Anda di halaman 1dari 29

1

PRESENTASI KASUS

AMEBIASIS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti
Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Penyakit Dalam
Rumah Sakit Umum Panembahan Senopati Bantul











Disusun oleh:
Renata Nurul Setyawati
20090310094


Diajukan kepada:
dr. Waisul Choroni, Sp, PD

Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta
Rumah Sakit Panembahan Senopati
2014

2

HALAMAN PENGESAHAN
AMEBIASIS




Disusun oleh:
Renata Nurul Setyawati
20090310094


Disetujui dan disyahkan pada tanggal:



Mengetahui
Dosen Pembimbing




dr. Waisul Choroni, Sp, PD










3

BAB I
PENDAHULUAN

Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja
di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering
menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam
waktu yang singkat. Dinegara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan
dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih
menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi
setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum
menderita diare infeksi. Etiologi diare akut dibagi atas empat penyebab : bakteri,
virus, parasit dan non infeksi. Salah satu parasit yang dapat menyebakan diare
adalah Entamoeba histolytica yang sering disebut juga amebiasis.
Amebiasis adalah suatu keadaan terdapatnya Entamoeba histolytica dengan
atau tanpa manifestasi klinik, dan disebut sebagai penyakit bawaan makanan
(Food Borne Disease). Entamoeba histolytica juga dapat menyebabkan Dysentery
amoeba, penyebarannya kosmopolitan banyak dijumpai pada daerah tropis dan
subtropis terutama pada daerah yang sosio ekonomi lemah dan higiene sanitasinya
jelek.
Entamoeba histolytica pertama kali ditemukan oleh Losh tahun 1875 dari
tinja seorang penderita di Leningrad, Rusia. Pada autopsi, Losh menemukan
Entamoeba histolytica bentuk trofozoit dalam usus besar, tetapi ia tidak
mengetahui hubungan kausal antara parasit ini dengan kelainan ulkus usus
tersebut.

Pada tahun 1893 Quiche dan Roos rnenemukan Entamoeba histolytica
bentuk kista, sedangkan Schaudin tahun 1903 memberi nama spesies Entamoeba
histolytica dan membedakannya dengan amoeba yang juga hidup dalam usus
besar yaitu Entamoeba coli. Sepuluh tahun kemudian Walker dan Sellards di
Philipina membuktikan dengan eksperimen pada sukarelawan bahwa Entamoeba
histolytica merupakan parasit komensal dalam usus besar.


4

Klasifikasi amoebiasis menurut WHO (1968) dibagi dalam asimtomatik
dan simptomatik, yang termasuk amoebiasis simptomatik yaitu amoebiasis
intestinal yaitu dysentri, non-dysentri colitis, amoebic appendicitas ke orang lain
oleh pengandung kista entamoeba hitolytica yang mempunyai gejala klinik
(simptomatik) maupun yang tidak (asimptomatik).

Amoebiasis pada manusia dapat terjadi secara akut dan kronik. Amoebiasis
memiliki gejala yang samar-samar, sehingga hampir tidak diketahui. Gejalanya
bisa berupa diare yang hilang-timbul dan sembelit, banyak buang gas (flatulensi)
dan kram perut. Bisa terjadi demam ringan. Diagnosis dilakukan berdasarkan
ditemukannya amuba pada sampel tinja penderita. Amuba penyebab amoebiasis
tidak selalu ditemukan pada setiap sampel tinja, karena itu biasanya diperlukan
pemeriksaan tinja sebanyak 3-6 kali. Selain pemberian antiamuba, diperlukan juga
tindakan lain yang sifatnya menguntungkan penderita seperti diet rendah residu
dan karbohidrat serta protein yang mudah dicerna, pemberian obat yang bersifat
simtomatik dan kadang diperlukan antimikroba untuk mengendalikan infeksi yang
menyertai amoebiasis.















5

BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Sdr.L
Umur : 16 Th
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Gentan RT 3 Pandak Bantul
Tanggal Masuk : 03 April 2014

II. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama
Os mengeluh BAB cair sebanyak 15 kali

B. Keluhan Tambahan
Keluhan juga disertai dengan demam (+), mual dan muntah (+) 5 kali
sejak tadi pagi, pusing berputar, serta perut terasa nyeri.

C. Riwayat Penyakit Sekarang
Os datang ke instalasi gawat darurat RS Panembahan Senopati sadar
diantar oleh keluarganya dengan keluhan BAB cair sebanyak 15 kali
sejak tadi pagi dengan konsistensi cair, warna kekuningan, lendir (+),
darah (-), ampas (-) dan setiap BAB sekitar 1/4 gelas. Selain itu os juga
mengeluh nyeri perut (+), mual (+), muntah (+) 5 kali seperti makanan
yang dimakan dan cairan, setiap muntah sekitar gelas. Mules (+),
pusing (+) seperti berputar, terakhir makan nasi goreng saat sarapan
pagi.




6

D. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat sakit DM disangkal
Riwayat alergi obat dan alergi makanan disangkal

E. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama

III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan Umum : Tampak lemas
B. Kesadaran : Compos Mentis
C. Vital Sign : TD = 110/60 mmHg R = 22 kali/menit
Nadi = 100 kali/menit S = 38,7
0
C
D. STATUS GENERALIS
1. Kepala : Simetris, Mesocephal
2. Mata : Conjungtiva Anemis (--)
Sklera Ikterik (--)
Pupil Bulat Isokor ( 3 mm3 mm )
Reflek Cahaya (++)
3. Hidung : Discharge (-)
4. Telinga : Simetris Kanan Kiri, discharge (-)
5. Mulut : Sianosis (-), lidah kotor (-)
6. Leher : Inspeksi = Trakea terletak di tengah
Palpasi = Perbesaran kelenjar tiroid (-)
Perbesaran kelenjar paratiroid (-)
Perbesaran kelenjar limfe (-)
7. Thorax : Jantung
Inspeksi : Ictus Cordis tak tampak
Palpasi : Ictus Cordis teraba di SIC IV
Perkusi : Redup
Auskultasi : S1 & S2 tunggal, reguler, bising (-)

