Anda di halaman 1dari 6

LOGIKA,Agustus2008,hal.

1318 Volume5,Nomor1
ISSN14102315

Sintesis Film Kemasan Ramah Lingkungan dari Komposit Pati,
Khitosan dan Asam Polilaktat dengan Pemlastik Gliserol:
Studi Morfologi dan Karakteristik Mekanik

FERIS FIRDAUS*, SRI MULYANINGSIH**, HADY ANSHORY**
*Pusat Sain dan Teknologi DPPM Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, fiva_izause@yahoo.com
**Farmasi FMIPA Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
(Riset ini merupakan bagian dari riset yang disponsori oleh Menristek dalam
Program Insentif Riset Terapan 2007-2008)

Penelitian tentang sintesis film kemasan ramah lingkungan dari komposit pati, khitosan dan asam polilaktat dengan
pemlastik gliserol: studi morfologi dan karakteristik mekanik telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 5
formula film kemasan yang dirancang dengan komposisi beragam, formula IV yang disintesis dari komposit pati-gliserol-
APL-khitosan yang mengandung gliserol 10 mL (1% dari total aquades) memiliki karakteristik morfologi dan mekanik
yang relatif lebih baik dari formula lainnya. Morfologi film kemasan (formula IV) menunjukkan permukaan film yang
halus, tidak terdapat retak maupun gelembung udara secara morfologis dan stabil di suhu ruang/tidak higroskopis. Film
kemasan (formula IV) memiliki karakteristik mekanik lebih tinggi dibanding formula lainnya yang dapat dilihat pada nilai
kuat tarik, elongasi dan modulusnya. Formula IV memiliki kuat tarik: 104,42 N/m
2
, elongasi: 33,80%, dan modulus:
309,54 N/m
2
.
Keywords: filmkemasan, ramah lingkungan, pati, khitosan, asampolilaktat, morfologi, karakteristik mekanik


PENDAHULUAN
Setiap tahun sekitar 100 juta ton plastik kemasan
sintetik diproduksi dunia untuk digunakan di berbagai
sektor industri, dan kira-kira sebesar itulah sampah
plastik yang dihasilkan setiap tahun. Sesuai perkiraan
Industri plastik dan Olefin Indonesia (INAAPLs),
kebutuhan plastik masyarakat Indonesia di tahun 2002
sekitar 1,9 juta ton kemudian meningkat menjadi 2,1 juta
ton di tahun 2003. Sementara kebutuhan plastik dalam
negeri di tahun 2004 diperkirakan mencapai 2,3 juta ton
(Martaningtyas, 2004). Plastik telah menjadi kebutuhan
hidup yang terus meningkat jumLahnya. Plastik yang
digunakan saat ini merupakan polimer sintetik, terbuat
dari minyak bumi (non-renewable) yang tidak dapat
terdegradasi mikroorganisme di lingkungan. Kondisi
demikian ini menyebabkan kemasan plastik sintetik
tersebut tidak dapat dipertahankan penggunaannya
secara meluas karena akan menambah persoalan
lingkungan dan kesehatan diwaktu mendatang.
Berdasarkan fakta dan kajian ilmiah yang ada serta
meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya
kesehatan dan lingkungan lestari, perlu dilakukannya
penelitian dan pengembangan teknologi bahan kemasan
yang bersifat biodegradable (Latief, 2001).
Proyeksi kebutuhan plastik biodegradable hingga
tahun 2010 yang dikeluarkan oleh Japan Biodegradable
Plastic Society; di tahun 1999, produksi plastik
biodegradable hanya sebesar 2500 ton, yang merupakan
1/10.000 dari total produksi bahan plastik sintetik. Pada
tahun 2010, diproyeksikan produksi plastik
biodegradable akan mencapai 1.200.000 ton atau
menjadi 1/10 dari total produksi bahan plastik dunia.
Industri plastik biodegradable akan berkembang
menjadi industri besar di masa yang akan datang
(Pranamuda, 2003).
Perkembangan terakhir di bidang teknologi
pengemasan adalah suatu kemasan yang bersifat
antimikroba dan antioksidan. Keuntungan utama
kemasan tersebut adalah dapat bersifat seperti halnya
bahan-bahan yang mengandung antiseptik seperti sabun,
cairan pencuci tangan yaitu berfungsi untuk mematikan
kontaminan mikroorganisme (kapang, jamur, bakteri)
secara langsung pada saat mikroba kontak dengan bahan
kemasan, sebelum mencapai bahan/produk pangan di
dalamnya sehingga produk pangan tersebut menjadi
lebih awet.
Potensi khitosan yang dapat diisolasi dari limbah
cangkang udang, rajungan, kepiting dan crustaceae
lainnya sangat besar di Indonesia. Contoh, udang,
selama ini potensi udang Indonesia rata-rata meningkat
sebesar 7,4% per tahun. Data tahun 2001; potensi udang
nasional mencapai 633.681 ton. Apabila asumsi laju
peningkatan tersebut tetap maka pada tahun 2004
potensi udang diperkirakan sebesar 785.025 ton. Dari
proses pembekuan udang untuk ekspor, 60-70% dari
berat total udang menjadi limbah (bagian kulit, kepala
dan ekor) sehingga diperkirakan akan dihasilkan limbah
udang sebesar 510.266 ton. Cangkang udang
mengandung zat khitin dan jika diproses lebih lanjut
dengan melalui beberapa tahap, akan dihasilkan
khitosan. Khitosan memiliki sifat larut dalam suatu
FIRDAUS,MULYANINGSIH,ANSHORY LOGIKA

