Anda di halaman 1dari 12

1

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jumlah penduduk di suatu wilayah tidaklah tetap , namun akan selalu berubah
(bertambah atau berkurang) sering dengan perjalanan waktu. Pertambahan penduduk
terjadi karena angka kelahiran dan angka kematian tidak seimbang, dimana angka
kelahiran lebih besar dari angka kematian. Pertambahan penduduk juga dipengaruhi
selisih angka penduduk yang masuk dan keluar suatu wilayah. Pertambahan
penduduk suatu wilayah berupa angka-angka yang kongkrit dalam pertamahan setiap
tahunnya, sedangkan pertumbuhan penduduk berupa besaran presentasenya saja.
Persebaran atau distribusi penduduk adalah bentuk penyebaran penduduk di
suatu wilayah atau negara, apakah penduduk tersebut tersebar merata atau tidak.
Kepadatan penduduk erat kaitannya dengan kemampuan wilayah dalam mendukung
kehidupan penduduknya. Daya dukung lingkungan dari berbagai daerah di Indonesia
tidak sama. Daya dukung lingkungan pulau Jawa lebih tinggi dibandingkan dengan
pulau-pulau lain, sehingga setiap satuan luas di Pulau Jawa dapat mendukung
kehidupan yang lebih tinggi dibandingkan dengan, misalnya di Kalimantan, Papua,
Sulawesi, dan Sumatra hal itu bisa kita kaitkan atau dilihat dari aspek spasialnya
(keruangan).
Maka dari latar belakang di atas kelompok akan menjelaskan mengenai
pengaruh aspek spasial terhadap mortalitas dan fertilitas dalam dinamika penduduk.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang terdapat, sesuai dengan latar belakang di atas adalah
1. Apa pengertian dari konsep spasial
2. Apa maksud dari Aksesibilitas dalam konsep Spasial/Keruangan
3. Bagaimana keterkaitan konsep spasial, aksesibilitas terhadap sosial ekonomi
penduduk
2

4. Bagaimana penanggulanagan/kebijakan dilihat dari aksesibilitas
5. Bagaimana keterkaitan spasial terhadap sarana dan prasarana
6. Bagaimana keterkaitan spasial terhadap mortalitas dan fertilitas
7. Bagaimana jumlah fertilitas dan mortalitas daerah provinsi sumatera barat
dalam angka 2012

C. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini berdasarkan rumusan masalah di atas
adalah
1. Mahasiswa mengerti pengertian dari konsep spasial
2. Mahsiswa mengetahui maksud dari Aksesibilitas dalam konsep
Spasial/Keruangan
3. Mahasiswa mengetahui keterkaitan konsep spasial, aksesibilitas terhadap
sosial ekonomi penduduk
4. Mahasiswa mengetahui penanggulanagan/kebijakan dilihat dari aksesibilitas
5. Mahasiswa mengetahui keterkaitan spasial terhadap sarana dan prasarana
6. Mahasiswa mengetahui keterkaitan spasial terhadap mortalitas dan fertilitas
7. Mahasiswa mengetahui jumlah fertilitas dan mortalitas daerah provinsi
sumatera barat dalam angka 2012









