Anda di halaman 1dari 68

Compliance Division (CPD) May 26, 2011

!"#$%"& ()*"+,"&""&
!""# %"&'"&()* !"+*&,(,-* .!%!/

-"./& 0121




























3"+"%4"5 6)7 0122





Laporan ini disusun dengan berpedoman pada: PBI No. 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 perihal Pelaksanaan Godd
Corporate Governance Bagi Bank Umum, dan PBI No. 8/14/PBI/2006 tanggal 05 Oktober 2006 perihal Perubahan atas PBI No
8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006, serta SE BI No. 9/12/DPNP/2007 tanggal 30 Mei 2007 tentang Pelaksanaan Good
Corporate Governance bagi Bank Umum





Daftar Isi
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara, Tbk.





Halaman

Bab I Pendahuluan ............................................................ 1

Bab II Pelaksanaan Tugas Dewan Komisaris dan Direksi .................. 3

Bab III Kelengkapan dan Pelaksanaan Tugas Komite-Komite
PT Bank Mutiara Tbk. .................................................. 14

Bab IV Penerapan Fungsi Kepatuhan, Audit Intern, dan Audit Ekstern... 21

Bab V Penerapan Manajemen Risiko dan Sistem Pengendalian Intern... 34

Bab VI Penyediaan Dana, Rencana Strategis Bank, Transparansi dan
Pengungkapan Aspek Lainnya......................................... 47

Bab VII Tanggung Jawab Sosial Perusahaan untuk Kegiatan Sosial
Kemasyarakatan......................................................... 59

Kesimpulan Umum Hasil Self Assessment Pelaksanaan GCG Bank Tahun 2010. 62

Lampiran: Summary Perhitungan Nilai Komposit Self Assessment GCG
PT Bank Mutiara Tbk Desember 2010



Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 1 dari 64
CPD, Mei 2011
BAB I
PENDAHULUAN

Menunjuk Peraturan Bank Indonesia nomor 8/14/PBI/2006 tentang Perubahan atas
Peraturan Bank Indonesia nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate
Governance bagi Bank Umum dan Surat Edaran Bank Indonesia nomor 9/12/DPNP,
tanggal 30 Mei 2007, perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum,
maka kami manajemen PT Bank Mutiara Tbk dengan ini menyampaikan Laporan
Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) periode tahun
2010 sesuai dengan pedoman yang terkandung didalamnya.

Sebagai lembaga intermediasi, dalam melaksanakan kegiatan usahanya, kami telah
menerapkan 5 (lima) pilar utama prinsip good corporate governance yaitu:
- Keterbukaan (transparency),
- Akuntabilitas (accountability),
- Tanggung jawab (responsibility),
- Independensi (independency),
- Kewajaran (fairness),

Penerapan kelima pilar utama good corporate governance pada PT Bank Mutiara Tbk
sangat penting dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan kepercayaan publik,
meningkatkan kinerja, dan memaksimalkan nilai tambah bagi shareholder (maximizing
shareholder value) dan menjamin terwujudnya sistem perbankan yang sehat secara
umum. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan usaha bank yang sangat
tergantung pada kepercayaan masyarakat yang harus tercermin pada kinerja dan
pengelolaan bank yang profesional serta kemampuan bank mengelola risiko, serta
transparansi pada masyarakat.

Dengan demikian maka sudah jelas bahwa penerapan regulasi serta prinsip good corporate
governance pada industri perbankan merupakan prasyaratan utama dalam rangka untuk
melindungi kepentingan semua pihak (stakeholders). Dan disamping itu kami senantiasa
memperhatikan kepentingan dan melindungi semua pihak, serta bebas dari benturan
kepentingan (conflict of interest).
Sebagai bank yang telah diambil alih oleh Pemerintah melalui Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) maka PT Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century Tbk), kami selaku
manajemen bank telah melakukan restrukturisasi dan reorganisasi perseroan,
pembenahan dan rebranding dengan langkah-langkah strategis dan dasar-dasar bisnis yang
sehat melalui 5 (lima) strategi transformasi yaitu:
1. Perbaikan Image Perusahaan
2. Meningkatkan Kondisi Keuangan
3. Mengembangkan Bisnis
4. Menajamkan Manajemen Risiko dan Good Corporate Governance
5. Menyempurnakan Organisasi dan Infrastruktur Pendukung

Dalam ketentuan dan penerapan good corporate governance termasuk kode etik, seluruh
jajaran organisasi PT Bank Mutiara Tbk dari jajaran pengurus bank hingga pegawai yang
terendah, telah berkomitmen untuk menjunjung tinggi dan melaksanakan prinsip-prinsip
good corporate governance, yang dimulai dengan penetapan kebijakan dasar dan tata
tertib serta penetapan kode etik yang harus dipatuhi semua pihak dalam perusahaan.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 2 dari 64
CPD, Mei 2011
Sebagai uraian pelaksanaan dari ungkapan diatas, khususnya dalam upaya perbaikan dan
peningkatan kualitas pelaksanaan Good Corporate Governance, secara berkala kami
juga melakukan self assessment terhadap penerapan Good Corporate Governance
dan menyusun laporan pelaksanaannya. Dengan demikian apabila masih terdapat
kekurangan-kekurangan maka dapat segera dilakukan tindakan korektif yang diperlukan.

Disamping itu, untuk menunjang penerapan Good Corporate Governance, kami
mempunyai visi dan misi yang dipegang teguh oleh seluruh pimpinan dan karyawan PT
Bank Mutiara Tbk, yaitu:

Visi : Menjadi bank fokus terbaik pilihan masyarakat dengan fokus bisnis utama
adalah:
- Small and Medium Enterprise (SME).
- Retail Banking.
- Consumer Banking.
- Treasury and International Banking.

Dengan Visi yang telah ditetapkan, PT Bank Mutiara Tbk akan berupaya menjadi bank
fokus sebagai penyedia jasa keuangan untuk kegiatan bisnis tersebut secara berkualitas
dan profesional melalui hubungan yang baik dengan para nasabah sebagai mitra usaha.

Misi : Memberikan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan, kenyamanan, dan
kepuasan nasabah untuk hasil yang optimal.

Untuk mencapai Misi yang telah ditetapkan, PT Bank Mutiara Tbk secara konsisten akan
menerapkan corporate value SPIRIT yang penjabarannya sebagai berikut :

Service Excellence Profesionalisme Integrity
Kepedulian Kehati-hatian Bertanggung jawab
Kecepatan Disiplin Etika
Penampilan Handal/Kompeten Bebas dari Konflik
Simpatik Dedikasi Kepentingan
Ketulusan Gigih Keberanian moral
Interdependensi

Relationship Inovative Trust
Kerjasama Kreatif Jujur
Komunikatif Pembaharuan Komitmen
Kepercayaan Gagasan Dapat diandalkan
Keakraban Imajinatif Benar
Apresiasi Mitigasi Risiko Saling Menghargai

Dalam budaya tersebut, terdapat nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya, yaitu
suatu komitmen untuk melakukan perubahan menjadi yang lebih baik. Untuk itu Visi,
Misi dan Corporate Value ini harus bisa menjadi budaya dan meresap setiap individu
karyawan/ti PT Bank Mutiara Tbk untuk diterapkan dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya.


Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 3 dari 64
CPD, Mei 2011
BAB II
PELAKSANAAN TUGAS DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI


2.1. Struktur Organisasi Dewan Komisaris dan Direksi




Setelah diambil-alih kepemilikannya oleh pihak Pemerintah melalui Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS) dalam bentuk Penempatan Modal Sementara, Manajemen
PT Bank Mutiara Tbk segera mengambil langkah awal dengan perubahan susunan
kepengurusan terhitung efektif sejak tanggal 21 Nopember 2008 berdasarkan :
1. Keputusan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan nomor
KEP.089/KE/XI/2008, tanggal 21 Nopember 2008 tentang Pemberhentian dan
pengangkatan Pengurus PT Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century Tbk);
2. Keputusan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan nomor
KEP.091/KE/XI/2008,tanggal 23 Nopember 2008;
3. Akta Pernyataan Keputusan Rapat PT Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century
Tbk) No.7, 8, 9, tanggal 19 Desember 2008 yang dibuat Notaris Fransiskus Yanto
Widjaja, SH;
4. Keputusan Direksi PT Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century Tbk) nomor
147/SK/DIR/Century/XII/2008 tanggal 09 Desember 2008 tentang Susunan
Pengurus PT Bank Century Tbk dan Pembidangan Tugas;
5. Risalah Rapat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan sebagai RUPS PT
Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century Tbk) tanggal 8 April 2009 nomor
017/RDK-lps/2009 yang dibuat dihadapan notaris Dr. Irawan Soerodjo, SH, Msi.
Yang dituangkan dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat tanggal 10 Mei 2009
nomor 10;
Komite Audit
Komite Pemantau Risiko
Komite Remunerasi &
Nominasi
Board of
Commissioner

Regional Office
Regional Office
Regional Office
Regional Offices
EVP
Finance & Operation

President Director

Treasury Div.
Institutional
Banking Div.
International
Banking Div.
Human
Resources Div.
General Affairs
Div.
Mass Banking
Div.
Network
Development Div.
Operation Div. Consumer Loan
Div.
SME Loan Div.
Managing Director
Distribution
Network
Managing Director
Treasury &
International Banking

Corporate
Secretary Div.
Internal
Audit Div.
Managing Director
Compliance &
Risk
Accounting Div.
Corporate Culture
& Service Div.
Executive
Assistants
Planning &
Performance
Management Div.
Compliance Div.
Legal Div.
Information
Technology Div.
Risk Management
Div.
EVP
Loan Business
Asset Recovery
Div.
HR Committee

Risk Management Committee

IT Committee Credit Committee
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 4 dari 64
CPD, Mei 2011
6. Risalah Rapat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan sebagai RUPS PT
Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century Tbk) tanggal 17 Juni 2009 nomor
034/RDK-LPS/2009 yang telah dituangkan dalam Akta Pernyataan Keputusan
Rapat yang dibuat dihadapan Fransiskus Yanto Widjaja, Sarjana Hukum, notaris di
Jakarta tanggal 14 Juli 2009;
7. Surat Direksi kepada Dewan Komisaris No. 1559/Mutiara/DIR/X/2010 tertanggal
12 Oktober 2010 perihal Penyempurnaan Struktur Organisasi PT Bank Mutiara Tbk
beserta persetujuan Komisaris;
8. Surat Keputusan Bersama Direksi dan Komisaris No. 193/SK-DIR/Mutiara/XI/10
tertanggal 15 Nopember 2010 tentang Struktur Organisasi PT Bank Mutiara Tbk.

Adapun susunan Pengurus dan Dewan Komisaris yang baru adalah sebagai berikut :

a) Struktur Organisasi:

Dewan Komisaris beranggotakan 3 (tiga) orang terdiri dari :
Komisaris Utama : Pontas Riyanto Siahaan
Komisaris : Budhiyono Budoyo
Komisaris : Eko Budi Supriyanto

Direksi beranggotakan 4 (empat) orang terdiri dari :
Direktur Utama : Maryono
Direktur : Ahmad Fajar
Direktur : Erwin Prasetio
Direktur : Benny Purnomo

b) Komposisi Komisaris:

Dewan Komisaris terdiri dari 3 (tiga) orang komisaris

(1) Komisaris Utama : Pontas R.Siahaan
Tempat/tanggal lahir : Balige/ 3 September 1945. Meraih gelar Sarjana di
Institut Ilmu Keuangan (IIK). Mengawali karier di Departemen Keuangan
sebagai Kepala Seksi Pengawasan Rekening Pemerintah Pada Bank (1976-
1979), di BPKP propinsi Sulawesi Selatan sebagai Kepala Seksi Pengawasan
Pengadaan Pangan (1979-1984), di BPKP Propinsi Riau Pekanbaru sebagai
Kepala Bidang Pengawasan BUMN I (1984-1990), di BPKP DKI Jakarta sebagai
Kepala Bidang Pengawasan BUMN II (April 1990-Agustus 1990), sebagai
Kepala Perwakilan BPKP Kodya Cirebon (1990-1991), sebagai Kepala
Direktorat Pengawasan Pengeluaran Rutin Pusat dan Daerah II, BPKP Jakarta
(1994-1997), sebagai Kepala Direktorat Pengawasan BUMN I, BPKP Jakarta
(1997-2001), dan Wakil Ketua BPPN (Maret 2008 Agustus 2008), Deputi
Pengawasan Instansi Bidang Perekonomian di BPKP (2001-2005), dan
anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (2005-2008).
Sesuai dengan surat Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan No. S-
597/KE/VIII/2009 tanggal 14 Agustus 2009 mendapat tugas sebagai Wakil
Pemegang Saham.


Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 5 dari 64
CPD, Mei 2011
(2) Komisaris Independen: Budhiyono Budoyo
Meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Diponegoro pada tahun 1977,
gelar Master of Business Administration (MBA) / S-2 dari OHIO University
AS. Meniti karir di BNI sejak tahun 1978 dengan diawali sebagai analis
kredit, dan telah menduduki berbagai jabatan strategis baik di kantor
cabang maupun di kantor pusat, serta di dalam maupun di luar negeri, dan
menduduki posisi terakhir sebagai Vice President and Head of the Board
hingga tahun 2004. Tahun 2003-2005 ditunjuk sebagai komisaris di sebuah
Joint Venture Bank yaitu Bank Finconesia. Melanjutkan karirnya sebagai
direktur PT Renaissance Capital Asia LTD pada tahun 2004-2005, dan
sebagai CEO di sebuah holding company yang bergerak salah satunya
dibidang pengeboran minyak pada tahun 2006-2007.

Dibidang pendidikan, hingga kini sebagai Professional Instructure di
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Pada bulan Juli 2009
ditunjuk oleh Pemerintah menjadi Komisaris Independen PT Bank Mutiara
Tbk dan mendapat tugas sebagai Ketua Komite Pemantau Risiko dan Ketua
Komite Remunerasi dan Nominasi PT Bank Mutiara Tbk. Sesuai dengan surat
Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan No. S-597/KE/VIII/2009
tanggal 14 Agustus 2009 mendapat tugas sebagai Komisaris Independen PT
PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank Century Tbk), dan mendapat tugas
sebagai Ketua Komite Pemantau Risiko PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank
Century Tbk No. 83/SK-DIR/Century/VIII/2009), dan sebagai Ketua Komite
Remunerasi dan Nominasi PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank Century Tbk
No. 84.1/SK-DIR/Century/IX/2009) tanggal 1 September 2009.

(3) Komisaris Independen: Eko Budi Supriyanto
Meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Pembangunan Nasional pada
1997. Lebih dari 20 th menggeluti riset, konsultan komunikasi dan menjadi
jurnalis dibidang perbankan. Hingga kini menjadi narasumber diberbagai
bank di Indonesia, khususnya mengenai mapping dan anatomi perbankan
Indonesia. Pernah menjadi anggota Tim Kajian Hukum Independen
Perbankan, Departemen Kehakiman dan HAM pada Juli 2003 sampai Maret
2009. Anggota Tim Kajian Restrukturisasi Utang UKM, INDEF pada tahun
2002 dan anggota Tim Kajian Independen Obligasi Rekapitalisasi Perbankan
tahun 2002 di Bappenas. Saat ini masih menjabat sebagai Direktur Utama
pada PT Info Arta Pratama (Infobank) bidang penerbitan, riset, dan
konsultan komunikasi. Pada bulan Juli 2009 ditunjuk oleh Pemerintah
menjadi Komisaris Independen pada PT Bank Mutiara Tbk sampai sekarang.
Sesuai dengan surat Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan No. S-
597/KE/VIII/2009 tanggal 14 Agustus 2009 mendapat tugas sebagai
Komisaris Independen PT Bank Mutiara Tbk, dan mendapat tugas sebagai
Ketua Komite Audit PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank Century Tbk No.
84/SK-DIR/Century/VIII/2009), dan sebagai Anggota Komite Remunerasi dan
Nominasi PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank Century Tbk No. 84.1/SK-
DIR/Century/IX/2009) tanggal 1 September 2009.


Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 6 dari 64
CPD, Mei 2011
c) Komposisi Direksi:
Direksi terdiri dari 4 (empat) orang yang merupakan Direksi Independen, artinya
tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham,
dan/atau hubungan keluarga dengan anggota Dewan Direksi lainnya, Komisaris
dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau hubungan dengan Bank, yang dapat
mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak tidak independen.

Direktur Utama: Maryono
Tempat / tanggal lahir : Rembang, 16 September 1955. Memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi dari Universitas Diponegoro pada tahun 1981, dan gelar
Magister Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IPWI pada tahun 1997,
Jakarta. Mengawali karier di PT Bank Pembangunan Indonesia (Persero) tahun
1983-1997, mulai dari Wira Muda di Kelompok Pembahas Kredit Cabang Bapindo
Pontianak sampai dengan sebagai Kepala Cabang Bapindo Pontianak, pada
Agustus 1999-Juli 2002 sebagai Kepala Wilayah IX PT Bank Mandiri Banjarmasin.
Pada Juli 2002-Desember 2003 menjabat sebagai Kepala Wilayah I PT Bank
Mandiri Medan. Pada Januari-Desember 2004 sebagai SEVP/Group Head Regional
Network Group PT Bank Mandiri Cabang Wilayah Luar Kota. Tahun 2005-2008
sebagai EVP/Group Head Jakarta Network Group PT Bank Mandiri, pada bulan
September 2007 sebagai Komisaris Utama pada PT Mandiri Manajemen
Investama. Pada bulan November tahun 2008 hingga saat ini dipercaya sebagai
Direktur Utama PT Bank Mutiara Tbk.

Direktur Treasury & International Banking: Ahmad Fajar
Lahir di Surakarta 22 Januari 1966. Memperoleh gelar Sarjana dari Institut
Pertanian Bogor (IPB) tahun 1988, dan gelar Magister Manajemen tahun 2000 di
Universitas Padjajaran. Memulai karir di Perbankan pada tahun 1990 sebagai
Tata Usaha Kantor Pusat, dan pada tahun 2000 sebagai Manager Senior Officer
Treasury Liquidity Management Funding di Bank Bumi Daya. Tahun 2000-2001
sebagai Manager Senior Officer - Treasury & Capital Market Portfolio
Investment di Bank Mandiri. Tahun 2001-2003 sebagai Manager Profesional Staff
Treasury Management, Treasury Product/Sales Management di Bank Mandiri.
Tahun 2003-2004 Srm : TL Portfolio Investment Mgr Treasury Bank Mandiri,
tahun 2004-2008 VP : DH-Debt & Capital Market Treasury Debt & Capital
Market di Bank Mandiri. Pada bulan Nopember tahun 2008 hingga saat ini
dipercaya sebagai Direktur PT Bank Mutiara Tbk.

Direktur Compliance & Risk: Erwin Prasetio
Lahir di Ambon 20 November 1957. Menyelesaikan Pendidikan Sarjana Muda
Akademi Ilmu Komputer pada tahun 1983, dan pada tahun 1996 lulus Sarjana
Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YAI jurusan Akuntansi. Memulai karir
pada tahun 1983 sebagai staf di bidang Desk Electronic Data Processing. Tahun
1983-1992 sebagai Non PJB di PT Bank Pembangunan Indonesia. Tahun 1993-
1996 mendapatkan penghargaan sebagai Pegawai Terbaik di PT Bank
Pembangunan Indonesia. Tahun 1996-1997 sebagai Pejabat Kepala Sub Bagian di
Bank Pembangunan Indonesia. Tahun 1998 sebagai Kepala Sub Bagian di Bank
Mandiri, sebagai Profesional Staf (1999-2003), dan sebagai Kepala Bagian di
Bank Mandiri (2004-2008). Ketika Bapindo merger menjadi Bank Mandiri posisi
terakhir adalah Departement Head IT/Operation Group. Pada bulan November
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 7 dari 64
CPD, Mei 2011
2008 hingga saat ini dipercaya sebagai Direktur Compliance & Risk PT Bank
Mutiara Tbk.

Direktur Distribution Network: Benny Purnomo
Lahir di Jakarta, 18 September 1967. Menyelesaikan pendidikan dan meraih
gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1989, dan Magister Manajemen pada tahun
2003 di Universitas Atmajaya. Memulai karir perbankan pada Bank Central Asia
pada tahun 1992 sebagai Branch Support Pro Manager. Merintis karir di BCA
sampai tahun 2006 dan menduduki posisi terakhir sebagai Product Management
Senior Manager.
Ditunjuk sebagai Consumer Channel Division Head di Bank NISP pada tahun
2007, dan melanjutkan karir disana sampai tahun 2009, sebelum ditunjuk
menjadi Direktur Product and Marketing di PT Bank Mutiara Tbk pada bulan Mei
tahun 2009. Kondisi sesuai dengan perubahan struktur organisasi baru yang
berlaku di Bank Mutiara menjadi Direktur Distribution Network terhitung tanggal
26 Oktober 2010. Sampai saat ini aktif di dunia pendidikan dengan menjadi
dosen di Universitas Atmajaya dari tahun 2003 sampai sekarang

2.2. Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris
Dewan Komisaris terdiri dari 3 (tiga) orang Komisaris, salah satunya adalah Komisaris
Utama yang melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
a) Melakukan pengawasan dan memberikan nasehat kepada Direksi
b) Mengawasi dipenuhinya kepentingan stakeholder berdasarkan asas kesetaraan
c) Selalu memastikan bahwa Good Corporate Governance telah terlaksana dengan
baik
d) Melakukan tindak lanjut dari hasil pengawasan dan rekomendasi yang diberikan
terutama dalam hal terjadi penyimpangan dari ketentuan perundang-undangan,
anggaran dasar, dan prudential banking principal
e) Selalu mengarahkan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan
strategis bank
f) Memiliki tata tertib kerja yang mengikat dan ditaati oleh semua anggota
g) Tidak memanfaatkan bank untuk kepentingan pribadi, keluarga, perusahaan
atau kelompok usahanya dengan semangat dan cara yang bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan dan kewajaran dibidang perbankan.
h) Tidak terlibat didalam pengambilan keputusan kegiatan operasional bank,
kecuali hal-hal khusus yang telah diatur oleh Anggaran Dasar Bank dan Bank
Indonesia.
i) Selalu memastikan bahwa Direksi telah menindak lanjuti temuan audit dan
rekomendasi dari SKAI, auditor eksternal, hasil pengawasan Bank Indonesia
dan/atau hasil pengawasan otoritas lainnya.
j) Memberitahukan kepada Bank Indonesia paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak
ditemukannya pelanggaran peraturan dibidang keuangan/perbankan dan
keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha
bank.
k) Setelah PT Bank Century Tbk diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan,
dengan mengangkat manajemen yang baru, Dewan Komisaris telah membentuk
Komite yang baru sebagai berikut:
Komite Audit melalui SK Direksi No. 084/SK-DIR/Century/VIII/2009 tanggal 01
September 2009.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 8 dari 64
CPD, Mei 2011
Komite Pemantau Resiko melalui SK Direksi No. 83/SK-DIR/Century/VIII/2009
tanggal 01 September 2009.
Komite Remunerasi dan Nominasi melalui SK Direksi No. 115/Mutiara/SK-
DIR/IV/2010 tanggal 14 April 2010.
l) Memastikan bahwa komite yang telah dibentuk menjalankan tugasnya secara
efektif.
m) Rapat Dewan Komisaris selalu diselenggarakan secara berkala paling kurang 4
(empat) kali dalam setahun dan wajib dihadiri oleh seluruh anggota Komisaris
paling kurang 2 (dua) kali dalam setahun
n) Pengambilan keputusan rapat dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat dan
apabila tidak tercapai dapat dilakukan pengambilan keputusan dengan suara
terbanyak.
o) Segala keputusan Dewan Komisaris bersifat mengikat bagi seluruh anggota
Dewan Komisaris. Perbedaan pendapat yang terjadi dalam rapat dan keputusan
rapat wajib dicantumkan secara jelas dalam risalah rapat dan didokumentasikan
secara baik.
p) Kepemilikan saham, baik di PT Bank Mutiara Tbk maupun pada bank atau
perusahaan lainnya yang berkedudukan didalam dan diluar negeri dan hubungan
keuangan dan keuangan dengan direksi, pemegang saham pengendali dan
anggota Dewan Komisaris lainnya akan dilaporkan dalam Laporan Pelaksanaan
Good Corporate Governance
q) Akan mengungkapkan remunerasi dan fasilitas yang didapatkan pada laporan
pelaksanaan Good Corporate Governance sebagaimana diatur dalam Peraturan
Bank Indonesia.
r) Secara hukum bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan UU Perseroan
Terbatas, UU Perbankan dan Anggaran Dasar.