14
larutan asam organik tetapi tidak larut dalam pelarut
organik lainnya seperti dimetil sulfoksida dan juga tidak
larut pada pH 6,5. Sedangkan pelarut khitosan yang baik
adalah asam asetat (Prasetyo, 2004; Marganof, 2003). Di
lain pihak khitosan bersifat tahan air, sangat tidak
beracun dan terbukti dapat menghambat pertumbuhan
jamur, bakteri dan kapang (Prasetyo, 2004; Okawa et al.,
2003; El Grauth, 1991; Allan dan Hadwiger, 1979)
sehingga dapat berfungsi sebagai pengawet.
Salah satu proses yang memegang peranan penting
dalam produksi bahan kemasan bersifat antimikroba
adalah proses penambahan bahan aktif pada bahan
kemasan tersebut. Bahan aktif antimikroba yang telah
dipakai antara lain zeolit yang tersubstitusi oleh logam
perak, triklosan, klorin dioksida, glukosa oksidase,
karbondioksida (Rismana, 2004). Untuk perkembangan
di masa mendatang akan dikembangkan kemasan
bersifat antimikroba dengan bahan kemasan yang
mempunyai permukaan aktif seperti khitosan, khitosan
oligosakarida atau derivatif khitosan lainnya. Di
samping itu karakteristik antioksidan dapat dihasilkan
dengan menambahkan asam askorbat dan asam sitrat
yang berfungsi sebagai bahan antioksidan (Mawarwati et
al., 2001).
Di Indonesia penelitian dan pengembangan
teknologi kemasan plastik biodegradable masih sangat
terbatas. Hal ini terjadi karena selain kemampuan
sumber daya manusia dalam penguasaan ilmu dan
teknologi bahan, juga dukungan dana penelitian yang
terbatas. Sebenarnya prospek pengembangan biopolimer
untuk kemasan plastik biodegradable di Indonesia
sangat potensial. Alasan ini didukung oleh adanya
sumber daya alam, khususnya hasil pertanian yang
melimpah dan dapat diperoleh sepanjang tahun
(sustainable/renewable). Berbagai hasil pertanian yang
potensial untuk dikembangkan menjadi biopolimer
adalah umbi-umbian tropis khas Indonesia
(singkong/Manihot esculenta) yang dapat difermentasi
menjadi asam laktat kemudian dipolimerisasi menjadi
asam polilaktat (APL) yang memiliki nilai ekonomi
strategis di masa mendatang.
Oleh sebab itu penelitian tentang sintesis film
kemasan dari komposit pati-gliserol-APL-khitosan
sangat penting untuk dilakukan agar dihasilkan film
kemasan ramah lingkungan (eco-friendly packaging)
yang diharapkan melalui pengembangan secara lanjut
dapat bersifat antimikroba dan antioksidan sehingga
dapat meningkatkan ketahanan/keawetan produk
pangan. Selain itu juga akan dihasilkan paket teknologi
tepat guna dan mendukung program pemerintah tentang
pemberdayaan clean development mechanism berbasis
environmental sustainable development dalam jangka
menengah dan panjang. Kajian tentang morfologi,
higroskopisitas dan karakteristik mekanik film kemasan
yang dihasilkan diperlukan untuk mengetahui performa
optimalnya.
METODOLOGI
Bahan baku utama yang diperlukan dalam penelitian
ini adalah pati standard yang berasal dari singkong
(Manihot esculenta) diperoleh dari Bratachem
Yogyakarta. Bahan utama yang kedua adalah khitosan
