Anda di halaman 1dari 25

DISKUSI TOPIK

RETARDASI MENTAL, GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS DAN


GANGGUAN EMOSIONAL DENGAN ONSET YANG BIASANYA PADA MASA
KANAK-KANAK DAN DEWASA

Disusun oleh:
Nimas Prita
I11107057


Penyanggah:
Yohanes Silih
Yeni Anggraini
Anggi Patranita
Sarifah Sari Safuar
Alrahman Joneri



SMF PSIKIATRI RS KHUSUS
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Program Studi Pendidikan Dokter
Universitas Tanjungpura
Pontianak
2011

Lembar Persetujuan

Telah disetujui DiskusiTopik dengan judul :
Gangguan Perkembangan Psikologis, Gangguan Perilaku dan Emosional Dengan
Onset Biasanya Pada Masa Kanak dan Remaja

disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Kepaniteraan Klinik Modul Psikiatri


Telah disetujui,
Pontianak, 29 Juli 2011
PembimbingDiskusiTopik,




dr.Edi Hermeni,Sp.KJ


Disusun oleh :




Nimas Prita R K W
NIM I11107057



RETARDASI MENTAL

A. Definisi Retardasi Mental
Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensi yang kurang (subnormal) sejak
masa perkembangan (sejak lahir atau masa anak). Biasanya terdapat perkembangan
mental yang kurang secara keseluruhan (seperti juga pada demensia), tetapi gejala utama
(yang menonjol) ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga
oligofrenia (oligo=kurang atau sedikit dan fren= jiwa) atau tuna mental.
The American Association of Mental Deficiency (AAMD) dan Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM IV) mendefinisikan retardasi
mental sebagai fungsi intelektual keseluruhan yang secara bermakna di bawah rata-rata
yang menyebabkan atau berhubungan dengan gangguan pada perilaku adaptif dan
bermanifestasi selama periode perkembangan-yaitu sebelum usia 18 tahun.
International Classification of Dissease revisi ke-10 (ICD-10) menggunakan istilah
retardasi mental tetapi mendefinisikannya agak berbeda dari yang terdapat dalam
DSM-IV. Menurut ICD-10, retardasi mental adalah suatu kondisi terhentinya atau tidak
lengkapnya perkembangan pikiran yang terutama ditandai oleh gangguan keterampilan
yang dimanifestasikan selama periode perkembangan, yang mempengaruhi keseluruhan
tingkat kecerdasan, yaitu, kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial.

B. Etiologi
Penyebab retardasi mental mungkin faktor keturunan (retardasi mental genetik),
mungkin juga tidak diketahui (retardasi mental simpleks). Kedua-duanya ini dinamakan
juga retardasi mental primer. Retardasi mental sekunder disebabkan faktor-faktor dari
luar yang diketahui dan faktor-faktor ini mempengaruhi otak pada waktu pranatal,
perinatal, atau postnatal.
Pedoman penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa ke-1 (PPDGJ-1) memberikan
subkategori-subkategori klinis atau keadaan-keadaan yang disertai retardasi mental
sebagai berikut:
1. Akibat infeksi dan intoksikasi
Dalam kelompok ini termasuk keadaan retardasi mental karena kerusakan jaringan
otak akibat infeksi intrakranial, karena serum, obat atau toksik lainnya.
Beberapa contoh adalah:
Parotis epidemika, rubela, sifilis, dan toxoplasmosis kongenital.
Ensefalopatia karena infeksi postnatal
Ensefalopatia karena toksemia gravidarum atau karena intoksikasi lain
Ensefalopatia bilirubin (Kernicterus)
Ensefalopatia post-imunisasi

2. Akibat rudapaksa dan sebab fisik lain
Rudapaksa: rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma lain, seperti sinar X, bahan
kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat menyebabkan kelainan dengan
retardasi mental. Rudapaksa sesudah lahir tidak begitu sering mengakibatkan
retardasi mental.
Pada waktu lahir (perinatal) kepala dapat mengalami tekanan sehingga timbul
pendarahan di dalam otak. Juga terjadi kekurangan O
2
( asfixia neonatum) yang
terjadi pada 1/5 dari semua kelahiran. Hal ini dapat terjadi karena aspirasi lendir,
aspirasi liquor amnii, anestesia ibu dan prematuritas. Bila zat asam berlangsung
terlalu lama maka akan terjadi degrenasi sel-sel korteks yang kelak mengakibatkan
retardasi mental.
PPDGJ-1 menyebutkan:
Ensefalopatia karena kerusakan pranatal.
Ensefalopatia karena kerusakan pada waktu lahir.
Ensefalopatia karena kerusakan postnatal

3. Akibat gangguan metabolisme, pertumbuhan atau gizi
Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme
(misalnya gangguan metabolisme zat lipida, karbohidrat dan protein), pertumbuhan
atau zat gizi termasuk dalam kelompok ini.
Gangguan gizi yang berat dan langsung lama sebelum umur 4 tahun dapat
mempengaruhi perkembangan otak dan dapat menyebabkan retardasi mental.
Keadaan ini dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum 6 tahun, sesudah
ini, biarpun anak itu dibanjiri dengan makanan yang bergizi, intelegensi yang
rendah itu sudah sukar ditingkatkan.
Beberapa contoh keadaan yang sering mengakibatkan retardasi mental dalam sub
kategori ini ialah:
Lipidosis otak infantil (penyakit Tay-Sach)
Histiositosis lipidum jenis keratin ( penyakit Gaucher)
Histiositosis lipidum jenis fosfatid ( penyakit Niemann-Pick)
Fenilketonuria: diturunkan melalui suatu gen yang resesif.

