Anda di halaman 1dari 23

1

Keselamatan dan Kesehatan Kerja



Intan Arkas Refra
10.2009.043 (D-3)
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat: Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
E-mail: intanarkas@rocketmail.com

PENDAHULUAN
Tempat kerja juga menjadikan salah satu yang menyebabkan kecelakaan kerja itu bisa
terjadi, letak lokasi kerja, kebersihan lokasi kerja dan kenyamanan menjadikan pekerja merasa
aktifitas dalam bekerjanya nyaman sehingga mengurangi resiko kecelakaan terjadi. Kecelakaan
saat kerja sering terjadi akibat kelalaian manusia, melanggar aturan yang sudah diterapkan k3
sebagai standar aturan keselamatan kerja. Kecelakaan kerja merupakan hal yang tidak dapat
ditolelir lagi kalau tidak adanya kehati-hatian dalam bekerja. Menurut data yang disampaikan
oleh kementrian tenaga kerja dan transportasi, sepanjang tahun 2009 telah terjadi sebanyak
54.398 kasus kecelakaan kerja di Indonesia. Pada tahun sebelumnya, jumlah kecelakaan
sebanyak 20.086 kasus tergolong pelanggaran K3.
Di era golbalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di setiap
tempat kerja. pekerja harus mematuhi petunjuk keselamatan kerja, apalagi keryawan yang
berhubungan langsung dengan alat produksi itu akan berbahaya terhadap keselamatanya. Untuk
itu kita perlu mengem-bangkan dan meningkatkan K3 dalam rangka menekan serendah mungkin
risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja, serta meningkatkan
2

produktivitas dan efesiensi. Tetapi kadang pekerja mengacuhkan prosedur keselamatan kerja
yang sudah dibuat oleh perusahaan, berdalih tidak nyaman dalam bekerja.
Kasus C
Sebuah pabrik sepatu di Cikarang dengan 1.500 karyawan yang 70% terdiri dari pekerja wanita.
Pihak pemberi kerja ingin meningkatkan kesehatan pekerjanya, mengingat dalam 3 bulan
terakhir angka absensi meningkat dan terdapat laporan kecelakaan kerja sebanyak 10 kali. Untuk
itu dokter perusahaan ingin melakukan pemeriksaan assesement untuk mencari jalan keluarnya.
PEMBAHASAN
A. Kecelekaan Kerja
Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi pada saat seseoranag melakukan pekerjaan, termasuk
penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam
perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan yang
biasa atau wajar dilalui. Kecelakan kerja dapat diartikan juga sebagai kejadian yang tidak
diinginkan, tidak direncanakan, menghentikan proses dan menimbulkan cedera.
Penyebab kecelakaan kerja:
1. Perilaku pekerja itu sendiri (faktor manusia) yang tidak memenuhi keselamatan, misalnya:
kelelahan, kecerobohan, dan sebagainya.
2. Kondisi-kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman, misalnya: lantai licin,pencahayaan
kurang, dan sebagainya.
1


Gambar 1. Fenomena gunung es
3

Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat
penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam
bekerja akan berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang
dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan
mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat
memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan
kesehatan kerja.
2


B. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya
dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan
sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan
penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat
kerja.
Tujuan Umum K3 menurut UU Kesehatan Kerja 1970 :
1. Melindungi tenaga kerja ditempat kerja
2. Melindungi setiap orang lain yang berada ditempat kerja
3. Melindungi bahan dan peralatn produksi
Tujuan khusus
1. Mencegah atau mengurangi kecelakaan kerja, kebakaran, peledakan, PAK
2. Mengamankan mesin instalasi, pesawat, alat, bahan dan hasil produksi
3. Menciptakan lingkungan kerja yang aman, nayaman, sehat, dan penyesuaian antara
pekerjaan dengan manusia atau antara manusia dengan pekerjaan.

Keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari dan mengungkapkan kelemahan
yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Fungsi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
mengungkapkan sebab-akibat suatu kecelakaan dan meneliti apakah pengendalian secara cermat
dilakukan atau tidak.
2



4

C. Health Risk Assesement
Health Risk Assesement (Penilaian Resiko Kesehatan) adalah suatu pendekatan
sistematis untuk mengumpulkan informasi dari individu-individu yang bertujuan untuk
mengidentifikasi faktor risiko, memberikan umpan balik individual, dan link orang dengan
setidaknya satu intervensi untuk meningkatkan kesehatan, mempertahankan fungsi dan / atau
mencegah penyakit. Penilaian risiko kesehatan merupakan salah satu alat skrining yang paling
banyak digunakan dalam bidang promosi kesehatan dan sering merupakan langkah pertama
dalam multi-komponen program promosi kesehatan.
Ada berbagai HRA berbeda tersedia, namun sebagian besar mencari informasi yang berkaitan
dengan:
Karakteristik demografi : usia, jenis kelamin
Lifestyle : olahraga, merokok, konsumsi alkohol, diet
Riwayat medis pribadi dan keluarga
Data Fisiologis : berat badan, tinggi badan, tekanan darah, kolesterol
Sikap dan kemauan untuk mengubah perilaku dalam rangka meningkatkan kesehatan
Tujuan utama dari HRA adalah untuk:
Menilai status kesehatan
Memperkirakan tingkat risiko kesehatan
Menginformasikan dan memberikan umpan balik kepada peserta untuk memotivasi
perubahan perilaku untuk mengurangi risiko kesehatan.
1

Termasuk dalam kecelakaan kerja ialah penyakit akibat kerja. PKA dapat diartikan sebagai
penyakit yang ditimbulkan oleh atau didapat pada waktu melakukan pekerjaan. Penyakit akibat
kerja dapat menyerang seseorang tergantung pada factor resiko/ pajanan yang dialami.
1,2




5

Terdapat lima bentuk pajanan penyebab paenyakit akibat kerja yaitu :
1. Golongan fisik : suara yang terlalu keras, suhu terlalu tinggi atau terlalu rendah,
penerangan yang kurang atau lebih, penurunan tekanan secara mendadak, radiasi dari
sinar radioaktif, sinar infra merah, sinar ultraviolet.
2. Golonga kimiawi : gas-gas beracun, debu-debu terutama debu logam berat, uap dari
logam, larutan atau cairan yang menyebabkan keracunan, awan atau kabut dari
penyemprotan serangga.
3. Golongan biologis : dapat berupa mikroorganisme yang paling kecil seperti virus, bakteri,
jamur, parasit debu organic, sampai pada binatang mamalia. Misalnya anthrax dan
brucela.
Penggolongan pajanan biologis :
a. Pajanan biologis akibat kerja, yaitu pajanan yang dialami akibat bekerja langsung
dengan bahaya biologi atau merupakan hasil langsung dari proses kerja yang
dilakukan pekerjanya. Penyakit akibat pajanan biologis yang umum terjadi pada
pekerja sector pertanian.
b. Pajanan biologis lingkungan kerja, yaitu pajanan yang dialami akibat tercemarnya
lingkungan kerja, dan merupakan akibat tidak langsung akibat proses kerja, seperti
hygiene dan pemeliharaan tempat kerja yang kurang baik.
c. Pajanan biologis alamiah/bukan akibat kerja, yaitu pajanan biologis yang secara
alamiah berada di wilayah lingkungan tempat kerja, yang banyak menyebabkan
gangguan kesehatan pada masyarakat, seperti malaria dan DBD.
4. Golongan fisiologi : disebabkan karena sikap badan yang kurang baik, karena konstruksi
mesin yang tidak cocok, ataupun karena tempat duduk yang tidak sesuai.
5. Golongan mental-psikologi : karena adanya hubungan yang kurang baik dengan rekan
kerja, pekerjaan yang tidak cocok dengan psikis karyawan, pekerjaan yang
membosankan, imbalan yang terlalu sedikit.
3


Selaian kelima jenis pajanan diatas, kecelakaan kerja juga dapat disebabkan oleh factor
invidu dan factor lain di luar pekerjaan.

