Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PENGELOLAAN HAMA & PENYAKIT PASCA


PANEN
PRAKTIKUM LAPANGAN
SISTEM PENGELOLAAN HAMA PASCA PANEN DI GUDANG
BULOG DIY DAN PT. SANG HYANG SERI



Disusun Oleh :

Nama : Trya Angga Perkasa
NIM : 12542
Golongan : C.2.2
Nama Asisten : 1. Aisyah S. Bintang
2. Dhenok Rahma
3. Dini Rahmawati
4. Oviane Hapsari N

LABORATORIUM PENGENDALIAN HAYATI
JURUSAN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
PRAKTIKUM LAPANGAN
SISTEM PENGELOLAAN HAMA PASCA PANEN DI GUDANG BULOG DIY DAN
PT. SANG HYANG SERI

I. TUJUAN
1. Mengetahui permasalahan OPT pada Karantina Tumbuhan.
2. Melihat secara langsung system penanganan komoditas khususnya perawatan di
gudang BULOG DIY (Kalasan).
3. Melihat secara langsung system pengelolaan hama pasca panen pada benih di industry
benih PT Sang Hyang Sri di Klaten, Jawa Tengah.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Produk pasca panen merupakan bagian tanaman yang dipanen dengan berbagai tujuan
terutama untuk memberikan nilai tambah dan keuntungan bagi petani maupun konsumen.
Produk dalam simpanan ini tidak terlepas dari masalah organisme pengganggu tumbuhan
terutama dari golongan serangga hama. Hama yang menyerang komoditas simpanan (hama
gudang) mempunyai sifat khusus yang berlainan dengan hama yang menyerang tanaman
ketika di lapang (Buss, 2006).
Hama gudang akan dapat diatasi (dicegah, diperkecil populasinya dan daya
pengrusakannya) kalau kita dengan sungguh-sungguh memperhatikan teknologi perawatan
gudang. Tanpa kita memperhatikan dan meningkatkan teknologi pemeliharaannya, maka
hama-hama gudang (terutama apabila populasinya telah meningkat) sekaligus dapat merusak
kualitas dan kuantitas produk pertanian dalam simpanan. Kualitas menjadi mundur
dikarenakan terjadinya pengotoran dan pengrusakan pada produk, sedangkan kualitas akan
menurun karena hama itu memakan pula produk- produk tersebut. Khusus mengenai hama
gudang, golongan serangga merupakan yang terbanyak anggotanya. Dari golongan serangga
dikenal 4 ordo yaitu Coleoptera, Lepidoptera, Orthoptera, dan Diptera. (Kartosapoetra, 1991).
Perlu diketahui bahwa untuk semua kelompok tanaman baik tanaman pangan,
hortikultura maupun perkebunan, kerusakan dan kerugian akibat gangguan hama dan
penyakit pasca panen sangat besar. Kerugian yang diderita oleh petani akibat serangan hama
pasca panen adalah penurunan kualitas produksi ataupun produksi. Diperkirakan rata-rata
kerugian hasil antara 25-30 %. Kerugian terjadi sewaktu pengangkutan dan penyimpanan
hasil panen sebelum diolah dan dipasarkan (Untung, 2004).
Di lapangan, kehilangan hasil selama penanganan pascapanen dapat mencapai
20,51% (BPS, 1996). Proses pemanenan dan perontokkan merupakan tahapan kegiatan
terjadinya kehilangan hasil yang terbesar disebabkan oleh masalah-masalah yang bersifat
teknis maupun non teknis. Kegiatan non teknis berkaitan dengan faktor sosial dan budaya
(Mulya et al., 2007).
Perlindungan terhadap penyimpanan produk pertanian dari ancaman hama serangga
biasanya bergantung pada insektisida buatan, seperti organoklor, organofosfat, dan karbamat
(Rahman et al., 2007). Namun demikian, penggunaan insektisida buatan secara terus-menerus
dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan, sehingga diperlukan suatu sarana
pengendalian hama lain yang ramah lingkungan ( Metcalf, 1975).

