Anda di halaman 1dari 13

Engine Managemen System

T U G A S

Diajukan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Teknik Otomotif dari
dosen Dr. H. Wahid Munawar, M.Pd








Oleh:
JODY RUSLI
1 1 0 5871


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN / S1 OTOMOTIF
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2 0 1 3

MODUL




ENGINE MANAGEMEN SYSTEM













KOMPETENSI

No STANDAR
KOMPETENSI
KOMPETENSI
DASAR
MATERI POKOK INDIKATOR
1. Siswa mampu
memahami dan
menjelaskan engine
managemen system
dan komponen-
komponen utama
Perawatan dan
perbaikan engine
managemen
system dan
komponen utama
1.fungsi engine
managemen
system
2. komponen-
komponen engine
managemen
system
3. cara kerja
engine
managemen
system

1.1. Menjelaskan fungsi engine
managemen system
1.2. menyebutkan, menggunakan dan
menjelaskan komponen-komponen
engine managemen system
1.map sensor
2. intake temperature sensor
3. knock sensor
4.AFM sensor
5. Camshaft Position sensor
6.Oxygen Sensor
7.Throttle position sensor
8. Camshaft position sensor
1.3 menjelaskan cara kerja engine
managemen system
1.4. menjelaskan pengetahuan sejarah
engine managemen system


















Engine Managemen System

1. Definisi
Tingkat keselamatan, kenyamanan, eknomis dan produk ramah lingkungan secara
bertahap menjadi suatu syarat bagi pengemudi dan masyarakat yang harus
dipenuhi. Hal tersebut nyatanya adalah masalah sosial yang makin meningkat,
termasuk tingginya tingkat polusi lingkungan, pemakaian konsumsi bahan bakar
yang meningkat, kecelakaan lalulintas, dst. yang diakibatkan 'oleh kendaraan.
Tuntutan-tuntutan tersebut memacu para pembuat mobil untuk mengembangkan
teknologi canggih dan menggunakan teknologi elektronik yang memang maju
secara pesat belakangan ini pada komponen kendaraannya agar bisa memenuhi
tuntutan tesebut. Mesin kendaraan harus sudah bisa memenuhi kriteria sebagai
berikut ;

a. Performa mesin meningkat (meningkakan tenaga dan
akselerasi)
b. Irit bahan bakar (meningkatkan pemakaian
bahan bakar)
c. Tingkat emisi (mengurangi racun
gas buang)
d. Nyaman-Kuat (mengurangi noise dan getaran
dari mesin)
e . Handal (mengurangi kesalahan dan
persyaratan A/S)

EMS system (engine management system) mengatur secara luas agar operasional
mesin bisa tetap bekerja secara optimal setiap saat melalui pengaturan elemen
mesin seperti sensor, actuator, controller, dst.

2. Sejarah Pengembangan injeksi menggunakan engine
managemen system
Awal pengembangan sitem injeksi bahan bakar pada tahun 1930an sebenarnya
dimaksudkan untuk mesin pesawat terbang, dan sudah dipakai pada pesawat
terbang militer selama perang dunia ke II berlangsung. Mesin karburator pada
pesawat terbang militer mempunyai kelemahan seperti mudah membeku dan
penguapannya kurang saat berada di atas ketinggian, ada oli mampet pada float
chamber karena perubahan ketinggian pesawat, karena itulah dilakungan
penelitian dan pengembangan untuk sistem bahan bakar secara injeksi.

Sistem ini sebenarnya mempunyai beberapa keunggulan, namun tidak secara luas
diterapkan pada industri otomotif dikarenakan biayanya yang tidak murah. Namun
demikian sistem ini secara terbatas sudah dipakai pada kendaraan mewah untuk
menaikkan output, respon dan performa, dan sudah dipakai secara luas oleh mobil
balap sejak tahun 1950an.

