Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MAKALAH

Denver Development Screening Test (DDST)










Oleh :
Dzaky Ahmada
(H1A 010 011)

Pembimbing:
dr. Sang Ayu K. Indriyani, Sp.A., M.Kes.








BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
DENVER DEVELOPMENT SCREENING TEST
Oleh : Dzaky Ahmada (H1A 010 011)
Pembimbing : dr. Sang Ayu K. Indriyani, Sp.A., M.Kes.

PENDAHULUAN
Perkembangan anak menggambarkan peningkatan kematangan fungsi individu, dan
merupakan indikator penting dalam menilai kualitas hidup anak. Oleh karena itu
perkembangan anak harus dpantau secara berkala. Bayi atau anak dengan resiko tinggi
terjadinya penyimpangan perkembangan perlu mendapat prioritas, antara lain bayi prematur,
berat lahir rendah, riwayat asfiksia, hiperbilirubinemia, infeksi intrapartum, ibu diabetes
melitus, gemeli, dan lain-lain.

Definisi DDST
DDST adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak,
tes ini bukanlah tes diagnostik atau tes IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang
diperlukan. Untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah dan cepat (15-20 menit), dapat
diandalkan dan menunjukkan validitas yang tinggi. Dari beberapa penelitian yang pernah
dilakukan ternyata DDST secara efektif dapat mengidentifikasikan antara 85-100% bayi dan
anak-anak pra-sekolah yang engalami keterlambatan perkembangan, dan follow up
selanjutnya ternyata 89% dari kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di sekolah 5-
6 tahun kemudian.
Tetapi dari penelitian borowitz (1986) menunjukkan bahwa DDST tidak dapat
mengidentifikasikan lebih separoh anak dengan kelainan bicara. Frankenburg melakukan
revisi dan restandardisasi kembali DDST dan juga tugas perkembangan pada sektor bahasa
ditambah, yang kemudian hasil revisi dari DDST tersebut dinamakan Denver II.
Perbedaan antara denver II dengan yang sebelumnya adalah:
- Peningkatan 86% pada sektor bahasa
- 2 pemeriksaan untuk artikulasi bahasa
- Skala umur yang baru
- Kategori baru untuk intrepretasi pada kelainan yang ringan
- Skala penilaian tingkah laku
- Materi training yang baru


Cara menghitung usia anak
Telah disebutkan di awal bahwa penerapan DDST ditunjukan untuk menilai
perkembangan anak berdasarkan usianya. Dengan demikian, sebelum melakukan test ini,
terlebih dahulu kita harus mengetahui usia anak tersebut. Untuk menghitung usia anak, kita
dapat mengikuti langkah-langkah berikut :
1. Tulis tanggal, bulan, dan tahun dilaksanakan test
2. Kurangi dengan cara bersusun tanggal, bulan, dan tahun kelahiran anak
3. Jika jumlah hari yang dikurangi lebih besar, ambil jumlah hari yang sesuai dari angka
bulan didepannya Hasilnya adalah usia anak dalam tahun,bulan, dan hari
4. Ubah usia anak ke dalam satuan bulan jika perlu. Jika pada saat pemeriksaan usia anak
dibawah 2 tahun, anak lahir kurang. dari 2 minggu atau lebih dari HPL, lakukan
penyesuaian prematuritas dengan cara mengurangi umur anak dengan jumlah minggu
tersebut
Contoh :
Rumus menghitung umur anak (pelaksanaan tugas)
Rumus : umur = tanggal pada waktu test dikurangi tanggal lahir
Tanggal test : 1990 3 13
Tanggal lahir : 1989 1 5
Umur : 1 tahun 2 bulan 8 hari

Aspek Perkembangan yang dinilai dari denver II
Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai:
a. Personal Social (perilaku sosial)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya.
b. Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu,
melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-
otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan
berbicara spontan
c. Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan
berbicara spontan.
d. Gross motor (gerakan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

Alat yang digunakan
a. Alat peraga :
benang wol merah, kismis/ manik-manik, Peralatan makan, peralatan gosok gigi,
kartu/ permainan ular tangga, pakaian, buku gambar/ kertas, pensil, kubus warna
merah-kuning-hijau-biru, kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat
diperiksa).
b. Lembar formulir DDST II
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara
penilaiannya.

