Anda di halaman 1dari 23

TUGAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

IMPLEMENTASI IMAN DAN TAQWA


DALAM KEHIDUPAN MODERN


Dosen Pembimbing: Nur Buana, S.Ag. MPd.I



Disusun oleh:
KELOMPOK 3
Dessy Carmelia
Dhita Amanda
Mutia Agustria
Arisita Firman
Ardi Septiawan

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya
kepada kita dan tak lupa pula kita mengirim salam dan salawat kepada baginda nabi besar
Muhammad SAW yang telah membawakan kita suatu ajaran yang benar yaitu agama Islam,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudulImplementasi Iman dan Takwa
dalam Kehidupan ini dengan lancar.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang kami peroleh dari
berbagai sumber yang berkaitan dengan agama islam serta infomasi dari media massa yang
berhubungan dengan agama islam, tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pengajar
matakuliah Pendidikan Agama Islam atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini.
Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya
makalah ini.
Kami harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua,
dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai implementasi iman dan takwa dalam
kehidupan, khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka
penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih
baik.





Palembang, 25 September 2014



Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I: PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................................ 2
B. Rumusan Masalah .......................................................................................................................... 2
C. Tujuan ............................................................................................................................................. 2
BAB II: PEMBAHASAN.................................................................................................................................... 1
A. Pengertian Iman dan Taqwa ......................................................................................................... 2
B. Wujud Iman dan Taqwa ................................................................................................................ 2
C. Proses Terbentuknya Iman dan Taqwa ........................................................................................ 2
D. Tanda Orang Beriman dan Bertaqwa ........................................................................................... 3
E. Korelasi Keimanan dan Ketaqwaan .............................................................................................. 3
F. Implementasi Iman dan Taqwa dalam Kehidupan ....................................................................... 3
G. Problematika, Tantangan, dan Risiko dalam Kehidupan .............................................................. 3
H. Peran Iman dan Taqwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan ........................ 3
BAB III: PENUTUP .......................................................................................................................................... 1
A. Kesimpulan .................................................................................................................................. 2
B. Saran ............................................................................................................................................ 2
DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Iman adalah percaya dan meyakini bahwa Allah SWT adalah tuhan semesta alam.
Sedangkan taqwa adalah mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Masalah iman dan taqwa ini sangat menarik untuk dibicarakan, terutama dalam
implementasi di kehidupan modern seperti saat ini. Semakin berkembangnya dunia saat ini
selain berdampak positif, juga berdampak negatif. Dalam kehidupan modern ini, iman dan
taqwa sangat diperlukan untuk menguatkan landasan hidup bagi manusia. Misalnya, dalam
hal pendidikan, pekerjaan, keluarga, masyarakat, pergaulan, dan sebagainya. Tetapi
kenyataannya saat ini banyak orang yang mengaku beriman tetapi mereka jarang sekali
menerapkan iman dan ketaqwaan mereka dalam kehidupan. Sedangkan mereka sendiri
mengaku sebagai umat Islam yang beriman dan bertaqwa terhadap Allah SWT.
Kehidupan modern telah membuat sebagian masyarakat lupa akan hakikat manusia
sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang wajib beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Mereka
sibuk mencari kepuasan dan kenikmatan duniawi. Mereka lebih mementingkan kebutuhan
materi dibandingkan dengan kebutuhan rohani. Semua rela mereka korbankan hanya untuk
memenuhi hawa nafsu mereka.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Iman dan Taqwa?
2. Bagaimana wujud serta proses terbentuknya iman dan taqwa pada diri seseorang?
3. Apa ciri-ciri orang beriman dan bertaqwa?
4. Bagaimana korelasi antara Keimanan dan Ketakwaan dalam kehidupan?
5. Bagaimana implementasi iman dan taqwa dalam Kehidupan?
6. Apa masalah-masalah manusia dalam kehidupan modern berdasarkan pandangan Islam ?
7. Bagaimanakah peran iman dan takwa dalam menjawab masalah dan tantangan kehidupan
modern ?


C. Tujuan
Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui apa yang
menjadi dasar dari pengimplementasian iman dan taqwa dalam kehidupan.




























BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Iman dan Taqwa
1. Iman
Perkataan iman berasal dari bahasa arab, asal kata dari amanu yang artinya
percayaatau yakin. Secara harfiah iman dapat diartikan dengan rasa aman, keyakinan atau
kepercayaan.Menurut istilah kata iman dapat diartikan dengan meyakini dalam hati,
diucapkan dengan lisandan diamalkan dengan perbuatan hal ini sesuai dengan sabda
Rasullullah SAW :Artinya Iman ialah bahwa engkau percaya kepada Allah, Malaikat-
Nya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir, kiamat dan engkau percaya kepada
qadar yang baik dan buruk
Iman menurut ahlussunnah wal jamaah adalah dilafazkan/diikrarkan pada
lisan/lidah,ditasdikkan dalam hati dan diamalkan dengan anggota badan, dengan kata lain
iman tersebut mencakup tiga hal yaitu ikrar, tasdik dan amal.
Iman dapat diartikan dengan aqidah karena bila kita membahas atau mempelajari
aqidah maka tidak terlepas dari keyakinan terhadap Tuhan, yang pegertian aqidah itu
sendiridijelaskan yaitu perkataan aqidah berasal dari bahasa Arab, yang asal katanya
adalahaqadaartinya ikatan / jalinan (ikatan) dua orang yang mengadakan perjanjian.
Secara terminologyAqidah adalah suatu landasan yang mengikat yaitu keimanan,
sebabnya ilmu tauhid disebut juga dengan ilmu qaid (jamak dari aqodah) yang berarti
ilmu mengikat. Aqidah menurut syariat disebut iman yaitu keyakinan terhadap Allah
SWT dengansuatu ungkapan tanpa keraguan, aqidah Islam bukan hanya sekedar percaya
semata melainkan meyakini dengan sebenar-benarnya akan adanya Allah dan mendorong
bagi yang meyakininyauntuk selalu berperilaku yang baik sesuai dengan ajaran alquran
dan hadist.

2. Taqwa
Taqwa berasal dari kata waqa, yaqi , wiqayah, yang berarti takut, menjaga,
memelihara dan melindungi.Sesuai dengan makna etimologis tersebut, maka taqwa dapat
diartikan sikap memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama
Islam secara utuh dan konsisten ( istiqomah ).
Taqwa memiliki 3 (tiga) tingkatan yaitu
Pertama: Ketika seseorang melepaskan diri dari kekafiran dan mengadakan
sekutu-sekutu bagiAllah, dia disebut orang yang taqwa.
Kedua: Menjauhi segala hal yang tidak disukai Allah SWT dan Rasul-nya, ia
memiliki tingkattaqwa yang tinggi.
Ketiga: orang yang setiap saat selalu berupaya menggapai cinta Allah SWT, inilah
tingkattaqwa yang tertinggi.Allah berfirman lewat surat Ali Imran ayat 102;Artinya:
Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa
dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (beragama Islam).

B. Wujud Iman dan Taqwa
Iman dan taqwa adalah suatu kekuatan yang ada dalam diri manusia yang tidak
mudahuntuk diketahui atau dideteksi secara pasti tentang keadaan sebenarnya karena iman
tersebuttidak terlihat oleh pancaindra manusia itu sendiri, akan tetapi dapat dirasakan oleh
orang yangmenyakininya. Iman dapat dilihat atau diketahui dari gejala prilaku sehari-hari
secara lahiriyah.Ada 3 (tiga) konsep wujud iman dan taqwa dalam diri manusia yaitu ;
1. Melafazkan secara fashih kalimat syahadat, karena awal dari keimanan dan ketaqwaan
alahsyahadatain.
2. .Mendirikan shlat secara khusu dan tawadhu, indicator taqwa kedua memelihara
ibadahformal kepada Allah.
3. Mengeluarkan zakat, berinfaq, sedekah kepada yang berhak menerimanya sesuai
dengansyariat Islam yaitu 8 (delapan) asnab, indicator taqwa yang ketiga adalah
mencintai sesameumat manusia yang diwujudkan melalui kesanggupan untuk
mengorbankan harta benda.
4. Menepati janji, yang dalam pengertian lain adalah memelihara kehormatan diri manusia
itusendiri.
5. Sabar disaat kesusahan, kepayahan yang menimpa diri manusia itu sendiri artinya
semuaurusan diserahkan kepada Allh sambil berikhtiar dengan sesungguhnya untuk
mencapaikesuksesan hidup
6. Ridha dan ikhlas dalam keputusan Allah apabila itulah yang menjadi suatu ketentuan
bagidirinya.

C. Proses Terbentuknya iman dan Taqwa
Manusia lahir secara fitrah dalam keadaan suci dan mempunyai nafsu
sebagaimanamanusia lainnya. Ia terbentuk sesuai dengan sunnatullah. Iman dan taqwa pada
diri manusia bukanlah warisan dari kedua orang tua ayah dan ibu, akan tetapi benih-benih
iman dan taqwasudah ada pada diri manusia itu sendiri sejak ia dilahirkan. Berkembang
tidaknya fitrah iman dan taqwa tergantung dari pendidikan, pemahaman dan pengalaman
agama yang didapatnya padasaat manusia menginjak dewasa.Kefitrahan manusia dibawa
sejak ia dilahirkan, namun kenyataandalam hidupsetelahmanusia memahami arti hidup maka
kefitrahan yang dibawahnya sejak ia dilahirkan akan bergeser dibawa arus kehidupan.
Kefitrahan iman dan taqwa bias saja mantap apabila keduaorang tuanya berperan aktif untuk
mendidik atau membentuk kepribadian anak, karena orangtuanyalah yang menjadikan anak
itu yahudi, nasrani atau majusi. Fitrah bersifat potensial, iatidak dengan sendirinya
menjadikan manusia berakhlak atau berkepribadian mulia.Oleh sebab itu, fitrah haruslah
dijaga dirawat serta ditumbuhkembangkan agar manusiadapat tumbuh menjadi insane kamil
(manusia sempurna) penuh kemuliaan dan harapan, selainkedua orang tuanya juga
lingkungan (miliu) factor yang sangat dominant dapat mempengaruhidan turut berperan
dalam proses tumbuh dan berkembangnya fitrah iman dan taqwa.

