Anda di halaman 1dari 4

PELAKSANAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN

(Persiapan Pemeriksaan)
A. Pendahuluan
Pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan yang dilakukan melalui pemeriksaan
dan/atau pengujian terhadap obyek pengawasan, merupakan kegiatan yang esensial dari
sistem pengawasan ketenagakerjaan, mengingat bahwa tolok ukur keberhasilan pengawasan
ketenagakerjaan sangat tergantung dari sub sistem ini. Oleh karenanya beberapa tahapan
pemeriksaan dan/pengujian mulai dari persiapan pemeriksaan, pelaksanaan pemeriksaan
sampai pembuatan laporan hasil pemeriksaan dan/atau pengujian harus ditempuh.
Dalam kesempatan ini akan disampaikan terkait dengan persiapan pemeriksaan sebagai
tahap awal dari pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan.

B. Persiapan Pemeriksaan
Tahap persiapan pemeriksaan, merupakan hal yang sangat penting dalam suatu proses
pemeriksaan dan/atau pengujian obyek pengawasan ketenagakerjaan. Apabila persiapan
pemeriksaan kurang baik, maka akan dapat mengancam keberhasilan pelaksanaan
pemeriksaan dan/atau pengujian. Kegiatan persiapan pemeriksaan ini tidak boleh dilakukan
secara mendadak tetapi harus dilakukan beberapa hari sebelum pelaksanaan pemeriksaan
dan/pengujian dilakukan, sehingga data-data yang dikumpulkan dapat lengkap dan cukup
waktu untuk mempersiapkan kelengkapan pemeriksaan baik administratif maupun teknis yang
harus dibawa.
Persiapan pemeriksaan yang baik merupakan langkah awal yang baik pula untuk
memulai kegiatan pemeriksaan dan/atau pengujian obyek pengawasan ketenagakerjaan.
Dengan persiapan yang baik diharapkan kegiatan yang dilakukan oleh pengawas
ketenagakerjaan akan lebih fokus dan terarah karena telah mendapatkan gambaran apa yang
akan dilakukan. Dengan demikian persiapan pemeriksaan dan/atau pengujian mutlak harus di
lakukan.
Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam persiapan pemeriksaan dan/atau
pengujian obyek pengawasan ketenagakerjaan adalah sebagai berikut:

a. Pembuatan Rencana Kerja
Rencana kerja pemeriksaan dan/ atau pengujian adalah rencana kegiatan
pelaksanaan tugas pegawai pengawas ketenagakerjaan untuk periode tertentu 1
(satu) bulan yang wajib dibuat . Hal ini sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No: Per.03/Men/1984 yang secara tegas
menyatakan bahwa pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan terpadu didasarkan
atas rencana kerja pengawasan. Ketententuan ini diperjelas lagi memalaui Surat
Edaran Nomor : SE.918/MEN/PPK-SES/XI/2004 bahwa dalam pelaksanaan tugas
pengawasan ketenagakerjaan, pegawai pengawas ketenagakerjaan berkewajiban
untuk menyusun rencana kerja pemeriksaan (bulanan) yang diketahui/disahkan oleh
pimpinan atau atasannya.
Rencana Kerja pemeriksaan harus merujuk kepada identifikasi permasalahan serta
cakupan (ruang lingkup) yang telah ditentukan dengan mempertimbangkan prioritas
pemeriksaan dan atau pengujian, antara lain tingkat kerawanan perusahaan dan
tingkat resiko bahaya tempat kerja maupun peralatannya yang dibuat untuk suatu
periode tertentu.Hal ini perlu dilakukan agar arah pemeriksaan tidak terlalu melebar
sehingga tidak fokus. Oleh karena itu diperlukan adanya bimbingan dan konsultasi
oleh atasan langsung . Rencana Kerja pemeriksaan memuat obyek yang akan
diperiksa baik yang menyangkut norma ketenagakerjaan maupun keselamatan dan
kesehatan kerja; jenis pemeriksaan yang akan dilaksanakan oleh pemeriksa dalam
melakukan pemeriksaan termasuk kapan pemeriksaan dilakukan.
Jumlah perusahaan atau obyek teknis yang akan diperiksa disesuaikan dengan target
yang harus dicapai sekurang-kurangnya 8 (delapan) perusahaan atau obyek teknis
disesuaikan dengan kemampuan dan potensi daerah masing-masing. Apabila target
yang telah ditetapkan tidak dapat dicapai dalam bulan tersebut maka perusahaan
atau obyek teknis dapat dimasukkan dalam rencana kerja bulan berikutnya.