Prosedur DDST
Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:
a.Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang
berusia :
3-6 bulan
9-12 bulan
18-24 bulan
3 tahun
4 tahun
5 tahun

b. Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya
hambatan perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan
dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.

Pelaksanaan test
Penting untuk anak :
Dibutuhkan kerjasama yang aktif dan anak sehingga anak harus merasa aman dan
senang
Anak tidak sedang sakit
Anak tidak ngantuk, lapar,haus, sedang marah, rewel
Ruangan cukup luas, cukup ventilasi dan kesan menyenangkan bagi anak
Ajak anak bermain
Penting untuk orang tua
Diberitahu bahwa ini bukan test IQ
Beritahu tujuan test
Beritahu ortu bahwa pemeriksaan tidak mengharapkan anak dapat melakukan semua
tugas yang diberikan kepada anak
Penting untuk pelaksana test
a. Item-item test sebaiknya disajikan secara fleksibel. Akan tetapi lebih dianjurkan
mengukuti petunjuk berikut :
Item yang kurang memerlukan keaktifan anak sebaiknya didahulukan, misalnya
sektor personal-sosial, baru kemudian dilanjutkan dengan sector motorik halus-
adaptif
Item yang lebih mudah didahulukan. Berikan pujian pada anak jika ia dapat
menyelesaikan tugas dengan baik, juga saat ini mampu menyelesaikan tetapi
kurang tepat. Ini ditunjukan agar anak tidak segan untuk menjalani test berikutnya
Item dengan alat yang sama sebaiknya dilakukan secara berurutan agar
penggunaan watu agar lebih efesien
Hanya alat-alat yang akan digunakan saja yang diletakan diatas meja
Pelaksanaan test untuk semua sector dimulai dari item yang terletak di sebelah
kiri garis umur, lalu dilanjutkan ke item di sebelah kanan garis umur
b. Jumlah item yang dinilai tergantung pada lama waktu tersedia, yang terpenting
pelaksanaanya mengacu pada tujuan test, yaitu mengidentifikasi perkembangan anak
dan menentukan kemampuan anak yang relatif lebih tinggi

Cara pengukuran :
a. Tentukan umur anak pada saat pemeriksaan
b. Tarik garik pada lembar DDST II sesuai dengan tahun umur yang telah ditentukan
c. Lakukan pengukuran pada anak tiap komponen dengan batasan garis yang ada milai dari
motorik kasar, bahasa, motorik halus, dan personal social
d. Tentuka hasil penilaian apakah normal, meragukan dan abnormal
e. Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa.
Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun.
f. Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika sama dengan
atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
g. Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas
perkembangan pada formulir DDST.
h. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F.
i. Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal, Meragukan
dan tidak dapat dites.

Abnormal
o Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih
o Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau
lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus
pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia
o Meragukan Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih
o Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama
tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
Tidak dapat dites
Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau
meragukan.
Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. Pada anak-anak yang lahir
prematur,usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun

Cara penilaian
Cara melakukan penilaian DDST, peneliti menentukan usia anak, kemudian menarik
garis usia pada lembar DDST sesuai dengan usia anak. Dilakukan tes pada keempat sektor
yang dimulai dari item pada sebelah kiri garis usia, kemudian mulai dilakukan pemeriksaan
pada keempat sektor yaitu personal sosial, motorik halus, bahasa dan motorik kasar.
Setelah dilakukan tes, dilakukan penilaian, apakah Lulus (Passed = P), gagal tetapi
belum melampaui batas umur (Fail = F), gagal karena sudah melampaui batas umur (Delay =
D) ataukah anak tidak mendapatkan kesempatan tugas atau anak menolak melakukan tugas
(No opportunity = NO). Setelah itu dihitung pada masing-masing sector, berapa yang P, F,
dan D,

Penilaian test prilaku
Penilaian prilaku dilakukan setelah test selesai. Dengan mengguanakan skala pada
lembar test, penilaian ini dapat membandingkan prilaku anak selama test dengan prilaku
sebelumnya. Kita boleh menanyakan kepada orang tua atau pengasuh apakah prilaku anak
selama test dengan prilaku sebelumnya, kita boleh menanyakan kepada orang tua atau
pengasuh apakag prilaku anak sehari-hari sama dengan prilakunya saat itu, terkadang anak
tengah dalam kondisi, sakit, atau marah sewaktu menjalani tersebut. Jika demikian test dapat
ditunda dan dilanjutkan pada hari lain saat anak telah kooperatif