D. Tanda-tanda orang beriman dan bertaqwa
1. Tanda-tanda orang beriman
Di dalam Al-Quran telah banyak menjelaskan tanda-tanda orang yang beriman:
Jika di sebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah
tidak lepas dari syaraf memorinya, serta jika di bacakan ayat suci Al-Quran,
maka bergejolak hatinya untuk segera melaksanakannya (al-Anfal: 2)

Arti:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut
nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka
bertawakkal.
Senantiasa tawakal, yaitu kerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah, diiringi
dengan doa, yaitu harapan untuk tetap hidup dengan ajaran Allah menurut
6.sunnah Rasul (Ali Imran: 120, al-Maidah: 12, al-Anfal: 2, at- Taubah: 52,
Ibrahim: 11, Mujadalah: 10, dan at-Thaghabun: 13).
Tertib dalam melaksanakan shalat dan selalu menjaga pelaksanaannya (al- Anfal:
3, dan al-Muminun: 2,7)


(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari
rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Al-Anfal:3)

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (Al-Mu'minun:1)

(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya (Al-Mu'minun:2)

Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat (al- Muminun: 3)

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada
berguna,

Menafkahkan rezki yang diterimanya (al-Anfal: 3 dan al-Muminun: 4).

dan orang-orang yang menunaikan zakat,

Menjaga kehormatannya diri dan keluarga

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya

Memelihara amanah dan menepati janji (al-Muminun: 8)

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan
janjinya.
Berjihad di jalan Allah dan suka menolong (al-Anfal: 74)

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan
orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada
orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.
Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

2. Tanda-tanda Orang Bertakwa :
Adapun tanda-tanda orang bertakwa, antara lain:
Beriman kepada ALLAH dan yang ghaib(QS. Al Baqarah:2-3)
Sholat, zakat, puasa(QS. Al Baqarah:3, 177 dan 183)
Infak disaat lapang dan sempit(QS.Ali Imran:133-134)
Menahan amarah dan memaafkan orang lain(QS. Ali Imron: 134)
Takut pada ALLAH(QS. Al Maidah(5):28)
Menepati janji (QS. At Taubah (9):4)
Berlaku lurus pada musuh ketika mereka pun melakkukan hal yang sama(QS.At-
Taubah(9):7)
Bersabar dan menjadi pendukung kebenaran (QS. Ali-Imran(3):146)
Tidak akan meminta ijin untuk tidak ikut berjihad (QS. At-Taubah(9):44)
Berdakwah agar terbebas dari dosa ahli maksiat (QS. Al-An'am(6):69)

E. Korelasi antara Keimanan dan Ketakwaan
Keimanan dan ketaqwaan tidak dapat dipisahkan dan pada hakikatnya keduanya saling
memerlukan. Artinya keimanan diperlukan manusia agar dapat meraih ketakwaan. Karena
setiap perbuatan atau amalan yang baik, akan diterima oleh Allah tanpa didasari oleh Iman.
Semua bentuk ketakwaan seperti salat, puasa, zakat, dan haji merupakan bagian dan
kesempurnaan iman seseorang. Amal saleh tersebut merupakan konsekuensi dari keimanan
seseorang harus menterjemahkan keyakinannya menjadi kongkret dan menjadi satu sikap
budaya untuk mengembangkan amal saleh.
Dalam Al-Quran ada ratusan ayat yang menggandengkan antara orang yang beriman
dengan orang yang beramal saleh. Iman dan amal saleh atau iman dan takwa sangat dekat.
Seolah hampa dan kosong iman seseorang kalau tanpa amal saleh yang menyertainya. Yang
secara kongkrit membuktikan bahwa ada iman dalam hatinya. Iman adalah pondasi dasar
seseorang hamba yang menghendaki bangunan kesempurnaan taqwa dirinya.
Keterkaitan antara iman dan taqwa ini, juga disampaikan oleh Rasulullah dalam
sabdanya: Al imanuuryanun walibasuhu at-taqwa (iman itu telanjang dan pakaiannya
adalah taqwa). Maksud hadits ini adalah iman harus diikuti dengan melakukan amal saleh
(taqwa). Iman tanpa disertai amal saleh maka imannya masih telanjang tanpa pakaian
Oleh karenanya, seseorang baru dinyatakan beriman dan taqwa apabila telah punya
keyakinan yang mantap dalam hati, kemudian mengucapkan kalimat tauhid dan kemudian
diikuti dengan mengamalkan semua perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

