Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Bebarapa abad lamanya sapi telah dibudidaya dan dikembangbiakkan dengan tujuan
utama untuk memenuhi kebutuhan manusia utamanya nutrisi pangan dan sebagian kecil
sebagai tenaga kerja. Sapi perah diperlukan untuk diambil susunya dan sebagian besar bangsa
sapi adalah untuk hewan potong. Secara alami susu dihasilkan oleh sapi untuk keperluan
pedet yang dilahirkan. Dalam perkembangan nalar yang semakin maju manusia mulai
menyadari bahwa air susu memiliki manfaat yang cukup besar.
Melalui seleksi genetik yang lama, cermat dan berkesinambungan diikuti oleh
pengaturan kandungan nutrisi pakan sapi penghasil susu yang baik akhirnya bisa diperoleh
sapi jenis unggul yang cocok sebagai ternak perah karena produktivitasnya yang tinggi.
Faktor manajemen merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam produktivitas ternak.
Manajemen atau pengaturan yang dilakukan dapat berupa manajemen pakan, sistem
pemeliharaan dan perkandangan dan tentunya bibit yang baik. Bibit yang baik ini bisa
didapatkan melalui program pemulliaan sehingga di dapatkan sapi ataupun ternak perah
dengan produktivitas dan efisiensi yang tinggi.
Pada sapi perah performan reproduksi sapi perah sangat dipengaruhi oleh faktor
lingkungan dan faktor manajemen. Efisiensi reproduksi merupakan dasar utama memperoleh
jumlah produksi susu yang maksimal, ada beberapa hal yang saling berkaitan yaitu body
condition, pakan, masa transisi dari periode kering ke laktasi, siklus estrus normal, deteksi
estrus dan kelangsungan hidup embrio, selain itu perlu diperhatikan pula hal-hal yang
berhubungan dengan formulasi pakan, manajemen tempat pakan, kenyamanan kandang yang
dapat melindungi dalam suhu dan kelembaban ekstrem, kandang jepit pemerahan,
manajemen pemerahan, pencegahan terhadap mastitis, perhatian terhadap estrus dan ovulasi
dan diagnosa dini terhadap kegagalan bunting.
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki banyak faktor lingkungan yang
merugikan bagi pengembangan peternakan sapi perah, apalagi ditambah dengan pemilihan
breed sapi perah Friesian Holstein yang dalam hal ini merupakan breed sapi besar. Jika
dibandingkan dengan negara 4 musim produksi susu Friesian Holstein di Indonesia akan jauh
menurun, hal ini disebabkan oleh panjangnya masa anestrus post partum. Anestrus post
partum dapat disebabkan oleh temperatur lingkungan daerah tropis yang terlalu panas,
kualitas dan kuantitas pakan (hijauan dan konsentrat) yang rendah diikuti body condotion
yang buruk (dibawah 3), penyakit reproduksi dan penyakit pada glandula mamaria yang
relatif tinggi di daerah tropis, penyakit-penyakit post partum (hipokalsemia, sindrom sapi
ambruk, milk fever dan lain-lain) dan spesial di daerah tropis adalah merupakan tempat
tumbuh suburnya berbagai macam parasit sehingga tingkat infestasi parasit pada sapi perah
juga cukup tinggi yang menyebabkan performa sapi semakin buruk.
Produksi susu dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, dan interaksi keduanya.
Musim, curah hujan, hari hujan, temperatur, kelembaban, tahun pemeliharaan dan peternakan
juga merupakan faktor lingkungan yang banyak mempengaruhi performans produksi susu,
dan pada kenyataannya faktor-faktor tersebut seringkali berkaitan satu sama lain dalam
menimbulkan keragaman produksi susu. Namun untuk menyederhanakan pengamatan,
banyak peneliti yang melihat hubungan antara produksi susu dengan masingmasing faktor
secara terpisah. Keragaman produksi susu pada suatu populasi sapi perah merupakan suatu
alasan pentingnya untuk dilakukannya seleksi yaitu dengan melakukan program pemuliaan.
Pemuliaan ternak adalah usaha jangka panjang dengan suatu tantangan utama yaitu
memperkirakan ternak macam apa yang menjadi permintaan di masa mendatang serta
merencanakan untuk menghasilkan ternak-ternak yang diharapkan tersebut (Warwick et al.