b. Mengumpulkan, mempelajari dan mengidentifikasi data/dokumen perusahaan
Kegiatan mengumpulkan data obyek pengawasan dimulai dengan mengumpulkan
data/dokumen di internal unit pengawasan ketenagakerjaan yang berkaitan dengan
perusahaan dan dapat pula dilakukan dengan meminjam berkas dari unit kerja terkait
atau memanfaatkan data internal yang terdapat di dalam sistem administrasi unit
pengawasan ketenagakerjaan yang bersangkutan. Seluruh data/dokumen dan
informasi yang didapat baik itu dari internal maupun eksternal dirangkum dan dibuat
profil perusahaan sehinga Pengawas Ketenagakerjaan mendapatkan informasi
mengenai keadaan perusahaan. Semua informasi tersebut harus dicatat dalam buku
kerja pengawas ketenagakerjaan dan dilakukan identifikasi untuk merumuskan dan
menyatakan tentang bagaimana keadaan ketenagakerjaan di perusahaan sehingga
dapat mengenali perusahaan yang ingin dilakukan pemeriksaan dan/atau pengujian.

c. Mengumpulkan dan mempelajari Peraturan-peraturan Perundang-undangan
Untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan dan/atau pengujian , seorang pengawas
ketenagakerjaan perlu mempelajari peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan tugas dan wewenang yang dimilikinya dalam melakukan pengawasan
ketenagakerjaan . Selain itu perlu dipelajari pula prosedure dalam melaksanakan
fungsi utama yang dipercayakan kepada pengawas ketenagakerjaan, sehingga
pengawas ketenagakerjaan mampu memberikan jaminan penegakan ketentuan
hukum terkait dengan kondisi-kondisi kerja dan perlindungan pekerja ketika
melakukan pekerjaan,seperti ketentuan terkait dengan jam kerja, upah,
keselamatan,kesehatan dan kesejahteraan,hubungan kerja dengan anak-anak dan
kaum muda, dan hal-hal terkait lainnya, sejauh ketentuan tersebut dapat ditegakkan
oleh pengawas ketenagakerjaan; ketentuan hukum termasuk keputusan arbitrase dan
perjanjian bersama di mana kekuatan hukum diberikan dan bisa ditegakkan oleh
pengawas ketenagakerjaan.

d. Menyiapkan sarana dan prasarana pemeriksaan
Agar pelaksanaan pemeriksaan dapat berjalan dengan lancar, maka sebelum
melakukan pemeriksaan perlu dipersiapkan sarana-sarana baik kelengkapan
administrasi maupun kelengkapan teknis, sebagai berikut :

1) Surat Perintah Tugas
Surat Perintah Tugas adalah Naskah Dinas dari atasan yang ditujukan kepada
bawahan yang berisi perintah untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan
tugas dan fungsinya. Dengan demikian Surat Perintah Tugas perlu dan harus
dibuat sebagai dasar formal bagi kewenangan pengawas ketenagakerjaan
melakukan kegiatan pemeriksaan dan/atau pengujian.

2) Kartu Tanda Pengenal
Selain Surat Perintah Tugas, Pengawas Ketenagakerjaan perlu dilengkapi Tanda
Pengenal sebagai tanda identitas tambahan disamping Surat Perintah Tugas.
Tanda Pengenal Pegawai merupakan jenis atribut pakaian dinas untuk
mengetahui identitas seorang pegawai dan dipakai dalam menjalankan tugas.

