Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
Tumor adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan adanya pertumbuhan
massa (solid/padat) atau jaringan abnormal dalam tubuh yang meliputi tumor jinak (benigna
tumor) dan tumor ganas (malignant tumor). Tumor ganas lebih dikenal sebagai kanker. Massa ini
timbul sebagai akibat dari ketidak-seimbangan pertumbuhan dan regenerasi sel. Pertumbuhan sel
yang tidak terkendali disebabkan kerusakan DNA yang mengakibatkan mutasi (perubahan
genetik yang bersiat menurun) pada gen !ital yang bertugas mengontrol pembelahan sel.
"eberapa mutasi mungkin dibutuhkan untuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-
mutasi tersebut disebabkan agen #at-#at kimia atau isik yang dinamakan sebagai karsinogen.
Mutasi dapat terjadi se$ara spontan (diperoleh) maupun di%ariskan.
Perkembangan kanker ditandai dengan sel-sel tumor berinteraksi dengan komponen
lingkungan di sekitarnya seperti sel normal& sel imun (sel eektor)& maupun agen terapi yang
se$ara eksternal dapat ditambahkan ke dalam sistem tubuh. Agen terapi yang dimaksud adalah
kemoterapi dan imunoterapi. 'iat interaksi lingkungan tumor adalah kompleks dan tergantung
pada banyak aktor& di antaranya adalah umur& jenis kelamin dan sebagainya. (aktor-aktor
tersebut dapat menyebabkan perubahan sel tumor menjadi kompleks.
Pada pertumbuhan sel tumor umumnya timbul beberapa antigen baru serta asing bagi
tubuh. Dengan adanya antigen tersebut& mesin imunologik didalam tubuh dapat terangsang&
sehingga menimbulkan suatu reaksi imun yang dapat menghan$urkan sel tumor tadi. Dengan lain
perkataan sistem respons imun bukan saja berungsi sebagai benteng pertahanan tubuh terhadap
serangan kuman penyakit& akan tetapi juga dapat memegang peranan dalam menjaga timbulnya
sel-sel yang abnormal didalam tubuh) keadaan seperti ini dikenal dengan nama *immunologi$al
sur!eillan$e*. Dengan maju-pesatnya penyelidikan dibidang ini& sedikit banyak memberikan
harapan kepada kita kalau terapi tumor dikemudian hari dapat dilaksanakan se$ara metode-
metode imunologik.
BAB 2
PEMBAHASAN
Definisi
'el tubuh yang bersiat abnormal dan berdierensiasi dengan sangat $epat
"erasal dari tumere bahasa +atin& yang berarti *bengkak,
Pertumbuhan jaringan biologis yang tidak normal
Pembesaran ukuran jaringan atau organ se$ara abnormal
Karakteristik
'el tumor berdierensiasi dengan sangat $epat
Tumor ganas tidak akan membatasi dirisampai batas jaringan melainkan akan masuk ke organ
dan pembuluh.
Penyebaran tumor
Metastasis - penyebaran kanker dari situs a%al ke tempat lain di dalam tubuh (misalnya
otak atau hati).
sel-sel tumor menembus pembuluh darah terdekat untuk masuk ke dalam sistem sirkulasi
atau mele%ati dinding pembuluh lime untuk masuk ke sistem limatik.
Penyebab tumor -
Mutasi dalam DNA sel
Pola hidup yang tidak sehat
Demograis populasi
+ingkungan dan bahan kimia
(aktor keturunan
Patogen
Ma$am-ma$am tumor -
Dijelaskan menurut organ& tipe jaringan dan tipe sel mana yang mengalami kanker.
.ontohnya-
/anker Prostat
/anker Payudara
/anker Paru-Paru
/anker /olorektal
+ymphoma
/anker /antung
/emih
/anker 0terus
/anker /ulit
/anker 1injal
+eukemia
/anker Pankreas
/anker 2!arium
/anker 0sus
Imunodiagnosis
3. Deteksi imunologik dari antigen spesiik sel tumor -
a) Deteksi dari Protein Myeloma yang diproduksi oleh Plasma 'el
Tumor
b) Deteksi dari 4-(etoprotein (A(P)
$) Antigen .ar$inoembryoni$ (.5A)
d) Deteksi dengan Antigen Prostat-'pesiik (P'A)
6. Pengujian dari inang respon imun terhadap tumor
Pengujian tumor marker dapat dilakukan melalui dua $ara seperti kondisi tubuh dan deteksi
imunologi berdasarkan tumor marker. Tumor marker dapat digolongkan dalam dua kelompok&
yaitu-
7 .an$er-spe$ii$ markers
.ontohnya- .5A& .A38-8& .A369.
