Anda di halaman 1dari 8

1

BAB II
EKSTRAKSI DENGAN PELARUT

A. TUJUAN PRAKTIKUM
a. Mengambil minyak dari biji ketapang dengan cara ekstraksi
menggunakan heksana.
b. Preparasi biji-bijian sebelum ekstraksi dengan pelarut.
c. Menghitung rendemen minyak/kadar minyak dari biji-bijian.

B. DASAR TEORITIS
Minyak dan lemak merupakan sumber energi dan pelarut yang baik
untuk beberapa vitamin, seperti vitamin A, D, E dan K. Minyak dapat
dimanfaatkan dalam industri kosmetik, sabun, sampo, lilin, deterjen,
surfaktan, cat, pelumas bahkan bahan bakar. Sumber minyak tidak hanya
berasal dari hewan tetapi juga berasal dari tumbuh-tumbuhan. Minyak
nabati biasanya berasal dari biji-bijian, seperti biji wijen, biji kapas, biji
kedelai dan sebagainya. Pemanfaatan biji selama ini hanya sebatas untuk
dikonsumsi langsung atau diolah menjadi makanan ringan, masih jarang
sekali diekstraksi kandungan minyaknya. Biji yang telah diambil minyak
atau lemaknya (defatted seed) masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan
pangan karena kandungan nutrisi yang lain tidak hilang (Vessen dan
Umali (2002).
Biji ketapang atau Terminalia catappa L. merupakan salah satu
sumber minyak nabati di Indonesia. Hegnauer (1964) menyatakan bahwa
T. catappa mengandung cadangan makanan berupa asam lemak seperti,
asam palmitat (29-39%) dan asam stearat (4-10%) di dalam bijinya.
Penelitian Agatemor dan Ukhun (2006) menerangkan bahwa biji ketapang
juga mengandung berbagai jenis nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Biji
ketapang mengandung fosfor dengan jumlah yang cukup signifikan (2200
g/g berat kering), karbohidrat (78,14% berat kering) dan lemak mentah
(16,35% berat kering). Selain itu, biji ketapang juga mengandung
2

magnesium, kalsium, besi, seng, natrium dan mangan. Vitamin A dan C
juga terkandung dalam biji ketapang sehingga dapat dijadikan sebagai
pelengkap nutrisi harian.
Balogun dan Fetuga (1985) menyebutkan bahwa biji T. catappa L.
mengandung minyak sebesar 40,15 %. Oleh karena itu, minyak biji
ketapang memiliki prospek untuk dijadikan suatu pilihan baru dalam
industri minyak nabati. Minyak biji ketapang berpeluang untuk digunakan
sebagai minyak pangan dan bahan baku industri sabun, lilin dan minyak
pelumas (Agatemor, 2006).
Sedangkan berdasarkan hasil dari penelitian Dharmawati Lina
tahun 2012 dalam tesisnya yang berjudul Ekstraksi Minyak Biji Ketapang
Sebagai Alternatif Sumber Minyak Nabati diperoleh minyak sebanyak
47,78% pada kondisi 250 rpm selama 5 jam.
Ekstraksi yang dilakukan menggunakan metode sokletasi, yakni
suatu metode proses pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat
padat dengan cara penyaringan berulang-ulang dengan menggunakan
pelarut organik tertentu, sehingga semua komponen yang diinginkan akan
terisolasi dan menjaga jumlah pelarut relatif konstan dengan menggunakan
alat soklet. Minyak nabati merupakan suatu senyawa trigliserida dengan
rantai karbon jenuh maupun tidak jenuh. Minyak nabati umumnya larut
dalam pelarut organik, seperti heksan dan benzen. Untuk mendapatkan
minyak nabati dari bahagian tumbuhannya, dapat dilakukan dengan
metode sokletasi menggunakan pelarut yang sesuai.
Adapun prinsip sokletasi ini adalah penyaringan yang berulang-
ulang sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan
relatif sedikit. Bila penyaringan ini telah selesai, maka pelarutnya
diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Metode sokletasi
menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan
senyawa organik yang terdapat pada bahan tersebut, tapi tidak melarutkan
zat padat yang tidak diinginkan.

