Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013

1
I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan yang mendasar dan sangat penting bagi manusia
manusia dan makhluk hidup lainnya. Air minum adalah air yang kualitasnya
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung0 diminum, sedangkan air
bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat diminum apabila
telah dimasak. ( Hamidah Harahap, 2007)
Dengan peranannya yang sangat penting , air akan dipengaruhi dan
mempengaruhi oleh kondisi/komponen lainnya. Pemanfaatan air untuk
menunjang seluruh kehidupan manusia jika tidak dibarengi dengan tindakan
bijaksana dalam pengelolaanya akan mengakibatkan kerusakan pada
sumberdaya air. Air permukaan yang ada seperti sungai dan situ banyak
dimanfaatkan untuk keperluan manusia sebagai tempat penampungan air,
alat transportasi, mengairi sawah, dan keperluan peternakan, keperluan
industri, perumahan, sebagai daerah tangkapan bajir. Ini harus terus dijaga
kelestariannya dari bahan pencemar (Diana Hendrawan,2005).
Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan
dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu Dengan demikian, kualitas air
akan berbeda dari suatu kegiatan ke kegiatan lain, sebagai contoh: kualitas
air untuk keperluan irigasi berbeda dengan kualitas air untuk keperluan air
minum. Air yang jernih bukan berarti air yang baik bagi ikan, karena jernih
bukan satu-satunya sarat air berkualitas bagi ikan. Sering dijumpai ikan hidup
dan berkembang dengan "subur" justru pada air yang bagi manusia
menimbulkan kesan jorok. Ikan hidup dalam lingkungan air dan melakukan
interaksi aktif antara keduanya. Ikan-air boleh dikatakan sebagai suatu
sistem terbuka dimana terjadi pertukaran materi (dan energi), seperti oksigen
(O2), karbon dioksida (CO2), garam-garaman, dan bahan buangan.
Pertukaran materi ini terjadi pada antarmuka (Interface) ikan-air pada bahan
berupa membran semipermeabel yang terdapat pada ikan. Kehadiran bahan-
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
2
bahan tertentu dalam jumlah tertentu akan mengganggu mekanisme kerja
dari membran tersebut, sehingga ikan pada akhirnya akan terganggu dan
bisa tewas. Ikan telah berevolusi selama jutaan tahun pada kondisi
lingkungan yang stabil. Oleh karena itu, dalam lingkungan alamiahnya
mereka tidak perlu beradaptasi dengan berbagai perubahan drastis yang
terjadi. Bahkan kondisi lingkungan mereka memiliki mekanisme tertentu
untuk menjaga terjadinya perubahan mendadak. Sedangkan pada
lingkungan akuarium, sebagai sebuah sistem tertutup, perubahan mandadak
dan drastis terhadap parameter air kerap terjadi (seperti suhu, pH,
kandungan amonia dll), sehingga akan menyebabkan ikan stres dan tidak
jarang menyebabkan kematian (Purwakusuma, 2009).
Kualitas Air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan
air untuk penggunaan tertentu, misalnya: air minum, perikanan,
pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya. Peduli kualitas air adalah
mengetahui kondisi air untuk menjamin keamanan dan kelestarian dalam
penggunaannya. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian
tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji
kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna)
Kecenderungan semakin meningkatnya pencemaran dan perusakan
lingkungan hidup jelas tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena akan
mengancam kesinambungan pembangunan serta keselamatan, kesehatan
lingkungan hidup dan masyarakat. Karena itu Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup mengamanatkan perlunya pengendalian pencemaran dan
perusakan lingkungan hidup guna pelestarian fungsi lingkungan hidup,
dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan penanggungjawab
usaha dan / atau kegiatan sesuai kewenangan, peran dan tanggungjawab
masing-masing (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009
Pasal 13 ayat (1) dan (3).

LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
3
2. Rumusan Masalah
Sungai mempunyai sifat dinamis dimana dapat berubah dalam
dimensi ruang dan waktu maka dalam pemanfaatan potensinya
perubahan sifat dapat mengurangi nilai manfaat sungai dan
membahayakan lingkungan sekitar. Bencana luapan banjir, akibat
penyempitan palung sungai karena adanya intervensi. Permukiman liar,
pembuangan sampah atau limbah padat dan sedimentasi. Pembawa
polusi akibat pembuangan limbah kimia industri, pertanian, limbah
domestik dan limbah organik.
Bahan organik mengalami proses pembusukan mengeluarkan
bau busuk ke lingkungan. Warna air sungai berubah menjadi keruh
kehitaman. Sementara itu bahan anorganik banyak mengendap di dasar
sungai atau terapung di air menutup permukaan sungai, kondisi demikian
ditambah lagi busa detergent dan bahan beracun maka sempurnalah
pencemaran sungai di daerah yang demikian. Oleh karena itu
pemantauan kualitas sungai sangat diperlukan Kondisi dan Tekanan
Terhadap Sumber Daya Air

3. Maksud dan Tujuan
3.1. Maksud
Mendapatkan informasi atau gambaran kualitas air di Kabupaten Bone
sehingga dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan kebijakan
Pemerintah Kabupaten Bone dalam perencanaan pengelolaan kualitas
air dan pengembangan standar kualitas air dan peraturan pembuangan
limbah cair dalam rangka menciptakan lingkungan sumber air yang
bersih dan sehat.
3.2 Tujuan
1. Mengukur Kualitas Air sungai dan Air Tanah
2. Menilai status mutu Air Sungai dan Air Tanah Dalam

LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
4
4. Sasaran
Sasaran kegiatan pemantuan kualitas air , meliputi :
1. Sungai Walanae
2. Sungai Teko
3. Sungai Kaju
4. Air tanah dalam lokasi Ex. Pasar Sentral Watampone
5. Air tanah dalam lokasi Rumah Sakit Umum Tenriawaru
6. Air Baku PDAM
7. Air tanah dalam Perumahan
8. Air laut pelabuhan
9. Air laut sekitar pemukiman

5. Ruang Lingkup Kegiatan
Kegiatan pemantauan kualitas air di Kabupaten Bone meliputi
1. Penentuan Tujuan Pemantauan
2. Penentuan lokasi pemantauan
3. Pelaksanaan sampling
4. Pelaksanaan analisis laboratorium
5. Penyusunan Laporan
6. Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan sampling kualitas air (air sungai, air tanah dan air laut) di
lapangan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 17 November 19
November 2013, jam 08.00 (Wita) sampai dengan jam 17.30 (Wita) dan
selanjutnya di analisis di Laboratorium Balai Besar Kesehatan
Kementerian Kesehatan di Makassar