7 Tissue-spe$ii$ markers
.ontohnya- P'A& beta-:.1-(:uman $horioni$ gonadotropin)& A(P-(Alpha-
etoprotein)& A(P-+; - (a le$tin-rea$ti!e A(P) and Thyroglobulin.
Tumor spe$ii$ marker memiliki siat antigenitas yang lemah se$ara umum dengan
keragaman yang berbeda baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Deteksi umor Marker
a. Deteksi dari Protein Myeloma yang Diproduksi oleh Plasma 'el Tumor
/onsentrasi tinggi yang tidak normal pada serum monoklonal <g isotipe tertentu atau
kehadiran rantai ringan <g (protein "en$e-=ones) dalam sampel urin merupakan indikasi
adanya plasma sel tumor
b. Deteksi dari 4-(etoprotein (A(P)
/onsentrasi A(P (9>>-3>>> ng/m+) merupakan indikasi umum akan hadirnya kanker
hati. A(P merupakan protein mayor yang ada di dalam serum etal
c. Deteksi Antigen .ar$inoembryoni$ (.5A)
Apabila konsentrasi .5A dalam darah men$apai 6&9ng/m+ merupakan indikasi adanya
sel tumor .5A merupakan glikoprotein yang dihasilkan se$ara normal sel dalam aliran
saluran gastrointestinal (bagian kolon)
d. Deteksi Antigen Prostat-'pesiik (P'A)
/adar P'A yang men$apai ?-3>ng/m+ dalam darah dapat menjadi indikasi kanker
prostat.
!es"on imun ter#ada" tumor $
<munitas humoral
o lisis oleh antibodi dan komplemen
o opsonisasi melalui antibodi dan komplemen
o hilangnya adhesi oleh antibodi
<munitas selular
o destruksi oleh sel T$
o AD..
o destruksi oleh makroag yang diaktikan
o destruksi oleh sel N/
Peran res"on imun da%am menangka% tumor
'el tumor kebanyakan terbentuk pada keadaan system imun tersupresi& ketika tidak ada
respon imun sel T& sel tumor yang seringkali mun$ul pada keadaan tersebut
adalah lymphoprolierati!e.
Efekti&itas res"on imun da%am me%a'an se% tumor
'el tumor berada pada situs daerah istime%a
Modulasi antigen dari antien tumor
/ehadiran dari ,blo$king@ a$tor
'upresor T limosit
<mun supresi oleh sel tumor
Pertumbuhan pesat dari sel tumor
Situs daera# istime'a
Mata dan jaringan dari ner!ous system adalah bagian dari situs istime%a yang kemudian
keberadaan sel tumor ini akan han$ur oleh respon system imun.
Modu%asi antigen
Aespon imun akan merusak seluruh antigen sel tumor.
B%o(king fa(tor
Proses penghan$uran sel tumor oleh komponen dari system imun merupakan blo$kade sel
tumor tersebut dari sirkulasi atau perputaran sel tumor dalam tubuh.
Su"esor %imfosit
Antigen spesiik supresor sel T berperan dalam regulasi system imun.
Su"resi non s"esifik di"erantarai o%e# se% tumor
'el tumor memproduksi prostaglandin& yang dapat mengurangi sensiti!itas respon imun.
Pertumbu#an se% tumor
Aespon imun dan komponen-komponenya mempunyai keterbatasan dalam
menghan$urkan sel tumor& hal ini dapat terjadi pada saat system imun sedang lemah atau sel
tumor dan mekanisme pertumbuhannya dapat @mengelabui@ system imun.
umor da"at menge%abui sistem imun dengan berbagai ma(am (ara -
/emampuan sistem imun dalam mendeteksi dan menghan$urkan sel tumor disebut immune
sur!eillan$e.
Tumor dapat mngelabui sistem imun dengan berbagai $ara& pertama tumor dapat memiliki
imunogenitas yang rendah& beberapa tumor tidak memiliki peptide atau protein lain yang
dapat ditampilkan oleh molekul M:.& oleh karena itu sistem imun tidak melihat ada sesuatu
yang abnormal.
'el tumor lain tidak memiliki satu atau lebih molekul M:.& dan kebanyakan tidak
mengekspresikan $o-stimulatory protein yang dibutuhkan untuk dapat mengakti!asi sel T.
/edua& beberapa sel tumor memproduksi aktor-aktor seperti T1(-B yang dapat se$ara
langsung menghambat akti!itas sel T.