4. Akibat Penyakit Otak yang Nyata
Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat neoplasma (tidak termasuk
tumbuhan sekunder karena rudapaksa atau keradangan) dan beberapa reaksi sel-sel
yang nyata, tetapi yang belum diketahui betul etiologinya. Reaksi sel-sel otak
(reaksi struktural) ini dapat bersifat degeneratif, infiltratif, radang, proliferatif,
skelerotik atau reparatif, misalnya:
Neofibromatosis (penyakit von Recklinghausen)
Angiomantosis otak trigemini( penyakit Sturge-Weber-Dimitri)
Skerosis spinal( ataxia Friedreich)

5. Akibat Penyakit atau Pengaruh pranatal yang tidak jelas
Keadaan ini sudah diketahui sudah ada sejak lahir, tetapi tidak diketahui
etiologinya, termasuk anomali kranial primer dan efek kongenital yang tidak
diketahui sebabnya.
Anensefali dan hemi-ensefali
Kelainan pembentukan giri
Porensefali kongenital
Kraniostenosis
Hidrosefalus kongenital
Hipertelorisme
Makrosefali (Megalensefali)
Mikrosefali primer
Sindrome Laurence-Moon-Biedl

6. Akibat kelainan kromosom
Kelainan kromosom mungkin terdapat dalam jumlahnya atau dalam bentuknya.
Kelainan dalam jumlah kromosom: sindrom Down atau Langton-Down atau
mongolisme (trisomi otomosalatau trisomi kromosom 21)
Kelainan dalam bentuk kromosom: Cri Du Cat: tidak terdapat cabang pendek
pada kromosom 5. Cabang pendek pada kromosom 18 tidak terdapat.

7. Akibat prematuritas
Dalam kelompok ini termasuk dalam retardasi mental yang berhubungan dengan
keadaan bayi yang pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/
dengan massa hamil kurang dari 38 minggu serta tidak terdapat sebab-sebab lain
seperti dalam subkategori sebelum ini.

8. Akibat gangguan jiwa yang berat
Retardasi mental mungkin juga suatu gangguan jiwa yang berat dalam masa anak-
anak. Untuk membuat diagnosis ini harus jelas telah terjadi gangguan jiwa yang
berat dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak. Penderita skizofrenia residual
dengan deteriorasi mental tidak termasuk dalam kelompok ini.

9. Akibat deprivasi psikososial
Retardasi mental dapat disebabkan oleh faktor-faktor biomedis ataupun
sosiobudaya (yang berhubungan dengan deprivasi psikososial dan penyesuaian
diri).
Retardasi mental kultural-familial berdasarkan pada dua buah anggapan, yaitu
bahwa deprivasi kultural dapat mengakibatkan retardasi mental ringan dan bahwa
deprivasi kultural itu mungkin merupakan akibat retardasi familial. Dengan
demikian, untuk mendiagnosis retardasi mental kultural-familial harus di dapatkan
retardasi mental paling sedikit pada salah seorang dari orang tua penderita dan pada
seorang atau lebih saudaranya. Retardasi mental jenis ini biasanya ringan.
Retardasi mental akibat deprivasi lingkungan timbul karena kurangnya rangsangan
dari lingkungan. Penelitian tentang deprivasi sensorik membuktikan pentingnya
rangsangan sensorik yang memdai bagi perkembangan intelektual anak kecil.
Tingkat rangsangan sensorik itu mungkin terlalu rendah (terlalu tinggi juga
menegangkan dan membingungkan), misalnya kurang komunikasi verbal
mengakibatkan kesukaran mengutarakan isi pikiran dalam kata-kata dan penalaran
konkret serta menghambat perkembangan pemikiran abstrak. Deprivasi lingkungan
mungkin juga karena gangguan pancaindera. Tingkat retardasi biasanya ringan atau
perbatasan.



C. Klasifikasi
Derajat atau tingkat retardasi mental diekspresikan dalam berbagai istilah. DSM-IV
memberikan empat tipe retardasi mental yang mencerminkan tingkat gangguan
intelektual beserta rentang IQ-nya:
Retardasi mental ringan : tingkat IQ 50-55 sampai kira-kira 70
Retardasi mental sedang : tingkat IQ 35-40 sampai kira-kira 50-55
Retardasi mental berat : tingkat IQ 20-25 sampai kira-kira 35-40
Retardasi mental sangat berat : tingkat IQ dibawah 20 atau 25
Retardasi mental, keparahan tidak ditentukan: jika terdapat kecurigaan kuat adanya
retardasi mental tetapi intelegensi pasien tidak dapat diuji oleh tes intelegensi baku. Tipe
tersebut dapat diterapkan pada bayi yang secara klinis dicurigai memiliki fungsi
intelektual di bawah rata-rata yang bermakna tetapi pada siapa tes yang ada tidak
memberikan nilai IQ numerik. Tipe tersebut tidak boleh digunakan jika kecerdasan
dianggap di atas 70.

D. Penanganan masalah retardasi mental
Ternyata bahwa banyak penderita retardasi mental ringan, sedang, berat, dan
sangat berat dapat mengalami perkembangan kepribadian normal seperti orang dengan
intelegensi normal. Sebagian besar jumlah penderita retardasi mental dapat
mengembangkan penyesuaian sosial dan vokasional yang baik serta kemampuan
hubungan dan kasih sayang antarmanusia yang wajar bila terdapat lingkungan keluarga
yang mau memahaminya dan memberi semangat padanya secara memadai serta fasilitas
pendidikan dan latihan vokasional yang tepat.

Ciri-ciri Perkembangan Penderita Retardasi mental
Tingkat
retardasi
mental
Umur pra-sekolah:0-5
tahun pematangan dan
perkembangan
Umur sekolah:6-20
tahun latihan dan
pendidikan
Masa dewasa: 21 tahun
atau lebih kecukupan
sosial dan pekerjaan
Berat
sekali
Retardasi berat:
kemampuan minimal
untuk berfungsi dalam
bidang sensori
motorik, membutuhkan
Perkembangan
motorik sedikit: dapat
bereaksi terhadap
latihan mengurus diri
sendiri secara minimal
Perkembangan motorik
dan bicara sedikit: dapat
mencapai mengurus diri
sendiri secara sangat
terbatas, membutuhkan
perawatan