7

Paru Paru
Inspeksi : Simetris, retraksi (-), ketinggalan gerak (-)
Palpasi : Vokal fremitus kanan kiri sama,
Ketinggalan gerak (-)
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru paru
Auskultasi : Vesikuler (++), Ronkhi (--),
Wheezing (--)
8. Abdomen
Inspeksi : Supel, Distensi (-)
Auskultasi : Peristaltik (+) Normal
Perkusi : Timpani (+), Pekak alih (-)
Palpasi : Hepar & Lien tak teraba, Nyeri tekan (-), Massa(-)
9. Ekstremitas : Superior = Akral hangat (++), Edema (--)
Inferior = Akral hangat (++), Edema (--)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
1. Darah Lengkap (03 April 2014)
Hb : 14,8 [12 - 16] g%
AL : 12,76 [4 - 10] ribu/ul
AE : 5,17 [4 - 5] ribu/ul
AT : 173 [150 - 450] ribu/ul
HMT : 41,3 [36 - 46] %
Eosinofil : 1 [2 - 4] %
Basofil : 0 [0 - 1] %
Batang : 1 [2 - 5] %
Segmen : 86 [51 - 67] %
Limfosit : 7 [20 - 35] %
Monosit : 5 [4 - 8] %



8

2. Kimia Darah (03 April 2014)
GDS : 109 [<200] mg/dl
Ureum : 19 [17 - 43] mg/dl
Kreatin : 1,01 [0,6 1,1] mg/dl
SGOT : 19 [<31] U/I
SGPT : 10 [<31] U/I

3. Elektroit
Natrium : 138,5 [137.0-145.0] mmol/l
Kalium : 3,06 [3.50-5.10] mmol/l
Clorida : 106,0 [98.0-107.0] mmol/l
4. Feses Lengkap (03 April 2014)
Makroskopis : Konsistensi : Cair [Lunak]
Warna : Coklat [Kuning Coklat]
Lendir : Positif [Negatif]
Darah : Negatif [Negatif]
Pus : Negatif [Negatif]

Mikroskopis : Leukosit : 20-25 [Negatif]
Eritrosit : 2-4 [Negatif]
Telur Cacing : Negatif [Negatif]
Amoeba : Positif [Negatif]
Epitel : Negatif [1+]
Amylum : Negatif [Negatif]
Lemak : Negatif [Negatif]
Serat Tumbuhan : Positif [Positif]
Yeast : Negatif [Negatif]
Bakteri : Positif [Negatif]

V. DIAGNOSIS KERJA
Gastroenteritis Akut (GEA) amebiasis.

9


VI. TERAPI
Inf RL 30 tpm
Inj. Ciprofloxacin 200mg/12jam
Inj. Metoclopramid (k.p)
Inj. Ranitidin 1A/12jam
Infus Metronidzole 500mg/8jam

FOLLOW UP HARIAN
Tanggal Follow Up Terapi




03 April 2014
Os datang ke instalasi gawat darurat RS
Panembahan Senopati sadar diantar oleh
keluarganya dengan keluhan BAB cair
sebanyak 15 kali sejak tadi pagi dengan
konsistensi cair, warna kekuningan, lendir (+),
darah (-), ampas (-) dan setiap BAB sekitar 1/4
gelas. Selain itu os juga mengeluh nyeri perut
(+), mual (+), muntah (+) 5 kali seperti
makanan yang dimakan dan cairan, setiap
muntah sekitar gelas. Mules (+), pusing (+)
seperti berputar, terakhir makan nasi goreng
saat sarapan pagi.

KU : Lemas, CM
TD : 110/60 mmHg
Nadi : 100 kali/menit
Respirasi : 22 kali/menit
Suhu : 38,7
0
C

Inf RL 30 tpm
Inj. Metoclopramid
(k.p)
Inj. Ranitidin 1A/12jam
Inj. Ciprofloxacin
200mg/12 jam

PL : cek FL
04 April 2014

Hasil FL
Warna :
coklat
Konsist : cair
Lendir : +
Leukosit : 20-
25
Erirosit :2-4
Amuba : +
Bakteri : +
Os mengeluh BAB sebanyak 10 kali tadi
malam konsistensi cair dan berwarna
kuning kecoklatan, mual (+), muntah (+) 1
kali, pusing (+), lidah terasa pahit (+),
perut mules (+), lemas (+).
KU : Lemas, CM
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 88 kali/menit
Respirasi : 22 kali/menit
Suhu : 36,6
0
C
Inf RL 30 tpm
Inj. Metoclopramid
(k.p)
Inj. Ranitidin 1A/12jam
Inj. Ciprofloxacin
200mg/12 jam
+ Infus metronidazole
500mg/8jam


10

05 April 2014
Os mengeluh BAB sebanyak 13 kali tadi
malam konsistensi cair dan berwarna
kuning kecoklatan, ampas (+), pagi ini 2
kali. Mual (+), muntah (+) 4 kali semalam,
pusing (+), lidah terasa pahit (+)
KU : Sedang, CM
TD : 120/70 mmHg
Nadi : 72 kali/menit
Respirasi : 22 kali/menit
Suhu : 36,4
0
C

Inf RL 30 tpm
Inj. Metoclopramid
(k.p)
Inj. Ranitidin 1A/12jam
Inj. Ciprofloxacin
200mg/12 jam
Inf metronidazole
500mg/8jam