Tumor merupakan penyakit yang mengkha%atirkan karena menjadi penyebab kematian
nomor tujuh di <ndonesia dengan persentase 9&C persen dari keseluruhan penduduk <ndonesia
yang meninggal (Aiset /esehatan Dasar tahun 6>>C). Aiset juga menyatakan bah%a setiap 3>>>
orang terdapat sekitar D penderita tumor. (aktor ini terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya
sehingga dalam kurun %aktu 3> tahun (6>>9-6>39) E:2 memperkirakan jumlah kematian
karena tumor rata-rata ?&D juta setiap tahun dan tahun 6>39 men$apai 8 juta ji%a.
Tumor adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan adanya pertumbuhan
massa (solid/padat) atau jaringan abnormal dalam tubuh yang meliputi tumor jinak (benigna
tumor) dan tumor ganas (malignant tumor). Tumor ganas lebih dikenal sebagai kanker. Massa ini
timbul sebagai akibat dari ketidak-seimbangan pertumbuhan dan regenerasi sel. Pertumbuhan sel
yang tidak terkendali disebabkan kerusakan DNA yang mengakibatkan mutasi (perubahan
genetik yang bersiat menurun) pada gen !ital yang bertugas mengontrol pembelahan sel.
"eberapa mutasi mungkin dibutuhkan untuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-
mutasi tersebut disebabkan agen #at-#at kimia atau isik yang dinamakan sebagai karsinogen.
Mutasi dapat terjadi se$ara spontan (diperoleh) maupun di%ariskan.
Perkembangan kanker ditandai dengan sel-sel tumor berinteraksi dengan komponen
lingkungan di sekitarnya seperti sel normal& sel imun (sel eektor)& maupun agen terapi yang
se$ara eksternal dapat ditambahkan ke dalam sistem tubuh. Agen terapi yang dimaksud adalah
kemoterapi dan imunoterapi. 'iat interaksi lingkungan tumor adalah kompleks dan tergantung
pada banyak aktor& di antaranya adalah umur& jenis kelamin dan sebagainya. (aktor-aktor
tersebut dapat menyebabkan perubahan sel tumor menjadi kompleks.
'el tumor menunjukan antigen yang tidak ditemukan pada sel normal. 0ntuk sistem
imun& antigen tersebut mun$ul sebagai antigen asing dan kehadiran mereka menyebabkan sel
imun menyerang sel tumor. Antigen yang ditunjukan oleh tumor memiliki beberapa sumber)
beberapa berasal dari !irus onkogenik seperti papilloma!irus& yang menyebabkan kanker leher
rahim& sementara lainnya adalah protein organisme sendiri yang mun$ul pada tingkat rendah
pada sel normal tetapi men$apai tingkat tinggi pada sel tumor. 'alah satu $ontoh adalah en#im
yang disebut tirosinase yang ketika ditunjukan pada tingkat tinggi& mengubah beberapa sel kulit
(seperti melanosit) menjadi tumor yang disebut melanoma. /emungkinan sumber ketiga antigen
tumor adalah protein yang se$ara normal penting untuk mengatur pertumbuhan dan proses
bertahan hidup sel& yang umumnya bermutasi menjadi kanker membujuk molekul sehingga sel
termodiikasi sehingga meningkatkan keganasan sel tumor. 'el yang termodiikasi sehingga
meningkatkan keganasan sel tumor disebut onkogen.
Aespon utama sistem imun terhadap tumor adalah untuk menghan$urkan sel abnormal
menggunakan sel T pembunuh& kadang-kadang dengan bantuan sel T pembantu. Antigen tumor
ada pada molekul M:. kelas < pada $ara yang mirip dengan antigen !irus. :al ini menyebabkan
sel T pembunuh mengenali sel tumor sebagai sel abnormal. 'el N/ juga membunuh sel tumor
dengan $ara yang mirip& terutama jika sel tumor memiliki molekul M:. kelas < lebih sedikit
pada permukaan mereka daripada keadaan normal) hal ini merupakan enomena umum dengan
tumor. Terkadang antibodi dihasilkan mela%an sel tumor yang menyebabkan kehan$uran mereka
oleh sistem komplemen.
"eberapa tumor menghindari sistem imun dan terus berkembang sampai menjadi kanker.
'el tumor sering memiliki jumlah molekul M:. kelas < yang berkurang pada permukaan
mereka& sehingga dapat menghindari deteksi oleh sel T pembunuh. "eberapa sel tumor juga
mengeluarkan produk yang men$egah respon imun) $ontohnya dengan mengsekresikan sitokin
T1(-B& yang menekan akti!itas makroaga dan limosit. Toleransi imunologikal dapat
berkembang terhadap antigen tumor& sehingga sistem imun tidak lagi menyerang sel tumor.