7. Acuan Kerja
Jenis air permukaan yang terdapat di Kabupaten Bone terutama bersumber
dari sungai-sungai besar yaitu Sungai Walanae, S. Cenrana, S. Palakka,
S.Pattiro, Jaling, Unyi, Maradda, Lerang, Pallengoreng, Bengo, Dekko, Melle,
Paccing, dan beberapa sungai lainnya yang sebagian bermuara ke Teluk
Bone. Potensi jenis air permukaan ini difungsikan untuk keperluan pertanian
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
5
dan rumah tangga, sedangkan jenis air tanah dipergunakan untuk keperluan
rumah tangga sebagai sumber air bersih, namun kualitas air tanah dangkal
(sampai kedalaman 6 meter) banyak mengandung kapur.
Untuk mengetahui gambaran kualitas air di Kabupaten Bone, maka dilakukan
pengujian pada beberapa lokasi.
Melakukan analisa (uji laboratorium) terhadap sampling air sungai, air tanah
dan air laut dengan mengacu kepada :
Peraturan Menteri Kesehatan RI. No. 492/MENKES/PER/IV/2010
Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum
Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun 2010
Tentang Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup.
Peraturan perundangan lainnya yang mengatur tentang Baku mutu
air sungai, air tanah dan air laut dengan parameter sbb :

A. Fisika
1. Temperatur
2. Zat Padat Terlarut (TDS)
3. Zat Padat Tersuspensi (TSS)
4. Warna
5. Suhu
6. Kekeruhan
B. Kimia
1. pH
2. Besi (Fe)
3. Mangan (Mn)
4. Barium (Ba)
5. Tembaga (Cu)
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
6
6. Seng (Zn)
7. Krom Heksavalen (Cr
6+
)
8. Cadmium (Cd)
9. Air Raksa (Hg)
10. Timbal (Pb)
11. Arsen (As)
12. Selenium (Se)
13. Sulfat (SO
4
)
14. Sianida (CN)
15. Hidrogen Sulfida (H
2
S)
16. Florida (F)
17. Klorin Bebas (NH
3
-N)
18. Nitrat (NO
3
-N)
19. Nitrit sebagai N
20. BOD
5

21. COD
22. DO
23. Chloride
24. Total Fosfat
25. Minyak dan Lemak
26. Kromium (Cr)
27. Nikel (Ni)
28. Kesadahan (CaCO
3
)
29. Salinitas
C. Mikrobiologi
1. Total Coliform
2. Coli



LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
7
II. TINJAUAN AREA PEMANTAUAN

2.1 Kondisi Geografis
a) Kabupaten Bone
sebagai salah satu daerah
yang berada dipesisir Timur
Sulawesi Selatan memiliki
posisi strategis dalam
perdagangan barang dan jasa
di Kawasan Timur Indonesia,
yang secara administratif
terdiri dari 27 Kecamatan, 333
Desa dan 39 Kelurahan, yang
letaknya 174 km kearah timur
Kota Makassar, berada pada
posisi 4 13- 506 Lintang
Selatan dan antara 119 42-
120 30 Bujur Timur.



Gbr. 1. Peta Topografi Kabupaten Bone

b) Luas wilayah Kabupaten Bone 4.559 km2 dengan rincian lahan sebagai
berikut :
- Persawahan : 88.449 Ha
- Tegalan/Ladang : 120.524 Ha
- Tambak/Empang : 11.148 Ha
- Perkebunan Negara/Swasta : 43.052,97 Ha
- Rutan : 145.073 Ha
- Padang rumput dan lainnya : 10.503,48 Ha
c) Batas Wilayah
- Sebelah Utara berbatasan Kabupaten Wajo, Soppeng
- Sebelah Selatan berbatasan Kabupaten Sinjai,Gowa
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
8
- Sebelah Timur berbatasan Teluk Bone
Sebelah Barat berbatasan Kabupaten Maros, Pangkep, Barru


2.2. Kondisi Lahan
Penggunaan lahan yang ada di Kabupaten Bone dapat digolongkan kedalam
beberapa tipe penggunaan seperti hutan, persawahan,padang
rumput/rawa,tambak /kolam /empang dan perkampungan. Penggunaan lahan
yang terbesar yaitu untuk hutan baik hutan Negara maupun hutan rakyat
seluas 114.416 Ha atau 29,02% dari luas lahan dikabupaten Bone pada
tahun 2005. Lahan tanah, kayu-kayuan, hutan Rakyat : 3,69% Lahan
Kering sementara tidak ditanami : 3,10% Tambak, Kolam,Tebat/Empang :
2,32% Ladang/Huma, Padang rumput, Rawa-rawa : 1,08% Tegal/Kebun :
16,66% Pekarangan/Bangunan : 5,40% Hutan Negara : 25,33%
Perkebunan : 15,06% Sawah : 23,10% Lainnya. : 4,24%
2.3. Penggunaan Lahan
Kabupaten Bone memiliki dua jenis musim yakni musim penghujan dan
musim kemarau dengan tipe iklim sedang. Pada priode bulan April-
September, bertiup angin timur yang membawa hujan.Sebaliknya pada
priode Oktober-Maret bertiup angin barat, yang pada waktu itu Kabupaten
Bone akan mengalami musi kemarau, tetapi terdapat juga sektor peralihan
dimana Kecamatan Bontocani dan Libureng yang sebagian wilayahnya
mengikuti serktor barat dan sebagiannya lagi mengikuti sektor timur. Suhu
minimum di Kabupaten Bone adalah 260 C dan suhu maksimum 430 C.
Melihat kondisi tersebut, maka daerah ini memungkinkan untuk
menghasilkan berbagai jenis komoditi pertanian yang memiliki nilai Ekonomi
tinggi

2.4. Kondisi Hidrologi
Sumber air baku potensial yang dapat dimanfaatan sebagai air baku air
bersih penduduk maupun untuk kegiatan pertanian, tersebar di beberapa
tempat atau daerah genangan dengan luasan yang bervariasi, antara lain:
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
9
a. Genangan Paccapaseng di Kecamatan Ponre dengan luas 2.000 ha.
b. Genangan Paropo di Kecamatan Lappariaja dengan luas 2.300 ha.
c. Genangan Waru-Waru di Kecamatan Cina dan Mare dengan luas 2.000
ha.
d. Genangan bendungan Salomekko di Kecamatan Salomekko dengan luas
1.722 ha.
e. Genangan Ponre-Ponre di Kecamatan Libureng seluas 10.000 ha.
f. Pengembangan Waduk Sanrego di Kecamatan Kahu dengan luas 10.000
ha.
g. Genangan di desa Ujung di Kecamatan Dua Boccoe seluas 450 ha; dan
h. Tangkapan Air atau rawa pasang surut di desa Uloe di Kecamatan Dua
Boccoe seluas 800 ha.
Untuk kebutuhan air minum, penduduk kota Watampone dan sekitarnya
memanfaatkan air bersih yang bersumber dari PDAM dengan jumlah
pelanggan tahun 2010 sebanyak 10.947 satuan sambungan.

LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
10
III. METODE PELAKSANAAN PEMANTAUAN

3.1. Penentuan Titik Sampling
Agar diperoleh gambaran mengenai kualitas air maka penentuan titik
sampling dilakukan dengan pertimbangan bahwa air sungai pada titik
tersebut telah betul-betul homogen atau tercampur dengan baik. Untuk
memverifikasi bahwa pada titik sampling tersebut sudah terjadi percampuran
air sungai yang baik maka perlu dilakukan pemeriksaan homogenitas dengan
cara pengambilan beberapa sampel pada titik sepanjang lebar dan
kedalaman sungai untuk dianalisis beberapa parameter yang khas seperti
pH, temperatur dan oksigen terlarut. Jika hasil yang diperoleh tidak berbeda
secara signifikan maka suatu titik sampling dapat ditentukan di tengah aliran
atau titik lain yang mudah pengambilannya. Bila hasil analisis berbeda
nyata dari satu titik dengan yang lainnya maka perlu diambil sampel dari
beberapa titik yang dilalui aliran. Umumnya semakin banyak sampel yang
dikumpulkan akan semakin mewakili.
Berdasarkan ketentuan di atas, kegiatan pemantauan kualitas air di
kabupaten Bone ditetapakan 13 (Tigabelas) lokasi sampling pada
pemantauan kualitas air di Kabupaten Bone 2013 :
a. Sungai, yang terdiri dari 8 titik
1. Sungai Walanae (bagian muara), yaitu di muara di Desa
Cenrana, Kecamatan Cenrana
2. Sungai Walane (bagian tengah), yaitu di jembatan Leppangeng,
di Desa Patongkai, Kecamatan Lappariaja.
3. Sungai Walanae (bagian hulu), yaitu di jembatan sungai
Kalumpang, lokasi di desa Pole-Onro, Kecamatan Libureng
4. Sungai Teko, sebelum Out Let limbah cair (out let) PT. Basis
Indah (Alkohol dan Spiritus), di desa Luppereng, Kecamatan
Cina.
5. Sungai Teko, sesudah Out Let limbah cair PT. Basis Indah
(Alkohol dan Spiritus), di desa ArasoE, Kecamatan Cina
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
11
6. Sungai Kaju, sesudah bercampur limbah cair (out let) Pabrik
Gula Bone, (ArasoE), lokasinya di desa Massenrempulu
Kecamatan Sibulue.
7. Sungai SalokaE, sebelum memasuki kota Watampone (bagian
hulu), di Kelurahan Mattirowalie, Kecamatan Tanete Riattang
Barat
8. Sungai SalokaE, sesudah melewati kota Watampone (bagian
hilir), di Kelurahan Massumpu, Kecamatan Tanete Riattang.
b. Sampling Kualitas Air Tanah 4 (Empat) lokasi atau titik sampling,
yaitu :
1. Air tanah dalam lokasi Ex. Pasar Sentral Watampone, Dijalan
D.I Panjaitan di Kelurahan Biru, Kecamatan Tanete Riattang
2. Air tanah dalam lokasi Rumah Sakit Umum Tenriawaru, di
Jalan Wahidin Sudirohusodo, Kelurahan Macanang
Kecamatan Tanete Riattang Barat
3. Air Tanah (Mata Air Wollangi) sebagai air baku PDAM
Wollangi, di Desa Wollangi, Kecamatan Barebbo
4. Air tanah dalam Perumahan BTN Harfana Halim Indah, di
Jalan Wahidin Sudirohusodo, Kelurahan Macanang
Kecamatan Tanete Riattang Barat.
c. Sampling kualitas air laut 2 (Dua) lokasi atau titik sampling, yaitu:
1. Air laut sekitar pelabuhan Ferry Bajoe, di Kelurahan Bajoe,
Kecamatan Tanete Riattang Timur.
2. Air laut sekitar pelabuhan Perikanan, di Kelurahan LonraE,
Kecamatan Tanete Riattang Timur.

3.2 Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data
Metode pengambilan sampel atau contoh uji air adalah proses pengambilan
air di lokasi yang telah ditentukan, mengukur parameter yang dapat diukur
langsung di lapangan (misalnya: pH, temperatur, dan oksigen terlarut),
mengawetkan, menyimpan dan membawa contoh uji ke laboratorium yang
telah ditunjuk sesuai metode yang telah dibakukan.
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
12
Urutan pelaksanaan pengambilan contoh kualitas air adalah sebagai berikut :
a. Membuat perencanaan pengambilan contoh uji
b. Menentukan lokasi pengambilan contoh
c. Menentukan pengambilan contoh
d. Melakukan pengambilan contoh
e. Melakukan pemeriksaan kualitas air di lapangan
f. Melakukan pengolahan pendahuluan dan pengawetan contoh
g. Pengepakan contoh dan pengangkutan ke Laboratorium
Teknik Pengambilan Contoh
Teknik pengambilan contoh harus disesuaikan dengan tujuan
pengambilan contoh yaitu pengambilan contoh sesaat (grab sample) adalah
contoh yang menunjukkan sifat contoh pada saat contoh diambil. Hal lain
yang perlu diperhatikan adalah:
Contoh air sungai sebaiknya diambil dari bagian yang mengalir
dan dekat dengan permukaan.
Bagian sungai yang diam sebaiknya dihindari.
Untuk sungai yang lebar dan lurus, contoh diambil dari tepi tetapi
pada jarak paling sedikit 1 m dari tepi sungai.
Pengambilan contoh air sungai yang tidak terjangkau tangan,
contoh air dapat diambil dengan botol pemberat