III. METODOLOGI
Praktikum kunjungan lapangan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 24 Mei 2014
di gudang BULOG DIY (Kalasan) dan di perusahaan benih PT Sang Hyang Seri (Klaten,
Jawa Tengah) serta Kantor Karantina Tumbuhan. Alat yang diperlukan pada praktikum ini
yaitu alat dokumentasi (dapat berupa alat tulis atau juga kamera untuk mendokumentasikan
hal-hal penting yang ditemui). Sedangkan bahan yang diamati adalah bermacam-macam
varietas beras dan benih yang disimpan digudang berikut dengan sistem penanganannya.
Cara kerja pada praktikum kali ini yaitu mahasiswa dikelompokkan menjadi dua
kelompok besar yang didampingi dengan asisten. Kemudian setiap kelompok dengan
seksama mengamati, mencatat, dan bertanya segala sesuatu yang terkait dengan pengelolaan
hama dan penyakit pasca panen, di setiap kunjungan, oleh karena itu sebelumnya disiapkan
dahulu daftar pertanyaan oleh setiap kelompok, setelah selesai maka dibuat laporan hasil
kunjungan tersebut.
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Dalam sistem produksi, distribusi dan penggunaan suatu hasil pertanian ada tiga periode
yakni prapanen, panen dan pasca panen. Prapanen adalah periode sejak tanam sampai
menjelang panen. Panen adalah saat pemungutan hasil, yaitu proses pengambilan bagian
komoditas yang dapat dikonsumsi atau digunakan dari media produksi. Pasca panen adalah
periode setelah panen sampai komoditas hasil panen tersebut siap dikonsumsi atau
dimanfaatkan tetapi tidak termasuk proses memasak sampai makan. Komoditas dalam
pengertian ekonomi adalah barang dagangan. Komoditas pasca panen bervariasi, tergantung
jenis tanaman yang dibudidayakan. Komoditas tersebut dapat berupa hasil pertanian yang
masih asli maupun yang sudah dalam bentuk hasil olahan.
Dipandang dari segi kadar airnya, komoditas pasca panen ada yang bersifat segar (buah-
buahan, sayur-mayur, bunga) dan ada yang kering (biji-bijian, gaplek, tepung, dendeng, ikan
asin). Apabila ditinjau dari segi penggunaannya maka sebagian besar komoditas dikonsumsi
dan sebagian kecil lainnya untuk benih atau bahan tanam. Komoditas tersebut mudah sekali
mengalami kerusakan; yang bersifat kering cenderung rentan terhadap serangan serangga,
sedangkan yang segar rentan terhadap mikroorganisme patogenik.
Berdasarkan Hasil pengamatan di perusahaan benih PT Sang Hyang Sri, secara umum
gudang sudah tertata rapi. Perusahaan ini menangani benih pangan dan hortikultura. Pangan
berupa padi dan jagung, sedangkan hortikultura berupa kedelai. Suasana gudang
penyimpanan cukup bersih dan dilakukan fumigasi beberapa kali sebulan dengan menutup
produksi walaupun masih ada ventilasi dan dan jendela yang terbuka, serta pintu tertutup
rapat sehingga fumigasi kurang berjalan maksimal. Benih di ambil dari lahan dengan
kerjasama antara PT.Sang Hyang Sri dengan petani.
Proses mulai dari benih sampai ke pemasaran yaitu hasil produk padi, jagung, dan
kedelai dimasukkan dikeringkan kemudian disimpan terlebih dahulu. Penyimpanan sebelum
packing biasanya 1 1,5 bulan. Kemudian benih dimasukkan ke dalam salah satu unit yang
dinamakan Pre-cleaner yaitu alat untuk memisahkan jerami, sekam dan biji yang bernas.
Kemudian dilanjutkan ke alat yang bernama Cleaner untuk memilih benih yang kualitas dan
kuantitas produk benar-benar terjaga dari komposisi besarnya, biji yang unggul dan bagus
digunakan sebagai benih sedangkan yang kualitasnya jelek secara kenampakan digunakan
untuk pakan ternak. Kemudian dibawa oleh buffer elevator untuk dijadikan satu di karung.
Gabah atau biji yang benar-benar bagus digunakan untuk benih, kriterianya yaitu bernas,
ukurannya besar, dan tidak rusak. Untuk pengepakan sebelum pengepakan benih yang telah
di sortir dari kenampakannya di uji oleh petugas BPFB, yaitu balai penelitian benih. Uji yang