Pada tahun 1957 Daimler Benz menggunakan sistem mechanical direct
injection merek BOSCH pada Benz 300SL series, dan di tahun 1958
memakai sistem mechanical fuel injection untuk intake manifold pada seri
Benz 200SE. Dengan sistem mechanical fuel injection yang dipakai tahun
1950an, maka ada beberapa keuntungan dibandingkan dengan sistem karburator
konvensional, sistem yang dipakai ini masih tergolong mahal harganya dan
pemasangannya di dalam mesin, sehingga sulit untuk mengenalkan sistem injeksi
bahan bakar ini secara luas.

3. Klasifikasi Sistem Kontrol
Pada dasarnya sistem kontrol dibagi menjadi dua jenis berdasarkan status
buka/tutup rute sinyal kontrolnya yaitu sistem kontrol open-loop dan closed-loop.
Berkat pengembangan yang cukup luas, teori pengonkontrol sekarang ini ada
bermacam-macam. Namun yang akan kita pelajari sekarang ini adalah kontrol
aplikasi dan mempelajari kontrol yang dipakai pada mesin.

1) Kontrol sistem Open-
loop
Kontrol sistem open-loop artinya adalah output sistem tidak berpengaruh pada
aktivitas kontrol. Setiap langkah kontrol dilakukan tanpa perintah yang telah
ditentukan sebelumnya, karena itulah disebut dengan kontrol sequential. Pada
kontrol sistem open-loop, output tidak diukur
atau diperbandingkan dengan input. Karena itulah kemungkinan bisa muncul
error dan error
yang terjadi tidak dapat dibetulkan. Ke akuratan sistem di sini tidak
mempertimbangkan kestabilan kalibrasinya. kontrol open-loop ini, konfigurasi
sistemnya sederhana dan perawatannya mudah. Harganya juga tidak begitu
mahal, dan sebenarnya sudah banyak dipakai dalam beberapa kasus, contohnya
seperti hubungan input dan output yang sudah diketahui dan pengaruh luarnya tidak
ada. Contohnya sinyal lampu lalu lintas. Sinyal lampu lalu lintas bekerja berulang-
ulang dengan selang waktu yang telah ditentukan sebelumnya tanpa
memperhatikan tingkat kepadatan lalu lintas (output). komponen kontrol sistem jenis
open-loop dapat digambarkan seperti tampak pada fig. 2-2. Pada saat input
diterima oleh controller, controller akan memproses outputnya dalam bentuk sinyal
untuk mencapai target, kemudian menjalankan beberapa kontrol sesuai target yang
telah ditentukan.

2) Kontrol sistem Closed-
loop
Jenis kontrol sistem closed-loop adalah selalu membandingkan output dengan
targetnya (input masukan), kemudian mengirimkan perbedaan nilai terhadap kontrol
sistem melalui jalur umpan balik untuk dilakukan pembetulan error. Seperti tampak
pada Fig. 2-3, sistem membentuk pengulangan tertutup terhadap input dengan
output, sehingga disebut dengan kontrol closed-
loop atau kontrol sistem feedback

2) Kontrol sistem Adaptive (dapat menyesuaikan
diri)

Adaptive artinya kemampuan suatu sistem untuk menyesuaikan dan melakukan
pembetulan pada dirinya terhadap perubahan yang tidak diinginkan. Suatu kontrol
sistem yang mempunyai kemampuan melakukan adaptasi, yaitu sistem yang dapat
menemukan perubahan dan melakukan pembetulan sesuai dengan parameter yang
telah ditentukan agar performanya tetap optimal, disebut dengan 'adaptive control
system'. Istilah tersebut sudah dipakai pada tahun
1950an berkenaan dengan pembuatan rumah tempat tinggal yang bisa beradaptasi
terhadap perubahan lingkungan.