Makroaga dapat meningkatkan perkembangan tumor ketika sel tumor mengirim sitokin
yang menarik makroaga yang menyebabkan dihasilkannya sitokin dan aktor pertumbuhan yang
memelihara perkembangan tumor. /ombinasi hipoksia pada tumor dan sitokin diproduksi oleh
makroaga menyebabkan sel tumor mengurangi produksi protein yang menghalangi metastasis
dan selanjutnya membantu penyebaran sel kanker.
Pembentukan se% kanker
/ondisi-kondisi yang dapat menyebabkan perubahan sel normal menjadi sel kanker
adalah hiperplasia& displasia& dan neoplasia. :iperplasia adalah keadaan saat sel normal dalam
jaringan bertumbuh dalam jumlah yang berlebihan. Displasia merupakan kondisi ketika sel
berkembang tidak normal dan pada umumnya terlihat adanya perubahan pada nukleusnya. Pada
tahapan ini ukuran nukleus ber!ariasi& akti!itas mitosis meningkat& dan tidak ada $iri khas
sitoplasma yang berhubungan dengan dierensiasi sel pada jaringan. Neoplasia merupakan
kondisi sel pada jaringan yang sudah berprolierasi se$ara tidak normal dan memiliki siat
in!asi.
Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA& menyebabkan
mutasi di gen !ital yang mengontrol pembelahan sel. "eberapa mutasi mungkin dibutuhkan
untuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-mutasi tersebut sering diakibatkan agen
kimia maupun isik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi se$ara spontan (diperoleh)
ataupun di%ariskan (mutasi germline). /elainan siklus sel& antara lain terjadi saat-
perpindahan ase 13 menuju ase '.
siklus sel terjadi tanpa disertai dengan akti!asi aktor transkripsi. Pen$erap hormon tiroid
beta3 (TAbeta3) merupakan aktor transkripsi yang diakti!asi oleh hormon T; dan
berungsi sebagai supresor tumor dan gangguan gen T:A" yang sering ditemukan pada
kanker.
siklus sel terjadi dengan kerusakan DNA yang tidak terpulihkan.
translokasi posisi kromosom yang sering ditemukan pada kanker sel darah putih seperti
leukimia atau limoma& atau hilangnya sebagian DNA pada domain tertentu pada
kromosom. Pada leukimia mielogenus kronis& 89F penderita mengalami translokasi
kromosom 8 dan 66& yang disebut kromosom iladelia.
/arsinogenesis pada manusia adalah sebuah proses berjenjang sebagai akibat paparan
karsinogen yang sering dijumpai dalam lingkungan& sepanjang hidup& baik melalui konsumsi&
maupun ineksi.Terdapat empat jenjang karsinogenesis yaitu inisiasi tumor promosi tumor
kon!ersi malignan progresi tumor
Di lain pihak& terdapat aktor yang dimaksudkan menyerang sistem imun& salah satunya
adalah !irus. Girus dapat mengineksi sel-sel imun yang telah akti. 'ebagai akibatnya& populasi
sel eektor menurun dan sistem imun akan melemah sehingga dibutuhkan obat yang dapat
meningkatkan imun tubuh seperti <nterleukin-6 (<+-6). /irs$hner (388?) menyatakan bah%a
se$ara matematis& terdapat interaksi antara :uman <mmunodei$ien$y Girus dengan sel imun
yang akti. :adirnya !irus akan mengurangi eisiensi sistem imun dalam memerangi sel tumor.
"erbagai studi klinis dan eksperimental memberikan peme$ahan baru yang berguna untuk
mengetahui pengaruh dinamika kanker dan pera%atan yang tepat. Permasalahan-permasalahan
yang semakin kompleks tersebut menuntut untuk di$ari solusinya. Peme$ahan tersebut dapat
dilakukan dalam matematika dengan menggunakan pendekatan model matematika. Model
matematis pertumbuhan sel tumor dan sel normal berasal dari interaksi sel tumor dengan sel
normal yang pertama kali diperkenalkan oleh Eitten (38?8). <nteraksi sel tumor dengan sistem
imun dan immunoterapi telah dimodelkan se$ara matematis oleh Panetta dan /irs$hner (388?).
Model non linear pertumbuhan sel tumor dan sel normal terhadap pengaruh sistem imun
dan !irus tersebut sangat dibutuhkan untuk memahami enomena realistis pertumbuhan sel tumor
dan sel normal. Melalui model matematika dan simulasi dapat diketahui pola pertumbuhan sel
tumor dan sel normal se$ara kompleks. Perilaku sistem dapat diperkirakan dengan mengubah
parameter sehingga mampu memproyeksikan jumlah populasi pada %aktu tertentu.