dilakukan meliputi kadar air yang terkandung, kenampakan, dan beratnya. Setelah lulus uji
dan sesuai dengan keinginan pasar maka baru dilakukan pengepakan. Benih diletakkan ke
alat pengepakan yang bernama woffer lalu turun ke timbangan. Packing dengan alat yang
berkapasitas 3x5 kg. Kemudian di-press dengan konfear dan suhunya tertentu. Penyimpanan
setelah packing berdasarkan tanggal sehingga keluarnya produk sesuai urutan tanggal.
Adapun hama yang sering menyerang di gudang ini yaitu tikus, burung, Sitophilus oryzae,
dan Tribolium spp. Hama-hama yang ada di gudang ini tidak dianggap terlalu mengganggu
jadi pengelolaan hama hanya dilakukan fumigasi secara sederhana tanpa ada pengendalian
yang lain.
Pengadaan beras di gudang BULOG Kalasan berasal dari petani mitra yang tersebar di
seluruh wilayah DIY. Adapun jenis beras yang masuk gudang adalah IR. Sebelum masuk
gudang sampel beras diambil sebanyak 10 % secara acak untuk dianalisa. Sampel beras yang
di ambil di ukur kadar airnya, kemudian dilihat jumlah broken (patahan), menir dan sosoh
(penampakan warna beras). Jika beras tersebut lolos analisa dilanjutkan dengan pengecekan
di pintu masuk gudang. Pengecekan disini lebih teliti dimana sampel yang diambil adalah
beras bagian tumpukan paling belakang atau bawah sehingga dapat meminimkan kecurangan
yang di lakukan petani mitra yang menyelipkan beras rusak pada satu truk. Jika di temukan
beras yang rusak langsung ditolak walaupun sudah lolos uji analisa untuk menghindari
kerusakan yang lebih parah lagi dalam simpanan. Namun jika lolos uji di pintu masuk gudang
maka beras langsung di simpan dalam gudang. Standar analisa yang bisa masuk kedalam
gudang adalah beras dengan kadar air 14 %, broken (patahan) sebanyak 20 %, menir 2 % dan
sosoh (penampakan warna beras) sebanyak 95%.
Beras yang disismpan dalam gudang di masukkan dalam karung. Berat masing-masing
karung adalah 15 kg beras. Dalam gudang penyimpanan DOLOG, beras dalam karung sudah
tertata dengan rapi dimasing-masing gedung. Antara tumpukan dan alas terdapat papan kayu
yang berfungsi sebagai fentilasi dan menjaga kelembaban. Sistem penataan karung yang
digunakan menggunakan sistem kunci 5. Sehingga dalam gudang terdapat 45 kaki
(tumpukan) dengan stapel yang berbeda-beda antar tumpukan blok. Dalam gudang terdapat
jalan utama dan jalan antar blok atau jalan penyelamat apabila ada kebakaran.
Kendala yang di hadapi oleh BULOG adalah adanya serangan hama. Untuk penyakit
belum menjadi masalah serius di gudang karena belum pernah ditemukan adanya masalah
penyakit. Hama yang menyerang antara lain burung, tikus dan serangga. Serangan burung
paling tinggi terjadi pada musim kemarau. Sedangkan serangan tikus hampir selalu ada pada
tiap musimnya. Untuk serangga sendiri ada dua ordo besar yang menyerang yaitu dari
Coleoptera dan Lepidoptera. Contoh dari bangsa kumbang yang menyerang yaitu Sytophilus
oryzae dan Tribolium castaneum. Apabila serangan hama tinggi, maka dilakukan fumigasi di
seluruh ruangan dalam satu gedung. Pada saat dilakuakn fumigasi, lubang fentilasi ditutup
supaya gas tidak keluar. Biasanya dibiarkan selama satu minggu. Fumigasi di gudang bulog
Kalasan menggunakan Pedanon yang dosisnya ditentukan oleh PQC (Perawatan Quality
Control). Biasanya PQC memberikan dosis fimigasi di sesuaikan dengan tingkat serangan
dari hama yang ada di gudang. Setiap satu minggu dilakukan pemantauan hama pada masing-
masing tumpukan untuk meminimalisir serangan hama. Perawan yang dilakukan untuk
menjaga kualitas beras antara lain kondisi gudang dijaga misalnya dengan pengaturan
kelembaban yang tidak boleh lebih dari 70%. Kelembaban di jaga dengan membuat fentilasi
pada bagian-bagian gudang agar sirkulasi udara dapat berjalan lancar. Suhu juga diatur
kurang lebih 30 C untuk mengurangi serangan hama.
Selain menyimpan dalam bentuk beras, BULOG Kalasan juga menyimpan dalam bentuk
