Anda di halaman 1dari 2

ASPEK LEGAL

Ilustrasi Seorang anak muda dibawa ambulans PMI ke RS Panti Rapih pada jam 0215
dinihari karena kecelakaan lalu lintas. Dokter IGD yang memeriksa mendiagnosisnya seb
agai cedera kepala berat yang memerlukan intubasi dan tindakan operasi segera. Belum
ada keluarga yang bisa dihubungi sampai hampir enam jam berikutnya. Bahasan
Good Samaritan Law Karakteris-k pelayanan gawat darurat Undang-
undang kesehatan Undang-undang rumah sakit Informed-Consent Diskusi


Syarat:
1.Kesukarelaan
2.Itikad Baik (Herkutanto, 2007) Good Samaritan Bdk. Luk 10:25-37

Overcrowding Uncertainty Jumlah Staf IGD, Hari Biasa Tuntutan http://www.reportingo
nhealth.org/ Mobilitas Perubahan Klinis Cepat Kematian Periode Pelayanan Singkat
Hubungan Pasien Pemberi Layanan Kondisi Biasa:
kesepakatan kedua belah pihak: bebas menentukan pemberi layanan kesehatan (voluntari
sme).
Pada kunjungan selanjutnya: kewajiban timbul berdasarkan hubungan yang telah terjadi
(pre-existing relationship). Kondisi Gawat Darurat: Tidak ada Voluntarisme.
Tidak berlaku: pre- existing relationship. Bila menolong: harus TUNTAS
Bila menolong tidak tuntas: penolong BISA digugat (Loss of chance).
Undang-undang Kesehatan UU no. 36 tahun 2009
Tidak secara spesik merinci tentang kegawatdaruratan. hak se-
ap orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang op-mal (Pasal 5)
Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang b
ermutu, aman, esien, dan terjangkau (Pasal 19) http://legalmarketingmaven.com/
Undang-
Undang Rumah Sakit http://annettewoodford.les.wordpress.com/ UU no. 44 tahun 2009
Pasal 1: Denisi gawat darurat untuk penyelamatan jiwa dan pencegahan kecacatan.
Pasal 10: Kewajiban punya ruang IGD.
Pasal 29: Rumah sakit wajib memberikan pelayanan gawat darurat: sesuai kemampuan,
sebagai fungsi sosial, dst.
Informed-Consent Permenkes no. 290 tahun 2008 hKp://www.parentprojectmd.org
Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat perset
ujuan. (Pasal 2).
Dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kec
acatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran. (Pasal 4).
Tidak menghapuskan tanggung gugat hukum bila ada kelalaian yang terjadi pada tindak
an tersebut (Pasal 6).

http://blog.adw.org/ Diskusi Kasus 1 Seorang perawat selesai dinas yang sedang berjala
n ke ruang ganti menyaksikan seorang laki- laki tiba-
tiba ambruk di sebuah lorong. Tidak ada orang lain yang ada di sekitar tempat kejadian.
Bagaimana sebaiknya perawat ini bersikap?

http://abcnews.go.com Diskusi Kasus 2 Seorang gadis 17 tahun dibawa ke IGD RS Pant
i Rapih oleh seorang laki-laki dewasa, karena pingsan tiba-
tiba. Perabaan nadi dan perekaman EKG menunjukkan kebutuhan debrilasi. Pengantar
menolak ketika dimintai persetujuan dengan alasan keduanya tidak ada hubungan apa-
apa. Apa saja konsekuensi yang timbul bila dokter melakukan debrilasi?