Imunitas ubu#
Aesistensi dan pemulihan pada ineksi !irus bergantung pada interaksi antara !irus dan
inangnya. Pertahanan inang bekerja langsung pada !irus atau se$ara tidak langsung pada
replikasi !irus untuk merusak atau membunuh sel yang terineksi. (ungsi pertahanan nonspesiik
inang pada a%al ineksi untuk menghan$urkan !irus adalah men$egah atau mengendalikan
ineksi& kemudian adanya ungsi pertahanan spesiik dari inang termasuk pada ineksi !irus
ber!ariasi bergantung pada !irulensi !irus& dosis ineksi& dan jalur masuknya ineksi.
'timulasi antigenik menginduksi respons imun yang dilakukan sistem seluler se$ara
bersama-sama diperankan oleh makroag& limosit "& dan limosit T. Makroag memproses
antigen dan menyerahkannya kepada limosit. +imosit "& yang berperan sebagai mediator
imunitas humoral& yang mengalami transormasi menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi.
+imosit T mengambil peran pada imunitas seluler dan mengalami dierensiasi ungsi yang
berbeda sebagai subpopulasi. Antigen eksogen masuk ke dalam tubuh melalui endosistosis atau
agositosis. Antigen-presenting $ell (AP.) yaitu makroag& sel denrit& dan limosit " merombak
antigen eksogen menjadi ragmen peptida melalui jalan endositosis. +imosit T mengeluarkan
subsetnya& yaitu .DD& untuk mengenal antigen bekerja sama dengan Mayor :ysto$ompatablity
.ompleH (M:.) kelas << dan dikatakan sebagai M:. kelas << restriksi. Antigen endogen
dihasilkan oleh tubuh inang. 'ebagai $ontoh adalah protein yang disintesis !irus dan protein
yang disintesis oleh sel kanker.
Antigen
endogen dirombak
menjadi raksi peptida yang
selanjutnya berikatan
dengan M:. kelas < pada
retikulum endoplasma.
+imosit T mengeluarkan
subsetnya& yaitu .D?&
mengenali antigen
endogen untuk berikatan dengan M:. kelas <& dan ini dikatakan sebagai M:. kelas < restriksi
(/uby 3888& Ti#ard 6>>>). +imosit adalah sel yang ada di dalam tubuh he%an yang mampu
mengenal dan menghan$urkan bebagai determinan antigenik yang memiliki dua siat pada
respons imun khusus& yaitu spesiitas dan memori. +imosit memiliki beberapa subset yang
memiliki perbedaan ungsi dan jenis protein yang diproduksi& namun
morologinya sulit dibedakan.
+imosit berperan dalam respons imun spesiik karena setiap indi!idu limosit de%asa
memiliki sisi ikatan khusus sebagai !arian dari prototipe reseptor antigen. Aeseptor antigen pada
limosit " adalah bagian membran yang berikatan dengan antibodi yang disekresikan setelah
limosit " yang mengalami dierensiasi menjadi sel ungsional& yaitu sel plasma yang disebut
juga sebagai membran imunoglobulin. Aeseptor antigen pada limosit T bekerja mendeteksi
bagian protein asing atau patogen asing yang masuk sel inang.
'el limosit " berasal dari sumsum tulang belakang dan mengalami pende%asaan pada
jaringan eki!alen bursa. =umlah sel limosit " dalam keadaan normal berkisar antara 3> dan
39F. 'etiap limosit " memiliki 3>9 " $ell re$eptor (".A)& dan setiap ".A memiliki dua
tempat pengikatan yang identik. Antigen yang umum bagi sel " adalah protein yang memiliki
struktur tiga dimensi.
".A dan antibodi mengikat antigen dalam bentuk aslinya. :al ini membedakan antara
sel " dan sel T& yang mengikat antigen yang sudah terproses dalam sel. =ajaran ketiga sel limoid
adalah natural killer $ells (sel N/) yang tidak memiliki reseptor antigen spesiik dan merupakan
bagian dari sistem imun nonspesiik. 'el ini beredar dalam darah sebagai limosit besar yang
khusus memiliki granula spesiik yang memiliki kemampuan mengenal dan membunuh sel
abnormal& seperti sel tumor dan sel yang terineksi oleh !irus. 'el N/ berperan penting dalam
imunitas nonspesiik pada patogen intraseluler.
Antibodi diproduksi oleh sistem imun spesiik primer pada pemulihan pada ineksi !irus
dan pertahanan pada serangan ineksi !irus. 'el T lebih berperan pada pemulihan ineksi !irus.