1990). Peran pemuliaan dalam kegiatan produksi ternak sangat penting diantaranya untuk
menghasilkan ternak-ternak yang efisien danadaptif terhadap lingkungan. Produksi ternak
yang efisien bergantung pada keberhasilan memadu sistem managemen, makanan, kontrol
penyakit dan perbaikan genetik.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah memberikan pengetahuan mengenai manajemen
breeding atau pemuliaan yang dapat dilakukan pada sapi perah agar mendapatkan sapi perah
dengan produktifitas yang optimal dan efisiensi yang tinggi

1.3 manfaat

BAB II
PEMBAHASAN
Ternak perah merupakan ternak yang mempunyai fungsi prinsip sebagai penghasil
susu. Susu didefinisikan sebagai sekresi fisiologis dari kelenjar susu merupakan makanan
yang secara alami paling sempurna, karena merupakan sumber utama protein, kalsium,
fospor, dan vitamin. Kuantitas dan kualitas susu berbeda antarspesies dan bangsa. Demikian
juga antarbangsa dalam spesies yang sama mempunyai karakteristik masing-masing, baik
dalam besar dan postur tubuh, warna bulu, sifat produksi, reproduksi dan ciri-ciri lainnya,
sehingga nampak jelas perbedaannya.
Sapi termasuk golongan hewan ke dua dalam urutan domestikasi setelah anjing, dan
kemungkinan domestikasi terjadi di Eropa atau Asia pada zaman batu. Berdasarkan tempat
hidup dan perkembangannya ada dua macam sapi yang termasuk jenis Bos Taurus (berada di
daerah beriklim sedang di Eropa) dan Bos Indicus (berada didaerah beriklim Tropis). Sejak
zaman purba orang-orang primitif telah menggunakan sapi sebagai sumber makanan dengan
cara diburu. Domestikasi mungkin dimulai sejak hewan ini dipakai sebagai tenaga penarik
dan mungkin pula sejak permulaan jaman pengolahan tanah. Pada keadaan liar
kecenderungan hewan ini hanya sedikit menimbun lemak tubuhnya, karena akan
menghambat kehidupan liarnya dan produksi susu hanya cukup untuk menghidupi anaknya.
Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia makanan yang berasal dari ternak harus
menjadi lebih baik. Karena itu dilakukan segala upaya melalui seleksi yang memungkinkan
untuk mempercepat perbesaran hewan, penimbunan lemak tubuh dan meningkatkan produksi
susu. Belum diketahui dengan pasti kapan sapi perah mulai dipelihara oleh manusia untuk
pertama kali.
Populasi sapi perah di indonesia sampai saat ini terus mengalami peningkatan setiap
tahun. Tetapi kebutuhan pasokan susu sapi nasional masih belum bisa terpenuhi. Walaupun
terjadi Kenaikan populasi sapi perah namun produksi masih belum cukup juga untuk
memenuhi kebutuhan.
Faktor genetik sangat berpengaruh terhadap performa reproduksi sapi perah, ada
beberapa breed sapi perah yang ada yaitu ayrshire, guernsey, jersey, brown swiss dan
holstein. Awal dibudidayakannya sapi perah di Indonesia adalah sapi perah jenis Friesian
Holstein. Friesian Holstein merupakan jenis sapi besar yang memiliki kemampuan produksi
susu yang paling tinggi dibandingkan jenis lainnya, tetapi Friesian Holstein memiliki
kelemahan jika dikembangkan didaerah tropis seperti di Indonesia apalagi dengan model
peternakan rakyat. Temperatur dan kelembaban daerah tropis yang sangat tinggi
menyebabkan penguapan yang berlebihan pada sapi ini sehingga berakibat penurunan
produksi susu dan stress pada sapi. Performa sapi yang cukup besar menuntut pemenuhan
kualitas dan kuantitas pakan yang sesuai, hal ini jauh dari harapan dengan kondisi model
peternakan rakyat Indonesia yang pada umumnya pakan sangat terbatas dan apa-adanya,
sehingga Body condition scorring ( BCS) yang ada lebih rendah dari 2,5. Seiring dengan
berjalannya waktu dan pengalaman peternak Indonesia mulai mengembangkan sapi-sapi
perah Peranakan Friesian Holstein (PFH atau blandong dalam istilah jawa) yang sebagian
besar merupakan persilangan antara Friesian Holstein dengan sapi Peranakan Ongole (PO).