Kontrol sistem jenis closed-loop ini memberikan output kembali ke input untuk
menghindari efek dari perubahan luar agar selalu bisa mencapai target. Namun
demikian, pada kontrol sistem closed-loop ini bisa juga target yang dimaksud
tidak bisa tercapai dikarenakan besarnya perubahan lingkungan yang tidak
bisa diatasi oleh controller. Bisa disebabkan karena komponen yang sudah aus
atau sudah terlalu lama sehingga karakter sistemnya sudah tidak konstan lagi. Dan
dapat dikatakan penggunaan kontrol sistem feedback dapat meredam perubahan
yang cukup dinamis, namun kemampuan adaptasi terhadap pamareter sistem dan
perubahan lingkungan sangat diperlukan agar sistem bisa berjalan dengan baik.




3) Kontrol sistem
Learning

Kontrol sistem ini mempunyai kemampuan untuk learning (belajar). Dasar konsep
sistem ini adalah mememperkenalkan kemampuan belajar manusia untuk
mengontrol sistem; selanjutnya kontrol sistem diberikan dengan kemampuan
bereaksi berdasarkan pengalaman seperti yang terjadi pada manusia. Manusia
dapat mengingat suatu pengalaman atau belajar fakta dari luar untuk dirinya
sendiri, dan ketika menghadapi situasi yang sama, maka dia akan memutuskan
atau bereaksi berdasarkan pengalaman terdahulu. Salah satu contoh adalah
belajar mengemudikan mobil. Jika keunggulan learning ini dipadukan ke kontrol
sistem, maka sistem akan dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk
aktivitas kontrol, bahkan untuk situasi dimana karakter dinamis kontrol sistem
dan pengaruh alami luar yang tidak dikenal sepenunnya. Untuk kontrol sistem
learning, agar efek belajar meningkat, maka diperlukan pembelajaran.
Pembelajaran melibatkan suatu mode pembelajaran dan mode koreksi, dan
pada akhirnya penyaringan dan penyimpanan terhadap pengalaman terdahulu.
Salah satu contoh kontrol sistem learing dapat anda lihat pada Fig. 2-5.
Kontrol sistem melakukan perbaikan terhadap parameter model seperti
perbedaan antara target dan output. Kapanpun terjadi perubahan efek luar, mode
akan melalukan perbaikan dan menyimpan pengalaman barunya sehingga tingkat
kontrolnya akan lebih baik lagi.


4. Jenis Controller
Controller melakukan perbandingan antara rencana output dengan input
(target value) kemudian melakukan koreksi dengan tujuan untuk menghasilkan
sinyal kontrol yang bisa menghilangkan atau menurunkan penyimpangan ke
tingkat yang lebih kecil. Cara untuk menghasilkan sinyal kontrol disebut dengan
control action. Adapun jenis-jenis controller adalah
; on-off control system, proportional control action, integral control action,
proportional integral control action, proportional differential control action,
proportional integral differential control action, dll.

5. Konfigurasi Sistem
Sistem EMS terdiri dari intake line, fuel line, ignition line dan
control line.

1. Intake
line

Proses pembakaran memerlukan Intake line dan pengaturan udara, yang terdiri
dari air flow rate sensor (direct detection type) atau intake manifold pressure sensor
(indirect detection type), intake air temperature sensor, ambient pressure sensor,
throttle position sensor, throttle body, air cleaner dan ISC (idle speed control)
tergantung dari tipe EMS, alat-alat dan sensor yang terpasang di dalamnya juga
bisa sedikit membedakan.

Saat mesin mulai hidup, tekanan hampa yang dibangkitkan dari dalam ruang
pembakaran akan tertarik ke udara luar, kumudian disaring oleh air cleaner agar
benda asing tidak ikut terbawa, selanjutnya lewat malalui air hose, lalu diukur oleh
AFM sensor, dan selanjutnya disalurkan ke throttle body. Pedal gas yang diinjak
oleh pengemudi menggerakkan throttle valve yang kemudian mengatur besar
udara masuk ke dalam throttle body. Setelah dari throttle body, udara kemudian
lewat melalui surge tank diteruskan ke intake manifold dari masing-masing cylinder,
dan pada akhirnya masuk ke combustion chamber (ruang pembakaran). Selama
idling throttle valve hampir menutup, kontrol sistem idle speed mengatur rata-rata
udara yang diperlukan untuk proses pembakaran.