'itotoksik sel T (.T+s) atau .D? berperan pada respon imun terhadap antigen !irus pada sel
yang diineksi dengan $ara membunuh sel yang terineksi untuk men$egah penyebaran ineksi
!irus. 'el T helper (.DD) adalah subset sel T yang berperan membantu sel " untuk memproduksi
antibodi. +imokin disekresikan oleh sel T untuk mempengaruhi dan mengakti!asi makroag dan
sel N/ sehingga meningkat se$ara nyata pada penyerangan !irus (Mayer 6>>;). Patogen yang
mampu dijangkau oleh antibodi adalah hanya antigen yang berada pada peredaran darah dan di
luar sel& padahal beberapa bakteri patogen& parasit& dan !irus perkembangan replikasinya berada
di dalam sel sehingga tidak dapat dideteksi oleh antibodi. Penghan$uran patogen ini
membutuhkan peran limosit T sebagai imunitas yang diperantarai oleh sel.
+imosit T mengenal sel yang terineksi !irus& !irus yang mengineksi sel bereplikasi di
dalam sel dengan memanaatkan sistem biosintesis sel inang. Deri!at antigen dari replikasi !irus
dikenal oleh limosit T sitotoksik. 'el tersebut mampu mengontrol sel yang terineksi sebelum
replikasi !irus dilangsungkan se$ara lengkap. 'el T sitotoksik merupakan ekspresi dari molekul
.D? pada permukaannya (=ane%ay et al. 6>>3).
Kanker
Pada keadaan normal pergantian dan peremajaan sel terjadi sesuai kebutuhan melalui
prolierasi sel dan apoptosis di ba%ah pengaruh proto-onkogen dan gen supresor tumor ('ilalahi
6>>I). Tumor adalah penyakit kompleks dari berbagai akumulasi mutasi genetik yang
maniestasi penyakitnya memerlukan %aktu yang lama. :al inilah yang menyebabkan
keterbatasan eekti!itas kemoterapi tumor. (enomena ini akan meningkatkan jumlah kematian
((lora dan (erguson 6>>9). Perbedaan pokok antara sel normal dan sel kanker yang
teridentiikasi bah%a sel normal usianya terbatas& sedangkan sel kanker adalah immortal. 'el
neoplastik tidak berkembang se$ara terintegrasi dan tidak ada ketergantungan pada populasi.
Aegulasi pada kontrol mitosis& dierensiasi& dan interaksi antarsel mengalami gangguan.
1en seluler inang yang homolog dengan onkogen !irus disebut protoonkogen. 1en
tersebut mampu memproduksi protein yang memiliki kemampuan menginduksi transormasi
seluler setelah mengalami mutasi& yaitu perubahan di ba%ah kontrol promotor yang memiliki
akti!itas tinggi. "iasanya protoonkogen berperan mengkode produksi protein pada replikasi
DNA atau mengontrol perkembangan pada beberapa stadium pertumbuhan normal. .-on$ adalah
gen seluler yang diekspresikan pada beberapa stadium perkembangan sel. Produk onkogen
adalah protein inti misalnya my$& myb.
1en pengatur dapat mengalami mutasi& menjadikan gen tersebut tidak peka terhadap
sinyal regulasi normal. 1en supresor yang mengalami mutasi& mengakibatkan gen tersebut
menjadi inakti. 0ntuk mengatasi penyakit kompleks diperlukan pertahanan dengan berbagai
$ara yang strategis dan pen$egahan diperlukan untuk mengurangi metastasis pada kanker.
1en supresor tumor yang mengalami perubahan antara lain gen p9;& adalah produk
protein yang memiliki bobot molekul 9; kD. Protein tersebut berungsi sebagai pengatur
prolierasi sel dan mediator pada apoptosis& yaitu program kematian sel. 1en ini juga merupakan
gen yang menginduksi kerusakan DNA dengan $ara menghambat mekanisme atau proses
perbaikan kembali DNA. :ilangnya ungsi gen p9; atau terjadinya mutasi gen tersebut
menjadikan sel terhindar dari kerusakan DNA& pertumbuhan dan kematian sel tidak terkontrol&
pembelahan sel terjadi se$ara terus menerus tanpa mengalami apoptosis. Apoptosis berperan
penting pada isiologi normal pada spesies he%an& termasuk program kematian sel pada
perkembangan embrio dan metamorosis& homeostasis jaringan& pende%asaan sel imun& dan
beberapa aspek penuaan.