Pemberian nilai untuk setiap itemnya
a. L =lulus /lewat (P= pass). Anak dapat melalkukan item dengan baik atau baik atau
orang tua / pengasuh melaporkan secara terpercaya bahwa anak dapat menyelesaikan
item tersebut (item tertanda L)
b. G= gagal (F=fail). Anak tidak dapat melakukan item dengan baik atau orang tua /
pengasuh melaporkan secara terpercaya bahwa anak tidak dapat melakukan item
tersebut (khusus yang bertanda L)
c. M = menolah (R=refusal). Anak menolak atau melakukan test untuk item tersebut.
Penolakan dapat dikurangi dengan mengatakan kepada anak apa yang harus
dilakukanya (khususnya item tanpa tanda L )
d. Tak = tak ada kesempatan (NO opportunity). Anak tidak mempunyai kesempatan
untuk melakukan item kerena ada hambatan (khusus item yang bertanda L )

Penilaian Peritem
a. Penilaian item Lebih (advance) nilai lebih tidak perlu diperhatikan dalam penilaian
test secara keseluruhan (karena biasanya hanya dapat dilakukan oleh anak yang lebih
tua)
b. Penilaian item OK atau normal. Nilai tidak perlu di perhatikan dalam penilaian test
secara keseluruhan. Nilai OK dapat diberikan pada anak dalam kondisi berikut :
Anak gagal (G) atua menolak (M) melakukan tugas untuk item disebelah
kanan garis usia, kondisis ini wajar karena item disebelah kanan garis usia pada
dasarnya merupakan tugas untuk anak yang lebih tua.
Anak Lulus / Lewat (L), Gagal (G) atau Menolak (M) melakukantugas
untuk item didaerah putih kotak (daerah 25 %-75%). Jika anak lulus, sudah tentu
hal ini dianggap normal
c. Penilaian item P = peringkatan (C=caution)
Nilai Peringatan diberikan jika anak Gagal (G) atau Menolak (M)
melakukan tugas untuk item yang dilalui oleh garis usia pada daerah gelap kotak (daerah
75% - 90%). Hal ini karena hasil riset menunjukkan bahwa sebanyak 75% - 90% anak di
usia tersebut sudah berhasil (Lulus) melakukan tugas tersebut. Dengan kata lain,
mayoritas anak sudah bisa melaksanakan tugas dengan baik
d. Penilaian item T= Terlambar (D = Delayed).
Nilai Terlambat diberikan jika anak Gagal (G) atau Menolak (M)
melakukan tugas untuk item di sebelah kiri garis usia sebab tugas tersebut memang
ditujukan untuk anak yang lebih muda. Seorang akan seharusnya mampu melakukan
tugas untuk kelompok usia yang lebih muda, yang tentunya berupa tugas-tugas yang lebih
ringan. Jika, tugas untuk anak yang lebih muda tidak dapat dilakukan atau ditolak, anak
tentu akan mendapatkan penilaian T (terlambat). Huruf T ditulis di sebelah kanan item
dengan hasil penilaian Terlambat. Perlu diperhatikan bahwa ada dua macam T.
Pertama, terlambat karena anak mengalami kegagalan (G). T jenis ini memungkinkan
anak mendapat interpretasi penilaian akhir Suspek. Kedua, terlambat karena anak
menolak melaksanakan tugas (M). T jenis ini memungkinkan anak mendapat interpretasi
penilaian akhir Tak dapat diuji
e. Penilaian item Tak ada kesempatan (No Opportunity). Nilai Tak ini tidak perlu
diperhatikan dalam penilaian tes secara keseluruhan. Nilai Tak ada kesempatan
diberikan jika anak mendapat skor Tak atau tidak ada kesempatan untuk mencoba
atau melakukan tes.

DAFTAR PUSTAKA

Franskenburg,William.1973. Denver Development Screnning Test : manual / for nursing 7
paramedical personnel. Colorado: University of Colorado Medical Center
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC Press