Performa PFH lebih kecil daripada Friesian Holstein tetapi telah beradaptasi dengan
lingkungan tropis dan model peternakan rakyat Indonesia ( Putro, P.P. 2009, Stevenson, J.S.
2001).
Budidaya sapi perah PFH diharapkan dapat mengurangi kelemahan-kelemahan
pemeliharaan sapi perah pada daerah tropis sehingga permasalahan-permasalahan tersebut
diatas dapat diminimalisir. Peningkatan produksi peternakan sapi perah rakyat dapat
difokuskan pada perbaikan manajemen reproduksi. Perbaikan manajemen reproduksi ini
bertujuan untuk memaksimalkan perolehan kebuntingan atau perolehan pedhet, yang
terpenting dalam hal ini adalah siklus estrus yang baik, calving interval dan penentuan waktu
yang tepat dalam aplikasi Inseminasi Buatan (IB). Untuk memaksimalkan efisiensi
reproduksi diperlukan manajemen calving interval yang terdiri atas tiga komponen utama
yaitu periode tunggu setelah partus pada betina dewasa atau periode kawin pada sapi dara,
periode IB, dan masa kebuntingan (Stevenson, J.S. 2001). Dari ketiga komponen tersebut
masing-masing memiliki tahapan-tahapan penting yang sangat berpengaruh terhadap proses
reproduksi.
Nutrisi merupakan faktor yang berhubungan dengan fertilitas seekor hewan. Nutrisi
diperlukan untuk berjalannya reproduksi seperti halnya nutrisi dibutuhkan untuk
pertumbuhan tubuh dan pada masa laktasi. Kekurangan nutrisi pada sapi perah betina dapat
menyebabkan masa pubertas terlambat, asumsi untuk sapi dara adlah umur 15 bulan sudah
birahi tetapi dapat mundur sampai dengan 20 bulan. Pada sapi perah masa laktasi seringkali
terjadi nutrisi yang sangat kurang karena pada masa tersebut nutrisi diperlukan untuk
produksi susu, akibatnya nutrisi untuk reproduksi sangat minimal, berat badan menurun,
terlambatnya estrus pertama post partus, menurunkan conception rates, dan besarnya
kejadian silent estrus ( Dillon et al. 2003, Benson et al. 2004).
Energi dan protein mutlak dibutuhkan untuk perkembangan reproduksi baik dalam
bentuk pakan kering maupun hijauan. Malnutrisi pada reproduksi menyebabkan hewan
menjadi lebih kecil dari ukuran normal/kerdil, ovarium tidak berkembang normal sehingga
terjadi siklus estrus yang tidak teratur dan fertilitas rendah. Selain energi dan protein nutrisi
lain yang perlu terpenuhi adalah vitamin dan mineral. Kekurangan vitamin A dapat
menyebabkan kelahiran pedhet yang lemah atau bahkan kematian fetus dan retensi plasenta.
Defisiensi vitamin D menyebabkan siklus estrus yang tidak tentu dan pedhet yang dilahirkan
menderita rickets. Vitamin E dibutuhkan untuk memelihara reproduksi normal, pemberian
vitamin E dan selenium pada sapi bunting dapat menurunkan kejadian retensi plasenta.
Kecambah dan minyak gandum dapat dijadikan sumber vitamin E untuk menjaga reproduksi
norma (Bath et al. 2985).
Kejadian paling sering pada sapi perah adalah defisiensi mineral terutama pospor
yang sangat berpengaruh terhadap status reproduksi. Defisiensi pospor dapat menyebabkan
pubertas terlambat, siklus estrus terhenti dan menurunkan conception rate. Pakan dengan
campuran tepung tulang dengan campuran konsentrat padi dapat memperbaiki defisiensi
pospor. Mineral lain yang penting untuk reproduksi adlah cobalt, copper, iodine dan
mangane, mineral-mineral ini biasanya sudah terpenuhi dalam sediaan garam dalam pakan
dan pakan polong-polongan (Bath et al. 2985). Nutrisi mutlak terpenuhi untuk sapi perah
untuk produksi susu yang tinggi dan efisiensi reproduksi.
