Anda di halaman 1dari 30

HIPOKSIA

SISTEM RESPIRASI
Tujuan respirasi: Menyediakan O2 untuk jaringan
tubuh dan membuang CO2

Untuk mencapai tujuan ini terdapat 4 fungsi
utama respirasi:
1. Ventilasi
2. Difusi O2 dan CO2 antara alveoli dan darah.
3. Transport O2 dan CO2 dalam darah-cairan tubuh
dan sel
4. Pengaturan pernafasan dan hal-hal lain dari
pernafasan

Sistem respirasi terdiri dari 2 bagian
utama:
Bagian konduksi:rongga hidung, nasopharynx,
larynx, trachea, bronchi, bronchioli.
Bagian respirasi/fungsional:bronchiolus
respiratorius, ductus alveolaris, saccus alveolaris,
alveoli.

Pembagian Saluran Nafas
Upper
Respiratory
System
Lower
Respiratory
System
HIPOKSIA
Definisi
Hipoksia merupakan suatu kondisi penurunan
pemasukan oksigen ke jaringan sampai di bawah
tingkat fisiologik meskipun perfusi jaringan oleh
darah memadai.

Hipoksia akut adalah berkurangnya pasokan
oksigen secara mendadak atau cepat dalam
durasi menit ke jam.

Hipoksia kronik berkurangnya pasokan oksigen
secara lambat dengan durasi jam ke hari.
ETIOLOGI
Airway: Jalan napas yang terobstruksi
menghalangi oksigen ke paru-paru akibat dari
salah letak posisi pipa endotrakeal di esophagus
atau akibat muntah yang teraspirasi dan
menghalang jalan napas.

Breathing: Pernapasan yang tidak adekuat
menghalangi oksigen yang cukup ke alveoli akibat
bronkospasme yang kronik, pneumotoraks dan
spinal anestesi yang terlalu tertinggi.

ETIOLOGI
Circulation: Kegagalan sirkulasi menghalangi
oksigen masuk ke jaringan yang biasanya
disebabkan oleh hipovolemia, gangguan irama
jantung dan gagal jantung.
Dissability: Peningkatan tekanan intrakranial
(PTIK) adalah suatu peningkatan tekanan yang
terjadi di dalam rongga kranialis
ETIOLOGI
Drugs: obat-obat anestesi yang bisa
menyebabkan penurunan tekanan darah. Obat
pelemas otot juga bisa melumpuhkan otot
pernapasan dan menghalangi pasien bernapas
adekuat.
Equipment: Masalah pada mesin dan alat
anestesi seperti mesin ventilasi yang tidak
tersambung/ terhalang/sumber oksigen sendiri
seperti alat konsentrasi oksigen yang tidak
berfungsi.
KLASIFIKASI
Hipoksia Hipoksik (anoksia anoksik)
Hipoksia Anemik
Hipoksia Stagnan
Hipoksia Histotoksik

GEJALA KLINIS
Sistem saraf sentral: gangguan mental,
gelisah, mudah tersinggung, berkeringat,
apatis hingga koma bila berlanjut.
Sistem kardiovaskuler: takikardi, bradikardi
(bila berlanjut), aritmia, mula-mula hipertensi
sampai hipotensi.
Sistem pernapasan: hiperventilasi, dyspnea,
napas cepat dan dangkal (pernapasan
Kaussmaul), gerak napas cuping hidung,
retraksi sela iga.

GEJALA KLINIS
Kulit: Sianosis
Laboratorium: Analisis Gas Darah (AGD)
merupakan gold standart untuk menentukan
hipoksia karena bisa menentukan SaO2 dan
secara tidak langsung menentukan PaO2.
Kurva Disosiasi
PATOFISIOLOGI
Gangguan pada jalan napas (airway),
pernapasan (breathing), sirkulasi (circulation)
oksigen tidak dapat masuk ke paru-paru
secara adekuat tidak terjadi difusi dari
alveoli ke kapilar mengikut gradient dari yang
bertekanan tinggi ke bertekanan rendah dan
oksigen tidak dapat di hantar ke jaringan
hipoksia.

PATOFISIOLOGI
A. Ventilasi
normal, perfusi
normal
B. Ventilasi
normal, perfusi
kurang
C. Ventilasi
berkurang,
perfusi normal
D. Tidak ada
ventilasi dan
perfusi

PATOFISIOLOGI
Hipoksia akut vasokonstriksi pada pembuluh darah
pulmoner tetapi menyebabkan vasodilatasi pada
pembuluh darah sistemik. Vasokonstriksi pada
pembuluh darah pulmoner tensi pada pasien
meningkat.