yang diisolasi dari limbah kulit udang yang diperoleh
dari petani tambak udang di Cirebon, J awa Barat. Bahan
utama yang ketiga adalah L (+) asam laktat 98% (pa)
yang dipolimerisasi menjadi asam polilaktat (APL).
Bahan pendukung lainnya yang diperlukan dalam proses
produksi adalah katalis SnCl
2
(pa), gliserol 87% (pa)
sebagai bahan pemlastik, HCl (pa), NaOH (pa) dan asam
asetat (pa) digunakan dalam proses isolasi dan sampling
khitosan, semuanya diperoleh dari Sigma-Aldrich.
Peralatan utama yang digunakan dalam penelitian
ini adalah Fourier Transform Infra-Red (FTIR/Awatar-
Nicolet) untuk uji dan analisis derajat deasetilasi
khitosan yang terkait dengan tingkat aktivitasnya,
Electric Microscope-Integrated Colour Printout (Nikon
Labophot-Nikon HFX-DX) untuk uji dan analisis
morfologi produk film kemasan yang dihasilkan, Tenso
Lab-MEY (Shimadzhu) digunakan untuk uji dan analisis
karakteristik mekanik film kemasan, RH-meter
(Bollmann) digunakan untuk mengukur higroskopisitas
film kemasan, cetakan plastik (PE) digunakan untuk
mencetak film kemasan, oven dan desikator digunakan
untuk finishing dan conditioning, bejana gelas,
termometer dan kompor elektrik digunakan dalam proses
blending komposit (sintesis), thermal magnetic stirrer
diperlukan dalam proses polimerisasi asam laktat
menjadi APL.
Metode isolasi khitosan dari kulit udang melalui
proses demineralisasi, deproteinisasi dan deasetilasi, dan
uji derajat deasetilasinya dilakukan menggunakan
metodenya Sabnis dan Block (1997). Metode sintesis
film kemasan dari komposit pati-gliserol-APL-khitosan
dilakukan menggunakan metodenya Firdaus dan
Mulyaningsih (2008). Analisis morfologi dilakukan
dengan mengamati secara fisik film kemasan yang
dihasilkan menggunakan mikroskop (EM-ICP) dengan
cara meletakkan sampel ujinya (3x3 cm) di bawah lensa
microskop tersebut, gambar yang ditampilkan dalam
monitornya difoto dan dicetak. Analisis karakteristik
mekanik (kuat tarik, elongasi, modulus) dilakukan
dengan cara menyiapkan sampel uji berupa film
kemasan yang dihasilkan dengan ukuran 2x30 cm
kemudian dikaitkan pada penampang atas dan bawah
Tenso lab-MEY kemudian dilakukan peregangan sampai
putus, dan hasil pengukurannya dapat diamati di monitor
Tenso lab. Kekuatan maksimal film kemasan diukur
pada saat film menjelang putus, yakni kuat tariknya dan
persen mulurnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Sintesis film kemasan dari komposit pati-gliserol-
APL-khitosan
Langkah pertama dalam proses sntesis komposit
pati-gliserol-APL-khitosan adalah pembuatan sediaan
larutan khitosan 1% (DD: 75,19%) dalam jumlah yang
cukup dengan cara melarutkan khitosan 10 gram ke
dalam 1 L asam asetat 0,1% diaduk sampai larut
sempurna dan membentuk larutan kental yakni larutan
khitosan: 1% sebanyak 1 L. Langkah kedua adalah
pembuatan sediaan APL dalam fasa cairan kental yang
stabil dalam suhu ruangan dengan cara polimerisasi
Volume5,2008 LOGIKA