Gb. 2. Teknik Pengambilan Sampel



LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
13
3.3 Cara Pengolahan dan Analisa Data

Cara Pengolahan dalam Pengawetan contoh
Pengawetan contoh untuk parameter tertentu diperlukan apabila
pemeriksaan tidak dapat langsung dilakukan setelah pengambilan contoh.
Jenis bahan pengawet yang digunakan dan lama penyimpanan berbeda-
beda tergantung pada jenis parameter yang akan diperiksa. Adapun cara
pengawetan ada 2 (dua) macam yaitu dengan cara fisika dan kimia.
Pengawetan secara fisika dilakukan dengan cara pendinginan contoh pada
suhu 40C atau pembekuan, sedangkan pengawetan dengan cara kimia
dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Pengasaman yaitu penambahan HNO3 pekat atau HCl pekat atau
H2SO4 pekat kedalam contoh air sampai pH <2.
b. Penambahan larutan basa ke dalam contoh air sampai pH mencapai
10-11
Analisa Data
Mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115
Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air, salah satu
metode yang digunakan untuk menentukan status mutu kualitas air sungai
adalah dengan metode STORET. Dengan metode STORET ini dapat
diketahui parameter yang telah memenuhi atau melampaui baku mutu air.
Secara prinsip metode STORET adalah membandingkan antara data kualitas
air dengan baku mutu air yang disesuaikan dengan peruntukannya guna
menentukan status mutu air.

Prosedur Penggunaan Metode STORET
Penentuan status mutu air dengan menggunakan metode STORET
dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Melakukan pengumpulan data kualitas air, sehingga membentuk data
b. Membandingkan data dan hasil pengukuran dari masing-masing
parameter air dengan nilai baku mutu yang sesuai dengan kelas air
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
14
c. Jika hasil pengukuran memenuhi nilai baku mutu air (hasil pengukuran
< baku mutu) maka diberi skor 0
d. Jika hasil pengukuran tidak memenuhi baku mutu air atau (hasil
pengukuran > baku mutu) maka diberi skor sesuai dengan Tabel di
bawah ini
Tabel 1. Sistem Nilai untuk Menentukan Status Mutu Air dengan Metode
STORET

Jumlah
Contoh
Nilai
Parameter
Fisika Kimia Biologi
< 10
Maksimum -1 -2 -3
Minimum -1 -2 -3
Rata Rata -3 -6 -9
>10
Maksimum -2 -4 -6
Minimum -2 -4 -6
Rata Rata -6 -12 -18

e. Jumlah negatif dari seluruh parameter dihitung dan ditentukan status
mutunya dari jumlah skor yang didapat dengan menggunakan sistem
nilai.
f. Cara untuk menentukan status mutu air adalah dengan menggunakan
sistem nilai dari US-EPA (United State - Environmental Protection
Agency) dengan mengklasifikasikan mutu air dalam empat kelas
seperti pada Tabel di bawah ini :
Tabel 2. Sistem Nilai Penentuan Status Mutu Air

No. Kategori Skor Status
1 Kelas A Baik Sekali 0 Memenuhi BL
2 Kelas B Baik -1 s/d -10 Cemar Ringan
3 Kelas C Sedang -11 s/d -30 Cemar Sedang
4 Kelas D Buruk >-31 Cemar Berat


3.4. Penjamin Mutu
Dalam kegiatan Pemantauan Kualitas Air di Kabupaten Bone,
bekerjasama dengan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar, hal ini
dilakukan sebagai upaya penjamin mutu hasil analisis laboratorium. Sebagai
salah satu Laboratorium yang sudah terakreditasi
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
15
VI. HASIL PEMANTAUAN
Penyelamatan sumber daya air di Kabupaten Bone, dilakukan
secara terpadu, sistematis dan terarah. Dalam rangka melestarikan
fungsi air telah dilakukan pengelolaan kualitas air dan pengendalian
pencemaran air secara bijaksana dengan memperhatikan
kepentingan generasi sekarang dan mendatang serta keseimbangan
ekologis, guna menunjang pembangunan yang berkelanjutan.
Sesuai dengan Peraturan Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan
Nomor 69 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan
Lingkungan Hidup, dan Peraturan Menteri Kesehatan RI. No.
492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan
Kualitas Air Minum Kabupaten Bone melalui Badan Lingkungan
Hidup Daerah telah dilakukan upaya antara lain berupa kegiatan
menginventarisasi dan mengidentifikasi sumber daya air dan sumber
pencemaran, dan pemantauan kualitas pada sumber daya air.

4.1 Data Hasil Pemantauan
Pemilihan sungai atau avour yang dipantau sesuai dengan prioritas
masing-masing yang rawan atau berpotensi menimbulkan dampak
lingkungan, seperti sungai yang berada di sekitar daerah industri,
industri rumah tangga, dan permukiman penduduk. Selain itu juga
dipilih sungai yang melintasi batas kabupaten/kota atau sungai lintas
propinsi tanpa mengabaikan sungai / saluran yang ada di pusat kota
dan Titik Air Tanah dalam Kota. Adapun data laboratorium kualitas air
sungai atau avour yang dipantau dilampirkan pada bagian akhir
laporan ini

4.2 Hasil Analisis Kualitas Air
Sebagaimana yang telah ada pada Bab III, metode untuk
menentukan status mutu air adalah dengan metode STORET dimana
prinsipnya metode ini adalah dengan membandingkan antara data
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
16
kualitas air yang diambil secara series dan baku mutu air yang
disesuaikan dengan peruntukannya, guna menentukan status mutu
air.
Merujuk pada Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69
Tahun 2010 Tentang Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan
Hidup tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air, sungai / avour di Kabupaten Bone diklasifikasikan
sebagai badan air kelas II. Dimana air yang peruntukannya dapat
digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan
air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan/atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut. Sedangkan untuk uji kualitas air baku merujuk
pada Peraturan Menteri Kesehatan RI. No.
492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan
Kualitas Air Minum

4.2.1. Sungai Walannae
Wilayah sungai Walanae-Cenranae meliputi 9 Kabupaten (Kab.
Maros, Kab. Pangkep, Kab. Barru, Kab. Sidrap, Kab. Enrekang, Kab.
Luwu, Kab. Soppeng, Kab. Wajo dan Kab. Bone), dengan potensi
9.418 juta m3/tahun, sungai utama adalah sungai Walanae (panjang
= 250 km, luas DAS = 740 km2) dengan lebar sungai rerata 100
meter dan DAS seluas 3.170 km2. Oleh karena itu untuk memantau
kualitas air sungai Walannae maka dilakukan 3 (tiga) titik
pengambilan sampel. Lokasi pengambilan sampel dilakukan Kel.
Cenrana sebagai Muara, Jembatan Bengo di Desa Samaenre, dan
Jembatan Desa Swadaya Kec. Libureng.
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
17