atau terbatas perawatan.
Berat Perkembanagan
motorik kurang , bicara
minimal, umumnya
tidak dapat dilatih
untuk mengurus diri
sendiri, keterampilan
komunikasi tidak ada
atau hanya sedikit
sekali
Dapat berbicara atau
belajar berkomunikasi
dapat di latih dalam
kebiasaan kesehatan
dasar, dapat dilatih
secara sistematikdalam
kebiasan
Dapat mencapai
sebagian dalam
mengurus diri sendiri
dalam pengawasan
penuh, dapat
mengembangkan secara
minimal berguna
keterampilan menjaga
diri dalam lingkunagan
yang terkontrol
Sedang Dapat berbicara atau
belajar berkomunikasi,
kesadaran sosial
kurang, perkembangan
motorik cukup, dapat
belajar mengurus diri
sendiri, dapat diatur
dengan pengawasan
sedang.
Dapat dilatih dengan
kerketerampilan sosial
dan pekerjaan, sukar
untuk maju lewat kelas
dua SD dalam mata
pelajaran akademik,
dapat belajar
bepergian sendirian di
tempat yang sudah di
kenal.
Dapat mencari nafkah
dalam pekerjaan kasar(
unskilled) atau setengah
terlatih dalam keadaan
terlindun, memerlukan
pengawasan dan
bimbingan bila
mengalami stress sosial
atau stress ekonomi
yang ringan.
Ringan mengembangkan
keterampilan sosial
dan komunikasi,
keterbelakangan
minimal dalam bidang
sesorimotorik, sering
tidak dapat di bedakan
dari normal hingga
usia lebih tua.
Dasar belajar
keterampilan
akademik sampai kira-
kira kelas 6 pada umur
belasaan tahun,dekat
umur 20 tahun, dapat
di bimbing ke arah
konformitas sosial
Biasanya dapat
mencapai keterampilan
sosial dan pekerjaan
yang cukup untuk
mencari nafkah, tetapi
memerlukan bimbingan
dan bantuan bila
mengalami stres sosial
atau stres ekonomi yang
luar biasa.


E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian
Seseorang dengan retardasi mental, karena keadaannya, sepanjang hidupnya
menghadapi lebih banyak resiko daripada orang yang normal. Resiko ini rupanya
bertambah sesuai dengan beratnya retardasi mental.
Sikap umum masyarakat terhadap retardasi mental sangat mempengaruhi reaksi
orang tua terhadap anaknya dengan retardasi mental dalam keluarga mereka. Bila anak
dengan retardasi mental menjadi lebih besar, maka diterimanya dia oleh anak-anak yang
lain di pengaruhi sikap, toleransi dan emosi pribadi orang tua anak-anak itu terhadap
retardasi mental.

F. Diagnosis dan Diagnosis Banding
Untuk mendiagnosa retardasi mental dengan tepat, perlu di ambil anamnesis dari
orang tua dengan teliti mengenai kehamilan, persalinan dan perkembangan anak. Bila
mungkin dilakukan juga pemeriksaan psikologis, labolatorium, diadakan evaluasi
pendengaran, dan bicara. Observasi psikiatrik dikerjakan untuk mengetahui adanya
gangguan psikiatrik di samping retardasi mental.
Diagnosis banding ialah anak-anak dari keluarga yang sangat melarat dengan
deprivasi ransangan yang berat (retardasi mental ini reversibel bila di beri rangsangan
yang baik secara dini).



GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS

Gangguan yang termasuk dalam gangguan perkembangan psikologis umunya
mempunyai gambaran sebagai berikut:
a) Onset bervariasi selama masa bayi atau kanak
b) Hendaya atau kelambatan perkembangan fungsi yang berhubungan erat dengan
kematangan biologis dari susunan saraf pusat;
c) Berlangsung secara terus menerus tanpa remisi dan kekambuhan yang khas bagi
banyak gangguan jiwa.
Pada sebagian besar kasus, fungsi yang dipengaruhi termasuk bahasa, ketrampilan
visuo-spasial dan/atau koordinasi motorik. Yang khas ialah hendayanya berkurang secara
progresif dengan bertambahnya usia anak (walaupun defisit yang lebih ringan sering
menetap sampai masa dewasa). Biasanya riwayat penyakitnya ialah suatu kelambatan
atau hendaya yang sedini mungkin dapat dideteksi, tanpa didahului masa perkembangan
yang normal. Sebagian besar kondisi ini terdapat beberapa kali lebih banyak pada anak
laki-laki daripada perempuan.
Khas pada gangguan perkembangan terdapat riwayat keluarga dengan gangguan
yang sama atau sejenisnya dan ada bukti faktor genetik memainkan peran penting dalam
etiologi pada banyak kasus. Faktor lingkungan sering mempengaruhi fungsi
perkembangan yang terganggua tetapi pada sebagian besar kasus tidak merupakan
pengaruh penting. Walaupun secara umum terdapat keserasian konsep gangguan pada
bagian ini, tetapi etiologi pada sebagian besar kasus tidak diketahui dan tetap terdapat
ketidakpastian mengenai batasan dan subdivisi dari gangguan perkembangan ini. Selain
itu, dua tipe dari kondisi dimasukkan dalam bagian ini yang sama sekali tidak memenuhi
definisi konseptual yang luas. Pertama, gengguan yang didahului oleh suatu fase
perkembangan normal sebelumnya, seperti gangguan disintegrtif masa kanak, sindrom
LandauKleffner, dan beberapa kasus autisme. Kondisi demikian dimasukkan karena
meskipun onsetnya berbeda namun ciri-ciri khas serta perjalanannya mempunyai banyak
kesamaan dengan kelompok gangguan perkembangan; selain itu tidak diketahui bahwa
etiologinya berbeda. Kedua, ada gangguan yang secara primer lebih sering didefinisi
dengan istilah deviance (penyimpangan) daripada kelambatan pada fungsi perkembangan;
hal ini terutama pada autisme. Gangguan autistik dimasukkan dalam bagian ini karena
walaupun termasuk penyimpangan, kelambatan perkembangan pada beberapa tingkatan
hampir tidak ada.
Dalam PPDGJ III, gangguan perkembangan psikologis dibagi menjadi:
1. Gangguan perkembagan khas berbicara dan berbahasa
Gangguan ini merupakan gangguan pola normal penguasaan bahasa sejak fase awal
perkembangan. Kondisi ini tidak secara langsung diakibatkan oleh kelainan neurologis
atau kelainan mekanisme berbicara, hendaya sensorik, retardasi mental atau faktor
lingkungan. Anak mungkin lebih mampu berkomunikasi atau mengerti pada situasi
tertentu yang sangat dikenalnya dariapda situasi lain, tetapi kemampuannya berbahasa
pada setiap keadaan terganggu.