15
asam laktat menjadi asam polilaktat (APL) dengan cara
memanaskan 1 L asam laktat dalam suhu 70-75
0
C
selama 10 menit kemudian ditambahkan katalis SnCl
2

sebanyak 10 gram diaduk merata sambil dipanaskan
dalam suhu yang sama selama 15 menit kemudian
didinginkan dan diperoleh cairan kental asam polilaktat.
APL yang dihasilkan berbentuk cairan kental transparan
yang stabil dalam fasa cairan kental pada suhu ruangan.
Volume APL yang dihasilkan dari 1 L asam laktat
adalah 800-900 mL, atau mengalami penyusutan kadar
air sebanyak 10-20 mL. Langkah ketiga adalah
pembuatan sediaan suspensi pati yang dilakukan dengan
cara mencampurkan 50 gram pati dalam 1500 mL
aquades diaduk sampai merata membentuk suspensi pati
untuk 1 kali proses pembuatan 5 formula. Langkah
terakhir adalah blending/polimerisasi semua bahan yang
sudah disiapkan dalam suhu 80-90
0
C kemudian
dilakukan pencetakan dalam oven 45
0
C selama 2x24 jam
dan dikondisikan dalam suhu kamar selama 24 jam.
a. Formula I
Formula I terbuat dari campuran 50 mL cairan
kental APL (5% dari total aquades) dan pemlastik
gliserol sebanyak 25 mL (2,5% dari total aquades).


Gambar 1. Filmkemasan (formula I) yang dihasilkan

Tampak dalam Gambar 1 tersebut bahwa film
kemasan yang berhasil disintesis dari komposit pati-
gliserol-APL sudah cukup transparan walaupun masih
kelihatan agak kabur. Tampak dalam Gambar III.2
tersebut bahwa yang menyebabkan kurang jernihnya
film kemasan yang dihasilkan dari komposit pati-
gliserol-APL adalah distribusi APL yang kurang merata
dan kelihatannya belum menyatu secara homogen
bersama pati.
b. Formula II
Formula II dibuat dengan penambahan 10 mL
larutan khitosan 1% (DD: 75,19%) dan tanpa
penambahan APL. Film kemasan (formula II) yang
dihasilkan dapat diamati dalam Gambar 2.


Gambar 2. Filmkemasan (formula II) yang dihasilkan

Tampak dalam Gambar 2 bahwa film kemasan yang
disintesis dari komposit pati-gliserol-khitosan sudah
cukup transparan dan kelihatan lebih jernih/transparan
dibanding film kemasan dari komposit pati-gliserol-
khitosan pada Gambar 2. Tetapi secara visual tampak
banyak dijumpai gelembung-gelembung udara yang
terjebak dalam film kemasan yang terbentuk dari
komposit pati-gliserol-khitosan tersebut.
c. Formula III
Formula III dibuat dengan penambahan gliserol 15
mL (1,5% dari total aquades) dan penambahan 10 mL
cairan kental APL (1% dari total aquades) serta 10 mL
larutan khitosan 1% (DD: 75,19%). Pengurangan
komposisi APL dimaksudkan untuk mengetahui
pengaruhnya terhadap distribusi APL dalam komposit
atau morfologi film kemasan yang dihasilkan dan faktor
higroskopisitas film kemasan yang dihasilkan. Adapun
pengurangan komposisi bahan gliserol dimaksudkan
untuk mengetahui pengaruhnya terhadap karakteristik
mekanik film kemasan yang dihasilkan. Film kemasan
(formula III) yang dihasilkan dapat diamati dalam
Gambar 3.


Gambar 3. Filmkemasan (formula III) yang dihasilkan

Tampak dalam Gambar 3 bahwa film kemasan yang
berhasil disintesis dari komposit pati-gliserol-APL-
khitosan sudah cukup transparan dan kelihatan lebih
jernih/transparan dibanding film kemasan dari komposit
pati-gliserol-APL pada Gambar 1 dan lebih bersih
dibanding film kemasan dari komposit pati-khitosan
pada Gambar 2 karena secara morfologi visual tidak
ditemukan adanya gelembung udara pada film kemasan
dari komposit pati-gliserol-APL-khitosan (formula III)
sehingga permukaannya terasa lebih halus.
d. Formula IV
Formula IV dibuat dengan penambahan gliserol 10
mL (1% dari total aquades). Pengurangan komposisi
bahan gliserol dimaksudkan untuk mengetahui
pengaruhnya terhadap karakteristik mekanik film
kemasan yang dihasilkan. Film kemasan (formula IV)
yang dihasilkan dapat diamati dalam Gambar 4.


Gambar 4. Filmkemasan (formula IV) yang dihasilkan

Tampak dalam Gambar 4 bahwa film kemasan yang
berhasil disintesis dari komposit pati-gliserol-APL-
FIRDAUS,MULYANINGSIH,ANSHORY LOGIKA

16
khitosan (formula IV) secara visual relatif sama dengan
film kemasan (formula III) pada Gambar 3. Secara
visual tampak halus dan transparan serta tidak dijumpai
adanya gelembung udara yang terjebak dalam film.
e. Formula V
Formula V dibuat dengan penambahan gliserol 5
mL (0,5% dari total aquades). Pengurangan bahan
gliserol sampai batas 5 mL (0,5% dari total aquades)
dimaksudkan untuk mengetahui apakah film kemasan
yang dihasilkan masih memiliki performa yang sama
dengan film kemasan yang menggunakan bahan gliserol
10 mL (1% dari total aquades). Film kemasan (formula
V) yang dihasilkan dapat diamati dalam Gambar 5.