07 April 2014
Os mengeluh sudah tidak diare, mual (-),
muntah (-), pusing (-), lemas (-)
KU : Sedang, CM
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 72 kali/menit
Respirasi : 21 kali/menit
Suhu : 36,5
0
C
Pasien dinyatakan boleh pulang
Cefixim 2x500 mg
Metronidazole 3x500mg
Ranitidin 2x1 tab
Inf RL 30 tpm
Inj. Metoclopramid
(k.p)
Inj. Ranitidin 1A/12jam
Inj. Ciprofloxacin
200mg/12 jam
Inf metronidazole
500mg/8jam

















11

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi,
yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer
tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.
Diare akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung
kurang dari 14 hari, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari
14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare
yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi dapat disebabkan Virus,
Bakteri, dan Parasit.
Diare akut dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain : infeksi
(bakteri, virus, parasit), keracunan makanan, efek obat dan lain-lain. Menurut
World Gastroenterology Organization, etiologi diare akut dibagi atas empat
penyebab : bakteri, virus, parasit dan non infeksi.
Infeksi
1. Enteral
Bakteri : Shigella sp, E.coli patogen, Salmonella sp, Vibrio cholera,
Yersinia enterocolytica, Campylobacter jejuni, Staphilococcus aureus,
streptcoccus, Klebsiella, Pseudomonas, Aeromonas, Proteus dll.
Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, cytomegalovirus
(CMV), echovirus.
Parasit : -protozoa : Entamoeba hystolitica, Giardia lamblia,
Balantidium coli.
Worm : Ascaris lumbricoides, cacing tambang, Trichuris trichuria
Fungus : kandida/moniliasis




12

2. Parenteral :
Intoksikasi makanan : makanan beracun atau mengandung logam berat,
makanan yang mengandung bakteri/toksin : Clostridium perfringens, B.
Cereus, S.aureus.
Alergi : susu sapi, makanan tertentu
Malabsorbsi/maldigesti : karbohidrat : monosakarida (galaktosa, glukosa,
laktosa), diskarida, lemak, protein intolerance, vitamin dan mineral.
AMEBIASIS
DEFINISI
Amoebiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh protozoa anaerobik,
yaitu Entamoeba histolitica dengan atau tanpa gejala klinik.

Penyakit infeksi usus
besar yang disebabkan oleh parasit usus Entamoeba histolytica ini biasa disebut
juga disentri ameba, enteritis ameba, dan colitis ameba.
EPIDEMIOLOGI
Di Indonesia, amoebiasis kolon banyak dijumpai dalam keadaan endemi.
Prevalensi Entamoeba histolytica di berbagai daerah di Indonesia berkisar antara
10 18 %. Amoebiasis juga tersebar luas diberbagai negara diseluruh dunia. Pada
berbagai survei menunjukkan frekuensi diantara 0,2 50 % dan berhubungan
dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak dijumpai pada
daerah tropik dan subtropik yang sanitasinya jelek.

Di China, Mesir, India dan negeri Belanda berkisar antara 10,1 11,5%, di
Eropa Utara 5 20%, di Eropa Selatan 20 51% dan di Amerika Serikat 20%.
Frekuensi infeksi Entamoeba histolytica diukur dengan jumlah pengandung kista.
Perbandingan berbagai macam amoebiasis di Indonesia adalah sebagai
berikut, amoebiasis kolon banyak ditemukan, amoebiasis hati hanya kadang-
kadang amoebiasis otak lebih jarang lagi dijumpai.

Sumber infeksi terutama carrier yakni penderita amoebiasis tanpa gejala
klinis yang dapat bertahan lama megeluarkan kista yang jumlahnya ratusan ribu
perhari. Bentuk kista tersebut dapat bertahan diluar tubuh dalam waktu yang lama.

13

Kista dapat menginfeksi manusia melalui makanan atau sayuran dan air yang
terkontaminasi dengan tinja yang mengandung kista.

Infeksi dapat juga terjadi dengan atau melalui vektor serangga seperti lalat
dan kecoa (lipas) atau tangan orang yang menyajikan makanan (food handler)
yang menderita sebagai carrier, sayur-sayuran yang dipupuk dengan tinja
manusia dan selada buah yang ditata atau disusun dengan tangan manusia. Bukti-
bukti tidak langsung tetapi jelas menunjukkan bahwa air merupakan perantara
penularan. Sumber air minum yang terkontaminasi pada tinja yang berisi kista
atau secara tidak sengaja terjadi kebocoran pipa air minum yang berhubungan
dengan tangki kotoran atau parit.

Penularan diantara keluarga sering juga terjadi terutama pada ibu atau
pembantu rumah tangga yang merupakan carrier, dapat mengkontaminasi
makanan sewaktu menyediakan atau menyajikan makanan tersebut.

Pada tingkat keadaan sosio ekonomi yang rendah sering terjadi infeksi
yang disebabkan berbagai masalah, antara lain :

1. Penyediaan air bersih, sumber air sering tercemar.
2. Tidak adanya jamban, defekasi disembarang tempat, memungkinkan
amoeba dapat dibawa oleh lalat atau kecoa.
3. Pembuangan sampah yang jelek merupakan tempat pembiakan lalat
atau lipas yang berperan sebagai vektor mekanik.
Mengandung kista yang jumlahnya besar dan penderita dalam keadaan
konvalesensi merupakan bahaya potensial yang merupakan sumber infeksi dan
harus diobati dengan sempurna karena keduanya merupakan masalah kesehatan
yang besar.

Kista dapat hidup lama dalam air (10 14 hari). Dalam lingkungan yang
dingin dan lembab kista dapat hidup selama kurang lebih 12 hari, kista juga tahan
terhadap Khlor yang terdapat dalam air leding dan kista akan mati pada suhu 50
o

C atau dalam keadaan kering. Entamoeba histolytica ini juga menyebabkan
Dysenteriae amoeuba, abses hati dan Giardia lamblia yang banyak ditemukan

14

pada anak-anak. Infeksi juga ditularkan dalam bentuk kista, sehingga pengandung
kista adalah penting dalam penyebaran penyakit ini.