Idealnya agar mendapatkan produksi susu yang tinggi calving interval pada sapi perah
dara adalah 13 bulan dan 12 bulan untuk selanjutnya. Pada kenyataannya di peternakan
rakyat calving interval dapat mencapai 15-18 bulan, pada sapi-sapi produksi tinggi sering
tidak segera estrus kembali setelah partus. Masa istirahat yang diperlukan setelah partus
antara 40-70 hari. Masa istirahat ini adalah masa involusi uterus untuk persiapan kebuntingan
berikutnya. Dalam beberapa penelitian menyebutkan masa istirahat yang lebih panjang akan
memperbaiki nilai conception rate karena perbaikan organ reproduksi yang lebih sempurna.
Sapi dengan kondisi semua normal waktu yang diperlukan untuk sempurnanya involusi
uterus tidak lebih dari 40 hari, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah (Stevenson,
J.S. 2001);
Masa periparturient.
Proses kelahiran memerlukan perhatian, perawatan dan kebersihan, karena banyak hal yang
akan terjadi setelah kelahiran misalnya induk menjadi sakit atau sehat, produksi susu rendah
atau tinggi, siklus reproduksi kembali normal atau tidak normal, pedhet lahir normal atau
mengalami kelainan bahkan mungkin terjadi kematian. Pada masa ini kebutuhan nutrisi
sangat tinggi untuk kekuatan feto-plasenta, persiapan glandula mamaria, kekuatan induk
untuk melahirkan dan kekebalan induk dari berbagai penyakit.
Masa Sesudah Partus
Fokus perhatian diberikan pada induk dan pedhetnya kurun waktu 1-2 minggu post partus,
ditempatkan dalam kandang isolasi khusus untuk monitoring setiap hari temperatur dan
tanda-tanda kemungkinan sakit. Beberapa suplement obat diberikan pada masa ini untuk
menurunkan panas, involusi uterus, tambahan energi, tambahan kalsium dan antibiotik
sistemik.
Kembalinya Siklus Estrus
Siklus estrus normal rata-rata 3 minggu (18-24 hari) pada sapi yang telah mencapai usia
pubertas. Pada sapi perah sering lebih bervariasi terutama setelah beranak. Gelombang
perkembangan folikel ovarium terjadi pada minggu pertama setelah partus, dan folikel
dominan pertama biasanya diovulasikan.
Nafsu makan perlu diperbaiki untuk memastikan terpenuhinya Diet intake minimum
normal, sapi yang sehat perlu menjaga nutrisi untuk produksi susu yang maksimal,
perkembangan folikel, berhasilnya ovulasi, sempurnanya involusi uterus dan persiapan
kebuntingan berikutnya. Sapi perah masa laktasi biasanya mengalami keseimbangan energi
yang negatif terutama terendah pada saat minggu 1-2 pasca beranak dan membaik dalam
waktu yang bervariasi, kemudian ovulasi pertama dapat terjadi pada 10-15 hari pasca kondisi
terendah tersebut. Dengan perbaikan intake pakan dan minum, sapi perah akan kembali
dalam keseimbangan energi yang baik dalam waktu 6-10 minggu setelah beranak. Sebagian
besar dilaporkan bahwa ovulasi post partus pertama pada sapi perah terjadi pada akhir bulan
pertama setelah beranak, sehingga biasanya conception dapat terjadi dengan baik pada
ovulasi kedua post partus karena involusi uterus telah sempurna dan energi telah seimbang.
Body Condition Score (BCS) juga memiliki pengaruh dalam conception dan jumlah
keberhasilan IB. Beberapa hasil studi menjelaskan bahwa sapi-sapi yang kehilangan 0,5 1,0
unit BCS pada post partus masih memiliki conception yang lebih baik (IB pertama berhasil)
dibanding yang mengalami penurunan BCS > 1,0 unit. Untuk menjaga pemenuhan BCS dan
diet intake minimal serta keseimbangan energi yang dibutuhkan, seekor sapi harus
mengkonsumsi nutrisi >4% berat badan setiap hari. Hal ini penting ditekankan pada peternak
rakyat karena kasus-kasus tidak kembalinya siklus estrus sangat tinggi sekali dan rata-rata
diakibatkan karena tidak terpenuhinya diet intake minimal.
