ia lahir sampai dengan menjelang ajal tiba,
melalui proses internalisasi, sosialisasi, dan eksternalisasi.
a) Internalisasi
Internalisasi, menurut Koentjaraningrat (2009:185) adalah proses panjang seorang individu
menanamkan dalam kepribadiaannya segala perasaan, hasrat, napsu, dan emosi yang
diperlukannya. Pengaktifan dan pengembangan perasaan-perasaan tersebut dipengaruhi oleh
berbagai macam stimulasi yang ditemui dan dialaminya sejak lahir. Sebagai contoh seorang
bayi yang merasa lapar menyatakan rasa laparnya dengan menangis, yang ditanggapi oleh
ibu atau pengasuhnya dengan memberi susu, sehingga rasa lapar yang dialaminya hilang
53

dengan mendapatkan susu, dan ia pun berhenti menangis Demikianlah seorang individu,
belajar kebudayaan sejak ia dalam buaian hingga menjelang ajalnya, mengenai berbagai
macam perasaan dan hasrat: lapar, haus, gelisah, sedih, bahagia, cinta, benci, nyaman, dan
lain sebagainya, sehingga semua hal yang ia alami sebagai suatu reaksi dan tanggapan yang
diterimanya menjadi bagian dari kepribadian individu.
b) Sosialisasi
Dengan pertambahan usia dan perkembangannya, seorang anak manusia belajar mengenai
pola-pola tindakan dalam interaksi dengan berbagai manusia lain di sekelilingnya, yang
disebut dengan sosialisasi (Koentjaraningrat, 2009:1986).
c) Enkulturasi
Menurut Koentjaraningrat (2009:189), enkulturasi atau pembudayaan merupakan suatu
proses seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan
adat-istiadat, sistem, norma, dam peraturan yang hidup di dalam kebudayaannya. Bersamaan
dengan proses sosialisasi setiap individu mengalami proses enkulturasi, yaitu penanaman
nilai dan sistem norma yang berlaku.
2.3.6 Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan
Telah dijelaskan sebelumnya, masyarakat adalah sekelompok manusia yang saling berinteraksi.
Di dalam masyarakat itulah manusia mengembangkan kebudayaan. Dengan demikian manusia
dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Manusialah yang
mengembangkan dan mendukung suatu kebudayaan.
1. Difusi & Migrasi Manusia
Teori difusi yaitu suatu proses penyebaran kebudayaan yang dibawa oleh masyarakat yang
bermigrasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Dalam proses berpindah itulah, manusia
membawa kebudayaannya dan ditiru oleh masyarakat yang ditemuinya. Menurut Graibner dan F
Ratzel, penganut teori difusi, sebagai akibat dari migrasi ini terjadilah kontak di kalangan
kelompok masyarakat kebudayaan yang berbeda-beda. Demikianlah kebudayaan disebarkan
melalui kontak budaya, yang dilakukan melalui media komunikasi, yang salah satunya adalah
bahasa. Dalam perkembangannya pada masa kini perpindahan suatu kebudayaan dapat dilakukan
melalui media massa, radio, televisi, internet, dan teknologi informatika yang terus mengalami
pemutakhiran.
54