3) Surat Pemberitahuan
Kegiatan pemeriksaan dapat dilakukan dengan atau tanpa pemberitahuan terlebih
dahulu kepada pihak perusahaan. Perlu atau tidaknya pemberitahuan ini
tergantung dari tujuan dan jenis pemeriksaan dan/atau pengujian yang akan
dilakukan. Apabila pelaksanaan pemeriksaan dan/atau pengujian dalam rangka
pengawasan ketenagakerjaan akan diberitahukan terlebih dahulu kepada
perusahaan, maka harus dipersiapkan secara cermat dan dilakukan dalam bentuk
pengiriman surat pemberitahuan.

4) Buku Akte pengawas ketenagakerjaan
Sesuai dengan pasal 5 ayat (3) yo pasal 9 ayat (e) dan pasal 12 ayat (e)
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor.03/Men/1984 tentang Pengawasan
Ketenagakerjaan Terpadu, ditegaskan bahwa pegawai pengawas dalam
menjalankan tugas pengawasan menggunakan bentuk-bentuk sebagaimana
tersebut dalam lampiran peraturan ini. Adapun lampiran tersebut termasuk Buku
Akte Pengawasan ketenagakerjaan. Selanjunya ditegaskan bahwa Pegawai
Pengawas mempunyai tugas dan kewajiban antara lain mencatat hasil
pemeriksaan dalam Buku Akte Pengawasan ketenagakerjaan dan disimpan oleh
pengusaha atau pengurus.

5) Kartu Pemeriksaan
Kartu Pemeriksaan juga merupakan salah satu sarana dalam melaksanakan
pemeriksaan. Kartu Pemeriksaan adalah formulir yang berisikan sejumlah
keterangan seperti Kapan pemeriksaan dilakukan , siapa yang melakukan
pemeriksaan dan identitas perusahaan. Selain itu Kartu Pemeriksaan berisi
sejumlah pertanyaan yang terkait dengan pelaksanaan penerapan norma-norma
dibidang ketenagakerjaan baik yang bersifat umum maupun khusus, dan kondisi
yang ada diperusahaan berkaitan dengan pelaksanaan peraturan perundang-
undangan ketenagakerjaan serta pendapat pegawai pengawas atas hasil
pemeriksaan yang telah dilakukan.

6) Pakaian Seragam
Bahwa untuk menjaga dan meningkatkan citra Pengawas Ketenagakerjaan, maka
setiap Pengawas Ketenagakerjaan selama menjalankan tugas harus mengenakan
pakaian seragam dinas beserta atributnya sesuai dengan Keputusan Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, Nomor Kep 71/Men/V/2004 tentang
perubahan atas Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor
Kep.24/Men/2003 tentang Pedoman Pakaian Seragam Dinas,Lambang, Tanda
Pangkat, dan Tanda Jabatan di Lingkungan Pengawasan Ketenagakerjaan Pusat,
Provinsi dan Kabupaten/Kota

7) Buku Kerja Pengawas Ketenagakerjaan
Buku kerja penawasan ketenagakerjaan sangat penting artinya dalam
melaksanakan pemeriksaan dan/pengujian, mengingat buku kerja digunakan
untuk mencatat informasi data yang diperoleh pada tahap pemeriksaan dan untuk
mencatat obyek pengawasan yang akan direncanakan untuk diperiksa serta
untuk mencatat temuan-temuan dari hasil pemeriksaan dan/atau pengujian. Dari
hasil catatan dalam buku kerja tersebut yang akhirnya juga dipakai sebagai dasar
dalam penyusunan laporan hasil pemeriksaan maupun pembuatan nota
pemeriksaan.

8) Alat perlengkapan
Alat perlengkapan juga perlu dipersiapkan oleh pengawas ketenagakerjaan
seperti alat pengangkutan, alat deteksi; alat perekam suara apabila pihak yang
dimintai keterangan menolak kedatangan , alat reksa uji yang diperlukan sesuai
kebutuhan serta perlengkapan lain yang dianggap perlu.

Anda mungkin juga menyukai