gabah. Tujuan dari peyimpanan gabah adalah untuk antisispasi ketika jumlah stok gudang
terbatas misalnya karena minimnya suplai dari petani mitra akibat gagal panen atau akibat-
akibat yang lain, sehingga gabah tersebut dapat digiling untuk memenuhi permintaan beras di
masing-masing kecamatan yang tersebar diwilayah Sleman. Gabah disimpan dalam karung
goni dengan berat tiap karungnya adalah 50 kg. Untuk standar dari gabah juga mengikuti
beras dimana kadar air yang masuk tidak boleh lebih dari 14 %. Namun untuk persyaratan
broken (patahan) sebanyak 20 %, menir 2 % dan sosoh (penampakan warna beras) sebanyak
95% tidak menjadi syarat dari gabah. Pada produk simpanan biasanya gabah lebih retan dari
serangan hama. Berdasarkan pengamatan secara langsung di gudang dapat dilihat bahwa
gudang untuk menyimpan produk gabah sangat kotor dan banyak ditemukan hama-hama
yang menyerang baik dari serangan serangga (kumpang dan ngengat) maupun tanda serangan
tikus dan burung. Namun berdasarkan informasi yang kami peroleh, serangan dari hama-
hama pada produk gabah tidak menimbulkan kerugian yang berarti karena biasanya serangan
serangga-serangga hanya dipermukaan kulit gabah saja sehingga mutu dari beras masih
terjaga. Untuk produk gabah juga di lakukan fumigasi jika serangan dari hama sudah
melebihi ambang ekonomi.
Karantina Tumbuhan merupakan lembaga yang salah satu fungsinya untuk mengawasi
dan mencegah masuk dan tersebarnya hama dan penyakit dari luar negeri atau dari luar
wilayah. Secara umum, tindakan-tindakan yang dilakukan Badan Karantina adalah sebagai
berikut :
1. Pemeriksaan
2. Pengasingan
3. Pengamatan
4. Perlakuan : media pembawa
5. Penahanan : dokumen tidak lengkap (14 hari untuk impor)
6. Penolakan
7. Pemusnahan
8. Pembebasan : Sesuai peraturan (lengkap)
Setelah melalui pemeriksaan, dan hal-hal yang lainnya, barang-barang yang sudah
dipastikan aman dan diterima akan mendapatkan SIP (Surat Izin Pemasukan) atau PC
(Phytosanitary Certificate). Terdapat beberapa dasar-dasar hukum yang menjadi landasan
bagi Badan Karantina Tumbuhan, antara lain: UU No. 16 tahun 1992 tentang Karantina
Hewan, Ikan dan Tumbuhan; PP No. 14 tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan; PP No. 82
tahun 2000 tentang Karantina Hewan; PermentanNo. 38 tahun 1990 tentang tindakan
Karantina Tumbuhan untukpemasukan benioh dan bibit; Permentan No. 547 tahun 2004
tentang Organisasi dan Tata Kerja; dan Permentan No. 38 tahun 2006 tentang daftar OPTK
dan daerah sebarnya.
Dari berbagai landasan hukum tersebut, tujuan Badan Karantina Tumbuhan adalah
untuk mencegah masuknya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina Tumbuhan ke
dalam wilayah Negara Republik Indonesia, mencegah tersebarnya OPTK dari suatu area ke
area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia, mencegah keluarnya OPT tertentu
dari wilayah Negara Republik Indonesia jika Negara tujuan menghendaki. Selain antar
negara, Badan Karantina tumbuhan juga bertugas untuk melindungi suatu wilayah tertentu
dari penyebaran hama tertentu yang tentu saja tida terdapat di wilayah tersebut.
Hama-hama yang dilarang atau diwaspadai masuk ke dalam negeri disebut sebagai
OPTK, yakni semua organisme penganggu tumbuhan yang ditetapkan oleh menteri untuk
dicegah masuk dan tersebar di dalam Negara RI. Untuk mengetahui suatu komoditas yang
diimpor dari luar aman dan bebas dari OPTK maka diperlukan surat legal atau sertifikat.
Misalnya Sertifikat Kesehatan Tumbuhan yakni surat keterangan yang dibuat pejabat
yangberwenang di Negara atau areal asal / pengeirm/ transit yangmenyatakan tumbuhan atau
bagian tumbuhan yang tercantum di dalamnya bebas dari OPT, OPTK, OPTK golongan 1,2
dan/atau OPTP serta memenuhi persyaratan karantina Tumbuhan. Yang ditetapkamn
dan/atau menyatakan keterangan lain yang dibutuhkan.