ETIOLOGI
E.histolytica merupakan protozoa usus, sering hidup sebagai
mikroorganisme komensal (apatogen) di usus besar manusia. Apabila kondisi
mengijinkan dapat berubah menjadi pathogen dengan cara membentuk koloni di
dinding usus dan menembus dinding usus sehingga menimbulkan ulserasi. Siklus
hidup ameba ada 2 macam bentuk. Yaitu bentuk trofozoit yang dapat bergerak
dan bentuk kista.


PATOFISIOLOGI
Entamoeba histolytica memiliki siklus hidup dengan dua tahap, yaitu
tahap trofozoit dan kista. Pada tahap trofozoit, amuba tidak bisa bertahan hidup
mandiri, sedangkan pada tahap kista amuba bersifat sangat menular dan kuat,
hidup di Lingkungan yang ekstrim. Entamoeba histolytica ditularkan melalui rute
fecal-oral. Periode inkubasi terjadi mulai dari hitungan hari sampai tahun (durasi
rata-rata 2-4 minggu.
Infeksi dimulai dari tertelannya kista dalam makanan dan minuman yang
terkontaminasi tinja. Kista yang tertelan mengeluarkan trofozoit dalam usus besar
dan memasuki submukosa. Bentuk kista biasanya sferis, berukuran 10-18 mm.
Kista yang matang berisi 2 inti yang akan membelah menjadi 4 inti yang kecil.
Selama proses pematangan vakuola glikogen akan dikeluarkan dan benda
kromatoid menjadi makin kabur dan akhirnya menghilang. Kista sangat tahan
terhadap bahan kimia tertentu. Kista bisa tetap hidup dan infektif dalam kondisi
lembab sedangkan dalam feses yang mengering dapat bertahan sampai 12 hari dan
dalam air selama 30 hari.
Bila air minum atau makanan terkontaminasi oleh kista Entamoeba histolytica,
kista akan masuk melalui saluran pencernaan menuju ileum dan terjadi excystasi,

15

dinding kista robek dan keluar amoeba multinucleus metacystic yang langsung
membelah diri menjadi 8 uninucleat trofozoit muda yang disebut amoebulae.
Amoebulae bergerak ke usus besar, makan dan tumbuh dan membelah diri
asexual.
Trofozoit dalam intestinal akan berubah bentuk menjadi precystic. Bentuknya
akan mengecil dan bebentuk spheric dengan ukuran 3,5-20 mm. Bentuk kista
yang matang mengandung kromatoid untuk menyimpan unsur nutrisi glycogen
yang digunakan sebagai sumber energi. Kista ini adalah bentuk inaktif yang akan
keluar melalui feses. Didalam dinding usus trofozoit terbawa aliran darah menuju
hati, paru, otak dan organ lain. Hati adalah organ yang paling sering diserang
selain usus. Di dalam hati trofozoit memakan sel parenchym hati sehingga
menyebabkan kerusakan hati.
Trofozoit yang mula-mula hidup sebagai komensal di dalam lumen usus besar,
dapat berubah menjadi patogen, menembus mukosa usus dan menimbulkan ulkus.
Faktor yang menyebabkan perubahan sifat trofozoit tersebut sampai saat ini masih
belum diketahui dengan pasti. Diduga baik faktor kerentanan tubuh pasien,sifat
keganasan (virulensi) ameba, maupun lingkungannya mempunyai peran. Faktor-
faktor yang dapat menurunkan kerentanan tubuh misalnya kehamilan, kurang gizi,
penyakit keganasan ameba ditentukan oleh strainnya. Beberapa faktor lingkungan
yang diduga berpengaruh, misalnya suasana anaerob dan asam (pH 0,6-6,5),
adanya bakteri, virus dan diet tinggi kolesterol, tinggi karbohidrat dan rendah
protein. Ameba yang ganas dapat memproduksi enzim fosfoglukomutase dan
lizosim yang dapat mengakibatkan kerusakan dan nekrosis jaringan dinding usus.
Bentuk ulkus ameba sangat khas yaitu dilapisan mukosa berbentuk kecil tapi
dilapisan submukosa dan muskularis melebar (menggaung). Akibatnya terjadi
ulkus dipermukaan mukosa usus menonjol dan hanya terjadi reaksi radang yang
minimal. Pada pemeriksaan mikroskopik eksudat ulkus,tampak sel leukosit dalam
jumlah banyak, tampak pula Kristal charcot leyden dan kadang-kadang ditemukan
trofozoit. Ulkus yang terjadi dapat menimbulkan perdarahan dan apabila
menembus lapisan muscular akan terjadi perforasi dan peritonitis. Infeksi kronik

16

dapat menimbulkan reaksi terbentuknya massa jaringan granulasi yang disebut
ameboma, yang sering terjadi didaerah sekum dan sigmoid. Dari ulkus didalam
dinding usus besar, ameba dapat mengadakan metastasis ke hati lewat cabang
vena porta dan menimbulkan abses hati. Embolisasi lewat pembuluh darah atau
pembuluh getah bening dapat pula terjadi keparu, otak, atau limpa, dan
menimbulkan abses disana, akan tetapi peristiwa ini jarang terjadi.