2. Gangguan perkembangan belajar khas
Gangguan perkembangan belajar khas adalah suatu gangguan pada pola normal
kemampuan penguasaan keterampilan yang terganggu sejak stadium awal dari
perkembangan. Gangguan ini lebih banyak diperkirakan berasal dari kelainan proses
kognitif, khususnya beberapa tipe disfungsi biologis. Kondisi lebih banyak dijumpai pada
anak laki-laki.
Gangguan perkembangan belajar khas terdiri dari sekelompok gangguan yang
ditandai oleh adanya hendaya yang khas dan bermakna dalam belajar ketrampilan
skolastik. Hendaya dalam belajar ini tidak merupakan hasil langsung dari gangguan lain
(seperti retardasi mental, defisit neurologis yang besar, masalah visus dan daya dengar
yang tidak terkoreksi, atau gangguan emosional), walaupun mungkin terdapat bersamaan
dengan kondisi tersebut. Gangguan perkembangan belajar khas sering sekali terdapat
bersama dengan sindrom klinis lain (seperti gangguan pemusatan perhatian atau
gangguan tingkah laku) atau gangguan perkembangan lain (seperti gangguan
perkembangan motorik khas atau gangguan perkembangan khas berbicara atau
berbahasa).
Terdapat beberapa syarat dasar untuk diagnosis gangguan perkembangan belajar
khas. Pertama, secara klinis terdapat hendaya yang bermakna dalam ketrampilan skolastik
tertentu. Kedua, hendayanya harus khusus dalam bahwa tidak semata-mata karena adanya
retardasi mental atau hendaya ringan pada intelegensia umum. Ketiga, hendaya harus
dalam perkembangannya, dalam arti harus sudah ada pada awal usia sekolah dan tidak
didapatkan kemudian dalam proses perjalanan pendidikan. Keempat, harus tidak ada
faktor luar yang menjadi alasan kesulitas skolastik. Kelima, gangguan perkembangan
belajar khas tidak langsung disebabkan oleh hendaya visus atau pendengaran yang tak
terkoreksi.
3. Gangguan perkembangan motorik khas
Gambaran utama dari gangguan ini adalah hendaya berat dalam perkembangan
koordinasi motorik yang tidak semata-mata disebabkan oleh retardasi intelektual umum
atau kelainan kongenital atau gangguan neurologis yang didapat (kecuali satu yang
implisit dalam kelainan koordinasi). Sering bahwa kelambanan motorik dihubungkan
dengan hendaya dalam kemampuan melakukan tugas kognitif visuo-spasial.

4. Gangguan perkembangan khas campuran
Kelainan ini merupakan sisa kategori gangguan yang batasannya tak jelas,
konsepnya inadekuat dengan gangguan perkembangan khas campuran dari berbicara dan
berbahsa, ketrampilan akademik, dan/atau fungsi motorik, tetapi tidak ada satu gejala
yang cukup dominan untuk dibuat sebagai diagnosis utama.

5. Gangguan perkembangan pervasif
Kelompok gangguan ini ditandai oleh abnormalitas kualitatif dalam interaksi sosial
dan pola komunikasi, dan kecendrungam minat dan gerakan terbatas, stereotifik,
berulang. Abnormalitas kualitatif ini merupakan gambaran yang meluas ( pervasive ) dari
fungsi individu dalam segala situasi, meskipun dapat berbeda dalam derajat keparahanny.
Pada kebanyakan kasus terdapat riwayat, perkembangan yang abnormal sejak masa bayi
dan, kebann gambaran yang meluas ( pervasive ) dari fungsi individu dalam segala
situasi, meskipun dapat berbeda dalam derajat keparahanny. Pada kebanyakan kasus
terdapat riwayat, perkembangan yang abnormal sejak masa bayi dan, kebanyakan
kondisinya nyata dalam 5 tahun pertama. Biasanya, dapat terjadi hendaya kognitif umum
tetapi gangguanya batasan sebagai perilaku yang menyimpang dalam hubungan dengan
usia mental ( tak peduli individu retardasi atau tidak ). Terdapat beberapa ketidakpekaan
terhadap subdivisi dari keseluruhan kelompok gangguan perkembangan pervasif ini.

Gangguan perkembangan pervasif dibagi menjadi:
a. Autisme masa kanak
Gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya abnormalitas dan/atau
hendaya perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri fungsi yang
abnormal dalam tiga bidang yaitu interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas
dan berulang.
Biasanya tak ada riwayat perkembangan abnormal yang jelas, tetapi jika dijumpai,
abnormalitas tampak sebelum usia 3 tahun.

b. Autisme tak khas
Gangguan perkembangan pervasif yang dibedakan dari autisme dalam usia
awalnya atau dari tidak terpenuhinya ketiga kriteria diagnostik. Jadi abnormalitas dan/
atau hendaya perkembangan baru timbul untuk pertama kalinya setelah berusia diatas 3
tahun; dan/ atau tidak cukup ditunjukan abnormalitas dalam satu atau dua dari tiga bidang
psikopatologi yang dibutuhkan untuk diagnosis autisme ( interaksi sosial timbal balik,
komunikasi dan perilaku terbatas, stereotipik, dan berulang ) meskipun terdapat
abnormalitas yang khas dalam bidang lain. Autisme tak khas sering muncul pada individu
dengan retardasi mental yang berat, yang sangat rendah kemampuannya sehingga pasien
tidak mampu menampakkan gejala yang cukup untuk menegakkan diagnosis autisme; ini
juga tampak pada individu dengan gangguan perkembangan yang khas dari bahasa
reseptif yang berat . jadi autisme tak khas secara bermakna merupakan kondidi yang
terpisah dari autisme.

c. Sindrom Rett
Suatu kondisi yang belum diketahui sebabnya, sejauh ini hanya dilaporkan terjadi
pada anak perempuan, yang telah dirinci atas dasar onsetnya, perjalanan penyakitnya,
serta pola gejalanya. Secara khas ditemukan bahwa disamping suatu pola perkembangan
awal yang normal atau mendekati normal terdapat suatu kehilangan keterampilan gerakan
tangan yang telah didapat, sebagian atau menyeluruh dan kemampuan berbicara,
bersamaan dengan terdapatnya kemundura/ perlambatan pertumbuhan kepala, yang
biasanya terjadi sekitar usia 7 24 bulan. Gejala yang khas adalah gerakan tangan seperti
memeras sesuatu yang stereotipik, hiperventilasi serta hilangnya kempuan untuk gerakan
tangan yang bertujuan. Perkembangan fungsi sosialisasi dan bermain terhenti pada usia 2
atau 3 tahun pertama, tetapi perhatian sosial cenderung untuk tetap dipertahanan. Pada
usia menengah kanak kanak terdapat ataksia tubuh, apraksia, disertai skoliosis atau
kifosis. Selalu terjadi suatu dampak gangguan jiwa yang berat, pertama berkembang pada
masa kanak awal atau menengah.