Ada berbagai faktor penyebab terjadinya migrasi manusia, yaitu faktor bencana alam,
wabah penyakit, kepadatan penduduk, dan lain sebagainya. Masyarakat yang bermigrasi inilah
yang merupakan agen-agen penyebar kebudayaan. Adanya migrasi inilah yang dianggap sebagai
salah satu faktor tersebarnya kebudayaan, sehingga kita menemukan adanya kesamaan-kesamaan
kebudayaan yang dimiliki oleh berbagai masyarakat yang terpisahkan oleh gunung dan samudera.
2. Asimilasi dan Akulturasi
Kebudayaan tidak secara sederhana disebarkan dengan cara difusi, melainkan ada
mekanisme asimilasi dan akulturasi. Kebudayaan yang dibawa oleh para migran kemudian
bertemu dengan kebudayaan lain yang dimiliki masyarakat asli setempat (indigeneous); jika
kebudayaan yang datang bersifat dominan bertemu dengan kebudayaan masyarakat lokal, di
mana masyarakat berkebudayaan lokal dalam proses yang panjang dan perlahan-lahan menerima
kebudayaan yang baru, maka terjadilah proses asimilasi. Asimilasi mungkin terjadi sebaliknya,
di mana masyarakat migran dengan suatu kebudayaan asal, bertemu dengan masyarakat lokal
dalam proses yang panjang dan perlahan-lahan menerima kebudayaan lokal dan melepaskan
kebudayaan lamanya. Asimilasi sering kali dijadikan kebijakan suatu negara yang
masyarakatnya heterogen, untuk menciptakan integrasi nasional. Contohnya adalah asimilasi
bentuk kerajaan di Indonesia ke dalam bentuk pemerintahan republik akhirnya diterima oleh
seluruh lapisan masyarakat, dan perlahan-lahan telah menghapuskan sistem peme intahan yang
semula ada di wilayah nusantara.
Akulturasi adalah pertemuan dua kebudayaan atau lebih di mana masing-masing
kebudayaan itu melebur membentuk kebudayaan yang baru dan unik. Gejala akulturasi inilah
yang sebenarnya sering terjadi dalam penyebaran kebudayaan dunia. Contoh dari akulturasi
adalah kisah Mahabharata yang berasal dari India mengalami beberapa penyesuaian dengan
kondisi kebudayaan di Indonesia. Bentuk akulturasi lainnya di Indonesia dapat juga dilihat dari
bangunan-bangunan mesjid yang tidak meniru begitu saja bentuk mesjid di Negara tempat
asalnya, namun disesuikan dengan cita rasa kebudayaan lokal Indonesia.

3. Inovasi dan Penemuan
55

Menurut KBBI (2004: 435), inovasi adalah kegiatan penemuan yang baru yang berbeda
dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya, baik berupa gagasan, metode, maupun
alat. Proses inovasi meliputi proses penemuan (discovery) dan penyebaran (invention). Proses
pertama, yaitu discovery, yang kemudian berkembang menjadi invention setelah diterima, diakui,
dan diterapkan oleh masyarakat (Koentjaraningrat, 2009:210-211).
Kebudayaan mengenal ruang dan waktu untuk tumbuh dan berkembang. Kebudayaan
Indonesia, misalnya, adalah kebudayaan yang berada di dalam ruang geografis wilayah NKRI.
Hal ini membedakan kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan Malaysia, Singapura, Amerika,
dan lain sebagainya. Perbedaan tempat ini kemudian melahirkan sebutan kebudayaan asli dan
kebudayaan asing. Kebudayaan menurut waktunya, dapat dipandang sebagai kebudayaan masa
lalu dan masa sekarang. Selain itu, dikenal juga istilah kebudayaan klasik, yang mengacu kepada
kebudayaan masa lalu, dan kebudayaan modern yang mengacu kepada kebudayaan terkini.

4. Manusia sebagai Makhluk Budaya
Menurut bahasa, budaya berasal dari kata budhi dan daya, yang artinya akal sehat.
Dengan demikian, pengertian budaya adalah segala hasil akal dan budi manusia. akal adalah hal
yang berkaitan dengan kecerdasan manusia, budi berkaitan dengan perasaan.
Perpaduan akal dan budi manusia inilah yang membedakan manusia dengan makhluk
lain di dunia. Menurut Widagdho, dkk, manusia memiliki keutamaan sebagai makhluk budaya,
diantaranya :
Dapat menguasai dan memanfaatkan unsure-unsur yang terdapat di alam
Mampu mengatur pekembangan spesies lain dan berupaya menghindarkan kepunahan
Manusia mampu mengusahakan agar apa yang ada di alam ini dari yang bermanfaat menjadi
bermanfaat, baik bagi keperluan hidup manusia sendiri, maupun kehidupan pada umumnya.
Manusia memiliki kreativitas; oleh karena itu mampu menciptakan benda-benda yang
diperlukan dengan bentuk dan model menurut keinginannya.
Manusia memiliki rasa indah dan karenanya mampu menciptakan benda-benda seni yang
dapat menambah kenikmatan hidup rohaninya.
56

Manusia memiliki alat komunikasi dengan sesama, yang disebut dengan bahasa, yang
memungkinkan mereka dapat saling bertukar informasi demi kesempurnaan hidup bersama.