KLASIFIKASI
Amoebiasis intestinal
Amoebiasis intestinal atau disebut juga sebagai amoebiasis primer terjadi pertama
didaerah caecum, appendix, colon ascenden dan berkembang ke colon lainnya.
Bila sejumlah parasit ini menyerang mukosa akan menimbulkan ulkus (borok),
yang mempercepat kerusakan mukosa.
Lapisan muskularis usus biasanya lebih tahan. Biasanya lesi akan terhenti
didaerah membran basal dari muskularis mukosa dan kemudian terjadi erosi
lateral dan berkembang menjadi nekrosis. Jaringan tersebut akan cepat sembuh
bila parasit tersebut dihancurkan (mati). Pada lesi awal biasanya tidak terjadi
komplikasi dengan bakteri. Pada lesi yang lama (kronis) akan diikuti infeksi
sekunder oleh bakteri dan dapat merusak muskularis mukosa, infiltrasi ke sub-
mukosa dan bahkan berpenetrasi ke lapisan muskularis dan serosa.
Amoebiasis intestinal bergantung pada resistensi hospesnya sendiri, virulensi dari
strain amuba, kondisi dari lumen usus atau dinding usus, yaitu keadaan flora usus,
intek/tidaknya dinding usus, kondisi makanan, apabila makanan banyak
mengandung karbohidrat, maka amoeba tersebut lebih pathogen. Pada
pemeriksaan barium enema, amoeba dapat berupa lesi polipoid, dapat dikelirukan
dengan karsinoma kolon. Adanya ulkus pada mukosa usus dapat diketahui dengan
sigmoidoskopi pada 25% kasus. Ulkus tersebar, terpisah satu sama lain oleh
mukosa usus yang normal, ukurannya bervariasi dari 2-3 mm sampai 2-3 cm.

17

Variasi tipe amoebiasis primer terdiri atas (Peter, 2003):
Amoebiasis kolon akut. Bila gejalanya berlangsung kurang dari 1 bulan.
Amoebiasis kolon akut atau disentri amoeba (dysentria amoebica)
mempunyai gejala yang jelas yaitu sindrom disentri yang merupakan
kumpulan gejala terdiri atas diare (berak-berak encer) dengan tinja yang
berlendir dan berdarah serta tenesmus anus (nyeri pada anus waktu buang
air besar). Terdapat juga rasa tidak enak di perut dan mules. Bila tinja
segar diperiksa, bentuk histolitika dapat ditemukan dengan mudah.
Amoebiasis kolon menahun, disebut juga sebagai inflammantory bowel
disease bila gejalanya berlangsung lebih dari 1 bulan atau bila terjadi
gejala yang ringan, diikuti oleh reaktivasi gejala akut secara periodik.
Amoebiasis kolon menahun mempunyai gejala yang tidak begitu jelas.
Biasanya terdapat gejala usus yang ringan, antara lain rasa tidak enak di
perut, diare yang diselingi dengan obstipasi (sembelit).
Amoebiasis Ekstra-Intestinal
Invasi amoeba selain dalam jaringan usus disebut amoebiasis sekunder atau ekstra
intestinal. Terjadinya kasus trofozoit terbawa aliran darah dan limfe ke lokasi lain
dari tubuh, menyebabkan terjadinya lesi pada organ lain. Lesi sekunder dijumpai
lesi pada hati (sekitar 5% dari kasus amoebiasis). Umumnya infestasi amuba yang
paling sering adalah amoebiasis intraluminal asimptomatik. Perkiraan prevalensi
individu yang asimptomatik bervariasi antara 5-50% populasi.
Amoebiasis sekunder dapat terjadi penyebaran melalui beberapa cara, yaitu
melalui darah atau yang disebut hematogen, organ yang paling sering terserang
yaitu hepar yang akan menimbulkan amoebiasis hepatitis dan selanjutnya absces
hepatikum dapat terjadi secara single atau multiple dan 85% pada lobus dextra..
Hal ini terjadi bila trofozoit masuk kedalam venula mesenterika dan bergerak ke
hati melalui sistem vena porta hepatis, kemudian masuk melalui kapiler darah
portal menuju sinusoid hati dan akhirnya membentuk absces. Besarnya absces

18

cukup bervariasi dari bentuk titik yang kemudian membesar sampai seperti buah
anggur. Ditengah absces akan terlihat adanya cairan nekrosis, ditengahnya ada sel
stroma hati dan bagian luarnya terlihat jaringan hati yang ditempeli oleh amoeba.
Bilamana absces pecah serpihan absces akan tersebar dan menginfeksi jaringan
lainnya. Selanjutnya dapat menyebar melalui otak.
Carrier (Cyst Passer)
Pasien tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali. Hal ini disebabkan karena
ameba yang berada di dalam lumen usus besar, tidak mengadakan invasi ke
dinding usus.
GAMBARAN KLINIK

Gejala-gejala klinik dari amoebiasis tergantung daripada lokalisasi dan
beratnya infeksi. Penyakit disentri yang ditimbulkannya hanya dijumpai pada
sebagian kecil penderita tanpa gejala dan tanpa disadari merupakan sumber
infeksi yang penting yang kita kenal sebagai "carrier", terutama didaerah dingin,
yang dapat mengeluarkan berjuta-juta kista sehari. Penderita amoebiasis
intestinalis sering dijumpai tanpa gejala atau adanya perasaan tidak enak diperut
yang samar-samar, dengan adanya konstipasi, lemah dan neurastenia. Infeksi
menahun dengan gejala subklinis dan terkadang dengan eksaserbasi kadang-
kadang menimbulkan terjadinya kolon yang "irritable" sakit perut berupa kolik
yang tidak teratur.

Amoebiasis yang akut mempunyai masa tunas 1-14 minggu. Dengan
adanya sindrom disentri berupa diare yang berdarah dengan mukus atau lendir
yang disertai dengan perasaan sakit perut dan tenesmus yang juga sering disertai
dengan adanya demam. Amoebiasis yang menahun dengan serangan disentri
berulang terdapat nyeri tekan setempat pada abdomen dan terkadang disertai
pembesaran hati. Penyakit menahun yang melemahkan ini mengakibatkan
menurunnya berat badan.