6

Factor invidu
Status kesehatan fisik : atopi/alergi, riwayat penyakit dalam keluarga, kebiasaan
berolahraga
Status kesehatan mental
Hygiene perorangan
Factor lain di luar pekerjaan
Hobi
Kebiasaan : merokok
Pajanan dirumah
Pekerjaan sambilan

D. Diagnosis Penyakit Akibat Kerja
Tujuan Diagnosis:
1. Dasar terapi
2. Membatasi kecacatan & mencegah kematian
3. Melindungi pekerja lain
4. Memenuhi hak pekerja

Identifikasi Penyakit Akibat Kerja
1. Pendekatan epidemiologis (komunitas)
Untuk identifikasi hubungan kausal antara pajanan dan penyakit: Kekuatan asosiasi,
konsistensi, spesifisitas, hubungan waktu, hubungan dosis
2. Pendekatan klinis (individu)
Untuk mendiagnosis penyakit akibat kerja: diagnosis klinis, pajanan yang dialami, hubungan
pajanan dengan penyakit, pajanan yang dialami cukup besar, peranan faktor individu, faktor
lain di luar pekerjaan, diagnosis PAK atau bukan PAD.
1,3




7

Diagnosis dilakukan berdasarkan:
1. Klinis
2. Laboratorium & pemeriksaan penunjang
3. Data lingkungan kerja & analisis riwayat pekerja

Langkah diagnosis penyakit akibat kerja:
1. Tentukan diagnosis klinis
2. Tentukan pajanan yang dialami
3. Apa pajanan dapat menyebabkan penyakit tersebut?
4. Apa jumlah pajanan cukup besar
5. Apa ada faktor-faktor individu yang berpengaruh
6. Cari kemungkinan lain di luar pekerjaan
7. Penyakit akibat kerja, atau penyakit bukan akibat kerja :
a. Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau penyakit akibat kerja
b. Penyakit yang diperberat oleh pekerjaan

E. Penatalaksanaan
a. Terapi medikamentosa
b. Terapi non medica mentosa (edukasi)
perubahan cara kerja dsb
Pindah bagian, pindah shift dsb
Rehabilitasi jika perlu
3


F. Pencegahan
Pencegahan penyakit akibat kerja dapat dilakukan dengan berbagai usaha diantaranya :
1. Pendidikan dan penyuluhan tentang K3, bahaya penyakit akibat kerja.
2. Latihan dan informasi sebelum bekerja agar pekerja mengetahui dan berhati-hati terhadap
berbagai kemungkinan adanya bahaya.
3. Membuat Undang-undang dan peraturan menyangkut penyakit akibat kerja
4. Substitusi. Yaitu dengan mengganti bahan-bahan yang membahayakan dengan bahan yang
tidak berbahaya, tanpa mengurangi hasil pekerjaan maupun mutunya.
8

5. Ventilasi baik secara umum maupun secara lokal yaitu dengan udara bersih yang dialirkan
ke ruang kerja dengan menghisap udara keluar ruangan.
6. Penggunaan alat pelindung diri.
Menurut OSHA atau Occupational Safety and Health Administration, pesonal protective
equipment atau alat pelindung diri (APD) didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk
melindungi pekerja dari luka atau penyakit yang diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya
(hazards) di tempat kerja, baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik, mekanik dan
lainnya.
Dalam hirarki hazard control atau pengendalian bahaya, penggunaan alat pelindung diri
merupakan metode pengendali bahaya paling akhir. Artinya, sebelum memutuskan untuk
menggunakan APD, metode-metode lain harus dilalui terlebih dahulu, dengan melakukan upaya
optimal agar bahaya atau hazard bisa dihilangkan atau paling tidak dikurangi. Sebelum
memutuskan jenis alat pelindung diri yang harus kita gunakan, lakukan terlebih dahulu hazard
identification (identifikasi bahaya) dan risk assessment atau penilaian resiko dari suatu
pekerjaan, proses atau aktifitas. Tinjau ulang setiap aspek dari pekerjaan, agar potensi bahaya
bisa kita identifikasi. Jangan memutuskan hanya berdasarkan perkiraan.
1,2,3

APD yang efektif harus :
Sesuai dengan bahaya yang dihadapi
Terbuat dari material yang akan tahan terhadap bahaya tersebut
Cocok bagi orang yang akan menggunakannya
Tidak mengganggu kerja operator yang sedang bertugas
Memiliki konstruksi yang sangat kuat
Tidak menggangu APD lain yang dipakai secara bersamaan
Tidak meningkatkan resiko terhadap pemakainnya
APD harus :
Disediakan secara gratis
Diberikan satu per orang atau jika tidak, harus dibersihkan setelah digunakan
Hanya digunakan sesuai peruntukannya
Dijaga dalam kondisi baik
Diperbaiki atau diganti jika mengalami kerusakan
Disimpan di tempat yang sesuai ketika tidak digunakan
9