Apoptosis adalah program kematian sel yang mekanismenya diorganisir se$ara isiologis
untuk merusak sel abnormal atau mengalami kerusakan. /eadaan ini merupakan respons sel
normal yang terjadi selama pertumbuhan dan metamorosis semua he%an multiseluler& yang
merupakan hasil kerja en#im proteolitik& yaitu $aspase dimana semua en#im ini memiliki sistin
sebagai sisi akti dan pembelahan protein target pada asam aspartat spesiik sebagai deri!at dari
sistin aspartase. 'el normal dapat mengalami transormasi oleh onkogen dan proses ini dapat
di$egah oleh produk yang dihasilkan gen lainnya yang disebut
tumour suppressor genes. 'atu di antara gen ini adalah p9; yang menghasilkan ;8; residu asam
amino inti osoprotein yang berikatan dengan DNA yang transkripsinya diakti!asi oleh beberapa
promotor. Protein p9; mampu menghambat pertumbuhan sel dan mempengaruhi apoptosis
pertumbuhan dan metastasis tumor bergantung pada bertambahnya suplai darah melalui
angiogenesis& ekspresi yang berlebihan dari iN2' dan !as$ular endothelial gro%th a$tor
(G51() menginduksi angiogenesis pada tumor. P9; menekan angiogenesis dengan $ara
menurunkan G51( dan iN2'.
Transormasi sering menimbulkan hilangnya kontrol pertumbuhan& kemampuan untuk
mengin!asi matriks ekstraseluler dan dedierensiasi. Pada karsinoma& beberapa sel epitel yang
mengalami transormasi adalah mesen$himal epitelial. Pada transormasi sel sering terjadi
kerusakan kromosom. "agian genom !irus yang menyebabkan tumor disebut onkogen. 1en
asing ini dapat bergabung pada sel dan menyebabkan sel tidak mengalami kematian sehingga
menjadikan pertumbuhan tidak terkendali. (usi genetik dengan kromosom lain dinyatakan
sebagai translokasi.
'ejumlah translokasi menimbulkan gangguan ekspresi dan ungsi gen yang berkaitan
dengan kontrol pertumbuhan sel. Translokasi terkarakterisasi pada reseptor atau lokus sel T
terlihat pada tumor sel T. Aearangement ini sering bersamaan dengan translokasi kromosom
termasuk pada lokus yang menghasilkan reseptor antigen dan seluler proto-onkogen. 1en seluler
penyebab kanker yang menyebabkan ungsi dan ekspresi terganggu sehingga disebut onkogen
(=ane%ay et al. 6>>3). 2nkogen adalah istilah untuk agen akti oleh gen !irus onkogenik& karena
ada bentuk kanker yang lain tidak jelas. 'elanjutnya ekspresi yang berlebihan pada beberapa
proto-onkogen telah ditunjukkan kejadiannya pada transormasi beberapa tipe sel dan kanker&
dan le!el beberapa proto-onkogen ternyata mengalami kenaikan (.ambel dan 'mith 6>>>).
/erusakan oksidati pada DNA akibat radiasi& radikal bebas& dan senya%a oksigen yang
bersiat oksidati merupakan penyebab terpenting kanker ('ilalahi 6>>I). Transomasi seluler
oleh !irus DNA menghasilkan protein yang berinteraksi dengan protein seluler. Terjadinya
transormasi DNA biasanya pada sel mengalami ineksi nonprodukti. Pada kejadian ini& DNA
!irus berintegrasi pada DNA seluler sehingga sel mengalami perke$ualian& dan pada kasus ini
adalah oleh !irus papiloma dan !irus herpes yang DNA !irus berada pada episom. Girus tumor
berinteraksi dengan sel melalui satu dari dua jalan& yaitu 3) ineksi produkti& yaitu !irus
melakukan siklus replikasi se$ara lengkap dan menimbulkan lisis sel& 6) ineksi nonprodukti&
yaitu transormasi !irus pada sel yang melakukan siklus replikasi se$ara tidak lengkap. 'elama
ineksi nonprodukti& genom !irus atau !ersi potongannya terintegrasi pada gen seluler& !-on$&
yang bertanggung ja%ab pada perubahan malignan.
umor da"at menge%abui sistem imun dengan berbagai ma(am (ara -
/emampuan sistem imun dalam mendeteksi dan menghan$urkan sel tumor disebut immune
sur!eillan$e.
Tumor dapat mngelabui sistem imun dengan berbagai $ara& pertama tumor dapat memiliki
imunogenitas yang rendah& beberapa tumor tidak memiliki peptide atau protein lain yang
dapat ditampilkan oleh molekul M:.& oleh karena itu sistem imun tidak melihat ada sesuatu
yang abnormal.