F. Implementasi Iman Dan Taqwa
1. Pemantapan Iman dan Taqwa
Masa depan ditentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan.
Generasi pelopor penyumbang dibidang pemikiran (aqliyah), dan pembaruan (inovator),
perlu dibentuk di era pembangunan.
Keunggulan generasi pelopor akan di ukur ditengah masyarakat dengan
pengetahuan dan pemahaman (identifikasi) permasalahan yang dihadapi umat,
denganequalisasi mengarah kepada kaderisasi (patah tumbuh hilang berganti).
Keunggulan ini di iringi dengan kemampuan penswadayaan kesempatan-kesempatan.
Pentingnya menumbuhkan generasi pelopor menjadi relevansi tuntutan agama dalam
menatap kedepan.
Mantapnya pemahaman agama dan adat budaya (tamaddun) dalam perilaku
seharian jadi landasan dasar kaderisasi re-generasi. Usaha kearah pemantapan metodologi
pengembangan melalui program pendidikan dan pelatihan, pembinaan keluarga, institusi
serta lingkungan mesti sejalin dan sejalan dengan pemantapan Akidah Agama pada
generasi mendatang. Political action berkenaan pengamalan ajaran Agama menjadi
sumber kekuatan besar menopang proses pembangunan melalui integrasi aktif, dimana
umat berperan sebagai subjek dalam pembangunan bangsa itu sendiri.

2. Melemahnya Jati Diri
Kelemahan mendasar ditengah perkembangan zaman adalah melemahnya jati diri,
dan kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa.Isolasi
diri karena tidak berkemampuan menguasai bahasa dunia (politik, ekonomi, sosial,
budaya, iptek), berujung dengan hilangnya percaya diri. Kurangnya kemampuan dalam
penguasaan teknologi dasar yang akan menopang perekonomian bangsa, dipertajam oleh
kurangnya minat menuntut ilmu, menjadikan isolasi diri masyarakat bertambah tertutup.
Kondisi ini akan menjauhkan peran serta di era-kesejagatan(globalisasi), dan akhirnya
membuka peluang menjadi anak jajahan di negeri sendiri.
Sosialisasi pembinaan jati diri bangsa mesti disejalankan dengan pengokohan
lembaga keluarga (extended family), dan peran serta masyarakat pro aktif menjaga
kelestarian adat budaya (hidup beradat, di masyarakat Minangkabau adat bersendikan
syarak, syarak bersendikan Kitabullah). Setiap generasi yang di lahirkan dalam satu
rumpun bangsa wajar tumbuh menjadi kekuatan yang peduli dan pro-aktif menopang
pembangunan bangsa.
Melibatkan generasi muda secara aktif menguatkan jalinan hubungan timbal balik
antara masyarakat serumpun di desa dalam tata kehidupan sehari-hari. Aktifitas ini
mendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab, di samping
antisipasi lahirnya generasi lemah.

3. Arus Globalisasi
Menjelang berakhirnya alaf kedua memasuki millenium ketiga, abad dua puluh
satu ditemui lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat.
Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan
sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya. Era globalisasi
adalah era perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit seakan tanpa batas.
Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan jarak satu sama lain
menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Arus globalisasi juga menggeser pola hidup masyarakat dari
agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern.
Arus kesejagatan (globalisasi) secara dinamik memerlukan penyesuaian kadaragar
arus kesejagatan tidak mencabut generasi dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya arus
kesejagatan mesti di rancang bisa merobah apa yang tidak di kehendaki.
Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan
jati diri akan menyisakan malapetaka. Globalisasi menyisakan banyak tantangan (sosial,
budaya, ekonomi, politik, tatanan, sistim, perebutan kesempatan menyangkut banyak
aspek kehidupan kemanusiaan.
Globalisasi juga menjanjikan harapan dan kemajuan. Setiap Muslim harusarif
dalam menangkap setiap pergeseran dan tanda-tanda perubahan zaman. Kejelian dalam
menangkap ruh zaman (zeitgeist) mampu men- jaring peluang peluang yang ada,
sehingga memiliki visi jauh ke depan. Diantara yang menjanjikan itu adalah
pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pesatnya pertumbuhan ekonomi menjadi alat untuk
menciptakan kemakmuran masyarakat.

4. Paradigma Tauhid
Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi abid, hamba
yang mengabdi kepada Allah dalam arti luas, berkemampuan melaksanakan ajaran
syariy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, untuk menjadi manusia
mandiri (self help), sesuai dengan eksistensi manusia itu di jadikan.
Manusia pengabdi (abid) adalah manusia yang tumbuh dengan Akidah Islamiah
yang kokoh. Akidah Islamiah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam, dan titik
dasar paling awal untuk menjadikan seorang muslim.
Akidah adalah keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing dengan kebimbangan,
membentuk manusia dengan watak patuh dan ketaatan yang menjadi bukti penyerahan
total kepada Allah. Akidah menuntun hati manusia kepada pembenaran kekuasaan Allah
secara absolut. Tuntunan Akidah membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman
dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.
Apabila Akidah tauhid telah hilang, dapat dipastikan akan lahir prilakufatalistis
dengan hanya menyerah kepada nasib sambil bersikap apatis dan pesimis. Sikap negatif
ini adalah virus berbahaya bagi individu pelopor penggerak pembangunan. Keyakinan
tauhid secara hakiki menyimpan kekuatan besar berbentuk energi ruhaniahyang mampu
mendorong manusia untuk hidup inovatif.