Operato-operator yang menggunakan APD harus memperoleh :
Informasi tentang bahay yang dihadapi
Instruksi tentang tindakan pencegahan yang perlu diambil
Pelatihan tentang penggunaan perlatan dengan benar
Konsultasi dan diizinkan memilih APD yang tergantung pada kecocokannya
Pelatihan cara memilhara dan menyimpan dengan rapi
Instruksi agar melaporkan setiap kecacatan atau kerusakan

Contoh contoh perlindungan yang disediakan oleh beberapa jenis APD :
Alat pelindung kepala
Tujuannya agar melindungi kepala dari bahaya seperti benda-benda jatuh, ruang yang sempit, api,
percikan bahan-bahan kimia, mencegah ramnut rontok, rambut terjerat dll. Contohnya safety helmet, helm
keras (hard hats), helm empuk (bump caps) dll

Gambar 1. Safety helm
Alat pelindung telinga
Untuk melindungi telingan dari suara bising. Contohnya tutup telinga dan sumbat telinga.

Gambar 2. Ear muff Gmbar 3. Ear plug

Alat pelindung muka dan mata
Alat pelindung muka sekaligus pula dapat melindungi mata. Digunakan untuk
mencegah muka dari debu, kersik, partikel -partikel beterbangan radiasi, laser,
bunga api las. Alat pelindung muka dan mata yaitu berupa safety glasses dan
pelindung wajah.

gambar 4. Kacamata pelindung gambar 5. Masker wajah

10

Alat pelindung pernapasan
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup misalnya berdebu, berasap, mengandung gas
beracun dll. Alat pelindung pernapasan yaitu berupa masker, respirator-respiratory dengan filter
penyerap.

gambar 6. Respirator
Alat pelindung tangan
Diguakan untuk melindungi tangan dari bahaya seperti tepi-tepi dan ujung-ujung tajam, zat
kimia, temperature tinggi/rendah. Contohya sarung tangan pelindung, sarung tangan tahan bahan
kimia, sarung tangan insulasi.

Gambar 7. Sarung tangan
Alat pelindung kaki
Digunakan untuk melindugi kaki dari benda tajam di lantai, benda jatuh, percikan logam cair,
terpeleset dll. Contoh sepatu pengaman, selubung kaki (gaiter), boot.

Gambar 8. Gaiter, boot.


Alat pelindung kulit
Dipakai untuk melindungi kulit dari kotoran dan bahan korosif ringan korosi kuat, dan zat
pelarut. Contoh krim pelindung.



11

Alat pelindung tubuh
berfungsi untuk melindungi tubuh dari kondisi lingkungan kerja yang kurang baik seperti zat
pelarut, suhu, debu ataupun hal lain yang membahayakan tubuh. Contoh : safety
clothes.

Gambar 9. Safety clothes
7. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja. Hal ini meliputi pemeriksaan kesehatan sebelum
bekerja dan pemeriksaan secara berkala untuk mencari faktor penyebab yang
menimbulkan gangguan maupun kelainan kesehatan terhadap tenaga kerja.
4

Pemeriksaan kesehatan (Medical check-Up)
Medical check up adalah pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk mengetahui status
kesehatan seseorang, bukan untuk mendiagnosis gejala atau mengobati penyakit.

Gmbar 10. Medical check up
Medical checkup mencakup serangkaian wawancara dan pemeriksaan kesehatan. Jenis-
jenis dan lingkup pemeriksaan kesehatan dalam medical checkup bervariasi, tergantung
keperluan dan permintaannya. Pada umumnya medical checkup bertujuan untuk mendeteksi
secara dini bila ada masalah kesehatan tersembunyi yang belum menunjukkan gejala,
terutama penyakit-penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, penyakit liver dan diabetes mellitus.
Selain mendeteksi dini penyakit, medical checkup juga menentukan tingkat kebugaran dan
kesehatan umum.
Banyak tenaga kerja baik pegawai negeri maupun pegawai swasta telah mendapatkan hak
untuk menjalani pemeriksaan kesehatan berkala atas biaya kantor. Peraturan menteri tenaga kerja
dan transmigrasi No. Per. 2 /Men/ 1980 pasal 3 ayat (2) memang mewajibkan perusahaan untuk
12

memeriksa kesehatan pegawainya setiap tahun sekali yang disebut pemeriksaan kesehatan
berkala.

Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja, terdiri dari :
a. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja
b. Pemeriksaan kesehatan berkala
c. Pemeriksaan kesehatan khusus

a. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja ditujukan kepada tenaga kerja yang belum bekerja
(tenaga kerja baru) atau pindah departemen. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri dari :
1. Pemeriksaan fisik lengkap (Visus, buta warna, IMT, TTV)
2. Kesegaran jasmani
3. Rontgen paru (bila mungkin)
4. Periksa darah rutin, urin lengkap.
5. Pemeriksaan lain yang dianggap penting
Tujuan :
Memastikan pekerja dalam kondisi kesehatan setinggi-tingginya
Tidak punya penyakit menular
Cocok dengan pekerjaanya

b. Pemeriksaan kesehatan berkala ialah pemeriksaan yang dilakukan sewaktu-waktu oleh dokter,
dengan tujuan untuk mempertahankan derajat kesehatan tenaga kerja yang sudah berada
dalam pekerjaanya, menilai kemungkinan adanya pengaruh pekerjaan terhadap kesehatan.
Dilakukan minimal satu tahun satu kali.
Manfaat dari pemeriksaan kesehatan berkala antara lain :
1. Dapat mengetahui status kesehatan, apabila ada penyakit bisa diketahui sejak dini
2. Bisa mencegah timbulnya penyakit
3. Bisa memantau perjalanan penyakit yang diderita, sebelum menyebabkan komplikasi.
2


13

c. Pemeriksaan kesehatan khusus. Dilakuakn apabila terdapat keluhan-keluhan diantara tenaga
kerja, atau pengamat atau petugas pengawas K3 atau penilaian Pusat Bina Hiperkes atau
pendapat umum masyarakat.

Sasaran pemeriksaan kesehatan khusus :
Tenaga kerja yang mengalami kecelakaan atau penyakit yang membutuhkan
perawatan lebih dari 2 minggu.
Tenaga kerja yang usia lebih dari 40 tahun, atau tenaga kerja wanita atau tenaga kerja
cacat serta tenaga kerja muda yang melakukan pekerjaan tertentu.
3

Prosedur Medical Checkup
Pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter sesuai peraturan menteri tenaga kerja Transkop No. 1/
Men/ 1976. Prosedurnya dapat meliputi beberapa langkah berikut:

Wawancara riwayat kesehatan. Dokter akan menanyakan kondisi umum, penyakit dan operasi
yang pernah dijalani atau obat-obatan yang diambil. Dokter juga menanyakan tentang gaya
hidup, seperti pola makan, olahraga, kebiasan seperti merokok dan lainnya. Kemudian
menanyakan apakah ada penyakit tertentu yang menurun di keluarga.
Pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan diagnosis lebih lanjut untuk menentukan kesehatan
umum, misalnya: pengukuran tekanan darah, detak jantung, denyut nadi, pemeriksaan
pernapasan, kulit, abdomen, leher, kelenjar getah bening dan refleks saraf. Dengan cara ini
dokter dapat menemukan, misalnya, bila ada tanda-tanda penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK) dan hipertensi. Dokter juga perlu mengukur tinggi dan berat badan untuk
menghitung indeks massa tubuh. Indeks masa tubuh di atas normal meningkatkan risiko
berbagai penyakit.
Pemeriksaan pendukung. Dokter akan merujuk pasien untuk mendapatkan tes darah dan tes
urin rutin di laboratorium. Pemeriksaan darah dan urin terutama untuk mengidentifikasi
kemungkinan gangguan metabolik (misalnya diabetes melitus) atau penyakit ginjal. Untuk
tujuan ini, dokter perlu mengetahui tingkat glukosa darah dan lipid darah
(misalnya trigliserida dan kolesterol). Untuk mengukur tingkat kebugaran dan kesehatan
jantung pasien, dokter bisa meminta pasien mengikuti pemeriksaan dengan threadmill.
14

Wawancara akhir. Dalam wawancara akhir, dokter membahas hasil-hasil medical check
up dengan pasien dan langkah-langkah berikutnya. Dia akan menyusun profil risiko dan
memberikan saran-saran untuk meningkatkan tingkat kesehatan dan kebugaran
pasien. Pemeriksaan lebih lanjut (mungkin oleh dokter rujukan), misalnya pemeriksaan EKG
untuk penyakit jantung, hanya perlu dilakukan jika ada kecurigaan penyakit.
5