Gbr 3. Pengambilan Sampel di Muara Sungai Walannae, lokasi Cenrana


Gbr 4. Pengambilan Sampel Air Sungai Walannae di Jembatan Lappariaja


Gbr 5. Pengambilan Sampel Air Sungai Walannae di Jembatan Tanabatue



LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
18

Tabel 3. Hasil Penentuan Status Mutu Air Sungai Walannae
(Cenrana-Lappariaja-Tanabatue)
No. Parameter Satuan
BML
Kelas II
Hasil Pemantauan
Skor
Hulu Tengah Muara
FISIKA
1 Temperatur C Deviasi 3 28,8 29,8 29,2 0
2 Zat Padat Terlarut (TDS) mg/L 1000 76,4 271 142 0
3 Zat Padat Tersuspensi (TSS) mg/L 50 58 112 22 -3
KIMIA
1 Amoniak Sebagai N mg/L ( - ) 0,05 0,06 0,34 0
2 Arsen (As) mg/L 1 <0.01 <0.01 <0.01 0

3 Barium (Ba) mg/L ( - ) <0.07 <0.07 <0.07 0
4 Besi (Fe) mg/L ( - ) 0,28 0,51 0,56 0
5 BOD mg/L 3 21,43 14,3 16.68 -6
6 Cadmium (Cd) mg/L 0.01 <0.003 <0.003 <0.003 0
7 Chlorida (Cl) mg/L ( - ) 20,75 18,86 47,15 0
8 Chromium (Cr=6) mg/L 0.05 <0.01 <0.01 <0.01 0
9 COD mg/L 25 53,58 35,72 41,71 -6
10 Cyanida (CN) mg/L 0.02 <0.01 <0.01 <0.01 0
11 DO mg/L 4 5,6 7,2 5,6 -6
12 Fluorida (F) mg/L 1.5 <0.1 <0.1 <0.1 0
13 Fosfat (PO4) mg/L 0.2 0,29 0,32 0,17 -4
14 Mangan (Mn) mg/L ( - ) <0.01 <0.01 3,36 0
15 Minyak dan Lemak mg/L 0.8 <0,1 <0.1 <0.1 0
16 Nitrat sebagai N mg/L 10 1,8 2,44 1,92 0
17 Nitrit sebagai N mg/L 0.06 0,01 0,02 0,02 0
18 pH 6 8.5 8,8 8,83 8,52 -6
19 Raksa (Hg) mg/L 0.002 <0.0005 <0.0005 <0.0005 0
20 Selenium (Se) mg/L 0.05 <0.001 <0.001 <0.001 0
21 Seng (Zn) mg/L 0.05 0,06 <0.01 <0.01 -2
22 Sulfat (SO4) Seng (Zn) mg/L ( - ) 14,2 10,7 22,46 0
23 Sulfida (H2S) mg/L 0.002 <0.002 <0.002 <0.002 0
24 Tembaga (Cu) mg/L 0.02 <0.005 <0.005 <0.005 0
25 Timbal (Pb) mg/L 0.03 <0.005 <0.005 <0.005 0
26 Sisa Chlor mg/L 0.03 <0.01 <0.01 <0.01 0
MIKROBIOLOGI
1 Total Coli MPN/100ml 3300 1000 80 920000 -3
TOTAL SKOR -36

LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
19
Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET, skor Kualitas Air
Sungai Walannae pada tiga titik lokasi Cenrana-Lappariaja-
TanaBatue adalah sebesar -36, sehingga status mutu airnya adalah
tercemar berat (dibandingkan dengan baku mutu badan air kelas II ).
Parameter air yang perlu mendapat perhatian adalah zat padat
tersuspensi, BOD, COD, DO, Fosfat, pH, dan Seng (Zn)

4.2.2. Sungai Teko
Sungai Teko yang berada di wilayah Kecamatan Cina, dan
Kecamatan Sibulue, ini mengalir di sepanjang wilayah Industri PT.
Basis Indah dan Pabrik Gula Arasoe sehingga beban cemar sungai
juga tinggi, untuk itu di Daerah Aliran Sungai ini ditetapkan 3 (tiga)
titik pengambilan contoh air, yakni di Jembatan Desa Cinnong /
Sungai Luppereng Kec.Cina bagian Hulu Sungai Teko (sebelum
limbah cair outlet Pt. Basis Indah), Jembatan Di Desa Arasoe
(sesudah limbah cair outlet PT. Basis Indah, bagian tengah), dan
Terakhir di Jembatan Desa Kaju