Gambar 5. Filmkemasan (formula V) yang dihasilkan

Tampak dalam Gambar 5 bahwa film kemasan yang
berhasil disintesis dari komposit pati-gliserol-APL-
khitosan (formula V) secara visual tampak lebih kaku
dan kelihatan banyak terdapat retak-retak dan terasa
lebih getas/mudah pecah. Tampaknya komposisi gliserol
sampai batas 5 mL (0,5% dari total aquades) memiliki
performa yang tidak baik karena karakteristiknya yang
terlalu kaku dan mudah pecah/retak. Dalam pembahasan
berikutnya disajikan morfologi, higroskopisitas dan
karakteristik mekanik film kemasan yang dihasilkan.
2. Pengaruh komposisi bahan gliserol dan APL yang
ditambahkan terhadap morfologi dan karakteristik
mekanik film kemasan yang dihasilkan
Morfologi, higroskopisitas dan karakteristik
mekanik film kemasan yang dihasilkan berkaitan erat
dengan komposisi bahan gliserol dan APL yang
ditambahkan dalam komposit. Dalam pembahasan
sebelumnya disampaikan bahwa secara visual dapat
diamati perbedaan performa film kemasan yang
dihasilkan dari beragam komposisi bahan gliserol dan
APL yang ditambahkan.
a. Morfologi film kemasan yang dihasilkan
Hasil analisis morfologi dan higroskopisitas film
kemasan yang dihasilkan dari komposit pati-gliserol-
APL, komposit pati-gliserol-khitosan, dan komposit
pati-gliserol-APL-khitosan yang dinotasikan dengan
formula I, II, III, IV dan V dapat diamati dalam Gambar
6, 7, 8, 9, dan 10.

Gambar 6. Morfologi filmkemasan yang dihasilkan (formula I)
Hasil analisis morfologi film kemasan yang
dihasilkan dari komposit pati-gliserol-APL yang
mengandung 50 mL cairan kental APL (5% dari total
aquades) dan gliserol sebanyak 25 mL (2,5% dari total
aquades) dapat diamati dalam Gambar 6. Morfologi film
kemasan yang dihasilkan dari komposit pati-APL
dengan gliserol 2,5% (v/v) tampak sangat porous dan
tampak pada pembesaran 4 kali terdapat distribusi bahan
yang tidak merata. Hal itu diprediksi karena terlalu
banyaknya persentase bahan gliserol dan komposisi APL
yang ditambahkan. Dalam Gambar 7 ditampilkan film
kemasan (formula II) yang dihasilkan dari komposit
pati-gliserol-khitosan dengan persentase bahan gliserol
yang sama dengan film kemasan (formula I);

Gambar 7. Morfologi filmkemasan yang dihasilkan (formula II)
Morfologi film kemasan yang dihasilkan dari
komposit pati-gliserol-khitosan yang mengandung 10
mL larutan khitosan 1% dan gliserol sebanyak 25 mL
(2,5% dari total aquades) dapat diamati dalam Gambar 7.
Morfologi film kemasan yang dihasilkan (formula II)
tersebut tampak tidak porous dan tampak jauh lebih
halus dengan distribusi bahan yang lebih merata.
Tampaknya film kemasan dari komposit pati-gliserol-
APL (formula I) kurang baik secara morfologis jika
diberi bahan gliserol dalam persentase yang besar dan
ditambah dengan komposisi APL yang besar.
Bagaimana jika dibandingkan dengan film kemasan dari
komposit pati-gliserol-APL-khitosan yang mengandung
bahan gliserol dan APL lebih kecil, dapat diamati dalam
Gambar 8.

