Anda di halaman 1dari 8

PERSIAPAN AIR PROSES DI PT.

PUPUK SRIWIJAYA

1. Sejarah PT. Pupuk Sriwijaya
Pupuk Sriwidjaja Palembang merupakan anak perusahaan dari PT. Pupuk
Sriwidjaja (Persero) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). PT.
Pupuk Sriwidjaja Palembang menjalankan usaha di bidang produksi dan
pemasaran pupuk terutama pupuk urea. Rencana pendirian pabrik pupuk urea
tercantum dalam repelita 1956-1960 dan pelaksanaannya diserahkan pada biro
perencanaan Negara tahun 1957. Perusahaan yang dikenal dengan sebutan PT.
PUSRI ini juga merupakan produsen pupuk urea pertama di Indonesia.
Pembangunannya diawali dengan didirikannya Perusahaan Pupuk pada tanggal 24
Desember 1959. Sriwidjaja diambil sebagai nama perusahaan untuk
mengabadikan sejarah kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatera
Selatan yang sangat disegani di Asia Tenggara hingga daratan Cina, pada abad ke
tujuh Masehi.
2. Water Treatment
Unit ini bertugas menyediakan kebutuhan air bersih untuk keperluan
pabrik, kantor dan perumahan dengan mengolah air sungai menjadi air bersih
(filtered water) melalui proses kimia. Di kantor dan perumahan produk yang
berupa air bersih digunakan sebagai sanitasi sehari-hari, sedangkan di pabrik
dipakai sebagai air pendingin, air umpan boiler bertekanan tinggi, bahan baku air
demin dan air pemadam api.
Bahan baku pembuatan air bersih adalah airSungai Musi yang
mempunyai komposisi rata-rata sebagai berikut:
a) pH : 6,9
b) Turbidity sebagai SiO
2
, ppm : 49
c) Ca Hardness sebagai CaCO
3
, ppm : 5,5
d) Iron sebagai Fe, ppm : 2,06
e) Silica sebagai SiO
2
, ppm : 64
Sedangkan air bersih (filter water) yang dihasilkan mempunyai
komposisi:
1) pH : 6,5 - 7,5
2) Turbidity sebagai SiO2, ppm : < 3,0
3) Residual chlorine sebagai Cl2, NT : 0,5
4) Iron sebagai Fe, ppm : 0,1
2.1. Proses Pembuatan Air Bersih
a) Penyaringan Zat Padat yang Terapung / Filtrasi
Air Sungai Musi sebelum dikirim ke unit utilitas dipisahkan dari kotoran
zat padat dan partikel suspense berukuran besar melalui saringan yang terdapat di
sekitar suction pump yang terletak di dermaga, lalu aliran dikirim dengan tekanan
4,2 kg/cm
2
.
b) Premix Tank/ Flocculator
Air sungai masuk ke Unit Pengolahan Air di tamping di Premix Tank,
tetapi sebelum masuk ke premix tank di pipa suction diinjeksikan terlebih dahulu
dengan bahan kimia:
1) Alumunium Sulfat (Al
2
(SO
4
)
3
)
Alumunium sulfat berfungsi untuk melepaskan partikel - partikel
kekeruhan (turbidity) yang terkandung dalam air dengan cara memperpesar
ukuran partikel koloid sehingga akan lebih mudah membentuk flok dan
mengendap. Biasanya rate alumunium sulfat yang ditambahkan adalah 7 dm
3
/min
dengan flowrate air sungai 660-720 m
3
/jam.
2) Caustic soda (NaOH)
Caustic soda berfungsi untuk mengatur pH air sungai yang cenderung
turun (asam) akibat proses pembentukan flok dimana terbentuk juga H
2
SO
4
,
sedangkan pembentukan flok membutuhkan pH 5,2-6,2.
3) Liquid klorin (CaOCl
2
)
Liquid klorin berfungsi sebagai desinfektan yang dapat membunuh
bakteri, jamur dan mikroorganisme dalam air.
c) Clarifier/Floctreator
Air sungai yang bereaksi dengan bahan kimia di Premix Tank
membentuk endapan flok-flok, selanjutnya dialirkan ke floctreator agar air dapat
terpisah dari endapan flok-flok dengan cara pengendapan gravitasi melalui
pengadukan pelan. Pada Floctreator ini diinjeksikan bahan kimia yaitu Coagulant
aid (senyawa poli acrilamida) yang berfungsi untuk memperbesar partikel koloid
maupun flok yang terbentuk, sehingga proses pengendapan dapat berlangsung
lebih cepat dan lebih sempurna.
Untuk mengetahui kualitas dari air floctreator dilakukan control outlet
floctreator dengan parameter:
1) pH : 5,5 6,2
2) turbidity, NT : 3
3) Cl
2
, ppm : 0,5
Air bersih yang dipisahkan melalui overflow di bibir floctreator dan
endapan yang terbentuk flok/lumpur yang terbentuk secara otomatis dibuang
melalui bagian bawah ke sewer/parit. Endapan lumpur yang terbentuk dan
dibuang secara periodik dengan pompa pembuangan lumpur melalui bagian
bawah floctreator disebut blowdown.
d) Clearwell
Dari Clarifier air mengalir ke clearwell yang merupakan bak penampung
dari beton yang berfungsi sebagai penyediaan air dalam jumlah yang cukup
banyak untuk menjamin suatu aliran normal ke unit sand filter. Di dalam
clearwell dilakukan penambahan caustic soda untuk mengatur pH sekitar 7-7,5
agar tidak merusak karbon aktif yang ada pada sistem demin water.
e) Sand Filter
Dari clearwell tank, air dipompa dengan tekanan sekitar 4 kg/cm
2
untuk
dilakukan penyaringan di sand filter yang bertujuan untuk memisahkan kotoran
halus yang masih ada di air tersebut dan mengurangi ion nitrit dan nitrat yang
tidak dapat dilakukan oleh flokulasi. Komposisi sand filter terdiri dari Antrasit
Coal, Fine Sand, Medium Sand, Fine Gravel, Medium Gravel dan kerikil besar
(dari atas ke bawah). Keluaran yang baik dari sand filter mempunyai turbidity < 1
ppm dan memiliki pH 7. Sebagai sand filter sudah jenuh dan pressure drop-nya
tinggi, makan dilakukan backwash/ air rumbling dan rinse untuk membersihkan
kembali media pasir dari kotoran.
f) Filtered Water Storange Tank
Air hasil penyaringan (filter water) ditampung dalam storange tank yang
berfungsi sebagai penampung air bersih yang selanjutnya dikirim ke unit unit
yang membutuhkan. Fitered water dipompakan untuk:
1) Sebagai make up Cooling Tower amoniak, Cooling Tower urea dan untuk
air minum di perumahan.
2) Sebagai bahan baku pembuatan demin water di demin plant.
Untuk mengetahui kualitas air dilakukan kontrok harian dengan
parameter sebagai berikut:
1) pH : 5,5 6,2
2) turbidity, NT : 3
3) Cl2, ppm : 0,5