Gbr 6. Pengambilan Sampel Air Sungai Teko DI Desa Cinnong Kec. Cina

LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
20

Gbr 7. Pengambilan Sampel Air Sungai Teko Di Jembatasan Desa Arasoe Kec. Cina



Gbr 8. Pengambilan Sampel Air Sungai Teko DI Jembatasan Desa Kaju Kec. Sibulue

LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
21
Tabel 4. Hasil Penentuan Status Mutu Air Sungai Teko (Jembatan Desa Cinnong,
Desa Arasoe dan Desa Kaju)
No. Parameter Satuan BML Kelas II
Hasil Pemantauan
Skor
Hulu Tengah Muara
FISIKA
1 Temperatur C Deviasi 3
31.7 30.7 30.5
0
2 Zat Padat Terlarut (TDS) mg/L 1000
1290 113 252
-1
3 Zat Padat Tersuspensi (TSS) mg/L 50
64 60 110
-3
KIMIA
1 Amoniak Sebagai N mg/L ( - )
0.06 <0.05 <0.05
0
2 Arsen (As) mg/L 1
<0.01 <0.01 <0.01
0
3 Barium (Ba) mg/L ( - )
<0.07 <0.07 <0.07
0
4 Besi (Fe) mg/L ( - )
0.81 0.91 0.54
0
5 BOD mg/L 3
14.3 21.43 28.6
-6
6 Cadmium (Cd) mg/L 0.01
<0.003 <0.003 <0.003
0
7 Chlorida (Cl) mg/L ( - )
35.83 18.86 66
0
8 Chromium (Cr=6) mg/L 0.05
<0.01 <0.01 <0.01
0
9 COD mg/L 25
35.72 53.58 71.44
-6
10 Cyanida (CN) mg/L 0.02
<0.01 <0.01 <0.01
0
11 DO mg/L 4
7.2 5.6 4.8
-6
12 Fluorida (F) mg/L 1.5
<0.1 <0.1 <0.1
0
13 Fosfat (PO4) mg/L 0.2
0.11 0.13 0.12
-6
14 Mangan (Mn) mg/L ( - )
<0.01 <0.01 0.03
0
15 Minyak dan Lemak mg/L 0.8
<0.1 <0.1 <0.1
0
16 Nitrat sebagai N mg/L 10
0.46 0.46 0.46
0
17 Nitrit sebagai N mg/L 0.06
0.01 0.02 <0.01
0
18 pH 6 8.5
8.93 8.92 8.94
-6
19 Raksa (Hg) mg/L 0.002
<0.0005 <0.0005 <0.0005
0
20 Selenium (Se) mg/L 0.05
<0.001 <0.001 <0.001
0
21 Seng (Zn) mg/L 0.05
<0.01 0.09 <0.01
0
22 Sulfat (SO4) Seng (Zn) mg/L ( - )
20.27 24.40 38.21
0
23 Sulfida (H2S) mg/L 0.002
<0.002 <0.002 <0.002
0
24 Tembaga (Cu) mg/L 0.02
<0.005 <0.005 <0.005
0
25 Timbal (Pb) mg/L 0.03
<0.005 <0.005 <0.005
0
26 Sisa Chlor mg/L 0.03
<0.01 <0.01 <0.01
0
MIKROBIOLOGI
1 Total Coli MPN/100ml 5000 130000 22000 13000 -9
TOTAL SKOR -37


LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
22
Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET, skor Kualitas Air
Sungai Teko pada tiga titik lokasi Desa Cinnong, Jembatan Luppereng
dan Desa Kaju adalah sebesar -37, sehingga status mutu airnya adalah
tercemar Sedang (dibandingkan dengan baku mutu badan air kelas II ).
Parameter air yang perlu mendapat perhatian adalah zat padat
tersuspensi, zat padat terlarut, BOD, COD, DO, Fosfat, pH.

4.2.3. Sungai Salokae
Sungai Salokae pada dasarnya ada Sungai yang peruntukannya lebih
banyak untuk mengairi persawahan, dalam hal ini sebagai saluran Irigasi
yang melintasi Kota Watampone, namun karena alirannya melintasi
daera Kota Watampone, sehingga beban cemarnya juga harus
identifikasi melalui pengambilan contoh air, untuk itu titik sampel ada dua,
yaitu Jembatan Sungai Latekko sebagai Hulu (sebelum melewati kota)
dan Saluran Irigasi Sekunder di Jalan STKIP Watampone (setelah
melewati kota)


Gbr 9. Pengambilan Sampel Air Sungai Salokae di Jembatan Latekko Kec. Awangpone


LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
23

Gbr 10. Pengambilan Sampel Air Sungai Salokae di Jembatan di Dekat STKIP
Watamone Kec. Tanete Riattang

Tabel 5. Penentuan Status Mutu Air Sungai Salokae (Jembatan Latekko
Jembatan STKIP Watampone)
No. Parameter Satuan BML Kelas II
Hasil Pemantauan
Skor
Sebelum Setelah
FISIKA
1 Temperatur C Deviasi 3
27.2 28.08
0
2 Zat Padat Terlarut (TDS) mg/L 1000
271 251
0
3 Zat Padat Tersuspensi (TSS) mg/L 50
194 58
-2
KIMIA
1 Amoniak Sebagai N mg/L ( - )
0.19 <0.05 0
2 Arsen (As) mg/L 1
<0.01 <0.01 0
3 Barium (Ba) mg/L ( - )
<0.07 <0.07 0
4 Besi (Fe) mg/L ( - )
0.12 0.19 0
5 BOD mg/L 3
8.34 50 -4
6 Cadmium (Cd) mg/L 0.01
<0.003 <0.003 0
7 Chlorida (Cl) mg/L ( - )
41.49 28.29 0
8 Chromium (Cr=6) mg/L 0.05
<0.01 <0.01 0
9 COD mg/L 25
20.85 125.02 -2
10 Cyanida (CN) mg/L 0.02
<0.01 <0.01 0
11 DO mg/L 4
7.2 3.6 -4
12 Fluorida (F) mg/L 1.5
0.1 <0.1 0
13 Fosfat (PO4) mg/L 0.2
<0.1 1.12 -2
14 Mangan (Mn) mg/L ( - )
<0.01 <0.01 0
15 Minyak dan Lemak mg/L 0.8
<0.1 <0.1 0
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
24
16 Nitrat sebagai N mg/L 10
0.83 3.70 0
17 Nitrit sebagai N mg/L 0.06
<0.01 0.20 0
18 pH 6 8.5
9.35 8.54 -2
19 Raksa (Hg) mg/L 0.002
<0.0005 <0.0005 0
20 Selenium (Se) mg/L 0.05
<0.001 <0.001 0
21 Seng (Zn) mg/L 0.05
<0.01 <0.01 0
22 Sulfat (SO4) Seng (Zn) mg/L ( - )
24.51 16.67 0
23 Sulfida (H2S) mg/L 0.002
<0.005 <0.002 0
24 Tembaga (Cu) mg/L 0.02
<0.005 <0.005 0
25 Timbal (Pb) mg/L 0.03
<0.005 <0.005 0
26 Sisa Chlor mg/L 0.03
<0.01 <0.01 0
MIKROBIOLOGI
1 Total Coliform MPN/100ml 5000 3300 3300 -9
TOTAL SKOR -25

Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET, skor Kualitas Air
Sungai Salokae (sebelum dan sesudah melewati kota Watampone) pada
tiga titik Jembatan Sungai Latekko- dan Jemabatn STKIP Watampone
adalah sebesar -25, sehingga status mutu airnya adalah tercemar
Sedang (berdasarkan Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69
Tahun 2010 Tentang Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan
Hidup kelas II). Parameter air yang perlu mendapat perhatian adalah zat
padat tersuspensi, BOD, COD, DO, Fosfat (P0
4
), pH dan Total Coliform



4.3.1 Hasil Pemantauan Kualitas Air Tanah
Untuk mewakili pemantauan kualitas air tanah Kabupaten Bone, di kategorikan
dalam Zone permukiman, Zona Limbah Rumah sakit, dan Zona bekas Aktivitas
padat. Untuk itu ditetapkan pengambilan sampel air tanah yakni : Perumahan BTN
Harfana Halim Indah-RSUD Tenriawaru Bone-Ex.Pasar Sentral Watampone, masing
masing 1 (satu) titik.

LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
25

Gbr 11. Pengambilan Sampel Air Tanah Perumahan BTN Harfana Halim Indah



Gbr 12. Pengambilan Sampel Air Tanah RSUD Tenriawaru Bone


LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
26

Gbr 13. Pengambilan Sampel Air Tanah Ex. Pasar Sentral Watampone

Tabel 6. Statu Mutu Air Tanah Kabupaten Bone (BTN Harfana Halim Indah-RSUD
Tenriawaru Bone-Ex. Pasar Sentral Watampone)

No. PARAMETER UJI SATUAN
Maksimum
Limit (Kelas I)
HASIL UJI Skor
1. No. Sampel - - A21 A22 A24
A. FISIKA
1 Temperatur C Deviasi 3 31.6 32.1 29.9 0
2 Zat Padat Terlarut (TDS) mg/L 800 370 224 354 0
3 Zat Padat Tersuspensi (TSS) mg/L 50 48 52 130 -2
B. KIMIA
1 Amoniak Sebagai N - 0.5 <0.05 *0.07 0.05 -2
2 Arsen (As) mg/L 1 <0.01 <0.01 <0.01 0
3 Barium (Ba) mg/L 1 <0.07 <0.07 <0.07 0
4 Besi (Fe) mg/L 0.3 <0.02 <0.02 *0.81 -2
5 BOD mg/L 2 *8.34 *8.34 *8.34 -6
6 Cadmium (Cd) mg/L 0.01 <0.003 <0.003 <0.003 0
7 Chlorida (Cl) mg/L 600 47.15 75.44 94.29 0
8 Chromium (Cr
=6
) mg/L 0.05 <0.01 <0.01 <0.01 0
9 COD mg/L 10 *20.85 *20.85 *20.85 -6
10 Cyanida (CN) mg/L 0.02 <0.01 <0.01 <0.01 0
11 DO mg/L 6 *7.2 *7.2 *7.2 -6
12 Fluorida (F) mg/L 0.5 <0.1 <0.1 <0.1 0
13 Fosfat (PO
4
) mg/L 0.2 <0.1 <0.1 0.12 0
14 Mangan (Mn) mg/L 0.1 <0.01 <0.01 0.07 0
15 Minyak dan Lemak mg/L 0.6 <0.1 <0.1 <0.1 0
16 Nitrat sebagai N mg/L 10 1.25 1.22 1.21 0
17 Nitrit sebagai N mg/L 0.06 *0.07 <0.01 0.01 0
18 pH - 6 8.5 *8.60 8.30 *8.49 -4
19 Raksa (Hg) mg/L 0.001 <0.0005 <0.0005 <0.0005 0
20 Selenium (Se) mg/L 0.01 <0.001 <0.001 <0.001 0
21 Seng (Zn) mg/L 0.05 <0.01 <0.01 <0.01 0
22 Sulfat (SO
4
) Seng (Zn) mg/L 400 48.77 12.13 43.80 0
23 Sulfida (H
2
S) mg/L 0.002 <0.002 <0.002 <0.002 0
24 Tembaga (Cu) mg/L 0.02 <0.005 <0.005 <0.005 0
25 Timbal (Pb) mg/L 0.03 <0.005 <0.005 <0.005 0
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
27
26 Sisa Chlor mg/L 0.03 <0.01 <0.01 <0.01 0
Mikrobiologi
27 Total Coliform MPN/ 100ml 5000 >2400 >2400 >2400 -9
-35

Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET, skor Kualitas Air Tanah
dalam kota Watampone pada tiga titik BTN Harfana Halim Indah-RSUD
Tenriawaru Bone-Ex. Pasar Sentral Watampone adalah sebesar -35,
sehingga status mutu airnya adalah tercemar Berat (berdasarkan Peraturan
Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu dan
Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup kelas I ). Parameter air yang perlu
mendapat perhatian adalah zat padat tersuspensi, Amoniak sebaga N, Besi,
BOD, COD, DO, pH, dan Total Coliform

4.4. Hasil Pemantauan Air Baku
Masyarakat Watampone Kabupaten Bone, hampir sekitar 60% menggunakan
Air bersih dari PDAM milik daerah, dimana salah satu sumber Mata airnya
berada di Desa Wollangi Kec. Barebbo, untuk itu ditetapkan Air Baku PDAM
Wollangi sebagai Titik pengambilan Sampel Air baku PDAM



Gbr 14. Pengambilan Sampel Air Baku di Desa Wollangi


LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
28
Tabel 7. Statu Mutu Air Baku Kabupaten Bone (PDAM Desa Wollangi)

NO. PARAMETER UJI SATUAN
(Max. Yang
diperbolehkan)
HASIL UJI Skor
No. Sampel A23
A FISIKA
1 Suhu C Suhu udara+3
0
C 30.2 0
2 Kekeruhan Skala NTU 5 0.389 0
3 Zat Padat Terlarut (TDS) mg/L 500 246 0
B. KIMIA
1 Amonia N) mg/L 1.5 0.05 0
2 Arsen (As) mg/L 0.01 <0.01 0
3 Barium (Ba) mg/L 0.7 <0..07 0
4 Besi (Fe) mg/L 0.3 <0.02 0
5 Cadmium (Cd) mg/L 0.003 <0.003 0
6 Chlorida (Cl) mg/L 250 7.73 0
7 Chromium (Cr) mg/L 0.05 <0.01 0
8 Cyanida (CN) mg/L 0.07 <0.01 0
9 Fluorida (F) mg/L 1.5 <0.1 0
10 Kesadahan (CaCO
3
) mg/L 500 138.5 0
11 Mangan (Mg) mg/L 0.4 <0.01 0
12 Nikel (Ni) mg/L - <0.01 0
13 Nitrat, sebagai NO
3
mg/L 50 1.24 0
14 Nitrit, sebagai NO
2
mg/L 3 <0.01 0
15 pH - 6.5 8.5 8.40 0
16 Air Raksa (Hg) mg/L 0.001 <0.0005 0
17 Seng (Zn) mg/L 3 <0.01 0
18 Selenium (Se) mg/L 0.01 <0.001 0
19 Tembaga / (Cu) mg/L 2 <0.005 0
C BAKTERIOLOGI
21 Coli Jml/ 100ml 230 2000 0
0

Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET, skor Kualitas Air Baku
PDAM Wollangi Desa Wollangi Kec. Barebbo adalah 0, sehingga status
mutu airnya adalah memenuhi baku mutu (berdasarkan Peraturan Menteri
Kesehatan RI. No. 492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Syarat-Syarat dan
Pengawasan Kualitas Air Minum).


LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
29
4.5. Hasil Pemantauan Air Laut
Pemantauan air laut Kabupaten Bone, di kategorikan dalam Air Laut
Pelabuhan, dimana Dimabil pada bagian terluar pelabuhan sampai di bagian
terdalam perairan (Ujung Pelabuhan Feri Bajoe-Pelabuhan Perikanan
Lonrae)

Gbr 15. Pengambilan Sampel Air Laut Pelabuhan (Bajoe)


Gbr 16. Pengambilan Sampel Air Laut Pelabuhan (Bajoe)


LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
30
Tabel 8. Statu Mutu Air Laut (Bajoe-Lonrae)

NO. PARAMETER UJI SATUAN
Bastas
Maksimum
(Pelabuhan)
HASIL UJI
Skor
1 No. Sampel A25 A26
A FISIKA
1 Kebauan - Tidak Berbau Normal Normal 0
2 Suhu
0
C Alami 29.4 28.9 0
3 Kecerahan - >3 *>6 *>6 0
4 Sampah - Nihil Nihil Nihil 0
5 Total Lapisan Minyak - Nihil Nihil Nihil 0
6 Zat Pada Tersuspensi mg/L 80 *1850 *1890 -2
B. KIMIA
1 Ammonia Total (NH
3
- N) mg/L 0.3 *0.17 *0.10 -4
2 Detergen mg/L 1 <0.05 <0.05 0
3 Minyak dan Lemak mg/L 5 <0.1 <0.1 0
4 pH - 6.5 8.5 7.88 7.90 0
5 Sulfide (H
2
S) mg/L 0.03 <0.01 <0.01 0
6 Salinitas
0
/
00
Alami 27 30 0
7 Phenol Total mg/L 0.002 <0.002 <0.002 0
8 Cadmium (Cd) mg/L 0.01 <0.001 <0.001 0
9 Raksa (Hg) mg/L 0.003 <0.0005 <0.0005 0
10 Seng (Zn) mg/L 0.1 <0.01 <0.01 0
11 Tembaga (Cu) mg/L 0.05 <0.005 <0.005 0
12 Timbal (Pb) mg/L 0.05 <0.005 <0.005 0
D. BIOLOGI
1 Total Coliform MPN/100ml 1000 7900 0 -3
Total Skor -9

Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET, skor Kualitas Air Laut
Pelabuhan adalah sebesar -9, sehingga status mutu airnya adalah tercemar
ringan (Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun 2010 Tentang
Baku Mutu dan Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup). Yang perlu
diperhatikan adalah Zat Padat Tersuspensi dan Amoniak.
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
31
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Perlakuan yang salah terhadap sumber daya alam oleh kegiatan
manusia dan kalangan industri bahwa sungai dianggap sebagai tempat
membuang limbah harus diubah. Belum lagi masalah sampah yang
dibuang pada badan air, buangan limbah domestik dan pembuangan
limbah cair industri ke sungai / air badan air menyebabkan kualitas air
sungai menurun dan meningkatkan beban pencemaran. Dimana kondisi
ini telah terjadi pada 13 badan air yang dipantau oleh Kantor Badan
Lingkungan Hidup Daerah Kabupatren Bone bekerjasama dengan CV.
Abitama Karya Consulindo
Pemantauan kualitas air adalah bagian pokok dari strategi
pengelolaan kualitas air, dengan tujuan untuk memberikan informasi
kondisi kualitas air badan air dari waktu ke waktu kepada pengambil
kebijakan sehingga dapat menyusun strategi pengelolaan kualitas air di
Kabupaten Bone

B. Saran
Upaya pencegahan pencemaran air :
a. Melakukan gerakan kebersihan sungai tercemar secara
berkala, pembersihan segmen sungai tercemar minimal 2 kali
setahun
b. Pemasangan papan himbauan sepanjang bantaran sungai
dan peletakkan tempat sampah
c. Melakukan normalisasi alur sungai, mengeruk sedimen
sungai, mendirikan blok penyaring sampah, menertibkan
Permukiman di bantaran sungai
LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
32
d. Mendirikan demplot peningkatan kualitas air secara vegetatif
pada sempadan dan bantaran sungai
e. Mengevaluasi hasil kegiatan pemantauan serta menganalisis
kualitas air sungai dengan baku mutu yang telah ditetapkan
Mudah mudahan laporan hasil pengujian kualitas air di Kabupaten
Bone tahun 2013 ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan
dalam penentuan kebijakan kebijakan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup sesuai amanat Undang-Undang No. 32
Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.-
Watampone, Desember 2013



KEPALA BADAN,


ANDI SYAIFUL, S.H, M.Si
NIP. 19670515 199312 1 001





LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
33
DAFTAR PUSTAKA

Diana H,2005 Pencemaran Lingkungan Air

Hamidah H, 2007 Pengenalan Kualitas Lingkungan Hidup. Yogyakarta

Anonim, 2009 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun
2009, Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.

Anonim, 2010 Peraturan Menteri Kesehatan RI No: 492/MENKES/
PER/IV/ 2010, tentang Syarat-syarat dan Pengawasan
Kualitas Air Minum.

Anonim, 2010 Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun
2010, Tentang Baku dan Kriteria Kerusakan Lingkungan
Hidup Lampiran III.A, (Baku Mutu Udara Ambient),
Lampiran IV.C.1, Baku Tingkat Kebisingan untuk
Kenyamanan dan Kesehatan dan Lampiran IV. E.1. Baku
Tingkat Kebauan yang beroperasi di Provinsi Sulawesi
Selatan.

Wisnu, A.W., 1995, Dampak Pencemaran Lingkungan, Penerbit: ANDI,
Yogyakarta.













LAPORAN HASIL PEMANTAUAN KUALITAS AIR KABUPATEN BONE TAHUN 2013
34




















LAMPIRAN