3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Spasial
Istilah spasial berasal dari kata bahasa Inggris spatial yang mempunyai arti segala sesuatu
yang berkenaan dengan ruang ( space), tetapi bukan ruangan yang diartikan sebagai room (bahasa
Inggris). Oleh karena itu, penggunaan terjemahan spatial menjadi spasial dalam bahasa Indonesia
untuk menghindari kerancuan pengertian yang sempit sebagai room tersebut. Banyak para ahli
menggunakan istilah Ruang sebagai tempat kehidupan, dengan demikian pengertian ruang
tidak lain adalah biosphere yang merupakan persinggungan antara lithosphere,
hydrosphere,dan atmosphere (Miller,1985), dan Rustiadi (2006) menempati ruang berkisar 3 m
dalam tanah atau 200 m di bawah permukaan laut atau 30 m di atas permukaan tanah.
UU No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, ruang meliputi ruang daratan,
ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia dan mahluk hidup
lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.. Konsep
spasial atau konsep keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang
menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat
dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess)
(Yunus, 1997). Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola
dan proses.
Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen pembentuk ruang. Elemen-
elemen tersebut dapat disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu:
1. Kenampakan titik (point features)
2. Kenampakan garis (line features)
3. Kenampakan bidang (areal features)
Para ahli, pengertian spasial dipahami secara berbeda antara ilmuwan berlatar belakang
geografi dengan ilmuwan yang berlatar belakang sosial (Rustiadi, dkk.2000). Dalam perspektif
geografi, pengertian spasial adalah pengertian yang bersifat rigid (kaku), yakni segala sesuatu yang
menyangkut lokasi atau tempat. Definisi suatu tempat atau lokasi secara geografi sangat jelas, tegas,
4

dan lebih terukur karena setiap lokasi di atas permukaan bumi dalam ilmu geografi dapat diukur
secara kuantitatif. Domain kajian spasial dalam ilmu geografi lebih focus pada bagaimana
mendeskripsikan fenomena spasial.. Berdasarkan paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
pengertian spasial adalah segala sesuatu mengenai ruang, baik ruang daratan, lautan, maupun
ruang udara yang di dalamnya terdapat aktivitas kehidupan yang dapat terukur secara
kuantitatif, makna, maupun persepsinya.
.
B. Aksesibilitas dalam Konsep Spasial/Keruangan
Menurut Black (1981) Aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan
lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain, dan mudah atau sulitnya lokasi tersebut dicapai
melalui transportasi. Menurut Magribi bahwa aksesibilitas adalah ukuran kemudahan yang meliputi
waktu, biaya, dan usaha dalam melakukan perpindahan antara tempat-tempat atau kawasan dari
sebuah system (Magribi, 1999).
Salah satu variabel yang dapat dinyatakan apakah tingkat aksesibilitas itu tinggi atau rendah
dapat dilihat dari banyaknya sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut. Semakin banyak
sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut makas emakin mudah aksesibilitas yang didapat
begitu pula sebaliknya semakin rendahtingkat aksesibilitas yang didapat maka semakin sulit daerah
itu dijangkau dari daerah lainnya (Bintarto, 1989). Aksesibilitas erat kaitannya dengan konsep spasial
/keruangan, seperti sistem jaringan jalan, panjang dan lebar jalan.
Diperlukan konsep spasial yang jelas untuk pengembangan aksesibilitas suatu
wilayah. Aksesibilitas terkait dengan mudah atau tidaknya suatu daerah dijangkau, jika akses untuk
mencapai suatu daerah tidak menerapkan konsep spasial yang jelas maka bisa jadi jangkauan untuk
menuju daerah tersebut sulit dan memerlukan waktu yang lama. Konsep spasial juga terkait dengan
pola pengaturan tata guna lahan. Keberagaman pola pengaturan fasilitas umum antara satu wilayah
dengan wilayah lainnya. Seperti keberagaman pola pengaturan fasilitas umum terjadi akibat
berpencarnya lokasi fasilitas umum secara geografis dan berbeda jenis dan intensitas
kegiatannya. Kondisi ini membuat penyebaran lahan dalam suatu wilayah menjadi tidak
merata (heterogen) dan faktor jarak bukan satu-satunya elemen yang menentukan tinggi rendahnya
tingkat aksesibilitas (Miro, 2004). Untuk itulah diperlukan konsep spasial dalam pengembangan
5

aksesibilitas suatu daerah, untuk mengurangi hambatan serta penyebaran yang tidak merata di suatu
wilayah. Hal ini juga akan membantu dalam pembangunan suatu wilayah.