d. Gangguan disintegratif masa kanak lainnya
Suatu gangguan perkembangan pervasif (diluar sindrom Rett) yang ditandai oleh
adanya periode perkembangan normal sebelum onset penyakit, serta adanya kehilangan
yang nyata dari keterampilan terlatih pada beberapa bidang perkembanganan, setelah
beberapa bulan penyakit nerlangsung, disertai dengan adanya abnormalitas yang khas dari
fungi sosia, komunikasi dan perilaku. Kadang-kadang ada periode prodromal berupa
keadaan sakit yang samar-samar, anak menjdi gelisah, mudah tersinggung, cemah,
overaktif. Yang diikuti dengan adanya kemiskinan dan kemudian kehilangan kemampuan
berbicara dan berbahasa, disertai dengan disintegrasi perilaku.

e. Gangguan aktivitas berlebih yang berhubungan dengan retardasi mental dan
gerakan stereotipik
Ini adalah suatu gangguan yang tak jelas batasannya dengan validitas yang
nosologis belum pasti. Kategori ini dibuat karena anak dengan retardasi mental berat (IQ
< 50) yang menunjukan masalah besar dalam hiperaktivitas dan gangguan pemusatan
perhatian sering memperliahtkan perilaku stereotipik, beberapa anak cenderung tidak
responsive terhadap obat stimulansia (tidak seperti penderita dengan IQ yang normal) dan
mungkin juga memperlihatkan suatu reaksi disforik berat (kadang dengan retardasi
psikomotor) saat mendapat stimulansia. Pada anak remaja gejala overaktif cenderung
diganti dengan aktivitas yang menurun (suatu gambaran yang tidak terjadi pada anak
hiperkinetik dengan IQ normal). Juga sering terdapat hubungan sindrom ini dengan
perlambatan yang bervariasi, baik yang khusus maupun umum.
Arah selanjutnya pola perilaku sebagai fungsi dari rendahnya IQ atau adanya
cedera otak organik tidaklah diketahui. Dan juga tidak jelas apakah penderita dengan IQ
sedang yang menderita sindrom hiperkinetik dapat dikategorikan disini atau pada F90.
Saat ini gangguan tersebut termasuk pada F90.

f. Sindrom Asperger
Suatu gangguan dengan validitas nosologis yang belum pasti, ditandai oleh
abnormalitas yang kualitatif sama seperti pada autisme, yaitu hendaya dalam interaksi
sosial yang timbal balik, disertai dengan keterbatasan perhatian dan aktivitas yang
sifatnya stereotipik dengan pengulangan pola yang sama. Gangguan ini berbeda dengan
autisme karena tidak adanya keterlambatan atau retardasi umum kemampuan berbahasa
atau perkembangan kognitif.
GANGGUAN PERILAKU DAN EMOSIONAL DENGAN ONSET BIASANYA PADA
MASA KANAK DAN REMAJA

A. Gangguan hiperkinetik
Kelompok gangguan ini mempunyai ciri : onset dini; suatu kombinasi perilaku
terlalu aktif, perilaku kurang bermodulasi dengan ditandai sangat kurangnya perhatian
serta ketekunannya dalam melakukan tugas; dan ciri perilaku ini mewarnai pelbagai
situasi dan berlanjut secara lama.
Ciri utama hiperkinetik adalah berkurangnya perhatian dengan aktifitas berlebihan.
Kedua ciri ini menjadi syarat mutlak untuk diagnosis dan haruslah nyata ada pada lebih
dari satu situasi (misalnya di rumah, di kelas, di klinik).
Berkurangnya perhatian tampak jelas dari terlalu dini dihentikannya tugas dan
ditinggalkannya suatu kegiatan sebelum selesai. Anak ini seringkali beralih dari satu
kegiatan ke kegiatan lainnya.
Hiperaktivitas dinyatakan dalam kegelisahan yang berlebihan khususnya dalam
situasi yang menuntut keadaan relative tenang. Hal ini tergantung dari situasinya. Tolak
ukur untuk penilainannya ialah bahwa suatu aktivitas disebut berlebihan dalam konteks
yang diharapkan pada situasi dan dibandingkan dengan anak lain yang sama umurnya dan
nilai IQ-nya.

B. Gangguan tingkah laku
Gangguan tingkah laku berciri khas dengan adanya suatu pola tingkah laku
dissosial, agresif atau menentang, yang berulang dan menetap. Penilaian tentang adanya
gangguan tingkah laku perlu memperhitungkan tingkat perkembangan anak. Diagnosis
tidak dianjurkan kecuali bila tingkah laku berlanjut selama 6 bulan atau lebih.