2. Fuel
line

Fuel line atau jalur bahan bakar fungsinya adalah mengsuplai bahan bakar dari fuel
tank ke injector terdiri dari fuel tank, fuel pump, fuel filter, fuel pressure regulator,
distribution pipe dan injector.
Bahan bakar di dalam fuel tank ditekan oleh fuel pump dan mengalir melalui fuel
filter ke distribution pipe, dan selanjutnya tekanan bahan bakar akan dipertahankan
pada level khusus agar tidak terpengaruh terhadap tekanan hampa intake
manifold yang disuplai ke setiap injector. Setiap injector menyemprotkan bahan
bakar ke dalam intake manifold berdasarkan sinyal injeksi dari ECU. Bahan bakar
yang berlebihan akan kembali ke fuel tank melalui return line.

Terakhir ini sudah dikenalkan ke beberapa kendaraan sistem Recently Returnless
Fuel System (RLFS), yang tidak mempunyai return line untuk mengembalikan
bahan bakar ke fuel tank. Sistem ini dirancang untuk menghilangkan jalur dari
distribution pipe ke fuel tank untuk mengurangi gas uap bahan bakar yang
kemungkinan bisa meningkat meskipun sudah melakukan pemanasan bahan bakar
yang kembali dari ruang mesin. Modulasi Fuel pump terletak di dalam fuel tank
gunanya untuk menyalurkan bahan bakar ke injector dengan tekanan yang tetap.
Tekanan injeksi bervariasi mengikuti tekanan intake manifold dan setelan rata-rata
injeksi bahan bakarnya berdasarkan sinyal intake manifold pressure sensor atau
hasil perhitungan ECU dari modulasi tekanan intake manifold. Sistem ini
dikembangkan menghadapi tuntutan peraturan mengenai standarisasi emisi.


3. Ignition
line

Mesin bensin merubah energi panas yang dihasilkan dari campuran gas yang
terbakar yang dibangkitkan oleh tekanan piston menjadi energi mekanis. Untuk
membakar campuran udara/bahan bakar tersebut diperlukan adanya energi
pengapian secara tepat. Mesin diesel mengandalkan ledakan natural melalui
kompresi yang dapat menyala pada temperatur dan tekanan tinggi tertentu tanpa
sumber pencetus api. Pencetus api pads mesin besin memerlukan suatu alat yang
dapat memberikan energi pengapian dari luar yaitu yang disebut dengan
ignition system (sistem pengapian). Sistem pengapian terdiri dari komponen yang
dapat menghasilkan tegangan tinggi, komponen pendistribusian yang menyalurkan
tegangan tinggi tersebut ke setiap cylinder, komponen pengatur waktu pengapian
(ignition timing control) yang fungsinya mengatur waktu pengapian secara tepat,
dan spark plug atau busi untuk mencetuskan api. Pengaturan sistem pengapian
pada kendaraan sekarang dilakukan oleh ECU yang dapat menentukan waktu
pengapian secara tepat dan akurat untuk membakar campuran gas campuran
dalam segala kondisi, sehingga mesin bisa bekerja secara optimal

4. Control
line

Control line terdiri dari bermacam sensor yang dapat mendeteksi kondisi mesin
pada saat itu, kemudian merubahnya menjadi sinyal listrik untuk dikirim ke
microcomputer, input interface adalah suatu alat yang memproses sinyal masukan
dari sensor-sensor termasuk boosting, konversi A/D, penghilangan noise,
pengaturan tegangan, dsb. micro-computer adalah suatu alat yang menentukan
output melalui proses hitungan dan logika berdasarkan data masukan dan
perintah yang tersimpan di dalam memori. Output interface adalah suatu alat
yang fungsinya adalah menguatkan output sinyal. Dan actuator yang
melakukan reaksi secara mekanis berdasarkan sinyal output yang diperbesar.












6. Berbagai Koreksi dan Signal Sensor