2.3. Tugas dan Tanggung Jawab Direksi
Direksi terdiri dari 4 (empat) orang yang salah satunya adalah Direktur Utama secara
bersama-sama melaksanakan tugas dan tanggung jawab kepada bank untuk :
a) Kepengurusan Perseroan serta mewakili Perseroan baik didalam maupun diluar
pengadilan.
b) Direksi diketuai oleh Direktur Utama yang bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan fungsi kepengurusan bank secara efektif dan efisien. Direktur
Utama juga berkewajiban untuk membuat Direksi sebagai kolegial yang mampu
bekerja secara transparan dan masing-masing anggota dapat berperan sebagai
anggota tim maupun dalam fungsinya masing-masing sesuai dengan bidang tugas
yang disepakati.
c) Melaksanakan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam setiap kegiatan
usaha Bank pada seluruh tingkatan dan jenjang organisasi.
d) Dalam rangka melaksanakan prinsip-prinsip Good Corporate Governance, Direksi
telah membentuk ;
- Satuan Kerja Audit Intern
- Satuan Kerja Manajemen Resiko dan Komite Manajemen Risiko
- Satuan Kerja Kepatuhan
e) Menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari SKAI bank, auditor eksternal,
hasil pengawasan Bank Indonesia dan/atau hasil pengawasan otoritas bank
lainnya.
f) Memiliki Tata Tertib Kerja yang mengikat dan ditaati oleh anggotanya. Dalam
tata Tertib diatur mekanisme pengambilan keputusan dan hak anggota bila
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 9 dari 64
CPD, Mei 2011
mempunyai pendapat yang berbeda, termasuk haknya untuk menyampaikan
pendapat kepada Dewan Komisaris dan Otoritas Pengawas Bank
g) Mengungkapkan kepada pegawai kebijakan bank yang bersifat strategis dibidang
kepegawaian
h) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada pemegang saham
melalui Rapat Umum Pemegang Saham
i) Tidak menggunakan penasihat perorangan dan/atau jasa profesional sebagai
konsultan kecuali pada proyek yang bersifat khusus, didasari dengan kontrak yang
jelas dan konsultan adalah pihak yang independen dan memiliki kualifikasi untuk
mengerjakan proyek yang bersifat khusus seperti dimaksud diatas
j) Menyiapkan data dan informasi yang akurat, relevan dan tepat waktu kepada
Dewan Komisaris
k) Setiap kebijakan dan keputusan strategis selalu diputuskan melalui rapat direksi
l) Keputusan rapat Direksi dilakukan berdasarkan musyawarah dan mufakat dapat
dilakukan berdasarkan suara terbanyak
m) Segala keputusan rapat Direksi bersifat mengikat bagi seluruh Direksi. Perbedaan
pendapat yang terjadi dalam rapat dan keputusan rapat wajib dicantumkan
secara jelas dalam risalah rapat dan didokumentasikan secara baik
n) Kepemilikan saham, baik di PT Bank Mutiara Tbk maupun pada bank atau
perusahaan lainnya yang berkedudukan didalam dan diluar negeri dan hubungan
keuangan dan keluarga dengan pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan
Direksi lainnya wajib dilaporkan dalam laporan pelaksanaan Good Corporate
Governance.
o) Melaksanakan remunerasi dan fasilitas yang didapatkan pada laporan pelaksanaan
Good Corporate Governance sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia.
p) Anggota Direksi secara hukum bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan
Undang-Undang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Perbankan dan Anggaran
Dasar Bank.

2.4. Rekomendasi Dewan Komisaris
Dewan Komisaris, disamping melaksanakan dan bertanggung jawab terhadap tugas-
tugas pokok yang diembannya, juga telah melakukan pengawasan dan memberikan
nasehat yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh komite-komite yang dibentuk oleh
Dewan Komisaris, yaitu:
a) Komite Audit
b) Komite Pemantau Resiko
c) Komite Remunerasi dan Nominasi

2.5. Kepemilikan Saham
Kepemilikan saham PT Bank Mutiara Tbk saat ini sesuai dengan yang tertera dalam
Akta Nomor 62 tanggal 10 Agustus 2009 adalah sbb:
No. Pemilik Nilai Nilai nominal Persentase
1. LPS 6.762.361.000.000
(saham seri A)
Rp. 0,01 99,996%
2. Pemegang Saham lama 28.350.177.035
(saham seri B)
Rp. 78,00 0,004%
Sesuai dengan pasal 40 UU No. 24 tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan
(LPS), terhitung sejak penyerahan penanganan Bank Gagal kepada LPS, maka LPS
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 10 dari 64
CPD, Mei 2011
mengambil-alih hak dan wewenang RUPS, kepemilikan, kepengurusan, dan / atau
kepentingan lain pada bank dimaksud.
Dengan diserahkannya penanganan PT Bank Mutiara Tbk oleh KSSK kepada LPS
tanggal 21 Nopember 2008, LPS menetapkan penanganan PT Bank Mutiara Tbk sesuai
dengan Keputusan Rapat Dewan Komisioner No.041/RDK-LPS/2008.

Seluruh saham bank akan dijual oleh LPS paling lama 3 tahun sejak tanggal
pengambil-alihan, dan dapat diperpanjang paling banyak 2 (dua) kali dengan
masing-masing perpanjangan selama 1 (satu) tahun.

2.6. Transaksi yang Mengandung Benturan Kepentingan
Transaksi yang menyebabkan benturan/perbedaan kepentingan antara bank dengan
pribadi pemilik, anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, Pejabat Eksekutif,
dan/atau pihak terkait dengan bank maka bagi anggota Dewan Komisaris, anggota
Direksi, Pejabat Eksekutif dilarang mengambil tindakan/keputusan yang dapat
merugikan Bank atau mengurangi keuntungan Bank.
Selama tahun 2010 ini tidak ada transaksi yang mengandung benturan
kepentingan, sebagaimana tabel berikut :


No

Nama dan jabatan yg
memiliki benturan
kepentingan


Nama dan
jabatan
pengambil
keputusan

Jenis
Transaksi

Nilai Transaksi
(jutaan
rupiah)

Keterangan *)
Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
*) Tidak sesuai sistim dan prosedur yang berlaku

2.7. Kepemilikan saham anggota Dewan Komisaris dan Direksi yang mencapai !5%
(lima perseratus) dari modal disetor, yang meliputi jenis dan jumlah lembar saham
pada Bank tersebut, Bank lain, Lembaga Keuangan Bukan Bank, dan perusahaan
lainnya yang berkedudukan di dalam maupun di luar negeri.
Selama tahun 2010 ini tidak ada kepemilikan saham anggota Dewan Komisaris dan
Direksi yang mencapai !5% (lima perseratus) dari modal disetor.

2.8. Hubungan keuangan dan hubungan keluarga anggota Dewan Komisaris dan
Direksi
Selama tahun 2010 ini tidak ada hubungan keuangan dan hubungan keluarga anggota
Dewan Komisaris dan Direksi dengan anggota Dewan Komisaris lainnya, Direksi
lainnya dan/atau Pemegang Saham Pengendali Bank.

2.9. Shares option yang dimiliki Komisaris, Direksi, dan Pejabat Eksekutif
Shares option adalah opsi untuk membeli saham oleh anggota Dewan Komisaris,
Direksi dan Pejabat Eksekutif melalui penawaran saham atau penawaran opsi saham
dalam rangka pemberian kompensasi yang diberikan kepada anggota Dewan
Komisaris, Direksi dan Pejabat Eksekutif Bank, dan yang telah diputuskan dalam
RUPS dan/atau Anggaran Dasar Bank.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 11 dari 64
CPD, Mei 2011
Pengungkapan mengenai shares option minimal mencakup :
a) Kebijakan dalam pemberian shares option.
b) Jumlah saham yang telah dimiliki masing-masing anggota Dewan Komisaris,
Direksi dan Pejabat Eksekutif sebelum diberikan shares option.
c) Jumlah shares option yang diberikan.
d) Jumlah shares option yang telah dieksekusi sampai dengan akhir masa pelaporan.
e) Harga opsi yang diberikan.
f) Jangka waktu berlakunya eksekusi share option.
Selama tahun 2010 ini tidak ada shares option dimaksud untuk huruf b), c), d),
e), dan f) sebagaimana tabel berikut :

Jumlah Opsi

Keterangan /Nama


Jumlah
Saham
yang
dimiliki
(lembar
saham)
Yang
diberikan
(lembar
saham)
yang telah
dieksekusi
(lembar
saham)

Harga
Opsi
(Rupiah)

Jangka
Waktu

Komisaris (nama)
Direksi (nama)
Pejabat
Eksekutif

(total)

Total Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil

2.10. Remunerasi dan Fasilitas Lain
a) Paket / Kebijakan Remunerasi dan Fasilitas Lain bagi Dewan Komisaris dan Direksi
sebagai berikut :
Jumlah Diterima dalam 1 tahun
Dewan Komisaris Direksi Jenis Remunerasi dan Fasilitas Lain
Orang Juta Rph Orang Juta Rph
1. Remunerasi (gaji, bonus, tunjangan
rutin, tantiem, dan fasilitas lainnya
dalam bentuk non-natura)


3


2.543


4


5.727
2. Fasilitas lain dalam bentuk natura
(perumahan, transportasi, asuransi
kesehatan dan sebagainya) yang :
a. Dapat dimiliki (asuransi purna
jabatan)
b. Tidak dapat dimiliki
- kendaraan dinas
- Asuransi D & O



3
-

1
3



955
-

80
179



4
-

4
4



2.445
-

810
239
Total 3 2.543 4 5.727

b) Paket Remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi yang dikelompokkan dalam
kisaran tingkat penghasilan sebagai berikut:
(satuan orang)
Jumlah Remunerasi per orang dalam 1 tahun *) Jumlah Direksi Jumlah Komisaris
Diatas Rp.2 miliar 0 0
Diatas Rp.1 miliar s/d Rp.2 miliar 4 0
Diatas Rp.500 juta s/d Rp.1 miliar 0 3
Rp. 500 juta keatas 0 0
*) yang diterima secara tunai

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 12 dari 64
CPD, Mei 2011
c) Rasio gaji tertinggi dan terendah dalam skala perbandingan sebagai berikut;
- Rasio gaji pegawai yang tertinggi dan terendah = 1 : 29
- Rasio gaji Direksi yang tertinggi dan terendah = 1 : 1,33
- Rasio gaji Komisaris yang tertinggi dan terendah = 1 : 1,15
- Rasio gaji Direksi tertinggi dan pegawai tertinggi = 1 : 2,98
Gaji yang diperbandingkan dalam rasio gaji tersebut adalah imbalan yang
diterima oleh anggota Dewan Komisaris, Direksi dan Pegawai per bulan. Pegawai
adalah pegawai tetap bank sampai batas pelaksana.

2.11. Frekuensi Rapat Dewan Komisaris
Selama tahun 2010 frekuensi rapat anggota Dewan Komisaris adalah sebagai berikut:
No Tanggal Agenda Rapat Cara Rapat Kehadiran
1. 26/01/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan Desember 2009
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
2. 24/02/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan Januari 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
3. 25/03/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan Pebruari 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
4. 16/04/2010 Pengangkatan Anggota Komite
Remunerasi & Nominasi
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
5. 20/04/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan Maret 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
6. 18/05/2010 Penetapan jumlah/limit wewenang
Direksi dalam hal melakukan
perbuatan-perbuatan hukum yang
diatur dalam pasal 12 ayat 5 butir
c,d,f & g Anggaran Dasar PT Bank
Mutiara tanggal 10 Agustus 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
7. 24/05/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan April 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
8. 24/06/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan Mei 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
9. 21/07/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan Juni 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
10. 24/08/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan Juli 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
11. 21/09/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan Agustus 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
12. 19/10/2010 Persiapan memenuhi undangan Rapat
Dengar Pendapat Umum (RDPU)
dengan DPR RI
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
13. 25/10/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan September 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
14. 25/11/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan Oktober 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris
15. 30/12/2010 Pembahasan Laporan Kinerja Bank
Mutiara Bulan Nopember 2010
Hadir langsung 3 Orang
Komisaris

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 13 dari 64
CPD, Mei 2011
2.12. Buy back shares dan/atau buy back obligasi Bank
Buy back shares atau buy back obligasi adalah upaya mengurangi jumlah saham atau
obligasi yang telah diterbitkan Bank dengan cara membeli kembali saham atau
obligasi tersebut, yang tatacara pembayarannya dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Pengungkapan buy back shares dan/atau buy back obligasi minimal mencakup :
a. Kebijakan dalam melakukan buy back shares dan/atau buy back obligasi.
b. Jumlah lembar saham dan/atau obligasi yang dibeli kembali.
c. Harga pembelian kembali perlembar saham dan/atau obligasi.
d. Peningkatan laba per lembar saham dan/atau obligasi.

Selama tahun 2010 ini tidak ada Buy back shares dan/atau buy back obligasi Bank
yang terjadi di PT Bank Mutiara Tbk.

























Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 14 dari 64
CPD, Mei 2011
BAB III
KELENGKAPAN DAN PELAKSANAAN TUGAS
KOMITE-KOMITE PT BANK MUTIARA TBK

PT Bank Mutiara Tbk telah membentuk komite-komite yang dipersyaratkan dalam
ketentuan Good Corporate Governance. Susunan komite-komite tersebut adalah sebagai
berikut :
3.1. Komite Audit
a. Struktur Organisasi
Ketua : Eko B. Supriyanto
Anggota : - Yusuf Subianto
- Darmawan Effendi
Keanggotaan Komite Audit tersebut diputuskan dalam Rapat Dewan Komisaris
tanggal 18 Agustus 2009, dan diangkat dengan Surat Keputusan Direksi Nomor
084/SK-DIR/Century/VIII/2009 tanggal 01 September 2009.

b. Keanggotaan Komite Audit
Komite Audit diketuai oleh seorang Komisaris Independen dan Anggota-
anggotanya adalah seorang Pihak Independen yang ahli dalam bidang akuntansi
dan keuangan dan seorang Pihak Independen yang memiliki keahlian di bidang
hukum bisnis dan perbankan. Pengangkatan nama-nama Ketua dan Anggota
Komite Audit sebagaimana dimaksud di atas telah memenuhi kriteria yang
ditetapkan dalam PBI.

c. Keahlian / Disiplin Ilmu Anggota Komite Audit

- Eko Budi Supriyanto sebagai Ketua Komite Audit
Keahlian/disiplin ilmu sama seperti yang telah diuraikan diatas.

- Yusuf Subianto, sebagai anggota Komite Audit
Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi Universitas Indonesia tahun 1978, telah
mengikuti berbagai pelatihan profesi di tingkat lokal dan internasional, yang
diselenggarakan oleh Bank Indonesia, Bapindo, Alpia, PDCP Manilla Phillipina.
Karir perbankan dimulai tahun 1980 di Bank Pembangunan Indonesia sampai
dengan tahun 1999, kemudian di Bank Mandiri sampai dengan tahun 2000.

- Darmawan Effendi, sebagai anggota Komite Audit
Meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1981.
Memulai karir perbankan sejak tahun 1981 di Bapindo sampai dengan tahun
1999, kemudian di Bank Mandiri sampai tahun 2008. Berbagai pelatihan
mengenai perbankan, hukum bisnis, manajemen dan leadership telah diikuti
baik di dalam maupun di luar negeri.




Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 15 dari 64
CPD, Mei 2011
d. Independensi Anggota Komite Audit
Ketiganya (satu ketua dan dua anggota) tidak memiliki hubungan keuangan,
kepengurusan, kepemilikan saham, dan/atau hubungan keluarga dengan anggota
Dewan Komisaris lainnya, Direksi dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau
hubungan dengan Bank, yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk
bertindak independen.

e. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit
1) Melakukan pemantauan dan evaluasi atas perencanaan dan pelaksanaan audit
serta pemantauan atas tindak lanjut hasil audit dalam rangka menilai
kecukupan pengendalian intern termasuk kecukupan proses pelaporan
keuangan.
2) Dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud butir 1), Komite
Audit melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap :
Pelaksanaan Tugas Satuan Kerja Audit Intern
Kesesuaian pelaksanaan audit oleh Kantor Akuntan Publik dengan standar
audit yang berlaku.
Kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi yang berlaku
(PSAK).
Pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas hasil temuan Satuan Kerja
Audit, Akuntan Publik, dan hasil pengawasan Bank Indonesia.
3) Memberikan rekomendasi mengenai penunjukan Akuntan Publik kepada Dewan
Komisaris untuk disampaikan kepada Rapat Umum Pemegang Saham.
4) Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya Komite Audit berpedoman
kepada Piagam Komite Audit (Audit Committee Charter) PT Bank Mutiara Tbk
dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan peraturan Bank
Indonesia.

f. Rapat Komite Audit
1) Rapat Komite diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan Bank.
2) Rapat Komite hanya dapat dilaksanakan apabila dihadiri oleh paling kurang
51% dari jumlah anggota termasuk seorang Komisaris Independen.
3) Keputusan Rapat Komite dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat.
4) Dalam hal tidak terjadi musyawarah mufakat, pengambilan keputusan
dilakukan berdasarkan suara terbanyak.
5) Hasil rapat Komite sebagaimana dimaksud pada butir 3), dituangkan dalam
risalah rapat dan didokumentasikan secara baik.
6) Perbedaan pendapat (dissenting opinions) yang terjadi dalam rapat Komite
sebagaimana dimaksud pada butir 4), wajib dicantumkan secara jelas dalam
risalah rapat beserta alasan perbedaan pendapat.

g. Program Kerja dan Realisasi Komite Audit.
Pada tahun 2010 Komite Audit telah mengadakan rapat sebanyak 13 kali.
Sebanyak 11 kali diantaranya adalah pertemuan bulanan dengan Internal Audit
Division (IAD). Pertemuan ini diadakan guna mengevaluasi kecukupan fungsi
audit intern dan efektifitas pelaksaan tugas IAD berdasarkan Standar Pemeriksaan
Fungsi Audit Intern Bank (SPFAIB) dan Audit Charter PT Bank Mutiara Tbk.
Dalam pertemuan-pertemuan tersebut juga dievaluasi mengenai Efektifitas Sistim
Pengendalian Intern dan tindak lanjut yang dilakukan auditee/manajemen atas
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 16 dari 64
CPD, Mei 2011
rekomendasi atau temuan hasil audit IAD, Kantor Akuntan Publik maupun hasil
pemeriksaan Bank Indonesia.
Berdasarkan evaluasi tersebut disimpulkan bahwa :
1) IAD telah melaksanakan tugas secara efektif dan melaksanakan fungsi audit
intern berdasarkan Standar Pemeriksaan Fungsi Audit Intern Bank (SPFAIB) dan
Audit Charter PT Bank Mutiara Tbk.
2) Sistim Pengendalian Intern Bank telah berjalan cukup baik/efektif dan
rekomendasi/temuan hasil audit IAD, Kantor Akuntan Publik maupun
Pemeriksaan Bank Indonesia telah ditindak lanjuti oleh manajemen/auditee
dengan baik.
3) Dalam rangka memberikan rekomendasi penunjukan Akuntan Publik/ Kantor
Akuntan Publik (KAP) untuk melakukan audit tahun buku 2010, Komite Audit
telah melakukan hal-hal sebagai berikut :
! Melakukan penilaian mengenai Kompetensi, Independensi dan Methodologi
Audit atas Kantor Akuntan Publik yang akan melakukan audit untuk tahun
buku 2010.
! Berdasarkan hasil penilaian tersebut serta mengacu pada ketentuan yang
berlaku, Komite Audit telah merekomendasikan kepada Dewan Komisaris
untuk menunjuk KAP AAJ guna melakukan audit tahun buku 2010. Dewan
Komisaris atas dasar wewenang yang diberikan oleh Rapat Umum Pemegang
Saham, telah menyetujui rekomendasi Komite Audit dan menyetujui KAP
AAJ untuk melakukan audit tahun buku 2010.

4) Berkaitan dengan tugas Dewan Komisaris untuk melakukan pengawasan dan
pemberian nasihat, Komite Audit telah memberikan masukan-masukan dan
rekomendasi-rekomendasi yang terangkum dalam surat-surat Dewan Komisaris
kepada Direksi antara lain tentang penerapan PSAK 50 & 55, permasalahan
hukum dll.

3.2. Komite Pemantau Risiko

a. Struktur Organisasi
Ketua : Budhiyono Budoyo
Anggota : - Yusuf Subianto
- Darmawan Effendi
Keanggotaan Komite Pemantau Risiko tersebut dibentuk berdasarkan Keputusan
Rapat Dewan Komisaris tanggal 21 Agustus 2009 dan diangkat dengan Surat
Keputusan Direksi Nomor 83/SK-DIR/Century/VIII/2009 tanggal 01 September
2009.

b. Keanggotaan Komite Pemantau Risiko
Komite Pemantau Risiko diketuai oleh seorang Komisaris Independen dan dua
orang anggota dari pihak independen yang memiliki keahlian di bidang
Manajemen Risiko.



Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 17 dari 64
CPD, Mei 2011
c. Keahlian/Disiplin Ilmu Anggota Komite Pemantau Risiko

- Budhiyono Budoyo, sebagai Ketua Komite Pemantau Risiko.
Keahlian/disiplin ilmu sama seperti yang telah diuraikan diatas.

- Yusuf Subianto, sebagai anggota Komite Pemantau Risiko
Keahlian/disiplin ilmu sama seperti yang telah diuraikan diatas.