8. Perbaikan gizi pada tenaga kerja
Pemenuhan kecukupan gizi pekerja selama bekerja merupakan salah satu bentuk penerapan
syarat keselamatan, dan kesehatan kerja sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat
kesehatan pekerja. Gizi merupakan salah satu aspek kesehatan kerja yang memiliki peran penting
dalam peningkatan produktivitas kerja. Hal ini perlu menjadi perhatian semua pihak, terutama
pengelola tempat kerja mengingat para pekerja umumnya menghabiskan waktu sekitar 8 jam
setiap harinya di tempat kerja.
Rendahnya produktivitas kerja dianggap akibat kurangnya motivasi kerja, tanpa menyadari
faktor lainnya seperti gizi pekerja. Perbaikan dan peningkatan gizi mempunyai makna yang
sangat penting dalam upaya mencegah morbiditas, menurunkan angka absensi serta
meningkatkan produktivitas kerja.
Kebutuhan gizi terutama energi dipengaruhi oleh :
1. Usia,
2. Ukuran tubuh,
3. Jenis kelamin.
4. Jenis pekerjaan atau tingkat aktivitas,
5. Kondisi tubuh, (keadaan fisiologis atau khusus seperti pada pemulihan kesehatan dan
anemia,kehamilan dll)
6. Keadaan lingkungan kerja (iklim dan kondisi lingkungan)
Berat ringannya beban kerja seseorang ditentukan oleh lamanya waktu melakukan
pekerjaan dan jenis pekerjaan itu sendiri. Semakin berat beban kerja, sebaiknya semakin pendek
waktu kerjanya agar terhindar dari kelelahan dan gangguan fisiologis yang berarti atau
sebaliknya.
6

15

Table 1. Pengelompokan aktivitas atau beban kerja (ringan, sedang dan berat) berdasarkan
proporsi waktu kerja.

Penilaian status gizi pekerja perlu dilakukan, karena dengan mengetahui status gizi
pekerja dapat ditentukan kebutuhan gizi yang sesuai serta pemberian intervensi gizi bila
diperlukan. Penilaian status gizi dilakukan melalui beberapa cara antara lain : pemeriksaan
biokimia, pemeriksaan klinis, pemeriksaan biofisik dan antropometri.
Antropometri merupakan metode yang paling sering digunakan dalam penilaian status
gizi. Metode ini menggunakan parameter berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Melalui
kedua parameter tersebut, dapat dilakukan penghitungan Indeks Masa Tubuh (IMT) dengan
rumus sebagai berikut :
16

Table 2. indeks masa tubuh

Tabel 3. Kebutuhan Gizi Per Hari bagi Pekerja Menurut Umur, Jenis Kelamin dan Aktivitas
Fisik* (Sumber : berdasarkan AKG 2004)



17

Tabel 4. Kebutuhan energi dan protein selama bekerja (8 jam)

Kecukupan Gizi menurut Kondisi Khusus Pekerja
Skema Kondisi Khusus Pekerja

Kondisi fisiologis
Selama Kehamilan : untuk perkembangan janin, pekerja perempuan yang hamil membutuhkan
tambahan energi dan zat gizi lainnya seperti zat besi dan asam folat. Perempuan yang berstatus
gizi baik dengan tingkat aktivitas ringan-sedang membutuhkan kalori ekstra 180 kkal/hari pada
trimester 1, sedangkan pada trimester 2 dan 3 dibutuhkan tambahan 300 kkal/ hari.
Selama Menyusui: untuk produksi ASI, pekerja perempuan yg hamil membutuhkan tambahan
energi dan zat gizi lainnya. Selama enam bulan pertama, seorang ibu menyusui membutuhkan
energi tambahan 500 kkal/ hari dan 550 kkal/hari pada 6 bulan berikutnya.