Manajemen dalam breeding merupakan kunci utama karena untuk mendapatkan hasil
produksi yang optimal maka dibutuhkan bibit yang berkualitas.
Breeding program atau program perkawinan, dilaksanakan secara terkontrol. Dalam
melakukan program ini langkah awal yang dapat dilakukan adalah melakukan seleksi
individu yang sesuai untuk dijadikan indukan. Seleksi ini dilakukan dengan melihat
keunggulan keunggulan dari tiap ras sapi dan juga keunggulan antar individunya.
Pemuliaan ternak adalah upaya perbaikan genetik ternak. Oleh sebab itu, pemuliaan
ternak pada intinya didasari oleh ilmu genetika ternak. Faktor genetik merupakan salah satu
faktor yang menentukan performans atau penampilan invidu, selain faktor lingkungan
(Hardjosubroto, 1994). Noor (2008) menyebutkan bahwa interaksi antara faktor genetik
dengan faktor lingkungan merupakan masalah yang sangat serius di bidang peternakan. Pada
dasarnya ternak yang memiliki mutu genetik tinggi harus dipelihara dan dibudidayakan pada
lingkungan yang baik pula. Ternak yang secara genetik unggul tidak akan menampilkan
keunggulan optimal jika tidak didukung faktor lingkungan yang tidak baik pula. Sebaliknya,
ternak yang memiliki mutu genetik rendah, meski didukung oleh lingkungan yang baik juga
tidak akan menunjukkan produksi yang tinggi. Contohnya pada sapi perah jenis FH yang di
negara asalnya dapat berproduksi susu lebih dari 25 liter/hari/ekor. Namun setelah sapi-sapi
ini dipelihara di Indonesia rataan produksinya jarang yang mencapai 10 liter/hari/ekor.
Phillipsson (2003) mengemukakan bahwa komponen yang harus diperhatikan dalam
program pemuliaan untuk negara berkembang antara lain adalah peran ternak, tujuan
pemuliaan, recording serta membangun infrastruktur. Ternak domba mempunyai peran
penting bagi petani antara lain sebagai salah satu sumber penghasilan, sebagai tabungan,
sumber pupuk, dan prestise. Pola pemeliharaan bersifat semi intensif dan merupakan usaha
komplementer dari usaha pokok pertanian. Sumbangan ternak domba terhadap produksi
daging khususnya di Jawa Barat cukup tinggi. Tantangan utama dalam usaha peternakan
domba adalah rendahnya produktivitas ternak yang dihasilkan, sehingga tidak mampu
bersaing di pasaran domestik maupun internasional, selain itu belum tersedianya suplai bibit
unggul domba secara kontinyu yang produksinya tinggi dan efisien serta harganya dapat
terjangkau oleh peternak. Pengadaan bibit umumnya masih merupakan hasil swadaya
peternaknya sendiri. Program pemuliaan yang tepat dan terarah serta berkesinambungan
belum ada.
Jika faktor genetik pada ternak bersifat permanen dan dapat diwariskan kepada anak
keturunannya, maka faktor lingkungan tidak bersifat permanen, dan dapat beruabah sewktu-
waktu dan tidak dapat diwariskan kepada anak keturunannya. Menurut Warwick, dkk (1983),
pemuliaan ternak merupakan bagian dari program terpadu yang bertujuan untuk
meningkatkan produksi ternak dengan mengembangkan tipe ternak yang sesuai dengan
pengelolaan spesifik, kondisi lingkungan dan kondisi ekonomi setempat. Selain perbaikan
genetik, bagian lain dari program terpadu tersebut adalah manajemen, pakan dan penyakit.
Metode yang paling efektif dalam program pemuliaan ternak adalah dengan seleksi dan
persilangan.