C. Gangguan emosional dengan onset khas pada masa kanak
Dalam psikiatri anak secara tradisional telah dibedakan antara gangguan emosional
khas pada masa kanak dan remaja serta gangguan neurotik tipe dewasa. Terdapat 4 alasan
untuk mengadakan pembedaan ini. Pertama, hasil penelitian secara konsisten telah
menunjukkan bahwa kebanyakan anak yang menderita gangguan emosional tumbuh
menjadi orang dewasa yang normal; hanya sebagian kecil saja yang menampakkan
gangguan neurotik pada masa dewasa. Sebaliknya banyak gangguan neurotik pada masa
dewasa berawal dari masa dewasa pula tanpa menunjukkan riwayat psikopatologis yang
bermakna semasa kanak. Terdapat kesenjangan antara gangguan emosional yang muncul
pada kedua kelompok usia tersebut. Kedua, banyak dari gangguan emosional pada masa
kanak ternyata hanya merupakan kecenderungan perkembangan normal yang agak
berlebihan, daripada fenomena yang secara kuantitatif abnormal dalam diri mereka
sendiri. Ketiga, berkaitan dengan pertimbangan terdahulu, sering terdapat mekanisme
teoritis bahwa mekanisme mental yang berkaitan dengan gangguan emosional pada masa
kanak mungkin tidak sama dengan neurosis pada masa dewasa. Keempat, gangguan
emosional pada masa kanak tidak begitu jelas pembatasannya yang dipandang spesifik
seperti gangguan fobik, atau gangguan obsesif.
Etiologi dari gangguan cemas pada anak adalah sebagai berikut:
Faktor psikososial
Anak kecil, imatur dan tergantung pada tokoh ibu, adalah yang terutama rentan
terhadap kecemasan yang berhubungan dengan perpisahan. Karena anak
mengalami urutan ketakutan perkembangan-takut kehilangan ibu, takut kehilangan
cinta ibu, takut cedera tubuh, takut akan impulsnya, dan takut akan cemas hukuman
dari superego dan rasa bersalah-sebagian besar anak mengalmi cemas perpisahan
didasarkan pada salah satu atau lebih ketakutan-ketakutan tersebut. Tetapi
gangguan cemas perpisahan terjadi jika anak memiliki ketakutan yang tidak sesuai
akan kehilangan ibu. Dinamika yang sering adalah penyangkalan dan pengalihan
persaan kemarahan anak terhadap tokoh orangtua kepada lingkungan, yang
selanjutnya menjadi sangat mengancam.
Faktor belajar
Kecemasan fobik dapat dikomunikasikan dari orangtua kepada anak-anak dengan
modeling langsung. Jika orangtua penuh ketakutan, anak kemungkinan memiliki
adaptasi fobik terhadap situasi baru, terutama pada lingkungan sekolah. Beberapa
orangtua tampaknya mengajari anaknya untuk cemas dengan melindungi mereka
secara berlebihan dari bahaya yang diharapkan atau dengan membesar-besarkan
bahaya. Sebaliknya orangtua yang menajdi marah pada nak selama awal
permsalahan fobik tentang binatang dapat menanamkan permasalah fobik pada
anak-anak dengan intensitas kemarahan yang diekspresikan.
Faktor genetik
Intensitas mana cemas perpisahan dialami oleh anak individual kemungkinan
memiliki dasar genetik. Penelitian keluarga telah menunjukkan bahwa keturunan
biologis dari orang dewasa dengan gangguan cemas adalah rentan terhadap
gangguan cemas perpisahan pada masa kanak-kanak.

Menurut PPDGJ III, gangguan emosional dengan onset khas pada masa kanak
dibagi menjadi :
1. Gangguan anxietas perpisahan masa kanak
Suatu tingkat cemas perpisahan (separation anxiety) adalah fenomena yang
universal dan merupakan bagian yang diperkirakan pada perkembangan anak yang
normal. Bayi menunjukkan cemas perpisahan dalam bentuk cemas terhadap orang asing
(stranger anxiety) pada usia kurang dari 1 tahun jika bayi dan ibunya dipisahkan.
Beberapa cemas perpisahan juga normal pada anak-anak kecil yang masuk sekolah untuk
pertama kalinya. Tetapi gangguan cemas perpisahan, ditemukan jika secara
perkembangannya adalah tidak sesuai dan kecemasan yag berlebihan timbul dalam hal
perpisahan dari tokoh perlekatan yang utama.
Pedoman diagnostik:
o Ciri diagnostik yang terpenting adalah anxietas yang berlebihan yang terfokus dan
berkaitan dengan perpisahan dari tokoh yang akrab hubungannya dengan si anak.
o Anxietas dapat berbentuk sbb:
a) Tidak realistis, kuatir yang mendalam ada bencana yang menimpa tokoh yang
lekat atau kekhawatiran orang itu akan pergi dan tidak kembali lagi
b) Tidak realistis, kekuatiran mendalam akan terjadi peristiwa buruk
c) Terus-menerus enggan masuk sekolah, semata-mata karena takut akan
perpisahan
d) Terus menerus enggan tidur tanpa ditemani atau didampingi oleh tokoh
kesayangannya
e) Terus menerus takut tidak wajar untuk ditinggalkan seorang diri atau tanpa
ditemani orang yang akrab di rumah pada siang hari
f) Berulang mimpi buruk tentang perpisahan
g) Sering muncul gejala fisik (rasa mual, sakit perut, sakit kepala, muntah-
muntah dsb) pada peristiwa perpisahan dari tokoh yang akrab dengan dirinya,
sperti keluar rumah untuk pergi ke sekolah
h) Mengalami susah berlebihan (yang tampak dari anxietas, menangis, mengadat,
merana, apati, atau pengunduran sosial) pada saat sebelum, selama atau
sehabis berlangsunya perpisahan dengan tokoh yang akrab dengannya.
o Diagnosis ini mensyaratkan tidak adanya gangguan umum pada perkembangan
fungsi kepribadian.

2. Gangguan anxietas fobik masa kanak
Anak seperti juga halnya orang dewasa, dapat mengalami rasa takut terhadap
beraneka ragam objek atau situasi. Beberapa di antara ketakutan (atau fobia) bukanlah
bagian normal dari suatu perkembangan psikososial. Namun ada rasa takut yang khas
timbul pada suatu fase perkembangan tertentu pada anak
Pedoman Diagnostik
o Kategori ini hanya berlaku terhadap rasa takut yang khas timbul pada suatu fase
perkembangan yang spesifik pada anak;
o Memenuhi kriteria:
a) Onset pada usia perkembangan yang tidak sesuai.
b) Taraf Anxietas secara klinis tidak normal
c) Anxietas tidak merupakan gangguan yang menyeluruh.

3. Gangguan anxietas sosial pada masa kanak
Merasa curiga terhadap orang yang tak dikenal merupakan fenomena yang normal
pada 6 bulan kedua usia satu tahun dan rasa waswasa sosial atau anxietas pun sampai
taraf tertentu normal selama mas dini kanak bila dihadapkan pada situasi baru, asing atau
secara sosial mengancam.
Pedoman Diagnostik
o Kategori ini hanya berlaku bagi gangguan yng timbul sebelum usia 6 tahun yang
tidak lazim derajatnya dan disertai aneka masalah berkenaan dengan fungsi secara
sosial, dan yang tidak merupakan bagian dari gangguan emosional yang bersifat
menyeluruh.
o Anak dengan gangguan ini senantiasa dan berulang kali mengalami rasa was-was
dan takut, menghindari orang yang tak dikenal, rasa takut itu dapat timbul hanya
terhadap orang dewasa atau hanya dengan teman sebaya atau dengan kedua
kelompok itu. Rasa takut itu berhubungan dengan kelekatan yang selektif dengan
orangtuanya atau dengan orang lain yang akrab. Kecenderungan menghindar atau
rasa takut terhadap perpisahan sosial bagi anak seusia itu dan berhubungand engan
masalah fungsi sosial yang secara klinis bermakna.