Gambar 1. Blok Diagram Water Treatment Plant
3. Demineralized Water
Unit ini bertugas mengolah air bersih (filtered water) untuk mendapatkan
air bebas kandungan mineral, baik ion positif atauoun ion negatif. Hal ini
disebabkan air tersebut akan dipakai sebagai umpan boler pada pembangkit tenaga
uap tekanan tinggi di amonia plant dan umpan waste heat boiler di utilitas. Air ini
harus bebas mineral untuk menghindari terbentuknya kerak dan korosi logam. Air
bersih dipompakan dengan tekanan 8,1 kg/cm
2
dari water storange dan dilakukan
tahapan pengolahan seperti berikut ini:
a) Carbon filter
Fungsi carbon filter adalah untuk menyaring kotoran yang terikat di filter
water tank dan mengikat zat organik, seperti ion nitrat, nitrit, dan klorin serta
menghilangkan bau/warna. Zat-zat tersebut harus dihilangkan karena dapat
merusak resin kation. Pada operasi carbon filter akan mengalami kejenuhan
sehingga perlu diregenerasi, biasanya 1 unit/shift. Parameter yang menandakan
bahwa carbon filter telah jebuh salah satunyaa adalah pressure drop yang besar
(8-10 psig) dari air yang masuk dan keluar dari carbon filter tersebut. regenerasi
dilakukan dengan cara back wash untuk membuang kotoran yang terserap tadi.
b) Cation exchanger
Dari carbon filter air dialirkan ke cation exchanger. Disini ion positif
seperti K
+
, Mg
2+
, Na
+
dan SiO
2+
dihilangkan dengan adanya resin kation. Air yang
keluar memiliki pH 4. Pada P-III Resin Kation yang dipakai adalah Poli
Stirene. Setiap periode tertentu, resin yang dioperasikan akan mengalami
kejenuhan dan tidak mampu mengikat kation secara optimal. Regenerasi apabila
resin telah jenuh dilakukan dengan proses kebalikan dari operasi servis,
menggunakan larutan H
2
SO
4
. Pengaktifan kembali resin yang telah jenuh
dilakukan dengan cara regenerasi. Dalam cation exchanger digunakan resin
dengan rumus kimia H
2
Z. Contoh reaksi yang terjadi pada cation exchanger pada
saat beroperasi adalah:
Na
2
CO
2
+ H
2
Z Na
2
Z + H
2
O + CO
2