'el tumor lain tidak memiliki satu atau lebih molekul M:.& dan kebanyakan tidak
mengekspresikan $o-stimulatory protein yang dibutuhkan untuk dapat mengakti!asi sel T.
/edua& beberapa sel tumor memproduksi aktor-aktor seperti T1(-B yang dapat se$ara
langsung menghambat akti!itas sel T.
era"i
/hemoterapeutika sitostatika menyebabkan pemusnahan atau perusakan sel tumor J Tidak
spesiik& menyerang jaringan yang mempunyai laju pembelahan tinggi (sumsung tulang&
kelenjar testes& mukosa usus& rambut)
2perasi
Paling eekti dan $epat untuk tumor yang belum menyebar
Terapi Aadiasi
Merusak sel yang membelah dengan $epat.
/hemoterapi
Digunakan se$ara oral atau injeksi dan dikombinasikan dengan terapi lainnya.
Terapi :ormon
Terapi hormon diberikan untuk menghambat hormon tertentu yang mendukung pertumbuhan
sel kanker
<munoterapi
menggunakan sistem imun tubuh untuk menyerang sel kanker dan melindungi tubuh.
/ombinasi dari metoda-metoda diatas.
era"i
/hemoterapeutika sitostatika menyebabkan pemusnahan atau perusakan sel tumor J Tidak
spesiik& menyerang jaringan yang mempunyai laju pembelahan tinggi (sumsung tulang&
kelenjar testes& mukosa usus& rambut)
2perasi
Paling eekti dan $epat untuk tumor yang belum menyebar
Terapi Aadiasi
Merusak sel yang membelah dengan $epat.
/hemoterapi
Digunakan se$ara oral atau injeksi dan dikombinasikan dengan terapi lainnya.
Terapi :ormon
Terapi hormon diberikan untuk menghambat hormon tertentu yang mendukung pertumbuhan
sel kanker
<munoterapi
menggunakan sistem imun tubuh untuk menyerang sel kanker dan melindungi tubuh.
/ombinasi dari metoda-metoda diatas.
BAB )
Kesim"u%an
Tumor adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan adanya pertumbuhan
massa (solid/padat) atau jaringan abnormal dalam tubuh yang meliputi tumor jinak (benigna
tumor) dan tumor ganas (malignant tumor).
'el tumor menunjukan antigen yang tidak ditemukan pada sel normal. 0ntuk sistem
imun& antigen tersebut mun$ul sebagai antigen asing dan kehadiran mereka menyebabkan sel
imun menyerang sel tumor.
Terapi pada tumor dapat dilakukan dengan beberapa $ara diantaranya adalah
/hemoterapeutika sitostatika& <munoterapi& Terapi :ormon& /hemoterapi& Terapi Aadiasi& dan
operasi atau bisa juga dengan menggunakan kombinasi dari beberapa terapi tersebut.

DA*A! PUSAKA
"e$k& 1regory) 1ail '. :abi$ht (No!ember 388I). *<mmunity and the <n!ertebrates* (PD().
Scientific American- I>KII.
+itman 1& .annon =& Disha% + (6>>9). *Ae$onstru$ting immune phylogeny- ne% perspe$ti!es.*.
Nat Rev Immunol + (33)- ?IIKC8. PM<D 3I6I33CD.
Mayer& 1ene (6>>I). *<mmunology - .hapter 2ne- <nnate (non-spe$ii$) <mmunity*.
Microbiology and Immunology On-Line Textbook. 0'. '$hool o Medi$ine.
'mith A.D. (5d) Oxford dictionary of biocemi!try and molecular biology. (388C) 2Hord
0ni!ersity Press. <'"N >-38-?9DCI?-D
"oyton A& 2pensha% P. *Pulmonary deen$es to a$ute respiratory ine$tion.*. "r Med "ull ,-- 3K
36. PM<D 3388C689.
Moreau =& 1irgis D& :ume 5& Daj$s =& Austin M& 2L.allaghan A (6>>3). *Phospholipase A(6) in
rabbit tears- a host deense against 'taphylo$o$$us aureus.*. Inve!t O#talmol $i! Sci .2 (3>)-
6;DCK9D. PM<D 3396C8D8.
MAKALAH IMUN/L/0I
IMMUNI1 UM/!
A1U KHAI!UNNISA -2+-)2-22---23.
DANIEL ALD/
0I!I4A S5
HENI !I !5 -2+-)2-2----232
ISMI NU!6ANNAH -2+-)2-2----2+7
NANDA A1U 85 -2+-)2-2----2+3
22-29D
P!/0!AM KED/KE!AN HE:AN
UNI;E!SIAS B!A:I6A1A
MALAN0
22-.