Manusia memiliki sarana pengatur kehidupan bersama yang disebut sopan santun atau tata
susila, yang memungkinkan terciptanya suasana kehidupan bersama yang tertib dan saling
menghargai.
Manusia memiliki ilmu pengetahuan yang memungkinkan kehidupan mereka semakin
berkembang Manusia memiliki pegangan hidup antarsesama demi kesejahteraan hidupnya;
dan juga aturan pergaulan dengan Sang pencipta sehingga mendapatkan ketenangan batin.
Manusia sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan, telah menghasilkan banyak hal
yang bermanfaat untuk mempertahankan hidup dan meningkatkan kualitas hidup. Sebagai
makhluk yang berbudaya, manusia diharapkan dapat mengembangkan dan mengubah
kebudayaan yang ada di masyarakat, sehingga dapat mencapai kesejahteraan. Namun, untuk
menjadi masyarakat yang makmur dan maju, tidak hanya dibutuhkan kemajuan akal dan budaya.
Tentu saja perkembangan akal dan budaya manusia harus diimbangi juga dengan perkembangan
spiritualitas sehingga dapat mencapai kemajuan dan kebahagiaan yang optimal.

5. Mencapai Peradaban
Peradaban adalah hal yang sering disamakan dengan kebudayaan. Padahal,
kenyataannya kedua istilah ini memiliki makna yang berbeda, walaupun unsur-unsur yang di
bahas dalam kedua hal tersebut adalah sama. Dapat dikatakan, sekelompok manusia telah
mencapai peradaban apabila kebudayaannya telah mencapai tingkat maju.
Koentjaraningrat (2009: 146) menggunakan istilah peradaban, yang disepadankan dengan
civilization untuk menyebut bagian dan unsur dari kebudayaan yang halus, maju, dan indah;
atau untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, ilmu pengetahuan,
seni bangunan, seni rupa, dan sistem kenegaraan dari masyarakat kota yang maju dan kompleks.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa peradaban merupakan bagian dari kebudayaan
dan sebagai pencapaian dari kualitas suatu budaya. Jika suatu masyarakat telah berhasil
mencapai ketinggian dan keluhuran budayanya, maka kelompok masyarakat tersebut dikatakan
telah mencapai peradaban.
57

Dalam catatan sejarah peradaban menunjukkan pasang surut. Ada kalanya suatu bansa
atau masyarakat dalam kurun waktu tertentu menjadi bangsa yang maju dan mencapai budaya
tinggi, namun swaktu-waktu dapat menjadi bangsa yang tertinggal. Hal ini menjadi tantangan
bagi setiap bangsa dan kelompok masyarakat untuk mempertahankan status peradabannya.



























58

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Manusia memiliki akal pikiran yang apabila dikembangkan akan membuahkan
hasil yaitu kecerdasan yang terus meningkat. Tingkat kecerdasan setiap orang berbeda
beda, hal ini menimbulkan adanya perbedaan tipe kepribadian pada manusia. Kepribadian
ini, seperti yang telah dibahas di Buku Ajar I, mempengaruhi bagaimana individu
menjalin hubungan dengan sekelompok orang. Karena bagaimanpun juga manusia tidak
dapat hidup sendiri karena manusia adalah makhluk sosial. Dalam hidup berkelompok
atau ketika berada dalam suatu kelompok ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Hal
yang paling utama adalah komunikasi. Karena manusia saling berinteraksi satu sama lain
dengan komunikasi. Selain hidup dalam kelompok tertentu, manusia juga hidup
bermasyarakat, dimana masyarakat merupakan cakupan yang lebih luas lagi. Dan dalam
lingkungan masyarakat akan timbul suatu budaya tertentu. Budaya ini dapat
mempengaruhi manusia dalam berinteraksi sesamanya.













59


3.2 DAFTAR PUSTAKA


- Cangara, Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
- Devito Joseph A. 1997, Komunikasi Antar Manusia, Indonesia:Profesional Books.
- Mulyana, Deddy, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
- Sigiro, Elizabeth. 2013. Pentingnya Komunikasi Dalam Kehidupan Manusia. Jakarta:
Kompasiana.(m.kompasiana.com/pentingnya-komunikasi-dalam-kehidupan
manusia .html)
- Singgih, Evita. 2013. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi A: Buku
Ajar II Manusia Sebagai Individu, Kelompok, dan Masyarakat. Depok: Universitas
Indonesia.
- Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
- Rino A Nugroho. 2009. Diakses: 12 Maret 2014
o Available at: http://rinoan.staff.uns.ac.id/files/2009/06/dasar-dasar-perilaku-
kelompok.pdf
- Reni Rosari. Diakses: 12 Maret 2014
o Available at: http://www.oocities.org/renirosari/materi/sesi6.pdf