- Darmawan Effendi, sebagai anggota Komite Pemantau Risiko
Keahlian/disiplin ilmu sama seperti yang telah diuraikan diatas.

d. Independensi Anggota Komite Pemantau Risiko
Ketiganya (satu ketua dan dua anggota) tidak memiliki hubungan keuangan,
kepengurusan, kepemilikan saham, dan/atau hubungan keluarga dengan anggota
Dewan Komisaris lainnya, Direksi dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau
hubungan dengan Bank, yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk
bertindak independen.

e. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Pemantau Risiko
1) Melakukan evaluasi kesesuaian antara kebijakan manajemen risiko dan
pelaksanaan kebijakan tersebut.
2) Melakukan pemantauan dan evaluasi tugas Komite Manajemen Risiko dan
Satuan Kerja Manajemen Risiko
3) Memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris tentang kebijakan yang
perlu diambil.
4) Tugas-tugas lain untuk membantu Dewan Komisaris dalam melaksanakan
wewenang dan tanggung jawabnya terkait dengan penerapan Manajemen
Risiko.

f. Frekuensi Rapat Komite Pemantau Risiko
1) Rapat Komite diselenggarakan sesuai kebutuhan bank, sekurang-kurangnya 1
(satu) kali dalam 3 bulan.
2) Keputusan Rapat Komite dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat.
3) Rapat Komite Pemantau Risiko hanya dapat dilaksanakan apabila dihadiri oleh
paling kurang 51% dari jumlah anggota, termasuk seorang Komisaris
Independen dan Pihak Independen
4) Dalam hal tidak terjadi musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud butir 3
diatas pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak.
5) Hasil rapat Komite sebagaimana dimaksud butir 3 wajib dituangkan dalam
risalah rapat dan didokumentasikan secara baik.
6) Perbedaan pendapat (dissenting opinions) yang terjadi dalam rapat komite
sebagaimana dimaksud pada butir 4, wajib dicantumkan secara jelas dalam
risalah rapat beserta alasan perbedaan pendapat tersebut.

g. Program Kerja dan Realisasi Komite Pemantau Risiko
1) Pada tahun 2010 Komite Pemantau Risiko telah melaksanaan rapat komite
sebanyak 9 kali dan 3 kali di antaranya mengundang Divisi Manajemen Risiko.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 18 dari 64
CPD, Mei 2011
Rapat Komite dilakukan untuk memantau serta mengevaluasi pelaksanaan
tugas Komite Manajemen Risiko dan Divisi Manajemen Risiko serta
mengevaluasi kesesuaian antara kebijakan manajemen risiko dengan
pelaksanaan kebijakan dimaksud.
2) Rapat Komite yang mengundang Divisi Manajemen Risiko dilakukan untuk
membahas profil risiko Bank Mutiara baik risiko inheren maupun risk control
system.
3) Dalam rangka membantu Dewan Komisaris melaksanakan tugas mengevaluasi
dan memberikan persetujuan kebijakan Manajemen Risiko yang diajukan oleh
Direksi, Komite telah mengevaluasi/mereview Kebijakan Umum Manajemen
Risiko dan Kebijakan-Kebijakan yang merupakan pelaksanaan dari Kebijakan
Umum tersebut antara lain Kebijakan Perkreditan, Kepatuhan, Operasional,
Treasury.
4) Komite telah memberikan masukan-masukan dan/atau rekomendasi kepada
Dewan Komisaris terkait dengan risiko-risiko yang dihadapi Bank, yang
terangkum dalam surat-surat pengawasan dan nasihat Dewan Komisaris kepada
Direksi.

3.3. Komite Remunerasi dan Nominasi
a. Struktur Organisasi
Ketua : Budhiyono Budoyo
Anggota : - Eko B. Supriyanto
- Achmad Hidayat.
Keanggotaan Komite Remunerasi & Nominasi tersebut diangkat dengan Surat
Keputusan Direksi No. 115/Mutiara/SK-DIR/IV/2010 tanggal 14 April 2010.

b. Keanggotaan Komite Remunerasi dan Nominasi
Komite Remunerasi dan Nominasi diketuai oleh seorang Komisaris Independen dan
anggota Komite Remunerasi dan Nominasi terdiri dari seorang Komisaris
Independen dan seorang Pejabat Eksekutif yang membawahi bidang sumber daya
manusia.

c. Keahlian/Disiplin Ilmu Anggota Komite Remunerasi dan Nominasi

- Budhiyono Budoyo, sebagai Ketua Komite Remunerasi dan Nominasi.
Keahlian/disiplin ilmu sama seperti yang telah diuraikan diatas.

- Eko B. Supriyanto, sebagai anggota Komite Remunerasi dan Nominasi.
Keahlian/disiplin ilmu sama seperti yang telah diuraikan diatas.

- Achmad Hidayat, sebagai anggota Komite Remunerasi dan Nominasi.
Meraih gelar Sarjana Teknologi Pertanian dari Jurusan Mekanisasi Pertanian
Institut Pertanian Bogor pada 1995 dan telah mengikuti berbagai pelatihan
ketenagakerjaan dan perpajakan. Meniti karir di PT Bank Mutiara Tbk sejak
tahun 1997 sebagai staff Divisi Human Resources. Pada tahun 2004 diangkat
sebagai HR Administration Dept Head hingga tahun 2009. Pada tahun 2009
ditunjuk sebagai Remuneration & Employee Relation Dept Head.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 19 dari 64
CPD, Mei 2011
Kemudian pada May 2009 ditunjuk sebagai Pejabat Sementara HR Division head
hingga Maret 2010. Dan sejak April 2010 hingga kini menjabat sebagai HR
Division Head PT Bank Mutiara Tbk. Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT
Bank Mutiara Tbk No. 115/Mutiara/SK-DIR/IV/2010 tanggal 14 April 2010
ditunjuk sebagai anggota Komite Remunerasi dan Nominasi hingga kini.

d. Independensi Anggota Komite Remunerasi dan Nominasi
Ketiganya (satu ketua dan dua anggota) tidak memiliki hubungan keuangan,
kepengurusan, kepemilikan saham, dan/atau hubungan keluarga dengan anggota
Dewan Komisaris lainnya, Direksi dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau
hubungan dengan Bank, yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk
bertindak independen.

e. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Remunerasi dan Nominasi
Komite Remunerasi dan Nominasi melaksanakan tugasnya dalam rangka
mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris. Tugas dan
tanggung jawab Komite Remunerasi dan Nominasi :

1) Terkait Kebijakan Remunerasi :
Melakukan evaluasi terhadap kebijakan remunerasi.
Memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai kebijakan
remunerasi bagi Dewan Komisaris dan Direksi untuk disampaikan kepada
Rapat Umum Pemegang Saham.
Memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai kebijakan
remunerasi bagi Pejabat Eksekutif dan pegawai secara keseluruhan untuk
disampaikan kepada Direksi.

2) Terkait dengan Kebijakan Nominasi :
Menyusun dan memberikan rekomendasi mengenai sistem serta prosedur
pemilihan dan/atau penggantian anggota Dewan Komisaris dan Direksi
kepada Dewan Komisaris untuk disampaikan kepada Rapat Umum Pemegang
Saham.
Memberikan rekomendasi mengenai calon anggota Dewan Komisaris
dan/atau Direksi kepada Dewan Komisaris untuk disampaikan kepada Rapat
Umum Pemegang Saham.
Memberikan rekomendasi mengenai Pihak Independen yang akan menjadi
anggota Komite Remunerasi dan Nominasi.

3) Komite wajib memastikan bahwa :
Kebijakan remunerasi sesuai dengan kinerja keuangan dan pemenuhan
cadangan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Kebijakan remunerasi sesuai dengan prestasi kinerja individual.
Kebijakan remunerasi sesuai dengan kewajaran peer group.
Kebijakan remunerasi sesuai dengan pertimbangan sasaran dan strategi
jangka panjang dari bank.


4) Rapat Komite Remunerasi dan Nominasi
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 20 dari 64
CPD, Mei 2011
Rapat Komite diselenggarakan sesuai kebutuhan bank.
Rapat Komite Remunerasi dan Nominasi hanya dapat dilaksanakan apabila
dihadiri oleh paling kurang 51% dari jumlah anggota termasuk seorang
Komisaris Independen dan Pejabat Eksekutif.
Keputusan rapat komite dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat.
Dalam hal tidak terjadi musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud poin 3,
maka pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak.
Hasil rapat Komite sebagaimana poin 3 wajib dituangkan dalam risalah
rapat dan didokumentasikan secara baik.
Perbedaan pendapat (dissenting opinion) yang terjadi dalam rapat komite
sebagaimana dimaksud pada poin 4, wajib dicantumkan secara jelas dalam
risalah rapat beserta alasan perbedaan pendapat tersebut.

5) Program Kerja dan Realisasi Komite Remunerasi dan Nominasi
1. Komite telah melaksanaan Rapat Komite sebanyak 5 kali.
2. Rapat Komite dilakukan untuk membahas penunjukan calon-calon Kepala
Divisi/Kepala Wilayah pada struktur organisasi PT Bank Mutiara,Tbk yang
baru berlaku tanggal 1 April 2011.
3. Komite bersama Direksi telah membahas rencana reorganisasi PT Bank
Mutiara, Tbk, fine tunning untuk jabatan-jabatan Kepala & Wakil Kepala
Divisi.
4. Komite bersama Direksi telah membahas rencana pembayaran apresiasi
kepada karyawan pada akhir bulan Maret 2010.
5. Komite telah memberikan masukan-masukan dan/atau rekomendasi
kepada Dewan Komisaris terkait dengan calon Executive Vice President
bidang Accounting & Operation dan Executive Vice President bidang Kredit.





















BAB IV
PENERAPAN FUNGSI KEPATUHAN, AUDIT INTERN
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 21 dari 64
CPD, Mei 2011
DAN AUDIT EKSTERN

4.1. Penerapan Fungsi Kepatuhan

Dalam melaksanakan Fungsi Kepatuhan Bank mengacu pada Peraturan Bank
Indonesia (PBI) No.1/6/1999 tanggal 20 September 1999 tentang Penugasan
Direktur Kepatuhan dan penerapan standar pelaksanaan fungsi audit intern bank
umum, yang merupakan panduan bagi bank-bank di Indonesia dalam pelaksanaan
fungsi Direktur Kepatuhan.

Salah satu upaya yang efektif untuk mendukung penerapan fungsi kepatuhan, audit
intern dan audit ekstern adalah melalui peningkatan upaya pencegahan terhadap
kemungkinan gangguan dari luar dan dalam lingkungan.

Sistem pencegahan yang ada harus menyeluruh (comprehensive), yaitu tidak hanya
sekedar pencegahan melalui peraturan, Standard Operational Procedure (SOP) dan
atau pengawasan, tetapi juga pencegahan langsung oleh para pelakunya.
Pencegahan internal oleh manajemen bank diharapkan mampu mencegah terjadinya
hal-hal yang tidak diharapkan.

Salah satu wujud dari upaya PT Bank Mutiara Tbk adalah dengan menunjuk seorang
Direktur Kepatuhan yang merupakan anggota Direksi yang tidak terlibat dalam
kegiatan operasional bank (independent), yang bertugas untuk memastikan bahwa
kebijakan/peraturan penting yang diambil oleh pengurus bank tidak menyimpang
atau melanggar ketentuan dan prinsip kehati-hatian di bidang perbankan.

Yang dimaksud dengan Fungsi Kepatuhan disini adalah patuh/comply with
terhadap Peraturan Bank Indonesia, peraturan perundang-undangan lain yang
berlaku dan perjanjian serta komitmen bank dengan Bank Indonesia, serta
kepatuhan terhadap kebijakan dan atau keputusan/peraturan intern yang berlaku.

Direktorat Kepatuhan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya telah berupaya
untuk memastikan bahwa suatu rancangan/rencana kebijakan dan atau keputusan
yang akan diambil oleh Direksi dan atau Dewan Komisaris tidak melanggar ketentuan
prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan Good Corporate Governance.

Apabila Direktur Kepatuhan berpendapat bahwa terdapat unsur ketidakpatuhan
terhadap ketentuan prinsip kehati-hatian dan Good Corporate Governance, maka
Direktur Kepatuhan meminta agar rancangan/rencana kebijakan dan atau keputusan
dimaksud dibatalkan (hak veto).

Sebagai tahapan awal tugas dan untuk memperkuat pondasi awareness mengenai
Kepatuhan, Direktorat Kepatuhan PT Bank Mutiara Tbk mempunyai program
sosialisasi untuk memperkenalkan dan membangun serta mengembangkan budaya
kepatuhan di setiap satuan kerja/ lingkungan kerja.



Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia, Direktorat Kepatuhan bertugas sekurang-
kurangnya untuk :

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 22 dari 64
CPD, Mei 2011
a. Menetapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bank telah
memenuhi seluruh peraturan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan
lain yang berlaku dalam rangka pelaksanaan prinsip kehati-hatian, yaitu antara
lain:
1) Menyiapkan Kebijakan Kepatuhan ( Compliance Policy ) pada setiap satuan
kerja ;
2) Menyesuaikan pedoman intern bank terhadap perubahan peraturan perundang-
undangan yang berlaku ;
3) Menyiapkan / mengikuti proses pengambilan keputusan oleh manajemen.

b. Memantau dan menjaga agar kegiatan usaha bank tidak menyimpang dari
ketentuan yang berlaku, yaitu antara lain :
1) Melakukan pemantauan penerapan prosedur kepatuhan (compliance
procedure) pada setiap satuan kerja yang digunakan sebagai alat dalam setiap
pengambilan keputusan yang dilakukan ;
2) Melakukan Uji Kepatuhan terhadap kegiatan pembiayaan seperti perkreditan,
trade finance dan treasury ;
3) Melakukan pelatihan serta sosialisasi kepatuhan terhadap ketentuan yang
berlaku.

c. Memantau dan menjaga kepatuhan bank terhadap seluruh perjanjian dan
komitmen yang dibuat oleh bank kepada Bank Indonesia, yaitu :
1) Perjanjian yang dibuat oleh bank dengan Bank Indonesia, antara lain
perjanjian dalam rangka program rekapitalisasi bank umum ;
2) Komitmen yang dibuat oleh bank yaitu kesanggupan bank untuk memenuhi
perintah atau larangan dari Bank Indonesia dalam pelaksanaan kegiatan
tertentu (Cease and Desist Order / CDO ) .

d. Melaporkan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya secara berkala kepada
Direktur Utama dengan tembusan kepada Dewan Komisaris.

e. Menyampaikan Laporan Pokok-Pokok Pelaksanaan Tugas Direktur Kepatuhan
secara semesteran (setiap posisi Juni dan Desember) kepada Bank Indonesia yang
antara lain berisi :
1) Laporan Semesteran Direktur Kepatuhan ini mengacu pada Peraturan Bank
Indonesia (PBI) No.1/6/1999 tanggal 20 September 1999 tentang penugasan
Direktur Kepatuhan dan penerapan standar pelaksanaan fungsi audit intern
bank umum.
2) Susunan pengurus PT Bank Mutiara Tbk, berdasarkan Akta Anggaran Dasar yang
terakhir yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan HAM RI
tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan, sesuai
pembahasan pada Bab 2 di atas.
3) Pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia dan Peraturan Perundangan yang
berlaku dalam Pelaksanaan Prinsip Kehati-hatian, sebagai berikut:



- Pemantauan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (CAR)
CAR Risiko Kredit sebesar = 12,23% (patuh)
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 23 dari 64
CPD, Mei 2011
CAR Risiko Kredit, Risiko Pasar & Risiko Operasional = 11,16% (patuh)

- Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)
Dengan posisi tidak ada pelanggaran BMPK, tetapi bank belum patuh
karena masih terdapat pelampauan BMPK perkreditan sebesar Rp. 556.734
juta yang terdiri dari 18 debitur, namun Manajemen telah melakukan
langkah-langkah dalam upaya untuk memperbaiki secara konsisten.

- Posisi Devisa Netto (PDN)
Bank telah memenuhi ketentuan PDN setinggi-tingginya 20% dari Modal
Bank. Posisi PDN di akhir bulan Desember 2010 adalah 14,61% (patuh).
Manajemen tetap melakukan upaya terus untuk menurunkan posisi PDN
menjadi lebih baik.

- Kualitas Aktiva Produktif
Dengan posisi NPL Gross sebesar 24,84% (belum patuh), namun dari posisi
NPL Net adalah sebesar 4,84% (sudah patuh). Manajemen tetap melakukan
langkah-langkah dalam upaya terus menurunkan pada posisi NPL agar sesuai
dengan ketentuan Bank Indonesia yaitu NPL berada dibawah 5%.

- Giro Wajib Minimum (GWM)
Bank telah memenuhi ketentuan kewajiban pemenuhan GWM IDR Utama
dari sebesar 5% menjadi GWM Primer sebesar 8% sesuai dengan PBI No.
12/19/PBI/2010 tanggal 04 Oktober 2010 yang mulai berlaku pada tanggal
01 November 2010, GWM IDR Sekunder sebesar 2,5%, dan GWM Valas
sebesar 1%. Dengan demikian posisi GWM per Desember 2010 adalah:
GWM Rupiah Utama sebesar 8,11% (patuh)
GWM Rupiah Sekunder sebesar 16,25% (patuh)
GWM Valas sebesar 2,19% (patuh)

- Tingkat Kesehatan Bank (TKB)
Pada triwulan 4 (Desember 2010) bank memiliki Peringkat Komposit 2, yaitu
Bank Tergolong Baik.

- Profil Risiko Bank
Peringkat profil risiko bank per triwulan 4 (Desember 2010) adalah
Moderate Acceptable.

4) Realisasi terhadap Rencana Kerja Bank pada bidang Perkreditan, bidang
Layanan Perbankan (Mass Banking dan Network Development), bidang IT,
pelaksanaan Internal Audit (SKAI), penerapan Manajemen Risiko, penjualan
AYDA, penerapan PSAK 50/55, penerapan Kepatuhan, penerapan APU dan
PPT.

5) Beberapa Rencana Kerja yang belum terealisasi pada bidang Layanan
Perbankan (Mass Banking), bidang Perkreditan, bidang IT, bidang Internal
Audit (SKAI), bidang Manajemen Risiko, Penyelesaian AYDA, penerapan PSAK
50/55, serta bidang Kepatuhan dan APU-PPT.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 24 dari 64
CPD, Mei 2011

Dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya selama tahun 2010, Unit Kerja
Kepatuhan dibawah koordinasi Kepala Divisi Kepatuhan dengan penanggung jawab
Direktur Kepatuhan, telah berupaya menerapkan fungsi kepatuhan pada seluruh unit
kerja sebagai berikut :

a. Mendampingi Tim BPKP dalam melakukan penilaian/assessment pelaksanaan
Good Corporate Governance (GCG) periode tahun 2009 tahun 2010 di Kantor
Pusat maupun Kantor Cabang Bank Mutiara dengan predikat hasil BAIK.
b. Untuk keperluan pemantauan pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG),
bank melalui Divisi Kepatuhan juga telah melakukan penilaian triwulanan
penerapan GCG untuk dilaporkan kepada Dewan Komisaris, Direksi, Komite
Pemantau Risiko dan Komite Audit dalam bentuk Laporan Internal Triwulanan
Penerapan GCG .
c. Memastikan bahwa suatu rencana, kebijakan dan atau keputusan yang akan
diambil oleh Direksi dan/atau Dewan Komisaris tidak melanggar ketentuan dan
perundang-undangan yang berlaku dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian
(prudential banking) dan Good Corporate Governance.
d. Memantau dan menjaga kepatuhan bank terhadap seluruh perjanjian dan
komitmen yang dibuat oleh Bank kepada Bank Indonesia.
e. Memantau penerapan kepatuhan dalam rangka persiapan peluncuran Produk dan
Aktivitas Baru sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/35/DPNP
tanggal 31 Desember 2009 tentang Pelaporan Produk atau Aktivitas Baru.
f. Memantau dan menjaga agar kegiatan usaha bank tidak menyimpang dari
ketentuan yang berlaku, seperti melakukan Uji Kepatuhan Perkreditan secara
bulanan terhadap proses perkreditan yang telah diputuskan, dan sebagai langkah
awal mencakup: fasilitas kredit baru, penambahan kredit, perpanjangan kredit,
rescheduling, dan restrukturisasi kredit.
g. Memantau kepatuhan bank terhadap pemenuhan ketentuan Bank Indonesia yang
terkait dengan prinsip kehati-hatian kegiatan operasional bank dalam rangka
menghindarkan (minimalisasi) bank dari kerugian yang timbul terhadap sanksi
penilaian tingkat kesehatan Bank, sanksi denda/kewajiban membayar, sanksi
administratif, dan sanksi hukum/pidana yang potensial terjadi akibat adanya
pelanggaran terhadap ketentuan :
1) Permodalan (CAR).
2) Giro Wajib Minimum (GWM).
3) Perkreditan (BMPK, NPL, KAP, AYDA)
4) Pembentukan Pencadangan Aktiva Produktif (PPA).
5) Aktiva Produktif (PDN, Portofolio Penempatan Dana, Maturity Profil, dan lain-
lain).
6) Kepatuhan lainnya untuk dilakukan perbaikan secara bertahap.
h. Menyiapkan/mengikuti proses pengambilan keputusan oleh manajemen, antara
lain mengikuti Rapat Komite Kredit, Rapat ALCO, Rapat Penyusunan Kebijakan &
SOP, dan mengikuti rapat-rapat lainnya yang terkait dengan tingkat kepatuhan
manajemen dalam menentukan kebijakan bank.

i. Unit Kerja Kepatuhan berkoordinasi dengan unit kerja lainnya dalam hal :
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 25 dari 64
CPD, Mei 2011
1) Kepada Unit Kerja Manajemen Risiko dimintakan masukan/saran yang terkait
dengan manajemen risiko atas draft kebijakan dan/atau sistem prosedur yang
akan dilaksanakan di Unit Kerja Kepatuhan.
2) Bekerja sama dengan Unit Kerja Internal Audit/SKAI dalam menindaklanjuti
hasil temuan-temuan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan SKAI.
j. Sejalan dengan PBI No. 11/28/PBI/2009 tanggal 01 Juli 2009 dan SE BI No.
11/31/DPNP tanggal 20 November 2009, Unit Kerja Pengenalan Nasabah (UKPN)
Pusat dan UKPN Cabang dibawah koordinasi Divisi Kepatuhan telah berupaya
menerapkan Pedoman Standar Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan
Pendanaan Terorisme (PPT) dalam rangka mencegah Tindak Pidana Pencucian
Uang dan Pembiayaan Terorisme dalam kegiatan transaksi bank, antara lain .
1) Melakukan pembinaan dan sosialisasi / pelatihan langsung mengenai PBI dan SE
BI tersebut beserta kebijakan dan prosedur APU & PPT kepada seluruh Kantor
(Cabang dan Cabang Pembantu) dan unit kerja terkait minimal 1 (satu) kali
dalam satu tahun secara konsisten.
2) Melakukan pelatihan khusus terhadap seluruh karyawan baru dengan
berkoordinasi dengan HRD.
3) Melakukan monitoring langsung terhadap proses pengkinian data dan
penyelesaian CIF Ganda pada seluruh Kantor Cabang/Capem/Kantor Kas yang
disosialisasikan oleh Tim Cleansing Data dengan berkoordinasi dengan Staf
UKPN Kantor Pusat.
4) Melakukan sosialisasi dan rapat koordinasi dengan divisi terkait sehubungan
dengan penerapan APU-PPT dan action plan pengkinian data yang harus
dilaporkan kepada Bank Indonesia.
5) Mengirimkan Staf UKPN Kantor Pusat, Staf UKPN Kantor Cabang/Capem dan
Staf Divisi Compliance mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh FKDKP dan
mengikuti sosialisasi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010
tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, yang
dilaksanakan oleh PPATK / Bank Indonesia.
6) Bank melalui UKPN Pusat dan UKPN Cabang dibawah koordinasi Divisi
Kepatuhan telah :
Berupaya menerapkan Pedoman Standar APU dan PPT dalam rangka
mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pembiayaan Terorisme dalam
kegiatan transaksi bank, termasuk didalamnya pelaporan kepada PPATK
yaitu LTKM/STR atas unusual transaction, dan LTKT/CTR terhadap transaksi
tunai yang jumlahnya diatas Rp. 500 juta.
Penyesuaian Kebijakan dan Prosedur Standar Penerapan APU dan PPT.
Berkoordinasi dengan Divisi Informasi dan Teknologi untuk persiapan
implementasi Red Flag dan penerapan Risk Based Approach terhadap
nasabah.
7) Bank telah melanjutkan tahapan pelaksanaan action plan APU-PPT pada tahun
2010 sebagai berikut:
Membentuk Tim Sosialisasi Penyelesaian CIF Ganda dan Pengkinian Data
(SK Dir No.143/Mutiara/SK-DIR/VII/2010 tanggal 1 Juli 2010) yang
beranggotakan Divisi / unit kerja terkait sebagai task force untuk:
- Evaluasi pengkinian data nasabah (dokumentasi dan data pada system
core banking).
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 26 dari 64
CPD, Mei 2011
- Evaluasi penyelesaian CIF Ganda nasabah menjadi CIF Tunggal (Single
CIF) dengan target selesai pada Triwulan III.
Penyusunan parameter / kriteria Risk Based Approach terhadap nasabah
berdasarkan tingkat risiko dan penyusunan Laporan Rencana Pengkinian Data
yang tertuang pada Laporan Direktur Kepatuhan Semester II tahun 2010.
Melakukan konfirmasi Unusual Transaction kepada cabang terkait dalam
rangka analisis untuk Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan .
Koordinasi dengan Divisi atau Unit Kerja terkait untuk pengembangan
sistem dan laporan dalam rangka membantu proses Pengkinian Data dan CIF
Ganda.
Melakukan sosialisasi pada setiap kantor atas hasil pengembangan sistem
dan laporan untuk mendukung program APU dan PPT.
Melakukan UAT terhadap pengembangan sistem dan laporan yang sudah
dilakukan oleh Divisi terkait.
Melakukan pemantauan dan evaluasi kepada setiap kantor terhadap hasil
penanganan Pengkinian Data (baik dokumentasi maupun data pada sistem)
sesuai dengan Tingkat Risiko Nasabah.
Melibatkan Auditor Internal (Internal Audit Division) melakukan pemeriksaan
terhadap pencapaian Pengkinian Data dan Penyelesaian CIF Ganda.
8) Berkoordinasi dengan Divisi IT untuk persiapan otomasi Watch List atas Daftar
Teroris yang diterbitkan oleh PBB secara semesteran, yang sangat berguna
pada saat proses identifikasi dan verifikasi nasabah (penerapan KYC).
9) Berkoordinasi dengan seluruh kantor dan Divisi terkait, bank telah menyusun
Laporan Rencana Pengkinian Data PT Bank Mutiara Tbk Posisi Desember 2010
yang berpedoman pada format sebagaimana lampiran dalam SE BI
No.11/31/DPNP tanggal 30 Nopember 2009, dan telah dilaporkan kepada Bank
Indonesia melalui Laporan Semesteran Direktur Kepatuhan.