C. Keterkaitan Konsep Spasial, Aksesibilitas terhadap Sosial Ekonomi
Penduduk
Aksesibiltas suatu daerah sangat mempengaruhi keadaan sosial ekonomi penduduk di
daerah tersebut. Dari segi sosial jika kita kaitkan dengan akses maka berhubungan dengan
perkembangan pengetahuan masyarakat di suatu daerah, jika akses menuju daerah tersebut sulit
maka perkembangan pengetahuan masyarakat juga akan lambat. Dengan perkembangan
pengetahuan yang lambat membuat penduduk setempat memilik keterikatan sosial yang tinggi satu
sama lainnya. Berbeda dengan daerah yang aksesnya sudah lebih baik. Keterikatan sosial antara
sesamanya akan lebih rendah, karena segala sesuatu sudah dapat dicapai dengan mudah. Hal ini juga
terkait dengan kondisi ekonomi daerahnya. Daerah dengan akses yang rendah akan bergantung pada
sektor yang mendukung perekonomiannya.
Umumnya daerah dengan akses yang rendah, perekonomiannya juga rendah. Terkait
dengan konsep spasial juga, dimana pengembangan akses menuju daerah akses yang rendah
memerlukan konsep keruangan yang jelas. Karena jika penggunaan pola pengaturan tata guna lahan
tidak sesuai dengan konsep spasial maka yang terjadi adalah penyebaran fasilitas yang tidak merata
serta rendahnya perekomian di daerah dengan akses yang rendah. Kesulitan akses membuat
masyarakat tidak sejahtera, banyak masyarakat yang kesulitan ekonomi karena rendahnya akses
menuju daerah mereka.
Oleh karena itu, perlu pengembangan pola pengaturan tata guna lahan untuk membangun
akses yang baik menuju daerah terpencil. Bisa kita lihat bahwa banyak daerah di Indonesia yang
masih terpencil tingkat kesejahteraan ekonomi merekasangat rendah. Mereka hanya mengandalkan
pengetahuan yang minim untuk mengolah SDA yang ada, karena tidak adanya sumber daya
manusia yang mampumengolah lahan yang ada.

6

D. Penanggulanagan/Kebijakan
Sejauh ini pemerintah telah menerapkan beberapa kebijakan terkait dengan aksesibilitas
yang menjadi masalah utama di daerah terpencil. Seperti daerah yang dipisahkan oleh sungai dengan
melakukan pembangunan jembatan menuju daerah tersebut. Ada beberapa peraturan pemerintah
terkait dengan pemulihan akses menuju daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia, salah satunya
yaitu mengembangkan dan memantapkan kelembagaan sosial ekonomi dalam rangka
pengembangan ekonomi lokal dan peningkatan akses masyarakat daerah terpencil ke modal usaha
serta membangun akses yang lebih baik sesuai dengan konsep spasial yang ada yaitu pola
pengaturan penggunaan tata guna lahan. Selama ini pemerintah hanya terfokus pada bagaimana
mengembangkan daerah terpencil tanpa melihat faktor penghambat pengembangan daerah.
Terutama terkait dengan aksesisibilitas dan konsep spasial yang selama ini tidak menjadi perhatian
utama pemerintah. Oleh karena itu sekarang dengan adanya perhatian pemerintah terhadap pola
pengaturan penggunaan tata guna lahan terkait aksesisibilitas dalam konsep spasial diharapkan lebih
memajukan daerah-daerah terpencil..
E. Keterkaitan Spasial terhadap Sarana dan Prasarana
1.Pendidikan
Dilihat dari luas provinsi Sumatera Barat yaitu 31.343 km2. Dimana pemerataan
pendidikan hanya berpusat pada ibu kota Provinsi yaitu kota Padang dengan jumlah sekolah 102
bangunan. Jika dikaitkan dengan aspek spasial/keruangan semakin jauh dari pusat kota maka
semakin kurang sarana pendidikannya, begitu juga sebaliknya, semakin dekat suatu daerah dengan
pusat kota maka semakin baik sarana pendidikannya. Spasial secara langsung mempengaruhi
kondisi sarana dan prasarana pendidikan suatu wilayah..
2.Rumah sakit dan Puskesmas
Untuk sarana dan prasarana kesehatan, jumlah rumah sakit umum yang ada di Sumatera
barat tahun 2011 ada 40 bangunan, dengan RSU Pusat, RSU Propinsi, RSU Kabupaten, RSU Jiwa,
RSU Swasta, RSU Tentara, RSU Polisi. Sedangkan untuk puskesmas baik puskesmas pembantu
dan klinik bersalin swasta tahun sebanyak 1116 bangunan. Klinik dan apotek sebanyak 824
bangunan. Jika kita kaitkan dengan konsep spasial maka secara keseluruhan keterdapatan sarana dan
7