3

Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu yaitu dengan
cara pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontinyu
akan membasahi sampel, secara teratur pelarut tersebut dimasukkan
kembali kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan
diisolasi tersebut. Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu
distilasi yang diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut
dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat
ditemui pada suatu zat padat, maka dapat diekstrak dengan menggunakan
pelarut yang diinginkan.
Syarat syarat pelarut yang digunakan dalam proses sokletasi :
1. Pelarut yang mudah menguap (heksan, eter, petroleum eter, metil
klorida dan alkohol)
2. Titik didih pelarut rendah.
3. Pelarut tidak melarutkan senyawa yang diinginkan.
4. Pelarut terbaik untuk bahan yang akan diekstraksi.
5. Pelarut tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan.
6. Sifat sesuai dengan senyawa yang akan diisolasi, polar atau nonpolar.
7. Ekstraksi sinambung dengan menggunakan alat soklet merupakan
suatu prosedur ekstraksi kontituen kimia tumbuhan dari jaringan
tumbuhan yang telah dikeringkan.
Cara menghentikan sokletasi adalah dengan menghentikan pemanasan
yang sedang berlangsung. Sebagai catatan, sampel yang digunakan dalam
sokletasi harus dihindarkan dari sinar matahari langsung. Jika sampai
terkena sinar matahari, senyawa dalam sampel akan berfotosintesis hingga
terjadi penguraian atau dekomposisi. Hal ini akan menimbulkan senyawa
baru yang disebut senyawa artefak,hingga dikatakan sampel tidak alami
lagi. Alat sokletasi tidak boleh lebih rendah daripipa kapiler, karena ada
kemungkinan saluran pipa dasar akan tersumbat. Juga tidak boleh terlalu
tinggi dari pipa kapiler karena sampel tidak terendam seluruhnya.
4

Dibanding dengan cara terdahulu ( destilasi ), maka metoda
sokletasi ini lebih efisien, karena:
1. Pelarut organik dapat menarik senyawa organik dalam bahan alam
secara berulang kali
2. Waktu yang digunakan lebih efisien
3. Pelarut lebih sedikit dibandingkan dengan metoda maserasi atau
perkolasi
4. Pelarut tidak mengalami perubahan yang spesifik
Keunggulan sokletasi :
1. Dapat digunakan untuk sample dengan tekstur yang lunak dan tidak
tahan terhadap pemanasan secara langsung.
2. Pelarut organik dapat mengambil senyawa organik dalam bahan
berulang kali
3. Jumlah pelarut yang digunakan sedikit
4. Proses sokletasi berlangsung cepat
5. Pemanasannya dapat diatur
6. Jumlah sampel yang diperlukan sedikit
Kelemahan sokletasi :
1. Tidak baik dipakai untuk mengekstraksi bahan bahan tumbuhan yang
mudah rusak atau senyawa-senyawa yang tidak tahan panas karena
akan terjadi penguraian
2. Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui
kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam
wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk
melarutkannya.
3. Harus dilakukan identifikasi setelah penyaringan, dengan
menggunakan pereaksi meyer, Na, wagner, dan reagen reagen lainnya.
4. Pelarut yang digunakan mempunyai titik didih rendah, sehingga mudah
menguap.
5

Dalam proses ekstraksi, pemilihan pelarut yang akan digunakan
sangatlah penting. Hal ini juga dapat mempengaruhi hasil yang akan
didapatkan dari proses ekstraksi yang dilakukan. Sebagaimana yang kita
ketahui bahwa minyak merupakan senyawa yang bersifat non polar
sehingga dalam memilih pelarut sebaiknya menggunakan pelarut yang
bersifat non polar pula. Dalam percobaan ini digunakan n-heksan sebagai
pelarut yang dapat melarutkan minyak dalam biji ketapang karena sama-
sama bersifat nonpolar.















6

C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
a. Statif dan klem
b. Neraca analitik
c. Gelas arloji
d. Spatula
e. Ball filler
f. Pipet volume 50 ml
g. Corong kaca
h. Oven
i. Selang dan pompa
j. Desikator
k. Labu alas bulat leher 2
250 ml
l. Baskom
m. Mortar dan alu
n. Termometer 200
0
C
o. Heating mantel
p. Kondensor
q. Ekstraktor
r. serbet
2. BAHAN
a. heksana 150 ml
b. Kertas saring
c. Tali kasur
d. Biji ketapng 20 gram

D. CARA KERJA
a. Preparasi Biji Ketapang










Gambar II.1 Skema Kerja Preparasi biji ketapang
Buah ketapang basah
Buah ketapang kering
Biji ketapang
Biji ketapang kering
Dijemur selama 3 hari
Dipecah menggunakan palu
Dioven pada suhu 105
0
C selama 2 jam
7


b. Ekstraksi minyak biji ketapang



























Gambar II.2 Skema Kerja Pengambilan minyak dari biji ketapang

Biji ketapang kering
Dihaluskan menggunakan mortar
Serbiuk biji ketapang
-Dioven pada suhu 105
0
C, -ditimbang
20 gram, -dibungkus dengan kertas
saring
Sampel
-Letakkan dalam tabung
ekstraktor soxhlet,-Memasukkan
heksana ke dalam labu alas bulat
leher 2

Sampel
Ekstraksi minimal sampai 10 siklus
Sampel
-Sampel diambil, -Recovery pelarut sampai
pelarut tidak menetes lagi, -mengambil
pelarut dari ekstraktor.
Labu alas bulat leher 2
-minyak dituangkan pada botol kaca
Minyak pada botol kaca
Menimbang minyak dalam botol kaca
Rendemen minyak biji ketapang
8