19

Amoebiasis ekstra intestinalis memberikan gejala sangat tergantung kepada
lokasi absesnya. Yang paling sering dijumpai adalah amoebiasis hati disebabkan
metastasis dari mukosa usus melalui aliran sistem portal. Sering dijumpai pada
orang-orang dewasa muda dan lebih sering pada pria daripada wanita dengan
gejala berupa demam berulang, kadang-kadang disertai menggigil, icterus ringan,
bagian kanan diafragma sedikit meninggi, sering ada rasa sakit sekali pada bahu
kanan dan hepatomegali. Abses ini dapat meluas ke paru-paru disertai batuk dan
nyeri tekan intercostal, pleural effusion dengan demam disertai dengan menggigil.
Pada pemeriksaan darah dijumpai lekositosis kadang-kadang amoebiasis
hati sudah lama diderita tanpa tanda-tanda dan gejalanya khas yang sukar
didiagnosa. Infeksi amoeba di otak menunjukkan berbagai tanda dan gejala seperti
abses atau tumor otak. Amoebiasis ekstra intestinalis ini dapat juga dijumpai di
penis, vulva, perineum, kulit setentang hati atau kulit setentang colon atau di
tempat lain dengan tanda-tanda suatu ulkus dengan pinggirnya yang tegas, sangat
sakit dan mudah berdarah.
DIAGNOSIS
Diagnosis pasti penderita amoebiasis adalah menemukan parasit didalam
tinja atau jaringan. Diagnosis laboratorium dapat dibuat dengan pemeriksaan
mikroskopis atau menemukan parasit dalam biakan tinja sering dijumpai
Entamoeba histolytica bersama-sama dengan kristal Charcot-Leyden. Diagnosis
tidak selalu mudah, maka perlu dilakukan pemeriksaan berulang teristimewa pada
kasus menahun. Kegagalan dapat terjadi dengan teknik yang salah, mencari
parasit tidak cukup teliti atau sering dikacaukan dengan protozoa lain dan sel-sel
artefak.
Pemeriksaan tinja dengan sediaan langsung dengan memakai air garam
faal, atau lugol, dengan pengecatan trichrom, hematoksilin (sediaan permanen)
atau dengan metode konsentrasi. Pada umumnya pada tinja encer akan di jumpai
bentuk tropozoit disertai gejala klinik nyata, sedangkan pada tinja padat pada
penderita tanpa gejala terutama pada penderita menahun carrier akan dijumpai
terutama bentuk kista.

20

Bentuk tropozoit dapat dikenal karena gerakannya aktif, ektoplasma yang
berbatas jelas, nukleus dan adanya sel darah merah, cristal Charcot Leyden,
yang dicernakan dan kista- kista dapat dikenali dari bentuknya yang bulat dimana
jumlah inti 1 4 dan benda chromatidnya.
Pemeriksaan serologis, test haemaglutinasi, test presipitin, pemeriksaan
radiologis atau scalhing berperan pada penderita ekstra intestinal amoebiasis.
Aspirasi abses dapat dilakukan dengan menemukan cairan warna coklat dan pada
akhir aspirasi akan ditemukan bentuk tropozoit.
Pada amoebiasis kolon akut biasanya diagnosis klinis ditetapkan bila
terdapat sindrom disentri disertai sakit perut (mules). Biasanya gejala diare
berlangsung tidak lebih dari 10 kali sehari (tergantung dari beratnya infeksi, bisa
lebih dari 10 kali), terdapat juga demam dan lekositosis. Diagnosis laboratorium
ditegakkan dengan menemukan Entamoeba histolytica bentuk histolytica dalam
tinja.
Amoebiasis kolon menahun biasanya terdapat gejala diare yang ringan
diselingi dengan obstipasi. Dapat juga terjadi suatu eksaserbasi akut dengan
sindrom disentri. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan
Entamoeba histolytica bentuk histolytica dalam tinja.
Bila amoeba tidak ditemukan, pemeriksaan tinja perlu diulangi 3 hari
berturut-turut. Reaksi serologi perlu dilakukan untuk menunjang disgnosis.
Proktoskop dapat digunakan untuk melihat luka yang terdapat di rektum dan
untuk melihat kelainan di sigmoid digunakan sigmoidoskop.
Sedangkan pada amoebiasis hati secara klinis dapat dibuat diagnosis bila
terdapat gejala berat badan menurun, badan terasa lemah, demam, tidak nafsu
makan disertai pembesaran hati yang nyeri tekan. Pada pemeriksaan radiologi
biasanya didapatkan peninggian diafragma. Pemeriksaan darah menunjukkan
adanya leukositosis. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan
Entamoeba histolytica bentuk histolytica dalam biopsi dinding abses atau dalam
aspirasi nanah abses. Bila amoeba tidak ditemukan, dilakukan pemeriksaan
serologik, antara lain tes hemaglutinasi tidak langsung atau tes imunodifusi.

21

DIAGNOSIS BANDING
1. Disentri basiler
2. Schistosomiasis
3. Karsinoma Usus besar
4. Kolitits Ulserativa
5. Trichuriasis
PENATALAKSANAAN
Supportive terapi (supportive therapy)
Terapi ini berhubungan dengan sifat virulensi amoeba. Biasanya dengan
menggunakan diet tinggi protein dan rendah karbohidrat, yakni :
- Tinggi protein, akan mempertinggi daya tahan host.
- Rendah karbohidrat, akan menurunkan virulensi infeksi.
Kausal terapi ( Causal therapy ) Ditujukan terhadap:
- Parasitnya.
- Kuman kuman yang menyebabkan sekunder infeksi.
Obat obatnya antara lain:
Emetin Hidroklorida.
Obat ini berkhasiat terhadap bentuk histolitika. Pemberian emetin ini
hanya efektif bila diberikan secara parenteral karena pada pemberian secara oral
absorpsinya tidak sempurna. Toksisitasnya relatif tinggi, terutama terhadap otot
jantung. Dosis maksimum untuk orang dewasa adalah 65 mg sehari. Lama
pengobatan 4 sampai 6 hari. Pada orang tua dan orang yang sakit berat, dosis
harus dikurangi. Pemberian emetin tidak dianjurkan pada wanita hamil, pada
penderita dengan gangguan jantung dan ginjal. Dehidroemetin relatif kurang
toksik dibandingkan dengan emetin dan dapat diberikan secara oral. Dosis
maksimum adalah 0,1 gram sehari, diberikan selama 46 hari. Emetin dan
dehidroemetin efektif untuk pengobatan abses hati (amoebiasis hati).
Klorokuin.
Obat ini merupakan amoebisid jaringan, berkhasiat terhadap bentuk
histolytica. Efek samping dan efek toksiknya bersifat ringan antara lain, mual,