prasarana kesehatan untuk Sumatera Barat sudah baik. Persebaran sarana kesehatan hampir merata
diseluruh wilayah baik wilayah yang sulit dijangkau maupun mudah dijangkau.

F. Keterkaitan Spasial terhadap Mortalitas dan Fertilitas
Seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, spasial merupakan konsep keruangan, ruang
tempat hidup. Sementara fertilitas dan mortalitas berhubungan dengan kependudukan. Dalam hal ini
akan dibahas mengenai mortalitas dan fertilitas dalam konsep spasial.
1. Fertilitas
Fertilitas diartikan sebagai banyaknya bayi yang lahir hidup. Fertilitas mencakup peranan
kelahiran pada perubahan penduduk. Artinya semakin banyak bayi yang lahir maka akan
mempengaruhi komposisi penduduk setiap tahunnya. Hal ini juga tentu berpengaruh pada tata guna
lahan jika dikaitkan dengan spasial tadi, bahwa akan dibutuhkan banyak lahan untuk menampung
jumlah penduduk ini nantinya.
Ada beberapa cara menghitung tingkat fertilitas suatu daerah, antara lain:

a. Angka Kelahiran Kasar atau Crude Birth Ratio(CBR) :
Banyaknya kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu tiap 1000 penduduk padapertengahan
tahun dengan rumus:


Dimana: CBR = Angka Kelahiran Kasar
Pm = Penduduk Pertengahan Tahun
B = Jumlah Kelahiran pada tahun tertentu
K = Bilangan konstan, biasanya 1000



8

b. Angka Kelahiran Umum atau General Fertility Rate (GFR) :
Angka Kelahiran Umum adalah banyaknya kelahiran tiap seribu wanita yang berumur 15-
49 tahun atau 15 - 44 tahun. Dapat ditulis dengan rumus sebagai berikut :


Dimana: GFR = Tingkat Kelahiran Umum
B = jumlah kelahiran
Pf(15-49) = Jumlah penduduk perempuan umur 15-49 tahun pada
pertengahan Tahun
K = Bilangan Konstan, biasanya 1000

2. Mortalitas
Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik)
pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan
pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga rata-rata mortalitas sebesar 9.5
berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun. Untuk menghitung mortalitas juga
ada beberapa cara, yaitu
a. Crude Death Rate CDR = Angka Kematian Kasar)


Di mana : D = Jumlah kematian
P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun
K = Bilangan konstan, biasanya 1000



9

b. Infant Mortality Rate (IMR = Angka Kematian Bayi)


Di mana : D<1 = Jumlah kematian bayi kurang dari 1 tahun
B = Jumlah kelahiran hidup


Baik fertilitas maupun mortalitas pada dasarnya mempengaruhi komposisi penduduk suatu
daerah. Jika di suatu daerah terjadi fertilitas yang tinggi pada tiap tahunnya sementara mortalitasnya
rendah maka jumlah penduduk akan bertambah. Hal ini juga akan berpengaruh pada penggunaan
lahan, dimana dengan jumlah penduduk yang banyak maka akan banyak dibutuhkan lahan untuk
membangun pemukiman penduduk.
Contohnya di Jakarta, dimana setiap tahunnya jumlah penduduk bertambah sementara
lahan untuk menampung penduduk tidak ada, maka penduduk akan membangun pemukimannya
sendiri tanpa memperhatikan aspek spasial yang ada,seperti yang terjadi di Kali Ciliwung dan di
bawah jembatan, banyak terdapat pemukiman penduduk miskin yang tak mempunyai lahan untuk
bermukim sehingga mereka membangun pemukimannya sendiri.