4. Gangguan persaingan antar saudara
Sebagian besar atau bahkan mayoritas anak usia dini menunjukkan gangguan
emosional dengan kelahiran seorang adik. Pada kebanyakan peristiwa gangguan itu
bersifat ringan saja, tetapi rasa persaingan atau iri hati yang timbul dapat berlangsung
cukup lama.
Rasa persaingan/iri hari antarsaudara mungkin ditandai oleh upaya bersaing yang
nyata antarsaudara untuk merebut perhatian atau cinta orangtuanya, untuk menjadi
abnormal persaingan itu harus ditandai oleh perasaan negatif yang berlebihan. Dalam
kasus berat persaingan ini mungkin disertai oleh rasa permusuhan yang terbuka, trauma
fisik dan/atau sikap jahat, dan upaya menjegal saudaranya. Dalam kasus ringan, rasa
persaingan itu dapat terlihat dari keengganan berbagi-bagi, kurangnya pandangan positif,
dan langkanya interaksi yang lemah.
Pedoman Diagnostik
o Ciri khas dari gangguan ini mencakup gabungan dari:
a) Bukti adanya persaingan atau iri terhadap saudara
b) Onset selama beberapa bulan setelah kelahiran adik
c) Gangguan emosional melampui tarap normal
o Rasa persaingan/iri hati antar saudara mungkin ditandai oleh upaya bersaing yang
nyata antar saudara untuk merebut perhatian atau cinta orangtuanya
o Gangguan emsosional dapat mengambil beraneka bentuk, yang sering berbentuk
bermacam-macam regresi dengan hilangnya berbagai ketrampilan yang telah
dimilikinya.

B. Gangguan fungsi sosial dengan onset khas pada masa kanak dan remaja
Ini merupakan kelompok gangguan yang agak heterogen , yang keseluruhannya
secara bersama sama mencakup gangguan fungsi sosial yang berada pada kurun masa
perkembangan, namun (berbeda dengan gangguan perkembangan pervasif) terutama tidak
ditandai oleh suatu ketidakmampuan atau defisit konstitusi sosial yang nyata yang
menyusup ke seluruh fungsi. Distorsi lingkungan atau penarikan diri yang serius ini
lazimnya terkait dan diduga memainkan peran etiologis yang penting dalam banyak
keadaan. Tidak ada perbedaan yang nyata antara jenis kelamin. Adanya kelompok
gangguan fungsi sosial ini dikenali dengan jelas, namun demikian masih terdapat
ketidakpastian dalam hal menentukan kriteria diagnostiknya, dan juga masih terdapat
perbedaan paham mengenai pembagian serta klasifikasi yang tepat.

Dikelompokkan menjadi:
1. Mutisme efektif
Ciri khas dari kondisi ini ialah pilihan orang yang diajak bicara secara emosional,
anak menunjukkan kemampuan bertutur kata dalam situasi tertentu, namun tidak mampu
dalam beberapa situasi lainnya. Lazimnya anak dapat bertutur kata di dalam rumah atau
dengan sahabat karibnya, dan membisu di sekolah atau berhadapan dengan orang luar,
tetapi juga dapat juga timbul pola yang berlaianan (termasuk tingkah laku yang
sebaliknya).
Pedoman Diagnostik
Untuk diagnostik diperlukan :
a) Tingkat pengertian bahasa yang normal atau hampir normal
b) Tingkat kemampuan bertutur kata yang cukup untuk komunikasi sosial
c) Bukti yang nyata bahwa anak tersebut dapat bertutur kata secara normal atau
hampir normal dalam beberapa situasi tertentu.

2. Gangguan kelekatan reaktif masa kanak
Gangguan ini terjadi pada bayi dan anak kecil, ditandai oleh berlanjutnya gangguan
pola hubungan sosial anak, yang berhubungan dengan gangguan emosional dan sikap
reaktif terhadap perubahan lingkungan. Rasa takut dan waspada berlebihan yang tidak
bereaksi terhadap upaya menenangkan merupakan suatu ciri umum, agresi terhadap diri
sendiri dan orang lain sangat jarang terjadi, lazim didapatkan perasaan merana, dan dalam
beberapa kasus terjadi kegagalan dalam pertumbuhan.
Pedoman diagnostik
Ciri yang penting adalah pola abnormal dalam hubungan anak dengan para
pengasuhnya yang timbul sebelum usia 5 tahun, yang meliputi ciri maladaptif yang
lazimnya tidak terlihat pada anak yang normal, dan yang tetap berlanjut namun reaktif
terhadap perubahan yang cukup jelas pada pola asuh.
Gangguan kelekatan reaktif hampir selalu timbul berkaitan dengan pengasuhan
anak yang sangat kurang memadai. Hal ini mungkin dalam bentuk penganiayaan
psikologis atau penelantaran (yang tampak dari hukuman yang kejam, dan sikap yang
senantiasa lalai memberi tanggapan terhadap upaya anak untuk berdamai, atau asuhan
yang sangat kurang sempurna sebagai orang tua), atau penganiayaan fisik anak, (hal ini
terbukti oleh sikap kurang memperhatkan kebutuhan fisik anak, berulangkali dengan
sengaja mencederai anak, atau kurang memberi makan bergizi).

3. Gangguan kelekatan tak terkendali masa kanak
Diagnosis haruslah didasarkan kenyataan bahwa anak menunjukkan kelekatan
selektif yang kabur selama 5 tahun pertama dan umumnya berhubungan dengan perilaku
melekat sewaktu masih bayi dan / atau perangai ramah terhadap semua orang, dan
perilaku menarik perhatian pada masa dini atau pertengahan kanak. Biasanya akan
mengalami kesulitan dalam membina hubungan akrab, dan saling percaya dengan
kelompok teman sebaya.