G. Problematika, Tantangan dan Resiko Dalam Kehidupan
Problem-problem manusia dalam kehidupan modern adalah munculnya dampak negatif
(residu), mulai dari berbagai penemuan teknologi yang berdampak terjadinya pencemaran
lingkungan, rusaknya habitat hewan maupun tumbuhan, munculnya beberapa penyakit,
sehingga belum lagi dalam peningkatan yang makro yaitu berlobangnya lapisan ozon dan
penasan global akibat akibat rumah kaca.
Aktualisasi taqwa adalah bagian dari sikap bertaqwa seseorang. Karena begitu
pentingnya taqwa yang harus dimiliki oleh setiap mukmin dalam kehidupan dunia ini
sehingga beberapa syariat islam yang diantaranya puasa adalah sebagai wujud pembentukan
diri seorang muslim supaya menjadi orang yang bertaqwa, dan lebih sering lagi setiap khatib
pada hari jumat atau shalat hari raya selalu menganjurkan jamaah untuk selalu bertaqwa.
Begitu seringnya sosialisasi taqwa dalam kehidupan beragama membuktikan bahwa taqwa
adalah hasil utama yang diharapkan dari tujuan hidup manusia (ibadah).
Taqwa adalah satu hal yang sangat penting dan harus dimiliki setiap muslim. Signifikansi
taqwa bagi umat islam diantaranya adalah sebagai spesifikasi pembeda dengan umat lain
bahkan dengan jin dan hewan, karena taqwa adalah refleksi iman seorang muslim. Seorang
muslim yang beriman tidak ubahnya seperti binatang, jin dan iblis jika tidak
mangimplementasikan keimanannya dengan sikap taqwa, karena binatang, jin dan iblis
mereka semuanya dalam arti sederhana beriman kepada Allah yang menciptakannya, karena
arti iman itu sendiri secara sederhana adalah percaya, maka taqwa adalah satu-satunya
sikap pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Seorang muslim yang beriman dan
sudah mengucapkan dua kalimat syahadat akan tetapi tidak merealisasikan keimanannya
dengan bertaqwa dalam arti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala
laranganNya, dan dia juga tidak mau terikat dengan segala aturan agamanya dikarenakan
kesibukannya atau asumsi pribadinya yang mengaggap eksistensi syariat agama sebagai
pembatasan berkehendak yang itu adalah hak asasi manusia, kendatipun dia beragama akan
tetapi agamanya itu hanya sebagai identitas pelengkap dalam kehidupan sosialnya, maka
orang semacam ini tidak sama dengan binatang akan tetapi kedudukannya lebih rendah dari
binatang, karena manusia dibekali akal yang dengan akal tersebut manusia dapat melakukan
analisis hidup, sehingga pada akhirnya menjadikan taqwa sebagai wujud implementasi dari
keimanannya.
Taqwa adalah sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang aplikasinya
berhubungan dengan syariat agama dan kehidupan sosial. Seorang muslim yang bertaqwa
pasti selalu berusaha melaksanakan perintah Tuhannya dan menjauhi segala laranganNya
dalam kehidupan ini. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah bahwa umat islam berada
dalam kehidupan modern yang serba mudah, serba bisa bahkan cenderung serba boleh.
Setiap detik dalam kehidupan umat islam selalu berhadapan dengan hal-hal yang dilarang
agamanya akan tetapi sangat menarik naluri kemanusiaanya, ditambah lagi kondisi religius
yang kurang mendukung. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan kondisi umat islam
terdahulu yang kental dalam kehidupan beragama dan situasi zaman pada waktu itu yang
cukup mendukung kualitas iman seseorang.
Adanya kematian sebagai sesuatu yang pasti dan tidak dapat dikira-kirakan serta adanya
kehidupan setelah kematian menjadikan taqwa sebagai obyek vital yang harus digapai dalam
kehidupan manusia yang sangat singkat ini. Memulai untuk bertaqwa adalah dengan mulai
melakukan hal-hal yang terkecil seperti menjaga pandangan, serta melatih diri untuk terbiasa
menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, karena arti taqwa itu sendiri
sebagaimana dikatakan oleh Imam Jalaluddin Al-Mahally dalam tafsirnya bahwa arti taqwa
adalah imtitsalu awamrillahi wajtinabinnawahih, menjalankan segala perintah Allah dan
menjauhi segala laranganya.
Beberapa problem yang sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya:
Problem dalam Hal Ekonomi
Semakin lama manusia semakin menganggap bahwa dirinya merupakan homo
economicus, yaitu merupakan makhluk yang memenuhi kebutuhan hidupnya dan
melupakan dirinya sebagai homo religious yang erat dengan kaidah kaidah moral.
Ekonomi kapitalisme materialisme yang menyatakan bahwa berkorban sekecil kecilnya
dengan menghasilkan keuntungan yang sebesar besarnya telah membuat manusia
menjadi makhluk konsumtif yang egois dan serakah.
Problem dalam Bidang Moral
Pada hakikatnya Globalisasi adalah sama halnya dengan Westernisasi. Ini tidak
lain hanyalah kata lain dari penanaman nilai nilai Barat yang menginginkan lepasnya
ikatan ikatan nilai moralitas agama yang menyebabkan manusia Indonesia pada
khususnya selalu berkiblat kepada dunia Barat dan menjadikannya sebagai suatu
symbol dan tolok ukur suatu kemajuan.