Gambar 8. Morfologi filmkemasan yang dihasilkan (formula III)
Hasil analisis morfologi film kemasan yang
dihasilkan dari komposit pati-gliserol-APL-khitosan
yang mengandung gliserol 15 mL (1,5% dari total
aquades) dan 10 mL cairan kental APL (1% dari total
aquades) serta 10 mL larutan khitosan 1% (b/v).
Morfologi film kemasan yang dihasilkan (formula III)
tersebut tampak sangat porous dengan porousitas yang
cukup dalam dan higroskopis/tidak stabil di suhu ruang.
Hal itu diprediksi karena masih terlalu banyaknya
persentase bahan gliserol yang ditambahkan. Oleh sebab
itu, bagaimana dengan film kemasan yang dihasilkan
dari komposit pati-gliserol-APL-khitosan dengan
persentase bahan gliserol yang lebih kecil lagi, dapat
diamati dalam Gambar 9.
Pembesaran 4 kali
Pembesaran 4 kali
Pembesaran 4 kali
Pembesaran 40 kali
Pembesaran 40kali
Pembesaran 40kali
Volume5,2008 LOGIKA

17

Gambar 9. Morfologi filmkemasan yang dihasilkan (formula IV)
Tampak dalam Gambar 9 morfologi film kemasan
dari komposit pati-gliserol-APL-khitosan yang
mengandung gliserol 10 mL (1% dari total aquades)
menunjukkan permukaan film yang halus, tidak terdapat
retak maupun gelembung udara secara morfologis dan
stabil di suhu ruang/tidak higroskopis. Secara morfologi
film kemasan yang dihasilkan (formula IV) berbeda
dengan film kemasan dari formula I, formula II dan
formula III. Bagaimana jika dibandingkan dengan film
kemasan dari komposit pati-APL-khitosan dengan
gliserol 5 mL (0,5% dari total aquades), lihat Gambar
10.


Gambar 10. Morfologi filmkemasan yang dihasilkan (formula V)

Tampak dalam Gambar 10 bahwa morfologi film
kemasan dari komposit pati-gliserol-APL-khitosan yang
mengandung gliserol 5 mL (0,5% dari total aquades)
menunjukkan permukaan film yang retak-retak tetapi
tidak higroskopis/stabil di suhu ruang. Tampaknya
persentase bahan gliserol yang ditambahkan sangat
berpengaruh pada morfologi film kemasan yang
dihasilkan dengan melibatkan APL. Semakin sedikit
bahan gliserol yang ditambahkan, film kemasan yang
dihasilkan akan semakin kaku dan retak, semakin
banyak bahan gliserol yang ditambahkan, film kemasan
yang dihasilkan akan semakin elastis, lembek dan
higroskopis. Sampai pada tahap ini morfologi film
kemasan dari komposit pati-gliserol-APL-khitosan
(formula IV) memiliki performa lebih baik dibanding
film kemasan dari formula I, II, III dan V,
tranparan/bening, halus dan stabil dalam suhu ruangan.
Pengembangan ke depan secara lebih lanjut dan
komprehensif dalam kaitannya dengan penentuan
formula optimal dalam mensintesis film kemasan dari
komposit pati-gliserolAPL-khitosan sangat diperlukan.
Hasil penelitian tersebut sesuai dengan hasil
penelitian Latief (2001) yang menyatakan bahwa
pemilihan metode/teknologi produksi didasarkan pada
evaluasi terhadap karaktersitik fisik dan mekanik film
yang dihasilkan. Semakin banyak bahan pemlastik yang
ditambahakan maka karakteristik mekaniknya akan
semakin rendah dan semakin higroskopis, tetapi jika
bahan pemlastik yang ditambahakan terlalu sedikit maka
film kemasan yang dihasilkan akan mudah mengalami
keretakan/kurang elastis. Penambahan bahan pemlastik
harus disesuaikan dengan karakteristik fisikokimia
bahan utama lainnya yang terlibat dalam pembentukan
film kemasan.
b. Karakteristik mekanik film kemasan yang
dihasilkan
Karakteristik mekanik film kemasan yang
dihasilkan ternyata relatif bersaing/kompetitif jika
dibandingkan dengan karakteristik mekanik produk film
kemasan konvensional (polietilena) yang beredar di
pasaran. Tetapi karakteristik mekanik dan karakteristik
lainnya masih memerlukan upaya optimasi lanjutan
secara lebih komprehensif agar produk film kemasan
yang dihasilkan memiliki fungsi yang lebih luas. Hasil
uji karakteristik mekanik film kemasan tersebut dapat
diamati pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik mekanik filmkemasan yang dihasilkan
Film Kemasan Kuat Tarik
(N/m2)
Elongasi (%) Modulus
(N/m2)
Formula I 18,69 10,17 183,85
Formula II 58,86 30,33 194,05
Formula III 58,86 21,00 280,31
Formula IV 104,42 33,80 309,54
Formula V 91,56 17,07 536,46
Polietilena 163,50 25,75 634,95