Keadaan hipoksia merangsang kemoreseptor perifer
dan terjadi peningkatan ventilasi sebagai kompensasi
untuk meningkatkan asupan oksigen ke tubuh
peningkatan ventilasi ini akan menyebabkan alkalosis
respiratorik yang sangat berguna untuk menekan
hipertensi akibat vasokonstriksi pembuluh darah tadi
PATOFISIOLOGI
Hubungan dengan anestesi
Hipoventilasi (obstruksi jalan napas, volatile gas
anastetik, opiod dan sedatif) Penurunan
oksigen yang terinspirasi P2O2 menurun
(PaO2 merupakan keseimbangan antara
oksigen terinspirasi dengan proses metabolic
dalam badan) Kemoreseptor badan aorta
dan carotid akan terangsang Hiperventilasi
dan peningkatan cardiac output.

Kriteria gagal nafas menurut
Pontoppidan

Criteria

Normal
Close Monitoring, Oxygen
Physical Tx
Intubation Ventilation
Trakeostomi
Mechanics :
Respiratory rate/Min
Vital capacity ml/kg
Inspiratory force cmH
2
o

12 -25
70 30
100 - 50

25 35
30 15
50 25

>35, <10
< 15
< 25
Oksigenation :
A a DO2 mmHg
PaO2 mmHg

50 200
100 75
(air)

200 350
200 70
(mask O2)

> 350
< 70
(mask O2)
Ventilation :
VD/VT
PaCO2 mmHg

0,3 0,4
35 45

0,4 0,6
45 60

> 0,6
> 60
PENATALAKSANAAN
Airway
Membuka jalan napas dengan maneuver head
tilt dan chin lift. Perhatikan ada sumbatan jalan
napas akibat lidah, bendasing atau cairan dan
singkirkan jika ada. Look, Listen, Feel pada
gerakan dada, suara napas dan aliran udara
untuk mengetahui sama ada pasien bernapas
atau tidak

Breathing
Beri napas buatan secara mouth to mouth tiap
1 detik sampai dada terangkat.

Circulation
Compressions: Letakkan puncak tangan di
setengah dari bagian bawah sternum. Pijat
30x dengan kedalaman 2 inci dan kecepatan
100x/menit dan beri napas buatan sebanyak
2x. Push hard, push fast! Kompresi ini sangat
penting untuk memberi asupan oksigen pada
organ vital terlebih dahulu sebelum
membebaskan jalan napas
Drugs: Adrenalin di beri 3-5 menit sebanyak 3 kali
pemberian. Atropin 3mg. Di beri secara intravena,
intratrakeal atau intraosseus. Tidak boleh di berikan
secara intrakardial.

EKG: Di lihat gambaran ventrikel fibrilasi, ventrikel
takikardi, asistole, PEA atau EMD

Fibrillation: Diberi DC shock pada pasien dengan
gambaran EKG ventrikel fibrilasi dan ventrikel takikardi
saja dengan kekuatan 360 Joule pada bagian apex paru
dan iktus cordis paru berlawanan

TERAPI OKSIGEN
Terapi oksigen jangka pendek merupakan
terapi yang dibutuhkan pada pasien-pasien
dengan keadaan hipoksemia akut.

Pada kondisi ini oksigen harus diberikan
dengan FiO2 60-100% dalam waktu pendek
dan terapi yang spesifik diberikan. Selanjutnya
oksigen diberikan dengan dosis yang dapat
mengatasi hipoksemia dan meminimalisasi
efek samping.
TERAPI OKSIGEN
Alat Aliran (L/menit) Fi O
2
(fraksi oksigen inspirasi)
Kanula nasal 1
2
3
4
5
6
0,24
0,28
0,32
0,36
0,40
0,44
Masker oksigen 5-6
6-7
7-8
0,40
0,50
0,60
Masker dengan
kantong reservoir
6
7
8
9
10
0,60
0,70
0,80
0,80
0,80
TERIMAKASIH....
PENATALAKSANAAN
Airway: dengan maneuver chin lift atau jaw
thrust, periksa posisi LMA dan pipa
endotrakeal dan reposisi semula jika
mengalami kesalahan letak.

Breathing: periksa volume tidal, saturasi
oksigen dan karbon dioksida. Jika curiga
terjadi bronkospasme, beri obat bronkodilator
tetapi jika curiga pneumotoraks, lakukan
drainase dada.
Circulation: periksa nadi, tekanan darah dan
EKG. Evaluasi jika ada kehilangan darah yang
akut, dehidrasi atau kehilangan cairan yang
banyak dan tangani dengan resusitasi cairan
secara I.V. Nadi tdk teraba RJP

akibat dari efek obat (drugs) opiod, gas
volatile, sedatif yang mendepresi napas atau
muscle relaksans yang menyebabkan otot
jantung tidak berkontraksi atau karena spinal
anestesi yang terlalu tinggi yang
melumpuhkan otot diafragma

alat-alat anestesi, periksa suplai oksigen,
concentrator dan pada silinder. Periksa juga
ada atau tidak bagian yang tidak tersambung
atau yang terhalang pada alat ventilator. Jika
masih belum terkoreksi, matikan ventilator dan
gunakan self-inflating bag atau jika tidak ada
lakukan pernapasan buatan mouth to mouth
atau ventilasi dengan pipa endotrakeal

Anda mungkin juga menyukai