Problem dalam Bidang Agama
Tantangan agama dalam kehidupan modern ini lebih dihadapkan kepada faham
Sekulerisme yang menyatakan bahwa urusan dunia hendaknya dipisahkan dari urusan
agama. Hal yang demikian akan menimbulkan apa yang disebut dengan split personality
di mana seseorang bisa berkepribadian ganda. Misal pada saat yang sama seorang yang
rajin beribadah juga bisa menjadi seorang koruptor.
Problem dalam Bidang Keilmuan
Masalah yang paling kritis dalam bidang keilmuan adalah pada corak
kepemikirannya yang pada kehidupan modern ini adalah menganut faham positivisme
dimana tolok ukur kebenaran yang rasional, empiris, eksperimental, dan terukur lebih
ditekankan. Dengan kata lain sesuatu dikatakan benar apabila telah memenuhi criteria ini.
Tentu apabila direnungkan kembali hal ini tidak seluruhnya dapat digunakan untuk
menguji kebenaran agama yang kadang kala kita harus menerima kebenarannya dengan
menggunakan keimanan yang tidak begitu poluler di kalangan ilmuwan ilmuwan
karena keterbatasan rasio manusia dalam memahaminya.
Perbedaan metodologi yang lain bahwa dalam keilmuan dikenal istilah falsifikasi.
Artinya setiap saat kebenaran yang sudah diterima dapat gugur ketika ada penemuan baru
yang lebih akurat. Sangat jauh dan bertolak belakang dengan bidang keagamaan.Jika
anda tidak salah lihat, maka akan banyak anda temukan banyak ilmuwan yang telah
menganut faham atheis (tidak percaya adanya tuhan) akibat dari masalah masalah
dalam bidang keilmuan yang telah tersebut di atas.
Pengaruh Modernisasi dalam Kehidupan Islam
Dalam abad teknologi ultra moderen sekarang ini, manusia telah diruntuhkan
eksistensinya sampai ketingkat mesin akibat pengaruh morenisasi. Roh dan kemuliaan
manusia telah diremehkan begitu rendah. Manusia adalah mesin yang dikendalikan oleh
kepentingan financial untuk menuruti arus hidup yang materialistis dan sekuler. Martabat
manusia berangsur-angsur telah dihancurkan dan kedudukannya benar-benar telah
direndahkan. Modernisai adalah merupakan gerakan yang telah dan sedang dilakukan
oleh Negara-negara Barat Sekuler untuk secara sadar atau tidak, akan menggiring kita
pada kehancuran peradaban. Tak sedikit dari orang-orang Islam yang secara perlahan-
lahan menjadi lupa akan tujuan hidupnya, yang semestinya untuk ibadah, berbalik
menjadi malas ibadah dan lupa akan Tuhan yang telah memberikannya kehidupan.
Akibat pengaruh modernisasi dan globalisasi banyak manusia khususnya umat Islam
yang lupa bahwa sesungguhnya ia diciptakan bukanlah sekedar ada, namun ada tujuan
mulia yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT.
Kondisi diatas meluaskan segala hal dalam aspek kehidupan manusia. Sehingga
tidak mengherankan ketika batas-batas moral, etika dan nilai-nilai tradisional juga
terlampaui. Modernisasi yang berladangkan diatas sosial kemasyarakatan ini juga tidak
bisa mengelak dari pergeseran negatif akibat modernisasi itu sendiri. Peningkatan
intensitas dan kapasitan kehidupan serta peradaban manusia dengan berbagai turunannya
itu juga meningkatan konstelasi sosial kemasyarakatan baik pada level individu ataupun
level kolektif. Moralitas, etika dan nilai-nilai terkocok ulang menuju keseimbangan baru
searah dengan laju modernisasi. Pegerakan ini tentu saja mengguncang perspektif
individu dan kolektif dalam tatanan kemasyarakatan yang telaha ada selama ini.
Perubahan kepercayaan, pemikiran, kebudayaan, dan peradaban merupakan
prasyarat bagi perubahan ekonomi, politik, dan sebagainya. Itulah sebabnya, ketika
masyarakat modern tak dapat mengakomodasikan apa yang tersedia di lingkungannya,
mereka memilih alternatif atau model dari negara imperialis yang menjadi pusat-pusat
kekuatan dunia. Secara politis, mereka berlindung pada negara-negara tersebut.
Terbukalah kemungkinan konfrontasi antara kekuatan eksternal dengan kekuatan internal
(kekuatan Islam) bila Islam hendak ditampilkan sebagai kekuatan nyata. Morernisasi bagi
umat Islam tidak perlu diributkan, diterima ataupun ditolak, namun yang paling penting
dari semua adalah seberapa besar peran Islam dalam menata umat manusia menuju
tatanan dunia baru yang lebih maju dan beradab. Bagi kita semua, ada atau tidaknya
istilah modernisasi dan globalisasi tidak menjadi masalah, yang penting ajaran Islam
sudah benar-benar diterima secara global, secara mendunia oleh segenap umat manusia,
diterapkan dalam kehidupan masing-masing pribadi, dalam berkeluarga, bertetangga,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sebagai umat Islam hendaknya nilai modern jangan kita ukur dari modernnya
pakaiannya, perhiasan dan penampilan. Namun modern bagi umat Islam adalah modern
dari segi pemikiran, tingkah laku, pergaulan, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi,
sosial budaya, politik dan keamanan yang dijiwai akhlakul karimah, dan disertai
terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, sejahtera dalam naungan ridha Allah SWT.