18

Kondisi tertentu
Anemia Besi: untuk pekerja anemia gizi besi diberikan suplemen tablet besi dengan
dosis 60 mg 2 kali seminggu sampai anemia teratasi. Selain itu, pekerja dianjurkan
mengkonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya zat besi seperti hati, daging, ikan, ayam,
telur dan sayuran hijau. Khusus bagi pekerja perempuan, untuk mencegah anemia dianjurkan
pemberian tablet besi dengan dosis 60 mg per minggu selama 16 minggu setiap tahun. Selama
masa haid diberikan 60 mg zat besi tiap hari.
Kelebihan Berat Badan: perlu melakukan perencanaan makan atau diet rendah kalori
seimbang. Pengaturan pola makan sehat dilakukan dengan mengurangi asupan lemak dan
mencukupi komposisi bahan makanan dengan metode gizi seimbang, yaitu cukup sumber
karbohidrat, protein dan lemak serta cukup vitamin dan mineral. Porsi kalori terbesar diusahakan
dikonsumsi pagi dan siang hari. Konsumsi sayuran dan buah perlu diperbanyak karena buah
banyak mengandung serat dan vitamin, namun sedikit kandungan kalorinya. Makanan selingan
sebaiknya diberikan berupa buah-buahan. Susu yang dikonsumsi sebaiknya adalah susu rendah
lemak. Olahraga secara teratur dan rutin perlu dilakukan. Olah raga apapun baik namun jenis
yang disarankan adalah olahraga aerobik karena dapat membakar kalori lebih banyak. Sebaiknya
olahraga dilakukan 4-5 kali seminggu selama 20-30 menit karena dengan durasi tersebut
pembakaran kalori baru dapat terjadi.
Kondisi di tempat kerja
Lembur dan Shift Kerja : Bagi pekerja yang lembur selama 3 (tiga) jam atau lebih
diberikan makanan dan minuman tambahan, berupa makanan selingan yang padat gizi. Hal ini
juga berlaku bagi mereka yang menjalani shift kerja malam, termasuk pekerja perempuan yang
bekerja antara pukul 23.00-07.00.



19

Risiko Lingkungan Kerja
Beberapa faktor risiko lingkungan kerja yang menunjukkan pengaruh terhadap gizi kerja adalah:
1. Suhu: tempat kerja dengan suhu tinggi akan terjadi penguapan yang tinggi sehingga
pekerja mengeluarkan banyak keringat. Karenanya perlu diperhatikan kebutuhan air dan
mineral sebagai pengganti cairan yang keluar dari tubuh. Untuk mencegah dehidrasi
disarankan untuk minum air, konsumsi sayur dan buah.
2. Pengaruh bahan kimia: Bahan-bahan kimia tertentu dapat menyebabkan keracunan
kronis, akibatnya: menurunnya nafsu makan, terganggunya metabolisme tubuh dan
gangguan fungsi alat pencernaan sehingga menurunkan berat badan. Oleh karena itu
dibutuhkan tambahan zat gizi. Hal ini juga terjadi pada para pekerja yang mengalami
gangguan psikologis.
3. Bahan radiasi mengganggu metabolisme sel sehingga diperlukan tambahan protein dan
antioksidan untuk regenerasi sel.
4. Parasit dan mikroorganisme: Pekerja di daerah pertanian dan pertambangan sering
terserang kecacingan yang dapat mengganggu fungsi alat pencernaan dan kehilangan zat-
zat gizi sehingga dibutuhkan tambahan zat gizi.
Standar Penyediaan Makanan Bagi Pekerja
Setelah mengetahui kebutuhan energi (kalori), perlu dipikirkan cara memenuhi kebutuhan
tersebut dalam menu pekerja sehari-hari. Karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, serta
zat-zat lain dalam tubuh perlu diperhatikan proporsinya agar seimbang (WNPG VIII, 2004),
yaitu : Karbohidrat (50-65% dari total energi), Protein (10-20% dari total energi), Lemak (20-
30% dari total energi).
Kebutuhan energi diterjemahkan ke dalam porsi bahan makanan menggunakan daftar
bahan makanan penukar. Pemberian makanan utama di tempat kerja dilakukan saat istirahat (4-5
jam setelah kerja) diselingi pemberian kudapan (makanan selingan).