Perbaikan mutu genetik akan efektif bila telah diketahui parameter genetik sifat-sifat
produksi yang mempunyai nilai ekonomis disertai dengan tujuan pemuliaan (breeding
objective) dan pola pemuliaan (breeding scheme) yang jelas. Salah satu cara untuk perbaikan
genetik pada ternak dapat dilakukan melalui seleksi dalam kelompok ternak lokal dengan
tujuan untuk meningkatkan frekuensi gen yang diinginkan. Kegiatan seleksi akan efektif bila
jumlah ternak yang diseleksi banyak, namun catatan performans individu dari jumlah yang
banyak akan sangat mahal. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah, seleksi atau
peningkatan mutu genetik dilakukan pada kelompok-kelompok tertentu kemudian disebarkan
pada kelompok lain. Struktur ternak bibit umumnya berbentuk piramida yang terbagi menjadi
tiga strata (tiers) yaitu pada puncak piramida kelompok elit (nucleus), kelompok pembiak
(multiplier), dan paling bawah kelompok niaga (Nicholas 1993; Warwick et al. 1990; Wiener
1999).
Secara sederhana pelaksanaan seleksi dapat diartikan memperkenankan sekelompok
ternak menjadi penurun dari generasi berikutnya dan menghilangkan kesempatan dari
kelompok lain untuk memperoleh hal yang sama.Seleksi individu paling berguna untuk sifat-
sifat yang dapat di ukur pada kedua jenis kelamin sebelum dewasa atau sebelum umur
perkawinan pertama. Beberapa sifat yang termasuk adalah laju pertumbuhan, skor tubuh
ternak, berat bulu, wol, ketebalan lemak punggung dan lain-lain. untuk satu program yang
efektif yang diperlukan catatan penampilan produksi yang dibuat pada selulruh populasi
dimana seleksi akan dilakukan.

Seleksi individu mempunyai keterbatasan antara lain:
Hanya untuk sifat-sifat yang hanya tampak pada betina, seperti hasil susu dan
telur atau sifat-sifat induk (maternal) pada ternak potong, yang jantan tidak
dapat dipilih berdasarkan penampilannya sendiri.
catatan penampilan produksi susu dan telur dan kualitas induk baru tersedia
setelah dewasa, harus digunakan beberapa criteria selain penampilan individu.
untuk sifat-sifat yang heritabilitasnya rendah, penampilan individual dapat
merupakan indilkator nilai pemuliaan yang jelek.
Penggunaan yang tepat dari seleksi individu dapat memberikan banyak
keuntungan dalam program pemuliaan Dalam hal ini peternak harus mulai pertimbangan
nilai-biak (breeding value) dari ternak tersebut. Di dalam suatu usaha pembiakan
(breeding program) yang harus dipermasalahkan sebenarnya adalah nilai genetic dari tiap
ternak yang diseleksi. Sangat disayangkan meskipun konsep dari nilai biak telah lama
ada, tetapi konsep tersebut belum banyak di pergunakan dalam praktek kecuali dalam sapi
perah. Untuk membantu proses seleksi dibutuhkan beberapa data atau informasi
diantaranya adalah
Seleksi individu atau massa (performance test)/ Tes Prestasi.
Rekor prestasi seumur hidup.
Keterangan pedigri.
Uji keturunan (progeny test), dan
Penampilan dari keluarga (seleksi keluarga/famili)

Tes Prestasi (Perfomance Tes)/seleksi individu/massa.
Perfomance Tes dibutuhkan jika kita ingin mengetahui prestasi seekor ternak,
berdasarkan dari ukuran jasa atau hasil sifat keturunannya sendiri. Carta seleksi melalui
performance test ini dipergunakan untuk prilaku2 atau karakter dengan sifat menurun yang
tonggi dimana dikehendaki penampilan ternak tersebut akan terjamin menurun pada
keturunannya. Memperbandingkan mutu genetik ternak berdasarkan prestasi individual
disebut performance test. Tes prestasi tidak lazim dipergunakan pada sapi perah tetapi lebih
umum pada sapi potong, biri-biri dan babi.
Rekor Prestasi Seumur Hidup
Dalam hal menentukan rekor prestasi seumur hidup, peternak mempunyai lebih dari satu
rekor mengenai performans ternaknya misalnya beberapa seri dari hasil produksi laktasi
seekor sapi perah, hasil wol dari seekor biri-biri setiap tahun dan lain sebagainya. Seekor
ternak yang baik (secara genetic) akan menampilkan sesuatu yang baik setiap tahun, dan
hasilnya akan tetap diatas nilai rata-rata kelompok, tidak perduli atau tidak bergantung pada
perubahan cuacu ataupun hal-hal lainnya.