4.2. Fungsi Audit Intern

Peran dan fungsi Audit Intern merupakan hal yang sangat penting bagi PT Bank
Mutiara Tbk, karena membantu Direktur Utama mengamankan kegiatan operasional
bank yang melibatkan dana dari masyarakat luas. Satuan Kerja Audit Intern dalam
tugasnya, wajib menjaga perkembangan bank kearah yang dapat menunjang
program dari Stakeholders (Manajemen, Pemerintah, Pemegang Saham dan
Masyarakat).

Dalam rangka menjaga independensi fungsi audit intern, Direksi PT Bank Mutiara
Tbk menempatkan Divisi Internal Audit (DIA) berada langsung dibawah supervisi
Direktur Utama. DIA bersifat independen dari kegiatan operasional pihak/unit yang
akan diperiksa.

Dalam menetapkan pandangan dan pemikirannya, Kepala Divisi Internal Audit
diberikan ruang yang bebas dan obyektif serta bebas dari tekanan pihak manapun
(independence), sehingga terhindar dari benturan kepentingan (conflict of interest)
atas obyek atau kegiatan yang diperiksanya.

DIA bertugas untuk membantu Direktur Utama dan Dewan Komisaris dalam hal
menjabarkan secara operasional perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan hasil
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 27 dari 64
CPD, Mei 2011
audit. Dalam melaksanakan hal tersebut, DIA membuat analisa dan penelitian di
bidang keuangan, akuntansi, operasional dan kegiatan lainnya melalui pemeriksaan
audit secara on-site dan pemantauan secara off-site, serta memberikan saran
perbaikan dan informasi obyektif tentang kegiatan yang perlu mendapat perhatian
khusus oleh semua tingkatan manajemen.

DIA dalam tugasnya juga senantiasa mampu mengindentifikasikan segala
kemungkinan untuk memperbaiki dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber
daya dan dana.

Untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme, PT Bank Mutiara Tbk
senantiasa mengirimkan petugas dan pejabat DIA ke pelatihan baik internal maupun
eksternal. Hal tersebut dimaksudkan agar diperoleh petugas DIA yang :
a. Memiliki pengetahuan yang memadai secara umum dan teknis dalam bidang tugas
yang relevan dengan spesialisasinya.
b. Mempunyai perilaku yang independen, jujur, obyektif, tekun dan loyal.
c. Memiliki kemampuan mempertahankan kualitas profesi yang profesional.
d. Memiliki kecakapan interaksi dan komunikasi secara lisan maupun tulisan.
e. Membantu/supporting data jika diperlukan oleh Manajemen.

Divisi Internal Audit dalam melaksanakan tugasnya terutama untuk memastikan
terlaksananya pengendalian intern yang bertujuan untuk :
a. Memastikan pengamanan dana masyarakat, meliputi deposito, giro, tabungan
serta dana pihak ketiga lainnya.
b. Pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan operasional yang telah ditetapkan,
pemanfaatan sumber daya secara ekonomis dan efisien, efektif dan mengawasi
kegiatan tertentu seperti kegiatan sistem teknologi informasi (Core Banking,
Opics, Trade Innovation, Swift, dll).
c. Kebenaran dan keutuhan informasi, termasuk pencatatan kewajiban bank dan
rekening administratif yang akurat, lengkap dan tepat waktu.
d. Kepatuhan terhadap kebijakan, rencana, prosedur, hukum dan peraturan,
termasuk penilaian aspek-aspek yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan
bank.
e. Pengamanan harta kekayaan.
Pelaksanaan fungsi audit pada PT Bank Mutiara Tbk dimulai dengan tahapan
perencanaan audit, persiapan audit, penyusunan pre audit, penugasan auditor,
pelaporan hasil audit (LHA) dan Daftar Monitoring Tindak Lanjut (DMTL).

Perencanaan audit dilakukan pada awal tahun untuk menentukan unit kerja yang
akan diaudit, waktu audit, tenaga yang akan mengaudit beserta fokus audit dan
kebijakan yang akan diterapkan.

Persiapan Audit diawali dengan pemilihan metode pendekatan audit seperti
penetapan sampling, tehnik pengujian, bukti minimal dan cara mendapatkannya.
Sedangkan penetapan penugasan ditetapkan oleh Kepala Divisi Internal Audit
berdasarkan saran dari Regional Head/General Audit Head untuk menentukan ketua
tim dan anggota tim serta waktu dan tujuan audit.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 28 dari 64
CPD, Mei 2011
Pemberitahuan audit dimulai dengan pembuatan surat pemberitahuan audit kepada
Unit Kerja atau Kantor Cabang tertuju, yang berisi penegasan wewenang Divisi
Internal Audit untuk melakukan audit, rencana serta tujuan, susunan ketua &
anggota tim serta informasi data-data yang dibutuhkan dalam kegiatan audit.

Penelitian pendahuluan adalah untuk mengumpulkan, menganalisis, intrepretasi dan
mendokumentasikan informasi dalam pelaksanaan audit. Selain itu diperlukan juga
luas dan tingkatan metodologi pengujian, jangka waktu pemeriksaan serta aspek-
aspek teknis termasuk data-data elektronik.

4.2.1. Pelaksanaan Audit Intern

A. Pemeriksaan Umum (General Audit)
Yaitu pemeriksaan dengan ruang lingkup aspek kegiatan operasional bank, dengan
tujuan menilai efektivitas sistem pengendalian intern terutama penilaian atas
sistem dan prosedur yang berlaku serta implementasinya. Pemeriksaan ini
dilaksanakan pada seluruh Kantor Cabang/Capem dan Divisi-Divisi Kantor Pusat.
Pada tahap awal menuju Risk Based Audit maka pada awal tahun telah digunakan
metodologi COSO Framework (5 komponen) yang meliputi:
a. Control Environment
b. Risk Assessment
c. Control Activities
d. Information & Communication
e. Monitoring

B. Pemeriksaan Khusus (Special Audit)
Yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan ruang lingkup aktivitas tertentu atas
aspek manajemen tertentu baik di Kantor Pusat maupun Kantor Cabang/Capem.
Pemeriksaan ini dilakukan menurut kebutuhan dan urgensi serta bersifat
insidentil. Pemeriksaan khusus juga dilakukan untuk meneliti adanya kasus/fraud
pada suatu unit kerja.

Audit internal bank telah melakukan special audit terhadap kasus-kasus yang
terkait dengan manajemen lama, antara lain; kasus Surat Berharga, Letter of
Credit, Biaya Fiktif dan lain-lain.

C. Pemeriksaan Pasif (On Desk Audit)
Yaitu pemeriksaan yang meliputi monitoring, penelitian dan pembuatan
rekapitulasi berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Kantor Cabang/ Capem.


4.2.2. Realisasi Audit Intern Semester Tahun 2010
Pada semester I/II tahun 2010, DIA telah melaksanakan pemeriksaan terhadap 75
obyek pemeriksaan yang terdiri dari 26 Kantor Cabang, 25 Kantor Cabang Pembantu,
dan 20 Divisi Kantor Pusat dan 3 (tiga) audit khusus. Perincian sebagai berikut:

Cabang Cabang Pembantu
No Cabang No Cabang Pembantu
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 29 dari 64
CPD, Mei 2011
1 Cabang Pasar Baru 1 Capem Pintu Kecil
2 Cabang Tanah Abang 2 Capem Tangerang
3 Cabang Srby Kertajaya 3 Capem Serpong
4 Cabang KPO Senayan 4 Capem Muara Karang Utara
5 Cabang Mdn Putri Hijau 5 Capem Pos Pengumbem
6 Cabang Klender 6 Capem Mangga Besar
7 Cabang Mksr A. Yani 7 Capem Kuningan
8 Cabang Mksr Sulawesi 8 Capem Sudirman
9 Cabang Jambi 9 Capem Bekasi
10 Cabang Muara Karang Timur 10 Capem Grand Indonesia
11 Cabang Bogor 11 Capem Tubagus Angke
12 Cabang Pekanbaru 12 Capem Kuta
13 Cabang Denpasar 13 Capem Medan Asia
14 Cabang Karawang 14 Capem Sungai Liat
15 Cabang Palembang Kebumen 15 Capem Palembang Iskandar
16 Cabang Pangkal Pinang 16 Capem Pelembang Sudirman
17 Cabang KLG Boulevard 17 Capem Jayakarta
18 Cabang Tomang 18 Capem Sunter
19 Cabang Fatmawati 19 Capem KLG Mandiri
20 Cabang Pdk Indah Metro 20 Capem Hayam wuruk
21 Cabang Pdk Indah Plaza 5 21 Capem Green Ville
22 Cabang Bandung 22 Capem Puri Indah
23 Cabang Solo Nonongan 23 Capem Cibubur
24 Cabang Yogyakarta 24 Capem Solo Palur
25 Cabang Srby Rajawali 25 Capem Srby Sudirman
26 Cabang Jkt Mangga Dua

Divisi Kantor Pusat Unit Kerja

No. Divisi/Unit Kerja No Divisi/ Unit Kerja
1 SME Division 12 Network Dev.Division
2 Corporate Funding Division 13 Mass Banking Division
3 Compliance Division 14 Corporate Secretary Division
4 Risk Management Division 15 Consumer Banking Division
5 HR Division 16 IT Division
6 Asset Management Division 17 Operation Division
7 Treasury Division 18 Corporate Culture Service
8 Int. Banking Division 19 Audit ATM
9 Legal Division 20 Audit Transaksi Derivatif
10 Account Division
11 General Affair Division

4.2.3. Temuan Pemeriksaan Audit Intern

Berikut ini kesimpulan temuan penting beberapa Cabang, Cabang Pembantu dan
Divisi di Kantor Pusat sebagai berikut:

1. Pemeriksaan pada Kantor Cabang / Capem
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 30 dari 64
CPD, Mei 2011
Pada umumnya pelaksanaan tugas dan tanggung jawab setiap kantor telah
berjalan dengan baik sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
Beberapa hal yang masih harus diperhatikan adalah belum optimal melakukan
Pengendalian Rekening Dormant.

2. Pemeriksaan pada seluruh Divisi di Kantor Pusat:
Sejak dilakukan Restruktur Organisasi mulai bulan Februari 2009, setiap Divisi di
Kantor Pusat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya telah berjalan
dengan baik, dan saat ini semua divisi sedang melakukan updating Kebijakan dan
Standard Operating Procedure (SOP). Hal yang masih perlu diperhatikan adalah:
Pembuatan dan/atau penyesuaian Kebijakan (policy) dan Prosedur (standard
operating procedure) dengan memperhatikan internal kontrol.
Pembuatan kebijakan perihal pengendalian rekening dormant.

3. Sistem Pengendalian Intern yang menyeluruh
Manajemen Bank selalu senantiasa melaksanakan sistem pengendalian intern
dengan melibatkan Internal Audit Division yang berdiri secara independen dengan
satuan kerja operasional lainnya yang memiliki tugas untuk melakukan
pemantauan dan pengawasan transaksi harian pada masing-masing unit kerja.
Untuk meningkatkan fungsi Divisi Internal Audit secara bertahap dimulai tahun
2010 telah dimulai digunakan metodologi Risk Based Audit dan setiap temuan
Audit dengan katagori Medium dan High akan ditindaklanjuti dengan terus
melakukan perbaikan design control agar risiko dapat dimitigasi dan terhadap
Kepala Unit kerja yang kurang atensinya terhadap penegendalian risiko akan
dilakukan coaching dan counseling.

4.3. Fungsi Audit Ekstern

Salah satu komponen penting dalam pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG)
adalah tersedianya laporan keuangan yang memadai serta kecukupan proses
pelaporan keuangan, sesuai dengan prinsip-prinsip keterbukaan (transparency),
akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), independensi
(independency), dan kewajaran (fairness).

Guna mendukung tercapainya laporan keuangan yang memadai dan kecukupan
proses pelaporan keuangan, maka peran Auditor Eksternal (dalam hal ini Kantor
Akuntan Publik) sangatlah penting.

Peran dan fungsi auditor eksternal antara lain adalah:
1. Memastikan kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi yang
berlaku.
2. Memastikan laporan keuangan internal sudah memenuhi ketentuan Bank
Indonesia yang berlaku tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank.

Pengungkapan informasi (disclosure) secara transparan kepada masyarakat luas
melalui Bank Indonesia, Media Cetak, YLKI, LPPI, dan sebagainya serta ditamilkan
pada Home Page atau Web Site PT Bank Mutiara Tbk, dengan alamat
www.mutiarabank.co.id .

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 31 dari 64
CPD, Mei 2011
Transparansi kondisi keuangan bank diatur dalam:
1. Peraturan Bank Indonesia No.3/22/PBI/2001 tanggal 13 Desember 2001 tentang
Transparansi Kondisi Keuangan Bank sebagaimana telah diubah dengan PBI
No.7/50/PBI/2005 tanggal 29 November 2005 perihal Perubahan Atas Peraturan
Bank Indonesia No.3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank.
2. Surat Edaran Bank Indonesia No.12/11/DPNP tanggal 31 Maret 2010 perihal
Perubahan Kedua ata Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP tanggal 14
Desember 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank
Umum serta Laporan Tertentu yang disampaikan kepada Bank Indonesia.

Implementasi penyajian dan penyusunan laporan keuangan PT Bank Mutiara, Tbk
disampaikan dalam bentuk dan cakupan sebagaimana telah ditetapkan dalam
Peraturan bank Indonesia yang terdiri dari:
Laporan Tahunan
Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan
Laporan Keuangan Bulanan
Laporan Keuangan Konsolidasi

Informasi yang tercantum dalam Laporan Keuangan Tahunan yang disajikan kepada
masyarakat luas terdiri dari :
1. Informasi umum, yang terdiri dari mengenai kepengurusan, kepemilikan,
perkembangan usaha bank dan kelompok usaha bank, stragetegi dan kebijakan
manajemen serta laporan manajemen.
2. Laporan Keuangan tahunan yang terdiri dari :
- Neraca
- Laporan Laba Rugi
- Laporan Perubahan Ekuitas
- Laporan Arus Kas
- Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi tentang komitmen dan
kontinjensi
3. Opini dari Akuntan Publik/ auditor eksternal
4. Seluruh aspek transparansi dan informasi
5. Seluruh aspek pengungkapan sesuai PSAK dan PAPI
6. Jenis risiko dan potensi kerugian yang dihadapi oleh bank
7. Informasi lainnya

Dalam menjalankan fungsi Good Corporate Governance (GCG) yaitu fungsi
transparansi kondisi keuangan, bank telah menyusun dan menyajikan laporan
keuangan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010 dan
tahun 2009 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Aryanto, Amir Jusuf,
Mawar & Saptoto.
Pada tanggal 14 April 2011 telah mendapatkan Laporan Keuangan Tahunan per 31
Desember 2010 dengan opini WAJAR TANPA PENGECUALIAN dalam semua hal yang
material.

Informasi ringkas perhitungan keuangan hasil laporan keuangan tahunan posisi
Desember 2010 dapat kami sampaikan sebagai berikut :
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 32 dari 64
CPD, Mei 2011

Laporan Keuangan
Aktiva
No Pos-Pos Tertentu 31-12-2010 31-12-2009
1 Penempatan pada BI & Bank Lain 2.074.343 448.969
2 Efek-efek Pihak Ketiga 1.570.228 1.945.673
3 Efek yang dibeli dengan janji jual kembali
Pihak Ketiga
334.120 267.501
4 Tagihan derivative Pihak Ketiga 0 9
5 Kredit 5.012.936 "#$%&#'('
6 Agunan yang diambil alih 207.122 205.226

Kewajiban dan Ekuitas
Kewajiban
No Pos-Pos Tertentu 31-12-2010 31-12-2009
1 Simpanan:
- Pihak yg mempunyai hub. istimewa
- Pihak Ketiga

29.055
8.871.745

5.448
5.944.011
2 Simpanan dari Bank lain Pihak Ketiga 363.091 315.335
3 Kewajiban derivatif Pihak Ketiga 0 32

Ekuitas
No Pos-Pos Tertentu 31-12-2010 31-12-2009
1 Modal Saham yg ditempatkan & disetor penuh 8.973.675 &#()"#*)'
2 Tambahan modal disetor 178.759 178.759
3 Uang muka setoran modal 0 0

Laba (Rugi)
No Pos-Pos Tertentu 31-12-2010 31-12-2009
1 LABA (RUGI) BERSIH 217.963 +*'#$&"
2 LABA (RUGI) PER SAHAM (dalam rupiah)
- Dasar
Saham Seri A
Saham Seri B
- Dilusian
Saham Seri A
Saham Seri B


0.3223
0.0002

0.3223
0.0002


0.3925
0.0003

0.3925
0.0003




Perhitungan Rasio Keuangan
Pos-Pos Tertentu 31-12-2010 31-12-2009
Permodalan - Rasio KPMM yang tersedia untuk Risiko
Kredit
- Rasio KPMM yang tersedia setelah
12.23%

11.16%
12.31%

10.02%
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 33 dari 64
CPD, Mei 2011
memperhitungkan Risiko Kredit, Risiko
Pasar, dan Risiko Operasional
- Aktiva Tetap terhadap Modal



41.94%


60.93%
Aktiva
Produktif
- Aktiva Produktif bermasalah
- NPL Gross
- NPL Neto
- PPAP terhadap Aktiva Produktif
- Pemenuhan PPAP Produktif
30.33%
24.84%
4.84%
28.34%
101.34%
42.08%
37.59%
9.53%
38.30%
101.90%
Rentabilitas - ROA
- ROE
- NIM
- BOPO
2.39%
39.55%
1.21%
81.65%
3.84%
402.86%
0.76%
92.66%
Likuiditas LDR


),#&*- 81.66%
Kepatuhan GWM
- Rupiah Primer / Utama
- Rupiah Sekunder
- Valas

PDN (Per posisi neraca terhadap modal
akhir tahun)


8.11%
16.25%
2.19%

14.61%

5.10%
42.08%
1.42%

131.63%
















BAB V
PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO DAN
SISTEM PENGENDALIAN INTERN

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 34 dari 64
CPD, Mei 2011
Risk Management / manajemen risiko sudah merupakan keharusan dalam proses
pengendalian potensi kerugian pada operasional perbankan. Penerapan manajemen risiko
disebuah bank telah menjadi perhatian semua pihak baik para praktisi bank sendiri,
akuntan publik serta semua pihak yang ingin mengetahui kinerja sebuah bank.

Risk Management telah melakukan peningkatan pengelolaan risiko dalam setiap aktivitas
dan penyusunan kebijakan Bank dalam mengamankan Bank atas risiko yang dihadapi
berdasarkan prinsip kehati-hatian dan praktek perbankan yang sehat.

Salah satunya yang menjadi perhatian dalam risiko operasional adalah Neraca. Neraca
PT Bank Mutiara Tbk tanggal 31 Desember 2010, Laporan Laba Rugi, dan Laporan
Perubahan Ekuitas serta Laporan Arus Kas untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut, telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik, yang gunanya untuk menyatakan
pendapat atas Laporan Keuangan PT Bank Mutiara Tbk sesuai dengan standar auditing
yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.

Beberapa bentuk penerapan manajemen risiko yang telah dilakukan adalah pengawasan
aktif dari Dewan Komisaris dan Direksi, tersedianya kebijakan, prosedur dan penetapan
limit, tersedianya proses identifikasi, pengukuran dan pemantauan dan pengendalian
risiko serta Sistem Informasi Manajemen, dan tersedianya sistem pengendalian intern yang
menyeluruh.

Berikut ini adalah beberapa aspek dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko yaitu :
a. Menindaklanjuti hasil temuan audit BI, PT Bank Mutiara Tbk sudah melakukan
pengesahan Komisaris terhadap SK Direksi No.248/Mutiara/SK-DIR/X/2010 tanggal 15
Oktober 2010 perihal Revisi Atas SK Direksi No.032.1/Mutiara/SK-DIR/XII/2009 tentang
Kebijakan Perkreditan Mutiara Bank. Selain itu Bank Mutiara juga telah membentuk
Tim Review atas Batas Wewenang Memutus Kredit.
b. Manajemen telah melakukan pembaharuan atas limit, dalam hal ini adalah Batas
Wewenang Memutus Kredit yang disesuaikan dengan kebutuhan Bank.
c. Upaya penyelesaian Kredit Bermasalah menjadi prioritas Manajemen dalam
pengelolaan NPL Bank, seperti secara proaktif memanggil debitur bermasalah untuk
meminta komitmen dalam pnyelesaian kewajibannya, khususnya terhadap debitur yang
direstrukturisasi selalu dipantau dan diingatkan agar dapat tepat waktu dalam
pembayaran kewajiban kreditnya kepada Bank.
d. Dalam rangka pengawasan aktif Direksi, Bank melaksanakan pertemuan bulanan 1
minggu sebelum akhir bulan untuk membahas NPL, serta meninjau risk issues dalam
bidang perkreditan. Aktivitas ini selanjutnya akan dibicarakan dalam rapat rutin Dewan
Komisaris dengan Direksi.
e. Sebagai wujud pengawasan aktif Dewan Komisaris, setiap bulan secara rutin dilakukan
Rapat Dewan Komisaris dan Direksi.
f. Karena adanya fluktuasi suku bunga untuk aktivitas kredit, maka Treasury dan
Pendanaan dan Instrumen Hutang mendapat perhatian serius dari Direksi sehingga
dilakukan Stress Test Potential Loss. Portofolio warisan manajemen lama merupakan
tugas yang harus diselesaikan oleh Direksi. Kebijakan yang diterapkan adalah tidak
menambah traksaksi maupun portofolio baru kecuali penempatan SUN dan SBI.
Sedangakan untuk pembiayaan perdagangan (trade finance) akan dikembangkan secara
prudent dengan melibatkan ASEI sebagai mitra kerja untuk memitigasi risiko bagi Bank.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 35 dari 64
CPD, Mei 2011
g. Bank melalui Risk Management Division terus mengelola risiko operasional dengan
melakukan review terhadap produk/aktivitas baru dan melakukan review pada
kebijakan dan prosedur yang berjalan saat ini.
h. Melakukan penyempurnaan atas kelengkapan Standard Operation Procedure (SOP) yang
dimiliki oleh Bank dan sudah disahkannya Kebijakan dan Prosedur Standar Anti
Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU & PPT).
i. Risk Management melakukan penyusunan Batas Wewenang Memutus Kredit.
j. Melakukan review atas beberapa SOP agar disesuaikan dengan PSAK 50 dan 55.
k. Dalam hal Prosedur dan Kebijakan Manajemen Risiko diberbagai aktifitas bisnis Bank,
maka dilakukan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko
serta SIM.
l. Untuk mengetahui seberapa besar risiko pasar yang akan terjadi, maka dilakukan Value
at Risk (VaR) dan juga untuk melakukan perhitungan Penyediaan Modal Minimum Risiko
Operasional dengan menggunakan Basic Indikator Approach (BIA).
m. Apabila dalam proses pengawasan terjadi risiko yang dapat membahayakan
kelangsungan usaha Bank, Direksi akan segera mengelola dan mengendalikan risiko agar
tidak merugikan Bank secara keseluruhan.
n. Manajemen Bank selalu senantiasa melaksanakan sistem pengendalian intern dengan
melibatkan Internal Audit Division yang berdiri secara independen dengan satuan kerja
operasional lainnya yang memiliki tugas untuk melakukan pemantauan dan pengawasan
transaksi harian pada masing-masing unit kerja.


Ringkasan komposit profil risiko berdasarkan Risiko Inheren per Desember 2010

A. Ringkasan Komposit Profil Risiko berdasarkan Risiko Inheren dan Risk Control
System per Desember 2010.

Desember 2010 September 2010
No
Jenis
Risiko Tingkat Risiko Trend Tingkat Risiko Trend


1 Kredit Moderate to High-Acceptable Tetap Moderate to High-Acceptable Menurun
2 Pasar Moderate to High-Acceptable Tetap Moderate to High-Acceptable Meningkat
3 Operasional Low to ModerateAcceptable Tetap Low to Moderate-Acceptable Menurun
4 Likuiditas Moderate Acceptable Menurun Moderate to High-Acceptable Menurun
5 Strategi Moderate Acceptable Tetap Moderate-Acceptable Meningkat
6 Kepatuhan Moderate Acceptable Meningkat Low to Moderate-Acceptable Menurun
7 Hukum Moderate to HighAcceptable Tetap Moderate to High-Acceptable Meningkat
8 Reputasi Moderate Acceptable Meningkat Low to Moderate-Acceptable Menurun
Rekap komposit
profil risiko
berdasarkan
jenis risiko
Moderate-Acceptable Moderate-Acceptable


B. Ringkasan Komposit Profil Risiko berdasarkan Aktifitas Fungsional per Desember
2010.

Desember 2010 September 2010 N
o
Jenis Risiko
Tingkat Risiko Skor Rating Tingkat Risiko Skor Rating
1 Perkreditan Moderate 0.45 Moderate 0.54
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 36 dari 64
CPD, Mei 2011
2 Treasury & Investasi Moderate 0.47 Moderate 0.58
3 Operasional & Jasa Moderate 0.43 Moderate 0.44
4 Pembiayaan Perdagangan Moderate 0.49 Moderate 0.47
5 Pendanaan & Instr. Hutang Moderate to High 0.75 High 0.85
Rekap komposit profil risiko
berdasarkan aktifitas fungsional
Moderate Moderate

C. Uraian singkat mengenai tingkat dan trend profil risiko.
Berdasarkan hasil pengukuran atas Profil Risiko periode Desember 2010 terhadap
delapan jenis risiko dan setelah mengevaluasi Risk Control System, maka hasil Risiko
Komposit berada pada posisi Moderate-Acceptable. Walaupun risiko komposit relatif
baik, Manajemen Bank Mutiara secara terus menerus mengupayakan perbaikan-
perbaikan dalam rangka memitigasi risiko yang dihadapi.

Selanjutnya, secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :

I. Risiko Kredit, pada posisi yang Moderate to High dengan parameter penilaian
sebagai berikut :

Perkreditan
- NPL (gross) per-Desember 2010 tercatat sebesar 24.84% (Sept 2010 sebesar
31.46%), terjadi penurunan gross NPL. Secara nominal telah terjadi penurunan
kredit bermasalah yang diikuti dengan terjadinya peningkatan kredit yang
diberikan bial dibandingkan dengan bulan September 2010. Sedangkan NPL (net)
sebesar 4.84% (Sept 2010 sebesar 4.91%).
- Rasio AYDA per Desember 2010 sebesar 8.33%, dibandingkan per Sept 2010 tercatat
sebesar 9.33%, penurunan rasio diakibatkan pertumbuhan outstanding kredit.
- Debitur inti (25 Debitur) tidak terkait dibagi dengan total kredit sebesar 41% (Sept
2010 sebesar 33.02%, 15 Debitur).
- Pelaksanaan Crash Program, kebijakan ini merupakan kebijakan di bidang
perkreditan sebagai upaya untuk menahan meningkatnya NPL yang disebabkan
terlambatnya proses perpanjangan jangka waktu kredit.
- PPAP Kredit Desember 2010 sebesar 103.98% (Sept 2010 sebesar 109.85%),
pencadangan kredit dalam hal ini sudah dalam posisi yang memdai.

Treasury & Investasi
- Non Performing Surat Berharga per-Desember 2010 tercatat sebesar 45.85%
(September 2010 sebesar 47.59%)
- Non Performing Penempatan per-Desember 2010 tercatat sebesar 0.05%
(September 2009 sebesar 0.09%)
- PPAP Treasury sudah berada pada posisi yang memedai sebesar 100.00%.



Fasilitas Pembiayaan Perdagangan
- Non Performing Trade Finance per-Desember 2010 tercatat sebesar 99.6%
(September 2010 sebesar 47.59%)
- PPAP Trade Finance sebesar 100.06%, dalam hal ini sudah dalam posisi yang
memadai.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 37 dari 64
CPD, Mei 2011
Risk Control Management
1) Berdasarkan parameter tersebut diatas risiko kredit relatif tinggi (inheren risk)
kondisi tersebut akan berdampak terhadap risiko likuiditas, risiko pasar dan risiko
operasional mengingat aktiva produktif perkreditan kurang maksimal memberikan
pendapatan bunga.
2) Menindaklanjuti hasil temuan audit Bank Indonesia, maka Bank Mutiara sudah
melakukan pengesahan komisaris terhadap Surat Keputusan Direksi
No.248/Mutiara/SK-DIR/X/2010 tanggal 15 Oktober 2010 perihal Revisi atas Surat
Keputusan Direksi No.032.1/Mutiara/SK-DIR/XII/2009 tentang Kebijakan
Perkreditan Mutiara Bank. Selain itu Bank Mutiara juga telah membentuk Tim
review Pedoman Pelaksanaan Kredit PT Bank Mutiara Tbk.
3) Manajemen terlibat dalam penyusunan kebijakan dan Standard Operation
Procedure Bank, yang secara berkelanjutan melakukan review atas kebijakan dan
prosedur. Manajemen telah melakukan revisi atas Batas Wewenang Memutus
Kredit.
4) Manajemen telah melakukan pembaharuan atas limit dalam hal ini adalah Batas
Wewenang Memutus Kredit yang disesuaikan dengan kebutuhan Bank.
5) Direksi terus berupaya mempercepat proses kredit dan pelayanan kepada Nasabah,
mengingat persaingan perbankan yang semakin ketat, dalam hal ini, Manajemen
mengeluarkan nota pemberian kredit untuk kredit yang menggunakan jaminan
Deposito secara Back to Back.
6) Upaya penyelesaian kredit bermasalah menjadi prioritas Manajemen dalam
pengelolaan NPL Bank, seperti secara proaktif memanggil debitur bermasalah
untuk meminta komitmen dalam menyelesaikan kewajibannya, khususnya terhadap
debitur yang telah direstrukturisasi selalu dipantau dan diingatkan agar tepat
waktu dalam pembayaran kewajiban kreditnya kepada Bank.
7) Dalam perbaikan proses keputusan kredit, telah dilaksanakan Rapat Komite Kredit,
dimana penyelenggaraannya berdasar limit dari masing-masing pemegang
keputusan.
8) Dalam rangka pengawasan aktif Direksi, Bank melaksanakan pertemuan bulanan 1
minggu sebelum akhir bulan untuk membahas NPL, serta meninjau risk issues
dalam bidang perkreditan. Aktivitas ini selanjutnya akan dibicarakan dalam rapat
rutin Dewan Komisaris dengan Direksi.
9) Sebagai wujud pengawasan aktif Dewan Komisaris, setiap bulan secara rutin
dilakukan Rapat Dewan Komisaris dan Direksi.


II. Risiko Pasar, pada posisi Moderate To High dengan parameter penilaian
sebagai berikut :

Perkreditan
- Coverage potensial loss karena fluktuasi nilai tukar per-Desember 2010 tercatat
sebesar 156.82% (Sept 2010 sebesar 180.55%).
- Coverage potensial loss karena fluktuasi suku bunga per- Desember 2010 tercatat
sebesar 29.24% (Sept 2010 sebesar 41.20%)

Treasury & Investasi
- Volatilitas suku bunga per jangka waktu Desember 2010 tercatat sebesar 107.90%
(Sept 2010 sebesar 121.95%).
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 38 dari 64
CPD, Mei 2011
- Coverage potensial loss karena fluktuasi nilai tukar per- Desember 2010 tercatat
sebesar 40.28% (Sept 2010 sebesar 36.31%).
- Coverage potensial loss karena fluktuasi suku bunga sebesar 82.91% (Sept 2010
sebesar 160.59%).

Fasilitas Pembiayaan Perdagangan
- Potensial loss karena fluktuasi nilai tukar per-Desember 2010 sebesar 81.39% (Sept
2010 sebesar 84.83%).
- Potensial loss karena fluktuasi suku bunga per-Desember 2010 sebesar 381.77 %
(Sept 2010 sebesar 474.33%).

Pendanaan & Instrumen Hutang
- Potensial loss karena fluktuasi nilai tukar per- Desember 2010 sebesar 91.49% (Sept
2010 sebesar 72.01%)
- Potensial loss karena fluktuasi suku bunga per- Desember 2010 sebesar 20,93 %
(Sept 2010 sebesar 25.25%)

Risk Control Management :
1) Stress test potensial loss risiko karena fluktuasi suku bunga untuk aktivitas kredit,
treasury dan pendanaan & instrumen hutang mendapat perhatian yang serius dari
Direksi. Portofolio eksisting warisan manajemen lama merupakan tugas yang harus
diselesaikan oleh Direksi. Kebijakan yang diterapkan adalah tidak menambah
transaksi maupun portfolio baru kecuali penempatan pada SUN dan SBI. Sedangkan
untuk aktivitas pembiayaan perdagangan (trade finance) akan dikembangkan
secara prudent dengan melibatkan ASEI sebagai mitra kerja untuk memitigasi risiko
bagi Bank.
2) Melalui SK Direksi 023/Mutiara/SK-HRD/II/10, tgl.16-02-2010 telah dibentuk Tim
(PIC) Implementasi software OPICS sebagai sistem pendukung aktivitas Treasury
Division.

III. Risiko Operasional, pada posisi Low To Moderate dengan parameter penilaian
risiko lainnya terhadap aktifitas operasional adalah sebagai berikut:
- ROA per-Desember 2010 tercatat sebesar 2.39% (Sept 2010 sebesar 1.13%)
- ROE per-Desember 2010 tercatat sebesar 39.55% (Sept 2010 sebesar 18.27%)
- BOPO per-Desember 2010 tercatat sebesar 81.65% (Sept 2010 sebesar 90.26%)
- Pada tanggal 03 Desember 2010, dan tanggal 06 desember 2010, terjadi Sistem
RTGS down, permasalahan ini perlu mendapatkan perhatian dari unit kerja terkait,
sehingga hal tersebut tidak akan terulang kembali.
- Tanggal 28 Desember 2010 Bank Mutiara Cabang Sudirman melakukan ekspor
Banknotes, dan berdasarkan hitungan yang dilakukan UOB Singapore, terdapat
selisih sebesar AUD 100. Setelah dilakukan pembahasan, dan sesuai dengan arahan
dari Direksi dan EVP, agar sebagai tindakan corrective maka perlu dibuatkan SOP
untuk mitigasi risiko dengan dibuatkan penalti atas kesalahan tersebut.

Risk Control Management ;

1) Melaksanakan pengujian Disaster Recovery Plan (DRP) secara berkesinambungan,
dimana tujuan dari program tersebut adalah meningkatkan koordinasi antara
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 39 dari 64
CPD, Mei 2011
bagian-bagian terkait apabila terjadi krisis, pengujian DRP dilakukan pada tanggal
19 Juni 2010.
2) Perubahan struktur organisasi pada bulan November adalah dalam rangka
memaksimalkan sumber daya manusia dan memenuhi tuntutan untuk mencapai
tujuan bisnis Bank. Perubahan tersebut dilakukan melalui Surat Keputusan
Bersama Direksi dan Komisaris PT. Bank Mutiara, Tbk No. 193/SK-
Dir/Mutiara/XI/10 tanggal 15 November 2010 tentang Struktur Organisasi PT. Bank
mutiara, Tbk.
3) Menekan fraud dan merencanakan audit rating serta Risk Control Self Assessment
(RCSA) sudah diterapkan pada Triw.II sesuai pengarahan Direksi pada launching
Struktur organisasi baru.
4) Bank melalui Risk Management Division terus mengelola risiko operasional dengan
melakukan review terhadap produk / aktivitas baru dan melakukan review pada
kebijakan dan prosedur yang berjalan saat ini.
5) Melakukan penyempurnaan atas kelengkapan Standard Operation Procedure yang
dimiliki oleh Bank, antara lain SOP International Banking Division, SOP Delivery
Channel ATM, SOP Call Center, SOP Human Resources Division, SOP Information
Technology Division, serta sudah disahkannya Kebijakan dan prosedur Standar Anti
Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT).

IV. Risiko Likuiditas, pada posisi Moderate dengan parameter penilaian sebagai berikut:
- Bank masih memiliki SUN /FTC yang cukup dan likuid pada struktur aset bank dan
bank masih memiliki akses pinjaman di Pasar Uang Antar Bank (PUAB).
- Pemenuhan GWM Rupiah (8,11&) dan Valas (2,19%) sesuai ketentuan BI yang
berlaku.
- Penanganan Risiko Likuiditas yang membaik oleh Direktorat Treasury.
- Rasio dana murah bila dibandingkan dengan dana mahal sebesar 13,15%. Perlu
dilakukan perbaikan komposisi dana, dengan meningkatkan komposisi dana murah.
- Rasio LDR untuk posisi Desember 2010 sebesar 70,86%.

Risk Control Management
1) Untuk memperketat monitoring likuiditas, dilakukan penyelenggaraan Rapat ALCO
secara berkala, dimana selalu dilakukan Rapat Working Group ALCO terlebih
dahulu. Berikut adalah penyelenggaraan Rapat ALCO yang dilaksanakan antara
periode September 2010 sampai dengan Desember 2010.

2010 Working Group
ALCO
Rapat ALCO
September 29 September 2010 8 Oktober 2010
Oktober 18 November 2010 --
November 15 Desember 2010 16 Desember 2010
Desember 7 januari 2011

2) Sejak manajemen baru Direksi sangat memperhatikan risiko tinggi terhadap
konsentrasi dana pada deposan inti , konsentrasi j.waktu dana < 3 bulan , 1-month
maturity mismatch ratio, dengan cara memberikan rewards & intensif bagi cabang
yang dapat meningkatkan deposan, Number of account (NOA) untuk sumber dana
murah (low cost fund) dalam hal ini giro dan tabungan (Catatan : Terakhir
persetujuan Direksi pada Memo NDD No.079/Memo/ NDD/IV/2010, tgl.14-04-2010)
3) Sedangkan untuk porfolio asset marketability yang kurang baik akan dikurangi.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 40 dari 64
CPD, Mei 2011
V. Risiko Hukum, pada posisi Moderate To High dengan parameter penilaian sebagai
berikut :
- Jumlah perkara yang saat ini ditangani oleh Legal Division terdiri dari 15 kasus
perdata (dengan Bank Mutiara menjadi penggugat sebanyak 1 kasus, dan Bank
Mutiara sebagai tergugat sebanyak 14 kasus), dan untuk kasus pidana sebanyak 24
kasus, dan untuk kasus Hak Tanggungan yang ditangani oleh Asset management
Division berjumlah 5 kasus.
- Penanganan Kasus Hukum terorganisasi dengan baik dengan ditunjuknya konsultan
hukum yang dibantu secara langsung oleh Divisi Legal.
- Kerjasama yang baik dengan Instansi terkait seperti Bareskrim untuk menangani
kasus-kasus perbankan yang mengarah pada tindakan pidana.
- Kemajuan pendekatan penanganan kasus hukum, dengan memanggil para Debitur
Bermasalah untuk dilakukan negosiasi ulang sehingga debitur bersedia
menyerahkan agunan tambahan.
- Kasus hukum yang dihadapi didominasi dari bidang perkreditan, dan bidang
operasional.
- Berkaitan dengan hasil keputusan Pengadilan Tinggi Zurich, Swiss No. NL 100047/U
tanggal 29 Oktober 2010 bahwa dikabulkannya permohonan dari LGT Bank untuk
menitipkan dana Security deposit USD.156.228.182,-. Bank Mutiara diberikan
tenggat waktu 60 (enam puluh) hari untuk memulai upaya hukum sebagai
penggugat.

Risk Control Management;
1) Manajemen menyikapi secara serius pengawasan bidang hukum.
2) Pengawasan aktif manajemen dalam bidang hukum dilakukan secara bulanan
(monthly review) seperti monitoring potensi kerugian terhadap laba :

(dalam jutaan rupiah)


VI. Risiko Reputasi, pada posisi Moderate dengan parameter penilaian sebagai berikut :
- Indeks persepsi publik terhadap Bank Mutiara pada periode Desember 2010 berada
pada area medium, yaitu pada level 5.727,56. Posisi indeks ini meningkat dari
periode September 2010 yang berada di level 5.611,08.
- Peningkatan indeks juga dipicu oleh pemberitaan positif seputar pencapaian
kinerja positif Bank Mutira pada tahun 2010 seperti restrukturisasi kredit,
peningkatan dan recovery aset, pertumbuhan DPK, penurunan NPL serta proyeksi
pertumbuhan bisnis Bank Mutiara pada tahun 2011 yang sangat mendominasi pada
periode ini. Pemberitaan positif lainnya mengenai bantuan fasilitas MCK dan
pemberian hewan kurban kepada korban letusan Merapi.
- Berita positif lainnya seputar perpindahan kantor pusat bank Mutiara ke lokasi
strategis dari segi bisnis, dua mantan pemilik Bank Century dituntut 2 tahun
penjara karena terbukti melakukan tindak pidana perbankan, serta upaya
Bulan Oktober November Desember
Laba Tahun Berjalan 76,100.42 141,592.25 205,775.98
Potensi Kerugian 4,418,601.46 2,534,625.79 2,340,846.84
Probability of Default 50% 50% 50%
Total Potensi Kerugian (TPK) 2,209,300.73 1,267,312.90 1,170,423.42
Rasio TPK/Laba 2903.14% 895.04% 568.79%
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 41 dari 64
CPD, Mei 2011
pengejaran aset bank Century yang berada di luar negeri, perayaan natal bersama
nasabah, penyelesaian kasus Antaboga yang diminta untuk menunggu skema dari
LPS, dan dukungan Bank Mutiara terhadap rencana audit forensik Bank Century.
- Adapun berita netral pada periode ini terkait besarnya dana yang diperlukan untuk
melakukan audit forensik Bank Century, dan diperpanjangnya masa kerja timwas
Bank Century, serta pembacaan vonis untuk Hesham dan Rafat.
- Peningkatan indeks menjadi tertahan pada periode ini karena munculnya berita
bernada negatif tentang dikabulkannya gugatan nasabah Antaboga terhadap Bank
Mutiara oleh PN Solo.
- Sebagian besar nasabah yang menghubungi call center bank hanya menanyakan
saldo (89.5 %), kurs (3.3%), produk (0.7%), permasalahan ATM (2.4%), informasi
umum (3.1%), dan Saran & keluhan (0.9%).
- Membuka dan mengadakan ruangan Mutiara Priority dengan tujuan untuk memberi
kenyamanan terhadap nasabah prioritas dengan dana yang disimpan diatas Rp. 500
juta.

Risk Control Management
1) Untuk meningkatkan monitoring bidang risiko reputasi, Direksi telah menunjuk
Triliant Communication sebagai consultant bidang media dalam rangka menjaga
independensi dalam pengumpulan data publikasi.
2) Direksi secara langsung terlibat dalam rangka peningkatan reputasi bank, seperti
terlibat dalan pelaksanaan Customer gathering, penyampaian kepada media
mengenai kinerja Bank.
3) Keberhasilan Manajemen dalam mengelola reputasi Bank dapat dicatat
pengaruhnya terhadap kenaikkan total DPK sebagai berikut :

Th.2010 September Oktober November Desember
Perception Index Level 5.611,08 5.656,81
5.709,66 5.727,56
Total DPK (Rp.Jt) 7,749,935.35 7,946,292.94
8.032.769.74 8,900,800.97


VII. Risiko Strategi, pada posisi Moderate dengan parameter penilaian sebagai berikut :

- Realisasi pemberian kredit sampai dengan Desember 2010 sebesar Rp. 6.307.253
juta atau 85% dari target bulan Desember (Rp. 7.388.994 juta).
- Realisasi penyelesaian kredit bermasalah untuk Desember 2010 sebesar Rp.
331.761 juta atau 654% dari target bulan Desember (Rp. 50.692 juta).
- Pencapaian Target Laba sebesar 75% (Target untuk bulan Desember Rp. 273.391
juta realisasi sebesar Rp. 205.776 juta)
- Untuk realisasi DPK untuk Deposito Rupiah, dan giro rupiah sudah mencapai target,
sedangkan untuk DPK lainnya masih belum memenuhi target yang ditetapkan.
- Turnover karyawan pada posisi inti perlu menjadi perhatian, karena akan
mempengaruhi kinerja Bank dalam mencapai target.
- Dalam rangka menetapkan program kerja dan target kerja tahun 2011, Bank
Mutiara mengadakan Rapat Kerja yang digelar di Gunung Geulis Ressort, Puncak,
Bogor.
- Memindahkan kedudukan Kantor Pusat yang semula di Gedung Sentral Senanyan
menjadi di Barclays House Sudirman, dan memindahkan Kacntor Cabang Senayan
menjadi Kantor Cabang Sudirman.

Risk Control Management
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 42 dari 64
CPD, Mei 2011

1) Rencana Bisnis Bank Tahun 2010 2012 yang digunakan sebagai rencana strategis
dan dijadikan Key Performance Indikator untuk masing-masing unit kerja dan
dievaluasi secara bulanan (monthly review).
2) Melakukan Reorganisasi Struktur Organisasi yang disesuaikan dengan kompleksitas
dan kebutuhan Bank per April 2010, yang kemudian disempurnakan pada bulan
November 2010, melalui Surat Keputusan Bersama Direksi dan Komisaris PT. Bank
Mutiara, Tbk No. 193/SK-Dir/Mutiara/XI/10 tanggal 15 November 2010 tentang
Struktur Organisasi PT. Bank mutiara, Tbk.
3) Pada Bulan Juni Bank Mutiara telah melakukan revisi atas Rencana Bisnis Bank
dengan menyesuaikan target-target yang ingin dicapai, sehingga target menjadi
lebih realistis dari kondisi yang dihadapi.
4) Bank terus melakukan penyempurnaan dan penyusunan atas kebijakan-kebijakan
Bank dan pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.
5) Pembahasan produk dan aktivitas baru secara seksama baik dari sisi risiko,
kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, dan rencana kerja pendukung selalu
dipantau dengan baik oleh Direksi
6) Transformasi budaya kerja SPIRIT (Service Excelent, Professionalism, Integrity,
Relationship, Innovative, dan Trust) yang diimplementasikan secara
berkesinambungan. Agar pelaksanaan budaya kerja ini dapat menyentuh semua
lini, maka dibentuklah Agent of Change yang dijadikan sebagai panutan sekaligus
mengkoordinir penerapan budaya pada masing-masing unit. Penerapan budaya
kerja tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas kerja pegawai serta dapat
mendorong penerapan standar etika yang tinggi.
7) Melakukan pengembangan dan implementasi sistem yang akan digunakan untuk
menerapkan PSAK 50 dan 55. Manfaat dari rencana strategis ini adalah dapat
memberikan laporan keuangan yang telah memenuhi standar regulasi yang
ditetapkan.
8) Melakukan relokasi Cabang, relokasi tersebut ditujukan untuk mendapatkan
tempat yang lebih baik, sehingga dapat memberikan pelayanan terbaiknya kepada
nasabah, sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwa Bank Mutiara akan
terus maju dan berkembang


VIII. Risiko Kepatuhan, pada posisi Moderate dengan parameter penilaian sebagai
berikut:

- Mengingat PBI No.11/19/PBI/2009 tentang Sertifikasi Manajemen Risiko bagi
pengurus dan pejabat Bank Umum, PBI No.12/7/PBI/2010 tentang perubahan atas
PBI No.11/19/PBI/2009 tentang sertifikasi manajemen risiko bagi pengurus dan
pejabat Bank umum, bahwa paling lambat tanggal 3 Agustus 2011 kewajiban bagi
pejabat bank untuk memiliki Sertifikasi Manajemen Risiko yang ditetapkan dalam
PBI tersebut diatas harus dipenuhi.
- Pada triwulan IV, Bank Indonesia telah mengeluarkan beberapa Peraturan Bank
Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia, untuk itu perlu menjadi perhatian dari
unit kerja terkait.
- Pelaksanaan sosialisasi Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan
Terorisme (APU dan PPT) dilaksanakan secara rutin oleh Compliance Division.
Pelaksanaannya sudah diterapkan dengan baik.
- Implementasi Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan
PPT) sudah diterapkan dengan cukup baik.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 43 dari 64
CPD, Mei 2011
- CAR sebesar 10,63% sudah memenuhi ketentuan.
- Masih terdapat pelampauan BMPK

Risk Control Management :

Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh Manajemen untuk menghadapi Risiko
Kepatuhan adalah :
1) Manajemen selalu melakukan pemantauan terhadap Kepatuhan Bank melalui
Laporan yang disampaikan secara rutin setiap bulannya oleh Compliance Division.
2) Melakukan Reorganisasi dimana memisahkan antara Legal Division dengan
Compliance Division, sehingga pelaksanaan kinerja dari Compliance Division dapat
lebih optimal.
3) Melakukan penyusunan Kebijakan Kepatuhan yang sudah ditetapkan melalui SK
Direksi No. 017/Mutiara/SK-Dir/III/2010, selain itu Manajemen juga telah
menyusun SOP Kepatuhan, sehingga dapat dijadikan sebagai suatu pedoman kerja
bagi Compliance Division.
4) Mendorong dan memonitor action plan dalam mengatasi pelampauan BMPK secara
bulanan
5) Penerapan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan
PPT) sejalan dengan buku Kebijakan dan Prosedur APU dan PPT, serta adanya
proyek pengkinian data (Cleansing data), dan penyelesaian CIF ganda, dengan
dibentuk Tim untuk menangani hal tersebut melalui SK Direksi No. 143/SK-
Dir/Mutiara/VI/2010. Secara berkesinambungan melakukan Cleansing data dan
penyelesaian CIF ganda tersebut.
6) Melakukan sosialisasi terkait dengan kepatuhan kepada Cabang dan unit kerja
lainnya sejalan dengan Buku Kebijakan Kepatuhan (Compliance Policy) PT. Bank
Mutiara, Tbk.
7) Melakukan penyusunan action plan sebagai persiapan untuk Peraturan Bank
Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan program Anti Pencucian Uang
dan Pencegahan Pendanaan Teroris bagi Bank Umum.
8) Melakukan penyesuaian terhadap buku Kebijakan Tata Kelola Perusahaan Yang
Baik dalam rangka penerapan Good Corporate Governance / GCG.


REKOMENDASI RISK MANAGEMENT DIVISION

1. Mitigasi Risiko Kredit
Perlu diperhatikan penyebaran segmentasi kredit yang saat ini dominan berada
pada segmen Corporate, kedepan perlu dipikirkan bagaimana agar penyebaran
sesuai dengan Rencana Bisnis Bank sebagaimana telah disampaikan ke Bank
indonesia.
Melakukan review/peninjauan kembali atas Service Level Agreement dari
pelayanan permohonan kredit existing maupun kredit baru.
Memaksimalkan penggunaan Nota Analisa Kredit (NAK) sesuai Prinsip Kehati-
hatian dengan melengkapi parameter Risk Acceptance Criteria (RAC).
Meningkatkan sistem pengawasan dalam hal deteksi atas potensi penurunan
kualitas kredit, penanganan watch list untuk kolektibilitas 2 (dua).
Mengoptimalkan fungsi Asset Management Division untuk melakukan recovery atas
asset.
Meningkatkan upaya penjualan AYDA dengan harga yang paling mnguntungkan,
sehingga dapat meningkatkan kualitas aset bank yang produktif.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 44 dari 64
CPD, Mei 2011
Meneruskan upaya perbaikan Pedoman / SOP Perkreditan dengan prinsip kehati-
hatian dan yang sejalan dengan pengendalian risiko.
Mendorong pembentukkan unit kerja supervisi kredit pada Divisi Kredit untuk
mengetahui perkembangan portfolio kredit dan kolektibilitasnya.
Meningkatkan kompetensi bidang perkreditan bagi pegawai / pejabat yang terlibat
dalam proses dan pemutusan kredit.
Mengingat Peraturan Bank Indonesia No. 12/19/PBI/2010, dimana diatur bahwa
mulai tanggal 1 Maret 2011, ketentuan mengenai LDR sudah berlaku (batas bawah
LDR adalah 78%, dan batas atas LDR adalah 100%), untuk itu perlu dilakukan
penyesuaian antara ekspansi pemberian kredit dengan Dana pihak ketiga dengan
tetap memperhatikan prinsip prudential banking, sehingga LDR minimum dapat
dikelola dengan baik.

2. Mitigasi Risiko Pasar
Meningkatkan MIS bidang Treasury agar dapat mendukung data base / data historis
yang dibutuhkan untuk perhitungan risiko (VaR, Limit & Hedging dll).
Meningkatkan transaksi bank note dan memperluas limit di pasar uang antar bank.
Menerapkan limit transaksi sesuai dengan Standard Operation Procedure yang telah
disetujui Direksi.

3. Mitigasi Risiko Likuiditas
Memperbaiki komposisi Funding sehingga dapat lebih meningkatkan komposisi dana
murah.
Menerapkan pelaksanaan LCP (Liquidity Contingency Plan) apabila terjadi krisis
likuiditas.
Optimalisasi penempatan aset bank yang berbasis natural liqudity (asset likuid
yang terbaik) dan marketability asset.
Membuat tools yang dapat dipergunakan untuk memantau Risiko Likuiditas.
Memperbaiki penyebaran DPK agar tidak terkonsentrasi pada Deposan inti.

4. Mitigasi Risiko Operasional

Memperbaiki sistem informasi sehingga pelaporan dapat tepat waktu dan akurat.
Melakukan efisiensi untuk segala aktivitas, sehingga dapat menekan biaya
operasional.
Optimalisasi Sistem Informasi Manajemen pada sisi Core Banking, OPICS, Trade
Innovation.
Peningkatan kualitas dan keahlian pegawai dengan meningkatkan frekuensi
pelatihan internal.
Malakukan penyempurnaan SOP dan implementasi sistem dalam rangka
implementasi PSAK 50/55.
Optimalisasi sistem core banking yang ada untuk penerapan action plan APU &
PPT, serta pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan reguler yang berkala pada seluruh
kantor dan unit kerja terkait.
Meningkatkan peran supervisi pada setiap aktivitas operasional.

5. Mitigasi Risiko Hukum
Terkait dengan hasil keputusan Pengadilan Tinggi Zurich, Swiss tanggal 29 Oktober
2010 yang mengabulkan permohonan LGT Bank untuk menitipkan dana security
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 45 dari 64
CPD, Mei 2011
deposit , kiranya dapat dipertimbangkan untuk melakukan upaya hukum lebih
lanjut / dikonsultasikan kepada konsultan hukum.
Dapat juga dipertimbangkan melakukan upaya hukum sesuai dengan tempat
kedudukan Tarquin (di Cayman Island) melalui jasa lawyer setempat.
Dilakukan penanganan kasus hukum secara maksimal dengan prioritas yang
berpotensi besar untuk dimenangkan.
Dalam hal kasus-kasus yang memerlukan penanganan khusus, perlu dilakukan
konsultasi dengan pihak konsultan hukum.
Pengawasan dan pemantauan atas perjanjian pengikatan agunan agar risiko Bank
dapat dimitigasi.
Optimalisasi proses litigasi agar hasil keputusan di Pengadilan dapat menghasilkan
target positif dan menguntungkan posisi Bank.
Mencadangkan biaya untuk keperluan litigasi action.
Agar selalu dilakukan review terhadap kontrak-kontrak atau perjanjian-perjanjian
secara berkala, baik kontrak yang terkait dengan nasabah, debitor maupun dengan
pihak ketiga.

6. Mitigasi Risiko Reputasi
Melakukan upaya pemulihan image Bank, dengan menginformasikan perbaikan
kinerja dan upaya yang dilakukan Manajemen untuk mempertahankan
kelangsungan usaha.
Kerjasama dengan mitra binis perlu terus dipublikasikan agar persepsi positif
terhadap perseroan semakin kuat.
Perlu dipersiapkan program komunikasi strategis terkait rencana DPR untuk
meminta keterangan LPS dalam penyusunan rencana Audit Forensik.
Program komunikasi strategis terkait tuntutan DPR agar bank mutiara memberikan
laporan ke LPS mengenai nasabah Antaboga perlu dipersiapkan untuk
mengantisipasi munculnya berita bernada negatif.
Perlu dipersiapkan program komunikasi strategis terkait gugatan nasabah Antaboga
terhadap Bank Mutiara di PN Solo dan gugatan yang diajukan WestLB di PN Jakarta
Pusat untuk mengantisipasi munculnya berita bernada negatif.
Melaksanakan event-event yang memungkinkan Bank Mutiara untuk selalu dekat
dengan nasabahnya.
Meningkatkan kemampuan staf & pejabat di Divisi Corporate Secretary agar risiko
reputasi tetap dapat terkontrol dengan baik.
Optimalisasi koordinasi jalinan informasi oleh Divisi Corporate Secretary dengan
pihak media dan nasabah.
Penanganan secara khusus terhadap berita-berita dan opini negatif dari media
massa yang berkaitan produk antaboga, sebagai upaya penyeimbang informasi bagi
stakeholders, dan meminimalisasi boundary risk lainnya seperti risiko likuiditas,
hukum, kredit, dan operasional.
Mengimplementasikan SERBU Excellent dan mensosialisasikan SPIRIT tidak terbatas
pada unit kerja Kantor Wilayah, dan Cabang, tetapi juga kepada unit kerja Divisi
di Kantor Pusat.
Pengembangan program-program promosi.

7. Mitigasi Risiko Strategik
Segera mengisi jabatan-jabatan yang kosong pada setiap unit kerja sesuai dengan
struktur yang ada pada unit kerja yang bersangkutan.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 46 dari 64
CPD, Mei 2011
Pengembangan rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang yang
senantiasa dikaji ulang disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi Bank.
Melakukan pemantauan atas pencapaian target-target yang ditentukan Bank.
Revisi atas Rencana Bisnis Bank agar realistis dengan pencapaian target bank.
Pengkajian dan penilaian rasio BOPO di Kantor Cabang dan Kantor Pusat.
Penetapan analisa cost & benefit, kepada seluruh produk dan layanan Bank agar
dapat mendukung program kerja pencapaian target laba, sehingga tidak
membebani keuangan Bank.
Relokasi atas Cabang yang memiliki kinerja kurang baik dan lokasinya yang kurang
strategis.
Pembukaan Cabang baru dimana memiliki tempat yang prospektif guna
meningkatkan pelayanan kepada nasabah.
Pelaksanaan program CSR dalam rangka memberikan manfaat bagi pihak Bank dan
masyarakat.
Optimalisasi Komite dan Working Group untuk mempermudah dalam pengambilan
keputusan.

8. Mitigasi Risiko Kepatuhan
Mengingat masih adanya pelampauan BMPK, maka perlu dicarikan solusi bagaimana
menurunkan pelampauan ini secara bertahap. Sehingga dapat menurunkan risiko
kepatuhan.
Agar selalu diperhatikan ketentuan mengenai Posisi Devisa Netto, hal ini
mengingat denda bila terjadi pelanggaran per hari sangat besar (berdasarkan
Peraturan Bank Indonesia No. 12/10/PBI/2010).
Peningkatan fungsi unit kepatuhan untuk melakukan uji kepatuhan atas setiap
regulasi, baik ketentuan internal maupun eksternal, termasuk pemantauan
kepatuhan Bank atas penyampaian laporan-laporan kepada pihak eksternal.
Monitoring pengkinian data nasabah oleh unit kepatuhan.
Secara berkesinambungan melakukan sosialisasi APU & PPT, serta Peraturan Bank
Indonesia terbaru.
Membangun budaya patuh terhadap semua peraturan & kebijakan terutama yang
ditetapkan oleh regulator/eksternal maupun internal, sehingga bank akan tumbuh
dengan sehat dan menguntungkan.
Mengingatkan, mempersiapkan pejabat-pejabat yang belum memenuhi kualifikasi
sertifikasi manajemen risiko yang diharuskan sesuai ketentuan, untuk segera
mengikuti ujian sertifikasi manajemen risiko.





BAB VI
PENYEDIAAN DANA, RENCANA STRATEGIS BANK, TRANSPARANSI
DAN PENGUNGKAPAN ASPEK LAINNYA

Sejak pengambilalihan kepemilikan oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) telah
terjadi perubahan yang besar dalam menetapkan kriteria penyediaan dana pihak
terkait, rencana strategis bank, transparansi dan pengungkapan aspek lainnya.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 47 dari 64
CPD, Mei 2011
A. Penyediaan Dana Kepada Pihak Terkait (Related Party) dan Penyediaan Dana
Besar (Large Exposures)
Berdasarkan dari Laporan Perkreditan dan Laporan KUK Non KUK terdapat penyediaan
dana kepada pihak terkait (Related Party) dan debitur/group inti per posisi tanggal 31
Desember 2010, dengan tabel sebagai berikut :

No. Penyediaan Dana Jumlah Debitur Nominal
(jutaan rupiah)
1. Kepada Pihak Terkait 11 3.369
2. Kepada Debitur Inti :

- Individu
- Group
25

19
6
2.595.860

1.854.171
741.689


B. Rencana Strategis Bank
Dalam upaya mencapai tujuan yang telah dicanangkan oleh stakeholder, setiap
perusahaan khususnya bank wajib menyusun rumusan langkah-langkah yang akan
diambil manajemen dalam mendayagunakan sumber daya yang ada sehingga dapat
meningkatkan kinerja perusahaan dan pada akhirnya tujuan akan tercapai.

1. Rencana Korporasi (Corporate Plan)
Adalah rencana strategis dalam jangka panjang dalam rangka mencapai tujuan
Bank, merupakan sasaran yang perlu didukung perumusan kebijakan dan strategi
perusahaan.

Formulasi penyusunan Corporate Plan dimulai dari penentuan tujuan ! analisa
internal maupun eksternal ! penyusunan strategi ! penerapan strategi !
memonitor strategi ! kembali lagi kepada penyempurnaan tujuan.

Penentuan tujuan dapat berupa visi yang mendefinisikan tujuan jangka panjang
dari organisasi dan misi yang merupakan penerjemahan dari visi agar lebih dapat
dimengerti oleh stakeholder. Analisa internal dan eksternal merupakan tahap dari
mengumpulkan dan menganalisa data yang ada melalui analisa SWOT
(Strengths/kekuatan, Weaknesses/kelemahan, Opportunities/kesempatan, dan
Threats/ancaman yang dimiliki perusahaan).

Pada tahap penyusunan strategi, Bank harus mendefinisikan strategi yang tepat
untuk mengatasi kelemahan dan ancaman perusahaan dan memperkuat kekuatan
dan kesempatan yang ada. Kemudian menyusunnya berdasarkan skala prioritas.
Kemudian Bank masuk pada tahap implementasi/penerapan dari strategi yang
disusun dengan mengumpulkan sumber daya yang ada dan memberdayakannya
sesuai strategi yang ada. Strategi yang ada harus dilakukan berdasarkan time frame
yang telah disusun.

Dalam perjalanannya, strategi tersebut harus di monitor sehingga strategi-strategi
yang dilaksanakan tetap mengacu pada tujuan semula serta tidak tertutup
kemungkinan untuk melakukan perubahan bilamana perlu.
Beberapa strategi ataupun pendekatan antara lain :
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 48 dari 64
CPD, Mei 2011

a. SWOT Analisys
S - Strengths
Perubahan nama baru menjadi Mutiarabank menjadikan keyakinan untuk
terus bertumbuh kembang.
Memiliki reputasi market leader di bidang transaksi penukaran mata uang
asing.
Memiliki akses yang baik terhadap jaringan bisnis UKM untuk pelaku bisnis
dari etnik tertentu.
Memiliki tenaga marketing dana yang cukup andal.
Kepercayaan masyarakat terhadap Mutiarabank telah mulai pulih.
Memiliki keunggulan relationship dengan nasabah-nasabah dana.
Mempunyai reputasi sangat baik di masyarakat luas sebagai market leader di
bidang penukaran mata uang asing (bank notes).
W- Weaknesses
Struktur pendanaan didominasi oleh high cost fund khususnya deposito.
Produk dana belum didukung oleh teknologi perbankan yang memadai.
Pengelolaan ekses likuiditas bank belum secara optimal seperti tingginya
posisi SBI sehingga menghasilkan yield enhancement yang rendah.
Non Performing Loan Gross masih tinggi.
Jumlah staff yang memiliki kemampuan analisa kredit yang memadai masih
minim.
Terdapat pelampauan BMPK sejak dahulu sebelum diambil alih oleh LPS.
Kepercayaan business counterparty masih belum sepenuhnya pulih akibat isu
negatif maupun gejolak politik yang muncul dari kasus Bank Century sehingga
banyak L/C yang ditolak dan pemberian bank line yang terbatas yang pada
akhirnya telah menyulitkan Mutiarabank dalam menjalankan transaksi ekspor
impor.
Penerapan teknologi perbankan dan electronic channel yang masih kurang
memadai sehingga belum mendorong pertumbuhan dana murah dan tidak
adanya product champion.
Penyebaran jaringan kantor yang masih belum optimal karena lebih
terkonsentrasi di Jakarta.
O- Opportunities
Adanya kesempatan optimalisasi pengembangan jaringan di Jawa dan luar
Jawa.
Pasar transaksi valuta asing dan Bank Notes masih dapat dioptimalkan
ditambah dengan transaksi Devisa Umum yang belum optimal.
Potensi pertumbuhan aset khususnya segmen UKM dari pelaku bisnis etnik
tertentu masih dapat ditingkatkan.
Peluang sektor consumer & retail masih terbuka.
Bank telah menjalin kerjasama dengan beberapa institusi yang memiliki
customer based dan jaringan distribusi yang luas untuk pengembangan usaha
di beberapa bidang seperti funding, kredit dan fee based income.
T- Threats
Persaingan yang ketat dalam penghimpunan dana murah dengan
memanfaatkan e-banking dan electronic channel lainnya.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 49 dari 64
CPD, Mei 2011
Masih terdapat potensi gugatan hukum dari nasabah maupun counterparty
terkait dengan masalah-masalah manajemen lama.
Potensi gugatan hukum dari nasabah maupun counterparty terkait
penyelesaian transaksi perusahaan.
Kegagalan recovery atas aktiva produktif bermasalah dan AYDA.

Searah dengan upaya pencapaian target bisnis yaitu Membangun Budaya Kokoh,
Fokus pada Bisnis dan Hasil yang Luar Biasa, maka PT Bank Mutiara Tbk masih
terus melanjutkan 6 (enam) fokus target prioritas sebagai landasan bagi
pertumbuhan bisnis dan peningkatan peran di masa yang akan datang, sebagai
berikut :
1) Pengelolaan ekses likuiditas bank secara optimal sehingga menghasilkan yield
enhancement yang tinggi dengan fokus utama penempatan pada kredit SME
dan Consumer.
2) Perbaikan Laba Operasi yang sustainable.
3) Peningkatan Upaya Asset Recovery.
4) Peningkatan Kapabilitas Organisasi dan Infrastruktur.
5) Peningkatan Produktifitas dan Efisiensi Biaya.
6) Penguatan Corporate Image dan Corporate Culture.

b. Kebijakan Manajemen (Policy Statement)
Sebagai langkah penyelesaian atas permasalahan di atas, Bank telah menjalankan
8 (delapan) strategi pembenahan permasalahan yang telah ditetapkan dalam
rencana bisnis Bank, sebagai berikut :
Pemulihan image perusahaan.
Restrukturisasi keuangan.
Konsolidasi dan penajaman fokus bisnis.
Revitalisasi manajemen risiko.
Penguatan GCG dan budaya perusahaan.
Transformasi organisasi.
Perbaikan infrastruktur pendukung.
Pembenahan operasional perusahaan.

c. Kebijakan Manajemen Risiko dan Kepatuhan
Penguatan implementasi dual control dan peningkatan kualitas melalui:
Pengembangan dan perbaikan 8 profil risiko manajemen (market risk,
portfolio risk, risiko likuiditas, risiko operasional) yang terpisah dengan
pengelola bisnis.
Peningkatan kualitas implementasi komite kredit (NAK dibantu oleh
konsultan, training kredit & LK oleh tenaga internal Bank).
Peningkatan kualitas pelaksanaan ALCO untuk menadapatkan penetapan suku
bunga produk bank yang kompetitif.
Peningkatan kualitas advis / rekomendasi manajemen terkait pengelolaan
risiko, Kebijakan Umum Manajemen Risiko (KUMR).
Peningkatan kualitas bidang kepatuhan:
i. Peningkatan kualitas kebijakan manajemen maupun keputusan
mengenai produk, jasa dan layanan, serta pengelolaan perusahaan yang
tertuang dalam surat keputusan, surat edaran, SOP baik internal bank
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 50 dari 64
CPD, Mei 2011
maupun eksternal dengan cara memberikan masukan kepada divisi-
divisi, mensosialisasikan, melakukan assesment dll.
ii. Penerapan prinsip mengenal nasabah, terkait program Anti Pencucian
Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU & PPT) dengan
sosialisasi dan melakukan pengkinian data.
iii. Penerapan 5 prinsip dasar (TARIF) sesuai PBI dan konsisten dalam
menerapkan corporate value SPIRIT.

d. Strategi Pengembangan Bisnis
Penguatan implementasi dual control dan peningkatan kualitas melalui: rencana
pengembangan bisnis yang lebih terfokus pada bidang atau segmen consumer,
retail dan commercial. Selain itu Bank juga akan lebih banyak mengembangkan
produk-produknya, diantaranya dengan menjalin kerjasama melalui
Bancassurance, juga menambah pengembangan jaringan melalui pembukaan
cabang baru dan penambahan ATM. Selain itu Bank juga akan mulai
mengembangkan E-Banking dan M-Banking untuk lebih memberikan
kemudahan bagi Nasabah primanya.

2. Rencana Bisnis (Business Plan)
Adalah rencana kegiatan usaha Bank jangka pendek (1 tahun) dan jangka menengah
(3 tahun) termasuk strategi untuk merealisasikan rencana tersebut, rencana untuk
memperbaiki kinerja usaha, dan rencana pemenuhan ketentuan kehati-hatian sesuai
penetapan target dan waktu.

Selain memuat pokok-pokok pikiran diatas, Rencana Bisnis juga harus
memperhatikan faktor eksternal/internal, prinsip kehati-hatian, penerapan
manajemen risiko dan azas perbankan yang sehat.

Rencana Bisnis harus disusun secara matang, realistis dan komprehensif sehingga
lebih mencerminkan kompleksitas usaha dan dapat menjadi arah kebijakan dan
pengembangan usaha Bank juga dapat meningkatkan fleksibilitas operasional Bank
dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin tinggi. Rencana Bisnis disusun
oleh Direksi dan harus memperoleh persetujuan Dewan Komisaris dan
dikomunikasikan kepada pemegang saham dan pegawai pada semua jenjang
organisasi yang ada.

Penyusunan Rencana Bisnis Bank mengacu kepada Peraturan Bank Indonesia Nomor
12/21/PBI/2010 tanggal 19 Oktober 2010 tentang Rencana Bisnis Bank dan Surat
Edaran Bank Indonesia Nomor 12/27/DPNP tanggal 25 Oktober 2010 perihal Rencana
Bisnis Bank Umum, yang paling kurang mencakup ringkasan eksekutif, kebijakan dan
strategi manajemen, penerapan manajemen risiko dan kinerja Bank saat ini,
proyeksi laporan keuangan beserta asumsi yang digunakan, proyeksi rasio-rasio dan
pos-pos tertentu lainnya, rencana pendanaan, rencana penanaman dana, rencana
permodalan, rencana pengembangan organisasi dan SDM, rencana penerbitan produk
dan/atau pelaksanaan aktivitas baru, rencana pengembangan dan/atau perubahan
jaringan kantor, dan informasi lainnya.

Rencana Bisnis Bank ini harus disampaikan kepada Bank Indonesia paling lambat
setiap akhir Nopember sebelum tahun Rencana Bisnis dimulai.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 51 dari 64
CPD, Mei 2011
Perubahan Rencana Bisnis hanya dapat dilakukan 1(satu) kali, paling lambat pada
akhir semester pertama tahun berjalan apabila:
Terdapat faktor eksternal dan internal yang secara signifikan mempengaruhi
operasional Bank, dan/atau
Terdapat faktor yang secara signifikan mempengaruhi kinerja Bank berdasarkan
pertimbangan Bank Indonesia.

a. Rencana Bisnis Jangka Pendek
a.1. Total Asset
Total asset Bank Mutiara dalam kurun waktu satu tahun meningkat
Rp.3.236,2 miliar atau naik 42,9% menjadi Rp.10.767,3 miliar dibanding
posisi per 31 Desember 2009 sebesar Rp.7.531,1 miliar. Sedangkan untuk
tahun 2011, akselerasi peningkatannya agak melambat menjadi 15,2%
karena pendanaan untuk ekspansi kredit sebagian berasal dari pencairan SBI
yang tidak akan berdampak pada peningkatan asset.
Sebagai langkah optimalisasi balance sheet atas penempatan dana yang
kurang produktif berupa penanaman SBI dan Fasbi ke aktiva yang lebih
produktif. Total Asset untuk tahun 2012 dan tahun 2013 diproyeksikan
meningkat, masing-masing sebesar 34,5% dan 34,6%. Peningkatan terutama
berasal dari penyaluran kredit dan dana pihak ketiga pada sisi pasiva.

a.2. Total Dana Pihak Ketiga (DPK)
Tahun 2010 Dana Pihak Ketiga tumbuh Rp.2.921,4 miliar atau 49,6% dari
Rp.5.949,46 miliar pada Desember 2009 menjadi Rp.8.900,8 miliar pada
tahun 2010. Pada tahun 2011, 2012 dan 2013 pertumbuhan DPK
diproyeksikan masing-masing sebesar 21,3%, 31,0% dan 36,4%.
Komposisi dana mahal dari deposito dari 90:10 pada tahun 2010
diproyeksikan menjadi 85:15 pada tahun 2011, 83:17 pada tahun 2012 dan
80:20 pada tahun 2013.

a.3. Laba Rugi
Laba rugi sempat menurun 22,5% diakhir tahun 2010 atau menjadi Rp.205,8
miliar dari Rp.265,5 miliar pada tahun 2009. Hal ini diantaranya karena
masih adanya penempatan pada SBI yang tidak memberikan keuntungan
lebih tinggi jika dibandingkan dengan kredit.


a.4. Rasio Keuangan
Secara umum rasio keuangan pada tahun 2010 membaik apabila
dibandingkan dengan tahun 2009, kecuali rasio yang terkait erat dengan
rentabilitas seperti ROA dan ROE yang mengalami sedikit penurunan.
Perbaikan rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) dilakukan secara organik,
dengan mengandalkan laba tahun berjalan dan dipertahankan diatas 10%
untuk tahun 2011. Bank berupaya menyeimbangkan rasio CAR, ekspansi
kredit dengan kebutuhan penambahan laba.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 52 dari 64
CPD, Mei 2011
Pada tahun 2012 direncanakan melakukan pinjaman subordinasi agar rasio
CAR diharapkan meningkat diatas 11,8%. Pinjaman subordinasi selain
menambah rasio permodalan juga dapat menyokong untuk lebih ekspansif
didalam penyaluran kreditnya. Setelah tahun 2012 akan terus diupayakan
rasio permodalan agar tidak turun dari 10,5%, agar dapat memenuhi
ketentuan Basel III yang mensyaratkan ketentuan CAR 10,5%.

Pemulihan asset berlangsung dengan baik dan tepat sasaran, yang
diantaranya rasio NPL netto diproyeksikan terus membaik dengan ekspansi
kredit kancar Bank, dan restrukturisasi kredit. NPL menurun dari 9,5%
(diatas batas maksimal ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia) pada
tahun 2009 menjadi 4,84% pada akhir Desember 2010 dan terus membaik
menjadi dibawah 2% pada tahun 2013.

Kendati pada tahun 2010 realisasi perbaikan NIM masih belum optimal
namun pada akhir tahun 2011 2013 rasio NIM akan meningkat tajam
menjadi sekitar 2,8% seiring dengan berjalannya ekspansi kredit dengan
baik dan diikuti pula oleh perbaikan pada komposisi pendanaan. Rasio LDR
dipertahankan diatas 78% dan dibawah 100% untuk menghindari disinsentif
GWM sesuai ketentuan GWM baru yang berlaku mulai bulan Maret 2011.
Bank senantiasa melakukan efisiensi disertai pendapatan operasional
lainnya, sehingga BOPO dapat diperbaiki menjadi sekitar 75,5% hingga 81,5%
untuk periode 2010-2013.


b. Rencana Bisnis Jangka Menengah
Dalam bidang bisnis, Manajemen telah menetapkan empat fokus utama dalam
jangka menengah, yaitu:
b.1. Treasury & Corporate Funding:
" Menjadi Bank yang dapat menyediakan kebutuhan produk treasury dan
trade finance yang lengkap untuk mendukung pengembangan bisnis nasabah
utama Bank.
" Menjadi salah satu bank yang mampu melayani institusi korporasi,
pemerintah dan dana pensiun sebagai salah satu pilar pendanaan Bank.
b.2. Small & Medium Enterprise:
" Menjadi Bank yang utama di segmen SME dengan fokus pada wilayah dimana
cabang berada dan etnis tertentu.
" Menjadi transaction bank untuk nasabah segmen SME dengan menyediakan
beragam layanan produk segmen ini (Asset, Liabilities and Services).

b.3. Consumer:
" Menjadi Bank pilihan dalam layanan pembiayaan segmen konsumsi dengan
penawaran produk yang menarik dan kompetitif.
" Sebagai mitra utama pilihan pembiayaan kredit konsumsi oleh perusahaan
keuangan di Indonesia.
b.4. Mass Banking:
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 53 dari 64
CPD, Mei 2011
" Menjadi Bank pilihan dalam memenuhi layanan kebutuhan transaksi untuk
seluruh segmen (mass affluent).
" Menjadi Bank penyedia jasa layanan prima khususnya kepada kelompok
nasabah utama Bank.


C. Transparansi Kondisi Keuangan dan Non Keuangan Bank yang Belum Diungkap Dalam
Laporan Lainnya
Bank Mutiara memberikan informasi terbuka mengenai kondisi keuangan dan non-
keuangan kepada para stakeholder melalui Publikasi Triwulan Laporan Keuangan dan
Laporan lainnya yang disampaikan kepada Bank Indonesia dan Badan Pengawas Pasar
Modal (Bapepam-LK) serta stakeholder lain sesuai ketentuan yang berlaku. Laporan
Keuangan Triwulan dimuat setidaknya pada satu koran nasional Indonesia dan dapat
diakses melalui situs web Bank Mutiara.

Selain laporan triwulanan, Bank Mutiara juga menyusun laporan tahunan yang selain
menyajikan transparansi laporan keuangan juga non keuangan. Laporan tahunan
diharapkan dapat meningkatkan transparansi kondisi bank secara menyeluruh termasuk
perkembangan usaha dan kinerja bank kepada publik dan menjaga kepercayaan
masyarakat terhadap lembaga perbankan. Laporan tahunan wajib disampaikan kepada
pemegang saham, Bank Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI),
lembaga pemeringkat Indonesia, asosiasi perbankan di Indonesia, Institut Bankir
Indonesia (IBI), 2(dua) lembaga penelitian di bidang ekonomi dan keuangan, dan 2
(dua) majalah ekonomi dan keuangan.

Cakupan dari Laporan tahunan cukup luas, meliputi informasi umum, laporan keuangan
tahunan, opini Kantor Akuntan Publik, transparansi terkait kelompok usaha,
transparansi sesuai PSAK, PAPI, eksposur dan manajemen risiko dan informasi lain.
Informasi umum meliputi: susunan pengurus, rincian kepemilikan saham,
perkembangan usaha bank, sasaran, strategi dan kebijakan manajemen, struktur
organisasi, aktivitas utama, teknologi informasi, jaringan kantor, hal-hal penting yang
diperkirakan terjadi di masa mendatang, jumlah dan struktur SDM. Sedangkan laporan
keuangan tahunan adalah laporan keuangan yang merupakan hasil audit dari laporan
Kantor Akuntan Publik beserta opininya.

Transparansi juga harus diterapkan pada produk-produk Bank sehingga memberikan
kejelasan pada nasabah mengenai manfaat dan risiko yang melekat pada Produk Bank.
Transparansi ini dapat berupa informasi tertulis dalam bahasa Indonesia yang
disampaikan kepada nasabah secara lengkap dan jelas mengenai karakteristik produk
baik lisan maupun tulisan. Informasi minimal mencakup nama produk, jenis produk,
manfaat dan risiko yang melekat, tatacara penggunaan produk, biaya-biaya produk,
perhitungan bunga atau bagi hasil dan margin keuntungan, jangka waktu berlakunya
produk dan penerbit produk bank termasuk ada atau tidaknya penjaminan produk.
Apabila ada perubahan, Bank harus segera memberitahukan kepada nasabah. Informasi
mengenai produk tersebut harus jelas, termasuk letak dan kemudahan dibacanya.

Penggunaan data pribadi yang disampaikan nasabah kepada Bank juga harus transparan
untuk meningkatkan perlindungan terhadap hak-hak pribadi nasabah dalam
berhubungan dengan Bank. Bank harus meminta persetujuan tertulis dari nasabah jika
Bank akan memberikan dan atau menyebarluaskan Data pribadi Nasabah kepada Pihak
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 54 dari 64
CPD, Mei 2011
lain untuk tujuan komersial, kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-
undangan lain yang berlaku.

Transparansi juga harus dilaksanakan pada penyelesaian pengaduan nasabah yang
merupakan salah satu bentuk peningkatan perlindungan nasabah sehingga hak-hak
nasabah dalam bertransaksi dengan Bank senantiasa terjamin. Pengaduan nasabah
harus segera ditindaklanjuti agar tidak menurunkan reputasi bagi Bank dan dapat
menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan. Bank memiliki
waktu 2(dua) hari kerja untuk penyelesaian pengaduan lisan dan 20(dua puluh) hari
kerja penyelesaian pengaduan tertulis.

Bank harus memiliki unit dan atau fungsi khusus di setiap kantor Bank yang menangani
dan menyelesaikan pengaduan nasabah dan wajib mempublikasikan keberadaan unit ini
kepada masyarakat. Hasil penanganan dan penyelesaian pengaduan tersebut secara
triwulanan dilaporkan kepada Bank Indonesia.


D. Jumlah Penyimpangan Internal (Internal Fraud) dan Upaya Penyelesaian Oleh Bank
Internal Fraud
adalah penyimpangan/kecurangan yang dilakukan oleh pengurus, pegawai tetap dan
tidak tetap (honorer dan outsorcing) terkait dengan proses kerja dan kegiatan
operasional Bank yang mempengaruhi kondisi keuangan Bank secara signifikan. Maksud
mempengaruhi kondisi keuangan Bank secara signifikan adalah jika dampak
penyimpangannya > Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah).

Selama tahun 2010 jumlah kasus kecurangan (Internal Fraud) yang dilakukan oleh
pengurus, pegawai tetap dan pegawai tidak tetap sebagaimana tabel berikut :
(satuan)
Jumlah kasus yang dilakukan oleh
Pengurus Pegawai tetap Pegawai tidak
tetap


Internal Fraud
Dalam 1 tahun Thn
sblm-
nya
Thn
berjln
2010
Thn
sblm
-nya
Thn
berjln
2010
Thn
sblm-
nya
Thn
berjln
2010


Keterangan
Total fraud - - - 3 - -
Telah selesai - - - 2 - - 1. Pemalsuan bilyet
deposito, Memo
No.018/
Memo/IAD/I/ 2010
tgl.21/1/10

2. Penggelapan uang,
Memo No.
134/Memo/IAD/VIII/2
010 tgl. 4/8/2010
Dalam proses
penyelesaian
di internal
- - - 1 - -
1. Penggelapan uang
valas, Memo No.08/
Memo/IAD/II/ 2010
tgl.19/2/2010
Belum
diupayakan
penyelesaian-
nya
- - - - - -
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 55 dari 64
CPD, Mei 2011
Telah
ditindaklanjuti
melalui proses
hukum
- - - - - -

Penyelesaian kasus fraud atas penggelapan uang valas dimaksud masih dalam proses
penyelesaian di internal Bank dan diupayakan dapat diselesaikan pada tahun 2011.


E. Jumlah Permasalahan Hukum dan Upaya Penyelesaian Oleh Bank
Permasalahan hukum adalah permasalahan hukum perdata dan pidana yang dihadapi
Bank selama periode tahun laporan dan telah diajukan melalui proses hukum. Selama
tahun 2010 jumlah permasalahan hukum perdata dan pidana yang dihadapi Bank
Mutiara yang telah diajukan melalui proses hukum sebagaimana tabel berikut :

(satuan)
Jumlah Permasalahan Hukum
Perdata Pidana
Telah selesai (telah mempunyai kekuatan
hukum yang tetap)

Dalam proses penyelesaian 15 22
Total 15 22

Masalah hukum yang umumnya dihadapi Bank adalah :
Masalah Perdata yang berkaitan dengan perkreditan, baik gugatan perdata maupun
permohonan eksekusi hak tanggungan.
Masalah Pidana adalah masalah yang dihadapi oleh pribadi-pribadi mantan pengurus
bank dan Komisaris yang saat ini dalam proses penyidikan maupun proses hukum
oleh pihak yang berwajib (belum ditentukan tingkat kesalahannya dan kerugiannya).

Upaya penyelesaian permasalahan hukum oleh Bank antara lain :
Optimalisasi proses litigasi agar hasil keputusan di Pengadilan atas kasus-kasus
hukum yang ditangani dapat menghasilkan target positif dan menguntungkan posisi
Bank, dengan meminimalisir risiko yang mungkin timbul bagi Bank.
Perlu upaya berkesinambungan terkait dengan pengawasan dan pemantauan serta
penyelesaian atas kasus-kasus hukum yang sedang berjalan, melakukan konsultasi
dengan pihak konsultan hukum dan upaya-upaya lainnya yang diperlukan.



F. Pemindahan Alamat Kantor Bank Mutiara
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 56 dari 64
CPD, Mei 2011
Menunjuk Peraturan Bank Indonesia No.11/1/PBI/2009 tanggal 27 Januari 2009 tentang
Bank Umum, dan Surat Edaran Bank Indonesia No.11/5/DPNP tanggal 28 Januari 2009
perihal : Bank Umum, maka sesuai dengan surat persetujuan Bank Indonesia
No.12/751/DPIP/Prz tanggal 12 November 2010 perihal : Rencana Pemindahan Alamat
Kantor Pusat dan Kantor Cabang PT Bank Mutiara Tbk, dan Surat Bank Mutiara kepada
Bank Indonesia No.1839/Mutiara/DIR/XI/2010 tanggal 24 November 2010 mengenai
laporan pelaksanaan pemindahan/relokasi Kantor Pusat dan Kantor Cabang PT Bank
Mutiara Tbk, dapat disampaikan hal sebagai berikut :

a. Pemindahan/relokasi alamat Kantor Pusat dan Kantor Cabang PT Bank Mutiara Tbk
telah dilaksanakan terhitung efektif beroperasi penuh di lokasi baru sejak tanggal 22
November 2010, dengan alamat baru yaitu:

No Nama Kantor & Alamat Lama Nama Kantor & Alamat Baru

1.

Kantor Pusat
Gedung Sentral Senayan II, Lantai 22
Jl. Asia Afrika No. 8
Jakarta Pusat

Kantor Pusat
Gedung International Financial
Centre (d/h. Barclays House),
Lantai 2,3, 11, dan 14
Jl. Jend. Sudirman Kav. 22-23
Jakarta Selatan 12920
Telp.: +62-21-29261111 (Hunting)
Fax. : +62-21-29261222


2.

Kantor Cabang Senayan
Gedung Sentral Senayan I, Lantai 1
dan 2
Jl. Asia Afrika No. 8
Jakarta Pusat

Kantor Cabang Sudirman
Gedung International Financial
Centre (d/h. Barclays House),
Lantai 1
Jl. Jend. Sudirman Kav. 22-23
Jakarta Selatan 12920
Telp.: +62-21-29261111 (Hunting)
Fax. : +62-21-29261495

b. Pemberitahuan pelaksanaan pemindahan alamat Kantor Pusat dan Kantor Cabang
kepada nasabah dan masyarakat umum telah dipublikasikan melalui pengiriman SMS
(Short Message Service) dan Surat Kabar yang mempunyai peredaran nasional pada
tanggal 18 November 2010, antara lain : harian Investor Daily, Media Indonesia, dan
Guo Ji Ri Bao.
c. Sudah mencantumkan secara jelas nama, logo dan jenis kantor bank pada dinding
dan kaca depan kantor bank yang mudah terlihat oleh nasabah. Kemudian juga
diperoleh perijinan dari pemilik gedung dan Pemda DKI Jakarta untuk pemasangan
logo dan nama bank di luar gedung.


G. Implementasi Pelaksanaan PSAK 50/55
Sesuai dengan Surat Bank Mutiara kepada Bank Indonesia No.2061/Mutiara/
DIR/XII/2010 tanggal 31 Desember 2010 Perihal : Laporan Perkembangan
Implementasi Pelaksanaan PSAK 50/55 pada Bank, pada tahun 2010 ini Bank Mutiara
belum dapat melaksanakan implementasi PSAK 50/55 dan meminta kebijaksanaan
Bank Indonesia untuk dapat memberikan kelonggaran waktu hingga Bank Mutiara
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 57 dari 64
CPD, Mei 2011
telah siap mengimplementasikan Standar Pelaporan Keuangan Bank sesuai dengan
PSAK 50/55 pada tahun 2011.


H. Penggunaan Pihak Penyedia Jasa Teknologi Informasi/Vendor TI
Berdasarkan PBI No.9/15/PBI/2007 tanggal 30 Nopember 2007, dan SE BI
No.9/30/DPNP tanggal 12 Desember 2007 Perihal Penerapan Manajemen Risiko Dalam
Penggunaan Teknologi Informasi Oleh Bank Umum, Bank dapat menggunakan jasa
pihak lain/pihak penyedia jasa teknologi informasi untuk menyelenggarakan kegiatan
teknologi informasi dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi pencapaian
tujuan strategis. Penggunaan pihak penyedia jasa TI menyebabkan Bank memiliki
ketergantungan terhadap jasa yang diberikan secara berkesinambungan dan atau
dalam periode tertentu yang dapat mempengaruhi timbulnya risiko Bank berupa risiko
operasional, kepatuhan, hukum dan reputasi antara lain karena adanya kegagalan
penyedia jasa dalam menyediakan jasa, pelanggaran terhadap pengamanan atau
ketidakmampuan untuk mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku.

a. Proses Pemilihan dan Penentuan Pihak Penyedia Jasa Teknologi Informasi
Secara umum proses pemilihan dan penentuan pihak penyedia jasa teknologi
informasi/calon vendor TI di Bank Mutiara meliputi :

a.1. Mendapatkan sumber informasi calon vendor TI dari:
Pengalaman sebelumnya.
Referensi sesama IT perbankan dengan permintaan company profile.
Browsing di internet.
Masukan Business unit/Divisi/Cabang/internal lainnya.
Seminar atau pelatihan oleh penyelenggara pihak eksternal.

a.2. Memenuhi nilai total maksimal 100 dari gabungan 3 aspek penilaian yaitu:
Aspek Fungsional, maksimal nilai 40.
Aspek Teknis, maksimal nilai 30.
Aspek Finansial, maksimal nilai 30.

a.3. Prosedur permohonan persetujuan vendor TI yang dipilih:
Mengumpulkan requirement/kebutuhan fungsional dari Business unit.
Mengumpulkan requirement/kebutuhan teknis dari Divisi IT.
Melihat requirement/kebutuhan financial Budget dari rencana bisnis
tahunan yang sudah disetujui sebelumnya dalam Rapat Komite IT.
Mengundang presentasi kandidat vendor TI.
Vendor TI melakukan presentasi.
Penyusunan TOR (Term Of Refference.
Pengiriman TOR kepada kandidat vendor TI.
Vendor TI mengirimkan proposal penawaran berdasarkan TOR.
Mengundang POC (Proof Of Concept) kandidat vendor TI.
Kandidat vendor TI melakukan POC (jika dimungkinkan untuk POC).
Melakukan penilaian seluruh aspek (nilai total maksimal 100) yaitu:
- Business unit sebagai user menilai Aspek Fungsional (maksimal nilai 40).
- Divisi IT menilai Aspek Teknis (maksimal nilai 30).
- Divisi General Affairs menilai Aspek Finansial (maksimal nilai 30).
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 58 dari 64
CPD, Mei 2011
Menyampaikan memo bersama (Divisi/unit Bisnis sebagai User, Divisi IT,
dan Divisi General Affairs) kepada Direksi perihal permintaan persetujuan
atas vendor TI yang direkomendasikan.
Setelah disetujui Direksi, maka Divisi General Affairs menindaklanjuti
proses engagement vendor TI selanjutnya yaitu proses Purchase
Order/pembuatan surat perjanjian kerjasama dengan vendor TI.

b. Pemantauan/Pengawasan Vendor TI Dalam Vendor Management
Bank wajib memiliki program pemantauan untuk memastikan penyedia jasa/
vendor TI telah melaksanakan pekerjaan/memberikan jasa sesuai dengan
kontrak/perjanjian kerjasama dengan melakukan :
Secara berkala memantau pencapaian SLA (Service Level Agreement) dari
vendor-vendor TI utama.
Kunjungan kerja rutin ke lokasi kerja/data center dari vendor TI utama.
Permintaan laporan keuangan tahunan (Audited) vendor TI utama.
Permintaan hasil audit independen dari lembaga terkait misalnya ISO.
Rapat berkala dengan vendor TI utama.
Memantau progress penyelesaian project IT secara berkala sesuai prinsip
Project Management.
Review Performance untuk vendor TI yang sudah ada.

Berikut ini daftar Vendor TI yang sudah bekerjasama dengan Bank Mutiara Selama
Tahun 2010 :

No Nama Vendor Nama Aplikasi
Tujuan
Penggunaan
Aplikasi
Perjanjian Kerja Sama
Tanggal
Implementasi
1 PT. Jati
Piranti
Solusindo
Pengembangan
& mplementasi
PSAK 50&55
Pelaporan ke BI
sesuai standard
PSAK 50&55
054/Mutiara/PK/X/2010

10070/JPS/RP-GT/
Mutiara-Implementasi
PSAK 50&55/MSA/VIII/2010

Tanggal 1 Oktober 2010
Masih progress
2 PT. Misys
International
Financial
Systems
Opics Plus Aplikasi untuk
Dealer
Treasury
Schedule No.
ON15255(L)#BV58

Tanggal 31 Agustus 2009
Februari 2010
3 Bank
Indonesia
Simontavar Pelaporan
Transaksi Valas
Rupiah ke Bank
Indonesia
Tidak menggunakan PKS Agustus 2010
4 Bursa Efek
Indonesia
Central Trading
Platform
Pelaporan
Transaksi
Trading ke
Bursa Efek
Indonesia
Tidak menggunakan PKS Agustus 2010



BAB VII
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 59 dari 64
CPD, Mei 2011
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN UNTUK KEGIATAN SOSIAL
KEMASYARAKATAN


PT Bank Mutiara Tbk senantiasa berusaha menciptakan suasana kegiatan operasi yang
harmonis dengan masyarakat luas dan peduli lingkungan, sehingga diharapkan dapat
menjadi perusahaan yang terus dicintai masyarakat. Terciptanya lingkungan masyarakat
yang aman, nyaman dan dinamis diyakini sebagai kondisi ideal bagi keberlangsungan dunia
usaha manapun.

Dilandasi suatu pemikiran bahwa perusahaan adalah bagian dari suatu masyarakat, maka
PT Bank Mutiara Tbk menyadari bahwa Perseroan memiliki tanggung jawab sosial untuk
mengembangkan masyarakat di sekitarnya, khususnya dalam bidang pendidikan,
kesehatan, keagamaan, sosial dan lingkungan hidup.

Tanggung jawab sosial tersebut diwujudkan melalui penerapan program Corporate Social
Responsibility (CSR) yang diyakini dapat menciptakan kondisi masyarakat yang kondusif,
serta mampu menanggapi berbagai perubahan dalam kehidupan bermasyarakat, yang
pada akhirnya bisa menciptakan hubungan yang saling bermanfaat antara Perseroan
dengan masyarakat.

Kegiatan CSR oleh PT Bank Mutiara Tbk sampai dengan tahun 2010 ini lebih berupa
pemberian santunan dalam perayaan acara keagamaan dan sponsorship terdiri dari:

PENDIDIKAN
Bantuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pendidikan merupakan salah satu hal yang menjadi konsentrasi program CSR PT Bank
Mutiara Tbk. Salah satu bentuk kepedulian tersebut diwujudkan dengan menyalurkan
sumbangan dana pendidikan kepada Tim Pemberdayaan Kesejahtareaan Keluarga melalui
penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada Juni 2010. PAUD bertujuan untuk
meningkatkan pendidikan dengan memberikan kesempatan belajar sedini mungkin bagi
anak-anak dari keluarga pra sejahtera (kurang mampu).

KESEHATAN
Donor Darah
Kegiatan donor darah diselenggarakan di kantor pusat Bank Mutiara Gedung Sentral
Senayan II pada bulan Februari 2010. Kegiatan donor darah ini diikuti oleh karyawan Bank
Mutiara dan karyawan dari lingkungan kantor Bank Mutiara, dan berhasil mengumpulkan
75 kantong darah pendonor.
Seminar Kanker Serviks
Dengan mengusung tema "Wanita adalah sumber mutiara tak ternilai bagi kehidupan",
Bank Mutiara bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia untuk menjalankan kegiatan
seminar dibarengi dengan penyelenggaraan imunisasi IVA dan pemeriksaan Papsmear yang
berlangsung pada bulan April 2010.




KEAGAMAAN
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 60 dari 64
CPD, Mei 2011
Buka Puasa bersama Anak Yatim
Pada bulan September 2010, Bank Mutiara mengadakan acara buka puasa bersama dengan
anak-anak yatim di Grand Indonesia Shopping Town West Mall Lg-22. Adapun kegiatan ini
mengusung tema: Cinta Indonesia, Mutiara Berbagi.

SOSIAL
Bantuan MCK
Sebagai bentuk komitmen Bank Mutiara untuk selalu menunjukkan kepedulian terhadap
masyarakat Indonesia, maka melalui program Mutiara Peduli, pada bulan November 2010
Perseroan memberikan bantuan berupa 10 unit MCK (mandi, cuci, kakus) dan 2 (dua) unit
tanki air bagi korban erupsi gunung Merapi di Yogyakarta. Sarana MCK tersebut dibangun
di area pengungsian korban musibah gunung Merapi yang berlokasi di Bumi Perkemahan
Babarsari Yogyakarta.

Pembagian Hewan Qurban
Pada bulan November 2010, dalam rangka memperingati hari raya Idul Adha 1431 H, Bank
Mutiara menyelenggarakan penyembelihan hewan qurban di kantor cabang Jalan
Fatmawati Jakarta. Hewan qurban tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat
sekitar dan sebuah yayasan yatim piatu. Selain itu, Bank Mutiara juga menyerahkan hewan
qurban tersebut kepada para korban letusan Gunung Merapi di Yogyakarta yang
diserahkan langsung di lokasi pengungsian Bumi Perkemahan Bunder, Wonosari,
Yogyakarta.

PEDULI LINGKUNGAN HIDUP
Penghijauan Lingkungan (Go Green)
Sebagai wujud kepedulian Bank Mutiara kepada lingkungan hidup, pada bulan Desember
2010, Perseroan berpartisipasi dalam kegiatan penyemaian tanaman pantai (mangrove)
dan pemberian tanaman produktif seperti jati, sengon dan meranti di daerah Kabupaten
Rembang, Jawa Tengah.

Berikut ini pemberian/pemakaian dana untuk kegiatan CSR PT Bank Mutiara Tbk selama
tahun 2010 :

Rincian pelaksanaan CSR PT. Bank Mutiara, Tbk Tahun 2010



"#

$%$# & "#'(

")*+) ",-).+*
/012
34.45)-+ 6+.+

1 022/Memo/CSD/I/2010 Re: "Persetujuan
proposal Donor Darah Mutiara Kasih 2010"
6.350.000 Panitia Donor Darah
2 040/Memo/CSD/II/2010 Re:"Permohonan
Persetujuan Partisipasi Turnamen Golf Charity
PPDI Peduli Kemanusiaan 2010"
5.000.000 Pengurus ( Akhmad S.)
3 041/Memo/CSD/II/2010 Re:"Permohonan
Persetujuan Partisipasi Dalam Acara Bakti
Sosial dan Pembagian Sembako"

5.000.000
Bendahara Sinar Matahari
(Fitri Mega)
4 063/Memo/CSD/III/2010 Re:"Permohonan
Persetujuan Biaya Tambahan Untuk SDN 07
Apar Pariaman"

6.680.000
Tim Pelaksana SMKN
Pariaman Padang
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 61 dari 64
CPD, Mei 2011
5 076/Memo/CSD/III/2010 Re:"Persetujuan
Proposal Seminar Kanker Serviks"

10.045.000 Panitia Kanker Serviks
6 081/Memo/CSD/III/2010 Re:"Persetujuan
Proposal Seminar Kewirausahaan dan
Waralaba "

5.000.000
Ketua Panitia Undip
(Hernawati) BNI
7 112/Memo/CSD/V/2010 Re: "Permohonan
Persetujuan Bantuan Dana Pembangunan
Ruangan Kelas Madrasah Tsanawiyah Darul
Falah Dan Asrama Untuk Anak Terlantar,
Duafa, Yatim dan Yatim Piatu

1.000.000
Panitia Pembangunan
MTS dan Asrama Darul
Falah BRI Balaraja
8 111/Memo/CSD/V/2010 Re:"Permohonan
Persetujuan Bantuan Dana Pembangunan TPA
AL-KAUSAR"

2.000.000 Panitia - BTN Klp Gading
9 141/Memo/CSD/VI/2010 Re: "Permohonan
Bantuan Untuk PAUD Dahlia RW 09"

3.000.000 PAUD - Dahlia Nurjanah
10 139/Memo/CSD/VI/2010 Re: "Permohonan
Bantuan Pembangunan Rumah Autis"

5.000.000
Panitia Rumah AUTIS B.
Mandiri
11 142/Memo/CSD/VI/2010 Re: "Permohonan
Persetujuan Proposal Jumbara PMR PMI Ke-VII
& Bhakti Sosial"

3.000.000
Panitia PMI DKI Jakarta
BNI Kramat
12 233/Memo/CSD/VIII/2010 Re: 'Permohonan
Persetujuan Proposal Panitia Sains 2010
Institut Pertanian Bogor"

11.000.000 Panitia BCA M. Rifkianda
13 235/Memo/CSD/VIII/2010 Re: " Permohonan
Persetujuan Proposal Rumah Singgah Sakinah
Wa Rahmah Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar
Muhammadiyah "

5.000.000
Yayasan Rumah Singgah B
Mandiri
14 316/Memo/CSD/XI/2010 Re:" Permohonan
Persetujuan Penyelenggaraan Qurban"

5.855.000 Panitia Qurban
15 479/Memo/CSD/XII/2010 Re: " Permohonan
Pelaksanaan bantuan MCK Merapi Yogyakarta"

25.300.000 Panitia MCK Yogyakarta
TOTAL

99.230.000


















Kesimpulan Umum Hasil Self Assesment Pelaksanaan GCG Bank

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 62 dari 64
CPD, Mei 2011
Berdasarkan lampiran Kertas Kerja Self Assessment GCG dan Summary Perhitungan Nilai
Komposit Self Assesment GCG tersebut, maka disampaikan Kesimpulan Umum hasil
penilaian (Self Assesment) atas pelaksanaan GCG PT Bank Mutiara Tbk untuk tahun 2010
sebagai berikut:

a. Diperoleh Nilai Komposit sebesar 2.350, dengan Predikat Komposit yaitu BAIK
sesuai dengan tabel berikut:

Nilai Komposit Predikat Komposit
Nilai Komposit < 1.5 Sangat Baik
1.5 < Nilai komposit < 2.5 B A I K
2.5 < Nilai Komposit < 3.5 Cukup Baik
3.5 < Nilai Komposit < 4.5 Kurang Baik
4.5 < Nilai Komposit < 5 Tidak Baik

b. Peringkat masing-masing faktor adalah sebagai berikut:
No Aspek yang Dinilai Peringkat
1. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris 2
2. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Direksi 2
3. Kelengkapan dan Pelaksanaan Tugas Komite 3
4. Penanganan Benturan Kepentingan 2
5. Penerapan Fungsi Kepatuhan Bank 3
6. Penerapan Fungsi Audit Intern 2
7. Penerapan Fungsi Audit Ekstern 2
8. Penerapan Fungsi Manajemen Risiko dan Pengendalian Interen 3
9. Penyediaan Dana Kepada Pihak Terkait (Related Party) dan
Debitur Besar (Large Exposures)
3
10. Transparansi Kondisi Keuangan dan Non Keuangan Bank, Laporan
Pelaksanaan GCG dan Laporan Internal
2
11. Rencana Strategis Bank 3
NILAI KOMPOSIT 2.350

c. Kelemahan yang sangat menonjol adalah:

1. Penerapan Fungsi Kepatuhan bank cukup baik, namun masih ada beberapa
permasalahan warisan dari manajemen lama yang belum teratasi. Hal ini
tercermin dari:
- Pelampauan BMPK (namun tidak terdapat pelanggaran BMPK)
- Masih terdapat Pelanggaran NPL bruto sebesar 24,84%, tetapi NPL netto sebesar
4,84% sudah patuh sesuai ketentuan Bank Indonesia.

2. Pelaksanaan Manajemen Risiko belum didukung oleh Sistem Informasi Manajemen
yang dapat membantu bank melakukan mitigasi risiko secara sistematis (umumnya
masih dilakukan secara manual).

3. Bank belum mempunyai sistem komputer yang dapat mendukung penerapan action
plan APU dan PPT (masih dilakukan manual).

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 63 dari 64
CPD, Mei 2011
d. Kekuatan pelaksanaan GCG bank adalah:

1. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Direksi dengan
kondisi:
- Komposisi dan Kompetensi Dewan Komisaris dan Direksi sudah sesuai dengan
ukuran dan kompleksitas usaha bank.
- Dewan Komisaris dan Direksi telah bertindak dan mengambil keputusan secara
independen.
- Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi telah
sepenuhnya memenuhi prinsip-prinsip GCG.
- Rapat Dewan Komisaris dan Direksi dapat terselenggara secara efektif dan
efisien.
- Aspek transparansi telah dilaksanakan dengan baik oleh Dewan Komisaris dan
Direksi.

2. Kelengkapan dan Pelaksanaan Tugas Komite dengan kondisi:
- Komposisi dan Kompetensi Komite-Komite telah sesuai dibandingkan dengan
ukuran dan kompleksitas usaha bank.
- Pelaksanaan tugas Komite-Komite telah berjalan efektif.
- Rapat Komite-Komite terselenggara efektif dan efisien.

3. Penanganan benturan kepentingan dengan kondisi; Bank telah mampu menghindari
potensi terjadinya benturan kepentingan melalui kebijakan interen yang
komprehensif dengan enforcement yang baik.

4. Penerapan Fungsi Kepatuhan telah diupayakan lebih baik namun masih terdapat
Pelampauan BMPK dan Pelanggaran NPL Gross yang sudah dimasukkan dalam action
plan mengenai upaya-upaya perbaikannya.

5. Penerapan Fungsi Audit Intern sudah baik dan tetap independen serta obyektif,
selain itu pedoman intern telah sesuai dengan standar minimum SPFAIB. Penerapan
Fungsi Audit Ekstern telah berjalan cukup baik.

6. Penerapan fungsi Manajemen Risiko dan Pengendalian Intern telah diupayakan cukup
baik dan efektif dalam mengendalikan seluruh risiko bank, antara lain pemantauan
kebijakan, prosedur, penetapan limit, sistem informasi manajemen yang
komprehensif untuk memelihara kondisi internal bank yang sehat.

7. Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan bank, laporan pelaksanaan GCG
dan laporan internal dengan kondisi; Informasi keuangan dan non keuangan telah
disajikan secara transparan dan memadai kepada stakeholders sesuai ketentuan
yang berlaku.

8. Bank secara aktif telah melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR).

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2010
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2010 Hal.: 64 dari 64
CPD, Mei 2011
9. Rencana Bisnis Bank dengan kondisi; disusun dengan memperhatikan faktor
eksternal dan internal serta memperhatikan prinsip kehati-hatian dan azas
perbankan yang sehat.


Demikianlah disampaikan, dan terima kasih atas perhatian Bank Indonesia.

Jakarta, 26 Mei 2011
PT Bank Mutiara Tbk.

Hormat kami,




Maryono Pontas R. Siahaan
Direktur Utama Komisaris Utama

Summary Perhitungan Nilai Komposit
Self Assessment GCG PT. Bank Mutiara, Tbk. Desember 2010


Bobot Peringkat Nilai
No. Aspek Yang Dinilai
(a) (b) (a) x (b)
CATATAN *)
1
Pelaksanaan Tugas Dan
Tanggung Jawab Dewan
Komisaris
10,00% 2 0,200

1) Jumlah, komposisi, integritas dan kompetensi anggota
Dewan Komisaris sesuai ukuran dan kompleksitas usaha
Bank, memenuhi ketentuan.
2) Dewan Komisaris mampu bertindak dan mengambil
keputusan secara independen.
3) Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris
telah sepenuhnya memenuhi prinsip-prinsip GCG, namun
masih terdapat kelemahan minor.
4) Rapat Dewan Komisaris terselenggara secara efektif dan
efisien.
5) Aspek transparansi anggota Dewan Komisaris baik dan
tidak pernah melanggar ketentuan / perundangan yang
berlaku
2
Pelaksanaan Tugas Dan
Tanggung Jawab Direksi
20,00% 2 0,400

1) Jumlah, komposisi, integritas dan kompetensi anggota
Direksi sesuai ukuran dan kompleksitas usaha Bank, serta
telah memenuhi ketentuan.
2) Seluruh Direksi mampu bertindak dan mengambil
keputusan secara independen.
3) Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi telah
sepenuhnya memenuhi prinsip-prinsip GCG, namun masih
terdapat kelemahan minor.
4) Rapat Dewan Komisaris terselenggara secara efektif dan
efisien.
5) Aspek transparansi anggota Direksi baik dan tidak pernah
melanggar ketentuan / perundangan yang berlaku
3
Kelengkapan dan
Pelaksanaan Tugas
Komite
10,00% 3 0,300

1) Komposisi dan kompetensi Komite-komite cukup sesuai
dibandingkan dengan ukuran dan kompleksitas usaha
Bank.
2) Pelaksanaan tugas komite-komite berjalan cukup efektif
namun masih terdapat kelemahan minor.
3) Rekomendasi Komite-komite cukup bermanfaat dan dapat
digunakan sebagai bahan acuan putusan Dewan Komisaris.
4) Penyelenggaraan rapat Komite-Komite berjalan sesuai
dengan pedoman interen dant terselenggara secara cukup
efektif dan fisien.
4
Penanganan Benturan
Kepentingan
10,00% 2 0,200

1) Bank memiliki kebijakan system dan prosedur penyelesaian
benturan kepentingan yang lengkap dan efektif.
2) Benturan kepentingan telah diungkap pada setiap
keputusan, telah dilengkapi dengan risalah rapat dan
diadministrasikan / terdokumentasi dengan baik.
3) Benturan kepentingan tidak merugikan atau mengurangi
keuntungan bank.
5
Penerapan Fungsi
Kepatuhan Bank
5,00% 3 0,150

1) Kepatuhan Bank cukup baik namun pernah melakukan
pelanggaran yang tidak material terhadap ketentuan yang
berlaku dan komitmen yang telah dibuat, dan akan
diselesaikan pada masa triwulan berikutnya.
2) Pelaksanaan tugas dan independensi Direktur Kepatuhan
dan Satuan Kerja Kepatuhan berjalan cukup efektif.
3) Direktur Kepatuhan dan Satuan Kerja Kepatuhan
melakukan review secara berkala mengenai kepatuhan
sebagian satuan kerja operasional
4) Pedoman, system dan prosedur seluruh jenjang organisasi
tersedia secara cukup lengkap, terkini dan sesuai ketentuan
dan perundangan yang berlaku.
6
Penerapan Fungsi Audit
Intern
5,00% 2 0,100

1) Pelaksanaan fungsi audit intern Bank berjalan efektif dan
memenuhi pedoman intern serta sesuai standar minimum
yang ditetapkan SPFAIB namun terdapat kelemahan minor
yang apabila tidak segera diatasi dengan tindakan rutin.
2) SKAI menjalankan fungsinya cukup independen dan
obyektif.
7
Penerapan Fungsi Audit
Ekstern
5,00% 2 0,100

1) Pelaksanaan audit oleh Akuntan Publik efektif dan sesuai
dengan persyaratan minimum yang ditetapkan dalam
ketentuan namun terdapat kekurangan minor.
2) Kualitas dan cakupan hasil akuntan publik baik.
3) Pelaksanaan audit oleh KAP independen
8
Penerapan Fungsi
Manajemen Risiko dan
Pengendalian Intern
7,50% 3 0,225

1) Manajemen cukup efektif mengidentifikasi dan
mengendalikan seluruh risiko Bank .
2) Manajemen cukup aktif pemantauan kebijakan, prosedur,
penetapan limit, sistem informasi manajemen yang
komprehensif dan cukup efektif untuk memelihara kondisi
internal bank yang sehat.
3) Prosedur dan penerapan pengendalian interen bank cukup
komprehensif dan cukup sesuai dengan tujuan, ukuran dan
kompleksitas usaha dan risiko yang dihadapi bank.
4) Manajemen cukup efektif dalam memantau kesesuaian
kondisi bank dengan prinsip pengelolaan bank yang sehat,
ketentuan yang berlaku serta cukup sesuai dengan
kebijakan dan prosedur internal bank.
5) Penerapan pengendalian internal menunjukkan adanya
kelemahan yang tidak material.
9
Penyediaan Dana
Kepada Pihak Terkait
(Related Party) Dan
Debitur Besar (Large
Exposures)
7,50% 3 0,225

1) Bank telah memiliki kebijakan, system dan prosedur tertulis
yang cukup uptodate, dan cukup lengkap untuk penyediaan
dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana besar.
2) Tidak ada pelanggaran BMPK dan maupun prinsip kehati-
hatian, namun ada pelampauan BMPK yang belum
diselesaikan, karena masih dalam jangka waktu
penyelesaian action plan.
3) Diversifikasi penyediaan dana cukup merata.
4) Pengambilan keputusan dalam penyediaan dana kepada
pihak terkait dan penyediaan dana besar dilakukan dengan
cukup independen.
10
Transparansi Kondisi
Keuangan dan Non
Keuangan Bank,
Laporan pelaksanaan
GCG dan laporan Internal
15,00% 2 0,300

1) Bank tranparan menyampaikan informasi keuangan dan
non keuangan kepada public melalui home page dan media
yang memadai.
2) Cakupan informasi keuangan dan non keuangan tersedia
secara lengkap, akurat, terkini dan utuh.
3) Bank tranparat menyempaikan informasi produk dan jasa,
menerapkan pengelolaan pengaduan nasabah dengan
efektif serta memelihara data dan informasi pribadi nasabah
secara memadai
4) Cakupan Lap. Pelaksanan GCG lengkap, akurat, kini dan
utuh, telah disampaikan secara tepat waktu kepada
shareholder sesuai ketentuan yang berlaku.
5) Sistem informasi manajemen bank khususnya terkait
system pelaporan internal bank mampu menyediakan data
dan informasi dengan akurat dan lengkap dan handal serta
efektif untuk pengambilan keputusan manajemen.
11 Rencana Strategis Bank
5,00% 3 0,150

1) Rencana bisnis bank cukup sesuai dengan visi dan misi
bank serta rencana korporasi bank.
2) Rencana korporasi dan rencana bisnis bank disusun cukup
realistis dan telah memperhatikan seluruh faktor eksternal,
internal, prinsip kehati-haitan & azas perbankan yang sehat.
3) Realisasi rencana bisnis cukup sesuai dengan target
4) Moderate strategic risk rating

Nilai Komposit
100,00% 2,350
* : berisikan penjelasan mengapa penilai memberikan peringkat sebagaimana pada kolom (b)