Tampak dalam Tabel 1 bahwa karakteristik mekanik
film kemasan yang dihasilkan dari komposit pati-
gliserol-APL-khitosan bervariasi sesuai dengan
karakteristik material yang terlibat. Setiap formula
memiliki karakteristik mekanik yang beragam sesuai
dengan komposisi bahan penyusunnya. Terbukti pada
film kemasan (formula I) memiliki karakteristik mekanik
paling rendah dibanding formula lainnya yang dapat
dilihat pada nilai kuat tarik, elongasi dan modulusnya.
Adapun film kemasan (formula IV) memiliki
karakteristik mekanik lebih tinggi dibanding formula
lainnya yang dapat dilihat pada nilai kuat tarik, elongasi
dan modulusnya. Tampak pada film kemasan (formula I,
II, IV, V) secara berurutan menunjukkan kuat tarik dan
elongasi (mulur) yang meningkat sampai pada level
tertinggi pada formula IV dan pada formula V telah
mengalami penurunan. Adapun untuk modulus yang
menggambarkan tingkat kekakuan secara berurutan
meningkat dan mencapai level tertinggi pada formula V.
Untuk formula II menunjukkan karakteristik mekanik
yang lebih rendah dibanding formula IV, sedangkan film
kemasan pembanding (polietilena) memiliki kuat tarik
dan modulus lebih tinggi dibanding semua formula
walaupun elongasinya lebih rendah dibanding formula
IV.
Latief (2001) menyatakan bahwa pemilihan
metode/teknologi produksi didasarkan pada evaluasi
terhadap karaktersitik fisik dan mekanik film yang
dihasilkan. Semakin banyak bahan pemlastik yang
ditambahakan maka karakteristik mekaniknya akan
semakin rendah dan semakin higroskopis, tetapi jika
bahan pemlastik yang ditambahakan terlalu sedikit maka
film kemasan yang dihasilkan akan mudah mengalami
keretakan/kurang elastis. Penambahan bahan pemlastik
harus disesuaikan dengan karakteristik fisikokimia
bahan utama lainnya yang terlibat dalam pembentukan
film kemasan.
Pembesaran 4 kali Pembesaran 40 kali
Pembesaran 4 kali Pembesaran 40 kali
FIRDAUS,MULYANINGSIH,ANSHORY LOGIKA