Sebagai contoh; sapi perah yang baik akan tetap berproduksi diatas nilai rata-rata
produksi kelompoknya, meskipun makanan secara umumnya menjadi jelek sebagai akibat
pengaruh musim, ataupun hal-hal lainnya yang dialami secara bersama. Jika seorang peternak
melihat rekor ternaknya pada tahun-tahun yang lalu, ia akan dapat meramalkan atau
memperkirakan rekor ternak tersebut di masa yang akan dating. Makin banyak data atau
makin banyak jumlah tahun yang telah dilewati, maka akan makin tepat pulalah perkiraan
atau ramalan yang dibuat untuk masa mendatang. Hal inilah yang menjaadi konsep
perulangan (repeatability) yang cenderung akan terulang kembali oleh ternak atau hewan
yang sama.
Keuntungan terbesar yang diperoleh dari perulangan yang baik atau tinggi, ialah
peternak dapat menghemat waktu karena ia dapat membuat perhitungan terlebih dahulu
mengenai apa yang akan diperolehnya dari ternak tersebut selama dipelihara. Perulangan
dalam peristilahan statistik adalah korelasi diantara rekor. Kadang2 pengertian istilah
perilangan dan kekuatan sifat menurun menjadi kabur. Sebenarnya pengertiannya adalah;
perulangan akan menjelaskan bagaimana berlangsungnya kembali suatu sifat atau karakter
semasa hidupnya, sedangkan kekuatan sifat menurun (heritability) menjelaskan bagaimana
sifat tersebut akan ditirunkan generasi demi generasi. Sama halnya dengan sifat menurun,
nilai perulangan juga berkisar antara 0 1,0 atau dari 0 100%.
Keterangan Pedigri
Yang dimaksud dengan pedigri ialah sebuah rekor atau catatan dari leluhur atau juga
disebut juga silsilah turunan di mana nilai silsilah tersebut bergantung dari yang ditungkan
didalmnya. Andaikata silsilah tersebut hanya berisi nama dan nomor ternak yang diberikan
oleh asosiasi peternak, tentu nilainya dapat dikatakan hampir tidak ada. Jika terjadi
sebaliknya yaitu catatan tersebut lengkap ( nama, urutan dan prestasi masing-masing ternak)
tentu saja nilainya menjadi tinggi dan dapat dimanfaatkan. Kepentingan utama peternak
menggunakan pedigri, ialah untuk menentukan berapa banyak pertimbangan atau bobot yang
diberikan pada setiap leluhur, karena jika ia akan mempergunakan pedigri yang telah
dikembangkan atau bobot yang diberikan pada setiap leluhur, kerena jika ia akan
mempergunakan pedigri yang telah dikembangkan atau lengkap.

Uji Keturunan (Progeny Test)
Penilaian mutu yang berdasarkan prestasi dari keturunannya adalah Progeny Test atau uji
keturunan. Tes ini umumnya dilakukan terhadap pejantan, karena ia bertanggung jawab
terhadap banyaknya keturunan yang dihasilkan seumur hidupnya. Pada hewan betina hal ini
tidak lazim dilakukan.
Seleksi Keluarga (family)
Yang dimaksud dengan istilah keluarga adalah pelaksanaan seleksi dimana keluarga
dipergunakan untuk membantu membuat suatu keputusan. Dalam pelaksanaannya sering
terjadi keraguan mengenai seleksi keluarga tersebut karena adanya perbedaan pendapat
mengenai yang mana yang dimaksud dengan keluarga tersebut.
Targeted Breeding Program. Merupakan program sinkronisasi birahi, tujuannya untuk
membuat birahi yang serempak pada beberapa ekor sapi perah. Program ini biasanya
dilakukan bertujuan untuk efisiensi perawatan reproduksi sapi dan mengoptimalkan produksi.
Biasanya dilakukan dengan injeksi PGF2, yang diaplikasikan 2 kali berjarak 11-14 hari.
Injeksi pertama hampir 50% sapi menunjukkan estrus tetapi tidak dilakukan inseminasi.
Setelah injeksi yang kedua kemudian dilakukan deteksi estrus dan IB. Jika setelah injeksi
kedua tidak terdeteksi estrus maka dilakukan injeksi yang ketiga berselang 14 hari dari
injeksi kedua dan dilakukan IB pada 72-80 hari setelah injeksi PGF2 yang ketiga.