20

Berikut adalah standar porsi makanan bagi pekerja menurut usia dan kategori aktivitas fisik :
Table 5. Standar porsi makanan pekerja laki-laki dan perempuan selama bekerja (8 jam)

Catatan:
Berat ini adalah berat bersih bahan mentah yang dapat dimakan, tidak termasuk tulang,
cangkang, kulit, batang dan bagian-bagian lain yang tidak dapat dimakan




21

Table 6. Contoh Menu Makanan Bagi Pekerja Selama Bekerja (8 jam)



Penyelenggar aan makanan di lokasi kerja
Penyelenggaraan makanan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi penyusunan anggaran belanja
makanan, perencanaan menu, pengadaanatau pembuatan bahan makanan, penerimaan dan penyimpanan bahan
makanan, persiapan dan pemasakan makanan, penilaian, pengemasan,distribusi atau penyajian makanan di tempat
kerja. Penyelenggaraan bisa oleh perusahaan sendiri,kerjasama dengan perusahaan lain,
perusahaan jasa boga. Petugas penyelenggara harus bebas penyakit, dikursus, tidak ada
kebiasaan buruk, disiplin). Sistem pelayanan berupa kantin atau langsung dibagikan di tempat
22

kerja. Susunan menu ( bervariasi, gizi seimbang, cukup kalori). Dapur atau kantin kondisinya
harus memenuhi syarat.
Dapur dan ruang makan/ kantin :
a. Let ak dapur ( t i dak j auht empat ker j a , tdk berhub. langsung dg tempat kerja)
b. Fas i l i t as dan r uang makan cukup
c. Keadaan/ kondi s i dapur dan r uang makan (mudah dibersihkan, penerangan
cukup, ventilasi, lantai tidak licin, tidakpanas, bau, ruangan cukup, bebas serangga)

Higiene dan sanitasi :
a. Bahan makanan dan lingkungan (sumber,keadaan,cara mengangkut/mengepak)
b. Tenaga penj amah ( s er t i f i kat s ehat , pemeriksaan kes. Berkala, kebiasaan
menjaga higiene peroarangan)
c. Pemasakan/pengolahan (peralatan, sarungtangan, pakaian kerja)
d. Distribusi (wadah bersih dan tertutup, alatpemanas)
e. Transportasi (alat angkut bersih)
f. Menyimpan (rapi dan terjaga kebersihannya)
g. Kons ums i ( cuci t angan, cuci muka & kumur - kumur) pakaian bebas debu.

Keuntungan pemberian makanan di tempat kerja:
a. Meningkatkan dan mempertahankan kemampuan kerja
b. Meni ngkat kan pr odukt i vi t as
c. Meni ngkat kan der aj at kes ehat an
d. Menur unkan abs ens i
e. Terciptanya hubungan timbal balik pengusaha dan pekerja maupun antar pekerja
f. Suasana kerja menyenangkan dan meningkatkan motivasidan gairah kerja
g. Mengatasi kelelahan dan persiapan tenaga untuk kerja kembali.
7


23

PENUTUP
Kesimpulan
Meningkatnya angka absensi dan kecelakaan kerja merupakan masalah yang cukup serius dalam
suatu lembaga kerja. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi pada saat seseoranag melakukan
pekerjaan, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang
terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah
melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena factor manusia
itu sendiri atau kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Sedangkan tingkat absensi yang
tinggi pada pekerja wanita bisa disebabkan karena banyak hal, salah satunya adalah konsisi
fisiologis sepert kehamilan, menyusui, dysmenorhean dll. Untuk itu upaya Keselamatan dan
kesehatn kerja diadakan dengan tujuan meminimalisir kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja yang dilakukan oleh tenaga kesehatan misalnya dokter, dengan mencari
factor-faktor resiko terlebih dahulu melalui pemeriksaan assesement, upaya pecegahan seperti
pemeriksaan kesehatan berkala, penyuluhan kesehatan dan juga perbaikan gizi.

Daftar Pustaka
1. Harrington JM., Gill FS. Buku saku kesehatan kerja. Edisi 3. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005.
2. Effendi F., Makhfudi. Keperawatan kesehatan komunitas teori dan praktik
dalam keperawatan. Jilid 1. Jakarta : Salemba Medika ;2009.
3. Jeyaratman J., Koh D. Buku ajar praktek kedokteran kerja. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.
4. Ridley J. Ikhtisar kesehatan dan keselamatan kerja. Edisi 3. Jakarta :
Penerbit Erlangga ; 2006.
5. Djojodibroto D. Seluk beluk pemeriksaan kesehatan general medical
check up. Edisi 2. Jakarta : Pustaka Populer Obor ; 2003.
6. Gibney MJ., Margets BM., Kearney JM. Gizi kesehatan masyarakat.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008.
7. Gizi kerja. Diunduh dari http://www.scribd.com, 12 oktober 2012.