22

muntah, diare, sakit kepala. Dosis untuk orang dewasa adalah 1 gram sehari
selama 2 hari, kemudian 500 mg sehari selama 2 sampai 3 minggu.
Antibiotik.
Tetrasiklin dan eritomisin bekerja secara tidak langsung sebagai amebisid
dengan mempengaruhi flora usus. Peromomisin bekerja langsung pada amoeba.
Dosis yang dianjurkan adalah 25 mg/kg bb/hari selama 5 hari, diberikan secara
terbagi.
Metronidazol (Nitraomidazol).
Metronidazol merupakan obat pilihan, karena efektif terhadap bentuk
histolytica dan bentuk kista. Efek samping ringan, antara lain, mual, muntah dan
pusing. Dosis untuk orang dewasa adalah 2 gram sehari selama 3 hari berturut-
turut dan diberikan secara terbagi.
Rekomendasi pengobatan amebiasis

Penggantian Cairan dan elektrolit
Aspek paling penting dari terapi diare adalah untuk menjaga hidrasi yang
adekuat dan keseimbangan elektrolit selama episode akut. Ini dilakukan dengan
rehidrasi oral, dimana harus dilakukan pada semua pasien kecuali yang tidak
dapat minum atau yang terkena diare hebat yang memerlukan hidrasi intavena
yang membahayakan jiwa.
Idealnya, cairan rehidrasi oral harus terdiri dari 3,5 g Natrium klorida, dan
2,5 g Natrium bikarbonat, 1,5 g kalium klorida, dan 20 g glukosa per liter
air.Cairan seperti itu tersedia secara komersial dalam paket-paket yang mudah

23

disiapkan dengan mencampurkan dengan air. Jika sediaan secara komersial tidak
ada, cairan rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan menambahkan sendok
teh garam, sendok teh baking soda, dan 2 4 sendok makan gula per liter air.
Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium. Pasien
harus minum cairan tersebut sebanyak mungkin sejak mereka merasa haus
pertama kalinya. Jika terapi intra vena diperlukan, cairan normotonik seperti
cairan saline normal atau Ringer Laktat harus diberikan dengan suplementasi
kalium sebagaimana panduan kimia darah. Status hidrasi harus dimonitor dengan
baik dengan memperhatikan tanda-tanda vital, pernapasan, dan urin, dan
penyesuaian infus jika diperlukan. Pemberian harus diubah ke cairan rehidrasi
oral sesegera mungkin.
Menurut keadaan klinisnya dehidrasi dapat dibagi 3, yaitu :
1. Dehidrasi ringan (hilangnya cairan 2 5% dari BB) gambaran
klinisnya turgor kulit kurang, suara serak (vox cholerica), pasien
belum jatuh dalam presyok.
2. Dehidrasi sedang (hilangnya cairan 5 8% dari BB) gambaran
klinisnya turgor kulit buruk, suara serak (vox cholerica), pasien jatuh
dalam presyok atau syok, nadi cepat, nafas cepat dan dalam.
3. Dehidrasi berat (hilangnya cairan 8 10% dari BB) tanda klinis
dehidrasi sedang ditambah kesadaran yang menurun (apatis sampai
koma), otot kaku, sianosis.
Metode Daldiyono berdasarkan keadaan klinis yang diberi penilaian/skor :
Klinis
Skor
Rasa haus/muntah
Tekanan darah sistolik 60 90 mmHg
Tekanan darah sistolik <60 mmHg
Frekuensi nadi >120 kali/menit
Kesadaran apatis
Kesadaran somnolen, sopor atau koma
Frekuensi nafas >30 kali/menit
Facies cholerica
Vox cholerica (suara serak)
1
1
2
1
1
2
1
2
2

24

Turgor kulit menurun
Washer womans hand
Ekstremitas dingin
Sianosis
Umur 50 60 tahun
Umur >60 tahun
1
1
1
2
1
2
Kebutuhan cairan =

x 10% x KgBB x 1 L
Bila skor <3 dan tidak ada syok, maka hanya diberikan cairan peroral
sebanyak mungkin sedikit demi sedikit. Bila skor 3 disertai syok
diberikan cairan per intravena.
Pemberian cairan rehidrasi terdiri atas :
1. Dua jam pertama (tahap rehidrasi initial) merupakan jumlah total
kebutuhan cairan menurut rumus BJ plasma atau skor Daldiyono
diberikan langsung dalam 2 jam agar tercapai rehidrasi optimal
secepat mungkin.
2. Satu jam berikutnya atau jam ke-3 (tahap kedua) pemberian
diberikan berdasarkan kehilangan cairan selama 2 jam pemberian
cairan rehidrasi inisial sebelumnya. Bila tidak ada syok atau skor
Daldiyono kurang dari 3 dapat diganti dengan cairan peroral.
3. Jam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan kehilangan
cairan melalui feses dan Insensible Water Loss (IWL).
PROGNOSIS
Prognosis ditentukan oleh berat-ringannya penyakit, diagnosis dan
pengobatan dini yang tepat, serta kepekaan ameba terhadap obat yang diberikan.
Pada umumnya prognosis amebiasis adalah baik terutama yang tanpa komplikasi.
Pada abses hati ameba kadang-kadang diperlukan tindakan pungsi untuk
mengeluarkan nanah. Demikian pula dengan amebiasis yang disertai penyulit
efusi pleura. Prognosis yang kurang baik adalah abses otak ameba.