18
Sifat mekanik dari plastik biodegradabel yang
dihasilkan tergantung dari keadaan penyebaran pati
dalam fase plastik, dimana bila pati tersebar merata
dalam ukuran mikron dalam fase plastik, maka produk
plastik biodegradabel yang didapat akan mempunyai
sifat mekanik yang baik (Pranamuda, 2003).
Karakteristik mekanik suatu film kemasan dapat
disesuaikan dengan nilai fungsi di tingkat aplikasinya
karena tidak semua aplikasi kemasan diperuntukkan
untuk kemasan yang memiliki karakteristik mekanik
tinggi. Berdasarkan data karakteristik mekanik film
kemasan dalam Tabel III.1 tersebut tampak bahwa
karakteristik mekanik film kemasan yang berhasil
disintesis dari komposit pati tropis-pemlastik-PLA-
khitosan yang mengandung bahan pemlastik gliserol 10
ml (1% dari total aquades) menunjukkan karakteristik
mekanik yang memuaskan dan lebih tinggi dibanding
film kemasan yang dihasilkan dari komposit lainnya.
Karakteristik mekanik film kemasan yang dihasilkan
tersebut masih membutuhkan upaya optimasi lebih lanjut
dan komprehensif agar diperoleh karakteristik mekanik
yang lebih tinggi dan dapat bersaing dengan film
kemasan konvensional.
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 5 formula
film kemasan yang dirancang dengan komposisi
beragam, formula IV yang disintesis dari komposit pati-
gliserol-APL-khitosan yang mengandung gliserol 10 mL
(1% dari total aquades) memiliki karakteristik morfologi
dan mekanik yang relatif lebih baik dari formula lainnya.
Morfologi film kemasan (formula IV) menunjukkan
permukaan film yang halus, tidak terdapat retak maupun
gelembung udara secara morfologis dan stabil di suhu
ruang/tidak higroskopis. Film kemasan (formula IV)
memiliki karakteristik mekanik lebih tinggi dibanding
formula lainnya yang dapat dilihat pada nilai kuat tarik,
elongasi dan modulusnya. Formula IV memiliki kuat
tarik: 104,42 N/m
2
, elongasi: 33,80%, dan modulus:
309,54 N/m
2
.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan banyak terimakasih pada
Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Menristek)
yang telah membiayai riset ini dalam Program Insentif
Riset Terapan 2007-2008.
DAFTAR PUSTAKA
Allan dan Hadwiger, (1979) dalam Prasetyo, K.W.
(2004). Pemanfaatan Limbah Cangkang Udang
sebagai Bahan Pengawet Kayu Ramah Lingkungan.
S Hut UPT Balitbang Biomaterial LIPI Cibinong,
Bogor.
El Grauth (1991) dalam Prasetyo, K.W. (2004).
Pemanfaatan Limbah Cangkang Udang sebagai
Bahan Pengawet Kayu Ramah Lingkungan. S Hut
UPT Balitbang Biomaterial LIPI Cibinong, Bogor.
Fahmi, R. (1997). Isolasi dan Transformasi Khitin
Menjadi Khitosan. Jurnal Kimia Andalas. 3 (1): 61-
68.
Ferrer, J ., G. Paez, Z. Marmol, E. Ramons, H. Garcia
and C.F. Forster. (1996). Acid hydrolysis of Shrimp
Shell Wastes and The Production of Single Chell
Protein from The Hydrolysate. Journal Bioresource
Technology. 57(1):55 60.
Firdaus F dan Mulyaningsih S. (2008), Morfologi Film
Plastik Biodegradable dari Komposit Pati Tropis-
PLA, Pati Tropis-Khitosan, dan Pati Tropis-PLA-
Khitosan, J urnal TEKNOIN ISSN 0853-8697
(Terakreditasi) Edisi J uni 2008.
Habibie, S. 2000. Polimer Khitosan dan Penggunaannya.
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri (Topik:
Material), Edidi No: 11/Agustus/2000 ISSN: 1410-
3680 Penerbit: Deputi Teknologi Industri Rancang
Bangun dan Rekayasa, BPPT.
Latief, R. (2001). Teknologi Kemasan Kemasan
Biodegradable, Makalah Falsafah Sains (PPs 702)
Program Pascasarjana/S3 IPB, Bandung,
http://www.hayati-
ipb.com/users/rudyct/indiv2001/rindam_latief.htm
Marganof, (2003). Potensi Limbah Udang sebagai
Penyerap Logam Berat (timbal, kadmium dan
tembaga) di Perairan. Makalah Pengantar Falsafah
Sains (PPS702), Program Pasca Sarjana / S3, ITB.
Martaningtyas, D. (2004). Potensi Plastik
Biodegradable, 02 September 2004.
http://www.pikiran-
rakyat.com/cetak/0904/02/cakrawala/lainnya06.htm
Mawarwati S., Widjanarko SB., dan Susanto T. (2001).
Mempelajari Karakteristik Edible Film
Berantioksidan Dari Germ Gandum (Triticum
Aestivum L.) Dan Pengaruhnya Dalam
Pengendalian Pencoklatan Pada Irisan Apel (Malus
Sylvestris). Jurnal Biosain Vol.1, No.1 2001.
Pranamuda, H. (2003). Pengembangan Bahan Plastik
Biodegradabel Berbahanbaku
PatiTropis,http://wwwstd.ryu.titech.ac.jp/~indonesia
/zoa/paper/htmL/paperHardaningPranamuda.htmL
Prasetyo, K.W. (2004). Pemanfaatan Limbah Cangkang
Udang
sebagai Bahan Pengawet Kayu Ramah Lingkungan.
S Hut UPT Balitbang Biomaterial LIPI Cibinong,
Bogor.
Okawa Y., Kobayashi M., Suzuki S. and Suzuki M.
(2003). Comparative Study of Protective Effects of
Chitin, Chitosan, and N-Acetyl Chitohexaose
against Pseudomonas aeruginosa and Listeria
monocytogenes Infections in Mice, Biol. Pharm.
Bull. Vol. 26 No. 6 P. 902-904 (2003).
Rismana, E. (2004). Kemasan Antimikroba, 18 Maret
2004. P3TFM, BPPT J akarta. http://pikiran-
akyat.com/cetak/0304/18/cakrawala/lainnya04.htm
Sabnis S dan Block LH. (1997). Improved Infrared
Spectroscopic Method for The Analysis of Degree
of N-deacetylation of Chitosan. Polymer Bulletin,
39: 67-71, 1997.