Sedangkan reaksi regenerasi adalah sebagai berikut:
Na
2
Z + H
2
SO
4
Na
2
SO
4
+ H
2
Z
c) Anion exchanger
Pada tahap pertama air dari cation exchanger masuk ke bagian atas. Di
sini ion-ion negatif seperti CO
3
-
, HCO
3
-
, SO
4
2-
, NO
2-
, Cl
-
dan silika dihilangkan
dengan resin anion. Air yang keluar memiliki pH 9. Regenerasi resin yang telah
jenuh dengan menggunakan larutan NaOH sebagai tahapan kedua. Larutan masuk
ke anion exchanger melalui sebuah distributor yang terletak tepat dibawah
exchanger melalui resin tersebut. Sisa bahan kimia meninggalkan exchanger dari
bagian bawah dan dialirkan ke tangki netralisasi.
Pada anion exchanger digunakan resin anion yang rumus kimianya
R
4
NOH. Pada utilitas P-III resin anin yang dipakai adalah Poli Stirene Divinil
Benzen. Adapun reaksi yang terjadi pada saat anion exchanger beroperasi adalah:
R
4
NOH + HCl R
4
NCl + H
2
O
Reaksi regenerasi dari anion exchanger adalah:
R
4
NCl + 2 NaOH R
4
NOH + NaCl
Tabel 1. Syarat regenerasi untuk kation/anion exchanger
Operasi Normal Design
a. Total gallon : 2100 m
3
d. Total gallon :2400 m
3

b. High silica : 0,05 ppm e. High silica : 0,1 ppm
c. Conductivity : 25 f. Conductivity : 25
d) Mixed Bed Exchanger
Air dari anion exchanger masuk mixed bed exchanger, proses yang akan
terjadi sama dengan cation dan anion exchanger, sehingga didapat air demin yang
bebas mineral. Mixed bed berisi resin kation dan anion. Sebagai regenerant bila
resin telah jenuh maka ditambahkan reagent yang berupa H
2
SO
4
dan NaOH.
Regenerasi pada mix bed menggunakan NaOH dan H
2
SO
4
sekaligus dikarenakan
di dalam mix bed terdapat kation dan anion yang tercampur rata dan menyebar,
dengan menggunkaan perbedaan densitas, dimana densitas kation lebih besar dari
anion, sehingga ketika meregenerasi mix bed, resin di back wash, sehingga kation
akan bergerak dan jatuh pada bagian bawah sedangkan anion diatasnya. Sehingga
injeksi asam sulfat ke bawah mix bed dan injeksi NaOH ke bagian atas mix bed,
lalu disemprot udara setelah di back wash. Setelah selesai proses regenerasi, resin
kation dan anion diaduk dengan udara supaya tercampur kembali dan dapat
diservis atau digunakan kembali.
Tabel 2. Syarat regenerasi untuk mix bed exchanger
Operasi Normal Design
a. Total gallon : 55000 m
3
d. Total gallon :30000m
3

b. High silica : 0,05 ppm e. High silica : 0,1 ppm
Operasi Normal Design
c. Conductivity : 0,5 f. Conductivity : 0,25
e) Demineralized Storage Tank
Merupakan tangki penampungan air demin yang selanjutnya dengan
bantuan pompa sebagai make up di deaerator waste boiler, deaerator ammonia
plant, dan sebagai air proses di urea plant.









Gambar 2. Blok Diagram Demin Plant
















DAFTAR PUSTAKA

Fauzan, Ahmad. 2011. Aligment Poros Pada Pompa Sentrifugal UGA 302 A/B
Menggunakan Dial Indicator. Laporan Kerja Praktek. Palembang:
Teknik Mesin Politeknik Negeri Sriwijaya
Mathilda, Elizabeth Theresia & Puti Dwi Septia. 2012. Menghitung Efisiensi
Cooling Tower Utilitas Pusri III.Laporan Kerja Praktek. Indralaya:
Teknik Kimia Universitas Sriwijaya.