H. Peran Iman dan Takwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan
Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan
beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia:
1. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau
Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat
mencegahnya. Sebaliknya,jika Allah hendak menimpakan bencana, maka tidak ada satu
kekuatanpun yang sanggup menahan dan mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan
demikian menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang
memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian benda-benda keramat,
mengikis kepercayaan pada khufarat, takhyul, jampi-jampi dan sebagainya. Pegangan
orang yang beriman adalah firman Allah surat Al Fatihah ayat 1-7
2. Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak
diantara manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi
resiko. Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah.
Pegangan orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah:
Dimana saja kamu berada, kematian akan datang mendapatkan kamu kendatipun
kamu di benteng yang tinggi lagi kokoh.( An Nisa 4: 78)
3. Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan
Rezeki memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang
yang melepaskan pendirian bahkan tidak segan-segan melepaskan prinsip,menjual
kehormatan,bermuka dua,menjilat dan memperbudak diri karena kepentingan materi.
Pegangan orang beriman dalam hal ini adalah firman Allah:
Dan tidak ada satu binatang melatapun dibumi melainkan Allah-lah yang
memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang dan tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauhul mahfud) (Hud, 11:6)
4. Iman memberikan kententraman jiwa
Acapkali manusia dilanda resah dan duka cita, serta digoncang oleh keraguan dan
kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan , hatinya
tentram(mutmainah), dan jiwanya tenang(sakinah) yaitu orang-orang yang beriman dan
hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah,hanya dengan mengingat
Allah hati menjadi tentram (Ar-Rad,13:28)
5. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah)
Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu melakukan
kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah:
Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahal yang lebih
baik dari apa yang mereka kerjakan. (An Nahl, 16:97)
6. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat ikhlas, tanpa
pamrih, kecuali keridaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan apa
yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya. Ia senantiasa
berfirman pada firman Allah:
Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Anaam, 6:162)
7. Iman memberikan keberuntungan
Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar karena Allah
membimbing dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang
yang beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan
firman Allah: Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan
merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah, 2:5)
8. Iman mencegah penyakit
Ahlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh
manusia mukmin dipengaruhi oleh iman.
Jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan azas moral dan
ahlak, merobek-robek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat
kepada Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan dikuasai oleh kepanikan dan
ketakutan.
Hal itu akan menyebabkan tingginya hormon adrenalin dan persenyawaan kimia
lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap biologi tubuh
serta lapisan otak bagian atas. Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi akan
mengakibatkan terganggunya kelancaran proses metabolisme zat dalam tubuh manusia.
Pada waktu itulah timbullah gejala penyakit, rasa sedih, dan ketegangan psikologis, serta
hidupnya selalu dibayangi oleh kematian.
Demikianlah pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan
hanya sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, tetapi menjadi kekuatan yang
mendorong dan membentuk sikap perilaku hidup. Apabila suatu masyarakat terdiri dari
orang-orang yang beriman, maka akan terbentuk masyarakat yang aman, tentram, damai,
dan sejahtera.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perkataan iman berasal dari bahasa arab, asal kata dari amanu yang artinya percayaatau
yakin. Secara harfiah iman dapat diartikan dengan rasa aman, keyakinan atau kepercayaan.
Taqwa berasal dari kata waqa, yaqi , wiqayah, yang berarti takut, menjaga, memelihara
dan melindungi.Sesuai dengan makna etimologis tersebut, maka taqwa dapat diartikan sikap
memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara utuh
dan konsisten ( istiqomah ).
Keimanan dan ketaqwaan tidak dapat dipisahkan dan pada hakikatnya keduanya saling
memerlukan. Artinya keimanan diperlukan manusia agar dapat meraih ketakwaan. Karena
setiap perbuatan atau amalan yang baik, akan diterima oleh Allah tanpa didasari oleh Iman.
Dengan adanya hubungan yang dinamis antara agama dan modernitas, maka diperlukan
upaya untuk menyeimbangkan pemahaman orang terhadap agama dan kehidupan
modrenisasi. Pemahaman orang terhadap agama akan melahirkan sikap keimananan dan
ketaqwaan (Imtaq), sedang penguasaan orang terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi
(Iptek) di era modernisasi dan industrialisasi mutlak diperlukan. Dengan demikian
sesungguhnya yang diperlukan di era modern ini tidak lain adalah penguasaan terhadap
Imtaq dan Iptek sekaligus. Salah satu usaha untuk merealisasikan pemahaman Imtaq dan
penguasaan Iptek sekaligus adalah melalui jalur pendidikan. Dalam konteks inilah
pendidikan sebagai sebuah sistem harus didesain sedemikian rupa guna memproduk manusia
yang seutuhnya. Yakni manusia yang tidak hanya menguasai Iptek melainkan juga mampu
memahami ajaran agama sekaligus mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari uraian pembahasan yang telah diutarakan, kiranya dapat diambil beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, peranan agama dalam kehidupan dirasakan masih sangat penting, bahkan
menunjukkan gejala peningkatan. Fenomena kebangkitan agama di antaranya dapat diamati
dari maraknya kegiatan-kegiatan keagamaan dan larisnya buku-buku agama. Fenomena ini
setidaknya dipengaruhi oleh beberapa hal seperti adanya kesadaran providensi setiap
individu, ketidakberhasilan modernisasi dan industrialisasi dalam mewujudkan kehidupan
yang lebih bermakna (meaningful). Di samping itu, kegagalan organized religions dalam
mewujudkan agama yang bercorak humanistik, juga disinyalir turut mendorong praktik
spiritualitas era modern.
Kedua, agama tetap akan memegang peranan penting di masa mendatang, terutama
dalam memberikan landasan moral bagi perkembangan sains dan teknologi. Dalam kaitan ini
perlu ditekankan pentingnya usaha mengharmoniskan ilmu pengetahuan dan teknologi
(Iptek) dengan agama (Imtaq). Iptek harus selalu dilandasi oleh nilai-nilai moral-agama agara
tidak bersifat destruktif terhadap nilai-nilai kemanusiaan (dehumanisasi). Sedangkan ajaran
agama harus didekatkan dengan konteks modernitas, sehingga dapat bersifat kompatibel
dengan segala waktu dan tempat.
Pada dasarnya dalam kehidupan modern, kita sebagai manusia tidak bisa terlepas dari
iman dan taqwa. Karena dengan kita beriman dan bertaqwa, kita dapat mencegah dan
menyelamatkan diri dari hal-hal yang menyesatkan atau dari segala sesuatu yang tidak baik.
Selain itu, kita juga dapat menentukan apakah modernisasi tersebut dianggap sebagai suatu
kemajuan atau tidak, dipandang bermanfaat atau tidak, diperlukan atau sebaliknya perlu
dihindari.