25

KOMPLIKASI
Beberapa penyulit dapat terjadi pada disentri ameba, baik berat maupun
ringan. Sering sumber penyakit di usus sudah tidak menunjukkan gejala lagi atau
hanya menunjukkan gejala ringan, sehingga yang menonjol adalah gejala
penyulitnya (komplikasi). Berdasarkan lokasinya, penyulit tersebut dapat dibagi
menjadi 2 yakni :

1. Komplikasi Intestinal
a. Perdarahan usus
b. Perforasi usus
c. Ameboma
d. Intususepsi
e. Penyempitan usus (Striktura)
2. Komplikasi Ekstra Intestinal
a. Amebiasis hati
b. Amebiasis pleuropulmonal
c. Abses otak, limpa, dan organ lain
d. Amebiasis kulit
PENCEGAHAN
Cara untuk mencegah agar tidak menderita gangguan yang disebabkan oleh
Entamoeba histolytica antara lain sebagai berikut:
1. Tidak makan makanan mentah (sayuran, daging babi, daging sapi, dan
daging ikan), dan untuk buah dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.
2. Minum air yang telah dimasak mendidih baru aman.
3. Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan
menjelang makan atau sesudah buang air besar.
4. Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan
tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar
tidak mencemari sumber air.

26

5. Di Taman Kanak- Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan
pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi
parasit dan mengobatinya dengan obat cacing.
6. Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat
ke rumah sakit.
7. Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama
sekali, tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan
telur cacing akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya
diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur
memeriksa dan mengobatinya.


27

BAB IV
PEMBAHASAN

Penegakkan diagnosis dimulai dari anamnesis. Pada anamnesis didapatkan
pasien ini bab cair sebanyak sebanyak 15 kali sejak tadi pagi dengan konsistensi
cair, warna kekuningan disertai lendir dan setiap BAB sekitar 1/4 gelas. Selain itu
os juga mengeluh nyeri perut, mual, muntah 5 kali seperti makanan yang dimakan
dan cairan, setiap muntah sekitar gelas. Perut terasa mulas. Adanya gejala
perubahan pola defekasi (menjadi cair disertai lendir) disebabkan adanya infeksi
terutama pada usus besar (colon) oleh suatu mikroorganisme yang menyebabkan
gangguan peristaltik usus. Untuk menentukan mikroorganisme yang menginfeksi
maka dilakukan pemeriksaan tambahan yaitu pemeriksaan feses pasien.
Dari hasil pemeriksaan feses, didapatkan adanya lendir, leukosit yang
meningkat (20-25), amoeba dan bakteri positif. Hal ini menunjukkan etiologi dari
infeksi yang dialami pasien adalah Entamoeba histolytica. E.histolytica
merupakan protozoa usus, sering hidup sebagai mikroorganisme komensal
(apatogen) di usus besar manusia. Apabila kondisi memungkinkan dapat berubah
menjadi pathogen dengan cara membentuk koloni di dinding usus dan menembus
dinding usus sehingga menimbulkan ulserasi.
Pada pasien ini dapat digolongkan dalam disentri ameba sedang karena
ditemukan diare >4-5 kali, nyeri perut, demam dan badan terasa lemas. Pada
infeksi amebiasis biasanya ditemukan tropozoit di dalam lumen usus besar, maka
diberikan metronidazol. Metronidazol merupakan obat pilihan, karena efektif
terhadap bentuk histolytica dan bentuk kista.








28

BAB V
KESIMPULAN
Amoebiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh protozoa anaerobik,
yaitu Entamoeba histolitica dengan atau tanpa gejala klinik.

Penyakit infeksi usus
besar yang disebabkan oleh parasit usus Entamoeba histolytica ini biasa disebut
juga disentri ameba, enteritis ameba, dan colitis ameba.
Prevalensi Entamoeba histolytica di berbagai daerah di Indonesia berkisar
antara 10 18 %. Amoebiasis juga tersebar luas diberbagai negara diseluruh
dunia. Pada berbagai survei menunjukkan frekuensi diantara 0,2 50 % dan
berhubungan dengan sanitasi lingkungan sehingga penyakit ini akan banyak
dijumpai pada daerah tropik dan subtropik yang sanitasinya jelek.

Dengan diagnosis dan pengobatan dini yang tepat, serta kepekaan ameba
terhadap obat yang diberikan. Pada umumnya prognosis amebiasis adalah baik
terutama yang tanpa komplikasi.


















29

DAFTAR PUSTAKA
1. Rasmaliah. 2003. Epidemiologi Amoebasis dan Upaya Pencegahannya.
http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm.rasmaliah.pdf
2. Gandahusada, Srisasi.. Parasitologi Kedokteran. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta: 2004.
3. Ghosh, Sudip K. 2009. Molecular Characterization of Entamoeba
invadens chitinases: an encystation specific protein.
4. Sudoyo A.W, Eddy S, dkk. Amebiasis.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid III edisi kelima. Balai Penerbit FKUI.Jakarta.2009. Hal 2850-2856.
5. Zein, Umar. 2004. Diare Akut Infeksius pada Orang Dewasa.
http://library.usu.ac.id.
6. Marr, Berger S.A. 2006. Penyakit Parasit Manusia.
http://bartlett.sudbury.org.
7. Espinosa, Avelina. 2004. Entamoeba histolytica Alkohol Dehidrogenase
2

(EhADH
2
) Sebagai Target untuk Agen Anti-amuba.
8. Opperdoes, Fred. R. 1998. Kemoterapi Anti-amuba.
http://www.icp.ucl.ac..html.
9. Hastings, Caroline A. dan Bertram H. Lubim. 2002. Infectious Diseases in
Rudolphs Fundamental Paediatrics.
10. Lane, Peter A., Rachelle Nuss dan Daniel R. Ambrusso. 2003. Liver &
Pancreas in Lange Medical Book: Current Paediatric Diagnosis &
Treatment.