C. Gangguan tic
Tic adalah suatu gerakan motorik (lazimnya mengenai satu kelompok organ
tertentu) yang tidak di bawah pengendalian, berlangsung cepat dan berulang ulang
tidak berirama ataupun suatu hasil vokal yang timbul mendadak dan tidak ada
tujuannya yang nyata.
Ciri khas tic yang dapat membedakannya dari gangguan motorik lainnya
adalah gerakan yang mendadak, cepat, sekejab dan terbatas, tanpa bukti gangguan
neurologis yang mandasarinya ; sifatnya berulang; (biasanya) terhenti saat tidur; dan
mudahnya gejala itu ditimbulkan kembali atau ditekan dengan kemauan.
Tic dibagi menjadi:
1. Tic sementara, pada umumnya memenuhi kriteria umm untuk diagnosis tic, tetapi
tidak melampaui 12 bulan, merupakan bentuk tic yang paling sering dijumpai pada
anak usia 4-5 tahun; biasanya tic itu merupakan kedipan di mata, muka
menyeringai, atau kejutan kepala.
2. Gangguan tic motorik atau vokal kronik pada umunya memenuhi kriteria umum
suatu gangguan tic motorik atau vokal (namun bukan kedua - duanya); tic mungkin
tunggal atau multipel (tetapi biasanya multipel), dan berlangsung lebih dari
setahun.
3. Gangguan campuran tic vokal dan motorik multipel (sindrom de la tourette)
merupakan suatu jenis gangguan tic dengan tic motorik multipel dan satu atau
beberapa tic vokal, sekalipun tidak harus timbul secara serentak tetapi riwayatnya
hilang timbul. Onset hampir selalu pada masa kanak atau remaja. Lazimnya
terdapat riwayat tic motorik sebelum timbulnya tic vokal; sindroma ini sering
memburuk pada usia remaja dan sering menetap sampai usia dewasa. " TIC " fokal
sering bersifat multipel dengan letupan fokalisasi yang berulang-ulang seperti
mendehem dan mengorok

D. Ganguan perilaku dan emosional lainnya dengan onset biasanya pada masa kanak
dan remaja
Merupakan sekelompok gangguan heterogen yang berciri onsetnya pada masa
kanak tetapi berbeda dalam banyak segi. Sebagian kondisinya merupakan sindrom
dengan batasan jelas, namun ada pula yang sekedar kumpulan gejala yang tidak
memiliki keabsahan nosologis, tetapi dimasukkan hanya karena sering ditemukan
dan berhubungan dengan masalah psikososial, serta tidak dapat dikelompokkan
dalam sindrom lain

1. Enuresis non organik
Satu gangguan buang air seni tanpa kehendak, pada siang dan atau malam hari,
yang tidak sesuai dengan usia mental anak dan bukan akibat dari kurangnya
pengendalian kandung kemih akibat gangguan neurologi, serangan epilepsi,
atau kelainan struktural pada kandung kemih. Tidak ada garis pemisah yang
tegas antara gangguan enuresis dan variasi normal usia seorang anak berhasil
mencapai kemampuan penegendalian kandung kemihnya. Naum, enuresis tidak
lazim didiagnosis terhadap anak di bawah usia 5 tahun atau dengan usia mental
kurang dari 4 tahun.

2. Enkopresis non organik
Ciri diagnostik yang menentukan adalah pengeluaran tinja secara tak layak,
kondisi ini dapat timbul dengan berbagai cara:
Mungkin menggambarkan kurang adekuatnya latihan kebersihan ( toilet
training)
Mungkin menggambarkan gangguan psikologis dengan pengendalian
fisiologis BAB normal
Mungkin akibat retensi fisiologis yang bertumpuk pada peletakan tinja
ditempat yang tak layak

3. Gangguan makan masa bayi dan kanak
Gangguan makan dengan berbagai manifestasi biasanya spesifik pada masa bayi
dan masa kanak dini. Pada umumnya meliputi penolakan makanan dan rewel
menghadapi makanan yang memadai tanpa penyakit organik. Kesulitan kecil
dalam makan adalah lazim pada masa bayi dan anak dalam bentuk penolakan
seolah kurnag makan atau kebanyakan makan.

4. Pika masa bayi dan kanak
Gejala pika adalah terus menerus makan zat yang tidak bergizi (tanah, serpihan
cat dsb). Pika dapat timbul sebagai salah satu gejala dari sejumlah gangguan
psikiatrik yang luas, atau sebagai perilaku psikopatologis yang tunggal.

5. Gangguan gerakan stereotipik
Merupakan aneka gerakan yang volunter, berulang, stereotipe, nonfungsional
(dan sering bersifat ritmik) bukan merupakan bagian dari suatu kondisi
psikiatrik atau neurologis yang dikenal.

6. Gagap (stuttering)/stammering.
Cara bicara yang ditandai dengan pengulangan sara atau suku kata atau kata,
atau sering gugup atau terhenti sehinggga mengganggu irama alur bicara.
Disritmia ringan dari gangguan ini sering ditemukan sebagai suatu fase transisi
pada usia dini anak atau sebagai pola bicara yang ringan namun berkelanjutan
pada usia selanjutnya pada usia dewasa. Harus digolongkan sebagai gangguan
hanya bila keparahnnya sangat mengganggu kelancaran berbicara. Mungkin
kondisi ini disertai gerakan pada wajah dan atau bagian tubuh lainnya yang
bersamaan waktu dengan pengulangan atau hambatan alur bicara. Tidak
ditemukan gangguan neurologis yang mendasari.

7. Berbicara cepat dan tersendat (Cluttering)
Cara berbicara cepat dengan gangguan kelancaran alurnya, namun tanpa
pengulangan atau kegugupan, sehingga menyebakan kurang jelasnya ucapan.
Bicaranya kurang menentu dan kurang berirama, dengan letupan cepat,
tersendat sendat yang biasanya meliputi pola pengungkapan yang keliru.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993. Pedoman Penggolongan dan
Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III.
Kaplan, Harold I dan Benjamin J. Sadock, M.D. 2010. Sinopsis Psikiatri Jilid 2.
Tangerang: Binarupa Aksara Publisher.
Maramis, Willy F dan Albert A.M. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2.
Surabaya: Airlangga University Press.
Maslim, R. 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-
III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Unika Atmajaya