G. Fertilitas dan mortalitas daerah provinsi sumatera barat dalam angka 2012
1. Fertilitas.
a. Angka kelahiran kasar (crude birth rate = CBR)
Tahun 2011 ada 83.297 kelahiran dan jumlah penduduk tahun 2011 = 4.904.460 orang


10

b. Angka kelahiran umum (general fertility rate= GFR)
Tahun 2011 ada 83.297 kelahiran dan jumlah penduduk perempuanpertengahan tahun 2011
= 1.261.958 jiwa.



c. Angka kelahiran menurut umur ( age specific fertility rate = ASFR)
d. Angka kelahiran total ( total fertility rate = TFR )

2. Mortalitas.
a. Angka kematian kasar ( crude death rate = CDR )
Tahun 2011 ada ..... kematian dan jumlah penduduk pertengahan tahun 2011 =4.904.460
jiwa


b. Angka kematian menurut umur ( age specific death rate = ASDR )
Tahun 2011 jumlah penduduk umur 40-44 tahun adalah .... jiwa. Jumlahkematian penduduk
umur 40-44 tahun selama tahun 2011 adalah .... jiwa

11



c. Angka kematian bayi ( infant mortality rate = IMR)
Tahun 2011 jumlah kematian bayi 792 jiwa dan jumlah kelahiran hidupselama tahun 2011
adalah 82.653 jiwa


d. Angka kematian ibu ( maternal mortality rate = MMR)
Tahun 2011 jumlah kematian ibu karena kehamilan atau melahirkan adalah122 jiwa dan
jumlah kelahiran hidup 82.653 jiwa.










12

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Spasial adalah segala sesuatu mengenai ruang, baik ruang daratan, lautan, maupun ruang
udara yang di dalamnya terdapat aktivitas kehidupan yang dapat terukur secara
kuantitatif, makna, maupun persepsinya.
Diperlukan konsep spasial yang jelas untuk pengembangan aksesibilitas suatu
wilayah. Aksesibilitas terkait dengan mudah atau tidaknya suatu daerah dijangkau, jika akses untuk
mencapai suatu daerah tidak menerapkan konsep spasial yang jelas maka bisa jadi jangkauan untuk
menuju daerah tersebut sulit dan memerlukan waktu yang lama.
Fertilitas diartikan sebagai banyaknya bayi yang lahir hidup. Fertilitas mencakup peranan
kelahiran pada perubahan penduduk. Artinya semakin banyak bayi yang lahir maka akan
mempengaruhi komposisi penduduk setiap tahunnya. Hal ini juga tentu berpengaruh pada tata guna
lahan jika dikaitkan dengan spasial tadi, bahwa akan dibutuhkan banyak lahan untuk menampung
jumlah penduduk ini nantinya.
Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik)
pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan
pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga rata-rata mortalitas sebesar 9.5
berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun.

B. Saran
Diharapkan kepada seluruh masyarakat agar lebih memperhatikan dan
menjaga lingkungan baik pemukiman liar, pencemaran udara,dan pencemaran
air.Bagi Pemerintah diharapkan menyediakan fasilitas yang memadai demi
terciptanya lingkungan yang diharapkan oleh masyarakat. Serta jika masyarakat ingin
membangun pemukiman maka sebaiknya perhatikan kondisinya dahulu atau dilihat
kondisi keruangannya itu sendiri.