B. Saran
Permasalahan-permasalahan yang ada di era globalisasi sekarang yang banyak
menyimpang dari aturan agama khususnya di Indonesia.jadi, yang diperlukan sekarang
adalah generasi muda yang handal, dengan daya kreatif, innovatif, kritis, dinamis, tidak
mudah terbawa arus, memahami nilai nilaii budaya luhur, siap bersaing dalam knowledge
based society, punya jati diri yang jelas, memahami dan mengamalkan nilai nilai ajaran Islam
sebagai kekuatan spritual. Kekuatan yang memberikan motivasii emansipatoris dalam
mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai
kemanusiaan.





DAFTAR PUSTAKA

Anshari,Endang Saifuddin.1980.Kuliah Agama Islam, Pendidikan Agama Islam Di
PerguruanTinggi.Bandung: Salman ITB.
Mansoer, Hamdan.2004.Pendidikan Agama Islam.Jakarta:Direktorat Pendidikan Agama Islam
DepartemenAgama RI.
Abdiansyah,Septian.2010.
KeimanandanKetaqwaan.http://tugaskuliahseptian.blogspot.com/2010/06/keimanan-dan-
ketakwaan.html
Abr26. 2011. Pengertian iman dan taqwa. http:// tugas agama/imtaq.html
Nainayn Nurmala, 2012. Implementasi iman dan taqwa. http://implementasi-iman-dan-takwa-
dalam.html
Punya papinka. 2011. Implementasi iman dan takwa. http://IMPLEMENTASI IMAN DAN
TAQWA DALAM KEHIDUPAN MODERN _ punyanyavika.html