V. KESIMPULAN
1. Hama di gudang tertarik karena adanya sisa beras, ataupun biji yang tercecer di celah-
celah ubin gudang dan adanya pintu, jendela, serta ventilasi yang tidak tertutup rapat.
2. Sebagian besar hama pasca panen yang ditemui berasal dari ordo Coleoptera (Sitophilus
oryzae dan Tribolium spp.) dan ordo Aves, meskipun ada juga dari ordo Lepidoptera
(Sitotraga cerealeila).
3. Pengelolaan hama dilakukan dengan pengendalian secara mekanis dan kimiawi,
mekanis dengan membersihkan gudang, menjaga kelembaban ruangan penyimpanan
dan melakukan kontrol berkala, sedangkan secara kimiawi dengan fumigasi.

DAFTAR PUSTAKA

Buss LJ, Fasulo TR. (2006). Stored Product Pests
(http://entomology.ifas.ufl.edu/fasulo/pests). UF/IFAS. SW 185. Diakses 30 Mei
2014.

Kartasapoetra AG. 1991. Hama Hasil tanaman Dalam Gudang. PT. RINEKA CIPTA,
Jakarta.

Metcalf, R.L. & W.H. Luckman. 1975. Introduction to Insect pest Management, pp. 235
273.In R.L Metcalf , J.N. Pitts & W. Stumn (eds), Environmental Science and
technology. John Willey & Sons, New York.

Mulya, S.H., Agus, S., Ade, R., Jumali, dan Putu, W. 2007. Studi peranan kelembagaan
pascapanen dalam upaya menekan kehilangan hasil produksi padi di Majalengka.
Apresiasi Hasil Penelitian Padi. 901-918

Rahman, et.all. 2007. Ethanolic Extract Of Melgota (Nacaranga Postulata) For Repelent
Insectisidal Activity Against Rice Weevil (Sitophilus Oryzae). Arf J. Biotechnology,
Vol 6(4), pp.379-383.

Untung, K. 2004. Dasar-dasar Ilmu Hama Tanaman. Jurusan Perlindungan Tanaman,
Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta