Anda di halaman 1dari 46

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009

PT Bank Mutiara Tbk




Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 1 dari 46
CPD, Mei 2010
BAB I
PENDAHULUAN

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia nomor 9/12/DPNP, tanggal 30 Mei 2007, perihal
Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum, dan Peraturan Bank
Indonesia nomor 8/14/PBI/2006 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia
nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksnaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum,
maka kami manajemen PT Bank Mutiara Tbk dengan ini menyampaikan Laporan
Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) sesuai dengan
pedoman yang terkandung didalamnya.

Sebagai lembaga intermediasi, dalam melaksanakan kegiatan usahanya, kami telah
menerapkan 5 (lima) pilar utama prinsip good corporate governance yaitu:
- Keterbukaan (transparency),
- Akuntabilitas (accountability),
- Tanggung jawab (responsibility),
- Independensi (independency),
- Kewajaran (fairness),

Penerapan kelima pilar utama good corporate governance pada PT Bank Mutiara Tbk
sangat penting dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan kepercayaan publik,
meningkatkan kinerja, dan memaksimalkan nilai tambah bagi shareholder (maximizing
shareholder value) dan menjamin terwujudnya sistem perbankan yang sehat secara
umum. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan usaha bank yang sangat
tergantung pada kepercayaan masyarakat yang harus harus tercermin pada kinerja dan
pengelolaan bank yang profesional serta kemampuan bank mengelola risiko, serta
transparansi pada masyarakat.

Dengan demikian maka sudah jelas bahwa penerapan regulasi serta prinsip good corporate
governance pada industri perbankan merupakan prasyaratan utama dalam rangka untuk
melindungi kepentingan semua pihak (stakeholders). Dan disamping itu kami senantiasa
memperhatikan kepentingan dan melindungi semua pihak, serta bebas dari benturan
kepentingan (conflict of interest).
Sebagai bank yang telah diambil alih oleh Pemerintah melalui Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) maka PT Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century Tbk), kami selaku
manajemen bank telah melakukan restrukturisasi dan reorganisasi perseroan,
pembenahan dan rebranding dengan langkah-langkah strategis dan dasar-dasar bisnis yang
sehat melalui 5 (lima) strategi transformasi yaitu:
1. Perbaikan Image Perusahaan
2. Meningkatkan Kondisi Keuangan
3. Mengembangkan Bisnis
4. Menajamkan Manajemen Risiko dan Good Corporate Governance
5. Menyempurnakan Organisasi dan Infrastruktur Pendukung

Dalam ketentuan dan penerapan good corporate governance termasuk kode etik, seluruh
jajaran organisasi PT Bank Mutiara Tbk dari jajaran pengurus bank hingga pegawai yang
terendah, telah berkomitmen untuk menjunjung tinggi dan melaksanakan prinsip-prinsip
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 2 dari 46
CPD, Mei 2010
good corporate governance, yang dimulai dengan penetapan kebijakan dasar dan tata
tertib serta penetapan kode etik yang harus dipatuhi semua pihak dalam perusahaan.

Sebagai uraian pelaksanaan dari ungkapan diatas, khususnya dalam upaya perbaikan dan
peningkatan kualitas pelaksanaan Good Corporate Governance, secara berkala kami
juga melakukan self assessment terhadap penerapan Good Corporate Governance
dan menyusun laporan pelaksanaannya. Dengan demikian apabila masih terdapat
kekurangan-kekurangan maka dapat segera dilakukan tindakan korektif yang diperlukan.

Disamping itu, untuk menunjang penerapan Good Corporate Governance, kami
mempunyai visi dan misi yang dipegang teguh oleh seluruh pimpinan dan karyawan PT
Bank Mutiara Tbk, yaitu:

Visi : Menjadi bank fokus terbaik pilihan masyarakat dengan fokus bisnis utama
adalah:
- Small and Medium Enterprise (SME).
- Retail Banking.
- Consumer Banking.
- Treasury and International Banking.

Dengan Visi yang telah ditetapkan, PT Bank Mutiara Tbk akan berupaya menjadi bank
fokus sebagai penyedia jasa keuangan untuk kegiatan bisnis tersebut secara berkualitas
dan profesional melalui hubungan yang baik dengan para nasabah sebagai mitra usaha.

Misi : Memberikan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan, kenyamanan, dan
kepuasan nasabah untuk hasil yang optimal.

Untuk mencapai Misi yang telah ditetapkan, PT Mutiara Bank Tbk secara konsisten akan
menerapkan corporate value SPIRIT yang penjabarannya sebagai berikut :

Service Excellence Profesionalisme Integrity
Kepedulian Kehati-hatian Bertanggung jawab
Kecepatan Disiplin Etika
Penampilan Handal/Kompeten Bebas dari Konflik
Kepentingan
Simpatik Dedikasi Keberanian moral
Ketulusan Gigih Interdependensi

Relationship Inovative Trust
Kerjasama Kreatif Jujur
Komunikatif Pembaharuan Komitmen
Kepercayaan Gagasan Dapat diandalkan
Keakraban Imajinatif Benar
Apresiasi Mitigasi Risiko Saling Menghargai

Dalam budaya tersebut, terdapat nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya, yaitu
suatu komitmen untuk melakukan perubahan menjadi yang lebih baik. Untuk itu Visi,
Misi dan Corporate Value ini harus bisa menjadi budaya dan meresap setiap individu
karyawan/ti PT Mutiara Bank Tbk untuk diterapkan dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 3 dari 46
CPD, Mei 2010
BAB II
PELAKSANAAN TUGAS DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI


2.1. Struktur Organisasi Dewan Komisaris dan Direksi

KOMITE NOMINASI &
REMUNERASI
KOMITE PEMANTAU RISIKO
DIREKTUR UTAMA
KOMITE AUDIT
ASISTEN EKSEKUTIF
DIREKTUR RETAIL & SME
BANKING
DIREKTUR TREASURY &
INTERNASIONAL
DIREKTUR KEPATUHAN
DIVISI AUDIT
INTERNAL
DIVISI MASS
BANKING
DIVISI TREASURY
DIVISI CORPORATE
SECRETARY
DIVISI OPERASI
DIVISI NETWORK
DEVELOPMENT
DIVISI GOVERNMENT
FUNDING
DIVISI KREDIT
KONSUMEN
DIVISI KREDIT SME
DIVISI IT
DIVISI INTERNATIONAL
BANKING
DIVISI AKUNTANSI &
KEUANGAN
DIVISI MANAJEMEN
RISIKO
DIVISI KEPATUHAN &
LEGAL
DIVISI SUMBER DAYA
MANUSIA
DIVISI UMUM
DIVISI ASET
MANAJEMEN
DIVISI CCSS
KANTOR WILAYAH
DEWAN KOMISARIS
KOMITE
KREDIT
KOMITE S.D.M. KOMITE I.T.
KOMITE M.
RISIKO

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 4 dari 46
CPD, Mei 2010
Setelah diambil-alih kepemilikannya oleh pihak Pemerindah melalui Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS) dalam bentuk Penempatan Modal Sementara, Manajemen
PT Bank Mutara Tbk segera mengambil langkah awal dengan perubahan susunan
kepengurusan terhitung efektif sejak tanggal 21 Nopember 2008 berdasarkan :
1. Keputusan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan nomor
KEP.089/KE/XI/2008, tanggal 21 Nopember 2008 tentang Pemberhentian dan
pengangkatan Pengurus PT Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century Tbk)
2. Keputusan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan nomor
KEP.091/KE/XI/2008,tanggal 23 Nopember 2008
3. Akta Pernyataan Keputusan Rapat PT Bank Mutiara Tbk(d/h. PT Bank Century
Tbk) No.7, 8, 9, tanggal 19 Desember 2008 yang dibuat Notaris Fransiskus Yanto
Widjaja, SH;
4. Keputusan Direksi PT Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century Tbk) nomor
147/SK/DIR/Century/XII/2008 tanggal 09 Desember 2008 tentang Susunan
Pengurus PT Bank Century Tbk. dan Pembidangan Tugas
5. Risalah Rapat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin simpanan sebagai RUPS PT
Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century Tbk) tanggal 8 April 2009 nomo
017/RDK-lps/2009 yang dibuat dihadapan notaris Dr. Irawan Soerodjo, SH, Msi.
Yang dituangkan dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat tanggal 10 Mei 2009
nomor 10;
6. Risalah Rapat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan sebagai RUPS PT
Bank Mutiara Tbk (d/h. PT Bank Century Tbk) tanggal 17 Juni 2009 nomor
034/RDK-LPS/2009 yang telah dituangkan dalam Akta Pernyataan Keputusan
Rapat yang dibuat dihadapan Fransiskus Yanto Widjaja, Sarjana Hukum, notaris di
Jakarta tanggal 14 Juli 2009;
Adapun susunan Pengurus dan Dewan Komisaris yang baru adalah sebagai berikut :
a) Struktur Organisasi:

Dewan Komisaris beranggotakan 3 (tiga) orang terdiri dari :
Komisaris Utama : Pontas Riyanto Siahaan
Komisaris : Budhiyono Budoyo
Komisaris : Eko Budi Supriyanto

Direksi beranggotakan 4 (empat) orang terdiri dari :
Direktur Utama : Maryono
Direktur : Ahmad Fajar
Direktur : Erwin Prasetio
Direktur : Benny Purnomo

b) Komposisi Komisaris:

Dewan Komisaris terdiri dari 3 (tiga) orang komisaris

(1) Komisaris Utama : Pontas R.Siahaan

Tempat/tanggal lahir : Balige/ 3 September 1945. Meraih gelar Sarjana di
Institut Ilmu Keuangan (IIK). Mengawali karier di Departemen Keuangan
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 5 dari 46
CPD, Mei 2010
sebagai Kepala Seksi Pengawasan Rekening Pemerintah Pada Bank (1976-
1979), di BPKP propinsi Sulawesi Selatan sebagai Kepala Seksi Pengawasan
Pengadaan Pangan (1979-1984), di BPKP Propinsi Riau Pekanbaru sebagai
Kepala Bidang Pengawasan BUMN I (1984-1990), di BPKP DKI Jakarta sebagai
Kepala Bidang Pengawasan BUMN II (April 1990-Agustus 1990), sebagai
Kepala Perwakilan BPKP Kodya Cirebon (1990-1991), sebagai Kepala
Direktorat Pengawasan Pengeluaran Rutin Pusat dan Daerah II, BPKP Jakarta
(1994-1997), sebagai Kepala Direktorat Pengawasan BUMN I, BPKP Jakarta
(1997-2001, dan Wakil Ketua BPPN (Maret 2008 Agustus 2008), Deputi
Pengawasan Instansi Bidang Perekonomian di BPKP (2001-2005), dan
anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (2005-2008).
Sesuai dengan surat Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan No. S-
597/KE/VIII/2009 tanggal 14 Agustus 2009 mendapat tugas sebagai Wakil
Pemegang Saham.

(2) Komisaris Independen: Budhiyono Budoyo

Meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Diponegoro pada tahun 1977,
gelar Master of Business Administration (MBA) / S-2 dari OHIO University
AS. Meniti karir di BNI sejak tahun 1978 sebagai analis kredit, dan telah
menduduki berbagai jabatan strategis baik di dalam maupun di luar negeri,
dan menduduki posisi terakhir sebagai Vice President and Head of the
Board hingga tahun 2004. Tahun 2003-2005 ditunjuk sebagai komisaris di
sebuah Joint Venture Bank yaitu Bank Finconesia. Melanjutkan karirnya
sebagai direktur PT Renaissance Capital Asia LTD pada tahun 2004-2005,
dan sebagai CEO di sebuah holding company yang bergerak salah satunya
dibidang pengeboran minyak pada tahun 2006-2007.

Dibidang pendidikan hingga kini sebagai Professional Instructure di
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Pada bulan Juli 2009
ditunjuk oleh Pemerintah menjadi Komisaris Independen PT Bank Mutiara
Tbk dan mendapat tugas sebagai Ketua Komite Pemantau Risiko dan Ketua
Komite Remunerasi dan Nominasi PT Bank Mutiara Tbk. Sesuai dengan surat
Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan No. S-597/KE/VIII/2009
tanggal 14 Agustus 2009 mendapat tugas sebagai Komisaris Independen PT
PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank Century Tbk), dan mendapat tugas
sebagai Ketua Komite Pemantau Risiko PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank
Century Tbk, No. 83/SK-DIR/Century/VIII/2009), dan sebagai Ketua Komite
Remunerasi dan Nominasi PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank Century Tbk,
No. 84.1/SK-DIR/Century/VIX/2009).

(3) Komisaris Independen: Eko Budi Supriyanto

Meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Pembangunan Nasional pada
1997. Lebih dari 20 th menggeluti riset, konsultan komunikasi dan menjadi
jurnalis dibidang perbankan. Hingga kini menjadi narasumber diberbagai
bank di Indonesia, khususnya mengenai mapping dan anatomi perbankan
Indonesia. Pernah menjadi anggota Tim Kajian Hukum Independen
Perbankan, Departemen Kehakiman dan HAM pada Juli 2003 sampai Maret
2009. Anggota Tim Kajian Restrukturisasi Utang UKM, INDEF pada tahun
2002 dan anggota Tim Kajian Independen Obligasi Rekapitalisasi Perbankan
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 6 dari 46
CPD, Mei 2010
tahun 2002 di Bappenas. Saat ini masih menjabat sebagai Direktur Utama
pada PT Info Arta Pratama (Infobank) bidang penerbitan, riset, dan
konsultan komunikasi. Pada bulan Juli 2009 ditunjuk oleh Pemerintah
menjadi Komisaris Independen pada PT Bank Mutiara Tbk sampai sekarang.
Sesuai dengan surat Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan No. S-
597/KE/VIII/2009 tanggal 14 Agustus 2009 mendapat tugas sebagai
Komisaris Independen PT Bank Mutiara Tbk, dan mendapat tugas sebagai
Ketua Komite Audit PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank Century Tbk ,No.
84/SK-DIR/Century/VIII/2009), dan sebagai Anggota Komite Remunerasi dan
Nominasi PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank Century Tbk ,No. 84.1/SK-
DIR/Century/VIX/2009).

c) Komposisi Direksi:
Direksi terdiri dari 4 (empat) orang yang merupakan Direksi Independen, artinya
tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham,
dan/atau hubungan keluarga dengan anggota Dewan Direksi lainnya, Komisaris
dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau hubungan dengan Bank, yang dapat
mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak tidak independen.
Direktur Utama: Maryono
Tempat / tanggal lahir : Rembang, 16 September 1955. Memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi dari Universitas Diponegoro pada tahun 1981, dan gelar
Magister Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IPWI pada tahun 1997,
Jakarta. Mengawali karier di PT Bank Pembangunan Indonesia (Persero) tahun
1983-1997, mulai dari Wira Muda di Kelompok Pembahas Kredit Cabang Bapindo
Pontianak sampai dengan sebagai Kepala Cabang Bapindo Pontianak, pada
Agustus 1999-Juli 2002 sebagai Kepala Wilayah IX PT Bank Mandiri Banjarmasin.
Pada Juli 2002-Desember 2003 menjabat sebagai Kepala Wilayah I PT Bank
Mandiri Medan. Pada Januari-Desember 2004 sebagai SEVP/Group Head Regional
Network Group PT Bank Mandiri Cabang Wilayah Luar Kota. Tahun 2005-2008
sebagai EVP/Group Head Jakarta Network Group PT Bank Mandiri, pada bulan
September 2007 sebagai Komisaris Utama pada PT Mandiri Manajemen
Investama. Pada bulan November tahun 2008 hingga saat ini dipercaya sebagai
Direktur Utama PT Bank Mutiara Tbk.
Direktur Treasury: Ahmad Fajar
Lahir di Surakarta 22 Januari 1966. Memperoleh gelar Sarjana dari Institut
Pertanian Bogor (IPB) tahun 1988, dan gelar Magister Manajemen tahun 2000 di
Universitas Padjajaran. Memulai karir di Perbankan pada tahun 1990 sebagai
Tata Usaha Kantor Pusat, dan pada tahun 2000 sebagai Manager Senior Officer
Treasury Liquidity Management Funding di Bank Bumi Daya. Tahun 2000-2001
sebagai Manager Senior Officer - Treasury & Capital Market Portfolio
Investment di Bank Mandiri. Tahun 2001-2003 sebagai Manager Profesional Staff
Treasury Management, Treasury Product/Sales Management di Bank Mandiri.
Tahun 2003-2004 Srm : TL Portfolio Investment Mgr Treasury Bank Mandiri,
tahun 2004-2008 VP : DH-Debt & Capital Market Treasury Debt & Capital
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 7 dari 46
CPD, Mei 2010
Market di Bank Mandiri. Pada bulan Nopember tahun 2008 hingga saat ini
dipercaya sebagai Direktur PT Bank Mutiara Tbk.
Direktur Compliance: Erwin Prasetio
Lahir di Ambon 20 November 1957. Menyelesaikan Pendidikan Diploma di
Akademi Ilmu Komputer pada tahun 1983, dan pada tahun 1996 di Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi YAI jurusan Akuntansi. Memulai karir pada tahun 1983
sebagai staf di bidang Desk Electronic Data Processing. Tahun 1983-1992 sebagai
Non PJB di PT Bank Pembangunan Indonesia. Tahun 1993-1996 mendapatkan
penghargaan sebagai Pegawai Terbaik di PT Bank Pembangunan Indonesia.
Tahun 1996-1997 sebagai PJ Kepala Sub Bagian di Bank Pembangunan Indonesia.
Tahun 1998 sebagai Kepala Sub Bagian di Bank Mandiri, sebagai Profesional Staf
(1999-2004), dan sebagai Kepala Bagian di Bank Mandiri (2004-2008). Ketika
Bapindo merger menjadi Bank Mandiri posisi terakhir adalah Departement Head
IT/Operation Group. Pada bulan November 2008 hingga saat ini dipercaya
sebagai Direktur PT Bank Mutiara Tbk.
Direktur Marketing: Benny Purnomo
Lahir di Jakarta, 18 September 1967. Menyelesaikan pendidikan dan meraih
gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1989, dan Magister Manajemen pada tahun
2003 di Universitas Atmajaya. Memulai karir perbankan pada Bank Central Asia
pada tahun 1992 sebagai Branch Support Pro Manager. Merintis karir di BCA
sampai tahun 2006 dan menduduki posisi terakhir sebagai Product Management
Senior Manager.
Ditunjuk sebagai Consumer Channel Division Head di Bank NISP pada tahun
2007, dan melanjutkan karir disana sampai tahun 2009, sebelum ditunjuk
menjadi Direktur Product and Marketing di PT Bank Mutiara Tbk pada bulan Mei
tahun 2009. Sampai saat ini aktif di dunia pendidikan dengan menjadi dosen di
Universitas Atmajaya dari tahun 2003 sampai sekarang
2.2. Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris
Dewan Komisaris terdiri dari 3 (tiga) orang Komisaris, salah satunya adalah
Komisaris Utama yang melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
a) Melakukan pengawasan dan memberikan nasehat kepada Direksi
b) Mengawasi dipenuhinya kepentingan stakeholder berdasarkan asas
kesetaraan
c) Selalu memastikan bahwa Good Corporate Governance telah terlaksana
dengan baik
d) Melakukan tindak lanjut dari hasil pengawasan dan rekomendasi yang
diberikan terutama dalam hal terjadi penyimpangan dari ketentuan
perundang-undangan, anggaran dasar, dan prudential banking principal
e) Selalu mengarahkan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan
strategis bank
f) Memiliki tata tertib kerja yang mengikat dan ditaati oleh semua anggota
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 8 dari 46
CPD, Mei 2010
g) Tidak memanfaatkan bank untuk kepentingan pribadi, keluarga, perusahaan
atau kelompok usahanya dengan semangat dan cara yang bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan dan kewajaran dibidang perbankan.
h) Tidak terlibat didalam pengambilan keputusan kegiatan operasional bank,
kecuali hal-hal khusus yang telah diatur oleh Anggaran Dasar Bank dan Bank
Indonesia.
i) Selalu memastikan bahwa Direksi telah menindak lanjuti temuan audit dan
rekomendasi dari SKAI, auditor eksternal, hasil pengawasan Bank Indonesia
dan/atau hasil pengawasan otoritas lainnya.
j) Memberitahukan kepada Bank Indonesia paling lambat 7 (tujuh) hari kerja
sejak ditemukannya pelanggaran peraturan dibidang keuangan/perbankan
dan keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan
kelangsungan usaha bank.
k) Setelah PT Bank Century Tbk diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan,
dengan mengangkat manajemen yang baru, Dewan Komisaris telah
membentuk Komite yang baru sebagai berikut:
Komite Audit melalui SK Direksi No. 084/SK-DIR/Century/VIII/2009 tanggal
01 September 2009.
Komite Pemantau Resiko melalui SK Direksi No. 83/SK-
DIR/Century/VIII/2009 tanggal 01 September 2009.
Komite Remunerasi dan Nominasi melalui SK Direksi No. 84.1/SK-
DIR/Century/IX/2009 tanggal 01 September 2009.
l) Memastikan bahwa komite yang telah dibentuk menjalankan tugasnya secara
efektif.
m) Rapat Dewan Komisaris selalu diselenggarakan secara berkala paling kurang 4
(empat) kali dalam setahun dan wajib dihadiri oleh seluruh anggota Komisaris
paling kurang 2 (dua) kali dalam setahun
n) Pengambilan keputusan rapat dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat
dan apabila tidak tercapai dapat dilakukan pengambilan keputusan dengan
suara terbanyak.
o) Segala keputusan Dewan Komisaris bersifat mengikat bagi seluruh anggota
Dewan Komisaris. Perbedaan pendapat yang terjadi dalam rapat dan
keputusan rapat wajib dicantumkan secara jelas dalam risalah rapat dan
didokumentasikan secara baik.
p) Kepemilikan saham, baik di PT Bank Mutiara Tbk maupun pada bank atau
perusahaan lainnya yang berkedudukan didalam dan diluar negeri dan
hubungan keuangan dan keuangan dengan direksi, pemegang saham
pengendali dan anggota Dewan Komisaris lainnya akan dilaporkan dalam
Laporan Pelaksanaan Good Corporate Governance
q) Akan mengungkapkan remunerasi dan fasilitas yang didapatkan pada laporan
pelaksanaan Good Corporate Governance sebagaimana diatur dalam
Peraturan Bank Indonesia.
r) Secara hukum bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan UU Perseroan
Terbatas, UU Perbankan dan Anggaran Dasar.
2.3. Tugas dan Tanggung Jawab Direksi
Direksi terdiri dari 4 (empat) orang yang salah satunya adalah Direktur Utama
secara bersama-sama melaksanakan tugas dan tanggung jawab kepada bank
untuk :
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 9 dari 46
CPD, Mei 2010
a) Kepengurusan Perseroan serta mewakili Perseroan baik didalam maupun
diluar pengadilan.
b) Direksi diketuai oleh Direktur Utama yang bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan fungsi kepengurusan bank secara efektif dan efisien. Direktur
Utama juga berkewajiban untuk membuat Direksi sebagai kolegial yang
mampu bekerja secara transparan dan masing-masing anggota dapat
berperan sebagai anggota tim maupun dalam fungsinya masing-masing sesuai
dengan bidang tugas yang disepakati.
c) Melaksanakan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam setiap
kegiatan usaha Bank pada seluruh tingkatan dan jenjang organisasi.
d) Dalam rangka melaksanakan prinsip-prinsip Good Corporate Governance,
Direksi telah membentuk ;
- Satuan Kerja Audit Intern
- Satuan Kerja Manajemen Resiko dan Komite Manajemen Resiko
- Satuan Kerja kepatuhan.
e) Menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari SKAI bank, auditor
eksternal, hasil pengawasan Bank Indonesia dan/atau hasil pengawasan
otoritas bank lainnya.
f) Memiliki Tata Tertib Kerja yang mengikat dan ditaati oleh anggotanya. Dalam
tata Tertib diatur mekanisme pengambilan keputusan dan hak anggota bila
mempunyai pendapat yang berbeda, termasuk haknya untuk menyampaikan
pendapat kepada Dewan Komisaris dan Otoritas Pengawas Bank
g) Mengungkapkan kepada pegawai kebijakan bank yang bersifat strategis
dibidang kepegawaian
h) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada pemegang saham
melalui Rapat Umum Pemegang Saham
i) Tidak menggunakan penasihat perorangan dan/atau jasa profesional sebagai
konsultan kecuali pada proyek yang bersifat khusus, didasari dengan kontrak
yang jelas dan konsultan adalah pihak yang independen dan memiliki
kualifikasi untuk mengerjakan proyek yang bersifat khusus seperti dimaksud
diatas
j) Menyiapkan data dan informasi yang akurat, relevan dan tepat waktu kepada
Dewan Komisaris
k) Setiap kebijakan dan keputusan strategis selalu diputuskan melalui rapat
direksi
l) Keputusan rapat Direksi dilakukan berdasarkan musyawarah dan mufakat
dapat dilakukan berdasarkan suara terbanyak
m) Segala keputusan rapat Direksi bersifat mengikat bagi seluruh Direksi.
Perbedaan pendapat yang terjadi dalam rapat dan keputusan rapat wajib
dicantumkan secara jelas dalam risalah rapat dan didokumentasikan secara
baik
n) Kepemilikan saham, baik di PT Bank Mutiara Tbk maupun pada bank atau
perusahaan lainnya yang berkedudukan didalam dan diluar negeri dan
hubungan keuangan dan keluarga dengan pemegang saham, anggota Dewan
Komisaris dan Direksi lainnya wajib dilaporkan dalam laporan pelaksanaan
Good Corporate Governance.
o) Melaksanakan remunerasi dan fasilitas yang didapatkan pada laporan
pelaksanaan Good Corporate Governance sebagaimana diatur dalam
Peraturan Bank Indonesia.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 10 dari 46
CPD, Mei 2010
p) Anggota Direksi secara hukum bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan
Undang-Undang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Perbankan dan
Anggaran Dasar Bank.
2.4. Rekomendasi Dewan Komisaris

Dewan Komisaris, disamping melaksanakan dan bertanggung jawab terhadap
tugas-tugas pokok yang diembannya, juga dapat memberikan rekomendasi
dalam keputusan rapat sesuai dengan Anggaran Dasar, antara lain:
- Keputusan Rapat Komite Pemantau Resiko
- Keputusan Rapat Komite Remunerasi dan Nominasi
- Keputusan Rapat Komite Audit

2.5. Kepemilikan Saham
Kepemilikan saham PT Bank Mutiara Tbk saat ini sesuai dengan yang tertera
dalam Akta Nomor 62 tanggal 10 Agustus 2009 adalah sbb:
No. Pemilik Nilai Nilai nominal Persentase
1. LPS 6.762.361.000.000
(saham seri A)
Rp. 0,01 99,996%
2. Pemegang Saham
lama
28.350.177.035
(saham seri B)
Rp. 78,00 0,004%
Sesuai dengan pasal 40 UU No. 24 tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS), terhitung sejak penyerahan penanganan Bank Gagal kepada
LPS, maka LPS mengambil-alih hak dan wewenang RUPS, kepemilikan,
kepengurusan, dan / atau kepentingan lain pada bank dimaksud.
Dengan diserahkannya penanganan PT Bank Mutiara Tbk oleh KSSK kepada LPS
tanggal 21 Nopember 2008, LPS menetapkan penangan PT Bank Mutiara Tbk
sesuai dengan Keputusan Rapat Dewan Komisioner No.041/RDK-LPS/2008.
Pada saat pengambil-alihan oleh LPS, modal bank menurut assessment Bank
Indonesia telah negatif sebesar Rp.2.171.602, dan CAR sebesar negatif 35,92%.
Sejak pengambil-alihan oleh LPS sampai dengan 31 Desember 2008, PT Bank
Mutiara Tbk telah menerima dari LPS setoran biaya penanganan Bank Gagal
sebesar Rp.6.762.361 juta. Seluruh biaya penanganan tersebut merupakan
Penyertaan Modal Sementara LPS pada PT Bank Mutiara Tbk.
Berdasarkan pasal 42 UU LPS, dalam hal ekuitas bank bernilai nol atau negatif
pada saat penyerahan kepada LPS, Pemegang Saham Lama tidak memiliki hak
atas hasil penjualan saham bank setelah penanganan.
Seluruh saham bank akan dijual oleh LPS paling lama 3 tahun sejak tanggal
pengambil-alihan, dan dapat diperpanjang paling banyak 2 (dua) kali dengan
masing-masing perpanjangan selama 1 (satu) tahun.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 11 dari 46
CPD, Mei 2010
2.6. Remunerasi dan Fasilitas Lain.

a. Paket / Kebijakan Remunerasi dan Fasilitas Lain bagi Dewan Komisaris dan
Direksi sebagai berikut


Jenis Remunerasi dan Fasilitas Lain
Jumlah diterima dalam 1 tahun
Dewan Komisaris Direksi
Orang Juta Rph Orang Juta Rph
1. Remunerasi (gaji, bonus,
tunjangan rutin, tantiem, dan
fasilitas lainnya dalam bentuk
non natura)


3


2.456


4


7.024
2. Fasilitas lain dalam bentuk
natura (perumahan, transportasi,
premi asuransi kesehatan dan
sebagainya)


1


6


4


31
Total 4 2.462 8 7.055

b. Paket Remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi yang dikelompokkan dalam
kisaran tingkat penghasilan sebagai berikut:

Jumlah Remunerasi per orang
dalam 1 tahun *)
Jumlah Direksi Jumlah Komisaris
Diatas Rp.2 miliar 0 0
Diatas Rp.1 miliar s/d Rp.2 miliar 4 0
Diatas Rp.500 juta s/d Rp.1 miliar 0 3
Rp. 500 juta keatas 0 0
*) yang diterima secara tunai

c. Ratio gaji tertinggi dan terendah dalam skala perbandingan sebagai berikut;
- Ratio gaji Direksi yang tertinggi dan terendah = 1 : 1,4
- Ratio gaji Komisaris yang tertinggi dan terendah = 1 : 1,12
- Ratio gaji Direksi tertinggi dan pegawai tertinggi = 1 : 1,76

Gaji yang diperbandingkan dalam ratio gaji tersebut adalah imbalan yang
diterima oleh anggota Dewan Komisaris, Direksi dan Pegawai per bulan.
Pegawai adalah pegawai tetap bank sampai batas pelaksana.










Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 12 dari 46
CPD, Mei 2010
BAB III
KELENGKAPAN DAN PELAKSANAAN TUGAS
KOMITE-KOMITE PT BANK MUTIARA TBK

PT Bank Mutiara Tbk telah membentuk komite-komite yang dipersyaratkan dalam
ketentuan Good Corporate Governance. Susunan komite-komite tersebut adalah sebagai
berikut :

3.1. Komite Audit

a. Struktur Organisasi

Ketua : Pontas R. Siahaan
Anggota : - Yusuf Subianto
- Darmawan Effendi
Berdasarkan SK Direksi no. 43/SK-DIR/Century/II/2009 tanggal 11 Februari 2009

Komite Audit ini kemudian diperbaharui dengan struktur organisasi sebagai
berikut:

Ketua : Eko B. Supriyanto
Anggota : - Yusuf Subianto
- Darmawan Effendi
(Berdasarkan SK Direksi No. 84/SK-DIR/Century/VIII/2009 tanggal 01 September 2009)


b. Keanggotaan Komite Audit

Komite Audit diketuai oleh seorang Komisaris Independen dan Anggota Komite
Audit (paling kurang) terdiri dari seorang Pihak Independen yang memiliki
keahlian di bidang hukum atau perbankan. Penunjukan nama-nama Ketua dan
Anggota Komite Audit sebagaimana dimaksud diatas telah memenuhi kriteria yang
ditetapkan dalam PBI.

c. Keahlian / Disiplin Ilmu Anggota Komite Audit

- Eko Budi Supriyanto sebagai Ketua Komite Audit

Meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Pembangunan Nasional pada 1997.
Lebih dari 20 th menggeluti riset, konsultan komunikasi dan menjadi jurnalis
dibidang perbankan. Hingga kini menjadi narasumber diberbagai bank di
Indonesia, khususnya mengenai mapping dan anatomi perbankan Indonesia.
Pernah menjadi anggota Tim Kajian Hukum Independen Perbankan,
Departemen Kehakiman dan HAM pada Juli 2003 sampai Maret 2009. Anggota
Tim Kajian Restrukturisasi Utang UKM, INDEF pada tahun 2002 dan anggota
Tim Kajian Independen Obligasi Rekapitalisasi Perbankan tahun 2002 di
Bappenas. Saat ini masih menjabat sebagai Direktur Utama pada PT Info Arta
Pratama (Infobank) bidang penerbitan, riset, dan konsultan komunikasi. Pada
bulan Juli 2009 ditunjuk oleh Pemerintah menjadi Komisaris Independen pada
PT Bank Mutiara Tbk sampai sekarang.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 13 dari 46
CPD, Mei 2010
Sesuai dengan surat Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan No. S-
597/KE/VIII/2009 tanggal 14 Agustus 2009 mendapat tugas sebagai Komisaris
Independen PT Bank Mutiara Tbk, dan mendapat tugas sebagai Ketua Komite
Audit PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank Century Tbk ,No. 84/SK-
DIR/Century/VIII/2009), dan sebagai Anggota Komite Remunerasi dan Nominasi
PT Bank Mutiara Tbk (d/h PT Bank Century Tbk ,No. 84.1/SK-
DIR/Century/VIX/2009).

- Yusuf Subianto, sebagai anggota Komite Audit

Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi Universitas Indonesia tahun 1978, telah
mengikuti berbagai pelatihan profesi di tingkat lokal dan internasional, yang
diselenggarakan oleh Bank Indonesia, Bapindo, Alpia, PDCP Manilla Phillipina.
Karir perbankan dimulai tahun 1980 di Bank Pembangunan Indonesia sampai
dengan tahun 1999, kemudian di Bank Mandiri sampai dengan tahun 2000.

- Darmawan Effendi, sebagai anggota Komite Audit

Meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1981.
Memulai karir perbankan sejak tahun 1981 di Bapindo sampai dengan tahun
1999, kemudian di Bank Mandiri sampai tahun 2008. Sejak akhir tahun 2008
menjadi anggota Komite Audit di PT Bank Mutiara Tbk.

d. Independensi Anggota Komite Audit

Ketiganya (satu ketua dan dua anggota) tidak memiliki hubungan keuangan,
kepengurusan, kepemilikan saham, dan/atau hubungan keluarga dengan anggota
Dewan Komisaris lainnya, Direksi dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau
hubungan dengan Bank, yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk
bertindak independen.

e. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit

1) Melakukan pemantauan dan evaluasi atas perencanaan dan pelaksanaan audit
serta pemantauan atas tindak lanjut hasil audit dalam rangka menilai
kecukupan pengendalian intern termasuk kecukupan proses pelaporan
keuangan.
2) Dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud butir 1), Komite
Audit melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap :
Pelaksanaan Tugas Satuan Kerja Audit Intern
Kesesuaian pelaksanaan audit oleh Kantor Akuntan Publik dengan standar
audit yang berlaku.
Kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi yang berlaku
(PSAK).
Pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas hasil temuan Satuan Kerja
Audit, Akuntan Publik, dan hasil pengawasan Bank Indonesia.
3) Memberikan rekomendasi mengenai penunjukan Akuntan Publik kepada Dewan
Komisaris untuk disampaikan kepada Rapat Umum Pemegang Saham.


Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 14 dari 46
CPD, Mei 2010
4) Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya Komite Audit berpedoman
kepada Piagam Komite Audit (Audit Committee Charter) PT Bank Mutiara Tbk
dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan peraturan Bank
Indonesia.

f. Rapat Komite Audit

1) Rapat Komite diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan Bank.
2) Rapat Komite hanya dapat dilakasanakan apabila dihadiri oleh paling kurang
51% dari jumlah anggota termasuk seorang Komisaris Independen.
3) Keputusan Rapat Komite dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat.
4) Dalam hal tidak terjadi musyawarah mufakat, pengambilan keputusan
dilakukan berdasarkan suara terbanyak.
5) Hasil rapat Komite sebagaimana dimaksud pada butir 3), dituangkan dalam
risalah rapat dan didokumentasikan secara baik.
6) Perbedaan pendapat (dissenting opinions) yang terjadi dalam rapat Komite
sebagaimana dimaksud pada butir 4), wajib dicantumkan secara jelas dalam
risalah rapat beserta alasan perbedaan pendapat.

g. Program Kerja dan Realisasi Komite Audit
Pelaksanaan tugas-tugas dan rapat Komite Audit diselenggarakan sesuai dengan
kebutuhan dan azas kepraktisan, yaitu berupa pertemuan bulanan bersama
Satuan Kerja Audit Intern. Dalam tahun 2009 telah dilaksanakan 11 (sebelas) kali
pertemuan bulanan.

Tujuan pertemuan bulanan dengan SKAI adalah untuk menilai kecukupan fungsi
audit intern dan efektifitas pelaksanaan tugas SKAI, telah memenuhi standar
prosedur audit seperti diatur dalam SPFAIB (Standar Pemeriksaan Fungsi Audit
Intern Bank) dan Audit Charter PT Bank Mutiara Tbk.


3.2. Komite Pemantau Risiko

a. Struktur Organisasi

Ketua : Budhiyono Budoyo
Anggota : - Yusuf Subianto
- Darmawan Effendi
(Berdasarkan SK Direksi no. 83/SK-DIR/Century/VIII/2009 tanggal 01 September 2009)

b. Keanggotaan Komite Pemantau Risiko
Komite Pemantau Risiko diketuai oleh seorang Komisaris Independen dan dua
orang anggota dari pihak independen yang memiliki keahlian di bidang
Manajemen Risiko.

c. Keahlian/Disiplin Ilmu Anggota Komite Pemantau Risiko

- Budhiyono Budoyo, sebagai Ketua Komite Pemantau Risiko.

Meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Diponegoro pada tahun 1977,
gelar Master of Business Administration (MBA) / S-2 OHIO dari University AS.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 15 dari 46
CPD, Mei 2010
Meniti karir di BNI sejak tahun 1978 sebagai analis kredit, dan telah
menduduki berbagai jabatan strategis baik di dalam maupun di luar negeri,
dan menduduki posisi terakhir sebagai Vice President and Head of the Board
hingga tahun 2004. Tahun 2003-2005 ditunjuk sebagai komisaris di sebuah
Joint Venture Bank yaitu Bank Finconesia. Melanjutkan karirnya sebagai
direktur PT Renaissance Capital Asia LTD pada tahun 2004-2005, dan sebagai
CEO di sebuah holding company yang bergerak salah satunya dibidang
pengeboran minyak pada tahun 2006-2007.

Dibidang pendidikan hingga kini sebagai Professional Instructure di Lembaga
Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Pada bulan Juli 2009 ditunjuk oleh
Pemerintah menjadi Komisaris Independen PT Bank Mutiara Tbk dan mendapat
tugas sebagai Ketua Komite Pemantau Risiko dan Ketua Komite Remunerasi
dan Nominasi PT Bank Mutiara Tbk.

- Yusuf Subianto, sebagai anggota Komite Pemantau Risiko

Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi Universitas Indonesia tahun 1978, telah
mengikuti berbagai pelatihan profesi di tingkat lokal dan internasional, yang
diselenggarakan oleh Bank Indonesia, Bapindo, Alpia, PDCP Manilla Phillipina.
Karir perbankan dimulai tahun 1980 di Bank Pembangunan Indonesia sampai
dengan tahun 1999, kemudian di Bank Mandiri sampai dengan tahun 2000.

- Darmawan Effendi, sebagai anggota Komite Pemantau Risiko

Meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1981.
Memulai karir perbankan sejak tahun 1981 di Bapindo sampai dengan tahun
1999, kemudian di Bank Mandiri sampai tahun 2008. Sejak akhir tahun 2008
menjadi anggota Komite Audit di PT Bank Mutiara Tbk.

d. Independensi Anggota Komite Pemantau Risiko

Ketiganya (satu ketua dan dua anggota) tidak memiliki hubungan keuangan,
kepengurusan, kepemilikan saham, dan/atau hubungan keluarga dengan anggota
Dewan Komisaris lainnya, Direksi dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau
hubungan dengan Bank, yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk
bertindak independen.

e. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Pemantau Risiko

1) Melakukan evaluasi kesesuaian antara kebijakan manajemen risiko dan
pelaksanaan kebijakan tersebut.
2) Melakukan pemantauan dan evaluasi tugas Komite Manajemen Risiko dan
Satuan Kerja Manajemen Risiko
3) Memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris tentang kebijakan yang
perlu diambil.

f. Frekuensi Rapat Komite Pemantau Risiko

1. Rapat Komite diselenggarakan sesuai kebutuhan bank, sekurang-kurangnya 1
(satu) kali dalam 3 bulan.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 16 dari 46
CPD, Mei 2010
2. Keputusan Rapat Komite dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat.
3. Rapat Komite Pemantau Risiko hanya dapat dilaksanakan apabila dihadiri oleh
paling kurang 51% dari jumlah anggota, termasuk seorang Komisaris
Independen dan Pihak Independen
4. Dalam hal tidak terjadi musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud butir 3
diatas pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak.
5. Hasil rapat Komite sebagaimana dimaksud butir 3 wajib dituangkan dalam
risalah rapat dan didokumentasikan secara baik.
6. Perbedaan pendapat (dissenting opinions) yang terjadi dalam rapat komite
sebagaimana dimaksud pada butir 4, wajib dicantumkan secara jelas dalam
risalah rapat beserta alasan perbedaan pendapat tersebut.

g. Program Kerja dan Realisasi Komite Pemantau Risiko

Program kerja Komite Pemantau Risiko adalah melakukan evaluasi atas kebijakan
manajemen risiko, melakukan pemantauan dan evluasi pelaksanaan tugas Komite
Manajemen Risiko dan memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris tentang
kebijakan yang perlu diambil.
Pelaksanaan tugas Komite Pemantau Risiko, melakukan pembahasan dan evaluasi
dalam rapat Komite Pemantau Risiko, serta menyampaikan rekomendasi kepada
Dewan Komisaris.


3.3. Komite Remunerasi dan Nominasi

a. Struktur Organisasi

Ketua : Budhiyono Budoyo
Anggota : - Eko B. Supriyanto
(Berdasarkan SK Direksi no. 84.1/SK-DIR/Century/IX/2009 tanggal 01 September 2009)

b. Keanggotaan Komite Remunerasi dan Nominasi

Komite Remunerasi dan Nominasi diketuai oleh seorang Komisaris Independen dan
anggota Komite Remunerasi dan Nominasi terdiri dari seorang Komisaris dan
seorang Pejabat Eksekutif yang membawahi bidang sumber daya manusia.

c. Keahlian/Disiplin Ilmu Anggota Komite Remunerasi dan Nominasi

- Budhiyono Budoyo, sebagai Ketua Komite Remunerasi dan Nominasi.

Meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Diponegoro pada tahun 1977,
gelar Master of Business Administration (MBA) / S-2 OHIO dari University AS.
Meniti karir di BNI sejak tahun 1978 sebagai analis kredit, dan telah
menduduki berbagai jabatan strategis baik di dalam maupun di luar negeri,
dan menduduki posisi terakhir sebagai Vice President and Head of the Board
hingga tahun 2004. Tahun 2003-2005 ditunjuk sebagai komisaris di sebuah
Joint Venture Bank yaitu Bank Finconesia. Melanjutkan karirnya sebagai
direktur PT Renaissance Capital Asia LTD pada tahun 2004-2005, dan sebagai
CEO di sebuah holding company yang bergerak salah satunya dibidang
pengeboran minyak pada tahun 2006-2007.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 17 dari 46
CPD, Mei 2010

Dibidang pendidikan hingga kini sebagai Professional Instructure di Lembaga
Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Pada bulan Juli 2009 ditunjuk oleh
Pemerintah menjadi Komisaris Independen PT Bank Mutiara Tbk dan mendapat
tugas sebagai K9999 Ketua Komite Pemantau Risiko dan Ketua Komite
Remunerasi dan Nominasi PT Bank Mutiara Tbk.

- Eko B. Supriyanto, sebagai anggota Komite Remunerasi dan Nominasi.

Meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Pembangunan Nasional pada 1997.
Lebih dari 20 th menggeluti riset, konsultan komunikasi dan menjadi jurnalis
dibidang perbankan. Hingga kini menjadi narasumber diberbagai bank di
Indonesia, khususnya mengenai mapping dan anatomi perbankan Indonesia.
Pernah menjadi anggota Tim Kajian Hukum Independen Perbankan,
Departemen Kehakiman dan HAM pada Juli 2003 sampai Maret 2009. Anggota
Tim Kajian Restrukturisasi Utang UKM, INDEF pada tahun 2002 dan anggota
Tim Kajian Independen Obligasi Rekapitalisasi Perbankan tahun 2002 di
Bappenas. Saat ini masih menjabat sebagai Direktur Utama pada PT Info Arta
Pratama (Infobank) bidang penerbitan, riset, dan konsultan komunikasi. Pada
bulan Juli 2009 ditunjuk oleh Pemerintah menjadi Komisaris Independen pada
PT Bank Mutiara Tbk sampai sekarang.

d. Independensi Anggota Komite Remunerasi dan Nominasi

Dua orang anggota komite tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan,
kepemilikan saham, dan/atau hubungan keluarga dengan anggota Dewan
Komisaris lainnya, Direksi dan/atau Pemegang Saham Pengendali atau hubungan
dengan Bank, yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak
independen.

Salah seorang anggota merupakan Pejabat Eksekutif Bank yang membawahi
bidang sumber daya manusia.

e. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Remunerasi dan Nominasi

Komite Remunerasi dan Nominasi melaksanakan tugasnya dalam rangka
mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris. Tugas dan
tanggung jawab Komite Remunerasi dan Nominasi :

1) Terkait Kebijakan Remunerasi :
Melakukan evaluasi terhadap kebijakan remunerasi.
Memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai kebijakan
remunerasi bagi Dewan Komisaris dan Direksi untuk disampaikan kepada
Rapat Umum Pemegang Saham.
Memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai kebijakan
remunerasi bagi Pejabat Eksekutif dan pegawai secara keseluruhan untuk
disampaikan kepada Direksi.




Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 18 dari 46
CPD, Mei 2010
2) Terkait dengan Kebijakan Nominasi :
Menyusun dan memberikan rekomendasi mengenai sistem serta prosedur
pemilihan dan/atau penggantian anggota Dewan Komisaris dan Direksi
kepada Dewan Komisaris untuk disampaikan kepada Rapat Umum Pemegang
Saham.
Memberikan rekomendasi mengenai calon anggota Dewan Komisaris
dan/atau Direksi kepada Dewan Komisaris untuk disampaikan kepada Rapat
Umum Pemegang Saham.
Memberikan rekomendasi mengenai Pihak Independen yang akan menjadi
anggota Komite Remunerasi dan Nominasi.

3) Komite wajib memastikan bahwa :
Kebijakan remunerasi sesuai dengan kinerja keuangan dan pemenuhan
cadangan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Kebijakan remunerasi sesuai dengan prestasi kinerja individual.
Kebijakan remunerasi sesuai dengan kewajaran peer group.
Kebijakan remunerasi sesuai dengan pertimbangan sasaran dan strategi
jangka panjang dari bank.

4) Rapat Komite Remunerasi dan Nominasi
Rapat Komite diselenggarakan sesuai kebutuhan bank.
Rapat Komite Remunerasi dan Nominasi hanya dapat dilaksanakan apabila
dihadiri oleh paling kurang 51% dari jumlah anggota termasuk seorang
Komisaris Independen dan Pejabat Eksekutif.
Keputusan rapat komite dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat.
Dalam hal tidak terjadi musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud poin 3,
maka pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak.
Hasil rapat Komite sebagaimana poin 3 wajib dituangkan dalam risalah
rapat dan didokumentasikan secara baik.
Perbedaan pendapat (dissenting opinion) yang terjadi dalam rapat komite
sebagaimana dimaksud pada poin 4, wajib dicantumkan secara jelas dalam
risalah rapat beserta alasan perbedaan pendapat tersebut.

5) Program Kerja dan Realisasi Komite Remunerasi dan Nominasi
Mengadakan rapat berkala untuk membahas rekomendasi kepada Dewan
Komisaris dan mengevaluasi tentang kebijakan remunerasi.
Mengadakan rapat membahas tentang sistem dan prosedur pemilihan dan
atau penggantian Dewan Komisaris dan Dewan Direksi serta memberikan
rekomendasi kepada Dewan Komisaris.










Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 19 dari 46
CPD, Mei 2010
BAB IV
PENERAPAN FUNGSI KEPATUHAN, AUDIT INTERN
DAN AUDIT EKSTERN

4.1. Penerapan Fungsi Kepatuhan

Salah satu upaya yang efektif untuk mendukung penerapan fungsi kepatuhan, audit
intern dan audit ekstern adalah melalui peningkatan upaya pencegahan terhadap
kemungkinan gangguan dari luar dan dalam lingkungan.

Sistem pencegahan yang ada harus menyeluruh (comprehensive), yaitu tidak hanya
sekedar pencegahan melalui peraturan, Standard Operational Procedure (SOP) dan
atau pengawasan, tetapi juga pencegahan langsung oleh para pelakunya.
Pencegahan internal oleh manajemen bank diharapkan mampu mencegah terjadinya
hal-hal yang tidak diharapkan.

Salah satu wujud dari upaya PT Bank Mutiara Tbk adalah dengan menunjuk seorang
Direktur Kepatuhan yang merupakan anggota Direksi yang tidak terlibat dalam
kegiatan operasional bank (independent), yang bertugas untuk memastikan bahwa
kebijakan/peraturan penting yang diambil oleh pengurus bank tidak menyimpang
atau melanggar ketentuan dan prinsip kehati-hatian di bidang perbankan.

Dalam melaksanakan Fungsi Kepatuhan Bank mengacu pada Peraturan Bank
Indonesia (PBI) No.1/6/1999 tanggal 20 September 1999 tentang Penugasan
Direktur Kepatuhan dan penerapan standar pelaksanaan fungsi audit intern bank
umum, yang merupakan panduan bagi bank-bank di Indonesia dalam pelaksanaan
fungsi Direktur Kepatuhan.

Yang dimaksud dengan Fungsi Kepatuhan disini adalah patuh/comply with
terhadap Peraturan Bank Indonesia, peraturan perundang-undangan lain yang
berlaku dan perjanjian serta komitmen bank dengan Bank Indonesia, serta
kepatuhan terhadap kebijakan dan atau keputusan/peraturan intern yang berlaku.

Direktorat Kepatuhan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya telah berupaya
untuk memastikan bahwa suatu rancangan/rencana kebijakan dan atau keputusan
yang akan diambil oleh Direksi dan atau Dewan Komisaris tidak melanggar ketentuan
prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan Good Corporate Governance.

Apabila Direktur Kepatuhan berpendapat bahwa terdapat unsur ketidakpatuhan
terhadap ketentuan prinsip kehati-hatian dan Good Corporate Governance, maka
Direktur Kepatuhan meminta agar rancangan/rencana kebijakan dan atau keputusan
dimaksud dibatalkan (hak veto).

Sebagai tahapan awal tugas dan untuk memperkuat pondasi awareness mengenai
Kepatuhan, Direktorat Kepatuhan PT Bank Mutiara Tbk mempunyai program
sosialisasi untuk memperkenalkan dan membangun serta mengembangkan budaya
kepatuhan di setiap satuan kerja/ lingkungan kerja.

Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia, Direktorat Kepatuhan bertugas sekurang-
kurangnya untuk :
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 20 dari 46
CPD, Mei 2010

a. Menetapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bank telah
memenuhi seluruh peraturan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan
lain yang berlaku dalam rangka pelaksanaan prinsip kehati-hatian, yaitu antara
lain:
1) Menyiapkan Kebijakan Kepatuhan ( Compliance Policy ) pada setiap satuan
kerja ;
2) Menyesuaikan pedoman intern bank terhadap perubahan peraturan perundang-
undangan yang berlaku ;
3) Menyiapkan / mengikuti proses pengambilan keputusan oleh manajemen.

b. Memantau dan menjaga agar kegiatan usaha bank tidak menyimpang dari
ketentuan yang berlaku, yaitu antara lain :
1) Melakukan pemantauan penerapan prosedur kepatuhan (compliance
procedure) pada setiap satuan kerja yang digunakan sebagai alat dalam setiap
pengambilan keputusan yang dilakukan ;
2) Melakukan Uji Kepatuhan terhadap kegiatan pembiayaan seperti perkreditan,
trade finance dan treasury ;
3) Melakukan pelatihan serta sosialisasi kepatuhan terhadap ketentuan yang
berlaku.

c. Memantau dan menjaga kepatuhan bank terhadap seluruh perjanjian dan
komitmen yang dibuat oleh bank kepada Bank Indonesia, yaitu :
1) Perjanjian yang dibuat oleh bank dengan Bank Indonesia, antara lain
perjanjian dalam rangka program rekapitalisasi bank umum ;
2) Komitmen yang dibuat oleh bank yaitu kesanggupan bank untuk memenuhi
perintah atau larangan dari Bank Indonesia dalam pelaksanaan kegiatan
tertentu (Cease and Desist Order / CDO ) .

d. Melaporkan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya secara berkala kepada
Direktur Utama dengan tembusan kepada Dewan Komisaris.

e. Menyampaikan Laporan Pokok-Pokok Pelaksanaan Tugas Direktur Kepatuhan
secara semesteran (setiap posisi Juni dan Desember) kepada Bank Indonesia yang
antara lain berisi :
1) Laporan Semesteran Direktur Kepatuhan ini mengacu pada Peraturan Bank
Indonesia (PBI) No.1/6/1999 tanggal 20 September 1999 tentang penugasan
Direktur Kepatuhan dan penerapan standar pelaksanaan fungsi audit intern
bank umum.
2) Susunan pengurus PT Bank Mutiara Tbk, berdasarkan Akta Anggaran Dasar yang
terakhir yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan HAM RI
tentang Persetujuan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan, sesuai
pembahasan pada Bab 2 di atas.

3) Pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia dan Peraturan Perundangan yang
berlaku dalam Pelaksanaan Prinsip Kehati-hatian, sebagai berikut:

- Pemantauan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (CAR)
CAR Risiko Kredit sebesar = 12,31% (patuh)
CAR Risiko Kredit & Risiko Pasar = 10,02% (patuh)

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 21 dari 46
CPD, Mei 2010
- Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)
Dengan posisi tidak ada pelanggaran BMPK, tetapi bank belum patuh
karena masih terdapat pelampauan BMPK sebesar 449,92%, namun
Manajemen telah melakukan langkah-langkah dalam upaya untuk
memperbaiki secara konsisten.

- Posisi Devisa Netto (PDN)
Bank belum patuh memenuhi ketentuan PDN setinggi-tingginya 20% dari
Modal Bank. Posisi PDN di akhir bulan Desember adalah 131,69% (tidak
patuh). Manajemen telah melakukan langkah-langkah dalam upaya terus
menurunkan pada posisi PDN sesuai dengan ketentuan Bank indonesia.

- Kualitas Aktiva Produktif
Dengan posisi NPL Gross sebesar 37,59% belum patuh, namun dari posisi
NPL Net sebesar 9,53% bank sudah patuh.

- Giro Wajib Minimum (GWM)
Bank telah memenuhi ketentuan kewajiban pemenuhan GWM IDR Utama
sebesar 5%, GWM IDR Sekunder sebesar 2,5%, dan GWM Valas sebesar 1%.

Posisi GWM di akhir bulan Desember 2009 adalah:
GWM Rupiah Utama sebesar 5,10% (patuh)
GWM Rupiah Sekunder sebesar 42,08% (patuh)
GWM Valas sebesar 1,42% (patuh)

- Tingkat Kesehatan Bank (TKB)
Pada triwulan 4 (Desember 2009) bank memiliki Peringkat Komposit 3, yaitu
Bank Tergolong Cukup Baik.

- Profil Risiko Bank
Peringkat profil risiko bank per triwulan 4 (Desember 2009) adalah
Moderate Acceptable.

4) Realisasi terhadap Rencana Kerja Bank pada bidang Perkreditan, bidang
Layanan Perbankan (Mass Banking), bidang IT, bidang SKAI, bidang Manajemen
Risiko, bidang Kepatuhan & KYC dan lain-lain.

5) Beberapa Rencana Kerja yang belum terealisasi pada bidang Layanan
Perbankan (Mass Banking), bidang Perkreditan, Penyelesaian Agunan Yang
Diambil Alih (AYDA), serta bidang Kepatuhan dan KYC.


Dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya selama tahun 2009, Unit Kerja
Kepatuhan dibawah koordinasi Kepala Divisi Kepatuhan dengan penanggung jawab
Direktur Kepatuhan, telah berupaya menerapkan fungsi kepatuhan pada seluruh unit
kerja sebagai berikut :

a. Membangun, mengembangkan dan mensosialisasikan budaya kepatuhan di
setiap satuan kerja/lingkungan kerja.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 22 dari 46
CPD, Mei 2010
b. Memastikan bahwa suatu rencana, kebijakan dan atau keputusan yang akan
diambil oleh Direksi dan/atau Dewan Komisaris tidak melanggar ketentuan dan
perundangan yang berlaku dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian
(prudential banking) dan Good Corporate Governance.

c. Memantau dan menjaga kepatuhan bank terhadap seluruh perjanjian dan
komitmen yang dibuat oleh Bank kepada Bank Indonesia.

d. Memantau dan menjaga agar kegiatan usaha bank tidak menyimpang dari
ketentuan yang berlaku, seperti melakukan Uji Kepatuhan secara periodik per
bulan terhadap proses perkreditan yang telah diputuskan. Sebagai langkah awal,
ruang lingkup pengujian kepatuhan ini hanya mencakup untuk permohonan
fasilitas kredit baru, penambahan kredit, perpanjangan kredit, rescheduling, dan
restrukturisasi kredit.

e. Memantau kepatuhan bank terhadap pemenuhan ketentuan Bank Indonesia yang
terkait dengan prinsip kehati-hatian kegiatan operasional bank dalam rangka
menghindarkan (minimalisasi) bank dari kerugian yang timbul terhadap sanksi
penilaian tingkat kesehatan Bank, sanksi denda/kewajiban membayar, sanksi
administratif, dan sanksi hukum/pidana yang potensial terjadi akibat adanya
pelanggaran terhadap ketentuan :
Permodalan (CAR).
Giro Wajib Minimum (GWM).
Perkreditan (BMPK, NPL, KAP, AYDA)
Pembentukan Pencadangan Aktiva Produktif (PPA).
Aktiva Produktif (PDN, Portofolio Penempatan Dana, Maturity Profil, dan lain-
lain).
Kepatuhan lainnya untuk dilakukan perbaikan secara bertahap.

f. Menyiapkan/mengikuti proses pengambilan keputusan oleh manajemen, antara
lain mengikuti Rapat Komite Kredit, Rapat ALCO, Rapat Penyusunan Kebijakan &
SOP, dan mengikuti rapat-rapat lainnya yang terkait dengan tingkat kepatuhan
manajemen dalam menentukan kebijakan bank.

g. Unit Kerja Kepatuhan berkoordinasi dengan unit kerja lainnya dalam hal :
Kepada Unit Kerja Manajemen Risiko dimintakan masukan/saran yang
terkait dengan manajemen risiko atas draft kebijakan dan/atau sistem
prosedur yang akan dilaksanakan di Unit Kerja Kepatuhan.
Bekerja sama dengan Unit Kerja Internal Audit/SKAI dalam menindaklanjuti
hasil temuan-temuan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan SKAI.

h. Sejalan dengan PBI No. 11/28/PBI/2009 tanggal 01 Juli 2009 dan SE BI No.
11/31/DPNP tanggal 20 November 2009, Unit Kerja Pengenalan Nasabah (UKPN)
Pusat dan UKPN Cabang dibawah koordinasi Divisi Kepatuhan telah berupaya
menerapkan Pedoman Standar Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan
Pendanaan Terorisme (PPT) dalam rangka mencegah Tindak Pidana Pencucian
Uang dan Pembiayaan Terorisme dalam kegiatan transaksi bank.

i. Beberapa langkah yang telah dilaksanakan dan sedang dipersiapkan oleh UKPN
Pusat dalam rangka penerapan action plan program APU dan PPT telah sejalan
dengan 5 (lima) pilar yaitu:
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 23 dari 46
CPD, Mei 2010

I. Pilar 1 (Pengawasan Aktif Dewan Komisaris, Pengawasan Aktif Direksi,
Pembentukan Unit Kerja Khusus yaitu UKPN)

Dewan Komisaris dan Direksi telah melakukan pengawasan aktif terhadap
penerapan KYC, termasuk persiapan-persiapan yang terkait dengan Action
Plan Penerapan APU dan PPT.

II. Pilar 2 (Kebijakan dan Prosedur)

Telah selesai draft Penyesuaian Kebijakan dan SOP APU dan PPT, yang harus
segera disampaikan kepada Bank Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebagai penunjang penerapan APU dan PPT, telah dilakukan antara lain:
- Telah selesai Pembuatan Kebijakan Kepatuhan (Compliance Policy)
sebagai landasan penerapan APU dan PPT
- Telah selesai Pembuatan Kebijakan Penanganan Nasabah Berdasarkan
Tingkat Risiko / Risk Based Approach untuk kepentingan CDD dan EDD.
- Telah selesai Pembuatan Kebijakan Pembentukan UKPN Pusat dan
Cabang termasuk didalamnya tugas dan tanggung jawab UKPN baik di
Pusat dan di Cabang.
- Koordinasi dengan Bank Indonesia dan PPATK dalam rangka penerapan APU
dan PPT.

III. Pilar 3 (Pengendalian Interen)

Bank telah memiliki system pengendalian interen untuk meng-audit data
nasabah dan transaksi yang terjadi, antara lain:
- Formulir-formulir untuk kepentingan menjadi nasabah baik perorangan
maupun perusahaan.
- Kebijakan Kebutuhan Informasi dan Dokumen Calon Nasabah/Nasabah
dalam rangka penerimaan calon nasabah atau untuk pengkinian data
nasabah, termasuk didalamnya informasi terkait transaksi transfer dana.
- Kebijakan mengenai Specific Allerts Parameter sebagai alat bantu untuk
menentukan unusual transaction untuk kepentingan pelaporan LTKM
(STR).
- Telah dilakukan pendistribusian kepada seluruh kantor Daftar Teroris
yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia agar setiap cabang melakukan
investigasi terhadap seluruh nasabahnya

- Laporan yang telah dilaporkan kepada PPATK selama tahun 2009, yaitu
LTKM atas unusual transaction sebanyak 44 laporan, dan LTKT sebanyak
1.189 laporan (khusus terhadap transaksi tunai yang jumlahnya diatas
Rp.500 juta).

IV. Pilar 4 (Sistem Informasi Manajemen)

Divisi Kepatuhan melalui UKPN Pusat selama ini telah berkoordinasi dengan
Divisi terkait (antara lain bidang teknologi) untuk menunjang proses
pengkinian data.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 24 dari 46
CPD, Mei 2010
Terkait dengan dukungan otomasi dan komputerisasi, Divisi Kepatuhan
melalui UKPN Pusat bersama Divisi IT untuk sementara telah melakukan
optimalisasi terhadap system Core Banking yang ada untuk menunjang
pelaksanaan APU dan PPT (melalui menu YPQ untuk data nasabah, YPP untuk
transaksi Rp500 juta ke atas, dan YP1 untuk transaksi yang melampaui limit
transaksi per bulan.

Untuk kedepannya direncanakan bank akan menggunakan system aplikasi Red
Flag agar dapat membantu mendeteksi transaksi keuangan yang
mencurigakan sesuai dengan kebijakan yang sudah dimiliki bank yaitu
Specific Allert Parameter.

V. Pilar 5 (SDM dan Pelatihan)

Divisi Kepatuhan telah melakukan pelatihan regular minimal 1 tahun sekali,
termasuk karyawan baru, dan sosialisasi langsung ke seluruh kantor terhadap
Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia mengenai
penerapan APU dan PPT. Selain itu melalui Divisi SDM, telah dilakukan
screening dalam rangka penerapan know your employee terhadap calon
karyawan yang baru.

j. Dalam hal organisasi, Manajemen Bank selama tahun 2009 telah melakukan
Restrukturisasi dan Reorganisasi pada bulan Februari 2009, dan salah satunya
membentuk dua unit kerja baru setingkat Divisi, yaitu:
Divisi Asset Management untuk lebih meng-optimalkan penanganan Asset
Bermasalah.
Divisi Corporate Culture Service Specialist (CCSS) untuk membentuk nilai dan
budaya korporasi yang baru pada seluruh kantor / unit kerja.


4.2. Fungsi Audit Intern

Peran dan fungsi Audit Intern merupakan hal yang sangat penting bagi PT Bank
Mutiara Tbk, karena membantu Direktur Utama mengamankan kegiatan operasional
bank yang melibatkan dana dari masyarakat luas. Satuan Kerja Audit Intern dalam
tugasnya, wajib menjaga perkembangan bank kearah yang dapat menunjang
program dari Stakeholders (Manajemen, Pemerintah, Pemegang Saham dan
Masyarakat).

Dalam rangka menjaga independensi fungsi audit intern, Direksi PT Bank Mutiara
Tbk menempatkan Divisi SKAI (Divisi Internal Audit) berada langsung dibawah
supervisi Direktur Utama. SKAI (Divisi Internal Audit) bersifat independen dari
kegiatan operasional pihak/unit yang akan diperiksa.

Dalam menetapkan pandangan dan pemikirannya, Kepala Divisi Internal Audit
diberikan ruang yang bebas dan obyektif serta bebas dari tekanan pihak manapun
(indepence), sehingga terhindar dari benturan kepentingan (conflict of interest)
atas obyek atau kegiatan yang diperiksanya.

Divisi Internal Audit (SKAI) bertugas untuk membantu Direktur Utama dan Dewan
Komisaris dalam hal menjabarkan secara operasional perencanaan, pelaksanaan dan
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 25 dari 46
CPD, Mei 2010
pemantauan hasil audit. Dalam melaksanakan hal tersebut, SKAI membuat analisa
dan penelitian di bidang keuangan, akuntansi, operasional dan kegiatan lainnya
melalui pemeriksaan audit secara on-site dan pemantauan secara off-site, serta
memberikan saran perbaikan dan informasi obyektif tentang kegiatan yang perlu
mendapat perhatian khusus oleh semua tingkatan manajemen.

SKAI dalam tugasnya juga senantiasa mampu mengindentifikasikan segala
kemungkinan untuk memperbaiki dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber
daya dan dana.

Untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme, PT Bank Mutiara Tbk
senantiasa mengirimkan petugas dan pejabat Divisi Internal Audit (SKAI) ke
pelatihan baik internal maupun eksternal. Hal tersebut dimaksudkan agar diperoleh
petugas SKAI yang :

a. Memiliki pengetahuan yang memadai secara umum dan teknis dalam bidang tugas
yang relevan dengan spesialisasinya.
b. Mempunyai perilaku yang independen, jujur, obyektif, tekun dan loyal.
c. Memiliki kemampuan mempertahankan kualitas profesi yang profesional.
d. Memiliki kecakapan interaksi dan komunikasi secara lisan maupun tulisan.
e. Membantu/supporting data jika diperlukan oleh Manajemen.

Divisi Internal Audit (SKAI) dalam melaksanakan tugasnya terutama untuk
memastikan terlaksananya pengendalian intern yang bertujuan untuk :

a. Memastikan pengamanan dana masyarakat, meliputi deposito, giro, tabungan
serta dana pihak ketiga lainnya.
b. Pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan operasional yang telah ditetapkan,
pemanfaatan sumber daya secara ekonomis dan efisien, efektif dan mengawasi
kegiatan tertentu seperti kegiatan sistem teknologi informasi (Core Banking,
Opics, Trade Innovation, Swift, dll).
c. Kebenaran dan keutuhan informasi, termasuk pencatatan kewajiban bank dan
rekening administratif yang akurat, lengkap dan tepat waktu.
d. Kepatuhan terhadap kebijakan, rencana, prosedur, hukum dan peraturan,
termasuk penilaian aspek-aspek yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan
bank.
e. Pengamanan harta kekayaan.
Pelaksanaan fungsi audit pada PT Bank Mutiara Tbk dimulai dengan tahapan
perencanaan audit, persiapan audit, penyusunan pre audit, penugasan auditor,
pelaporan hasil audit (LHA) dan Daftar Monitoring Tindak Lanjut (DMTL).

Perencanaan audit dilakukan pada awal tahun untuk menentukan unit kerja yang
akan diaudit, waktu audit, tenaga yang akan mengaudit beserta fokus audit dan
kebijakan yang akan diterapkan.

Persiapan Audit diawali dengan pemilihan metode pendekatan audit seperti
penetapan sampling, tehnik pengujian, bukti minimal dan cara mendapatkannya.
Sedangkan penetapan penugasan ditetapkan oleh Kepala Divisi Internal Audit
(SKAI) berdasarkan saran dari Regional Head/General Audit Head untuk
menentukan ketua tim dan anggota tim serta waktu dan tujuan audit.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 26 dari 46
CPD, Mei 2010
Pemberitahuan audit dimulai dengan pembuatan surat pemberitahuan audit
kepada Unit Kerja atau Kantor Cabang tertuju, yang berisi penegasan wewenang
Divisi Internal Audit (SKAI) untuk melakukan audit, rencana serta tujuan, susunan
ketua & anggota tim serta informasi data-data yang dibutuhkan dalam kegiatan
audit.

Penelitian pendahuluan adalah untuk mengumpulkan, menganalisis, intrepretasi
dan mendokumentasikan informasi dalam pelaksanaan audit. Selain itu
diperlukan juga luas dan tingkatan metodologi pengujian, jangka waktu
pemeriksaan serta aspek-aspek teknis termasuk data-data elektronik.


4.3. Pelaksanaan Audit Intern

A. Pemeriksaan Umum (General Audit)

Yaitu pemeriksaan dengan ruang lingkup aspek kegiatan operasional bank, dengan
tujuan menilai efektivitas sistem pengendalian intern terutama penilaian atas
sistem dan prosedur yang berlaku serta implementasinya. Pemeriksaan ini
dilaksanakan pada seluruh Kantor Cabang/Capem dan Divisi-Divisi Kantor Pusat.
Pada tahap awal menuju Risk Based Audit maka pada awal tahun telah digunakan
metodologi COSO Framework (5 komponen) yang meliputi:

a. Control Environment
b. Risk Assessment
c. Control Activities
d. Information & Communication
e. Monitoring


B. Pemeriksaan Khusus (Special Audit)

Yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan ruang lingkup aktivitas tertentu atas
aspek manajemen tertentu baik di Kantor Pusat maupun Kantor Cabang/Capem.
Pemeriksaan ini dilakukan menurut kebutuhan dan urgensi serta bersifat
insidentil. Pemeriksaan khusus juga dilakukan untuk meneliti adanya kasus/fraud
pada suatu unit kerja.

Audit internal bank telah melakukan special audit terhadap kasus-kasus yang
terkait dengan manajemen lama, antara lain; kasus Surat Berharga, Letter of
Credit, Biaya Fiktif dan lain-lain.


C. Pemeriksaan Pasif (On Desk Audit)

Yaitu pemeriksaan yang meliputi monitoring, penelitian dan pembuatan
rekapitulasi berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Kantor Cabang/ Capem.




Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 27 dari 46
CPD, Mei 2010
D. Pemeriksaan Harian (Daily Monitoring)

Yaitu pemeriksaan yang dilakukan secara harian atas transaksi yang memiliki
risiko tinggi seperti transaksi kliring/RTGS dan sebagainya. Atau transaksi unit
kerja Kantor Pusat yang belum memiliki petugas control.


4.4. Realisasi Audit Intern Semester Tahun 2009

Pada semester I/II tahun 2009, SKAI telah melaksanakan pemeriksaan terhadap 75
obyek pemeriksaan yang terdiri dari 25 Kantor Cabang, 29 Kantor Cabang Pembantu,
dan 21 Divisi Kantor Pusat. Perincian sebagai berikut:

Cabang Cabang Pembantu
No Cabang No Cabang Pembantu
1 Cabang Pasar Baru 1 Capem Pintu Kecil
2 Cabang Tanah Abang 2 Capem Mangga Dua
3 Cabang Srby Kertajaya 3 Capem Tangerang
4 Cabang KPO Senayan 4 Capem Serpong
5 Cabang Mdn Putri Hijau 5 Capem Muara Karang Utara
6 Cabang Klender 6 Capem Pos Pengumbem
7 Cabang Mksr A. Yani 7 Capem Panglima Polim
8 Cabang Mksr Sulawesi 8 Capem Gedung Tifa
9 Cabang Jambi 9 Capem Mangga Besar
10 Cabang Muara Karang Timur 10 Capem Kuningan
11 Cabang Bogor 11 Capem Sudirman
12 Cabang Pekanbaru 12 Capem Bekasi
13 Cabang Denpasar 13 Capem Grand Indonesia
14 Cabang Karawang 14 Capem Tubagus Angke
15 Cabang Palembang Kebumen 15 Capem Kuta
16 Cabang Pangkal Pinang 16 Capem Ubud
17 Cabang KLG Boulevard 17 Capem Medan Asia
18 Cabang Tomang 18 Capem Sungai Liat
19 Cabang Fatmawati 19 Capem Palembang Iskandar
20 Cabang Pdk Indah Metro 20 Capem Pelembang Sudirman
21 Cabang Pdk Indah Plaza 5 21 Capem Jayakarta
22 Cabang Bandung 22 Capem Sunter
23 Cabang Solo Nonongan 23 Capem KLG Mandiri
24 Cabang Yogyakarta 24 Capem Hayam wuruk
25 Cabang Srby Rajawali 25 Capem Green Ville
26 Capem Puri Indah
27 Capem Cibubur
28 Capem Solo Palur
29 Capem Srby Sudirman






Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 28 dari 46
CPD, Mei 2010
Divisi Kantor Pusat Unit Kerja

No. Divisi/Unit Kerja No Divisi/ Unit Kerja
1 BI- RTGS 2 SKN BI
3 Pemeriksaan Kredit 4 Divisi Umum
5 Divisi Mass Banking 6 Divisi Treasury
7 Divisi IT 8 Divisi Operasi Intl
9 Divisi Operasi Custody/Legal 10 Divisi Network Development
11 Divisi Human Resources 12 Divisi Corporate Secretary
13 Divisi Goverment Funding 14 Divisi Accounting & Finance
15 Divisi Asset Management 16 Divisi Compliance & Legal
17 Divisi Consumer Loan 18 Divisi SME Banking
19 Divisi Risk Management 20 Divisi CCSS
21 Divisi International Banking


4.5. Temuan Pemeriksaan Audit Intern

Berikut ini kesimpulan temuan penting beberapa Cabang, Cabang Pembantu dan
Divisi di Kantor Pusat sebagai berikut:

1. Pemeriksaan pada Kantor Cabang / Capem
Pada umumnya pelaksanaan tugas dan tanggung jawab setiap kantor telah
berjalan dengan baik sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
Beberapa hal yang masih harus diperhatikan adalah belum optimal melakukan
Pengkinian Data Nasabah serta Penyelesaian CIF Ganda.

2. Pemeriksaan pada seluruh Divisi di Kantor Pusat:
Sejak dilakukan Restruktur Organisasi mulai bulan Februari 2009, setiap Divisi di
Kantor Pusat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya telah berjalan
dengan baik.

Hal yang masih perlu diperhatikan adalah:

Pembuatan dan/atau penyesuaian Kebijakan (policy) dan Prosedur (standard
operation procedure) dengan memperhatikan internal kontrol.
Belum adanya Kepala Divisi pada Divisi Informasi Teknologi dan Divisi SDM,
sehingga masih harus di-supervisi langsung oleh Direktorat yang membidangi.
Meskipun bank telah memiliki Kebijakan Penerapan KYC dan AML, serta adanya
Parameter Specific Allert, namun diperlukan adanya dukungan sistem untuk
pemantauan transaksi yang mencurigakan (Red Flag).


4.6. Fungsi Audit Ekstern

Auditor eksternal memiliki peran sangat penting dalam kerangka kerja Good
Corporate Governance (GCG). Direksi PT Bank Mutiara Tbk menyadari bahwa tugas
yang dilaksanakan oleh para auditor eksternal sangat penting untuk mendukung
kelancaran tugas Manajemen Bank. Hasil Kerja auditor eksternal dapat digunakan
oleh bank untuk memvalidasi informasi yang diberikan oleh manajemen senior.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 29 dari 46
CPD, Mei 2010

Pelaksanaan GCG yang kuat dapat dimulai dengan diterapkannya laporan
transparansi kondisi bank secara memadai. Dengan adanya aspek transparansi
tersebut, diharapkan kepercayaan publik kepada lembaga perbankan akan semakin
membaik. Disamping itu dengan adanya peningkatan transparansi bank akan
mengurangi kesenjangan informasi, sehingga para pelaku pasar dapat memberikan
penilaian yang wajar dan dapat mendorong terjadinya disiplin pasar.

Pengungkapan informasi (disclosure) kepada masyarakat luas melalui Bank
Indonesia, media cetak, YLKI, IBI, lembaga pemeringkat dan lembaga penelitian di
bidang ekonomi, serta ditampilkan pada home page atau website perusahaan dengan
alamat www.mutiarabank.co.id.

Dalam rangka peningkatan transparansi kondisi keuangan, PT Bank Mutiara Tbk
menyusun dan menyajikan laporan keuangan dalam bentuk dan cakupan
sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia, yang terdiri dari:
a. Laporan Tahunan
b. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan
c. Laporan Keuangan Bulanan
d. Laporan Keuangan Konsolidasi

Informasi yang tercantum dalam Laporan Keuangan Tahunan yang disajikan kepada
masyarakat luas terdiri dari :

1. Informasi umum, yang terdiri dari mengenai kepengurusan, kepemilikan,
perkembangan usaha bank dan kelompok usaha bank, stragetegi dan kebijakan
manajemen serta laporan manajemen.
2. Laporan Keuangan tahunan yang terdiri dari :
- Neraca
- Laporan Laba Rugi
- Laporan Perubahan Ekuitas
- Laporan Arus Kas
- Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi tentang komitmen dan
kontinjensi
3. Opini dari Akuntan Publik/ auditor eksternal
4. Seluruh aspek transparansi dan informasi
5. Seluruh aspek pengungkapan sesuai PSAK dan PAPI
6. Jenis risiko dan potensi kerugian yang dihadapi oleh bank
7. Informasi lainnya

Dalam menjalankan fungsi Good Corporate Governance (GCG) yaitu fungsi
transparansi kondisi keuangan, PT Bank Mutiara Tbk telah menunjuk auditor
independen dari Kantor Akuntan Publik Aryanto Amir Jusuf & Mawar, kemudian
pada tanggal 27 Mei 2010 telah mendapatkan laporan keuangan tahunan per 31
Desember 2009 dengan hasil Wajar Tanpa Pengecualian dalam semua hal yang
material dalam posisi keuangan.

Informasi ringkas perhitungan keuangan hasil laporan keuangan tahunan posisi
Desember 2009 dapat kami sampaikan sebagai berikut :

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 30 dari 46
CPD, Mei 2010
Laporan Keuangan

Aktiva

No Pos-Pos Tertentu 31-12-2009 31-12-2008
1 Penempatan pada BI & Bank Lain 448.969 370.749
2 Efek-efek Pihak Ketiga 1.945.673 692.587
3 Efek yang dibeli dengan janji jual kembali
Pihak Ketiga
267.501 0
4 Tagihan derivative Pihak Ketiga 9 0
5 Kredit 3.418.595 3.531.385
6 Agunan yang diambil alih 205.226 124.501


Kewajiban dan Ekuitas

Kewajiban
No Pos-Pos Tertentu 31-12-2009 31-12-2008
1 Simpanan:
- Pihak yg mempunyai hub. istimewa
- Pihak Ketiga

34.097
5.915.362

16.250
5.099.772
2 Simpanan dari Bank lain Pihak Ketiga 315.335 284.726
3 Kewajiban derivatif Pihak Ketiga 32 0


Ekuitas
No Pos-Pos Tertentu 31-12-2009 31-12-2008
1 Modal Saham 8.973.675 2.211.314
2 Tambahan modal disetor 178.759 178.759
3 Uang muka setoran modal 0 0


Laba (Rugi)
No Pos-Pos Tertentu 31-12-2009 31-12-2008
1 LABA (RUGI) BERSIH 265.483 (7.281.150)
2 LABA (RUGI) PER SAHAM (dalam rupiah)
- Dasar
- Dilusian

0,00037
0,00030

(256,83)
(191,38)


Perhitungan Ratio Keuangan
Pos-Pos Tertentu 31-12-2009 31-12-2008
Permodalan - Rasio KPMM yang tersedia untuk Risiko
Kredit
- Rasio KPMM yang tersedia setelah
memperhitungkan Risiko Pasar
- Aktiva Tetap terhadap Modal

12,31%

10,03%

60,93%
(39,62%)

(22,29%)

(18,36%)
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 31 dari 46
CPD, Mei 2010
Aktiva
Produktif
- Aktiva Produktif bermasalah
- NPL Gross
- NPL Neto
- PPAP terhadap Aktiva Produktif
- Pemenuhan PPAP Produktif
42,08%
37,63%
9,55%
38,30%
101,90%
58,30%
35,17%
10,42%
46,61%
100,55%
Rentabilitas - ROA
- ROE
- NIM
- BOPO
3,84%
402,86%
0,76%
92,66%
(52,09%)
(981,63%)
(0,85%)
1.226,28%
Likuiditas LDR 81,66% 93,16%
Kepatuhan GWM
- Rupiah
- Valas

PDN (Per posisi neraca terhadap modal
akhir tahun)


5,10%
1,43%

131,22%

5,06%
0,10%

(206,85%)






















Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 32 dari 46
CPD, Mei 2010
BAB V
PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO DAN
SISTEM PENGENDALIAN INTERN


Risk Management / manajemen risiko sudah merupakan keharusan dalam proses
pengendalian potensi kerugian pada operasional perbankan. Penerapan manajemen risiko
disebuah bank telah menjadi perhatian semua pihak baik para praktisi bank sendiri,
akuntan publik serta semua pihak yang ingin mengetahui kinerja sebuah bank.

Setelah dilakukannya pengambilalihan Bank Century oleh Lembaga Penjamin Simpanan
(LPS) pada tanggal 21 November 2008, disusunlah Manajemen baru yang lebih profesional,
yang telah melakukan banyak perubahan dalam upaya memajukan Bank, seperti
melakukan reorganisasi Bank yang disesuaikan dengan kebutuhan Bank, selain itu
meningkatkan pengelolaan risiko dalam setiap aktivitas Bank, melakukan penyusunan
kebijakan Bank, termasuk melakukan rebranding penggantian nama Bank menjadi PT Bank
Mutiara Tbk.

Khusus untuk mendukung penerapan Manajemen Risiko, maka dibentuklah Risk
Management Division, telah dilakukan pemenuhan kebutuhan pegawai pada divisi
tersebut, juga dilakukan peningkatan kompetensi pegawai di bidang manajemen risiko
sehingga dapat memberikan dukungan bagi unit bisnis Bank.

Sebagai langkah awal PT Bank Mutiara Tbk menyusun Kebijakan Umum Manajemen Risiko
yang secara terus menerus akan disesuaikan dengan perubahan peraturan dan ketentuan
eksternal/Regulator maupun internal Kebijakan Umum Manajemen Risiko disusun untuk
memenuhi perkembangan terkini dalam industri perbankan yang berpengaruh pada
semakin kompleksnya risiko kegiatan usaha Bank. Salah satu dasar utama penerapan
manajemen risiko adalah tersedianya kebijakan, prosedur dan metodologi pengelolaan
risiko sehingga operasi usaha Bank tetap dapat terkendali pada limit yang dapat diterima
dan menguntungkan Bank. Selain itu juga perlu adanya kebijakan dalam hal pemantauan
dan evaluasi risiko yang berdampak pada permodalan Bank.

Penerapan manajemen risiko pada PT Bank Mutiara Tbk berlandaskan pada Kebijakan
Manajemen Risiko PT Bank Mutiara Tbk yang didesain untuk memberikan arahan dalam
mengamankan Bank atas risiko yang dihadapi, sebagai pedoman dalam pelaksanaan
aktivitas Bank berdasarkan prinsip kehati-hatian dan praktek perbankan yang sehat, serta
sebagai pedoman wewenang dan tanggung jawab pengelolaan risiko di seluruh lini
organisasi Bank.

Beberapa bentuk penerapan manajemen risiko yang telah dilakukan adalah pengawasan
aktif dari Dewan Komisaris dan Direksi, tersedianya kebijakan, prosedur dan penetapan
limit, tersedianya proses identifikasi, pengukuran, dan pemantauan dan pengendalian
risiko serta Sistem Informasi Manajemen, dan tersedianya sistem pengendalian intern yang
menyeluruh.




Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 33 dari 46
CPD, Mei 2010
Berikut adalah beberapa aspek dalam melakukan penerapan Manajemen Risiko, yaitu:

1. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi

Tahapan dari proses penerapan manajemen risiko yang dilaksanakan oleh Dewan
Komisaris dan Direksi dimulai dari pengaturan tugas, kewenangan dan tanggung jawab
Dewan Komisaris untuk :

a. Menyetujui dan mengevaluasi Kebijakan Manajemen Risiko
b. Mengevaluasi pertanggungjawaban Direksi atas pelaksanaan Manajemen Risiko
c. Mengevaluasi dan memutuskan transaksi yang memerlukan persetujuan Dewan
Komisaris

Pengawasan aktif Dewan Komisaris menjadi salah satu perhatian yang penting bagi PT
Bank Mutiara Tbk. Dalam hal penerapan manajemen risiko, maka dibentuklah Komite
Pemantau Risiko yang bertanggung jawab langsung kepada Dewan Komisaris, sehingga
aspek pengawasan pengelolaan risiko dapat ditingkatkan dan berjalan dengan baik.

Tugas, wewenang dan tanggung jawab Direksi dalam melaksanakan fungsi pengawasan
adalah sebagai berikut :

a. Menyusun kebijakan dan strategi Manajemen Risiko secara tertulis dan komprehensif
b. Menyusun laporan pertanggungjawaban kepada dewan Komisaris
c. Mengevaluasi dan memberikan arahan berdasarkan laporan yang disampaikan oleh
Risk Management Division
d. Mengevaluasi dan memutuskan transaksi yang memerlukan persetujuan Direksi
e. Mengembangkan budaya Manajemen Risiko pada seluruh jenjang organisasi
f. Memastikan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia yang terkait dengan
Manajemen Risiko.
g. Memastikan fungsi Manajemen Risiko telah beroperasi secara independen.
h. Melaksanakan kaji ulang secara berkala untuk memastikan keakuratan metodologi
penilaian Risiko.
i. Melaksanakan kaji ulang secara berkala untuk memastikan kecukupan implementasi
sistem informasi manajemen
j. Melaksanakan kaji ulang secara berkala untuk memastikan ketepatan kebijakan,
prosedur dan penetapan limit Risiko.

Direksi sendiri telah menunjuk salah satu Direksi yang bertanggung jawab untuk
mengawasi dan mengelola risiko yang dihadapi oleh Bank, dalam hal ini adalah Direktur
Kepatuhan yang membawahi secara langsung Risk Management Division. Dalam
praktiknya, Direksi dibantu oleh beberapa Komite seperti :

- Komite Kredit
- Komite Manajemen Risiko (ALCO)
- Komite Sumber Daya Manusia
- Komite Informasi Teknologi





Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 34 dari 46
CPD, Mei 2010
2. Tersedianya Kebijakan, prosedur dan penetapan limit

Kelengkapan kebijakan, prosedur dan limit merupakan panduan bagi setiap unit kerja
dalam melaksanakan aktivitasnya, penerapan Manajemen Risiko terkait hal tersebut,
sekurang-kurangnya harus mengatur hal-hal berikut :

a. Penetapan penggunaan metode pengukuran dan sistem informasi Manajemen Risiko
b. Penetapan Limit dan penetapan Toleransi Risiko
c. Akuntabilitas dan jenjang delegasi wewenang yang jelas
d. Pelaksanaan kaji ulang terhadap prosedur dan penetapan limit secara berkala
e. Dokumentasi prosedur dan penetapan limit secara memadai
f. Penyusunan rencana darurat (contigency plan) dalam kondisi terburuk (worst case
scenario)
g. Penetapan sistem pengendalian intern dalam penerapan Manajemen Risiko

Selama periode 2009, Bank telah melakukan penyusunan Kebijakan, penyempurnaan
Standar Operasional Prosedur, serta Penetapan Limit. Beberapa Kebijakan yang telah
disusun, antara lain adalah:
- Kebijakan Umum Manajemen Risiko,
- Kebijakan Segmentasi Kredit,
- Kebijakan Perkreditan Mutiara Bank,
- Kebijakan Kepatuhan,

Sedangkan untuk Penetapan Limit, telah dilakukan penyusunan Batas Wewenang
Memutus Kredit. Saat ini juga sedang dilakukan review atas beberapa SOP agar
disesuaikan dengan PSAK 50 dan 55.

3. Tersedianya proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko
serta SIM risiko

Untuk melengkapi prosedur dan Kebijakan Manajemen Risiko diberbagai aktivitas bisnis
Bank, maka dilakukanlah proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan
pengendalian risiko serta SIM, seperti mengoptimalkan fungsi OPICS, melakukan
perhitungan Value at Risk (VaR) pada risiko pasar, penggunaan Nota Analisa Kredit yang
telah menggunakan Risk Acceptance Criteria (RAC), serta melakukan perhitungan
penyediaan modal minimum Risiko Operasional dengan menggunakan Basic Indicator
Approach (BIA).

Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah ketepatan waktu, dan keakuratan dari
pelaporan. Apabila dalam proses pengawasan terjadi risiko yang dapat membahayakan
kelangsungan usaha Bank, Direksi akan segera mengelola dan mengendalikan risiko agar
tidak merugikan Bank secara keseluruhan. Untuk mendukung proses kegiatan tersebut
Direksi secara rutin melaksanakan Rapat Komite Kredit sesuai dengan kewenangan,
menyelenggarakan Rapat ALCO secara rutin. Hasil dari keputusan Rapat tersebut akan
ditindaklanjuti dengan mengeluarkan surat keputusan ataupun kebijakan.

4. Sistem pengendalian intern yang menyeluruh

Manajemen Bank selalu senantiasa melaksanakan sistem pengendalian intern dengan
melibatkan Internal Audit Division yang berdiri secara independen dengan satuan kerja
operasional lainnya yang memiliki tugas untuk melakukan pemantauan dan pengawasan
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 35 dari 46
CPD, Mei 2010
transaksi harian pada masing-masing unit kerja. Untuk mempermudah pelaksanaannya
maka dibentuklah Regional Audit yang masing-masing regional membawahi wilayah
tertentu. Setiap hasil temuan audit disampaikan Dewan Direksi, dan Internal Audit
Division selalu melakukan pemantauan atas Rencana Tindak Lanjut dari hasil temuan
Audit.

Dalam hal melakukan pemantauan atas risiko Bank, telah disajikan Laporan Profil
Risiko yang disampaikan kepada Bank Indonesia secara rutin setiap triwulanan dan
selalu dilakukan dengan tepat waktu.

Berdasarkan hasil penilaian Risk Profile posisi Desember 2009, maka predikat risiko
komposit berada pada posisi Moderate dengan Risiko inheren berada pada posisi
Moderate dangan sistem pengendalian yang Acceptable. Hal ini menggambarkan
adanya perbaikan apabila dibandingkan dengan posisi Desember 2008 dengan Risiko
komposit yang berada pada posisi High.

Berikut adalah hasil pengukuran Profil Risiko periode Desember 2009 :

Ringkasan komposit profil risiko berdasarkan Risiko Inheren per Desember 2009

N
o
Jenis Risiko
Desember 2009 Desember 2008
Tingkat Risiko Trend
Tingkat
Risiko
Trend

1 Kredit High - Acceptable Tetap High Meningkat
2 Pasar Moderate - Acceptable Tetap High Meningkat
3 Operasional Moderate Acceptable Tetap High Meningkat
4 Likuiditas Moderate Acceptable Tetap High Meningkat
5 Strategi Moderate Acceptable Tetap High Meningkat
6 Kepatuhan Moderate Acceptable Tetap High Meningkat
7 Hukum Moderate Acceptable Tetap High Meningkat
8 Reputasi Moderate Acceptable Tetap High Meningkat
Rekap komposit profil
risiko berdasarkan jenis
risiko

Moderat

High

Ringkasan komposit profil risiko berdasarkan Aktivitas Fungsional per Desember 2009

N
o
Jenis Risiko
Desember 2009 Desember 2008
Tingkat Risiko
Skor
Rating
Tingkat
Risiko
Skor Rating
1 Perkreditan Moderate 0.583 High 0.863
2 Treasury & Investasi Moderate 0.650 High 0.891
3 Operasional & Jasa Moderate 0.506 High 0.846
4 Pembiayaan Perdagangan Moderate 0.645 High 0.868
5 Pendanaan & Instr. Hutang Moderate 0.690 High 0.843
6 TSI & SIM Moderate 0.518 Moderate 0.700
7 Pengelolaan SDM Moderate 0.488 Moderate 0.570
Rekap komposit profil risiko
berdasarkan aktifitas fungsional

Moderate

High


Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 36 dari 46
CPD, Mei 2010
Uraian singkat mengenai tingkat dan trend profil risiko

Walaupun manajemen PT Bank Mutiara Tbk sudah melakukan perbaikan-perbaikan dalam
rangka memitigasi risiko, namun dari Laporan Profil Risiko per Desember 2009 terhadap
delapan jenis risiko, secara umum menunjukkan komposit risiko yang Tetap yaitu pada
posisi Moderate-Acceptable bila dibandingkan dengan laporan per September 2009
(Triwulan III).

Selanjutnya, secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pada Risiko Kredit, Tetap pada pada posisi yang High - Acceptable dengan parameter
penilaian sebagai berikut :

Perkreditan

- NPL (gross) per-Des 2009 tercatat sebesar 37.63% (Sept 2009 sebesar 41.82%),
terjadi penurunan gross NPL. Sedangkan NPL (net) sebesar 4.39% (Sept 2009 sebesar
6.82%) menunjukkan adanya perbaikan net NPL.
- Konsentrasi pemberian kredit pada sektor ekonomi perdagangan, restoran dan
hotel per Desember 2009 tercatat sebesar 27,09% (September 2009 sebesar
28,15%), dan pada sektor ekonomi jasa-jasa dunia usaha sebesar 26,41%
(September 2009 sebesar 29,56%), sudah terjadi penurunan persentase, namun perlu
dilakukan diversifikasi pemberian kredit sampai level 20% yang relatif lebih aman.
- Kredit bermasalah dibandingkan dengan total aktiva produktif per Desember 2009
tercatat sebesar 16.34% (September 2009 sebesar 17.06%). Kondisi ini disebabkan
meningkatnya total aktiva produktif dan diikuti dengan menurunnya jumlah kredit
bermasalah.
- AYDA dibandingkan total outstanding kredit per Desember 2009 tercatat sebesar
11.88% (September 2009 sebesar 13.17%) relatif sedikit ada perbaikan/makin
menurun, ada penurunan outstanding AYDA dan adanya peningkatan outstanding
kredit.
- Debitur inti tidak terkait dibagi dengan total kredit sebesar 44.45% (September 2009
sebesar 48.17%), terjadi pengurangan debitur inti walaupun relatif kecil.
- Pelaksanaan Crash Program sudah berakhir per 31 Desember 2009, Kebijakan ini
merupakan kebijakan bidang perkreditan sebagai upaya untuk menahan
meningkatnya NPL yang disebabkan terlambatnya proses perpanjangan jangka waktu
kredit. Rencananya Crash Program akan dilakukan perpanjangan kembali di bulan
Januari 2010.
- PPAP Kredit Desember 2009 sebesar 125.34% (September 2009 sebesar 118.63%)
relatif baik. Dalam hal ini PPAP sudah meng-cover NPL diatas 100%.

Treasury & Investasi

- NP Portofolio Treasury (gross) per Desember 2009 tercatat sebesar 35.48%
(September 2009 sebesar 37.38%)
- NP Treasury dibandingkan dengan total aktiva produktif per Desember 2009 tercatat
sebesar 15.38% (September 2009 sebesar 16.45%)

Kedua parameter tersebut mengalami perbaikan, namun masih harus diupayakan
menjadi <3% (low risk).

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 37 dari 46
CPD, Mei 2010
Fasilitas Pembiayaan Perdagangan

- Non Performing Trade Finance Facility secara kualitas sedikit menurun menjadi
sebesar 99.12% (September 2009 sebesar 99.54%)
- Non Performing Trade Finance Facility cenderung menurun dibandingkan dengan
total aktiva produktif sebesar 10.33% (September 2009 sebesar 12.55%)

Berdasarkan parameter tersebut diatas risiko kredit relatif tinggi (inherent risk)
kondisi tersebut akan berdampak terhadap risiko likuiditas, dan risiko operasional
mengingat aktiva produktif perkreditan kurang maksimal memberikan pendapatan
bunga. Sehubungan risiko kredit tergolong High Risk, maka dalam sistem
pengendalian risiko telah diterapkan proses keputusan kredit melalui Rapat Komite
kredit, dan untuk menghasilkan keputusan kredit yang berkualitas telah dibuat Nota
Analisa kredit dan Bank telah melengkapi Account Officer dengan Kebijakan
Perkreditan Mutiara Bank. Kebijakan Perkreditan tersebut sudah disosialisasikan
sejak bulan Desember 2009.

2. Pada Risiko Pasar, tetap pada posisi Moderate - Acceptable dengan parameter
penilaian sebagai berikut :

Perkreditan

- Coverage potensial loss karena fluktuasi nilai tukar per Desember 2009 tercatat
sebesar 139.15% (September 2009 sebesar 217.13%) kondisi relatif baik (> 105%).
- Coverage potensial loss karena fluktuasi suku bunga per Desember 2009 tercatat
sebesar 33.59% (September 2009 sebesar 41.17%) kondisi masih tidak baik/high risk,
karena < 100% .

Treasury & Investasi

- Volatilitas suku bunga per jangka waktu Desember 2009 tercatat sebesar 138.38%
(September 2009 sebesar 182.10%) kondisi ratio relatif baik diatas 100% (105% > /
Low risk).
- Coverage potensial loss karena fluktuasi nilai tukar per Desember 2009 tercatat
sebesar 34.20% (September 2009 sebesar 37.99%) kondisi ini masih tergolong high
risk (< 100%).
- Coverage potensial loss karena fluktuasi suku bunga sebesar 94.88% (September
2009 sebesar 100.85%) kondisi mengalami peningkatan, namun masih high risk
(<100%).

Fasilitas Pembiayaan Perdagangan

- Potential loss karena fluktuasi nilai tukar per Desember 2009 sebesar 55.83%
(September 2009 sebesar 54.05%) masih <105% (High Risk).
- Potential loss karena fluktuasi suku bunga per Desember 2009 sebesar 358.74%
(September 2009 sebesar 347.13%) risiko rendah >105%.

Pendanaan & Instrumen Hutang

- Potential loss karena fluktuasi nilai tukar per Desember 2009 sebesar 47.12%
(September 2009 sebesar 48.51%)
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 38 dari 46
CPD, Mei 2010
- Potential loss karena fluktuasi suku bunga per Desember 2009 sebesar 29.98%
(September 2009 sebesar 40.32%)

Kedua parameter masih berada pada posisi dibawah 100% (<100% / High Risk).

3. Pada Risiko Operasional, tetap pada posisi Moderate - Acceptable dengan parameter
penilaian sebagai berikut:

- ROA per Desember 2009 tercatat sebesar 3.74% (September 2009 sebesar 4.67%)
- NIM per Desember 2009 tercatat sebesar 0.76% (September 2009 sebesar 0.65%)
- ROE per Desember 2009 tercatat sebesar 393.9% (September 2009 sebesar minus
829.56%)
- BOPO per Desember 2009 tercatat sebesar 91.11% (September 2009 sebesar 89.74%)

Parameter tersebut berada pada posisi Low Risk, kecuali NIM yang masih berada pada
posisi High Risk (NIM <1.5%).

4. Pada Risiko Likuiditas, tetap pada posisi Moderate - Acceptable dengan parameter
penilaian sebagai berikut:

- Bank masih memiliki SUN yang cukup dan likuid pada struktur aset bank dan bank
masih memiliki akses pinjaman di Pasar Uang Antar Bank (PUAB).
- Pemenuhan GWM Rupiah dan Valas sesuai ketentuan BI yang berlaku.
- Penanganan Risiko Likuiditas yang membaik oleh Direktorat Treasury.
- Konsentrasi Deposan inti per Desember 2009 tercatat menurun yaitu menjadi
sebesar 50.16% (September 2009 sebesar 53.28%)

5. Pada Risiko Hukum, cenderung membaik pada posisi Moderate - Acceptable dengan
parameter penilaian sebagai berikut :

- Penanganan kasus hukum mulai terorganisasi dengan baik dengan ditunjuknya
konsultan hukum yang dibantu secara langsung oleh Compliance & Legal Division.
- Kerjasama yang baik dengan Instansi terkait seperti Bareskrim untuk menangani
kasus-kasus perbankan yang mengarah pada tindakan pidana.
- Kemajuan pendekatan penanganan kasus hukum, dengan memanggil para Debitur
Bermasalah untuk dilakukan negosiasi ulang sehingga debitur bersedia menyerahkan
agunan tambahan.
- Tidak adanya penambahan perkara-perkara hukum yang baru.

6. Pada Risiko Reputasi, tetap pada posisi Moderate - Acceptable dengan parameter
penilaian sebagai berikut :

- Hasil laporan bulanan audit media oleh Konsultan Triliant didapatkan General
Perception Index berada pada posisi Moderate, Specific Perception index berada
pada posisi Moderate, dan Perception Index Level sebesar 5.686.63.
- Sebagian besar nasabah yang menghubungi call center bank hanya menanyakan
saldo (85%), kurs (11%), produk (0%), permasalahan ATM (1%) dan informasi umum
(3%).
- Pada bulan Desember 2009 terdapat peningkatan drastis jumlah berita akibat
adanya politisasi serta pengajuan hak angket untuk membentuk Pansus proses
penyelamatan Bank Century, dengan jumlah berita terbesar dari kalangan DPR.
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 39 dari 46
CPD, Mei 2010

7. Pada Risiko Strategi, tetap pada posisi Moderate - Acceptable dengan parameter
penilaian sebagai berikut :

- Pembahasan produk dan aktivitas baru secara seksama baik dari sisi risiko dan
rencana kerja pendukung selalu dipantau dengan baik oleh Direksi.
- Telah dilakukan pemantauan oleh Direksi atas Performance Review dari masing-
masing Divisi secara berkala.
- Pencapaian Target Laba sebesar 176.01% (Target untuk Triwulan IV Rp.147.103.-
juta realisasi sebesar Rp. 258.916 juta)


Target-target lainnya yang perlu mendapat perhatian khusus untuk posisi Desember
2009 adalah :

- Pencapaian target untuk Penurunan Outstanding AYDA per Desember 2009 masih
tercatat sebesar Rp. 576,999 juta atau 36.35% dari sebesar Rp. 209,721 juta
(Target untuk Triwulan IV)
- Pencapaian target Penurunan NPL Gross per Desember 2009 tercatat sebesar
37.63%, atau Realisasi sebesar 94.07% dari target sebesar 35.40%. (Target untuk
Triwulan IV)
- Pencapaian target Tabungan sebesar Rp. 339.191 juta atau 79.88% dari target
sebesar Rp. 424.600 juta. (Target untuk Triwulan IV)

8. Pada Risiko Kepatuhan, tetap pada posisi Moderate - Acceptable dengan parameter
penilaian sebagai berikut :

- Pemenuhan PPAP Kredit sebesar 125.34%
- Implementasi Prinsip Mengenal Nasabah (KYC) sudah diterapkan dengan cukup baik.
- Pemenuhan GWM Rupiah (5.10%) dan Valas (1.43%)
- Pemenuhan PPA AYDA sebesar 101.35%

Parameter tersebut diatas tetap bila dibandingkan pada posisi September 2009, namun
masih terdapat hal-hal yang wajib mendapatkan perhatian yaitu :

- NPL Gross di perkreditan, Treasury & Trade Finance masih diatas 5% namun sudah
terdapat perbaikan.
- Rasio PDN Total 82,31%, PDN Neraca 74,09% (seharusnya kedua parameter
maksimum 20%, namun sudah terdapat perbaikan bila dibandingkan bulan
September 2009, dimana PDN Total 140,36%, sedangkan PDN Neraca 133,16%)
- Pemenuhan PPAP Treasury sebesar 99,97%, berada pada posisi high risk.
- Masih terdapat Pelampauan BMPK untuk beberapa Debitur Individual dan Group.


Rekomendasi Risk Management Division

1. Mitigasi Risiko Kredit

Memaksimalkan penggunaan Nota Analisa Kredit (NAK) sesuai Prinsip Kehati-
hatian dengan melengkapi parameter Risk Acceptance Criteria (RAC).
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 40 dari 46
CPD, Mei 2010
Meningkatkan system pengawasan dalam hal deteksi atas potensi penurunan
kualitas kredit, penanganan watch list untuk kolektibilitas 2 (dua).
Meningkatkan upaya penjualan AYDA untuk meningkatkan kualitas aset bank yang
produktif .
Meneruskan upaya perbaikan Pedoman / SOP Perkreditan dengan prinsip kehati-
hatian dan yang sejalan dengan pengendalian risiko.
Mendorong pembentukkan unit kerja supervisi kredit pada Divisi Kredit untuk
mengetahui perkembangan portfolio kredit dan kolektibilitasnya.
Meningkatnya kompetensi bidang perkreditan bagi pegawai / pejabat yang terlibat
dalam proses dan pemutusan kredit.
Perlu dilakukannya perpanjangan atas program Crash Program mengingat jangka
waktu pelaksanaan program tersebut sudah berakhir per 31 Desember 2009.

2. Mitigasi Risiko Pasar

Meningkatkan MIS bidang Treasury agar dapat mendukung data base / data historis
yang dibutuhkan untuk perhitungan risiko (VaR, Limit & Hedging dll).
Meningkatkan transaksi bank note dan memperluas limit di pasar uang antar bank.
Menerapkan limit transaksi sesuai dengan Standard Operation Procedure yang
telah disetujui Direksi.

3. Mitigasi Risiko Likuiditas

Menerapkan pelaksanaan LCP (Liquidity Contingency Plan) apabila terjadi krisis
likuiditas.
Optimalisasi penempatan aset bank yang berbasis natural liqudity (asset likuid
yang terbaik) dan marketability asset.
Membuat tools yang dapat dipergunakan untuk memantau Risiko Likuiditas.
Memperbaiki penyebaran Dana Pihak Ketiga agar tidak terkonsentrasi pada
Deposan inti.

4. Mitigasi Risiko Operasional

Optimalisasi Sistem Informasi Manajemen pada sisi Core Banking, OPICS, Trade
Innovation.
Peningkatan kualitas SDM dengan meningkatkan frekuensi pelatihan internal di
bidang perkreditan, pemasaran produk & motivasi kerja.
Persiapan pengembangan sandi neraca sesuai Basel II untuk mendukung
perhitungan penyediaan modal risiko operasional.

5. Mitigasi Risiko Hukum

Dilakukan penanganan kasus hukum secara maksimal dengan prioritas yang
berpotensi besar untuk dimenangkan.
Pengawasan dan pemantauan atas perjanjian pengikatan agunan agar risiko Bank
dapat dimitigasi.
Optimalisasi proses litigasi agar hasil keputusan di Pengadilan dapat menghasilkan
target positif dan menguntungkan posisi Bank.
Mencadangkan biaya untuk keperluan litigation action.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 41 dari 46
CPD, Mei 2010
6. Mitigasi Risiko Reputasi

Meningkatkan kemampuan staf & pejabat di Corporate Secretary Division agar
risiko reputasi tetap dapat terkontrol dengan baik.
Optimalisasi koordinasi jalinan informasi oleh Corporate Secretary Division dengan
pihak media dan nasabah.
Penanganan secara khusus terhadap berita-berita dan opini negatif dari media
massa yang berkaitan produk antaboga, sebagai upaya penyeimbang informasi bagi
stakeholders, dan meminimalisasi boundary risk lainnya seperti risiko likuiditas,
hukum, kredit, dan operasional.
Mengimplementasikan dan mensosialisasikan SPIRIT tidak terbatas pada unit kerja
Kantor Wilayah, dan Cabang, tetapi juga kepada unit kerja Divisi di Kantor Pusat.

7. Mitigasi Risiko Strategik

Revisi atas Rencana Bisnis Bank agar realistis dengan pencapaian target bank.
Pengkajian dan penilaian rasio BOPO di Kantor Cabang dan Kantor Pusat.
Penetapan analisa cost & benefit, kepada seluruh produk dan layanan Bank agar
dapat mendukung program kerja pencapaian target laba, sehingga tidak
membebani keuangan bank.

8. Mitigasi Risiko Kepatuhan

Peningkatan fungsi unit kepatuhan untuk melakukan uji kepatuhan atas setiap
kebijakan bank.
Membangun budaya patuh terhadap semua peraturan & kebijakan terutama yang
ditetapkan oleh regulator/eksternal maupun internal, sehingga bank akan tumbuh
dengan sehat dan menguntungkan.




















Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 42 dari 46
CPD, Mei 2010
BAB VI
PEMBERIAN DANA UNTUK KEGIATAN SOSIAL
DAN KEGIATAN POLITIK

Good Corporate Governance (GCG) merupakan rangkaian hubungan serta keseimbangan
kewenangan antara manajemen, shareholders, dan stakeholders sehingga terbentuk
sistem dan struktur yang memungkinkan pengendalian sebagai kombinasi antara proses
pengambilan keputusan, pemantauan dan pengawasan serta monitoring atas
pencapaian kinerja.
Aspek utama Good Corporate Governance (GCG) adalah keterbukaan (transparency),
akuntabilitas (accountability), tanggung-jawab (responsibility), independensi
(independency), dan kewajaran (fairness). Penerapan Good Corporate Governance
tidak hanya berlaku bagi perusahaan yang berorientasi bisinis semata, juga untuk
lembaga pemerintah dan lembaga publik yang bekerja menggunakan dana masyarakat.
Perbankan sebagai badan usaha yang merupakan bagian dari masyarakat luas selain
berfungsi sebagai lembaga penerima simpanan dan penyalur dana untuk mendukung
perekonomian masyarakat bank juga memiliki konsep tanggungjawab sosial dalam
kaitannya dengan dunia lingkungan usaha.
Dalam prinsip responsibility, penekanan yang signifikan diberikan pada kepentingan
stakeholders perusahaan. Disini perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan
stakeholders perusahaan, menciptakan nilai tambah (value added) dari produk dan jasa
bagi stakeholders perusahaan dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang
diciptakannya. Karena itu prinsip responsibility disini lebih mencerminkan stakeholders
driven concept.
Stakeholders perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap eksistensi perusahaan. Termasuk didalamnya adalah karyawan, pelanggan,
konsumen, pemasok, masyarakat dan lingkungan sekitar serta pemerintah selaku
regulator. Perbedaan bisnis perusahaan akan menjadikan perusahaan memiliki prioritas
stakeholders yang berbeda. Sebagai contoh, masyarakat dan lingkungan sekitar adalah
stakeholders dalam skala prioritas pertama bagi perusahaan perbankan seperti PT Bank
Mutiara Tbk.
Prinisip responsibility GCG menelurkan gagasan Corporate Social Responsibility (CSR)
atau peran serta perusahaan dalam mewujudkan tanggungjawab sosialnya. Dalam
gagasan CSR perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggungjawab yang berpijak pada
single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam
kondisi keuangan (financial) saja. Tanggungjawab perusahaan harus berpijak pada
triple bottom lines, disini bottom line lainnya selain financial adalah sosial dan
lingkungan.
Kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara
berkelanjutan (sustainable). Keberlangsungan perusahaan hanya akan terjamin apabila
perusahaan memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan hidup. Sudah menjadi fakta
Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 43 dari 46
CPD, Mei 2010
bagaimana resistensi masyarakat sekitar muncul ke permukaan menjadi fakta terhadap
perusahaan yang dianggap tidak memperhatikan lingkungan hidup.
PT Bank Mutiara Tbk senantiasa memahami bahwa fungsi sosial melekat dalam proses
interaksi dengan masyarakat umum sehingga manajemen memandang perlu membina,
memfasilitasi dan menjalin fungsi sosial dengan melakukan kegiatan sosial pada
lingkungan sekitar kantor pusat atau kantor cabang atau untuk masyarakat secara
umum.
Kegiatan CSR oleh PT Bank Mutiara Tbk sampai dengan tahun 2009 ini lebih berupa
pemberian santunan dalam perayaan acara keagamaan dan sponsorship sbb:
1. Pembagian hewan kurban pada Idul Adha 1430 H kepada Masyarakat yang tidak
mampu dilingkungan sekitar jabodetabek
2. Pemberian bantuan/donasi untuk rumah yatim piatu dalam acara natal bersama PT
Bank Mutiara Tbk tahun 2009
3. Penggalangan dana untuk korban bencana alam gempa bumi di Sumatera Barat pada
Oktober 2009 dan kemudian dana yang terkumpul tersebut digabungkan dengan
sumbangan perseroan digunakan untuk rehabilitasi sekolah di Pariaman
4. Sponsorship untuk beberapa aktifitas kemahasiswaan
5. Sponsorship untuk kegiatan umum masyarakat
Bentuk-bentuk moral maupun material tersebut ditujukan kepada pihak internal
maupun eksternal, yaitu :
i) Untuk hubungan internal

Manajemen senantiasa mendukung, baik secara moril dan materiil terhadap
pembinaan kegiatan kerohanian dan kebersamaan dalam kegiatan olahraga, yaitu :
(a) Kelompok kegiatan persaudaraan muslim (untuk yang beragama Islam) dan
persekutuan doa (untuk yang beragama Kristen dan Katholik).
(b) Kegiatan rutin tahunan berbuka puasa bersama dan Renungan Ramadhan
dibulan Ramadhan.
(c) Kegiatan rutin tahunan pada perayaan Natal bersama
(d) Pembinaan kegiatan olahraga seperti sepakbola, bulutangkis, tennis meja,
fitness dan golf yang ditujukan untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan
interaksi diantara sesama karyawan.

ii) Untuk hubungan Eksternal

Wujud dan tanggung jawab sosial diupayakan dengan mengutamakan pemberian
bantuan dana kemanusiaan dan santunan kepada pihak-pihak
berkekurangan/membutuhkan. Dana tersebut diperoleh dari hasil kolektif para
nasabah maupun sumbangan dari perusahaan untuk diberikan kepada korban
bencana alam, orang yang tidak mampu, para anak yatim piatu dalam berbagai
event seperti ketika bencana alam, Idul Adha dan perayaan Natal tahun 2009.





Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 44 dari 46
CPD, Mei 2010
Kesimpulan Umum Hasil Self Assesment Pelaksanaan GCG Bank

Berdasarkan lampiran Kertas Kerja Self Assessment GCG dan Summary Perhitungan Nilai
Komposit Self Assesment GCG tersebut, maka disampaikan Kesimpulan Umum hasil
penilaian (Self Assesment) atas pelaksanaan GCG PT Bank Mutiara Tbk untuk tahun 2009
sebagai berikut:

a. Diperoleh Nilai Komposit sebesar 2.425, dengan Predikat Komposit yaitu BAIK sesuai
dengan tabel berikut:
Nilai Komposit Predikat Komposit
Nilai Komposit < 1.5 Sangat Baik
1.5 Nilai komposit < 2.5 B A I K
2.5 Nilai Komposit < 3.5 Cukup Baik
3.5 Nilai Komposit < 4.5 Kurang Baik
4.5 Nilai Komposit < 5 Tidak Baik

b. Peringkat masing-masing faktor adalah sebagai berikut:
No Aspek yang Dinilai Peringkat
1. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris 2
2. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Direksi 2
3. Kelengkapan dan Pelaksanaan Tugas Komite 2
4. Penanganan Benturan Kepentingan 2
5. Penerapan Fungsi Kepatuhan Bank 4
6. Penerapan Fungsi Audit Intern 3
7. Penerapan Fungsi Audit Ekstern 3
8. Penerapan Fungsi Manajemen Risiko dan Pengendalian Interen 3
9. Penyediaan Dana Kepada Pihak Terkait (Related Party) dan
Debitur Besar (Large Exposures)
4
10. Transparansi Kondisi Keuangan dan Non Keuangan Bank, Laporan
Pelaksanaan GCG dan Laporan Internal
2
11. Rencana Strategis Bank 2
NILAI KOMPOSIT 2.425

c. Kelemahan yang sangat menonjol adalah:

1. Penerapan Fungsi Kepatuhan bank belum baik yang disebabkan karena Bank belum
dapat memperbaiki beberapa ratio utama yang terkait dengan Tingkat Kesehatan
Bank, yang disebabkan oleh warisan dari manajemen lama. Hal ini tercermin dari:
- Pelampauan BMPK (namun tidak terdapat pelanggaran BMPK)
- Terdapat Pelanggaran NPL dari ketentuan yang berlaku (baik secara netto
maupun bruto)
- Terdapat Pelanggaran PDN

2. Penyediaan Dana Kepada Pihak Terkait (Related Party) dan Debitur Besar belum
baik karena:
- Pelampauan BMPK (namun tidak terdapat pelanggaran BMPK)
- Terdapat Pelanggaran NPL dari ketentuan yang berlaku (baik secara netto
maupun bruto)
- Diversifikasi penyediaan dana kurang merata.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 45 dari 46
CPD, Mei 2010
3. Bank belum didukung oleh Sistem Informasi Manajemen Risiko yang dapat membantu
bank melakukan mitigasi risiko.

Action plan (rencana tindak) yang merupakan tindakan korektif (corrective action)
menjadi perhatian oleh Manajemen Baru dan akan diperbaiki dalam periode tahun
2010.


d. Kekuatan pelaksanaan GCG bank adalah:

1. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Direksi dengan
kondisi:
- Komposisi dan Kompetensi Dewan Komisaris dan Direksi sudah sesuai dengan
ukuran dan kompleksitas usaha bank.
- Dewan Komisaris dan Direksi telah bertindak dan mengambil keputusan secara
independen.
- Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi telah
sepenuhnya memenuhi prinsip-prinsip GCG.
- Rapat Dewan Komisaris dan Direksi dapat terselenggara secara efektif dan
efisien.
- Aspek transparansi Dewan Komisaris dan Direksi adalah baik (tidak pernah
melanggar larangan-larangan yang ditetapkan dalam ketentuan).

2. Kelengkapan dan Pelaksanaan Tugas Komite dengan kondisi:
- Komposisi dan Kompetensi Komite-Komite telah sesuai dibandingkan dengan
ukuran dan kompleksitas usaha bank.
- Pelaksanaan tugas Komite-Komite telah berjalan efektif.
- Rapat Komite-Komite terselenggara efektif dan efisien.

3. Penanganan benturan kepentingan dengan kondisi; Bank telah mampu menghindari
potensi terjadinya benturan kepentingan melalui kebijakan interen yang
komprehensif dengan enforcement yang baik.

4. Penerapan Fungsi Audit Intern dan Audit Ekstern dengan kondisi; berjalan efektif,
independen dan obyektif, serta pedoman interen telah sesuai dengan standar
minimum SPFAIB.

5. Penerapan fungsi Manajemen Risiko dan Pengendalian Intern dengan kondisi;
berjalan baik dan cukup efektif dalam mengendalikan seluruh risiko bank, antara
lain pemantauan kebijakan, prosedur, penetapan limit, sistem informasi manajemen
yang komprehensif untuk memelihara kondisi internal bank yang sehat.

6. Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan bank, laporan pelaksanaan GCG
dan laporan internal dengan kondisi; Informasi keuangan dan non keuangan telah
disajikan secara transparan dan memadai kepada stakeholders sesuai ketentuan
yang berlaku.

7. Rencana Bisnis Bank dengan kondisi; disusun dengan memperhatikan faktor
eksternal dan internal serta memperhatikan prinsip kehati-hatian dan azas
perbankan yang sehat.

Laporan Pelaksanaan GCG Tahun 2009
PT Bank Mutiara Tbk


Lap. Pelaksanaan GCG Tahun 2009 Hal.: 46 dari 46
CPD, Mei 2010

Demikianlah disampaikan, dan terima kasih atas perhatian Bank Indonesia.

Jakarta, Mei 2010

PT Bank Mutiara Tbk.

Hormat kami,




Maryono Pontas R. Siahaan
Direktur Utama Komisaris Utama